Anda di halaman 1dari 18

TREN, PROFIL DAN PERBEDAAN FAKTOR DETERMINAN ANGKA

KEMATIAN BAYI DI WILAYAH PEDESAAN DAN PERKOTAAN


INDONESIA
BAB 1
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Angka kematian bayi merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan
keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat, karena bayi yang baru lahir sangat
sensitif terhadap keadaan lingkungan tempat orang tua si bayi tinggal dan sangat
erat kaitannya dengan status sosial orang tua si bayi. Kemajuan yang dicapai
dalam bidang pencegahan dan pemberantasan berbagai penyakit penyebab
kematian akan tercermin secara jelas dengan menurunnya tingkat AKB. Dengan
demikian angka kematian bayi merupakan tolok ukur yang sensitif dari semua
upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan.
(BPS, 2004)
Menurut data SDKI tahun 2012 angka kematian bayi di Indonesia adalah 34 per
seribu kelahiran hidup. Berdasarkan data estimasi CIA World FactBook (2014)
angka kematian bayi di Indonesia adalah 25.16 per seribu kelahiran hidup. Bila
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya yang didasarkan pada data
CIA World FactBook (2014) AKB Indonesia hampir 2 kali lebih tinggi. Dimana
AKB Malaysia adalah 13.69 per seribu kelahiran hidup, AKB Thailand adalah
9.86 per seribu kelahiran hidup, AKB Filipina adalah 17.64 per seribu kelahiran
hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa keadaan kesehatan masyarakat Indonesia masih
tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara tersebut.
Di Indonesia proporsi kematian bayi di pedesaan dua kali lebih tinggi
dibandingkan kematian bayi di perkotaan (Demsa Simbolon, 2004)

Hasil analisis data susenas 1998-2003 menunjukkan bahwa angka kematian bayi
di daerah pedesaan satu setengah kali lebih tinggi bila dibandingkan dengan
daerah perkotaan. (Tin Afifah,dkk; 2008)
Demikian pula hasil analisis data Riskesdas 2007-2013, angka kematian bayi di
Indonesia hampir dua kali lebih tinggi di daerah pedesaan daripada di daerah
perkotaan.
Tingginya Angka Kematian Bayi di daerah pedesaan dibandingkan dengan daerah
perkotaan menunjukkan bahwa terjadi kesenjangan pembanguanan kesehatan
antar wilayah pedesaan dan perkotaan di Indonesia.
Selain dipengaruhi oleh indikator-indikator morbiditas (kesakitan) dan status gizi
anak dan Ibu. AKB juga berhubungan dengan angka pendapatan daerah perkapita, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan ibu dan
keadaan gizi keluarga. Jadi AKB memiliki keterkaitan dengan faktor-faktor
pembangunan umum. (Siswanto, 2010)
Kerangka teori Mosley and Chen menggambarkan ada 5 determinan sosialekonomi yang secara tidak langsung mempengaruhi kematian bayi, yaitu: 1)
faktor maternal; 2) kontaminasi lingkungan; 3) defisiensi nutrisi; 4) kecelakaan;
dan 5) faktor pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit.
Baik-buruknya kondisi sosial ekonomi tempat bayi tinggal secara tak langsung
mempengaruhi kelangsungan hidup si bayi. Oleh karena itu dirasa penting bagi
penulis untuk meneliti tren, profil dan perbedaan faktor determinan angka
kematian bayi di wilayah pedesaan dan perkotaan Indonesia. Dengan diketahuinya
faktor-faktor yang membedakan angka kematian bayi di pedesaan maupun di
perkotaan diharapkan dapat diterapkan kebijakan yang sesuai antara wilayah
pedesaan maupun wilayah perkotaan. Sehingga kesenjangan pembangunan
kesehatan antar wilayah pedesaan dan perkotaan dapat dikurangi.

