Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam melaksanakan pembangunan pemerintah membutuhkan dana untuk
pemenuhan hal-hal yang dibutuhkan, dana tersebut diambil oleh pemerintah
melalui pajak yang diambil dari masyarakat sehingga pajak ini menjadi salah satu
kewajiban masyarakat. Namun di sisi lain, selain adanya kewajiban untuk
membayar pajak, masyarakat yang beragama Islam mempunyai kewajiban lain
yang harus ditunaikan yaitu membayar zakat.
Kedudukan zakat penting dalam kehidupan manusia karena merupakan
bentuk pelaksanaan interaksi manusia sebagai makhluk sosial dan juga
mendorong manusia untuk berusaha mendapatkan harta benda sehingga dapat
menunaikan kewajibannya berzakat sebagai bukti pelaksanaan rukun Islam.
Zakat dan pajak merupakan dua hal yang penting dan tidak dapat dipungkiri
keberadaannya dalam kehidupan masyarakat sehingga timbul permasalahan
mengenai hal mana yang harus lebih diutamakan.
Oleh karena itu, penyusun akan mencoba memaparkan lebih jauh lagi
mengenai zakat dan pajak ini dalam makalah kami yang berjudul Zakat dan Pajak
dalam Perspektif Hukum Islam.

BAB II
PEMBAHASAN
I.

ZAKAT
A.

Pengetian Zakat

Dilihat

dari

sudut

etimologi,

kata

zakat

merupakan

mashdar dari zak yang berarti berkah, tumbuh bersih dan baik 1.
Pendapat lain mengatakan bahwa kata dasar zak, berarti
bertambah

dan

tumbuh,

sedangkan

setiap

sesuatu

yang

bertambah disebut zakat artinya bertambah. Bila satu tanaman


tumbuh tanpa cacat, kata-kata zakat berarti bersih.
Adapun

zakat

menurut

mendefinisikannya.

terminologi,

Misalnya

dari

segi

banyak
istilah

para
fiqh

ahli

berarti

sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah Taala untuk


diserahkan

kepada

orang

yang

berhak,

disamping

berarti

mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri. Madzhab Maliki


mendefinisikan zakat dengan mengeluarkan sebagian yang
khusus dari harta yang khusus pula yang telah mencapai nishab
(batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada yang berhak
menerimanya (mustahiqq). Dengan catatan, kepemilikan itu
penuh dan mencapai hawl (setahun), bukan barang tambang dan
bukan pertanian. Madzhab Hanafi mendefinisikan zakat dengan
menjadikan sebagian harta yang khusus dari harta yang khusus
sebagai milik yang khusus, ditentukan oleh syariat karena Allah
SWT. Madzhab Syafii mendefinisikan zakat dengan ungkapan
untuk keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan cara khusus.
Sedangkan madzhab Hanbali mendefinisikan zakat dengan hak
yang wajib (dikeluarkan) dari harta yang khusus untuk kelompok
yang khusus pula.

1 Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat, (Bogor: Pustaka Litera Nusa, 1987), hlm. 34.

Menurut UU No. 38 Tahun 1999 yang dimaksud dengan


zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim
atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan
ketentuan

agama

untuk

diberikan

kepada

yang

berhak

menerimanya.2 Zakat adalah hak tertentu yang diwajibkan Allah


terhadap harta kaum muslimin yang di peruntukkan bagi fakir
miskin dan mustahik lainnya, sebagai tanda syukur atas nikmat
Allah

dan

untuk

mendekatkan

diri

kepada

Nya

serta

membesihkan diri dari hartanya.3


B.

Syarat dan Harta Wajib Zakat


Syarat Wajib Zakat

Para ahli fiqih bersepakat bahwa zakat diwajibkan kepada orang


yang merdeka, beragama Islam, baligh dan berakal, mengetahui
bahwa zakat adalah wajib hukumnya, lelaki atau perempuan.
Dalam hal ini banyak sekali perbedaan pendapat antara para
ulama mengenai harta anak kecil dan orang gila, apakah wajib
zakat atau tidak atas mereka. Namun sebagian besar ulama
Syafiiyah, Malikiyah dan Hanabillah berpendapat bahwa zakat
diwajibkan atas harta anak kecil dan orang gila yang ditunaikan
oleh walinya.

