Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Metode pembelajaran merupakan hal yang sangat penting di dalam proses
belajar mengajar. Selama ini metode pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi
adalah metode pembelajaran konvensional. Metode pembelajaran ini lebih menonjolkan
peran dosen dibanding peran mahasiswa. Selain itu metode pembelajaran konvensional
cenderung berorientasi pada target penguasaan materi. Sehingga metode pembelajaran
ini hanya berhasil dalam pengembangan mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam
membekali anak didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
Untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa salah satu alternatif model
pembelajaran yang dapat dikembangkan adalah metode role playing untuk meningkatan
kualitas pendidikan yang optimal di perrguruan tinggi. Penggunaan metode role playing
bertujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan bagi mahasiswa dengan bermain
peran secara sederhana. Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahanbahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan mahasiswa.
Metode role playing adalah salah satu proses belajar mengajar yang tergolong dalam
metode simulasi.
Simulasi merupakan suatu istilah umum berhubungan dengan menyusun dan
mengoperasikan suatu model yang mereplikasi proses-proses perilaku. Metode
pengajaran simulasi terbagi menjadi 3 kelompok seperti yang dikemukakan berikut ini:
Sosiodrama : semacam drama sosial berguna untuk menanamkan kemampuan
menganalisa situasi sosial tertentu,
Psikodrama : hampir mirip dengan sosiodrama . Perbedaan terletak pada penekannya.
Sosiadrama menekankan kepada permasalahan sosial, sedangkan psikodrama
menekankan pada pengaruh psikologisnya dan Role-Playing : role playing atau bermain
peran bertujuan menggambarkan suatu peristiwa masa lampau.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Metode Role Playing
1.1. Pengertian Metode Role Playing
Role Playing merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan
pada upaya pemecahan masalah masalah yang berkaitan dengan hubungan
antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan
peserta didik (Amri, 2010).
Role Playing merupakan gambaran tentang suatu kondisi/ paradigma
tertentu pada satu hal di dalam masyarakat. Lewat skenario, pelaku yang
berlaku tanpa memberikan informasi verbal apapun akan terlihat respon siswa/
teman lain sesama actor (Dananjaya, (2011).
Role Playing merupakan metode mengajar yang mendramatisasikan
suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat
memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial (Taniredja,
2011).
1.2. Tujuan Metode Role Playing
Tujuan metode Role Playing (bermain Peran) adalah menggambarkan
suatu peristiwa masa lampau. Atau dapat pula cerita dimulai dengan berbagai
kemungkinan yang terjadi baik kini maupun mendatang. Kemudian ditunjuk
beberapa orang siswa untuk melakukan peran sesuai dengan tujuan cerita
(Sumiati, 2009).
Tujuan dari metode Role Playing (Bermain Peran) adalah peserta didik
mencoba mengekporasi hubunganhubungan antarmanusia dengan cara
memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para
peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai
dan berbagai pemecahan masalah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
tujuan metode Role Playing (bermain peran) adalah pembelajaran yang
bertujuan untuk memerankan materi ajar yang diharapkan nantinya siswa dapat
menerima dan menyerap materi yang diberikan oleh guru (Amri, 2010).
1.3. Prinsip dan Ciri-ciri Metode Role Playing
Prinsip dasar metode pembelajaran role playing:

a. Prinsip dasar dalam pembelajaran bermain sebagai berikut: Setiap anggota


kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan
dalam kelompoknya.
b. Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
adalah tim.
c. Kelompok mempunyai tujuan yang sama.
d. Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab
yang sama diantara anggota kelompoknya.
e. Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
f.

Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan


keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.

g. Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan


secara individual materi yang ditangani dalam kelompok bermain
Sedangkan ciri-ciri metode role playing adalah sebagai berikut :
a. Siswa dalam kelompok secara bermain menyelesaikan materi belajar sesuai
kompetensi dasar yang akan dicapai.
b. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbedabeda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang dan rendah. jika mungkin
anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan jender.
c. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing
individu.
1.4. Kelebihan dan kelemahan Metode Role Playing
Dalam pelaksanaan metode pembelajaran Role Playing (bermain peran) memiliki
kelebihan dan kelemahan yang harus diketahui oleh guru. Menurut Roestiyah
(2008), kelebihan metode Role Playing (bermain peran) adalah:
a. siswa lebih tertarik perhatiannya pada saat pembelajaran,
b. melatih siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran,
c. memunculkan rasa tanggung jawab terhadap peran yang dilakoni,
d. siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif,
e. bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah
dipahami orang lain.
Sedangkan menurut Hamalik (2012) kelebihan model Role Playing, yaitu waktu
bermain peran, siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dan

