Anda di halaman 1dari 4

Latar belakang

Tanaman tak lepas dari warnanya, warna tak lepas dari pigmen dan senyawa yang
terkandung di dalamnya, dan itu penting bagi kelangsungan hidupnya. Pigmen tumbuhan
ditemukan didalam bagian sel yaitu plastidan dan vakuola. Pigmen banyak macamnya terlebih
lagi pigmen yang ada didalam tanaman. Pigmen tanaman terbagi atas beberapa kelas, yaitu
klorofil, karotenoid, likopen, dan antosianin. Klorofil berspektrum memberikan warna hijau,
karotenoid berspektrum memberikan warna jingga, likopen berspektrum memberikan warna
merah dan anosianin berspektrum memberikan warna ungu.
Paragraf 2 liat di dila
Klorofil pada daun mempengarui warna hijau daun, setelah daun dipetik dari tumbuhan
maka klorofil itu akan terdegradasi sehingga lama-lama daun tersebut menjadi berwarnaa kuning
sebab klorofilnya sudah tidak berfungsi dengan baik. Klorofil adalah salah satu jenis pigmen
yang sangat penting pada seperangkat alat fotosintesis. Dapat kita lihat pada kenyataannya,
terdapat perbedaan dalam intensitas warna daun baik antar umur daun dan jenis tumbuhan. Daun
bahkan memiliki warna yang berbeda-beda (beraneka warna) pada jenis-jenis tumbuhan tertentu.
Oleh karena itu perlu dilakukan praktikum pigmen untuk mengethui proses terjadinya perubahan
pigmen dalam bahan pangan.
TIPUS
Bebarapa pigmen yang penting yaitu tergolong dalam kelompok khlorofil, karotenoid,
antosianin, antoxantin, serta tannin. Warna hijau ini berasal dari khloroifil yang merupakan
pigmen yang terdapat khloroplas bersama-sama dengan karoten dan xantofil. Karotenoid adalah
suatu zat alami yang sangat penting yang mempunyai sifat larut dalam lemak atau pelarut
organik tetapi tidak larut dalam air yang merupakan suatu kelompok pigmen yang berwarna
orange, merah, dan kuning. Karotenoid tampak jika hanya terdapat sedikit atau tidak khlorofil
sama sekali (wiwing, 2008).
Beberapa pigmen yang tergolong dalam kelompok khlorofil, karotenoid, antosianin,
antoxantin serta tanin. Pigmen-pigmen golongan karoten yang sangat penting yang dilihat dari
segi kebutuhan gizi manusia maupun hewan. Hal ini disebabkan karena sebagian karotenoid
dapat diubah menjadi vitamin A. Dimana pigmen-pigmen ini banyak ditemukan didalam
tanaman bersama-sama dengan khlorofil. Berdasarkan unsur-unsur penyusunnya karotenoid
digolongkan dalam dua kelompok pigmen yaitu karoten dan xantofil (Ali, 2010).
Pigmen karotenoid mempunyai struktur alifatik dan slistik yang pada umunya disusun
oleh delapan unit isoperen, dimana gugus metal yang dekat pada molekul pusat terletak pada

posisi e1 dan e5 serta diantaranya terdapat ikatan ganda terkonjugasi. Semua senyawa karotenoid
mengandung sekurang-kurangnya empat gugus metal dan selalu terdapat ikatan ganda
terkonjugasi diantara gugus metal. Adanya ikatan ganda pada terkonjugasinya dalam ikatan
karotenoid menandakan adanya gugus ksomofora yang menyebabkan terbentuknya warna pada
karotenoid. Semakin banyak ikatan ganda terkonjugasi, maka semakin pekat warna karotenoid
tersebut yang mengarah ke warna merah (Ashrie, 2010).
Di jurnal
Khlorofil atau pigmen warna pada tumbuhan banyak dimanfaatkan sebagai food
supplement yang dimanfaatkan untuk membantu mengoptimalkan fungsi metabolik, sistem
imunitas, detoksifikasi, meredakan radang (inflamatorik) dan menyeimbangkan sistem hormonal.
Khlorofil juga membantu merangsang pembentukan darah karena menyediakan bahan dasar
tanaman, suplemen siap saji berbahan dasar khlorofil juga sudah diproduksi dari alga contohnya
Spirulina sejenis alga biru hijau. Peran ini disebabkan karena struktur khlorofil yang menyerupai
hemoglobin darah dengan perbedaan pada atom penyusun inti dari cincin porofirinnya (Nitya
dan Yulita, 2009).

