Anda di halaman 1dari 39

ILMU DASAR KEPERAWATAN 1B

INSUFISIENSI MITRAL
MAKALAH

oleh
Kelompok 11

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

KEPERAWATAN KLINIK 1B
Insufisiensi Mitral

Disusun guna menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan


Klinik 1B
Dosen Pengampu: Ns. Lantin Sulistyorini, M.Kes

oleh
Niken Oktaviani

142310101059

Amanda Christie Yannus

142310101065

Rizal Amirullah

142310101141

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas berkat dan
limpahan rahmatnyalah makalah tentang penyakit Insufisiensi Mitral ini dapat
terselesaikan dengan baik. Meskipun masih banyak kekurangan baik dari isi,
sistematika, maupun cara penyajiannya. Makalah tentang penyakit Insufisiensi
Mitral ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Keperawatan Klinik 1B
bagi Semester 3 Program Studi Ilmu Keperawatan di Universitas jember. Ucapan
terimakasih kami ucapkan kepada Ns. Lantin Sulistyorini, M.Kes, selaku dosen
pengampu Mata Kuliah Keperawatan Klinik 1B ini. Serta bagi semua pihak yang
turut mendukung dalam pembuatan makalah ini. Kami berharap semoga makalah
ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari materi tentang penyakit
terutama penyakit Insufisiensi Mitral. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca
dan peneliti lain yang akan menulis tentang tema yang sama, khususnya bagi kami
sendiri sebagai penyusun.

Jember,

19

September 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL...............................................................................

HALAMAN JUDUL..................................................................................

ii

PRAKATA..................................................................................................

iii

DAFTAR ISI...............................................................................................

iv

BAB 1. PENDAHULUAN.........................................................................

1
2
3

LatarBelakang.................................................................................
Tujuan.............................................................................................
ImplikasiKeperawatan....................................................................

1
2
2

BAB 2. TINJAUAN TEORI......................................................................

1
2
3
4
5
6
7
8

Pengertian Insufisiensi Mitral........................................................


Epidemiologi Insufisiensi Mitral...................................................
Etiologi Insufisiensi Mitral............................................................
Tanda dan Gejala Insufisiensi Mitral.............................................
Patofisiologi Insufisiensi Mitral.....................................................
Komplikasi & Prognosis Insufisiensi Mitral.................................
Pengobatan Insufisiensi Mitral......................................................
Pencegahan Insufisiensi Mitral......................................................

3
5
6
8
9
10
11
11

BAB 3. PATHWAY....................................................................................

13

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN........................................................

15

4.1 Pengkajian......................................................................................
4.2 Analisa masalah ............................................................................
4.3 Diagnosa........................................................................................
4.4 Intervensi.......................................................................................
4.5 Implementasi..................................................................................
4.6 Evaluasi..........................................................................................

15
20
21
22
28
30

BAB 5. PENUTUP.....................................................................................

32

5.1 Kesimpulan....................................................................................
5.2 Saran..............................................................................................

32
32

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................

34

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit katup jantung merupakan penyakit yang masih tinggi insidensinya
terutama di negara berkembang seperti di Indonesia. Penyakit ini menduduki
posisi ke dua setelah penyakit jantung koroner. Ada dua macam penyait katup
jantung yaitu stenosis dan insufisiensi mitral. Penyakit katup jantung Insufisiensi
mitral merupakan keadaan dimana terdapat refluks darah dari ventrikel kiri ke
atrium kiri pada saat sistolik, akibat katup mitral tidak menutup secara sempurna.
Kelainan katup mitralis yang disebabkan karena tidak dapat menutupnya katup
dengan sempurna pada saat systole menyebabkan peningkatan volume kerja
jantung karena jantung perlu memompa volume untuk mengganti darah yang
mengalir balik. Dilihat dari fungsi katup jantung yaitu untuk mempertahankan
atau mencegah aliran balik darah dari berbagai arah.
Insufisiensi mitral merupakan tipe kerusakan katup jantung yang sering
terjadi. Setelah umur 55 tahun, dapat ditemukan insufisiensi mitral dengan
berbagai derajat keparahan. Angka kejadian di atas umur 55 tahun mencapai
hampir 20% pada laki-laki dan perempuan yang melakukan ekokardiogram.
Sedangkan angka kejadian insufisiensi mitral adalah 2% dalam populasi umum.
Perbandingan laki-laki dan perempuan dalam menderita kelainan ini adalah sama.
Penyebab insufisiensi mitral adalah deformitas daun-daun katup,deformitas
analus mitral, atau gangguan pada khorda tendinae dan muskulus papilaris dan
penyebab lain juga adalah demam reumatik. Data terakhir mengenai prevalensi
demam rematik di Indonesia untuk tahun 1981-1990 didapati 0,3-0,8 diantara
1000 anak sekolah dan jauh lebih rendah dibanding negara berkembang lainnya.
(Burnside,1995,251).
Meskipun jumlah kasus demam rematik yang dapat berpotensi menyebabkan
insufisiensi mitral di Indonesia tidak lebih tinggi dibanding negara berkembang
lainnya tetapi kita harus waspada dalam upaya pencegahan. Dengan
memperhatikan gaya hidup, dan lingkungan yang sehat,diharapkan dapat
menurunkan resiko penyakit katup jantung seperti insufisiensi mitral. Sehingga
kami sebagai mahasiswa keperawatan memberikan sebuah rangkuman makalah

tentang insufisiensi mitral sebagai bahan belajar dan pendidikan bagi mahasiswa
keperawatan. Selain itu tujuan dari makalah ini adalah membahas tentang
bagaimana tanda-tanda penyakit ini, cara pencegahan dan bagaimana cara
memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan insufisiensi mitral.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan insufisiensi mitral
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengertian insufisiensi mitral
2. Mengetahui epidemiologi insufisiensi mitral
3. Mengetahui etiologi insufisiensi mitral
4. Mengetahui tanda dan gejala insufisiensi mitral
5. Mengetahui patofisiologi insufisiensi mitral
6. Mengetahui komplikasi dan prognosis insufisiensi mitral
7. Mengetahui pengobatan insufisiensi mitral
8. Mengetahui pencegahan insufisiensi mitral
1.3 Implikasi Keperawatan
a. Perawat sebagai care giver
Perawat memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada pasien
dengan kelaian Infusiensi Mitral
b. Perawat sebagai konselor

