Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ingin dicapai dengan


menjalankan Syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik.
Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang dilakukan
hanya sebagai formalitas belaka, semua bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya
kebahagiaan tersebut.
Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadapnya adalah pangkalan yang
menentukan corak hidup manusia. Etika, moral dan susila adalah pola tindakan yang didasarkan
nilai mutlak kebaikan.
Dalam makalah ini kami akan mencoba menguraikan secara jelas hubungan antara Etika, Moral
dan Susila, serta pengertian baik buruk dan penentuannya.
B.

Rumusan Masalah

1.

Apa Pengertian dari Etika, Moral, dan Susila ?

2.

Apa Hubungan antara Etika, Moral, dan Susila dengan Akhlak ?

C. Tujuan Masalah
1.

Mengetahui Pengertian dari Etika, Moral, dan Susila

2.

Mengetahui Hubungan antara Etika, Moral, dan Susila dengan Akhlak

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Etika, Moral, dan Susila


1. Etika
Dari segi etimologi (ilmu asal-usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos yang berarti
watak kesusilaan atau adat.[1]
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas
akhlak (moral).[2] Dari pengertian kebahasaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan
upaya menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang berbedabeda sesuai dengan sudut pandangnya.
Ahmad Amin misalnya mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk,
menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju
oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang
seharusnya diperbuat.[3] Selanjutnya Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat
nilai, kesusilaan tentang baik buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan merupakan juga
pengetahuan tentang nilai-nilai itu sendiri.[4] Pengertian etika lebih lanjut dikemukakan oleh Ki
Hajar Dewantara. Menurutnya etika adalah ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan
keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik pikiran
dan rasa yang dapat merupakan perbuatan.[5] Sementara itu Austin Fogothey, sebagai dikutip
Ahmad Charris Zubair mengatakan bahwa etika berhubungan dengan seluruh ilmu penegetahuan
tentang manusia dan masyarakat sebagai antropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik
dan ilmu hukum.[6] Berikutnya dalam Encyclopedia Britanica, etika dinyatakan sebagai filsafat
moral, yaitu studi yang sistematik mengenai sifat dasar dari konsep-konsep nilai baik, buruk,
harus, benar, salah, dan sebagainya. Selanjutnya Frankena, sebagai juga dikutip Ahmad Charris
Zubair mengatakan bahwa etika adalah sebagai cabang filsafat, yaitu filsafat moral atau
pemikiran filsafat tentang moralitas, problem moral, dan pertimbangan moral.[7] Dari beberapa
definisi etika tersebut dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dengan empat hal sebagai
berikut. Dilihat dari segi obyek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang
dilakukan oleh manusia. Dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal fikiran atau
filsafat. Sebagai hasil pemikiran maka etika tidak bersifat mutlak, absolute dan tidak pula
universal. Ia terbatas, dapat berubah, memilki kekurangan dan kelebihan. Selain itu etika juga
memanfaatkan berbagai ilmu yang membahas prilaku manusia seperti ilmu antropologi,
psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Hal ini dimungkinkan, karena
2

berbagai ilmu yang disebutkan itu sama-sama memiliki obyek pembahasan yang sama dengan
etika, yaitu perbuatan manusia. Dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai,
penentu dan penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah
perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan
demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah prilaku yang dilaksanakan
oleh manusia. Peranan etika dalam hal ini tampak sebagai wasit atau hakim, dan bukan sebagai
pemain. Ia merupakan konsep atau pemikiran mengenai nilai-nilai untuk digunakan dalam
menentukan posisi atau status perbuatan yang dilakukan manusia. Etika lebih mengacu kepada
pengkajian system nilai-nilai yang ada. Dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni
dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntunan zaman.
Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan
yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk
dikatakan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para filosof barat mengenai
perbuatan yang baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal
dari hasil berpikir. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan anthropocentris.
2. Moral
Adapun arti moral secara bahasa berasal dari bahasa latin, Mores yaitu jamak dari kata
Mos yang berarti adat kebiasaan.[8] Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa
moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan.[9] Selanjutnya moral
dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat,
perangai, kehendak, pendapat, atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah,
baik, atau buruk. Selanjutnya pengertian moral dijumpai pula dalam The Advanced Leaners
Dictionary of Current English. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral sebagai
berikut.
1.

Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk

2.

Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah

3.

Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.

