Anda di halaman 1dari 17

PEMERIKSAAN TELINGA

Pendahuluan
Pada keterampilan pemeriksaan telinga ini standar
kompetensi yang ingin dicapai adalah mahasiswa mampu melakukan
pemeriksaan telinga secara lengkap dan benar.
Kompetensi dasar:
1. Mahasiswa mampu mengenal dan menjelaskan alat yang
akan digunakan dalam pemeriksaan telinga
2. Mahasiswa mampu mempersiapkan pasien dalam rangka
pemeriksaan telinga
3. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan telinga luar secara
baik dan benar
4. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan telinga dengan
otoskop secara baik dan benar
5. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan ketajaman
pendengaran (Weber, Rinne, Schwabach) secara baik dan
benar
Anatomi Indra Pendengaran
Telinga merupakan suatu alat sensoris khusus yang merupakan salah
satu tempat reseptor keseimbangan dan pendengaran. Telinga dibagi
dalam tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam
(Gambar 1).
Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari aurikula, liang telinga luar/ meatus
akustikus eksternus, dan membran timpani yang membatasi ujung
dalam liang telinga luar (Gambar 1).
Aurikula terdiri atas auricula elastika (daun telinga) dan lobulus
auricula (cuping telinga). Daun telinga mempunyai bentuk yang khas
disebabkan adanya lempeng tulang rawan. Lempengan tulang rawan

tersebut dilapisi oleh kulit tipis yang mengandung folikel rambut,


kelenjar sebacea dan keringat.
Meatus akustikus eksternus membentang dari auricular sampai
membrane timpani. 1/3 bagian luar mempunyai dinding tulang rawan
elastis, dan 2/3 bagian dalam berdinding tulang. Dalam liang telinga
ditemukan serumen, yang merupakan gabungan sekret kelenjar
sebacea dan kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat).
Membran timpani berbentuk oval dan letaknya obliq menutupi
bagian terdalam liang telinga luar. Pada membran timpani melekat
maleus (tulang pendengaran). Bagian atas membran timpani tidak
mengandung serat-serat kolagen dan disebut bagian flasida
(membrane Shrapnell).
Telinga Tengah
Telinga tengah merupakan suatu rongga berbentuk seperti lensa
bikonkaf, dinding lateralnya adalah membrane timpani dan dinding
medialnya adalah permukaan luar dari telinga dalam. Rongga ini
dilalui oleh tiga tulang pendengaran. Rongga ini berhubungan dengan
nasofaring melalui tuba auditorius (Eustachius). Telinga tengah terdiri
atas rongga timpani dan tuba auditorius.
Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari system saluran yang tak beraturan
(labirin membranosa) yang dibatasi oleh tulang. Labirin membranosa
terdiri atas ductus cochlearis (skala media), Utrikulus dan Sacculus,
Ductus semicirkularis, ductus dan saccus endolymphaticus.

Gambar 1. Anatomi Indra Pendengaran


Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh
daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara
atau koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani
diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran
yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang
pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan
tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan
diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga
perilimfe pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui
membrane Reisner yang mendorong endolimfe sehingga akan
menggerakkan gerak relative antara membrana basilaris dengan
membrana tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang
menyebabkan terjadinya defleksi stereosila sel-sel rambut, sehingga
kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari
badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut
sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan

menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius sampai ke korteks


pendengaran (area 39-40) dilobus temporalis.
Gejala Penyakit pada Telinga
Gejala-gejala penyakit pada telinga adalah:
Kehilangan pendengaran
Pusing atau sensasi berputar
Telinga berdenging atau bunyi mendengung
Pengeluaran cairan
Nyeri telinga
Gatal
Kehilangan pendengaran
Kehilangan pendengaran dapat unilateral atau bilateral. Dapat terjadi
secara perlahan-lahan atau tiba-tiba.
Ada dua jenis kelainan pendengaran yaitu konduktif dan
sensorineural. Gangguan telinga luar dan tengah dapat menyebabkan
tuli konduktif yang diakibatkan adanya gangguan atau hambatan
penghantaran gelombang suara dari telinga luar ke telinga dalam
Hambatan ini dapat diakibatkan serumen, benda asing, infeksi atau
kelainan kongenital.
Tuli sensorineural disebabkan gangguan telinga dalam oleh proses
penyakit di dalam struktur telinga dalam atau nervus auditorius.
Keadaan ini dapat kongenital atau didapat.
Vertigo
Vertigo adalah sensasi berputar sementara dalam posisi istirahat.
Keadaan ini berkaitan dengan gangguan fungsi vestibular, seperti
gaya berjalan sempoyongan.
Vertigo dapat terjadi karena penyebab otologik, neurologik, psikologik,
atau iatrogenik.

