Anda di halaman 1dari 10

Legitimasi Carok Dalam Budaya Masyarakat Madura

A. Pendahuluan
Madura merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang termasuk dalam
cakupan wilayah provinsi Jawa Timur. Letak pulau tersebut berada di sebelah timur
pulau Jawa. Kondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di
bagian selatan dan semakin ke arah utara tidak terjadi perbedaan elevansi ketinggian
yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi
dan tanah pertanian lahan kering.
Menurut Alwi (2001), masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang
khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Penggunaan istilah khas menunjuk pada
pengertian bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak
serupa dengan etnografi komunitas etnik lain (Pogolamum, 2013). Keunikan budaya
Madura pada dasarnya banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan
topografis hidraulis dan lahan pertanian tadah hujan yang cenderung tandus sehingga
cara mempertahankan kehidupannya lebih banyak melaut sebagai mata pencaharian
utamanya. Masyarakat Madura dibentuk oleh kehidupan bahari yang penuh
tantangan dan resiko sehingga memunculkan keberanian jiwa dan fisik yang tinggi,
berjiwa keras dan ulet, penuh percaya diri, bersikap terbuka, lugas dalam bertutur,
serta menjunjung martabat dan harga diri. Watak dasar bentukan iklim bahari yang
demikian, kadangkala diekspresikan secara berlebihan sehingga memunculkan
konflik dan tindak kekerasan fisik. Perilaku penuh konflik disertai tindak kekerasan
tersebut dikukuhkan dan dilekatkan sebagai keunikan budaya pada tiap individu
kelompok atau sosok komunitas etnik Madura.
Penghormatan yang berlebihan atas martabat dan harga diri etniknya itu
seringkali menjadi akar penyebab dari berbagai konflik dan kekerasan. Seringkali
keunikan budaya melahirkan perilaku absurd berupa sikap defensif sebagian
kelompok etnik Madura. Misalnya, orang Madura dikenal mudah tersinggung hargadirinya dan kemudian marah-marah, kemudian memilih alternatif solusi atas
ketersinggungannya itu melalui kekerasan fisik, berupa carok.
Sikap orang Madura yang dengan mudah dapat tersinggung harga dirinya,
dan melampiaskannya dengan melakukan tindak kekerasan, oleh etnik lain dinilai

sebagai stereotipe negatif. Penggunaan istilah stereotipe dalam etnografi diartikan


sebagai konsepsi mengenai sifat atau karakter suatu kelompok etnik berdasarkan
prasangka subjektif yang tidak tepat oleh kelompok etnik lainnya (Alwi, 2001).
Perilaku dan pola kehidupan kelompok etnik Madura tampak sering dikesankan atas
dasar prasangka subjektif oleh orang luar Madura. Kesan demikian muncul dari suatu
pencitraan yang tidak tepat, baik berkonotasi positif maupun negatif. Mustofa (2001)
memberikan

contoh

stereotip

etnis

Madura

di

Kalimantan

diantaranya

bertemperamen keras dan kasar (kecuali yang dari Sumenep), arogan, keras, mudah
tersinggung, angkuh, pendendam, suka carok karena balas dendam (Pogolamum,
2013).
Orang Madura yang melakukan tindakan kekerasan, dalam bentuk carok
untuk membela harga diri dan kehormatan akan dinilai dan dipandang memiliki
keberanian sebagai seorang blater. Orang Madura yang mengambil jalan toleran,
bukan tindakan carok ketika dihadapkan dengan kasus-kasus pembelaan harga diri
seperti di atas akan dipandang oleh masyarakat Madura sebagai orang atau keluarga
yang tidak memiliki jiwa keblateran.
Banyak kasus menunjukkan di dalam masyarakat, yakni seseorang yang
sebelumnya dipandang bukan sebagai golongan blater, disebut sebagai blater oleh
warga lainnya karena berani melakukan carok. Apalagi menang dalam adu kekerasan
carok itu. Jadi penyebutan masyarakat atas sosok blater dalam hal ini sangat erat
kaitanya dengan keberanian melakukan carok dalam menghadapi konflik dan
permasalahan di dalam lingkungan masyarakat.
Di sini carok dijadikan sebagai arena legitimasi untuk mengukuhkan status
sosial seseorang sebagai seorang blater. Jadi identitas keblateran dapat merujuk pada
sifat pemberani, angkuh dan punya nyali menempuh jalur kekerasan dalam
penyelesaian konflik harga diri. Meskipun carok bukanlah satu-satunya arena untuk
melegitimasi status seseorang menjadi blater. Masih banyak arena sosial lainnya
yang membentuk dan memproses seseorang menjadi blater. Misalnya, kedekatan
seseorang dengan tradisi kerapan sapi, sabung ayam, jaringan kriminalitas dan remoh
blater. Seseorang sudah memiliki identitas dan status sosial sebagai seorang blater
eksistensinya memiliki posisi sosial tertentu di dalam masyarakat Madura. Sosok

