Anda di halaman 1dari 8

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

Mahasiswa:
Dosen:

1. David Ardian (NIM. I.0214031)


2. Muhammad Habibullah (NIM. I.0214063)
Dyah.S.Pradnya.P,ST,MT

EKSPLORASI KAJIAN
Tajuk/tema/topik:

ARSITEKTUR EROPA PERIODE AKULTURASI

TIPOLOGI PASADE DEPAN PADA ARSITEKTUR EROPA DI


INDONESIA
SEJARAH ARSITEKTUR EROPA
Arsitektur eropa digambarkan sebagai arsitektur klasik yang secara khusus
menuju pada karya-karya arsitek yang bernilai tinggi karena karya-karya ini
memperhatikan aturan, pedoman yang ketat, dan pertimbangan yang hati-hati sebagai
landasan berpikir dalam pembangunan karya tersebut, karya arsitektur klasik
menggunakan kaidah-kaidah atau pakem-pakem tertentu untuk menciptakan kesan
pada bagunan.
Yunani
Perkembangan arsitektur klasik dimulai dari arsitektur klasik yunani yang
ditandai dengan hadirnya kuil Parthenon yang menjadi icon dari jaman yunani.
Bentuk bangunan banyak dipengarui oleh kepercayaan masyarakat pada saat itu
yang mempercayai faham politheisme yang menyembah dewa-dewa sebagai
tuhan.
Yunani memiliki pulau utama yang bergunung-gunung, dan pulau lain yang
terpencar, kemudian berkembang menjadi city states yang merupakan keiasaan
dalam persaingan.
Peradaban awal yunani kuno bermula dari crete (3000-1400SM)
berkembang hingga puncaknya pada masa istana Knossos kemudian digantikan
dengan budaya
Mycenae dan Tiryns pada daratan utama. Kemunduran terjadi pada 1100
SM dimana merupakan masa kegelapan.
Masa keemasan terjadi pada periode Hellenic (800-323 SM) dimana
memperlihatkan perkembangan dari kota besar sebagai pusat komunitas,
penemuan kota yang baru dimana munculnya Athens sebagai kekuasaan
tertinggi setelah penentuan kemenangan melawan Persia serta perkembangan
dalam hal demokrasi. Zenith merupakan peraturan Pericles (444-429 SM)
dengan fantasi bunga dalam filosofi, seni, literatur, ilmu, matematika dan drama.
Budaya ini berkembang dan direfleksikan ke dalam prestasi-prestasi arsitektur
termasuk di dalamnya Parthenon.
Pada periode Hellenistic (323-30 SM), diikuti dengan kematian Alexander
Agung yang mempersatukan Yunani dan memperluas wilayah kekuasaan hingga
ke Timur, bentuk-bentuk bangunan besar (great styles) tetap berlanjut walaupun
dengan kekuatan yang lebih sedikit dan adanya pengalihan kekuasaan oleh
Roma. Arsitektur menampilkan suatu perpaduan Orde yang meluas hingga ke
Spanyol dengan penggunaan elemen-elemen tapak dan kubah. Bangunanbangunan kecil tetap terlihat elegan dengan hiasan yang begitu terperinci namun
tidak kehilangan struktur onumentalnya yang merupakan superhuman scale.

