Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Profil Perusahaan
Lapindo Brantas, Inc (LBI) adalah perusahaan yang bergerak di bidang usaha
eksplorasi dan produksi migas di Indonesia yang beroperasi melalui skema Kontraktor
Kontrak Kerja Sama (KKKS) di blok Brantas, Jawa Timur. Lapindo Brantas Inc.,
pertama didirikan pada tahun 1996 setelah proses kepemilikan sahamnya diambil alih
dari perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat, Huffington Corporation, yang saat
itu telah menandatangani perjanjian Production Sharing Contract (PSC) dengan Blok
Brantas di Jawa Timur untuk jangka waktu 30 tahun.
LBI melakukan eksplorasi secara komersil di 2 wilayah kerja (WK) di darat
dan 3 WK lepas pantai dan saat ini total luas WK Blok Brantas secara keseluruhan
adalah 3.042km2. Sementara komposisi jumlah Penyertaan Saham (Participating
Interest) perusahaan terdiri dari Lapindo Brantas Inc. (Bakrie Group) sebagai operator
sebesar 50%, PT Prakarsa Brantas sebesar 32% dan Minarak Labuan Co. Ltd (MLC)
sebesar 18%. Dari kepemilikan sebelumnya, walaupun perizinan usaha LBI terdaftar
berdasarkan hukum negara bagian Delaware di Amerika Serikat, namun saat ini 100%
sahamnya dimiliki oleh pengusaha nasional.
Dari berbagai kegiatan eksplorasi yang dilakukan, LBI telah menemukan
cadangan-cadangan migas yang berpotensi sangat baik, antara lain di lapangan Wunut
yang terletak di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Lapangan Wunut dinyatakan
komersial dan mulai berproduksi pada bulan Januari 1999. Kemudian disusul oleh
lapangan Carat di Kabupaten Mojokerto juga yang telah dinyatakan komersial pada
tahun 2006, lalu lapangan Tanggulangin yang mulai dinyatakan komersial pada bulan
Juni 2008. Untuk memajukan usahanya, LBI didukung oleh 77 orang karyawan tetap
dan kontrak, ditambah 142 orang dari kontrak pihak ketiga.

Visi :
Turut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia melalui pemenuhan energi
minyak dan gas bumi.
Meningkatkan nilai tambah perusahaan kepada seluruh pemangku kepentingan.
Menjadi perusahaan minyak dan gas bertaraf internasional dan sebagai produsen
minyak dan gas terbesar di Jawa Timur.
Misi :
Menjalankan seluruh kegiatan operasi perusahaan dengan ekonomis, dapat
dipertanggungjawabkan dan sesuai standar HSE yang tertinggi.
Menahan laju penurunan produksi dari lapangan yang ada.
Explore, discover & develop prospek di Area-1, 3, 4 & 5.

Melakukan kembali kegiatan eksplorasi dan pengembangan di Area-2.


Membangun reputasi sebagai perusahaan yang peduli lingkungan dengan
menerapkan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan secara terpadu dan
berkesinambungan.

B. Kronolgis Kasus
Pada awalnya Lapindo menyatakan bahwa bencana lumpur di Jawa Timur
merupakan akibat dari adanya gempa yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Lapindo menyatakan gempa-gempa susulan yang terjadi di Yogyakarta serta dampak
yang ditimbulkan merupkan kunci penyebab terjadinya bencana lumpur panas ini.
Namun setelah diadakan penelitian, ditemukan bahwa semburan lumpur tersebut
bukan karena gempa, melainkan adanya kesalahan teknis pengeboran oleh Lapindo
tersebut.
Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal
Maret 2006 dengan menggunakan perusahaan kontraktor pengeboran PT Medici Citra
Nusantara. Kontrak itu diperoleh Medici atas nama Alton International Indonesia,
Januari 2006, setelah menang tender pengeboran dari Lapindo senilai US$ 24 juta.
Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki
(2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan
dipasang selubung bor (casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman
untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan
kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum pengeboran
menembus formasi Kujung.
Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo sudah memasang casing 30 inchi
pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada
2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki. Ketika Lapindo mengebor lapisan
bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka belum memasang
casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara
formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki).
Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pemboran
ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis
dengan mengasumsikan zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target
pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang
tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka merencanakan memasang casing
setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak
ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan pemboran
masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari
formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat di atasi dengan
pompa lumpurnya Lapindo (Medici).
Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping.
Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya
menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolongbolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan

hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss
sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.
Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan
berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit
sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan,
perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan
lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick.
Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke
atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing)
13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil
dan kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai
ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui
lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi
akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami dan
berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area
sumur, bukan di sumur itu sendiri.
Berikut adalah kronologis luapan lumpur panas di Sidiarjo:
1. Tanggal 5 Juni 2006, semburan lumpur panas meluas hingga menutupi hamparan
sawah seluas lebih 12 hektar yang masuk dalam wilayah Desa Renokenongo dan
Jatirejo. Akibat dari peristiwa ini dilaporkan pohon dan tumbuhan di sekitar
lokasi yang tergenang seperti pohon sengon, pisang, dan bambu serta rumput
alang-alang mulai mengering. Besarnya semburan lumpur yang keluar dari perut
bumi juga menyebabkan ketinggian lumpur sedikit lebih tinggi dari badan jalan
Tol Surabaya-Gempol Kilometer 38. Dari peristiwa ini, sebagian penduduk
Dusun Siring Tangunan dan Dusun Renomencil berjumlah 188 KK atau 725 Jiwa
terpaksa mengungsi ke Balai Desa Renokenongo dan Pasar Baru Porong.
2. Pada tanggal 7 Juni 2006, semburan lumpur panas semakin membesar dan mulai
mendekati pinggir bagian Timur di Desa Siring sehingga mengancam pemukiman
penduduk di desa tersebut. Kondisi ini terus memprihatinkan karena semakin hari
debit lumpur yang keluar dari perut bumi semakin membesar hingga akhirnya
pada 7 Juli 2006, lumpur mulai menggenangi areal pemukiman penduduk dusun
Renomencil Desa Renokenongo dan Dusun Siring Tangungan, Desa Siring.
Akibat dari peristiwa ini 993 KK atau 3815 Jiwa terpaksa mengungsi ke Pasar
Baru Porong, atau ke rumah-rumah sanak keluarga yang tersebar di sejumlah
tempat.
3. 10 Juli 2006, lumpur mulai menggenangi areal persawahan bagian Selatan lokasi
semburan yang berbatasan dengan Desa Jatirejo, di kawasan itu juga terdapat
sejumlah pabrik.
4. 12 Juli 2006 lumpur panas mulai menggenangi areal pemukiman Desa Jatirejo
dan Kedungbendo akibat tanggul-tanggul penahan lumpur di Desa Renokenongo
dan Siring tidak mampu menahan debit lumpur yang semakin membesar.
5. Pada bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah
desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total
warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak kurang 25.000 jiwa