Berdasarkan kutipan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang
digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik
atau buruk, benar atau salah. Jika dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang tersebut
bermoral, maka yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut tingkah lakunya baik.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dan lainnya kita dapat mengatakan
bahwa antara etika dan moral memiliki obyek yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang
perbuatan manusia untuk selanjutnya ditentukan posisinya apakah baik atau buruk. Namun
demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki perbedaan yaitu :
3

Kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk
menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam pembicaraan moral tolak ukur
yang digunakan adalah norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di
masyarakat.
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku manusia
adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya yang berlaku di masyarakat.
Etika dan moral sama artinya dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau
moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian
system nilai yang ada. Dalam perkembangan selanjutnya istilah moral sering pula didahului oleh
kata kesadaran, sehingga menjadi istilah kesadaran moral. Ahmad Charris Zubair dalam bukunya
berjudul Kuliah Etika mengatakan bahwa kesadaran moral merupakan factor penting untuk
memungkinkan tindakan manusia selalu bermoral, berperilaku susila, dan perbuatannya selalu
sesuai dengan norma yang berlaku. Kesadaran moral ini didasarkan atas nilai-nilai yang benarbenar esensial, fundamental. Orang yang memiliki kesadaran moral akan senantiasa jujur.
Sekalipun tidak ada orang lain yang melihatnya, tindakan orang yang bermoral tidak akan
menyimpang, dan selalu berpegang pad nilai-nilai tersebut. Hal ini terjadi karena tindakan orang
yang bermoral itu berdasarkan atas kesadaran, bukan berdasar pada sesuatu kekuatan apa pun
dan juga bukan karena paksaan, tetapi berdasarkan kesadaran moral yang timbul dan dalam diri
yang bersangkutan. Kesadaran moral erat pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam
bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan dalam bahasa arab disebut
dengan qalb, fuad. Dan kesadaran moral itu mencakup tiga hal.
1.
Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Perasaan ini telah
ada dalam setiap hati nurani manusia, siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Kewajiban tersebut
tidak dapat ditawar-tawar, karena sebagai kewajiban maka andai kata dalam pelaksanaannya
tidak dipatuhi berati suatu pelanggara moral. Adanya perasaan wajib ini menunjukkan bahwa
suara batin harus selalu ditaati, karena suara batin justru sebagai kesadaran bahwa seseorang
merasa mempunyai beban atau kewajiban mutlak, untuk melaksanakan sesuatu, tidak ada
kekuatan apapun yang berhak mengganggu atau menghalangi pelaksanaannya. Orang yang
memiliki kesadaran moral dalam bentuk perasaan wajib tersebut akan senantiasa mau berusaha
menegakkan kebenaran, kejujuran, dan kesamaan, walaupun tidak ada orang lain yang
menyuruhnya. Perasaan tersebut demikian kuat, sehingga Ia siap menghadapi siapa saja yang
coba-coba menghalanginya.
2.
Kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan obyektif, yaitu suatu perbuatan yang
secara umum dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang obyektif dan dapat diberlakukan
secara universal, artinya dapat di setujui, berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang
yang berada dalam situasi yang sejenis. Dalam masalah rasionalitas kesadaran moral itu, manusia
meyakini bahwa akan sampai pada pendapat yang sama sebagai suatu masalah moral, dengan
ketentuan manusia tersebut bebas dari paksaan dan tekanan, tidak mencari keuntungan sendiri,
4

tidak berpihak, bersedia untuk bertindak sesuai dengan kaidah yang berlaku umum, pengetahuan
jernih dan pengetahuan yang berdasarkan informasi yang obyektif.
3.
Kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan. Atas kesadaran moralnya
seseorang bebas untuk mentaatinya. Bebas dalam menentukan prilakunya dan didalam penentuan
itu sekaligus terpampang nilai manusia itu sendiri.
Berdasarkan pada uraian tersebut kita dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral
lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh
masyarakat. Nilai atau system hidup tersebut diyakini oleh masyarakat yang akan memberikan
harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan
perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah
daging dalam diri seseorang maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang
demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau
paksaan dari luar. Orang yang demikian adalah orang yang memiliki kesadaran moral, atau orang
yang telah bermoral.
3. Susila
Susila atau kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an.
Kata tersebut berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Su dan Sila. Su berarti baik, bagus dan Sila
berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma.
Kata Susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Orang
yang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang a susila adalah orang
yang berkelakuan buruk. Pada pelaku Zina (pelacur) misalnya sering diberi gelar sebagai Tuna
Susila.
Selanjutnya kata susila dapat pula berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya. Dan
kesusilaan sama dengan kesopanan. Dengan demikian kesusilaan lebih mengacu kepada upaya
membimbing, memandu, mengarahkan, membiasakan dan memasyarakatkan hidup yang sesuai
dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Kesusilaan menggambarkan
keadaan dimana orang selalu menerapkan nilai-nilai yang dipandang baik.
Sama halnya dengan moral, pedoman untuk membimbing orang agar berjalan dengan
baik juga berdasarkan pada nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dan mengacu kepada
sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat.

B.

