Anda di halaman 1dari 6

PERJANJIAN-PERJANJIAN DALAM WTO

Laras Qisthina

Putri
TUGAS RESUME SEMINAR
13/348899/HK/19574
Judul Seminar
Tempat

: Optimisme Dunia Usaha dalam Menghadapi Tantangan Global


: Gedung Futsal Universitas Diponegoro Semarang

Hari dan tanggal

: Sabtu, 26 September 2015

Pembicara

: 1. Wakil Ketua DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan


Bapak Dr. Ir. H. Taufik Kurniawan, M.M.
2. Kepala Departemen Regional Bank Indonesia II
Bapak Dwi Pranoto

Ringkasan materi

1. Sesi pertama oleh Wakil Ketua DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan Bapak Dr. Ir. H.
Taufik Kurniawan, M.M.
Konsep dasar perdagangan global:

ASEAN Charter atau Piagam ASEAN


ASEAN Charter ditandatangani oleh negara-negara anggota ASEAN pada tanggal 20
November 2007. Indonesia melakukan ratifikasi Piagam ASEAN dengan Undang-

Undang Nomor 38 Tahun 2008.


Tiga Pilar Masyarakat ASEAN
Terdapat tiga pilar dasar yaitu ASEAN Political Security Community, ASEAN

Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community.


ASEAN Free Trade Area (AFTA)
ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) disepakatipada tahun 1992, mulai
diterapkan tahun 2002 dan Januari 2010 ASEAN-6 menghapus seluruh tariff pada

kategori Inclusion List.


ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Empat pilar MEA:
1. Pasar tunggal dan basis produksi
2. Kawasan ekonomi yang berdaya saing tinggi
3. Kawasan yang mampu membangun secara berkelanjutan
4. Kawasan yang terintegrasi penuh dengan perekonomian global
MEA sebagai suatu integrasi ekonomi negara-negara ASEAN memiliki tujuan:

i.
ii.
iii.

mengurangi gap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi di antara negara


ASEAN maupun negara-negara yang tergabung dalam ASEAN
mencapai pertumbuhan inklusif; dan
pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Visi ASEAN 2020


Visi ASEAN adalah untuk menjadikan ASEAN sebagai sebuah kawasan yang stabil,

sejahtera, berdaya saing tinggi, dan makmur


2. Sesi kedua oleh Kepala Departemen Regional Bank Indonesia II Bapak Dwi Pranoto
Selama ini, masyarakat Indonesia hanya mengetahui menjaga stabilitas moneter
sebagai tugas utama Bank Indonesia. Padahal selain menjaga kestabilan moneter di
Negara Indonesia, Bank Indonesia juga memiliki tugas untuk membangun Human
Development Index (HDI) masyarakat Indonesia. HDI adalah pengukuran perbandingan
dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara
seluruh dunia. Contoh kegiatan yang dilakukan Bank Indonesia dalam rangka
membangun HDI Indonesia adalah dengan menyediakan BI Corner, yakni sebuah spot
khusus di perpustakaan-perpustakaan berbagai universitas di Indonesia yang berisi buku-

i.

buku sumbangan dari Bank Indonesia.


Tiga hal yang perlu diwaspadai:
Perkembangan ekonomi global
Banyak negara-negara maju yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi,
seperti contohnya Amerika Serikat dan China. China sekarang pertumbuhan

ii.
iii.

ekonominya hanya berkisar 6,5% per tahun.


Andalan ekspor Indonesia
Respon Bank Federal Amerika Serikat
Perkembangan ekonomi Indonesia sekarang agak melambat, untuk kuartal kedua
tahun ini hanya sekitar 4,67%, tetapi diharapkan pada saat tutup buku / close book akhir
tahun nanti bisa naik.
Kinerja perusahaan Indonesia selama tahun 2015 kurang maksimal, ini merupakan
imbas dari lemahnya ekonomi global. Solusi untuk masalah ini adalah sebenarnya
perusahaan-perusahaan bisa bermain dalam Global Value Chain (GVC).
Tiga langkah utama yang dapat dilakukan Indonesia dalam menghadapi perdagangan
global:

i.

ii.

