Anda di halaman 1dari 31

Proposal Tugas Akhir

Vera Christanti Agusta


270110100068

Analisis Geokimia Minyak dan Gas Bumi pada Batuan Induk


Formasi X Cekungan Y

Proposal Tugas Akhir


Oleh:
Vera Christanti Agusta
270110100068

Ditujukan kepada:

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Minyak dan gas bumi saat ini masih menjadi sumber energi utama yang

digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik digunakan pada kegiatan rumah


tangga ataupun pada kegiatan industri. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya
industri minyak dan gas bumi yang bergerak untuk mencari, mengelola dan
mengembangkan cadangan minyak dan gas bumi di dunia. Industri minyak dan
gas bumi merupakan salah satu industri yang berkembang sangat pesat karena
perannya yang sangat penting sebagai penghasil minyak dan gas bumi yang masih
banyak digunakan saat ini. Perkembangan industri minyak dan gas bumi juga
disebabkan oleh kelebihan yang dimiliki oleh sumber energi minyak dan gas bumi
dibandingkan dengan sumber energi yang lainnya. Kelebihan dari sumber energi
minyak dan gas bumi dibandingkan dengan sumber energi seperti kandungan
energi yang dihasilkannya besar dan wujud energinya yang berupa fluida. Oleh
sebab itu, meskipun telah banyak berkembang penemuan mengenai sumber energi
terbarukan, namun sumber energi minyak dan gas bumi tetap menjadi sumber
energi yang paling banyak digunakan di dunia.
Dalam memenuhi kebutuhan minyak dan gas bumi di dunia, dibutuhkan
pengembangan dalam mengeksplorasi dan memproduksi minyak dan gas bumi
tersebut. Maka mulai dikembangkan teknologi-teknologi yang akan mendukung
dalam kegiatan tersebut. Dan sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut,
dibutuhkan juga tenaga-tenaga profesional yang dapat memahami, menjalankan,
dan mengembangkan diri dalam kemajuan industri minyak dan gas bumi,
termasuk dalam perkembangan penelitian geokimia minyak dan gas bumi.
Dengan uraian diatas, maka penulis mengajukan tema tugas akhir ini,
yaitu:
Analisis Geokimia Minyak dan Gas Bumi pada Batuan Induk
Formasi X Cekungan Y

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

1.2

Indentifikasi Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimana kualitas, kuantitas dan kematangan material organik pada
batuan induk ?
2. Apakah hidrokarbon yang terdapat pada suatu cekungan sedimen sama
tipenya dan berasal dari batuan induk yang sama ?
3. Apakah suatu batuan induk pada cekungan sedimen dapat menghasilkan
tipe hidrokarbon yang berbeda-beda ?
4. Bagaimana jalur migrasi dari hidrokarbon yang terakumulasi ?

1.3

Maksud dan Tujuan Penelitian


Dalam indutri minyak dan gas bumi, diperlukan beberapa penelitian dalam

menentukan keekonomisan suatu sumber energi yang baru ditemukan. Oleh


karena itu, maksud dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui, mengidentifikasi
dan menginterpretasi kuantitas dan kualitas suatu material organik dalam batuan
induk dan hubungannya dengan tingkat kematangan suatu hidrokarbon.
Adapun tujuan dari penetian ini, yaitu:
1. Mengetahui kualitas, kuantitas dan kematangan material organik pada
batuan induk.
2. Mengetahui tipe dan asal hidrokarbon yang berasal dari cekungan yang
sama.
3. Mengetahui bagaimana suatu cekungan dapat menghasilkan tipe
hidrokarbon yang berbeda.
4. Mengetahui jalur migrasi dari suatu hidrokarbon hingga terakumulasi.
1.4

Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian akan dilakukan berdasarkan data pada Formasi X Cekungan

Y yang sekiranya akan dilakukan selama tiga bulan dimulai dari bulan Maret
hingga bulan Mei dan bertempat di kantor PT Pertamina EP, atau disesuaikan
dengan waktu pelaksanaan tugas akhir yang diberikan oleh perusahaan.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

1.5

Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian yang dilakukan adalah:
1. Memberikan pengetahuan,pengalaman, serta wawasan dunia industri
dalam menjalankan kegiatan eksplorasi dan produksi migas.
2. Mengetahui penerapan konsep-konsep aplikatif dan integratif yang
dijalankan dalam melakukan eksplorasi maupun produksi.
3. Memberikan kontribusi khususnya bagi perkembangan Ilmu Geologi serta
bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang
pada saat ini.
4. Mendapatkan pemahaman tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang berkembang pada dunia migas Indonesia saat ini.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Dasar Geokimia Minyak dan Gas Bumi


Geokimia minyak dan gas bumi merupakan salah satu cabang ilmu geologi

yang

menerapkan

terbentuknya,

prinsip-prinsip

migrasi,

akumulasi

dasar

kimia

dan

alterasi

untuk
minyak

mempelajari
bumi.

asal

Dengan

menggunakan ilmu ini, maka dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi


pembentukan, migrasi dan akumulasi minyak bumi. Geokimia minyak dan gas
bumi juga dapat digunakan untuk:
1. Mengetahui batuan induk dan menentukan jumlah, tipe dan tingkat
kematangan dari material organiknya
2. Mengevaluasi waktu terjadinya migrasi minyak dan gas bumii dari batuan
induk
3. Memperkirakan jalur migrasi minyak dan gas bumi
4. Mengkorelasikan minyak dan gas bumi yang terdapat pada reservoir untuk
mengetahui asal terbentuknya.
A. Batuan Induk
Dalam petroleum system telah dipelajari beberapa komponen penting
seperti batuan induk, migrasi, reservoir, trap dan batuan perangkap. Batuan induk
merupakan batuan yang mengandung material organik dengan kompisisi kimia
tertentu dan dalam jumlah yang cukup untuk membentuk dan mengeluarkan
hidrokarbon (Miles, 1989). Batuan induk yang dapat menghasilkan hidrokarbon
harus mengalami pengendapan dan memiliki tingkat kematangan yang cukup.
Dan batuan induk yang baik juga harus memiliki material organik dengan kualitas
dan kuantitas yang baik.
Material organik pada batuan induk dinyatakan dalam Total Organik
Carbon (TOC) yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