Hubungan Etika, Moral, dan Susila dengan Akhlak

Dilihat dari fungsi dan perannya, dapat dikatakan bahwa etika, moral, susila, dan akhlak
sama, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan yang dilakukan manusia untuk
ditentukan baik buruknya. Kesemua istilah tersebut sama-sama menghendaki terciptanya
keadaan masyarakat yang baik, teratur, aman, damai, dan tentram sehingga sejahtera batiniah dan
lahiriah.
Namun demikian etika, moral, susila dan akhlak tetap saling berhubungan dan
membutuhkan. Dengan jelas bahwa etika, moral, susila berasal dari produk rasio dan budaya
masyarakat yang secara selektif diakui sebagai yang bermanfaat dan baik bagi kelangsungan
hidup manusia. Sementara akhlak berasal dari wahyu, yakni ketentuan yang berdasarkan
petunjuk al-Quran dan al-hadis. Dengan kata lain jika etika, moral, dan susila berasal dari
manusia, sedangkan akhlak berasal dari Tuhan.
Dalam pelaksanaannya norma akhlak yang terdapat dalam al-Quran dan al-Sunnah itu
sifatnya dalam keadaan belum siap pakai. Jika al-Quran misalnya menyuruh kita berbuat baik
kepada ibu-bapak, menghormati sesame kaum muslimin, dan menyuruh menutup aurat, maka
suruhan tersebut belum dibarengi dengan cara-cara, sarana, bnetuk dan lainnya. Bagaimanakah
cara menghormati kedua orang tua tidak kita jumpai dalam al-Quran dan al-hadis. Demikian
pula bagaimana cara kita menghormati sesama muslim dan menutup aurat juga tidak kita jumpai
dalam al-Quran. Cara-cara untuk melakukan ketentuan akhlak yang ada dalam al-Quran dan alhadis itu memerlukan penalaran atau ijtihad para ulama dari waktu kewaktu. Cara menutup aurat,
model pakaian, ukuran dan potongannya yang sesuai dengan ketentuan akhlak jelas memerlukan
hasil pemikiran akal pikiran manusia dan kesepakatan masyarakat untuk menggunakannya. Jika
demikian adanya maka ketentuan baik dan buruk yang terdapat dalam etika, moral dan susila
yang merupakan produk akal pikiran dan budaya masyarakat dapat digunakan sebagai alat untuk
menjabarkan ketentuan akhlak yang terdapat dalam al-Quran. Tanpa bantuan usaha manusia
dalam bentuk etika, moral dan susila , ketentuan akhlak yang terdapat dalam al-Quran dan alSunnah akan sulit dilaksanakan.
Dengan demikian keberadaan etika, moral dan susila sangat dibutuhkan dalam rangka
menjabarkan dan mengoprasionalkan ketentuan akhlak yang terdapat didalam al-Quran.
Disinilah letak peranan dan etika, moral, dan susila terhadap akhlak.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas bahwa antara akhlak islam yang bersumber pada wahyu dapat
menerima atau mengakui peranan yang dimainkan oleh etika, moral, dan susila, yaitu sebagai
sarana atau partner untuk menjabarkan akhlak islam yang terdapat dalam al-Quran dan al-hadis,
sepanjang etika, moral dan susila itu sejalan dengan al-Quran dan al-hadis tersebut.
Dengan demikian ajaran akhlak disamping memiliki nilai-nilai yang bersifat mutlak,
absolute, dan universal sebagaimana terdapat dalam al-Quran dan al-hadis, juga menerima
ajaran yang bersifat rasional, lokal dan cultural. Sehingga ajaran islam dapat hadir dan diterima
oleh seluruh lapisan sosial.
Dengan kata lain, akhlak islam dari satu sisi mengakui adanya nilai-nilai yang absolute, universal
dan mutlak, sedangkan pada sisi lain menerima keadaan yang bersifat budaya dan cultural, atau
akhlak islam itu disamping menerima adanya universalitas juga mengakui adanya variasi dan
perbedaan-perbedaan.

DAFTAR PUSTAKA
7

Achmad Charris Zubair, Kuliah Eika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1980), cet.II, hlm.13.
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991),
cet.XII, hlm.278.
Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), (terj.) K.H. Farid Maruf, dari judul asli, al-Akhlaq,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1983), cet.III, hlm.3.
Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1979), hlm.82.
Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Taman Siswa, 1966), hlm.138.
Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta Rajawali Pers, 1992), cet.I, hlm.8.

[1] Achmad Charris Zubair, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1980), cet.II,hlm.13.
[2] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), cet.
XII, hlm.278.
[3] Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak ), (terj.) K.H. Farid Maruf, dari judul asli, al-akhlaq,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1983), cet.III, hlm.3.
[4] Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1979), hlm.82.
[5] Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Taman Siswa, 1966),
hlm.138.
[6] Ahmad Charris Zubair, op.cit. , hlm.15.
[7] Ibid., hlm.16.
[8] Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta Rajawali Pers, 1992), cet.I, hlm.8.
[9] W.J,S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, op. cit., hlm.654.