Anda di halaman 1dari 21

9

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Umum
2.1.1. Perancangan
KBBI ( 1993) Adalah proses, cara, perbuatan merancang:
bangunan yang dilakukan oleh seorang ahli. Pada konsep
perancangan,

mencakup

pada

penyediaan,

perencanaan,

penjadwalan, pemograman, penyusunan.


Shrode (1974) Dapat diartikan sebagai suatu sarana untuk
mentransformasikan persepsi-persepsi mengenai kondisi-kondisi
lingkungan ke dalam rencana yang berarti dan dapat dilaksanakan
dengan teratur
Pada bangunan arsitektur terbagi pada fungsinya, ada yang
satu fungsi, dua fungsi, dan lebih dari 3 fungsi yang di sebut
dengan mixed used.
2.1.2. Hunian
Hunian berarti tempat tinggal, hunian selain berfungsi
sebagai tempat tinggal atau hunian yang digunakan untuk
berlindung dari gangguan iklim dan makhluk hidup lainnya, rumah
merupakan tempat awal pengembangan kehidupan. John F.C
Turner (1972) Yang terpenting dalam sebuah rumah adalah
dampak terhadap penghuni, bukan wujud atau standar fisiknya.
Selanjutnya dikatakan bahwa interaksi antara rumah dan penghuni
adalah apa yang diberikan rumah kepada penghuni serta apa yang
dilakukan penghuni terhadap rumah.

10

2.1.3. Hunian Vertikal (Apartemen)


Pengertian hunian vertikal menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah hunian merupakan tempat tinggal; kediaman
(yang dapat dihuni), vertikal adalah tegak lurus dari bawah ke atas
atau kebalikannya, membentuk garis tegak lurus (bersudut 90)
dengan permukaan bumi, garis horizontal, atau bidang datar.
Dictionary of real estate, Wiley (1996) Apartemen adalah
satu ruangan atau lebih, biasanya merupakan bagian dari sebuah
struktur hunian vertikal yang dirancang untuk ditempati oleh lebih
dari satu keluarga dan di susun secara vertikal. Normalnya,
berfungsi sebagai perumahan sewa dan tidak pernah dimiliki oleh
penghuninya yang dikelola oleh pemilik atau pengelola property.
Joseph De Chiara & John Hancock Callender Time Saver
Standart Mc Grow Hill (1968) adalah sebuah unit tempat tinggal
yang terdiri dari Kamar Tidur, Kamar Mandi, Ruang Tamu, Dapur,
Ruang Santai yang berada pada satu lantai bangunan vertikal yang
terbagi dalam beberapa unit tempat tinggal.
Tipologi Hunian Vertikal Apartemen
Pengelompokan apartemen berdasarkan jenis dan besar bangunan:

1. Garden Apartemen

11

Bangunan apartemen dua sampai empat lantai.


Apartemen

memiliki

halaman

dan

taman

disekitar

bangunan. Apartemen ini sangat cocok untuk keluarga inti


yang memiliki anak kecil karena anak-anak dapat mudah
mencapai taman. Biasanya untuk golongan menengah
keatas.
2. Walked-Up Apartemen
Bangunan apartemen yang terdiri atas tiga sampai
dengan enam lantai. Apartemen ini kadang-kadang
memiliki lift, tetapi bias juga tidak. Jenis apartemen ini
disukai oleh keluarga yang lebih besar (keluarga ini
ditambah orang tua). Gedung apartemen hanya terdiri atas
dua atau tiga unit apartemen.
3. Low Rise Apartment
Apartemen dengan Ketinggian bangunan kurang
dari tujuh lantai dan menggunakan tangga sebagai alat
transportasi vertical. Biasanya untuk golongan menengah
kebawah.
4. Medium Rise Apartment
Bangunan apartemen yang terdiri dari tujuh sampai
dengan sepuluh lantai. Jenis apartemen ini lebih sering
dibangun dikota satelit.

