Anda di halaman 1dari 17

FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN

Disusun oleh:
Anisa Febi Larasati (A102.10.006)
Dimas Adnan T. N

(A102.10.018)

Eva Maylani J

(A102.10.022)

Ika Ariyunita

(A102.10.026)

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL


SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah yang telah melimpahkan Taufik, Hidayah
dan Inayah-Nya kepada kita, sehingga kita masih dapat menghirup nafas
kaislaman sampai sekarang ini. Shalawat dan salam semoga tercurah pada
junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang telah berjuang dengan
semangatnya yang begitu mulia yang telah membawa kita dari jaman Jahilliyah
kepada jaman Islamiyah.
Dengan mengucap Alhamdulillah kami dapat menyusun makalah yang
berjudul FISIOLOGI SISTEM PENCERNAAN. Kami ucapkan banyak terima
kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah membimbing kami dalam setiap
materi tentang anatomi fisiologi sistem pencernaan, tidak lupa teman-teman yang
senantiasa kami banggakan yang semoga kita selalu dalam lindungan Allah serta
dapat berjuang dijalan Allah SWT.
Kami menyadari tentunya makalah ini jauh dari sempurna, maka dari itu
kami mohon saran dan kritik yang sifatnya membangun tentunya. Akhirnya kami
mengucapkan terima kasih dan mohon maaf apabila dalam penulisan masih
terdapat kalimat-kalimat yang kurang dapat dipahami agar menjadi maklum.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Hormat kami,

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .....................................................................................i
DARTAR ISI ...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ..........................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan Makalah.......................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Pencernaan ...............................................................2
2.2 Fungsi Sistem Pencernaan .....................................................................2
2.3Gambaran Besar Saluran Pencernaan .....................................................3
2.4Organ-Organ Sistem Pencernaan............................................................5
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ...........................................................................................11
3.2. Saran .....................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................13

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Fisiologi adalah mempelajari fungsi atau kerja tubuh manusia dalam keadaan
normal. Tubuh terbentuk atas atas banyak jaringan dan organ, masing-masing
dengan fungsinya yang khusus untuk dilaksanankan. Fisiologi sistem pencernaan
manusia terdiri dari beberapa organ. Rongga mulut, esofagus, lambung, usus
kecil, usus besar, rectum, dan anus. Semua sistem pencernaan itu akan bekerja
sesuai dengan tugasnya, namun tetap saling berkaitan untuk mencerna semua
makanan yang masuk ke tubuh. Sistem pencernaan berurusan dengan penerimaan
makanan dan mempersiapkannya untuk diasimilasi oleh tubuh. Saluran
pencernaan terdiri atas berbagai bagian diantaranya mulut, faring, usofagus, tekak,
kerongkongan, lambung, usus halus, dan usus besar. Seluruh saluran pencernaan
dibatasi oleh selaput lendir (membram mukosa).

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas, rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa pengertian dari sistem pencernaan?
2. Apa fungsi sistem pencernaan?
3. Bagaimana gambaran garis besar dari saluran pencernaan?
4. Apa saja organ-organ yang terdapat dalam sistem pencernaan?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah


Untuk mengetahui:
1. Pengertian dari sistem pencernaan.
2. Apa fungsi sistem pencernaan.
3. Gambaran garis besar dari saluran pencernaan.
4. Organ-organ yang terdapat dalam sistem pencernaan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sistem Pencernaan
Sistem perncernaan adalah sistem yang berfungsi untuk melakukan proses
makanan sehingga dapat diserap dan digunakan oleh sel-sel tubuh secara fisika
maupun secara kimia. Sistem pencernaan ini terdiri dari saluran pencernaan
(alimentar), yaitu tuba muscular panjang yang merentang dari mulut sampai anus,
dan organ-organ aksesoris, seperti gigi, lidah, kelenjar saliva, hati, kandung
empedu, dan pankreas. Saluran pencernaan yang terletak di bawah area diafragma
disebut saluran grastrointestinal. Sedangkan pengertian dari fisiologi pencernaan
itu sendiri adalah mempelajari fungsi atau kerja sistem pencernaan dalam keadaan
normal.