Harta Wajib Zakat


Sejalan

menetapkan

dengan
standar

ketentuan
umum

ajaran

pada

Islam

setiap

yang

kewajiban

selalu
yang

dibebankan kepada umatnya, maka dalam penetapan harta

2 Nuruddin Mhd. Ali, Zakat Sebagai Instrumen Dalam Kebijakan Fiskal,


(Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006), hal 6

3 M. Ali Hasan, Zakat dan Infak Salah Satu Mengatasi Problema Sosial di
Indonesia, (Jakarta, Kencana, 2006), hlm.81

menjadi sumber atau objek wajib zakat pun harus memenuhi


beberapa ketentuan sebagai berikut:
a. Harta milik penuh (al-milku at-tam), yakni bahwa pemilik
harta tersebut memungkinkan untuk mempergunakan dan
mengambil manfaat harta itu secara penuh. Harta yang
dizakati ini harus didapatkan melalui cara yang dibenarkan
syara dan tidak diwajibkan atas harta yang didapat secara
haram.
b. Berkembang (an namaa), maksudnya harta tersebut dapat
bertambah bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk
berkembang. Kalau ulama terdahulu mengkategorikan
zakat

hanya

pada

(lima)

kategori,

maka

ulama

kontemporer seperti Dr. Yusuf Qardhawi menambah 4


(empat)

kategori

baru

sesuai

dengan

perkembangan

sarana untuk menumbuhkembangkan potensi kekayaan


tersebut.
c. Cukup nisbah, artinya harta tersebut telah mencapai
jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan syara.
d. Lebih dari kebutuhan pokok, yakni lebih dari kebutuhan
minimal yang harus dipenuhi setiap hari seperti sandang,
pangan dan papan. Apabila kebutuhan hidup minimal ini
masih belum mampu untuk dipenuhi setiap harinya, maka
yang bersangkutan terbebas dari zakat.
e. Bebas dari hutang. Orang yang memiliki hutang yang besar
dan mengurangi nilai nisbah kena zakat, maka ia tidak
berkewajiban membayar zakat. Adapun hutang-hutangnya
harus diselesaikan dahulu, oleh karena itu zakat dikenakan
bagi orang kaya yang memiliki harta lebih.
f. Sudah satu tahun. Maksudnya kepemilikan harta tersebut
sudah lewat dari 12 bulan Qomariyah. Masa satu tahun ini
hanya berlaku bagi ternak, uang, harta benda yang
diperdagangkan. Sedangkan hasil pertanian, buah-buahan,

rikaz (barang temuan) dan lain-lain yang sejenis tidak


disyaratkan.
C.

Macam-Macam Zakat

Zakat terbagi menjadi dua bagaian, yaitu:


1. Zakat Fitrah, yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah
pada bulan Ramadhan. Disebut pula dengan sedekah fitrah.
Zakat ini diwajibkan pada tahun kedua hijriah, yaitu tahun
diwajibkannya puasa, yang bertujuan untuk mensucikan
orang yang berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang
tidak ada gunanya, untuk memberik makan pada orang-orang
miskin

dan

mencukupkan

mereka

dari

kebutuhan

dan

meminta-minta pada Hari Raya Idul Fitri.


2. Zakat Harta (al-maal), yakni zakat yang dikeluarkan karena
telah diperolehnya suatu harta kekayaan. Harta adalah segala
sesuatu yang dapat dimiliki dan dapat digunakan menurut
lazimnya.

Sesuatu

dapat

disebut

harta

(al-maal)

memenuhi dua syarat, yaitu:


1) Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun dan dikuasai
2) Dapat diambil manfaatnya sesuai dengan lazimnya.
Sedangkan harta yang wajib dikeluarkan zakatnya meliputi:
1) Hasil pertanian.
2) Harta terpendam, barang tambang dan kekayaan laut.
3) Emas dan perak.
4) Perniagaan dan perusahaan.
5) Binatang ternak.
6) Saham dan surat berharga.
7) Hadiah atau harta tidak terduga, dan profesi.
D.

Orang Yang Berhak Menerima Zakat

jika

Adapun orang-orang yang berhak mendapatkan harta dari


zakat terbagi ke dalam delapan golongan (ashnaf ) sebagaimana
sdipaparkan sebagai berikut:
a.

Fakir, adalah orang yang amat sengsara hidupnya, tidak


mempunyai

harta

dan

tenaga

untuk

memenuhi

penghidupannya
b.

