Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejahatan seksual, sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang
menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, mempunyai kaitan yang erat
dengan Ilmu Kedokteran Forensik ; yaitu dalam upaya pembuktian bahwasanya
kejahatan tersebut memang telah terjadi . Adanya kaitan antara ilmu kedokteran
dengan kejahatan seksual dapat dipandang sebagai konsekuensi dari pasal-pasal
didalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) , yang memuat
ancaman hukuman serta tatacara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk
dalam pengertian kasus kejahatan seksual.
Di Indonesia, kasus kejahatan seksual, yang diantaranya ialah perkosaan,
dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini meningkat . Di Jakarta angka
perkosaan pada tahun 2002 sebesar 20,22 %. Data tahun 2008 yang diperoleh dari
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan
Jakarta (LBH APIK) menunjukan adanya peningkatan kasus kekerasan atau
kejahatan seksual terhadap anak sebanyak dua kali lipat sebesar 35 kasus dari
tahun sebelumnya yang mencapai 16 kasus.
Di dalam upaya pembuktian secara kedokteran forensik, faktor
keterbatasan di dalam ilmu kedokteran forensik itu sendiri dapat sangat berperan,
demikian halnya dengan faktor waktu serta faktor keaslian dari barang bukti
(korban), maupun faktor-faktor dari pelaku kejahatan seksual itu sendiri.

Dengan demikian upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada


setiap kasus kejahatan seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada
tidaknya tanda-tanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan
umur serta pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah
mampu dikawinkan atau tidak. Pada pembuktian tersebut bantuan dokter sangat
diperlukan namun harus disadari bahwa kemampuan dokter di dalam rangka
membantu mengungkap kasus kejahatan seksual sangat terbatas sekali sehingga
tidak mungkin dokter dapat membantu mengungkap adanya paksaan dan ancaman
kekerasan mengingat kedua hal itu tidak meninggalkan bukti-bukti medik. Dokter
hanya diminta bantuannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban dan
barang bukti medik tindakan perkosaan, sehingga dalam pemeriksaan tersebut
dokter diharap bisa memperjelas kasus tindak pidana.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah adalah:
1. Apakah yang dimaksud persetubuhan dan kejahatan seksual dari sudut pandang
hukum di Indonesia?
2. Apakah yang dimaksud perkosaan berdasarkan hukum di Indonesia dan negara
lain?
3. Apakah prosedur pemeriksaan forensik kasus perkosaan beserta aspek etik dan
medikolegalnya di Indonesia dan negara lain?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan ini adalah:

1. Untuk mengetahui definisi persetubuhan dan kejahatan seksual dari sudut


pandang hukum di Indonesia.
2. Untuk mengetahui definisi perkosaan berdasarkan hukum di Indonesia dan
negara lain.
3. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan forensik kasus perkosaan serta aspek
etik dan medikolegalnya di Indonesia dan negara lain.

1.4 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan ini adalah:
1. Bagi mahasiswa kedokteran, referat ini dapat menjadi sumber informasi untuk
mengetahui peran ilmu kedokteran forensik dalam kasus perkosaan.
2. Bagi masyarakat awam, referat ini dapat menjadi sumber informasi untuk
mengetahui hubungan antara dokter dan pasien serta peran dokter dalam
penyidikan kasus perkosaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Persetubuhan1,2

Pengertian persetubuhan menurut Nojon, yang dikutip oleh Dahlan,


adalah setidaknya glans penis masuk di antara dua labium mayor, baik diakhiri
atau tidak diakhiri dengan orgasme. Menurut Idries, persetubuhan adalah suatu
peristiwa dimana alat kelamin laki-laki masuk ke dalam alat kelamin perempuan,
sebagian atau seluruhnya dan dengan atau tanpa terjadinya pancaran mani.
Berdasarkan KUHP, maka persetubuhan legal adalah yang dilakukan dengan
prinsip ada izin dari wanita yang disetubuhi, wanita tersebut sudah cukup umur,
wanita tersebut tidak terikat perkawinan dengan laki-laki lain, wanita tersebut
sehat akalnya, dan wanita tersebut bukan keluarga terdekat.

2.2 Kejahatan Seksual Berdasarkan Hukum di Indonesia


2.2.1 Kejahatan Seksual Berdasarkan KUHP3,4
Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh
undang-undang , tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP,
tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan; yang meliputi persetubuhan di dalam
perkawinan maupun di luar perkawinan.

2.2.1.1 Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dalam Perkawinan3

Pasal 288 KUHP

(1)

Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang


wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang
bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan
mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama
empat tahun.

(2)

Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan


pidana penjara paling lama delapan tahun.

(3)

Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama


dua belas tahun.

Dengan demikian dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter


diharapkan dapat membuktikan bahwa korban memang belum pantas dikawin,
terdapat tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan dan dapat menjelaskan
perihal sebab kematiannya.
Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu dikawin
dapat timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut mencakup dua
pengertian, yaitu pengertian secara biologis dan pengertian menurut undangundang. Secara biologis seorang perempuan dikatakan mampu untuk dikawin bila
ia telah siap untuk dapat memberikan keturunan, dimana hal ini dapat diketahui
dari menstruasi, apakah ia belum pernah mendapat menstruasi atau sudah pernah.
Sedangkan menurut Pasal 7 Ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
maka batas umur termuda bagi seorang perempuan yang diperkenankan untuk
melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun. Dengan demikian dokter diharapkan

dapat menentukan berapa umur dari perempuan yang diduga merupakan korban
seperti yang dimaksud dalam pasal 288 KUHP.

2.2.1.2 Kejahatan Terhadap Kesusilaan di Luar Perkawinan3,4


Dalam kasus-kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan
kejahatan, dimana persetubuhan tersebut memang disetujui oleh si perempuan
maka dalam hal ini pasal-pasal dalam KUHP yang dimaksud adalah pasal 284 dan
287.

Pasal 284 KUHP


(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:
1.

a.

seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak

(overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk


Wetboek) berlaku baginya.
b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak
(overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk
Wetboek) berlaku baginya.
2. a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin.
b. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan
perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah
telah kawin dan pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya.

(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/isteri yang


tercemar,dan bila bagi mereka berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek),
dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau
pisah meja dan pisah ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang
peradilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-isteri berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek),
pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan
karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan
tempat tidur menjadi tetap.

Pasal 27 BW
Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai
satu orang perempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu
orang laki sebagai suaminya.

Pasal 287 KUHP


(1)

Barangsiapa

bersetubuh

dengan

seorang

wanita

di

luar

perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya


bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas

bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara


paling lama sembilan tahun.
(2)

Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur


wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal
berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut


undang-undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun
tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari
yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan
delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika:
a.
b.

Umur korban belum sampai 12 tahun


Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati

c.

akibat perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau


Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya,
muridnya, anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau
bawahannya (KUHP pasal 294).
Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada

pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan.


Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte
kelahiran maka umur korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu
memperkirakan umur korban baik dengan menyimpulkan apakah wajah dan
bentuk tubuh korban sesuai dengan umur yang dikatakannya, melihat

perkembangan

payudara

dan

pertumbuhan

rambut

kemaluan,

melalui

pertumbuhan gigi (molar ke-2 dan molar ke-3), serta dengan mengetahui apakah
menstruasi telah terjadi.
Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum
lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk
dikawin. Perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi dianggap belum
patut untuk dikawin.

Pasal 291 KUHP


(1)

Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286,


287, 288 dan 290 itu berakibat luka berat, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.

(2)

Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285,


286, 287, 289 dan 290 itu berakibat matinya orang, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 294 KUHP


Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya
atau anak piaraannya, anak yang di bawah pengawasannya, orang di
bawah umur yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya
atau dijaganya, atau bujangnya atau orang yang di bawah umur, diancam
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Dengan itu maka dihukum juga:


1.

Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang


yang di bawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya
untuk dijaga.

2.

Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, di


tempat bekerja kepunyaan negeri, tempat pendidikan, rumah piatu,
RS jiwa atau lembaga semua yang melakukan perbuatan cabul
dengan orang yang dimaksudkan di situ.

