Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Cara penanganan pasien gangguan jiwa yang lebih sering dipilih adalah
dengan metode pasung. Biasanya para pasien gangguan jiwa akan dipasung di suatu
tempat untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan, salah satunya
mencegah pasien tersebut menyakiti orang lain maupun dirinya sendiri. Memasung
pasien gangguan jiwa sebenarnya sangat tidak disarankan karena justru dapat
memperparah kondisi pasien tersebut.
Pasien gangguan jiwa sebenarnya juga memiliki hak-hak yang sama seperti
pasien lainnya, selain itu mereka juga masih memiliki hak asasi sebagai manusia.
Mereka memiliki hak untuk hidup dan diperlakukan selayaknya manusia pada
umumnya. Dalam undang-undang mereka juga masih dilindungi dan sudah
selayaknya diperlakukan lebih manusiawi. Seharusnya para pasien gangguan jiwa
mendapatkan perawatan yang layak di rumah sakit jiwa, bukan dipasung di sebuah
ruang sempit selama bertahun-tahun.
Di negara Indonesia sendiri, banyak terjadi kasus pemasungan pasien
gangguan jiwa, biasanya para korban kasus pemasungan sudah mengalami
pemasungan selama bertahun-tahun, tidak jarang pelaku pemasungan adalah keluarga
korban sendiri. Maraknya kasus pemasungan merupakan indikasi dari kurangnya
sosialisasi dari petugas kesehatan mengenai larangan pemasungan, padahal Indonesia
sudah mencanangkan program Indonesia Bebas Pasung.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang di atas adalah:
1. Bagaimana pasung dipandang dari segi etika, agama, hukum dan sosial budaya?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca maupun pada
penulis mengenai pasung yang dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Selain itu makalah ini dapat menyadarkan pembaca dan penulis bahwa pasung tidak
layak dilakukan sebagai tindakan penanganan pada pasien yang mengidap gangguan
jiwa

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Pasung
Pasung menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah alat untuk
menghukum orang, berbentuk kayu apit atau kayu berlubang, dipasangkan pd kaki,
tangan, atau leher. Memasung sendiri bisa diartikan membelenggu seseorang dengan
pasung, memasang pasung pada seseorang, dan memasukkan ke seseorang dalam
kurungan

(penjara).

Memasung

juga

dapat

diartikan

sebagai

membatasi

(menghambat) ruang gerak seseorang. Pasung dalam makalah ini lebih membahas
tindakan membelenggu seseorang yang mengalami gangguan mental karena dianggap
dapat membahayakan orang lain.
B. Faktor Penyebab Pemasungan

Pemasungan dilakukan pada pasien gangguan jiwa disebabkan oleh beberapa


faktor, yaitu:
1. Kemiskinan
Biasanya pemasungan disebabkan karena keterbatasan keluarga untuk
memberikan perawatan yang layak. Biasanya para pelaku pemasungan tidak
memiliki cukup biaya untuk membawa pasien ke

rumah sakit jiwa.

Pemasungan umumnya terjadi di daerah pedesaan dengan kelas ekonomi


mayoritas menengah-bawah meski beberapa kasus, seperti pernah terungkap
di Gorontalo, menunjukkan kelompok mampu dan berpendidikan pun bisa
melakukannya.
2. Ketidaktahuan
Keluarga pasien gangguan jiwa cenderung tidak tahu bagaimana cara
merawat pasien dengan baik. Namun ada juga keluarga yang tahu tetapi justru
mengabaikan

dan lebih memilih memasung

pasien daripada harus

merawatnya. Beberapa keluarga bahkan memperlakukan anggota keluarganya


yang mengalami gangguan jiwa seperti seekor binatang. Ketidaktahuan
keluarga juga disebabkan karena kurangnya informasi tentang larangan praktik
pemasungan yang dianggap melanggar Hak Azasi Manusia (HAM).
3. Kekhawatiran keluarga
Pasien gangguan jiwa biasanya cenderung memberontak dan sering
mengamuk pada orang di sekitarnya. Hal ini membuat keluarga mengambil
keputusan untuk memasung pasien agar tidak melukai orang lain. Cara ini
dianggap lebih efektif daripada memasukkan pasien ke rumah sakit jiwa
menurut mereka. Selain itu mereka menganggap pasung dapat mencegah si
pasien melukai dirinya sendiri.
4. Dianggap sebagai aib keluarga
Beberapa keluarga menganggap bahwa seseorang yang mengidap
gangguan jiwa merupakan sebuah aib. Mereka melakukan pemasungan
sebagai cara untuk menutupi keberadaan anggota keluarganya yang
mengalami gangguan jiwa.
C. Akibat Pemasungan
1. Timbulnya luka

