Anda di halaman 1dari 6

Mewaspadai Bahaya Malas*

ِ‫ َو َسّيَئات‬،‫سَنا‬ ِ ‫ل ِمْن ُشُروِر َأْنُف‬ ِ ‫ َو َنُعوُذ ِبا‬،‫سَتْغِفُرُه‬


ْ ‫ َو َن‬،‫سَتِعيُنُه‬
ْ ‫ َو َن‬،‫حَمُدُه‬ْ ‫ل َن‬ِ ‫حْمَد‬ َ ‫ِإّن اْل‬
،‫ل‬ ُ ‫ َو َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإَل ا‬،‫ي َلُه‬ َ ‫ل َهاِد‬ َ ‫ضِلْل َف‬
ْ ‫ َو َمْن ُي‬،‫ضّل َلُه‬ ِ ‫ل ُم‬ َ ‫ل َف‬
ُ ‫ َمْن َيْهِدِه ا‬،‫َأْعَماِلَنا‬
‫حّمًدا َعْبُدُه َو َرُسوُلُه‬ َ ‫ َو َأْشَهُد َأّن ُم‬،‫ك َلُه‬ َ ‫َوْحدَُه َل َشِرْي‬
(‫سِلُموَن‬ ْ ‫ل َحّق ُتَقاِتِه َو َل َتُموُتّن ِإّل َو َأْنُتْم ُم‬ َ ‫ )َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫َقاَل َتَعاَلى‬
‫س ّوِحَدٍة ّو َخَلَق ِمْنَها َزْوَجَها َو‬ ٍ ‫س اّتُقوا َرّبُكُم اّلِذي َخَلَقُكْم ِمن ّنْف‬ ُ ‫ )َيا َأّيَها الّن‬:‫ضا‬ً ‫َو َقاَل َأْي‬
‫ل َكاَن َعَلْيُكْم‬ َ ‫سآَءُلوَن ِبِه َو اْلَأْرَحاَم ِإّن ا‬ َ ‫ل اّلِذي َت‬ َ ‫ساًء ّو اّتُقوا ا‬َ ‫ث ِمْنُهَما ِرَجاًل َكِثًيا ّو ِن‬ ّ ‫َب‬
(‫َرِقيًبا‬
‫صِلْح َلُكْم َأْعَماَلُكْم َو‬ ْ ‫ل َو ُقوُلوا َقْوًل َسِديًدا ّي‬ َ ‫ ) َيا َأّيَها اّلِذيَن آَمُنوا اّتُقوا ا‬:‫ل َلُه‬ َ ‫َو َقَل َجّل َج‬
(‫ل َو َرُسْوَلُه َفَقْد َفاَز َفْوًزا َعِظيًما‬ َ ‫َيْغِفْر َلُكْم ُذُنوَبُكْم َو َمْن ّيِطِع ا‬
‫ َو‬،‫ل َعَلْيهِ َو َسّلَم‬ ُ ‫صّلى ا‬ َ ‫حّمٍد‬ َ ‫ي َهْديُ ُم‬ ِ ‫ َو َخْيَر اْلَهْد‬،‫ل‬ ِ ‫لُم ا‬ َ ‫لِم َك‬َ ‫سَن اْلَك‬ َ ‫ َفِإّن َأْح‬:‫َأّما َبْعُد‬
‫ضلََلٍة ِفى الّناِر‬ َ ‫ َو ُكّل‬،‫لَلٌة‬ َ‫ض‬َ ‫ َو ُكّل ِبدَْعٍة‬،‫ت ِبْدَعٌة‬ ٍ ‫حَدَث‬ ْ ‫ َو ُكّل ُم‬،‫حَدَثاُتَها‬ ْ ‫ّشّر اُْلُمْوِر ُم‬
Ma'asyiral Muslimin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah,
Pada kesempatan kali ini, khatib kembali menghimbau kepada kita semua untuk bertakwa kepada
Allah  dengan sebenar-benar takwa, termasuk di dalamnya menjauhi apa yang telah dijauhi
oleh Rasulullah  dan membenci apa yang telah dibenci oleh Rasululullah , salah satunya
adalah sifat malas. Sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik ,
‫خِل‬
ْ ‫سِل َواْلُب‬
َ ‫جِز َواْلَك‬
ْ ‫حَزِن َواْلَع‬
َ ‫صّلى الّلُه َعَلْيِه َوَسّلَم َيَتَعّوُذ ِمْن َثَماٍن اْلَهّم َواْل‬ َ ‫َكاَن َرُسوُل الّلِه‬
‫جْبِن َوَغَلَبِة الّدْيِن َوَغَلَبِة اْلَعُدّو‬
ُ ‫َواْل‬
“Rasulullah  berlindung kepada Allah dari delapan hal: rasa cemas, sedih, malas, bakhil,
takut, lilitan hutang dan penindasan musuh.” (HR. Ahmad)

