Anda di halaman 1dari 9

ACARA III

ANALISA MINERAL BERAT


I.

Maksud dan Tujuan


Maksud diadakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui analisa mineral

berat dengan menggunakan larutan Bromoform sehingga dapat membedakan berat jenis
masing-masing mineral.
Sedangkan tujuan diadakannya praktikum ini antara lain :
-

Untuk mengetahui jenis-jenis mineral berat yang terendapkan didaerah darat, transisi

maupun laut.
- Untuk menganalisa jenis-jenis mineral pada material sedimen
- Untuk mengetahui jenis batuan asal (source rock) dari material-material tersebut
II.
Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum analisa mineral berat,
antara lain :
- Sampel yang mengandung mineral
- Larutan Bromoform
- Larutan Hcl
- Sendok pengaduk
- Gelas ukur
- Kertas saring
- Kertas alas
- Timbangan
- Labu ukur
- Kwartering
- Mikroskop binokuler
- Preparat
- Lem alteco
- Alat tulis menulis
- Pensil warna
III.

Teori ringkas

Seiring dengan perkembangan teknologi dan industri yang semakin pesat,


peranan

seorang

ahli

Geologi

akan

semakin

diperlukan

dikarenakan

kemampuannya untuk memberikan informasi potensi sumber daya alam yang


terkandung pada suatu daerah sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan sumber
daya alam yang kian meningkat. Oleh karena itu, dalam menunjang pengelolaan,

pembangunan dan pengembangan suatu daerah diperlukan seorang ahli Geologi


yang kompeten.
Berpedoman pada hal tersebut, maka Analisa Mineral Berat ini dilakukan
guna mempersiapkan bakal calon ahli Geologi untuk dapat menghadapi dan
memecahkan

permasalahan

yang

mungkin

akan

dijumpai

dengan

mengaplikasikan ilmu-ilmu Geologi yang diperoleh selama berada di bangku


perkuliahan.
Pada batuan detritus, dalam hal ini berupa material pasir, terdapat fraksi kecil
dengan presentase sekitar 1 % yang merupakan golongan mineral berat. Mineral-mineral
berat ini biasanya menghablur dalam Kristal-kristal yang kecil seperti Zircon, Apatit,
Titanit, Rutile, dsb. Sehigga hanya dapat tersaring dalam mesh 60 atau ebih kecil dari 60.
Dalam mempelajari jenis-jenis, bentuk dan penyebaran mineral berat, maka
bentuk dari material sedimen, proses pelapukan, proses pengendapan, proses erosi serta
proses yang dialami dapat diinterpretasikan dengan mudah. Adapun dalam pengamatan
mineral berat dilakukan dengan menggunakan mikroskop binokuler agar mineral-mineral
berat yang terkandung didalamnya dapat diamati dengan jelas.
Contoh dari interpretasi batuan asal, antara lain :
a. Bila mineral yang terkandung dalam material sedimen berupa mineral Apatit, Zircop,
Biotit, Amphibole, Titanit, Muscovit, MOnazit, maka batuan asalnya berupa batuan
beku.
b. Jika mineral-mineral yang terkandung didalamnya berupa garnet, Glaukopan,
Staurolit, Kyanit, Silimanit, Serpentin, dapat diinterpretasikan batuan asalnya yakni
batuan metamorf. Bila yang terkandung didalamnya berupa material sedimen yang
berasal dari batuan induk berupa batuan beku dan batuan metamorf, maka bentuk
butirannya relative meruncing, sedangkan bila mineralnya berasal dari batuan
sedimen maka bentuk butirannya relative membulat akibat transportasi yang cukup
jauh.
Ada beberapa cara dalam mengiterpretasi yang lebih efektif, yaitu antara lain :
-

Dengan melihat jumlah mineral yang terkandung dalam suatu material sedimen.
Untuk mengetahui batuan asal dari batuan sedimen yaitu dengan melihat jumlah

mineral yang sama, bila batuan asal berupa batuan beku, maka jumlah mineralnya
-

lebih banyak dari batuan sedimen.


Dengan menentukan jarak batuan asal, dimana material sedimen biasanya dicirikan

dengan bentuk yang baik, merupakan indikasi jarak transportasi yang cukup jauh.
Tingkat resistensi mineral, bila suatu material mudah terlarut dan jumlahnya besar,
maka sumbernya dekat. Sedangkan bila sulit terlarut dalam jumlah yang sedikit
maka sumber batuan asal sangat jauh.

HEAVY MINERAL ( MINERAL BERAT )


Analisa yang digunakan dalam suatu butiran mineral yang khusus hadir dalam

batuan terrigenous yang mempunyai arti sesuatu mengenai sumber dari mineral tersebut.
Jumlah yang banyak merupakan suatu control dari suatu batuan dentrital yang bersumber
dari bagian yang banyak mengalami peningkatan selama proses sedimentasi dari batuan
sedimen tersebut, hal itu yang menyebabkan terjadi mineral berat, karena densitas yang
lebih besar daripada kenampakan mineral yang jumlahnya banyak, seperti Kuarsa,
Feldspar, mineral lempung dan karbon. Adapun asosiasi dari mineral berat tersebut
berupa Garnet, Zircon, Epidot, Hornblende, Tourmalin yang berasal dari daerah
sembernya yang mengumpul dalam suatu batuan yang member informasi mengenai
batuan asal.
Mineral berat yang susah bercampur dengan yang lain mengindikasikan asal sumber
yang berbeda atau dentritus yang tercampur. Terjadinya percampuran yang sederhana
berasal dari batuan sederhana sebagai akibat dari batas waktu adanya proses sedimentasi.

