Anda di halaman 1dari 11

IDENTIFIKASI DAN

ANALISIS KEMASAN
PRODUK MINUMAN HERBAL

Oleh : (Kelas D)
Lavenia Yuanita

135100100111050

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Dewasa ini, para produsen makanan berlomba-lomba membuat
inovasi kemasan yang unik dan berbeda dari produsen lainnya. Hal ini
disebabkan karena adanya perubahan mindset masyarakat akan
ekspektasi mereka terhadap produk melalui kemasan makanan. Dahulu,
kemasan hanya digunakan sebagai pelindung isi produk itu sendiri dan
dibuat dari bahan seadanya. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi
kemasan berubah menjadi identitas produk ataupun produsen, selain juga
melindungi produk. Selain itu, bentuk dan model kemasan sangat penting
peranannya dalam strategi pemasaran. Kemasan yang berbentuk unik,
ergonomis, serta mementingkan aspek estetika sangat disukai konsumen.
Sekarang, konsumen menjadi lebih selektif dan pintar dalam membeli
sebuah produk. Hal ini terjadi karena semakin meningkatnya persaingan
antara produsen yang satu dengan yang lain. Beragam produk serupa
namun berasal dari produsen yang berbeda sekarang semakin banyak kita
jumpai di pasar tanah air (Ulrich dan Eppinger, 2001).
Hernawan Kertajaya (2001) mengatakan, Packaging protects what
it sells. Namun pernyataan tersebut berubah menjadi Packaging sell
what it protects. Hal ini membuktikan bahwa peranan kemasan sangat
penting terhadap kontinuitas penjualan suatu produk terkait dengan
kepercayaan dan tingkat kesukaan konsumen pada produk yang dijual
melalui kemasan. Konsumen yang telah percaya pada produsen tertentu,
cenderung untuk terus membeli produk dari produsen tersebut meskipun
banyak produk pesaing dengan jenis yang sama. Produk dari produsen
yang sama pun juga turut menjadi sasaran pembelian konsumen tersebut
karena sang konsumen telah memberikan kepercayaannya yang penuh
terhadap si produsen.
Menurut Wells dan Amstrong (2007), packs as the silent salesman.
Ya, pernyataan tersebut sangat tepat untuk menggambarkan fungsi
kemasan dewasa ini. Kemasan menjadi suatu hal yang penting karena
melalui kemasan, komunikasi antara produsen dan konsumen akan terus
terjaga. Tentunya produsen tidak selamanya bisa berkomunikasi langsung
dengan konsumen karena sangat tidak efektif apabila produsen harus
mempromosikan produknya dari pelanggan yang satu dengan yang lain.
Nah melalui kemasan inilah produsen dapat mengkomunikasikan maksud
dan tujuan mereka, menjawab setiap pertanyaan yang biasa ditanyakan
oleh konsumen, memberikan informasi yang jelas tentang produk yang
mereka jual, dan juga memberikan kepuasan kepada konsumen secara
tidak langsung. Hal inilah yang harus terus dijaga agar hubungan antara
konsumen dan produsen tetap terjalin dengan baik sehingga produsen
dapat terus mendapatkan kepercayaan konsumen guna menjaga bahkan
meningkatkan tingkat keberlanjutan penjualan produk mereka.
Tidak terkecuali pada produk satu ini, yaitu Kiranti. Minuman
berkhasiat ini sangat digemari oleh para wanita karena efeknya yang
sangat baik dan memang dibutuhkan oleh mayoritas wanita. Siapa yang
tak tahu produk satu ini? Produk ini muncul sebagai pioneer produk

