Anda di halaman 1dari 11

TINJAUAN PUSTAKA

GALL BLADDER

OLEH :
I P G A Suryatama Dharmadi (1102005097)

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


MADYA
DI SUB BAGIAN BEDAH DIGESTIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RSUP SANGLAH
2015

DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Daftar isi

ii

BAB I PENDAHULUAN .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA ...

BAB I
PENDAHULUAN
Sistem pencernaan merupakan salah satu sistem yang penting bagi manusia. Melalui
sistem pencernaan ini manusia dapat memproses makanan yang mereka konsumsi sehingga
nantinya dapat menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Dalam proses pencernaan ini terlibat beberapa organ yang terdapat dalam rongga perut manusia.
Salah satu organ yang terlibat adalah kandung empedu atau gall bladder.
Kandung empedu merupakan organ yang berperan untuk mengekskresikan emperu yang
sudah dipekatkan menuju ke duodenum. Cairan empedu ini terdiri dari beberapa komponen dan
memiliki peranan penting untuk sistem pencernaan terutama di bagian usus. Sebagai contohnya
adalah garam empedu. Garam empedu memiliki efek penting yakni menurunkan tegangan
permukaan dan emulsifikasi dari lemak sebagai persiapan terjadinya rearsorbsi di bagian usus
halus1.
Sama halnya dengan organ lainnya dalam tubuh kandung empedu ini memiliki beberapa
kelainan dan ganguan yang dapat terjadi. Berikut akan kita bahas lebih jauh mengenai anatomi,
fisiologi serta beberapa kelainan atau gangguan yang dapat terjadi pada kandung empedu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Gall Bladder
Gall Bladder atau kandung empedu terletak di bagian bawah dari liver atau hati tepat
di persimpangan antara lobus kiri dan lobus kanan dari hati. Gall bladder ini berbentuk
seperti buah pir (Pear-Shaped), dimana ukuran dari gall bladder ini umumnya adalah 7,5
12 cm, dan kapasitas normal dari gall bladder ini adalah 35 50 ml2.

Gambar 1. Gambaran Gall Bladder3


Gall bladder secara anatomis dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu fundus, corpus, dan
collum atau infundibulum. Dinding dari kandung empedu ini mengandung jaringan fibrosa
dan otot polos, dimana membran mukosa dari kandung empedu ini mengandung kelenjar
mukosa dan dilapisi oleh sel selapis silindris. Membran mukosa ini membentuk susunan
yang berlipat-lipat dan dalam. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan
penyerapan dan menyebabkan kandung empedu ini terlihat seperti sarang lebah3.

Gambar 2. Pembagian Gall Bladder3


Di bagian akhir dari kandung empedu terdapat saluran yang dikenal dengan duktus
cysticus. Duktus ini memiliki panjang kurang lebih 3 cm dan bagian lumennya biasanya
memiliki diameter 1 3 mm. duktus ini menghubungkan collum vesicae billiaris dan
duktus hepatikus komunis. Duktus ini berjalan di antara lembar omentum minus dan sejajar
dengan duktus hepatikus komunis. Gabungan dari duktus cystikus dan duktus hepatikus
komunis akan membentuk duktur choleductus (biliaris) yang akan menyalurkan cairan
empedu ke dalam duodenum3. Kandung empedu mendapat suplai darah dari arteri cystika.
Arteri cystika merupakan cabang dari arteri hepatika kanan2.
2.2. Fisiologi Gall Bladder
Gall bladder atau kandung empedu merupakan tempat penyimpanan dari cairan empedu.
Pada saa puasa, tahanan dari sphincter oddi sangat tinggi, dan cairan empedu diekskresikan
oleh hati menuju ke kandung empedu. Setelah makan, tahanan dari sphincter oddi
menurun, sehingga kandung empedu berkontraksi dan empedu masuk ke dalam
duodenum2. Jumlah cairan empedu yang dapat ditampung oleh kandung empedu ahanya
berkisar antara 30 60 ml. Namun, hasil sekresi empedu dari hati selama 12 jam ( kurang
lebih 450 ml) masih dapat disimpan di kandung empedu. Hal ini disebabkan oleh absorbsi
dari air, natrium, klorida dan beberapa elektrolit kecil4.
Funsi kedua dari kandung empedu ini adalah untuk melakukan proses pemekatan cairan
empedu melalui absorbsi dari air, sodium klorida dan bikarbonat dari cairan empedu yang