Adapun sifat malas termasuk pada sifat main-main. Sedangkan Allah  mengingatkan tentang

ْ
sifat main-main dalam salah satu firman-Nya,

ْ ْ ْ
‫كم ِإلَيَنا َل ت ُرجُعون ۝‬ ً ْ
‫كم عبثا و أ َّن‬ ٰ‫خَلقَنـ‬ ‫ما‬ ‫ن‬ ‫أ‬ ْ‫أفحسْبت‬
َ َ ُ َ َ َ َ ُ َ َ ُ ِ َ ََ
َ ّ َ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. al-Mu'minun: 115)

Sementara itu, salah seorang sahabat Abdullah bin Mas'ud  berkata, “Tiada pemandangan yang
lebih aku benci melebihi tatkala aku melihat orang yang tidak sedang beramal untuk akhiratnya,
tidak pula sedang bekerja untuk dunianya.”
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Secara umum malas memiliki resiko multidimensi, tergantung pada aktivitas yang diisi dengan
kemalasan. Malas menuntut ilmu menjadikan kita bodoh, malas berolahraga menjadikan kita
sakit dan malas dalam bekerja menjadikan kita miskin. Sedangkan menurut tujuannya, malas bisa
dibagi menjadi dua, yaitu: malas dalam tujuan-tujuan keduniawian dan malas dalam hal-hal yang
berorientasi akhirat.

Dalam hal tujuan keduniawian, Allah  tidak menyukai orang-orang yang malas. Bahkan Allah
 memberikan semangat untuk mencari berbagai karunia atau rezki yang mendukung kehidupan

ْ ْ ْ ْ ْ
di dunia sebagaimana firman-Nya,
ْ ْ
‫لرِض وٱبتُغو۟ا ِمن فَضِل ٱَّلِ وٱذكُرو۟ا‬
َ َ َ
‫ٱ‬
َ ِ۟ ‫ف‬ ‫ا‬ ‫شو‬ ِ َ ‫صَلٰوة ُ َفٱ‬
‫ت‬ ‫ن‬ َ ّ ‫ت ٱل‬ ِ ‫ضي‬
َ ِ ُ ‫ف َِإَذا ق‬
ُ ُ
ْ ْ ً ‫ٱل كِث‬
‫حون ۝‬ ‫ل‬
ِ ‫ف‬‫ت‬ ‫م‬‫ك‬ُ َ ‫ل‬
ّ ‫ع‬ َ ّ ‫ل‬ ‫يا‬ َ َ َّ
َ ُ ُ َ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. al-Jumu'ah: 10)

Dari semua kategori malas, sifat malas dalam hal-hal yang bertujuan akhirat adalah hal yang
paling buruk akibatnya karena menyebabkan kerugian di akhirat. Orang yang tidak memanfaat-
kan waktu di dunia untuk ketaatan kepada Allah  akan menyesal saat kematian mendatanginya.
Sebagaimana permohonan penyesalan orang-orang yang malas bersedekah di waktu hidupnya
kepada Allah  ketika maut sedang berhadapan dengannya. Firman Allah ,
ۤ ْ ‫رب لْوَل أ َخ‬
‫صٰـِلِحيَ ۝‬ ‫ٱل‬ ‫ن‬ ‫م‬
ِ ‫كن‬َ ‫أ‬ ‫و‬ ‫ق‬‫د‬َ ّ ‫ص‬َ ‫أ‬
َّ َ ّ ُ َ َ َّ َ ٍ ِ َ ٍ َ ‫ف‬ ‫ب‬‫ري‬ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫ج‬َ ‫أ‬ ‫ل‬
ٰ َ ‫إ‬ ٓ ‫ني‬
ِ
ِ َ َّ ‫ت‬ ‫ر‬ َ ِّ َ
“Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat,
yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?” (QS. al-
Munafiqun: 10)

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,


Sifat malas atau senang menunda-nunda merupakan pintu keburukan dan sangat tidak cocok bila
disandingkan dengan berbagai amal kebaikan melainkan hanya pantas disandingkan dengan
keburukan. Berbagai contohnya antara lain: menunda shalat adalah ciri kemunafikan, menunda
amanah adalah pintu pengkhianatan, menunda sedekah atau membayar hutang bagi yang mampu
adalah kezhaliman dan menunda taubat adalah kebodohan.

