Anda di halaman 1dari 103

BUKU AJAR

MATA KULIAH:

FISIKA NUKLIR
Disusun oleh:

Choirul Anam
Much. Azam
K. Sofjan Firdausi

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2007

Dan kami ciptakan logam (al hadid) yang di dalamnya


terdapat energi yang dasyat dan berbagai manfaat bagi
manusia. (QS. Al Hadid 25)

ii

MOTO

ii

KATA PENGANTAR

iii

PENDAHULUAN

iv

DAFTAR ISI

vi

I.

II.

III.

IV.

V.

VI.

VII.

VIII.

IX.

STRUKTUR DAN SIFAT INTI


a. Struktur Materi

b. Sifat Inti

ENERGI IKAT DAN GAYA INTI


a. Energi Ikat

14

b. Gaya Inti

16

MODEL INTI
a. Model Tetes Cairan

22

b. Model Kulit

24

RADIOAKTIVITAS
a. Kestabilan Inti

29

b. Peluruhan Radioaktif

31

c. Hukum-hukum dalam Peluruhan Radioaktif

35

PELURUHAN ALFA
a. Peluruhan Alfa

39

b. Karakteristik Partikel Alfa

41

PELURUHAN BETA
a. Peluruhan Beta

45

b. Karakteristik Partikel Beta

48

PELURUHAN GAMMA
a. Peluruhan Gamma

51

b. Absorbsi Sinar Gamma

52

c. Interaksi Sinar Gamma dan Materi

54

DETEKSI RADIASI NUKLIR


a. Detektor Isian Gas

57

b. Detektor Sintilasi

61

c. Detektor Kamar Kabut

63

REAKSI NUKLIR
a. Reaksi Nuklir

66

vi

X.

XI.

XII.

b. Klasifikasi Reaksi Nuklir

67

c. Sistem Kerangka Acuan

69

d. Energi Reaksi Inti

71

REAKSI FISI
a. Reaksi Fisi

74

b. Distribusi Energi Fisi

75

c. Reaksi Berantai

77

REAKSI FUSI
a. Reaksi Fusi

81

b. Reaksi Fusi Matahari

82

c. Reaksi Fusi Terkendali

85

REAKTOR NUKLIR
a. Reaktor Nuklir

87

b. Komponen Reaktor Nuklir

88

c. PLTN

90

d. Pengelolaan Limbah Radioaktif

93

DAFTAR PUSTAKA

98

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas taufiq dan
hidayah-Nya, Buku Ajar Fisika Nuklir ini telah berhasil diselesaikan.
Buku ajar ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pengajaran Mata Kuliah
Fisika Nuklir. Sehingga dengan peningkatan tersebut diharapkan penguasaan dan
pengetahuan mahasiswa menjadi meningkat dan lebih baik. Diharapkan juga mahasiswa
termotivasi agar mengembangkannya ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dengan
pengembangan teori dan teknologi untuk kesejahteraan masyarakat.
Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya
buku ajar ini. Selain itu tak lupa juga diucapkan banyak terima kasih pada Dirjen Dikti
yang telah membantu dalam pendanaan melalui hibah penganjaran PHK A2.
Akhirnya, kami berharap saran dan kritik demi peningkatan kualitas buku ajar ini.

Semarang, 2007

Tim Penyusun

iii

I. STRUKTUR DAN SIFAT INTI


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Struktur Materi
Sifat Inti

1.1 STRUKTUR MATERI


TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Struktur Materi, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan struktur materi, terutama tentang atom.
Menjelaskan model-model atom, yaitu model: Thomson, Rutherford dan model
Bohr.

1.1.1 Pendahuluan
Filosof Yunani zaman dahulu berspekulasi bahwa bumi tersusun dari beberapa
kombinasi unsur (substansi dasar). Mereka menganggap unsur dasar ini adalah: bumi,
udara, air, dan api. Ilmuan modern menunjukkan bahwa Filosof Yunani benar dalam
menggagas konsep bahwa materi terdiri dari kombinasi unsur-unsur, tapi kurang tepat
dalam mengidentifikasi unsur-unsur penyusunnya.
Konsep dasar lain yang diperdebatkan Filsosof Yunani adalah apakah materi bersifat
kontinyu (bila dipecah tidak ada habisnya) atau diskrit (bila dipecah akan berakhir pada
ukuran tertentu yang tidak dapat dipecah lagi). Democritus (450 SM) megusulkan bahwa
materi tersusun dari partikel sangat kecil, yang karena sedemikian kecilnya sehingga tidak
dapat dibagi-bagi lagi. Namun, konsep tentang atom ini murni hanya pemikiran. Pada saat
itu, tidak mungkin untuk membuktikan atau membantah teori tersebut.
Bukti modern dari sifat dasar atom pertama kali dikemukakan oleh John Dalton pada
tahun 1803. Menurut Dalton, atom merupakan partikel terkecil yang tidak dapat dibagi
lagi. Atom-atom suatu unsur semuanya serupa dan tidak dapat berubah menjadi unsur lain.
Dua atom atau lebih yang berasal dari unsur-unsur berlainan dapat membentuk molekul.
Pada saat itu Dalton berhasil menyuguhkan teori atom yang dapat digunakan untuk
menjelaskan reaksi-reaksi kimia dan dapat dibuktikan di laboratorium.

1.1.2 Model Atom


Selama lebih dari 100 tahun setelah Dalton, ada anggapan yang beredar bahwa tidak
mungkin untuk membagi atom menjadi bagian yang lebih kecil. Keseluruhan hasil dari
penelitian kimia selama waktu itu menunjukkan bahwa atom memang tak dapat dibagi.
Sampai akhirnya J.J Thomson menemukan elektron. Elektron adalah partikel bermuatan
negatif yang mempunyai massa 1/1835 dari massa atom hidrogen.
Dengan ditemukan elektron, maka runtuh pendapat dan aksioma yang menyatakan
bahwa atom adalah materi terkecil yang tidak dapat berubah dan bersifat kekal.
Kemudian Thomson menjelaskan model atom, bahwa atom mempunyai bentuk
seperti bola yang muatan positifnya terbagi rata ke seluruh isi atom. Muatan positif
tersebut dinetralkan oleh elektron-elektron bermuatan negatif yang tersebar merata diantara
muatan positif itu.

Gambar 1.1. Model Atom Thomson


Untuk menguji model atom yang dikemukakan Thomson, E. Rutherford melakukan
percobaan dengan menembakkan partikel alfa pada suatu lempeng emas yang sangat tipis,
sekitar 0,01 mm. Apabila model atom Thomson benar maka gerakan partikel alfa tidak
akan dibelokkan atau memantul ketika menumbuk lempeng emas, karena energi partikel
alfa dan massanya jauh lebih besar dibanding elektron dan muatan positif yang menyebar.
Dari percobaan itu didapatkan bahwa partikel alfa yang ditembakkan ke lempeng
emas tidak seluruhnya mampu menembus lempeng emas secara lurus. Beberapa partikel
alfa dibelokkan dan sebagian lagi dipantulkan kembali. Hal ini menunjukkan bahwa
muatan positif tidak menyebar, tetapi mengumpul.
Rutherford berkesimpulan, sebagian partikel alfa yang dipantulkan kembali adalah
karena bertumbukan dengan bagian yang sangat keras dari atom, yang kemudian
dinamakan inti atom. Kemudian Rutherford mengusulkan model atom baru, yaitu: atom
terdiri dari muatan positif dan negatif, dimana semua muatan positif dan sebagian besar

massa atom terkumpul pada inti atom. Inti atom dikelilingi elektron-elektron yang
bermuatan negatif pada jarak yang relatif jauh. Elektron-elektron berputar mengelilingi inti
seperti planet-planet mengelilingi matahari.
Teori atom Rutherford ini kemudian disempurnakan oleh Niels Bohr pada tahun 1913
untuk mengatasi masalah kesetabilan inti. Dalam postulatnya Bohr mengatakan:
1. Elektron tidak dapat berputar mengelilingi inti melalui sembarang lintasan, tetapi
hanya dapat melalui lintasan-lintasan tertentu saja, tanpa membebaskan energi.
Lintasan ini disebut lintasan stasioner.
2. Apabila terjadi perpindahan elektron dari lintasan luar ke lintasan dalam, maka
akan disertai pelepasan energi. Sebaliknya, jika elektron berpindah dari lintasan
dalam ke luar, akan terjadi penyerapan energi.
hf

Inti

Gambar 1.2. Model Atom Bohr

1.2 SIFAT INTI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Sifat Inti, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan konsep inti atom
Menjelaskan pertikel penyusun inti atom
Menjelaskan lambang nuklida
Menjelaskan isotop, isoton dan isobar
Menjelaskan satuan dan orde massa inti serta teknik mengukur massa inti
Menjelaskan jari-jari inti dan teknik mengukurnya.
1.2.1 Inti Atom
Inti suatu atom (nuklida) sangat kecil jika dibanding dengan diameter sebuah atom.
Jika diameter atom diperbesar sebesar lapangan sepak bola, maka inti hanya sebesar
kelereng. Bahkan, inti atom hanya menempati 10-15 bagian volume atom. Walaupun kecil,

inti mengandung 99,99% massa sebuah atom. Sebab, massa setiap partikel inti kira-kira
1800 massa sebuah elektron. Inti juga menghasilkan gaya tarik elektrik yang
menghimpun atom menjadi satu kesatuan. Bila gaya tarik Coulomb inti ini tidak ada, gaya
tolak-menolak antara elektron akan menyebabkan atom berantakan.
Lalu, gaya apakah yang menyebabkan partikel-partikel di dalam inti dapat menyatu?
Apakah proton-proton di dalam inti tidak tolak-menolak? Padahal, sebuah muatan positif
pada permukaan inti akan mengalami gaya sangat besar, yakni sekitar 100 MeV.
Untuk dapat mempertahankan keutuhan inti, terdapat gaya ikat yang sangat besar,
melebihi 100 MeV. Inilah yang dinamakan gaya inti (gaya nuklir).

1.2.2 Partikel Penyusun Inti


Massa sebuah atom dipusatkan di inti atom. Inti atom yang kecil tersebut terdiri atas
proton-proton yang bermuatan positif. Kesimpulan ini didapatkan dari riset yang dilakukan
oleh Rutherford yang menembaki inti atom dengan partikel alfa. Proton-proton dalam inti
atom dikelilingi elektron-elektron yang bermuatan negatif, dimana jumlah elektron sama
dengan jumlah proton sehingga secara keseluruhan atom bersifat netral.
Apakah inti atom hanya terdiri dari proton-proton? Jika inti atom hanya terdiri dari
proton, maka atom oksigen yang memiliki 8 proton akan memiliki massa kira-kira 8 kali
massa atom hidrogen yang hanya memiliki 1 proton dalam intinya. Padahal hasil
eksperimen menunjukkan bahwa massa atom oksigen kira-kira 16 kali massa inti atom
hidrogen. Jelas bahwa selain terdiri atas proton-proton, inti atom juga terdiri atas partikelpartikel netral (tidak bermuatan) yang menyumbang pada massa inti atom.
Para ilmuan berusaha untuk menemukan jawaban atas masalah tersebut. Salah
satunya adalah fisikawan J. Chadwick, pada tahun 1933 berhasil menemukan partikel
netral yang menyumbang massa atom. Dia menyebut partikel tersebut sebagai netron.
Dengan demikian, sebuah inti terdiri atas proton dan netron. Kedua partikel ini
disebut nukleon atau nuklida (penyusun inti).
0
+
0
+

0
0
+ +
+
0 +

+
0

Netron

Proton

0 + 0

Gambar 1.3. Inti Atom Terdiri Dari Sejumlah Proton dan Sejumlah Netron

Lambang Nuklida
Unsur-unsur yang berbeda memiliki jumlah proton yang berbeda. Contoh, Hidrogen
memiliki 1 proton, Helium memiliki 2 proton, dan Litium memiliki 3 proton. Bilangan
yang menunjukkan jumlah proton dinamakan nomor atom, lambangnya Z.
Jumlah netron pada netron disebut dengan nomor netron dan disimbolkan N. Nomor
massa adalah jumlah total proton dan neutron. Nomor massa diberi simbol A dan dapat
ditentukan dengan persamaan Z + N = A.
Setiap nuklida memiliki lambang berbeda. Suatu nuklida dengan simbol kimia X,
nomor massa A dan nomor atom Z, ditulis sebagai:

Nomor Massa

X
Z

Nomor Atom

Simbol Unsur

Gambar 1.4. Lambang Nuklida

Tabel 1.1. Contoh Penulisan Lambang Nuklida


Nuklida Unsur
1
1
10
5

H
Bo

14
7

114
48

Cd

235
92

Proton

Elektron Netron

Hidrogen

Boron

Nitrogen

Cadmium

48

48

66

Uranium

92

92

143

1.2.3 Isotop
Inti atom yang memiliki jumlah proton yang sama diberi lambang atom sama. Contoh
nuklida yang memiliki proton 2 dinamakan Helium (He). Di alam ternyata ditemukan
nuklida

3
2

He dan

4
2

He . Contoh lain, nuklida yang memiliki jumlah proton 29 adalah

tembaga (Cu). Di alam juga ditemukan nuklida

63
29

Cu dan

65
29

Cu .

Kedua variasi inti atom Helium dan Tembaga tersebut dinamakan isotop. Jadi, isotop
adalah nuklida yang memiliki nomor atom sama, tetapi nomor massa berbeda. Atau dapat
5

juga dikatakan bahwa isotop adalah nuklida yang jumlah protonnya sama, tetapi jumlah
netronnya berbeda.
Setiap unsur memiliki isotop. Hidrogen memiliki tiga isotop, yaitu
biasa),

2
1

H (dinamakan deuterium), dan

3
1

1
1

H (hidrogen

H (dinamakan tritium). Unsur-unsur lain

memiliki isotop yang lebih banyak.


Selain isotop juga dikenal istilah isobar dan isoton. Isobar adalah nuklida dengan
nomor massa sama, tetapi nomor atom berbeda. Atau nuklida dengan jumlah nukleon
sama, tetapi jumlah protonnya berbeda. Contoh 13 H dan 23 He .
Isoton adalah nuklida-nuklida yang jumlah netron dalam intinya sama. Contoh
3
1

H dan 24 He .

1.2.4 Massa Inti


Satuan massa untuk SI adalah kg. Namun, satuan massa tersebut terlalu besar untuk
menggambarkan massa atom atau massa sebuah inti. Sebagai gantinya digunakan satuan
massa atom, yang dilambangkan u.
1 satuan massa atom (u) didefinisikan

Menurut eksperimen 1 mol isotop

12
6

1
massa isotop 126 C
12

C adalah 12 gram. 1 mol adalah jumlah zat

sebanyak 6,02 x 1023 (yang dikenal dengan bilangan Avogadro, N A )


Bila dihitung:
1 mol atom 126 C =12 g
6,02 1023 atom 126 C =12 10-3 kg
Massa 1 atom 126 C = 12 10-3 kg/(6,02 1023) = 1,99 10-26 kg.
Sesuai dengan definisi 1 u sama dengan 1/12 massa aisotop 126 C
1 u = 1,99 10-26 kg/12 = 1,66 10-27 kg.
1 u = 1,66 10-27 kg
Dalam perhitungan fisika nuklir, massa adalah ekivalen dengan energi yang dapat
dihitung dengan persamaan Einstein E = mc 2 .
Maka 1 u setara dengan:
6

E = (1,660566 10-27 kg) (2,9979 108 m/s)2 = 14,9244229 10-11 J


Karena 1 eV = 1,602 10-19 J
Maka 1 u setara dengan energi 931,502 MeV
1 u setara dengan energi 931,502 MeV

Tabel 1.2. Muatan, Massa Diam dan Spin Nukleon


Proton

Netron

Muatan

+1,6 10-19C

0C

Massa Diam

1,67252 10-27 kg

1,67482 10-27kg

938,256 MeV

939,550 MeV

1,007277 u

1,008665 u

Spin

1.2.5 Menentukan Massa Inti


Untuk mengukur massa inti dengan ketelitian tinggi digunakan spektrometer massa.
Bila detektornya masih menggunakan film, dinamakan spektrograf massa. Prinsip kerja
spektrograf massa dapat dijelaskan sebagai berikut (lihat gambar 1.5).

S
S1

x x x
x x x

Film

S2

Gambar 1.5 Gambar Spektrograf Massa

Partikel bermuatan ditembakkan memasuki suatu ruang dari sumber S melalui celah
S 1 , dan masuk ke dalam ruang yang dipengaruhi medan magnet B dan medan listrik E
yang saling tegak lurus. Hal ini berguna untuk mengatur partikel (ion) agar bergerak
dengan kecepatan tertentu.
7

Partikel di dalam dua medan yang berlawanan akan mengalami dua gaya yang
berlawanan

qE = qvB

(1.1)

Sehingga didapatkan kecepatan partikel sebesar


v=

E
B

(1.2)

Setelah itu partikel akan bergerak dengan kecepatan v memasuki ruang yang memiliki
medan magnet B yang tegak lurus dengan lintasan partikel, melalui celah S 2 . Di dalam
medan magnet B, partikel akan dibelokkan oleh gaya Lorentz dengan lintasan lingkaran
berjari-jari r hingga jatuh pada pelat film.

FLorentz = Fs
v2
r
qB' r
m=
v
qvB' = m

(1.3)

Jika nilai q, B, dan v telah diketahui, maka nilai m ditentukan oleh besarnya nilai r.
Untuk r kecil, m juga kecil dan sebaliknya.
Contoh
Sumber ion mengeluarkan ion melalui velocity selector yang medan listriknya E = 4,0
kV/m dan medan magnetnya B = 0,1 T. A) berapakah kecepatan ion, B) Jika setelah
melewati S 2 memasuki medan magnet B = 0,05 T, jika jari-jari lintasannya 13 cm dan dan
muatannya 1,6 10-19 C
Jawab

E 4 103
a. v = =
= 4 10 4 m / s
B
0,1
b. m =

qB ' r
= 2,6 10 26 kg
v

1.2.6 Jari-jari Inti


Mendefinisikan secara tepat jari-jari inti sama sulitnya mendefinisikan jari-jari sebuah
atom. Sebab, distribusi muatannya tidak berakhir pada suatu tepi yang jelas.
Banyak inti berbentuk agak bulat (walaupun ada beberapa yang agak lonjong) dan

inti fm-3

ketergantungan kerepatan ditunjukkan oleh gambar 1.6:

0,06

Gambar 1.6. Disribusi Muatan Inti

Dari beraneka ragam eksperimen, diketahui banyak hal mengesankan tentang sifat
rapat inti. Terlihat bahwa rapat inti tidak berubah. Dengan kata lain, jumlah netron dan
proton tiap satuan volume kurang lebih tidak berubah di seluruh daerah inti atom:

jumlah netron + proton


A
=
tetapan
volume inti
(4 / 3)R 3

(1.4)

Jadi

A R3
Atau

R A1 / 3
Dengan mendefinisikan tetapan pembanding R 0 , diperoleh
R = R0 A1 / 3

(1.5)

Tetapan R 0 harus ditentukan dengan eksperimen. Di antara eksperimen yang


digunakan adalah dengan menghamburkan partikel bermuatan (alfa atau elektron) pada
inti. Ternyata nilai R 0 sangat bergantung pada sifat inti yang diukur. Untuk ukuran
distribusi massa, R 0 sekitar 1,4 fm (10-15 m) dan untuk ukuran distribusi muatan, R 0 sekitar
1,2 fm.
Contoh
a. Hitunglah nilai hampiran jari-jari karbon (A = 12) dan b. Hitunglah massanya
seandainya inti karbon memiliki jari-jari r = 1 cm
Solusi
a. R = (1,2 10 15 )(12)1 / 3 = 2,7 10 15 m

m
A
=
V (4 / 3)R 3

b. m = (V ) pengandaian

12 x 1,66 x 10 27 kg (10 2 ) 3
A
3
=
(4 / 3) r =
(4 / 3)R 3
(2,7 10 15 ) 3

m = 1,011012 kg
Massa inti karbon dengan jari-jari 1 cm, sekitar 1 milyar ton!?!

1.2.7 Mengukur Jari-Jari Inti


Salah satu cara untuk mengukur ukuran inti adalah dengan menghamburkan partikel
bermuatan, seperti partikel alfa pada hamburan Rutherford. Selama partikel alfa masih di
luar inti, rumus Rutherford tetap berlaku, begitu jarak terdekatnya lebih kecil daripada jari-

Intensitas hamburan pada sudut 600

jari inti, terjadi penyimpangan dari rumus Rutherford.

Rumus Rutherford

(MeV)

Gambar 1.7. Grafik Hamburan Rutherford dan Hamburan Nuklir

Percobaan lain juga dapat digunakan untuk mengukur jari-jari inti. Gambar 1.8
memperlihatkan semacam pola difraksi. Difraksi di sini sama dengan difraksi cahaya oleh
celah bulat.
Minimum pertama dapat dicari dengan persamaan:

= sin 1 (1,22 )

(1.6)

adalah panjang gelombang radiasi terhambur dan d diameter.


Pada energi 420 MeV, elektron memiliki panjang gelombang deBroglie 2,95 fm, dan
pengamatan minimum pada sekitar 440 untuk
dihitung jari-jari

16

O dan 500 untuk

12

C. Dari hasil itu bisa

16

O dan 12C sebesar 2,6 fm dan 2,3 fm.


10

Intensitas terhambur
30

40

50
60
Sudut hamburan (derajat)

70

Gambar 1.8. Pola Difraksi Hamburan Nuklir

Soal-soal
222
86

Rn dan

232
90

1.

Tentukan jumlah netron dan proton untuk inti

2.

Berapa jumlah molekul yang terdapat dalam 0,534 kg UO 2 (diketahui A untuk

Th

uranium dan oksigen masing-masing 235 dan 16)


3.

Tentukan jari-jari inti 16 O dan

208

4.

Carilah rasio inti terhadap kerapatan atomik untuk hidrogen (diasumsikan jari-jari inti

Pb

1 fm).
5.

Dalam spektrograf massa, ion klor yang bermuatan tunggal masuk dalam medan
megnet B = 0,15 T secara tegak lurus dengan kecepatan 5 104 m/s. Klor ternyata
mempunyai dua isotop bermassa 34,97u dan 36,97u. Tentukan jari-jari lingkaran yang
ditempuh masing-masing isotop dalam medan magnet tersebut.

Biografi
THOMSON
Sir Joseph John Thomson adalah ahli fisika penemu elektron (1897), penemu neon 20 dan
22 (1912), pemenang Hadiah Nobel (1906), pembaharu Laboratorium Cavendish (1884), guru
yang menghasilkan murid-murid peraih nobel. Murid Thomson antara lain Sir George Paget
Thomson (anaknya sendiri), Francis W. Aston (penemu spektroskop), Rutherford (penemu sinar
alfa, proton, beta dan teori struktur atom), Cockroft dan Walton (penemu reaksi nuklir buatan),
11
Chadwick (penemu netron); direktur Laboratorium Cavendish selama 35 tahun (1884-1919),
dan anggota Royal Society.
Thomson adalah orang pertama yang membuat model atom (1904). Menurut Thomson,

RUTHERFORD
Ernest Rutherford adalah ahli fisika nuklir penemu radioaktivitas, penemu transmutasi
atom (1902), penemu teori struktur atom (1911), penemu sinar alfa, beta, dan proton; penemu
unsur buatan pertama di dunia (1919); meramalkan adanya netron, isotop, hidrogen dan helium
(1920); pemenang Hadiah Nobel untuk kimia (1908), bapak fisika nuklir, Presiden Royal
Society, pengarang (80 karya tulis), mendapat hadiah Order of Merit (1921) dan Medali Copley
91922). Medali Copley adalah hadiah tertinggi dari Royal Society (Lembaga Ilmu Pengetahuan
Inggris) untuk ilmuan paling berprestasi.
Rutherford lahir di Spring Grove, Selandia Baru pada tanggal 30 Agustus 1871 dan
meninggal di Cambridge, Inggris, pada tanggal 19 Oktober 1937 pada umur 66 tahun. Ayahnya
mempunyai 12 anak dan dia anak yang keempat.
Ayah Rutherford hanyalah pemilik bengkel yang kerjanya memperbaiki roda gerobak
dan kereta yang rusak. Ia juga merangkap sebagai petani. Ketika mendapat kabar akan
mendapat beasiswa, Rutherford sedang menanam kentang di ladang. Ia sangat bergembira.
Meski anak miskin, Rutherford anak yang cerdas. Pada umur 16 tahun ia mendapat
beasiswa dari Nelson College. Di sini ia cukup dikenal karena pandai bermain sepak bola, mau
mengerjakan pekerjaan kasar dan berhasil jadi juara kelas. Akibatnya ia mendapat beasiswa
lagi dari Canterbury College. Ia kuliah di sini sampai mendapat gelar MA. Ia mencari nafkah
dengan jalan menjadi guru honorer.
Ia membuat karya tulis yang membuat dia memperoleh beasiswa dari Universitas
Cambridge di Inggris. Pada 1895 pada umur 24 tahun ia pindah ke Inggris.