PEMBAHASAN
Pigmen adalah zat warna alami pada tumbuhan. Pigmen tergolong dalam beberapa jenis
yang salah satunya adalah khlorofil, karotenoid, antosianin, antoxantin serta tanin. Khlorofil
merupakan pigmen berwarna hijau yang terdapat pada khloroplas bersama karoten dan xantofil.
Tanaman kangkung berasal dari India, yang kemudian menyebar ke Malaysia, Birma, Indonesia,
Cina Selatan, Australia, dan Afrika. Selain rasanya enak kangkung juga memiliki kandungan gizi
cukup tinggi. Selain vitamin A, B1, dan C, juga mengandung protein, kalsium, fosfor, besi,
karoten, hentriakontan, dan sitosterol. Bayam berasal dari Amerika tropik namun sekarang
tersebar ke seluruh dunia dan mengandung zat besi yang tinggi. Kelor merupakan tanaman yang
banyak tumbuh di Indonesia. Tanaman ini banyak tumbuh didataran rendah maupun dataran
tinggi. Kelor menjadi sumber antioksidan alami yang baik karena kandungan dari berbagai jenis
senyawa antioksidan seperti askorbat acid, flavonoid, phenolic dan karotenoid

(Purnawan,

2008).
Praktikum ini menggunakan bahan tanaman kangkung, bayam dan kelor yang memiliki
daun cukup banyak mengandung khlorofil. Berdasarkan hasil pengamatan sebelum perebusan
tekstur daun kangkung lembut dengan batang keras, warna daun dan batang kangkung yaitu
hijau, setelah mengalami perebusan berubah tekstur daun kangkung menjadi lembek dengan
batang menjadi agak keras, warna daun tetap hijau dan batang kangkung berwarna olif
(kecoklatan). Pada kelor tekstur daun sebelum perebusan yaitu lembut dengan batang keras,
warna daun hijau dan batang hijau muda dan setelah di lakukan perebusan tekstur daun kelor
menjadi lembek dengan batang keras, warna daun hijau tua dan batang tetap berwarna hijau
muda. Bayam sebelum perebusan tekstur daun halus, batang keras, warna daun dan batang hijau
muda namun setelah mengalami perebusan tekstur daun bayam menjadi sangat lembek, batang
lembek, warna daun bayam hijau tua dan batang bayam berwarna hijau.
Proses perubahan warna dapat dipengaruhi oleh substansi magnesium oleh hidrogen
membentuk feotitin atau khlorofil yang kehilangan magnesium. Reaksi tersebut berjalan cepat
pada larutan yang bersifat asam. Dalam perebusan bahan tersebut yang mengandung klorofil
terbentuknnya asam-asam organik yang dapat menurunkan pH. Perebusan dilakukan dengan
perebusan terbuka. Perebusan terbuka tersebut asam-asam itu dapat teruap keluar dan warna

hijau dapat dipertahankan. Sedangkan pada tekstur daun kangkung, kelor bayam yang masih
berespirasi sehingga menjadi lembek dan juga karena jaringan akan mudah terurai pada kondisi
panas. Perlakuan panas akan menyebabkan klorofil dirubah menjadi pheophytin dengan subtitusi
magnesium oleh hidrogen pada saat pemanasan sehingga total klorofil pada bahan menjadi lebih
rendah. Semakin tinggi suhu dan lama pemasakan maka semakin cepat degradasi klorofil yang
berwarna hijau akan berubah menjadi berwarna coklat.
Bayam mengandung zat besi yang berupa Fe2+ (ferro), jika bayam terlalu lama
berinteraksi dengan O2 (Oksigen), maka kandungan Fe2+ pada bayam akan teroksidasi menjadi
Fe3+ (ferri). Meski sama-sama zat besi, yang bermanfaat untuk manusia adalah ferro, lain halnya
dengan ferri yang bersifat racun. Jadi jangan memanaskan sayur bayam yang sudah melalui
proses pemasakkan dalam bentuk makanan. Alangkah baiknya bila harus segera mengkonsumsi
bayam sesaat setelah diolah, lebih baik hindari juga mengkonsumsi bayam yang sudah lebih dari
5 jam di atas meja makan, karena selain mengandung zat ferri bayam tersebut juga dapat
mengandung zat nitrat (NO3) yang jika teroksidasi dengan udara juga akan menjadi NO2 (nitrit)
yang bersifat senyawa tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun.
DAPUS
Wiwing, 2008. Isolasi Dan Identifikasi Zat Warna. PT Penerbit Institut Pertanian Bogor.
(Ali, 2010).
(Ashrie, 2010).
Nitya Setiari dan Yulita Nurcahyati, 2009. Eksplorasi Kandungan Khlorofil Pada Beberapa
Sayuran Hijau. Biologi MIPA. Undip. Yogyakarta.
nio