Pasien gangguan jiwa yang dipasung akan dibelenggu dengan menggunakan kayu
apit, jika si pasien dipasung dalam jangka waktu yang lama maka dikhawatirkan
akan terjadi luka, seperti luka gores atau lecet pada bagian tubuh yang dipasung
seperti kaki atau tangan.
2. Kejiwaan pasien semakin terganggu
Seseorang yang mengalami gangguan jiwa dan dipasung cenderung memiliki
emosi yang lebih labil karena tidak ditangani dengan baik. Jika pasien dipasung
maka tingkat stressor pasien akan semakin tinggi, berbeda jika pasien masuk ke
rumah sakit jiwa, pasien akan mendapatkan berbagai terapi untuk mengurangi
tingkat stresornya.
3. Terganggunya mobilitas
Biasanya pasung dipasang pada bagian ekstremitas pasien, baik ekstremitas atas
maupun bawah. Jika pasien terlalu lama dipasung maka dapat mengakibatkan
gangguan pada ekstremitasnya, hal ini disebabkan karena pasien tidak pernah
menggerakkan kedua ekstremitasnya.
4. Gangguan kebutuhan nutrisi dan cairan
Orang yang dipasung akan sulit untuk melakukan berbagai aktivitas, termasuk
makan dan minum. Hal ini menyebabkan pasien mengalami gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi dan cairan, padahal pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan
sangat penting bagi tubuh.
5. Kematian
Jika keluarga cenderung mengabaikan pasien, dikhawatirkan akan dapat
menyebabkan kematian pada pasien. Keluarga yang mengabaikan pemenuhan
kebutuhan nutrisi dan cairan pasien dapat menyebabkan kematian pada pasien
tersebut.
D. Contoh kasus pasung
18 Tahun sudah Koko harus hidup dalam pasungan. Kemiskinan membuat
pemuda pengidap gangguan mental ini tak mendapatkan perawatan layak. Ibunya
yang renta tak bisa berbuat banyak melihat anak tercintanya itu. Jauh dari pusat kota,
terselip sebuah gubuk di Kampung Sukasari, Pasirwangi, Garut, Jawa Barat. Gubuk
berdinding bilik bambu usang menjadi saksi bisu kehidupan Koko selama 18 tahun.
Dalam tayangan Liputan 6 SCTV, Jumat (18/10/2013), pemuda 30 tahun itu
mengisi waktu dengan berbaring dan duduk di balik sarung yang telah kumal dan
sobek setiap hari.
Ia terus menahan sakit karena kedua kakinya terhimpit batangan kayu
melintang yang membatasi ruang geraknya. Lama terpasung membuat Koko nyaris

lumpuh, badannya kurus dan wajahnya pucat karena tak pernah terkena sinar
matahari.
Warga berharap pemerintah Kabupaten Garut mau peduli dengan penderitaan
yang dialami Koko dan ibunya. Ancaman lumpuh sudah jelas akan diterima Koko.
Selain itu, buruknya sanitasi dan higienis membuat penyakit lain rentan
memasukinya. (Mut) (Raden Trimutia Hatta)
Sumber: ( http://news.liputan6.com/read/723102/video-18-tahun-dipasungkoko-terancam-lumpuh#sthash.qhMMYf8s.dpuf )

