Anda di halaman 1dari 22

zonasi laut

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lautan

merupakan

habitat

terbesar

di

bumi.

Dibalik

selubung

kebiruannya, masih tersimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Hingga kini
sebagian besar kehidupan di laut dalam belum benar-benar diketahui. Masalah ini
menunjukkan betapa luasnya lautan dan begitu kompleksnya struktur serta kehidupan
organisme di dalamnya.
Lautan merupakan ekosistem alamiah yang produktif, unik dan mempunyai nilai
ekologis dan ekonomis yang tinggi. Kawasan laut memilki sejumlah fungsi ekologis berupa
penghasil sumberdaya, penyedia jasa kenyamanan, penyedia kebutuhan pokok hidup dan
penerima limbah(Bengen, 2002). Ekosistem pesisir dan lautan merupakan sistem akuatik
yang terbesar di planet bumi. Ukuran dan kerumitannya menyulitkan kita untuk dapat
membicarakannya secara utuh sebagai suatu kesatuan. Akibatnya dirasa lebih mudah jika
membaginya menjadi sub-bagian yang dapat di pahami serta di pelajari, selanjutnya
masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prisip-prinsip ekologi yang menentukkan
kekhasannya. Tidak ada suatu cara pembagian laut yang telah diajukan yang dapat diterima
secara universal.
Cara pembagian wilayah lingkungan laut yang telah banyak dipakai oleh para
ilmuwan dan pakar kelautan diseluruh dunia pada umumnya di landaskan pada berbagai
dasar seperti di bagi berdasarkan letaknya yakni ada laut tepi, laut tengah dan laut dalam.
Selain itu yang paling sering di gunakan dalam kajian hidrobiologi adalah pembagian
wilayah lautan atau yang lebih dikenal dengan zonasi, menggunakan pembagian zona
berdasarkan faktor-faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya yakni daerah pelagik

yang meliputi kolom air dan daerah bentik yang meliputi dasar laut dimana biota laut
hidup.
Pembagian zonasi lingkungan laut tersebut sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan
khususnya hidrobiologi, karena dengan memahami sifat fisik-kimia pada tiap-tiap zona
dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan berbagai organisme yang ada
pada tiap-tiap zona.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut di atas, maka dianggap perlu untuk
menyusun makalah mengenai zonasi lingkungan laut. Hal ini dapat dijadikan sebagai bahan
pembelajaran dan acuan dalam kegiatan diskusi untuk pengembangan materi lebih lanjut.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang hendak dikaji dalam makalah ini adalah menitik beratkan pada
pembagian zonasi lingkungan laut dan bagaimana pula karakteristik dari tiap-tiap zona
serta bagaimana kehidupan organisme yang hidup di tiap-tiap zona tersebut.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang hendak dicapai di dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1. Untuk mengetahui zonasi lingkungan laut
2. Untuk mengetahui karakteristik tiap-tiap zona lingkungan laut
3. Untuk mengetahui kehidupan organisme pada tiap-tiap zona lingkungan laut
D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1. Melatih dalam menyusun penulisan karya ilmiah.
2. Memberikan informasi mengenai zonasi suatu perairan laut karakter serta organisme yang
ada di dalamnya.
3. Sebagai bahan acuan dalam diskusi pengembangan materi Hidrobiologi.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan faktor-faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya yakni daerah
pelagik yang meliputi kolom air dan daerah bentik yang meliputi dasar laut dimana biota
laut hidup. Pada gambar 1 dapat dilihat pembagian zonasi lingkungan perairan laut.

A. Lingkungan Pelagik
Lingkungan pelagik merupakan lingkungan yang meliputi seluruh kolom air mulai dari
permukaan dasar laut sampai permukaan laut. Lingkungan pelagik mempunyai batas
wilayah yang meluas mulai dari garis pantai sampai wilayah laut terdalam (Romimohtarto,
2007). Dalam pembagian zona pelagik menjadi berbagai sub-zona digunakan berbagai
dasar misalnya tingkat kedalaman dan sudut pandang. Pembagian zona pelagik dapat
dipandang dari dimensi horizontal dan vertikal. Secara horizontal dapat dibagi menjadi dua
yaitu zona neritik yang meliputi daerah paparan benua dan lautan zona oseanik. Kedua zona
ini tidak ada batasan yang jelas karena adanya perbedaan secara geografik. Namun
demikian, batasan anatara kedua zona itu adalah 150-200 m (Ardi, 2011).
1. Zona Neritik