Di dalam kubur, orang yang bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan kelak akan ditemani
oleh amal buruknya yang menampakkan diri dalam bentuk makhluk buruk rupa, busuk baunya
dan kumal bajunya, lalu berkata, “Bergembiralah dengan kemurkaan Allah dan adzab yang
pedih!” Orang itu menjawab, “Semoga Allah menimpakan keburukan atasmu, siapa kamu?” Ia
menjawab,
‫جَزاَك الّلُه َشّرا‬
َ ‫صَيِة الّلِه َف‬
ِ ‫ت َبِطيًئا َعْن َطاَعِة الّلِه َسِريًعا ِفي َمْع‬
َ ‫ث ُكْن‬
ُ ‫خِبي‬
َ ‫ك اْل‬
َ ‫َأَنا َعَمُل‬
“Aku adalah amalan burukmu, kamu dahulu berlambat-lambat dalam mentaati Allah dan
bersegera dalam bermaksiat kepada Allah, maka Allah membalasmu dengan keburukan.”
Selanjutnya orang tersebut dipukul dengan tongkat besi hingga ia menjadi debu kemudian
dikembalikan lagi menjadi semula oleh Allah , kemudian dipukul lagi sehingga ia berteriak
dengan satu teriakan yang didengar oleh semua makhluk di muka bumi kecuali oleh jin dan
manusia. Penderitaan berikutnya telah menanti, karena kubur adalah lubang dari lubang-lubang
neraka. Penderitaan di kubur menjadi alamat bagi penderitaan di neraka.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Agar kita bisa terbebas dari sifat malas dan bahayanya ada beberapa cara yang bisa ditempuh.
Pertama, Tidak bermaksiat. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru , Rasulullah  bersabda,
‫ت ِإَلى َغْيِر‬
ْ ‫ت َفْتَرُتُه ِإَلى ُسّنِتي َفَقْد َأْفَلَح َوَمْن َكاَن‬
ْ ‫ِلُكّل َعَمٍل ِشّرٌة َوِلُكّل ِشّرٍة َفْتَرٌة َفَمْن َكاَن‬
َ ‫َذِلكَ َفَقْد َهَل‬
‫ك‬
“Setiap amalan itu memiliki waktu semangat, dan setiap waktu semangat ada waktu jenuhnya.
Barangsiapa yang waktu jenuhnya berada di atas sunnahku, maka ia telah beruntung. Dan
barangsiapa yang waktu jenuhnya kepada selain sunnahku, maka ia telah binasa.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas menunjukkan cara bagaimana kita mengatasi sifat jemu yang datang. Yaitu dengan
mengamalkan hal-hal yang sunnah walaupun ringan dan tidak memberatkan diri, seperti
silaturrahim, mendengarkan ceramah, mendengarkan bacaan al-Qur`an atau membaca buku. Hal
ini lebih baik dibandingkan dengan melampiaskan nafsu untuk berleha-leha dan bermaksiat.

Kedua, Mengharap pahala dari Allah. Ketika rasa malas muncul saat akan menunaikan
kewajiban, cobalah untuk membayangkan keutamaan dan pahala ibadah tersebut. Dengan
demikian segala penat akan hilang, demikian pula rasa berat yang mengganjal akan menjadi
ringan. Pahala dan balasan dari Allah  sungguh lebih mahal dari usaha manusia untuk
menebusnya bagaimana pun sulitnya. Dan jika dibandingkan dengan pahala dari Allah ,
kesulitan dunia seperti tidak ada nilainya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik , Rasulullah 
bersabda,
‫جّنِة َفُيَقاُل َلُه َيا اْبَن آَدَم‬
َ ‫صْبَغًة ِفي اْل‬
َ ُ‫صَبغ‬
ْ ‫جّنِة َفُي‬
َ ‫س ُبْؤًسا ِفي الّدْنَيا ِمْن َأْهِل اْل‬
ِ ‫َوُيْؤَتى ِبَأَشّد الّنا‬
‫ط َوَلا‬
ّ ‫س َق‬ ٌ ‫ب َما َمّر ِبي ُبْؤ‬ ّ ‫ط َفَيُقوُل َلا َوالّلِه َيا َر‬
ّ ‫ك ِشّدٌة َق‬ َ ‫ط َهْل َمّر ِب‬
ّ ‫ت ُبْؤًسا َق‬َ ‫َهْل َرَأْي‬
ّ ‫َرَأْيتُ ِشّدًة َق‬
‫ط‬
“Dan didatangkan seseorang yang paling menderita di dunia yang termasuk penghuni surga,
kemudian ditempatkan di surga sebentar saja. Ia ditanya, 'Wahai anak adam, apakah kamu
pernah menderita atau mengalami kesulitan sekali saja?' Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, aku
tidak pernah menderita atau mengalami kesulitan sama sekali.” (HR. Muslim)

