Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH

REKAYASA ENERGI DI INDUSTRI


SANKEY DIAGRAM BOILER PADA PLTU UNIT II PAITON

Disusun oleh:
Riska Ayu

(2412100012)

JURUSAN TEKNIK FISIKA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

DASAR TEORI
A. PLTU
Listrik merupakan bagian penting bagi kehidupan kita. Sebagian besar sumber energi
dalam keseharian manusia disokong oleh energi listrik. Sumber dalam melakukan konversi
energi untuk menghasilkan energi listrik sangat beragam, mulai dari air, diesel, gas, ataupun uap.
PLTU merupakan pembangkit listrik dengan melakukan konversi energi dari energi panas
menjadi mekanik, kemudian energi mekanik menjadi energi listrik. Proses ini berlangsung
dalam suatu sistem yang berkesimnambungan. Gambar 1 dibawah ini menjelaskannya secara
singkat mengenai proses pada PLTU.
Boiler merupakan salah satu komponen penting dalam pembangkitan listrik dengan tenaga
uap ini. Sumber energi pada PLTU adalah panas yang dihasilkan dalam suatu pembakaran. Pada
boiler inilah pembakaran tersebut berlangsung. Dalam laporan ini akan dijelaskan mengenai
metode perhitungan energi (efisiensi) boiler pada PLTU. Terdapat dua metode untuk melakukan
perhitungan efisiensi boiler, yaitu metode langsung dan metode tak langsung.
a. Metode langsung
Energi yang didapat dari fluida kerja (air dan steam) dibandingkan dengan energi yang
terkandung dalam bahan bakar boiler.
b. Metode tak langsung
Efisiensi merupakan perbedaan antara kehilangan dan energi yang masuk. [1]
Berikut ini adalah proses yang terjadi pada pembangkit listrik tenaga uap. Gambar
berikut akan menjelaskan secara singkat proses yang terjadi.

Gambar 1 Proses pada PLTU

Sistem Pembakaran pada Boiler di PLTU


1.
Pertama air diisikan ke boiler hingga mengisi penuh seluruh luas permukaan pemindah
panas. Didalam boiler air ini dipanaskan dengan gas panas hasil pembakaran bahan bakar
dengan udara sehingga berubah menjadi uap.
2.
Kedua, uap hasil produksi boiler dengan tekanan dan temperatur tertentu diarahkan untuk
memutar turbin sehingga menghasilkan daya mekanik berupa putaran.
3.
Ketiga, generator yang dikopel langsung dengan turbin berputar menghasilkan energi
listrik sebagai hasil dari perputaran medan magnet dalam kumparan, sehingga ketika turbin
berputar dihasilkan energi listrik dari terminal output generator
4.
Keempat, Uap bekas keluar turbin masuk ke kondensor untuk didinginkan dengan air
pendingin agar berubah kembali menjadi air yang disebut air kondensat. Air kondensat hasil
kondensasi uap kemudian digunakan lagi sebagai air pengisi boiler.
5.
Demikian siklus ini berlangsung terus menerus dan berulang-ulang.

B. PLTU PAITON Unit 2

Gambar 2 PLTU Paiton Unit 2


Gambar diatas merupakan skema sistem pembangkitan di PLTU Paiton Unit 2. Dalam
laporan ini akan disusun metode untuk menghitung besar energi yang hilang pada boiler dan
energi yang dapat digunakan pada turbin yang merupakan hasil dari proses pembakaran. Pada
PLTU Unit 2 Paiton digunakan boiler jenis Fluidized bed Combustion dimana bahan bakar yang
digunakan adalah batu bara dengan kapasitas boiler mencapai lebih dari 100T/jam.
Pada boiler jenis ini bahan bakar akan dihancurkan menjadi bagian yang lebih kecil dan
dialirkan dengan diberi udara dari bawah boiler. Udara ini dihasilkan oleh Fan yang membuat
partikel padat yang terdapat pada boiler tersuspensi dalam aliran udara tersebut. Kemudian
diberikan kenaikan kecepatan udara yang menyebabkan pembentukan gelembung, turbulensi
yang kuat, pencampuran cepat, dan pembentukan permukaan bed yang rapat. Bed partikel padat
menampilkan sifat cairan mendidih dan terlihat sepeti fluida. Partikel dalam keadaan
terfluidisasikan dipanaskan hingga suhu nyala batubara, dan diinjeksikan batu bara, batubara
akan terbakar. [1]