1. Perawat menjelaskan tentang kelainan yang terjadi pada pasien kepada


keluarga pasien
2. Perawat memberikan penjelasan tentang penatalaksanaan dan
pengobatan kepada keluarga klien
BAB 2. TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Kelainan katup jantung merupakan keadaan dimana katup jantung
mengalami kelainan yang membuat aliran darah tidak dapat diatur dengan
maksimal oleh jantung. Katup jantung yang mengalami kelainan membuat darah
yang seharusnya masuk ke ventrikel karena kerusakan katup maka darah kembali
ke bagian serambi sehingga jantung memiliki tekanan yang cukup kuat untuk
memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya orang tersebut tidak bisa melakukan
aktifitas dalam tingkat tertentu.
Kelainan katup jantung yang parah membuat penderitanya tidak dapat
beraktifitas dan juga dapat menimbulkan kematian karena jantung tidak lagu
memiliki kemampuan untuk dapat mengalirkan darah. Kelainan katup jantung
biasanya terjadi karena faktor genetika atau keturunan dan terjadi sejak masih
dalam kandungan. Kelainan pada katup jantung juga bisa terjadi karena
kecelakaan ataupun cedera yang mengenai jantung. Operasi jantung juga dapat
menyebabkan kelainan pada katup jantung jika operasi tersebut gagal atau terjadi
kesalahan teknis maupun prosedur dalam melakukan oprasi pada jantung.
Penyakit katup jantung menyebabkan kelainan-kelainan pada aliran darah yang
melintasi katup jantung. Katup yang terserang penyakit dapat mengalami dua
jenis gangguan fungsional: regurgitasi-daun katup tidak dapat menutup rapat
sehingga darah dapat mengalir balik (sinonim dengan isufisiensi katup dan
inkompetensi katup)
Regurgitasi Katup Mitral (Inkompetensia Mitral, Insufisiensi Mitral),
(Mitral Regurgitation) adalah kelaianan katup mitral yang ditandai dengan aliran
balik Pada saat ventrikel kiri medari sebagian volume darah dari ventrikel kiri
kembali menuju atrium kiri (raditya, 2011). Mitral Regurgitasi atau insufisiensi

mitral adalah bentuk yang paling umum dari penyakit jantung katup (Tierney
et.al, 2006). Insufisiensi mitral adalah daun katup mitral yang tidak dapat menutup
dengan rapat sehingga darah dapat mengalir balik

atau akan mengalami

kebocoran ( Arif Muttaqin, 2009). Insufisiensi mitralis merupakan keadaan


dimana terdapat refluks darah dari ventrikel kiri ke atrium kiri pada saat sistolik,
akibat katup mitral tidak menutup secara sempurna. Kelainan katup mitralis yang
disebabkan karena tidak dapat menutupnya katup dengan sempurna pada saat
systole (Dinda, 2008).
Mitral insufisiensi adalah keadaan dimana terdapat refluks darah dari
ventrikel kiri ke atrium kiri saat sistolik, akibat dari katup mitral tidak dapat
menutup secara sempurna (D. Manurung, 1997). Sedangkan menurut Sudarta
(2013), Insufisiensi Mitral merupakan suatu keadaan dimana katup mitral tidak
menutup dengan sempurna. Fungsi katup mitral yang baik tergantung dari
koordinasi yang normal dari aparatus mitral. Adapun aparatus mitral adalah
dinding atrium kiri, annulus mitralis, daun katup, korda tendinae, Papilaris dan
dinding ventrikel kiri. Apabila satu atau lebih dari ventrikel tersebut tidak
berfungsi karena penyakit, maka penutupan katup (koaptasi) akan tidak sempurna
maka terjadilah insufisiensi mitral.

Dari pendapat beberapa ahli ini dapat

disimpulkan bahwa insufisiensi mitral atau regurgitasi mitral adalah kerusakan


katup mitral, lengkapnya yaitu daun katup mitral yang tidak dapat menutup
dengan rapat sehingga darah dapat mengalir balik atau akan mengalami
kebocoran. Regurgitation (kebocoran dari katup yang tidak sempurna menutup)
disebabkan oleh penyakit yang melemahkan atau merusak katup atau struktur
pendukungnya. Memadai penutupan katup mitral menyebabkan darah mengalir
kembali ke atrium kiri. Aliran darah ke seluruh tubuh menurun sebagai akibat
jantung yang memompa lebih keras untuk mencoba untuk mengimbanginya.
Insufisiensi mitral memungkinkan aliran darah retrograde dari ventrikel
kiri ke atrium kiri akibat penutupan katup yang tidak sempurna. Selama sistolik,
ventrikrel secara simultan mendorong darah ke dalam aorta dan kembali kedalam
atrium kiri. Kerja ventrikel kiri maupun atrium kiri harus ditingkatkan agar dapat
mempertahankan curah jantung. Pada saat ventrikel kiri memompa darah dari
jantung menuju ke aorta, sebagian darah mengalir kembali ke dalam atrium kiri

dan menyebabkan meningkatnya volume dan tekanan di atrium kiri. Terjadi


peningkatan tekanan darah di dalam pembuluh yang berasal dari paru-paru, yang
mengakibatkan penimbunan cairan (kongesti) di dalam paru-paru. Derajat
beratnya MR dapat diukur dalam persentase dari stroke volume ventrikel kiri yang
mengalir balik ke atrium kiri (regurgitant fraction) menggunakan ekokardiografi.
2.2 Epidemiolgi
Di daerah lain selain dunia barat, penyakit jantung rematik adalah
penyebab utama dari insufisiensi mitral. Di amerika serikat, insufisiensi mitral
akut dan kronis mempengaruhi sekitar 5 pada 10000 orang. Penyakit jantung
rematik sebagai penyebab utama kelainan katup mitral. Prolaps katup mitral telah
diperkirakan untuk hadir dalam 4 % dari populasi normal. Dengan bantuan warna
Doppler echocardiography, ringan insufisiensi mitral dapat dideteksi pada
sebanyak 20 % orang dewasa setengah baya dan lebih tua. Insufisiensi mitral
secara independen terkait dengan jenis kelamin perempuan, lebih rendah indeks
masa tubuh, usia lanjut, disfungsi ginjal, infark miokard sebelumnya, stenosis
mital sebelumnya, dan prolaps katup mitral sebelumnya. Hal ini tidak
berhubungan dengan dislipidemia atau diabetes. Di indonesia 2-5 % populasi,
paling tinggi pada usia 20-40 tahun, dan paling banyak terjadi pada wanita.
Biasanya wanita (2/3 kasus) dan ada faktor keturunan.
Insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat terjadi pada pasien dengan
penyakit jantung rematik, penyakit jantung iskemik, atau gagal jantung kongestif.
Namun, penyebab terseringnya adalah prolaps katup mitral. Sekitar 2-5% dari
populasi mengalami prolaps katup mitral. Penyakit ini ditandai dengan
penimbunan substansi dasar longgar di dalam daun dan korda katup mitral, yang
menyebabkan katup menjadi floopy dan inkompeten saat sistol. Prolaps katup
mitral jarang menyebabkan masalah jantung yang serius. Namun, bisa menjadi
penyulit sindrom Marfan atau penyakit jaringan ikat serupa, dan pernah
dilaporkan sebagai penyakit dominan autosomal yang berkaitan dnegan
kromosom 16p. Sebagian besar timbul sebagai kasus yang sporadik.
Di Indonesia penyebab terbanyak Insufisiensi Mitral adalah
demam rematik yang meninggalkan kerusakan yang menetap.
5