blater selalu disegani dan dihormati secara sosial. Sangat jarang sekali ditemukan
seseorang yang sudah dikategorikan sebagai blater dipandang rendah secara sosial.
B. Pembahasan
Carok oleh masyarakat madura dianggap semata-mata sebagai urusan lakilaki bukan urusan perempuan karena semua pelaku carok adalah laki-laki sehingga
pembunuhan terhadap perempuan tidak disebut sebagai carok tetapi sebagai
pembunuhan biasa atau matee oreng.
Pengertian

carok

adalah

suatu

tindakan

atau

upaya

pembunuhan

menggunakan senjata tajam pada umunya celurit yang dilakukan oleh orang laki-laki
dewasa terhadap laki-laki lain yang dianggap telah melakukan pelecehan terhadap
harga diri, terutama berkaitan dengan masalah kehormatan istri sehingga membuat
malo.
Carok adalah sebuah bentuk pembelaan harga diri ketika diinjak-injak oleh
orang lain, yang berhubungan dengan harta, tahta, dan, wanita. Intinya adalah demi
kehormatan.
1. Pandangan tentang carok
Kasus carok kebanyakan bersumber dari perasaan malo atau perasaan terhina
karena harga dirinya dilecehkan. Sebelumnya kita bedakan arti dari malo dan todus
terlebih dahulu. Todus muncul dari dalam diri seseorang sebagai akibat dari tindakan
dirinya sendiri yang menyimpang dari aturan-aturan normatif. Malo muncul sebagai
akibat dari perlakuan orang lain yang mengingkari atau tidak mengakui kapasitas
dirinya sehingga yang bersangkutan merasa menjadi tada ajhina yang berarti
eksistensi diri yang dianggap sudah tidak mempunyai arti atau makna lagi. Bagi
orang Madura, tindakan tidak menghargai dan tidak mengakui atau mengingkari
peran sosial pada gilirannya akan menimbulkan perasaan malo. Dengan demikian,
ada tidaknya tindakan pelecehan harga diri merupakan indikator penting untuk
membedakan antara malo dan todus.
Orang Madura yang malo karena dilecehkan harga dirinya kemudian
melakukan carok disebut sebagai pelaku carok. akan tetapi, ketika carok benar-benar
terjadi, yang dimaksud dengan pelaku carok adalah kedua belah pihak, baik pihak
yang merasa harga dirinya dilecehkan (yang menyerang) maupun pihak yang