Miskin, ialah orang yang mempunyai pekerjaan atau


sumber penghasilan yang jelas

tetapi belum bisa

memenuhi kebutuhan hidup minimalnya.


c.

Amil,

yakni

orang

yang

diberi

tugas

untuk

mengumpulkan dan membagikan zakat.


d.

Rikab, yaitu orang yang keadaannya dapat dikategorikan


sebagai budak, yakni orang yang secara ekonomis
tertekan oleh lingkungannya seperti pembantu rumah
tangga atau orang yang hidupnya menggantungkan diri
kepada orang lain.

e.

Gharimin, adalah orang yang tidak mampun melunasi


hutangnya (pailit), atau kewajiban hutangnya lebih besar
dari pada kekayaannya.

f.

Sabilillah, ialah orang yang sedang melakukan kegiataan


atau usaha dalam rangka menegakkan hukum Allah
SWT, seperti penyelenggaraan pendidikan dan dakwah
Islam.

g.

Ibnu Sabil, adalah segala macam kegiatan atau usaha


dalam rangka mendukung lancarnya suatu perjalanan,
pembangunan

fasilitas

sarana

jembatan,

jalan,

transportasi,
atau

pembangunan

komunikasi

untuk

membuka daerah terpencil.


h.

Muallaf, yaitu orang yang baru memeluk agama Islam,


atau

usaha-usaha

dan

kegiatan

dalam

rangka

meningkatkan
terutama

bagi

pemahaman
orang

ajaran

muslim

yang

agama

Islam

pengetahuan

agamanya masih kurang.

E.

Landasan Hukum Zakat

Hukum zakat bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah sebagai


berikut:

Al-Quran

a. Surat At- Taubah ayat 103 yang artinya :



Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu
kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah
untuk

mereka.

Sesungguhnya

do`a

kamu

itu

(menjadi)

ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi


Maha Mengetahui.
b. Surat Al-Baqarah ayat 267 yang artinya :



Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)


sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari
apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah
kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan
daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya
melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan

.ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji

As-sunnah yang artinya :

Dari Ibu Abbas: bahwa Nabi SAW mengutus Muadz ke Yaman,


maka Nabi bersabda: Ajaklah mereka (penduduk Yaman) untuk
mengucapkan syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku
(Muhammad) utusan Allah. Jika mereka menaati kepada hal itu,
maka beritahukanlah bahwa Allah menwajibkan bagi mereka
lima shalat fardhu dalam sehari semalan. Jika mereka telah
maati kepada hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka
bahwa Allah mewajibkan adanya sedekah (zakat) atas harta
mereka dan berikan kepada mereka yang miskin.
F.

Hikmah Zakat
Ajaran Islam memberikan peringatan dan ancaman yang

keras

terhadap

orang

yang

enggan

mengeluarkan

zakat.

Kewajiban menunaikan zakat demikian tegas dan murlak, oleh


karena di dalamnya terkandung hikmah dan manfaat yang besar
dan mulia, baik yang berkaitan dengan muzakki, mustahik, harta
yang dikeluarkan maupun bagi masyarakat secara keseluruhan.
Diantara hikmahnya adalah sebagai berikut:
a. Sebagai perwujudan keimanan kepada Alla SWT.
b. Menolong,

membantu

dan

membina

para

mustahik,

terutama fakir miskin ke arah kehidupan yang lebih baik


dan

sejahtera

sehingga

mereka

dapat

memenuhi

masyarakat,

sehingga

kebutuhan hidupnya dengan layak.


c. Pemerataan

pendapatan

mengurangi kesejangan antara orang yang mempunyai


limpahan harta dengan orang yang kekurangan hartanya.

II.

PAJAK
A.