Identifikasi dan Batasan Masalah


Angka kematian bayi tak hanya merupakan indikator keadaan kesehatan suatu
masyarakat tetapi juga indikator pembangunan umumnya, karena bayi yang
berumur kurang dari 12 bulan sangat rentan terhadap kondisi lingkungan tempat
tinggalnya. Tingginya angka kematian bayi menunjukkan buruknya keadaan
kesehatan dan pembangunan umum masyarakat tersebut, begitu pula sebaliknya
rendahnya angka kematian bayi menunjukkan lingkungan kesehatan dan
pembangunan umum yang baik.
Menurut data SDKI 1971-2012 angka kematian bayi di Indonesia dari tahun ke
tahun terus menunjukkan penurunan, tetapi di tahun 2012 angka kematian bayi di
Indonesia menunjukkan peningkatan lagi. Meningkatnya angka kematian bayi
menandakan memburuknya derajat kesehatan suatu masyarakat.
Menurut data Riskesdas 2007-2013 disparitas angka kematian bayi antara wilayah
pedesaan dan perkotaan Indonesia masih tinggi, dimana kematian bayi dari tahun
ke tahun lebih banyak terjadi di daerah pedesaan. Hal ini menunjukkan
kesenjangan yang terus menerus antara masyarakat desa dan kota di Indonesia.
Semakin besar disparitas angka kematian bayi antar wilayah pedesaan dan
perkotaan maka semakin besar pula kesenjangan antara masyarakat di pedesaan
dan di perkotaan.
Disparitas kematian bayi di wilayah pedesaan dan perkotaan telah menunjukkan
ketidakmerataan pembangunan umum. Kualitas pembangunan di pedesaan yang
tidak sebagus di perkotaan perlu menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah perlu
melakukan intervensi bagi golongan miskin dan kelompok rentan di pedesaan dan
wilayah terpencil sebagai strategi untuk menghilangkan kesenjangan ini.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik menganalisis fenomena
disparitas kematian bayi antar wilayah pedesaan dan perkotaan, serta perbedaan
faktor-faktor

yang mempengaruhi kematian bayi di pedesaan dan perkotaan.

Faktor-faktor determinan disini menggunakan faktor sosial ekonomi dari kerangka

teori Mosley and Chen (1984) yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dan
ketersediaan data dalam Riskesdas 2013.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana profil angka kematian bayi di wilayah pedesaan dan perkotaan
Indonesia pada kurun waktu 1995-2012?
2. Apakah ada hubungan antara besaran AKB dengan faktor kewilayahan ?
3. Variabel apa saja yang memiliki pengaruh besar terhadap AKB di wilayah
pedesaan?
4. Variabel apa saja yang memiliki pengaruh besar terhadap AKB di wilayah
perkotaan?
Tujuan Penelitian
1. Untuk menjelaskan profil angka kematian bayi di wilayah pedesaan dan
perkotaan Indonesia pada kurun waktu 1995-2012
2. Untuk Mengetahui hubungan antara besaran AKB dengan faktor
kewilayahan
3. Untuk menelaah determinan yang memiliki pengaruh besar terhadap AKB
di wilayah pedesaan
4. Untuk menelaah determinan sosial-ekonomi yang memiliki pengaruh
besar terhadap AKB di wilayah perkotaan
Manfaat Penelitian:
1. Bahan pertimbangan untuk pemerintah dan instansi terkait dalam
mengambil kebijakan untuk mengatasi masalah kematian bayi
2. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