Meningkatkan dan menjaga daya saing (competitiveness) Indonesia


Contohnya, Pulau Jawa seharusnya bisa dominan dalam bidang agrikultur dan jasa.
Potensi-potensi daerah seperti tersebut harus dimanfaatkan.
Meningkatkan dan menjaga daya tahan (resilience) Indonesia
Untuk mewujudkan hal ini, maka UMKM harus diperkuat lagi. Indonesia harus
mencontoh Afrika Selatan yang UMKM-nya terintegrasi dengan industri besar.
iii. Inklusif
Maksud dari inklusif ini adalah, bahwa pertumbuhan ekonomi seharusnya sehat dan
dapat dinikmati oleh setiap orang, tidak hanya dinikmati oleh kalangan-kalangan

tertentu saja. Globalisasi seharusnya tidak menimbulkan disparitas antara si kaya


dengan si miskin.
Komentar dan analisis

Para pembicara dalam seminar ini adalah orang-orang berpengaruh di dunia


perekonomian Indonesia. Materi yang kedua pembicara tersebut berikan cukup memberikan
insight atau pandangan dari pakar-pakar yang memang berkecimpung di bidang ekonomi,
bahwa meskipun berita-berita di media massa menyebutkan bahwa melemahnya nilai mata
uang rupiah terhadap dollar Amerika Serikat adalah pertanda bahwa akan terjadi krisis
ekonomi seperti pada tahun 1998, namun hal tersebut tidak perlu dicemaskan. Bahkan, kedua
pakar tersebut menyatakan bahwa meskipun perekonomian global sedang melemah, namun
Indonesia termasuk negara yang menghadapi melemahnya perekonomian ini dengan baik.
Oleh karena itu, Indonesia harus menggunakan momentum ini untuk terus menggenjot
perekonomian dan industri dalam negeri, agar dapat bersaing di tengah-tengah semakin
meningkat dan ketatnya persaingan global nanti, terlebih setelah Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) efektif berlaku mulai 2016 nanti.
Materi yang disampaikan oleh para pembicara sangat bagus, namun sayangnya,
pembahasan dari aspek hukum tidak terlalu spesifik dan mendetail. Untuk aspek hukumnya,
para pembicara hanya menyampaikan dasar hukum berlakunya MEA, serta beberapa poin
dari ASEAN Charter yang sejatinya dapat kita cari sendiri secara otodidak. Para pembicara
lebih memfokuskan penjelasan mengenai praktek riil yang terjadi di lapangan untuk sisi
ekonomi. Karena keterbatasan waktu pula, penjelasan dari bidang ekonomi yang disampaikan
juga terlalu terburu-buru, dan banyak istilah yang masih asing bagi orang-orang awam atau
yang tidak terlalu bergelut di bidang ekonomi. Banyak grafik menarik yang ditampilkan
dalam slide kedua pembicara, seeprti pertumbuhan GDP negara-negara anggota ASEAN
dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, pertumbuhan berbagai sektor industri di Indonesia, dan
lain sebagainya, namun karena keterbatasan waktu pula, grafik-grafik tersebut tidak sempat
dijelaskan lebih lanjut oleh para pembicara.
Judul Seminar

: Kesiapan Sektor Pangan Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN


(MEA)

Tempat

: Auditorium Kamarijani-Soenjoto Fakultas Teknologi Pertanian UGM

Hari dan tanggal

: Jumat, 18 September 2015

Pembicara

: 1. Kepala BPOM Indonesia


Dr. Roy Alexander Sparringa, M.App.Sc.

2. Perwakilan dari BNSP Indonesia


Bapak Mulyanto
3. Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia
Ringkasan materi