CHADWICK
Sir James Chadwick adalah ahli fisika penemu neutron, pemenang Hadiah Nobel,
anggota Royal Society, penerima Mendali Franklin, Medali Copley, Medal of Merit.
Chadwick lahir di Manchester, Inggris, pada tanggal 20 Oktober 1891 dan meninggal di
Cambridge pada tanggal 24 Juli 1974 pada usia 83 tahun.
Sejak tahun 1919 ia bekerja dengan Rutherford. Mereka berdua membuat transmutasi
buatan dengan jalan menembakkan partikel alfa pada unsur-unsur. Pada tahun 1897 Thomson
menemukan elektron. Pada tahun 1911 Rutherford menemukan proton. Inti atom sendiri terdiri
12
dari proton dan netron, tapi pada waktu itu orang belum menemukan netron.
Pada tahun 1930 W. Bothe dan H. Becker yang sedang mengadakan riset di Jerman yaitu
dengan menembaki berilium menggunakan partikel alfa. Akibatnya timbul sinar yang sangat

ASTON
Francis William Aston adalah ahli fisika penemu spektograf massa (1919), pemenang
Nobel karena menemukan isotop, penerima Royal Medal, dan anggota Royal Society.
Spektograf massa adalah alat untuk mengukur massa atom. Dengan alat itu dapat
diketahui atom yang ringan dan atom yang berat.
Aston lahir di Harborne, Brimingham, Inggris pada tanggal 1 September 1877 dan
meninggal di Cambridge Inggris pada tanggal 20 November 1945.
Sejak kecil ia belajar kimia, tetapi setelah Rontgen menemukan sinar-X pada tahun
1895, Aston mulai mempelajari terjadinya sinar-X. Tujuh tahun kemudian (1910) ia jadi
asisten Thomson. Thomson sedang menyelidiki sinar bermuatan positif yang berasal dari
pelepasan gas. Sesudah menyelidiki neon, Thomson berkesimpulan bahwa hanya neon yang
terdiri dari campuran isotop.
Selanjutnya Aston membuat alat sinar positif jenis baru yang diberi nama spektrograf
massa. Dengan alat ini ia dapat memisahkan atom-atom yang berlainan massanya dan
mengukur massanya dengan ketepatan yang sangat tinggi. Dengan alat ini ia membuktikan
bahwa kesimpulan Thomson kurang tepat. Tidak hanya neon yang terdiri dari campuran isotop,
tapi banyak unsur lain juga campuran isotop. Bahkan Aston dapat menemukan 212 dari 287
isotop yang terjadi secara alamiah.

13

II. ENERGI IKAT DAN GAYA INTI


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Energi Ikat
Gaya Inti
2.1 ENERGI IKAT
TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Energi Ikat, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan konsep massa defek dan energi ikat inti serta caranya menghitung
Menjelaskan energi ikat per nukleon dan cara menghitungnya
Menjelaskan grafik energi ikat per nukleon untuk tiap inti dan indikasi adanya
reaksi fisi dan fusi
2.1.1 Massa Defek Dan Energi Ikat
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa massa atom tertentu selalu lebih kecil
dibandingkan dengan massa total dari netron, proton, dan elektron yang menyusun atom.
Perbedaan antara massa atom dan penjumlahan total dari massa penyusun atom disebut
massa defek.
Massa defek ( m) dapat dihitung menggunakan Persamaan (2.1):

m = Z (m p + me ) + ( A Z )mn matom

(2.1)

dengan mp adalah massa satu proton, mn adalah massa satu neutron, me massa satu
elektron, matom adalah massa atom, Z nomor atom, dan A nomor massa.
Dalam kasus inti juga sama. Massa inti tertentu juga selalu lebih kecil dibanding
dengan massa total dari partikel-partikel penyusunnya. Perbedaan massa untuk inti
dirumuskan

m = Zm p + ( A Z )mn mint i

(2.2)

Sebagai contoh inti deuterium 12 H atau d, yang tersusun dari satu proton dan satu
netron, massanya lebih kecil dibanding partikel-partikel penyusunnya.
Kemanakah massa yang hilang tersebut? Ternyata massa yang hilang tersebut
dikonversi menjadi energi ikat (Binding Energy, B), yang mengikat agar partikel-partikel
penyusun inti tidak berantakan.
Konversi massa-energi dapat dihitung dengan perumusan Einstein:

E = mc 2

(2.3)

dengan c adalah kecepatan cahaya 2,998 x 108 m/s


Dengan demikian maka energi ikat deuterium ( 12 H ) yang tersusun dari satu proton
dan satu netron dituliskan:
B = ( m n + m p m d )c 2

(2.4)

md adalah massa inti deuterium, bukan massa atom deuterium. Perlu diingat bahwa
massa inti atom berbeda dengan massa atom. Hubungan massa ataom dan inti, dinyatakan:
matom = mint i + Zme + Be

(2.5)

B e adalah energi ikat elektron total. Dalam kenyataannya, energi massa inti berorde
109 hingga 1011 eV, sementara massa elektron total berorde 1 hingga 104 eV. Jadi, suku
terakhir persamamaan (2.5) yaitu (B e) kecil sekali dibanding dengan suku-suku di
depannya. Dalam batas ketelitian tertentu, suku terakhir terkadang bisa dihilangkan.
Sehingga biasanya dinyatakan, misalnya, bahwa massa inti atom hidrogen (proton atau
1
1

H ) adalah massa atom hidrogen dikurangi massa satu elektron. Dengan menyisipkan

pernyataan ini ke dalam persamaan (2.4), didapatkan:


B = (mn + (m(11H ) me ) (m( 12 H ) me )c 2
B = (mn + m(11H ) m( 12 H ))c 2

(2.6)

Dari persamaan (2.6), dapat dilihat bahwa massa elektron saling menghilangkan.
Oleh karena itu, persamaan (2.6) dapat diperluas untuk menentukan energi ikat total
sembarang inti atom

A
Z

B = ( Zm p + ( A Z )mn m( ZA X ))c 2

(2.7)

dengan m( ZA X ) adalah massa atom X. Jika m dalam satuan massa atom (u), maka
akan lebih mudah jika c2 ditulis tulis 931,5 MeV/u. (Lihat bab I tentang satuan massa)
Contoh
Hitunglah energi ikat

126
52

Te

Jawab
B = (52 x 1,007825u + 7 x 1,008665u 125,903322u ) x 931,5 MeV / u = 1,066 x 10 3 MeV

2.1.2 Energi Ikat Pernukleon


Untuk mengetahui besarnya energi ikat yang dirasakan setiap partikel inti (nukleon),
tinggal membagi energi ikat total dengan jumlah seluruh nukleon (nomor massa, A). Jika

energi ikat per nukelon (B/A) untuk tiap unsur dihitung, lalu ditampilkan dalam grafik,

Energi ikat per nukleon (J)

maka akan tampak seperti gambar (2.1)

Fusi

Fisi

Nomor Mass A

Gambar. 2.1 Grafik Energi Ikat per Nukleon

Gambar 2.1 memberikan ilustrasi salah satu aspek penting dalam fisika inti. Energi
ikat per nukleon (B/A) bermula dengan nilai yang rendah, kemudian naik menuju titik
maksimum yaitu sekitar 8,79 MeV bagi

56

Fe , dan selanjutnya turun lagi pada inti-inti

berat.
Gambar 2.1 tersebut memberi indikasi bahwa energi inti dapat dibebaskan dengan
dua cara berbeda. Jika jika inti berat (seperti

238

U ) dipecah menjadi dua inti yang lebih

ringan, maka akan dilepaskan energi. Sebab, energi ikat per nukleon (B/A) lebih besar bagi
kedua pecahannya, dibandingkan inti semula. Jika energi ikat pernukleon (B/A) lebih besar
berarti massanya lebih kecil. Artinya ada massa yang hilang yang akan dikoversi menjadi
energi. Proses ini dikenal dengan fisi inti.
Selain itu, jika dua inti ringan (seperti

H ) digabungkan menjadi suatu inti yang

lebih berat, juga akan dibebaskan energi. Sebab, energi ikat per nukleon (B/A) juga lebih
besar bagi inti abungan dibandingkan inti semula. Proses ini dikenal dengan fusi inti.

2.2 GAYA INTI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Gaya Inti, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan sifat-sifat gaya inti: besarnya gaya inti, jangkauan gaya inti
Menjelaskan model gaya inti dan hipotesis adanya meson

2.2.1 Sifat Gaya Inti


Jika proton dan proton didekatkan, keduanya pasti akan saling menolak, karena
adanya gaya Coulomb. Padahal di dalam inti, terutama inti berat, terdapat banyak proton.
Seharusnya inti atom berantakan karena proton-proton saling menolak. Tetapi, hal ini tidak
terjadi, karena di inti ada gaya lain yang sangat besar yang mengikat inti untuk bersatu dan
jauh lebih besar dibanding gaya tolak elektrostatik. Gaya tersebut dinamakan gaya inti.
Gaya ini merupakan gaya paling kuat dari semua gaya yang diketahui. Karena itu, gaya ini
sering disebut gaya kuat (strong force).
Namun gaya ini jangkauannya sangat pendek, yaitu hanya sejauh ukuran inti (sekitar
10-15 m). Pada jarak lebih dari 1 fm gaya ini akan melemah dan akhirnya menjadi nol.
Sehingga ketika kedua proton terpisah agak jauh, yang ada hanya gaya tolakan
elektrostatic Coulomb, sementara gaya nuklirnya bernilai nol.

Jarak Pisah
0
Energi ikat inti

~ 1 fm

40 MeV

Gambar 2.2. Jangkauan Gaya Inti


Ada dua bukti mengenai jangkauan pendek dari gaya inti ini.
1. Dari kajian kerapatan zat inti. Penambahan nukleon pada inti tidak mengubah
kerapatan inti. Ini menunjukkan bahwa bahwa tiap nukleon

yang ditambahkan

hanya merasakan gaya dari tetangga terdekatnya, dan tidak dari nukleon yang lain.
2. Dari energi ikat per nukleon. Karena energi ikat per nukleon kurang lebih tetap,
maka energi ikat inti total kurang lebih sebanding dengan A. Suatu gaya
berjangkauan panjang (seperti gaya Coulomb dan gaya gravitasi) memiliki energi
yang sebanding dengan A2. Sebagai contoh, tolakan elektrostatik total antara proton
dalam inti sebanding dengan Z (Z-1) atau sekitar Z2. hal ini karena setiap Z proton,
merasakan tolakan dari (Z-1) proton lainnya.

~2 fm

Gambar 2.3. Jangkauan Gaya Inti pada Partikel Tetangga Terdekat


Gaya inti dua nukleon juga tidak bergantung pada jenis nukleon. Gaya inti antara
proton-netron sama seperti gaya proton-proton.

2.2.2 Model Gaya Inti


Model yang berhasil menjelaskan asal usul gaya berjangkaun pendek ini adalah
model gaya tukar (exchange force), yang diusulkan oleh Yukawa. Diandaikan ada sebuah
proton dan netron di dalam inti. Menurut model ini, netron memancarkan sebuah partikel
dan sekaligus menariknya dengan gaya yang sangat kuat. Jika partikel tadi menghampiri
proton, ia akan tertarik pola oleh proton dengan suatu gaya tarik yang sangat kuat. Proton
kemudian memancarkan sebuah partikel yang dapat diserap oleh netron. Karena proton dan
netron masing-masing menarik partikel yang dipertukarkan tersebut dengan gaya tarik
yang kuat, maka mereka seakan saling menarik.

Gambar 2.4. Ilustrasi Model Gaya Inti

Lalu, bagaimana mungkin sebuah netron dengan massa diam m0 c 2 memancarkan


partikel dengan massa diam mc 2 dan tetap sebagai netron, tanpa melanggar hukum
kekeakaln energi?
Jawabannya diberikan oleh asas ketidakpastian Heisenberg:

E x t

(2.8)

Energi adalah kekal, jika energi itu dapat diukur secara pasti. Kenyataannya, menurut
ketidakpastian Heisenberg, energi E memiliki ketidak-pastian dalam selang waktu t .
Oleh karena itu, hukum kekekalan energi dapat dilanggar sebesar E dalam selang
waktu t = / E yang cukup singkat.
Jumlah energi yang melanggar hukum kekekalan energi dalam model gaya tukar
netron-proton ini adalah mc 2 , yaitu energi diam partikel yang dipertukarkan.
Dengan demikian, partikel ini hanya dapat hadir dalam selang (dalam kerangka
laboratorium)
t =

mc 2

(2.9)

Jarak terjauh yang dapat dicapai partikel ini dalam selang waktu t adalah x = c t .
Dengan c adalah kecepatan cahaya. Namun, kecepatan yang sesuangguhnya partikel
tersebut di bawah kecepatan cahaya. Persamaan tersebut dapat diubah:


x = c t = c 2
mc

(2.10)

Atau
mc 2 =

c
x

(2.11)

Karena telah diketahui jangkaun gaya inti hanya sekitar 10-15 m, maka energi diam
partikel tersebut dapat ditaksir, yaitu sekitar:
mc 2 200 MeV
Partikel yang dipertukarkan ini berupa sebuah partikel virtual. Jika inti atom
dilihat lebih seksama, gaya tarik menarik antara proton dan netron dapat terlihat, tetapi
partikel virtual ini tidak terlihat.
Jika inti atom ditembaki dengan proyektil (partikel berenergi tinggi), proyektil
tersebut akan menumbuk proton dan netron sedemikian kuatnya, sehingga memasok
momentum pental yang memperkenankan partikel virtual itu menjadi partikel nyata dan
muncul dalam laboratorium. Partikel itu dinamakan dengan meson.

Soal-soal:
1.

Jika diasumsikan bahwa muatan inti terdistribusi seragam, buktikan bahwa energi
potensial listrik proton-proton di dalam inti adalah E c =
73
32

3 kZ ( Z 1)e 2
5
R

2.

Hitunglah energi Coulomb

3.

Hitunglah energi ikat total dan energi ikat per nukleon untuk

4.

Berapakah energi yang dibutuhkan untuk melepas ikatan satu netron yang cukup kuat
dalam

5.

40
20

C (diketahui massa

Ge

40
20

Ca 39,962589u dan massa

39
20

59

Co dan 55 Ca

Ca 38,970691u)

Interaksi lemah (gaya yang menyebabkan terjadinya peluruhan beta) diduga berasal
dari partikel tukar dengan massa kurang lebih 75 GeV. Berapakah jangkaun gaya ini.

Biografi
YUKAWA (PENEMU TEORI MESON)
Hideki Yukawa adalah ahli fisika Jepang, penemu teori meson. Ia meramalkan adanya
meson (1935). Dua belas tahun kemudian (1947) Powell, ahli fisika Inggris, menemukan meson.
Jadi ramalan Yukawa benar. Oleh karena itu, pada tahun 1949 Yukawa mendapat Hadiah Nobel
untuk fisika. Yukawa adalah orang Jepang pertama yang mendapat Hadiah Nobel.
Yukawa lahir di Tokyo pada 23 Januari 1907. Ayahnya guru besar geologi. Pada umur
22 tahun ia lulus dari Universitas Kyoto. Kemudian ia berusaha keras untuk menyusun teorinya
tentang partikel elementer. Memang sejak SMA ia sangat tertarik pada fisika murni tentang
atom.
Pada tahun 1932 ia memberi kuliah di Universitas Kyoto. Enam tahun kemudian
mendapat gelar doktor dari Universitas Osaka.
Pada tahun 1920 Rutherford menemukan proton dan pada tahun 1932 Chadwick
menemukan neutron. Sesudah proton dan netron ditemukan, Yukawa mulai berpikir, apa yang
menyebabkan proton dan netron bersatu sehinga tidak berantakan? Tentu saja harus ada
semacam lem yang mengikat antara proton dengan netron. Maka Yukawa lalu menyusun
teorinya. Massa partikel (sebagai lem) itu haruslah diantara massa elektron dan proton, atau
kira-kira 200 kali massa elektron. Maka partikel itu kemudian dinamakan meson (kata Yunani
yang berarti tengah). Apakah partikel itu ada? Itu harus dibuktikan.
Pada tahun 1912 Victor Hess, ahli fisika Austria, menemukan sinar kosmik. Sinar ini
berasal dari angkasa luar dan kemudian diketahui terdiri dari proton, elektron, netron, positron,
dan foton. Pada tahun 1947 Powell menemukan meson dalam sinar kosmik. Ternyata meson
mempunyai energi yang sangat besar dan bergerak mendekati kecepatan cahaya serta dapat
menembus apa saja. Meson dapat menembus atom, inti atom, air, dan tanah setebal 700 meter.
Partikel itu sekarang dikenal dengan nama meson pi atau pion dan mempunyai massa
270 kali massa elektron. Di dalam inti atom, netron dan proton dengan cepat sekali saling
menukarkan meson pi. Netron dan proton terus menerus menyerap dan melepaskan meson pi
sehingga netron dan proton bersatu padu dengan kuat sekali.

ALBERT EINSTEIN
Einstein adalah ahli fisika teori terbesar sepanjang abad ini, pemikir paling kreatif di
dunia, pemenang Hadiah Nobel karena menemukan teori foton cahaya (1921) dan penemu
formula E = mc2. Pada umur 26 tahun ia menemukan teori relativitas khusus (1905) dan pada
umur 37 tahun menemukan teori relativitas umum (1916).
Einstein lahir di Ulm, Wurttemberg, Jerman, pada tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal
pada tanggal 18 april 1955 di Princeton, New Jersey, AS, pada umur 76 tahun.
Ayahnya bernama Hermann, ibunya bernama Paulina Koch. Ayahnya memiliki
perusahaan kecil yang membuat alat-alat listrik. Satu tahun sesudah Einstein lahir keluarga itu
pindah ke Munich, Jerman. Ketika anak yang sebaya sudah dapat bicara, Einstein belum dapat.
Orang mengira bahwa Einstein anak yang terlambat perkembangannya. Pada umur 5 tahun ia
diberi ayahnya sebuah kompas. Ia heran mengapa jarum kompas tetap menunjuk ke utara
meskipun kompas diputar ke arah mana pun. Kelak ia tahu bahwa di belakang semua benda
tampak, ada kekuasaan yang mahabesar yang tak tampak.
Pada saat duduk di bangku SD Einstein sama sekali tidak menonjol, bahkan ia termasuk
anak yang bodoh. Ia tidak suka pada disiplin sekolah yang keras. Ia tidak suka menghafalkan
fakta dan data. Ia hanya tertarik pada fisika dan matematika. Kegemarannya yang sangat
menonjol adalah membaca, berpikir, dan belajar sendiri. Guru-gurunya menganggap dia pemalu,
bodoh, malas belajar, dan suka menentang tata tertib.
Karena ia hanya mau mempelajari fisika dan matematika maka ia tidak lulus SMP. Pada
waktu itu perusahaan ayahnya bangkrut. Ayahnya lalu pindah ke Swiss. Di Swiss Einstein
melanjutkan sekolahnya. Ia dapat lulus sampai SMA, tapi ketika menempuh ujian masuk
perguruan Tinggi, ia tidak lulus. Ia baru lulus setelah menempuh ujian yang kedua. Ia lalu
diterima di Institut di Zurich, Swiss. Tapi ia jarang ikut kuliah. Ia lebih suka membaca dan
belajar sendiri fisika teori. Namun ia dapat lulus dari Perguruan Tinggi itu karena meminjam
catatan teman kuliah. Pada umur 21 tahun ia jadi warga Swiss. Tapi ia tidak segera mendapat
pekerjaan. Ia mengangur selama 2 tahun. Baru pada tahun 1902 pada umur 23 tahun, ia
mendapat pekerjaan di kantor paten di Bern setelah menjadi guru matematika selama dua bulan.
Namun tiap ada kesempatan ia selalu berpikir dan mempelajari fisika teori.
Pada umur 24 tahun ia menikah dengan Mileva Marie, bekas teman saat kuliah. Mereka
dikaruniai dua orang anak laki-laki. Tapi perkawinan mereka tidak bahagia. Pada tahun 1905
pada umur 26 tahun, Einstein menemukan teori relativitas khusus. Ia lalu diangkat menjadi
profesor fisika teori di Universitas Jerman di Praha (1912). Tahun berikutnya ia diangkat jadi
direktur Institut Fisika Kaisar Wilhelm di Berlin. Sebenarnya ia segan kembali ke Jerman. Tapi
jabatan itu memberikan banyak waktu luang kepadanya untuk berpikir karena tak ada tugas
resmi atau kewajiban mengajar. Ia terpaksa menerima jabatan tersebut dan kehilangan istri,
karena Mileva tidak mau ikut ke Jerman. Mereka akhirnya bercerai.
Einstein menemukan teori relativitas umum pada tahun 1916. Einstein pindah ke AS
(1933) dan bekerja pada Institute for Advanced Study di Princeton, New Jersey. Ia datang di
Amerika bersama istrinya yang kedua, Elsa.
Meskipun membenci perang, pada tahun 1939 Einstein-lah yang berkirim surat kepada
Presiden Roosevelt untuk meyakinkan agar AS membuat bom atom sebelum didahului oleh
Jerman. Bersama Bertrand Russell, ahli filsafat dan matematika Inggris, ia membuat deklarasi
anti bom atom dan anti perang.
Einstein percaya bahwa alam semesta tidak terjadi karena kebetulan. Ia percaya bahwa
alam diciptakan Tuhan dan Tuhan menata alam semesta dengan hukum-hukum dan aturanaturan yang rapi dan harmonis. Hal yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah
bahwa dunia dapat dipahami, katanya.
Ia adalah pemiki serius yang tak takut salah. Einstein berkata, Saya berpikir terusmenerus, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun. Sembilan puluh sembilan kali kongklusi
saya keliru. Tapi yang keseratus kali saya benar.

III. MODEL-MODEL INTI


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Model Tetes Cairan
Model Kulit

3.1 MODEL TETES CAIRAN


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Model Tetes Cairan, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan konsep model tetes cairan dan persamaan semi empiris model ini
Menjelaskan koreksi-koreksi terhadap persamaan semi empiris

3.1.1 Konsep Model Tetes Cairan


Saat ini tidak ada teori dasar yang dapat menjelaskan sifat-sifat inti yang teramati.
Sebagai pengganti teori, beberapa model telah dikembangkan, namun hanya beberapa yang
dapat menjelaskan sifat inti.
C. V. Wieszacker pada tahun 1935 mendapati bahwa sifat-sifat inti berhubungan
dengan ukuran, masa dan energi ikat. Hal ini mirip dengan yang dijumpai pada tetes cairan.
Kerapatan cairan adalah konstan, ukurannya sebanding dengan jumlah partikel atau
molekul di dalam cairan, dan penguapannya (energi ikatnya) berbanding lurus dengan
massa atau jumlah partikel yang membentuk tetesan.
Model tetes cairan membawa pada persamaan semi empiris. Massa defek inti
dirumuskan:
m = Zm p + ( A Z )mn b1 A + b2 A 2 / 3 + b3 Z 2 A 1 / 3 + b4 ( A 2Z )2 A 1 + b5 A 3 / 4

(3.1)

Konstanta dalam persamaan (3.1) ditentukan dari eksperimen, yang nilainya:


b1 = 14,0 MeV

b3 = 0,58 MeV

b2 = 13,0 MeV

b4 = 19,3 MeV

Sedangkan b5 nilanya ditentukan dengan skema berikut:


A

b5

Genap

Genap

-33,5 MeV

Genap

Ganjil

+33,5 MeV

Ganjil

22

3.1.2 Koreksi Persamaan Semi Empiris


Persamaan (3.1) diperoleh dari berbagai koreksi yang dilakukan berurutan.
Dengan energi ikat yang diabaikan, estimasi pertama adalah untuk massa inti yang
tersusun dari proton Z dan neutron N = A-Z adalah Zm p + ( A Z )mn
Selanjutnya, estimasi massa ini dikoreksi untuk menghitung energi ikat inti. Lantaran
gaya inti adalah tarik menarik, energi ikatnya menjadi positif, sehingga massa inti menjadi
lebih kecil dibanding massa nukleon yang terpisah-pisah. Dari model tetes cairan,
penguapan panas (energi ikat) berbanding lurus dengan jumlah nukleon A. Sehingga
menghasilkan koreksi sebesar (b 1 A).
Asumsi pada koreksi pertama, yaitu b1 pernukleon, tentu tidak terlalu tepat. Sebab,
hal itu hanya berlaku untuk inti di bagian dalam yang dikelilingi inti yang lain. Sedangkan
inti pada bagian permukaan, pasti terikat lebih lemah. Makanya diperlukan koreksi
permukaan yang besarnya seluas permukaan inti, yaitu (b2 A2/3).
Selanjutnya adalah koreksi dari adanya Energi Coulomb (E c) antar proton yang tolakmenolak. Adanya gaya tolak-menolak ini, energi ikat (besanya massa defek) akan lebih
kecil.
Ec

Z2
Z2
Z2
=

R
(r0 A1 / 3 ) A1 / 3

(3.2)

Yang memberikan koreksi sebesar (b 3 Z2 A-1/3).