12

5. High Rise Apartment


Bangunan apartemen yang terdiri atas lebih dari
sepuluh lantai. Dilengkapi area parker bawah tanah, system
keamanan dan servis penuh. Struktur apartemen lebih
kompleks sehingga desain unit apartemen cenderung
standar. Jenis ini banyak dibangun dipusat kota.
Pengelompokan apartemen berdasarkan jumlah lantai unit hunian:
1. Simplex

: Dalam satu unit hunian terdapat dalam satu

lantai
2. Duplex
3. Mezzanine

: Dalam satu unit hunian terdapat dua lantai


: Dengan split level yang berbeda

Gambar 2.1 Pengelompokan apartemen berdasarkan jumlah lantai


unit hunian, Sumber: apartment guidelines (2005)

Pengelompokan apartemen yang berdasarkan posisi bukaan:


1. Single aspek
2. Corner aspek
3. Dual aspek

: Bukaan ke satu arah


: Bukaan ke dua arah pada bagian sudut
: Bukaan ke dua arah yang berlawanan

13

Gambar 2.2 Pengelompokan apartemen yang berdasarkan posisi bukaan,


Sumber: apartment guidelines (2005)

Klasifikasi apartemen berdasarkan luasan dari kamarnya:


1. Tipe Studio (18m2 - 45m2)
Tipe ini mengutamakan efisiensi penggunaan
ruang-ruang. Hanya tersedia ruangan tanpa sekat.
2. Tipe satu ruang tidur (36m2 54m2)
Apartment ini berkapasitas 2-3 orang, misalnya
pasangan yang baru menikah dengan anak atau tanpa anak.
3. Tipe dua ruang tidur (45m2 90m2)
Apartment ini berkapasitas 3-4 orang, misalnya
keluarga dengan satu atau dua anak. Pada tipe ini biasanya
ruang keluarga dan ruang makan dipisah.
4. Tipe tiga ruang tidur (54m2 108m2)
Apartment ini berkapasitas 4-5 orang, misalnya
keluarga besar dengan tiga anak atau lebih.
5. Tipe empat ruang tidur (100m2 135m2)

14

Apartment ini berkapasitas 5 8 orang, misalnya


keluarga besar dengan tiga sampai enam anak, atau pemakaian
tiga generasi (kakek-nenek, ayah-ibu, dan anak-anak).
Secara garis besar apartemen dapat di artikan sebagai
tempat yang dapat memuat banyak kelompok hunian yang di
susun secara vertikal dan memiliki fasilitas penunjang dan service.

2.1.4. Hunian Horizontal


Pengertian

hunian-horizontal

menurut

Kamus

Besar

Bahasa Indonesia adalah hunian merupakan tempat tinggal;


kediaman (yang dihuni), horizontal adalah terletak pada garis atau
bidang yang sejajar dengan horizon atau garis datar mendatar. Jadi
kesimpulannya adalah merupakan sebuah tempat tinggal atau
kediaman yang dihuni, yang arah pertumbuhannya terletak pada
garis atau bidang yang sejajar dengan horizon atau garis datar
mendatar.
Perumahan berasal dari kata rumah yang dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia memiliki arti bangunan untuk tempat
tinggal. Perumahan sendiri memiliki arti kumpulan beberapa
rumah atau rumah-rumah tinggal. Menurut Undang-Undang RI
No.4 thn 1992, perumahan adalah sekelompok rumah yang
berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.

15

Perumahan atau housing adalah tempat (ruang) dengan


fungsi dominan untuk tempat tinggal.
Rumah juga dapat diartikan sebagai berikut :

Tempat untuk berumah tangga, tempat tinggal/alamat,

lokasi tempat tinggal.


Bagian dari eksistensi individu/keluarga (terkait dengan

status, tempat kedudukan, identitas).


Bagian dari kawasan fungsional kota.
Investasi (keluarga atau perusahaan).
Ruang untuk rekreasi.
Ruang yang digunakan untuk menjalin kehidupan

keluarga.
Wadah sebagai batas privasi.

Berikut merupakan unsur unsur kekurangan dan


kelebihan yang di temukan pada hunian vertikal dan horizontal:

Pemakaian

dinding

statis,

sehingga

tidak

memungkinkan untuk melakukan perubahan volume


ruang dan perubahan hubungan antar ruang. Tidak
hanya itu, unsur lingkungan seperti sinar matahari yang
masuk, angin yang berhembus menjadi sebuah sesuatu
yang langka pada hunian vertikal, karena setiap jendela
apartemen di batasi, bahkan menjadi sebuah nilai jual
yang tinggi, berbeda dengan rumah landed dimana
sinar matahari dan angin yang berhembus merupakan
hal yang lumrah sehingga di masukkan pada rumah
sebanyak mungkin.