1. Bitumen : material organik larut yang hanya sedikit menunjukan TOC


2. Kerogen : material organik yang tidak larut yang lebih menunjukkan TOC
B. Bitumen
Bitumen merupakan fraksi material organik pada batuan yang dapat larut
dalam pelarut organik. Komposisi bitumen memiliki kesamaan dengan mnyak
bumi pada umumnya tetapi proporsinya berbeda yang meliputi hidrokarbon jenuh,
hidrokarbon aromatic dan komponen non-hidrokarbon seperti resin dan aspaltene.
C. Kerogen
Kerogen merupakan fraksi material organik dalam batuan yang tidak dapat
larut dalam pelarut organik karena molekulnya berukuran besar ( Tissot dan
Welte, 1984). Unsur utama pembentuk kerogen berupa karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen dan sulfur.
Pembentukan kerogen dilakukan secara berturut-turut dalam dua tahap
yaitu tahap polimerisasi yang melibatkan pembentukan geopolimer dari
geomonomer yang terjadi setelah organisme mati dan penyusun kembali
komposisi kerogen yang terjadi setelah geopolimer pertama terbentuk dan akan
terus berlangsung selama kerogen masih ada. Tahap selanjutnya adalah
pembentukan kerogen yang diawali dengan terjadinya diagenesis pada kolom air,
tanah dan sedimen yang menyebabkan ukuran molekul geopolimer menjadi lebih
besar dengan susunan struktur yang lebih kompleks dan makin tidak teratur
karena hilangnya air, CO2 dan amonia dari geopolimer asalnya.
1.

Komposisi kerogen
Komposisi kerogen dipengaruhi oleh proses pematangan termal yang

terjadi pada material organik yaitu diagenesis, katagenesis dan metagenesis.


Tahap diagenesis menyebabkan hilangnya nitrogen dan lepasnya oksigen dalam
bentuk air, CO dan CO2 yang biasanya terjadi pada temperatur <70-800C. Pada
tahap katagenesis terjadi kehilangan hidrogen dalam bentuk hidrokarbon, minyak
berat terbentuk lebih dulu kemudian hidrogen yang lebih ringan, kondensat dan

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

kemudian baru dihasilkan dry gas. Kemudian tahap metagenesis terjadi


reorganisasi dari struktur aromatic pada kerogen sisa menjadi struktur grafit ada
suhu >1500C. Pada tahap ini terbentuk metana, H2S dan nitrogen.
2.

Tipe kerogen
Kerogen menyusun sebagian besar dari material organik. Berdasarkan

analisis mikroskopis dari material material (maseral), kerogen dapat dibagi


menjadi 4 kelompok yaitu :
a.

Grup alginit
Didominasi oleh maseral alginit yang merupakan alga air tawar, bersifat

menghasilkan minyak (oil prone)


b.

Grup eksinit
Didominasi oleh maseral eksinit (spora, polen), kutinit (kutikula dari

tumbuhan darat), resinit(resin dari tumbuhan darat, getah dammar), dan liptinit
(lemak dari tumbuhan darat dan alga marin), bersifat oil-gas prone
c.

Grup vitrinit
Didominasi oleh maseral vitrinit (material selulosa dari tumbuhan

berkayu) bersifat gas-prone


d.

Grup inertinit
Didominasi oleh arang kayu (charcoal), material organik yang teroksidasi

dan terbawa dari tempat lain (reworked), sulit menghasilkan hidrokarbon.


Berdasarkan material organik dan analisis kimia, kerogen dibagi menjadi
empat tipe yaitu:
a.

Kerogen Tipe I

Berasal dari alga danau dan terbatas pada danau anoksik

Memiliki kandungan hidrogen tertinggi di antara tipe kerogen yang lain


tetapi mengandung oksigen jauh lebih rendah dibandingkan tipe III dan

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

IV karena terbentuk dari material lemak yang miskin oksigen, misalnya


fitoplankton yang tak mengandung lignin atau selulosa

b.

Cenderung menghasilkan minyak (oil prone)

Kerogen Tipe II

Berasal dari sedimen laut dengan kondisi reduksi dengan jenis sumber
yang berbeda, yaitu dari alga laut, polen, spora, lapisan lilin tanaman,
fosil resin dan lemak tanaman

c.

Kandungan hidrogen relatif tinggi dan cenderung bersifat oil prone

Kerogen Tipe III

Berasal dari material organik darat yang sedikit mengandung lemak


(fat) dan lilin (wax)

Memiliki kandungan oksigen karena sumber material mengandung


lignin dan selulosa

d.

Kandungan hidrogen rendah dan cenderung menghasilkan gas

Kerogen Tipe IV

Terdiri dari material teroksidasi yang berasal dari berbagai sumber dan
mengandung sejumlah besar oksigen

Mengandung sistem aromatik dan mempunyai kandungan hydrogen


terendah, sehingga tak menghasilkan hidrokarbon

Tipe Kerogen
I
II
III
IV

Maseral
Material Organik Asal
Alginit
Alga air tawar
Eksinit
Polen, Spora
Kutinit
Lapisan lilin tanaman
Resinit
Resin tanaman
Liptinit
Lemak tanaman, alga laut
Vitrinit
Material tanaman keras (kayu, selulosa)
Inertinit
Arang, material tersusun ulang yang teroksidasi
Pembagian Tipe Kerogen (Waples, 1985)

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Berdasarkan produk yang dihasilkan, kerogen dapat digolongkan menjadi


berikut:
a.

Oil prone kerogen


Kerogen golongan ini memiliki material lipid dan hidrogen yang kaya

serta cenderung menggenerasikan minyak (molekul C6+) ketimbang gas (molekul


C1-5), suhunya berkisar antara 100 1500 C dibawah permukaan bumi.
b.