Tinitus
Tinitus merupakan sensasi suara pendengaran seperti dengung atau
denging tanpa adanya input dari lingkungan sekitar. Sering disertai
dengan gangguan pendengaran konduktif atau sensorineural.
Otore
Otore atau sekresi di telinga umumnya menunjukkan infeksi akut atau
kronis. Sekret yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar
dan sekret yang banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari
telinga tengah. Bila berbau busuk menandakan adanya kolesteatom.
Bila bercampur darah harus dicurigai infeksi akut yang berat atau
tumor. Bila cairan yang keluar sepeti air jernih harus dicurigai likuor
serebrospinalis.
Otalgia
Otalgia atau nyeri di telinga mungkin berkaitan dengan peradangan
didalam atau sekitar telinga atau mungkin merupakan nyeri alih dari
tempat anatomik yang letaknya berjauhan di kepala dan leher. Otitis
eksterna dan otitis media paling sering menjadi penyebab nyeri
setempat. Nyeri yang berasal dari gigi, faring atau vertebra servikal
biasanya dialihkan ke telinga.
Gatal
Gatal pada telinga dapat disebabkan oleh kelainan primer pada
telinga luar atau karena pengeluaran cairan dari telinga tengah.
Penyakit sistemik seperti DM, hepatitis atau limfoma dapat pula
menjadi penyebabnya.
Pemeriksaan Telinga
Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan telinga adalah
Lampu kepala
Corong telinga
Otoskop
Pelilit kapas

Pengait serumen
Pinset telinga
Garpu tala

Pemeriksaan fisik telinga dilakukan dengan pemeriksa duduk di


depan pasien Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke
depan dan kepala pasien lebih tinggi dari pemeriksa untuk
memudahkan melihat liang telinga dan membran timpani.
Jika pasien mempunyai gejala di satu telinga, mula-mula periksalah
telinga yang tidak mempunyai keluhan.
Pemeriksaan fisik telinga mencakup hal-hal berikut:
1. Pemeriksaan telinga luar
2. Pemeriksaan otoskopik
3. Pemeriksaan ketajaman pendengaran
Pemeriksaan Telinga Luar
Inspeksi Struktur Telinga Luar
Inspeksi pina untuk melihat ukuran, posisi, bentuknya dan amati
apakah ada kelainan. Pina harus terletak dibagian tengah dan harus
sesuai dengan besarnya wajah dan kepala. Amati adanya
pengeluaran cairan. Jika ada pengeluaran cairan catatlah warna,
konsistensi dan kejernihannya. Amati juga adanya deformitas, nodul
peradangan, atau lesi. Amati juga ukuran lubang telinga; jika sangat
besar menunjukkan adanya pembedahan mastoid sebelumya.
Perhatikan bagian belakang telinga dan amati apakah ada bekas luka
pembedahan dan lihat apakah pasien memakai alat bantu dengar.
Minta pasien untuk melepasnya sebelum ke pemeriksaan selanjutnya.
Palpasi struktur Telinga Luar
Pina dipalpasin untuk mencari ada tidaknya nyeri tekan,
pembengkakan, atau nodulus. Tarik pina dengan lemah lembut ke
atas atau ke bawah atau dengan menekan tragus dan mintalah
pasien untuk menatakan jika sakit. Nyeri palpasi pada tragus