berbasis jamu herbal yang khusus untuk mengatasi keluhan saat datang
bulan. Mari kita bahas lebih lanjut tentang kemasan produk satu ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
2.1.1.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jenis Kemasan
Gelas
Kemasan dari produk Kiranti ini terbuat dari bahan gelas.
Gelas adalah benda yang transparan, lumayan kuat, biasanya tidak
bereaksi dengan barang kimia, dan tidak aktif secara biologis yang
bisa dibentuk dengan permukaan yang sangat halus dan kedap air.
Oleh karena sifatnya yang sangat ideal gelas banyak digunakan
untuk mengemas makanan atau minuman dengan kandungan
nutrisi herbal yang memiliki sifat labil seperti yang dimiliki oleh
produk Kiranti ini (Fellows, 2000).
Ada beberapa sifat gelas yang bisa dikatakan memiliki
kelebihan dibanding dengan material lainnya, antara lain sifat
estetika atau keindahan, sifat tembus pandang secara optik
(transparan), sifat thermostabil, dan sifat ketahanan terhadap
zat/reaksi kimia. Namun kekurangan dari gelas adalah sifat nya yang
getas dan mudah pecah. Gelas terdiri dari oksida-oksida logam dan
non logam.
Bahan baku pembuatan gelas adalah :
Pasir silica (SiO2)
Soda abu (Na2CO3) yang dengan pembakaran pada suhu tinggi akan
terbentuk Na2O sehingga gelas tampak jernih
Batu kapur (CaO) yang berfungsi untuk memperkuat gelas
Pecahan gelas (kaca) disebut cullet (calcin) untuk memudahkan
proses peleburan, ditambahkan antara 15-20%
AI2O3 dan boraksida (B2O3), titanium dan zirconium untuk
meningkatkan ketahanan dan kekerasan gelas
Borax oksida pada gelas boroksilat seperti pyrex berfungsi agar
gelas lebih tahan pada suhu tinggi
Na2SO4 atau As2O3 untuk menghaluskan dan menjernihkan (Millati,
2010).
Untuk membuat agar kemasan gelas bersifat inert dan netral
maka gelas dicelupkan dalam larutan asam. Untuk melinungi
permukaan gelas maka diberi laminasi silikon polietilen glikol atau
polietilen stearat. Sifat gelas yang stabil menyebabkan gelas dapat
disimpan dalam jangka waktu panjang tanpa kerusakan. Warna
gelas dapat diatur dengan menambahkan sejumlah kecil oksidaoksida logam seperti Cr, Co dan Fe. Wadah gelas kedap terhadap
semua gas sehingga menguntungkan bagi minuman berkarbonasi
karena keepatan difusinya adalah 0. Wadah gelas barrier terhadap
benda padat, cair dan gas sehingga baik sebagi pelindung terhadap
kontaminasi bau dan cita rasa. Sifat-sifat ketahanan gelas dapat

diawetkan dengan cara memberi lapisan yang tidak bereaksi dengan


gelas, misalnya minyak silikon, oksida logam, lilin, resin, belerang
dan polietilen (Millati, 2010).
Warna kemasan dari masing-masing produk dibuat berbedabeda sesuai dengan fungsinya. Warna bening produk digunakan
untuk yang tidak begitu berpengaruh pada cahaya yang mengenai
kemasan produk. Sedangkan warna cokelat digunakan untuk
mengemas produk yang tidak tahan cahaya sehingga produk
terlindung dari cahaya yang mengenai kemasan. Warna cokelat
gelap mampu menahan cahaya yang mengenai produk sehingga
produk yang ada dalam kemasan tidak rusak oleh cahaya. Nah,
produk Kiranti ini menggunakan kemasan gelas dengan warna coklat
karena jika dilihat dari komposisi Kiranti seperti yang dijabarkan di
bawah ini melalui tabel 2.1, bahan-bahan tersebut merupakan
senyawa aktif yang akan rusak jika terkena cahaya.
Bahan

Nama Latin

Mass
a

Kunyit

Curcumae domesticae
Rhizoma

30g

Tamarindi Pulpa

6g

Kaempferiae Rhizoma
Fructose
Zingiberis Rhizoma
Paulinia Cupana

2g
2.5g
0.8g
0.23g

Cinnamomi Cortex

0.1 g

Asam
Jawa
Kencur
Gula Jawa
Jahe
Paulinia
Kayu
Manis

Tabel 2.1 Komposisi Produk Minuman Herbal Kiranti

2.1.2.

Botol
Umumnya, pada produk minuman seperti Kiranti ini
menggunakan kemasan botol. Bahan dasar botol yang digunakan
berbahan dasar gelas seperti yang telah dijelaskan pada uraian
sebelumnya. Meskipun bahan yang digunakan untuk mengemas
produk dalam bentuk yang sama yaitu botol, namun untuk produk
yang berbeda maka teknik pembotolan yang digunakan juga
berbeda. Teknik pembotolan juga dipengaruhi oleh bentuk botol
yang berbeda pula. Sebagai contoh: teknik pembotolan untuk
mengemas produk susu segar akan berbeda dengan teknik
pembotolan untuk mengemas produk kopi instan.
Dibandingkan dengan pengalengan maka pembotolan
(pengemasan dengan botol) di industri besar dalam proses
pembotolan memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit. Tahapan
pembotolan dalam industri meliputi: memasukkan botol kosong
dalam alat (bottle feeding), pembersihan botol (bottle cleaning),