16

Dalam desain tipologi unit apartemen selalu pintu akan


bertemu dengan pintu, sehingga tidak ada unsur
sosialisasi sebagaimana seperti ruang komunal / teras
seperti perumahan landed pada umumnya. Menjadikan
setiap penghuninya menjadi tertutup dan menjadi kesan

dingin.
Pada bangunan hunian vertikal, minimnya ruang
terbuka hijau pada setiap unitnya sehingga menjadi
sebuah kelangkaan pada ruang terbuka pada hunian
vertikal untuk mendapatkan sebuah taman seperti di
rumah landed.

2.2. Tinjauan Khusus


2.2.1. Keberlanjutan
WCED (1987) Keberlanjutan adalah upaya memenuhi
kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi
mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Menurut
James Steele arsitektur keberlanjutan di ibaratkan dapat memenuhi
dari ketiga permasalahan, yaitu:

Lingkungan
Untuk mempertahankan sumber daya alam yang ada
untuk bertahan lebih lama karena memungkinkan terjadinya
perpaduan antar ekosistem, yang dikaitkan dengan umur
potensi vital sumber daya alam dan lingkungan ekologis
manusia, seperti iklim planet, keberagaman hayati, dan
perindustrian. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya

17

alam telah mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga


lambat tetapi pasti, bumi akan semakin kehilangan potensinya
untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari berbagai

eksploitasi terhadap alam tersebut.


Ekonomi
Merupakan pembangunan yang minimal mampu
mempertahankan karakter dari keadaan sosial setempat.
Namun, akan lebih baik lagi apabila pembangunan tersebut
justru meningkatkan kualitas sosial yang telah ada. Setiap
orang yang terlibat dalam pembangunan tersebut, baik sebagai
subjek maupun objek, haruslah mendapatkan perlakuan yang
adil. Hal ini diperlukan agar tercipta suatu stabilitas sosial

sehingga terbentuk budaya yang kondusif.


Sosial
Pembangunan dengan yang relatif rendah biaya
inisisi dan operasinya. Selain itu, dari segi ekonomi bisa
mendatangkan profit juga, selain menghadirkan benefit seperti
yang telah dilakukan pada aspek-aspek yang telah disebutkan
sebelumnya. Pembangunan ini memilki ciri produktif secara
kuantitas dan kualitasnya, serta memberikan peluang kerja dan
keuntungan lainnya untuk individu kelas menengah dan
bawah.
Berbeda sedikit berbeda pendapatnya dengan Kisho

Kurokawa

dalam

prinsip

pemikirannya

mengenai

desain

berkelanjutan adalah tumbuh dan dapat mendaur ulang, desain

18

berkelanjutan akan berkembang pada setiap bangunan baru dengan


sendirinya sehingga mulai meninggalkan desain yang lama, yang
merupakan akibat merambahnya isu pemanasan global sekarang
ini ke dalam dunia arsitektur.
Dan kembali lagi menurut WBDG (2011) Bangunan
adaptif dirancang untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan
dan kondisi, termasuk pada kondisi lingkungan seperti perubahan
iklim. Konsep dan teknologi di gunakan untuk mendukung sistem
bangunan adaptif. Bangunan adaptif memanfaatkan transfer
teknologi dari disiplin lain, yang dapat memungkinkan untuk
memproduksi massal pada bagian bangunan. Dan juga merupakan
metode pada bangunan adaptif untuk menciptakan sebuah
bangunan bahwa mereka mudah direnovasi dan dapat dengan
mudah diadaptasi untuk tujuan baru.
Elma Durmisevic (2006) Seperti yang telah ditunjukkan
dalam persamaan Speth, pada lingkungan yang tumbuh di tandai
peningkatan kesejahteraan rakyat. Semakin besar kemakmuran,
semakin besar juga sebuah produksi dalam industri. Namun, jika
sebuah barang yang dirancang untuk beradaptasi dengan
kebutuhan masyarakat, mereka akan bertahan lebih lama, jika
tidak, mereka dibuang. Oleh karena itu, komponen lain pada
pembangunan berkelanjutan adalah pertimbangan keragaman
kebutuhan masyarakat, yang dapat memiliki dampak manfaat
ekonomi. Prinsip ini juga harus berlaku untuk bangunan modern.
Sebuah bangunan harus dilihat sebagai produk yang diciptakan

