Anda di halaman 1dari 12

Blok Digestive

Laporan Hasil Praktikum Mikrobiologi

Tes Widal

Oleh :

Putu Arthana Putra

H1A013051

Putu Pradipta Shiva Darrashcytha

H1A013052

Rohmatul Hajiriah Nurhayati

H1A013056

Wanda Rendraswara

H1A013062

I Gede Suaranta

H1A012023

Dosen Pengampu : dr. Dewi Suryani, M.Infec.Dis

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram


Nusa Tenggara Barat
2015BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Salah satu penyakit endemis dan masih menjadi permsalahan kesehatan di Indonesia

adalah Demam Tifoid (DT) atau Tifoid Abdominalis. Angka kejadian kasus Demam Tifoid
masih tinggi di Indonesia dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Penyakit akibat
infeksi Salmonella typhi dan paratyphi ini bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak-anak
karena penularannya melalui makanan dan minuman yang telah tercemar bakteri ini. Sanitasi
lingkungan dan pengolahan sampah yang buruk juga menjadi faktor resikonya (Menkes RI,
2006, Pegues dan Miller, 2013).
Pada tahun 2002, terdapat 22.000.000 kasus demam tifoid dengan 200.000 kematian
di seluruh dunia. Asia Tenggara dan selatan-tengah memiliki angka insidens tertinggi yaitu
>100 kasus per 100.000 populasi per tahun (Pegues dan Miller, 2013). Di Indonesia, menurut
data Menkes tahun 2006, angka kesakitan akibat demam tifoid cenderung meningkat dengan
rata-rata 500 per 100.000 penduduk dengan kematian 0,6 sampai 5 persen (Menkes RI,
2006). Berdasarkan data sistem rumah sakit (SIRS) tahun 2013, terjadi 9.747 kasus demam
tifoid dan paratifoid pada anak balita (Datin Menkes RI, 2015).
Penegakan diagnosis pada demam Tifoid dapat dilakukan dengan melakukan Tes
Widal. Tes widal merupakan uji serologi, yaitu reaksi aglutinasi antara antigen dengan
antibodi. Tujuan tes ini adalah untuk mengetahui adanya antibodi terhadap Salmonella typhi

dan juga titernya. Salmonella typhi telah lama diketahui memiliki 3 antigen yaitu antigen O,
H dan Vi (Menkes RI, 2006).
Antigen O merupakan antigen pada somatik bakteri Salmonella. Cara pembuatan
antigen O yang merupukan fosfolipid protein polisakarida adalah dengan merusak antigen H
dengan menambah alkohol/asam/pemanasan 100C selama 20 menit pada kuman yang motil
berusia muda maka flagel akan rusak dan tinggal badan kuman. Reaksi aglutinasi yang terjadi
bila antibodi ditambah dengan anti O berupa endapan seperti pasir yang tidak hilang bila
larutan dikocok. Antigen H adalah antigen termolabil yang terdapat pada flagel bakteri
Salmonella. Pada kuman yang motil berusia muda, protein flagel yang labil akan menjadi
stabil dengan menambahkan formalin. Reaksi aglutinasi yang terjadi bila antibodi ditambah
dengan anti H adalah berupa gumpalan seperti kapas. Gumpalan mudah hilang bila larutan
dikocok. Antigen Vi (Virulen) adalah antigen yang terdapat pada kapsul bakteri Salmonella
dan bersifat termolabil yang berperan di dalam patogenesis penyakit tifoid (Menkes RI,
2006).

1.2.

Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum tes Widal ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui dasar pemilihan dan pengambilan spesimen untuk Tes widal.
2. Untuk memahami langkah-langkah tes widal.
3. Agar mampu melakukan interpretasi hasil terhadap tes widal.

1.3.

Tempat dan Waktu Praktikum


Tempat

: Laboratorium Mikrobiologi FK Unram

Hari/Tanggal

: Selasa, 20 Oktober 2015

Waktu

: 14.00 15.00 WITA

BAB II
METODE

Terdapat variasi pemeriksaan widal. Pemeriksaan widal dapat dilakukan secara


konvensional (tube test) dan pemeriksaan widal secara cepat (rapid test). Dalam praktikum
ini aan dilakukan pemeriksaan widal rapid test secara kualitatif maupun kuantitatif.