mengungsi. Tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah
ibadah terendam lumpur. Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur
adalah lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan
Kedungcangkring, lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo,
Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon, serta 1.605 ekor
unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang. Sekitar 30 pabrik yang
tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan
tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini.
Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak
bekerja. Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil
Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan
telepon). Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak
sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480,
Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah
negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan
musala 15 unit .
6. Memasuki akhir September 2006, Desa Jatirejo Wetan termasuk di sini dusun
Jatianom, Siring Tangunan dan Kedungbendo, tenggelam akibat tanggul penahan
lumpur di desa Siring dan Renokenongo kembali jebol.
7. 22 November 2006, pipa gas milik Pertamina meledak, yang menyebabkan 14
orang tewas (pekerja dan petugas keamanan) dan 14 orang luka-luka . Peristiwa
meledaknya pipa Pertamina diceritakan oleh penduduk seperti kiamat karena
ledakan yang sangat keras dan api ledakan yang membumbung sampai ketinggian
1 kilo meter. Penduduk panik dan berlarian tak tentu arah. Suasana sangat
mencekam dan kacau balau . Sebelumnya telah ada peringatan bahwa akibat
amblesnya tanggul yang tidak kuat menahan beban menyebabkan pipa tertekan
sehingga dikhawatirkan akan meledak. Namun peringatan ini tidak diindahkan
oleh pihak Pertamina. Peristiwa ini juga mengakibatkan tanggul utama penahan
lumpur di desa Kedungbendo rusak parah dan tidak mampu menahan laju luapan
lumpur. Dari peristiwa tersebut sejumlah desa di wilayah utara desa tersebut
seperti, Desa Kali Tengah dan Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera
Kecamatan Tanggulangin, mulai terancam akan tergenang lumpur.
8. 6 Desember 2006, Perumtas I dan II tergenang lumpur dengan ketinggian yang
beragam. Di laporkan lebih dari 2000 jiwa harus mengungsi ke Pasar Baru
Porong.
9. Memasuki Januari 2007, Perumtas I dan II sudah terendam seluruhnya.
10. Memasuki April 2007, lumpur dan air mulai merendam Desa Ketapang bagian
Timur akibat luapan lumpur yang bergerak ke arah Barat menuju jalan raya
Surabaya Malang gagal ditahan oleh tanggul-tanggul darurat di perbatasan antara
desa Kedungbendo dan Desa Ketapang. Dilaporkan lebih dari 500 orang harus
mengungsi ke Balai Desa Ketapang.
11. 10 Januari 2008, Desa Ketapang Barat dan Siring Barat terendam air dan lumpur
akibat tanggul di sebelah Barat yang berdekatan dengan jalan raya MalangSurabaya jebol karena tidak mampu menahan lumpur yang bercampur dengan air

hujan. Dilaporkan sekitar lebih dari 500 orang mengungsi ke Pasar Porong atau
ke sanak keluarga mereka yang terdekat.
12. Dengan demikian sampai November 2008, terdapat 18 desa yang tenggelam dan/
atau terendam dan/ atau tergenang lumpur, yang meliputi: Desa Renokenongo,
Jatirejo, Siring, Kedung Bendo, Sentul, Besuki, Glagah Arum, Kedung
Cangkring, Mindi, Ketapang, Pajarakan, Permisan, Ketapang, Pamotan,
Keboguyang, Gempolsari, Kesambi, dan Kalitengah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pelanggaran HAM
Hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang
sejak ia dalam kandungan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat
siapa pun. HAM berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM tertuang dalam deklarasi
kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence of USA) dan tercantum
dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti pada pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29
ayat 2, pasal 30 ayat 1, dan pasal 31 ayat 1.
Jenis HAM dapat dibagi sebagai berikut:
1. Hak asasi pribadi / personal Right, terdiri dari:
Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat
Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat
Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan
Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan
kepercayaan yang diyakini masing-masing
2. Hak asasi politik / Political Right, terdri dari:
Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan
Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan
Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik
lainnya
Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi
3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right, terdiri dari:
Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / PNS
Hak mendapat layanan dan perlindungan hukum
4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths, terdiri dari:
Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli
Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak
Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll
Hak kebebasan untuk memiliki susuatu
Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak
5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights, terdiri dari:
Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan

Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan, penahanan


dan penyelidikan di mata hukum.

6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right, terdiri dari:


Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan
Hak mendapatkan pengajaran
Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat
Menurut Pasal 1 Angka 6 No. 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan
pelanggaran hak asasi manusia setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang
secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut hak asasi
manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang dan tidak
mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyesalan hukum yang adil
dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.
Pelanggaran terhadap HAM secara umum dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Pelanggaran HAM Ringan
Pelanggaran HAM ringan adalah pelanggaran hak asasi manusia yang
dampaknya tidak terlalu luas tetapi merugikan orang lain. Pelanggaran HAM ringan
mempunyai 2 motif yaitu motif rasialisme dan apartheid. Pelanggaran HAM bermotif
rasialisme, merupakan bentuk perlakuan dengan memberi pembedaan hak-hak
terhadap rasa atau etnis tertentu. Pelanggaran HAM bermotif diskriminasi apartheid,
adalah pembedaan hak-hak terhadap etnis tertentu berdasarkan warna kulit.
Pelanggaran HAM ringan terdiri dari:
Pemukulan
Penganiayaan
Pencemaran nama baik
Menghalangi orang untuk mengekspresikan pendapatnya
Menghilangkan nyawa orang lain
2. Pelanggaran HAM Berat
Pelanggaran HAM berat adalah pelanggaran hak asasi manusia yang memiliki
dampak yang sangat luas dan dahsyat. Menurut UU No. 39 Th 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia dalam pasal 104 ayat (1) Yang dimaksud dengan pelanggaran hak
asasi manusia yang berat adalah pembunuhan massal (genocide), pembunuhan
sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan (arbitrary/extra judicial killing),
penyiksaan, penghilangan orang secara paksa, perbudakan, atau diskriminasi yang
dilakukan secara sistematis (systematic diserimination).
Pelanggaran hak asasi manusia yang berat meliputi:
a. Kejahatan genosida