BAB II
KAJIAN TEORI, KERANGKA PIKIR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Teori
Konsep Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah
satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu.Kematian bayi
adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum
berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan dengan kematian bayi.
Secara garis besar, dari sisi penyebabnya, kematian bayi ada dua macam yaitu
endogen dan eksogen. Kematian bayi endogen atau yang umum disebut dengan
kematian neonatal; adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak sejak
lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau didapat selama
kehamilan. Kematian bayi eksogen atau kematian post neo-natal, adalah kematian
bayi yang terjadi setelah usia satu bulan sampai menjelang usia satu tahun yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate) merupakan salah satu aspek yang
sangat penting dalam mendeskripsikan tingkat pembangunan manusia di sebuah
negara dari sisi kesehatan masyarakatnya.
Derajat Kesehatan Masyarakat
Menurut Hendrik L Blum ada 4 faktor yang mempengaruhi status derajat
kesehatan masyarakat atau perorangan. Faktor-faktor tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut:
1. Lingkungan (Environment)
Lingkungan memiliki pengaruh yang dan peranan terbesar diikuti perilaku,
fasilitas kesehatan dan keturunan. Lingkungan sangat bervariasi, umumnya
digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu yang berhubungan dengan aspek fisik
dan sosial. Lingkungan yang berhubungan dengan aspek fisik contohnya sampah,
5

air, udara, tanah, ilkim, perumahan, dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial
merupakan hasil interaksi antar manusia seperti kebudayaan, pendidikan,
ekonomi, dan sebagainya
Contoh : Akses terhadap air bersih, Jamban/ tempat BAB, Sampah, Lantai
Rumah, Breeding places, Polusi, Sanitasi tempat umum, Bahan Beracun
Berbahaya (B3), Kebersihan TPU (Tempat Pelayanan Umum)
2. Perilaku (Life Style)
Perilaku merupakan faktor kedua yang mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat karena sehat atau tidak sehatnya lingkungan kesehatan individu,
keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Di
samping itu, juga dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kebiasaan,
kepercayaan, pendidikan sosial ekonomi, dan perilaku-perilaku lain yang melekat
pada dirinya.
Contoh : alkohol, rokok, promiscuity: tempat-tempat berisiko, narkoba, olah raga
dan Health seeking behavior : Kalau tidak sakit parah tidak akan pergi ke
puskesmas
3. Pelayanan kesehatan (Medical care services)
Pelayanan kesehatan merupakan faktor ketiga yang mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat karena keberadaan fasilitas kesehatan sangat menentukan
dalam

pelayanan

pemulihan

kesehatan,

pencegahan

terhadap

penyakit,

pengobatan dan keperawatan serta kelompok dan masyarakat yang memerlukan


pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas dipengaruhi oleh lokasi, apakah dapat
dijangkau atau tidak. Yang kedua adalah tenaga kesehatan pemberi pelayanan,
informasi dan motivasi masyarakat untuk mendatangi fasilitas dalam memperoleh
pelayanan serta program pelayanan kesehatan itu sendiri apakah sesuai dengan
kebutuhan masyarakat yang memerlukan.

Contoh : ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan (balai pengobatan) maupun


rujukan (rumah sakit), ketersediaan tenaga, peralatan kesehatan bersumberdaya
masyarakat; Kinerja/cakupan serta pembiayaan /anggaran

4. Keturunan (Heredity)
Keturunan (genetik) merupakan faktor yang telah ada dalam diri manusia yang
dibawa sejak lahir, misalnya dari golongan penyakit keturunan seperti diabetes
melitus dan asma bronehial.
Contoh : Penyakit-penyakit yang sifatnya turunan dan mempengaruhi sumberdaya
masyarakat, Jumlah penduduk dan Pertumbuhan penduduk serta jumlah kelompok
khusus/rentan: bumil, persalinan, bayi, dll
Derajat kesehatan bukan ditentukan oleh satu faktor saja, sehingga dalam
menganalisis suatu masalah kesehatan

sebagai proses dalam analisis situasi

mengharuskan kita menganalisis masalah kesehatan secara multifaktoral pula.