Ernawati (2011), mendefinisikan zona neritik merupakan daerah laut dangkal yang
masih dapat ditembus cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200
m. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton (ikan) dan bentos dapat hidup
dengan baik. Organisme yang ada dari Alga, Porifera, Coelenterata, berbagai jenis ikan dan
udang. Kelimpahan organisme pada daerah ini tinggi karena kandungan zat hara cukup
tinggi, zat-zat terlarut juga masih cukup bervariasi yang dikarenakan adanya tumpahan
berbagai zat terlarut dari daratan. Hal yang paling krusial adalah penetrasi cahaya pada
zona ini masih optimum sehingga asupan energi untuk produsen masih maksimal
(Romimohtarto, 2007).
2. Zona Oseanik
Zona oseanik merupakan wilayah ekosistem laut lepas yang kedalamannya mulai
dari yang tertembus cahaya sampai tidak dapat ditembus cahaya matahari sampai ke dasar,
sehingga bagian dasarnya paling gelap. Akibatnya bagian air dipermukaan tidak dapat
bercampur dengan air dibawahnya, karena ada perbedaan suhu. Batas dari kedua lapisan air
itu disebut daerah termoklin, Daerah ini banyak ikannya (Ernawati, 2011). Menurut
Romimohtarto (2007), daerah oseanik ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu epipelagik,
mesopelagik, batipelagik, dan abisopelagik. Effendy (2009) menyatakan bahwa pada zona
oseanik kecuali epipelagis memiliki parameter fisik dan kimia serta biologis sebagai
berikut:
a. Cahaya : Umumnya redup gelap gulita, sehingga tidak ada proses fotosintesis
b. Tekanan hidrostatis: Meningkat secara konstan sebanya 1 ATM (1 kg/cm 2), setiap
pertambahan kedalaman 10 meter. Sehingga dapat dikatakan bahwa tekanan hidrostatisk
yang bekerja di laut dalam sangat ekstrim
c. Suhu: Umumnya seragam, dengan kisaran 1 3 oC (kecuali wilayah hydrothermal vents
(>80oC) dan cold hydrocarbon seeps (<1 oC)
d. Salinitas: Umumnya seragam (35 permil), Pada daerah cold hydrocarbon seeps (hipersain
= 40 permil)
e. Sirkulasi air:Sangat lamban (< 5 cm/detik), tergantung pada bentuk dan topografi dasar
laut. Sikulasi air dan ventilasi dalam palung sangat menentukan kadar oksigen di laut dalam
f. Kadar Oksigen: Cukup untuk menghidupi seluruh organisme di laut dalam (DO= 4% s/d
6%; di perairan eufotik, DO= 3.5% s/d 7%),

Sumber oksigen utama: air permukaan laut

di Antartika dan Arktik yang kaya Oksigen, Air bersifat anoksik: Teluk Kau (Halmahera),
g.

Palung Carioca (Venezuela), Palung Santa Barbara (USA)


Tipe substrat: Terdiri atas substrat yang halus, Substrat berbatu di daerah mid-ocean

h.

ridge
Suplai makanan: Langka. Bergantung pada pakan yang diproduksi di tempat lain dan

terangkut oleh proses hidrodinamis ke wilayah laut dalam


i. Jenis pakan : Hujan plankton atau partikel organik lain, Jatuhan bangkai hewan besar atau
tumbuhan, Bakteri berlemak yang mudah dicerna (rata-rata populasi bakteri 2mgC/m 2),
a.

Bahan organik terlarut


Epipelagik
Zona epipelagik atau oseanik atas meluas dari permukaan sampai kedalaman 200 m.
Epipelagik ini masih di tembus oleh cahaya matahari sehingga proses fotosintesis oleh
organisme autotrof masih mungkin terjadi. Area ini juga meluas ke perairan neritik
sehingga ia bisa juga dikatakan bagian dari perairan neritik.
Epipelagik dibagi menjadi tiga bagian yaitu zona dekat permukaan dimana penyinaran
siang hari diatas optimal atau bahkan letal bagi fitoplankton. Penyinaran ini juga masih
terlalu tinggi bagi zooplankton. Di bawah zona tersebut dinamakan zona bawah-permukaan
yang merupakan tempat terjadinya pertumbuhan yang aktif sampai perairan yang agak
dalam, di mana fitoplankton yang tidak berbiak aktif masih terdapat berlimpah. Zona
ketiga atau area paling bawah merupakan tempat zooplankton yang biasa bermigrasi ke
permukaan pada malam hari dan kembali pada siang hari. Jadi pada zona epipelagik ini
organisme penghuninya cukup banyak hampir sama halnya pada daerah neritik

(Romimohtarto, 2007)
b. Mesopelagik
Mesopelagik merupakan perairan yang berada di bawah epipelagik yang meluas dari
200-1000 m. Lapisan ini bertepatan dengan lapisan terjadinya perubahan suhu dan tempat
terjadinya termoklin. Karena area ini penyinaran sudah hampir bahkan tidak ada, maka
tidak ada kegiatan produksi primer oleh produsen. Area ini kebanyakan dihuni oleh
konsumen primer yang memanfaatkan bangkai-bangkai organisme dari lapisan di atasnya.
Pada area ini tekanan lebih kecil dan persediaan makanan lebih banyak daripada lapisan
yang ada di bawahnya (Romimohtarto, 2007).

