Anda di halaman 1dari 1

Hubungan Fase Pengobatan dan Status Gizi Tuberkulosis Anak Di Rumah

Sakit Umum Daerah Dr. H. Soewondo Kendal Periode Januari 2011


September 2011
Septia Putri Prayitami, Lilia Dewiyanti, Afiana Rohmani

Latar Belakang
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular, bersifat sistemik yang disebabkan
Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru. Pengobatan tuberkulosis
terdiri dari dua fase awal selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 6-12 bulan. Terdapat
beberapa faktor yang mempengaruhi kejadia tuberkulosis, salah satunya adalah status gizi.
Berdasarkan beberapa penelitian, anak balita merupakan kelompok paling rawan terhadap
kekurangan gizi. Anak yang sering terinfeksi dan gizi kurang akan mengalami gangguan
tumbuh kembang yang mempengaruhi tingkat kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas masa
depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan fase pengobatan dengan
status gizi tuberkulosis anak di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Soewondo, Kendal.
Hasil
Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional pada 117 anak
penderita tuberkulosis yang menjalani rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H.
Soewondo Kendal, diambil subjek dengan menggunakan teknik random sampling. Data di
dapatkan dari rekam medis Poliklinik Penyakit Anak di Rumah Sakit Umum Daerah dr. H.
Soewondo, Kendal periode Januari 2011 sampai dengan September 2011. Data dianalisis
menggunakan Chi Square. Status gizi dinilai berdasarkan rujukan WHO-NHCS dalam versi
skor simpang baku. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar anak berada pada fase lanjutan
sebesar 54,7% dan mayoritas anak memiliki status gizi normal sebesar 61,5%. Dari hasil
menunjukkan ada hubungan antara fase pengobatan dengan status gizi tuberkulosis anak. Uji
statistik Chi Square didapatkan hasil p value < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah
terdapat hubungan yang signifikan antara fase pengobatan dengan status gizi tuberkulosis
anak.
Critical Appraisal
Sebagian besar subjek penelitian memiliki status gizi normal dan menjalani fase lanjutan,
dengan desain cross sectional dan pengambilan data yang hanya sekali tidak cukup akurat
pada penelitian ini, sehingga sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan atau variabel dibatasi
pada pasien anak yang baru didiagnosis dan menjalani pengobatan tuberkulosis agar hasil
yang didapatkan lebih akurat. Penelitian ini sebaiknya menggunakan data primer dengan
jangka waktu yang lebih lama, sehingga dapat meminimalisir keterbatasan data rekam medis
yang kurang.
Hasil uji statistik didapatkan nilai p value = 0,004 < dari = 0,05, maka disimpulkan bahwa
ada hubungan signifikan, dari hasil analisis didapatkan koefisien kontingensi 0,274 yang
menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah, hal ini menunjukkan
lemahnya data yang diperoleh, sehingga untuk selanjutkan diperlukan koreksi variabel dan
subjek agar didapatkan hasil yang lebih baik.