Anda di halaman 1dari 6

SWA-ORGANISASI

Biologi manusia menciptakan sebuah predisposisi untuk memecahkan


persoalan-persoalan tindakan kolektif, tetapi norma-norma dan metanormametanorma pertikular yang dipilih oleh kelompok individu tertentu adalah pilihan
kultural, bukan produk dari alam. Oleh karnanya, adalah penting untuk bergerak
melampaui struktur kognitif dan emosional yang bersifat universal bagi seluruh umat
manusia, menuju norma-norma aktual yang telah lama dimunculkan dan diubah oleh
masyarakat manusia.
Norma-norma itu mungkin muncul sebagai akibat dari pilihan rasional,
hierarkis, seperti dalam kasus konstitusi Amerika; norma-norma itu mungkin berasal
dari sumber-sumber hierarkis irasional, seperti ketika musa menyampaikan sepuluh
perintah dari gunung sinai; norma-norma itu juga mungkin merupakan hasil dari
negosiasi rasional dan spontan, seperti dalam kasus slug atau hukum umum dalam
tradisi legal Anglo-Saxon; atau norma-norma itu juga mungkin muncul secara
spontan dari sumber-sumber irasional, seperti dalam kasus larangan inses atau
agama rakyat (folk religion). Dengan sedikit menyederhanakan, kita mungkin
menggambarkan kuadran-kuadran ini sebagai norma-norma yang secara alternatif
bersifat politis,relijius, swatur, atau alami.
Adalah mungkin untuk membuat hipotesis, seperti sering dilakukan, bahwa
ketika masyarakat mengalami modernisasi, norma-norma cenderung diciptakan
lebih sedikit dalam kuadran bawah ketimbang dalam kuadran atas, dan secara
partikular di kuadran kiri atas (melalui otoritas pemerintahan). Semuanya
mengisyaratkan bahwa otoritas legal formal dan rasional, yang sering ditetapkan
dalam negara, menjadi sumber utama dari tatanan dalam masyarakat modern.
Namun, ketika setiap orang berusaha untuk melampaui tiket dari aturan-aturan tak
tertulis yang berkaitan dengan hubungan-hubungan jender di tempat kerja Amerika
modern atau sekolah mengetahui bahwa norma-norma informal tidek lenyap ndari
kehidupan modern dan tidak mungkin akan hilang di masa mendatang.
Apakah hukum-hukum formal hanya mengkodifikasikan praktik-praktik sosial
yang telah eksis, atau hukum-hukum itu memainkan peran tertentu dalam bentuk
moralitas ? Teoritisi hukum Robert Ellickson memberi nama kaum pinggiran hukum
(legal peripheralists) pada mereka yang menganggap hukum formal sebagi refleksi
dari norma-norma informal, dan mereka yang menganggap hukum sebagai hal
penting bagi pembentukan norma-norma kaum sentaralis hukum (legal centralists).
Analisis mengenai dari mana norma-norma itu berasal diwarnai oleh prefensiprefensi ideologis kuat yang dimiliki oleh masyarakat seperti dari mana seharusnya
norma-norma itu berasal. Mimpi yang paling diidam-idamkan secara umum oleh
kaum anarkis abad ke-19, kaum hippies dari tahun 1960-an, kaum libertarian
antipemerintah kanan, dan teknolibertarian Kini adalah bahwa negara akan lenyap,
tidak digantikan oleh perang semua melawan semua hobbessian, tetapi oleh