Ciri dari biota yang hidup di zona ini yakni warna hewan umunya abu-abu keperakan
atau hitam (ikan), ungu kelam (ubur-ubur) dan merah (crustacea), mata besar dan
penglihatan senja (tingginya pigmen rodopsin dan kepadatan sel batang pada retina akan
memberi kemampuan maksimum dalam melihat dan mendeteksi cahaya) dan
bioluminusens yaitu kemampuan memproduksi cahaya pada makhluk hidup, biasanya
dilengkapi oleh organ penghasil cahaya (fotofor) serta memiliki mulut besar, morfologi
c.

mulut, rahang, gigi yang mendukung efektifitas penangkapan mangsa (Efenndy, 2009).
Batipelagik
Batipelagik meluas dari kedalaman 1000-4000 m. Kondisi fisiknya seragam dan tidak
ada aktifitas produsen sehingga hanya ada konsumen skunder sperti ikan. Suhu pada area
ini sudah lebih rendah jika di bandingkan dengan lapisan diatasnya. Tumbuh-tumbuhan
masih ada sedikit atau juga tidak ada sama sekali (Romimohtarto, 2007).
Menurut Effendy (2009), penghuni zona ini secara umum terdiri dari iIkan yang
umumnya berwarna hitam kelam, sedangkan invertebratanya seakan tidak berpigmen (putih
cerah), ukuran mata sangat kecil, bahkan tidak bermata, bahkan ada yang memiliki mata
berbentuk pipa (ikan Argyropelecus) dan sebelah matanya lebih besar (cumi-cumi
Histioteuthis). Ikan yang ditemukan umumnya berukuran sangat kecil, namun invertebrata

yang hidup umumnya berukuran sangat besar


d. Abisopelagik
Abisopelagik merupakan area terdalam jika dibanding ketiga area lainnya. Biota laut
yang hidup di area ini cenderung bertahan terhadap kegelapan, suhu semakin rendah dan
tekananpun semakin tinggi. Organisme yang hidup di area ini tentu telah beradaptasi
bahkan berevolusi seperti halnya ikan yang memiliki antena penghasil cahaya yang berasal
dari senyawa kimia yang dihasilkan oleh sel-sel penyusun antenanya yang biasa di kenal
sebagai biopendar cahaya (biolumiscence). Selain itu ikan memiliki gelembung renang
yang lebih besar sehingga bisa melawan beratnya tekanan air. Gelembung renang akan
terperas oleh tekanan sehingga sedikit ruang untuk gas, akibatnya ikan sedikit lebih ringan
daripada berat air disekitarnya. Suhu yang rendah pada area ini juga mebuat reaksi
metabolisme menjadi lebih lambat. Pada area ini tidak ada lagi proses fotosintesis dan

tumbuh-tumbuhan yang hidup sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Perubahan suhu,
salinitas dan kondisi serupa jarang terjadi bahkan kalupun ada sangat kecil.
Kandungan CO2 terlarut pada area ini sangat tinggi sehinnga kapur mudah terlarut
dalam air. Hal ini ditunjukkan oleh pembentukan cangkang yang lembek dari organisme
yang hidup di area ini apa lagi kondisi air cenderung lebih tenang. Hal yang paling menjadi
karakteristik dari area ini adalah kurangnya ketersediaan makanan. Makanan hanya berasal
dari bangkai yang tenggelam sampai ke dasar. Sehingga tingkat kompetisi semakin tinggi
dan makanan ini bisa jadi faktor pembatas yang sangat kritikal di zona ini. Begitu juga
dengan kandungan oksigen terlarut sangat rendah sehingga bisa juga menjadi faktor
pembatas bagi organisme yang ada pada zona ini (Romimohtarto, 2007)
Pembagian wilayah laut secara vertikal dilakukan berdasarkan intensitas cahaya
matahari yang memasuki kolom perairan, yaitu zona fotik dan zona afotik. Zona fotik
adalah bagian kolom perairan laut yang masih mendapatkan cahaya matahari. Pada zona
inilah proses fotosintesa serta berbagai macam proses fisik, kimia dan biologi berlangsung
yang antara lain dapat mempengaruhi distribusi unsur hara dalam perairan laut, penyerapan
gas-gas dari atmosfer dan pertukaran gas yang dapat menyediakan oksigen bagi organisme
nabati laut. Zona ini disebut juga sebagai zona epipelagis. Pada umumnya batas zona fotik
adalah hingga kedalaman perairan 50-150 meter. Sementara itu, zona afotik adalah secara
terus menerus dalam keadaan gelap tidak mendapatkan cahaya matahari. Secara vertikal,
zona afotik pada kawasan pelagis juga dapat dibagi lagi kedalam beberapa zona, yaitu zona
mesopelagis, zona batipelagis dan zona abisopelagis (Dahuri et al, 2001).
B.

Lingkungan Bentik
Zona bentik meliputi semua lingkungan dasar laut di mana biota laut hidup melata,
memendamkan diri atau meliang, mulai dari pantai sampai ke dasar laut terdalam.
Romimohtarto (2007), membagi zona bentik menjadi zona litoral, dan abisal sedangkan
Aliv (2011), menambahkan zona batia antara litoral dan abisal.