pengisian (filling), penutupan (closing), pelabelan (labeling),


penyusunan dan pengemasan untuk tranportasi (Dwiari, dkk., 2008).
Adapun
tahapan
proses
pembuatan
kemasan botol
kaca adalah sebagai berikut :
1. Bahan baku dicampur merata secara otomatis (Silika, Soda Abu
Na2O, Potasium Oksida K2O,Batu Kapur (Kalsium Oksida) CaO,
Magnesium Oksida,Alumunium Oksida, Besi Oksida, Belerang Tri
Oksida).
2. Kemudian dimasukkan ke dalam tanur untuk dilelehkan dengan suhu
1500-1600C ada yang 1300C).
3. Tungku pembakaran membara terus menerus dan dikendalikan oleh
sistem (panel) pengendali.
4. Sebelum dicetak suhu diturunkan hingga 1000-1200oC dan lelehan
gelas didiamkan beberapa saat.
5. Cairan gelas dialirkan ke dalam mesin pembuat botol
6. Lelehan dipotong-potong dengan ukuran yang ditetapkan dalam
bentuk gumpalan kasar.
7. Gumpalan meluncur ke pencetakan pertama (cetakan Parison).
8. Hembus Ganda (Blow and Blow) untuk gelas berleher sempit (botol)
9. Tekan dan Hembus (Press and Blow) untuk gelas berleher lebar.
10.
Pembentukan dan pencetakan dapat dilakukan dengan 2 cara,
yaitu:
11.
Dipindahkan ke cetakan akhir atau cetakan wadah yaitu
cetakan yang sebenarnya dengan ukuran tertentu.
12.
Dibawa ke ruang leher pendingin yang bersuhu 450oC.
13.
Wadah dipanaskan kembali (proses annealing).
14.
Kemudian perlahan-lahan didinginkan dari suhu 575-600 oC
menjadi 450oC dengan adanya aliran udara. Proses ini bertujuan
untuk membuat wadah gelas menjadi tidak rapuh atau mudah
pecah.
15.
Dilakukan pengawetan gelas dengan cara pre-cooling yang
berfungsi untuk menjaga kompresor agar udara yang terhisap hanya
udara yang dalam keadaan bersih dan tidak mengandung air. Di
Indonesia teknologi pre-cooling pertama kali ditemukan oleh PT.
Iglas.
16.
Dilakukan pengawasan mutu ketika botol keluar dari cetakan,
yang terdiri dari uji coba (Butler, 2001).
Yang perlu diperhatikan dalam memilih botol sebagai kemasan
antara lain adalah easy of unpacking dan easy of resealing. Easy of
unpacking berarti botol tersebut mudah mengeluarkan isisnya.
Sedangkan easy of resealing adalah botol mudah dituup kembali
setelah digunakan. Penutup kemasan yang digunakan untuk
menutup kemasan harus aman dan tidak bereaksi dengan produk
yang dikemas. Penutup kemasan yang terbuat dari logam terdapat
karet di balik tutupnya agar produk tidak terkena langsung dengan
logam karena produk Kiranti ini terbuat dari senyawa-senyawa yang
reaktif terhadap logam. Kemudahan membuka tutup kemasan (easy
of unpacking) digolongkan menjadi mudah, sedang dan sulit.
Golongan mudah yaitu kemudahan membuka tutup kemasan seperti
kemasan Kiranti ini. Membuka tutup kemasan Kiranti yaitu hanya