Pengertian Pajak

Secara bahasa pajak dalam bahasa arab disebut dengan


Dharibah, yang berarti mewajibkan, menetapkan, menentukan

Para ulama memakai ungkapan dharibah untuk menyebut harta


yang dipungut sebagai kewajiban4. Dalam istilah bahasa Arab,
pajak

dikenal

dengan

nama

Adh-Dharibah,5 yang

artinya

adalah beban. Ia disebut beban karena merupakan kewajiban


tambahan

atas

harta

setelah

zakat,

sehingga

dalam

pelaksanaannya akan dirasakan sebagai sebuah beban. Secara


bahasa

maupun

tradisi,

dharibah

dalam

penggunaannya

memang mempunyai banyak arti, namun para ulama memakai


ungkapan

dharibah

untuk

menyebut

harta

yang

dipungut

sebagai kewajiban dan menjadi salah satu sumber pendapatan


negara. Sedangkan kharaj adalah berbeda dengan dharibah,
karena kharaj adalah pajak yang obyeknya adalah tanah
(taklukan) dan subyeknya adalah non-muslim. Sementara jizyah
obyeknya adalah jiwa (an-nafs) dan subyeknya adalah juga nonmuslim.6
Pajak menurut para ahli keuangan ialah : kewajiban yang
ditetapkan terhadap wajib pajak, yang harus disetorkan kepada
negara sesuai dengan ketentuan, tanpa dapat prestasi kembali
dari negara, dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran
pengeluaran umum disatu pihak dan untuk merealisir sebagian
tujuan ekonomi.7

4 Gusfahmi, 2007, Pajak Menurut Syariah, Jakarta, PT Raja Grafindo


Persada, hlm.27
5 Gazi Inayah, al-Iqtishad al-Islami az-Zakah wa ad-dharibah, Dirasah

Muqaranah, 1995, Edisi terjemah oleh Zainuddin Adnan dan Nailul Falah, Teori
Komprehensif tentang Zakat dan Pajak. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), hal.
24.
6 Gusfahmi, op.cit., hal. 27-30.
7 Yusuf Qardawi, op.cit, hlm.999

Sedangkan menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH, pajak


adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undangundang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa
imbalan (kontra prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan
yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum (public
investment).8
Menurut UU No 28 Tahun 2007, pasal 1, pajak adalah kontribusi
wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang
dengan

tidak

mendapatkan

imbalan

secara

langsung

dan

digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya untuk


kemakmuran rakyat.9
PJA. Adriani menyatakan bahwa pajak adalah iuran wajib pada
negara yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib
membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak dapat
prestasi kembali, yang lansung dapat ditunjuk dan yang gunanya
adalah untuk membiaya pengeluaran-pengeluaran umum yang
berhubungan dengan tugas pemerintah
B. Fungsi Pajak
Pada

dasarnya

fungsi

pajak

adalah

sebagai

sumber

pemasukan keuangan negara (fungsi budgeter), yang nantinya


dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran operasional
8 Hukum Pajak. (Jakarta: Salemba Empat, edisi 3, 2007), hal. 5. Lihat juga
Soemarso, Perpajakan Pendekatan Komprehensif. (Jakarta: Salemba Empat,
2007), hal. 2-3.

9 UU No 28 Tahun 2007, pasal 1

10

maupun investasi oleh negara. Namun ada fungsi lainnya yang


tidak kalah pentingnya yaitu pajak sebagai fungsi mengatur.
a)

Fungsi Budgeter, adalah fungsi yang letaknya pada sektor


publik, dan pajak-pajak di sini sebagai alat (atau suatu
sumber) untuk memasukkan uang sebanyaknya ke dalam
kas negara yang pada waktunya akan digunakan untuk
membiayai pengeluaran negara. Pajak-pajak ini terutama
akan

digunakan

untuk

membiayai

pengeluaran-

pengeluaran rutin, dan apabila setelah itu masih ada sisa


(surplus), maka

surplus

ini

dapat digunakan untuk

membiayai investasi pemerintah (public saving untuk


public investment).
b)

Fungsi Mengatur (regularend), adalah digunakan sebagai


alat

untuk

melaksanakan

kebijakan

negaran

dalam

bidang ekonomi dan sosial, untuk mencapai tujuan-tujuan


tertentu yang letaknya di luar bidang keuangan. Hal ini
merupakan usaha pemerintah untuk turut campur tangan
dalam hal mengatur dan bilamana perlu mengubah
susunan pendapatan dan kekayaan dalam sektor swasta.
C.

