Anda di halaman 1dari 4

Indra Kurniawan

NIM 132310101021
Purnomo, BB.(2003). Dasar-dasar Urologi ed. 2. Jakarta: Sagung Seto. hal 57-68.
BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian
4.1.1 Pengkajian Umum
1. Identitas Klien
Kaji mengenai nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, alamat, dan data
pasien yang lainnya.
2. Keluhan Utama
Nyeri pinggang kiri hilang timbul. Nyeri muncul dari pinggal sebelah kiri,
menjalar ke depan sampai ke ujung penis.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merasakan nyeri pinggang kanan atau kiri yang hilang timbul. Nyeri dapat
menyebar ke paha dan genetelia.
b. Riwayat Penyakit Dahulu : Tanyakan pada klien adakah riwayat Pernah menderita
urolitiasis, riwayat ISK dalam keluarga dan riwayat hipertensi.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Tanyakan pada klien adakah riwayat Pernah menderita urolitiasis, riwayat ISK dalam
keluarga dan riwayat hipertensi
4. Pemeriksaan Fisik (Head To Toe)
a. Keadaan Umum
: Compos metis
b. Tanda- Tanda Vital
Kaji TTV meliputi tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu. Paling
menindikasai yaitu biasanya pasien dengn urholitiasis mengalami hipertensi.
c. Kepala
: konjungtiva anemis,
d. Leher
: ada tidaknya nyeri tekan dan nyeri telan
e. Thorak
Jantung
Paru - Paru
Inspeksi
: ictus cordis nampak
Inspeksi
: simetris
Palpasi
: normal
Palpasi : focal fremitus (+)
Perkusi
: Pekak
Perkusi : Sonor
Auskultasi
:Auskultasi
: Vesikuler
f. Abdomen
Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran ginjal
Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli penuh
g. Ekstremitas
: ada tidaknya kelemahan

h. Genitalia eksterna
: teraba batu di uretra
i. Pemeriksaan fokus
Ginjal, ureter, buli-buli dan uretra
Pemeriksaan ini dilakukan bersama dengan pemeriksaan abdomen yang
lain dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
a. Inspeksi
Inspeksi dilakukan dengan posisi duduk atau supine dilihat adanya pembesaran
di daerah pinggang atau abdomen sebelah atas; asimetris ataukah adanya
perubahan warna kulit. Pembesaran pada daerah ini dapat disebabkan karena
hidronefrosis atau tumor pada retroperitonium.
b. Palpasi
Palpasi pada ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan memakai dua
tangan, tangan kiri diletakkan di sudut kosta-vertebra untuk mengangkat ginjal
ke atas sedangkan tangan kanan meraba dari depan dengan sedikit menekan ke
bawah (pada ginjal kanan), bagian bawah dapat teraba pada orang yang kurus.
Adanya pembesaran pada ginjal seperti tumor, kista atau hidronefrosis biasa
teraba dan terasa nyeri. Ureter tidak dapat dipalpasi, tetapi bila terjadi spasme
pada otot-ototnya akan menghasilkan nyeri pada pinggang atau perut bagian
bawah, menjalar ke skrotum atau labia. Adanya distensi buli-buli akan teraba
pada area di atas simphisis atau setinggi umbilikus, yang disebabkan adanya
obstruksi pada leher buli-buli.
c. Perkusi
Perkusi dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kostavertebra,
adanya pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal akan terasa
nyeri ketok. Pada buli-buli diketahui adanya distensi karena retensi urine dan
terdengar redup, dapat diketahui batas atas buli-buli serta adanya tumor/massa.
d. Auskultasi
Auscultasi dilakukan dengan menggunakan belt dari stetoskop di atas aorta
atau arteri renal untuk memeriksa adanya bruit. Adanya bruit di atas arteri
renal dapat disebabkan oleh gangguan aliran pada pembuluh darah seperti
stenosis atau aneurisma arteri renal.

5. Pemeriksaan 11 Pola Gordon


1. Pola Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pola ini akan menjelaskan bagaimana penderita batu ginjal ini mengatasi
penyakit yang di deritanya,apakah langsung di bawa ke rumah sakit atau tidak.
2. Pola nutrisi dan metabolik
Menjelaskan bagaimana makan klien, apakah mengalami muntah. Dan
biasanya klien sering mengalami hidrasi.
3. Pola eliminasi
Klien akan mengalami gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit.
Dan biasanya klien terserang diare.
4. Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas dan latihan klien akan terganggu, karena klien mengalami nyeri
dan bengkak pada tungkai.
5. Pola tidur dan istirahat
Biasanya tidur dan istirahat klien terganggu, karena merasakan nyeri yang
sangat hebat pada daerah tungkai.
6. Pola kognitif dan peseptual
Biasanya klien yang menderita batu ginjal tidak mengalami gangguan
pada penglihatan, dan pendengaran.
7. Pola peran dan hubungan
Klien lebih sering menutup diri, dan sering mengabaikan perannya baik
sebagai suami, maupun ayah.
8. Pola manajemen koping-stres
Klien yang menderita batu ginjal cenderung stres, karena cemas memikirkan
penyakitnya, yang tak kunjung sembuh.
9. Pola persepsi diri
Biasanya klien sering merasa cemas akan penyakitnya.
10. Pola seksual dan reproduksi
Pola seksual akan terganggu karena klien harus hospitalisasi.
11. Pola sistem nilai dan keyakinan
Klien agak susah melakukan aktivitas ibadah nya, karena dirumah sakit klien
menggunakan kateter.
4.1.2

Data Penunjang
Pemeriksaan sedimen urine (adanya leukositoria, hematuria, kristal, kultur kuman
pemecah urea) dan faal ginjal.
a. Kadar elektrolit darah dan urine (kalsium, oksalat, fosfat, maupun asam urat).
b. Foto polos abdomen : mendeteksi adanya batu opak seperti kalsium oksalat dan
kalsium fosfat yang paling sering dijumpai.

c. BNO/KUB : Bladder Nier Oversich/Kidney Ureter Bladder, untuk melihat anatomi


dan bayangan batu pada saluran kemih.
d. IVP (Intravenous Pyelography) : Untuk melhat fungsi fisiologis ginjal dan melihat
secara simultan apakah adanya obstruksi pada saluran kemih. Pemeriksaan ini
ditujukan untuk medeteksi batu semi-opak (MAP) atau non-opak (urat/sistin).
e. RPG (Retrograde Pyelography ) : Dilakukan bila jenis batu radilusen yang tak
dapat dilihat dengan BNO/IVP, RPG suatu tindakan dimasukkannya kateter ureter
dengan tanpa guide wire sepanjang 3-4 cm ke dalam ureter, lalu dimasukkan
sejumlah kontras dan difoto dengan alat fluroskopi.
f. USG, CT scan, MRI : Dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani
pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan seperti alergi terhadap bahan kontras, faal
ginjal yang menurun, dan pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan ini dapat
mendeteksi batu di ginjal atau di buli-buli (echoic shadow), hidronefrosis,
pionefrosis, atau pengkerutan ginjal.