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

Romawi
Bangsa Romawi berasal dari masyarakat Agrikultur-militer yaitu
bangsa/kaum petani yang suka berperang dan berekspansi ke sekitar Laut
Tengah, Eropa Utara dan Barat serta sebagian Asia dan Afrika. Kebudayaan
Romawi berawal dari seni Eropa Barat yang diambil secara komprehensif. Mulamula dianggap tahap dekadensi periode setelah Yunani pada bidang seni,
namun secara total menyerap nilai seni yang sudah ada dari kebudayaan
tersebut dan nilai-nilai yang terkandung ternyata sudah tidak asli dan bermutu
rendah, sehingga Bangsa Romawi bisa dianggap sebagai penyebar dan pelestari
peninggalan kebudayaan klasik, jadi dapat dikatakan sebagai Asimilator
(menyatukan hasil karya orang lain) dan bukan Kreator.
Kekaisaran Romawi mempunyai wilayah kekuasaan yang menyebar dan
berkembang di sekitar daratan Spanyol, Armenia, Inggris hingga Mesir. Dengan
demikian masing-masing daerah tersebut diperlukan suatu koordinator wilayah
kekuasaannya. Akibat luasnya daerah kekuasaan, bangsa Romawi mencetuskan
kebudayaannya menjadi Internasionalisme Budaya (Cultur lnternationalism).
Perbedaan-perbedaan gaya kekuasaan teritorialnya disatukan dalam satu gaya
kepemimpinan yang dinamakan Gaya Imperial. Kerajaan Romawi merupakan
suatu negara yang digolongkan sebagai statesmanship yaitu bangsa yang
memiliki kemampuan sebagai negarawan (dengan kekuasaan yang bertumpu
pada kekaisaran), atau Imperium Romanium. Sedangkan Yunani dapat
digolongkan sebagai negara Negara kota atau negara federasi. Romawi dikenal
sebagai bangsa yang love of power sedang Yunani dikenal sebagai bangsa
love of beauty.
Karakteristik Arsitektur Romawi
1. Kemampuan dalam teknologi bangunan lebih maju dari pada bangsa Yunani,
seperti dalam pembuatan saluran air dan pembuatan konstruksi
busur/lengkung.
2. Penafsiran terhadap makna kehidupan dari segi fungsi dan sistem struktur
sosial sangat kompleks. Setiap aktifitas kehidupan dalam struktur social
kemasyarakatan seringkali diperingati dengan upacara-upacara atau pestapesta besar.
3. Konsep penataan bangunan dan landscape perkotaan dirancang secara
integratif. Perancangan bangunan selalu berorientasi kedalan skala yang lebih
luas atau dalam skala kota demikian juga sebaliknya.
4. Konsep perancangan menekankan pada pengertian bahwa ruang merupakan
media ekspresi arsitektural. pada skala kota dan interior.
5. Skala bangunan bersifat monumental atau mengutamakan kesan agung.
Ekspresi arsitekturnya terungkapkan melalui peralihan artikulasi detail.
6. Bentuk arsitektur mengesankan keanggunan formal yang berorientasi
birokratik, tersusun secara sistematik, praktis dan variatif dalam langgam.
Byzantine
Kekuasaan Byzantine berpusat di Constantinople (Istanbul-Turki)
merupakan kekuasaan dibawah Roma di Eropa hingga ke Timur, yang
menguasai jalur perdagangan laut yang menghubungkan benua Eropa dan Afrika
hingga ke Asia, merupakan wilayah otonom dengan perdaban menuju millenium
dibandingkan kekaisaran Roma. Daerah ini merupakan perpanjangan Roma di
bagian timur, atau sering disebut kerajaan Roma timur.
Wilayah yang sekarang masuk dalam negara Itali di mana kekuasaan
Romawi berasal dan berkembang sepanjang semenanjung, dan menjorok ke
selatan-timur di Laut Mediterania. Roma sebagai pusat kekuasaan dan
kebudayaan Romawi, berada di bagian selatan-tengah semenanjung, tidak jauh

