Anda di halaman 1dari 30

PELINDIAN TANAH SULFAT MASAM PADA BEBERAPA

KONDISI POTENSIAL REDOKS MENGGUNAKAN


SUMBER AIR PELINDI
Abstrak
Pelindian merupakan salah satu strategi pengelolaan air untuk mengurangi
kelarutan ion-ion Fe2+, Fe-total, SO42- pada tanah sulfat masam. Potensial redoks
(Eh) pada tanah tergenang dapat menentukan proses-proses kimia yang terjadi di
dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sumber air pelindi
dan kondisi awal Eh tanah terhadap konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al pada air
hasil lindian dan tanah yang dilindi. Percobaan menggunakan Rancangan Acak
Lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Sebagai faktor pertama adalah tiga sumber
air pelindi yaitu: air hujan, air payau, dan air gambut. Sedangkan faktor kedua adalah
kondisi awal Eh tanah meliputi: -100 25, 0 25, 100 25, 200 25, 300 25, dan
400 25 mV. Rata-rata konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ pada air hasil
lindian selama delapan minggu menunjukkan bahwa pelindian menggunakan air
payau dapat menyebabkan rata-rata konsentrasi Fe2+, Fe-total, dan Al3+ terbesar
(348,86 ppm Fe2+; 407,07 ppm Fe-total; dan 62,56 ppm Al3+), sedang air gambut
menyebabkan rata-rata konsentrasi SO42- terbesar (673,29 ppm SO42-). Kondisi
Eh 100 mV dapat menyebabkan rata-rata konsentrasi Fe2+ terbesar (362,48 ppm
Fe2+), sedang kondisi Eh 400 mV menyebabkan rata-rata konsentrasi Fe-total,
SO42-, dan Al3+ terbesar (427,21 ppm Fe-total; 741,88 ppm SO42-; dan 91,13 Al3+).
Kemudian konsentrasi ion-ion tersebut pada tanah yang telah dilindi selama
delapan minggu menunjukkan bahwa pelindian menggunakan air payau dapat
menyebabkan konsentrasi Fe2+ dan Al3+ tanah terkecil (362,71 ppm Fe2+ dan
1.116,00 ppm Al3+), sedang air gambut menyebabkan konsentrasi Fe-total dan
SO42- terkecil (3.099,60 ppm Fe-total dan 425,17 ppm SO42-). Kondisi Eh 400
mV dapat menyebabkan konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42- dan Al3+ tanah terkecil
(350,11 ppm Fe2+; 3.095,00 ppm Fe-total; 345,25 ppm SO42-; dan 1061,10 ppm
Al3+).

Kata kunci: Pelindian, potensial redoks, tanah sulfat masam

Pendahuluan
Tanah sulfat masam memiliki lapisan bahan sulfidik dan/atau

horizon

sulfurik yang mengandung pirit dengan ketebalan dan kedalam bervariasi dari
permukaan tanah. Jika lapisan bahan sulfidik atau horizon sulfurik dekat dengan
permukaan tanah, maka pengelolaan tanah ini perlu lebih hati-hati. Kesalahan
dalam pengelolaan tanah dapat mengakibatkan tingkat produktivitas tanah
menurun.

Perbaikan tingkat produktivitas tanah umumnya dilakukan dengan

mempertahankan lapisan pirit dalam keadaan reduktif dan pelindian secara alami.
Kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa perbaikan tanah seperti ini memerlukan waktu puluhan tahun.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk

mempercepat perbaikan tanah ini adalah membiarkan pirit teroksidasi kemudian


dilindi menggunakan sumber air insitu.
Pembukaan lahan pasang surut tanah sulfat masam menggunakan eksapator,
pengolahan tanah yang terlalu dalam, dan drainase berlebih merupakan penyebab
utama turunnya tingkat produktivitas tanah. Menurut Suriadikarta (2006);
Subagyo (2006) proses oksidasi dan reduksi pirit akan menyebabkan: (a)
perubahan potensial redok (Eh) tanah dan kemasaman tanah serta air, (b)
kelarutan aluminium (Al3+), sulfat (SO42-), hidrogen (H+) dan besi II (Fe2+)
meningkat, (c) ketersediaan (fosfor) P menurun akibat terbentuknya aluminiumfosfat yang tidak larut, (d) kadar basa-basa tertukar menurun, (e) terjadi defisiensi
hara, dan (f) pencemaran lingkungan pertanian di sekitarnya.
Sumber air yang umum dijumpai di lingkungan lahan pasang surut adalah
air laut, air payau, air tawar, dan air gambut. Air gambut mengandung senyawa
organik yang berperan penting dalam pembentukan kelat. Gugus fenolat dan
karboksilat dari asam-asam organik tersebut mempunyai affinitas sangat kuat bagi
ion-ion Al dan Fe membentuk kelat. Sedangkan air payau mengandung kationkation seperti Na+, K+, Ca2+, dan Mg2+ yang dapat mendesak ion-ion Fe dan Al
dari kompleks jerapan sehingga dapat menyebabkan kelarutan Fe2+ dan Al3+ pada
air hasil lindian meningkat dan konsentrasinya dalam tanah menurun.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menemukan kondisi awal Eh
tanah sulfat masam dan sumber air pelindi yang dapat menurunkan konsentrasi
Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ pada air hasil lindian serta tanah yang dilindi.