2.2 Fungsi Sistem Pencernaan


Fungsi utama dari sistem ini adalah untuk menyediakan makanan, air, dan
elektrolit bagi tubuh dari nutrient yang dicerna sehingga siap diabsorpsi.
Pencernaan berlangsung secara mekanik dan kimia, dan meliputi proses berikut:
a. Ingesti adalah masuknya makanan ke dalam mulut.
b. Pemotongan dan penggilingan makanan dilakukan secara mekanik oleh
gigi. Makanan kemudian bercampur dengan saliva sebelum ditelan
(menelan).
c. Peristalsis adalah gelombang kontraksi otot polos involunter yang
menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan.
d. Digesti adalah hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi
molekul kecil sehingga absorpsi dapat berlangsung.
e. Absorpsi adalah penggerakan produk akhir pencernaan dari lumen saluran
pencernaan ke dalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat digunakan
oleh tubuh.

f. Egesti (defekasi) adalah proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak tercerna,
juga bakteri, dalam bentuk feses dari saluran pencernaan.

2.3 Gambaran Besar Saluran Pencernaan


2.3.1 Dinding saluran terusun dari 4 lapisan jaringan dasar dari lumen (rongga
sentral) ke arah luar. Komponen lapisan pada setiap regia berfariasi sesuai
fungsi regia.
a. Mukosa (membrane mukosa) tersusun dari tiga lapisan.
Epithelium yang melapisi berfungsi untuk perlindungan, sekresi, dan
absorpsi. Di bagian ujung oral dan anal saluran, lapisannya tersusun
dari dari epithelium skuamosa bertingkat tidak terkeranisasi untuk
perlindungan. Lapisan ini terdiri dari epithelium kolumnar simple
dengan sel goblet di area tersebut yang dikhususkan untuk sekresi dan
absorpsi.
Lamina propria adalah jaringan ikat areolar yang menopang
epithelium. Lamina ini mengandung pembuluh darah, limfatik,
nodular limfe, dan beberapa jenis kelenjar.
Muskularis mukosa terdiri dari lapisan sirkular dalam yang tipis dan
lapisan otot polos longitudinal luar.
b. Submukosa terdiri dari jaringan ikat areolar yang mengandung pembuluh
darah, pembuluh limfatik, beberapa kelenjar submukosal, dan pleksus
serabut saraf, serta sel-sel ganglion yang disebut pleksus meissner
(pleksus submukosal). Submukosa mengikat mukosa ke muskularis
eksterna.
c. Muskularis eksterna terdiri dari dua lapisan otot, satu lapisan sirkular
dalam dan satu lapisan longitudinal luar. Konstraksi lapisan sirkular
mengkonstriksi lumen saluran dan kontraksi lapisan longitudinal
memperpendek dan memperlebar lumen saluran. Konstraksi ini
mengakibatkan gelombang peristalsis yang meenggerakkan isi saluran ke
arah depan.

Muskularis eksterna terdiri dari otot rangka di mulut, faring, dan


esophagus atas, serta otot polos pada saluran selanjutnya.
Pleksus auerbach (pleksus mienterik) yang terdiri dari serabut saraf
dan ganglion parasimpatis, terletak diantara lapisan otot sirkular
dalam longitudinal luar.
d. Serosa (adventisia), lapisan keempat dan paling luar yang disebut juga
peritoneum viseral. Lapisan ini terdiri dari membrane serosa jaringan ikat
renggang yang dilapisi epithelium skuamosa simple. Di bawah area
diafragma dan dalam lokasi tempat epithelium skuamosa dan menghilang
dan jaringan ikat bersatu dengan jaringan ikat di sekitarna area tersebut
disebut sebagai adventisia.