Menurut pasal 8 UU 26/2000, kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang


dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh
atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama,
dengan cara:
Membunuh anggota kelompok;
Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap
anggota-anggota kelompok;
Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan
kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya;
Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran
didalam kelompok; atau
Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu
kekelompok lain.
b. Kejahatan terhadap kemanusiaan
Menurut pasal 9 UU 26/200 kejahatan terhadap kemanusiaan adalah perbuatan
yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang
diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil, berupa:
Pembunuhan;
Pemusnahan;
Perbudakan;
Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa;
Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara
sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum
internasional;
Penyiksaan;
Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan
kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk
kekerasan seksual lain yang setara;
Penghilangan orang secara paksa; atau
Kejahatan apartheid
B. Pelanggaran PT Lapindo Brantas
Sejak awal aktivitas pengeboran oleh Lapindo sudah terdapat beberapa keanehan.
Pertama, masalah letak. Posisi sumur BJP-1 tidak sesuai dengan rencana tata Ruang
Wilayah (RTRW) Kabupaten Sidoarjo (Perda Nomor 16 Tahun 2003). RT/RW
Sidoarjo termaksud menyatakan bahwa lokasi sumur BJP-1 tersebut adalah untuk
kegiatan industri non-kawasan, bukan untuk pertambangan. Pemberian ijin lokasi
sumur eksplorasi Migas di wilayah pemukiman ini juga tidak sesuai dengan Inpres
No. 1/1976 tentang Jaringan Advokasi TambangPemberian ijin tersebut diduga kuat
terdapat konspirasi hitam antara pemilik PT. Lapindo Brantas dengan Pemerintah

Republik Indonesia. Akal sehat semua orang pasti bisa memikirkan bahwa kegiatan
eksplorasi migas yang berdekatan dengan pemukiman penduduk akan mengandung
risiko dan dampak yang sangat besar. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat ditari
kesimpulan hukum bahwa hak pengeboran PT. Lapindo Brantas adalah ilegal,sebab
melanggar berbagai aturan keselamatan sosial.
Kedua adalah penyampaian informasi yang salah. informasi yang disampaikan
oleh pihak perusahaan kepada warga bahwa tanah lokasi sumur BJP-1 dibeli bukan
untuk pengeboran tetapi untuk kandang ayam. Jelas dalam kasus ini perusahaan
menutup-nutupi informasi yang sebenarnya kepada masyarakat. Lapindo berniat ingin
membeli daerah pemukiman mayarakat disekitar daerah pengeboran, tapi masyarakat
tidak mau.
Selain pelanggaran dalam masalah perizinan pada awal pengeboran, perusahaan
juga melakukan kelalain dan kesalahan teknis dalam melakukan pengeboran, yaitu:
- Lapindo melakukan pengeboran tidak sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Pada saat perencanaa Lapindo membuat prognosis pengeboran
dengan mengasumsikan zona pemboran mereka adalah di zona Rembang
dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Pada kenyataanya mereka
membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya.
- Lapindo tidak mematuhi kaidah operasional yang telah dibakukan para ahli
pemboran sebagai Prosedur Operasi Standar. Ketika Lapindo mengebor
lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kak,i mereka harusnya
memasang casing 9-5/8 inchi tapi pada kenyataanya mereka tidak melakuakan
hal tersebut.
- Prosedur mencabut atau memasukkan rangkaian pipa bor dan pahat pada saat
mencabut string mengalami tambahan beban, tetapi tidak dihiraukan oleh
Lapindo. Hal yang lebih parah, batasan tekanan maksimum di permukaan
tidak dipatuhi oleh operator dan insinyur pengeboran Lapindo ketika
menanggulangi semburan sehingga melebihi kekuatan formasi di bawah
selubung 13 5/8 di 1.092 meter yang berakibat terjadinya rekahan sampai ke
permukaan yang akhirnya menjadi jalan keluar lumpur dari dalam lubang bor.
Sampai setelah terjadinya bencana lumpur panas, Lapindo tidak juga mengakui
telah melakukan kesalahan. Pihak perusahaan berdalih bahwa bencana ini terjadi
akibat gempa di Yogyakarta 2 hari sebelumnya dan dasar ini sama sekali tidak kuat.
Gempa bumi yang klaim sebagai penyebab utama luapan lumpur hanya memiliki
dampak sepele. Alasannya, gempa bumi terjadi di Yogyakarta dua hari sebelum
lumpur meluap, dan jauh dari lokasi luapan lumpur, yakni sekitar 250 km di sebelah
barat daya titik luapan. Beberapa ahli geolog melakukan penelitian bahwa lupan
lumpur karena gempa tidak mungkin karena jarak yang terlalu jauh dan skala gempa
yang terlalu kecil. Para ahli, melalui berbagai penerbitan di jurnal ilmiah yang sangat
kredibel, justru menganggap dan menemukan fakta bahwa penyebab semburan adalah
kesalahan operasi yang dilakukan oleh Lapindo. Lapindo telah lalai memasang casing,
dan gagal menutup lubang sumur ketika terjadi loss dan kick, sehingga Lumpur
akhirnya menyembur.