33

Metode
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah,
Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB dari
Maret hingga Juli 2009.
Percobaan ini merupakan percobaan laboratorium yang menggunakan
Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Sebagai faktor I adalah
sumber air pelindi yang terdiri dari: (1) air hujan, (2) air payau, dan (3) air
gambut, sedangkan faktor II adalah beberapa kondisi awal Eh tanah sulfat masam
masing-masing: (1) -100 25, (2) 0 25, (3) 100 25, (4) 200 25, (5) 300
25, dan (6) 400 25 mV.
Perubahan pH dan Eh bahan sulfidik tanah selama

proses oksidasi di

laboratorium, diketahui melalui contoh tanah yang diambil mengikuti cara yang
dilakukan (Konstens et al., 1990). Bahan sulfidik tanah sulfat masam diambil
menggunakan pipa paralon berdiameter 10,8 cm (4 inchi) dengan kedua bagian
ujungnya ditutup rapat. Pengambilan contoh tanah dilakukan pada saat pasang
besar sehingga lapisan bahan sulfidik dalam keadaan tergenang (tidak
teroksidasi). Untuk memudahkan proses oksidasi pirit di laboratorium, tabung
terlebih dahulu dibelah, diikat kuat, kemudian baru dimasukkan ke dalam lapisan
bahan sulfidik tanah. Setelah di laboratorium tabung langsung dibuka tutupnya
dan diputus ikatannya, sehingga terbelah menjadi dua bagian, kemudian
dilakukan pengukuran pH dan Eh tanah.
Contoh tanah diambil dari kedalaman 85-125 cm, yang merupakan bahan
sulfidik dengan kadar pirit 3,8 % diangkat ke atas, sehingga mengalami oksidasi
dan pada beberapa bagian permukaan tanahnya telah terbentuk goetit. Waktu
yang diperlukan untuk proses tersebut adalah enam bulan dari September 2008
hingga Maret 2009.

Contoh tanah ditumbuk dan diayak dengan saringan

berukuran 2 mm selanjutnya dimasukkan ke dalam tabung berdiameter 3,99 cm


(1,5 inchi) dengan panjang 25 cm seberat 220 g/tabung (berat tanah kering
oven). Agar tanah di dalam tabung tidak keluar, pada ujung bagian bawah
tabung diberi saringan yang tidak tembus liat, diperkuat dengan saringan kawat
dan ditutup rapat dengan plastik agar dapat menahan air selama penggenangan.

34

Pelindian tanah menggunakan air hujan, air payau, dan air gambut dilakukan
setelah tercapai kondisi Eh sesuai dengan perlakuan yang diinginkan.
Tanah dengan kondisi Eh 400 mV diperoleh dari pengukuran contoh tanah
yang telah ditumbuk dan diayak dengan saringan 2 mm pada keadaan kering
udara. Sedangkan kondisi Eh 300 mV terjadi setelah tanah dijenuhi dengan air
hujan, air payau, dan air gambut selama 12 jam. Berikutnya kondisi Eh 200 mV
untuk tanah yang dijenuhi dengan air payau setelah penjenuhan selama 14 jam,
sedang untuk tanah yang dijenuhi dengan air hujan dan air gambut kondisi Eh 200
mV diperoleh setelah penjenuhan berlangsung 24 jam. Selanjutnya kondisi Eh
100 mV terjadi setelah penggenangan tanah dengan air hujan, air payau, dan air
gambut selama tujuh hari.

Kemudian kondisi Eh 0 dan -100 mV diperoleh

melalui pemompaan gas N2 ke dalam tabung yang berisi tanah. Kondisi Eh 0 mV


diperoleh setelah tanah dalam tabung dipompa dengan gas N2 pada tekanan 1,2
atm selama 2 menit ditutup dan dibuka beberapa kali. Sedangkan kondisi Eh 100 mV dicapai setelah tanah dalam tabung dipompa dengan gas N2 pada tekanan
1,5 atm selama 3 menit ditutup dan dibuka beberapa kali. Air payau diperoleh
dengan cara mengencerkan air laut (58.000 S cm-1) hingga mencapai nilai DHL
(daya hantar listrik) yang sesuai dengan rata-rata tiga kali pengukuran DHL saat
air pasang besar dan pasang kecil di KP Balandean (1.610,5 S cm-1).
Menurut kriteria LPT (1983), bahan sulfidik tanah menunjukkan tingkat
kemasaman yang sangat masam (pH 3,21), ketersediaan hara N tergolong rendah
(0,20% N), P-tersedia tergolong sangat rendah (1,26 ppm P2O5), K-dd tergolong
sedang (0,26 me/100 g K), Ca-dd tergolong sangat rendah (0,46 me/100 g Ca)
dan Mg-dd tergolong rendah (0,84 me/100 g Mg) (Tabel 2).

Kondisi ini

menunjukkan bahwa lapisan tanah tersebut sangat masam dengan tingkat


kesuburan yang sangat rendah.

Kemasaman tanah ini disebabkan oleh

konsentrasi Fe-total (3.680 ppm), SO42- (13,338 ppm), dan Al (18,32 me/100 g)
sangat tinggi.

35

Tabel 2.