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

dari pantai laut Mediterania. Budaya Romawi berkembang melalui kekuasaan


didapat dari penaklukan, berbeda dengan penyebaran budaya Yunani yang
melalui kolonisasi. Budaya Romawi termasuk arsitektur berkembang dari
kekuasan perebutan kekuasaan dan penaklukan tidak hanya berkembang di
wilayah Itali, namun hingga sebagian besar Eropa, Afrika Utara dan Asia Barat.
Byzantine merupakan salah satu koloni Yunani sejak tahun 600 SM dan
dijadikan pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi pada tahun 330. Selama
jaman pertengahan, kota ini menjadi benteng pertahanan orang-orang Kristen
dari serangan bangsa Barbar. Honorius, imperior pertama dari Barat setelah
wilayah dan pemerintahan Kekaisaran Roma dibagi menjadi dua, memindahkan
kediaman dan pusat pemerintahan Kekaisaran Barat di Ravenna, sebuah kota di
pantai Mediterania bagian timur-utara dari Italia. Sedangkan Konstantinopel tetap
menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Timur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebudayaan Byzantine antara lain:
Pengaruh kebudayaan Romawi.
Pengaruh agama Kristen.
Beberapa pengaruh kebudayaan yang berasal dari Timur.
Kota Ravenna dan Konstantinopel menjadi poros pemerintahan Byzantine
dan pusat perkembangan budaya serta arsitektur. Kekaisaran Byzantine
berlangsung lebih dari 1000 tahun, mulai abad ke-4 M sampai tahun 1453.
Selama berdirinya, merupakan satu kekuatan penting di bidang ekonomi, budaya
dan militer di Eropa.
Pengaruh Arsitektur Byzantine Dengan Romawi
Gaya bangunan dan style Byzantine pertama kali mengikuti arsitektur
Romawi, Mosaik dengan karakter ukiran/pahatan dekorasi dan ornamen, atap
lengkung, Kubah besar, material batu/batu bata. Namun kemudian arsitektur
Byzantine membawa pengaruh terhadap Eropa dan Asia dan juga masa
renaissance dan dinasti ottoman setelahnya.
Bangunan bergaya arsitektur Byzantine memiliki bentuk geometri yang
komplek, dengan material batu sebagai material utama dan bata dan plester
sebagai material tambahan, unsur dekorasi menjadi penting dan elemen utama
dalam bangunan publik, seperti Gereja.
Byzantine adalah perwujudan dari konsep atap lengkung dan kubah yang
menggantikan rangka atap kayu. Sistem konstruksi perletakan batu bata, yang
diperkenalkan oleh bangsa Romawi berkembang menjadi semacam pembuatan
dinding bata secara umum, dan hal ini diadopsi untuk membentuk arsitektur
Byzantine.
Rangka dinding batu bata terlebih dahulu diselesaikan dan dibiarkan mapan
sebelum lapisan permukaan interior dan lantai marmer dipasang, bagian
komponen bangunan yang berdiri sendiri ini menjadi karakterisik dari konstruksi
Byzantine. Penggunaan batu bata yang sama dengan bata Romawi, sekitar 15
inchi tebalnya, dan diletakkan pada lapisan tebal mortar. Mortar sebagai perekat
antara batu bata berupa campuran antara kapur dan pasir, dengan pecahan
tanah liat, keramik atau bata, yang hasilnya sama kerasnya dengan bangunan
terbaik di Roma.
Renaissance
Arsitektur Renaissance adalah arsitektur pada periode antara awal abad
ke-15 sampai awal abad ke-17 di wilayah Eropa, ketika terjadi ketertarikan
terhadap budaya klasik terutama budaya Yunani kuno dan budaya Romawi kuno
yang disebut Renaissance.