koeksistensi damai berdasarkan kesetiaan norma-norma sosial informal. Tipe


tatanan terbaik, dengan kata lain, adalah tatanan spontan. Sebaliknya, ada banyak
orang dikalangan kaum Kiri yang menganggap norma-norma informal sebagai sisasisa (vestiges) masa lalu elitis, borjuis, rasis, atau eksis dan ingin menggunakan
kekuatan hierarkis formal dari negara membentuk kembali individu-individu menurut
citra dambaan mereka (yakni, manusia Soviet baru atau laki-laki yang
terfeminimkan, peduli, dan kontemporer). Para pesaing mereka dikalangan Kanan
menyerukan agama hierarkis untuk mencapai tujuan-tujuan yang sama.
Oleh karna masyarakat cenderung lebih menyadari norma-norma yang
berasal dari otoritas hierarkis ketimbang dari tatanan luas kerja sama manusia-nya
Hayek, mungkin berguna untuk melihat lebih dekat pada dua kuadran disisi kanan
untuk mulai memahami luas dan batas-batas dari tatanan spontan. Swa-organisasi
telah menjadi kata kunci (buzzword) bukan hanya dikalangan ekonom dan biolog,
tetapi juga dikalangan para guru teknologi informasi, konsultan manajemen, dan
para guru besar sekolah bisnis, banyak diantaranya yang telah mendirikan
organisasi-organisasi penasehat kehidupan untuk melepaskan hierarki dan
mengorganisasi diri mereka sendiri secara biologis yaitu melalui bentuk-bentuk
kerja sama sukarela yang sangat terdesentralisasi. Namun, sementara
swaorganisasi merupakan sumber penting dari tatanan sosial, ia hanya bisa berada
dalam kondisi-kondisi tertentu yang berbeda dan bukan merupakan formula
universal untuk mencapai koordinasi dalam kelompok-kelompok manusia.
Kita berasumsi bahwa banyak adat-istiadat rakyat yang tidak dimandatkan
secaram hierarkis maupun tidak dinegosiasikan secara rasional, tetapi dimulai begitu
saja karena sebagian wiraswastawan budaya (cultural enterpreneur) sudah
memutuskan, misalnya, untuk mengangga batu setempat sebagai sumber
keuntungan dalam berburu, hanya untuk melihat batu sesembahan diseluruh
komunitas itu. Bahkan dalam ekonomi modern, ia tidak harus mengasumsikan
bahwa organisasi-organisasi berinovasi secara rasional; organisasi-organisasi itu
seringkali menyalahi teknologi mereka atau organisasi internal mereka atas dasar
pertimbangan yang acak dan harapan untuk memperoleh yang terbaik. Kompetisi
dalam jangka panjang secara otomatis menyingkirkan alternatif-alternatif inferior.
Penciptaan norma manusia, bagaimanapun, seringkali merupakan niat baik
yang lebih kompleks dan bertujuan ketimbang mutasi genetik acak. Meskipun
norma-norma itu acapkali merupakan produk dari negosiasi dan tawar-menawar
eksplisit. Jumlah terbesar dari kajian teoritis dan empiris mengenai tatanan spontan
telah melahirkan , selama generasi yang lalu, ekonomi dan bidang-bidang terkait
seperti Hukum dan Ekonomi serta Pilihan Publik. Banyak kajian awal dalam genre ini
membahas asal-usul norma yang berkaitan dengan hak-hak kepemilikan. Yang
disebut sumber daya umum adalah yang dibagi dalam komunitas-komunitas
sumber-sumber daya seperti padang rumput, perikanan, hutan, air bawah tanah,
udara yang kita hirup secara khusus memunculkan persoalan-persoalan yang sulit
mengenai kerja sama karena sumber-sumber daya tersebut tunduk pada apa yang

dirujuk Garret hardin sebagai tragedi dari hal-hal bersama (tragedy of the
commons). Sumber-sumber daya bersama ini merupakan barang-barang publik
yang bisa dinikmati di antara sekelompok orang tanpa mempertimbangkan upaya
individual yang dilakukan untuk menciptakan atau memeliharanya, atau yang lain
tunduk pada eksternalitas-eksternalitas positif dan negatif (seseorang individu yang
memelihara arus untuk air tawar tidak hanya menguntungkan dirinya, tetapi
menguntungkan setiap orang yang memancing di tempat tersebut; sebaliknya, ia
bisa mencemari air aliran itu dan memaksakan biaya sosial terhadap orang lain
dalam komunitas tersebut).
Tragedi dari hal-hal bersama sebenarnya tidak lain dari sebuah permainan
dilema tahanan yang diperluas, dengan banyak pemain, di mana masing-masing
peserta memiliki sebuah pilihan antara memberi kontribusi untuk meningkatkan
sumber daya bersama (bekerja sama) atau menyingkirkan (menipu). Tidak seperti
dilema tahanan ber-sisi dua, persoalan free-rider tidak bisa dipecahkan seketika
melalui pengulangan sederhana, terutama ketika ukuran dari kelompok orang-orang
yang bekerja sama tumbuh semakin besar. Dalam kelompok-kelompok yang lebih
besar, free-riding menjadi lebih sulit untuk dideteksi. Persoalan free-rider telah lama
menjadi sumber perhatian luar biasa oleh para ekonom dan ilmuwan sosial lain
selama generasi yang lalu sebagai kunci untuk memecahkan persoalan yang lebih
luas mengenai asal-muasal kerja sama manusia.
Hardin menyatakan bahwa tragedi dari hal-hal bersama mengarah pada
kehancuran sosial seperti laut yang terlalu banyak diambil ikannya dan padang
rumput yang terlalu sering dibabat. Persoalan membagi sumber daya bersama bisa
dipecahkan, menurut dia, hanya melalui otoritas hierarkis, yaitu oleh sebuah negara
koersif atau bahkan lembaga hukum supranasional. Contoh yang ia berikan adalah
kelebihan penduduk, di mana perhatian orang tua dalam mengasuh anak-anaknya
secara kolektif menghabiskan sumber daya planet ini dan harus dibatasi melalui
ukuran-ukuran pengendalian penduduk yang kuat. Ekonomi Mancur Olson
menyatakan dalam karya klasiknya mengenai subjek itu bahwa persoalan provisi
barang-barang publik bisa dipecahkan bahkan melalui metode hierarkis Hardin
(sebuah negara koersif yang, misalnya, memaksa masyarakat untuk membayar
pajak penghasilan) atau oleh pengguna tunggal dari barang publik itu yang jauh
lebih besar ketimbang orang-orang lain yang bersedia memberikannya secara
unilateral dan menerima free-riding karena barang itu memang penting.
Berkebalikan dengan pendekatan hierarkis terhadap kemunculan norma ini,
sejumlah ekonom menyarankan pendekatan-pendekatan yang lebih spontan. Satu
solusi sederhana ialah mengubah sumber-sumber daya bersama menjadi
kepemilikan pribadi. Ekonom Howard Demsetz menyatakan bahwa dengan
menginternalisasikan berbagai eksternalitas yaitu, dengan mengubah kepemilikan
publik menjadi kepemilikan pribadi, para pemilik individual kemudian akan memiliki
keinginan untuk melindunginya. Ini menurutnya, merupakan pola historis aktual di
kalangan kaum indian semenanjung Labrador pada permulaan abad ke-18. Douglas