dianggap melakukan pelecehan itu (yang diserang). Apabila seorang laki-laki yang
dilecehkan harga dirinya, namun kemudian ternyata tidak berani melakukan Carok,
orang Madura akan mencemoohnya sebagai tidak laki-laki (lolake). Bahkan,
beberapa masyarakat justru menyebutnya sebagai bukan orang Madura.
Bagi pelaku carok yang menang dan tergolong sebagai orang jago, ada
kecenderungan akan selalu menyimpan celurit yang pernah digunakan ketika
membunuh musuhnya sebagai bukti atas kemenangannya itu. Celurit ini disimpan
dan dirawat dengan baik, tanpa mengusik sedikit pun sisa-sisa darah yang masih
melekat, meskipun akhirnya menjadi kering dan terlihat sebagai bercakbercak hitam.
Bercak-bercak darah inilah yang menjadi tanda bukti kepada semua orang bahwa
celurit itu pernah dipakai untuk membunuh musuhnya. Dengan demikian, celurit
tersebut menjadi simbolisasi kemenangannya.
Rasa kultural yang menimbulkan rasa maloh dapat menimbulkan tindakan
kekerasan atau carok di dalam pengalaman orang Madura berkaitan dengan kasuskasus berikut ini; 1) gangguan atas istri. Orang Madura akan mudah terpancing dan
melakukan pembelaan dalam bentuk carok kalau istrinya diganggu. Begitu juga
dengan adanya sikap cemburu, kalau kemudian terjadi perselingkuhan sang istri
dengan orang lain. Lelaki yang berselingkuh dengan istri orang itulah yang akan
menjadi sasaran dari sang suami. 2) Balas dendam. Upaya melakukan pembalasan
bila

terdapat diantara

salah satu anggota keluaraga yang

terbunuh. 3)

Mempertahankan martabat dan 4) Mempertahankan harta warisan (Wiyata, 2002).


Jadi dalam peristiwa carok motif dan sasarannya sangat jelas, yakni individu yang
sedang saling berselisih paham yang sulit didamaikan karena sudah menyangkut
harga diri yang terluka.
Tindakan mengganggu istri orang atau perselingkuhan merupakan bentuk
pelecehan harga diri paling menyakitkan bagi laki-laki Madura. Oleh karena itu,
tidak ada cara lain untuk menebusnya kecuali membunuh orang yang
mengganggunya. Saya kawin dinikahkan oleh penghulu, disaksikan oleh orang
banyak, serta dengan memenuhi peraturan agama. Maka, siapa yang mengganggu
istri saya, oleh karena itu, martabat dan kehormatan istri merupakan manifestasi dari
martabat dan kehormatan suami saya, oleh dari martabat dan kehormatan suami,
karena istri adalah bhantalla pate (landasan kematian) (Wiyata, 2002).

Dalam ungkapan lain, tindakan mengganggu istri disebut sebagai aghaja


nyaba,

yang

pengertiannya

sama

dengan

tindakan

mempertaruhkan

atau

mempermainkan nyawa. Dalam kehidupan sosial di antara hak-hak dan kewajiban


itu, boleh jadi hak-hak dan kewajiban masyarakat, misalnya dalam konteks carok,
perlindungan terhadap perempuan (istri), menjadi bagian dari kewajiban masyarakat,
sehingga tindakan mengganggu kehormatan mereka selalu dimaknai sebagai
tindakan arosak atoran (merusak tatanan sosial).
Tindakan mengganggu kehormatan istri, selain dianggap tindakan yang
melecehkan harga diri suaminya, juga dianggap merusak tatanan sosial. Oleh karena
itu, menurut pandangan orang Madura, pelakunya tidak bisa diampuni dan harus
dibunuh. Jika terjadi permasalahan berupa gangguan terhadap istri, ada dua alternatif
yang akan dilakukan oleh seorang suami. Pertama, alternatif ini sudah merupakan
suatu keharusan yang tidak boleh ditawar lagi (membunuh laki-laki yang telah
mengganggu itu). Kedua, membunuh dua-duanya, yaitu laki-laki yang dianggap telah
mengganggu sekaligus dengan istrinya. Alternatif pertama biasanya diambil jika
suami menyadari bahwa tindakan laki-laki pengganggu istrinya sudah diyakini
terjalin hubungan cinta maka alternatif kedua yang akan dipilihnya. Lebih lebih jika
suami mengetahui atau menyaksikan sendiri secara langsung adanya persetubuhan
antara keduanya (Harry, 2008).
2. Pelaksanaan Carok
Pembahasan mengenai pelaksanaan Carok ini akan difokuskan pada siapa
yang melakukan (termasuk siapa yang menjadi sasaran), bagaimana cara melakukan,
kapan waktu melaklukan, di mana lakukan, dan alat apa yang dipergunakan.
Mengenai siapa yang melakukan Carok, semua data empiris secara jelas menunjuk
semua orang yang merasa harga dirinya telah dilecehkan sehingga merekalah yang
selalu berinisiatif melakukannya. Akan tetapi, ketika Carok terjadi, pengertian Carok
adalah kedua pihak yang terlibat dalam Carok itu.
Jika Carok dilakukan oleh lebih satu orang, pasti pelaku Carok dibantu oleh
kerabat dekatnya (taretan dalem) yang memiliki sifat sebagai orang jago. Bahkan,
bisa juga kerabat yang ikut membantu Carok, meskipun termasuk kerabat dekat. Jika
terjadi Carok balasan oleh pihak yang kalah terhadap pihak yang menang,
kemungkinan yang akan melakukannya pertama-tama adalah orang tua; jika orang