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

Gaya ini pertama kali berkembang di kota Florence, Italia. Pada masa
Renaissance, terdapat tiga penemuan penting. Yang pertama adalah bubuk
mesiu, penemuan ini menyebabkan perkembangan dalam hal militer. Kedua,
penemuan kompas. Dengan ditemukannya kompas, memungkinkan untuk
melakukan pelayaran ke daratan baru seperti Amerika, dan kepulauan Hindia
Barat. Akibatnya adalah berkembangnya koloni-koloni bangsa Eropa pada
tempat tersebut. Penemuan ketiga adalah percetakan. Dengan adanya
percetakan, minat terhadap literatur berkembang pesat. Buku-buku tentang Latin
dan Romawi ditulis, dan akhirnya mempengaruhi cara pandang orang pada masa
Renaissance.
Periodisasi Arsitektur Renaissance
1. Quattrocento (1400-1500)
Pada masa ini, konsep dan aturan arsitektur diciptakan. Akibat
pembelajaran tentang arsitektur klasik (arsitektur Yunani dan Romawi)
menyebabkan diadopsinya lagi penggunaan detail dan ornamen arsitektur
klasik. Ruang, sebagai elemen arsitektur, digunakan secara berbeda
dibandingkan pada masa abad pertengahan. Ruang diatur dengan proporsi
yang logis, rupa dan ritmenya mengikuti geometri, tidak menggunakan intuisi
seperti pada masa abad pertengahan. Contoh bangunan pada masa ini
adalah Basilica di San Lorenzo di Florence, yang diciptakan oleh Fillipo
Brunellschi.
2. High Renaissance (1500-1525)
Pada masa ini, konsep yang diambil dari arsitektur klasik dikembangkan
dan digunakan dengan ke pastian yang lebih besar. Arsitek yang paling
terkenal pada masa ini adalah Bramante (1444-1514) yang memperluas
kemungkinan penerapan arsitektur klasik pada bangunan kontemporer.
Bangunan ciptaannya, San Pietro in Montorio, dibangun dengan bentuk
sirkuler mengikuti gaya kuil romawi.
3. Mannerism (1520-1600)
Pada masa ini, para arsitek melakukan eksperimen menggunakan
bentuk-bentuk arsitektural untuk memberikan penekanan hubungan antara
ruang dan masif. Contoh bangunan pada masa ini adalah Villa Farnese atau
disebut juga Villa Caprarola.
Gothic
Arsitektur Gothic berkembang dalam jaman akhir kehidupan dalam
benteng telah disebut di depan sehingga jaman Romanesque. Salah satu ciri
utamanya berbentuk benteng, atau menara pengawas, karena kesenjangan
ekonomi dan social antara para tuan tanah, dengan petani miskin. Kekuasaan
dan kekayaan raja didukung oleh gereja, semakin melimpah, membuat
kecenderungan membangun gereja yang besar, megah dan mewah. Bentuk
tinggi dari arsitektur Romanesque, kemudian menjadi ekstrim pada arsitektur
Gothic dengan runcing-runcing, penuh dengan hiasan, mengacu semata-mata
pada keindahan dan kemegahan.
Karakteristik Bangunan Gothic
Terdapat menara pada bangunan gereja. Biasanya terletak pada bagian
depan ataupun belakang bangunan. Dan pada masa Arsitektur Gothic menara
difungsikan sebagai isyarat adanya peribadatan di dalam gereja. Hal tersebut
berkembang sampai saat ini, dan isyarat tersebut merupakan bunyi lonceng yang
ditempatkan dibagian atas menara.