dengan memutar tutup kemasan hingga terlepas dari gelang


pengikatnya. Sedangkan golongan sedang yaitu tutup kemasan ABC
Spesial Grade. Tutup kemasan dibuka dengan menggunakan alat
pembuka, sehingga termasuk dalam golongan sedang. Sedangkan
tutup kemasan yang termasuk dalam golongan sulit yaitu tutup
minyak kayu putih. Tutup minyak kayu putih ada dua bagian, bagian
luar cara membukanya mudah namun terdapat penutup bagian
dalam yang berfungsi untuk menyumbat tutup botol agar produk di
dalamnya tidak merembes keluar. Namun meskipun kemasan botol
Kiranti ini termasuk golongan yang mudah untuk dibuka dan ditutup
kembali, diharapkan pengonsumsian produk Kiranti ini harus sekali
habis untuk menjaga kualitas produk, meski memungkinkan produk
ini tidak dikonsumsi sekali habis. Kandungan senyawa reaktifnya
dikhawatirkan dapat rusak apabila terlalu lama terpapar udara.
Kemudahan membuka penutup botol hanya ditujukan demi
kenyamanan konsumen Kiranti yang rata-rata adalah wanita. Selain
itu, juga demi kepraktisan konsumsi, kemudahan membuka tutup
kemasan tingkat sedang juga dirasa kurang tepat karena harus
membuka dengan alat pembuka terlebih dahulu. Padahal, banyak
konsumen yang ingin mengonsumsi produk tersebut secara
langsung dan cepat ketika tiba-tiba sangat dibutuhkan karena
pengonsumsian produk ini termasuk dalam taraf kondisional yang
tidak dibutuhkan pada waktu tertentu secara berkala. Mayoritas dari
mereka hanya mengonsumsi produk ini hanya ketika mengalami
nyeri saat haid dan hanya sedikit yang mengonsumsinya secara
berkala untuk menjaga kelancaran haid. Bentuk botol yang berlekuk
juga memudahkan konsumen untuk memegang botol.
2.2.

Desain Kemasan
Pemasaran

konsumsi saat ini mulai khusus


menentukan ceruk pasar yang salah
satunya dapat melalui segmentasi
berdasarkan
gender.
Tampilan
identitas gender bisa ditemukan pada
desain kemasan melalui elemen visual
seperti warna, tipografi, bentuk botol,
struktur kemasan dan citra (ilustrasi
maupun fotografi). Kemasan Kiranti
merupakan
salah
satu
produk
minuman herbal siap saji bagi
perempuan
yang
senantiasa
menampilkan identitas perempuan secara arbitrer, seperti profil foto
perempuan yang langsing dan cantik menurut standar media.
Produksi teks melalui elemen visual tersebut turut membentuk
identitas perempuan dalam masyarakat.
2.2.1.

produk

Tipograf

Logotype merek Kiranti menggunakan tipografi roman yakni


huruf dengan kait pada ujungnya. Secara denotatif dibaca Kiranti,

namun konotasinya jenis huruf ini telah lama dilabeli sebagai huruf
yang mencerminkan keanggunan, feminin, klasik, dan gemulai.
Konsep ini seolah-olah lazim bagi jenis huruf roman untuk
menggambarkan femininitas, disebabkan kekerapannya muncul
pada produk-produk yang ditujukan bagi perempuan, seperti minyak
wangi atau produk kecantikan lainnya. Maka bisa dibilang, sebuah
jenis huruf mampu mengatur identitas jenis kelamin tertentu yang
tentu saja tak ada kaitannya dengan seksualitas namun lebih
bersifat kultural selama ini.
Jenis huruf roman acapkali digunakan untuk mencitrakan
perempuan sedangkan huruf sans serif yang tak berkait dan minim
dekorasi, kerap dipakai untuk menggambarkan konsep lugas,
kelakian dan modern. Kedua jenis huruf ini telah menjadi bahasa
visual berjenis kelamin yang makin mengukuhkan oposisi biner,
seperti: laki-laki perempuan, maskulin feminin, modern
tradisional, fungsional dekoratif dsb.
2.2.2.

Fotograf dan Bentuk Botol

Kemasan Kiranti terbangun atas anatomi desain kemasan


seperti : struktur botol, warna, tipografi dan gambar yang berupa
fotografi. Pada tingkatan denotasi ikon foto perempuan langsing
berkulit putih mulus yang mengenakan kaus dan bercelana jins
dengan berbagai pose menggambarkan wujud perempuan itu
sendiri. Begitu juga dengan bentuk botol yang merujuk pada botol
itu sendiri. Selanjutnya denotasi ini menjadi penanda bagi makna
konotasi yang melibatkan pengetahuan dan emosi penafsir gambar
guna menguak arti tersembunyi dibalik sebuah gambar. Seorang
model telah dipilih untuk mewakili sosok perempuan, secara
gamblang digambarkan dengan proporsi tubuh langsing berkulit
cenderung putih dan mulus nyaris tanpa cacat.
Sehingga yang tampak adalah sebuah mitos kecantikan
tertentu dalam menampilkan tubuh perempuan secara sepihak oleh
pembuat pesan. Sebagai bentuk pesan, mitos adalah sesuatu yang
diyakini kebenarannya tanpa dipertanyakan lebih lanjut oleh
masyarakat. Menurut Roland Barthes (Chandler, 2007), fungsi mitos
adalah menaturalisasikan budaya dengan kata lain untuk membuat
budaya yang dominan dan sejarah, sikap, dan keyakinan supaya
tampak alami, wajar, self-evident, tanpa waktu, nyata sebagai
anggapan umum sasaran dan refleksinya adalah tampak apa
adanya. Dalam hal ini kemasan Kiranti tampak berusaha membuat
ukuran mitos kecantikan perempuan khususnya perempuan
Indonesia. Strategi kemasan Kiranti dalam memilih model
perempuan telah menyapa konsumennya dan mereka, para
perempuan tersebut turut menyetujui bahwa perempuan sudah
sepatutnya memiliki tubuh yang ideal dan kulit mulus seperti pada
gambar. Perempuan sudah bergumul dengan sesuatu yang dianggap
alamiah (terberi) padahal ini adalah sebuah bentuk konstruksi sosial
oleh media.