C. Analisis Pelanggaran HAM oleh Lapindo


Fakta-fakta pelanggaran dalam perolehan ijin eksplorasi, pengawasan
pemerintah yang tidak serius kepada Lapindo, termasuk pembiaran penggunaan
peralatan dan teknologi pemboran yang tidak prosedural, prediksi geologis pemboran
sumur yang terdapat banyak kekeliruan, semua itu telah menimbulkan semburan
lumpur yang menghancurkan nasib sekian ribu masyarakat, dengan penanggulangan
yang sangat tidak adil dan tidak manusiawi, maka peristiwa tersebut dapat
dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan berupa pelanggaran HAM berat, yakni
terusirnya sekelompok penduduk akibat konspirasi pengusaha migas PT. Lapindo
Brantas tersebut dengan Pemerintah Republik Indonesia.
Pelanggaran HAM berat oleh pasal 9 huruf (d) dan (e) Undang-Undang No.26
Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM diartikan sebagai : " salah satu 19 perbuatan
yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang
diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk
sipil berupa : ... d. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, e.
perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenangwenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional .".31
Penegak HAM harus memahami tafsir historis Undang-Undang No. 26 Tahun
2000 tersebut yang diadobsi dari Roma Statute of The International Criminal Court
(Statuta Roma), yang memuat ketentuan tentang kejahatan kemanusiaan yang sangat
serius (the most serious crimes) yang kemudian diterjemahkan menjadi `pelanggaran
HAM berat oleh Undang-Undang No. 26 Tahun 2000. Tetapi pembuat UndangUndang No. 26 Tahun 2000 memotong kalimat pada huruf k pasal 7 ayat (1) Statuta
Roma yang menentukan bentuk kejahatan kemanusiaan lain, yaitu: other inhumane
acts of a similar character intentionally causing great suffering, or serious injury to
body or to mental or physical health. Seandainya penafsiran hukum HAM
internasional tersebut dikaitkan dengan kasus semburan lumpur Lapindo, maka PT.
Lapindo Brantas dan Pemerintah Republik Indonesia dapat dinyatakan telah
melakukan perbuatan melawan hukum. Namun, apakah bisa penegakan hukum HAM
berjalan tanpa intervensi politik? Itulah masalah besar praktik penegakan hukum di
Indonesia selama ini. Pengingkaran dan pengabaian Majelis Hakim pemeriksa perkara
a quo terhadap keberadaan Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia dan Undang-Undang No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM menjadi
bukti permasalahan berat penegakan hukum HAM yang sarat akan intervensi politik.
Tragedi lumpur lapindo dimulai pada tanggal 28 mei 2006. Awalnya, lumpur
lapindo itu menyembur di sebuah sawah dekat tempat pengeboran gas yang dimiliki
oleh PT lapindo brantas. Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Semula
hanya menggenangi empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat
dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian.