Pada kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan


dimana persetubuhan tersebut terjadi tanpa persetujuan wanita, seperti yang
dimaksud oleh pasal 285 dan 286 KUHP; maka untuk kasus-kasus tersebut Visum
et Repertum harus dapat membuktikan bahwa pada wanita tersebut telah terjadi
kekerasan dan persetubuhan. Kejahatan seksual seperti yang dimaksud oleh pasal
285 KUHP disebut perkosaan, dan perlu dibedakan dari pasal 286 KUHP.

Pasal 285 KUHP


Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam
karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun.

10

Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan


dan telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dokter dapat
menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, apakah terdapat tandatanda kekerasan. Tetapi ini tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan
pada tindak pidana ini.
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu
merupakan akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak
ada hubungannya dengan paksaan. Demikian pula bila tidak ditemukan tandatanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak
terjadi. Pada hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang
terdapat pada tindak pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin
menentukan apakah perkosaan telah terjadi.
Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena
perkosaan adalah pengertian hukum bukan istilah medis sehingga dokter jangan
menggunakan istilah perkosaan dalam Visum et Repertum.

Pasal 286 KUHP


Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan
padahal diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau
tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan
tahun.

11

Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa korban berada dalam
keadaan pingsan atau tidak berdaya. Dokter perlu mencari tahu apakah korban
sadar waktu persetubuhan terjadi, adakah penyakit yang diderita korban yang
sewaktu-waktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya. Jika
korban mengatakan ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana
terjadinya pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi minuman atau
makanan. Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan
tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di bawah
pengaruh obat-obatan.
Jika terbukti bahwa si pelaku telah telah sengaja membuat korban
pingsan atau tidak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana
perkosaan, karena dengan membuat korban pingsan atau tidak berdaya ia telah
melakukan kekerasan.

Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan
menggunakan kekerasan.
Kejahatan seksual yang dimaksud dalam KUHP pasal 286 adalah pelaku
tidak melakukan upaya apapun; pingsan atau tidak berdayanya korban bukan
diakibatkan oleh perbuatan si pelaku kejahatan seksual.
Yang menarik dari KUHP yang mengatur tentang Kejahatan terhadap
Kesusilaan adalah Pembuat Undang-Undang ternyata menganggap tidak perlu
untuk menentukan hukuman bagi perempuan yang memaksa untuk bersetubuh,

12

bukanlah semata-mata oleh karena paksaan dari seorang perempuan terhadap


orang laki-laki itu dipandang tidak mungkin, akan tetapi justru karena perbuatan
itu bagi laki-laki dipandang tidak mengakibatkan sesuatu yang buruk atau yang
merugikan. Bentuk perkosaan terbatas pada persetubuhan atau penetrasi penis ke
dalam vagina perempuan secara paksa, belum termasuk benda-benda lain selain
penis yang dimasukkan secara paksa ke dalam vagina atau bagian tubuh
perempuan lainnya serta perlakuan menggesek-gesekkan penis ke bibir kelamin
perempuan di luar kehendak perempuan. Selain itu, perkosaan dan tindakan
persetubuhan terhadap wanita pingsan/tidak berdaya di atas disyaratkan dilakukan
di luar perkawinan. Maka, jika seorang suami memaksa untuk menyetubuhi
istrinya atau menyetubuhi istrinya yang pingsan/tidak berdaya, hal ini tidak akan
dinilai melanggar hukum.

2.2.2 Aturan Baru Sehubungan dengan Kejahatan Seksual


Ada 2 aturan baru yang muncul sehubungan dengan kejahatan seksual.
Aturan yang pertama berkenaan dengan kejahatan seksual terhadap anak.
Sementara itu, aturan yang kedua berkenaan dengan kejahatan seksual dalam
lingkup rumah tangga.

13

Dalam aturan pertama, yaitu UU Perlindungan Anak (UU No. 23 Tahun


2002), maka persetubuhan terhadap anak yakni seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun (vide Pasal 1 angka 1) mendapat pengaturan lebih khusus ,
yakni dalam Pasal 81.5

Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002


(1)

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau

ancaman memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau


dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2)

Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku

pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat,
serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain.

Selanjutnya aturan baru mengenai kejahatan persetubuhan juga termuat


dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (PKDRT), UU ini secara khusus berlaku dan diberlakukan bagi orang
dalam lingkup rumah tangga. Salah satu jenis kejahatan dalam rumah tangga
adalah kekerasan seksual, Pasal 5 huruf c UU PKDRT dilarang setiap orang
melakukan kekerasan seksual yakni meliputi a. pemaksaan hubungan seksual

14

yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga
tersebut dan b. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam
lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau
tujuan tertentu (Vide Pasal 8). Yang termasuk lingkup rumah tangga, berdasarkan
Pasal 2, adalah suami, isteri, anak, orang-orang yang memiliki hubungan keluarga
karena darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, dan orangorang yang membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga.6
Pertanyaan pertama yang muncul dari pengertian kekerasan seksual
menurut UU PKDRT adalah kualifikasi dari hubungan seksual, karena istilah
tersebut belum dikenal dalam aturan hukum pidana, KUHP dan UU lainnya
misalnya UU No. 23 Tahun 2002, menggunakan kualifikasi persetubuhan dan
pencabulan. Hal yang baru lain yang dianut UU PKDRT dibandingkan KUHP,
yakni dengan dikenalnya kekerasan seksual terhadap orang yang menetap dalam
lingkup rumah tangga maka dimungkinkan adanya kekerasan seksual yang
dilakukan oleh suami kepada isteri dan sebaliknya yakni kekerasan seksual yang
dilakukan oleh isteri (perempuan) kepada suami (laki-laki).7
2.3 Perkosaan di Mata Hukum
2.3.1 Perkosaan Berdasarkan Hukum di Indonesia
Tindak pidana perkosaan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP memiliki
beberapa unsur, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Barangsiapa
Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
Memaksa
Seorang wanita bersetubuh dengan dia
Diluar perkawinan

15

Walaupun didalam rumusannya, undang-undang tidak mensyaratkan


keharusan adanya unsur kesengajaan pada diri pelaku dalam melakukan perbuatan
yang dilarang didalam Pasal 285 KUHP, tetapi dengan dicantumkannya unsur
memaksa didalam rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 285 KUHP,
kiranya sudah jelas bahwa tindak pidana perkosaan seperti yang dimaksudkan
dalam Pasal 285 KUHP itu harus dilakukan dengan sengaja. Karena seperti yang
telah kita ketahui tindak pidana perkosaan dalam Pasal 285 KUHP harus
dilakukan dengan sengaja, dengan sendirinya unsur kesengajaan tersebut harus
dibuktikan baik oleh penuntut umum maupun oleh hakim disidang pengadilan
yang memeriksa dan mengadili perkara pelaku yang oleh penuntut umum telah
didakwa melanggar larangan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP.
Unsur obyektif pertama dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam
Pasal 285 KUHP ialah unsur barangsiapa. Kata barangsiapa ini menunjukkan
orang, yang apabila orang tersebut memenuhi semua unsur dari tindak pidana
yang diatur dalam Pasal 285 KUHP, maka ia dapat disebut sebagai pelaku tindak
pidana perkosaan tersebut.
Unsur obyektif kedua dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 285
KUHP ialah unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Menurut
Tirtaamidjaja, yang dimaksudkan dengan kekerasan adalah setiap perbuatan yang
dilakukan dengan kekuatan badan yang agak hebat. Kekerasan atau ancaman
kekerasan tersebut ditujukan terhadap wanita itu sendiri dan bersifat sedemikian
rupa sehingga berbuat lain tidak memungkinkan baginya selain membiarkan
dirinya untuk disetubuhi. Menurut Hoge Raad dalam arrest-arrestnya masing-