Hukum Pajak dalam Islam


Mengenai hukum pajak dalam Islam, ada dua pendapat

yang bisa muncul. Pandangan pertama yakni memandang bahwa


penarikan pajak merupakan suatu tindakan kezhaliman dan hal
tersebut merupakan haram sedangkan pandangan kedua yakni
yang menyetujui kebolehan dari adanya pajak
Pendapat pertama menyatakan bahwa pajak tidak boleh
sama sekali dibebankan kepada kaum muslimin, karena kaum
muslimin sudah dibebani kewajiban zakat. Di antara dalil-dalil
syari yang melandasi pendapat ini adalah sebagaimana berikut:
a) Firman Allah Taala:
11



Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil,
Dalam ayat ini Allah melarang hamba-Nya saling memakan
harta sesamanya dengan jalan yang tidak dibenarkan. Dan pajak
adalah salah satu jalan yang batil untuk memakan harta
sesamanya.
Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda :


Janganlah kalian berbuat zhalim (beliau mengucapkannya tiga
kali). Sesungguhnya tidak halal harta seseorang muslim kecuali
dengan kerelaan dari pemiliknya. (HR. Imam Ahmad V/72
no.20714, dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahih wa
Dhaif Jamiush Shagir no.7662, dan dalam Irwaal Ghalil no.1761
dan 1459)
Adapun dalil secara khusus, ada beberapa hadits yang
menjelaskan

keharaman

pajak

dan

ancaman

bagi

para

penariknya, diantaranya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa


sallam

bersabda

(yang

artinya):

Sesungguhnya

pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka. (HR Ahmad 4/109,


Abu Dawud kitab al-Imarah : 7) Hadits ini dishahihkan oleh
Syaikh al-Albani rahimahullah dan beliau berkata: Sanadnya
bagus, para perawinya adalah perawi (yang dipakai oleh)
Bukhari-Muslim, kecuali Ibnu Lahiah; kendati demikian, hadits ini
shahih karena yang meriwayatkan dari Abu Lahiah adalah
Qutaibah bin Said Al-Mishri.
Adapun pendapat kedua, pajak ialah suatu hal yang
diperbolehkan. Pendapat ini ambil dengan menganggap bahwa
pajak ialah sebagai ibadah tambahan setelah adanya zakat.

12

Pajak ini bahkan bisa jadi menjadi wajib karena sebagai bentuk
ketaatan kepada waliyyul amri dimana amri tersebut disini ialah
pemerintah.
Rasulullah

SAW

pernah

menerangkan

kepada

para

sahabatnya Radhiyallahu anhum bahwa akan datang di akhir


zaman para pemimpin yang zhalim. Kemudian beliau ditanya
tentang

sikap

kaum

muslimin:

Bolehkah

melawan/memberontak?. Lalu Rasulullah SAW menjawab ;


Tidak boleh! Selagi mereka masih menjalankan shalat
Selain itu juga dijelaskan pada surat An-Nisa ayat 59
mengenai makna ketaatan pada ulil amri dengan arti sebagai
berikut, Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan
taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika
kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah
ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang
demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)
Pada ayat tersebut bisa ditarik makna bahwa ketaatan
tersebut juga memiliki batas yakni pada hal yang bersifat maruf
saja, bukan pada hal yang tidak maruf. Hal lain yang menjadi
pertimbangan

bahwa

pajak

tersebut

alangkah

baiknya

dibayarkan sesuai dengan hukumnya dikarenakan pajak tersebut


pun pada akhirnya akan dinikmati masyarakat dalam bentuk
layanan-layanan yang diberikan oleh Negara.
Selama pajak tersebut masih berjalan sesuai dengan asas
keadilan adalah hal yang sah-sah saja bagi kita untuk membayar
pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tanpa adanya
pajak, maka pemerintahan pun tidak akan bisa berjalan dengan
semestinya dan tentunya hal itu juga akan berimbas kepada kita
sebagai masyarakat. Jikalau ada perilaku korupsi dalam pajak, itu
merupakan sesuatu yang akan ditanggung oleh pribadi yang

13

melakukannya dan tentunya ia akan berhadapan dengan Yang


Maha Kuasa di akhirat kelak.
Muncul pertanyaan Apakah kedudukan pajak itu sama
dengan

zakat?

bagaimanakah

Atau

apa

seorang

perbedaan

warga

keduanya?

negara

Atau

muslim

dalam

menyikapinya kedua pungutan ini. Tulisan ini mencoba melihat


perbezaan keduanya. Zakat memiliki banyak arti dan hikmah
sebagaimana dijelaskan sebab zakat adalah ibadah menyangkut
kekayaan yang mempunyai fungsi sosial dan ekonomi. Zakat
merupakan perwujudan sosial, pernyataan rasa kemanusian dan
keadilan, antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai
penimbun jurang kaya miskin. Kedua Memberantas penyakit iri
hati, rasa benci dan dengki daridiri orang-orang miskin di sekitar
mereka yang mewah. Ketiga dapat menunjang terwujudnya
sistem kemasyarakatan.
Pajak

adalah

menyangkut

kewajiban

warga

negara

terhadap negara yang menjadi institusi awam yang dibentuk dan


diberi tanggungjawab untuk mengelola kepentingan negara atau
kepentingan negara. Pemungutan pajak harus mendapatkan
persetujuan
dipersetujui

rakyat

melalui

parlemen.