Luapan lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong
dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan 25.000 jiwa
mengungsi dikarenakan tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit
rumah ibadah terendam lumpur, selain itu lahan dan ternak yang tercatat terkena
dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di
Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring, lahan padi seluas 172,39 ha di Siring
Jabon dan Pejarakan Jabon, serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7
ekor kijang. Dalam tragedy tersebut sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa
menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873
orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini. Empat kantor pemerintahan dan
sarana pendidikan juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja.
Masalah lain yang timbul akibat tragedi lumpur lapindo ini adalah meledaknya
pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar
2,5 kilometer pipa gas terendam, serta ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol
hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan dan tak kurang
600 hektar lahan terendam sehingga saluran listrik dan telepon juga tidak berfungsi.
Dalam peristiwa tersebut juga terjadi beberapa peristiwa diantaranya yaitu
pengusiran dan pemindahan penduduk secara paksa. Pelaku dalam pemindahan
penduduk secara paksa tersebut bukanlah aparat Negara melainkan karena lingkungan
sekitar warga yang semakin melebar kerusakannya akibat semburan lumpur lapindo.
Melihat kejadian di atas, dapat disimpulkan bahwa kejadian tersebut merupakan
pelanggaran HAM berat kategori kejahatan kemanusiaan.
Kasus luapan lumpur lapindo ini berkaitan erat dengan pelangaran HAM berat
sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia dan Undang-Undang No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
Bahkan Komnas HAM pada tanggal 24 Februari 2009 melalui sidang paripurna telah
membentuk Tim Investigasi Kasus Luapan Lumpur Lapindo. Nurkholis sebagai
Koordinator Tim Investigasi Kasus Lumpur Lapindo.Berapa banyak korban lumpur
lapindo yang harus kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, anak-anak putus sekolah
dan kehilangan masa depan mereka. Hasil investigasi Komnas HAM menunjukkan
bahwa di penampungan korban luapan lumpur lapindo yakni Pasar Baru Porong,
banyak perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan, baik fisik, psikis,
ekonomi maupun seksual.
Setidaknya ada lima belas (15) hak yang terlanggar yaitu : hak hidup, hak atas
rasa aman, hak atas informasi, hak pengembangan diri, hak atas perumahan, hak atas
pangan, hak atas kesehatan, hak atas pekerjaan, hak pekerja, hak atas pendidikan, hak
berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak atas kesejahteraan, hak atas jaminan
sosial, hak-hak pengungsi, dan hak-hak kelompok rentan. Berikut adalah rician
pelanggaran HAM yang telah dilakukan oleh Lapindo:
1. Pelanggaran Hak untuk Hidup
Dalam
tragedi
lapindo,
hak
setiap
orang
untuk
hidup
tentram,aman,damai,bahagia,sejahtera lahir batin dan hak atas lingkungan hidup
yang sehat dan baik kini telah dilanggar karena sudah jelas dengan adanya

semburan lumpur lapindo tersebut telah membuat hidup warga tidak tentram dan
lingkungan merekapun menjadi tidak sehat.
2.

Hak mengembangkan diri


Akibat semakin meluasnya semburan lumpur lapindo yang membuat warga
diharuskan untuk pindah tempat tinggal, hal tersebut juga mengakibatkan tidak
berfungsinya sarana pendidikan sehingga pendidikan sebagian anak korban
lapindo menjadi terbengkelai dan terhenti. Karena hal itulah secara jelas hak
mereka untuk mengembangkan diri dengan pendidikan yang mereka miliki telah
dilanggar sehingga mereka tidak mengenyam kesempatan itu.
3.