Mortalitas dari Insufisiens Mitral pada 5 tahun 80% dan 10 tahun


60%. Kematian disebabkan oleh gagal jantung progresif yaitu
penurunan fungsi ventrikel kiri sekitar 60-70%. Di Indonesia
belum ditemukan studi penelitian yang mengukur peningkatan
fungsi ventrikel kiri setelah dilakukan MVR.
Faktor resiko pada prolaps katup mitral:
a. Wanita kurus yang memiliki kelainan dinding dada, skoliosis atau penyakit
lainnya . Penderita kelainan septum atrial yang letaknya tinggi pada dinding
jantung (ostium sekundum).
b. Kehamilan (karena menyebabkan meningkatnya volume darah dan beban
kerja jantung).
c. Kelelahan menjadi bertambah tua
d. Memiliki kerusakan jantung congenital
e. Sebelumnya pernah menderita demam rematik, endokarditis, prolaps katup
mitral, infark miocard, stenosis katup mitral.

2.3 Etiologi
Insufisiensi mitral terjadi bila bilah-bilah katup mitral tidak dapat saling
menutup selama sistole. Chordae tendinae memendek, sehingga bilah katup tidak
dapat menutup secara sempurna, akibatnya terjadilah insufisiensi dari ventrikel
kiri ke atrium kiri. Demam rematik menjadi penyebab utama dari regurgitasi katup
mitral. Tetapi saat ini, di negara-negara yang memiliki obat-obat pencegahan yang
baik, demam rematik jarang terjadi. Misalnya di Amerika Utara dan Eropa Barat,
penggunaan

antibiotik

untuk

strep throat

(infeksi

tenggorokan

karena

streptokokus), bisa mencegah timbulnya demam rematik. Di wilayah tersebut,


demam rematik merupakan penyebab umum dari regurgitasi katup mitral, yang
terjadi hanya pada usia lanjut, yang pada masa mudanya tidak memperoleh
antibiotik.
Di negara-negara yang memiliki kedokteran pencegahan yang jelek, demam

rematik masih sering terjadi dan merupakan penyebab umum dari regurgitasi
katup mitral.
Di Amerika Utara dan Eropa Barat, penyebab yang lebih sering adalah
serangan jantung, yang dapat merusak struktur penyangga dari katup mitral.
Penyebab umum lainnya adalah degenerasi miksomatous (suatu keadaan dimana
katup secara bertahap menjadi terkulai/terkelepai), disfungsi/ruptur muskulus
papilaris sebagai dampak iskemik jantung ( cepat menimbulkan edema paru akut
dan syok), endokarditis infektif, dan anomali kongenital. Di negara berkembang,
terbanyak

penyebab

insufisiensi

mitral

adalah

demam

reumatik

yang

meninggalkan kerusakan menetap dari sisa fase akut(sekuele). Sekitar 30%


penderita tidak mempunyai riwayat demam reumatik yang jelas. Manifestasi
klinis sangat bervariasi tergantung derajat gangguan hemodinamik yang
ditimbulkan.
Berdasarkan etiologinya saat ini insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat
dibagi atas reumatik dan non reumatik (degenaratif, endokarditis, penyakit
jantung koroner, penyakit jantung bawaan, trauma dan sebagainya).
a. Penyakit jantung rematik (PJR/RHD). PJR merupakan salah satu
penyebab yang sering dari insufisiensi mitral berat. Insufisiensi mitral
berat akibat PJR biasanya pada laki-laki. Proses rematik menyebabkan
katup mitral kaku, deformitas, retraksi, komisura melengket/fusi satu sama
lain, korda tendinae memendek, melengket satu dengan yang lain.
b. Penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit jantung koroner dapat
menyebabkan insufisiensi mitral melalui 3 cara:
1) Infark miokard akut mengenai maksila Papillaris dapat berakibat
ruptura dan terjadi insufisiensi mitral akut dan berat. Terjadi udema
paru akut dan dapat berakibat fatal.
2) Iskemia maksila papillaris (tanpa infark) dapat menyebabkan
regurgitasi sementara/transient insufisiensi mitral, terjadi pada saat
episode iskemia pada maksila papillaris dan mungkin terjadi pada saat
AP.

3) PJK menyebabkan dilatasi ventrikel kiri (dan mungkin terjadi pada


saat AP) dan terjadi insufisiensi mitral.
c. Dilatasi ventrikel kiri/kardiomiopati tipe kongestif. Dilatasi LV apapun
penyakit yang mendasari menyebabkan dilatasi annulus mitralis, posisi m.
Papillaris berubah dengan akibat koaptasi katup mitral tidak sempurna dan
terjadi

MR,

adapun

penyakit

yang

diabetes/kardiomiopati diabetik, iskemia

mendasari

antara

lain

peripartal, hipertiroidisme,

toksik, AIDS.
d. Kardiomiopati hipertrofik. Daun katup anterior berubah posisi selama
sistol dan terjadi MR.
e. Klasifikasi annulus mitralis. Mungkin akibat degenerasi pada lansia. Dapat
diketahui melalui ekokardiogram foto thoraks, penemuan biopsi.
f. Prolaps katup mitral (MVP). Merupakan penyebab sering MR.
g. Infective Endocarditis (IE). Dapat mengenai daun katup maupun chorda
tendinae dan merupakan penyebab MR akut.
h. Kongenital. Endocardial Cushion Defect (ECD), insufisiensi mitral pada
anomali ini akibat celah pada katub. Sindrom Marffan yakni akibat
kelainan jaringan ikat.

2.4 Tanda dan Gejala


Beberapa tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada klien dengan
insufisiensi mitral diantaranya, yaitu:
1.

Palpitasi

2.

Lemah

3.

Dyspnea

4.

Ortopnea : sesak nafas akibat perubahan posisi

5.

Paraxymal nocturnal dyspnea : sesak nafas pada saat tidur

6.

Thrill sistolik di apeks

7.

Hanya terdengar bising sistolik di apeks

8.

Bunyi jantung 1 melemah

9.