North dan Robert Thomas mengembangkan argumen ini untuk menjelaskan


munculnya hak-hak kepemilikan di eropa selama periode yang sangat panjang, dari
1000 M hingga 1800 M. Persoalan dengan pendekatan ini adalah bahwa banyak
sumber-sumber daya bersama, barang-barang publik, eksternalitas-eksternalitas
tidak bisa begitu saja diubah menjadi kepemilikan pribadi, karena sumber-sumber
daya itu selalu bergerak (seperti udara dan ikan) atau tidak bisa dibagi begitu saj
(seperti kapal induk dan senjata nuklir).
Asal-muasal dari bidang hukum dan ekonomi utuh adalah artikel yang sering
dikutip dari ekonom Universitas Chicago, Ronald Coase, The Problem of Social
Change, di mana ia menyatakan bahwa ketika biaya-biaya transaksi berada pada
angka nol, perubahan dalam aturan-aturan formal tentang pertanggungjawaban
(liability) tidak akan memiliki pengaruh terhadap alokasi sumber daya. Ditetapkan
secar berbeda, jika berbagai negosiasi antara kelompok-kelompok pribadi tanpa
biaya, maka tidak perlu bagi pemerintah untuk mengintervensi guna menentukan
kebijakan-kebijakan bagi para pencemar atau produsen dari berbagai eksternalitas
negatif, karena kelompok-kelompok yang dpengaruhi secara negatif akan memiliki
insentif rasional untuk mengorganisasi dan menyingkirkan perusuh. Contoh yang
digunakan Coase untuk menggambarkan persoalan ini adalah konflik antara para
peternak dan petani akibat ternak yang memasuki bidang pertanian dan
menyebabkan kerusakan. Negara bisa ikut campur untuk membuat para peternak
agar mencegah ternak mereka melakukan kerusakan. Norma-norma kebijakan
sosial, akan muncul dari interaksi-interaksi swakepentingan agen-agen individual
dan tidak dimandatkan melalui hukum atau lembaga-lembaga formal.
Persoalan menerapkan teori Coase pada berbagai situasi dunia riil adalah
bahwa biaya transaksi nyaris tidak pernah nol. Ia biasanya menuntut individuindividu pribadi untuk melakukan berbagai persetujuan yang fair satu sama lain,
terutama ketika salah satunya secara substansial lebih kaya atau lebih berkuasa
dibanding yang lain. Di sisi lain, biaya-biaya transaksi sudah lama cukup rendah
dalam banyak kasus yang mampu diidentifikasi oleh para ekonom dari sejumlah
kasus swaorganisasi yang menonjol, di mana norma-norma sosial diciptakan melalui
proses dari bawah ke atas (bottom-up). Robert Sugden menggambarkan aturanaturan untuk membagi pelambung-pelambung dipantai Inggris, di mana yang
datang dulu dilayani dulu tetapi hanya jika mereka menerima sejumlah yang
moderat. Robert Ellickson memberikan banyak contoh mengenai aturan-aturan
ekonomi spontan. Para penangkap ikan Amerika abad ke-19, misalnya, seringkali
menghadapi konflik-konflik potensial alat penangkap ikan akan diseruit oleh sebuah
kapal yang melaju bebas dan ditangkap serta dijual oleh kapal lain yang tidak
menghabiskan waktu dan melakukan upaya untuk menangkapnya. Para penangkap
ikan mengembangkan serangkaian aturan-aturan formal ekstensif untuk mengatur
berbagai situasi ini dan membagi hasil tangkapan secara adil. Riset bidang yang
rinci dari Ellickson sendiri menunjukkan bahwa para peternak dan petani di Shanta
Country, California, pada kenyataannya telah menetapkan serangkaian norma