menunjukkan adanya infeksi meatus akustikus ekaternus (MAE) atau


adanya masalah pada persendian temporomandibular. Daerah telinga
posterior harus diperiksa untuk melihat adnya jaringan parut atau
pembengkakan. Nyeri tekan mungkin menunjukkan suatu proses
supuratif pada tulang mastoid
Pemeriksaan Otoskopik
Pemeriksaan telinga dengan memakai otoskop untuk melihat
visualisasi struktur telinga dengan baik. Gunakan Otoskop dengan
speculum dengan ukuran yang nyaman di telinga pasien dan periksa
apakah menghasilkan cahaya yang baik. Terangkan pada pasien apa
yang akan dilakukan
Teknik Pemeriksaan
Pasien diminta untuk memutar sedikit kepalanya ke samping
sehingga pemeriksa dapat memeriksa telinga tersebut
dengan lebih nyaman.
Untuk memeriksa telinga kanan pasien pemeriksa memegang
otoskop dengan tangan kanan sebaliknya untuk memeriksa
telinga kiri menggunakan tangan kiri.
Otoskop dapat dipegang dalam salah satu dari dua posisi
berikut ini. Posisi pertama: memegang otoskop pada
tangkainya antara jari telunjuk dan ibu jari dengan permukaan
ulnar pemeriksa berhadapan dengan pipi pasien tangan
pemeriksa bersandar pada sisi wajah pasien. Posisi ini
menyediakan
penyangga
sehingga
jika
pasien
menggerakkan kepalanya tiba-tiba selama pemeriksaan
tangan pemeriksa dapat menahannya dan mengurangi
adanya trauma pada telinga (Gambar 2). Teknik ini lebih
aman terutama untuk anak-anak. Posisi kedua adalah
memegang otoskop ke arah atas ketika speculum
dimasukkan ke dalam kanal, Teknik ini terasa lebih aman
tetapi gerakan pasien tiba-tiba dapat menyebabkan nyeri dan
cedera pasien.

Gambar 2. Teknik memegang otoskop

Kanalnya diluruskan oleh tangan pemeriksa yang sebelahnya


dengan menarik daun telinga ke atas, luar, dan belakang
(Gambar 3). Makin lurus kanalnya makin mudah visualisasi
dan pemeriksaan akan dirasakan nyaman oleh pasien. Pada
anak-anak kanal harus diluruskan dengan menarik daun
telinga ke bawah dan ke belakang.

Gambar 3. Cara Meluruskan kanal MAE


Inspeksi Kanalis Eksternus
Dengan hati-hati masukanlah spekulum dan periksalah
kanalis eksternus. Amati kulit dari kanalis eksternus apakah ada
infeksi, serumen atau benda asing. Seharusnya tidak ada tanda-tanda
kemerahan, bengkak atau nyeri tekan yang menunjukkan
peradangan. Dinding kanalis seharusnya bebas dari benda asing,
skuama atau sekret. Jika ada benda asing berikanlah pehatian
khusus dengan memeriksa kanalis telinga sisi yang lain, hidung dan
lubang-lubang tubuh yang mudah dicapai.
Serumen harus dibiarkan begitu saja kecuali jika
mengganggu visualisasi kanalis dan membrane timpani. Pengeluaran
serumen sebaiknya dilakukan oleh pemeriksa yang berpengalaman,
karena setiap manipulasi dapat mengakibatkan trauma atau abrasi.
Jika ada sekret perhatikanlah tempat sumbernya.
Inspeksi membran timpani
Ketika otoskop dimasukkan lebih jauh ke dalam kanal dengan arah ke
bawah dan ke depan, membran timpani dapat divisualisasikan.

Perhatikanlah warna, keutuhan, transparansi, posisi dan bagianbagian penting membrana timpani. Dalam keadaan sehat membran
timpani harus terlihat sebagai selaput utuh translusen, abu-abu
seperti mutiara pada akhir kanal tersebut. Posisi normal membran
timpani adalah miring terhadap kanalis eksternus, Batas superiornya
lebih dekat dengan mata pemeriksa. Pada telinga normal tangkai
maleus yang melekat pada membran timpani adalah petunjuk yang
paling penting. Tangkai maleus dapat terlihat didekat bagian tengah
membran timpani. Dari ujung bawah tangkai tersebut seringkali ada
kerucut segitiga terang yang dipantulkan dari pars tensa. Ini disebut
refleks cahaya yang menuju antereoinferior, pemeriksa harus dapat
melihat cone of light sebagai permukaan concave dari membrane
timpani sebagai reflek cahaya dari lampu. Pars flacida processus
brevis maleus dan plika anterior dan posterior harus dikenali (Gambar
4).