Sampai disini bentuk ekspresi massa inti telah didapatkan dari analogi dengan tetesan
cairan bermuatan. Selain itu, muncul koreksi dari mekanika kuantum. Menurut prinsip
pengecualian Pauli, jika terdapat kelebihan netron ketimbang proton atau kebalikannya di
dalam inti, maka energinya (massanya) akan mengalami kenaikan.

Akhirnya muncul

koreksi
b4 ( N Z ) 2 A 1 = b4 ( A 2 Z )2 A 1
Nukleon-nukleon di dalam inti juga cenderung berpasangan. Netron-netron atau
proton-proton akan berkelompok bersama dalam spin-spin yang berbeda. Akibat efek ini
menimbulkan pasangan energi hadir bervariasi sebesar A-3/4 dan bertambah sebesar jumlah
nukleon-nukleon tidak berpasangan.
Rata-rata energi ikat per nukleon diperoleh dari persamaan diatas:
BE / A =

[Zm

+ ( A Z )mn m c 2

BE / A = b1 b2 A

1 / 3

A
b3 Z 2 A 4 / 3 b4 ( A 2Z ) 2 b5 A 7 / 4

(3.3)

23

Energi ikat per nukleon (MeV)

Dari persamaan diatas jika digambarkan akan tampak seperti gambar 3.1.

56

Fe

10
8
6
4
2

40

80
100
140
Nomor Mass A

200

240

Gambar 3.1 Energi ikat per nukleon


Pendekaan tersebut nampak cukup sesuai dengan hasil eksperimen, meskipun tidak
tepat sama.

3.2 Model Kulit


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Model Kulit, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan konsep model kulit inti
Menjelaskan tingkat-tingkat energi inti

3.2.1 KonsepModel Kulit


Pada model tetesan cairan, nukleon-nukleon tidak diperlakukan secara individu,
tetapi dipandang secara kolektif (rata-ratanya). Model ini berhasil menjelaskan beberapa
sifat inti, seperti rata-rata energi ikat per nukleon. Namun, sifat inti lainya, seperti energienergi keadaan eksitasi dan momen magnetik inti, membutuhkan pemakaian model
mikroskopik dalam perhitungan perilaku nukleon-nukleon secara individu.
Menurut data eksperimenl, terbukti bahwa sifat-sifat inti mengalami perubahan pada
N atau Z sebesar 2, 8, 20, 28, 50, 82, atau 126 yang dikenal sebagai bilangan ajaib

24

(Gambar cari di buku Krane). Pada bilangan ajaib ini didapatkan bahwa inti berada dalam
keadaan stabil dan berjumlah banyak.
Selain itu, energi-energi keadaan tereksitasi pertama pada bilangan ajaib, ternyata
lebih besar dibandingkan dengan inti-inti di luar bilangan ajaib. Sebagai contoh perak,
dengan bilangan ajaib Z = 50 memiliki 10 isotop stabil, sehingga energi yang dibutuhkan
untuk melepaskan proton sekitar 11 MeV dan keadaan tereksitasi pertama untuk isotoisotop genap-genap (N dan Z bernilai genap) adalah sekitar 1,2 MeV di atas keadaan dasar.
Sebaliknya untuk isotop-isotop terulium (Z = 52) energi yang dibutuhkan untuk
melepas proton 7 MeV dan untuk isotop-isotop genap, keadaan tereksitasi pertama
memiliki energi sebesar 0,6 MeV.
Tampak sekali ada semacam pola sebagaimana pada atom yang elektron-elektronnya
mengisi kulit atom dengan pola tertentu. Kesamaan dalam perilaku ini mengisyaratkan
adanya kemungkinan bahwa beberapa sifat inti dapat dijelaskan dengan model kulit inti.

3.2.3 Tingkat Energi Model Kulit


Struktur kulit atom didapatkan dari suatu deret pendekatan yang berurutan. Pertama
kita asumsikan bahwa tingkat-tingkat energi untuk suatu inti bermuatan Ze telah terisi
penuh oleh elektron-elektron Z dan seolah-olah tidak terjadi interaksi satu dengan yang
lain. Kemudian dibuat koreksi untuk menghitung efek-efek interaksi yang terjadi. Efek
utama,

yang

menghasilkan

pendekatan

pertama

terhadap

tingkat-tingkat

kulit,

memunculkan suatu keadaan bahwa secara rata-rata elektron bergerak independen di dalam
medan Coulomb inti.
Jika pendekatan yang sama digunakan untuk mengembangkan gambaran kulit inti,
potensial yang berbeda harus digunakan untuk merepresentasikan gaya-gaya inti. Salah
satu pendekatannya adalah dengan megasumsikan bahwa nukleon-nukleon bergerak di
dalam suatu rata-rata potensial osilator harmonik.
V =

1 2 1
kR = m 2 R 2
2
2

(3.4)

Setelah dihitung dengan mekanika kuantum, maka tingkat-tingkat energinya


diberikan oleh:
3
E = ( + )
2

(3.5)

25

Dengan N = 2(n 1) + l . Besaran l adalah bilangan kuantum momentum orbital dan


nilainya adalah 0, 1, 2, 3... serta berhubungan dengan vektor momentum anguler orbital
dalam bentuk biasa I = l (l + 1) . Besaran n adalah bilangan bulat yang nilainya adalah
1, 2 ,3... namun, berbeda dengan solusi atom hidrogen, nilai l inti tidak dibatasi oleh n.
Keadaan

momentum

anguler

orbital

nukleon

ditunjukkan

dalam

notasi

spektroskopik:
Nilai l

...

Simbol huruf

...

Bila nilai n di depan simbol huruf, akan menunjukkan orde (terhadap kenaikan
energi) dari suatu keadaan l tertentu. Dengan demikian 2d adalah keadaan l = 2 setelah
keadaan yang paling rendah.
Untuk menghitung bilangan ajaib yang teramati, Mayer dan Jensen pada tahun 1949
secara independen memperlihatkan keberadaan interaksi spin-orbit (l.s) selain potensial
osilator harmonis. Karena nukleon memiliki nilai s = yang tunggal untuk bilangan
kuantum spinnya, efek spin orbit akan menyebabkan setiap keadaan momentum anguler
orbital dengan l > 0 terbagi menjadi dua orbit, mengikuti apakah total bilangan kuantum
momentum anguler j adalah j = l + s atau j = l s. Energi relatif untuk melakukan
pembagian diperoleh melalui pengevaluasian l.s:

1
[ j ( j + 1) l (l + 1) s( s + 1)] 2
2
1 2
j = l + 1/ 2

l.s = 2
l +1 2

j = l 1/ 2
2
l.s =

(3.6)

Pengurangan kedua ekspresi ini memperlihatkan bahwa pemisahan energi antar


kedua orbit sebanding dengan 2l +1 dan menjadi besar seiring dengan bertambahnya l.
Selanjutnya lambang 1d 3/2 merupakan kombinasi bilangan-bilangan kuantum n = 1, l
= 2, j = l-s = 3/2.
Untuk inti, prinsip Pengecualian Pauli dinyatakan: tidak ada dua nukleon dapat
memiliki kumpulan bilangan kuantum yang sama (n, l, j, mj ). Ini berarti setiap orbit dapat
memuat maksimum 2j + 1 nukleon.

26

Bilangan ajaib

Jumlah proton
& netron

Notasi

126
1i13/2
1h9/2
2f5/2

14

3p1/2
3p3/2
2f7/2

10
6
4
8

82
1h11/2
1g7/2

12
8

2d3/2
3s1/2
2d5/2

4
2
6

50
1g9/2
1f5/2
2p1/2
2p3/2

10
6
2
4

28
1f7/2

20
1d3/2
2s1/2
1d5/2

4
2
6

8
1p1/2

1p3/2

2
1s1/2

Gambar 3.2 Tingkat Energi Inti

27

Soal-soal:
1. Buktikanlah bahwa isobar yang paling stabil untuk A ganjil denagn model tetesan
cairan adalah Z =

A
0,015 A 2 / 3 + 2

2. Untuk A = 25, carilah inti yang paling stabil


3. Carilah momentum anguler keadaan dasar 158 O dan

39
19

4. Tunjukkan bahwa orbit dari j tertentu mungkin berada pada nukleon-nukleon 2j + 1.


Tunjukkan bahwa kedaan p (l = 1), hasil ini konsisten dengan prinsip Pauli
memperbolehkan 2 (2l + 1) = 6 nukleon.
5. Berapakh nilai-nilai momentum anguler keadaan dasar yang mungkin untuk

32
15

Biografi Singkat
JENSEN
Johannes Hans Daniel Jensen adalah ahli fisika penemu teori struktur kulit inti atom dan
peraih Hadiah Nobel.
Ia lahir di Hamburg, Jerman, pada 25 Juni 1907. Ia bekerja di Universitas Hamburg, lalu
pindah ke Institut Hannover dan akhirnya bekerja di Universitas Heidelberg.
Menurut Jensen, inti atom mempunyai struktur seperti kulit elektron yang berlapis-lapis
dengan garis tengah yang berbeda-beda. Lapisan kulit itu ditempati proton dan netron dengan
susunan menurut sifat-sifat proton dan netron.
Pada tahun yang sama (1949) di tempat yang berlainan Mayer, ahli fisika AS,
menemukan teori yang sama di Universitas Chicago. Padahal mereka bekerja sendiri-sendiri.
Pada tahun itu juga Jensen bersama Wigner mengajukan model kulit inti. Pada tahun 1955
Jensen, Mayer dan Wigner mendapat Nobel untuk fisika karena dapat menerangkan sifat-sifat
inti atom secara terperinci.

28

IV. RADIOAKTIVITAS

Sub-pokok Bahasan Meliputi:


Kestabilan Inti
Peluruhan Inti
Hukum-hukum dalam Peluruhan

4.1 KESTABILAN INTI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Kestabilan Inti, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan konsep kestabilan inti dan memprediksi jenis pancaran radiasi
Menjelaskan radioaktivitas alam

4.1.1 Kestabilan Inti


Hinga kini telah ditemukan sekitar 1500 inti, namun hanya ada kira-kira 400 inti
yang stabil.
120

Jumlah Netron

100
80
Garis Kestabilan
60
N=Z

40
20
0

20

40
60
Jumlah Proton

80

Gambar 4.1. Garfik Kestabilan Inti


Perhatikan bahwa inti ringan (kira-kira sampai dengan Z = 20) sangat stabil, jika
intinya mengandung jumlah proton dan netron yang sama (N = Z atau N/Z = 1). Sebagai
contoh inti helium yang mengandung 2 proton dan 2 netron adalah sangat stabil.

29

Inti berat lebih stabil jika jumlah netron melebihi jumlah proton. Begitu jumlah
proton bertambah, gaya tolak Coulomb antara proton-proton bertambah sehingga
cenderung untuk memisahkan nukleon di dalam inti. Untuk mengikat nukleon-nukleon
tetap di dalam inti, maka gaya tolak Coulomb oleh proton-proton tambahan diimbangi oleh
gaya tarik-menarik antara netron-netron tambahan. Namun karena satu proton menolak
seluruh proton lainnya, sedang satu netron hanya menarik netron-netron tetangganya, maka
jelas penambahan netron penambahan netron harus lebih besar daripada penambahan
proton. Inti berat lebih stabil jika jumlah netron kira-kira sama dengan 1,6 kali jumlah
proton (N = 1,6 Z atau N/Z = 1,6).
Hanya saja pada saat Z > 83, gaya tolak antara proton-proton tidak dapat lagi
diimbangi dengan penambahan netron. Oleh karena itu, inti-inti yang mengandung lebih
dari 83 proton (Z > 83) tidak memiliki inti yang stabil.
Adalah menarik bahwa kebanyakan inti stabil memiliki nomor massa ganjil.
Beberapa fakta menunjukkan bahwa nilai-nilai tertentu dari Z dan N berhubungan dengan
inti-inti yang lebih stabil. Nilai-nilai Z dan N disebut angka-angka ajaib, yaitu:
Z dan N = 2, 8, 20, 28, 50, 82, 126
Sebagai contoh, inti helium yang memiliki dua proton dan dua netron ( N = Z = 2)
adalah sangat stabil.
Inti ringan tidak stabil yang terletak di atas garis kesetabilan N = Z (N > Z) memiliki
kelebihan netron. Untuk mencapai kesetabilan, kelebihan netron harus diubah menjadi
proton melalui pemancaran sinar beta (elektron). Misal

14
6

C memiliki Z = 6 proton dan N =

8 netron, akan menjadi stabil dengan memancarkan sinar beta:


14
6

C 147 N + e

Inti ringan yang terletak di bawah garis kestabilan (Z > N) memiliki kelebihan
proton. Untuk mencapai keadaan stabil, kelebihan proton diubah menjadi netron dengan
memancarkan positron (e+, elektron positif). Misalnya inti

11
6

C akan stabil dengan

memancarkan beta positif (positron)


C 115B + e +

11
6

Inti berat (Z > 83) yang terletak di atas garis kestabilan memiliki kelebihan netron
dan proton. Untuk mencapai keadaan inti stabil, inti ini memancarkan partikel alfa
sehingga intinya kehilangan dua proton dan dua netron. Misalnya

226
88

Ra mencapai stabil

dengan memancarkan partikel alfa


30

226
88

4
Ra 222
86 Rn + 2 He

4.1.2 Radioaktivitas Alam


Pada tahun 1896, Becquerel menemukan kristal uranium mengemisikan sinar yang
sama dengan sinar-X, yang mempunyai daya tembus tinggi, dapat menghitamkan plat
fotografi dan menyebabkan konduktivitas listrik pada gas. Penemuan Becquerel diikuti
oleh identifikasi 2 zat radioaktif lainnya, polonium dan radium oleh Piere dan Marie Currie
pada tahun 1898. Unsur berat seperti uranium atau thorium, dan unsur deret peluruhan tak
stabil mengemisikan radiasi secara alami. Uranium dan plutonium, sudah ada sejak awal
periode geologi, dan mempunyai kecepatan peluruhan yang sangat lambat. Semua nuklida
atau atom yang ada di alam dengan nomor atom lebih besar dari 82 bersifat radioaktif.

4.2 PELURUHAN RADIOAKTIF


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Peluruhan Radioaktif, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan aktivitas peluruhan radioaktif
Menjelaskan dan menghitung waktu paro dan waktu hidup rata-rata
Menjelaskan deret radioaktif
4.2.1 Peluruhan Radioaktif
Aktivitas adalah laju peluruhan inti radioaktif. Semakin besar aktivitas, semakin
banyak inti yang meluruh per satuan waktu. Aktivitas tidak berhubungan dengan jenis
radiasi dan energi radiasi, namun hanya berhubungan dengan jumlah peluruhan per satuan
waktu tertentu.
Satuan aktivitas dalam SI adalah Becquerel (Bq). Satu Becquerel sama dengan satu
peluruhan per detik. Satuan ini terlalu kecil dan sebagai gantinya digunakan satuan Curie.
Semula, Curie didefinisikan sebagai aktivitas dari satu gram radium. Definisi ini kemudian
diubah dengan yang lebih memudahkan, yaitu:
1 Curie (Ci) = 3,7 x 1010 peluruhan / detik
1 Curie adalah satuan bilangan yang sangat besar, sehingga untuk kepentingan
praktis sering dipakai satuan milicurie (mCi) dan mikrocurie (Ci).
Satu cuplikan bahan radioaktif yang berorde beberapa gram, mengandung atom
dalam orde 1023 . Jika cuplikan ini memiliki aktivitas 1 Ci, maka akan ada sekitar 1010 inti
31

yang meluruh setiap detiknya. Dapat juga dikatakan bahwa 1 inti atom sembarang
memiliki probabilitas (1010/1023) atau 10-13 untuk meluruh setiap detiknya. Besaran ini,
yaitu probabilitas peluruhan per inti per detik, disebut dengan tetapan peluruhan dan
dinyatakan dengan .
Dengan demikian, maka aktivitas adalah perkalian jumlah inti radioaktif dan
probabilitasnya untuk meluruh.
A = N

(4.1)

Ketika cuplikan inti meluruh, jumlah inti yang radioaktif berkurang, maka aktivitas
juga semakin kecil. Jadi, jumlah peluruhan per detik semakin lama semakin sedikit.
Dapat dikatakan bahwa aktivitas A, pada hakikatnya adalah perubahan jumlah
(pengurangan) inti radioaktif yang meluruh setiap satuan waktu.
A=

dN
dt

(4.2)

dN/dt bernilai negatif, karena N menurun dengan bertambahnya waktu. Dari


persamaan 4.1 dan 4.2 diatas diperoleh:
dN
= N
dt

(4.3)

dN
= dt
N

(4.4)

Atau

Persamaan ini dapat langsung diintegrasikan, dengan hasil


ln N = t + c

(4.5)

c adalah tetapan integrasi. Hasil ini dapat dituliskan kembali menjadi

N = e t + c

(4.6)

N = N 0 e t

(4.7)

Atau

Di sini ec telah diganti dengan No. Pada saat t = 0, N = No. Jadi No adalah jumlah
inti radioaktif mula-mula. Persamaan 4.7 dinamakan dengan hukum peluruhan radioaktif
eksponensial.
Pada kenyataannya kita tidapat mengukur N, sehingga diperlukan persamaan yang
lebih bermanfaat, yaitu dengan mengalikan kedua belah ruas dengan , yang memberikan
persamaan
A = A0 e t

(4.8)

32

Ao adalah aktivitas mula-mula.


Jika dalam suatu cuplikan bahan radioaktif dihitung aktivitasnya, kemudian beberapa
waktu kemudian dihitung lagi aktivitasnya dan seterusnya, maka didapatkan grafik.
A
Ao

Gambar 4.2 Garfik Peluruhan Radioaktif


4.2.2 Waktu Paro
Setiap zat radioaktif juga memiliki waktu paro (t 1/2 ), yaitu waktu yang diperlukan zat
radioaktif untuk meluruh sehingga tinggal setengah dari jumlah semula. Semakin pendek
waktu paro zat radioaktif, maka semakin cepat zat tersebut meluruh sehingga
kemampuannya memancarkan radiasi berkurang dengan cepat.
Ketika zat radioaktif tinggal setengahnya t = t 1/2
N=

1
N0
2

(4.9)

Bila N dari persamaan 4.7 disubstitusi, maka didapatkan:


1
N 0 = N 0 e t1 / 2
2

0,693 = t1 / 2
t1 / 2 =

0,693

(4.10)

Contoh
Tentukan waktu paro zat radioaktif yang memiliki konstanta peluruhan 0,01/hari
Jawab
t1 / 2 = 0,693 / 0,01 (hari 1 ) = 69,3 hari

4.2.3 Waktu Hidup Rata-rata


Inti bahan radioaktif bisa melakukan peluruhan kapan saja, mulai dari t = 0 sampai t
= ~ setelah pengamatan. Untuk beberapa tujuan tertentu, kadang lebih mudah digunakan
33

waktu hidup rata-rata zat radioaktif tersebut. Waktu hidup rata-rata didefinisikan sebagai
jumlah waktu hidup dari setiap inti, dibagi dengan total zat radioaktif yang ada.
Laju peluruhan inti radioaktif yang mengandung N inti adalah N. Dalam interval
waktu antara t dan t + dt, jumlah total inti yang melakukan peluruhan N dt. Sehingga
waktu hidup semua inti adalah tN dt. Waktu hidup rata-rata dari tiap-tiap inti adalah:

1
tNdt
N 0 0

(4.11)

Dengan mensubsitusikan nilai N dari persamaan 4.7, diperoleh:


~

1
1
tN 0 e t dt =
=

N0 0

(4.12)

Karena = 0,693 / t1 / 2 , maka

= 1,45 t1 / 2

(4.13)

Contoh
Berapa waktu hidup rata-rata inti radioisotop dengan konstanta peluruhan 0,25/jam
Jawab
t1 / 2 = 0,693 / 0,25 jam = 2,77 jam

= 1,45 x 2,77 jam = 4,02 jam

4.2.3 Deret Radioaktif


Inti radioaktif tidak selalu meluruh dan menghasilkan inti anak yang stabil.
Seringkali inti anak juga tidak stabil, sehingga terjadi peluruhan berikutnya yang juga
belum tentu stabil. Setelah beberapa kali meluruh, akan terbentuk inti yang benar-benar
stabil. Tahapan-tahapan peluruhan tersebut akan mengikuti suatu urutan yang disebut deret
radioaktif. Peluruhan yang demikian disebut peluruhan berantai.
Dalam proses peluruhan radioaktif, nomor massa A inti induk akan berubah dengan 4
satuan (peluruhan alfa) atau A tidak berubah (peluruhan beta). Karena itu nomor massa A
dari isotop-isotop anggota peluruhan berantai, pasti meluruh dengan kelipatan 4. Dengan
demikian ada empat deret yang mungkin dengan nomor massa A, yang dapat dinyatakan
dengan rumus 4n, 4n + 1, 4n + 2, 4n +3, dengan n adalah bilangan bulat.
Masing-masing deret radioaktif diberi nama dengan inti induknya. Deret radioaktif
4n + 2 diberi nama deret uranium. Deret radioaktif 4n + 3 diberi nama deret aktinium.
Deret 4n diberi nama deret deret Thorium dan deret 4n + 1 diberi nama deret Neptunium.

34

Tabel. 4.1 Empat Deret Radioaktif


Deret

Inti induk

Waktu

paro Rumus deret

Inti stabil akhir

(tahun)
Thorium

232
90

Neptunium

237
93

Uranium

238
92

Aktinium

235
92

Th
Np

U
U

1,41 x 1010

4n

208
82

Pb

4n + 1

209
83

Bi

4,47 x 10

4n + 2

206
82

Pb

7,14 x 108

4n +3

207
82

Pb

2,14 x 10

Tiap deret mempunyai deretan yang cukup panjang sampai akhirnya menjadi inti
stabil. Berikut ini adalah tabel delapan isotop dari deret uranium
Tabel 4.2. Delapan Pertama Deret Uranium
Unsur

Inti

Waktu paro

Radiasi

Energi dan (MeV)

Uranium

238
92

4,5 x 109 thn

4,2

Thorium

234
90

Th

24,1 hari

0,19

Protactinium

234
91

Pa

6,75 jam

2,3

2,47 x 105 thn

4,77

8,0 x 104 thn

4,68

1620 thn

4,78

Uranium
Thorium
Radium
Radon
Polonium

234
92

230
90

Th

226
88

Ra

222
86
218
84

Rn

3,82 hari

5,49

Po

3,05 menit

6,0

4.3 HUKUM-HUKUM DALAM PELURUHAN


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Hukum-hukum dalam Peluruhan, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan hukum kekekalan massa-energi dalam peluruhan radioaktif
Menjelaskan hukum kekekalan momentum linier dan sudutdalam peluruhan
radioaktif
Menjelaskan hukum kekekalan muatan elektrik dan nomor massa

4.3.1 Hukum Kekalan Massa-Energi


Seandainya inti awal adalah X meluruh menjadi Y, dengan memancarkan partikel b,
maka:
m X c 2 = (mY + mb )c 2 + Q

35

Q = (m X mY mb )c 2

(4.14)

Jelas, bahwa peluruhan ini terjadi jika nilai Q (energi) positif. Kelebihan energi Q ini
muncul sebagai energi kinetik partikel-partikel hasil peluruhan:
Q = KY + Kb

(4.15)

4.3.2 Hukum Kekekalan Momentum Linier


Jika inti yang meluruh pada awalnya diam, maka momentum total semua partikel
hasil peluruhannya haru nol:
pY + p b = 0

(4.16)

Biasanya, massa partikel yang dipancarakan b, lebih kecil dibanding massa inti sisa
Y, sehingga momentum pental p Y menghasilkan energi kinetik KY yang kecil.
4.3.3 Hukum Kekekalan Momentum Sudut
Ada dua jenis momentum sudut, yaitu momentum sudut spin s dan momentum sudut
gerak atau orbital l. Dalam kerangka diamdari inti X, momentum sudut total sebelum
peluruhan adalah s X . Setelah peluruhan, terdapat spin inti Y dan partikel-partikel b. Juga
ada momentum sudut l = r x p dari b dan Y, yang bergerak relatif terhadap titik dalam
ruang yang semula ditempati inti X. Dengan demikian berlaku:
s X = sY + s b + lY + l b

(4.17)

4.3.4 Hukum Kekekalan Muatan Elektrik


Hukum ini merupakan bagian mendasar dalam seluruh proses peluruhan. Hukum ini
menyatakan bahwa muatan elektrik sebelum dan sesudah peluruhan harus sama besar.
4.3.5 Hukum Kekealan Nomor Massa.
Hukum ini menyatakan bahwa total nomor massa sebelum reaksi harus sama dengan
nomor massa sesudah reaksi.