informal untuk melindungi kepentingan mereka masing-masing, sebagaimana yang


diprediksikan Coase akan terjadi.
Banyak dari literatur tatanan spontan cenderung anekdotal dan tidak
memberikan sense yang baik mengenai betapa seringnya norma-norma baru
diciptakan secara aktual dengan cara yang terdesentralisasi. Satu pengecualian
adalah karya dari ilmuwan politik Elinor Ostorm, yang telah mengoleksi lima ribu
kasus kajian mengenai sumber daya bersama, jumlah yang cukup untuk
memungkinkannya memulai membuat berbagai generalisasi lapangan secara
empiris tentang fenomena tersebut. Konklusinya yang luas adalah bahwa
komunitas-komunitas manusia di berbagai tempat dan zaman telah menemukan
berbagai solusi untuk tragedi dari hal-hal bersama jauh lebih sering ketimbang yang
diprediksikan secara umum. Banyak dari solusi-solusi ini tidak melibatkan privatisasi
sumber-sumber daya bersama (solusi yang didukung oleh banyak ekonom ) maupun
regulasi oleh negara (solusi yang sering didukung oleh para nonekonom). Namun,
komunitas-komunitas itu mampu menciptakan aturan-aturan informal dan kadangkadang formal untuk pembagian sumber-sumber daya bersama dengan cara yang
adil dan tidak mengarah pada penyingkiran atau pengurasan prematur berbagai
sumber daya tersebut. Solusi-solusi ini difasilitasi oleh kondisi yang sama yang
membuat dilema tahanan bersisi dua bisa dipecahkan: pengulangan. Yaitu, jika
orang-orang mengetahui bahwa mereka harus terus hidup dengan orang lain dalam
komunitas-komunitas yang terikat di mana kerja sama berkelanjutan akan beroleh
balasan, mereka mengembangkan kepentingan dalam berbagai reputasi mereka
sendiri, dan juga dalam memantau dan menghukum mereka yang melanggar
aturan-aturan komunitas.
Banyak dari contoh Ostorm mengenai aturan-aturan yang berkaitan dengan
pembagian sumber daya bersama melibatkan komunitas-komunitas tradisional
dalam masyarakat praindustri. Swaorganisasi juga terjadi dalam komunitaskomunitas maju. Salah satu dari contohnya berkaitan dengan pembagian sumber
daya air bawah tanah oleh berbagai komunitas di California selatan. Sumber-sumber
daya ini bisa dialokasikan oleh otoritas hierarkis tingkat tinggi seperti pemerintah
federal, tetapi Ostorm menunjukkan bahwa wilayah-wilayah dan kota-kota stempat
yang bernogosiasi satu sama lain melalui sitem pengadilan mempu menciptakan
aturan-aturan yang fair untuk membagi sumber daya itu tanpa harus
menyingkirkannya. Tidak semua wilayah California selatan mampu mencapai jenis
persetujuan ini yang menunjukkan bahwa swa-organisasi tidak bisa selalu
diandalkan.
Selain contoh-contoh tersebar mengenai petani, peternak, nelayan dan
komunitas-komunitas lain yang berbagi sumber daya bersama, kita juga
menemukan perilaku swa-organisasi yang muncul di jantung tempat kerja modern
berteknologi tinggi. Korporasi, perusahaan-perusahaan, dan kantor-kantor di awal
abad ke-20 yang diciptakannya merupakan benteng-benteng pertahanan dari
otoritas hierarkis, yang mengontrol ribuan pekerja melalui sistem aturan yang kaku

dengan cara yang sangat otoritarian. Yang kita saksikan di banyak tempat kerja
kontemporer adalah sesuatu yang bertentangan: hubungan formal, diikat aturan,
hierarkis tengah digantikan oleh aturan-aturan yang flatter yang memberikan lingkup
otoritas lebih luas pada para bawahan, dan didasarkan pada norma-norma atau
nilai-nilai bersama yang memungkinkan individu untuk bekerja bersama demi tujuantujuan bersama tanpa arahan formal. Dengan kata lain, ia didasarkan pada social
capital, yang menjadi lebih dari sekedar kurang penting seperti kompleksitas dan
intensitas teknologis dari peningkatan ekonomi.