16

masing tanggal 5 Januari 1914, NJ 1914 halaman 397,W.9604 dan tanggal 18


Oktober 1915,NJ 1915 halaman 1116, mengenai ancaman kekerasan tersebut
disyaratkan yakni :
1. Ancaman itu harus diucapkan dalam suatu keadaan yang demikian rupa,
sehingga dapat menimbulkan kesan pada orang yang diancam, bahwa yang
diancamkan itu benar-benar akan dapat merugikan kebebasan pribadinya.
2. Maksud pelaku memang telah ditujukan untuk menimbulkan kesan seperti itu.
Dari arrest-arrest Hoge Raad tersebut, belum jelas apa yang dimaksudkan
dengan ancaman kekerasan atau ancaman akan memakai kekerasan, karena arrestarrest tersebut hanya menjelaskan tentang caranya ancaman itu harus diucapkan.
Karena kekerasan tidak hanya dapat dilakukan dengan memakai tenaga badan
yang sifatnya tidak terlalu ringan, yakni seperti yang dikatakan oleh Simons,
melainkan juga dapat dilakukan dengan memakai sebuat alat, sehingga tidak
diperlukan adanya pemakaian tenaga badan yang kuat, misalnya menembak
dengan sepucuk senjata api, menjerat leher dengan seutas tali, menusuk dengan
sebilah pisau dan lain-lainnya, maka mengancam akan memakai kekerasan itu
harus diartikan sebagai suatu ancaman yang apabila yang diancam tidak bersedia
memenuhi keinginan pelaku untuk mengadakan hubungan kelamin dengan
pelaku, maka ia akan melakukan sesuatu yang dapat berakibat merugikan bagi
kebebasan, kesehatan, atau keselamatan nyawa orang yang diancam.
Unsur ketiga dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 285 KUHP ialah
unsur memaksa. memaksa berarti di luar kehendak dari si wanita tersebut atau
bertentangan dengan kehendak wanita itu. Satochid Kartanegara menyatakan
antara lain Perbuatan memaksa ini haruslah ditafsirkan sebagai suatu perbuatan

17

sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa takut orang lain. Perbuatan memaksa
dapat dilakukan dengan perbuatan dan dapat juga dilakukan dengan ucapan.
Perbuatan membuat seorang wanita menjadi terpaksa bersedia mengadakan
hubungan kelamin, harus dimasukkan dalam pengertian memaksa seorang wanita
mengadakan hubungan kelamin. Dalam hal ini kiranya sudah jelas bahwa
keterpaksaan wanita tersebut harus merupakan akibat dari dipakainya kekerasan
akan dipakainya ancaman akan memakai kekerasan oleh pelaku atau oleh salah
seorang dari para pelaku.
Unsur objektif keempat dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 285
KUHP ialah seorang wanita bersetubuh dengan dia. Kalau bukan wanita (dalam
hal homoseks) maka tidak dapat diterapkan Pasal 285 KUHP ini. Perlu diketahui
bahwa kejahatan terhadap kesusilaan, KUHP telah menyebutkan adanya berbagai
wanita, masing-masing yakni:
1.
2.
3.
4.

Wanita yang belum mencapai usia dua belas tahun (Pasal 287 ayat (2) KUHP),
Wanita yang belum mencapai usia lima belas tahun (Pasal 287 ayat (1)
Wanita yang belum dapat dinikahi (Pasal 288 ayat (1) KUHP),
Wanita pada umumnya. Adapun yang dimaksud dalam Pasal 285 KUHP adalah
wanita pada umumnya.
Pengertian bersetubuh diartikan bahwa penis telah penetrasi ke dalam

vagina. Bila ternyata pelaku tidak berhasil memasukkan penisnya kedalam vagina
korban, misalnya karena korbannya telah memberikan perlawanan, maka pelaku
dapat dipersalahkan karena telah melakukan suatu percobaan pemerkosaan yakni
melanggar larangan yang diatur dalam Pasal 53 ayat (1) jo. Pasal 285 KUHP, dan
sesuai dengan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 53 ayat (2) KUHP, hakim
dapat menjatuhkan pidana penajara selama-lamanya 8 tahun bagi pelaku yakni

18

sesuai ketentuan pokok terberat yang diancamkan dalam Pasal 285 KUHP
dikurangi sepertiganya.8
Unsur objektif kelima dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam
Pasal 285 KUHP ialah unsur di luar perkawinan. Di luar perkawinan berarti bukan
istrinya. Dari peraturan ini dapat ditarik beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Korban perkosaan harus seorang perempuan, tanpa batas umur.
2. Korban harus mengalami kekerasan atau ancaman kekerasan. Ini berarti tidak
ada persetujuan dari korban mengenai niat dan tindakan si pelaku.
3. Persetubuhan di luar perkawinan adalah tujuan yang ingin dicapai dengan
melakukan kekerasan atau ancaman terhadap perempuan tersebut.
Mengenai rumusan tindak pidana perkosaan RUU KUHP 1999/2000
Direvisi 2004/2005 merumuskannya pada pasal 489 bunyinya sebagai berikut:
1) dipidana karena melakukan tindak pidana perkosaan, dengan pidana penjara
paling sedikit 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas tahun):
a. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan diluar
perkawinan , bertentangan dengan kehendak perempuan tersebut;
b. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan diluar
perkawinan tanpa persetujuan perempuan tersebut;
c. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan dengan
persetujuan perempuan tersebut, tetapi persetujuan tersebut dicapai
melalui ancaman untuk dibunuh atau dilukai ;
d. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, dengan
persetujuan perempuan tersebut karena perempuan tersebut percaya bahwa
laki-laki tersebut adalah suaminya yang sah;
e. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan yang berusia
dibawah 14 (empat belas) tahun, dengan persetujuannya, atau

19

f. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, padahal


diketahui bahwa perempuan tersebut dalam keadaan pingsan atau tidak
berdaya.
2) Dianggap juga melakukan tindak pidana perkosaan, jika dalam sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1);
a. Laki-laki memasukkan alat kelaminnya kedalam anus atau mulut
perempuan; atau
b. Laki-laki memasukkan suatu benda yang bukan merupakan bagian
tubuhnya kedalam vagina atau anus perempuan.

2.3.2 Perkosaan Berdasarkan Hukum di Negara Lain


Di California, Untuk dapat dikatakan ada perkosaan (rape) tidak perlu
ada persetubuhan (sexual intercourse); cukup apabila memaksa seseorang untuk
melakukan hubungan tidak senonoh/perbuatan cabul (indecent relations). Dalam
hal demikian ancaman pidananya berkisar antara 1-10 tahun penjara. Tetapi
apabila indecent relations itu berupa sexual intercourse maka pidananya
diperberat yaitu dikenakan pidana minimal tidak kurang dari 3 tahun penjara
(ps.192). Jadi, adanya sexual intercourse bukan syarat untuk adanya perkosaan,
tetapi hanya sebagai alasan factor pemberat pidana. Apabila perkosaan berakibat
luka-luka berat atau mati, minimal pidananya menjadi 4 tahun dan maksimumnya
pidana penjara seumur hidup (dalam konsep KUHP minimalnya 5 tahun dan
maksimumnya 15 tahun penjara). Selain itu, California juga mengakui adanya
bentuk perkosaan yang terjadi antara pasangan yang menikah maupun belum
menikah serta bentuk perkosaan dimana benda asing dimasukkan ke dalam
vagina.

20

Harus diakui, praktek peradilan di Indonesia belum sepenuhnya


memberikan jaminan perlindungan hukum terhadap perempuan. Pada tahap
pemeriksaan terhadap korban kejahatan perkosaan ini sering dilakukan dengan
tidak memperhatikan hak-hak asasi korban, korban kerapkali posisinya hanya
sebagai saksi yang semata-mata untuk membuktikan kesalahan pelaku/terdakwa .
Sedangkan pada tahap penjatuhan putusan hukum, korban kembali dikecewakan
karena putusan yang dijatuhkan pada pelaku cukup ringan atau jauh dari
memperhatikan hak-hak asasi perempuan.9
Pemberian kompensasi dari Negara yang hanya terhadap korban
perkosaan pelanggaran HAM berat (dalam keadaan tertentu), dan bukan pada
semua korban perkosaan dalam keadaan biasa adalah bertentangan dengan normanorma pengaturan pemberian kompensasi dan restitusi yang diakui secara
internasional dan di beberapa Negara. Bahwa pada dasarnya adalah merupakan
tanggung jawab Negara untuk memberikan kompensasi kepada semua korban
perkosaan dan bukan hanya pada korban perkosaan yang merupakan pelanggaran
hak asasi manusia yang berat saja. Bagi korban perkosaan dalam keadaan biasa,
diberikan hak untuk mengajukan tuntutan ganti rugi bersamaan dengan perkara
pidananya, yaitu sebelum tuntutan Jaksa Penuntut Umum dibacakan berdasarkan
ketentuan Pasal 98 KUHAP. Beberapa negara lain yang dapat dicontoh dalam
hukum pemberian kompensasi untuk korban pemerkosaan, antara lain Inggris
dengan Criminal Injuries Compensation Act 1995, 6 Belanda dengan Code of
Criminal Procedure, Kanada dengan Criminal Code and Criminal Injuries
Conpensation, Australia dengan The Victim Support and Rehabilitation 1996 and

21

Victim Compensation Fund, Jepang dengan Basic Act in Crime Victims, Malaysia
dengan Domestic Violence Act 1994.