Hasil analisis contoh tanah pada kedalaman 85-125 cm dari KP


Balandean, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan tahun 2009
serta air hujan, air payau, dan air gambut yang digunakan sebagai
sumber air pelindi

Sifat Kimia Tanah dan Air Pelindi


Tanah
pH H2O
N-total (%)
P-tsd (ppm P2O5)
K-tsd (me/100 g)
Ca-dd (me/100 g)
Mg-dd (me/100 g)
Al-dd (me/100 g)
SO42- (ppm)
Fe-total (ppm)
Kandungan pirit (%)
Air Hujan
Al (ppm)
Fe2+ (ppm)
Fe-total (ppm)
SO42- (ppm)
K+ (ppm)
Na+ (ppm)
Ca2+ (ppm)
Mg2+ (ppm)
Air Payau
Al (ppm)
Fe2+ (ppm)
Fe-total (ppm)
SO42- (ppm)
K+ (ppm)
Na+ (ppm)
Ca2+ (ppm)
Mg2+ (ppm)
Air Gambut
Al (ppm)
Fe2+ (ppm)
Fe-total (ppm)
SO42- (ppm)
K+ (ppm)
Na+ (ppm)
Ca2+ (ppm)
Mg2+ (ppm)

36

Nilai

Keterangan

3,21
0,20
1,26
0,26
0,46
0,84
18,32
13.338
3.680
3,80

Sangat Masam
Rendah
Sangat Rendah
Sedang
Sangat Rendah
Rendah
-

Tu
2,50
5,50
5,39
1,81
1,35
2,12
4,72

0,50
3,75
5,70
6,88
3,80
87,00
4,20
12,90

0,50
3,75
5,60
6,18
3,20
16,51
3,15
7,22

Jumlah air hujan, air payau, dan air gambut yang digunakan untuk melindi
tanah setara dengan curah hujan sebesar 25 mm/hari, yaitu 25 x 1.250 mm2 (luas
tabung dengan diameter 3,99 cm) = 31.250 mm3 atau 31,3 ml/tabung setiap 24
jam. Agar mendekati kondisi lapang, maka pelindian dilakukan dua kali dalam
24 jam yaitu 16 ml/tabung setiap 12 jam, sesuai dengan interval pasang surut air.
Air hasil lindian ditampung dalam tabung berkapasitas 500 ml untuk dianalisis
konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+. Agar tidak terjadi perubahan Fe2+
menjadi Fe3+ akibat kenaikan pH, maka air hasil lindian diberi HCl 1 N sebenyak
3 sampai 7 tetes sehingga nilai pH dipertahankan 2,5.
Parameter yang diukur meliputi: (1) Sifat-sifat tanah awal terdiri dari:
pHH2O, Al-dd, Fe-total, SO42-, N-total, P-tds, K-dd, Ca-dd, dan Mg-dd;

(2)

konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al-dd tanah setelah dilindi selama delapan
minggu; (3) konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ pada air hasil lindian
(setiap minggu); (4) konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ pada air pelindi;
dan (5) perubahan pH dan Eh selama sebelas minggu.
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konsentrasi Fe2+, Fe-total,
SO42-, dan Al pada air hasil lindian serta tanah yang dilindi dilakukan analisis
ragam. Jika hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan yang signifikan, maka
dilakukan uji lanjutan dengan Uji Jarak Ganda Duncan.
2+

melihat hubungan antara konsentrasi Fe , Fe-total,

SO42-,

Selanjutnya untuk

dan Al3+ pada air hasil

lindian dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh
dilakukan analisis regresi.

Hasil dan Pembahasan


Perubahan Pirit Menjadi Goetit
Hasil pengukuran pH dan Eh tanah setiap minggu selama sebelas minggu
diperlihatkan pada Gambar 10. Penurunan pH tanah sangat cepat (curam) pada
pengukuran tiga minggu pertama dan berkurang (melandai) pada minggu
selanjutnya. Patrick dan Reddy (1978); Gotoh dan Patrick (1974); Moraghan
dan Patrick (1974) menyatakan bahwa perubahan kelarutan Mn dan Fe akan
berpengaruh terhadap perubahan pH tanah yang dapat diprediksi dari persamaan
oksidasi Mn dan Fe. Pada Eh + 220 hingga + 280 mV terjadi oksidasi Mn2+
37

menjadi Mn4+, dan pada Eh + 150 hingga +180 mV terjadi oksidasi Fe2+ menjadi
Fe3+, kedua proses ini menghasilkan ion H+ dan berlangsung dalam waktu cepat.
Alloway dan Ayres (1997) menyatakan bahwa masuknya oksigen ke dalam tanah
menyebabkan terjadinya reaksi pirit dengan O2 dan H2O membentuk ion Fe2+,
H+, dan SO42-. Adanya ion H+ dan SO42- menyebabkan tanah menjadi masam,
jika pH tanah lebih rendah dari 4, maka Fe3+ larut dan mengoksidasi pirit dengan
kecepatan lebih tinggi.
Nilai Eh tanah meningkat cepat pada tiga minggu pengukuran kemudian
melandai setelah pengukuran minggu ketiga. Keadaan ini disebabkan oleh
peningkatan kandungan dan laju difusi oksigen di dalam bahan sulfidik yang
disebabkan oleh pergantian isi pori tanah dari semula air berubah menjadi udara.
Difusi oksigen mula-mula terjadi pada pori makro yang berlangsung cepat,
kemudian kecepatannya menurun setelah difusi oksigen mengarah ke pori mikro.
Peningkatan kadar dan laju difusi oksigen di dalam bahan sulfidik tanah oleh
pergantian isi pori mengakibatkan terjadinya peningkatan nilai Eh tanah.
Peningkatan nilai Eh tanah menyebabkan terjadinya perubahan kondisi bahan
sulfidik tanah yang semula reduktif menjadi oksidatif.