Soal-soal:
1. Sampel suatu unsur radioaktif memiliki aktivitas 9 x 1012 Bq. Waktu paro unsur
tersebut 80 s. Berapa waktu yang diperlukan agar aktivitasnya tinggal 2 x 1012 Bq.
2. Berapa aktivitas satu gram

226
88

Ra yang memiliki waktu paro 1622 tahun.

3. Berapa waktu yang diperlukan oleh bahan radioaktif yang berwaktu paro 2 hari, agar
63/64 bagiannya melakukan peluruhan.

36

4.

60

Co yang waktu apro-nya 5 tahun sering digunakan sebagai sumber radiasi dalam

bidang kedokteran. Setelah berapa lama sejak cuplikan kobalt baru diterima dari
pesanan, aktivitasnya akan berkurang hingga tinggal 1/8 aktivitas semula.
5. Zat radioaktif a (dengan konstanta peluruhan a ) meluruh menjadi b yang juga
radioaktif (dengan konstanta peluruhan b ). Buktikan bahwa jumlah zat b yang tersisa
setelah t adalah N b = N b 0 e bt +

a N a 0 t
(e
e t ) .
b a
a

Biografi Singkat
Biografi

BECQUEREL
Antonie Henri Becquerel adalah ahli fisika dan sekretaris Academie des Sciences. Pada
tahun 1896 ia menemukan radioaktivitas. Kemudian Pierre Curie dan Marie Curie mempelajari
radioaktivitas lebih lanjut. Pada tahun 1903 Becquerel, Pierre Curie dan Marie Curie, mendapat
Hadiah Nobel untuk fisika.
Becquerel lahir pada 15 Desember 1852 di Paris dan meninggal pada 25 Agustus 1908
di Le Croisic.
Ayah dan kakeknya juga ahli fisika. Nama ayahnya Alexandre Edmond Becquerel dan
nama kakeknya Antonie Cesar Becquerel.
Pada umur 20 tahun ia kuliah di Ecole Polytechnique. Tiga tahun kemudian ia diangkat
jadi dosen pada Perguruan Tinggi tersebut. Pada umur 26 tahun ia jadi guru besar di Musee
dHistoire Naturelle, menggantikan ayah dan kakeknya. Pada umur 36 tahun ia mendapat gelar
doktor. Tahun berikutnya ia diterima sebagai anggota Academie des Sciences. Pada umur 43
tahun ia diangkat menjadi guru besar di Ecole Polytechnique.
Pada saat Rontgen menemukan sinar-X, Becquerel sangat tertarik dengan penemuan
tersebut. Sinar-X berasal dari tempat yang berpendar di dalam tabung sinar katoda. Becquerel
lalu berpikir apakah tidak ada benda lain yang juga memancarkan sinar yang sangat kuat daya
tembusnya.
Dalam percobaan yang dilakukan, sebenarnya Becquerel sedang mempelajari gejala
fluoresens dan fosforesens (yang disebabkan sinar-X). Fluoresens adalah gejala dimana suatu
benda dapat memancarkan cahaya yang berbeda ketika menerima cahaya dari luar. Fosforesens
adalah gejala dimana suatu benda dapat memancarkan cahaya beberapa selang waktu
kemudian setelah benda itu menerima cahaya dari luar, seperti pada jarum penunjuk arloji yang
bersinar pada malam hari.
Dalam penyelidikannya secara tidak sengaja, ia menemukan bahwa senyawa uranium
dapat memancarkan radiasi yang daya tembusnya sangat kuat, seperti sinar-X.
Mula-mula ia menduga bahan ini menyimpan energi matahari yang diperoleh
sebelumnya. Kemudian ia menempatkan bijih uranium dalam kotak timah yang tertutup rapat
dan menyimpannya beberapa bulan. Ternyata, meskipun sudah tertutup rapat, bahan uranium
tersebut tetap menunjukkan keaktifan radiasi, yakni dapat menghitamkan film..
Becquerel menceritakan gejala ini kepada Marie Curie. Marie Curie menamakan gejala
itu dengan radioaktivitas dan sinar yang berasal dari bijih uranium itu dinamakan sinarBecquerel. Jadi, radioaktivitas pertama kali ditemukan oleh dia

37

CURIE
Marie Sklodowska Curie adalah ahli fisika dan kimia. Marie Curie adalah orang
pertama yang mendapat dua kali Hadiah Nobel, yang pertama untuk fisika dan yang kedua
untuk kimia.
Bersama suaminya Piere Curie dan Becquerel pada tahun 1903 Marie Curie mendapat
Hadiah Nobel untuk fisika karena menemukan radioaktivitas. Pada tahun 1911 Marie Curie
menadapat Hadiah Nobel Kimia karena menemukan polonium, radium dan mengisolasi
radium.
Marie Curie lahir di Warsama, Polandia pada 7 November 1867 dan meninggal di
Savoy, Prancis pada 4 Juli 1934 karena menderita sakit kanker darah, akibat terlalu banyak
terkena sinar radioaktif ketika menyelidiki radium.
Sejak kecil ia adalah orang yang cerdas. Pada umur 15 tahun ia lulus Sekolah Menengah
dengan nilai tertinggi. Tapi malang, orang tuanya miskin. Pada umur 17 tahun terpaksa
mencari nafkah dengan menjadi guru privat. Pada saat itu Marie Curie ingin kuliah, tapi
kebijakan di Polandia, gadis dilarang masuk Perguruan Tinggi.
Oleh karena itu, ia menabung dan setelah tabungannya cukup ia pindah ke Paris dan
kuliah di Sorbonne, bagian dari Universitas Paris.
Pada tahun 1896 ia bertemu Pierre Curie. Tahun berikutnya ia melangsungkan
pernikahan. Ia dikaruniai anak Irene dan Eve. Irene juga mendapat hadiah Nobel untuk kimia
1935 karena membuat unsur baru yang radioaktif. Eve terkenal karena menulis riwayat hidup
ibunya.

SEABORG (Penemu Deret Radioaktif)


Glenn Theodore Seaborg adalah ahli kimia nuklir, pemenang Hadiah Nobel, dan
bersama ilmuan lain menemukan plutonium, amerisium, kurium, berkelium, kalifornium,
einsteinium, fermium, mendelevium, dan nobelium. Ia menemukan metode pemisahan kimia
untuk membuat plutonium. Ia menemukan deretan radioaktif dan konsep aktinida mengenai
kedudukan unsur-unsur berat dalam daftar periodik.
Seaborg lahir di Michigan, AS, pada 19 April 1912, keturunan imigran dari Swedia. Ia
tamat SMA pada umur 17 tahun dan melanjutkan ke Universitas California. Mula-mula ia
tertarik pada sastra. Tapi pada tahun ke-3 kuliah ia pindah jurusan. Ia menambil jurusan kimia
dan fisika karena pengaruh seorang dosen yang pandai mengajar. Ia lulus pada umur 22 tahun
dan mendapat gelar doktor pada umur 25 tahun.
Pada umur 27 tahun ia diangkat jadi instruktur di Berkeley. Di siklotron Ernest
Lawrence ia menembaki unsur-unsur biasa dan menemukan banyak isotop penting yang
dikemudian dipakai secara luas dalam bidang pengobatan dan industri.
Pada tahun 1941 Seaborg bersama Edwin M. McMillan, Joseph W. Kennedy dan
Arthur C. Wahl menemukan plutonium, unsur transuranium terpenting yang dipakai untuk
bahan bakar di reaktor-reaktor nuklir dan sebagai bahan yang aktif dalam senjata nuklir. Pada
tahun 1951 bersama Edwin M. McMillan ia mendapat Hadian Nobel karena menemukan unsur
transuranium.
Pada tahun 1958 ia diangkat menjadi rektor Universitas Berkeley. Pada tahun 1961
menjadi kepala Komisi Energi Atom AS. Pada tahun 1971 ia menjabat sebagai direktur
Laboratorium Berkeley Lawrence.

38

V. PELURUHAN ALFA
Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Peluruhan Partikel Alfa
Karakteristik Partikel Alfa

5.1 PELURUHAN ALFA


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Peluruhan Alfa, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan konsep peluruhan alfa
Menjelaskan dan menghitung energi pada peluruhan alfa
Menjelaskan teori mekanika kuantum pada peluruhan alfa

5.1.1 Peluruhan Alfa


Peluruhan alfa adalah emisi partikel alfa (inti helium) yang dapat dituliskan sebagai
4
2

He atau 42 . Ketika sebuah inti tak stabil mengeluarkan sebuah partikel alfa, nomor atom

berkurang dua dan nomor massa berkurang empat. Peluruhan alfa dapat ditulis:
A
Z

X ZA42Y + 24

Sebagai contoh

234

U meluruh dan mengeluarkan sebuah partikel alfa

U 230
90 Th +

234
92

5.1.2 Energi Peluruhan Alfa


Dalam peluruhan dibebaskan energi, karena inti hasil peluruhan terikat lebih erat dari
pada inti semula. Energi yang dibebaskan muncul sebagai energi kinetik partikel alfa
K dan energi kinetik inti anak (inti hasil) K Y , yang dapat dihitung dengan persamaan:
Q = (m X mY m ) c 2

(5.1)

Karena energi yang dilepas muncul sebagai energi kinetik, maka:


Q = KY + K

(5.2)

Dengan asumsi kita memilih kerangka acauan laboratorium (dijelaskan pada reaksi
inti). Selanjutnya, kita dapat menghitung energi kinetik alfa dengan persamaan:
K

A4
Q
A

(5.3)

39

5.1.3 Teori Peluruhan Alfa


Peluruhan alfa merupakan salah satu peristiwa efek trobosan (tunneling effect),
seperti dibahas dalam mekanika kuantum.
Diasumsikan dua netron dan dua proton yang berada dalam inti membentuk partikel
alfa. Dua proton dan dua netron ini bergerak terus di dalam inti, yang kadang-kadang
bergabung dan terkadang berpisah. Di dalam inti partikel alfa terikat oleh gaya inti yang
sangat kuat. Tetapi jika partikel alfa inti bergerak lebih jauh dari jari-jari inti ia akan segera
merasakan tolakan gaya Coulomb.

Energi

Partikel

E
R

Gambar 5.1 Potensial Inti dan Proses Efek Trobosan Oleh Partikel Alfa
Tinggi potensial halang dalam inti berat sekitar 30 MeV sampai 40 MeV, sementara
partikel alfa hanya memiliki energi sekitar 4 sampai 8 MeV. Jadi, secara klasik partikel
alfa tidak akan mengkin menerobos potensial Coulomb yang begitu besar.
Namun, dalam mekanika kuantum, penerobosan seperti itu diijinkan. Terdapat
peluang partikel alfa untuk menerobos dinding yang begitu tebal dan kuat
Probabilitas persatuan waktu .bagi partikel alfa untuk muncul adalah probabilitas
menerobos potensial halang dikalikan banyaknya partikel alfa menumbuk penghalang per
detik dalam usahanya untuk keluar. Jika partkel alfa bergerak dengan laju

di dalam

sebuah inti berjari-jari R, maka selang waktu yang dibutuhkan untuk menumbuk
penghalang bolak-balik dalam inti sebesar 2R / . Inti berat nilai R sekitar 6 fm, maka
partikel alfa menumbuk dinding inti berat sebesar 1022 kali per detik.
Taksiran kasar probabiltas peluruhan alfa, berdasarkan mekanika kuantum adalah

40

v k ( R R )
e
2R

(5.4)

Dengan k = (2m / 2 )(V B K ) / 2 , V B merupakan tinggi maksimum penghalang


atau merupakan energi Coulomb partikel alfa pada permukaan inti atom, yang besarnya
VB = 2( Z 2)e 2 / 4 0 R , dan R = 2( z 2)e 2 / 4 0 K . Jika persamaan diatas dihitung,

maka akan didapatkan nilai antara 105 /s hingga 10-21/s, lumayan sama dengan hasil
eksperimen.
Berdasarkan data eksperimen, usia paro peluruhan alfa ada ketergantungan dengan
energi artikel alfa. Semakin besar energi partikel alfa, waktu paro nya semakin cepat dan
sebaliknya. Dikusikanlah masalah ini!
Tabel 5.1 Hubungan Energi Kinatik Alfa Dengan Waktu Paro
K (MeV)

t1 / 2

(1/s)

Th

4,01

1,4 x 1010 thn

1,6 x 10-18

4,19

4,5 x 109 thn

4,9 x 10-18

Isotop
232
238

230

Th

4,69

8,0 x 104 thn

2,8 x 10-13

238

Pu

5,50

88 thn

2,5 x 10-10

5,89

20,8 hari

3,9 x 10-7

230
220

Rn

6,29

56 s

1,2 x 10-2

222

Ac

7,01

5s

0,14

216

Rn

8,05

45 s

1,5 x 104

212

Po

8,78

0,3 s

2,3 x 106

5.2 KARAKTERISTIK PARTIKEL ALFA


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Karakteristik Partikel Alfa, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan dan menghitung daya jangkau partikel alfa di udara dan di bahan
Menjelaskan dan menghitung daya ionisasi partikel alfa
5.2.1 Daya Jangkau Partikel Alfa
Berdasarkan hasil eksperimen diketahui bahwa kecepatan gerak partikel alfa berkisar
antara 0,054 c hingga 0,07 c. Karena massa partikel alfa cukup besar, yaitu 4 u, maka

41

jangkauan partikel alfa sangat pendek.partikel alfa dengan energi paling tinggi,
jangkauannya di udara hanya beberapa cm. Sedangkan dalam bahan hanya beberapa
mikron.
Partikel alfa yang dipancarkan oleh sumber radioaktif memiliki energi tunggal
(mono-energetic). Bertambah tebalnya bahan hanya akan mengurangi energi partikel alfa
yang melintas, tetapi tidak megurangi jumlah partikel alfa itu sendiri.
Pengujian jejak partikel alfa dengan kamar kabut Wilson, menunjukkan bahwa sebagian
besar partikel alfa memiliki jangkauan yang sama di dalam gas dan bergerak dengan jejak
lurus.
Jangkauan partikel alfa biasanya diukur di udara pada suhu 0 C dan tekanan 70
mmHg dan dapat didekati dengan persamaan sebagai berikut.

d (cm) = 0,56 x E ( MeV )


E < 4 MeV
d (cm) = 1,24 x E ( MeV ) 2,62
4 < E < 8 MeV

(5.5)

Sedangkan jangkauannya dalam medium (d m ) selain udara didefinisikan dengan


pendekatan persamaan Bragg-Kleeman sebagai berikut:
dm =

dengan

3,2 x 10 4 Am

m
Am =

(5.6)

n1 A1 + n2 A2 + ...
n1 A1 + n2 A2 + ...

m adalah massa jenis medium (gr/cm3)


N i fraksi atom dari unsur i
A i berat atom unsur i

Contoh
Berapak jangkauan partikel alfa dengan energi 4,195 MeV di dalam molekul UO 2 dengan
masaa jenis 10,9 gr/cm3. Diketahui massa atom U dan O masing-masing 238 dan 16
Jawab
Molekul UO 2 terdiri atas 3 atom (1 U dan 2 O), sehingga fraksi atom untuk U, n =1/3 dan
untuk O, n = 2/3

AUO2 =

(1 / 3)(238) + (2 / 3)(16)
(1 / 3) 238 + (2 / 3) 16

= 11,52

Jangkauan partikel alfa di udara d = 1,24 x 4,195 2,62 = 2,58 cm

42

Maka jangkau partikel alfa di dalam molekul UO 2

d UO2 =

3,2 x 10 4 (11,52)
= 8,73 x 10 4 cm
10,9

5.2.2 Daya Ionisasi


Mekanisme utama hilangnya energi partikel alfa adalah melalui ionisasi dan eksitasi.
Dalam udara partikel alfa rata-rata kehilangan energi sebesar 3,5 eV untuk menghasilkan
pasangan ion (p, e). Sementara eksitasi terjadi ketika energi yang ditransfer ke elektron
atom medium, tidak cukup untuk melepaskan elektron dari pengaruh ikatan inti.
Partikel alfa bergerak cukup pelan karena massanya yang relatif besar. Karena
muatannya juga besar (2e), maka ionisasi spesifik sangat tinggi. Ionisasi sepisifik adalah
banyaknya pasangan ion yang terbentuk per satuan panjang lintasan. Pasangan ion yang
terbentuk dalam orde puluhan ribu paangan ion per centimeter lintasan di udara.
Ionisasi spesifik (I s) dirumuskan:
Is =

Pasangan ion =
jangkaun (cm)

K
( pasangan ion / cm)
W .d

(5.7)

K adalah energi partikel alfa (eV) dan W adalah energi yang diperlukan untuk

Pasangan ion per mm-udara

membentuk 1 pasang ion di udara, 35 eV/pasang

8.000

4.000

10
6
Energi partikel alfa (MeV)

Gambar 5.2 Kurva Bragg untuk Ionisasi Spesifik Partikel Alfa di Udara

43

Contoh
Berapa jumlah pasangan ion per cm di udara yang dihasilkan oleh partikel alfa dengan
energi 4,5 MeV
Jawab
Jangkaun alfa di udara d = 1,24 x 4,5 2,62 = 2,96 cm
Jumlah pasngan ion per cm
Is =

4,5 x 10 6 eV
= 43.436 pasang ion / cm
35 eV x 2,96 cm

Soal-soal:
1.

Hitunglah energi yang dilepas pada peluruhan alfa dari


dan massa

2.

U . Diketahui massa

190
78

Ra. dan

234

Th adalah 234,040947u dan 230,033131u

Hitunglah energi kinetik partikel alfa yang dipancarkan dari


226

3.

230

234

222

226

Ra. Diketahui massa

Rn adalah 222,025406u dan 222,017574u.

Pt memancarkan partikel alfa dengan energi 3,16 MeV. Tentukan jangkaun partikel

alfa tersebut di dalam air (H 2 O) jika diketahui air 1 gr/cm3, massa atom H = 1 dan O
= 16.
4.

239
94

Pu memancarkan partikel alfa dengan energi 5,15 MeV. Tentukan ionisasi spesifik

partikel alfa di dalam gas Xenon, jika untuk pembentukan 1 pasang ion gas Xenon
diperlukan energi 22 eV.
5.

Buktikan bahwa energi kinetik alfa adalah: K

A4
Q
A

44

VI. PELURUHAN BETA


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Peluruhan Beta
Karakteristik Sinar Beta

6.1 PELURUHAN BETA


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Peluruhan Beta, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan konsep peluruhan beta negatif dan beta positif dan hakikat
partikel beta
Menjelaskan hipotesis neutrino dan anti-neutrino
Menjelaskan proses tangkapan elektron oleh inti
Menjelaskan dan menghitung energi dalam proses peluruhan beta

6.1.1 Peluruhan Beta


Dalam peluruhan beta, sebuah proton berubah menjadi inti atau sebaliknya. Jadi Z
dan N masing-masinng berubah satu satuan, tetapi A tidak berubah.
Pada peluruhan beta, yang paling utama adalah sebuah netron meluruh menjadi sebuah
proton dan sebuah elektron
n p+e

Ketika proses peluruhan ini pertama kali dipelajari, partikel yang dipancarkan disebut
partikel beta, kemudian baru diketahui bahwa partikel itu adalah elektron.
Elektron yang dipancarkan pada peluruhan beta bukanlah elektron kulit atom dan
juga bukan elektron yang semula berada dalam inti. Tetapi elektron ini diciptakan oleh inti
dari energi yang ada. Jika ada beda energi diam sekurang-kurangnya me c 2 , maka
penciptaan elektron sangat mungkin terjadi.

6.1.2 Hipotesis Neutrino


Dari eksperimen yang telah dilakukan berkaitan dengan peluruhan beta ini, yaitu:
1.

Spin intrinsik proto, netron dan elektron masing-masing bernilai . Jika terjadi
peluruhan netron (spin ), gabungan spin proton dan elektron hasil peluruhan bisa
sejajar (spin total = 1) atau berlawanan (spin total 0), dan tidak ada kemungkinan
45

spin totalnya . Oleh karena itu, proses peluruhan ini tampaknya melanggar hukum
kekekalan momentum sudut
2.

Persoalan

energi beta. Dari pengukuran elektron yang dipancarkan didapatkan

bahwa spektrum energinya kontinyu dari 0 hingga nilai maksimum K e(max) . Menurut
perhitungan dalam peluruhan netron, nilai Q = (mn m p me )c 2 = 0,782 MeV .
Persoalan distribusi energi yang kontinyu ini (karena adanya beberapa energi yang
hilang), dicoba dipecahkan oleh para fisikawan eksperimen sebelum tahun 1930, tapi

Jumlah elektron

semuanya tidak berhasil.

Ke (max)
Energi kinetik elektron

Gambar 6.1. Grafik Distribusi Energi Partikel Beta


Pemecahan terhadap fenomena yang tampak melanggar hukum kekekalan
momentum sudut dan energi ini ditemukan oleh Wolfgang Pauli. Ia mengusulkan bahwa
ada partikel ketiga yang dipancarkan pada peluruhan beta ini. Partikel ketiga ini bermuatan
elektrik nol dan memiliki spin . Hilangnya energi ini tidak lain adalah energi yang
diambil partikel ini.
Partikel ini disebut neutrino (yang dalam bahasa Italia berarti netral kecil) dan diberi
lambang . Neutrino ini memiliki massa diam nol. Neutrino ini juga memiliki anti partikel
yang dinamakan antineutrino . Pada kenyataannya yang dipancarkan dalam peluruhan
beta adalah antineutrino. Dengan demikian proses peluruhan beta secara lengkap adalah:
n p + e +
Energi reaksi ini muncul sebagai energi kinetik elektron, energi antineutrino dan
energi pental proton.
Proses peluruhan beta lainnya adalah peluruhan proton, yang reaksinya
p n + e + +

46

e + adalah elektron positif atau positron yang merupakan antipartikel dari elektron.
Positron memiliki massa sama dengan elektron, tetapi memiliki muatan elektrik yang
berlawanan. Apabila positron bertemu dengan elektron, keduanya akan bergabung dan
musnah. Proses ini dinamakan annihilasi. Energi keduanya berubah menjadi gelombang

Jumlah positron

elektromagnetik.

Ke (max)
Energi kinetik positron

Gambar 6.2. Grafik Distribusi Energi Positron

6.1.3 Tangkapan Elektron


Salah satu proses peluruhan inti adalah tangkapan elektron (Electron capture, EC).
Proses reaksinya adalah
p + e n +

Di sini sebuah proton menagkap elektron dariorbitnya beralih menjadi sebuah netron
ditambah sebuah neutrino. Elektron yang ditangkap ini adalah elektron terdalam sebuah
atom, dan proses ini dicirikan dengan kulit asal elektronnya: tangkapan kulit K, kulit L,
dan seterusnya. Tangkapan elektron ini tidak terjadi pada proton bebas, tetapi hanya proton
yang ada di dalam inti.