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

Terdapatn rose window. Secara arsitektural hal itu digunakan untuk


memasukan cahaya dan estetika. Sedangkan dari segi religi,rose window dipakai
sebagai simbol firman Tuhan yang disimbolkan sebagai cahaya yang masuk dan
menerangi isi hati para jemaat gereja.
Terdapat seni kaca patri di dinding bangunan gothic. Hal ini merupakan
perkembangan teknologi kaca pada masa itu yang diterapkan pada bangunan.
Adanya rib vaulting. Yaitu atap bangunan yang menyerupai membran dan
memiliki unsur arsitektural sebagai salah satu peninggalan bentuk arsitektur
gothic. Penebalan kolom/tiang sebagai perkuatan struktur bangunan yang juga
merupakan ciri khas dari bangunan gothic. Jajaran kolom yang terpadu dengan
rib vaulting menjadi unsur utama konstruksi bangunan.
Baroque
Baroque merupakan istilah untuk mengkategorikan perkembangan
peradaban manusia dalam sebuah era yang terjadi di Eropa. Sekitar tahun 16001750, gerakan ini terjadi. Oleh karena itu, merupakan bagian akhir dari zaman
renaisance dan merupakan awal gerakan protestantism yang terjadi di Jerman
bagian utara dan Belanda. Baroque mempunyai arti mutiara pelengkap yang
bentuknya tidak teratur atau tidak simetris. Dalam hal ini, karya-karya seni yang
tercipta pada zaman baroque juga merupakan cerminan keadaan zaman
tersebut sehingga memiliki ciri-ciri khusus yang tentunya berbeda dengan corak
seni pada zaman-zaman sebelumnya. Corak seni baroque mengandung unsur
tekanan yang kuat, kekuatan emosi, dan sesuatu yang elegan.
Arsitektur baroque mempunyai ciri-ciri tersendiri. Menurut Sullivan, bahwa
karakteristik seni Baroque terbentuk dari beberapa unsur, seperti sense of
movement, energy dan tension. Salah satu teknik visualisasi yang terkenal pada
zaman baroque adalah teknik chiaroscuro yang digunakan oleh seorang pelukis
Belanda yang bernama Rembrandt Harmenszoon van Rijn. Ciri visual yang
melekat pada corak seni Baroque adalah kontras cahaya yang dominan dan
menghasilkan kesan dramatis pada lukisan.
Baroque juga memiliki beberapa karakteristik diantaranya naves yang
zaman sebelumnya panjang dan sempit digantikan oleh bentuk yang lebih lebar
dan sirkular, penggunaan cahaya secara dramatis, kaya akan ornamen, langitlangit yang dipenuhi fresco (wall painting) dalam skala besar, facade eksternal
yang memiliki karakter proyeksi terpusat yang dramatis, interior seringkali tidak
lebih dari tempat bagi lukisan dan patung ukiran.
Rococo
Rococo pertama kali muncul di Perancis pada awal abad 18 sebagai
lanjutan gaya barok, tetapi berlawanan dengan tema lebih berat dan warna lebih
gelap dari Gaya barok, Rococo ditandai oleh suatu kekayaan, rahmat, suka
melucu, dan keringanan. Rococo. Motifnya memusat pada gaya hidup yang
aristokratis yang tanpa perlawanan dan roman picisan bukannya pertempuran
gagah berani atau figur religius. Dalam pertengahan akhir abad ke 18, rococo di
kalahkan oleh gaya Neoclassic.
Arsitektur Rococo merupakan perkembangan lanjut dari arsitektur Barok, di
mana bentuk-bentuk yang digunakan masih belum berubah. Contohnya adalah
pada kolom-kolom interior Le Camus, Colisee, Champs-Elysees di Paris. Contoh
lain adalah gereja Karlskirche (arsitek: Johann Fischer von Erlach; tahun
penggarapan 1715-1737). Disini, bangunan ditonjolkan dengan adanya dua
menara kembar di sebelah kanan-kiri portico berkolom gaya hexa-style Korintian.
Sehingga kita dapati suatu bentukan entrance yang benar-benar mencolok mata
di sini. Bentukan yang terjadi masih dapat dikategorikan sederhana, sedangkan

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

bentukan-bentukan lengkung yang terjadi hanyalah sebagai identitas gaya bercirikan Barok- Rococo yang dipakainya. Bangunan Christ Church (arsitek
Nicholas Hawksmoor; tahun pengerjaan 1715-1729) berbentuk pukal geometrik
dan balok yang bersahaja, dengan portico beratap lengkung yang bercirikan
Georgian yang tercampur dengan gaya khas Barok.
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR EROPA DI INDONESIA
Banguanan dengan gaya arsitektur eropa awalnya dibahwa oleh penjajah
(belanda) yang telah menetap di Indonesia. Awalnya bangunan yang dibangun oleh
penjajah mengunakan gaya arsitektur eropa klasik, tetapi setelah perkembangannya
bangunan dengan gaya arsitektur eropa klasik tidak cocok untuk daerah Indonesia,
oleh karena itu para arsitek penjajah mulai mengadopsi unsur-unsur local untuk
menyempurnakan bangunan yang telah dibangun, maka mulai munculah gaya
arsitektur eropa akulturasi.
Beberapa unsur dari gaya arsitektur eropa masih tetap terlihat dari bangunan
eropa yang ada di Surakarta seperti pediment, penggunaan kolom pada bangian
depan, tangga naik pada bagian depan, penekanan tampilan simetris pada bangunan,
dan penggunaan ornament-ornamen dan ragam hias.