C. Perhitungan Efisiensi Boiler


Berdasarkan
Pedoman
Efisiensi
Energi
untuk
industri
di
Asia
(www.energyefficiencyasia.org) untuk menghitung panas yang terbuang, dapat dilakukan
perhitungan dengan langkah-langkah berikut.
Tabel 1 Perhitungan Effisiensi Boiler

Bedasarkan metode tersebut dilakukan perhitungan untuk memdesain diagram Sankey


dari proses pembakaran pada Boiler pada PLTU Paiton Unit 2. Dalam melakukan perhitungan
dibutuhkan tabel berikut ini untuk melakukan perhitungan analisa. Data yang diambil pada
perhitungan ini adalah berdasarkan Tugas Akhir Mahasiswa Teknik Mesin ITS atas nama Aan
Zainal yang didapatkan pada Februari-April 2009.

ANALISA DATA
Metode tidak langsung yang digunakan pada laporan ini dilakukan dengan menghitung
rugi panas yang dihasilkan boiler. Sebelum perhitungan rugi panas dilakukan, dibutuhkan

beberapa data perhitungan. Berikut ini adalah data-data yang dibutuhkan dapat perhitungan heat
loss.
A. Analisa Ultimate dan Analisa Proximate
Tabel 2 Analisis Proximate
Analisis Batubara

Nilai

Moisture

0,234 kg/kg

Karbon
Hidrogen

0,703 kg/kg
0,053 kg/kg

Nitrogen

0,008 kg/kg

Sulfur
HHV

0,003 kg/kg
5149,11 kcal/kg

Tabel 3 Hubungan analisa ultimate dan analisa proximate


%C =

0,97C+0,7(VM-0,1A)-M(0,6-0,1M)

%H =

0,03C+0,086(VM-0,1A)-0,0035M2

%N =

2,1-0,02M

Dimana
C

%fixed carbon

%abu

VM

%volatile matter

%moiture

Pada persamaan yang menjelaskan tentang hubungan antara analisa ultimate


dengan analisa proximate diketahui bahwa nilai volatile matter dapat diperoleh apabila
mengetahui nilai nitrogen yang terkandung pada batubara. [%N = 2,1-0,02 VM].
Sehingga, dengan nilai nitrogen diatas diketahui bahwa prosentasi volatile matter
adalah 65%.
B. Menghitung Udara Teoritis yang Diperlukan

11 C + 34,5 H 2
TAR=

100

)]

O2
+ 4,32 S
8

kg /kg

Berdasarkan data pada tabel 3 diatas diperoleh nilai udara teoritis yang diperlukan untuk
sistem pembakaran tersebut adalah 9,06 kg/kg batubara
C. Menghitung Massa Aktual Udara yang akan dipasok
Pada tabel 1 mengenai parameter effisiensi boiler, untuk mengetahui massa actual
udara dibutuhkan nilai excess air dan massa CO2 secara teoritis. Berikut adalah
metodologi perhitungannya.

