Anda di halaman 1dari 10

GLOBALISASI; KAPITALISME VS SOSIALISME


DAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Nurhamzah

KARAKTERISTIK GLOBALISASI
Latar Belakang:
• Benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal
perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para
pedagang dari Cina dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui
jalan darat (seperti misalnya jalur sutera) maupun jalan laut untuk
berdagang.
• Eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol,
Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal
ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang
meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. Berbagai teknologi mulai
ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti
komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di
dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di
dunia.
• Di Indinesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-
perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport
dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British
Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan
multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.
• Perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runuh. Runtuhnya
komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah
jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya,
negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang
bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi
komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun
mulai kabur.
¨ ♦Diajukan dalam kegiatan LK I (Basic Training) HMI Komisariat Tarbiyah Cabang Kabupaten Bandung,
pada tanggal 22 Desember 2006 di Ponpes Husainiyyah-Cicalengka Bandung.
*∗Wabendum Internal Badko HMI Jawa Barat periode 2006-2008.
• Globalisasi merupakan isu fenomenal sepanjang akhir abad ke-20.
Secara historis, sebenarnya globalisasi bukanlah fenomena baru dalam
sejarah peradaban dunia. Sebelum kemunculan nation state,
perdagangan, dan migrasi lintas benua sebagai cikal bakal globalisasi
telah sejak lama berlangsung.
• Globalisasi dalam pengertian modern muncul pada periode perang
dunia sebagai kulminasi dari ekspansi imperialisme. Pada masa itu,
paling tidak beberapa kawasan dunia di bawah supremasi bangsa-
bangsa Eropa, melakukan kontak satu sama lain di bidang militer,
politik, ekonomi, dan budaya.
• Pada satu sisi, globalisasi mengandung elemen-elemen integrasi, saling
ketergantungan, multilateralisme, keterbukaan, dan penetrasi satu
sama lain. Sementara di sisi lain, elemen-elemen dari fragmentasi
seperti disintegrasi, unilateralisme, menutup diri, dan isolasi juga turut
menguat.
• Globalisasi mengarah pada globalisme (globalism), penyempitan
wilayah (spatial compression), universalisme (universalism),
homogenitas (homogenity), dan konvergensi (convergency). Sementara
fragmentasi mengarah pada nasionalisme atau regionalisme, pelebaran
wilayah, separatisme, heterogenitas, dan divergensi. Kondisi yang
paradoks inilah yang kemudian memunculkan sikap pro dan kontra
terhadap globalisasi.
• Kekhawatiran muncul karena tidak semua negara memiliki daya tahan
yang tangguh untuk terlibat di dalam lalu lintas finansial global yang
tidak lagi mengenal batas-batas negara dan semakin sulit dikontrol oleh
pemerintah negara yang berdaulat.
• Persoalan besar yang dihadapi negara-negara berkembang dalam
menghadapi globalisasi dan tuntutan internasional untuk
meliberalisasikan perekonomiannya adalah biaya sosial dan politik yang
terjadi sebagai akibat terbukanya pasar barang (free trade) dan pasar
finansial. Dominannya ini lebih jauh akan memicu konflik antarnegara
untuk tetap mempertahankan kedaulatan dan menata kembali ruang
politik internasional.
• Indonesia pada tahun 2004 akan memasuki kancah perdagangan bebas
melalui pemberlakuan AFTA. Intinya adalah adalah kompetisi yang lebih
terbuka di antara para pelaku pasar, baik di tingkat lokal, regional,
maupun nasional.
• Lembaga pendidikan untuk sesegra mungkin mempersipakan output-
output yang siap bersaing dan berkompetisi dengan pihak luar.
• Pengembangan tersebut dilakukan dengan cara dimasifkannya
kerjasama secara intensif antara para steakholder pendidikan sebagai
created education dengan masyarakat sebagai needed education.
• Apalagi dengan diberlakukaanya UU No. 20 tahun 1999 tentang
Otonomi Daerah, dan UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pusat dan Daerah, semakin memberikan peluang
kepada lembaga-lembaga pendidikan, terutaman pendidikan Islam
untuk bisa merespon akan tantangan globalisasi tersebut. Kalau tidak,
maka pendidikan Islam akan secara sendirinya termarjinalkan (alience),
yang pada akhirnya akan menghilang selama-lamanya.