Gambar 4. Membran timpani a. normal; b. perforasi

Dalam keadaan sakit, membran timpani mungkin pudar dan menjadi


merah atau kuning. Apakah membran timpani mengalami kongesti.
Pembuluh darah seharusnya hanya dapat dilihat di bagian tepi
membran timpani. Bercak-bercak putih padat pada membran mungkin
disebabkan timpanosklerosis. Apakah membran timpani menonjol
atau retraksi. Penonjolan membran timpani mungkin disebabkan
adanya cairan atau pus di bagian tengah telinga. Membran timpani

mengalami retraksi apabila tekanan ruangan intratimpani berkurang;


misalnya kalau tuba eustachii tersumbat. Amati adanya penampakan
translusen keabu-abuan pada membrane timpani normal, plak putih
adalah timpanosklerosis dan menunjukkan adanya bekas perforasi
sebelumnya. Harus dicatat perforasi yang sedang berlangsung, lokasi
dan ukurannya. Defek marginal meluas ke annulus tetapi pada central
perforasi membrane disekelilingnya tetap utuh. Posisi ini berhubungan
dengan pegangan dari malleus. Jika perforasi meliputi sebagian besar
membran maka disebut subtotal.
Setelah memeriksa telinga kanan periksalah telinga kiri dengan
tangan kiri. Pemeriksa meluruskan kanalis dengan tangan kanan.
Pemeriksaan Ketajaman Pendengaran
Kehilangan pendengaran dapat disebabkan: konduktif,
sensorineural, atau campuran. Kehilangan pendengaran konduktif
diakibatkan kerusakan penghantaran suara telinga luar melalui
membran timpani dan tulang-tulang pendengaran ke telinga dalam.
Cara bicara pada kehilangan pendengaran konduktif tetap dan
pendengaran baik jika suara diamplifikasi. Kehilangan pendengaran
sensorineural diakibatkan kerusakan cochlea dan saraf dan cara
bebicara dapat terpengaruh. Amplifikasi kecil dapat menyebabkan
kerusakan yang tidak menyenangkan. Hal ini diakibatkan adanya
kerusakan pada sel-sel rambut cochlea. Kehilangan pendengaran
sebagian besar bertambah secara progresif dan berhubungan dengan
ketuaan.
Cara Pemeriksaan Pendengaran
Cara termudah untuk memeriksa kehilangan daya
pendengaran yang berat adalah dengan menutup satu kanalis
eksternus dengan menekan kedalam pada tragus dan berbisik
kedalam telinga lainnya. Pemeriksa harus menyembunyikan mulutnya
untuk menghindari pembacaan gerakan bibir oleh pasien. Pemeriksa
harus membisikkan kata-kata pada telinga yang tidak ditutup dan