Bising panasistolik, menjalar ke lateral (punctum maksimum di


apeks)

10.

Iktus kordis kuat

11.

Fibrilasi atrium

2.5 Patofisiologi
Katup mitral yang tidak bisa menutup dengan sempurna pada saat sistolik
pada insufisiensi mitral dapat diakibatkan karena kalsifikasi, penebalan dan
distorsi daun katup. Selama fase sistolik terjadi aliran balik ke atrium kiri,
sedangkan aliran ke aorta berkurang. Walaupun demikian output ventrikel kiri ke
aorta harus dipertahankan secara optimal dengan mekanisme kompensasi,
ventrikel kiri berkontraksi lebih kuat, sampai timbul dekompensasi. Akhirnya
ventrikel kiri akan berdilatasi juga sebagai akibat volume darah yang banyak
masuk dari atrium kiri pada saat sistolik. Pada saat diastolik darah mengalir dari
atrium kiri ke ventrikel kiri. Darah atrium kiri tersebut berasal dari paru-paru
melalui vena pulmonalis dan juga darah dari insufisiensi yang berasal dari atrium
kiri, dimana dilatasi ini akan menyebabkan insufisiensi semakin banyak, timbul
hipertensi pulmonal seperti yang terjadi pada stenosis mitral.
Pada insufisiensi katup mitral, terjadi penurunan kontraktilitas yang biasanya
bersifat irreversible, dan disertai dengna terjadinya kongestif vena pulmonalis
yang berat dan edema pulmonal. Patofisiologi insufisiensi mital dapat dibagi ke
dalam fase akut, fase kronik yang terkompensasi dan fase kronik yang
dekompensasi
1. Fase akut sering disebabkan adanya kelebihan volume di atrium dan
ventrikel kiri. Ventrikel kiri menjadi overload karena setiap kontraksi tidak
hanya memompa darah menuju aorta tetapi juga terjadi regurgitasi ke

atrium kiri pada kasus akut, stroke volume ventrikel kiri meningkat tetapi
cardiac output menurun.
2. Fase kronik terkompensasi terjadi secara perlahan dari beberapa bulan
sampai beberapa tahun. Pada fase ini ventrikel kiri menjadi hipertropi dan
terjadi peningkatan volume diastolik yang bertujuan untuk meningkatkan
stroke volume yang menyebabkan pelebaran atrium kiri dan tekanan pada
atrium akan berkurang. Hal ini akan memperbaiki drainase dari vena
pulmonalis sehingga gejala dan tanda kongesti pulmonal akan berkurang.
3. Fase kronik dekompensasi akan terjadi kontraksi miokardium ventrikel
kiri yang inadekuat untuk mengkompensasi kelebihan volume dan stroke
volume

vetrikel

kiri

akan

menurun.

Penurunan

stroke

volume

menyebabkan penurunan cardiac output dan peningkatan end-systole


volume. Peningkatan end-systole volume akan meningkatkan tekanan pada
ventrikel dan kongestif vena pulmonalis sehingga akan timbul gejala gagal
jantung kongestif.

2.6 Komplikasi dan Prognosis


a. Komplikasi
1. Fibrilasi Atrium : masalah dengan kecepatan atau irama jantung yang
paling umum.
2. Emboli sistemik merupakan komplikasi yang serius pada stenosis mitral.
Sedangkan stenosis itu adalah suatu penyempitan.
3. Hipertensi pulmonal merupakan keadaan lanjut akibat perubahan
hemodinamik yang timbul karena stenosis mitral, dimana mekanisme
adaptasi fisiologi sudah dilampaui.
4. Dekompensasi kordis kiri (LVF) adalah keadaan patofisiologi adabya
kelainan fungsi jantung khususnya bagian sebelah kiri yang berakibat
jantung

gagal

memompakan

darah

untuk

memenuhi

kebutuhan

metabolisme jaringan dan kemampuannya hanya ada kalau disertai


peninggian tekanan pengisisan ventrikel kiri.(Braundwald, 2003).
5. Endokarditis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan adanya
infeksi pada lapisan dalam jantung(endokardium)

10

6. Kongestif vena pulmonalis adalah kongesti sirkulasi akibat disfungsi


miokardium ventrikel kiri.
7. Edema paru adalah kondisi medis yang ditandai dengan peningkatan
abnormal dari air di kantung udara (alveoli) di dalam paru-paru.
8. Hipertrofi ventrikel kanan adalah penambahan masa pada ventrikel kiri
sebagai respon miosit terhadap berbagai rangsangan yang menyertai
peningkatan tekanan darah.

b. Prognosis
1. Hasilnya bervariasi, biasanya kondisi ini ringan, sehingga tidak ada terapi
atau pembatasan diperlukan. Gejala biasanya dapat dikontrol dengan obatobatan.
2. Sesekali Dekompensasi kordis kiri (LVF) timbul, keadaan umum penderita
merosot cepat
3. Lebih lama bebas keluhan dari pada stenosis mitral.
2.7 Pengobatan
Sebagian besar penderita tidak memerlukan pengobatan. Jika jantung
berdenyut terlalu cepat, beta-blocker dapat digunakan untuk memperlambat
denyut jantung serta mengurangi palpitasi dan gejala lainnya. Jika terjadi
regurgitasi, setiap kali sebelum menjalani tindakan pencabutan gigi atau
pembedahan, penderita harus mengkonsumsi antibiotik karena terdapat resiko
infeksi katup jantung.
Pengobatan dengan terapi medikantosa dengan
1. Digoxin : berguna dalam penanganan fibrasi atrium. Obat ini adalah
kelompok obat digitalis yang bersifat inotropik positif dan dapat
meningkatkan kekuatan denyut jantung dan menjadikan denyutan jantung
kuat dan sekata.
2. Antikoagulan oral : diberikan kepada paisen untuk mengelakkan terjadinya
pembekuan darah yang bisa menyebabkan emboli sistemik. Emboli bisa
terjadi akibat regurgitasi dan turbulensi aliran darah.

11

3. Antibiotik

profilaksis

administrasi

antibiotik

dilakukan

untuk

mengelakkan infeksi bakteri yang bisa menyebabkan endokarditis.