2.4 Pemeriksaan Terhadap Korban Pemerkosaan


Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, perkosaan termasuk dalam kekerasan terhadap perempuan dan anak. Oleh
karena itu, alur penanganan dan rujukannya dapat berpedoman pada alur yang
telah ditetapkan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.10
Korban

Datang

Memproses

Kantor Polisi

tanpa SPV

SPV

Datang dengan

Rumah Sakit
IGD

Non Kritis

Kritis

Semi Kritis

PKT/

ICU/HCU

PPT

Rawat Inap

Pemeriksaan Psikososial

Meninggal (Otopsi)

Pemeriksaan Fisik/Medikolegal
Konseling/Konsultasi Spesialis

22

Pulang/Rawat Jalan

Shelter

Bagan 1. Alur Penanganan dan Rujuan Kasus Perkosaan Terhadap Perempuan dan Anak

Sebelum korban dikirim ke rumah sakit/fasilitas kesehatan untuk


dilakukan pemeriksaan dokter, perlu dijelaskan dengan hati-hati proses
pemeriksaan forensik dengan memaparkan langkah-langkah penyelidikan.
Sebelum pemeriksaan forensik syarat yang harus dipenuhi adalah:
1. Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis
dari penyidik yang berwenang.
2. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti.
Kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi,
jangan diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi.
3. Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapat
pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum
4. Ijin tertulis untuk pemeriksaan dapat diminta pada korban sendiri atau pada
wali atau orang tua korban apabila korban adalah anak di bawah umur
(informed consent)
5. Setiap pemeriksaan harus didampingi oleh Chaperone bisa oleh perawat atau
bidan.
6. Pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin. Hindari korban dari
menunggu terlalu lama yang memungkinkan timbulnya perasaan cemas
terutama bila korban seorang anak-anak. Hal ini juga bertujuan untuk
mencegah hilangnya alat bukti yang penting bagi pengadilan

23

7. Visum et Repertum harus diselesaikan secepat mungkin karena semakin cepat


Visum et Repertum dibuat maka perkara dapat cepat pula diselesaikan.11,12

2.4.1 Rape Kit


Sebelum memulai pemeriksaan, dokter juga harus memastikan kelengkapan dari
rape kit sesuai dengan panduan dari WHO10, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Spekulum
Protoskop/anuskop
Pelumas, NaCl steril
Sisir untuk mengumpulkan benda asing di rambut pubik
Jarum suntik (model kupu-kupu untuk anak-anak), tabung untuk

mengumpulkan darah.
6. Kaca obyek untuk menyiapkan gumpalan basah dan/atau kering (untuk
sperma).
7. Swab berujung kapas/aplikator/kompres balut untuk mengumpulkan sampel.
8. Kontainer laboratorium untuk membawa swab.
9. Lembaran kertas untuk mengumpulkan debris saat korban melepas pakaian.
10. Pita ukur untuk mengukur dimensi memar, laserasi, dan lain-lain.
11. Kantong kertas untuk mengumpulkan bukti-bukti.
12. Lem kertas untuk menyegel dan label container/kantong.
13. Persediaan untuk Universal Precaution (sarung tangan, kotak untuk sampah
terkontaminasi dan material tajam, sabun)
14. Perlengkapan resusitasi.
15. Jarum suntik.

2.4.2 Anamnesis
Wawancara dengan korban meliputi empat elemen: Wawancara teraupetik,
wawancara investigasi, wawancara medis dan wawancara medico-legal.
Walaupun isi dari masing-masing wawancara bisa saling tumpang tindih dan
perbedaan wawancara dalam beberapa hal dapat dilakukan oleh orang yang sama,

24

dengan tujuan dan fungsi masing-masing berbeda. Wawancara dapat dilakukan


tersendiri, bersahabat dan lingkungan yang mendukung. Pada kasus remaja,
mereka diijinkan untuk didampingi oleh orang tua bila mereka mau. Mereka juga
diperlakukan dengan cara yang sama seperti orang dewasa.11
1. Informasi Umum
a. Identitas korban, umur, status perkawinan, alamat dan nomor telepon wali
(jika korban dibawah umur)
b. Nama penyidik, NRP dan pangkat
c. Waktu dan tempat pemeriksaan
2. Anamnesis berkaitan dengan kejadian perkosaan
a. Waktu kejadian, tanggal, jam kejadian dan, tempat kejadian (sebagai
petunjuk dalam pencarian trace evidence)
b. Informasi tentang pelaku (nama, deskripsi penampilan pelaku)
c. Penggunaan senjata, ada tidaknya pengancaman. Ancaman, termasuk
ancaman verbal (menggambarkan jenis ancaman) / penggunaan kekuatan,
pukulan, cengkram, menyambar, memegang dll, senjata yang digunakan
yang menyebabkan cedera. Ini adalah untuk mengidentifikasi pola cedera
dan pola cedera yang mungkin berkorelasi dengan dugaan penggunaan
senjata.
d. Ada tidaknya kontak seksual, oral, anal maupun vaginal. Apakah penetrasi
adalah percobaan / lengkap, baik oral, vagina dan/atau anal dan apakah
oleh penis / jari /objek lain harus didata dengan benar bersama dengan
informasi tentang tumpahan mani. Ini untuk mencari bukti cedera dengan
penis, jari atau benda asing tertentu. Informasi mengenai ejakulasi /
tumpahan mani dalam vagina, anus, mulut, payudara atau pada bagian
tubuh lainnya atau pakaian, tempat tidur atau tempat lain harus
didokumentasikan. Hal ini untuk mencatat adanya atau tidak adanya air

25

mani untuk mengidentifikasi kebutuhan swabbing korban. Informasi


mengenai status kondom (robek / tidak robek dll) dan digunakan selama
serangan relevan karena dalam kasus tersebut, Swab vagina dan smear
akan negatif untuk sperma / semen. Informasi mengenai penggunaan busa
atau jelly atau pelumas dapat diperoleh. Ini adalah untuk menjelaskan
kondisi air mani (misalnya busa atau jelly mungkin spermicidal).
e. Kontak oral oleh mulut pelaku kepada korban. Ini adalah untuk
mengidentifikasi tempat pada tubuh mana penyeka harus diambil untuk
deteksi air liur dari si pelaku
f. Kekerasan lain selain kekerasan seksual
g. Perlawanan oleh korban. Jika korban sempat melawan, akan ditemukan
robeknya pakaian, tanda-tanda kekerasan pada tubuh, dan pada alat
kelamin. Kerokan kuku mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit
dan darah yang berasal dari pelaku
h. Apakah korban pingsan? Ini

untuk

menyelidiki

kemungkinan

pemerkosaan difasilitasi dengan obat, klinis menjelaskan setiap kehilangan


memori atau apapun yang tidak ingat tentang kejadian lengkap, adanya
dugaan trauma kepala harus disingkirkan. Apabila benar korban pingsan
tanpa adanya trauma kepala, pengambilan sample urin dan darah untuk
pemeriksaan toksokologi untuk membuktikan apakah ada obat bius yang
diberikan oleh pelaku sebelum dilakukan pemerkosaan.
i. Riwayat pemberian obat/alkohol pada korban. Hal ini dimasukkan jika
relevan. Harus dicatat bahwa beberapa pelaku menggunakan obat-obatan
atau alkohol untuk memudahkan penyerangan seksual. Kehadiran alkohol
atau obat-obatan dalam darah dan urin mungkin memiliki implikasi klinis
dan hukum. Penyerang dapat menggunakan obat untuk menundukkan

