Anda di halaman 1dari 4

1.

Definisi
Diabetes Melitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan
herediter, dengan tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai
dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat
dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak
pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan
metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000).
Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya
jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses
nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. ( Askandar, 2001 ).
Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitamhitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah
sedang atau besar di tungkai. ( Askandar, 2001).
2. Etiologi
a. Diabetes Melitus
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat
menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya
memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang
dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
1. Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai
kegagalan sel beta melepas insulin.
2. Faktor faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara
lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan
karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan
kehamilan.
3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh
autoimunitas

yang

disertai

pembentukan

sel

sel

antibodi

antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi


insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan
jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang
terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.
b. Gangren Kaki Diabetik

Faktor faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki


diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen.
Faktor endogen : a. Genetik, metabolik
b. Angiopati diabetik
c. Neuropati diabetik
Faktor eksogen : a. Trauma
b. Infeksi
c. Obat
3. Tanda Gejala
Gejala klasik diabetes mellitus, dikenal dengan istilah trio-P, yaitu meliputi Poliuria
( banyak kencing), Polidipsi (banyak minum) dan Polipagio ( banyak makan).
1. Pouria ( banyak kencing), merupakan gejala klasik umum pada penderita
diabetes mellitus. banyaknya kencing ini disebabkan kadar gula dalam darah
berlebihan, sehingga rangsang tubuh untuk berusaha mengeluarkannya melalui ginjal
bersama air dan kencing. Gejala banyak kecing ini terutama menonjol pada wkatu
malam hari, yaitu saat kadar gula dalam darah relatif tinggi.
2. Polidipsi ( banyak minum ), sebenarnya merupakan akibat reaksi tubuh dari banyak
kencing tersebut. Untuk menghindari tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), maka
secara otomatis akan timbul rasa haus atau kering yang menyebabkan timbulnya
keingnan untuk terus minum selama kadar gula dalam darah belum terkontrol baik.
Sehingga dengan demikian, akan terjadi banyak kencing dan minum.
3. Polipagio (banyak makan), merupakan gejala klasik diabetes yang tidak menonjol.
Terjadinya banyak makan ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan gula dalam
tubuh meskipun kadar gula dalam darah tinggi. Sehingga demikian, tubuh berusaha
untuk memperoleh tambahan cadangan gula dari makanan yang diterima.
Gejala klasik pada penderita diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1. Adanya perasaan haus yang terus menerus
2. Sering buang air kecil dan jumlah yang banyak
3. Timbulnya rasa letih yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
4. Timbulnya rasa gatal dan peradangan kulit yang menahun.
Adapun penderita yang berat (parah), akan timbul beberapa gejala atau tanda yang lain, yaitu
sebagai berikut.
1. Terjadinya penurunan berat badan

2. Timbulnya rasa kesemutan (mati rasa) atau sakit pada tangan atau kaki
3. Timbulnya borok (luka) pada kaki yang tak kunjung sembuh
4. Hilangnya kesadaran diri.
Jika terjadi luka pada penderita akan sangat sulit sekali untuk sembuh. Hal ini berhubungan
dengan sistem kekebalan pada tubuh penderita diabetes yang cenderung menurun.
4. Patofisiologi
5. Komplikasi

Komplikasi akut
Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik (KAD) dan
Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar glukosa darah sangat
tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200 mg/dL), dan pasien biasanya tidak
sadarkan diri. Karena angka kematiannya tinggi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit
untuk penanganan yang memadai.
Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana terjadi penurunan
kadar glukosa darah sampai < 60 mg/dL. Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus
dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya
hipoglikemia misalnya pasien meminum obat terlalu banyak (paling sering golongan
sulfonilurea) atau menyuntik insulin terlalu banyak, atau pasien tidak makan setelah minum
obat atau menyuntik insulin.
Gejala hipoglikemia antara lain banyak berkeringat, berdebar-debar, gemetar, rasa lapar,
pusing, gelisah, dan jika berat, dapat hilang kesadaran sampai koma. Jika pasien sadar, dapat
segera diberikan minuman manis yang mengandung glukosa. Jika keadaan pasien tidak
membaik atau pasien tidak sadarkan diri harus segera dibawa ke rumah sakit untuk
penanganan dan pemantauan selanjutnya.

Komplikasi kronik
Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol dalam waktu lama akan menyebabkan
kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Pembuluh darah yang dapat mengalami kerusakan
dibagi menjadi dua jenis, yakni pembuluh darah besar dan kecil.
Yang termasuk dalam pembuluh darah besar antara lain:

Pembuluh darah jantung, yang jika rusak akan menyebabkan penyakit jantung
koroner dan serangan jantung mendadak

Pembuluh darah tepi, terutama pada tungkai, yang jika rusak akan menyebabkan luka
iskemik pada kaki

Pembuluh darah otak, yang jika rusak akan dapat menyebabkan stroke

Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) misalnya mengenai pembuluh darah retina
dan dapat menyebabkan kebutaan. Selain itu, dapat terjadi kerusakan pada pembuluh darah
ginjal yang akan menyebabkan nefropati diabetikum. Untuk lebih jelasnya baca pada artikel
gagal ginjal.
Saraf yang paling sering rusak adalah saraf perifer, yang menyebabkan perasaan kebas atau
baal pada ujung-ujung jari. Karena rasa kebas, terutama pada kakinya, maka pasien DM
sering kali tidak menyadari adanya luka pada kaki, sehingga meningkatkan risiko menjadi
luka yang lebih dalam (ulkus kaki) dan perlunya melakukan tindakan amputasi. Selain kebas,
pasien mungkin juga mengalami kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, lebih terasa sakit di
malam hari serta kelemahan pada tangan dan kaki. Pada pasien yang mengalami kerusakan
saraf perifer, maka harus diajarkan mengenai perawatan kaki yang memadai sehingga
mengurangi risiko luka dan amputasi.
Read more: http://diabetesmelitus.org/komplikasi-diabetes-melitus/#ixzz2gd8W1QbK
6. Dx
7. Intervensi