pendapat tanpa mengkhawatirkan mendapatkan sangsi. Bermain peran


memungkinkan para siswa mengidentifikasi situasi-situasi dalam dunia nyata dan
dengan ide-ide orang lain. Dilihat dari kelebihan-kelebihan bermain peran yang
dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa berhasilnya pemeran tersebut
bergantung pada kegiatan yang dilakukan siswa terutama pada analisis sebagai
tindak lanjutnya.
Adapun kelemahan metode Role Playing (bermain peran) Menurut Tandiredja
(2011) yaitu:
a. bila guru tidak memahami langkah-langkah pelaksanaan metode ini akan
mengacaukan kegiatan berlangsungnya role playing,
b. memakan waktu yang cukup lama,
c. sebagaian besar anak yang tidak ikut bermain peran mereka menjadi kurang
aktif,
d. memerlukan tempat yang cukup luas,
e. kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan penonton.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa guru harus lebih menguasi langkah
pembelajaran. Karena apabila pelaksanaan bermain peran mengalami
kegagalan bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus tujuan
pembelajaran tidak tercapai.
1.5. Langkah-langkah metode Role Playing (bermain peran)
Menurut Ngalimun (2012: 174) langkah-langkah model pembelajaran Role
Playing adalah
a. guru menyiapkan scenario pembelajaran,
b. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut,
c. pembentukkan kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh
pelakon,
d. presentasi hasil kelompok,
e. bimbingan kesimpulan dan refeksi.
Sedangkan menurut Shaftel dalam joyce (2009: 332) bahwa Role Playing
terdiri dari sembilan langkah:
a. Memanaskan suasana kelompok;
b. memilih partisipan;
c. mengatur setting tempat kejadian;
d. menyiapkan peneliti;
e. Pemeranan;
f. diskusi dan evaluasi;
g. memerankan kembali;
h. berdiskusi dan mengevaluasi;
i. saling berbagi dan mengembangkan pengalaman.

Dari pendapat para ahli tersebut, maka dalam penelitian ini peneliti
memilih langkah-langkah metode Role Playing yang dikemukakan oleh Shaftel
dalam joyce. Dari langkah-langkah metode Role Playing tersebut akan
menciptakan pembelajaran yang menarik dan diharapkan dapat meningkatkan
aktivitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan metode
pembelajaran Role Playing (bermain peran) menurut Roestiyah (2008:91) yaitu:
a.
Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan teknik
ini, bahwa dengan metode ini siswa diharapkan dapat memecahkan masalah
hubungan sosial yang aktual ada dimasyarakat. Maka guru menunjuk
beberapa siswa yang akan berperan, dan siswa yang lain mengamati dengan
tugas-tugas tertentu pula.
b.
Guru harus memilih masalah yang urgen, sehingga menarik minat anak.
Ia mampu menjelaskan dengan menarik, sehingga siswa terangsang untuk
berusaha memecahkan masalah itu.
c.Agar siswa memahami peristiwanya, maka guru harus bisa menceritakan
sambil mengatur adegan yang pertama.
d.
Bila ada kesediaan sukarela dari siswa untuk berperan, harap ditanggapi
tetapi guru harus mempertimbangkan apakah ia tepat untuk perannya itu.
Bila tidak ditunjuk saja siswa yang memilih kemampuan dan pengetahuan
serta pengalaman seperti yang diperankan itu.
e.
Jelaskan pada pemeran-pemeran itu sebaik-baiknya, sehingga mereka
tahu tugas perannya, menguasi masalahnya pandai bermimik maupun
dialog.
f. Siswa yang tidak turut harus menjadi penonton yang aktif.
g.
Bila siswa belum terbiasa, perlu dibantu guru dalam menimbulkan kalimat
pertama dialog.
h.
Setelah Role Playing itu dalam situasi klimaks, maka harus diberhentikan,
agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat disikusikan
secara umum. Sehingga para penonton ada kesempatan untuk berpendapat,
menilai permainan dan sebagainya.
i. Sebagai tindak lanjut dari hasi diskusi, walau mungkin masalahnya belum
dipecahkan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru harus
mempertimbangkan hal-hal tersebut dalam melaksanakan metode
pembelajaran Role Playing agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang
diharapkan.

2. Metode Simulasi
2.1. Pengertian Metode Simulasi
Metode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk
mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun
fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam
kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek
di dalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek
penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi
penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang
dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan
keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan).Contoh lainnya, dalam sebuah
pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar
seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya.
Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar
akan ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus
kelompok, dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan
bermain peran. Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai
dirinya sendiri saat melakukan suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan
dilakukannya.
2.2. Tujuan Metode Simulasi
a. Melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

kehidupan sehari-hari.
Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.
Melatih memecahkan masalah.
Meningkatkan keaktifan belajar.
Memberikan motivasi belajar kepada siswa.
Melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok.
Menumbuhkan daya kreatif siswa.
Melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.