Konsekuensi:
o Globalisasi melemahkan kedaulatan nasional dan komunitas nasional,
kurangnya daya saing akan terlibas oleh kekuatan ekonomi super
power.
o Globalisasi membawa penyesuaian struktural secara masif, seperti
deregulasi industri dan penghapusan tarif, menciptakan pengangguran
ketidakpastian dan instabilitas ekonomi. Secara eksesif akan
membahayakan dan tidak perlu dilakukan.
o Globalisasi mengakibatkan hilangnya identitas kultur nasional,
sedangkan kemampuan untuk bertahan tergantung pada akses pada
kekuatan super power, eksploitasi terhadap negara kurang berkembang
akan terjadi.
o Globalisasi dominannya motivasi ekonomi akan menjurus pada
kebangkrutan moral dan sosial, lebih jauh akan memicu konflik
antarnegara untuk tetap mempertahankan kedaulatan dan menata
kembali ruang politik internasional.

Pengertian:
o Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal. Sebagai fenomena baru, globalisasi belum memiliki definisi
yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition),
sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya.
o Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses
globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan
menghapus identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal atau etnis akan
ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global.
o Kemajuan teknologi komunikasi memang telah membuat batas-batas
dan jarak menjadi hilang dan tak berguna. John Naisbitt (1988), dalam
bukunya yang berjudul Global Paradox ini memperlihatkan hal yang
justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Dia mengemukakan
bahwa semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin
kesukuan, dan berpikir lokal, bertindak global. Hal ini dimaksudkan kita
harus mengkonsentrasikan kepada hal-hal yang bersifat etnis, yang
hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri sebagai modal
pengembangan ke dunia internasional.
o Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang
diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang
memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut
pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya
yang paling mutakhir.

Teori Globalisasi
Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi,
terdapat tiga posisi teroritis yang dapat dilihat, yaitu:
1. Para globalis, percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal
akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen.
a. Para globalis positif dan optimistis, menanggapi dengan
baik perkembangan semacam itu dan menyatakan
bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia
yang toleran dan bertanggung jawab.
b. Para globalis pesimis, berpendapat bahwa globalisasi
adalah sebuah fenomena negatif, karena hal tersebut
sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama
AS) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan
konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu
yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka
kemudian membentuk kelompok untuk menentang
globalisasi (antiglobalisasi).
2. Para tradisionalis, tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi.
Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata
atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka beranggapan
bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama
ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan
tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
3. Para transformasionalis, berada di antara para globalis dan
tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat
dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat
bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi
teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai
"seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui
sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung".
Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal
tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.
KAPITALISME
o Ciri-ciri sistem ekonomi kapitalisme:
1. Segi proses; kapitalisme adalah sistem ekonomi yang hanya mengakui
satu hukum, hukum tawar-menawar di pasar. Jadi sistem ini adalah
sistem yang bebas: bebas dari berbagai pembatasan oleh penguasa
(orang boleh membeli dan menjual barang di pasar mana pun); bebas
dari pembatasan-pembatasan produksi (orang bebas mengerjakan dan
memproduksi apa pun yang dikehendakinya); dan bebas dari
pembatasan tenaga kerja (orang boleh mencari pekerjaan di mana pun,
ia tidak terikat pada tempat kerjanya). Dan yang menentukan itu semua
adalah keuntungan yang lebih besar.
2. Segi output; adalah nilai yang ingin dihasilkan oleh para peserta pasar
adalah nilai tukar dan bukan nilai pakai. Maksunya orang memproduksi
atau membeli sesuatu bukan karena ia mau menggunakannya,
melainkan karena ia ingin menjualnya lagi dengan keuntungan setinggi
mungkin, maka sistem ini adalah berorientasi pada uang.
o Ada dua perkembangan bagi dinamika kapitalisme:
1. Kecondongan untuk menyederhanakan susunan kelas-kelas sosial.
2. Pembentukan proletariat sebagai kelas militant dan revolusioner.
o Hukum keras kapitaliesme adalah persaingan. Demi persaingan,
produktivitas produksi harus ditingkatkan terus menerus, dengan
biaya produksi perlu ditekan serendah, sehingga hasilnya dapat
dijual semurah mungkin.
o Oleh karena itu, usaha-usaha kecil yang tidak dapat menyaingi lagi
akan kalah, dan lama kelamaan semua bentuk usaha semua
bidang produksi dijalankan secara kapitalistik (orang-orang yang
mempunyai modal yang besar yang akan tetap survive).
o Begitu pun dalam hal pertanian, yang akan diganti dengan usaha
produksi hasil pertanian (pertanian secara industri).
o Akhirnya hanya ada dua kelas sosial, yaitu pemilik modal yang
bermodal besar dengan jumlahnya sedikit dan kelas buruh.
Sedangkan kelas menengah, lama kelamaan akan bangrut dan
pada akhirnya akan menjadi kelas buruh. Sampai pada kelas buruh
tersebut sudah tidak lagi mempunyai daya beli, "merosot ke bawah
syarat-syarat eksistensi kelas mereka sendiri".
o Tapi pada akhirnya kelas buruh tersebut sudah semakin sadar akan
situasi tersebut, yang akhirnya mereka bersatu. Dan isu tersebut,
bukan lagi isu lokal tapi sudah menjadi isu regional dan nasional.
Kaum buruh memperjuangkan kepentingan mereka secara
bersama-sama (bergabung dalam suatu wadah yang dinamakan
serikat buruh).
o Dengan demikian, musuh mereka bukan lagi si pemilik pabrik lokal
melainkan para kapitalis sebagai kelas. Dan tujuan mereka bukan
lagi hanya kenaikan upah, melainkan penghapusan hak milik kaum
kapitalis atas alat-alat produksi.