Gas prone kerogen


Kerogen golongan ini didominasi oleh lignin dan sedikit hidrogen serta

cenderung menggenerasikan gas (molekul C1-5) pada suhu berkisar antara 150
2300 C dibawah permukaan bumi.
3.

Kematangan Kerogen
Kematangan kerogen dikontrol oleh dua faktor utama yaitu suhu dan

waktu. Pengaruh suhu tinggi dalam waktu yang singkat atau sebaliknya akan
menyebabkan kerogen terubah dan menghasilkan hidrokarbon. Selain suhu dan
waktu, terdapat faktor umur batuan yang berkaitan dengan proses pemanasan dan
jumlah panas yang diterima batuan induk.
Kematangan material organik pada umumnya ditentukan dengan:
a.

Pemantulan vitrinit (Ro %)


Analisis ini didasari pada suatu pengertian bahwa kematangan pada

kerogen akan mengakibatkan perubahan pada fisik kerogen yang dibarengi


dengan kemampuannya memantulkan cahaya. Vitrinit sendiri adalah jenis maseral
utama penyusun batubara yang juga tersebar luas pada sedimen. Peningkatan
pantulan vitrinit akan meningkat seiring panambahan kematangan dan kedalaman.
b.

Skala alterasi termal (Thermal Alteration Scale-TAS)


Merupakan salah satu analisis penentuan kematangan material organik

yang berbasis pada adanya pengaruh kematangan termal terhadap perubahan fisik
pada fosil dari kelompok spora dan polen.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

c.

Penentuan temperature maksimum (Tmax) dan indeks produksi minyak


(Oil Production Index-OPI)
Tmax merupakan suhu maksimum pada saat pembentukan hidrokarbon

yang terjadi selama pirolisis kerogen, sedangkan indeks produksi adalah rasio
antara hidrokarbon dalam batuan dan hidrokarbon yang dihasilkan sebagai akibat
perubahan kerogen menjadi bitumen selama pembentukan hidrokarbon. OPI akan
bertambah seiring meningkatnya material organik.

Tipe Kerogen

Hidrogen Indeks

Jenis Hidrokarbon

S2 / S3

(mg HC/g TOC)

yang Dihasilkan

>600

>15

Minyak

II

300-600

10-15

Minyak

II/III

200-300

5-10

III

50-200

15

IV

<50

<1

Campuran minyak
dan gas
Gas
Tidak ada
hidrokarbon

Tipe Kerogen dan Kecenderungan Jenis Hidrokarbon Berdasarkan


Hidrogen Indeks dan S2/S3 (Peters & Cassa, 1994)

Tingkat
Kematangan

Rock-Eval Pirolisis
OPI

Ro (%)

TAS

Tmax (0C)

0.2-0.6

<435

<0.10

Awal

0.6-0.65

- 4/5

435-445

0.10 0.15

Puncak

0.65-0.9

- 4/5

445-450

0.25 0.40

Akhir

0.9-1.35

56

450-470

>0.40

>1.35

>6

>470

Termal
Belum matang
Matang

Mikroskopis

Lewat matang

S1/(S1+S2)

Klasifikasi Tingkat Kematangan Material Organik Berdasarkan Analisi


Mikroskopis dan Rock-Eval Pyrolisis (Peters & Cassa, 1994)

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

2.2

Lingkungan Pengendapan dan Kematangan Material Organik


Penentuan

lingkungan

pengendapan

dari

material

organik

dapat

menggunakan parameter biomarker. Biomarker merupakan senyawa organik


komleks yang terdiri dari karbon, hidrogen dan unsur-unsur lain. Biomarker
sering digunakan sebagai indikator kematangan material organik dalam batuan
induk, karena perubahan komponen dalam batuan dipengaruhi oleh laju
perubahan temperature di bawah permukaan dan lama waktu yang dibutuhkan
biomarker untuk mengalami pemanasan.
Terdapat beberapa biomarker yang biasa digunakan dalam penentuan
lingkungan pengendapan, yaitu isoprenoid, triterpana dan sterena.
1.

Isoprenoid adalah suatu senyawa yang terdiri dari atom karbon rantai lurus

dengan kelompok metil (CH3) yang terikat pada setiap atom karbon keempat.
Senyawa isopenoid yang umum digunakan adalah pristan dan fitan yang berkaitan
dengan aktifitas bakteri yang hidup saat proses fotosintesa, berasosiasi dengan
porfirin dan menunjukkan lingkungan metasalin sampai hipersalin. Batuan induk
karbonat seringkali memperlihatkan rasio pristan dan fitan < 1 yang menunjukkan
bahwa material organik pada batuan induk tersebut terendapkan dalam lingkungan
anoksik.
2.

Triterpana adalah senyawa yang terdiri dari lima atom karbon segi enam

yang berkaitan dengan kelompok metil. Senyawa triterpana terbentang dari C27
sampai C35, tetapi yang sering digunakan adalah norhopana (C29) dan hopana
(C30).

Untuk

menunjukkan

lingkungan

pengendapan

harus

dilakukan

perbandingan terhadap konsentrasi C29 dan C30. Jika konsentrasi C29 > C30, maka
material organik berasal dari lingkungan karbonat, sebaliknya jika konsentrasi C29
< C30, maka material organik berasal dari serpih yang terendapkan di lingkungan
laut. Menurut Peters dan Moldowan (1991), tingginya konsentrasi C35 secara
spesifik menunjukkan lingkungan laut, sedangkan lingkungan karbonat atau
hipersalin ditandai dengan dominasi C34 dan C35. Dalam hal ini jika C35 >C34,
maka material organik dapat diasumsikan diendapkan di lingkungan karbonat

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

yang berasosiasi dengan lingkungan yang sangat reduksi (Moldowan et al, 1992).
Apabila dalam fragmentogram massa terdapat hopana panjang (C31-C35) yang
semakin mengecil dengan penambahan jumlah karbon, maka pada umumnya
material organik tersebut berasosiasi dengan kondisi lingkungan yang oksik.
Pada senyawa triterpana terdapat pula parameter kematangan, yaitu
trisnorneohopana (Ts, terdapat pada C27 akibat proses termal) dan trisnorhopana
(Tm, terdapat pada C27 akibat hasil biologis), dimana apabila Ts > Tm maka
diasumsikan batuan sudah matang. Selain pada C27, parameter kematangan juga
didapat pada C31, C32 dan C33, yaitu jika S (sinister) > R (rectus), maka batuan
sudah matang.
3.