1. Zona Lithoral/Intertidal
Daerah intertidal merupakan suatu daerah yang selalu terkena hempasan gelombang
tiap saat. Daerah ini juga sangat terpengaruh dengan dinamika fisik lautan yakni pasang

surut. Menurut Nybakken (1992) zona intertidal merupakan daerah yang paling sempit
diantara zona laut yang lainnya. Zona intertidal dimulai dari pasang tertinggi sampai pada
surut terendah. Zona ini hanya terdapat pada daerah pulau atau daratan yang luas dengan
pantai yang landai. Semakin landai pantainya maka zona intertidalnya semakin luas,
sebaliknya semakin terjal pantainya maka zona intertidalnya akan semakin sempit.
Akibat seringnya hempasan gelombang dan pasang surut maka daerah intertidal
sangat kaya akan oksigen. Pengadukan yang sering terjadi menyebabkan interaksi antar
atmosfir dan perairan sangat tinggi sehingga difusi gas dari permukaan keperairan juga
tinggi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Webber dan Thurman (1991) bahwa pantai
berbatu di zona intertidal merupakan salah satu lingkungan yang subur dan kaya akan
oksigen. Selain oksigen daerah ini juga mendapatkan sinar matahari yang cukup, sehingga
sangat cocok untuk beberapa jenis organisme untuk berkembang biak. Pada daerah berbatu
ini banyak terdapat lingkungan mikro seperti celah-celah cadas dan kubangan pasut. Jenis
yang hidup pada lingkungan ini umumnya organisme yang melekat seperti beberapa jenis
keong.
Pada tiap zona intertidal terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara satu
daerah dengan daerah yang lain. Jenis substrat daerah intertidal ada yang berpasir,
berlumpur, berbatu, dan adapula yang berupa timbunan. Daerah berlumpur terjadi karena
adanya aliran air yang mengandung lumpur dari darat. Area ini biasanya terjadi di daerah
teluk yang tenang atau estuari. Lingkungan seperti ini dapat menimbulkan masalah bagi
organisme yang ada pada lingkungan tersebut, karena lumpur bisa masuk ke saluran
pernafasan sehinnga dapat menyumbat saluran pernafasannya. Kandungan oksigen terlarut
relatif rendah karena padatnya partikel lumpur sehingga pertukaran oksigen dan
karbondioksida terhambat. Organisme yang hidup di lingkungan ini kebanyakan berupa
bakteri (Romimohtarto, 2007).
Pada daerah ini memiliki substrat yang sangat halus dengan diameter kurang dari
0.002 mm. Menurut Nybakken (1992) daerah berlumpur berada pada daerah yang
terlindung dari hempasan gelombang secara langsung. Akibat tidak adanya hempasan
gelombang maka daerah ini sulit untuk mengalami perkembangan yang signifikan.

Pembagian zonasi pada daerah pantai berlumpur masih sangat kurang yang telah
dikaji. Secara umum dapat dibagi menjadi:
1). Bagian atas atau supralitoral dihuni oleh berbagai jenis kepiting yang menggali substrat.
Zona ini juga dipengaruhi oleh pasang tertinggi dan paling sering mengalami kekeringan.
2). Bagian bawah atau litoral. Bagian ini merupakan bagian yang terluas diantara bagian
ekosistem pantai berlumpur. Pada zona ini dihuni oleh tiram dan policaeta.
Pada dasarnya pembagian tersebut belum terlalu jelas batasannya. Hal ini
dikarenakan organisme pada kedua tempat tersebut tidak menetap hanya pada zona tersebut
tetapi juga dapat berpindah ke zona yang lain.
Lingkungan berpasir pada zona lithoral mempunyai ukuran partikel yang lebih besar
di banding partikel lumpur sehingga memungkinkan air mengalir di antara partikel-partikel
pasir, akibatnya pertukaran oksigen sampai pada dasar pasir. Pada saat siang hari air surut
membuat area ini menjadi kering. Gelombang juga mempengaruhi area ini oleh sebab itu
organisme yang hidup di area ini cenderung dilengkapi dengan cangkang yang kuat,
mampu bergerak bersama butiran pasir atau memendam dalam di bawah permukaan untuk
menghindari penggerusan yang disebabkan oleh gelombang (Romimohtarto, 2007).
Pada umumnya daerah berpasir lebih banyak dikenal oleh manusia dibanding
dengan jenis pantai yang lain. Hal ini dikarenakan pantai berpasir memiliki manfaat yang
sangat banyak dibanding dengan pantai jenis yang lainnya. Pada jenis pantai ini juga dapat
ditemukan berbagai ekosistem lain seperti ekosistem padang lamun, dan ekosistem terumbu
karang.
Pantai berpasir adalah pantai dengan ukuran substrat 0.002-2 mm. Jenis pantai
berpasir termasuk dalam jenis pantai dengan partikel yang halus. Sama halnya pada pantai
berbatu pada pantai berpasir juga dibagi dalam beberapa zonasi (Dahl, 1952 and Salvat,
1964 in Raffaelli and Hawkins, 1996) yaitu:
1). Mean High Water of Spring Tides (MHWS) rata-rata air tinggi pada pasang purnama.
Zona ini berada pada bagian paling atas. Pada daerah ini berbatasan langsung dengan
daerah yang kering dan sering terekspose.
2). Mean Tide Level (MLS) rata-rata level pasang surut. Zona ini merupakan daerah yang
paling banyak mengalami fluktusi pasang surut. Pada daerah ini juga dapat ditemukan
berbagai ekosistem salah satunya ekosistem padang lamun.