Konsep pedesaaan dan perkotaan
Menurut Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 37 tahun 2010, tentang
klasifikasi perkotaan dan pedesaan, Penentuan nilai/skor untuk menetapkan
sebagai wilayah perkotaan dan perdesaan atas desa/kelurahan adalah sebagai
berikut:
a. wilayah perkotaan, apabila dari kepadatan penduduk, persentase rumah tangga
pertanian, dan keberadaan/akses pada fasilitas perkotaan yang dimiliki
mempunyai total nilai/skor 10 (sepuluh) atau lebih; dan
b. wilayah perdesaan, apabila dari kepadatan penduduk, persentase rumah tangga
pertanian, dan keberadaan/akses pada fasilitas perkotaan yang dimiliki
mempunyai total nilai/skor di bawah 10 (sepuluh). Nilai/skor kepadatan
penduduk, persentase rumah tangga pertanian, dan keberadaan/akses pada fasilitas
perkotaan yang dimiliki ditetapkan sebagai berikut:

Teori Mosley and Chen


Mosley dan Chen (1984) membagi variabel-variabel yang berengaruh terhadap
kelangsungan hidup anak menjadi dua, yaitu; (1) variabel yang dianggap
eksogenous atau sosial ekonomi (seperti budaya, sosial, ekonomi, masyarakat dan
faktor regional) dan (2) variabel endogenous atau faktor biomedical (seperti pola
pemberian ASI, kebersihan, sanitasi, dan nutrisi). (Bappenas, 2010)

I.

Pendekatan Variabel
Antara

Pendekatan

variabel

digunakan

untuk

bagaimana

faktor sosial ekonomi

secara

langsung

tak

antara
menjelaskan

mempengaruhi angka
kematian bayi.Variabel antara di sini merupakan variabel yang secara langsung
meempengaruhi morbiditas dan mortalitas bayi.
Untuk mempengaruhi kelangsungan hidup anak, semua determinan-determinan
sosial dan ekonomi harus melalui variabel-variabel antara yang dikelompokkan
dalam lima kategori.
A. Faktor Maternal
Faktor maternal terdiri dari Usia, Jumlah anak, Jarak kelahiran. Faktor-faktor
tersebut berpengaruh terhadap hasil kehamilan dan kelangsungan hidup bayi.
Faktor maternal dianalisis dari data susenas KOR 2012; yaitu:
1. Usia ibu saat melahirkan
2. Jumlah anak
3. Jarak kelahiran
B. Faktor Nutrisi
Faktor Nutrisi berhubungan dengan tercukupinya Kalori,

Protein, Vitamin,

Mineral bagi bayi dan Ibu hamil. Dimana terpenuhinya nutrisi ibu selama hamil
mempengaruhi berat dan panjang bayi yang dilahirkan. Sementara itu
terpenuhinya nutrisi selama masa menyusui mempengaruhi jumlah dan kualitas
gizi susu ibu. Persediaan gizi untuk bayi (atau ibu selama masa hamil dan
menyusui) akan dianalisis dari data Riskesdas 2013; yaitu:

1 Persentase bayi gizi buruk dan gizi kurang


2. Persentase bayi kurus dan sangat kurus (BBLR)
3. Persentase bayi pendek dan sangat pendek
C. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan berkaitan denga penularan penyakit kepada bayi. Dimana ada
empat kategori yang menggambarkan jalur utama penularan penyakit; yaitu:
i. Udara, yang merupakan jalur penyebarluasan penyakit pernapasan dan
banyak penyakit lainnya yang ditularkan melalui kontak
ii. Air/Makanan/Jari, yang merupakan jalur utama penyebaran penyakit diare
dan penyakit usus lainnya
iii. Kulit/Tanah, meupakan jalur infeksi kulit
iv. Serangga, yang merupakan pembawa penyakit parasit dan virus
Untuk mengukur keterkaitan faktor lingkungan dalam mempengaruhi
angka kematian bayi menggunakan data riskesdas 2013, maka peneliti
menggunakan indikator sebagai berikut:
1. Presentase cara perawatan tali pusar bayi baru lahir. Idealnya menurut
standar Asuhan Persalinan Normal (APN) tali pusar yang telah
dipotong dan diikat, tidak diberi apa-apa
2. Proporsi penduduk umur 10 tahun yang berperilaku benar dalam
buang air besar dan cuci tangan. Perilaku benar dalam cuci tangan bila
cuci tangan pakai sabun sebelum menyiapkan makanan, setiapkali
tangan kotor (memegang uang, binatang dan berkebun),setelah buang
air besar, setelah menceboki bayi/anak, setelah menggunakan
pestisida/insektisi, sebelum menyusui bayi, dan sebelum makan.
Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban
3. Persentase RT yang memiliki sanitasi baik. Klasifikasi rumah tangga
dengan fasilitas sanitasi improved adalah rumah tangga dengan
menggunakan fasilitas BAB sendiri, sarana jamban leher angsa dan
atau plengsengan, dan pembuangan akhir tinja di tangki septik. Jenis
bahan bangunan, lokasi rumah, dan kondisi ruang rumah berkaitan
dengan rumah sehat dideskripsikan sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan
Kesehatan Perumahan.