26

korban dan korban mungkin telah kehilangan kemampuan untuk membuat


keputusan yang rasional atau mungkin telah kehilangan kesadaran
j. Apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi, sikat gigi dan mengganti
pakaian? Kegiatan selanjutnya yang dilakukan oleh korban setelah
terjadinya perkosaan dapat mengubah bukti-bukti, misalnya, muntah,
buang air besar, mandi atau mandi, menyeka genital atau cuci, berkemuh,
menghapus atau memasukkan tampon / menggunakan tampon / spons atau
diafragma, makan atau minum; menyikat gigi, berkumur dan mengganti
pakaian dll, juga harus didokumentasikan. Hal ini dapat menyulitkan
dalam pengambilan bukti.
k. Riwayat menstruasi korban. Perlu diingat bahwa sejumlah bukti hilang
karena menstruasi.11,12,13

2.4.3 Pemeriksaan Fisik


Untuk membantu korban dan juga pengadilan, dokter wajib melakukan
pemeriksaan yang tujuannya dalam ialah:
1. Untuk mengetahui ada tidaknya tanda persetubuhan;
2. Untuk mengetahui ada tidaknya tanda kekerasan.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada korban meliputi:


1. Pemeriksaan Fisik Umum
a. Penampilan korban apakah rapi atau kusut serta keadaan emosional korban
apakah korban tenang, sedih, atau gelisah.
b. Tanda vital. Perlu dilakukan karena selain sebagai korban, korban hidup
juga merupakan pasien sehingga dokter wajib melakukan pemeriksaan
dasar berupa pengukuran suhu, nadi, laju pernafasan, dan tekanan darah.

27

c. Pemeriksaan pakaian. Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti.


Yang dicari ialah trace evidence yang berasal dari tempat kejadian seperti
bercak darah, air mani, lumpur, dan lainnya. Selain itu juga dicari adanya
robekan atau kancing yang terputus dimana bila ditemukan bisa
merupakan suatu petunjuk telah terjadi kekerasan.
d. Pemeriksaan tanda-tanda bekas hilangnya kesadaran. Kesadaran pasien
dinilai dengan GCS. Bila ditemukan adanya tanda-tanda hilangnya
kesadaran maka dicari apakah terdapat neddle marks bekas suntikan obat
tidur atau obat bius. Bila terdapat tanda-tanda hilangnya kesadaran maka
perlu diambil sampel urin dan darah dan dikirim ke laboratorium.
e. Pupil dan refleks cahaya. Perlu diperhatikan pada pupil ialah ukurannya,
dimana normalnya ialah 3-5 mm. Bila didapatkan pinpoint pupil (pupil
miosis) dan tidak memberikan respons terhadap cahaya, maka
kemungkinan korban telah diberikan NAPZA.
f. Pemeriksaan tanda-tanda bekas kekerasan. Perlu diteliti apakah sudah
terjadi kekerasan atau tidak. Biasanya pada kasus kejahatan susila
ditemukan memar atau luka lecet di daerah mulut, leher, pergelangan
tangan, lengan, paha bagian dalam, serta pinggang.
g. Pemeriksaan perkembangan alat kelamin sekunder, tinggi dan juga berat
badan. Gunanya pemeriksaan ini ialah menentukan usia korban bila usia
korban tidak dapat dipastikan oleh korban maupun orang tuanya.
Perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu
dikemukakan.
h. Pemeriksaan rongga mulut dan gigi-geligi. Pemeriksaan rongga mulut
perlu dilakukan karena bisa saja terjadi oral sex (penis dimasukan ke
dalam rongga mulut). Bila terjadi demikian maka pada pemeriksaan

28

rongga mulut akan tampak hiperemis. Perlu dilakukan swab oral, dan
bahan diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan gigi-geligi gunanya adalah
untuk menentukan usia korban bila tidak terdapat datanya. Yang perlu
diperhatikan

pada

pemeriksaan

gigi-geligi

ialah

gigi

geraham

belakang/molar kedua, bila sudah tumbuh berarti korban sudah 12 tahun


atau lebih (sedangkan bila ditemukan juga molar ketiga maka korban
berusia 17-21 tahun atau lebih).
i. Pemeriksaan keadaan jantung, paru, dan abdomen. Dilakukan selayaknya
dokter melakukan kepada pasien biasa.
j. Pemeriksaan ekstremitas. Diperhatikan tanda-tanda kekerasan seperti yang
telah dikemukakan. Selain itu juga diperhatikan apakah terdapat trace
evidence seperti jaringan kulit maupun darah dibawah kuku korban yang
bisa didapatkan bila terdapat perlawanan.
2. Pemeriksaan Fisik Khusus
a. Pemeriksaan genitalia. Pemeriksaan genitalia dilakukan dari luar ke dalam,
sebagai berikut:
Pemeriksaan rambut kemaluan: Diperhatikan apakah terlihat rambut
kemaluan yang saling melekat menjadi satu karena bisa merupakan

cairan mani yang mengering.


Pemeriksaan sekitar alat kelamin: Diperhatikan apakah terdapat
bercak mani disekitar alat kelamin bilamana ada maka diambil
dengan sisi tumpul skalpel atau di swab dengan kapas lidi yang

dibasahi dengan garam fisiologis.


Pemeriksaan vulva: Diperhatikan adapakah terdapat tanda-tanda
bekas kekerasan seperti hiperemi, edema, memar, dan luka lecet
akibat goresan kuku atau benda lain.

29

Pemeriksaan selaput dara: Selaput dara diperhatikan intak atau sudah


mengalami ruptur. Bila selaput dara tidak intak maka perlu dicatat
apakah sampai basis/insertio dan arah dari robekan selaput dara sesuai
dengan arah jarum jam. Ruptur perlu dibedakan dari celah bawaaan
dengan memperhatikan insertio/pangkal selaput dara. Celah bawaan
tidak mencapai insertio sedangkan ruptur dapat mencapai insertio.
Perlu dibedakan juga apakah ruptur baru atau ruptur lama. Pada
ruptur lama, robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya
jaringan parut pada jaringan dibawahnya. Ruptur akibat persetubuhan
biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri dengan asumsi
bahawa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan.
Namun, persetubuhan tidak selalu disertai oleh ruptur pada selaput
dara, ada beberapa alasan yaitu bila: 1.penetrasi penis hanya
mencapai vulva; 2.selaput dara korban elastis; 3.penis pelaku
berukuran kecil; 4.ereksi penis tidak maksimal; dan 5.pada coitus

interoptus.
Pemeriksaan orifisium vagina: Ukuran orifisium vagina dengan cara
ujung kelingking atau telunjuk dimasukkan dengan hati-hati ke dalam
orifisium sampai terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari,
diberikan tanda pada sarung tangan dan lingkaran pada titik tersebut
diukur. Ukuran orifisium vagina pada seorang perawan kira-kira 2,5
cm, sedangkan ukuran minimal orifisium vagina yang memungkinkan
adanya persetubuhan ialah 9 cm.

30

Pemeriksaan frenulum labiorum pudenda dan commisura labiorum


posterior: Diperiksa apakah utuh atau tidak. Bila tidak utuh mungkin

merupakan tanda kekerasan.


Pemeriksaan introitus vagina: Diperhatikan introitus vagina apakah
hiperemis atau edema. Kemudian diambil bahan untuk pemeriksaan

sperma dari vestibulum dengan kapas lidi.


Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum: Pemeriksaan ini
dilakukan

bila

keadaan

alat

genital

memungkinkan.

Perlu

diperhatikan ada atau tidak tanda penyakit kelamin.