2.8 Pencegahan
Pencegahan bisa dengan terapi umum dilaukan yaitu
1. Mencegah demam rematik dengan mengobati infeksi radang tenggorokan
dengan antibiotic .
2. Menjaga tekanan darah yang sehat.
3. Istirahat : kerja jantung dalam keadaan dekompensasi harus benar-benar
dikurangi dengan tirah baring mengingat konsumsi O2 yang relatif
meningkat. Dengan istirahat benar, gejala-gejala gagal jantung dapat jauh
berkurang.
4. Diet : umumnya di berikan makan lunak dengan rendah garam. Jumlah
kalori sesuai dengan kebutuhan. Klien dengan gizi kurang di berikan
makanan tinggi kalori dan tinggi protein. Cairan diberikan 80-100 ml /
kgBB / hari dengan maksimal 1500 ml / hari.
5. Memperhatikan gaya hidup dan lingkungan yang sehat.
6. Mengkonsumsi antibiotik sebelum menjalani tindakan pencabutan gigi
atau pembedahan.

12

13

Rematik : PJR

Non Rematik : endokarditis, PJ bawaan, PJ koroner, trauma

BAB 3. PATHWAYS

Peradangan pada endotel katup

Insufisiensi mitral

Aliran balik ventrikel ke atrium kiri


Metabolisme anaerop

Penurunan volume darah ke aorta


Ketidakseimbangan
suplay O2 ke jaringan
Nutrisi dan O2 yang dibawa bersama
darah menurun

urunnya volume sirkulasi darah sistemik


Timbunan asam laktat meningkat
Menurunnya tekanan darah

Pembentukan energi menurun


Intoleransi
ATP menurun dan mengalami
fatigue aktivitas
Hipoksis jaringan

Memacu gagal jantung

kelebihan volume cairan ekstravaskuler

Lemah, letih, lesu


Nyeri
Anoreksia

Inadekuat nutrisi
Cemas

14

Beban akhir ventrikel menurun

Tekanan volume di atrium meningkat

n jantung memompa
darah
meningkat
Dilatasi
dan
kontraktilitasPenurunan
menurun curah jantung
Kongesti paru

Gangguan fungsi alveoli


Hipertrofi
Membutuhkan tenaga yang
kuat ventrikel kiri

Gangguan pertukaran gas

Dilatasi atrium
Edema paru

Sesak nafas

Gangguan aktivitas sehari-hari


Gagal jantung kiri
Pola nafas tidak efektif

Kerusakan atrium

Takiaritmia

Gagal jantung kanan


Hipertensi ventrikel Hipertensi
kanan
arteri pulmonal

15

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN


Asuhan keperawatan yang dapat diberikan kepada klien dengan infusiensi
mitral,

dimulai

dengan

pengkajian,

diagnosa

keperawatan,

intervensi,

implementasi dan kemudian diakhiri dengan evaluasi yang didokumentasikan


sebagai bukti legal asuhan telah diberikan kepada klien. Pemberian asuhan
keperawatan pun harus sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah
ditetapkan agar proses yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif.
4.1 Pengkajian
Pengkajian pada Insufisiensi Mitral diantaranya:
1. Identitas dan Data Demografi
Hal ini meliputi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, tempat tinggal
sebagai gambaran kondisi keluarga dan lingkungan serta keterangan lain
mengenai identitas klien.
2. Keluhan Utama Klien
Keluhan utama pada klien insufisiensi yaitu sesak napas. Beberapa macam
sesak napas yang biasanya dikeluhkan oleh klien, yaitu Ortopnea dan
Dyspnea nocturnal paroximal. Ortopnea terjadi akibat darah yang
terkumpul pada kedua paru saat posisi terlentang, hal ini dapat
menimbulkan pembuluh darah pulmonal mengalami kongesti secara
kronis dan aliran balik vena yang meningkat tidak diejeksikan oleh
ventrikel kiri. Sedangkan dyspnea nocturnal paroximal merupakan dispnea
berat. Klien

sering terbangun dari tidurnya atau bangun, duduk atau

berjalan menuju jendela kamar sambil terengah-engah, karena secara


mendadak ventrikel kiri gagal mengeluarkan curah jantung, sehingga
tekanan vena dan kapiler pulmonalis meningkat dan menyebabkan
transudasi cairan kedalam jaringan interstisial yang dapat meningkatkan
kerja pernapasan.
3. Riwayat penyakit terdahulu yang pernah diderita klien seperti penyakit
jantung rematik, penyakit jantung koroner dan trauma.
4. Riwayat kesehatan keluarga yang berhubungan dengan penyakit jantung
atau jenis penyakit kardiovaskular lainnya.
5. Pola pemenuhan kebutuhan
1) Aktivitas atau istirahat

16

Gejala: Kelemahan, kelelahan, pusing, rasa berdenyut, dispnea karena


kerja, palpitasi, gangguan tidur (ortopnea, dispnea paroksismal
nokturnal, nokturia, keringat malam hari).
Tanda: Takikardi, gangguan pada TD, pingsan karena kerja, takipnea,
dispnea.
2) Sirkulasi
Gejala: Riwayat kondisi pencetus, contoh demam reumatik, kondisi
kongenital trauma dada, hipertensi pulmonal, riwayat murmur jantung,
palpitasi, serak,, batuk dengan/tanpa produksi sputum.
Tanda: TD menurun
3) Makanan atau cairan
Gejala: perubahan berat badan, penggunaan diuretic, anoreksia.
Tanda: Edema umum atau dependen, hepatomegali, hangat, kemerahan
dan kulit lembab, pernapasan payah dan bising dengan terdengar
krekels dan mengi.
4) Neurosensori
Gejala: Episode pusing/pingsan berkenaan dengan beban kerja.
5) Nyeri atau kenyamanan
Gejala: Nyeri dada, angina, nyeri dada non-angina/tidak khas.
6) Pernapasan
Gejala: Dispnea (kerja, ortopnea, paroksismal, nokturnal). Batuk
menetap atau nokturnal (sputum mungkin/tidak produktif).
7) Integritas ego
Gejala: Tanda kecemasan. Contoh gelisah, pucat, berkeringat, fokus
menyempit, gemetar
8) Keamanan
Gejala : Proses infeksi/ sepsis, kemoterapi radiasi. Adanya perawatan
gigi (pembersihan, pengisian, dsb).
Tanda: Perlu perawatan gigi / mulut
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum, meliputi:
1) Inspeksi
: bentuk tubuh, pola pernapasan, emosi atau
perasaan
2) Palpasi

: suhu dan kelembaban kulit, edema, denyut dan

tekanan arteri
3) Perkusi
: batas-batas organ jantung dengan sekitarnya.
4) Auskultasi
: bising yang bersifat meniup (blowing) di apeks,
menjalar ke aksila dan mengeras pada ekspirasi, bunyi jantung I
lemah karena katup tidak menutup sempurna, bunyi jantung III