Mineral berat (heavy mineral) merupakan mineral yang memiliki berat


jenis lebih besar dari 2,58. mineral berat merupakan mineral tambahan yang
konsentrasinya kurang dari 1%. Meskipun kecil jumlahnya, mineral berat sangat
berperan untuk studi provenans, selain itu sejarah transportasi, pelapukan sedimen
serta studi korelasi dan paleogeografi juga memanfaatkan mineral berat. Bentuk
fisik dari mineral berat mencerminkan tingkat intensitas abrasinya.
Untuk memisahkan mineral berat dari mineral ringan [kwarsa, feldspar,
kalsit] digunakan larutan bromoform atau tetrabromomethane.
Mineral berat dapat dikelompokkan kedalam 4 bagian :
1.

Mineral Opak

Memiliki berat jenis yang sangat tinggi disebabkan kandungan unsur


besinya. Contoh mineral opak :
A. Magnetit dan Ilmenit
Bernilai ekonomis sebagai endapan placer [letakan]. Stabil pada kondisi
oksidasi, tapi mudah larut pada lingkungan reduksi. Magnetit dapat berubah
menjadi hematit ayau limonit, sedangkan untuk ilmenit biasanya berubah menjadi
leucoxen, sphene, anatase, atau mineral titanium.
B. Pirit
Berkembang saat kondisi asam.
C. Hematit dan limonit
Terbentuk dari alterasi
D. Leucoxen
2.

Mineral Mika
Umumnya mineral ini tidak diperhitungkan dalam studi mineral berat

karena bentuknya yang sangat berbeda dan ternyata tidak membenam saat
dilarutkan dengan bromoform
3.

Kelompok Ultra-Stabil
Zircon, turmalin, rutil memiliki sifat fisik sangat keras dan inert, serta bisa

bertahan oleh beberapa kali reworking

4.

Kelompok Meta-Stabil

Olivin
Hanya terjadi di daerah beriklim kering, mudah teralterasi dan melimpah
pada batuan beku.
Apatit
Stabilitas menengah, menunjukkan sumber dari batuan volkanik, tetapi
bisa juga terdapat pada batuan plutonik asam dan basa.

Hornblende dan piroksen


Berasal dari batuan beku dan batuan metamorf, tapi jika kelimpahannya
sangat banyak menunjukkan batuan asal dari batuan metamorf atau volkanik.
Oxyhornblende berasal dari batuan beku basaltik. Glaukopan dan tremolit dari
batuan metamorf. Piroksen sangat mudah terlarut setelah sedimentasi sehingga
jarang muncul pada batupasir yang porous.
Garnet
Berasal dari plutonik, pegmatit dan batuan metamorf, jika melimpah
berarti berasal dari batuan metamorf.
Epidot, Klinozoisit, dan Zoisit
Kyanit, silimanit, andalusit, stauroit
Berasal dari batuan sumber metamorf.
Tabel 1. Asosiasi mineral berat dan provenansnya menurut Mc. Lane 1995
Provenance
Sedimentary

Heavy Mineral Suite


Rounded zircon, tourmaline, rutile,
sphene, magnetite

Low-grade metamorphic,

Andalusite, staurolite, chondrodite,

contact metamorphic

corundum, topaz, tourmaline,


vesuvianite, zoicite, wollastonite, chlorite,
muscovite.

Higher-grade metamorphic,

Garnet, epidot, zoicite, staurolite, kyanite,

Dynamothermal metamorphic

sillimanite, andalusite, magnetite, sphene,


zircon, biotite

Acid igneous

Monazite, sphene, zircon, tourmaline, rutile,


magnetite, apatite, muscovite

Basic igneous

Ilmenite, magnetite, anatase, brookite,


diopside, rutile, chromite, olivine

Pegmatitic

Tourmaline, beryl, topaz, monazite,


cassiterite, muscovite

Dengan mempelajari analisis mineral berat maka akan dapat mengetahui


kelebihan dan kekurangannya dalam menggunakan metode tersebut. Kelebihan
menggunakan metode analisa mineral berat adalah untuk akurasi dan ketepatan
yang baik dalam interpretasi karena adanya perhitungan secara kuantitatif dari
jenis mineral beratnya.
Kemudian kelemahan menggunakan metode analisis mineral berat adalah :

Bila terdapat 2 sumber batuan asal atau lebih, maka akan sukar dalam

menginterpretasikannya.

Setelah mengalami transportasi mineral berat mengalami penyusutan karena

abrasi, pelarutan dan hal-hal lainnya yang mengakibatkan adanya perubahan


variasi dan frekuensi mineral berat yang ada dibandingkan dengan batuan asalnya.