Pemeriksaan anus: Pemeriksaan anus perlu dilakukan karena ada
kemungkinan terjadi anal sex (penis dimasukan ke dalam lubang
anus). Bila terjadi anal sex maka pada pemeriksaan fisik akan
didapatkan lubang anus yang hiperemis dan edema. Perlu dilakukan
anal swab untuk sampel pemeriksaan laboratorium lebih lanjut.11,12

2.5 Pemeriksaan Terhadap Pelaku1


Beberapa sumber menyebutkan bahwa sebetulnya pemeriksaan medik
terhadap tersangka hanya diperlakukan apabila ia menyangkal dapat melakukan
persetubuhan karena impotensi. Ini berkenaan dengan salah satu syarat perkosaan,
yaitu terjadinya senggama. Seorang laki-laki yang menderita impotensi tentunya
tidak mungkin dapat melakukan persetubuhan, sehingga tidak mungkin dituduh
melakukan perkosaan. Maka, pemeriksaannya pun hanyalah untuk menentukan
adanya penyakit yang dapat menyebabkan impotensi pada pelaku.
Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa ada 2 pemeriksaan yang
dilakukan terhadap pelaku, yaitu:

31

1. Pemeriksaan tubuh
Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan persetubuhan, dapat
dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada glans penis. Perlu
juga dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk menentukan adanya penyakit
kelamin.
2. Pemeriksaan pakaian
Pada pemeriksaan pakaian, catat adanya bercak semen, darah, dan sebagainya.
Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu
ditentukan. Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah
deflorasi. Di sini penentuan golongan darah penting untuk dilakukan. Trace
evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus
diperiksa. Bila fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium
forensik di kepolisian atau bagian Ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus,
segel, serta dibuat berita acara pembungkusan dan penyegelan.

2.6 Pemeriksaan Terhadap Barang Bukti Medik14


Pada kasus tindak pidana seksual sering kali dapat ditemukan barang
bukti medik berupa bagian-bagian dari tubuh pelaku, antara lain:
1. Sperma atau bercak sperma.

32

Adanya sperma bukan saja membuktikan adanya senggama, tetapi dari sperma
itu juga dapat diketahui golongan darah (bagi tipe secretor) serta DNA yang
akan berguna bagi kepentingan identifikasi pelaku.
2. Rambut kepala
Seringkali korban tindak pidana seksual menarik rambut pelaku sebagai
perlawanan diri. Oleh karena itu perlu dicari disela-sela jari tangan korban.
Dari rambut tersebut dapat diketahui suku bangsa, golongan darah, dan
bahkan DNA asalkan pada pangkal dari rambut tersebut ditemukan sel.
3. Rambut kelamin.
Rambut kelamin pelaku juga sering ditemukan pada tubuh korban sehingga
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi.
4. Darah.
Jika korban mencakar pelaku maka ada kemungkinan di bawah kukunya
ditemukan sel-sel darah sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui
golongan darah serta DNA pelaku.
5. Gigi.
Dalam kasus perkosaan mungkin terjadi perlawanan yang mengakitbatkan gigi
pelaku tanggal. Dari gigi tersebut dapat diketahui ras, golongan darah, serta
DNA.
6. Jejas gigit (bite mark) dan air liur.
Jika pelaku tindak pidana seksual menderita sadism, maka ada kemungkinan
dapat ditemukan jejas gigit pada tubuh korban dengan air liur di sekitarnya.
Pola jejas gigit tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan identifikasi
dengan cara mencocokkannya dengan pola jejas gigit dariorang yang diduga
sebagai pelakunya. Sedangkan air liur yang ditemukan disekitarnya dapat
digunakan untuk mengetahui golongan darah (bagi yang bertipe sekretor) atau
DNA sebab di dalam air liur terdapat sel-sel buccal yang lepas.
2.7 Pemeriksaan Laboratorium2

33

Pada kasus kekerasan seksual, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang


sesuai indikasi untuk mencari bukti-bukti yang terdapat pada tubuh korban.
Pembuktian persetubuhan yang lain adalah dengan memeriksa cairan mani di
dalam liang vagina korban. Dari pemeriksaan cairan mani akan diperiksa sel
spermatozoa dan cairan mani sendiri.

2.7.1 Penentuan Adanya Sperma


1. Tujuan

: Menentukan adanya sperma

Bahan pemeriksaan

: Cairan vagina

Metoda

:
Tanpa pewarnaan
Satu tetes cairan vaginal ditaruh pada gelas objek dan
kemudian

ditutup; pemeriksaan dibawah mikroskop dengan

pembesaran 500 kali. Hasil yang diharapkan: sperma yang masih


bergerak.
Dengan pewarnaan Malachite-green
Buat sediaan apus dari cairan vagina pada gelas objek, keringkan di
udara, fiksasi dengan api, warnai dengan Malachite-green 1%
dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air, warnai dengan
Eosin-yellowish 1% dalam air, tunggu 1 menit, cuci dengan air,
keringkan dan diperiksa dibawah mikroskop.
Hasil yang diharapkan: Bagian basis kepala sperma berwarna ungu, bagian
hidung merah muda.
2.

Tujuan
Bahan pemeriksaan

: Menentukan adanya sperma


: Pakaian
34

Metoda

:
Pakaian yang mengandung bercak diambil sedikit pada
bagian

tengahnya

(konsentrasi

sperma

terutama

di

bagian tengah dari bercak),

Warnai dengan pewarnaan BAEECHI selama 2 menit,

Cuci dengan HCL 1%,

Dehidrasi dengan alkohol 70%, 85% dan alkohaol absolut,

Bersihkan dengan Xilol,

Keringkan dan letakan pada kertas saring,

Dengan jarum, pakaian yang mengandung bercak diambil


benangnya 1- 2 helai, kemudian diurai sampai menjadi serabutserabut pada gelas objek,

Teteskan canada balsem, ditutup dengan gelas penutup lihat


dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali.
Hasil yang diharapkan:
Kepala sperma berwama merah, bagian ekor biru muda; kepala
sperma tampak menempel pada serabut-serabut benang.

Pembuatan pewarnaan BAEECHI :


o Acid-fuchsin 1 % (1 tetes atau 1 ml)
o Methylene-blue 1 % (1 tetes atau 1 ml)
o HCL 1 % (40 tetes atau 40 ml)

35

2.7.2 Penentuan Adanya Cairan Mani


Reaksi dengan adanya asam fosfatase yang berasal dari mani. Fosfatase
asam merupakan enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat di dalam cairan
semen/mani dan didapatkan pada konsentrasi tertinggi di atas 400 kali dalam mani
dibandingkan yang mengalir dalam tubuh lain.
1. Tujuan

: Menentukan adanya air mani (asam fosfatase)

Bahan pemeriksaan

: Cairan vaginal

Metoda

Cairan vaginal ditaruh pada kertas Whatman, diamkan sampai

kering,
Semprot dengan reagensia,
Perhatikan warna ungu yang timbul dan catat dalam berapa detik
warna ungu tersebut timbul.
Hasil yang diharapkan:
Warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30 detik, berarti asam
fosfatase berasal dari prostat, berarti indikasi besar; warna ungu
timbul kurang dari 65 detik, indikasi sedang.
Pembuatan reagensia:
Bahan-bahan yang dibutuhkan;
1) Sodium chloride 23 gram
2) Glacial acetic acid 1/2 ml
3) Sodium acetate trihydrate 2 gram
4) Brentaminefast Blue B 50 mg
5) Sodium alpha naphthyl phosphate 50 mg
6) Aquadest 90 ml
36

7) Kertas Whatman no. 1 serta alat penyemprot (spray)


Bahan No. 1, 2 dan 3 dilarutkan dalam aquadest menjadi larutan
buffer dengan pH sekitar 5. Bahan No. 4 dilarutkan dengan sedikit
larutan buffer dan kemudian bahan No. 5 dilarutkan dalam sisa
buffer. Selanjutnya bahan No 4 yang sudah dilarutkan tersebut
dimasukan ke dalam larutan sodium alpha-naphthyl-phosphate dan
dengan cepat disaring dan dimasukkan ke dalam botol yang gelap
(reagensia ini bila disimpan dalam lemari es dapat tahan beberapa
minggu ).
Adapun dasar reaksi ini ialah: asam fosfatase akan men-ghidrolisir
alpha naphthyl phosphate dan alpha naphthol yang dibebaskan
akan bereaksi dengan Brentamine dan membentuk warna ungu.
2. Tujuan

: Menentukan adanya air mani (kristal kholin)

Bahan pemeriksaan : Cairan vaginal


Metoda

: Florence

Cairan vaginal ditetesi larutan yodium


Kristal yang terbentuk dilihat di bawah mikroskop

Hasil yang diharapkan: Kristal-kristal kholin-peryodida tampak berbentuk


jarum-jarum yang berwarna coklat.
3. Tujuan

: Menentukan adanya air mani (kristal spermin)

Bahan pemeriksaan : cairan vaginal


Metoda

: Berberio

Cairan vaginal ditetesi larutan asam pikrat., kemudian lihat di


bawah mikroskop
37

Hasil yang diharapkan : Kristal-kristal spermin pikrat akan berbentuk rhombik


atau jarum kompas yang berwarna kuning kehijauan.
4. Tujuan

: menentukan adanya air mani

Bahan pemeriksaan : pakaian


Metoda

inhibisi asam fosfatase dengan L (+) asam tartrat


- Pakaian yang diduga mengandung bercak air mani dipotong
-

kecil dan diekstraksi dengan beberapa tetes aquades.