dilakukan oleh membran mukosa dari kandung empedu tersebut 1. Absorbsi ini dapat terjadi
akibat adanya transport aktif dari natrium melalui epitel kandung empedu, dan keadaan ini
diikuti oleh absorbsi sekunder ion klorida, air, dan zat-zat terdifusi lainnya. Normalnya
cairan empedu ini dapat dipekatkan hingga 5 kali, namun batas maksimal pemekatan
adalah 20 kali. Setelah terjadi pemekatan, akan terdapat perbedaan komposisi dari cairan
empedu pada saat setelah melewati kandung empedu. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada
tabel 14.
Tabel 1. Komposisi Cairan Empedu4
Air
Garam Empedu
Bilirubin
Kolesterol
Asam Lemak
Lesitin
Na+
K+
Ca++
ClHCO3-

Empedu Hati
97,5 g/dl
1,1 g/dl
0,04 g/dl
0,1 g/dl
0,12 g/dl
0,04 g/dl
145,04 mEq/L
5 mEq/L
5 mEq/L
100 mEq/L
28 mEq/L

Empedu Kandung Empedu


92 g/dl
6 g/dl
0,3 g/dl
0,3 0,9 g/dl
0,3 1,2 g/dl
0,3 g/dl
130 mEq/L
12 mEq/L
23 mEq/L
25 mEq/L
10 mEq/L

Pada saat makanan mulai dicerna, kandung empedu akan memulai proses pengosongan.
Adapun mekanisme pengosongan yang terjadi adalah dengan kontraksi ritmis dari dinding
kandung empedu dan relaksasi dari sphincter oddi. Kontraksi dari dinding kandung
empedu disebabkan oleh rangsangan hormon kolesistokinin. Rangsangan hormon ini
dipengaruhi oleh makanan berlemak yang masuk ke dalam duodenum. Selain rangsangan
dari hormon kolesistokinin, pengosongan kandung empedu juga dipengaruhi oleh
rangsangan saraf vagus dan enterik usus. Namun rangsangan yang ditimbulkan tidak sekuat
rangsangan dari hormon kolesistokinin4.

2.3.

Kelainan dan Gangguan pada Gall Bladder


Baik dari segi anatomi maupun fisiologi, gall bladder atau kandung empedu dapat
mengalami kelainan dan gangguan. Kelainan tersebut antara lain2:

a. Kelainan Kongengital
Pada awal perkembangan, lokasi kandung empedu sepenuhnya ada di intrahepatic.
Namun seiring dengan perkembangan bayi, maka kandung empedu akan keluar dan
terbentuk dengan sempurna. Namun pada beberapa kondisi akan terjadi beberapa
gangguan pada pembentukan kandung empedu, kelainan yang dapat terjadi meliputi :
a) Absence of the gall bladder
b) The Phrygian cap
c) Floating gall bladder
d) Double gall bladder
e) Absence of the cystic duct
f) Low insertion of the cystic duct
g) An accessory cholecystohepatic duct

Gambar 3.

Kelaian

Anatomi Gall

Bladder (a)

Double gall

bladder. (b)

Septum of the

gall

bladder(Phrygian cap). (c) Diverticulum of the gall bladder. (d) Variations in


cystic duct insertion
b. Torsion of the Gall Bladder
Kasus ini sering terjadi pada pasien usia lanjut dengan mucocel kandung empedu yang
lebih besar. Biasanya pada kasus ini pasien akan merasakan nyeri hebat dan akut pada
bagian perut atau abdomen.
c. Cholelitiasis / Gall Stone