Hak atas informasi


Dalam tragedy lumpur lapindo ini setidaknya ada hak atas informasi yang
dilanggar. Karena informasi yang disampaikan oleh pihak perusahaan kepada
warga bahwa tanah lokasi sumur BJP-1 dibeli bukan untuk pengeboran tetapi
untuk kandang ayam. Jelas dalam kasus tersebut hak atas informasi yang diperoleh
warga telah dilanggar karena pihak perusahaan tidak memberikan informasi yang
sebenarnya kepada warga.
4.

Hak keamanan
Pelanggaran atas hak keamanan warga dalam tragedy lapindo ini sangat
jelas terlihat karena dengan mereka dipindah secara paksa sudah pasti dalam
lingkungan mereka yang baru (pengungsian) rasa aman tersebut sangatlah minim
dibanding saat mereka tinggal dirumahnya semula. Sedangkan apabila mereka
kembali ke tempat tinggal semula mereka, maka rasa aman itupun juga tidak akan
didapat. Karena dengan bahayanya semburan lumpur tersebut maka dapat
mengancam keselamatan warga yang tetap tinggal disekitar semburan lumpur
lapindo.
5.

Hak memperoleh keadilan


Dalam kasus lapindo, telah terjadi pelanggaran hak atas keadilan pada
warga korban lapindo. Pasalnya dalam kasus tersebut warga korban lapindo yang
telah mengalami kerugian banyak malah tidak mendapat jaminan sikap dari
pemerintah atas hak-hak mereka. Selain itu masalah ganti rugi tanah oleh PT
Lapindo Berantas juga tidak adil karena tidak berpihak pada warga, sehingga
dalam kasus tersebut hak untuk memperoleh keadilan bagi warga korban lapindo
serasa tidak diindahkan.
6. Hak atas perumahan
Lumpur lapindo yang sudah menenggelamkan banyak wilayah disidoarjo
termasuk juga tempat tinggal warga yang sebanyak 11.974 jiwa. Banyak warga
yang sudah kehilanggan tempat tinggal meminta haknya yaitu berupa tempat
tinggal baru kepada PT Lapindo namun masih banyak warga yang belum
mendapatkan rumah yang layak, dan juga masih banyak warga yang sudah

mendapatkan rumah pengganti belum mendapatkan sertifikat atas rumah mereka


sehingga timbul kecemasan bila terjadi sesuatu di kemudian hari.
Adanya indikasi penurunan tanah juga menjadi kekhawatiran para warga,
ketakutan akan bahaya yang mengancam dan kerusakan bangunan yang terjadi.
7. Hak Kesehatan
Banyak korban lumpur lapindo yang mengalami sesak nafas, kesemutan ,
pusing dan nyeri persendian. Tercatat di beberapa Puskesas ada 46ribuan orang
menderita ISPA, sekitar 1000an orang mengalami mual-mual dan gangguan
pencernaan. Namun, pemerintah tidak memberikan bantuan khusus kepada para
korban. Pemerintah hanya memberikan bantuan fasilitas umum seperti jamkesmas
tapi itu juga sangat tidak efektif karena informasi yang harusnya diberikan oleh
Dinas Kesehatan tentang Jamkesmas dan JKN ini sangatlah minim. Banyak
masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana prosedurnya dan juga terkadang
rumah sakit tidak menerima bila ada warga yang menunjukkan kartu miskin untuk
mendapatkan fasilitas kesehatan
8. Hak Atas Pekerjaan
Para warga banyak yang kehilangan mata pencarian karena adanya kasus
lapindo ini terutama yang bekerja sebagai petani. Lahan-lahan dan juga daerah
persawahan yang digenangi oleh lumpur membuat lumpuhnya mata pencarian
para warga. Adapun gantirugi dari pihak lapindo, itu tidak dapat menutupi
kerugian yang diderita warga karena ini juga berakibat jangka panjang.
9. Hak Pekerja
Lumpur Lapindo membuat lumpuhnya perekonomian para warga. , lumpur
menggenangi areal persawahan bagian Selatan lokasi semburan yang berbatasan
dengan Desa Jatirejo, di kawasan itu juga terdapat sejumlah pabrik. Banyak orang
yang kehilangan usahanya dan juga kehilangan pekerjaan. Para pengusaha yang
awalnya membuat usaha didaerah tersebut tidak bisa melakukan usaha lagi dan
menyebabkan pekerja yang bekerja disana harus kehilangan mata pencarian.
10. Hak atas Pendidikan
Pendidikan anak-anak juga menalami kesulitan, ada 33 sekolah yang rusak
dan 1774 siswa kesulitan bersekolah. Saat ini anak para korban pengungsian
menempuh pendidikan disekolah yang jaraknya jauh dan hanya berbekal sepeda
sebagai alat transportasi.
11. Hak Berkeluarga dan Melanjutkan Keturunan
Semburan lumpur lapindo mengakibatkan terbatasnya fasilitas di tempat
pengungsian. Khususnya untuk penyaluran kebutuhan biologis dan hak hak
reproduksi sehingga pengembangan keluarga ikut terhambat.
12. Hak Atas Kesejahteraan