tua tidak mampu karena alasan usia telah tua atau alasan tertentu, maka kemungkinan
yang lain adalah saudara kandung (kakak atau adik) atau kerabat dekatnya, seperti
saudara sepupu. Incaran atau sasaran utama dalam Carok balasan adalah orang yang
menang dalam Carok sebelumnya (musuhnya). Agustinus, (2008) mengungkapkan
bahwa biasanya Carok balasan tidak dapat segera dilakukan karena musuh sedang
menjalani hukuman di penjara yang rata-rata di pidana antara tiga sampai lima tahun
(Henry & Krishna, 2012).
Pihak Kepolisian menerapkan metode ilmiah (melalui laboratorium forensik)
dalam pemeriksaan darah korban Carok. Kebiasaan menyimpan celurit yang pernah
dipakai untuk Carok (yang secara hukum positif merupakan tindakan menghilangkan
barang bukti) tidak pernah terjadi lagi. Sebab, melalui metode ilmiah tersebut, pihak
kepolisian dapat membedakan secara pasti apakah darah yang masih menempel di
celurit itu darah manusia atau bukan. Sebelum metode ilmiah itu diterapkan, pelaku
Carok dapat dengan mudah memanipulasi barang bukti tersebut dengan cara
mengganti cerulit yang dipakai untuk membunuh dengan celurit yang telah dilumuri
oleh darah hewan (biasanya ayam, karena dianggap lebih mudah diperoleh). Celurit
sebagai barang bukti yang asli disimpan, sedangkan celurit yang telah dimanipulasi
diserahkan kepada aparat Kepolisian untuk dijadikan barang bukti.
Pandangan tentang adanya tekanan stuktur sosial ini setidaknya akan
memberikan pandangan baru dalam melihat kasus kekerasan dalam suatu etnis
tertentu. Termasuk adanya kemungkinan nilai-nilai kultural yang dilestarikan oleh
lembaga sosial tertentu. Atau jaga dalam perkembangan jaman modern ini ada faktor
lain yang lebih berpengaruh. Misalkan tekanan ekonomi dan persaingan tidak sehat
yang menjadikan individu sulit mencapai stuktur social tertentu. Sehingga sikap
mental suka menerobos yang menjadi cap popular Bangsa kita, harus kembali
menampakkan hidungnya. Hal ini bisa terungkap kalau kita dapat memahami makna
Carok pada awalnya dengan peristiwa Carok yang terjadi saat ini.
3. Legitimasi Carok
Penghormatan yang berlebihan atas martabat dan harga diri etniknya itu
seringkali menjadi akar penyebab dari berbagai konflik dan kekerasan. Seringkali
keunikan budaya melahirkan perilaku absurd berupa sikap defensif sebagian
kelompok etnik Madura. Misalnya, orang Madura dikenal mudah tersinggung harga-