Sterana adalah senyawa yang terdiri dari tiga lingkar atom karbon

segienam dan satu lingkar atom karbon segilima yang saling berkaitan. Senyawa
ini terdapat pada C21,C22, C27,C28, dan C29 pada fragmentogram massa.
Lingkungan karbonat atau hipersalin diketahui berdasarkan konsentrasi C21,C22>
C27,C28, dan C29 (Ten Havern et al, 1985 dan Mello et al, 1988). C27 akan
mendominasi pada material organik yang berasal dari alga atau lingkungan laut,
sedangkan kontribusi alga danau ditunjukkan dengan kehadiran C28<C27 dan C29.
Material organik yang berasal dari tanaman keras atau merupakan material darat
ditunjukkan dengan dominasi C29, sementara itu dominasi C30 mengindikasikan
pengaruh kondisi laut (Moldowan et al, 1985). Pada senyawa sterana juga terdapat
suatu parameter kematangan, yaitu pada C29 yang ditunjukkan dengan notasi 20 R
dan 20 S, dimana 20R > 20 S maka batuannya belum matang.
Selain itu untuk mengetahui tingkat kehadiran karbon dalam material
organik digunakan suatu biomarker berupa n-alkana yang nerupakan seri
hidrokarbon yang paling sederhana karena tidak memiliki cabang yang dapat pula
digunakan sebagai indikator kematangan material organik. Tingkat kehadiran
karbon (Carbon Preferences Index-CPI) didasari pada tingkat konsentrasi karbon
C23, C24, C25, C26, C27, C28, C29, C30, C31 dan dirumuskan sebagai berikut :
CPI = (C23 + C25 + C27 + C29) + (C25 + C27 + C29 + C31)
2 (C24 + C26 + C28 + C30)

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Property
Carbonate
Marine Shale
Deltaic Shale
Bulk properties
API gravity
10 30
25 40
35 45
Sulfur, wt%
>0.6
0.2 0.5
<0.2
Sat/Arom
0.3 1.5
12
>2
CPI
<1
1 1.5
>1.5
Biomarker properties
Pr/Ph
<1
1.1 1.8
24
Ph/nC18
>0.3
<0.3
<0.1
Steranes
C27>C29
C27<C29
C27<C29
Steranes/hopanes
Low
High
High
C24Tetra-/C26Tric.Trep Medium-high
Low-medium
Low
C29/C30 hopanes
High (>1)
Low
Low
C35/C30 hopanes
High
Low
Low
Gammacerane
High
Low
Low
Klasifikasi Lingkungan Pengendapan Berdasarkan Karakter Kimia
(Peters & Moldowan, 1994)
2.3

Aplikasi Biomarker pada Geokimia Minyak dan Gas Bumi


Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi, biomarker sering digunakan

untuk antara lain:


1.

Mengetahui jumlah relative material organik yang bersifat oil-prone dan

gas-prone pada kerogen


2.

Mengetahui umur batuan

3.

Mengetahui lingkungan pengendapan

4.

Mengetahui tingkat kematangan termal

5.

Mengetahui korelasi hidrokarbon dengan batuan induk


Terdapat empat kelompok biomarker utama yang sering digunakan yaitu

terpane, sterane, steroid aromatic dan porfirin.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

1.

Terpane

a.

m/z 191 fingerprint


Sebagian besar dari senyawa golongan terpane pada hidrokarbon berasal

dari lipid pada membran bakteri. Senyawa ini meliputi beberapa seri yang
homolog seperti komponen asiklik, bisiklik (drimane), trisiklik, tetrasiklik dan
pentasiklik (mis. hopane).
Komponen terpane (m/z 191) seperti trisiklik, tetrasiklik, hopane biasanya
digunakan untuk mengkorelasikan minyak dengan batuan induk (Seifert et al.,
1980). Terpane trisiklik berkisar dari C19 hingga C45. Trisiklik C28 dan C29
sering digunakan untuk melakukan korelasiminyak dan bitumen. Terpane
trisiklik (<C30) kemungkinan berasal dari isoprenoid C30 reguler yang
merupakan penyusun membran prokariotik. Diterpane trisiklik (C19-C20)
diyakini berasal dari diterpenoid seperti asam abietik yang dihasilkan oleh
tumbuhan vaskuler.
Terpane bisiklik terdapat pada hampir semua sedimen dan minyak mentah
sehingga dianggap berasal dari mikroba. Terpane tetrasiklik C24-C27
nampaknya merupakan hopane yang terdegradasi. Tetrasiklik terpane lebih
resistan terhadap biodegradasi dan maturasi ketimbang hopane.
Hopane merupakan triterpane pentasiklik yang biasanya mengandung 27-35
atom karbon pada struktur naftenik yang tersusun atas empat cincin segi enam
dan satu cincin segi lima. Hopane berasal dari prekursor membran bakteri.
b.

Homohopane
Homohopane (C31-C35) diyakini berasal dari bakteriohopanetetrol dan

hopanoid C35 lain yang terdapat pada organisme prokariotik. Homohopane


sering diaplikasikan sebagai indikator potensial redoks dari sedimen laut
selama diagenesis, tetapi dipengaruhi oleh efek maturasi.
c.

Rasio Pristane/Phytane

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Rasio Pr/Ph yang tinggi (>3) mengindikasikan material organik terestrial


dengan kondisi oksik, sedangkan nilai yang rendah (<0.6) mengindikasikan
lingkungan anoksik, umumnya hipersalin. Rasio Pr/Ph akan meningkat seiring
dengan meningkatnya kematangan.
d.

Botryococcane menunjukkan lingkungan lakustrin atau brackish karena

berasal dari alga Botryoccus braunii.


e.