10

4. Persentase RT yang memiliki sumber air baik. Menurut kriteria Joint


monitoring Program/JMP WHO Unicef tahun 2006. Klasifikasi
rumah tangga dengan fasilitas air minum improved adalah rumah
tangga yang menggunakan air ledeng/PDAM, air dari sumur
bor/pompa, sumur gali terlindung, mata air terlindung, penampungan
air hujan, air kemasan
5. Presentase rumah tangga yang memiliki ventilasi memadai.
6.Presentase rumah tangga yang memiliki tempat buang air besar
memadai
D. Faktor Kecelakaan/luka. Meliputi luka fisik, luka bakaar, dan keracunan.
Meskipun luka kecelakaan sering dianggap sebagai kejadian kebetulan, namun
tingkat dan polanya pada suatu kelompok dapat mencerminkan resiko lingkungan
yang berbeda-beda. Oleh karena dalam data Riskesas belum terdapat data yang
sesuai untuk menganalisis faktor kecelakaan, maka faktor kecelakaan tidak
dimasukkan ke dalam analisis penelitian ini.
E. Pengendalian Penyakit. Terdiri dari:
i. Pencegahan Individu, merupakan tindakan preventif yang dilakukan oleh
seseorang yang sehat untuk mencegah penyakit. Hal ini meliputi imunisasi
dan tindakan tradisional seperti mengikuti hal-hal tabu dalam masyarakat.
ii.

Pengobatan. Meliputi tindakan yang dilakukan seseorang untuk

memperoleh kesembuhan setelah timbulnya penyakit. Hal ini meliputi


perawatan dokter, perawatan rumah sakit, dll
Untuk mengukur Faktor pengendalian penyakit menggunakan data Riskesdas,
peneliti menggunakan data sebagai berikut:
1. Persentase penolong persalinan oleh tenaga kesehatan. Merupakan
presentase penolong saat masa persalinan ditolong oleh dokter kebidanan
& kandungan, dokter umum, bidan dan perawat dibandingkan dengan
penolong lainnya (dukun, keluarga, dan tanpa penolong)
penduduk
2. Persentase penduduk yang memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk
tempat berobat jalan. Merupakan presentase penduduk yang telah
memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk rawat jalan dibandingkan jumlah

11

penduduk di wilayah tersebut. Fasilitas kesehatan meliputi: rumah sakit


pemerintah, rumah sakit swasta, puskesmas atau puskesmas pembantu,
dokter praktek atau klinik, praktek bidan atau rumah bersalin, posyandu,
poskesdes atau poskestren dan polindes
3. Persentase bayi imunisasi dasar. Merupakan presentase jumlah bayi
usia 0-11 bulan yang telah mendapatkan imunisasi dasar dibandingkan
dengan jumlah bayi usia 0-11 bulan.
II.