Gambar 10. Hubungan antara pH dengan Eh (x 100 mV) bahan sulfidik tanah
sulfat masam yang dioksidasi pada kondisi laboratorium selama
sebelas minggu

38

Bahan sulfidik tanah yang dianalisi menggunakan difraksi sinar-X diambil


dari lokasi yang sama, tetapi waktu pengambilan berbeda (tidak sequensial).
Hasil analisis mineral pada bahan sulfidik tanah sulfat masam sebelum dioksidasi
menunjukkan bahwa bahan sulfidik mengandung mineral kuarsa, kaolinit, dan
pirit (Gambar 11). Menurut Van Ranst (1995) bahwa puncak 4,24 Ao merupakan
mineral kuarsa, puncak 3,56 Ao mineral kaolinit, puncak 3,33 Ao mineral kuarsa,
dan puncak 2,70 Ao mineral pirit. Mulyanto et al. (1999) menyatakan bahwa hasil
analisis mineral liat dari semua contoh tanah sulfat masam yang diperlakukan
dengan penjenuhan K+, Mg2+, dan Mg2+ ditambah glycol menunjukkan bahwa
tanah sulfat masam mengandung mineral kaolinit, mika, mineral liat campuran
mika-smektit, mika-vermikulit, smektit-kaolinit dan smektit.

Dent (1986)

menyatakan bahwa selain mineral-mineral di atas, dijumpai juga mineral kuarsa


dan pirit yang terbentuk sehubungan dengan lingkungan air payau.

3,33 A
Kuarsa
4,24 A
Kuarsa

3,56 A
Kaolinit

2,70 A
Pirit

Gambar 11. Hasil analisis difraksi sinar-X terhadap bahan sulfidik tanah sulfat
masam yang diambil pada kedalaman 85-125 cm di KP Balandean,
Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan
Hasil analisis mineral pada bahan sulfidik tanah yang telah dioksidasi
selama sebelas minggu di laboratorium menunjukkan bahwa bahan sulfidik
mengandung goetit dan sulfur (Gambar 12). Berry (1974) menyatakan bahwa
puncak 4,18 Ao merupakan mineral goetit, puncak 3,29 Ao mineral sulfur, dan

39

puncak 2,43 Ao mineral goetit . Hasil ini menunjukkan bahwa oksidasi bahan
sulfidik tanah sulfat masam pada kondisi laboratorium akan membentuk mineral
goetit dan sulfur. Prasetyo (1990) menyatakan bahwa bahan sulfidik yang terus
menerus dioksidasi, pirit akan berubah menjadi goetit tidak menjadi jarosit. Hal
ini disebabkan oleh proses pembentukan jarosit memerlukan kondisi basah
(reduksi) dan kering (oksidasi). Menurut Dent (1986), jarosit terbentuk pada
kondisi oksidasi kuat (Eh > + 400 mV) yang menyebabkan tanah sangat masam
(pH < 3,7. Selain itu dalam proses pembentukan jarosit diperlukan ketersediaan
K tanah yang tinggi, sedang bahan sulfidik tanah sulfat masam mengandung K
tersedia sangat rendah (0,090 me/100 g).

Gambar 12. Hasil analisis difraksi sinar-X terhadap bahan sulfidik tanah sulfat
masam yang telah dioksidasi pada kondisi laboratorium selama
sebelas minggu

Konsentrasi Fe2+ pada Air Hasil Lindian


Sumber air pelindi hanya berpengaruh nyata terhadap konsentrasi Fe2+ pada
air hasil lindian minggu III dan IV (Tabel 3). Konsentrasi Fe2+ pada air gambut
(404,99 ppm) tidak berbeda nyata dengan air payau (386,54 ppm), tetapi nyata
lebih besar dari air hujan (378,54 ppm). Hal ini disebabkan oleh kandungan
kation-kation Ca2+ (4,2 ppm ), Mg2+ (12,9 ppm ), Na+ (87 ppm), dan K+ (3,8
ppm) pada air payau dan air gambut Ca2+ (3,50 ppm ), Mg2+ (7,22 ppm ), Na+
40

(16,51 ppm), dan K+ (3,20 ppm) lebih besar dibandingkan dengan air hujan Ca2+
(2,12 ppm ), Mg2+ (4,72 ppm), Na+ (1,35 ppm), dan K+ (1,81 ppm). Akibatnya
kemampuan pertukaran kation antara kation-kation tersebut dengan ion Fe2+ yang
terjerap pada permukaan koloid tanah yang dilindi menggunakan air payau dan air
gambut lebih besar dibandingkan dengan air hujan. Rata-rata konsentrasi Fe2+
pada air hasil lindian untuk tanah yang dilindi menggunakan air payau (348,86
ppm) dan air hujan (348,52 ppm) lebih besar dibandingkan dengan air gambut
(345,83 ppm).
Rata-rata konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian turun dari kondisi Eh -100
mV (354,21 ppm) hingga 400 mV (330,99 ppm) dan dari minggu I (413,43 ppm)
hingga minggu V (318,78 ppm), kemudian naik minggu VI (349,43 ppm) dan
turun lagi hingga minggu VIII (253,79 ppm). Perubahan ini disebabkan oleh
adanya bentuk keseimbangan antara Fe2+ (sukar larut) Fe2+ (mudah larut)
Fe2+ (larut) dalam tanah. Mula-mula yang terlindi Fe2+ larut, kemudian Fe2+
mudah larut, selanjutnya baru Fe2+ sukar larut. Oleh karena itu, konsentrasi Fe2+
pada air hasil lindian di minggu I pelindian lebih besar, kemudian turun. Pada
minggu VI terjadi pergeseran keseimbangan reaksi ke kanan, sehingga konsentrasi
Fe2+ pada air hasil lindian meningkat. Konsentrasi Fe2+ pada kondisi Eh 400 mV
minggu I (376,76 ppm) dan II (396,33 ppm) pelindian nyata lebih rendah
dibandingkan dengan kondisi Eh 200 mV (407,78 dan 419,40 ppm), 100 mV
(438,72 dan 426,38 ppm), 0 mV (430,61 dan 433,24 ppm), dan -100 mV (432,37
dan 431,63 ppm). Sedangkan pada minggu III pelindian konsentrasi Fe2+ pada air
hasil lindian untuk kondisi Eh 200 (378,10 ppm), 300 (380,32ppm), dan 400
mV(381,63 ppm) tidak berbeda nyata.
pelindian