Mitos kecantikan ini diperkuat pula oleh bentuk botol yang


secara konotatif bila diperhatikan menyerupai siluet tubuh
perempuan yang dipertegas oleh label transparan yang berkurva
lenggok menyerupai bagian perut dan pinggul perempuan bila
dilihat tampak depan. Proporsi perut ramping dan pinggul bak gitar
spanyol ini turut mengukuhkan citra perempuan langsing
berpinggul indah. Inilah cara kerja mitos, membingkai apa yang
ingin
ditampilkannya,
yakni
kecantikan
dan
kelangsingan
perempuan yang dipilih sebagai standarisasinya sekaligus
mengesampingkan tubuh liyan seperti kurus maupun tubuh gemuk
atau kemajemukan warna kulit dari yang gelap bergradasi ke terang.
Seolah-olah kemasan Kiranti mendikte perempuan dengan
menetapakan mitos kecantikan langsing dan bekulit mulus putih.
Konsep kecantikan seperti ini memang bukanlah hal baru, telah
banyak media lainnya seperti iklan sabun pencerah kulit dan lainnya
telah lama merasuki dan mendikte perempuan dalam memelihara
tubuhnya.
Material gelas sendiri berkonotasi premium (Marianne Rosner
Klimchuck, Sandra A. Krasovec, 2007), turut membentuk subyek
konsumen yang berstatus ekonomi sosial atas, disamping harganya
yang memang dua kali lipat dari jamu tradisional. Botol siap saji ini
mempengaruhi perilaku konsumsi yang memiliki mobilitas tinggi.
Mitos lainnya yang berkembang adalah identitas konsumen
perempuan aktif (outdoor/publik) bekerja, maupun mahasiswa. Hal
yang disejajarkan dengan kemodernan. Sangat berbeda dengan
peminum jamu tradisional yang menyeduh sendiri atau menunggu
mbok jamu yang mengkonotasikan nilai domestik, pasif dan
tradisional. Kesan jamu yang berasal dari kata jampi yang berarti
mantra atau doa, yang biasa dipanjatkan para balian (dukun wanita)
untuk meminta kesembuhan dan kesehatan (Damanik, 2009),
berkesan mistis. Sisi ini dipendam Kiranti karena berasosiasi dengan
kesan tradisional dan tidak empirik. Didukung pula dengan tulisan
obat herbal terstandar, Kiranti ingin menyampaikan makna baru,
yakni: empirik, logis dan modern bagi perempuan modern. Meski
nyatanya isi produk masih jamu dan terdapat ciri khas kecantikan
perempuan Jawa yang kalem dan lembut.
2.2.3.

Ilustrasi

Apabila ditelusuri keterkaitan


gambar daun dan tulisan, makna
level denotasi gambar daun tersebut
terbantukan dengan tulisan urutan
pertama komposisi minuman, yakni
Curcumae Domesticae Rhizoma
atau kunyit untuk Kiranti Sehat
Datang Bulan. Tingkatan tanda
pertama ini berkembang ke tahap
konotasi bahwa produk Kiranti
terbuat dari rempah alami seperti
kunyit, yang berbeda dengan pereda