menentukan apakah pasien dapat mendengarnya. Proses ini


kemudian diulangi dengan memakai telinga lainnya.
Pemeriksaan uji garpu tala untuk memeriksa kehilangan daya
pendengaran lebih tepat dan seharusnya dilakukan tanpa
memperhatikan hasil tes berbisik. Secara fisiologik telinga dapat
mendengar nada antara 20-18000 Hz. Untuk pendengaran sehari-hari
yang paling efektif antara 500-2000 Hz. Oleh karena itu untuk
memeriksa pendengaran dipakai garpu tala 512, 1042 dan 2048 Hz.
Penggunan garpu tala ini penting untuk pemeriksaan secara kualitatif.
Bila salah satu frekuensi ini terganggu penderita sadar akan adanya
gangguan pendengaran. Jika tidak mungkin menggunakan ketiga
garpu tala, maka diambil 512Hz karena penggunaan garpu tala ini
tidak terlalu dipengaruhi suara bising disekitarnya. Garpu tala
dipegang pada tangkainya, dan ujungnya dipukulkan dengan cepat
pada telapak tangan. Jangan memukulkannya pada kayu atau metal
padat. Pemeriksaan pendengaran secara kuantitatif dilakukan dengan
audiometer nada murni.
Ada beberapa tes garpu tala untuk memeriksa daya pendengaran,
yaitu:
1. Tes Schwabach
Membandingkan hantaran tulang orang yang diperiksa dengan
pemeriksa yang pendengarannya normal.
Penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada processus
mastoideus telinga pemeriksa yang pendengarannya normal. Bila
pemeriksa masing mendengar disebut Schwabach memendek, bila
pemeriksa tidak dapat mendengar lagi pemeriksaan diulang dengan
cara sebaliknya yaitu penala diletakkan pada processus mastoideus
pemeriksa lebih dulu. Bila pasien masih dapat mendengar bunyi
disebut Schwabach memanjang dan bila pasien dan pemeriksa kirakira sama mendengarnya disebut dengan Schwabach sama dengan
pemeriksa.

2. Uji Rinne
Uji ini membandingkan hantaran udara dengan hantaran tulang. Tiap
telinga diperiksa secara terpisah. Pemeriksa memukulkan garpu tala
512 Hz pada telapak tangannya dan meletakkan tangkainya pada
ujung mastoid. Pasien kemudian ditanya apakah ia mendengar
bunyinya dan diminta untuk memberitahukan kapan ia tidak dapat
mendengarkan lagi. Kalau pasien sudah tidak dapat mendengarkan
lagi, gigi garpu tala yang sedang bergetar diletakan di depan meatus
auditorius eksternus telinga yang sama, dan pasien ditanya apakah ia
masih mendengarnya (Gambar 5). Gigi garpu tala yang sedang
bergetar tidak boleh menyentuh rambut karena pasien mungkin
menderita gangguan pendengaran tetapi masih dapat merasakan
getarannya.

Gambar 5. Uji Rinne


Dalam keadaan normal, hantaran udara lebih baik daripada
hantaran tulang dan pasien akan dapat mendengar garpu tala pada
meatus auditorius eksternus setelah ia tidak dapat mendengarnya lagi
pada ujung mastoid; ini adalah uji Rinne positif (hantaran udara lebih
baik daripada hantaran tulang). Tetapi pasien dengan tuli konduksi
mempunyai hantaran tulang yang lebih baik daripada hantaran udara
(Uji Rinne negatif). Pasien dengan tuli sensorineural mengalami
gangguan pada hantaran udara dan tulang, tetapi uji Rinne positif.

3. Uji Weber
Uji Weber membandingkan hantaran tulang pada kedua telinga.
Berdirilah di depan pasien dan letakkan garpu tala 512 Hz yang
sedang bergetar dengan kuat pada bagian tengah dahi pasien.
Mintalah kepada pasien untuk menunjukkan apakah ia mendengar
atau merasa bunyi pada telinga kanan, telinga kiri atau dibagian
tengah dahinya (Gambar 6). Mendengar bunyi atau merasakan
getarannya pada bagian tengah adalah respon normal. Jika bunyi
tersebut tidak terdengar dibagian tengah, bunyi tersebut dikatakan
mengalami lateralisasi dan ada gangguan pendengaran. Bunyi akan
dilateralisasikan pada sisi yang terganggu pada tuli konduktif.