konsentrasi Fe

2+

Selanjutnya memasuki minggu IV

pada air hasil lindian untuk kondisi Eh 100 mV

(394,87 ppm) nyata lebih besar dibandingkan dengan kondisi Eh 200 mV (378,10
ppm).

Pada minggu-minggu selanjutnya, kondisi Eh sudah tidak berpengaruh

nyata lagi terhadap konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian. Hal ini menunjukkan
bahwa pelindian tanah pada kondisi Eh 100 mV menyebabkan rata-rata
konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian terbesar (362,48 ppm). Ritsema et al.
(1992) menyatakan bahwa tanah sulfat masam semakin dioksidasi, maka
konsentrasi Fe2+ semakin menurun, karena terjadi perubahan Fe2+ menjadi Fe3+.

41

Tabel 3. Pengaruh sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah sulfat masam
terhadap konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian setiap minggu selama
delapan minggu pelindian

Perlakuan
(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

(Eh1)

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu I


(Eh2)
(Eh3)
(Eh4)
(Eh5)

(Eh6)

432,61
430,71 442,68 414,39
395,95
383,26
434,96 430,95 403,64
390,80
372,57
434,16
426,16 442,52 405,32
396,21
374,45
430,33
432,37 c 430,61 c 438,72 c 407,78 b 394,32 ab 376,76 a

Rataan S
416,60 a
411,18 a
412,50 a

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu II


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

435,78
439,27 435,92 424,86
402,76
396,09
430,47 432,07 426,11
403,14
397,47
431,43
427,67
429,99 411,15 407,22
400,90
395,43
431,63 c 433,24 c 426,38 c 419,40 bc 402,27 ab 396,33 a

421,45 a
420,12 a
412,06 a

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu III


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

382,73
384,07 387,67 373,70
400,50
397,50 403,43 370,40
411,70
416,17 416,47 390,20
398,31 b 399,25 b 402,52 b 378,10 a

367,90
371,50
401,57
380,32 a

375,17 378,54 a
375,90 386,54 ab
393,83 404,99 b
381,63 a

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu IV


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

380,57
387,60
395,40
386,20
392,87
394,63
389,61 ab 389,48 ab

391,00 373,70
367,90
371,83 378,77 a
390,47 370,40
371,50
375,90 381,65 ab
403,13 390,20
402,23
393,83 396,15 b
394,87 b 378,10 a 380,54 ab 380,52 ab

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu V


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

308,26
306,07
282,94
299,09 a

306,89 314,17 400,29


311,56 371,64 325,09
293,67 320,14 259,84
304,04 a 335,32 a 328,42 a

289,51
335,77
322,43
315,90 a

343,50
350,37
295,87
329,91 a

327,10 a
333,42 a
295,82 a

328,23
353,84
320,60
334,22 a

353,71 a
350,54 a
344,04 a

226,77
219,28
218,16
221,40 a

259,26 a
252,42 a
247,42 a

222,74
247,73
211,13
227,20 a

252,69 a
255,02 a
253,65 a

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu VI


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

340,26
338,89
379,78
352,98 a

342,68 349,30 395,10


338,11 377,39 349,00
359,13 356,17 308,08
346,64 a 360,95 a 350,73 a

366,71
345,99
340,45
351,05 a

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu VII


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

269,59
265,09
256,93
263,87 a

253,20 252,66 293,68


267,77 266,10 231,29
272,89 284,92 209,31
264,62 a 267,89 a 244,76 a

259,68
264,98
242,28
255,65 a

Konsentrasi Fe2+ (ppm) Minggu VIII


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

251,69
269,93
275,84
265,82 a

243,76 254,78 295,71


262,61 253,58 226,71
274,27 311,23 211,44
260,21 a 273,20 a 244,62 a

247,47
269,56
238,01
251,68 a

Keterangan: Angka-angka yang dikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut UJGD pada taraf = 0,05. S1 = air hujan, S2 = air payau, S3 = air

42

gambut, Eh1 = -100, Eh2 = 0, Eh3 = 100, Eh4 = 200, Eh5 = 300, dan Eh6 = 400
mV.

Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian
dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
disajikan pada Tabel 4. Hubungan antara konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian
dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
diperlihatkan pada Gambar 13. Tabel 4 menunjukkan bahwa konsentrasi Fe2+
pada air hasil lindian menurun sejalan dengan bertambahnya waktu pengukuran
yang ditandai oleh bobot nilai dari X negatif. Penurunan konsentrasi Fe2+ pada air
hasil lindian yang paling curam untuk air hujan dan payau terjadi pada kondisi Eh
100 mV, ditandai oleh nilai koefisien regresi terbesar masing-masing (507,2) dan
(505,8) dan bobot nilai dari X masing-masing (-0,08) dan (-0,07). Sedangkan
untuk air gambut terjadi pada kondisi Eh 200 mV dengan koefisien regresi (504,7)
dan bobot nilai dari X (-0,10). Hasil ini menunjukkan bahwa pelindian
menggunakan air hujan dan payau pada kondisi Eh 100 mV dan air gambut pada
kondisi Eh 200 mV akan menyebabkan penurunan konsentrasi Fe2+ pada air hasil
lindian lebih cepat. Menurut Dent (1986); Jaynes et al. (1984) proses reduksi
pada tanah sulfat masam akan menghasilkan

Fe2+(aq). Sedangkan Moses dan

Hermann (1991) menyatakan bahwa oksidasi pirit terjadi pada pH tanah < 4 dan
dapat menyebabkan perubahan besi II menjadi besi III, akibatnya konsentrasi besi
II tanah turun dan besi III meningkat.
Tabel 4.

Eh
(mV)
-100
0
100
200
300

Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi Fe2+ pada air hasil


lindian dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan
kondisi Eh tanah sulfat masam

Hujan
y = 492,9 e-0,08 X
R = 0,897
y = 504,5 e-0,08 X
R = 0,880
y = 507,2 e-0,08 X
R = 0,878
y = 455,4 e-0,04 X
R = 0,643
y = 451,2 e-0,06 X
R = 0,739

Sumber Air Pelindi


Payau
y = 496,3 e-0,07 X
R = 0,899
y = 495,1 e-0,07 X
R = 0,913
y = 505,8 e-0,07 X
R = 0,802
y = 490,4 e-0,08 X
R = 0,808
y = 445,3 e-0,06 X
R = 0,828

Gambut
y = 488,6 e-0,07 X
R = 0,697
y = 488,4 e-0,07 X
R = 0,795
y = 475,8 e-0,05 X
R = 0,812
y = 504,7 e-0,10 X
R = 0,825
y = 483,7 e-0,08 X
R = 0,786

43

400

y = 472,7 e-0,08 X
R = 0,781

y = 457,2 e-0,07 X
R = 0,645

y = 482,7 e-0,09 X
R = 0,770

Gambar 13. Hubungan antara konsentrasi Fe2+ pada air hasil lindian dengan
waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh
tanah sulfat masam (, ------ = air hujan; , = air payau; dan ,
= air gambut)
Konsentrasi Fe-total pada Air Hasil Lindian
Sifat kimia tanah tergenang lebih didominasi oleh Fe dibandingkan dengan
unsur-unsur redoks lainnya (H2O, N2, Mn2+, S2-, CH4, dan H2). Penyebab yang
umum dari dominasi ini adalah banyak Fe yang dapat direduksi, biasanya sepuluh
kali lebih banyak dibandingkan dengan unsur redoks lainnya (Patrick dan Reddy,
1978). Meskipun senyawa Fe dalam tanah sulit dikurangi dan seringkali berada

44

dalam bentuk ferri selama ada O2, NO3-, dan NO2- (Van Breemen dan Buurman,
1998).
Tabel 5 memperlihatkan rata-rata konsentrasi Fe-total pada air hasil
lindian turun dari minggu I (503,43 ppm) hingga minggu V (374,54 ppm),
kemudian naik pada minggu VI (399,84 ppm) dan turun kembali hingga minggu
VIII 310,26 ppm). Keadaan ini disebabkan oleh keseimbangan antara Fe (sukar
larut) Fe (mudah larut) Fe (larut) pada tanah. Oleh karena itu pada awal
pelindian, Fe yang terlindi adalah Fe larut, kemudian Fe mudah larut, selanjutnya
baru Fe sukar larut.

Rata-rata konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian

meningkat dari kondisi Eh -100 mV (372,64 ppm) hingga Eh 400 mV (554,44


ppm). Keadaan ini menunjukkan bahwa semakin tanah dioksidasi, maka
konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian semakin besar. Olomu et al. (1973)
menyatakan hubungan antara pH, Eh, dan Fe-total, peningkatan Eh tanah akan
meningkatkan Fe-total dan menyebabkan penurunan pH. Moses dan Hermann
(1991); Wakao et al. (1984) mengemukakan bahwa oksidasi pirit akan
menghasilkan ion-ion Fe3+, SO42- dan H+. Oleh karena itu, konsentrasi Fe-total
pada air hasil lindian meningkat sejalan dengan meningkatnya kondisi Eh tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada minggu I konsentrasi Fe-total pada air
hasil lindian terbesar (573,00 ppm) terjadi pada kondisi Eh 400 mV dan dilindi
menggunakan air payau. Kemudian pada minggu II pelindian menggunakan air
hujan (517,11 ppm) tidak berbeda nyata dengan air payau (494,28 ppm), namun
nyata lebih besar dari air gambut ( 481,00 ppm). Keadaan ini disebabkan oleh
terjadinya pertukaran kation antara kation-kation Ca2+ (4,2 ppm ), Mg2+ (12,9
ppm ), Na+ (87 ppm), dan K+ (3,8 ppm) pada air payau dengan ion Fe-total yang
terjerap pada permukaan koloid, sehingga konsentrasi Fe-total pada air hasil
lindian lebih besar. Konsentrasi Fe-total selalu lebih kecil pada tanah yang dilindi
menggunakan air gambut. Keadaan ini disebabkan oleh terbentuknya kelat antara
asam-asam organik yang larut dalam air gambut dengan kation Fe, akibatnya
konsentrasi Fe pada air gambut menjadi lebih kecil.