2.3.2 Peritoneum, mesenterium, dan omentum abdominopelvis adalah membrane


erosa terlebar dalam tubuh.
a. Peritoneum parietal melapisi rongga abdominopelvis.
b. Peritoneum viseral membungkus organ dan terhubungkan ke peritoneum
parietal oleh berbagai lipatan.
c. Rongga peritoneal adalah ruang potensial antara visceral dan peritoneum
parietal.
d. Mesenterium dan omentum adalah lipatan jaringan peritoneal berlapis
ganda yang merefleks balik dari peritoneum visceral. Lipatan ini
berfungsi untuk mengikat organ-organ abdominal satu sama lain dan
melabuhkannya ke dinding abdominal belakang. Pembuluh darah
limfatik, dan saraf terletak dalam lipatan peritoneal.
Omentum besar adalah lipatan ganda berukuran besar yang melekat
pada duodenum, lambung dan usus besar. Lipatan ini tergantung
seperti celemek di atas usus.
Omentum kecil menopang lambung dan duodenum sehingga terpisah
dari hati.
Mesokolon melekatnya kolon ke dinding abdominal belakang.

Ligamen falsimoris melekatkan hati ke dinding abdominal depan dan


difragma.
e. Organ yang tidak terbungkus peritoneum, tetapi hanya tertutup olehnya
disebut retroperitoneal (di belakang peritoneum). Yang termasuk
retroperitoneal antara lain: pankreas, duodenum, ginjal, rectum, kandung
kemih, dan beberapa organ reproduksi perempuan.

2.4 Organ-Organ Sistem Pencernaan


2.4.1 Rongga Oral, Faring Dan Esofagus
a. Rongga oral
Rongga oral adalah jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi
organ asesoris yang berfungsi dalam proses awal pencernaan. Rongga
vestibulum (bukal) yang terletak di antara gigi, bibir, dan pipi sebagai
batas luarnya. Rongga oral utama dibatasi gigi dan gusi di bagian depan,
palatum lunak dan keras di bagian atas, lidah dibagian bawah, dan
orofaring di bagian belakang.
Di dalam rongga oral terdapat kelenjar ludah yang memiliki fungsi:
1) Melarutkan makanan,
2) Memudahkan penelanan,
3) Melindungi selaput mulut terhadap dingin, panas, asam, dan basa.
Kelenjar ludah terdiri dari tiga bagian:
1) Glandula parotis, menghasilkan ludah (saliva) yang berbentuk air,
2) Glandula submaksilaris, menghasilkan getah yang mengandung air
dan lender,
3) Glandula sublingualis, sama dengan glandula submaksilaris.
Kelenjar ludah mengandung enzim ptyalin.
b. Faring
Faring atau tekak terletak di belakang hidung, mulut, dan laring
(tenggorokan). Faring berupa saluran yang berbentuk kerucut dari bahan
membrane berotot (muskulo membranosa) dengan bagian terlebar di
sebelah atas dan berjalan dari dasar tengkorak sampai diketinggian

vertebra servikal keenam, yaitu ketinggian tulang rawan krikoid, tempat


faring bersambung dengan usofagus. Dalam faring ini terjadi proses
menelan (deglutisi) menggerakkan makanan dari faring menuju esofagus.
c. Esofagus (kerongkongan)
Esophagus adalah tuba muscular, panjangnya sekitar 25 cm dan
berdiameter 2,54 cm. Esofagus berawal pada area laringofaring, melewati
difragma dan hiatus esophagus (lubang) pada area sekitar vertebra toraks
kesepuluh,

dan

membuka

kearah

lambung.

Fungsi

esophagus

menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristalsis.


Mukosa esophagus memproduksi sejumlah besar mukus untuk melumasi
dan melindungi esofagus.

2.4.2 Lambung
Regia-regia lambung terdiri dari bagian jantung, fundus, badan organ, dan
bagian pilorus. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan
melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup.
Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung
ke dalam kerongkongan.
a. Bagian jantung lambung adalah area di sekitar pertemuan esophagus dan
lambung.
b. Fundus adalah bagian yang menonjol ke sisi kiri atas mulut esophagus.
c. Badan lambung adalah bagian yang terilatasi di bawah fundus, yang
membentuk dua pertiga bagian lambung. Tepi medial badan lambung
yang konkaf disebut kurvatur kecil: tepi lateral badan lambung yang
konveks disebut kurvatur besar.
Fundus bawah menghasilkan asam lambung, berfungsi:
1) Membunuh kuman penyakit yang masuk bersama makanan,
2) Mengaktifkan getah lambung
Getah lambung mengandung:
Hormon gastrin, untuk merangsang pengeluaran getah lambung