19

untuk menjawab kebutuhan rakyat dan bukan untuk mengobati


kebutuhan rakyat. Bangunan harus dapat beradaptasi terhadap fase
kehidupan yang berbeda dari pengguna mereka dan tetap dapat
mempertahankan standar keamanan pada bangunan. Perilaku
manusia adalah tidak tetap, bahkan jika kita lakukan hal yang
sama kegiatan setiap hari kita bisa mendekati mereka dengan cara
yang berbeda, karena situasi dan suasana hati.
2.2.2. Adaptability Tranformable Space
Penggunaan istilah 'Adaptif pada Arsitektur' harus dilihat
dalam konteks antara beradaptasi dan adaptif. Adaptif pada
arsitektur berkaitan dengan bangunan yang secara khusus
dirancang untuk beradaptasi (dengan lingkungan mereka, untuk
penduduk, dan untuk benda di dalamnya). Hal ini dapat dilakukan
pada berbagai tingkat dan fungsi pada bangunan dan dapat
menggunakan teknologi digital (sensor, actuator, pengendali,
teknologi komunikasi). Mengambil konteks di atas merupakan
upaya untuk menggabungkan berbagai pendekatan-pendekatan,
seperti fleksibel, interaktif, responsif, pintar, cerdas, koperasi,
hybrid dan arsitektur campuran (Kronenburg, 2007, Bullivant
2005,

Harper,

2003,

Streitz

dkk.,

1999,

Zellner,

1999,

Schndelbach dkk., 2007).


Konsep dan teknologi untuk mendukung sistem bangunan
adaptif keduanya tersedia dan dapat diandalkan. Dalam sebuah
industri bangunan untuk memproduksi massal adalah untuk

20

mencapai bangunan yang berkelanjutan dan menurunkan biaya


sistem ini ke tingkat lebih rendah.
Adaptability adalah kemampuan untuk menyesuaikan
terhadap perubahan kebutuhan dan kondisi termasuk kondisi
lingkungan.

Transformable

adalah

kemampuan

untuk

menciptakan sistem fundamental baru ketika ekologi, struktur


ekonomi,

dan

sosial

membuat

sistem

yang

ada

dapat

dipertahankan. Ruang adalah berarti luasan, berarti rongga yang


di batasi atau di kelilingi oleh bidang, rongga yang tidak terbatas
(angkasa), dan rongga yang terisi (massa). Secara matematis,
ketentuan ruang terjadi dalam tiga dimensi (Heinz Frick, 1998).
Sehingga kesimpulannya adalah sebuah kemampuan untuk
menyesuaikan terhadap perubahan kebutuhan dan lingkungan
dengan menciptakan sistem fundamental baru pada ruang.
2.2.3. Skeleton Infill
Heinz Frick (1998) Pengertian bentuk struktur bangunan
dan konstruksi gedung adalah untuk menghuninya dengan
memanfaatkan ruang di dalamnya. Dengan demikian, penghuni
dengan tingkah lakunya menjadi bagian gedung dan arsitektur
tersebut. Arsitektur sebagai pembentuk dan pencipta ruang adalah
hasil karya manusia yang mengatur hubungan manusia dengan
alam sekitarnya, dengan kata lain adalah membangun berarti pula
mengatur ruang. Sistem bentuk struktur bangunan di mulai
dengan pengertian fungsi yang selalu statis. Padahal sistem
struktur bangunan tidak dapat selalu di wujudkan oleh bentuk

21

bangunan dengan alasan

bahwa fungsi bangunan tidak akan

berubah. Fungsi bangunan adalah hanya salah satu faktor yang


menentukan bentuk pada perencanaan bangunan.
Struktur tidak memiliki fungsi fungsional pada saat tiba
masa penghancurannya, sehingga kita harus menentukan potensi
pada struktur yang dapat di ubah untuk menyelesaikan
permasalahan pada apartemen. Pada gaya tradisional, elemen
pada bangunan berhubungan erat, dan tidak dapat memberikan
keleluasaan

pada perubahan fungsi yang berbeda, dan ini

merupakan salah satu permasalahan yang ada, karena seseorang


tinggal pada apartemen hingga waktu yang lama, sehingga
perubahan kebutuhan akan semakin terasa. Bangunan yang lama
sangat bergantung pada struktur, fasad, dinding, dan instalasi
yang sangat tertutup terhadap perubahan kebutuhan seiring
berjalannya waktu, sehingga pada akhirnya berujung pada
pembongkaran, bahkan banyak apartemen yang baru rampung,
langsung di bongkar karna tidak sesuai dengan kebutuhan
pemiliknya. Seperti gambar 2.3 di bawah ini yang menjelaskan
bahwa sistem dengan gaya radisional menggunakan sistem
tertutup.