45

Tabel 5. Pengaruh sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah sulfat masam
terhadap konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian setiap minggu
selama delapan minggu pelindian
Perlakuan
(S1)
(S2)
(S3)

(Eh1)

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu I


(Eh2)
(Eh3)
(Eh4)
(Eh5)

469,33 b 478,67 a
(a)
(a)
466,33 ab 476,67 a
(a)
(a)
457,67 a 469,33 a
(a)
(b)

503,00 b 510,67 b 526,00ab 560,00 b


(c)
(d)
(b)
(b)
498,67 b 505,67 ab 535,00 b 573,00 c
(b)
(b)
(c)
(d)
484,33 a 496,67 a 520,33 a 530,33 a
(e)
(c)
(d)
(e)

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu II


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

(Eh6)

Rataan S

452,67
459,00
480,67
531,33
581,67
452,67
472,33
495,67
533,33
443,33
441,67
455,00
462,33
471,67
493,00
445,89 a 455,56 ab 471,78 ab 499,56 bc 536,00 cd

597,33 517,11 b
568,33 494,28 ab
562,33 481,00 a
575,99 d

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu III


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

426,00 425,67
423,67
428,33
415,67
423,33
421,78 a 425,78 a

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

397,33 404,67
402,67
406,67
403,00
406,67
401,00 a 406,11 a

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

322,33 326,33
321,67
348,00
301,33
306,67
315,11 a 327,00 a

436,00
426,67
429,33
430,67 a

430,00
419,33
429,00
426,11 a

425,33 434,00 429,50 a


428,67 430,00 426,11 a
434,00 448,67 430,00 a
429,33 a 437,56 a

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu IV


405,00
403,00
413,67
407,22 a

398,33
408,67
423,67
410,22 a

405,67 417,67 404,78 a


398,67 408,00 404,67 a
430,67 430,33 418,00 a
411,67 a 418,67 a

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu V


373,33
435,67
395,67
401,56 a

455,33
386,33
334,67
392,11 a

348,33
438,00
389,00
391,78 a

399,00 370,78 a
445,67 395,89 a
414,33 356,95 a
419,67 a

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu VI


(S1)
(S2)
(S3)
Eh

351,67 368,33
417,67
449,67
429,33
356,67
364,00
446,33
421,00
420,00
389,33
372,33
416,00
390,33
392,67
365,89 a 368,22 a 426,67 a 420,33 a 414,00 a

(S1)
(S2)
(S3)
Eh

277,67
270,00
304,00
285,00
297,00
335,67
268,00
287,00
307,33
276,89 a 284,67 a 315,67 a

(S1)
(S2)
(S3)
Eh

274,33
271,33
314,67
305,33
280,67
341,33
290,67
289,00
364,33
290,11 a 280,33 a 340,11 a

393,33 401,67 a
420,67 404,78 a
397,67 393,06 a
403,89 a

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu VII


341,67
300,00
281,00
307,56 a

351,67 304,67 308,28 a


339,67 286,00 307,22 a
317,00 295,00 292,56 a
336,11 a 295,22 a

Konsentrasi Fe-total (ppm) Minggu VIII

46

348,33
317,33
280,33
315,33 a

347,00 327,67 313,89 a


332,00 309,67 314,39 a
291,33 299,33 302,50 a
323,44 a 312,22 a

Keterangan: Angka-angka yang dikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut UJGD pada taraf = 0,05. Huruf dalam tanda ( ) dibaca arah
horizontal dan huruf tanpa tanda ( ) dibaca arah vertikal. S1 = air hujan,
S2 = air payau, S3 = air gambut, Eh1 = -100, Eh2 = 0, Eh3 = 100, Eh4 = 200,
Eh5 = 300, dan Eh6 = 400 mV.

Tebel 6 memperlihatkan bahwa konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian


menurun sejalan dengan bertambahnya waktu pengukuran, ditandai oleh bobot
nilai dari X negatif. Hubungan antara konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian
dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
diperlihatkan pada Gambar 14. Pelindian menggunakan air payau pada kondisi
Eh 400 mV menyebabkan penurunan konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian
lebih curam, ditandai oleh nilai koefisien regresi (633,4) terbesar.

Hasil ini

menunjukkan bahwa pelindian tanah menggunakan air payau pada kondisi Eh 400
mV lebih cepat menurunkan konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian.
Tabel 6.