6.1.4 Energi Peluruhan.


Peluruhan beta terjadi pada sebuah inti atom. Pada saat pemancaran e , sebuah inti
atom dengan Z proton dan N netron meluruh ke inti atom lain dengan Z + 1 proton dan N
1 netron.
A
Z

X N Z +A1YN 1 + e +

Nilai Q dari peluruhan ini, dihitung dengan mengurangi massa-massa elektron (Zme )

47

(m X Zme )c 2 = (mY ( Z + 1)me )c 2 + me c 2 + Q


Q = (m X mY )c 2

(6.1)

Massa elektron saling menghapuskan dalam perhitungan Q. Energi yang dilepas


dalam peluruhan ini

sebagai energi kinetik antineutrino, energi kinetik elektron dan

sejumlah kecil energi kinetik inti. Elektron memiliki energi kinetik maksimum jika energi
antineutrino hampir nol.
Sedangkan dalam pemancaran e + , proton inti berubah menjadi netron. Reaksinya
dapat digambarkan
A
Z

X N Z A1YN +1 + e + +

Nilai Q pada proses ini


(m X Zme )c 2 = (mY ( Z 1)me )c 2 + me c 2 + Q
Q = (m X mY 2me )c 2

(6.2)

Sedang untuk tangkapan elektron, reaksinya


A
Z

X N + e Z A1YN +1 +

Dan nilai Q-nya


(m X Zme )c 2 + me c 2 = (mY ( Z 1)me )c 2 + Q
Q = (m X mY )c 2

(6.3)

Contoh
Berapakah energi maksimum elektron yang teremisi dari peluruhan e di dalam H
Jawab
Reaksi peluruhan
3
1

H 23 He + e + v

Q = (m H m He )c 2 = (3,016050u 3,016030u ) x 931,5 MeV / u = 0,0186 MeV

Energi kinetik inti He bisa diabaikan karena terlalu kecil sehingga K e terjadi pada saat K v
= 0, maka K e = 0,0186 MeV

6.2 KARAKTERISTIK PARTIKEL BETA


TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Karakteristik Partikel Beta, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan dan menghitung daya jangkau partikel beta di udara dan di bahan
Mejelaskan dan menghitung daya ionisasi partikel beta

48

6.2.1 Daya Jangkau Sinar Beta


Sinar beta, baik elektron atau positron, keduanya termasuk kelompok partikel ringan
bermuatan. Besar massa diam dan muatan elektriknya juga sama, hanya tandanya saja yang
berlawanan. Kecepatan gerak di udara antara 0,32 c sampai 0,7 c. Jejak partikel beta ini
berbelok-belok karena elektron ini mengalami hamburan di dalam bahan.
Energi rata-rata elektron ini (1/3) K max, sedangkan untuk positron 0,4 Kmax.
Panjang jangkaun partikel ini di medium dinyatakan dalam cm, namun kadangkadang juga dinyatakan dalam bentuk ketebalan densitas (density thickness, d t ) dengan
satuan massa per satuan luas (mg/cm2) untuk menggantikan jarak atau ketebalan (d).
d t (mg / cm 2 ) = d (cm) x (mg / cm 3 )

(6.4)

adalah massa jenis medium.


Dengan sistem satuan ini, jangkauan partikel di dalam medium tidak lagi
memperhatikan jenis bahan medium.
Perumusan matematis yang menunjukkan hubungan antara jangkauan d t dan energi
maksimum K m (MeV) adalah sebagai berikut:

d t (mg / cm 2 ) = 412 K m

1, 265 0 , 0954 ln( K m )

d t (mg / cm 2 ) = 530 K m 106

untuk 0,01 K m 2,5 MeV


untuk K m > 2,5 MeV

(6.5)

Contoh
Berapakah jangkauan linier partikel beta (dalam cm) dengan energi maksimum 2,86 MeV
yang dipancarkan dari inti

56
25

Mn yang melewati aluminum.

Jawab
d t = 530 x 2,86 10,6 = 1410 mg / cm 2 = 1,41 g / cm 2
d=

dt

Al

1,41 g / cm 2
=
= 0,52 cm
2,7 gr / cm 3

6.2.2 Daya Ionisasi Partikel Beta


Mekanisme hilangnya partikel beta sama dengan mekanisme pada partikel alfa, yaitu
diserap bahan yang dilewati untuk proses ionisasi dan eksistasi.
Partikel beta akan kehilangan energi 3,4 eV setiap pembentukan satu pasang ion.
Namun karena partikel beta lebih kecil (sekitar 1/7300 dari massa partikel alfa) dan muatan
yang lebih rendah (1/2 dari partikel alfa), maka konsekuensinya partikel beta dalam
sepanjang jejaknya tidak memproduksi pasangan ion per cm sebanyak yang dibentuk

49

partikel alfa. Partikel beta dengan energi 3 MeV mempunyai jangkaun di udara lebih dari
1.000 cm namun hanya mampu menghasilkan beberapa pasangan ion per mm sepanjang
jejaknya.
Ionisasi spesifik (I s ) partikel beta di udara bervariasi dari 60 sampai 7.000 pasangan
ion per cm. Ionisasi spesifik bernilai besar untuk partikel beta berenergi rendah,
selanjutnya berkurang secara cepat untuk energi yang makin besar, hingga mencapai
minimum pada energi sekitar 1 MeV. Ionisasi spesifik ini berlahan-lahan naik untuk energi
lebih besar dari 1 MeV.
Persamaan ionisasi spesifik ditulis:
Is =

dK / dx
W

(6.6)

dK/dx adalah laju kehilangan energi akibat ionisasi dan eksitasi oleh partkel beta
(MeV/cm) dan W adalah energi rata-rata untuk membentuk satu pasangan ion.
Satu hal yang menarik, karena partikel beta bermuatan listrik dan bergerak dengan
kecepatan tinggi, apabila melintas dekat inti atom, maka gaya elektrostatik inti
menyebabkan partikel beta membelok dengan tajam. Peristiwa ini menyebabkan partikel
beta kehilangan energinya dengan memancarkan gelombang elektromagnetik yang dikenal
sinar-X Bremsstrahlung.

Soal-soal:
1. Tentukan energi minimum suatu antineutrino yang menghasilkan reaksi

+ p n + e+
2. Tentukanlah energi yang dilepas ketika

7
4

Be mengalami tangkapan elektron.

Diketahui massa 47 Be dan 37 Li adalah 7,016929u dan 7,0016004u.


3. Inti

23

Ne meluruh ke inti

23

Na dengan memancarkan beta negatif. Berapakah

energi kinetik maksimum elektron yang dipancarkan. Diketahui massa


23

23

Ne dan

Na adalah 22,994466u dan 22,989770u.

4. Inti atom

40

K memancarkan partikel beta dengan energi 1,32 MeV. Tentukan

jangkauan linier partikel beta di dalam air ( air = 1 gr/cm3).


5. Inti

90

Sr memancarkan partikel beta dengan energi 0,546 MeV. Tentukan tebal

bahan yang diperlukan untuk menahan semua radiasi beta tersebut jika bahan yang
digunakan aluminium ( Al = 2,7 gr/cm3).

50

VII. PELURUHAN GAMMA

Sub-pokok Bahasan Meliputi:


Peluruhan Gamma
Absorbsi Sinar Gamma
Interaksi Sinar Gamma dengan Materi

7.1. PELURUHAN GAMMA


TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Peluruhan Gamma, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan proses peluruhan gamma
Menjelaskan hakikat sinar gamma sebagai gelombang elektromagnetik

Setelah peluruhan alfa dan beta, inti biasanya dalam keadaan tereksitasi. Seperti
halnya atom, inti akan mencapai keadaan dasar (stabil) dengan memancarkan foton
(gelombang elektromagnetik) yang dikenal dengan sinar gamma ().
Dalam proses pemancaran ini, baik nomor atom atau nomor massa inti tidak berubah.
( AX ) * A X +
Energi gelombang ini ditentukan oleh panjang gelombang ( ) atau oleh frekuensinya
(f) sesuai persamaan

E = hf = hc /

(7.1)

dengan h adalah tetapan plank yang besarnya 6,63 10-34 Js.


Energi tiap foton adalah beda energi antara keadaan awal dan keadaan akhir inti,
dikurangi dengan sejumlah koreksi kecil untuk energi pental inti. Energi ini berada pada
kisaran 100 KeV hingga beberapa MeV.
Inti dapat pula dieksitasi dari keadaan dasar ke keadaan eksitasi dengan menyerap
foton dengan energi yang tepat.
Gambar 7.1 memperlihatkan suatu diagram tingkat energi yang khas dari keadaan
eksitasi inti dan beberapa transisi sinar gamma yang dipancarkan. Wakto paro khas bagi
tingkat eksitasi inti adalah 10-9 hinga 10-12 s.
Ada beberapa yang memiliki waktu paro lama (beberapa jam bahkan beberapa hari).
Intiinti yang tereksitasi seperti ini dinamakan isomer dan keadaan tereksitasinya dikenal
sebagai keadaan isomerik.
51

198

e-

Au

0,412 MeV
1
0
198

Hg

Gambar 7.1 Diagram Tingkat Energi Inti


Dalam menghitung energi partikel alfa dan beta yang dipancarkan dalam peluruhan
radioaktif di depan dianggap tidak ada sinar gamma yang dipancarkan. Jika ada sinar
gamma yang dipancarkan, maka energi yang ada (Q) harus dibagi bersama antara partikel
dengan sinar gamma.

7.2 ABSORBSI SINAR GAMMA


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Absorbsi Sinar Gamma, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan dan menghitung penyerapan sinar gamma oleh material
Menjelaskan dan menghitung nilai tebal paro

Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik yang membawa energi dalam


bentuk paket-paket yang disebut foton. Jika sinar gamma masuk ke dalam suatu bahan,
juga mengahsilkan ionisasi, hanya saja ionisasi yang dihasilkan sebagian besar melalui
proses ionisasi sekunder. Jadi, jinar gamma berinteraksi dengan materi hanya beberapa
pasang ion primer saja yang terbentuk. Ion-ion primer itu selanjutnya melakukan proses
ionisasi sekunder sehingga diperoleh pasangan ion yang lebih banyak dibandingkan yang
terbentuk pada proses ionisasi primer.
Apabila sinar gamma (gelombang elektromagnetik) memasuki perisai, maka
intensitas radiasi saja yang akan berkurang, sedangkan energi tetap tidak berubah.
I = I 0 e d

(7.2)

52

Dengan Io adalah intensitas mula-mula, I Intensitas yang diteruskan, d adalah


ketebalan bahan perisasi dan adalah koefisien serapan linier bahan perisai.
Karena d tidak memiliki satuan, maka satuan dan d menyesuaikan. Jika d dalam cm,
maka dalam 1/cm.
Nilai untuk setiap bahan sangat bergantung pada nomor atom bahan dan juga pada
radiasi gamma.
Untuk beberapa tujuan tertentu, seringkali tabel bahan perisai tidak dinyatakan dalam
tebal linier dengan satuan panjang, tetapi dinyatakan dalam tebal kerapatan (gr/cm2). Jika
besaran itu yang dipakai maka koefisien serapan bahan dinyatakan dalam koefisiem
serapan massa m dengan satuan cm2/gr.
Hubungan keduanya dinyatakan dalam:

(cm 1 ) = m (cm 2 / gr ) x ( gr / cm 3 )

(7.3)

Selain kedua koefisien serapan tersebut, juga digunakan koefisien serapan atomik
( a ), yaitu fraksi berkas radiasi gamma yang diserap oleh atom . Koefisien serapan atomik
dirumuskan

a (cm 2 / atom) =

(cm 1 )
N (atom / cm 3 )

(7.4)

Dengan N adalah jumlah atom penyerap per cm3. Koefisien serapan atomik ini selalu
menunjukkan tampang lintang (cross section) dengan satuan barn.
1 barn = 10 -24 cm2
Koefisien serapan atomik seringkali disebut microscopic cross section (), sedangkan
koefisien serapan linier sering dikenal dengan istilah macroscopic cross section ( = N ).
Sedangkan nilai tebal paro atau half value thickness (HVT) adalah tebal bahan perisai yang
diperlukan radiasi gelombang elektromagnetik untuk mengurangi intensitas radiasinya,
sehingga tinggal setengah dari semula.
Jika penurunan intensitas dirumuskan I = I 0 e d dan pada saat intensitas menjadi
setengahnya I =

1
I0
2

Maka

HVT =

0,693

(7.5)

53

Dilihat dari daya tembusnya, radiasi gamma memiliki daya tembus paling kuat
dibandingkan dengan radiasi partikel yang dipancarkan inti radioaktif lainnya.
Sebaliknya, daya ionisasinya paling lemah. Karena sinar gamma termasuk
gelombang elektromagnetik, maka kecepatannya sama dengan kecepatan cahaya.

7.3 INTERAKSI SINAR GAMMA DAN MATERI

TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:


Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Interaksi Sinar Gamma dengan Materi,
mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan jenis-jenis interaksi sinar gamma dan materi
Menjelaskan efek foto listrik, hamburan Compton dan produksi pasangan.

Ada tiga proses utama yang dapat terjadi apabila radiasi gamma melewati bahan,
yaitu efek fololistrik, hamburan Compton dan produksi pasangan. Ketiga proses tersebut
melepaskan elektron yang selanjutnya dapat mengionisasi atom-atom lain dalam bahan.
Peluang terjadinya interaksi antara radiasi gamma dengan bahan ditentukan oleh koefisien
absorbsi linier (). Karena penyerapan intensitas gelombang elektromagnetik melalui tiga
proses utama, maka nilai juga ditentukan oleh peluang terjadinya ketiga proses tersebut,
yaitu f untuk foto listrik, c untuk hamburan Compton dan pp untuk produksi pasangan.
Koefisien absorbsi total ( t ) dari ketiga koefisien tersebut

t = f + c + pp

(7.6)

7.3.1 Efek fotolistrik


Efek foto listrik adalah peristiwa diserapnya energi foton seluruhnya oleh elektron
yang terikat kuat oleh suatu atom sehingga elektron tersebut terlepas dari ikatan atom.
Elektron yang terlepas dinamakan fotoelektron.efek foto listrik terutama terjadi antara 0,01
MeV hingga 0,5 MeV.
Efek fotolistrik ini umumnya banyak terjadi pada materi dengan Z yang besar, seperti
tembaga (Z = 29).
Energi foton yang datang sebagian besar berpindah ke elektron fotolistrik dalam
bentuk energi kinetik elektron dan sebagian lagi digunakan untuk melawan energi ikat
elektron (W0 ).
Besarnya energi kinetik fotoelektron (K) dalam peristiwa ini adalah:
K = hf W0

(7.7)
54

Dari persamaan 7.7 terlihat bahwa agar efek fotolistrik terjadi, maka energi foton
harus sekurang-kurangnya sama dengan energi ikat elektron yang berinteraksi.
7.3.2 Hamburan Compton
Hamburan Compton terjadi apabila foton dengan energi hf berinteraksi dengan
elektron bebas atau elektron yang tidak terikat dengan kuat oleh inti, yaitu elektron terluar
dari atom. Elektron itu dilepaskan dari ikatan inti dan bergerak dengan energi kinetik
tertentu disertai foton lain dengan energi lebih rendah dibandingkan foton datang. Foton
lain ini dinamakan foton hamburan.
Kemungkinan terjadinya hamburan Compton berkurang bila energi foton yang
datang bertambah dan bila Z bertambah.
Dalam hamburan Compton ini, energi foton yang datang yang diserap atom diubah
menjadi energi kinetik elektron dan foton hamburan. Perubahan panjang gelombang foton
hamburan dari menjadi dirumuskan

= =

h
(1 cos )
me c

(7.8)

dengan memasukkan nilai-nilai h, m dan c diperoleh

( A) = 0,0242 (1 cos )

(7.9)

Hamburan foton penting untuk radiasi elektromagnetik dengan energi 200 keV
hingga 5 MeV dalam sebagian besar unsur-unsur ringan.
7.3.3 Produksi pasangan
Produksi pasangan terjadi karena interaksi antara foton dengan medan listrik dalam
inti atom berat. Jika interaksi itu terjadi, maka foton akan lenyap dan sebagai gantinya akan
timbul sepasang elektron-positron. Karena massa diam elektron ekivalen dengan energi
0,51 MeV, maka produksi pasangan hanya dapat terjadi pada energi foton 1,02 MeV
(2mec2).
Energi kinetik total pasagan elektron-positron sesuai dengan persamaan:
hf = K e + K p + me c 2 + m p c 2 .

(7.10)

Kedua partikel ini akan kehilangan energinya melalui proses ionisasi atom bahan.
Positron yang terbentuk juga bisa bergabung dengan elektron melalui suatu proses yang
dinamakn annihiliasi.

55

Soal-soal:
1. Inti

228

Th memancarkan alfa menjadi

224

Ra dalam keadaan tereksitasi, yang

kemudian meluruh ke keadaan dasarnya dengan memancarkan foton 217 KeV.


Hitunglah energi kinetik partikel alfa. Massa

228

Th dan

224

Ra adalah 228,028726u

dan 224,020196u
2. Inti

12

N memancarkan beta positif ke keadaan eksitasi

12

C , yang sesudah itu

meluruh ke keadaan dasarnya dengan memancarkan sinar gamma 4,43 MeV.


Berapakah energi kinetik maksimum partikel beta yang dipancarkan. Massa

12

dan 12 C adalah 12,018613u dan 12,004756u.


3. Radiasi gamma dengan energi 1,25 MeV mengalami hamburan Compton dengan
sudut hambur 600 dari arah datangnya radiasi. Tentukan panjang gelombang foton
terhambur.
4. Radiasi elektromagnetik dengan energi 206 eV diserap oleh suatu bahan. Jika
energi yang diperlukan untuk melepas elektron dari ikatan inti sebesar 4 eV, berapa
energi kinetik fotoelektron yang terlepas.
5. Koefisien serapan linier suatu bahan 0,25/cm. Berapa tebal bahan yang diperlukan
untuk mengurangi intensitas sinar gamma menjadi dari intensitas semula.

56

VIII. DETEKSI RADIASI NUKLIR


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Detektor Isian Gas
Detektor Sintilator
Detektor Kamar Kabut

8.1 DETEKTOR ISIAN GAS


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Detektor Isian Gas, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan prinsip kerja detektor ionisasi gas
Menjelaskan dan mengoperasikan detektor ionisasi gas pada daerah kamar
ionisasi, daerah proporsional dan Geiger-Muller

8.1.1 Prinsip Kerja


Sinar radioaktif tidak dapat dilihat dengan mata biasa, sehingga untuk mendeteksinya
harus digunakan alat. Alat deteksi sinar radioaktif dinamakan detektor radiasi.
Salah satu jenis detektor radiasi yang pertama kali diperkenalkan dan sampai saat ini
masih digunakan adalah detektor ionisasi gas. Detektor ini memanfaatkan hasil interaksi
antara radiasi pengion dengan gas yang dipakai sebagai detektor. Lintasan radiasi pengion
di dalam bahan detektor dapat mengakibatkan terlepasnya elektron-elektron dari atom
bahan itu sehingga terbentuk pasangan ion positif dan ion negatif. Karena bahan
detektornya berupa gas maka detektor radiasi ini disebut detektor ionisasi gas.

Silinder metal

Isolasi
Menuju amplifier

Jendela tipis
Kawat
Gas

Gambar 8.1 Skema Detektor Isian Gas

57

Jumlah pasangan ion yang terbentuk bergantung pada jenis dan energi radiasinya.
Radiasi alfa dengan energi 3 MeV misalnya, mempunyai jangkaun (pada tekanan dan suhu
standar) sejauh 2,8 cm dapat menghasilakn 4.000 pasangan ion per mm lintasannya.
Sedang radiasi beta dengan energi kinetik 3 MeV mempunyai jangkaun dalam udara (pada
tekanan dan suhu standar) sejauh 1.000 cm dan menghasilkan pasangan ion sebanyak 4
pasang tiap mm lntasannya.
Detektor ionisasi gas berbentuk silinder yang diisi gas dan mempunyai dua elektroda.
Dinding tabung yang dipakai sebagai selubung gas sebagai elektroda negatif (katoda).
Kawat di tengah-tengah tabung berfungsi sebagai elektroda positif (anoda). Kedua
elektroda berfungsi sebagai keping-keping kapasitor.
Apabila kapasitas dari kapasitor adalah C dan beda potensial antara kedua
elektrodanya adalah sebesar sumber tegangannya V, maka muatan listrik Q yang disimpan
dalam kapasitor adalah:

Q =C xV

(8.1)

Masuknya radiasi ke dalam tabung detektor menyebabkan terbentuknya pasangan ion.


Ion positif akan tertarik ke katoda dan ion negatif tertarik ke anoda. Karena menarik ionion yang berlawanan, maka akan terjadi pengurangan muatan listrik pada masing-masing
elektroda. Penurunan jumlah muatan itu, mengakibatkan penurunan tegangan antara kedua
elektroda, yang dirumuskan:
V =

Q
C

(8.2)

Jika N menyatakan jumlah pasangan ion yang terbentuk dan e adalah muatan
elektron (1,6 x 10-19 C) maka jumlah penurunan muatan pada kapasitor:

Q = Ne

(8.3)

Dengan mensubstitusi persamaan 8.2 dan 8.3 diperoleh:


V =

Ne
C

(8.4)

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa penurunan tegangan sebanding dengan


pasangan ion yang terbentuk. Sedang jumlah pasangan ion itu sendiri bergantung pada
jenis dan energi radiasi yang ditangkap detektor. Perubahan tegangan itu akan
mengakibatkan terjadinya aliran listrik (denyut out put) yang dapt diubah menjadi angkaangka hasil cacahan radiasi.

58

Dengan memanfaatkan tingkah laku ion-ion gas dalam medan listrik, telah berhasil
dikembangkan tiga jenis alat pantau radiasi yang menggunakan gas sebagai detektornya,
yaitu: alat pantau kamar ionisasi, alat pantau proporsional, dan alat pantau Geiger-Muller
(GM). Ketiganya mempunyai bentuk dasar dan prinsip kerja yang sama. Perbedaanya
terletak pada tegangan operasi masing-masing.
8.1.2 Detektor Kamar Ionisasi
Detektor kamar ionisasi beroperasi pada tegangan paling rendah. Jumlah elektron
yang terkumpul di anoda sama dengan jumlah yang dihasilkan oleh ionisasi primer. Dalam
kamar ionisasi ini tidak terjadi pelipat-gandaan (multiplikasi) jumlah ion oleh ionisasi
sekunder. Dalam daerah ini dimungkinkan untuk membedakan antara radiasi yang berbeda
ionisasi spesifikasinya, misalnya antara partikel alfa, beta dan gamma.
Namun, arus yang timbul sangat kecil, kira-kira 10-12 A sehingga memerlukan
penguat arus sangat besar dan sensitivitas alat baca yang tinggi.
8.1.3 Detektor Proporsional
Salah satu kelemahan dalam mengoperasikan detektor pada daerah kamar ionisasi
adalah out put yang dihasilkan sangat lemah sehingga memerlukan penguat arus sangat
besar dan sensitivitas alat baca yang tinggi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, tetapi
masih tetap dapat memanfaatkan kemampuan detektor dalam membedakan berbagai jenis
radiasi, maka detektor dapat dioperasikan pada daerah proporsional.
Alat pantau proporsional beroperasi pada tegangan yang lebih tinggi daripada kamar
ionisasi. Daerah ini ditandai dengan mulai terjadinya multiplikasi gas yang besarnya
bergantung pada jumlah elektron mula-mula dan tegangan yang digunakan. Karena terjadi
multiplikasi maka ukuran pulsa yang dihasilkan sangat besar.
Anoda

_ _
_

Ion negatif
mula-mula

_
_

Ion positif
+ mula-mula

Katoda
Gambar 8.2. Proses Multiplikasi Ion

59

Multiplikasi terjadi karena elektron-elektron yang dihasilkan oleh ionisasi primer


dipercepat oleh tegangan yang digunakan sehingga elektron tersebut memiliki energi yang
cukup untuk melakukan ionisasi berikutnya (ionisasi sekunder). Meskipun terjadi
multiplikasi, namun jumlah elektron yang dihasilkan tetap sebanding (proporsional)
dengan ionisasi mula-mula. Karena itu dinamakan alat pantau proporsional.
Keuntungan dari alat pantau proporsional adalah bahwa alat ini mampu mendeteksi
radiasi dengan intensitas cukup rendah. Namun, memerlukan sumber tegangan yang super
stabil, karena pengaruh tegangan pada daerah ini sangat besar terhadap tingkat multiplikasi
gas dan juga terhadap tinggi pulsa out put.
8.1.4

Detektor Geiger-Muller
Detektor Geiger-Muller (GM) beroperasi pada tegangan di atas detektor proporsional.