3). Mean Water Low of Spring Tides (MLWS) rata-rata air rendah pada pasang surut
purnama. Zona ini merupakan zona yang paling bawah. Pada daerah ini fliktuasi pasang
surut sangat sedikit yang berpengaruh karena daerah ini tidak terkena fluktuasi tersebut.
Daerah ini juga bias ditemukan ekosistem terumbu karang.
Menurut Nybakken (1992) zonasi yang terbentuk pada daerah berpasir sangat
dipengaruhi oleh faktor fisik perairan. Hal ini nampak dari hempasan gelombang dimana
jika kecil maka ukuran partikelnya juga kecil, tetapi sebaliknya jika hempasan gelombang
besar maka partikelnya juga akan besar. Pada daerah berpasir hempasan gelombangnya
kecil menyebabkan butiran partikelnya kecil.
Romimohtarto (2007), menjelaskan bahwasanya lingkungan timbunan pada zona
intertidal adalah lingkungan yang terbentuk dari tumpukan-tumpukan kayu dermaga,
galangan kapal dan bangunan-bangunan lain buatan manusia. Organisme yang hidup di
lingkungan ini biasanya berupa tiram pengebor.
Selain ketiga lingkungan tersebut pada daerah litoral juga terdapat jenis lingkungan
berbatu. Daerah berbatu ini juga dikelompokkan menjadi beberapa zona. Pada dasarnya
pembagian zonasi untuk lingkungan berbatu dilihat dari pasang surut yang terjadi. Pantai
ini didominasi oleh substrat dari batu. Menurut Stephenson and Stephenson (1972) in
Raffaelli and Hawkins (1996) menyatakan bahwa pembagian zona pada daerah berbatu
dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
a. A high-shore area (bagian daerah yang paling atas) atau yang biasa disebut supralittoral
fringe. Pada zona ini dicirikan oleh berbagai organisme seperti alga yang menjalar,
Cyanobacteria (bakteri hijau biru) dan cacing kecil, periwinkles.
b. A broad midshore zone (zona bagian tengah yang lebar) atau yang biasa disebut
midlittoral zone. Pada daerah ini didominasi oleh pemakan suspense seperti bernakel,
kerang atau terkadang tiram.
c. A narrower low-shore zone (zona bagian bawah yang sempit) atau yang

biasa disebut

infralittoral fringe. Pada daerah ini didominasi oleh alga merah, organisme penghasil kapur,
kebanyakan berbentuk menjalar, terkadang kelp yang lebat (alga coklat) atau terkadang
pada suatu tempat di Hemisphere selatan yaitu penyering makanan seperti tunicata (sea
squirt).

Sedangkan pembagian menurut Reseck (1980) zonasi pada litoral berbatu dibagi menjadi
empat zonasi :
1). Zone I : daerah yang paling tinggi dan selalu kering (spray zone/upper litoral zone).
2). Zona II : Daerah yang mengalami kekeringan 2 kali sehari selama pasang terendah,
selama 4-6 jam.
3). Zona III : Daerah yang mengalai kekeringan dalam waktu yang agak pendek, kurang
lebih 1-3 jam.
4). Zona IV : Daerah yang mengalami kekeringan sangat relatif singkat, kurang lebih 12
jam.
Pembagian zonasi pada litoral berbatu juga dapat didasarkan oleh organisme yang
hidup pada daerah tersebut (Barnes & Hughes, 1999). Pembagian zonasi tersebut dibagi
menjadi

dua

bagian

yakni:

1). Zonasi dari mikroalga. Zonasi ini didasarkan oleh fotosintesis yang terjadi didalam air.
Pembagian tersebut yakni:
a). Pada spesies yang terdapat pada lower shore fotosintesis lebih baik di udara
dibanding dalam air.
b). Pada spesies yang terdapat pada mid hingga upper shore fotosintesis lebih baik
didalam air disbanding diatas daratan. Kekuatan fotosintesis dalam air pada spesies ini
yakni

enam

kali

lebih

kuat.

2). Zonasi dari hewan. Zonasi ini didasarkan oleh dua hal yang sangat signifikan yaitu:
a). Makanan. Ketersediaan makanan sangat penting utamanya bagi organisme yang
pergerakannya sangat lambat atau yang tidak berpindah tempat.
b). Pergerakan. Organisme perlu berpindah untuk mencari makan, sehingga faktor
ini

juga

sangat

terikat

dengan

faktor

yang

pertama.

Suatu gambaran yang sangat luar biasa dari pantai diseluruh dunia, yang terlihat pada
waktu pasang surut adalah, menonjolnya pembagian horizontal atau zonasi organisme
(Nybakken, 1992).
Zonasi litoral berbatu pada beberapa belahan dunia yang berbeda pada berbagai
belahan dunia terdapat perbedaan pola zonasi litoral berbatu yang terjadi antara satu tempat
dengan tempat yang lain. Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, salah
satunya kemiringan permukaan batu yang menyusunnya (Nybakken, 1992).