Gambar 2.3 Pola hubungan pada sistem tertutup, Sumber: Transformable


Building Structure (2006)

22

Gambar 2.4 Pola hubungan dengan sistem relasional, Sumber: Transformable


Building Structure (2006)

Pada gambar 2.4 di mana sebagian struktur terurai yang


tergantung pada strategi desainnya, dimana ada elemen yang tetap
dan elemen yang dapat adaptif. Elemen yang statis/tetap
merupakan wadah terhadap elemen dengan tingkat adaptasi yang
tinggi yang dapat memungkinkan perubahan spasial dan
fungsional. Dan elemen yang dapat adaptif merupakan elemen
yang sering terkena dengan perubahan, sehingga perubahan
elemen ini perlu di batasi dengan menggunakan elemen statis.

Gambar 2.5 Pola hubungan dengan sistem dinamis yang bergantung pada fungsi,
Sumber: Transformable Building Structure (2006)

Yang terakhir adalah pada gambar 2.5 membuat semua


elemen bangunan menjadi dinamis, dimana semua permasalahan
menjadi sebuah masalah yang dapat di selesaikan secara
independen dengan melakukan pemisahan pada material,

23

pembuatan hierarki yang terbuka sehingga dapat menjadi


bangunan yang setiap elemennya terpisah pisah dan dapat di
ganti dengan mudah. Sehingga konfigurasi ini menjadi sebuah
kemerdekaan pada bangunan, karena mereka dapat di daur ulang
melalui fungsional, dan teknis.
Serupa seperti yang di serukan oleh Habraken (1998)
Menurunkan sebuah konfigurasi ke tingkat yang rendah dan lebih
memudah untuk melakukan sebuah perubahan daripada dari
konfigurasi yang lebih besar. Pada gambar 2.6 menunjukkan
sebuah hierarki yang tergantung pada pengambilan keputusan dari
dalam, yang berarti dalam 1 tingkat perubahan akan mengubah
elemen yang lainnya.

Gambar 2.6 Pola hubungan pada sistem tertutup, Sumber: Transformable


Building Structure (2006)

Sedangkan gambar 2.7 menunjukkan tingkat horisontal


yang

independen

dalam

pengambilan

keputusan

yang

menyediakan kerangka kerja yang fleksibel untuk modifikasi


masa depan. Solusinya dengan menggunakan skeleton infill.

24

Gambar 2.7 Pola hubungan dengan sistem relasional, Sumber: Transformable


Building Structure (2006)

Skeleton / infill adalah istilah yang digunakan di Jepang


untuk

menggambarkan

pemisahan

sistem

bangunan

dan

keputusan menurut subsistem pendekatan membedakan kerangka


(termasuk kolom dan sistem utilitas) atau hanya bangunan dasar
saja (Prof. Dr. Stephen Kendall, Building Futures Institute, Ball
State University ).
Sistem skeleton biasanya di desain untuk dapat bertahan
untuk 100 tahun dan infill di desain untuk melakukan perubahan
pada ruang, pada skemanya lebih jelas seperti pada gambar
berikut:

25

Gambar 2.8 Penjelasan pembagian skeleton dan infill, Sumber: Masaki Muto dan
K.Imamoto, google books.co.id (2006)

Perencanaan dan penggunaan material merupakan salah


satu kunci untuk bangunan skeleton infill. Performa dari beton
yang di pakai sangat efektif mempengaruhi dalam pemakaian
skeleton untuk bangunan berkelanjutan. Kelebihan pada sistem
ini terletak pada memberikan potensi untuk infill (di masukkan),
untuk dirakit, diubah, dan diturunkan secara independen satu
sama lain dalam batasan desain yang ada.
2.2.4. Contoh Konsep Skeleton Infill
Tabel 2.1 Contoh Konsep Skeleton Infill

Contoh Proyek

Keterangan
Plug in City-Peter Cook, 1964
Sebuah konsep plug in city yang
menerapkan konsep struktur yang
dapat di pakai lebih lama dan
modul yang dipakai dalam jangka
sebentar. Pada garis diagonal dapat
membuat
untuk

sebuah

penambahan

bangunan

bertumbuh

26
dengan
kapsul

menambahkan
atau

merubah

modul
bentuk

modul kapsul yang telah ada.


Sehingga jika terjadi kerusakan
dan

pergantian

tidak

akan

mempengaruhi sistem struktur.

Kapsul Tower-Warren Chalk, 1964


Sebuah tower berbentuk tabung
yang di kelilingi oleh kapsul yang
mengelilinginya.
merupakan

Tower

mengikuti

ini
konsep

Plug in City yang mengizinkan


elemen yang dapat di ganti dengan
crane. Pada kapsul ini terdiri dari
bermacam macam variasi bentuk
yang

terinpirasi

desain

untuk

efisiensi ruang.