dirinya dan kemudian marah-marah, kemudian memilih alternatif solusi atas


ketersinggungannya itu melalui kekerasan fisik, berupa carok.
Secara hukum dalam pemerintah, carok dikategorikan sebagai tindakan
kriminal yang mengacu pada pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP). Sesuai dengan Pasal-Pasal tersebut, carok dikategorikan sebagai
pembunuhan (pasal-pasal 338 dan 340) atau penganiayaan berat (pasal-pasal 351,
353, 354, dan 355).
Dalam konteks hukum formal, carok merupakan manifestasi keberanian
pelakunya dalam hal melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam KUHP,
sehingga mereka harus menjalani sanksi hukuman penjara selama bertahun-tahun
sebagai pelaku tindakan kriminal berat. Menurut KUHP, mereka dincam sanksi
pidana berupa hukuman penjara maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup,
atau hukuman penjara selama-lamanya 20 tahun. Akan tetapi, ancaman sanksi hukum
ini dalam prakteknya cenderung tidak diterapkan secara konsisten, bahkan terkesan
sangat ringan, karena para pelaku carok biasanya hanya menjalani hukuman penjara
tidak lebih dari sepuluh tahun (Wiyata, 2002).
Menurut (Mien, 2007) referensi-referensi yang berasal dari peribahasaperibahasa Madura atau yang biasa disebut ca-ocaan dapat memberikan gambaran
secara umum mengenai kebiasaan-kebiasaan, perilaku, stereotipe dan karakteristik
orang Madura, selain itu ca-ocaan ini dijadikan pegangan hidup bagi orang
Madura. Terdapat berbagai peribahasa Madura terkait perilaku carok diantaranya
adalah:
Ungkapan yang menyatakan mon lo bangal acarok jha ngako oreng
Madhura yang artinya jika tidak berani melakukan carok jangan mengaku sebagai
orang Madura. Jadi, orang Madura melakukan carok bukan karena semata-mata tidak
mau dianggap sebagai penakut meskipun sebenarnya takut mati melainkan juga agar
dia tetap dianggap sebagai orang Madura. Bila demikian halnya, Carok juga berarti
salah satu cara orang Madura untuk mengekspresikan identitas etnisnya. Itu semua
semakin memperkuat anggapan bahwa Carok bukan tindakan kekerasan pada
umumnya, melainkan tindakan kekerasan yang sarat dengan makna-makna sosial
budaya sehingga harus dipahami sesuai dengan konteksnya (Harry, 2008).

Ungkapan yang berbunyi oreng lake mate acarok, oreng bine mate arembi
yang artinya laki-laki mati karena carok, perempuan mati karena melahirkan semakin
mempertegas anggapan tersebut. Ungkapan ini mengindikasikan bahwa orang
Madura memaknai carok sebagai sesuatu hal yang mempunyai kesamaan dengan
melahirkan, karena keduanya sama-sama mengandung resiko kematian. Bagi orang
Madura sudah pada tempatnya jika seorang laki-laki mati terbunuh dalam peristiwa
carok. Begitu pula dengan orang perempuan, sudah pada tempatnya jika mati ketika
melahirkan anak (Wiyata, 2002).
Ungkapan yang menyatakan, angoan poteya tolang etembang poteya mata
atau lebih baik mati-putih tulang, daripada menanggung perasaan malu-putih mata.
Bahkan, ungkapan yang lebih tegas adalah tambhana todus, mate (obatnya malu
adalah mati). Makna ungkapan-ungkapan dalam budaya Madura tersebut adalah
bahwa tindakan pembunuhan perlu dilakukan untuk membela atau mempertahankan
harga diri dan kehormatan. Oleh karena itu, tindakan tersebut selain dibenarkan
secara kultural juga mendapat persetujuan atau legitimasi sosial.
Ungkapan yang menyatakan lokana daghing bisa ejhai, lokana ate tada
tambhana kajhabhana ngero dara yang artinya adalah daging yang terluka masih
bisa dijahit, namun jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah.
Ungkapan tersebut mengindikasikan bahwa luka secara fisik masih dapat
disembuhkan akan tetapi luka hati akibat pelecehan terhadap harga diri orang
Madura harus diobati dengan membunuh orang yang melecehkan yaitu melalui
carok.
4. Respon Masyarakat
Respon masyarakat terhadap peristiwa carok dapat dibagi menjadi respon dari
pihak keluarga pemenang, respon dari pihak keluarga yang kalah dan respon atau
tanggapan dari masyarakat. Tanggapan dari keluarga yang menang merasa bangga
dan puas. Tanggapan dari keluarga yang kalah akan merasa dendam terlebih jika
carok dilakukan dengan nyelep dianggap sebagai pengecut. Mengenai tanggapan
masyarkat luas terhadap carok, pada umumnya mereka tidak menyalahkan para
pelaku yang membunuh lawan-lawannya, baik dengan cara berhadap-hadapan
maupun nyelep.