Pemeriksaan widal secara cepat (rapid test)


Secara Kualitatif
1. Teteskan serum pasien 0,02 cc pada objek glass (sebanyak 4 buah)
2. Teteskan 4 antigen sebanyak satu tetes pada masing-masing weil
3. Dicampur dengan tusuk gigi sampai homogeny kemudian digoyang selama 2 menit
100 rpm apabila memakai alat regulator, selama 3-5 menit apabila manual
4. Diamati hasilnya:

Positif (+)

: adanya aglutinasi

Negative (-)

: tidak ada aglutinasi (homogeny)

5. Apabila hasil ini positif dilanjutan pemeriksaan secara kuantitatif

Secara kuantitatif
1. Dilakukan penipisan serum pasien dari 0,02 cc 0,01 cc 0,005 cc 0,0025 cc
2. Ditambah satu tetes antifen (positif tes kualitatif) pada masing-masing objek glass
3. Dicampur dengan tusuk gigi samai homogeny kemudian digoyang selama 2 menit
apabila memakai alat regulator, selama 5 menit apabila manual

4. Diamati adanya aglutinasi (+), titer ditulis pada hasil adalah penipisan terakhir yang
masih menunjukkan adanya aglutinasi (+)
5. Jenis-jenis titer, sbb:

1:80

1:160 : serum 0,01 cc (10 l)

1:320 : serum 0,005 cc (5 l)

1:640 : serum 0,0025 cc (2,5 l)

: serum 0,02 cc (20 l)

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Praktikum


Tabel 1. Hasil pemeriksaan kualitatif Uji Widal
KELOMPOK

AH

BH

Interpretasi Hasil :

Positif (+) : Bila terjadi aglutinasi


Negatif () : Bila tidak terjadi aglutinasi

Hasil Pengamatan :

Antigen Salmonella thypii O


Antigen Salmonella thypii H

: Negatif (-), tidak terjadi aglutinasi


: Negatif (-), tidak terjadi aglutinasi

Antigen Salmonella parathypii AH


Antigen Salmonellapara thypii BH

: Positif (+), terjadi aglutinasi


: Negatif (-), tidak terjadi aglutinasi

Karena didapatkan hasil yang positif makan kami melanjutkan pemeriksaan secara
kuantitatif.

Tabel 2. Hasil pemeriksaan kuantitatif Uji Widal


KELOMPO

1/80

1/160

1/320

1/640

Hasil Akhir

1/160

1/320

1/160

1/640

Interpretasi Hasil :

Positif (+) : Bila terjadi aglutinasi

Negatif () : Bila tidak terjadi aglutinasi

Hasil Pengamatan :
Dari pemeriksaan yang kami lakukan, kami mendapatkan adanya aglutinasi dari titer serum
20 l hingga titer serum 2,5 l
3.2 Pembahasan
Hasil pemeriksaan yang kami lakukan menunjukkan bahwa setelah titer serum yang
masing-masing terdiri atas 2,5 l, 5 l, 10 l, 20 l di tetesi dengan reagen Salmonella
typhii, terbentuk gumpalan pada semua titer serum karena tejadi reaksi antara antigen dengan
antibodi. Hal tersebut dapat dinyatakan sebagai hasil positif karena setelah ditetesi dengan

reagen terbentuk gumpalan atau aglutinasi dari reaksi tersebut, hal ini dapat berarti bahwa
serum tersebut terinfeksi oleh bakteri Salmonella typhii.
Namun hasil yang sesungguhnya dari laboratorium didapatkan hasil positif (antigen
yang dapat dideteksi) hanya sampai titer 10 l (1/160).
Disini kami akan sedikit membahas mengenai faktor yang dapat mempengaruhi
mengapa hasil pada setiap kelompok dapat berbeda dan mengapa pada kelompok kami bisa
didapatkan hasil positif pada semua titer yang kami gunakan (tes kuantitatif).

Mengapa tes kualitatif setiap kelompok bisa berbeda?


Ini bisa terkait dengan terjadinya positif palsu maupun negative palsu, beberapa hal
yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah sebagai berikut :
Penyebab positif palsu

Penyebab negative palsu

o Sebelumnya telah diimunisasi dengan o Tidak adekuatnya inoculum antigen


antigen salmonella

bakteri

o Rekasi silang dengan salmonella non o Status sebagai karier


typhoidal

o Kesulitan teknik maupun kesalahan

o Variablitas dan kurangnya standarisasi


dari preparat antigen
o Infeksi

dengan

dalam melakukan test ini


o Penggunaan antibiotic sebelumnya

malaria

dan o Variabilitas sediaan antigen di pasaran

enterobacteriae
o Penyakit lain seperti dengue

Mengapa tes kuantitatif setiap kelompok bisa berbeda beda?