17

yang jelas karena pengisian yang cepat dari atrium ke ventrikel


pada saat distol dan tanda tanda vital. Tanda-tanda vital secara
umum terdiri atas nadi, frekuensi pernafasan, tekanan darah dan
suhu tubuh.
1) Pemeriksaan persistem
1) Sistem Pernapasan (Breath)
Paraxymal nocturnal Dyspnea.
2) Sistem Peredaran Darah (Blood)

Dyspnea,

Orthopnea,

: Thrill sistolik di apeks,

hanya terdengar bising sistolik di apeks, bunyi jantung 1 melemah


3) Sistem Persarafan (Brain)
: Pucat, Sianosis
4) Sistem Perkemihan (Bladder)
: Output urin menurun
5) Sistem pencernaan (Bowel)
: Nafsu makan menurun, BB
menurun
6) Sistem Musculoskeletal (Bone)
: Lemah
2) Pemeriksaan penunjang
1) Elektrokardiogram.
Penderita regurgitasi mitral tergantung pada derajat insufisiensi,
lamanya insufisiensi dan ada tidaknyapenyakit penyerta. Pada
insufisiensi mitral yang ringan mungkin hanya terlihatgambaran P
mitral dengan aksis dan kompleks QRS yang masih normal.
Padatahap yang lebih lanjut akan terlihat perubahan aksis yang
akan bergeser ke kiridan kemudian akan disertai dengan gambaran
hipertrofi ventrikel kiri. Blok berkaskanan yang tidak komplit (rsR
di V1) didapatkan pada 5% penderita regurgitasi mitral. Semakin
lama insufisiensi mitral, kemungkinan timbulnya aritmia atrium
semakin besar. Kadang-kadang timbul ekstra sistol atrium,
takikardia atrium danflutter atrium; paling sering adalah fibrilasi
atrium, yang awalnya paroksismal dan akhirnya menetap.
2) Foto toraks.
Pada regurgitasi mitral ringan tanpa gangguan hemodinamik yang
nyata, besar jantung pada foto toraks biasanya normal. Pada
keadaan yang lebih berat akan terlihat pembesaran jantung akibat
pembesaran atrium kiri dan ventrikel kiri, dan mungkin terlihat

18

tanda-tanda

bendungan

paru.

Kadang-kadang

terlihat

pula

perkapuran pada annulus mitral.


3) Fonokardiogram.
Fonokardiogram dilakukan untuk mencatat konfirmasibising dan
mencatat adanya bunyi jantung ketiga pada insufisiensi mitral
sedang sampai berat. Arteriogram pada arteri karotis mungkin
memperlihatkan kontraksiisovolumik yang memanjang. Apeks
kardigram memperlihatkan gambarangelombang pengisian cepat
(rapid filling) yang curam dan besar.
4) Ekokardiogram.
Ekokardiogram
untukmengevaluasi

pada

insufisiensi

gerakan

katup,

mitral

ketebalan

digunakan
serta

adanya

perkapuran pada aparatmitral. Eko Doppler dapat menilai derajat


regurgitasi insufisiensi mitral.Pengukuran diameter end diastolic,
diameter end systolic, ketebalan dinding danbesarnya dapat dipakai
untuk menilai fungsi ventrikel kiri.
5) Laboratorium.
Laboratorium pada insufisiensi mitral tidak memberikangambaran
yang khas. Pemeriksaan laboratorium berguna untuk menentukan
adatidaknya reuma aktif/ reaktivasi.
6) Penyadapan jantung dan angiografi.
Penyadapan jantung dan angiografidilakukan terutama untuk
konfirmasi

diagnostik

insufisiensi

mitral

sertaderajatnya,

menentukan fungsi ventrikel kiri, menilai lesi katup lainnya dan

19

secaraselektif

menilai

anatomi

pembuluh

darah

koroner.

Insufisiensi mitral adalahpenyebab tersering dari meningkatnya


gelombang V pada kurva tekanan baji(wedge). Pada keadaan yang
lanjut

akan didapatkan

pula peningkatan

tekanan

diarteri

pulmonalis. Derajat insufisiensi mitral dinilai dari opasitas atrium


kirisewaktu dilakukan ventrikulografi kiri. Fungsi ventrikel kiri
dapat dinilai daritekanan akhir diastolic, fraksi ejeksi dan volume
regurgitan.

4.2 Analisa data


Data fokus

Diagnosa

Evaluasi

Keperawatan

20

DS : klien mengeluh ketidakmampuan


sesak

nafas

Penurunan curah jantung

dalam ventrikel kiri untuk

beraktivitas

memompa darah.

DO : tekanan darah
130/80 mmHg, terjadi
aritmia,

denyut

jantung

dan

irama

jantung tidak teratur.

DS

Klien perembesan cairan,

mengatakan

sesak kongesti paru akibat

napas,

sering sekunder dari

dan

batuk

Pola napas tidak efektif

perubahan member

DO :, output urin kapiler alveoli dan


20ml/ jam

retensi cairan
intertestial.

DS

Klien Ketidakseimbangan

Intoleransi aktifitas

mengatakan tidak bisa suplay O2 ke


beraktivitas
mobilisasi

atau jaringan
ditempat

tidur sekalipun
DO

frekuensi

pernapasan
menit
DS

mengatakan

24x/
Pasien kurangnya informasi

Defisit pengetahuan

cemas tantang kelainan

dan takut mati

katup jantung

DO : pasien terlihat
khawatir dan sudah
tidakada

harapan
21

untuk hidup

4.3 Diagnosa
1) Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan ketidakmampuan ventrikel
kiri untuk memompa darah.
2) Pola napas tidak efektif berhubungan dengan perembesan cairan, kongesti paru
akibat sekunder dari perubahan member kapiler alveoli dan retensi cairan
intertestial.
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplay oksigen ke
jaringan
4) defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kelainan
katup jantung

4.4 Intervensi
No Diagnosa

Tujuan

Kriteria Hasil

Keperawatan

dan Intervensi

Rasional

22

1.