Dengan mempertinggi tegangan akan mengakibatkan proses ionisasi yang terjadi dalam
detektor menjadi jenuh. Pulsa yang dihasilkan tidak lagi bergantung pada ionisasi mulamula maupun jenis radiasi. Jadi, radiasi jenis apapun akan menghasilkan keluaran sama.
Karena tidak mampu lagi membedakan berbagai jenis radiasi yang ditangkap
detektor, maka detektor GM hanya dipakai untuk mengetahui ada tidaknya radiasi.
Keuntungan dalam pengoprasian GM ini adalah denyut out put sangat tinggi, sehingga
tidak diperlukan penguat (amplifier) atau cukup digunakan penguat yang biasa saja.
1012
1010

Daerah
Proporsional
Terbatas

Daerah Rekombinasi

Daerah GM

Kamar Ionisasi

108

Daerah Proporsional
6

Daerah Discharge

10

104

Partikel alfa

102

Elektron

100
50
75
1000
0
0
V (volt)
Gambar 8.3. Grafik Pembagian Daerah Kerja Detektor Isian Gas
0

25
0

60

8.2 DETEKTOR SINTILASI

TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:


Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Detektor Sintilasi, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan prinsip detektor sintilasi
Menjelaskan spektroskopi gamma dengan detektor sintilasi

Detektor generasi lebih baru dibanding dengan detektor isian gas adalah detektor
sintilasi. Detektor jenis ini menggunakan dasar efek sintilasi (kelipan) apabila bahan
sintilator dikenai suatu radiasi nuklir. Proses ini terutama disebabkan oleh proses eksitasi
yang diikuti oleh deeksitasi.
Banyak bahan yang bersifat sintilator ini tetapi mempunyai kebolehjadian efek
sintilasi yang berbeda-beda untuk ketiga jenis radiasi , dan . Untuk radiasi biasa
dipakai bahan ZnS(Ag), CsI(Tr). Untuk radiasi adalah jenis plastik, organik (antrasin).
Sedang untuk sering dipakai NaI(Tl) juga plastik.
Mengenai proses sintilasinya dapat dijelaskan sebagai berikut. Ditinjau tingkattingkat energi atom sintilatornya. Sebagai contoh adalah ZnS(Ag).
Pita Konduksi
Pita Eksitasi
Pita Jebakan
10 eV
Tingkat eksitasi aktivator
3 eV

Tingkat dasar aktivator


Pita Valensi
Gambar 8.4. Tingkat-tingkat Energi

Bila energi antara pita valensi dan pita konduksi atau pita eksitasi cukup besar (orde
10 eV), maka keboleh-jadian berpindahnya elektron ke pita konduksi atau eksitasi sangat
kecil. Namun, dengan adanya aktivator (Ag) maka energi dasar dan eksitasinya menjadi

61

kecil (3 eV) sehingga proses sintilasi menjadi mudah. Karena selisih energi tingkat dasar
dan eksitasi 3 eV maka energi foton yang dipancarkan adalah juga 3 eV atau panjang
gelombangnya sebesar 4500 A.
Dinoda
Tegangan
Tinggi

Fotokatoda

Anoda
R

Foton

Minyak Silikon
PMT
Gambar 8.5. Skema Detektor Sintilasi

Sintilator dilekatkan pada dinding PMT (Photomultiplier Tube) dengan minyak


silicon untuk menghilangkan pantulan oleh dinding PMT. Cahaya yang terjadi karena
proses sintilasi tadi mengenai katoda yang terbuat dari foto sel (disebut fotokatoda) yang
menghasilkan fotoelektron yang banyaknya sebanding dengan intensitas cahaya.
Selanjutnya fotoelektron tersebut melalui deretan anoda yang terbuat dari bahan
fotosel juga, yang tegangannya bertingkat dari rendah dekat katoda, makin tinggi sampai di
anoda terakhir. Anoda-anoda ini disebut dinoda.
Oleh tegangan tinggi yang terpasang pada dinoda-dinoda, fotoelektron tadi
dipercepat ke dinoda pertama menghasilkan elektron lebih banyak, lalu dipercepat ke
dinoda kedua menghasilkan elektron lebih banyak lagi. Demikian seterusnya sampai
semua elektron dikumpulkan di anoda dan menghasilkan pulsa listrik.
Tinggi pulsa yang dihasilkan sebanding dengan banyaknya elektron yang terkumpul
di anoda, sedang banyaknya elektron terkumpul ini sebanding dengan banyaknya
fotoelektron, banyaknya fotoelektron sebanding dengan intensitas cahaya hasil proses
sintilasi dan intensitas cahaya ini sebanding dengan tenaga radiasi. Maka, detektor sintilasi
dapat dipakai untuk spektroskopi.

62

Karena pulsa ini masih cukup tinggi, perlu diperkuat dengan penguat awal (pre amp)
dan penguat utama (main amp) baru dimasukkan ke penganalisa tinggi pulsa, bisa berupa
SCA (single channel analyzer) atau MCA (multi channel analyzer).
SCA dan MCA ini tidak lain adalah penganalisa tinggi pulsa (pulse high
analyzer/PHA) yang dapat digunakan untuk mentransformasikan distribusi tinggi pulsa

Intensitas Relatif

pada keluaran penguat utama menjadi spektrum energi.

Energi (KeV)
Gambar 8.6 Spektrum Energi Sinar Gamma dari 60Co,
Didperoleh dengan Detektor Sintilasi

8.3 DETEKTOR KAMAR KABUT


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Detektor Kamar Kabut, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan prinsip kerja detektor kamar kabut
Menjelaskan kegunaan detektor kamar kabut

Jika udara didinginkan sehingga uap mencapai keadaan jenuh, maka udara itu masih
dapat didinginkan tanpa terjadi pengembunan. Pada keadaan ini, uap dinamakan
superjenuh. Keadaan superjenuh ini akan terjadi hanya jika udara bebas dari debu atau
partikel-partikel garam yang dapat bertindak sebagai inti pengembunan sehingga
membentuk tetes-tetes kabut.

63

Pada tahun 1911, Wilson menemukan bahwa ion-ion gas dapat juga bertindak
sebagai inti pengembunan. Kemudian gejala ini digunakan untuk menunjukkan lintasanlintasan radiasi ionisasi melalui udara.
Sebuah sumber radioaktif memancarkan partikel-partikel dalam sebuah kamar udara
yang jenuh dengan uap air dan alkohol. Ketika partikel-partikel ini melalui udara, mereka
bertumbukan dengan molekul-molekul udara. Tumbukan ini mengakibatkan terjadinya
ionisasi, sehingga meninggalkan jejak ion positif dan negatif. Jika tekanan dalam kamar
dikurangi dengan cara memompa sebagian udara keluar, maka udara menjadi lebih dingin.
Keadaan ini memungkinkan partikel-partikel uap superjenuh mengembun pada ion-ion
tersebut, sehingga jejak tetes-tetes uap sepanjang lintasan ion-ion dapat terlihat.
Bentuk jejak kabut yang dihasilkan dalam kamar kabut bergantung pada partikelpartikel radioaktif yang digunakan.
Kaca
Sumber
radiasi
Uap

Layar gelap
Pengisap

Gambar 8.7. Skema Detektor Kamar Kabut

64

Soal-soal:
1.

Sebuah detektor radiasi membentuk piringan bundar berdiameter 3 cm


diletakkan sejauh 25 cm dari sumber radioaktif. Detektor itu mencatat 1250
cacahan per detik. Dengan asumsi detektor mencatat setiap radiasi yang jatuh
padanya, hitunglah aktivitas cuplikan (dalam curie)

2.

Jelaskan, mengapa pada detektor proporsional terjadi multiplikasi ion tapi


jumlahnya masih proporsional dengan ionisasi primer?

3.

Jelaskan prinsip kerja SCA dan MCA pada detektor sintilasi

4.

Dengan spektroskopi sinar gamma, dapat diketahui jenis unsur dan


kandungannya pada suatu cuplikan. Mengapa dan bagaimana caranya?

5.

Prediksilah bagaimana lintasan sinar alfa dan sinar beta pada detektor kamar
kabut.

Biografi Singkat
WILSON
Charles Thomson Rees Wilson adalah ahli fisika Skotlandia. Barsam Arthur H. Compton,
ahli fisika AS, mendapat Hadiah Nobel untuk fisika karena menemukan kamar Wilson atau
kamar kabut. Kamar Wilson merupakan detektor radiasi untuk mengamati dan menentukan jalur
lintasan partikel-partikel seperti partikel alfa, beta, gamma, proton dan lain-lain. Alat ini dipakai
secara luas untuk mempelajari radioaktivitas, sinar-X, sinar kosmis dan fenomena nuklir yang
lain.
Wilson lahir di Glencorse, Midlothian, Skotlandia pada tanggal 14 Februaru 1869 dan
meninggal di Carlops, peeblesshire pada tanggal 15 November 1959.
Ia mendapat pendidikan di Owens College, Manchester dan Sidney Sussex College di
Cambridge. Kemudia ia menjadi guru besar filsafat alam di Universitas Cambridge.
Aslinya ia adalah ahli meteorologi. Sebagai ahli meteorologi ia sering mempelajari awan.
Ia sering melihat awan berkumpul di dekat puncak pegunungan. Ia sering melihat uap air
mengembun pada debu kemudian membentuk tetes air hujan. Kemudian ia ingin tahu apakah
upa air juga mengembun pada benda-benda kecil seperti partikel atom.
Ia mulai membuat kamar kabut pada tahun 1896 dan menyempurnakannya pada tahun
1912. Jadi pembuatan dan penyempurnaan kamar kabut itu membutuhkan waktu 16 tahun.
Kamar kabut terdiri dari tabung berbentuk silinder. Di dalam silinder ada semacam
pengisa atau piston. Diatas silinder ada bola kaca. Bola kaca ini diisi udara yang jenuh dengan
uap air dan bersih dari debu. Bila pengisap atau piston ditarik ke bawah, maka suhu di dalam
kaca akan turun sehingga ruang di dalam kaca menjadi lewat jenuh uap air. Jika kedalam kamar
(ruang) dimasukkan zat radioaktif maka akan timbul ion yang bersifat seperti debu. Di dalam
kamar terjadilah pengembunan. Bila zat yang masuk ke dalam kamar mampu memancarkan
cahaya, maka embun itu akan menghamburkan cahaya. Lintasan sinarnya tampak seperti garis
kabut. Garis kabut ini dapat di potret.
Kamar kabut ini ternyata sangat penting untuk mempelajari fisika nuklir dan
menyebabkan dikembangkannya kamar gelembung (buble chamber).

65

IX. REAKSI NUKLIR


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Reaksi Nuklir
Jenis-jenis Reaksi Nuklir
Sistem Kerangka Acuan
Energi Reaksi Nuklir

9.1 REAKSI NUKLIR


TUJUAN ISNTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaksi Nuklir, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan definisi reaksi nuklir
Menjelaskan persamaan dalam reaksi nuklir

Dalam peristiwa radioaktivitas, inti meluruh secara spontan dan menghasilkan inti
yang baru. Dengan perkembangan teknologi, unsur baru dapat dibentuk dengan
menciptakan reaksi inti. Berbeda dengan reaksi kimia yang hanya melibatkan elektron luar
(elektron valensi), reaksi inti melibatkan partikel-partikel yang ada di dalam inti. Reaksi
inti ini biasanya dilakukan dengan menembaki inti sebuah isotop dengan partikel lain yang
lebih kecil dan berenergi tinggi, misalnya netron atau proton.
Seperti halnya dalam reaksi kimia, dalam reaksi inti juga dapat dituliskan persamaan
reaksinya.

a + X b +Y
a adalah proyektil, X adalah inti target, b adalah partikel terdeteksi dan Y adalah inti
sisa
Diantara contoh-contoh partikel proyektil ditunjukkan dalam tabel 9.1
Tabel 9.1. Proyektil dan Notasinya
Proyektil

Notasi

Netron

n, 01 n

Proton

p, 11 H

Deuteron

d, 12 H

Triton

t, 13 H

66

Helium-3

h, 23 He

Helium-4

, 24He

(partikel alfa)

Sebagai contoh reaksi netron dengan uranium-235:


87
1
U + 01n146
57 La + 35 Br + 3 0 n + Energi (Q )

235
92

Isotop uranium-235 ditembaki dengan netron menghasilkan isotop La-146 dan Br-87
disertai 3 netron dan energi.
Dalam reaksi inti berlaku hukum kekekalan nomor atom dan nomor massa. Sebelum
reaksi jumlah nomor atom 92 sama dengan jumlah nomor atom setelah reaksi. Jumlah
nomor massa sebelum reaksi 236 sama dengan jumlah nomor massa setelah reaksi.
Selain hukum kekekalan tersebut, juga berlaku hukum kekekalan momentum dan dan
hukum kekekalan massa-energi.

9.2 KLASIFIKASI REAKSI NUKLIR


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Klasifikasi Reaksi Nuklir, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan klasifikasi reaksi nuklir
Menjelaskan hamburan nuklir, baik elastis maupun tak elastis
Menjelaskan reaksi tangkapan dan pelepasan
Menjelaskan reaksi inti campuran dan reaksi fisi

Reaksi nuklir diklasifikasi berdasarkan proyektil, partikel terdeteksi dan inti sisa. Jika
proyektil dan partikel terdeteksinya sama dinamakan reaksi hamburan.
Xe + n Xe + n

Jika inti sisa dalam keadaan tak tereksitasi, maka hamburannya dinamakan hamburan
tak elastis, sedangkan jika inti sisa berada dalam keadaan tereksitasi, maka hamburannya
dinamakan hamburan elastis.
Selanjutnya, jika proyektil penembak inti target memperoleh nukleon dari inti target
dinamakan reaksi tangkapan. Sedangkan jika proyektil melepaskan nukleon ke inti target
dinamakan reaksi pelepasan.
Contoh reaksi pengambilan

67

16
8

O + 12H 158 O + 13H


Ca + 23He 2040 Ca + 24He

41
20

Contoh reaksi pengambilan


90
40

Zr + 12H 4091Zr + 11H

23
11

Na + 23He1224 Mg + 12H

Pada reaksi pengambilan dan pelepasan, biasanya terjadi pada energi-energi yang
cukup tinggi sehingga diasumsikan reaksinya berjalan secara langsung. Pada reaksi
tersebut, diasumsikan bahwa nukleon yang terlibat masuk atau keluar dari orbit model kulit
inti target, tanpa mengganggu nukleon lain di dalam inti target tersebut.
Salah satu reaksi yang berbeda dengan semua jenis reaksi diatas, dikenal dengan inti
campuran. Inti tersebut berada dalam keadaan tereksitasi dalam waktu yang sangat singkat,
yaitu sekitar 10 -16 s, kemudian meluruh. Waktu tersebut sangat singkat dan lain itu, idak
bisa diamati secara langsung, hanya saja waktunya lebih lama dibanding dengan waktu
yang dibutuhkan proyektil untuk menjelajahi jarak nuklir yang ordenya, hanya 1021 s.
Biasanya terdapat beberapa reaksi berbeda yang akan menghasilkan inti campuran
yang sama. Selain itu, juga terdapat hasil yang berbeda-beda setelah peluruhan. Setelah inti
bercampur, ada yang memancarkan sinar gamma atau partikel lain, dan ada juga yang
setelah inti bercampur kemudian mengalami fisi (terpecah menjadi dua inti yang massanya
hampir sama).
Contoh reaksi inti campuran:

199 F + p
19
10 Ne + n
1020 Ne +
18
9F +d
19
9F + p
17 F + t

17
179
8O + h
8O + h
16

*
16
20
8O +
10 Ne 8 O +
14
6
7 N + 3 Li
14 N + 6Li
3
12
8
7

C
+
Be
6
4
13
7

7 N + 3 Li
10
10
12
5 B+ 5 B

8
6 C + 4 Be
116C + 49Be
10 10
5 B+ 5 B
9 B + 11B
5
5

68

9.3 SISTEM KERANGKA ACUAN


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Sistem Kerangka Acuan, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan reaksi nuklir dengan kerangka acuan laboratorium
Menjelaskan dan menganalisis reaksi nuklir dengan kerangka acuan sistem
pusat massa

9.3.1 Sistem Laboratorium


Ada dua sistem kerangka acuan dalam menganalisis reaksi-reaksi nuklir, yaitu sistem
laboratorium dan sistem pusat massa.
Jika inti target dianggap dalam keadaan diam, dinamakan sistem laboratorium.

Mi
Sebelum
tumbukan
v

v
Sesudah
tumbukan

mf

Mf

Vf

Gambar 9.1. Sistem Laboratorium


9.3.2 Sistem Pusat Massa
Jika partikel sebelum tumbukan dan setelah tumbukan masing memiliki total
momentum nol, maka sistem yang digunakan adalah sistem pusat massa. Reaksi inti dalam
suatu eksperimen biasanya dianalisis menggunakan sistem pusat massa.
Dalam sistem pusat massa, besarnya kecepatan inti target V sama dengan kecepatan
pusat massa V cm dan besarnya kecepatan partikel datang v
V = Vcm

v = v Vcm

(9.1)

v adalah besarnya kecepatan partikel datang yang terukur di laboratorium.

69

mi

Sebelum
tumbukan

Mi
v

vf

V
(miv = MiV)

mf
(mfvf = MfVf)

Sesudah
tumbukan

Mf

Vf

Gambar 9.2. Sistem Pusat Massa


Dengan mensyaratkan jumlah momentum inti target dan partikel datang sama dengan
nol di pusat massa, maka:
M iV + mi v = 0
M iVcm + mi (v Vcm ) = 0

(9.2)

( M i + mi )Vcm = mi v
Dengan menggabungkan persamaan 9.1 dan 9.2 didapatkan

V =

mi
v
mi + M i

(9.3)

dan

v=

Mi
v
mi + M i

(9.4)

Setelah reaksi, partikel-partikel akhir harus bergerak ke arah yang berlawanan dengan
momentum di sistem pusat massa yang sama.
Contoh
Ketika diamati dalam sistem laboratorium, proton 6 MeV mengenai target

12

C yang

diam. Carilah kecepatan inti karbon dalam sistem pusat massa. Jika massa proton 1u.
Jawab

70

Dengan pendekatan non relativistik, kecepatan proton di dapatkan dari persamaan


Ki =

1
mi v 2
2

Maka
v=

2K i
2K i
2(6 MeV )
=c
= (3 x10 8 )
= 3,41 x 10 6 m / s
2
mi
(
1
u
)(
931
,
5
MeV
/
u
)
mi c

Selanjutnya, kecepatan inti karbon dalam sistem pusat massa


V =

mi
1u
v=
(3,41 x 10 6 m / s ) = 2,62 x 10 6 m / s
M i + mi
12u + 1u

Dalam arah proton.

9.4 ENERGI REAKSI INTI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Energi Reaksi Inti, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan dan menghitung energi dalam reaksi inti
Menjelaskan reaksi endotermik dan eksotermik
Menjelaskan dan menghitung energi ambang bagi reaksi inti

Untuk menghitung jumlah energi yang dibebaskan atau diperlukan dalam reaksi
digunakan hukum kekekalan energi massa.
Perhatikan reaksi berikut:

a + X b +Y +Q
Pada reaksi ini, inti atom X ditembak dengan partikel a sehingga menghasilkan unsur
Y dan partikel b. Energi yang dibebaskan dalam reaksi ini adalah Q. Pada reaksi ini akan
terjadi perbedaan massa antara atom-atom sebelum reaksi dan sesudah reaksi. Jika massa
sesudah reaksi lebih besar dari massa sebelum reaksi maka diperlukan energi untuk
memperoleh reaksi tersebut. Sebaliknya, jika massa setelah reaksi lebih kecil dibanding
sebelumnya, maka dalam reaksi tersebut dilepaskan energi.
Menurut hukum kekekalan energi akan berlaku:

energi a + energi X = energi b + energi Y + Q

(9.5)

Q = [(ma + m X ) (mY + mb )] x 931,5 MeV / u

(9.6)

atau

71

dengan m adalah massa dalam satuan u dan indeks adalah unsur atau partikel yang
bersangkutan.
Dapat juga ditinjau energi yang dihasilkan berdasarkan energi kinetik dari pereaksi
dan hasil reaksi. Misalkan unsur X dalam keadaan diam K x = 0 ketika ditembak oleh
partikel a yang mempunyai energi kinetik Ka. Hasilnya adalah adalah unsur Y yang
memiliki energi kinetik K Y dan partikel b yang mempunyai energi kinetik K b . Selisih
antara energi kinetik sesudah dan sebelum reaksi sama dengan energi reaksi Q. Dengan
demikian berlaku:
Q = KY + Kb K a

(9.7)

Jika Q > 0, terdapat energi yang dibebaskan (reaksi eksotermik atau eksoergik) dan
jika Q < 0, terdapat energi yang diserap (reaksi endotermik atau endoergik).
Pada reaksi endotermik, ada energi minimum atau energi ambang bagi proyektil a
agar reaksi inti terjadi.
Besarnya energi ambang (K th ) dalam kerangka acuan laboratorium adalah:

K th = Q(1 +

ma
)
mX

(9.8)

Contoh
Hitunglah nilai Q untuk reaksi berikut
2
1

H + 63Cu n + 64Zn

Jika deuteron berenergi 12,00 MeV menembak Cu dalam keadaan diam dan netron yang
teramati memiliki energi kinetik 16,85 MeV. Hitunglah energi kinetik inti Zn tersebut.
Jawab

Q = (2,014102u + 62,929599u 1,008665u 63,929145u ) x931,5 MeV / u


= 5,487 MeV
Selanjutnya untuk energi kinetik Zn

KY = Q + K a Kb
= (5,487 = 12,00 + 16,85) MeV
= 0,64 MeV

72

Soal-soal:
1. Buktikan bahwa energi kinetik ambang dalam kerangka acuan laboratorium adalah

K th = Q(1 +

ma
)
mX

2. Berapakah energi yang akan dilepaskan jika dua inti 12 H akan melebur menjadi
partikel alfa 24 He . Massa 12 H dan 24 He adalah 2,014102u dan 4,002603u.
3. Inti detrium 12 H berenergi 12,00 MeV mendatangi sebuah sasaran
reaksi

63

Cu dengan

H + 63Cu n + 64Zn . Netron yang dihasilkan memiliki energi kinetik 16,85

MeV. Hitunglah energi kinetik inti

64

Zn

4. Hitunglah energi kinetik ambang untuk reaksi

p+t d +d
a. Jika p mendatangi t yang diam
b. Jika t mendatangi p yang diam (diketahui massa atom p = 1,007825u, t =
3,016049, d = 2,014102u)
5. Carilah kecepatan dari

42
21

Sc

dalam reaksi

42
20

Ca + p

42
12

Sc 2040 Ca + d ketika

energi proton dalam laboratorium sebesar 7,2 MeV.

Biografi Singkat
COCKCROFT
Sir John Douglas Cockcroft ahli fisika penemu akselerator partikel, penemu transmutasi
inti dan peraih Hadiah Nobel. Bersama Ernest T.S. Walton pada tahun 1951 ia menerima
Hadiah Nobel untuk fisika, karena mereka adalah orang pertama di dunia yang berhasil
mengubah inti atom dengan menembakkan partikel yang telah dipercepat dengan akselerator
partikel.
Cockcroft lahir di Yorkshire, Inggris, pada 27 Mei 1897 dan meninggal di Cambridge
pada 18 September 1967.
Ia mendapat gelar insinyur listrik dari Manchester College of Technology. Setelah perang
Dunia I selesai, ia kuliah lagi di Universitas Cambridge. Pada umur 31 ia berhasil mendapatkan
gelar doktor. Setelah itu ia memperdalam pengetahuannya di bidang fisika pada Rutherford.
Sudah berabad-abad lamanya para ahli kimia berusaha mengubah sebuah unsur menjadi
unsur lain. Perubahan unsur ini sering dinamakan transmutasi. Pada tahun 1919 Rutherford
berhasil mentransmutasikan nitrogen menjadi oksigen dengan cara menembaki nitrogen dengan
partikel alfa. Partikel alfa ini berasal dari zat radioaktif. Tapi sumber radioaktif ini sulit
diperoleh dan jumlah partikel alfa juga sedikit. Ditambah lagi partikel alfa tidak cukup kuat
untuk menembak inti atom yang lebih berat.
Pada tahun 1932 Cockcroft dan Walton membuat akselerator partikel pertama kali dunia.
Akselerator partikel adalah alat untuk mempercepat dan memperbesar energi elektron atau
proton. Dengan akselerator itu, mereka menembaki atom litium dengan proton. Hasilnya adalah
berilium yang kemudian pecah jadi dua partikel alfa. Mereka menggabungkan litium dan
hidrogen untuk membentuk helium.