Ekosistem intertidal merupakan salah satu ekosistem pada daerah pesisir yang
sangat kompleks dan kaya. Banyak pola interaksi antar organisme laut yang dapat
ditemukan pada ekosistem ini. Hewan yang hidup pada daerah ini harus dapat beradaptasi
dengan keadaan yang ekstrim tersebut. Bentuk adaptasi organisme sangat berkembang
utamanya bentuk morfologi yang dibentuk sedemikian rupa. Pada tiap zona intertidal
organisme yang hidup sudah mampu untuk bertahan dengan karakteristik lingkungan
tersebut (Aliv, 2011).
Faktor
Penyebab

Distribusi

Zonasi

Pada

Daerah

Intertidal

Ada berbagai faktor yang menyebabkan adanya berbagai macam distribusi pada daerah
intertidal. Pada dasarnya faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yang saling terkait
yaitu:
1. Faktor fisika dan kimia
Faktor ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada ekosistem
intertidal. Akibat adanya pasang surut maka menyebabkan faktor pembatas pada daerah ini
menjadi lebih ekstrim. Faktor pembatas tersebut yaitu kekeringan, suhu, dan sinar matahari
ketiga faktor tersbeut saling terkait. Jika laut surut maka daerah intertidal terekspose oleh
sinar matahari, akibatnya suhu meningkat. Suhu yang meningkat menyebabkan penguapan
dan dampaknya daerah menjadi kering. Oksigen masih cukup namun salinitas cukup tinggi.
2. Faktor biologis.
Faktor ini sangat tergantung dari faktor fisik perairan. Organisme berusaha
untuk menyesuaikan diri pada keadaan yang sangat ekstrim tersebut. Ada berbagai macam
cara organisme menyesuaikan diri salah satunya dengan mengubur diri atau memodifikasi
bentuk cangkang agar dapat hidup pada derah yang kering.
Daerah pasang surut adalah sistem model penting untuk studi ekologi,
khususnya di pantai berbatu gelombang-menyapu. Wilayah ini berisi keanekaragaman
spesies yang tinggi, dan zonasi diciptakan oleh pasang surut menyebabkan spesies berkisar
untuk dimampatkan menjadi band yang sangat sempit. Hal ini membuat relatif sederhana
untuk mempelajari spesies di seluruh rentang lintas-pantai mereka, sesuatu yang bisa sangat
sulit, misalnya, habitat darat yang dapat meregang ribuan kilometer.

Karena zona ini bergantian tertutup oleh laut dan terkena udara, organisme hidup di
lingkungan ini harus memiliki adaptions baik untuk kondisi basah dan kering. Bahaya
termasuk menjadi hancur atau terbawa oleh gelombang kasar, paparan suhu sangat tinggi,
dan pengeringan. Khas penduduk pantai berbatu pasang surut termasuk bulu babi, anemon
laut, teritip, chitons, kepiting, isopoda, kerang, bintang laut, dan moluska banyak
gastropoda laut seperti limpets, whelks, dan bahkan gurita.
2. Zona Bathyal
Zona batial adalah wilayah laut yang merupakan lereng benua yang tenggelam di
dasar samudera. Kedalaman zona ini berkisar di atas 200 meter 2000 meter. Dengan
kedalaman dan struktur yang berupa lereng atau curam maka organisme yang hidup pada
area ini kebanyakan bersifat konsumen. Pertukaran oksigen cukup kurang sehingga bisa
menjadi salah satu faktor pembatas bagi organisme yang hidup pada lingkungan ini.
Bebatuan masih relatif ada sehinnga organisme yang hidupnya melekat masih bisa
ditemukan (Aliv, 2011).
Menurut Dias (2011), keadaan bentik zona bathyal umumnya merupakan lerenglereng curam yang merupakan dinding laut dalam dan sebagai bagian pinggiran kontinen.
Zona bathyal juga diistilahkan sebagai Continental Slope. Pada Continental slope sering
ditemui canyon/ ngarai / submarine canyon, yang umumnya merupakan kelanjutan dari
muara sungai sungai besar di pesisir.
Tipe sedimen utama sedimen pada zona bathyal merupakan lempung biru, lempung
gelap dengan butiran halus dan memiliki kandungan karbonat kurang dari 30%. Sedimensedimennya memiliki jenis sedimen terrestrial, pelagis, atau autigenik (terbentuk ditempat).
Sedimen Terrestrial (terbentuk dari daratan) lebih banyak merupakan lempung dan lanau,
berwarna biru disebabkan karena akumulasi sisa-sisa bahan organik dan senyawa ferro besi
sulfida yang diproduksi oleh bakteri, Sedimen terrestrial juga merupakan tipe sedimen yang
paling mendominasi. Sedimen terrigenous terbawa hingga ke zona bathyal melalui arus
sporadik turbiditi yang berasal dari wilayah yang lebih dangkal. Saat material terrigenous

langka, cangkang mikroskopis dari fitoplankton dan zooplankton akan terakumulasi di


dasar membentuk sedimen authigenik.
Biota yang hidup pada bagian bentik zona bathyal antara lain spon, brachiopod,
bintang laut, echinoid, dan populasi pemakan sedimen lainnya yang terdapat pada bagian
sedimen terrigenous. Biasanya biota yang hidup di zona ini memiliki metabolisme yang
lamban karena kebutuhan konservasi energi pada lingkungan yang minim nutrisi. Kecuali
pada laut yang sangat dalam, zona bathyal memanjang hingga ke zona bentik pada dasar
laut yang merupakan bagian dari continental slope yang berada di kedalaman 1000 hingga
4000 meter.
3. Zona Abisal
Zona abisal memiliki kemiripan dengan lingkungan lumpur yang ada pada zona
litoral.