Oleanane/C30 Hopane (Indeks Oleanane) mengindikasikan input dari

tumbuhan tingkat tinggi berumur Kapur atau lebih muda.


f.

Gammacerane merupakan triterpane C30 yang mengindikasikan kondisi

hipersalin.
g.

-Carotane mengindikasikan lingkungan lakustrin.

h.

Cardinane mengindikasikan input material resin dari tumbuhan tingkat

tinggi.
i.

Tetrasiklik diterpane mengindikasikan input material organik terestrial

terutama konifer.
j.

Trisiklik terpane/hopane tahan terhadap biodegradasi. Konsentrasi yang

rendah pada minyak dan bitumen dari batuan karbonat.


k.

Tetrasiklik terpane tahan terhadap biodegradasi. Konsentrasi C24 yang

tinggi mengindikasikan lingkungan karbonat atau evaporit.


2.
a.

Sterane
-hopane
Rasio sterane dengan hopane merefleksikan input dari material eukariotik

(alga dan tumbuhan tingkat tinggi) dengan prokariotik (bakteri). Rasio


sterane/hopane >1 menunjukkan lingkungan marin dengan alga.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

b.

Sterane C27-C28-C29
Nilai C27-C28-C29 dapat diplot pada suatu diagram segitiga untuk

menentukan lingkungan pengendapan. Diaram ini dapat digunakan untuk


membedakan hidrokarbon dari batuan induk yang berbeda atau fasies organik
berbeda pada batuan induk yang sama.
c. C30/ (C27-C28-C29-C30)
Rasio

sterane

C30/

(C27-C28-C29-C30)

jika

diplot

dengan

rasio

oleanane/hopane akan dapat mengidentifikasi input material darat dengan


marin. Lingkungan pengendapan lagoon yang salin dicirikan oleh rendahnya
rasio sterane C30/(C27-C28-C29-C30) ketimbang rasio pada lingkungan laut
terbuka. Nilai rasio sterane C30/(C27-C28-C29-C30) yang nol menunjukkan
minyak nonmarin. Tidak terdapatnya sterane C30 pada hidrokarbon yang lebih
tua dari 500 juta tahun lalu diinterpretasikan sebagai gap evolusi saat
munculnya sterol C30 pada organisme laut atau dominasi dari biota marin oleh
spesies yang tak mengandung sterol C30.
d.

Diasterane C27-C28-C29
Aplikasi penting dari plot Diasterane C27-C28-C29 pada diagram segitiga

adalah untuk identifikasi minyak yang terbiodegradasi dimana sterane


teralterasikan, sementara diasterane tidak.
e. Diasterane/sterane
Aplikasi utamanya adalah untuk membedakan hidrokarbon yang berasal
dari material karbonat dengan yang berasal dari material klastik. Rasio
diasterane/sterane yang rendah menunjukkan batuan induk karbonatan poor
clay yang anoksik, sedangkan batuan induk yang kaya akan clay ditunjukkan
oleh rasio sebaliknya. Nilai rasio yang tinggi juga dapat disebabkan oleh efek
maturasi dan biodegradasi.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

3.

Steroid Aromatik
Biomarker aromatik dapat memberikan informasi input material organik

serta berguna dalam oil-source correlation dan identifikasi maturasi termal.


a.

Steroid monoaromatik (MA) C27-C28-C29


Diagram segitiga dari steroid MA dan sterane memberikan bukti korelasi

yang lebih kuat karena mempresentasikan komponen dari asal yang berbeda,
sehingga dapat memberikan bukti independen dalam korelasi. Selain itu, lokasi
plot dari diagram ini tidak berubah secara signifikan di sepanjang oil window.
b.

Steroid triaromatik (TA) C26-C27-C28


Aplikasinya serupa dengan steroid monoaromatik hanya saja steroid TA

lebih sensitif terhadap efek maturasi karena steroid TA sendiri merupakan


produk maturasi dari proses aromatisasi steroid MA.
c. Benzohopane
Benzohopane memiliki kisaran rantai karbon mulai dari C32-C35. Minyak
dan bitumen dari batuan induk karbonat dan evaporit menunjukkan
konsentrasi benzohopane yang tinggi meskipun hanya ditemukan sebagai
trace pada batuan induk dan hidrokarbon
4.

Porfirin
Porfirin merupakan komponen organometalik tetrapirolik yang tersusun

atas vanadium dan nikel pada hidrokarbon (Boduszynski, 1987). Komponen ini
cukup resistan terhadap biodegradasi. Rasio V/(V+Ni) porfirin menunjukkan
kondisi pengendapan batuan induk pada kondisi reduksi.
2.4

Korelasi Sumber Minyak dan Gas Bumi


Oil-source correlation didefinisikan sebagai hubungan kausal antara

minyak dengan fasies batuan sumbernya berdasarkan integrasi data geologi dan

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

geokimia (Jones, 1987). Hubungan kausal ini didasarkan pada kondisi saat batuan
induk

menghasilkan minyak, bukan didasarkan pada perubahan yang terjadi

terhadap komposisi batuan induk dan minyak. Jadi, tugas dari seorang ahli
geokimia dalam melakukan oil-source correlation adalah untuk mengisolasi dan
mengidentifikasi perubahan komposisi yang terjadi baik pada batuan induk
maupun minyak setelah minyak meninggalkan batuan induknya serta membuat
kompensasi dari perubahan tersebut yaitu pada saat belum terjadi perubahan
komposisi (Curiale, 1993).
Suatu korelasi batuan induk dengan minyak yang baik harus dapat
memperkirakan volume minyak yang dihasilkan serta menentukan jalur
migrasinya. Apabila peta-peta lokasi dan geokimia minyak baik yang didapat dari
indikasi permukaan (oil seep), sumur, dan akumulasi minyak yang komersial
tersebut dibandingkan dan ternyata memiliki kesamaan, maka dapat disimpulkan
bahwa seluruh minyak yang terdapat di lokasi tersebut berasal dari sumber yang
sama.
Apabila data geokimia mengindikasikan hubungan genetik antara minyak
dengan batuan induk, atau jika hasil korelasinya positif, maka dapat ditentukanlah
petroleum system di suatu tempat. Peta distribusi daripada minyak dan batuan
induk ini menunjukkan lingkup stratigrafi dan geografi dari petroleum system
tersebut.Sedangkan jalur migrasi berada diantara batuan induk dan lingkup
geografi dari sistem tersebut dan volume dari minyak yang dihasilkan dapat
diperkirakan.
Dalam melakukan korelasi minyak dengan batuan induk, fosil geokimia
atau biomarker memiliki peranan yang sangat penting. Data tersebut diperoleh
dari hasil analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Selain itu
informasi penting untuk melakukan korelasi juga didapat dari data rasio isotop
karbon.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