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pasung Dipandang dari Segi Etika
Perawat yang membiarkan tindakan pasung yang dilakukan pada pasien gangguan
jiwa telah melakukan pelanggaran beberapa kode etik, diantaranya:
1. Melanggar tanggung jawab perawat terhadap masyarakat karena perawat tidak
menjalankan tugasnya untuk memprakasai berbagai kegiatan dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat. Dalam kasus ini perawat tidak memenuhi kebutuhan
masyarakat akan informasi mengenai larangan pasung.
2. Melanggar tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan negara.
Pelanggaran yang dilakukan perawat adalah tidak melaksanakan ketentuanketentuan sebagai kebijaksanaan yang diharuskan oleh pemerintah dalam
bidang kesehatan dan keperawatan.
3. Melanggar hak asasi manusia
B. Pasung Dipandang dari Segi Agama
Pasung dari segi agama melanggar hak manusia sebagai ciptaan Tuhan yang
paling sempurna. Seharusnya kita memperlakukan pasien gangguan jiwa sesuai

dengan harkat dan martabatnya sebagai seorang manusia karena mereka juga
merupakan makhluk ciptaan Tuhan sama seperti orang-orang yang tidak mengalami
gangguan jiwa. Dalam ajaran agama mana pun juga dianjurkan untuk saling
mengasihi antara sesama manusia.
C. Pasung Dipandang dari Segi Hukum
Jika di tinjau dari segi hukum nasional kasus di atas melanggar HAM yang
amat sangat di junjung tinggi di Negara kita ini, meskipun mereka mengalami
gangguan kejiwaan seharusnya mereka mendapatkan perawatan rehabilitasi atau
penyembuhan yang semuanya di biayai oleh negara, mereka juga masih mempunyai
HAM karena Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada
hakikatnya dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan anugerah-nya yang wajib di hormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh
negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.
Disini jelas di atur bahwa HAM perlu di junjung tinggi dan perbuatan
memasung orang adalah perbuatan melanggar hukum dan dapat di kenakan sanksi,
mestinya seluruh masyarakat dan pejabat yang berwenang dapat bekerja sama untuk
menemukan solusi terbaik dalam menyelesaikan dilema yang terjadi dalam
masyarakat tanpa melanggar HAM masyarakat yang lainnya
Berdasarkan UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan :
1. Bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan
derajat

kesehatan

masyarakat

yang

setinggi-tingginya

dilaksanakan

berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam


rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan
ketahanan dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional;
3. Bahwa setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada
masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi
negara, dan setiap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga
berarti investasi bagi pembangunan negara; dalam pasal tersebut jelas bahwa
kesehatan masyarakat di atur dan di lindungi oleh negara maka seharusnya

tidak perlu ada lagi pemasungan terhadap seseorang yang mengalami


gangguan kejiwaan atau berdasarkan alasan yang lainnya.
D. Pasung Dipandang dari Segi Sosial Budaya
Di daerah perkotaan pasung tidak lagi dianggap sebagai sarana untuk
menangani pasien gangguan jiwa, sebaliknya di daerah pedesaan pasung justru
dianggap sebagai hal yang biasa ketika menangani pasien gangguan jiwa. Hal ini
disebabkan karena masyarakat pedesaan mayoritas ekonominya menengah ke bawah
dan kurang mengetahui bagaimana cara merawat pasien dengan gangguan jiwa.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pasung merupakan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan pada pasien yang
mengidap gangguan jiwa. Pemasungan pasien gangguan jiwa dapat disebabkan oleh
berbagai hal, diantaranya kemiskinan, ketidaktahuan, kekhawatiran keluarga, dan
dianggap sebagai aib. Dilihat dari sudut pandang etika, agama, hukum dan sosial budaya
pasung tidak selayaknya dijadikan sebagai tindakan penanganan bagi pasien gangguan
jiwa.
B. Saran
Petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan pemahaman pada masyarakat
bahwa pasung bukanlah tindakan yang tepat untuk menangani pasien gangguan jiwa.
Selain itu, para petugas kesehatan juga diharuskan mendukung program pemerintah
terkait pemasungan, yaitu program Indonesia Bebas Pasung.

DAFTAR PUSTAKA
http://news.liputan6.com/read/723102/video-18-tahun-dipasung-koko-terancamlumpuh#sthash.qhMMYf8s.dpuf
http://rezapahlevianasthea.blogspot.com/2011/07/tugas-akhir-semester-iiantropologi.html
http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?
keyword=pasung&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit
=tabel