73

X. REAKSI FISI
Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Konsep Dasar Reaksi Fisi
Distribusi Energi Fisi
Reaksi Berantai
10.1 REAKSI FISI
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaksi Fisi, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan konsep dasar reaksi fisi
Distribusi massa hasil belah fisi
Raeksi fisi nuklir atau sering disingkat reaksi fisi adalah reaksi pembelahan inti berat
menjadi dua buah inti lain yang lebih ringan. Karena energi ikat pernukleon inti yang lebih
ringan lebih besar dibandingkan dengan energi ikat pernukleon inti yang berat, maka
dalam reaksi ini akan dibebaskan energi. Contoh reaksi fisi:
146
87
1
U + 01n236
92 U 57 La + 35 Br + 3 0 n + Q

235
92

Inti atom isotop uranium-235 ditembak dengan netron lambat. Dalam reaksi awal
terbentuk terlebih dahulu uranium-235 yang tidak stabil dan segera meluruh. Peluruhan
uranium yang tidak stabil ini pecah menjadi dua inti yang lebih ringan. Hasil belah fisi
menjadi dua grup: inti ringan dengan nomer massa 80-100 dan inti berta dengan nomer
massa 125-155. Banyak sekali pasangan yang bisa dihasilkan dalam reaksi ini. Isotop hasil
belah yang probabilitasnya paling besar adalah inti yang memiliki nomor massa 95 dan

Persentase realtif hasil belah fisi

139, yakni 6,4%

13

Nomor Massa
Gambar 10.1. Distribusi Hasil Belah Fisi
74

Pasangan ini dinamakan fragmen fisi primer. Selain fragmen fisi primer, juga
dihasilkan netron cepat setelah reaksi langsung. Rata-rata dalam reaksi nuklir itu akan
dihasilkan 2-3 netron cepat.
Produksi fisi primer (dalam hal ini, misalnya La dan Br) yang juga merupakan inti
tidak stabil yang kelebihan netron dan akan meluruh menjadi produk yang stabil. Inti yang
dihasilkan dalam reaksi ini disebut produk fisi.
Energi yang dihasilkan dalam reaksi inti ini sangat besar. Selisih energi ikat antara
energi ikat sebelum reaksi dan sesudah reaksi sekitar 0,9 MeV pernukleon. Karena nukleon
yang terlibat sebanyak 236, maka akan diperoleh energi sebesar sekitar 200 MeV setiap
kali terjadi reaksi nuklir. Pada umumnya, setiap reaksi yang berbeda memiliki energi yang

Energi ikat per nukleon (MeV)

berbeda pula.

56

Fe

10

238

6
4
2

Fisi
40

80
100
140
Nomor Mass A

200

240

Gambar 10.2. Pembebasan Energi Pada Reaksi Fisi

10.2 DISTRIBUSI ENERGI FISI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Distribusi Energi Fisi, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan dan menghitung energi yang dibebaskan pada reaksi fisi
Menjelaskan distribusi energi pada reaksi fisi
Distribusi energi rata-rata yang dilepaskan tiap fisi uranium-235 ditunjukkan dalam
tabel 10.1 :

75

Tabel 10.1. Distribusi Energi Setelah Fisi Uranium-235


Energi Langsung dari Fisi
Energi kinetik untuk hasil fisi

Energi Tunda dari Fisi

167 MeV Partikel beta dari hasil Fisi

7 MeV

Energi kinetik untuk netron

5 MeV

Sinar gamma dari hasil Fisi

6 MeV

Energi langsung sinar

5 MeV

Neutrino-neutrino

10 MeV

Energi Total Tunda

23 MeV

Gamma
Energi sinar Gamma

10 MeV

dari tangkapan radiatif

__________

Energi total langsung

187 MeV

Semua energi dilepaskan, dengan pengecualian energi nuetrino yang diubah menjadi
panas yang melewati beberapa proses. Hasil belah fisi bermuatan positif dan memiliki
energi kinetik yang tinggi, menyebabkan ionisasi pada atom-atom sekitar. Dalam proses
ionisasi ini, energi kinetik ditransfer ke atom-atom bahan material di sekitarnya dan
menghasilkan kenaikan temperatur. Partikel beta dan sinar gamma juga menaikkan suhu
sekitar melalui proses ionisasi. Sementara netron-netron hasil fisi berinteraksi dengan
atom-atom material di sekitanya dan kehilangan energi lewat hamburan elastik.
Energi 200 MeV dilepaskan tiap fisi. Namun ada kira-kira sekitar tujuh persen (13
MeV) dilepaskan agak tertunda beberapa saat setelah fisi berlangsung. Saat reaktor
dimatikan, fisi-fisi sesungguhnya berhenti, namun beberapa energi masih dilepaskan dari
peluruhan hasil fisi. Panas yang dihasilkan oleh energi peluruhan di namakan panas
peluruhan. Panas peluruhan yang dihasilkan cukup signifikan, sehingga harus dilengkapi
suatu sistem untuk menjaga reaktor tetap dingin saat setelah reaktor dimatikan.

Contoh
Dalam suatu rangkaain proses uranium-235 membentuk uranium 236 yang kemudian
mengalami fisi. Fisi tersebut selanjutnya menghasilkan peluruhan-peluruhan berikutnya.
Jika hasil fisi awal adalah

143
56

Ba dan

90
36

Kr . a. Ilustrasikan proses yang dijalani hingga

menjadi inti stabil akhir dan b. tentukan energi yang dilepas.


Jawab
a. Proses awalnya 01 n + 235
92 U
143
56

90
1
U 143
56 Ba + 36 Kr +3 0 n

236
92

Ba kemudian memulai peluruhan beta

76

143
56

Ba143
57 La + e +
143
58

Ce + e +
143
59

Pr + e +
143
60

143
60

90
36

Nd adalah inti stabil.

90
36

Nd + e +

Kr memulai peluruhan beta

Kr 3790 Rb + e +
90
38

Sr + e +
Y + e +

90
39

90
40
90
40

1
0

Zr + e +

Zr adalah inti stabil.Sehingga reaksi totalnya kemudian menjadi

n + 235
92 U

90
1
U 143
60 Nd + 40 Zr +3 0 n + 8e + 8

236
92

b. Karena massa e dan v terlalu kecil, maka bisa diabaikan


Q = [mU + mn m Nd m Zr 3mn ](931,5 MeV / sma ) = 197,6 MeV

10.3 REAKSI BERANTAI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaksi Berantai, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan konsep reaksi fisi berantai tak terkendali
Menjelaskan konsep reaksi fisi berantai terkendali

Dalam reaksi yang sebenarnya tidak hanya ada satu uranium saja. Terdapat banyak
sekali uranium pada suatu bahan. Jika netron cepat tidak dikendalikan, netron hasil
pembelahan fisi sebelumnya akan menumbuk uranium berikutnya sehingga menghasilkan
reaksi fisi serupa. Dalam reaksi ini dihasilkan netron yang semakin banyak sehingga reaksi
akan terus berantai. Reaksi demikian dinamakan reaksi berantai. Energi yang dihasilkan
sangat besar.

77

N
N
N

: N etron

N
N

N
N
N
N
N

Inti U-235
N

N
N

Gambar 10.3. Reaksi Berantai Tak Terkontrol


Dalam bom nuklir, netron cepat

ini sengaja tidak dikendalikan sehingga

menghasilkan ledakan yang sangat dasyat. Namun, pada reaktor nuklir (PLTN), netron
cepat dikendalikan, sehingga tidak terlalu banyak netron yang terlibat dalam reaksi inti.

Batang K endali
N

Netron Terserap

N
N

N
Netron Terserap

Fis

Batang Kendali

Gambar 10.4. Reaksi Berantai Trkontrol

78

Soal-soal:
1. Berapakah energi kinetik netron termal 300 K.
2. Hitunglah energi yang dibebaskan dalam reaksi fisi

U + n 93 Rb+ 141Cs + 2n . Massa

235

Rb dan Cs adalah 92,92172u dan 140,91949u.


3. Jelaskan mengapa dengan netron berenergi rendah sekali
sementara untuk fisi
4. anggaplah

235

U sudah dapat terfisikan,

238

U dibutuhkan netron cepat dengan energi 1 hingga 2 MeV

235

U terbelah menjadi dua pecahan dengan nomor massa 90 dan 145,

dengan tiap pecahan memiliki nisbah Z/A yang kurang lebih sama seperti uranium.
Berdasarkan data ini, mengapa netron dipancarkan dalam reaksi ini.
5. Sekitar 185 MeV energi dilepas dari reaksi fisi

235

U . Jika

235

U di dalam reaktor

membangkitkan daya secara kontinyu sebesar 100 MW, berapa lamakah waktu yang
dibutuhkan bagi 1 kg uranium agar terpakai habis seluruhnya.

Biografi Singkat
HAHN (PEMBELAHAN INTI)
Otto Hahn adalah ahli fisika-kimia penemu pembelahan inti (fisi nuklir, 1938),
penemu radioactinium (1905), mesothorium (1907), protactinium (1917) dan presiden
Wilhelm Society (1948-1960). Bersama Fritz Strassmann ia mendapat Hadiah Nobel untuk
kimia pada tahun 1944.
Hahn lahir di Frankfurt, Jerman pada 8 Maret 1879 dan meninggal di Gottingen,
Jerman pada 28 Juli 1968 pada umur 89 tahun.
Ia berhasil mendapat gelar doktor pada tahun 1901 pada usia 22 tahun.
Tiga tahun kemudian ia pergi ke Inggris karena ingin belajar bahasa Inggris. Ia
melamar pekerjaan dan diterima di Universitas College. Disini ia bertemu dengan Sir William
Ramsay, ahli kimia penemu helium, neon, argon, kripton, xenon, dan radon. Hahn diberi tugas
memurnikan penyiapan radium kasar. Ternyata Hahn seorang ahli eksperimen yang
mengagumkan. Satu tahun kemudian ia menemukan zat radioaktif yang ia beri nama
radiothorium (1905).
Pada tahun 1930-an Enrico Fermi, menembaki uranium (unsur alam yang paling
berat) dengan neutron. Penembakan ini menghasilkan zat-zat radioaktif. Tapi Fermi sendiri
tidak tahu apa nama unsur itu. Ia mengira unsur itu adalah unsur buatan yang mirip dengan
uranium. Sejak tahun 1934 Hahn sangat tertarik dengan penelitian Fermi. Ia mengulang
percobaan Fermi dengan pembantunya, Miss Meitner dan Strassmann. Mereka mengadakan
penelitian selama 4 tahun. Mereka menembaki uranium dengan neutron dan menghasilkan
barium, yaitu sebuah unsur yang mempunyai massa atom setengah dari uranium. Nomor atom
barium 56, sedang nomor atom uranium 92. Penemuan ini diumumkan di majalah Die
Naturwissen-schaften pada tanggal 6 januari 1939. Tapi Hahn dan Strassmann tidak berani
mengatakan bahwa itu pembelahan inti, karena takut diejek dan ditertawakan para ahli fisika
dan kimia sezamannya. Pada saat itu, pembelahan inti dianggap sesuatu yang mustahil.
Pada tahun 1938 ketika pembelahan inti ditemukan, Lise Metner pindah ke Swedia.
Di Swedia ia membaca laporan Hahn. Bersama Otto Frisch, kemenakannya, ia menjelaskan
dengan tegas, bahwa penemuan Hahn adalah fisi nuklir. Meitner dan Otto menyarankan agar
istilah fisi nuklir dipakai. Semenjak saat itu, pembelahan inti dinamakan fisi nuklir.

79

ENRICO FERMI
Enrico Fermi adalah ahli fisika nuklir, pengarang (200 artikel ilmiah) dan pemenang
Hadian Nobel. Ia menemukan statistik Fermi-Dirac, unsur baru yang radioaktif, reaksi berantai,
reaktor nuklir (1942) dan ikut membuat bom atom. Ia mendapat Hadiah Nobel untuk fisika
(1938) karena penyelidikannya tentang penyerapan neutron.
Fermi lahir di Roma, Italia, pada tanggal 29 September 1901. ayahnya bernama Alberto
Fermi, karyawan kereta api. Ibunya bernama Ida de Gattis. Fermi anak bungsu, kakaknya dua
orang. Salah seorang bernama Giulio. Dengan Giulio ini Fermi mempunyai kegemaran sama,
ialah membuat mobil-mobilan dan pesawat terbang mainan yang benar-benar dapat terbang.
Fermi sangat cerdas, tapi pendiam, pemalu dan suka menyendiri.
Pada umur 17 tahun ia masuk Universitas di Pisa dan pada umur 21 tahun berhasil meraih
gelar doktor fisika. Pada umur 26 tahun ia diangkat menjadi profesor penuh di Universitas
Roma. Dua tahun kemudian pada umur 28 tahun, ia kawin dengan Laura o Capon, mahasiswi
jurusan teknik. Keluarga itu kemudian dikaruniai dua orang anak, Nella dan Giulio. Fermi
memang orang yang mempunyai kecerdasan luar biasa. Kecuali itu, ia adalah orang yang serba
teratur dan serba tepat.
Pada tahun 1938 sesudah menerima Hadiah Nobel, Fermi sekeluarga terbang dari Swedia
menuju Amerika Serikat. Di Amerika ia menjadi guru besar di Universitas Chicago. Di sini ia
diberi tugas memimpin satu tim ilmuan untuk menyelidiki tenaga atom. Pada tahun 1942 Fermi
beserta teman sekerjanya berhasil membuat reaktor atom, kemudian bom atom. Fermi
meninggal di Chicago pada tahun 1954 karena sakit kanker.

WIGNER
Eugene Paul Wigenr adalah ahli fisika penemu teori penyerapan neutron, penemu hukum
konservasi paritas dan pemenang Hadila Nobel.
Ia lahir di Budapest, Hongaria pada 17 November 1902. Ia mendapat gelar insinyur kimia
dari Sekolah Tinggi Teknologi di Berlin dan mengajar di sana dan di Gottingen sampai tahun
1930. Kemudian ia pindah ke Universitas Princeton, AS. Pada tahun 1936 ia mengemukakan
teori penyerapan nettron yang sangat berguna untuk membangun reaktor nuklir. Ia juga
merumuskan hukum konservasi paritas, suatu fungsi matematika yang melukiskan partikel
subatom dan posisi ruang dan waktunya.
Sejak kedatangannya di AS ia mengajar fisika matematika di Universitas Princeton
selama 7 tahun. Kemudian ia menjadi guru besar di Universitas Wisconsin selama satu tahun,
lalu kembali ke Princeton.
Pada tahun 1939 pecah perang dunia II, Wigner, Fermi dan Szilard membuat surat kepada
presiden AS, Franklin D. Roosevelt. Surat ini ditanda-tangani Einstein bertangal 11 Oktober
1939. Prediden Roosevelt segera bertindak dan pada tahun 1942 Proyek Manhattan berdiri.
Proyek ini bertugas untuk membuat bom atom. Selama perang dunia II, Wigner bekerja di
Laboratorium Metalurgi, Universitas Chicago. Di sini Wigner membantu Enrico Fermi.
Sesudah Perang Dunia II Wigner menjadi direktur riset di Laboratorium Clinton di Oak
Ridge, Tennessee. Di sini ia memproduksi isotop radioaktif. Pada tahun 1947 ia kembali ke
Princeton. Dua tahun kemudian (1949) bersama Jensen, Wigner mengemukakan model kulit
inti.
Pada tahun 1963 Wigner bersama Jensen dan Mayer mendapat Hadiah Nobel untuk fisika
karena telah memberikan banyak sumbangan kepada fisika nuklir. Wigner juga mengadakan
riset di bidang mekanika kuantum, teori reaksi kimia dan struktur inti atom.

80

XI. REAKSI FUSI


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Konsep Dasar Reaksi Fusi
Reaksi Fusi Matahari
Reaktor Fusi Terkontrol

11.1 REAKSI FUSI


TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaksi Fusi, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan konsep dasar reaksi fusi
Menjelaskan dan menghitung energi yang dihitung pada reaksi fusi

Dua inti ringan atau lebih dapat bergabung membentuk sebuah inti yang lebih berat.
Reaksi penggabungan dua inti ringan atau lebih menjadi inti yang lebih berat disebut
penggabungan inti atau fusi.
2
1

H + 12H 24 H e

Q = 23,8 MeV

Dalam reaksi fusi ini, massa inti baru lebih kecil dari jumlah massa inti-inti

Energi ikat per nukleon (MeV)

pembentuknya. Selisih massa ini muncul sebagai energi.

56

Fe

10
8
6
4
2

Fusi
40

80
100
140
Nomor Mass A

200

240

Gambar 11.1 Pelepasan Energi Reaksi Fusi


Untuk melakukan penggabungan dua inti atom atau lebih, dperlukan energi yang
sangat besar. Kedua inti yang akan digabungkan harus dipercepat dengan kecepatan yang
sangat tinggi agar bisa mengatasi gaya tolak Coulomb antara dua muatan positif dari
81

proton-proton inti. Tanpa kecepatan yang sangat tinggi (yang diperoleh dari suhu yang
sangat tinggi) kedua inti tidak akan dapat bergabung. Oleh karena itu, reaksi fusu
memerlukan suhu yang sangat tinggi dalam orde ratusan juta kelvin sehingga reaksi fusi
juga sering disebut reaksi termonuklir.
Reaksi fusi biasanya terjadi pada bintang-bintang. Reaksi fusi inilah yang membuat
matahari bersinar. Sejumlah ilman juga meyakini bahwa reaksi fusi adalah harapan masa
depan guna menghasilkan energi listrik dalam jumlah yang sangat besar.

11.2 REAKSI FUSI MATAHARI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaksi Fusi Matahari, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan daur proton-proton para reaksi fusi di matahari
Menjelaskan daur karbon-karbon pada reaksi fusi di matahari

11.2.1 Daur Proton


Reaksi fusi di matahari dapat terjadi melalui beberapa cara. Yaitu daur proton-proton
dan daur karbon-karbon.
Dalam daur proton, terdapat empat proton membentuk satu Helium. Karena matahari
tersususn dari hidrogen biasa, maka dua hidrogen bergabung menjadi satu dutrium, yaitu
dengan reaksi
1
1

H 0 + 11H 0 12 H 0 + e + +

Proses ini melibatkan sebuah proton menjadi sebuah neutron, analog dengan proses
peluruhan beta.
Setelah diperoleh deuterium, reaksi berikutnya
2
1

H 0 + 11H 0 23 He1 +

Yang disusuli reaksi


3
2

He1 + 23He1 24 He2 + 211H 0

Sehingga proses keseluruhannya dapat dituliskan, dalam reaksi berikut ini


411H 0 24 He2 + 2e + + 2 + 2

82

Energi yang dibebaskan dalam reaksi ini (Q), harus ditambahkan empat elektron
pada ruas kiri untuk mendapatkan empat hidrogen netral. Dan menambahkan empat
elektron pada ruas kanan, 2 untuk menteralkan He dan 2 lainnya akan bergabung denganp

H
p

H
p

e
4

e v

p
2

H
p

Gambar 11.2 Daur Proton Reaksi Fusi di Matahari

positron menjadi sinar gamma. Satu-satunya massa yang tertinggal adalah empat atom
hidrogen dan satu atom helium. Sehingga Q yang dibebaskan sebesar
Q = (mi m f ) x 931,5 MeV / u
= (4 x1,007825u 4,002603u ) x 931,5 MeV / u
= 26,7 MeV
Jadi, tiap reaksi membebaskan energi sekitar 26,7 MeV.

Setiap 1 siklus menghasilkan 26,7 MeV


Daya matahari yg sampai bumi 1,4x103 W/m2
Jarak bumi-matahari 1,5x1011 m
Energi matahari untuk seluruh permukaan bola 4r2 = 28x1022 m2 adalah 4x1026 W
atau 2x109 MeV/s
Harus ada 1038 reaksi perdetik, mengkonsumsi 4x1038 proton perdetik
Massa matahari 2x1030kg, atau ada sekitar 1057 proton
Masih cukup untuk pembakaran milyaran tahun lagi

83

11.2.2 Daur Karbon


Meskipun daur proton sangat mungkin, tapi mungkin bukan sumber utama energi
matahari, karena dalam penggabungan dua proton menjadi deutrium berlangsung sangat
lama sebagaimana peluruhan beta. Sehingga daur itu kecil peluangnya. Untuk reaksi yang
berpeluang besar adalah daur karbon.

12

13

13

13

e+ v

15

e+
12

15

He

Gambar 11.3 Daur Karbon


Dari gambar 11.3 terlihat bahwa

12

C hanya berperan sebagai katalisator, tidak ada

karbon yang dihasilkan atau digunakan dalam reaksi ini. Kehadiran karbon disini
memungkinkan deretan reaksi berlangsung pada laju yang lebih besar daripada daur proton.
Reaksi total daur karbon tersebut
411H 0 24He2

Sehingga nilai energi yang dibebaskan (Q) juga sama.


Hanya saja, tolakan Coulomb antara inti H dengan inti karbon lebih besar dibanding
dengan tolakan Coulomb diantara 2 inti H, maka energi termal yang dibutuhkan otomatis
lebih tinggi. Daur karbon menjadi sangat penting pada suhu sekitar 20 x 106 K.

84

11.3 REAKSI FUSI TERKENDALI


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaksi Fusi Terkendali, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan konsep reaktor fusi di bumi
Menjelaskan kemungkinan reaktor fusi buatan dan masalah yang dihadapi

Para ilmuan sedang serius meneliti kemungkinan pembuatan reaktor fusi di bumi.
Bahan bakar reaktor fusi ini adalah deutrium. Deuterium merupakan isotop hidrogen yang
sangat melimpah dalam air laut.

Dalam air laut mengandung sekitar 0,015 % D 2 O.

Sehingga jika dihitung dalam satu liter air laut akan menghasilkan energi setara 300 liter
bensin.
Ada beberapa reaksi yang mungkin digunakan
2

H + 2 H 3 H +1H

Q = 4,0 MeV

H + 2 H 3 He + n

Q = 3,3 MeV

H + 3 H 4 He + n

Q = 17,6 MeV

Reaksi ketiga yang dikenal sebagai reaksi D-T (deuterium-tritium) membebaskan


energi yang lebih besar dan mungkin merupakan calon terbaik bagi suatu reaktor fusi.
Persoalan teknologi paling sulit yang dihadapai
1. memperoleh suhu yang sangat tinggi dalam orde 108 K untuk mengatasi tolakan
Coulomb
2. Mempertahankan rapat massa yang sangat tinggi sehingga probabilitas tumbukan
dua inti menjadi sangat tinggi.
Dewasa ini, ada dua metode bagi kedua persoalan ini yang masih teliti secara intensif,
yaitu pengungkungan magnet (magnetic confinement) dan pengungukungan lembam
(inertial confinement).

Contoh
Untuk menghasilkan daya 1 MW dari reaksi D-T, berapakah kg D dan T yang dibutuhkan?
Diketahui
Jawab

1 MeV setara dengan 1,6 10-13 J

85

Satu reaksi fusi menghasilkan energi 17,6 MeV atau 17,6 x 1,6 x 10-13 J = 28,16 x 10-13
J

1 MW = 106 J/s
Sehingga untuk menghasilkan 1 MW dibutuhkan reaksi setiap detiknya sebanyak R =
106/ (28,16 x 10-13)= 3,55 x 1017 reaksi.

Dalam reaksi atom deuterium dan tritium habis digunakan.


Nomor massa (A) untuk deutrium 2 atau 2 kg/kmol (1 kmol = 6,023 x 1026 atom)

atom
dm
1kmol
2 kg
= (3,55 x1017
) = 1,18 x10 9 kg / s
) x(
) x(
26
s
dt
6,023 x10 atom
1kmol

Nomor massa (A) untuk tritium 3 atau 3 kg/kmol


atom
dm
1kmol
3 kg
= (3,55 x1017
) = 1,77 x10 9 kg / s
) x(
) x(
26
s
dt
6,023 x10 atom
1kmol

Soal-soal:
1. Hingga suhu berapakah gas helium harus dipanaskan agar penghalang Coulomb
dapat dilampaui dan terjadi reaksi fusi.
2. Hitunglah reaksi fusi D-T membebaskan enerdi 17,6 MeV
3. Jika 100 cm3 air mengandung 0,015 persen D 2 O, hitunglah energi yang diperoleh
dalam reaksi-reaksi D-D.
4. Hitunglah energi yang dibebaskan apabila tiga partikel alfa bergabung membentuk
12

C.