BAB III
METODE PENELITIAN

Analisis Geokimia Minyak dan Gas Bumi biasanya digunakan untuk


mengetahui kuantitas, kualitas dan tingkat kematangan suatu material organic
yang terdapat pada suatu batuan induk, dan bisa digunakan untuk mengetahui
korelasi hidrokarbon dengan batuan induk.
Pada pengerjaan tugas akhir ini, diperlukan proses identifikasi dan
deskripsi untuk mengetahui kondisi daerah penelitian dan analisis hasil
laboratorium. Pada bab ini akan membahas mengenai objek penelitian, tahap
penelitian, tahap persiapan, tahap pembahasan dan penyusunan laporan.
3.1

Objek Penelitian
Objek penelitian merupakan data lapangan berupa sampel tanah atau

batuan yang digunakan sebagai data primer, dan datsa hasil laboratorium yang
merupakan data sekunder.
3.2

Tahap Penelitian
Tahap penelitian merupakan tahap pengerjaan yang meliputi tahap

persiapan dan tahap analisis.


3.2.1

Tahap Persiapan
Tahap persiapan dimulai dengan pembuatan usulan penelitian. Kemudian

dilakukan pekerjaan yang bersifat menunjang kelancaran tahap analisis data.


Persiapan yang dilakukan berupa studi pustaka yaitu mencari studi literatur
tentang daerah penelitian dari peneliti terdahulu, bacaan dari laporan penelitian,
text book, publikasi, dan makalah.
3.2.2

Tahap Analisis

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Tahap analisis dilakukan berdasarkan hasil data laboratorium. analisis


yang diperlukan yaitu analisis kuantitas, analisis kualitas dan analisis tingkat
kematangan material organic, juga korelas hidrokarbon dengan batuan induk.
1.

Analisis Kuantitas Material Organik


Kuantitas atau jumlah hidrokarbon yang dihasilkan pada suatu batuan

induk, pada prinsipnya berhubungan dengan kandungan material organk di


dalamnya. Faktor kuantitas material organic umumnya disebut Karbon Organik
Total atau Total Organik Carbon (TOC). Nilai TOC dapat diperoleh dari proses
pemanasan. Kandungan TOC yang tinggi menunjukkan batuan cukup mampu
untuk memproduksi hidrokarbon. Kandungan TOC yang rendah tidak perlu
dilakukan analisis karena tidak menghasilkan hidroarbon yang baik.
Kandungan TOC yang cukup untuk memproduksi hidrokarbon adalah
0.5% untuk batuan serpih atau non karbonat dan 0.3% untuk batuan karbonat
(Tissot dan Welte, 1984 ).
%TOC

KUALITAS

<0.5

Sangat Buruk

0.5 1

Buruk

12

Cukup

24

Baik

4 12

Sangat Baik

>12

Serpih Minyak / Batubara

Nilai Kuantitas dan Kualitas Material Organik pada Suatu Batuan


(Waples,1985)
2.

Analisis Kualitas Material Organik


Rock-Eval Pyrolysis dilakukan untuk mengetahu tipe dan kematangan dari

material organik dan untuk mengetahui potensi hidrokarbon. Analisis ini terdiri
dari pemanasan temperatur pada oven pirolisis dengan sedikit sampel yang secara
kuantitatif dan selektif menentukan kandungan hidrokarbon bebas pada sampel

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

dan kandungan senyawa hidrokarbon dan oksigen (CO2) yang lepas selama
peretakan kandungan organik yang tidak bisa diekstraksi pada sampel.
Selama pemanasan, hidrokarbon yang sudah ada pada batuan (S1) yang
dianggap

setara

dengan

jumlah

bitumen

pada

batuan

tersebut

akan

tervolatilisasikan untuk pertama kali. Kemudian pirolisis berlanjut hingga


munculnya aliran hidrokarbon kedua dari penguraian termal (S2). Temperatur
teringgi pada saat aliran hidrokarbon S2 mencapai maksimum disebut Tmax. S2
merupakan indikator penting dalam penentuan kualitas material organik karena
mengindikasikan kemampuan kerogen dalam memproduksi hidrokarbon saat ini.
Selain

mengeluarkan

hidrokarbon,

pada

proses

pirolisis

kerogen

juga

mengeluarkan sejumlah karbon dioksida (S3).

Diagram Skematik Rock-Eval Pyrolisis (Diadaptasi dari Waples, 1985)


Setelah parameter S1, S2, S3 dan Tmax didapat, maka dapat dihitung
Oxygen Index (OI) dan Hidrogen Index (HI) dalam kerogen serta nilai Oil
Production Index (OPI) dan Potential Yield (PY). Dengan memplot nilai OI dan
HI pada diagram Van Krevelen didapat jalur evolusi kerogen.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Berikut rumus perhitungan Hidrogen Index (HI), Oxygen Index (OI), Oil
Production Index (OPI), dan Potential Yield (PY)
HI = (100 x S2) / TOC
OI = (100 x S3) / TOC
OPI = S1 / (S1+S2)
PY = S1+S2

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Hidrogen Indeks
Tipe Kerogen

Jenis Hidrokarbon
S2 / S3

(mg HC/g TOC)

yang Dihasilkan

>600

>15

Minyak

II

300-600

10-15

Minyak

II/III

200-300

5-10

Campuran minyak
dan gas
III

50-200

15

IV

<50

<1

Gas
Tidak ada
hidrokarbon

Tipe Kerogen dan Kecenderungan Jenis Hidrokarbon Berdasarkan


Hidrogen Indeks dan S2/S3 (Peters & Cassa, 1994)
Setelah diperoleh nilai HI dan OI, nilai tersebut kemudian diplot kedalan
diagram Van Krevelen, sehingga diperoleh jalur evolusi kerogen atau tipe kerogen
yang dihasilkan.