Gambar 6, Uji Weber


Penjelasan untuk uji Weber didasarkan atas efek menutupi
bising di latar belakang. Dalam keadaan normal, ada bising di latar
belakang yang cukup berarti yang mencapai membrane timpani
dengan hantaran udara. Hal ini cenderung menutupi bunyi yang
dihasilkan oleh garpu tala yang terdengar dengan hantaran tulang.
Pada telinga dengan tuli konduktif, hantaran udara berkurang dan
oleh karena itu efek menutupinya juga berkurang. Jadi telinga yang
terganggu akan mendengar dan merasai getaran garpu tala lebih baik
ketimbang telinga normal. Pada pasien dengan tuli sensorineural

unilateral bunyi tersebut tidak akan terdengar pada sisi yang


terganggu tetapi akan terdengar oleh atau terlokalisasi pada telinga
telinga yang tidak terganggu.
Untuk menguji reliabilitas respons pasien, sebaiknya
pemeriksa sesekali memukulkan garpu tala tersebut pada telapak
tangan dan memegangnya sejenak untuk menghentikan getarannya.
Kedua tes ini kemudian sesuai dengan yang diuraikan di atas. Untuk
mempermudah interpretasi secara klinis dipakai tes Rinne, tes Weber
dan tes Schwabach secara bersamaan.
Tes Bing (tes oklusi)
Cara pemeriksaan : Tragus telinga yang diperiksa ditekan dengan
menutup liang telinga sehingga terdapat tuli konduktif 30 dB. Penala
digetarkan dan diletakkan pada pertengahan kepala (seperti pada tes
Weber).
Penilaian : Bila terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup berarti
telinga tesebut normal. Bila bunyi pada telinga yang ditutup tidak
bertambah keras berarti telinga tersebut menderita tuli konduktif.
Daftar Pustaka
Tambayong J, Lukmanto P, Maulani RF. Buku Ajar Diagnostik Fisik.
Terjemahan dari Texbook of Physical Diagnosis by Mark H
Swartz. 1995. Hal 118-132. EGC. Jakarta
Soepardi EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD. 2007. Buku Ajar
Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Hal 1-22.
Balai Penerbit FKUI.
Douglas G, Nicol F, Robertson C. 2005. Macleods Clinikal
Examination. Ed 11 th. Elsevier Churchill Livingstone.
Bates Guide to Physical Examination and History Taking.

CHECK LIST
PEMERIKSAAN TELINGA
Petunjuk : Berilah angka (0) di dalam kotak yang tersedia jika
keterampilan/kegiatan tidak dilakukan, angka (1) jika belum
memuaskan atau (2) jika memuaskan.
No.

Aspek yang dinilai

PERSIAPAN
1

Pemeriksa memperkenalkan diri dan


menjelaskan maksud dan prosedur
tindakan yang akan dilakukan.

Mempersiapkan alat yang digunakan.

Menyiapkan posisi pasien.

PEMERIKSAAN TELINGA LUAR

Melakukan inspeksi pada telinga luar


untuk mengamati struktur telinga,
adanya deformitas, ukuran lubang
telinga, pengeluaran cairan dan bekas
pembedahan.
Melakukan palpasi untuk mencari nyeri
tekan, pembengkakan dan nodulus pada
pinna, tragus dan daerah mastoideus.

PEMERIKSAAN DENGAN OTOSKOP


6

Menyiapkan pasien

10

Memegang otoskop dengan cara yang


benar

11

Meluruskan kanal MAE

12

Menfokuskan lampu pada kanal MAE

Skor
1

13

14

15

Dengan hati-hati memasukkan otoskop


pada MAE dan melakukan inspeksi
pada kanalis eksternus
Memasukkan otoskop lebih jauh ke
dalam kanal dengan arah ke bawah dan
ke depan sehingga membran timpani
dapat divisualisasikan dan melakukan
inspeksi pada membran timpani
Pemeriksaan dilakukan pada telinga
kanan dan kiri

PEMERIKSAAN KETAJAMAN PENDENGARAN


16

Menyiapkan pasien dan menjelaskan


prosedur yang akan dilakukan

17

Memilih alat yang benar

18

Melakukan uji Schwabach dengan


benar

19

Melakukan uji Rinne dengan benar

21

Melakukan uji Weber dengan benar

22
23

Pemeriksaan dilakukan pada telinga


kanan dan kiri
Dapat membuat kesimpilan hasil
pemeriksaan

Keterangan :
0 = tidak dilakukan
1 = dilakukan tapi tidak benar
2 = dilakukan dengan benar
Nilai :
Total skor X 100 = ................
46