Hancurnya rumah, pabrik dan lahan pertanian memperburuk kondisi


perekonomian warga. Akibatnya, warga tidak mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya.
13. Hak Atas Jaminan Sosial
Hak atas jaminan sosial ini berkaitan dengan hak untuk hidup,
pengembangan diri dan kesejahteraan. Akibatnya, hak atas jaminan sosial juga
terlanggar.
14. Hak Para Pengungsi
Menurut data dari komnas HAM, pemerintah gagal melindungi hak
pengungsi. Khususnya untuk kelompok rentan seperti anak-anak,
perempuan,penyandang cacat dan lanjut usia. Fasilitas yang kurang dan juga pada
saat warga berada ditemoat pengungsian, mereka kerap menerima makanan basi,
dan juga keterbatasan air bersih. Pengungsi juga mengatakan tenda pengungsian
tak layak dan pelayanan kesehatan minim.
15. Hak Kelompok Rentan
Hak kelompok rentan yang dianggap gagal dipenuhi oleh pemerintah
misalnya bagi kaum perempuan, tidak ada temoat khusus untuk menyusui.
Komnas HAM juga berpendapat, pemerintah tidak menyediakan unit pelayanan
trauma healing untuk anak-anak pengungsian.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan yang telah kami paparkan maka dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Semburan lumpur Lapindo terjadi karena ada beberapa aspek yang belum tentu
kepastiannya yang benar sebagai akibat munculnya lumpur. Dan ini akan mengakibatkan
tidak akan cepat terselesaikannya pada kasus lumpur dan dengan siapa yang akan
menanggung jawabkannya pun tidak ada.
2. Kesejahteraan rakyat korban lumpur Lapindo Brantas masih belum terpenuhi, baik
kesejahteraan kehidupan pada umumnya seperti, basic human rights (hak asasi manusia),
hak untuk memiliki (properti rights) telah terampas ketika penduduk harus meninggalkan
rumah dan harta benda, hak untuk memiliki kebebasan (liberty) mencari nafkah telah
ditindas tatkala para buruh dan petani tidak dapat bekerja karena lahan terendam , pabrik
tenggelam dan bangkrut terkena semburan lumpur, hak hidup (rights to live) telah
terampas dengan jatuhnya korban.
3. Pemerintah

belum

bisa

berhasil

memfungsikan

hukum

sebagai

alat

desak

pertanggungjawaban atas bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Pemerintah pusat dan
daerah sudah bekerja untuk mengatasi masalah lumpur Lapindo ini. Pada tanggal 26
September 2011, pemerintah kembali memberi perhatian terhadap penanganan luapan
lumpur lapindo di Sidoarjo - Jawa Timur, dengan membahasnya dalam rapat kabinet.

B. Saran
1. Perlu dibuat lembaga pengawas independen, yang bertugas mengawasi pelaksanaan setiap
aktifitas bisnis yang dapat menimbulkan pelanggaran HAM.
2. Pemerintah harus konsisten dalam penegakan sanksi dari setiap pelanggaran HAM yang
terjadi.
3. Aturan aturan yang terkait dalam standar teknis pengeboran minyak dan gas, harus
diatur lebih jelas untuk melindung hak hak masyarakat dan mencega terjadinya
pelanggaran HAM.