berdasarkan
mematuhinya.

undang-undang

Setiap

pungutan

undang-undang
Tetapi

untuk

maka
pajak

pajak

rakyat
yang

yang
yang
tidak

ditetapkan

harus
tidak
wajib
oleh

undamng-undanh maka pemerintah atau negara memiliki hak


memaksa. Penggunaan pajak tidak hanya terbatas kepada
kepentingan golongan tertentu seperti zakat hanya untuk 8
golongan sedangkan pajak dapat digunakan untuk semua
keperluan dalam pengunaan kewangan negara, termasuk yang
tidak sesuai dengan tuntunan agama asal mendapat persetujuan
III.

Objek dan Prinsip Zakat dan Pajak

14

A. Objek Zakat dan Pajak

Objek Zakat
Objek zakat adalah segala barang yang bernilai ekonomis

yang dapat dipergunakan untuk menutupi kehidupan manusia.


Perinciannya berkembang sesuai dengan keadaan, tempat dan
tingkat kehidupan, yang secara sederhana dapat dikelompokkan
pada

tiga

hal

pokok.

Pertama

kekayaan

yang

mencakup

kekayaan dalam bentuk barang berharga (emas, perak, platina


dan

perhiasan

lainnya),

kekayaan

hasil

pertanian

dan

perniagaan. Kedua pendapatan yang bersumber dari harta


perniagaan dan perindustrian serta pendapatan dari hasil usaha
investasi dan profesi. Ketiga berbentuk zakat pribadi yang kita
kenal dengan sebutan zakat fitrah. Benda-benda yang harus
dikeluarkan zakatnya secara eksplisit dikemukakan dalam UU
pengelolaan

zakat

No.38

Tahun

1999

Bab

IV

tentang

pengumpulan zakat pasal 11 ayat ( 1 ) menyatakan bahwa zakat


terdiri atas zakat maal dan fitrah. Pada ayat ( 2 ) dikemukakan
bahwa harta yang dikenai adalah :
o Emas, perak, dan uang
o Perdagangan dan perusahaan.
o Hasil pertanian, perkebunan dan hasil perikanan
o Hasil pertambangan
o Hasil peternakan
o Hasil pendapatan dan jasa
o Rikaz (barang temuan)

15

Objek Pajak

Pada dasarnya harta yang melalui sumber zakat, juga


termasuk apa yang dikenai kewajiban pajak. Hanya dalam pajak
lebih terperinci dan luas mencakup pajak penghasilan (PPh),
pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak pertambahan nilai (PPN)
dan pajak penjualan atas barang mewah (PPBNM).
Kewajiban pajak kadarnya ditetapkan oleh negara sesuai dengan
kebutuhan. Sifatnya relatif bisa berlebih dan berkurang sesuai
dengan situasi dan kondisi pendukungnya. Bahkan bila pada
suatu waktu negara tidak membutuhkannya lagi karena ada
sumber dana lain, maka pajak dapat dihapuskan.

B. Prinsip Zakat dan Pajak

Prinsip Zakat
a. Harta

harus

mencapai

nisab

(setelah

dikurangi

kebutuhan-kebutuhan pokok). Nisab nya senilai 85


gram emas, kewajiban zakatnya sebesar 2,5%.
b. Harta itu harus mencapai setahun umurnya.
c. Kewajiban mengeluarkan zakat tiap tahun
d. Harta yang wajib dizakati adalah harta yang tidak
terpakai dan bisa dikembangkan

