Anda di halaman 1dari 4

Tata Cara Adzan dan Iqomah

14 December 2011, 6:00 am


adzan, azan, iqamah, iqomah
Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di dalam Islam. Rasulullah shallallahu alaihi
wa salam bersabda :
Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai
yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para
imam dan memberi ampunan untuk para muadzin [1]
Berikut sedikit penjelasan yang berkaitan dengan tata cara adzan
dan iqomah.
Pengertian Adzan
Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At Taubah Ayat 3:

dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia
Adapun makna adzan secara istilah adalah seruan yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu
dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu. [2]
Hukum Adzan
Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan
adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang
mengatakan hukum adzan adalah fardu kifayah[3]. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku
bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melakukan adzan[4].
Syarat Adzan[5]
1.

Telah Masuk Waktu Shalat

Syarat sah adzan adalah telah masuknya waktu shalat, sehingga adzan yang dilakukan sebelum waktu
solat masuk maka tidak sah. Akan tetapi terdapat pengecualian pada adzan subuh. Adzan subuh
diperbolehkan untuk dilaksanakan dua kali, yaitu sebelum waktu subuh tiba dan ketika waktu subuh tiba
(terbitnya fajar shadiq). [6]
2.

Berniat adzan

Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya (tidak dengan lafazh tertentu) bahwa ia
akan melakukan adzan ikhlas untuk Allah semata.
3.

Dikumandangkan dengan bahasa arab

Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jika menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara
ulama yang berpendapat demikian adalah ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafii.
4.

Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna

Maksudnya adalah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut
bisa merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan harus diucapkan dengan jelas dan benar.

5.

Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai urutan

Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits
yang sahih. Adapun bagaimana urutannya akan dibahas di bawah.
6.

Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung

Maksudnya adalah hendaknya antara lafazh adzan yang satu dengan yang lain diucapkan secara
bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan atau pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi
diperbolehkan berkata atau berbuat sesuatu yang sifatnya ringan seperti bersin.
7.

Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di tempat muadzin

Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat
sang muadzin melakukan adzan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengeraskan suara atau
dengan alat pengerasa suara.
Sifat Muadzin
1.

Muslim

Disyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah seorang muslim. Tidak sah adzan dari seorang yang kafir.
[7]
2.

Ikhlas hanya mengharap wajah Allah

Sepatutnya seorang muadzin melakukan adzan dengan niat ikhlas mengaharap wajah Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda :Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil
upah dari adzannya itu.[8]
3.

Adil dan amanah

Yaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam waktu-waktu shalat.


4.

Memiliki suara yang bagus

Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda kepada sahabat Abdullah bin Zaid: pergilah dan
ajarkanlah apa yang kamu lihat (dalam mimpi) kepada Bilal, sebab ia memiliki suara yang lebih bagus
dari pada suaramu [9]
5.

Mengetahui kapan waktu solat masuk

Hendaknya seorang muadzin mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga ia bisa mengumandangkan
adzan tepat pada awal waktu dan terhindar dari kesalahan. [10]
Sifat Adzan [11]
Terdapat tiga cara adzan, yaitu :
1.
Adzan dengan 15 kalimat, yaitu dengan lafazh [12]:



4x 2

2


2
2x

1x

Adzan seperti ini adalah cara yang dipilih oleh abu hanifah dan imam ahmad.

2.

Adzan dengan 19 kalimat [13], yaitu sama seperti adzan cara pertama akan tetapi ditambah
dengan tarji (pengulangan) pada syahadatain. Tarji adalah mengucapkan syahadatain dengan
suara pelan tetapi masih terdengar oleh orang-orang yang hadir- kemudian mengulanginya
kembali dengan suara keras. Jadi lafazah asyhadu alla ilaaha illallaahdanasyhadu anna
muhammadarrasulullahmasing-masing diucapkan empat kali. Adzan seperti ini adalah cara yang
dipilih oleh Imam Asy Syafii.
3.
Adzan dengan 17 kalimat, yaitu sama dengan cara adzan kedua akan tetapi takbir pertama
hanya diucapkan dua kali, bukan empat kali. Adzan seperti ini adalah cara yang dipilih oleh Imam
Malik dan sebagian Ulama Madzhab Hanafiah. Akan tetapi menurut penulis Shahiq Fiqh Sunnah,
hadits yang menjelaskan kaifiyat ini adalah hadits yang tidak sahih. Sehingga adzan dengan cara
ini tidak disyariatkan.
Yang Dianjurkan bagi Muadzin
1.

Adzan dalam keadaan suci

Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum yang menganjurkan agar manusia dalam keadaan suci ketika
berdizikir (mengingat) kepada Allah.
2.

Adzan dalam keadaan berdiri

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa salamdalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Umar : berdiri wahai bilal! Serulah manusia untuk melakukukan solat!
3.

Adzan menghadap kiblat

4.

Memasukkan jari ke dalam telinga

Ini adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh sahabat Bilal ketika adzan. [14]
5.

Menyambung tiap dua-dua takbir

Maksudnya adalah menyambungkan kalimat Allahu akbar-allahu akbar, tidak dijeda antara keduanya.
[15]
6.

Menolehkan kepala ke kanan ketika mengucapakan hayya alas shalahdan menolehkan

kepala ke kiri ketika mengucapakan hayya alal falah. [16]


7.

Menambahkan ash shalatu khairum minannaum pada azan subuh. [17]

Pengertian Iqamah
Iqamah secara istilah maknanya adalah pemberitahuan atau seruan bahwa sholat akan segera didirikan
dengan menyebut lafazh-lafazh khusus. [18]
Hukum Iqamah
Hukum iqamah sama dengan hukum adzan, yaitu fardu kifayah. Dan hukum ini juga tidak berlaku untuk
wanita. [19]
Sifat Iqamah
Ada dua cara iqamah [20]:
1. Dengan sebelas kalimat [21], yaitu :

2x


1x
1x


1x


1x

2x

2x

1x
2. Dengan tujuh belas kalimat [22], yaitu :

4x


2x
2x

2x


2x

2x

2x

1x

Apakah yang Melaksanakan Iqamah Harus Orang yang Mengumandangkan Adzan?


Sebagian besar ulama mengatakan hukumnya adalah hanya anjuran dan tidak wajib, sebagaimana
kebiasaan Sahabat Bilal, beliau yang adzan beliau pula yang iqamah. Dan boleh hukumnya jika yang
adzan dan iqamah berbeda. [23]