5. Dalam reaksi fusi daur karbon, hitunglah energi ketiga sinar gamma.

86

XII. REAKTOR NUKLIR


Sub-pokok Bahasan Meliputi:
Reaktor Nuklir
Komponen Reaktor Nuklir
PLTN dan Sistem Keselamatan
Pengolahan Limbah Radioaktif

12.1 REAKTOR NUKLIR


TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Reaktor Nuklir, mahasiswa diharapkan
dapat:
Menjelaskan definisi reaktor nuklir
Menjelaskan jenis-jenis reaktor nuklir

Disamping sebagai senjata nuklir, manusia juga memanfaatkan energi nuklir untuk
kesejahteraan umat manusia. Salah satu pemanfaatan energi nuklir secara besar-besaran
adalah dalam bentuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Energi nuklir di sini
digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik.
Reaktor nuklir adalah tempat terjadinya reaksi inti berantai terkendali, baik
pembelahan inti (fisi) atau penggabungan inti (fusi). Fungsi reaktor fisi dibedakan menjadi
dua, yaitu reaktor penelitian dan reaktor daya.
Pada reaktor penelitian, yang diutamakan adalah pemanfaatan netron hasil
pembelahan untuk berbagai penelitian dan iradiasi serta produksi radioisotop. Panas yang
ditimbulkan dirancang sekecil mungkin

sehingga panas tersebut dapat dibuang ke

lingkungan. Pengambilan panas pada reaktor penelitian dilakukan dengan sistem


pendingin,yang terdiri dari sistem pendingin primer dan sistem pendingin sekunder. Panas
yang berasal dari teras reaktor diangkut oleh air di sekitar teras reaktor (sistem pendingin
primer) dan dipompa oleh pompa primer menuju alat penukar panas. Selanjutnya panas
dibuang ke lingkungan

melalui menara pendingin (alat penukar panas pada sistem

pendingin sekunder). Perlu diketahui bahwa antara alat penukar panas, sistem pendingin
primer atau sekunder tidak terjadi kontak langsung.
Sementara, pada reaktor daya, panas yang timbul dari pembelahan dimanfaatkan
untuk menghasilkan uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi untuk memutar turbin.

87

12.2 KOMPONEN REAKTOR NUKLIR


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Komponen Reaktor Nuklir, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menyebutkan komponen utama reaktor nuklir
Menjelaskan kegunaan dan fungsi komponen-komponen reaktor nuklir

Reaktor nuklir pertama kali dibangun oleh Enrico Fermi pada tahun 1942 di
Universitas Chicago. Hingga sat ini telah ada berbagai jenis dan ukuran rekator nuklir,
tetapi semua reaktor atom tersebut memiliki lima komponen dasar yang sama, yaitu:
elemen bahan bakar, moderator netron, batang kendali, pendingin dan perisai beton.

6
4

3
2
8
7

Gambar 12.1 Skema Dasar Reaktor Nuklir


12.2.1 Elemen Bahan Bakar
Elemen bahan bakar ini berbentuk batang-batang tipis dengan diameter kira-kira 1
cm. Dalam suatu reaktor daya besar, ada ribuan elemen bahan bakar yang diletakkan saling
berdekatan. Seluruh elemen bahan bakar dan daerah sekitarnya dinamakan teras reaktor.
Umumnya, bahan bakar reaktor adalah uranium-235. oleh karena isotop ini hanya
kira-kira 0,7% terdapat dalam uranium alam, maka diperlukan proses khusus untuk
memperkaya (menaikkan prosentase) isotop ini. Kebanyakan reaktor atom komersial
menggunakan uranium-235 yang telah diperkaya sekitar 3%.

88

12.2.2 Moderator Netron


Netron yang mudah membelah inti adalah netron lambat yang memiliki energi sekitar
0,04 eV (atau leih kecil), sedangkan netron-netron yang dilepaskan selama proses
pembelahan inti (fisi) memiliki energi sekitar 2 MeV. Oleh karena itu , sebuah raktor atom
harus memiliki materaial yang dapat mengurangi kelajuan netron-netron yang energinya
sangat besar sehingga netron-netron ini dapat dengan mudah membelah inti. Material yang
memperlambat kelajuan netron dinamakan moderator.
Moderator yang umum digunakan adalah air. Ketika netron berenergi tinggi keluar
keluar dari sebuah elemen bahan bakar, netron tersebut memasuki air di sekitarnya dan
bertumbukan dengan molekul-molekul air. Netron cepat akan kehilangan sebagian
enrginya selama menumbuk molekula air (moderator) terutama dengan atom-atom
hidrogen. Sebagai hasilnya netron tersebut diperlambat.
12.2.3 Batang Kendali
Jika keluaran daya dari sebuah reaktor dikehendaki konstan, maka jumlah netron
yang dihasilkan harus dikendalikan. Sebagaimana diketahui, setiap terjadi proses fisi ada
sekitar 2 sampai 3 netron baru terbentuk yang selanjutnya menyebakan proses berantai.
Jika netron yang dihasilkan selalu konstan dari waktu ke waktu (faktor
multiplikasinya berniali 1), maka reaktor dikatakan berada pada kondisi kritis. Sebuah
reaktor normal bekerja pada kondisi kritis. Pada kondisi ini reaktor menghasilkan keluaran
energi yang stabil.
Jika netron yang dihasilkan semakin berkurang (multiplikasinya kurang dari 1), maka
reaktor dikatakan berada pada kondisi subkritis dan daya yang dihasilkan semakin
menurun. Sebaliknya jika setiap saat netron yang dihasilkan meningkat (multiplikasinya
lebih besar dari 1), reaktor dikatakan dalam keadaan superkritis. Selama kondisi superkritis,
energi yang dibebaskan oleh sebuah reaktor meningkat. Jika kondisi ini tidak dikendalikan,
meningkatnya energi dapat mengakibatkan mencairkan sebagain atau seluruh teras reaktor,
dan pelepasan bahan radioaktif ke lingkungan sekitar.
Jelas bahwa sebuah mekanisme kendali sangat diperlukan untuk menjaga reaktor
pada keadaan normal atau kondisi kritis. Kendali ini dilakukan oleh sejumlah batang
kendali yang dapat bergerak keluar-masuk teras reaktor. Lihat gambar 12.1.
Batang kendalli terbuat dari bahan-bahan penyerap netron, seperti boron dan
kadmium. Jika reaktor menjadi superkritis, batang kendali secara otomatis bergerak masuk
lebih dalam ke dalam teras reaktor untuk menyerap kelebihan netron yang menyebabkan

89

kondisi itu kembali ke kondisi kritis. Sebaliknya, jika reaktor menjadi subkritis, batang
kendali sebagian ditarik menjauhi teras reaktor sehingga lebih sedikit netron yang diserap.
Dengan demikian, lebih banyak netron tersedia untuk reaksi fisi dan reaktor kembali ke
kondisi kritis. Untuk menghentikan operasi reaktor (misal untuk perawatan), batang
kendali turun penuh sehingga seluruh netron diserap dan reaksi fisi berhenti.
12.2.4 Pendingin
Energi yang dihasilkan oleh reaksi fisi meningkatkan suhu reaktor. Suhu ini
dipindahkan dari reaktor dengan menggunakan bahan pendingin, misalnya air atau karbon
dioksida. Bahan pendingin (air) disirkulasikan melalui sistem pompa, sehingga air yang
keluar dari bagian atas teras reaktor digantikan air dingin yang masuk melalui bagin bawah
teras reaktor.
12.2.5 Perisai Beton
Inti-inti atom hasil pembelahan dapat menghasilkan radiasi. Untuk menahan radiasi
ini (radiasi sinar gamma, netron dan yang lain), agar keamanan orang yang bekerja di
sekitar reaktor terjamin, maka umumnya reaktor dikungkungi oleh perisai beton.

12.3 PEMBAKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR

TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:


Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan PLTN, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan cara kerja PLTN tipe PWR
Menjelaskan sistem keselamatan pada PLTN yang dirancang berlapis dan
cukup handal

12.3.1 PLTN
Berdasarkan jenis pendinginnya, ada beberapa jenis reaktor. Dalam pembahasan ini
akan dibahas pembakit listrik tenaga nuklir yang menggunakan reaktor air bertekanan
(Pressurized Water Reactor = PWR).
Dalam PWR, kalor yang dihasilkan dalam batang-batang bahan bakar diangkut
keluar dari teras reaktor oleh air yang terdapat di sekitarnya (sistem pendingin primer). Air
ini secara terus-menerus dipompakan oleh pompa primer ke dalam reaktor melalui saluran
pendingin reaktor (sistem pendingin primer).

90

Gambar 12.2. Digram PLTN Jenis PWR


Untuk mengangkut kalor sebesar mungkin, suhu air dikondisikan mencapai 3000C.
Untuk menjaga air tidak mendidih (yang dapat terjadi pada suhu 1000C pada tekanan 1
atm), air diberi tekanan 160 atm. Air panas diangkut melalui suatu alat penukar panas (heat
exchanger), dan kalor dari air panas dipindahkan ke air yang mengalir di sekitar alat
penukar panas (sistem pendingin sekunder). Kalor yang dipindahkan ke sistem pendingin
sekunder memproduksi uap yang memutar turbin. Turbin dikopel dengan suatu generator
listrik, tempat daya keluaran listrik menuju konsumen melalui kawat transmisi tegangan
tinggi. Setelah keluar dari turbin, uap didinginkan kembali menjadi air oleh pengembun
(condenser) dan kemudian dikembalikan lagi ke alat penukar panas oleh pompa sekuder.

12.3.2 Sistem Keselamatan


Sistem keselamatan operasi reaktor terutama ditujukan untuk menghindari bocornya
radiasi dari dalam teras reaktor. Berbagai usaha pengamanan dilakukan untuk melindungi
pekerja dan anggota masyarakat dari bahaya radiasi ini. Sistem keselamatan reaktor
dirancang mampu menjamin agar unsur-unsur radioaktif di dalam teras reaktor tidak
terlepas ke lingkungan, baik dalam operasi normal atau waktu ada kejadian yang tidak
diinginkan. Kecelakaan terparah yang diasumsikan dapat terjadi pada suatu reaktor nuklir
adalah hilangnya sistem pendingin teras reaktor. Peristiwa ini dapat mengakibatkan
pelelehan bahan bakar sehingga unsur-unsur hasil fisi dapat terlepas dari kelongsong bahan
bakar. Hal ini dapat mengakibatkan unsur-unsur hasil fisi tersebar ke dalam ruangan
penyungkup reaktor.

91

Bahan bakar (Pelet)


Kelongsong
Tangki reaktor
Perisai beton
Sistem penahan baja
bertekanan
Sistem pengungkung/kubah

beton
Gambar 12.3. Sistem Penghalang Ganda (Multiple Barrier)
Agar unsur-unsur hasil fisi tetap dalam keadaan terkungkung, maka reaktor nuklir
memiliki sistem keamanan yang ketat dan berlapis-lapis. Karena digunakan sistem berlapis,
maka sistem pengamanan ini dinamakan penghalang ganda. Adapaun jenis penghalang
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penghalang pertama adalah matrik bahan bakar nuklir. Lebih dari 99& unsur hasil
fisi akan tetap terikat secara kuat dalam matriks bahan bakar ini.
2. Penghalang kedua adalah kelongsong bahan bakar. Apabila ada unsur hasil fisi
yang terlepas dari matriks bahan bakar, maka unsur tersebut akan tetap
terkungkung di dalam kelongsong yang dirancang tahan bocor.
3. Penghalang ketiga adalah sistem pendingin. Seandainya masih ada unsur hasil fisi
yang terlepas dari kelongsong, maka unsur tersebut akan terlarut dalam air
pendingin primer sehingga tetap terkungkung dalam tangki reaktor.
4. penghalang keempat adalah perisai beton. Tangki reaktor disangga oleh bangunan
berbentuk kolam dari beton yang dapat berperan sebagai penampung air pendingin
apabila terjadi kebocoran.
5. Penghalang kelima dan keenam adalah sistem pengungkung reaktor secara
keseluruhan yang terbuat dari pelat baja dan beton setebal dua meter serta kedap
udara.

92

12.4 PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF


TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS:
Setelah mempelajari Sub-pokok Bahasan Pengelolaan Limbah Radioaktif, mahasiswa
diharapkan dapat:
Menjelaskan sifat-sifat limbah radioaktif hasil PLTN
Menjelaskan pengolahan limbah radioaktif
Mejelaskan penyimpanan limbah radioaktif yang sudah diolah

12.4.1 Limbah Radioaktif


Limbah radioaktif merupakan hasil samping dari kegiatan pemanfaatan teknologi
nuklir. Dalam limbah radioaktif ini terdapat unsur-unsur radioaktif yang masih
memancarkan radiasi. Limbah radioaktif tidak boleh dibuang ke lingkungan karena radiasi
yang dipancarkan berpotensi memberikan efek merugikan terhadap kesehatan manusia.
Program pengelolaan limbah radioaktif ditujukan untuk menjamin agar tidak seorang
pun akan menerima paparan radiasi melebihi nilai batas yang dizinkan. Terdapat hal-hal
unik yang menguntungkan dalam rangka pengelolaan limbah radioaktif:
1. Sifat fisika dari zat radioaktif yang selalu meluruh menjadi zat stabil (tidak
radioaktif lagi). Karena terjadi peluruhan, maka jumlah zat radioaktif akan selalu
berkurang oleh waktu. Sifat ini sangat menguntungkan karena cukup hanya dengan
meyimpan secara aman, zat radioaktif sudah berkurang dengan sendirinya.
2. Sebagian besar zat radioaktif yang terbentuk dalam teras reaktor nuklir umumnya
memiliki waktu paro yang sangat pendek, mulai orde beberapa detik hingga
beberapa hari. Hal ini menyebabkan peluruhan zat radioaktif yang sangat cepat
yang berarti terjadi pengurangan volume limbah yang sangat besar dalam waktu
relatif singkat.
3. Saat ini telah berhasil dikembangkan berbagai jenis alat ukur yang sangat peka
terhadap radiasi. Dengan alat ukur ini keberadaan zat radioaktif skecil apa pun
selalu dapat dipantau.

14.4.2 Pengolahan Limbah Radioaktif


Secara keseluruhan, pengelolaan limbah radioaktif yang lazim dilakukan meliputi
tiga pendekatan pokok bergantung besar kecilnya volume limbah, tinggi rendahnya
aktivitas zat radioaktif serta sifat-sifat fisika dan kimia limbah tersebut. Tiga pendekatan
pokok itu meliputi

93

1. Limbah radioaktif dipekatkan dan dipadatkan yang pelaksanaannya dilakukan di


dalam wadah khusus untuk selanjutnya disimpan dalam waktu yang cukup lama.
Cara ini efektif untuk pengelolaan limbah radioaktif cair yang mengandung zat
radioaktif beraktivitas sedang dan atau tinggi.
2. Limbah radioaktif disimpan dan dibiarkan meluruh dalam tempat penyimpanan
khusus sampai aktivitasnya sama dengan aktivitas zat ardioaktif lingkungan. Cara
ini efektif jika dipakai untuk pengelolan limbah radioaktif cair atau padat yang
beraktivitas rendah dan berwaktu paroh pendek.
3. Limbah radioaktif diencerkan dan didispersikan ke lingkungan. Cara ini efektif
untuk pengelolaan limbah radioaktif cair atau gas beraktivitas rendah.
Dengan ketiga pendekatan itu diharapkan bahwa aktivitas limbah radioaktif yang
lepas ke lingkungan sama dengan aktivitas zat radioaktif yang secara alamiah sudah ada
pada lingkungan. Dengan cara itu faktor keselamatan manusia dan lingkungan tetap
merupakan prioritas utama dalam pemanfaatn teknologi nuklir.

14.4.3 Penyimpanan Lestari


Baik bahan bakar bekas yang tidak mengalami proses ulang maupun bahan-bahan
radioaktif sisa hasil proses olah ulang akan tetap diperlakukan sebagai limbah radioaktif.
Oleh karena itu, semua bentuk limbah radioaktif harus disimpan secara lestari.
Penyimpanan lestari limbah radioaktif secara aman merupakan tujuan akhir dari
pengelolaan limbah radioaktif.
Untuk mempermudah dalam proses penyimpanan lestari limbah radioaktif, maka
semua bentuk limbah diubah ke dalam bentuk padat. Limbah radioaktif cair yang terbentuk
diolah dengan proses evaporasi. Sistem ini mampu mengolah limbah radioaktif cair
menjadi konsentrat radioaktif dan destilat yang tidak radioaktif. Alat ini mampu mereduksi
volume limbah cair dengan faktor reduksi 50. Artinya, jika ada 50 m3 limbah cair yang
diolah, maka akan dihasilkan 1 m3 konsentrat radioaktif, sisanya menjadi air destilat yang
sudah tidak radioaktif.
Gas-gas yang terbentuk juga terkungkung dalam pengungkung reaktor. Gas ini
kemudian disaring melalui sistem ventilasi dengan filter yang berlapis-lapis. Setelah
dipakai untuk pengikatan radioaktif, filter tersebut selanjutnya diperlakukan sebagai
limbah padat

94

UDARA

GAS

FILTER

CAIR

EVAPORASI

PADAT

S
E
M
E
N
T
A
S
I

DIBAKAR
DITEKAN
DIISOLASI

Gambar 10.4. Skema Pengelolaan Limbah Radioaktif

Pemadatan limbah radioaktif dimaksudkan agar limbah tersebut terikat dengan kuat
dalam suatu matriks padat sangat kuat. Matriks dirancang mampu bertahan hingga zat
radioaktif yang diikatnya meluruh mencapai kondisi radioaktifnya setara dengan radioaktif
lingkungan. Dengan pemadatan seperti ini maka zat radioaktif tidak akan terlepas ke
lingkungan dalam kondisi apa pun selama disimpan.
Proses pemadatannya bisa dilakukan dengan semen (sementasi), aspal (bitumenisasi),
polimer (polimerisasi), maupun bahan gelas (vitrikasi). Padatan limbah radioaktif
kemudian dimasukkan ke dalam kontainer yang dibuat dari baja tahan karat.
Reaktor nulir untuk pembangkit yang menghasilkan tenaga berdaya 1.200 MWe
setiap tahunnya menghasilkan limbah radioaktif padat berupa bahan bakar bekas sebanyak
30 tahun. Namun setelah diolah ulang dan dipadatkan, volume limbah hanya sebanyak 4
m3. Selanjutnya disimpan dalam penyimpanan sementara yang berukuran 50m x 50 m x 4
m. Tempat penampungan ini mampu menampung limbat padat yang berasal dari 10 reaktor
yang beroperasi selama 50 tahun.
Setelah mengalami

penyimpanan selama 50 tahun di penyimpanan sementara,

kemampuan memancarkan radiasi dari limbah tersebut sudah sangat kecil. Selanjutnya

95

dipindahkan ke tempat penyimpanan akhir (ultimate storage) yang berada di bawah


permukaan tanah. Tahapan penyimpanan akhir ini atau penyimpanan lestari merupakan
merupakan tahap akhir proses pengolahan limbah. Falsafahnya: zat radioaktif yang semula
diambil dari tanah (proses penambangan uranium), dikembalikan lagi ke dalam tanah
.

Gambar 10.5. Penyimpanan Lestari Limbah Radioaktif


Soal-soal:
1. secara rata-rata netron kehilangan setengah dari energinya setiap tumbukan dengan
proton-proton (dalam moderator). Berapa jumlah tumbukan yang dibutuhkan untuk
mereduksi energi netron dari 2 MeV menjadi energi termal sebesar 0,04 MeV
2. Hitunglah energi yang dilepaskan dalam reaksi fisi 1 kg uranium dengan
kelimpahan isotop

235

U hingga 3 persen.

3. Taksirlah berapa jumlah fisi per detik

yang harus terjadi sehingga PLTN

menghasilkan daya 100 MW. Asumsikan efisiensi pengubahan energi 50%.


4. Beberapa zat radioaktif hasil fisi yang umur parona relatif panjang, diantaranya
106

Ru (t1 / 2 = 1thn) dan

134

Cs (t1 / 2 = 2,1thn) .

Setelah

disimpan

dalam

kolam

penyimpanan 50 tahun, tinggal berapa persen masing-masing zat radioaktif tersebut


dibanding semula.
5. Berapa waktu yang dibutuhkan agar

90

Sr (t1 / 2 = 28 thn) untuk tereduksi 75%.

96

Biografi Singkat
DEMPSTER
Arthur Jeffrey Dempster adalah ahli fisika penemu uranium, dan banyak isotop stabil
lainnya.
Ia lahir di Toronto, Canada pada 14 Agustus 1886 dan meninggal di Stuart, Florida,
AS pada 11 Maret 1955.
Setelah lulus dari Universitas Toronto (1910) ia pindah ke Jerman untuk meperdalam
keilmuannya. Setelah pecah Perang Dunia I, ia pindah ke AS. Ia mendapat gelar doktor (1916)
pada usia 30 tahun dari Universitas Chicago dan menjadi guru besar fisika (1919) pada
universitas tersebut sampai ajalnya.
Pada tahun 1936 bersama Kenneth T. Bainbridge dan J.H.E. Mattauch, Demster membuat
spektrograf massa berfokus ganda untuk mengukur massa inti atom. Alat ini berguna untuk
menganalisis komposisi kimia dan untuk menentukan berjenis-jenis isotop pada suatu unsur.
Orang yang paling banyak menemukan isotop adalah Aston. Tapi anehnya Aston
tidak menemukan isotop uranium-235, bahan bakar utama bom nuklir. Uraium-235 juga
dipakai sebagai bahan bakar dalam reaktor nuklir untuk menghasilkan tenaga listrik.

SEGRE (PENEMU PLUTONIUM -239)


Emilio Gino Segre adalah ahli fisika penemu neutron lambat (1935), astatine (1940),
antiproton (1955) dan pemenang Hadiah Nobel untuk fisika (1959) bersama Owen
Chamberlain.
Ia lahir di Tivoli, Italia pada 1 Februari 1905. Ia murid Fermi dan mendapat gelar
doktor dari Universitas Roma pada tahun 1928 pada umur 23 tahun. Mula-mula ia ingin
menjadi insinyur, tapi karena terpengaruh oleh Fermi ia mengambil jurusan fisika.
Ia bekerja di bawah bimbingan Fermi pada waktu bekerja menembaki uranium dengan
neutron. Pada tahun 1936 ia diangkat menjadi guru besar di Universitas Palermo. Pada tahun
1944 ia pindah ke AS.
Plutonium 239 dipakai dalam bom atom yang dijatuhkan di kota Nagasaki, jepang.
Tapi yang mula-mula menarik perhatian Segre adalah unsur dengan nomor atom 43. Ia
berusaha menemukan unsur ini sejak masih ada di Universitas Palermo. Ketika ia mengunjungi
California pada tahun 1937 ia bertemu Lawrence. Lawrence memberi Segre unsur dengan
nomor atom 42. Unsur ini bernama molybdenium. Segre kemudian menembaki molybdenium
dengan deuteron. Ia menemukan unsur nomor 43 yang ia beri nama technetium, unsur buatan
manusia yang pertama.
Pada tahun 1955 Segre bekerja sama dengan Chamberlain di Universitas California.
Keduanya menggunakan bevatron untuk mempercepat proton hingga mencapai energi sebesar
6,2 bilyun elektron volt. Proton itu diarahkan ke balok tembaga, maka muncullah partikelpartikel sub atom, diantaranya terdapat antiproton.

97

DAFTAR PUSTAKA

1.

Akhadi, M., Dasar-dasar Proteksi Radiasi, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000

2.

Cottingham, W. N. dan Greenwood, D.A., An Introduction to Nuclear Physics,


Cambridge University Press, United Kingdom, 2004

3.

Gautreau, R dan Savin W., Schaums Outlines Fisika Modern (terjemahan),


Penerbit Erlangga, 2006

4.

Jevremovic, T., Nuclear Principles in Engineering, Springer, Newyork, 2005

5.

Klinken, G. V., Pengantar Fisika Modern, Penerbit Satya Wacana, Semarang, 1991

6.

Krane, K.S., Fisika Modern (terjemahan), Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta,


1992

7.

Krane, K. S., Introductory Nuclear Physics, John Wiley & Sons, New York, 1988

8.

Martin, B. R., Nuclear and Particle Physics: An Introduction, John Wiley & Sons,
West Sussex, 2006

9.

Murray, R. L., Nuclear Energy: An Introduction to the Concepts, Systems and


Applications of Nuclear Processes, Buttherworth Heinemann, 2000

10.

Sang, D., Nuclear and Particle Physics, Thomas Nelson & Sons Ltd, London, 1995

11.

US Department of Energy, Nuclear Physics and Reactor Theory, Volume 1, 1993

12.

US Department of Energy, Nuclear Physics and Reactor Theory, Volume 2, 1993

Biografi
Haryono A, Kamus Penemu, Penerbit Gramedia, Jakarta, 1986

Anda mungkin juga menyukai