SOSIALISME
o Diakibatkan dari ketertindasan kaum buruh (proletariat) yang sudah
tidak dapat lagi membeli sesuatu, karena para kapitalis sudah tidak lagi
menjual barang yang diproduksinya. Dengan demikian tinggal ada dua
pilihan saja, mati atau memberontak.
o Pada saat kaum proletariat semakin miskin, kesadaran mereka semakin
mantap, yang pada akhirnya semangat juang pun semakin kokoh dan tak
terpatahkan untuk memberontak. Maka, terjadilah yang dinamakan
dengan revolusi sosialis.
o Revolusi ini bersifat politis, artinya para proletariat merebut kekuasaan
negera dengan mendirikan "kediktatoran proletariat". Dengan kekuatan
Negara kaum proletariat menindas kaum kapitalis untuk mencegah
mereka memakai fasilitas dan kekayaan.
o Kalau perbedaan kelas yang ada di masyarakat sudah hilang, maka
“produksi sudah terpusat dalam tangan individu-individu yang
berasosiasi”. Negara lama kemalamaan akan hilang dominasinya, yang
ada hanyalah kekuatannya sendiri sebagai kelas. Akhirnya timbullah
masyarakat tanpa kelas.

IMPLIKASI GLOBALISASI TERHADAP EKSISTENSI PENDIDIKAN ISLAM


1. Perubahan IAIN menjadi UIN
Latar Belakang:
1. Derasnya arus informasi dan komunikasi, sebagai akibat dari kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk di dalamnya realitas
ekonomi, sosial dan politik, mau tidak mau dan memaksa ilmu-ilmu
agama harus berdialog dengan ilmu-ilmu lainnya.
2. Berfikir Komprehensif; ilmu-ilmu agama plus ilmu-ilmu umum sebagai
problem solving.
3. Ilmu Agama Memerlukan Ilmu Umum; ilmu umum sebagai membantu
ilmu-ilmu agama.
4. Self confident and familiar Mahasiswa Muslim.
5. Penghapusan Dikotomis; Agama vs. Umum, dan mengintegrasikan
dalam kesatupaduan.
6. Memenuhi Harapan Masyarakat Muslim; kuat dalam IPTEK dan kokoh
dalam IMTAQ.
7. Memenuhi Lapangan Kerja; mis. Bank Syariat Islam (Mu’amalat).