Pada dua helai kertas saring diteteskan masingmasing satu
tetes ekstrak; kertas saring pertama disemprot dengan reagens
1 (sodium alpha naphthyl phosphate dan Brentamine
fast blue B, dilarutkan dalam larutan buffer citrat dengan
pH. 4,9), yang kedua disemprot dengan reagensia 2 (sodium
alpha naphthyl phosphate dan Brentamine fast blue B,
dilarutkan dalam larutan yang terdiri dari 9 bagian larutan
buffer citrat pH.4,9 dan 1 bagian larutan 0,4 M. L(+)

tartaric acid dengan pH.4,9),


Bila pada kertas saring pertama timbul warna ungu dalam
waktu satu menit, sedangkan pada yang kedua tidak terjadi
warna ungu, maka dapat disimpulkan bahwa bercak pada

pakaian vang diperiksa adalah bercak air mani,


Bila dalam jangka waktu tersebut warna ungu timbul pada
keduanya, maka bercak pada pakaian bukan bercak air mani,

asam fosfatase yang terdapat berasal dari sumber lain.


reaksi dengan asam fosfatase

38

Kertas saring yang sudah dibasahi dengan aquades diletakkan


pada pakaian atau bahan yang akan diperiksa selama 5-10

menit, kemudian kertas saring diangkat dan dikeringkan,


Semprot dengan reagensia, jika timbul warna ungu berarti

pakaian atau bahan tersebut mengandung air mani,


Bila kertas saring tersebut diletakan pada pakaian atau bahan
seperti semula, maka dapat diketahui letak dari air mani pada

bahan yang diperiksa.


sinar-UV; visual; taktil dan penciuman
- Pemeriksaan dengan sinar-UV: bahan yang akan diperiksa
ditaruh dalam ruang yang gelap, kemudian disinari dengan
-

sinar ultra violet bila terdapat air mani, terjadi fluoresensi.


Pemeriksaan secara visual, taktil dan penciuman tidak sulit
untuk dikerjakan.

2.7.3 Pemeriksaan Sexual Transmitted Disease (STD)


Tujuan

: Menentukan adanya kuman Neisseria gonorrhoeae (GO)

Bahan pemeriksaan

: Sekret uretra dan sekret serviks uteri

Metoda

: Pewarnaan Gram

Hasil yang diharapkan: kuman Neisseria gonorrhoea.

2.7.4 Pemeriksaan Kehamilan


Tujuan

: Menentukan adanya kehamilan

Bahan pemeriksaan

: Urin

Metoda

Hemagglutination inhibition test (Pregnosticon)


39

Agglutination inhibition test (Gravindex )

Hasil yang diharapkan: terjadi aglutinasi pada kehamilan.


2.7.5 Pemeriksaan Toksikologi
Tujuan

: Menentukan adanya racun (toksikologi )

Bahan pemeriksaan

: Darah dan urin

Metoda

Thin Layer Chromatograph

Mikrodiffusi, dsbnya.
Hasil yang diharapkan

Adanya

obat

yang

dapat

menurunkan atau menghilangkan kesadaran.

2.7.6 Penentuan Golongan Darah


Tujuan

: Penentuan golongan darah

Bahan pemeriksaan

: Cairan vaginal yang berisi air mani dan darah.

Metoda

: Serologi (ABO grouping test)

Hasil yang diharapkan: Golongan darah dari air mani berbeda dengan golongan
darah dari korban.
Pemeriksaan ini hanya dapat dikerjakan bila tersangka pelaku kejahatan termasuk
golongan "sekretor"

40

2.8 Aspek Etik dan Medikolegal dalam Prinsip Pemeriksaan dan


Penatalaksanaan Korban (P3K) Kejahatan Seksual
Dalam melakukan P3K kekerasan seksual, terdapat beberapa aspek etik
dan medikolegal yang harus diperhatikan. Karena korban juga berstatus sebagai
pasien, dan yang akan diperiksa adalah daerah sensitif, hal utama yang harus
diperhatikan

adalah

memperoleh

informed

consent.

Informasi

tentang

pemeriksaan harus diberikan sebelum pemeriksaan dimulai dan antara lain,


mencakup tujuan pemeriksaan dan kepentingannya untuk pengungkapan kasus,
prosedur atau teknik pemeriksaan, tindakan pengambilan sampel atau barang
bukti, dokumentasi dalam bentuk rekam medis dan foto, serta pembukaan
sebagian rahasia kedokteran guna pembuatan visum et repertum. Apabila korban
cakap hukum, persetujuan untuk pemeriksaan harus diperoleh dari korban. Syaratsyarat cakap hukum adalah berusia 21 tahun atau lebih, atau belum 21 tahun tapi
sudah pernah menikah, tidak sedang menjalani hukuman, serta berjiwa sehat dan
berakal sehat. Apabila korban tidak cakap hukum persetujuan harus diminta dari
walinya yang sah. Bila korban tidak setuju diperiksa, tidak terdapat ketentuan
undangundang yang dapat memaksanya untuk diperiksa dan dokter harus
menghormati keputusan korban tersebut.
Selain itu, karena pada korban terdapat barang bukti (corpus delicti)
harus diperhatikan pula prosedur legal pemeriksaan. Setiap pemeriksaan untuk
pembuatan visum et repertum harus dilakukan berdasarkan permintaan tertulis
(Surat Permintaan Visum/SPV) dari polisi penyidik yang berwenang. Korban juga

41

harus diantar oleh polisi penyidik sehingga keutuhan dan originalitas barang bukti
dapat terjamin. Apabila korban tidak diantar oleh polisi penyidik, dokter harus
memastikan identitas korban yang diperiksa dengan mencocokkan antara identitas
korban yang tercantum dalam SPV dengan tanda identitas sah yang dimiliki
korban, seperti KTP, paspor, atau akta lahir. Catat pula dalam rekam medis bahwa
korban tidak diantar oleh polisi. Hal ini harus dilakukan untuk menghindari
kemungkinan kesalahan identifi kasi dalam memeriksa korban.15
Seorang dokter yang memeriksa kasus kekerasan seksual harus bersikap
objektif-imparsial, konfidensial, dan profesional. Objektif imparsial artinya
seorang dokter tidak boleh memihak atau bersimpati kepada korban sehingga
cenderung mempercayai seluruh pengakuan korban begitu saja. Hal yang boleh
dilakukan adalah berempati, dengan tetap membuat penilaian sesuai dengan buktibukti objektif yang didapatkan secara sistematis dan menyeluruh. Tetap waspada
terhadap upaya pengakuan atau tuduhan palsu (false allegation) dari korban.
Hindari pula perkataan atau sikap yang menghakimi atau menyalahkan korban
atas kejadian yang dialaminya. Dokter juga harus menjaga konfidensialitas hasil
pemeriksaan korban. Komunikasikan hasil pemeriksaan hanya kepada yang
berhak mengetahui, seperti kepada korban dan/atau walinya (jika ada), serta
penyidik kepolisian yang berwenang. Tuangkan hasil pemeriksaan dalam visum et
repertum sesuai keperluan saja, dengan tetap menjaga kerahasiaan data medis
yang tidak terkait dengan kasus. Profesionalitas dokter dalam melakukan P3K
kekerasan seksual ditunjukkan dengan melakukan pemeriksaan sesuai dengan

42

kaidah-kaidah ilmu kedokteran yang umum dan mutakhir, dengan memperhatikan


hak dan kewajiban korban (sekaligus pasien) dan dokter.16,17
2.9 Pemeriksaan Forensik Kasus Perkosaan di Negara Lain
Di California, Amerika Serikat, terdapat perbedaan dalam prosedur
pemeriksaan forensik kasus perkosaan dengan prosedur di Indonesia. Perbedaan
tersebut, antara lain18:
1. Korban kejahatan seksual tidak memerlukan Surat Permintaan Visum terlebih
dahulu untuk diperiksa, tapi dokter wajib menghubungi pusat penanganan
kasus

perkosaan

terdekat

sebelum

melakukan

pemeriksaan.