1. Sesi pertama oleh Kepala BPOM Indonesia, Dr. Roy Alexander Sparringa, M.App.Sc.
Badan POM telah melakukan berbagai upaya sejak beberapa tahun yang lalu untuk
mendukung industri pangan dalam negeri, khususnya UMKM agar mampu bersaing di
pasar ASEAN. Peran BPOM dan kaitannya dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi
ASEAN per Januari 2016 mendatang adalah sebagai berikut:
melakukan pembinaan teknis kepada pelaku usaha;
penurunan tarif PNBP untuk UMKM;
percepatan dan penyederhanaan perizinan;
penganugerahan piagam bintang keamanan pangan, pengawasan preventif; dan
penguatan kemitraan dengan stakeholder terkait.
Selain point-poin tersebut, BPOM juga tercatat telah memfasilitasi pendaftaran
produk pangan UMKM sebanyak 1.741 item Nomor MD untuk tahun 2013, dan 904
item Nomor MD untuk tahun 2014. Bapak Roy menegaskan memperoleh izin MD Badan
POM tidak sulit, selama UMKM yang mendaftar tersebut menerapkan cara produksi
pangan yang baik. Beliau sangat merekomendasikan pendaftaran MD ini kepada para
pelaku UMKM yang bergerak di bidang produksi makanan, karena dengan
mencantumkan MD pada kemasan makanan, konsumen akan merasa lebih terjamin dan
merasa aman dalam mengonsumsi produk tersebut.
Bapak Roy menyatakan bahwa kesadaran untuk melakukan pendaftaran MD di
kalangan para pelaku UMKM sudah tinggi, yang masih rendah adalah kesadaran untuk
melakukan pendaftaran merk, yang ini sangat disayangkan. Padahal, pendaftaran merk
sangat penting dilakukan, mengingat banyak merk UMKM yang sudah terkenal dan
dipakai untuk produk yang diekspor, dan tanpa pendaftaran merk, maka tidak ada
perlindungan hukum terhadap merk-merk UMKM tersebut apabila terjadi sengketa nanti
di kemudian hari.
2. Sesi kedua oleh Perwakilan dari BNSP Indonesia, Bapak Mulyanto
Bapak Mulyanto menjelaskan mengenai berbagai regulasi yang menjadi standar
kompetensi tenaga kerja di Indonesia, baik tenaga kerja dalam negeri maupun tenaga
kerja asing, terutama di bidang industri produksi makanan. Industri produksi makanan

sangat rentan terhadap risiko timbulnya toksin atau racun dalam makanan tersebut, oleh
karena itu, para pekerja yang bekerja di industri makanan harus memiliki kompetensi
yang memadai untuk dapat memastikan produk makanan yang dihasilkan aman
dikonsumsi untuk masyarakat. BNSP selaku instansi berwenang di Indonesia dalam
bidang sertifikasi profesi turut memberikan dukungan regulasi sertifikasi kompetensi

dalam upaya peningkatan daya saing tenaga kerja di sektor pangan.


Landasan Hukum Sistem Sertifikasi di Indonesia:
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 tentang BNSP
Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2008 tentang Sistem Pelatihan Kerja
Nasional

Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional


Indonesia

3. Sesi ketiga oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian
Republik Indonesia
Direktorat Industri Agro secara luas berwenang mengelola berbagai hasil industri
agro, yang dalam hal ini mencakup pertanian dan kehutanan. Dalam kesempatan ini,
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro menyampaikan bahwa produk agro
unggulan Indonesia untuk ekspor, selama ini adalah karet, kakao, kelapa, kopi dan
produk teh olahan. Untuk produk-produk lain, sayangnya Indonesia masih melakukan
import. Bahkan untuk produk pertanian seperti ubi kayu, Indonesia masih tercatat harus
melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Hal ini sangat disayangkan, mengingat Indonesia adalah negara agraris. Oleh karena
itu, Direktorat Jenderal Industri Agro sangat mengharapkan kerjasama berbagai pihak
dari lintas sektor supaya Indonesia dapat memenuhi kebutuhan produk-produk
pertaniannnya tanpa perlu melakukan impor.
Komentar dan analisis :
Untuk materi yang dipaparkan oleh pembicara pertama, berdasarkan pemaparan
beliau dapat dilihat bahwa BPOM telah aktif mendukung industri dalam negeri
Indonesia, terutama UMKM dalam hal persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA). Namun sayangnya, kesadaran UMKM untuk melakukan pendaftaran
merk masih rendah, dan saya rasa ini yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan
akademisi di bidang ekonomi dan hukum, untuk mendorong para pelaku industri UMKM
ini melakukan pendaftaran merk.

Materi yang disampaikan oleh pembicara kedua ini menurut saya berhubungan
dengan materi mata kuliah Perjanjian-Perjanjian Dalam WTO, karena sertifikasi yang
harus dimiliki para pekerja asing ini dapat termasuk menjadi bahan pembahasan dalam
bab hambatan non-tarif, atau non-tariff barrier.
Sedangkan untuk pemateri ketiga, menurut saya, tidak banyak yang dapat dianalisis
dari sisi hukum perdagangan internasional, karena beliau sebagian besar hanya
menyampaikan fakta-fakta mengenai ekspor dan impor produk pertanian yang dilakukan
Indonesia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, serta himbauan untuk
meningkatkan produksi industri agro Indonesia.