nyeri menstruasi sejenis obat. Di sini terdapat kode estetika


komputerisasi dalam upaya membangun derajat ikonitas untuk
mencapai kemiripan fotografi kunyit. Pemanfaatan perangkat grafis
ini merupakan cara untuk memitoskan sesuatu yang diambil dari
alam. Helai-helai daun yang digambarkan tampak segar dan hijau
terang menyiratkan ide segar dari perkebunan, tanaman toga
misalnya. Seperti yang dilontarkan Barthes (2010), ribuan gambar
bisa menunjukkan konsep tunggal. Konsep bisa jadi tetap, namun
bentuk bisa beraneka ragam. Bermacam penggayaan untuk gambar
daun kunyit, Kiranti memilih gambar paling kanan dalam
menyampaikan konsep naturally. Begitu juga dengan ilustrasi
berupa stilasi komposisi buah asam, daun sinom, kunyit dan buah
jeruk. Bahan-bahan herbal tersebut yang tadinya mentah dari alam,
sebenarnya telah mengalami pengolahan dari pabrik berteknologi
tinggi.
Konsep natural ini terkukuhkan bila dikaitkan dengan riasan
natural (tipis) oleh model yang ditampilkan. Kualitas-kualitas alam
dipinjam untuk ditranfer ke dalam kemasan Kiranti. Keutuhan pesan
yang berseru pada pembaca teksnya adalah Kiranti berbahan
alami, sealamiah kecantikanmu (lewat riasan natural) adalah wujud
ideologi dari yang natural (Williamson, 2007). Williamson
menyatakan, sistem alam ditarik sebagai referen untuk
menyimbolkan komoditi atau iklan (budaya) lewat imaji dan teks
verbal meskipun pada kenyataannya sesuatu yang mentah telah
dimasak oleh pabrik justru disejajarkan tersedia oleh alam. Terdapat
hasrat untuk kembali ke alam dan keinginan penampilan yang alami,
seperti yang diidamkan oleh pembaca teks.

2.3.

Labelling Kemasan

Label makanan adalah informasi identitas atau jati diri dari


produk yang menjadi hak milik perusahaan sebagai alat komunikasi
tertulis pihak produsen dengan pihak konsumen dalam melakukan
pelayanan
jaminan
persyaratan
mutu produk dan kesehatan. Banyak
rambu-rambu yang mengatur dalam
pelabelan
makanan
beserta
sanksinya.
Oleh
karena
itu
diharapkan bahwa pelabelan dapat
menjadi
perangkat
efektif
pengendali mutu dan sekaligus
dapat
mempertinggi
alarm
keamanan
pangan.
Setidaknya
konsumen bisa waspada untuk tidak
lagi membeli produk dengan label
yang sama setelah dikecewakan. Konsumen dapat meminta
pertanggungjawaban produsen, karena tahu kepada siapa mereka
harus meminta tanggung jawab. Mereka akan menjadi pelanggan
lestari apabila sudah percaya terhadap mutu produk dengan label
yang telah dipercayainya. Dengan demikian produsen memperoleh
hadiah atas mutu yang mereka berikan kepada konsumennya.

Dengan pelabelan, baik produsen maupun konsumen dilatih


untuk masuk dalam sistem yang secara langsung atau tidak
langsung akan melibatkan adanya pengendalian mutu sekaligus
penjagaan terhadap keamanan pangan. Berdasarkan UU No. 7 tahun
1996 pada label mengandung informasi tentang :
Logo perusahaan
Nama Produk
Daftar nama bahan yang digunakan dalam produk secara terbuka
dicantumkan kecuali istilah khusus yang digunakan untuk bahan
pangan tertentu yang unik diberi penjelasan dimana konsumen
umum dapat mengerti. Komposisi jumlah bahan yang menjadi
rahasia perusahaan juga bisa tidak dicantumkan.
Nilai Gizi
Netto (berat) produk yang ada di dalam kemasan
Nomor daftar di Departemen terkait, misalnya no. sertifikat halal
Tanggal kadaluarsa
Petunjuk penggunaan dan kegunaan produk
Cara penyimpanan
Alamat layanan konsumen dan alamat perusahaan dicantumkan
dengan jelas dan benar

Pada produk Kiranti ini dirasa sudah sangat memenuhi standar


yang telah ditetapkan. Semua komponen yang diwajibkan telah
dicantumkan pada kemasan. Jelas saja, melihat juga bahwa produk ini
telah mendapatkan predikat dari BPOM RI sebagai salah satu obat
herbal terstandar dan telah mendapatkan sertifikasi CPOTB (Cara
Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), serta jaminan keamanan
pangan ISO 22000:2005. Selain itu, Kiranti juga telah mendapatkan

sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Tidak perlu diragukan lagi masalah pelabelan pada
Kiranti.