Penurunan curah

Tujuan : dalam

jantung yang

waktu 3x24 jam

lapor tanda

mortalitas dan

berhubungan

penurunan curah

penurunan

morbiditas

dengan

jantung dapat

curah

sehubungan

ketidakmampuan

teratasi dan

ventrikel kiri

menunjukkan

untuk memompa
darah.

tanda vital dalam


batas yang dapat
diterima (disritmia
terkontrol atau
hilang dan bebas
gejala gagal
jantung misalnya
parameter
hemodinamika
dalam batas
normal, output
urine adekuat)
Kriteria hasil :
Klien melaporkan
penurunan episode
dyspnea, berperan
dalam aktivitas
mengurangi beban
kerja jantung,
tekanan darah

1. Kaji dan

jantung
2. Berikan
oksigen
tambahan
dengan

yang lebih dari


24 jam pertama
2. Meningkatkan

nasal atau

oksigen untuk

masker

kebutuhan

sesuai

miokardium

indikasi
3. Kolaborasi
pemberian
cairan

untuk melawan
efek hipoksi
atau iskemia
3. Karena adanya

intervena,

peningkatan

pembatasa

tekanan

n jumlah

ventrikel kiri,

total cairan

klien tidak

sesuai

dapat

dengan

menoleransi

indikasi,

peningkatan

hindari

volume

cairan dan

cairan(preload)

natrium
4. Kolaborasi

normal, tidak

obat

dan irama jantung

miokardium

sediaan

pemberian

denyut jantung,

dengan infark

kanula

dalam batas
terjadi aritmia,

1. Kejadian

diuretic
5. Kolaborasi
pemberian
obat

klien juga
mengeluarkan
sedikit natrium
yang
menyebabkan
retensi cairan
dan

23

teratur.

vasodilator

meningkatkan

seperti

kerja

nitrat

miokardium
4. Penurunan
preload paling
banyak
digunakan
dalam
mengobati
klien dengan
curah jantung
relative normal
ditambah
dengan gejala
kongesti
deuritik blok
reabsorbsi
diuretic
sehingga
mempengaruhi
reabsorbsi
natrium dan air
5. Vasodilator
digunakan
untuk
meningkatkan
curah jantung,
menurunkan
volume
sirkulasi(vasodi
lator) dan
tahanan
vasikuler

24

sistemis
(arteridilator)
juga kerja
ventrikel

2.

Pola napas tidak

Tujuan : Dalam

Auskultasi

efektif

waktu 3x24 jam

bunyi napas.

paru, akibat

berhubungan

pola napas

1.

Kaji

sekunder

dengan

kembali efektif

adanya

dekompensasi

perembesan
cairan, kongesti

Kriteria hasil :

paru akibat

Klien tidak sesak

sekunder dari

napas, frekuensi

perubahan

pernapasan

member kapiler

normal (16-20 x

alveoli dan

atau menit),

retensi cairan

respon batuk

intertestial.

berkurang, output

edema.
2. Pertahank

1. Indikasi edema

jantung.
2. Waspadai

an

adanya gagal

pemasuka

kongestif atau

n total

kelebihan

cairan

volume cairan.
3. Memenuhi

2000ml
atau
24jam
dalam

kebutuhan
cairan tubuh
orang dewasa

25

urin 30ml atau

toleransi

tetapi

jam

kardiovask

memerlukan

uler.
3. Kolaborasi

pembatasan

pemberian
diet tanpa
garam.
4. Kolaborasi
pemberian
diuretik

dengan adanya
dekompensasi
jantung.
4. Natrium
meningkatkan
retensi cairan
dan
meningkatkan
volume plasma
yang
berdampak
terhadap
peningkatan
beban kerja
jantung dan
akan
meningkatkan
kerja
miokardium.
5. Diuretic
bertujuan
untuk
menurunkan
volume plasma
dan
menurunkan
retensi cairan
di jaringan
sehingga
menurunkan

26

risiko
terjadinya
edema paru.
3.

Intoleransi

Tujuan : Dalam

aktivitas

waktu 3x24 jam

frekuensi

terhadap

berhubungan

aktivitas sehari-

jantung,

aktivitas dapat

dengan

hari klien

irama, dan

mengindikasika

ketidakseimbang

terpenuhi dan

perubahan

n penurunan

an suplay

meningkatnya

TD selama

oksigen

oksigen ke

kemampuan

dan

jaringan.

beraktivitas

sesudah

Kriteria hasil :
Klien
menunjukkan
peningkatan
kemampuan
beraktivitas atau
mobilisasi
ditempat tidur,
frekuensi
pernapasan
normal.

1. Catat

aktivitas.
2. Tingkatkan
istirahat,
batasi
aktivitas,
dan
berikan
aktivitas
senggang
yang tidak
berat.
3. Jelaskan
pola
peningkata
n bertahap
dari
tingkat
aktivitas,c
ontoh
bangun
dari kursi,

1. Respon klien

miokardium.
2. Menurunkan
kerja
miokardium
atau konsumsi
oksigen.
3. Aktivitas yang
maju
memberikan
control jantung,
meningkatkan
regangan dan
mencegah
aktivitas
berlebihan.
4. Untuk
mendapatkan
cukup waktu
resolusi bagi
tubuh dan tidak
terlalu
memaksa kerja
jantung

27

bila tak
ada nyri,
ambulasi,
dan
istirahat
selama 1
jam
setelah
makan.
4. Berikan
waktu
istirahat
diantara
waktu
aktivitas
5.

Defisit

Tujuan : setelah

pengetahuan

dilkukan

dasar

mempuyai

berhubungan

perawatan selama

patologi

dasar

dengan

1x24 jam klien

abnormalit

pemahaman

kurangnya

paham tentang

as katub

tentang

informasi tantang

kelainan katup

kelainan katup

jantung

jantung

Kriteria hasil :

1. jelaskan

2. Jelaskan

1. pasien harus

abnormalita

rasional

s katubnya

pengobata

sendiri dan

n, dosis,

konsekuensi

Setelah dilakukan

efek

hemodinami

tindakan

samping,

k kerusakan

keperawatan, Pasi

dan

sebagai

en mengerti

pentingnya

dasar

minum

penjelasan

obat sesuai

rasional

resep

aspek

tentang
kelainan katub
jantung dalam

3. Anjurkan

pengobatan.

jangka waktu

dan biarkan

1x24 jam

pasien

meningkatk

menunjukka

an

2. Dapat

28

kerjasama

ketrampilan

dengan

pemantauan

terapi obat

sendiri

dan
menceah
penghentian
sendiri pada
obat dan
/atau
interaksi
obat yang
merugikan
3. Adanya
perubahan
pada
indikasi
harus
dilaporkan
pada dokter
untuk
evaluasi.

4.3 Implementasi
No.

Diagnosa Keperawatan

Implementasi

29

1.

Penurunan curah jantung yang

1. Mengkaji dan lapor tanda

berhubungan dengan ketidakmampuan

penurunan curah jantung


2. Memberikan oksigen

ventrikel kiri untuk memompa darah.

tambahan dengan kanula nasal


atau masker sesuai indikasi
3. Mengkolaborasi pemberian
cairan intervena, pembatasan
jumlah total cairan sesuai
dengan indikasi, hindari cairan
dan natrium
4. Mengkolaborasi pemberian
obat diuretic
5. Mengkolaborasi pemberian
obat vasodilator seperti nitrat

2.