Asam lambung (HCl), untuk mengaktifkan enzim pepsinogen


menjadi pepsin. Pepsin dapat mengubah protein menjadi pepton
Enzim renin, menggumpalkan protein susu (kasein)
Enzim lipase, menguraikan lemak menjadi asam lemak dan
gliserol
3) Membantu membuka dan menutupnya sfingter
4) Merangsang kelenjar dinding sel usus
HCl yang masuk bersama makanan ke dalam usus akan merangsang
sel-sel kelenjar usus untuk menghasilkan sekretin (hormon yang
merangsang pengeluaran getah pankreas) dan kolesistokinin (hormon
yang merangsang pengeluaran empedu).
d. Bagian pylorus lambung menyempit di ujung bawah lambung dan
membuka ke duodenum. Antrum pylorus mengarah ke mulut pylorus
yang dikelilingi sfinger pylorus muscular tebal. Lambung berfungsi
diantaranya dalah sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara
ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim, memproduksi
kimus dan mucus, faktor intrinsic (menghasilkan vitamin B12), disgesti
protein, dan absorpsi.

2.4.3 Usus Halus


Gambaran umum mengenai usus halus adalah tuba terlilit yang merentang
dari sfingter pylorus sampai ke katup ileosekal, tempatnya menyatu dengan
usus besar. Diameter usus halus kurang lebih 2,5 cm dan panjangnya 3-5 m.
Secara umum proses pencernaan dalam tubuh adalah dimulai dari lambung
melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang
merupakan bagian pertama dari usus halus.
Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam
jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan
megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang
diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang

melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan


makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil
enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Fungsi usus halus adalah diantaranya secara selektif mengabsorpsi produk
digesti, usus halus juga mengakhiri proses pencernaan makanan yang
dimulai di mulut dan lambung. Proses ini diselesaikan oleh enzim usus dan
enzim pancreas serta dibantu empedu dalam hati.
Di dalam usus terjadi pencernaan secara kimia dan terjadi penyerapan zatzat makanan, terutama pada jejunum dan ileum. Karbohidrat diserap dalam
bentuk glukosa, protein dalam bentuk asam amino dan lemak dalam bentuk
asam lemak dan gliserol.
Getah usus halus (basa) pengandung enzim:
1) Sakarase; memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
2) Maltase; memecah maltosa menjadi dua glukosa
3) Laktase; memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa
4) Erepsinogen yang belum aktif, kemudian diaktifkan oleh enterokinase
menjadi erepsin (peptidase yang memecah pepton menjadi asam amino)

2.4.4 Pankreas
Pankraes merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar :
1) Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan.
2) Pulau pankreas, menghasilkan hormon. Pankreas melepaskan enzim
pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah.
Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein,
karbohidrat, dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam
bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk
inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran
pencernaan.

Pankreas

juga

melepaskan

sejumlah

bikarbonat,

yang

berfungsi

melindungi

duodenum

menetralkan asam lambung.

besar

sodium

dengan

cara

Enzim yang dihasilkan oleh pankreas:


Lipase pankreas (steapsin); memecah emulsi lemak menjadi asam
lemak gliserin
Amilase pankreas (amilopsin); memecah amilum menjadi maltosa
Tripsinogen; diaktifkan oleh enterokinase menjadi tripsin yang
berfungsi memecah protein dan pepton menjadi dipeptida dan asam
amino. Pankreas juga menghasilkan hormon insulin.

2.4.5 Hati
Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi,
beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari
makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah
yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena
yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke
dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluhpembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah. Hati
melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya
dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.

2.4.6 Kandung Empedu dan saluran Empedu


Empedu memiliki 2 fungsi penting:
Membantu pencernaan dan penyerapan lemak.
Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama
haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan
kelebihan kolesterol.