CO2 Teoritis
Mol N 2=

Mol C=

berat N 2batubara teoritis 77 berat N 2 batubara


+
Mr N 2
Mr N 2

berat C
Mr C

CO 2 ( teoritis ) =

Mol C
=0,1829
Mol N 2+ MolC

Untuk nilai N2 teoritis dihitung berdasarkan persamaan pada tabel 2 dan N2


aktual berdasarkan data pada tebel 1

Excess Air yang di-supply


Nilai CO2a yang diperoleh berdasarkan data pada 18 Februari 2009 adalah
17,25%. Sehingga nilai excess air yang di-supply adalah
7900 (%CO2t%CO2a )
=5,857
%CO2a (100%CO2t )

Massa Aktual Udara yang dipasok


Berdasarkan perhitungan excess air dan udara teoritis diperoleh nilai massa
udara yang sehasusnya dipasok, yaitu:
AAS =( 1+ EA ) TAR=9,59 kg /kg batubara

Kemudian dilakukan perhitungan heat loss berdasarkan data-data dasar yang telah
dihitung diatas. Berikut adalah perhitungan yang dilakukan

1. Menghitung Heat Loss pada Flue Gas Kering


mC p (Tf Ta)
100
HHV batubara
Massa flue gas dapat dihitung melalui persamaan
Massa flue gas = massa CO2 + massa N2 di batu bara + massa N2 di pembakaran dengan
udara yang disupply+massa oksigen di flue gas
L=

Sehingga diperoleh massa flue gas yaitu 10.092 kg/kg batubara dan heat losses pada flue
gas kering yaitu 5.5%
2. Menghitung Heat Loss karena pembentukan air dari H2
L=

9 H 2 [584+ c p ( Tf Ta ) ]
100=5,92
HHV batubara

3. Menghitung Heat Loss Karena Moisture di Batu bara

L=

M [ 584+ c p ( Tf Ta ) ]
HHV batu bara

100=2,90

4. Menghitung Heat Loss karena moisture di Udara


Karena temperature dry bulb merupakan temperature ambient yang bernilai 330C. Dan
dengan asumsi kelembaban pada plant saat musim hujan yaitu 90% dan musim kemarau
70% sehingga disimpulkan bahwa kelembaban relative rata-rata yaitu 80%. Maka rasio
kelembabannya adalah 0,26. Maka untuk menghitung heat loss karena moisture di
batubara yaitu
AAS rasio kelembaban [ c p ( Tf Ta ) ]
L=
100=2,68
HHV batu bara
5. Menghitung Heat Loss Karena Pembakaran yang Tidak Sempurna
Berdasarkan hasil laboratorium tentang gas buang, didapatkan hasil untuk kadar CO di
flue gas sebesar 5mg/m3 dan 24mg/m3 sehingga kadar CO rata-rata bernilai 14,5 mg/m3.
Sedangkan untuk debsity dari flue gas sebesar 1,293 kg/m3 sehingga volume spesifik
untuk flue gas bernilai 0,77339m3/kg.
Untuk mengetahui kadar CO dalam flue gas dapat dihitung dengan persamaan berikut:
%CO= CO v^

= 14,5 0,7739
= 0,0011214%
Sehingga untuk perhitungan lossesnya adalah
L=

%CO C 5744
5
100=5,1 10
(%CO + CO 2 a)HHV batubara

6. Menghitung Heat Loss yang tidak terhitung


Untuk boiler pada pembangkit listrik, nilai dari heat loss yang tidak terhitung antara 0,4%
hingga 1%, sehingga diasumsikan menggunakan rata-rata yaitu 0,7%.
7. Menghitung Heat Loss karena Karbon yang tidak terbakar
Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa nilai karbon yang terbakar selama proses
pembakaran sebesar 0,699kg/kg batubara, maka karbon yang tidak terbakar berkisar
0,301 kgA.kg batubara. Heat loss ini terbagi menjadi dua bentuk yaitu dalam bentuk
bottom ash dan fly ash. Perbandingan bottom ash dan fly ash adalah 90:10. Sehinggga
dalam bentuk bottom ash bernilai 4,2088% dan dalam bentuk fly ash yaitu 0,0891%.
Sehingga titalnya yaitu 4,3%
Total Heat Loss = 5,5% + 5,92% + 2,9% +2,68%+ 0 + 0,7%+4,3% = 22%

Sankey Diagram

Diteruskan ke turbin