Untuk

pemeriksaan itu sendiri, dapat dilakukan tanpa harus menunggu kehadiran


perwakilan dari pusat tersebut.
2. Pemeriksaan terhadap pelaku hanya bisa dilakukan setelah ada surat perintah
dari pihak yang berwajib dan persetujuan dari pelaku, kecuali pelaku tersebut
sudah ditahan sehingga tidak diizinkan menolak untuk diperiksa.
3. Waktu efektif yang dianjurkan untuk pengumpulan bukti dari korban maupun
pemeriksaan terhadap pelaku adalah 72 jam sejak kejadian.

43

BAB III
CONTOH KASUS

3.1 Contoh Kasus Perkosaan di Indonesia


JAKARTA, KOMPAS.com JM (18), seorang mahasiswi sekolah tinggi
kebidanan diperkosa lima pria tak dikenal saat menumpang angkutan umum C01
jurusan Ciledug Kebayoran Baru. Lima pria itu adalah para penumpang dan
sopir angkutan yang ditumpanginya itu.

Berdasarkan penuturan teman korban, Rizal, peristiwa ini terjadi pada Jumat
(20/1/2012) sekitar pukul 21.00 WIB. Saat itu, korban hendak pergi ke rumah
saudaranya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Korban menaiki angkot
C01 dari rumahnya yang terletak di wilayah Ciledug. Ketika menaiki angkot,
korban melihat di dalamnya ada lima orang pria termasuk sopir.

Tiba-tiba saat di dalam angkot, korban dipukul pakai suatu benda di belakang
sebelah kiri, ucap Rizal, Minggu (22/1/2012), saat dihubungi wartawan.

Korban langsung lemas dan tak sadarkan diri. Korban lalu merasa tubuhnya
diangkat oleh orang lain. Dia merasa saat itu diperkosa di jalan. Tepatnya di
dekat Pasar Kebayoran Lama, ungkap Rizal.

44

Berdasarkan pengakuan korban, kata Rizal, lima pria yang ada di angkot itu,
termasuk sang sopir, lalu menyetubuhinya. Namun, karena korban masih dalam
keadaan lemas, ia tak mampu memberontak. Ia pun diperkosa dalam keadaan
setengah sadar.

Pada Sabtu (21/1/2012) malam, korban melapor ke Polres Metro, Jakarta Selatan.
Hingga Minggu pukul 10.00, korban masih menjalani pemeriksaan intensif unit
Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Polrestro Jakarta Selatan.

3.2 Contoh Kasus Perkosaan di Negara Lain


SAN DIEGO, ABCNews.com Crystal Harris, 39, dan Shawn Harris, 40, yang
sekarang sudah menjadi mantan suaminya adalah pasangan sejak mereka masih
kuliah. Mereka menikah di tahun 1996. Crystal mengatakan bahwa beberapa kali
terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Shawn. Akhirnya, di
tahun 2008, Shawn memaksanya untuk bersetubuh ketika kedua anak mereka
sedang berada di lantai atas. Crystal berhasil merekam kejadian tersebut dengan
tape recorder yang Ia sembunyikan di laci. Melalui rekaman suara tersebut,
terdengar suara Crystal mengatakan kepada suaminya bahwa Ia tidak mau
diperkosa olehnya dan berkata bahwa suaminya menyakiti lehernya.

Di dalam proses peradilan, Shawn mengatakan bahwa persetubuhan tersebut


terjadi atas keinginan kedua belah pihak dan bahwa Ia dan Crystal suka berteriak
untuk menaikkan adrenalin selama bersetubuh. Namun, rekaman suara tersebut

45

membuktikan bahwa setidaknya Shawn memaksa Crystal untuk melakukan oral


seks. Untuk tindakan perkosaan dalam hubungan ini, Shawn dipenjara selama 2
tahun dan kemungkinan akan dilepas dari penjara di tahun 2014.

46

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penulisan referat ini adalah;
1. Pengertian persetubuhan menurut Nojon, yang dikutip oleh Dahlan, adalah
penis telah penetrasi ke dalam vagina. Sedangkan, menurut Idries,
persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki-laki masuk ke
dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan dengan atau
tanpa terjadinya pancaran mani. Persetubuhan yang merupakan kejahatan
seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang, tertera pada pasal-pasal yang
terdapat pada Bab XIV KUHP, tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan; yang
meliputi persetubuhan di dalam perkawinan maupun di luar perkawinan.
2. Perkosaan, menurut Pasal 285 KUHP, adalah seorang pria yang dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di luar perkawinan. Untuk perbandingan misalnya di California,
Untuk dapat dikatakan ada perkosaan (rape) tidak perlu ada persetubuhan
(sexual intercourse); cukup apabila memaksa seseorang untuk melakukan
hubungan tidak senonoh/perbuatan cabul (indecent relations).
3. Pemeriksaan forensik kasus perkosaan meliputi pemeriksaan korban, pelaku,
dan barang bukti medik. Aspek etik dan medikolegal dalam pemeriksaan
tersebut yang paling utama adalah adanya informed consent dan Surat
Permintaan Visum (SPV) sebelum melakukan pemeriksaan. Di California,
Korban kejahatan seksual tidak memerlukan Surat Permintaan Visum terlebih

47

dahulu untuk diperiksa, tapi dokter wajib menghubungi pusat penanganan


kasus perkosaan terdekat sebelum melakukan pemeriksaan.
4.2 Saran
1. Diharapkan dokter dan tenaga medis lain lebih waspada dalam melakukan
pemeriksaan forensik pada kasus perkosaan dan terutama dalam pengamanan
barang-barang bukti.
2. Diharapkan dokter dan tenaga medis lain dapat memahami alur sistem
penanganan pada korban perkosaan sehingga bisa ditangani dengan cepat dan
tepat.

DAFTAR PUSTAKA

48

1. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik: Pedoman Bagi Dokter dan


Penegak Hukum, Cetakan V. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro; 2007.
2. Idries, Abdul Munim. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, edisi pertama.
Jakarta: Binarupa Aksara; 1998.
3. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
4. Soesilo. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Lengkap. Bogor: Politea;
1976.
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
7. Perkembangan RUU Anti Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Edisi Pertama
Cetakan Kedua. Kalyanamedia; 2004.
8. Marpaung, Leden. Kejahatan Terhadap

Kesusilaan

dan

Masalah

Prevensinya. Jakarta: Penerbit Sinar Grafika; 1997.


9. Irianto, Sulistyowati. Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum Yang
Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan. Jakarta: Penerbit Yayasan Obor
Indonesia; 2006.
10. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik
Indonesia. Prosedur Standar Operasional Pelaksanaan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) Bidang Layanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban
Kekerasan. Jakarta: 2010.
11. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim TWA, Sidhi, Hertian S, et
al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI;
1997.
12. Clifton EG, Feeny NC. Medical Examination of Rape Victim. 2014.
13. Khandekar, Indrajit. Forensic Medical Care for Victims of Sexual Assault.
2013.

49

14. Kalangit A, Mallo J, Tomuka D. Peran Ilmu Kedokteran Forensik dalam


Pembuktian Tindak Pidana Pemerkosaan sebagai Kejahatan Kekerasan
Seksual. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi: Manado; 2010.
15. Dahlan, S. Ilmu Kedokteran Forensik. Semarang: Universitas Diponegoro;
2007.
16. PDI, Meilia. Prinsip Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Korban (P3K)
Kekerasan Seksual. CDK; 2012
17. World Health Organization. Guidelines for medico-legal care for victims of
sexual violence. Geneva: WHO; 2003
18. California Medical Protocol for Examination of Sexual Assault and Child

Abuse Victims. 2001.

50