Determinan Sosial Ekonomi


Determinan sosial ekonomi menunjukkan bagaimana determinan ini
melalui variabel antara mempengaruhi mortalitas dan morbiditas.
Determinan sosial ekonomi tersebut dikelompokkan kedalam tiga kategori
variabel umum yang biasanya digunakan pada literatur ilmu sosial, yaitu:
A. Faktor Tingkat Individu. Faktor individu disini berkaitan dengan
produktivitas keluarga (ayah dan ibu) dimana bayi tinggal. Hal ini
meliputi:
i. Pengetahuan/ Kepercayaan.
ii. Sikap/nilai
iii. Sumber daya ekonomi
Untuk menganalisis faktor individu peneliti menggunakan data dari
susenas 2012 yang meliputi:
1.

Tingkat Pendidikan Ibu : rata-rata lama sekolah wanita

2.

usia 15-49 tahun yang telah menikah


Tingkat Pendidikan ayah: rata-rata lama sekolah kepala
rumah tangga.

B. Faktor Tingkat Rumah Tangga


Meliputi kondisi rumah tangga dimana bayi tinggal.
Untuk menganalisis faktor tingkat rumah tangga peneliti menggunakan data dari
susenas 2012 yang meliputi:
6. Tingkat pendapatan rumah tangga
C.

Faktor Masyarakat. Terdiri dari : Kondisi Ekologis, Fasilitas dan Struktur

Ekonomi/ Politik.

12

Untuk menganalisis faktor masyarakat peneliti menggunakan data PODES 2011,


yang meliputi:
1. Rasio Bidan. Merupakan perbandingan antara bidan dan jumlah
penduduk
2. Rasio Dokter. Merupakan perbandingan antara dokter dan jumlah
penduduk
3. Ketersediaan fasilitas kesehatan kesehatan di tiap wilayah. Merupakan
jumlah fasilitas kesehatan di tiap desa/ kelurahan. Fasilitas kesehatan
disini meliputi: rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, puskesmas
atau puskesmas pembantu, dokter praktek atau klinik, praktek bidan atau
rumah bersalin, posyandu, poskesdes atau poskestren dan polindes.
2.2

Penelitian yang Relevan

Tulisan yang mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup


anak di Indonesia, oleh Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangnan Bappenas
(2009) memaparkan bahwa faktor non medis terutama faktor sosial ekonomi
memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan faktor medis dalam
usaha peningkatan kelangsungan hidup anak di Indonesia.
Hasil regresi

nasional menunjukkan bahwa kelangsungan hidup anak

direfleksikan oleh Angka Kematian Bayi dipengaruhi dari faktor sisi penawaran,
yaitu jumlah dokter umum, jumlah persalinan dibantu tenaga kesehatan, jumlah
posyandu dan rata-rata lama sekolah memeiliki pengaruh negatif terhadap angka
kematian bayi, dengan kata lain berarti berpengaruh positif terhadap kelangsungan
hidup bayi. Dimana peningkatan nilai variabel-variabel tersebut akan berdampak
pada penurunan angka kematian bayi.
Selain itu faktor landlock juga berpengaruh negatif terhadap angka kematian bayi.
Artinya peningkatan kemudah suatu lokasi kota/kabupaten untuk dicapai maka,
akan berdampak pada penurunan angka kematian bayi.

13

VARIABEL ANTARA
A. Faktor Maternal
1. Usia ibu saat melahirkan
2.3 Kerangka Berpikir

2. Jumlah anak
3. Jarak kelahiran
B. Faktor Nutrisi

Variabel independen
(DETERMINAN

1. Persentase bayi gizi buruk


dan gizi kurang

SOSIAL EKONOMI)

2. Persentase bayi kurus dan


sangat
kurus (BBLR)
INDIKATOR

A.Faktor Tingkat
Individu
1.Tingkat pendidikan ibu
2.Tingkat pendidikan KRT
B. Faktor Tingkat Rumah
Tangga
1. tingkat pendapatan RT
C. Faktor Tingkat
Masyarakat
1. Rasio Bidan