Ibnu Khaldun (1332-1406) mengatakan bahwa “Pendidikan Islam ternyata


tidak mengenal pendikotomian antara ilmu agama di satu sisi dan sains di
sisi lain”.
Implikasinya:
• Dibukanya fakultas/jurusan baru yang bernuansa ilmu-ilmu
umum (sains).
• Perubahan gelar kesarjanaan, sesuai dengan kualifikasinya
masing-masing.

2. Madrasah (Sekolah Umum Berciri Khas Islam)


Latar Belakang:
1. UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No.
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Tugas Pendidikan; Falsafat Yunani Kuno “Memanusiakan Manusia”:
a) Membantu murid agar memiliki kemampuan
mengendalikan diri (akhlak al-Karimah).
b) Membantu murid agar menjadi manusia yang mencintai
tanah airnya (civic education).
c) Membantu manusia agar memiliki pengetahuan.

Implikasinya:
Banyak madrasah yang menyelenggarakan pendidikan keahlian khusus dan
keterampilan, seperti madrasah model (MAN 1 Bandung, MA Cipasung
Tasikmalaya dan MAN Ciwaringin Cirebon) dan madrasah keterampilan
(MAN Garut dan MAN 2 Ciamis).

3. Pesantren Tradisional dan Modern


Macam-macam Pesantren:
Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 3 Tahun 1979 tentang Bantuan
kepada Pondok Pesantren, yang mengkategorikan Pondok Pesantren
menjadi:
1. Pondok Pesantren Tipe A, yaitu pondok pesantren yang seluruhnya
dilaksanakan secara tradisional.
2. Pondok Pesantren Tipe B, yaitu pondok pesantren yang
menyelenggarakan pengajaran secara klasik (madrasi).
3. Pondok Pesantren Tipe C, yaitu pondok pesantren yang hanya
merupakan asrama, sedangkan santrinya belajar diluar.
4. Pondok Pesantren Tipe D, yaitu pondok pesantren yang
menyelenggarakan sistem pondok pesantren dan sekaligus sistem
sekolah atau madrasah.

Metode Pembelajaran:
1. Metode Sorongan (menyodorkan).
2. Metode Wetonan/Bandongan.
3. Metode Musyawarah/Bahsul Masa’il (halaqah).
4. Metode Pasaran.
5. Metode Hapalan/Muhafzhah.
6. Metode Demonstrasi atau Praktek Ibadah

Kurikulum:
1. Pendidikan Agama atau Pengajian Kitab.
2. Pendidikan Dakwah.
3. Pendidikan Formal.
4. Pendidikan Seni.
5. Pendidikan Kepramukaan.
6. Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan.
7. Pendidikan Keterampilan/Kejuruan.
8. Pengembangan Masyarakat.
9. Penyelenggaraan Kegiatan Sosial.

Implikasinya:
Banyak pesantren yang selain mengajarkan kitab-kitab “kuning” juga
menyelenggarakan pendidikan keterampilan, seperti bertani, berkebun dan
keahlian lainnya, baik di pesantren salafi maupun modern.

Refference:

A. Tafsir, Filsafat Pendidikan Islami; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu, dan
Memanusiakan Manusia, Bandung: Rosdakarya, 2006.
Dede Mariana, Pemerintah Memasuki Era Globalisasi, Opini: Pikiran Rakyat,
Sabtu, 07 Januari 2006.
Endang Koswara, Peran Pendidikan Islam dalam Era Globalisasi, Jurnal Media
Pendidikan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Vol. XX, No. 1: Januari-April
2005.
Franz Magnis_Suseno, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke
Perselisihan Revisionisme, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
HTTP://ID.WIKIPEDIA.ORG/WIKI/GLOBALISASI
Nanat Fatah Natsir, Transformasi IAIN menjadi UIN; dalam Upaya Memadukan
Ayat-ayat Quraniyah dan Kawniyah, Pidato Rektor pada acara Dies
Natalis ke-37: 8 April 2005.
Pujiyono, Good Governance dan Kapitalisme, dalam situs:
http://www.suaramerdeka.com, 27 Juni 2006.
Rany Kurniasih, Eksistensi Pendidikan Pesantren di Era Globalisasi, Jurnal Media
Pendidikan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SDG Bandung, Vol. XXIII.
No. 3: September-Desember 2006.
Suyanto, Tantangan Pendidikan Hadapi Globalisasi, Kompas, Rabu, 16 Mei
2001