Ketiga, Istiqamah. Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah  bersabda,


‫ب اْلَأْعَماِل ِإَلى الّلِه‬
ّ ‫جّنَة َوَأّن َأَح‬
َ ‫َسّدُدوا َوَقاِرُبوا َواْعَلُموا َأْن َلْن ُيْدِخَل َأَحَدُكْم َعَمُلُه اْل‬
‫َأْدَوُمَها َوِإْن َقّل‬
“Beramallah sesuai dengan sunnah dan berlaku seimbanglah. Dan ketahuilah bahwa salah
seorang dari kalian karena amalannya. Dan sesungguhnya amal perbuatan yang Allah paling
cintai adalah yang terus menerus dikerjakan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari)

Hadits ini secara nyata menyatakan tentang keutamaan alaman yang dikerjakan secara disiplin
dan terus menerus. Tidak berlebih-lebihan ketika terlalu semangat dan tidak berhenti sama sekali
ketika semangat menurun. Dengan berdisiplin mengatur waktu dan merencanakan aktivitas, maka
malas akan dapat diatasi. Memprioritaskan kegiatan yang lebih penting daripada yang tidak
penting. Dan tentu saja menjaga kesinambungan dalam beramal.
Hasan al-Bashri berkata, “Jika syaithan melihatmu konsisten melakukan ketaatan, dia akan
menajuhimu. Namun jika syaithan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya
setelah itu, atau melakukannya sesekali saja, maka syaithan pun semakin tamak untuk
menggodamu.”
‫ت َو الّذْكِر‬ ‫ل ِلْي َو َلُكْم ِفي اْلُقْرَأِن اْلَعِظْيِم‪َ ،‬و َنَفَعِنْي َو ِإّيُكمْ ِبَما ِفْيِه ِمَن ْاَلَيا ِ‬ ‫َباَرَك ا ُ‬
‫حِكْيِم‪،‬‬
‫اْل َ‬
‫ت َفاْسَتْغِفُروُه ِإّنُه ُهَو‬
‫سِلَما ِ‬ ‫ي َو اْلُم ْ‬ ‫سِلِم َ‬
‫ساِئِر اْلُم ْ‬‫ل ِلي َو َلُكْم َو ِل َ‬ ‫َأُقْوُل َقْوِلي َهَذا َأْسَتْغِفُر ا َ‬
‫اْلَغُفوُر الّرِحْيُم‬

‫‪Khutbah Kedua‬‬

‫حّمًدا َخاَتمُ‬ ‫ي‪َ ،‬و َأْشَهُد َأّن مُ َ‬‫ح َ‬ ‫صاِل ِ‬ ‫ل َوِلّي ال ّ‬‫ي‪َ ،‬و َأْشَهُد َأْن َل ِإَلَه ِإّل ا ُ‬
‫ب اْلَعاَلِم َ‬
‫ل َر ّ‬‫حمُْد ِ‬ ‫َاْل َ‬
‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم‬ ‫صّلْي َ‬
‫حّمٍد َكَما َ‬ ‫حّمٍد َو َعَلى آِلِه ُم َ‬ ‫صّل َعَلى ُم َ‬ ‫ي‪ ،‬الّلُهّم َ‬‫ْاَلْنِبَياِء َو اْلُمْرَسِل َ‬
‫جيٌد‪،‬‬ ‫ك َحِميٌد َم ِ‬ ‫ت َعَلى آِل ِإْبَراِهيَم ِإّن َ‬ ‫حّمٍد َكَما َباَرْك َ‬ ‫حّمٍد َو َعِلى آِل ُم َ‬ ‫َو َباِرْك َعَلى ُم َ‬
‫َأّما َبْعُد‬
‫‪Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,‬‬
‫‪Melengkapi uraian sebelumnya dalam menanggulangi sifat malas, terakhir tidak lupa pula kita‬‬
‫‪dianjurkan berdoa kepada Allah  agar melindungi kita dari sifat malas. Sebagaimana doa yang‬‬
‫‪diajarkan oleh Nabi  setiap pagi dan petang untuk memohon perlindungan kepada Allah  dari‬‬
‫‪kemalasan, antara lain:‬‬
‫ب اْلَقْبِر‬
‫ك ِمْن َعَذا ِ‬
‫خِل َوَأُعوُذ ِب َ‬
‫جْبِن َواْلَهَرِم َواْلُب ْ‬
‫سِل َواْل ُ‬
‫جِز َواْلَك َ‬
‫ك ِمْن اْلَع ْ‬
‫الّلُهّم ِإّني َأُعوُذ ِب َ‬
‫حَيا َواْلَمَما ِ‬
‫ت‬ ‫َوِمْن ِفْتَنِة اْلَم ْ‬
‫‪“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, malas, rasa takut, pikun dan bakhil. Dan‬‬
‫‪aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta fitnah kehidupan dan kematian.” (HR.‬‬
‫)‪Muslim‬‬

‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل ِإْبَراِهْيَم ِإّنكَ‬ ‫صَلْي َ‬


‫حّمٍد َكَما َ‬ ‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم َ‬ ‫صّل َعَلى ُم َ‬ ‫الّلُهّم َ‬
‫ت َعَلى ِإْبَراِهيَم َو َعَلى آِل‬ ‫حّمٍد َكَما َبَرْك َ‬ ‫حّمٍد َو َعَلى آِل ُم َ‬ ‫جيٌد‪ ،‬الّلُهّم َبِرْك َعَلى ُم َ‬ ‫َحِميٌد َم ِ‬
‫جيٌد‪.‬‬ ‫ك َحِميٌد َم ِ‬ ‫ِإْبَراِهْيَم ِإّن َ‬
‫ل ِلّلِذْيَن آَمُنوا َرّبَنا ِإّن َ‬
‫ك‬ ‫جَعْل ِفْي ُقُلوِبَنا ِغ ّ‬‫َرّبَنا اْغِفْرَلَنا َوِلِإْخَواِنَنا اّلِذْيَن َسَبُقْوَن ِباْلِإْيَماِن َو َل َت ْ‬
‫َرُؤوفٌ َرِحْيٌم‬
‫صِلْح ُوَلَة ُأُموِرَنا َو َأْعِطِهْم اِلْسِتَقاَمةَ ِفى ِديِنِهْم َو اْهِدِهْم ِإَلى ُكّل َخْيٍر َو‬ ‫حَنا َو َأ ْ‬ ‫صِل ْ‬‫الّلُهمّ َأ ْ‬
‫ب الّدْعَوِة‬
‫جي ُ‬ ‫ك ُم ِ‬‫ي ِلُوَلِة ُأُموِرَنا ِإّن َ‬‫اْجَعْلَنا ُمِطيِع َ‬
‫ف َو اْلِغَنى‬‫ك اْلُهَدى َو الّتَقى َو اْلَعَفا َ‬ ‫سَأُل َ‬ ‫الّلُهّم ِإّنا َن ْ‬
‫ت اْلَوّهاب‬‫ك َأْن َ‬
‫ك َرْحَمًة ِإّن َ‬‫ب َلَنا ِمْن َلُدْن َ‬ ‫غ ُقُلوَبَنا َبْعَد ِإْذَهَدْيَتَنا َو َه ْ‬
‫الّلُهّم َل ُتِز ْ‬
‫حِكيُم‬‫ت اْلَعِزيُز اْل َ‬
‫ك َأْن َ‬
‫جَعْلَنا ِفْتَنًة ّلّلِذيَن َكَفُروا َواْغِفْر َلَنا َرّبَنا ِإّن َ‬
‫َرّبَنا َل َت ْ‬
‫ي‪.‬‬
‫ب اْلَعاَلِم َ‬
‫ل َر ِ‬
‫حْمُد ِ‬‫ب الّناِر‪َ ،‬و اْل َ‬ ‫سَنًة َو ِقَنا َعَذا َ‬ ‫سَنًة َو ِفى ْاَلِخَرِة َح َ‬ ‫َرّبَنآ َءاِتَنا ِفى الّدْنَي َح َ‬
* Diadaptasi dari Rubrik Mutholaah Majalah Islam ar-risalah, No. 103/Vol. IX/7 Muharram – Shafar 1431 H / Januari
2010 M dengan beberapa perubahan redaksi kalimat.