BIOLOGI
3. Persentase bayi pendek dan
VARIABEL
sangat
pendek
Kesakitan
TAK BEBAS
Kumulatif
C. Faktor Lingkungan
dan/atau
1. presentase cara perawatan tali
pusar
bayi baru
Kematian
Bayi lahir
2.Diproporsi
penduduk umur
pedesaan/
>10th yang berperilaku benar
dalam buang air besar dan cuci
tangan
3. Persentase RT yang memiliki
sanitasi baik

2. Rasio Dokter

4. Persentase RT yang memiliki


sumber air baik

3. Ketersediaan fasilitas
kesehatan

5. Persentase RT yang memiliki


ventilasi memadai
6. Persentase RT yang memiliki
tempat BAB memadai

Perumusan

Hipotesis

1. AKB

pedesaan

dibandingakan
perkotaan

Pengujian
D. Pengendalian Penyakit
1. Persentase penolong
persalinan oleh tenaga
kesehatan
2. Persentase penduduk yang
memanfaatkan fasilitas
kesehatan untuk berobat jalan
3. Persentase bayi imunisasi
dasar

lebih tinggi bila


dengan

AKB

14

2. Variabel independen Sosial Ekonomi (faktor tingkat individu, faktor


tingkat rumah tangga, dan faktor masyarakat) dan Variabel Antara (faktor
maternal, faktor nutrisi, faktor lingkungan, faktor pengendalian penyakit)
bepengaruh signifikan terhadap AKB Pedesaan
3. Variabel independen Sosial Ekonomi (faktor tingkat individu, faktor
tingkat rumah tangga, dan faktor masyarakat) dan Variabel Antara (faktor
maternal, faktor nutrisi, faktor lingkungan, faktor pengendalian penyakit)
bepengaruh signifikan terhadap AKB Perkotaan
4. . Variabel antara (faktor maternal, faktor nutrisi, faktor lingkungan, faktor
pengendalian penyakit) berpengaruh signifikan terhadap angka kematian
bayi di pedesaan.
5. . Variabel antara (faktor maternal, faktor nutrisi, faktor lingkungan, faktor
pengendalian penyakit) berpengaruh signifikan terhadap angka kematian
bayi di perkotaan
6. Faktor Tingkat Individu (tingkat pendidikan ibu dan tingkat pendidikan
KRT) berpengaruh signifikan terhadap faktor maternal, Faktor nutrisi dan
faktor pengendalian penyakit
7. Faktor Tingkat Rumah Tangga (tingkat pendapatan RT) berpengaruh
signifikan terhadap faktor nutrisi, faktor lingkungan dan faktor
pengendalian penyakit.
8. Faktor Tingkat masyarakat (rasio dokter, rasio bidan, dan ketersediaan
fasilitas kesehatan) berpengaruh signifikan terhadap Faktor Pengendalian
penyakit

BAB III
METODOLOGI
1

Metode Pengumpulan Data

15

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder


yaitu :
1. raw data SUSENAS KOR 1995-2012 untuk menganalisis angka
kematian bayi di pedesaan dan di perkotaan, serta untuk
menganalisis beberapa faktor determinan sosial ekonomi.
2. Data Riskesdas 2013 untuk menganalisis beberapa variabel antara.
3. Data Podes untuk menganalisis ketersediaan fasilitas kesehatan di
pedesaan.
Metode analisis yang di gunakan :
1 Analisi Deskriptif
Analisis deskriptif menggunakan

tabel,

dan

grafik

untuk

menggambarkan tren dan profil angka kematian bayi di wilayah


2

pedesaan dan di wilayah perkotaan pada kurun waktu tahun1995-2012


Analisis Inferensia
Analisis inferensia digunakan untuk melakukan pengujian terhadap
hipotesis pada penelitian ini. Selain itu analisis inferensia juga akan
menjelaskan tujuan pada penelitianini. Metode analisis yang di

gunakan adalah Analisis Regresi Linier Berganda.