Hotel Kapsul Nakagin - Kisho


Kurokawa, 1979
Merupakan contoh pengaplikasian
dari konsep metabolis di jepang,
yang dimana sebuah kapsul dapat
di

gantikan

jikau

mengalami

kerusakan. Pada modul di bentuk


dari prefabrikasi yang di baut
pada di ujungnya, sehingga hanya
menggunakan 4 baut saja.

27

Kesimpulannya adalah dengan menggunakan sistem skeleton infill dapat


berpotensi untuk bangunan dapat di ganti dan berkembang tanpa mengganggu
pada struktur utama.
Sumber: Olahan Peneliti

2.2.5. Pengisi Skeleton Infill


Pada skeleton infiil akan di fill dengan pemakaian konsep
arsitektur origami. Arsitektur origami adalah memahami dari teori
origami untuk sebuah desain arsitektural, dan pada desainnya
sangat kental dengan karakteristik dari sebuah origami. Arsitektur
origami bisa menjadi sebuah solusi untuk desain ruang adaptif.
Tomohiro Tachi (2011) Potensi pada pengunaan lipatan pada
origami adalah sebagai berikut:
1. Tepat di gunakan di lingkungan yang adaptif.
2. Berkonteks pada desain yang dapat di rubah rubah.
3. Orientasi pada fabrikasi desain.
Dan berikut merupakan manfaat yang di dapatkan jika
menggunakan Arsitektural Origami:
1. Bisa menjadikan sebuah struktur menjadi lebih kaku
dan memperkecil kemungkinan untuk rubuh.
2. Dapat disinkronisasi dengan gerak lipat

yang

kompleks, menggunakan engsel rotasi dapat dikontrol


dengan sederhana.

28

3. Mekanisme perubahan yang tidak bergantung pada


fleksibilitas material-material, dalam artian dapat
dibuat dari panel kaku tebal dengan engsel.
4. Berpotensi untuk pembungkus ruang ruang, partisi, dan
fasad bangunan.
2.2.6. Prinsip Penerapan Lipatan
Tomohiro Tachi (2011) Rigid-foldable origami adalah
origami dengan bentuk pecahan yang linear dan transformable
tanpa terdeformasi setiap aspeknya. Oleh karena itu, lipatan yang
kaku dapat tercipta dengan menggunakan panel dan engsel, yang
memiliki keunggulan untuk berbagai keperluan, terutama pada
desain kinetik arsitektur. Pada konteks matematika, origami adalah
dianggap sebagai permukaan dengan tanpa ketebalan. Namun
berbeda jika di gunakan untuk struktur kinetik dengan skala besar,
maka perlu mempertimbangkan di gunakannya mekanisme yang
mengharuskan panel memiliki ketebalan. Misalnya penggunaan
dalam desain ruang arsitektur harus membutuhkan struktur terdiri
dari panel tebal atau komposit struktur yang tiga dimensi dengan
volume yang berfungsi untuk menanggung gravitasi dan beban
lain dan untuk mengisolasi panas, radiasi, suara, dll. Dan
menggunakan engsel yang di gunakan untuk mengalirkan beban
dari berat panel itu sendiri.
2.2.7. Contoh Penerapan Dinding Lipatan

29
Tabel 2.2 Contoh penerapan dinding lipatan

Contoh

Keterangan
Eagle Ridge Resort & SPA
Penggunaan dinding lipat pada
resort ini berguna untuk membagi
ruang dengan temporari, sehingga
dapat

membagi

ruang

rapat

menjadi beberapa bagian dengan


cepat dan mudah.

Berdasarkan produk dari Hufcor,


dinding akordion merupakan salah
satu cara tercepat dan

paling

ekonomis untuk mengatur ruang


dan melindungi dari suara yang
mengganggu. Dan juga dari segi
penampilan

memiliki

bentuk

lipatan yang menarik, efek dari


lipatan tersebut ketika di berikan
dorongan

mempercepat

untuk

perubahan volume pada sebuah


ruang.
Kesimpulannya

adalah

menggunakan

dinding

lipat

seperti

akordion

mempermudah dalam hal membagi ruang dan mengembalikannya ke volume


semula, sehingga dapat di katakana menjadi sebuah dinding adaptif untuk
merubah volume ruang sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
Sumber: Olahan Peneliti