Batu empedu atau gall stone dapat terbentuk akibat pengendapan dari kolesterol.
Koles terol ini ikut masuk ke dalam cairan empedu bersamaan dengan garam empedu.
Seperti yang kita ketahui, garam empedu ini dibentuk di dalam sel hepatik dengan
bantuan dari kolesterol. Pada saat sekresi garam empedu terjadi, 1 2 gram kolesterol
akan ikut masuk ke dalam kandung empedu. Jika seseorang mengkonsumsi lemak
dalam jumlah sedikit, maka otomatis sekresi dari empedu ini akan menurun, sehingga
akan mudah terjadi penumpukan dari kolesterol yang akhirnya akan mengakibatkan
terbentuknya batu empedu4.
Selain itu kelainan epitel kandung empedu juga dapat memicu terjadinya batu
empedu. Kelainan epitel yang dimaksud adalah peradangan pada epitel yang
disebabkan oleh infeksi kronis derajat rendah. Kelainan ini menyebabkan terjadinya
kelainan dalam penyerapan yang dilakukan oleh eitel kandung empedu. Kelainan yang
terjadi adalah meningkatnya penyerapan air dan garam empedu namun menurunnya
penyerapan dari kolesterok tersebut. Hal ini akan meninggalkan kristal-kristal
kolesterol yang akan bertumpuk dan membentuk batu empedu4.
d. Cholecystitis Akut
Cholecystitis merupakan suatu kejadian dimana kandung empedu mengalami
peradangan yang dapat disebabkan oleh beberapa hal. Berikut beberapa kejadian yang
dapat memicu terjadinya peradangan pada kandung empedu5 :
a) Cholecystitis Obstruktif (calculi) Akut
Kondisi ini terjadi apabila terdapat obstruksi pada duktus cyst. Obstruksi
ini akan menyebabkan oedema dan peradangan pada kandung empedu akibat
bertumpuknya cairan empedu dalam kandung empedu. Subatan biasanya terjadi
akibat batu empedu yang berukuran lebih dari 4 mm yang menutup duktus cyst.
b) Cholecystitis Acalculi Akut
Kondisi ini terjadi apabila terdapat peradangan pada bagian kandung
empedu. Namun sampai saat ini penyebab dari peradangan ini masih belum
diketahui secara pasti.
e. Cholecystitits Kronis
f. Mucocel pada Kandung Empedu
Kelainan ini terjadi akibat gangguan pada saluran empedu pada kandung empedu.
Sumbatan ini akan membuat cairan empedu akan tertimbun di dalam kandung empedu.
Hal ini juga akan memperlambat absorbsi yang terjadi di tengah kandung empedu,
namun sebaliknya mucosa kandung empedu akan terus mengekskresikan cairan mucoid

yang jika ini terus berlanjut maka akan terjadi penibisan dan atropi dari dinding
kandung empedu5.
g. Adenomyomatosis Gall Bladder
Gangguan ini terjadi akibat pertumbuhan berlebih sel otot polos pada kandung
empedu dan kelainan dari bentuk epithelial lining dari kandung empedu.

BAB III
SIMPULAN
Gall Bladder atau kandung empedu terletak di bagian bawah dari liver atau hati tepat
di persimpangan antara lobus kiri dan lobus kanan dari hati. Gall bladder ini berbentuk
seperti buah pir (Pear-Shaped). Di bagian akhir dari kandung empedu terdapat saluran
yang dikenal dengan duktus cysticus. Duktus ini memiliki panjang kurang lebih 3 cm dan
bagian lumennya biasanya memiliki diameter 1 3 mm. duktus ini menghubungkan collum
vesicae billiaris dan duktus hepatikus komunis. Gall bladder atau kandung empedu
merupakan tempat penyimpanan dari cairan empedu. Pada saat puasa, tahanan dari
sphincter oddi sangat tinggi, dan cairan empedu diekskresikan oleh hati menuju ke
kandung empedu. Setelah makan, tahanan dari sphincter oddi menurun, sehingga kandung
empedu berkontraksi dan empedu masuk ke dalam duodenum. Funsi kedua dari kandung
empedu ini adalah untuk melakukan proses pemekatan cairan empedu melalui absorbsi dari
air, sodium klorida dan bikarbonat dari cairan empedu yang dilakukan oleh membran
mukosa dari kandung empedu tersebut. Absorbsi ini dapat terjadi akibat adanya transport
aktif dari natrium melalui epitel kandung empedu, dan keadaan ini diikuti oleh absorbsi
sekunder ion klorida, air, dan zat-zat terdifusi lainnya. Normalnya cairan empedu ini dapat
dipekatkan hingga 5 kali, namun batas maksimal pemekatan adalah 20 kali. Setelah terjadi
pemekatan, akan terdapat perbedaan komposisi dari cairan empedu pada saat setelah
melewati kandung empedu.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ganong, F.W. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
2. Williams, S.N., Bulstrode, C.J.K., OConnel, P.R. 2008. Bailey & Loves Short Practice
of Surgery. UK : Hodder Education
3. Moore, K.L., Agur, A.M.R. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hippocrates
4. Guyton, A.C., Hall, J.E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
5. Cushchieri, A., Hanna., B.G. 2015. Essential Surgical Practice. U.S : CRC Press