Diagram Van Krevelen (Dimodifikasi dari Espitalie et al., 1977

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

dalam Tissot, 1978)

3.

Analisis Tingkat Kematangan Material Organik


Evolusi termal dari batuan induk selama diagenesis, katagenesis dan

metagenesis dapat merubah parameter fisika dan kimia dari material


organik.Parameter

tersebut

dapat

dianggap

sebagai

indikator

maturasi/

kematangan yang diperoleh dari hasil pengamatan optikal dari kerogen, analisis
fisikokimia dari kerogen serta analisis kimia dari bitumen (oil).
a.

Vitrinite Reflectance (Ro)


Pengukuran pemantulan vitrinit dilakukan dengan mengamati vitrinit pada

sinar langsung yang kemudian diukur pantulannya oleh sebuah alat fotometer.
Untuk mengetahui tingkat kematangan batuan induk digunakan dua parameter
tingkat suhu pematangan berdasarkan hasil pengukuran refleksitansi vitrinit dan
suhu pematangan (Tmax) dari pirolisis batuan
b.

Penentuan Tmax pada Rock-Eval Pyrolisis


Hidrokarbon akan mulai terbentuk apabila temperatur maksimumnya telah

terapai. Oleh sebab itu temperatur maksimum dapat digunakan sebagai salah satu
indikator kematangan. Nilai Tmax diperoleh bersamaan dengan pencatatan
parameter S1, S2 dan S3 pada Rock-Eval Pyrolisis, dan Tmax adalah puncak S2.
Tingkat
Kematangan

Rock-Eval Pirolisis
OPI

Ro (%)

TAS

Tmax (0C)

0.2-0.6

<435

<0.10

Awal

0.6-0.65

- 4/5

435-445

0.10 0.15

Puncak

0.65-0.9

- 4/5

445-450

0.25 0.40

Akhir

0.9-1.35

56

450-470

>0.40

>1.35

>6

>470

Termal
Belum matang
Matang

Mikroskopis

Lewat matang

S1/(S1+S2)

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Klasifikasi Tingkat Kematangan Material Organik Berdasarkan Analisi


Mikroskopis dan Rock-Eval Pyrolisis (Peters & Cassa, 1994)
c.

Penentuan Carbon Preference Index (CPI)


CPI merupakan salah satu indikator kematangan material organik yang

diperoleh dari kromatografi pada bitumen.CPI adalah rasio n-alkana bernomor


ganjil dengan genap. Dominasi n-alkana nomor ganjil terdapat pada sedimen di
lingkungan dangkal. Dominasi ini akan berkurang seiring penambahan
kematangan sampai jumlah n-alkana ganjil seimbang dengan n-alkana genap yang
menunjukkan late mature - post mature.
4.

Korelasi Hidrokarbon dengan Batuan Induk


Teknik korelasi geokimia secara garis besar dapat dibagi menjadi dua

metode utama yaitu bulk methods dan molecular methods. Bulk methods meliputi
karakteristik fisik, fraksinasi komposisi, konsentrasi elemen dan rasio isotop.
Sedangkan molecular method melibatkan paramater fosil geokimia atau yang
sering disebut biomarker.
a.

Bulk Methods
Karakteristik fisik meliputi warna, nilai API gravity dan viskositas.

Penggunaan parameter karakter fisik sebagai alat korelasi memiliki keterbatasan


karena bersifat sangat kasar dan sangat terpengaruh oleh efek non-genetic seperti
biodegradasi, maturasi, migrasi dan water washing.
Fraksinasi komposisi merupakan separasi fraksi komposisional dari
minyak dan ekstrak batuan serta perbandingan dari distribusi fraksi-fraksi tersebut
baik

pada

minyak

maupun

pada

batuan

sumber

yang

diperkirakan

menggenerasikan minyak tersebut. Tahap ini meliputi analisis komposisi SANA


(saturate, aromatic, NSO, aspalten) dan SBC (hidrokarbon rantai lurus). Fraksi ini
merupakan parameter korelasi kimia pertama yang masih sangat rentan
dipengaruhi oleh faktor non genetik, sehingga belum memadai untuk digunakan
sebagai alat korelasi.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

Konsentrasi elemen cukup umum digunakan sebagai parameter korelasi.


Teknik ini merupakan pengukuran konsentrasi sulfur dan elemen transisi lain
seperti vanadium dan nikel. Meskipun teknik ini sudah umum digunakan, tetapi
konsentrasi elemen juga rentan berubah karena pengaruh proses alterasi, sehingga
penggunaan teknik ini juga harus berhati-hati terhadap faktor biodegradasi dan
alterasi termal pada reservoir.
Dari keseluruhan parameter korelasi dengan bulk method, maka rasio
isotop adalah parameter yang paling dapat dipercaya. Rasio isotop karbon yang
stabil pada minyak, ekstrak batuan induk, kerogen, dan fraksi kromatografi gas
merupakan alat korelasi yang baik. Ada aturan yang mengatakan bahwa minyak
harus lebih ringan secara isotopis sekitar 0.5-1.5% dibandingkan kerogen
sumbernya (Peters et.al, 1989). Rasio isotop karbon dari fraksi komponen yang
bersifat soluble seperti hidrokarbon aromatik relatif tidak terpengaruh oleh
migrasi dan biodegradasi ringan sampai sedang, sedangkan rasio isotop karbon
dari fraksi yang lain seperti hidrokarbon alifatik dapat bervariasi karena
dipengaruhi oleh proses non genetic
b.