Terutama pada kelompok kami, didapatkan hasil positif pada semua reagen yang kami coba
hal ini bisa dipengaruhi oleh :
1. Takaran serum yang digunakan kurang tepat, karena pada awal percobaan beberapa
kali kami mengalami masalah dengan alat pipet ukur pada kelompok kami
2. Takaran reagen yang tidak sama banyak, pada saat penetesan reagen kemungkinan
reagen diteteskan terlalu banyak dan tidak merata
3. Waktu melihat reaksi aglutinasi yang terlalu lama, dari awal meneteskan reagen ke
serum, mencampur sampai homogeny, dan menggoyangkan seharusnya dilakukan
dengan cepat dan dihitung 3-5 menit langsung, namun kelompok kami baru mulai
waktu pada saat menggoyangkannya saja
4. Pencahayaan yang kurang sehingga mengganggu dalam melakukan interpretasi, di
meja kelompok kami tidak terdapat lampu tambahan untuk melihat hasil sehingga
akhirnya kami berinisiatif menggunakan lampu pada telepon genggam kami masingmasing
5. Kemampuan praktisi dalam melakukan interpretasi yang kurang, karena kami baru
pertama kali melakukan percobaan dan belum mempunyai banyak pengalaman kami
masih agak ragu terhadap interpretasi hasil tersebut
6. Proses pencampuran yang tidak sampai homogen, karena dibutuhkan waktu yang
cukup cepat kemungkinan saat pencampuran antara reagen dan serum tidak tercampur
homogen
7. Cara penggunaan tusuk gigi yang salah dalam pencampuran (misalnya 1 sisi tusuk
gigi itu digunakan untuk semua sampel sehingga takaran serum dan reagennya tidak
tepat lagi)

BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Salah satu penyakit endemis dan masih menjadi permsalahan kesehatan di Indonesia
adalah Demam Tifoid (DT). Penyakit akibat infeksi Salmonella typhi dan paratyphi ini bisa
terjadi pada siapa saja termasuk anak-anak karena penularannya melalui makanan dan
minuman yang telah tercemar bakteri ini. Sanitasi lingkungan dan pengolahan sampah yang
buruk juga menjadi faktor resikonya.
Pemeriksaan widal merupakan salah satu pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi
demam tifoid. Tes widal dapat dilakukan secara konvensional (tube test) dan pemeriksaan
widal secara cepat (rapid test).
Hasil pemeriksaan yang kami lakukan menunjukkan bahwa setelah titer serum
(masing-masing terdiri atas 2,5 l, 5 l, 10 l, 20 l) di tetesi dengan reagen Salmonella
typhii, terbentuk gumpalan pada semua titer serum karena tejadi reaksi antara antigen dengan
antibodi. Hal tersebut dapat dinyatakan sebagai hasil positif karena setelah ditetesi dengan
reagen terbentuk gumpalan atau aglutinasi dari reaksi tersebut, hal ini dapat berarti bahwa
serum tersebut terinfeksi oleh bakteri Salmonella typhii. Namun hasil yang sesungguhnya
dari laboratorium didapatkan hasil positif (antigen yang dapat dideteksi) hanya sampai titer
10 l (1/160).
LAMPIRAN

PEMBAGIAN TUGAS

Pendahuluan

Metode
Hasil dan Pembahasan
Penutup
Editor

: I Gede Suaranta

: Wanda Rendraswara
: Putu Arthana P., Putu Pradipta Shiva D., Rohmatul Hajiriah N.
: Wanda Rendraswara
: Wanda Rendraswara

DAFTAR PUSTAKA

Datin Menkes RI. 2015. InfoDatin: Situasi Kesehatan Anak Balita di Indonesia. Diperoleh
tanggal

23

Oktober

2015,

dari

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-anakbalita.pdf.
Menteri Kesehatan RI. 2006. KMK RI Nomor 364 Tentang Pedoman Penendalian Demam
Tifoid.

Diperoleh

tanggal

23

Oktober

2015,

http://peraturan.bkpm.go.id/jdih/lampiran/KEPMENKES_364_2006.pdf.

dari

Pegues, David A, dan Samuel I. Miller. 2013. Salmonelosis. Dalam: (eds) alih bahasa; Brahm
U. Pendit, dkk. (eds) Harrison: Gastroenteropatologi & Hepatologi. Jakarta: EGC.
Tim Mikrobiologi FK UNRAM. 2015. Panduan Praktikum Mikrobiologi : Tes Widal.
Mataram; FK UNRAM