Gambar 1. Pengulangan gaya arsitektur eropa pada bangunan colonial di Indonesia


seperti penggunaan kolom, adanya pediment, tangga naik pada bagian depan, dan
menekankan kesimetrisan tampilan bangunan.
Sumber: https://historicalbuildingsbdg.wordpress.com/38-2/

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

URAIAN TENTANG TIPOLOGI PASADE DEPAN PADA ARSITEKTUR EROPA DI


INDONESIA
Pokok bahasan tentang pasade depan dari bangunan bergaya arsitektur eropa
di Indonesia
Pembahasan tentang penggunaan tangga pada bagian depan bangunan, pada
bangunan gaya arsitektur eropa sering dijumpai panggunaan tangga pada
bagian depan karena kebanyakan bangunan eropa yang masih bertahan
hingga sekarang adalah bangunan peribadatan dimana pada bangunan
beribadatan lebih menekankan pada keagungan dari para hal itu menyebabkan
pemberian tangga pada bagian depan, dan juga tujuan pemberian tangga pada
bagian depan menandakan perbedaan ruang antara bangunan dan wilayah
luar.
Penempatan kolom pada bangunan. Banguann dengan gaya arsitektur eropa
sangat sering menggunakan kolom pada bagian depan karena penggunaan
kolom menjada ciri khas dari bangunan dengan gaya arsitektur eropa.
Pediment atau segitiga yang berda diatas kolom pada bangunan dengan gara
arsitektur eropa biasnya berisi ragam hias atau ornament menyangkut
bangunan tersebut.
Penekanan pada tampilan bangunan agar terlihat simetris adalah salah satu
ciri bangunan dengan gaya arsitektur eropa, hal ini dapat diihat dari beberapa
bangunan eropa yang ada di Indonesia.
KASUS BANGUNAN DI SURAKARTA
Salah satu bangunan yang menggunakan gaya arsitektur eropa yang ada di
Surakarta adalah kantor Bondo Loemakso, kantor ini berada di Jalan Untung Surapati
No. 4 RT.04 RW.03 Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Surakarta. Ciri dari arsitektur eropa
pada kantor Bondo Loemakso adalah
Kolom pada bagian depan kantor bondo loemakso menandakan
perkembangan arsitektur eropa yang mengunakan kolom untuk bagian depan.
Penegasan arsitektur eropa juga terlihat dari bagian atas atau bagian kepala
dari bangunan yang terdiri dari pediment (segitiga diatas), cornice (bagian atas
yang menonjol), dan frize (penekanan bentuk segitiga).
Bentuk architrave (balok yang di topang oleh kolom) mempertegas ciri
arsitektur eropa klasik yang biasanya ada pada bangunan kuil yang ada di
eropa.

Gambar 1. Kolom dan pediment yan ada dibagian atas.


Sumber: dokumen pribadi, 2015

PRODI ARSITEKTUR UNS | ARSITEKTUR MANCA| SEMESTER AGUSTUS-DESEMBER 2015

Penggunaan tangga pada bagian depan banguanan utama adalah salah satu
ciri bangunan eropa, seperti penepatan tangga pada bagian depan kuil
Parthenon. Peletakan tangga pada bagian depan kantor bondo loemakso
adalah bukti bahwa gaya arsitektur eropa masih dipakai pada saat
pembangunan bangunan kentor bondo loemakso.

Gambar 2. Tangga pada bagian depan.


Sumber: dokumen pribadi, 2015

Daftar Pustaka
http://dokumen.tips/documents/ska-dalam-angka-2011-215.html diakses pada 20
oktober 2015.
https://atpic.wordpress.com/2010/07/22/yunani-1050-sm-31-sm-laut-ionia-laut-kretap-kreta/ diakses pada 25 september 2015.
https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_Klasik diakses pada 25 september 2015.
http://www.lintas3d.com/2015/04/ciri-ciri-umum-arsitektur-yunani.html diakses
pada 25 september 2015.
http://aivizstudio.com/?p=997 diakses pada 26 september 2015
http://kekunaan.blogspot.com/2012/09/kantor-bondo- , diakses pada 3 mei 2015
https://www.academia.edu/12509025/SEJARAH_PERKEMBANGAN_ARSITEK
TUR_KLASIK diakses pada 27 oktober 2015