Bebatuan yang digunakan sebagai substrat oleh organisme sangat jarang

diitemukan. Hewan bercangkang yang hidup di zona ini cangkangnya cenderung tipis dan
jik mati cangkang akan mudah sekali terlarut atau tereduksi. Endapan plankton tidak ada
karena sebelum sampai di dasar sudah dii makan terlebih dahulu oleh organisme yang ada
pada lingkungan yang ada di atasnya (Romimohtarto, 2007).
Endapan yang ada berupa mineral bola-bola mangan dan tulang-tulang telinga ikan
paus dan gigi ikan hiu yang susah terlarut. Kondisinya sangat berlumpur sehingga oksigen
terlarut sangat sedikit sehingga hewan-hewan pada daerah ini terpaksa menggunakan
glikogen atau pigmen-pigmen pernapasan sebagai sumber oksigen sementara. Namun
demikian, kondisi dasar laut abisal tidak semuanya memiliki kondisi yang sama. Dasar
lingkungan ini pada perairan dalam berupa endapan kapur yang berasal dari kerangka
Foraminifera, endapan silika, terutama dari kerangka diatom, dan lempung merah di dasar
yang lebih dalam dengan tekana air yang cukup tinggi sehingga membuat zat-zat lain
mudah terlarut (Romimohtarto, 2007).
Kehidupan hewan-hewan pada lingkungan seperti ini sangat bergantung atau
menyesuaikan pada jenis endapannya. Seperti tipe organisme pemakan penyaring lebih
suka dasar yang keras dengan partikel halus lumpur yang tidak akan menyumbat
penyaringnya. Jika partikel-partike sangat halus maka tipe hewan yang hidup pada area ini

adalah pemakan endapan yang mengambil dan mencerna zat organik yang terdapat dalam
lumpur. Di samping hewan-hewan tersebut terdapat pula hewan-hewan pemangsa bangkai
yang menangkap hewan apa saja baik yang hidup maupun mati. Suhu pada daerah ini
relatif stabil yaitu antara 1,2o C - 4 oC. Beberapa hewan yang hidup di lingkungan ini berupa
bintang laut, bintang mengular, tripang dan banyak jenis ikan. Makin dalam dasar laut
maka makin sedikit pula jenis hewan yang dapat ditemukan (Romimohtarto, 2007).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Berdasarkan faktor-faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya perairan laut di
bedakan menjadi daerah pelagik yang meliputi kolom air dan daerah bentik yang meliputi
dasar laut dimana biota laut hidup.
2. Karakteristik tiap zona pada umumnya memiliki ciri yang berbeda-beda baik kondisi fisik
maupun kimianya bahkan sampai biotanya memiliki perbedaan yang tentunya sesuai
dengan kondisi lingkungan dari masing-masing zona.
3. Biota yang hidup pada daerah yang masih mendapat suplai cahaya cenderung didominasi
oleh produsen primer dan zona yang lebih dalam di huni oleh berbagai tingkatan konsumen.
Untuk daerah paling dalam dihuni oleh organisme yang memiliki kemampuan melawan
berbagai macam faktor pembatas yang sangat kritikal
B. Saran
Saran yang saya berikan dalam makalah ini adalah sebaiknya diberikan penjelasan
terlebih dahulu mengenai cakupan materi serta tujuan pembelajaran yang ingin di capai
dari pokok bahasan tentang zonasi khususnya lingkungan perairan laut.

DAFTAR PUSTAKA

Aliv. 2011. Pembagian zona laut. Diakses pada tanggal 20 juli 2012 melalui
http://ml.scribd.com/doc/79823180
Ardi. 2011. Oseanografi is Oceanography. Diakses pada tanggal 20 juli 2012 melalui
http//ardi.wordpress.com
Dias. 2011. Klasifikasi Lingkungan Laut. Diakses pada tanggal 23 juli 2012 melalui
http://adios19.wordpress.com/2011/05/15/klasifikasi-lingkungan-laut.com
Effendy. 2009. Ekologi Laut Dalam. Diakses pada tanggal 23 juli 2012 melalui
http://perikananunila.wordpress.com/2009/07/31/ekologi-laut-dalam.com
Ernawati, wanda. 2011. Pembagian Daerah Ekosistemm Laut. Diakses pada tanggal 20 juli
2012 melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Zona_laut.jpg
Romimohtarto, K., dan Juwana, S., 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta.