Mineral berat terangkut secara Bed load yang kemudian mengalami abrasi

secara efektif yang mengakibatkan butiran menjadi halus sehingga sukar diamati.
Memerlukan peralatan yang rumit serta larutan kimia yang mahal; harganya.
Tabel 2. Golongan mineral ultra-stabil
Mineral
1. Zircon

Ciri-ciri
Jernih-kuning, hijau atau kadang coklat asap atau biru
Kilap vitrous hingga andamantin/damar
Prismatik, tetragonal, granular
Pecahan sub-concoidal hingga tidak rata
Kuning anggur kecoklatan

2. Turmalin

Hexagonal, prismatik memanjang/meniang, ada striasi


memanjang
Kilap damar hingga vitreous
Transclusent, pecahan tidak rata hingga concoidal
Coklat atau coklat kemerahan

3. Hematit
Tetragonal bipiramidal, ramping, striasi memanjang prisma,

kompak masif
Kilap andamantin hingga submetalik
Pecahan tidak rata

Tabel 2.3. Golongan mineral opak


Mineral
[FeTiO3]

Ciri-ciri
Hitam besi, pecahan concoidal
Lempeng-lempeng masif atau pasiran
Warna coklat gelap

2. Maganetit

Hitam besi, isometrik dan tidak ada belahan


Granular dan masif, kilap metalik

3. Hematit
[Fe2O3]

Abu-abu baja hingga hitam besi


Hexagonal dan tanpa belahan.
Terdapat sisik-sisik atau seperti mika [mikaan]/
mendaun

4. Pirit
[FeS2]

Kuning perunggu dan pucat


Granular
Striasi antar bidang-bidang saling tegak lurus

Tabel 2.4. Golongan mineral metastabil


Mineral
1. Olivin

Ciri-ciri
Hijau botol kekuningan.
Granular, rombik biparaminal.
Pecahan concoidal, kilap vitreous.

2. Piroksen

Hitam kehijauan, merah kecoklatan.

Prismatik, gemuk-gemuk, belahan 2 arah.


Kilap vitreus, pecahan tidak rata-subconcoidal.
3. Garnet

Kuning madu atau coklat madu.


Granular, isometric, tanpa belahan.
Kilap vitreus hingga dammar, pecahan concoidal.

4. Apatit

Putih jernih kadang biru.


Prismatik, ramping, panjang-panjang, granular.
Kilap vitreus hingga dammar, pecahan concoidal.
Belahan 1 arah, jelek.

5. Epidot

Hijau kekuningan hingga hijau kecoklatan/kehitaman.


Prismatik seperti papan, berserat.
Kilap lemak hingga vitreus, belahan 1 arah.
Pecahan tidak rata hingga concoidal.

6. Zoisit

Kuning keabu-abuan.
Prismatik, striasi vertical, belahan 1 arah.
Kilap lemak hingga vitreus.
Pecahan tidak rata hingga subconcoidal.

7. Kyanit

Putih salju kekuningan.


Tabular panjang-panjangdan merupakan agregat meniang,
seratan, satu arah sempurna.
Kilap mutiara hingga vitreus, pecahan tidak rata.

8. Andalusit

Warna merah rose.


Prisma hampir persegi empat, tanpa belahan.
Kilap vitreus, pecahan rata hingga tidak rata.

9. Silimanit
Coklat, kilap buram, ramping-ramping, belahan 1 arah.
Pecahan tidak rata.
IV.

PROSEDUR KERJA
Adapun langkah kerja dalam praktikum analisa mineral berat, antara lain :
1. Mengambil sampel pasir yang telah diayak sebanyak 3 gram, kemudian ditimbang
dengan menggunakan timbangan digital.
2. Meletakkan sampel yang telah ditimbang itu pada kertas. Letakkan magnet dibawah
kertas tersebut, lalu mineralhigh magnetic akan terpisah. Timbang sampel high
magnetic kemudian catat.
3. Sampel yang bukan high magnetic tersebut akan dipisahkan secara heavy liquid.
Persiapan dilihat pada gambar.
4. Memasukkan sampel sisa kedalam tabung yang telah diisi dengan larutan
Bromoform
5. Mengaduk larutan yang berisi sampel lalu mineral berat akan terendapkan pada dasar
tabung
6. Membuka pin pada statis sehingga mineral berat akan turun ke kertas filter dan
larutan bromoform akan menetes ke tabung Erlenmeyer.
7. Mencuci mineral berat tadi dengan H 2O kemudian dikeringkan dan ditimbang
kembali. Catat hasilnya.
8. Sampel yang telah dikeringkan tadi, dibuat kedalam preparat dengan menggunakan
lem alteco dengan membubuhinya secara tipis utuk mempermudah dalam
pengamatan dengan mikroskop.
9. Mineral ringan yang tidak terendapkan juga disaring dan dicuci dengan aquades lalu
dikeringkan dengan pemanas, selanjutnya dipisahkan.
10. Selanjutnya adalah pengamatan mikroskop binokuler. Prosedurnya
mengamati jenis mineral serta mineral umum didalamnya.

adalah