Prinsip Pajak

16

Empat prinsip the fourmaxims, pemungutan pajak menurut


Adam Smith:
1. Pembagian tekanan pajak diantara subyek atau wajib pajak
masing-masing hendaknya seimbang, equality dengan
kemampuannya.
2. Pajak yang harus dibayar harus jelas dan terang (certain)
3. Dipungut pada saat yang paling baik bagi wajib pajak,
yaitu

sedekat-dekatnya

dengan

saat

diterimanya

penghasilan.
4. Biaya pemungutan harus semurah-murahnya.
C. Perbedaan Zakat dan Pajak
Terdapat beberapa perbedaan pokok antara zakat dan
pajak, yang menyebabkan keduanya tidak mungkin secara
mutlak dianggap sama, meskipun dalam beberapa hal terdapat
persamaan di antara keduanya. Beberapa perbedaan mendasar
tersebut, antara lain sebagai berikut:
a. Dari segi nama
Secara etimologis, zakat berarti bersih, suci, berkah,
tumbuh, maslahat, dan berkembang. Artinya setiap harta yang
dikeluarkan zakatnya akan bersih, tumbuh, dan berkembang.
Demikian pula bagi muzakki. Sedangkan pajak, berasal dari kata
al-dharibah yang secara etimologis berarti beban. Kadangkala
diartikan pula dengan al-jizyah yang berarti pajak tanah (upeti),
yang diserahkan oleh ahli dzimmah (orang yang tetap dalam
kekafiran, tetapi tunduk aturan pemerintahan Islam) kepada

17

pemerintah Islam. Allah Swt berfirman dalam Surat at-taubah


ayat 29,
perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak

(pula)

kepada

hari

Kemudian,

dan

mereka

tidak

mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya


dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah),
(Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka,
sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka
dalam Keadaan tunduk.
Tafsir Departemen Agama Republik Indonesia pada catatan kaki
no. 638, memberikan keterangan bahwa yang dimaksud dengan
jizyah adalah pajak kepala yang dipungut oleh pemerintah Islam
dari orang-orang yang bukan Islam sebagai perimbangan bagi
jamninan keamanan diri mereka sendiri.
b. Dari Segi Dasar Hukum dan Sifat Kewajiban
Zakat ditetapkan berdasarkan nash-nash Al-Quran dan
hadist nabi yang bersifat qathi, sehingga kewajibannya bersifat
mutlak

dan

absolut

sepanjang

masa.

Yusuf

al_Qardhawi

menyatakan bahwa zakat adalah kewajiban yang bersifat tetap


dan terus-menerus. Ia akan berjalan terus selama Islam dan
kaum muslimin ada di muka bumi ini. Seperti halnya shalat,
zakat merupakan tiang agama dan pokok ajaran Islam. Ia
merupakan ibadah dalam rangka taqarrub kepada Alloh Swt,
karenanya memerlukan keikhlasan ketika menunaikannya, di
samping sebagai ibadah yang mengandung berbagai hikmah
yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
umat.

18

Sedangkan pajak, keberadaannya sangat bergantung pada


kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam bentuk undangundang. Di Indonesia, misalnya, hukum pajak besumber dan
berdasarkan pada pasal 23 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945
bahwa

segala

pajak

untuk

keperluan

Negara

berdasarkan

undang-undang.
c. Dari Segi objek dan Persentase dan Pemanfaatan
Zakat, memiliki nishab (kadar minimal) dan persentase
yang sifatnya baku, berdasarkan ketentuan yang tertuang dalam
berbagai

habist

Nabi.

Demikian

pula

pemanfaatan

dan

penggunaan zakat, tidak boleh keluar dari asnaf yang delapan,


sebagaimana tergambar dalam firman Allah surat at-Taubah ayat
60, meskipun terjadi perbedaan pendapat di kalangan para
ulama tentang kriteria dari masing-masing mustahik.
Sedangkan aturan besar dan pemungutan pajak sangat
bergantung pada peraturan yang ada serta tergantung pula pada
obyek pajaknya. Dalam berbagai literature dikemukakan bahwa
besarnya pajak sangat tergantung pada jenis, sifat dan cirinya.
Jika zakat harus dipergunakan untuk kepentingan mustahik yang
berjumlah delapan asnaf, maka pajak dapat dipergunakan dalam
seluruh sector kehidupan, sekalipun dianggap sama sekali tidak
berkaitan dengan ajaran agama. Muhammad Bagir al-Habsyi 10
mengemukakan bahwa perbedaan esensial antara zakat dan
pajak antara lain sebagai berikut :
1. Ketentuan kadar zakat yang diwajibkan oleh syariat atas
masing-masing jenis harta, seperti 2,5 persen, lima persen,
10 persen, dan 20 persen yang tidak sama dengan kadar

10 Muhammad Bagir al-Habsyi, Fiqh Praktis, (Bandung: 1999), hal. 327.

19

atau

persentase

pajak

yang

ditentukan

oleh

setiap

pemerintahan atas setiap jenis penghasilan.