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman sampul
Kata pengantar....................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................ ii

A.
B.
C.
D.

Bab I Pendahuluan................................................................................................. 1
Latar Belakang...................................................................................................... 1
Rumusan Masalah................................................................................................. 2
Tujuan Penulisan................................................................................................... 2
Manfaat ................................................................................................................. 2
Bab II Isi dan Pembahasan.................................................................................... 3

A. Lingkungan Pelagik............................................................................................... 3
B. Lingkungan Bentik................................................................................................ 8
Bab III penutup...................................................................................................... 18
A. Kesimpulan............................................................................................................ 18
B. Saran..................................................................................................................... 18
Daftar Pustaka

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang

Maha Esa karena atas

limpahan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan
dengan tepat waktu sesuai yang diharapkan. Penyusunan makalah ini adalah salah satu
syarat untuk mengikuti mata kuliah Hidrobiologi. Penulis juga mengucapkan banyak terima

kasih kepada semua pihak khususnya teman-teman Angkatan 2009, dan Dosen Mata
Kuliah Hidrobiologi yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam
makalah ini.
Makalah ini berisi uraian mengenai zonasi di lingkungan perairan laut. Penyusun
berharap, makalah ini dapat menjadi tambahan pengetahuan dan wawasan bagi pembaca,
khususnya bagi penulis.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, masih
banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan didalamnya sehingga kritik dan saran yang
sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis dari berbagai pihak demi
kesempurnaan penyusunan selanjutnya.
Kendari,

Juli 2012

Penulis
Zona Laut Indonesia ( Pengertian )
Pengertian zona laut Teritorial, zona Landas kontinen, dan zona Ekonomi
Eksklusif.

Zona Laut Teritorial


Batas laut Teritorial ialah garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis
dasar ke arah laut lepas. Jika ada dua negara atau lebih menguasai suatu
lautan, sedangkan lebar lautan itu kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial
di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara tersebut. Laut yang
terletak antara garis dengan garis batas teritorial di sebut laut teritorial. Laut
yang terletak di sebelah dalam garis dasar disebut laut internal/perairan dalam
(laut nusantara). Garis dasar adalah garis khayal yang menghubungkan titiktitik dari ujung-ujung pulau terluar.

Sebuah negara mempunyai hak kedaulatan sepenuhnya sampai batas laut


teritorial, tetapi mempunyai kewajiban menyediakan alur pelayaran lintas
damai baik di atas maupun di bawah permukaan laut. Deklarasi Djuanda
kemudian diperkuat/diubah menjadi Undang-undang No.4 Prp. 1960.

Zona Landas Kontinen


Landas kontinen ialah dasar laut yang secara geologis maupun morfologi
merupakan lanjutan dari sebuah kontinen (benua). Kedalaman lautnya kurang
dari 150 meter. Indonesia terletak pada dua buah landasan kontinen, yaitu
landasan kontinen Asia dan landasan kontinen Australia.
Adapun batas landas kontinen tersebut diukur dari garis dasar, yaitu paling
jauh 200 mil laut. Jika ada dua negara atau lebih menguasai lautan di atas
landasan kontinen, maka batas negara tersebut ditarik sama jauh dari garis
dasar masing-masing negara. Garis batas luar kondisi kontinen pada dasar laut,
tidak boleh melebihi 350 mil laut dari garis pangkal atau tidak melebihi 100 mil
laut dari garis kedalaman (isobath) 2500 m, kecuali untuk elevasi dasar laut
yang merupakan bagian alamiah tepian kontinen, seperti pelataran (plateau),
tanjakan (rise), puncak (caps), ketinggian yang datar ( banks) dan puncak
gunung yang bulat (spurs).

Di dalam garis batas landas kontinen, Indonesia mempunyai kewenangan


untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di dalamnya, dengan
kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai. Pengumuman
tentang batas landas kontinen ini dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia pada
tanggal 17 Febuari 1969.

Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)


Zona Ekonomi Eksklusif adalah jalur laut selebar 200 mil laut ke arah laut
terbuka diukur dari garis dasar. Di dalam zona ekonomi eksklusif ini, Indonesia
mendapat kesempatan pertama dalam memanfaatkan sumber daya laut. Di
dalam zona ekonomi eksklusif ini kebebasan pelayaran dan pemasangan kabel
serta pipa di bawah permukaan laut tetap diakui sesuai dengan prinsip-prinsip
Hukum Laut Internasional, batas landas kontinen, dan batas zona ekonomi
eksklusif antara dua negara yang bertetangga saling tumpang tindih, maka
ditetapkan garis-garis yang menghubungkan titik yang sama jauhnya dari garis
dasar kedua negara itu sebagai batasnya. Pengumuman tetang zona ekonomi
eksklusif Indonesia dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia tanggal 21 Maret
1980.

Daftar Pustaka

http://74.125.153.132/search?
q=cache:1FOayXlmK_MJ:umi_k.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/17563/B
ab%2B2_wawasan
%2BNusantara.doc+zona+laut+teritorial&cd=2&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=
opera
http://cettabumi.com/update/zona-laut-indonesia/
http://dilmil-banjarmasin.go.id/index.php?content=mod_artikel&id=3
http://id.wikipedia.org/wiki/Pertahanan_laut