Tanggapan negatif datang dari paramedis, jika mereka kebetulan sedang


menangani korban-korban carok mereka tidak pernah melakukan pembiusan ketika
luka-luka parah yang dideritanya harus dijahit atau dioperasi. Selain itu, cara
menjahit luka-luka tersebut dilakukan dengan sembarangan sehingga para pelaku
carok selalu berteriak kesakitan selama pengobatan berlangsung. Semua ini
dimaksudkan agar pelaku carok menjadi jera dan tidak melakukan carok lagi.
Tanggapan negatif dalam bentuk penyiksaan seperti ini tampaknya tetap tidak efektif
untuk membuat para pelaku carok jera.
Biasanya orang yang berdekatan dengan mereka dan melihat bekas-bekas
luka itu kemudian selalu cenderung menunjukkan sikap dan perilaku yang terkesan
menghormatinya, sikap dan perilaku ini dapat ditafsirkan sebagai pemberian
legitimasi atas carok yang dilakukan oleh orang-orang jagoan tersebut. Sikap dan
perilaku hormat tersebut akan lebih ditunjukkan, jika para jagoan menunjukkan juga
sikap sopan dan menghargai orang lain. Tetapi pada kenyataannya para jagoan
tersebut malah menunjukkan sikap dan perilaku yang sombong. Bila ini terjadi,
justru akan lebih mudah memancing konflik yang berakibat pada terjadinya carok.
C. Kesimpulan:
Berdasarkan beberapa temuan dari beberapa studi tentang carok dan
kekerasan, sebagaimana telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pada
beberapa

kebudayaan

termasuk

kebudayaan

Madura,

tindakan

kekerasan

(pembunuhan), selain mendapat pembenaran secara kultural, juga dilegitimasi dan


selalu memperoleh persetujuan sosial apabila tindakan kekerasan (pembunuhan) itu
bertujuan untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan.
Orang Madura yang malo karena dilecehkan harga dirinya kemudian
melakukan Carok disebut sebagai pelaku Carok. Akan tetapi, ketika Carok
benarbenar terjadi, yang dimaksud dengan pelaku Carok adalah kedua belah pihak,
baik pihak yang merasa harga dirinya dilecehkan (yang menyerang) maupun pihak
yang dianggap melakukan pelecehan itu (yang diserang).
Mengenai siapa yang melakukan Carok, semua data empiris secara jelas
menunjuk semua orang yang merasa harga dirinya telah dilecehkan sehingga

merekalah yang selalu berinisiatif melakukannya. Akan tetapi, ketika Carok terjadi,
pengertian pelaku Carok adalah kedua pihak yang terlibat dalam Carok itu.

Daftar Pustaka
Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III.
Jakarta: Depdiknas RI Dan Balai Pustaka.
Arianto, Henry., & Krishna. 2012. Tradisi Carok Dalam
Masyarakat Adat Madura. Jakarta: Universitas Esa Unggul.
Harry, Purwanto.Tidak

Terima

Istri

Diselingkuhi,

Clurit

Bicara. (www.detiknews.com) diakses 15 September 2015.


Pogolamum, Liberatus. 2013. Tradisi Carok Pada Masyarakat
Madura Menurut Perspektif Teori Relativisme Moral. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Rifai, Mien A. 2007. Manusia Madura. Yogyakarta: Pilar Media.
Wiyata, A. Latief. 2002. Carok; Konflik Kekerasan dan Harga
Diri Orang Madura. Yogyakarta: LKiS.

10