2.4.7 Usus Besar


Begitu materi dalam saluran pencernaan masuk ke usus besar, sebagian
nutrient telah dicerna dan di absorpsi dan hanya menyisakan zat-zat yang
tidak tercerna. Usus besar tidak memiliki vili, plicae cilculares (lipatan
sirkular) dan diameternya lebih lebar, panjangnya lebih pendek, dan daya

renggangnya lebih besar dibandingkan usus halus. Usus besar terdiri dari
sekum (kantong tertutup yang menggantung di bawah area katup ileosekal),
kolon (kolon asenden, kolon tranversa, kolon desendens), rektum (bagian
saluran dengan panjang 12-13cm), yang berakhir pada saluran anal dan
membuka ke eksterior di anus.
Usus besar berfungsi diantaranya adalah:
Usus besar mengabsorpsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus
yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat.
Usus besar hanya memproduksi mucus. Sekresinya tidak mengandung
enzim atau hormone pencernaan.
Sejumlah bakteri dalam kolon mampu mencerna sejumlah kecil selulosa
dan memproduksi sedikit kalori nutrient bagi tubuh dalam setiap hari.
Bakteri juga memproduksi vitamin (K, riboflavin, dan tiamin) dan
berbagai gas.
Usus besar juga mengekskresi sisa dalam bentuk feses.

2.4.8 Rektum dan Anus


Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar
(setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong
karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon
desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum,
maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Orang dewasa dan
anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang
lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting
untuk menunda BAB.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan
limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh
(kulit) dan sebagian lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani)
menjaga agar anus tetap tertutup.

10

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan dalam bab 2 makalah ini, maka kesimpulan dari makalah ini
adalah:
1. Pengertian dari sistem perncernaan adalah sistem yang berfungsi untuk
melakukan proses makanan sehingga dapat diserap dan digunakan oleh
sel-sel tubuh secara fisika maupun secara kimia.
2.

Pengertian dari fisiologi pencernaan itu sendiri adalah mempelajari fungsi


atau kerja system pencernaan dalam keadaan normal.

3. Fungsi utama dari sistem pencernaan ini adalah untuk menyediakan


makanan, air, dan elektrolit bagi tubuh dari nutrient yang dicerna sehingga
siap diabsorpsi.
Pencernaan berlangsung secara mekanik dan kimia, dan meliputi proses
berikut:
1. Ingesti adalah masuknya makanan ke dalam mulut.
2. Pemotongan dan penggilingan makanan dilakukan secara mekanik oleh
gigi. Makanan kemudian bercampur dengan saliva sebelum ditelan
(menelan).
3. Peristalsis adalah gelombang kontraksi otot polos involunter yang
menggerakkan makanan tertelan melalui saluran pencernaan.
4. Digesti adalah hidrolisis kimia (penguraian) molekul besar menjadi
molekul kecil sehingga absorpsi dapat berlangsung.
5. Absorpsi adalah penggerakan produk akhir pencernaan dari lumen saluran
pencernaan ke dalam sirkulasi darah dan limfatik sehingga dapat
digunakan oleh tubuh.
6. Egesti (defekasi) adalah proses eliminasi zat-zat sisa yang tidak tercerna,
juga bakteri, dalam bentuk feses dari saluran pencernaan.
11

Organ-organ sistem pencernaan adalah rongga oral, faring dan esofagus,


lambung, usus halus, pankreas, hati, kandung empedu, usus besar, rectum dan
anus.

3.2 Saran
Diharapkan kepada para pembaca dan pelaku yang bekerja di bidang
kesehatan untuk benar-benar memahami tentang fisiologi pencernaan pada
manusia, agar nantinya tidak terjadi kesalahan dalam hal menyimpulkan asumsi
terhadap yang keluhan pasien yang bermasalah dengan sistem pencernaan.

12

DAFTAR PUSTAKA

P. Evelyn , C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedik. Jakarta: PT.


Gramedia Pustaka Umum.

S. Ethel. W. palupi (ed). Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit


Buku Kedokteran.

Falah, Abdi. Biologi Buku Modul Kelas XI (untuk kalangan sendiri).


Surakarta.

13

Anda mungkin juga menyukai