2.3. Jenis-jenis Metode Simulasi


a. Bermain peran (role playing)
Dalam proses pembelajarannya metode ini mengutamakan pola permainan
dalam bentuk dramatisasi. Dramatisasi dilakukan oleh kelompok siswa
dengan mekanisme pelaksanaan yang diarahkan oleh guru untuk
melaksanakan kegiatan yang telah ditentukan / direncanakan sebelumnya.
Simulasi ini lebih menitik beratkan pada tujuan untuk mengingat atau
menciptakan kembali gambaran masa silam yang memungkinkan terjadi

pada masa yang akan datang atau peristiwa yang aktual dan bermakna bagi
kehidupan sekarang.
b. Sosiodrama
Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan
yang menyangkut hubungan antara manusia. Dalam pembelajarannya yang
dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas belajar memecahkan
masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk
sosial. Misalnya, hubungan anak dan orangtua, antara siswa dengan teman
kelompoknya.
c. Permainan simulasi (Simulasi games)
Dalam pembelajarannya mahasiswa bermain peran sesuai dengan peran
yang ditugaskan sebagai belajar membuat suatu keputusan.
d. Peer Teaching.
Peer teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa
kepada teman-teman calon pengajar.
2.4. Prinsip dalam Proses Pelaksanaan Metode Simulasi
Proses simulasi tergantung pada peran guru/fasilitator. Ada empat prinsip yang
harus dipegang oleh fasilitator/guru, yakni sebagai berikut:
a. Penjelasan
Untuk melakukan simulasi pemain harus benar-benar memahami aturan
main. Oleh karena itu, pengajar/fasilitator hendaknya memberikan penjelasan
dengan sejelas-jelasnya tentang aktivitas yang harus dilakukan berikut
konsekuensi-konsekuensinya.
b. Mengawasi (refereeing)
Simulasi dirancang untuk tujuan tertentu dengan aturan dan prosedur main
tertentu. Oleh karena itu guru/fasilitator harus mengawasi jalannya simulasi
sehingga berjalan sebagaimana seharusnya.
c. Melatih (coaching)
Dalam simulasi, pemain/peserta akan mengalami kesalahan. Oleh karena itu
guru/fasilitator harus memberikan saran, petunjuk atau arahan sehingga
memungkinkan mereka tidak melakukan kesalahan yang, sama.
d. Diskusi
Dalam simulasi, refleksi menjadi bagian yang penting. Oleh karena itu,
setelah simulasi selesai, fasilitator harus mendiskusikan beberapa hal antara
lain: kesulitan- kesulitan, hikmah yang bisa diambil, bagaimana memperbaiki
kekurangan simulasi dan sebagainya. (Hamzah B Uno,2007:29)

2.5. Proses Pembelajaran Metode Simulasi


Menurut Joyce dan Weil (1980) dalam Udin (2001:66), model ini memiliki
4 tahap sebagai berikut:
a. Orientasi
1) Menyediakan berbagai topik simulasi dan konsep-konsep yang akan
diintegrasikan dalam proses simulasi.
2) Menjelaskan prinsip Simulasi dan permainan.
3) Memberikan gambaran teknis secara umum tentang proses simulasi.
b. Latihan bagi peserta
1) Membuat skenario yang berisi aturan, peranan, langkah, pencatatan,
bentuk keputusan yang harus dibuat, dan tujuan yang akan dicapai.
2) Menugaskan para pemeran dalam simulasi
3) Mencoba secara singkat suatu episode
c. Proses simulasi
1) Melaksanakan aktivitas permainan dan pengaturan kegiatan tersebut.
2) Memperoleh umpan balik dan evaluasi dari hasil pengamatan terhadap
performan si pemeran.
3) Menjernihkan hal-hal yang miskonsepsional
4) Melanjutkan permainan/simulasi
d. Pemantapan dan debriefing
1) Memberikan ringkasan mengenai kejadian dan persepsi yang timbul
selama simulasi.
2) Memberikan ringkasan mengenai kesulitan-kesulitan dan wawasan para
3)
4)
5)
6)

peserta.
Menganalisis proses
Membandingkan aktivitas simulasi dengan dunia nyata.
Menghubungkan proses simulasi dengan isi pelajaran.
Menilai dan merancang kembali simulasi.

2.6. Kelebihan dan Kelemahan Metode Simulasi


Wina Sanjaya (2007) menyatakan bahwa terdapat beberapa kelebihan
dan kelemahan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar.
a. Kelebihan Model pembelajaran ini di antaranya adalah:
1) Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi
situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga,
masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
2) Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui
simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai
dengan topik yang disimulasikan.
3) Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.

4) Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan


dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
5) Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses permbelajaran.
b. Kelemahan model pembelajaran ini, di antaranya adalah:
1) Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai
dengan kenyataan di lapangan.
2) Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat
hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
3) Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa
dalam melakukan simulasi.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA
Bruce Joyce & Marsha Weil. 1996. Models of Teaching. Boston, London, Toronto,
Sydney, Tokyo, Singapore: Prentice-Hall, Inc
http://id.wikipedia.org/wiki/simulasi
http://kukuhsilautama.wordpress.com
Winataputra, Udin S. 2001. Model-model pembelajaran Inovatif. Universitas Terbuka,
Jakarta.
Sanjaya, Wina (2007).Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Bandung.Kencana