Molecular Methods
Molecular methods yang merupakan metode yang cukup terpercaya dalam

melakukan korelasi melibatkan penggunaan biomarker yang diperoleh dari Gas


Chromatography-Mass

Spectrometry

(GCMS).

Pada

dasarnya

parameter

biomarker untuk korelasi haruslah mudah diisolasi dan dikarakterisasi, tetapi


memiliki properti fisika dan kimia yang serupa seperti polaritas, kelarutan dan
berat molekul. Steroid dan triterpenoid merupakan biomarker yang cukup dapat
dipercaya untuk melakukan korelasi.
Gas Chromatography-Mass Spectrometry merupakan metode yang
digunakan untuk mengevaluasi biomarker dengan prinsip kerja, yaitu:
1. Separasi komponen oleh kromatografi gas
2. Transfer dari komponen yang terseparasi ke ruang ionisasi dari
spektrometri massa

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

3. Ionisasi
4. Analisis massa
5. Deteksi ion oleh electron multiplier
6. Akuisisi, pemrosesan, dan penyajian data oleh computer
GCMS dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi
komponen berdasarkan waktu retensi, pola elusi dan pola fragmentasi spektrum
massa yang mencirikan strukturnya. Data GCMS diperoleh dengan menggunakan
kolom kapiler beresolusi tinggi (sekitar 50 m), spektrometer massa dan rapid
scanning (Peters dan Moldowan, 1993)
Pada kromatografi gas, fraksi aromatik atau jenuh disuntikan melalui suatu
syringe. Molekul yang lebih besar akan terperangkap pada fase stasioner pada
kepala GC, proses ini disebut cold trapping. Suhu dinaikkan secara bertahap
oleh oven sehingga komponen yang terperangkap akan bergerak maju. Pada GC,
setiap sampel yang diinjeksi akan diuapkan dan dicampur dengan gas pembawa
yang inert seperti He. Gas ini (fase mobile) dan sampel bergerak melewati kolom
kapiler tipis yang panjang yang bagian dalamnya dilapisi film tipis dari cairan
nonvolatil (fase stasioner). Komponen-komponen akan diseparasikan saat sampel
ditangkap oleh fase stasioner dan dilepaskan ke fase mobile.
Setelah komponen dipisahkan oleh GC, maka selanjutnya akan ditransfer
ke spektrometer massa (MS) untuk dianalisis. Molekul yang masuk akan
diionisasi dengan cara ditembak oleh elektron sehingga akan membentuk ion
molekuler. Ion ini akan dianalisis berdasarkan rasio massa dengan muatannya
(m/z). Hasilnya adalah pola fragmentasi atau spektrum massa dari molekul
tersebut. Setelah dilakukan korelasi terhadap parameter seperti pada, dilakukanlah
integrasi dengan data seismik dan data log geokimia atau data log geofisika untuk
merekonstruksi peta distribusi source rock (geochemical map).
Log geokimia biasanya berisi data Rock-Eval Pyrolisis, Total Organic
Carbon (TOC), Vitrinite Reflectance (Ro), serta litologi yang berguna dalam

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

mengidentifikasi keterdapatan batuan induk, evolusi termal, serta keterdapatan


hidrokarbon in-situ maupun yang telah bermigrasi.
Peta distribusi source rock (geochemical map) dapat direkonstruksi dari
beberapa log geokimia yang dikombinasikan dengan data seismik. Dengan data
seismik, maka dapat diperkirakan perkiraan distribusi source rock serta
kemungkinan terjadinya migrasi sekunder baik melalui mekanisme pensesaran
(faulting) maupun perangkap stratigrafi.
3.4

Tahap Pembahasan dan Penyusunan Laporan


Tahap ini merupakan hasil akhir dari penelitian yang berupa pembahasan

dari awal hingga akhir penulis membuat Tugas akhir ini yang secara sistematis
disusun dalam sebuah laporan yang terdiri dari pendahuluan, tinjauan pustaka,
metode penelitian, pembahasan, dan kesimpulan serta saran.

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

PENUTUP

Demikian proposal tugas akhir ini saya ajukan dengan harapan dapat
menjadi bahan pertimbangan dalam pengajuan Program Tugas Akhir yang
ditujukan kepada PT Pertamina EP. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan
berkah dan kelancaran pada kegiatan ini sehingga dapat berjalan dengan lancar
dan memberikan manfaat bagi semua pihak. Atas perhatian yang telah diberikan,
saya ucapkan terima kasih.

REKOMENDASI :
Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Jl. Raya Bandung Sumedang
KM.21 Jatinangor 45363 Telp./Fax. : (022) 7796-545 email : ftg@unpad.ac.id

Jatinangor, 24 Januari 2014


Mahasiswa Pemohon,

Vera Christanti Agusta


270110100068

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

DAFTAR PUSTAKA

Koesoemadinata, R. P., 1980, Geologi Minyak dan Gas Bumi, Penerbit ITB,
Bandung
Lewan, 1986, dalam Heru Tanjung, 2007, Skripsi kualitas, kuantitas dan
kematangan

material

organik

pada

batuan

induk.

Universitas

Padjajaran, Bandung.
Peters, KennethE., and J. Michael Moldowan, 1993, The Biomarker Guide,
Prentice-Hall Inc, New Jersey
Tissot and Welte, 1984, dalam Heru Tanjung, 2007, Skripsi kualitas, kuantitas
dan kematangan material organik pada batuan induk. Universitas
Padjajaran, Bandung.
Tearpock dan Biscke, 1991, dalam Heru Tanjung, 2007, Skripsi kualitas,
kuantitas dan kematangan material organik pada batuan induk.
Universitas Padjajaran, Bandung.
Waples.1985, dalam Heru Tanjung, 2007,Skripsi kualitas, kuantitas dan
kematangan

material

Padjajaran, Bandung.

organik

pada

batuan

induk,

Universitas

Proposal Tugas Akhir


Vera Christanti Agusta
270110100068

CONTACT PERSON:
VERA CHRISTANTI AGUSTA
NPM 270100100068
No.HP : 085692058508
Email : vera.christanti@yahoo.com