Pola napas tidak efektif berhubungan


dengan perembesan cairan, kongesti paru
akibat sekunder dari perubahan member
kapiler alveoli dan retensi cairan
intertestial.

1. Mendengarkan bunyi napas.


2. Mengkaji adanya edema.
3. Mempertahankan pemasukan
total cairan 2000ml atau 24jam
dalam toleransi kardiovaskuler.
4. Mengkolaborasi pemberian
diet tanpa garam.
5. Mengkolaborasi pemberian

3.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan


ketidakseimbangan suplay oksigen ke
jaringan

diuretik
1. Mencatat frekuensi jantung,
irama, dan perubahan TD
selama dan sesudah aktivitas.
2. Meningkatkan istirahat, batasi
aktivitas, dan berikan aktivitas
senggang yang tidak berat.
3. Menjelaskan pola peningkatan
bertahap dari tingkat
aktivitas,contoh bangun dari
kursi, bila tak ada nyri,
ambulasi, dan istirahat selama

30

1 jam setelah makan.


4. Memberikan waktu istirahat
diantara waktu aktivitas
4.

Defisit pengetahuan berhubungan dengan


kurangnya informasi tantang kelainan

1. Menjelaskan dasar patologi


abnormalitas katub
2. Menjelaskan rasional

katup jantung

pengobatan, dosis, efek


samping, dan pentingnya
minum obat sesuai resep
3. Menganjurkan dan biarkan
pasien menunjukkan
ketrampilan pemantauan
sendiri

4.4 Evaluasi
No.

Diagnosa

Evaluasi

1.

Keperawatan
Penurunan curah

S : Klien melaporkan penurunan episode dyspnea,

jantung yang

berperan dalam aktivitas mengurangi beban kerja

berhubungan dengan

jantung, O : tekanan darah dalam batas normal, tidak

ketidakmampuan

terjadi aritmia, denyut jantung, dan irama jantung

ventrikel kiri untuk

teratur.

memompa darah.

A : penurunan curah jantung dapat teratasi dan


menunjukkan tanda vital dalam batas yang dapat
diterima (disritmia terkontrol atau hilang dan bebas
gejala gagal jantung misalnya parameter hemodinamika
dalam batas normal, output urine adekuat)

2.

Pola napas tidak

P : hentikan ntervensi
S ; Klien mengatakan tidak sesak napas, dan batuk

efektif berhubungan

berkurang

dengan perembesan

O : frekuensi pernapasan normal (16-20 x atau menit),


31

cairan, kongesti paru

output urin 30ml atau jam

akibat sekunder dari

A : pola napas kembali efektif

perubahan member

P : hentikan ntervensi

kapiler alveoli dan


retensi cairan
intertestial.

3.

5.

Intoleransi aktivitas

S : Klien mengatakan bisa beraktivitas atau mobilisasi

berhubungan dengan

ditempat tidur,

ketidakseimbnagan

O : frekuensi pernapasan normal.

suplay oksigen ke

A : aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan

jaringan

meningkatnya kemampuan beraktivitas

Defisit pengetahuan

P : hentikan ntervensi
S : Pasien mengatakan telah mengerti tentang

berhubungan dengan

kelainan katub jantung

kurangnya informasi

O : pasien nampak gembira dan tidak cemas lagi

tantang kelainan

A : pasien paham tentang kelainan katup jantung

katup jantung

P : hentikan ntervensi

32

BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penyakit katup jantung Insufisiensi mitral merupakan keadaan dimana
terdapat refluks darah dari ventrikel kiri ke atrium kiri pada saat sistolik, akibat
katup mitral tidak menutup secara sempurna. Kelainan katup mitralis yang
disebabkan karena tidak dapat menutupnya katup dengan sempurna pada saat
systole menyebabkan peningkatan volume kerja jantung karena jantung perlu
memompa volume untuk mengganti darah yang mengalir balik. Secara umum,
insufisiensi mitral dapat disebabkan karena reumatik dan non reumatik, baik
secara degenaratif, endokarditis, penyakit jantung koroner, penyakit jantung
bawaan, trauma dan sebagainya.
Beberapa tanda dan gejala yang muncul pada klien dengan insufisiensi mitral
yaitu palpitasi, lemah, dyspnea, ortopnea, paraxymal nocturnal dyspnea, thrill
sistolik di apeks, hanya terdengar bising sistolik di apeks, bunyi jantung 1
melemah, bising panasistolik, iktus kordis kuat, dan fibrilasi atrium. Pemeriksaan
diagnostik yang dapat dilakukan menggunakan elektrokardiogram, foto thorax,
fonokardiogram, dan pemeriksaan laboratorium.
Penatalaksaan dimulai dengan keadaan umum (inspeksi, palpasi, perkusi dan
auskultasi), lalu pemeriksaan tanda-tanda vital, kemudian dilanjutkan dengan
pemeriksaan persistem. Asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien dengan
insufisiensi mitral dimulai dengan pengkajian data klien, diagnosa keperawatan,
intervensi, implementasi, dan evaluasi. Prioritas keperawatan dalam asuhan

33

keperawatan yaitu mempertahankan curah jantung adekuat, mempertahankan dan


meningkatkan toleransi aktivitas, menghilangkan nyeri serta memberikan
informasi tentang proses penyakit, manajemen, dan pencegahan komplikasi.
5.2 Saran
Kelainan pada katup jantung bisa diakibatkan oleh beberapa faktor penyebab
dan dapat menimbulkan beberapa gejala yang berbeda. Hal ini memerlukan
perbaikan secara bedah atau penggantian untuk mengoreksi masalah sehingga
seharusnya proses keperawatan yang di awali dengan pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi haruslah tepat sehingga bisa
dilakukan suatu rencana dan tindakan keperawatan yang benar dan tepat sehingga
menghasilkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan dari proses keperawatan
tersebut.

34

DAFTAR PUSTAKA
Herdman, T. Heather. 2012. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.
Manurung, D. Penyakit jantung valvular, penyakit katup mitral dan tricuspid.
Dalam: Ilmu Penyakit Dalam ed.2. 1991. 236 44.
Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi. Jakarta : EGC
Price, Silvia Anderson (2006). Pantofisiologi. Jakarta
Wilkinson, Judith M. dan Ahren, Nancy R. 2011. Buku Saku Diagnosa
Keperawatan edisi 9. Jakarta: EGC.
Zaidema. Cacat katup jantung. Dalam : Penyakit jantung. Nurcaya.199:94100.
https://necel.wordpress.com/2010/08/05/mitral-insufisiensi/
http://riakhumairah.blogspot.co.id/2014/03/insufisiensi-mitral.html
https://www.scribd.com/doc/62692563/INSUFISIENSI-MITRAL

35

21