Regresi linier berganda dilakukan untuk tiga tahap, yaitu:
Dengan meregresikan semua variabel independen dan variabel
antara terhadap variabel dependen ( angka kematian bayi ). Pada
tahap ini variabel antara dianggap sebagai variabel independen,
sehingga terdapat 21 variabel independen yang di regresikan
terhadap variabel dependen (angka kematian bayi ) di pedesaan
maupun di perkotaan.Pada tahap ini kita akan mengetahui variabel
mana saja yang berpengaruh signifikan terhadap angka kematian

bayi di pedesaan dan juga angka kematian bayi di perkotaan


Meregresikan variabel antara dengan variabel dependen (angka
kematian bayi) pada tahap ini kita akan melihat variabel antara
mana yang memiliki pengaruh yang paling signifikan terhadap
angka kematian bayi. Variabel antara yang memiliki pengaruh
signifikan dari proses ini akan di gunakan sebagai variabel

dependen pada tahap ke tiga.


Pada tahap ini kita akan meregresikan variabel independen sosial
ekonomi

dengan

variabel

antara

yang

paling

signifikan

mempengaruhi fertilitas secara langsung berdasarkan hasil dari

16

tahap 2. Pada tahap ini variabel antara dianggap sebagai variabel


dependen.
Setelah melalui tiga tahapan ini kita akan mengetahui variabel apa saja yang
berpengaruh sangat signifikan terhadap variabel antara yang terkuat, sehingga kita
akan memperoleh 2 variabel yang pengaruhnya paling signifikan terhadap
fertilitas. 1 variabel independen yang mempengaruhi variabel antara secara
langsung yang paling signifikan dan 1 variabel antara yang berpengaruh secara
langsung terhadap fertilitas, selain itu variabel independen yang paling kuat
pengaruhnya terhadap fertilitas melalui variabel antara dapat diketahui. Dan kedua
variabel tersebutlah yang harus memperoleh perhatian yang lebih dalam upaya
untuk mengontrol tingkat kelahiran.
Setelah melalui tiga tahap pengujian kita akan mendapatkan variabel independen
dan variabel antara yang paling signifikan mempengaruhi angka kematian bayi di
pedesaan maupun di perkotaan. Dari penentuan variabel signifikan ini kita dapat
mengetahui variabel mana saja yang perlu di-upgrade untuk mengurangi
kesenjangan kematian bayi di pedesaan maupun di perkotaan. Sehingga
Pembangunan umum yang merata untuk semua elemen masyarakat dapat
terpenuhi.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. 2012. Survei Demografi Kesehatan Indonesia. Jakarta:BPS
CIA World Factbook. 2014. Country Comparison Infant Mortality Rate diakses
tanggal 20 Januari 2014 melalui (https://www.cia.gov/library/publications/theworld- factbook/fields/2091.html)
Departemen Kesehatan. 2014. Profil Kesehatan Indonesia 2013. Jakarta: Depkes

17

Irianto,Joko dan kawan-kawan. 2001. Tren AKB dan AKA di Indonesia.


Jakarta:Badan Litbangkes
Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenass. 2009. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Anak. Jakarta:Bappenas
Mochamad Setyo Pramono, dkk; 2012; PEMETAAN DETERMINAN ANGKA
KEMATIAN BAYI DI JAWA TIMUR BERDASARKAN INDIKATOR INDEKS
PEMBANGUNAN KESEHATAN MASYARAKAT: Surabaya; Buletin Penelitian
Sistem Kesehatan Vol. 15 No. 1 Januari 2012: 3846
Mosley W. Henry and Chen Lincoln C, 1983. An Analytical Framework for the
study of Child Survival in Developing Countries.
WHO International. Program and Projects: Child and Adolescent Health and
Development. Topics: Newborn, Infants and Children. Diakses tanggal 19 januari
2014 melalui (http://www.who.int/child adolescent health/topics/prevention
care/child/en/index.html.)

18