2. Niat khusus yang menyertai pengeluaran zakat sebagai
ibadah dan pendekatan diri kepada Alloh Swt yang tidak
dapat dipersamakan dengan niat ketika membayar pajak
kepada pemerintah.
3. Ketentuan khusus tentang orang-orang atau lembagalembaga tertentu yang dperbolehkan maupun yang tidak
dibolehkan menerima zakat, sebagaimana telah dirinci oleh
Al-Quran dan hadist Nabi.
d. Zakat harta diwajibkan atas harta yang memenuhi
beberapa syarat tertentu,
Diantaranya harta tersebut merupakan kelebihan dari kebutuhan
pokok, tidak punya hutang dan harus mencapai nishab tertentu
bagi sebagian zakat, sedangkan pajak tidak diambil dengan
memperhitungkan syarat-syarat tersebut, terkadang pajak ditarik
dari orang miskin yang berada di bawah batas kecukupan dan
sama saja apakah dia punya hutang atau tidak.
e. Zakat harta mempunyai pso-pos distribusi tertentu
yang telah diketahui yaitu delapan golongan (asnaf),
distribusi zakat sangat mementingkan unsur kemanusiaan
dan tidak dibagikan sesuai dengan keinginan penguasa, sedang
hasil

dari

pajak

didistribusikan

sesuai

dengan

ketentuan

penguasa dan dimanfaatkan bersama oleh orang kaya dan


miskin, bahkan terkadang pajak tersebut hanya dinikmati oleh
orang kaya saja.

20

Perbedaan-perbedaan

ini

bukan

dimaksudkan

untuk

mendorong manusia untuk tidak membayar pajak, sebaliknya ia


adalah sebagian dari hak-hak masyarakat, untuk pembiayaan
pelayanan umum yang berada di luar wilayah pos distribusi
zakat, seperti keamanan, pendidikan, pengobatan dan lainnya.
Jika ada penyimpangan dalam penggunaannya maka dosanya
ditanggung oleh penguasa dan perangkatnya. Sedang kita wajib
mendoakan

dan

mengajak

mereka

kepada

kebaikan

dan

memerintahkan mereka kepada yang maruf dan mencegah yang


munkar.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Dengan roh zakat yang dimasukkan ke dalam pajak,

negara tidak lagi tumbuh sebagai sesuatu yang memangsa


rakyatnya dengan beban-beban tersebut. Sebaliknya negara
akan berperan sebagai representasi paling memadai dari nurani
masyarakat

untuk

tegakya

keadilan

masyarakat.

21

dan

rahmat

bagi

Kewajiban zakat mengandung tujuan yang bersifat moral


spiritual. Seorang muslim merasa menjalankan kewajiban agama
yang harus dipikulnya sekaligus menyadari bahwa harta yang
dimilikinya adalah harta Allah. Dalam mensyukuri nikmat Allah
itu, seorang muslim harus mengeluarkan sebagian dari harta
yang dimilikinya untuk tujuan yang sesuai dengan kehendak
Allah swt.
Pada pajak terlihat tujuan yang lebih bersifat material, yaitu
sebanyak mungkin memasukkan materi ke dalam kas negara
untuk membiayai kebutuhan negara. Dalam hal ini terkandung
suatu

pemikiran

keuntungan

dan

mengimbanginya

bahwa

warga

negara

perlindungan

dalam

dengan

membantu

yang

negara

mendapat

negara

harus

dengan

cara

memberikan sesuatu yang bersifat materi yang disebut pajak.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hafidhuddin,

Didin,

DR,

KH,

M.Sc.

Zakat

Perekonomian Modern, Jakarta: Gema Insani, 2008.

22

Dalam

2. Rusli Achyar, Zakat=Pajak:Kajian Hermeneutik Terhadap


Ayat-Ayat Zakat dalam al-Quran, Jakarta: Penerbit Renada,
2005.
3. Syahatah Husayn, DR. Akuntansi Zakat:Panduan Praktis
penghitungan

Zakat

Kontemporer,

Jakarta:

Pustaka

Progressif, 2004.
4.

Gusfahmi, Pajak Menurut Syariah, Jakarta: RajaGrafindo

Persada, 2007.

23