Eh
(mV)
-100
0
100
200
300
400

Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi Fe-total pada air hasil


lindian dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan
kondisi Eh tanah sulfat masam

Hujan
y = 529,7 e-0,08 X
R = 0,926
y = 542,7 e-0,08 X
R = 0,896
y = 543,3 e-0,06 X
R = 0,853
y = 548,5 e-0,05 X
R = 0,695
y = 565,1 e-0,06 X
R = 0,701
y = 624,8 e-0,08 X
R = 0,872

Sumber Air Pelindi


Payau
y = 508,1 e-0,07 X
R = 0,876
y = 53,0e-0,07 X
R = 0,947
y = 518,8 e-0,04 X
R = 0,714
y = 547,2 e-0,06 X
R = 0,826
y = 568,9 e-0,06 X
R = 0,834
y = 633,4 e-0,09 X
R = 0,818

Gambut
y = 506,6 e-0,07 X
R = 0,747
y = 519,7e-0,07 X
R = 0,839
y = 507,2 e-0,05 X
R = 0,730
y = 556,7 e-0,08 X
R = 0,871
y = 574,0 e-0,07 X
R = 0,943
y = 620,7 e-0,09 X
R = 0,900

47

Gambar 14. Hubungan antara konsentrasi Fe-total pada air hasil lindian dengan
waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh
tanah sulfat masam (, ------ = air hujan; , = air payau; dan ,
= air gambut)
Konsentrasi SO42- pada Air Hasil Lindian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh terhadap
konsentrasi SO42- pada air hasil lindian dari minggu I hingga minggu VIII (Tabel
7). Rata-rata konsentrasi SO42- pada air hasil lindian meningkat dari kondisi Eh 100 mV (549,07 ppm) hingga kondisi Eh 400 mV (741,95 ppm). Jaynes et al.
(1984) menyatakan bahwa sulfida stabil pada kondisi tergenang (anaerobik) tetapi

48

Tabel 7. Pengaruh sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah sulfat masam
terhadap konsentrasi SO42- pada air hasil lindian setiap minggu selama
delapan minggu pelindian
Perlakuan
(S1)
(S2)
(S3)

(Eh1)
650,73a
(a)
649,76 a
(a)
646,72 a
(a)

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu I


(Eh2)
(Eh3)
(Eh4)
(Eh5)
700,21 a
(ab)
672,44 a
(a)
672,24 a
(a)

743,52 a
(b)
746,48 a
(b)
760,95 a
(b)

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu II


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

739,1
738,3
841,3
772,9 a

750,4
776,0
947,0
824,5 a

(Eh6)

785,54 a 811,58 a 946,12 a


(b)
(b)
(c)
781,20 a 831,83 a 918,63 a
(bc)
(c)
(d)
898,38 b 943,23 b 1.019,90 b
(c)
(cd)
(d)

Rataan S

864,0
955,1
1.023,1
885,7
1.007,2 1.086,8
1.030,4
1.111,4
1.220,0
926,7 ab 1.024,6 bc 1.110,0 bc

1.059,3 898,5 a
1.095,5 931,6 ab
1.289,4 1.073,2 b
1.148,1 c

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu III


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

549,32
565,85
586,90
604,33
635,16 754,20 615,96 a
530,97
536,71
604,18
622,48
661,91 797,12 625,56 ab
576,59
587,24
630,92
712,18
799,93 829,51 689,40 b
552,29 a 563,27 a 607,33 ab 646,33 bc 699,00 c 793,61 d

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu IV


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

499,28
507,72
516,86
528,13
526,68
479,73
505,26
525,31
553,48
567,56
519,87
546,67
570,58
659,10
656,28
499,63 a 519,88 ab 537,58 ab 580,24 bc 583,51 bc

571,88 525,09 a
623,88 542,54 ab
692,05 607,43 b
629,27 c

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu V


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

704,17
693,97
728,98
724,41
723,28
742,15 719,49 b
568,82
623,18
649,64
697,43
665,06
636,30 640,07 a
548,40
603,18
615,10
651,89
630,54
642,52 615,27 a
607,13 a 640,11 ab 664,57 ab 691,24 b 672,96 ab 673,66 ab

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu VI


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

414,73
509,18
505,28
476,40 a

434,21
530,15
514,89
493,08 a

593,53
580,72
670,39
649,04
755,78
533,75
673,23 a 587,84 a

683,20 627,69 555,68 a


619,15 563,64 590,26 a
465,43 670,39 574,25 a
589,26 a 620,57 a

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu VII


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

433,40
458,43
543,71
568,07
472,25
483,96
593,93
628,11
482,23
480,11
569,56
559,37
462,63 a 474,17 ab 569,07 bc 585,18 c

600,65
583,57
604,09
595,10 c

586,00 531,71 a
577,41 556,54 a
642,51 539,65 a
601,97 c

Konsentrasi SO42- (ppm) Minggu VIII


(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

356,52
375,89
385,06
372,49 a

367,19
424,31
433,75
381,50
441,33
480,12
393,23
452,25
487,01
380,64 a 439,30 ab 466,96 b

467,92
482,14
514,65
488,24 b

467,91 419,60 a
504,46 444,24 ab
548,21 463,40 b
506,86 b

Keterangan: Angka-angka yang dikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut UJGD pada taraf = 0,05. Huruf dalam tanda ( ) dibaca arah
horizontal dan huruf tanpa tanda ( ) dibaca arah vertikal. S1 = air hujan, S2 =
air payau, S3 = air gambut, Eh1 = -100, Eh2 = 0, Eh3 = 100, Eh4 = 200, Eh5 =
300, dan Eh6 = 400 mV.

49

bila oksigen masuk ke dalam sistem tersebut, maka sulfida akan teroksidasi
menjadi asam sulfat. Sedangkan Schwab dan Lindsay (1983) memperlihatkan
hubungan antara Eh dengan SO42-, penurunan nilai Eh tanah dari 450 mV menjadi
-200 mV akan menyebabkan penurunan konsentrasi SO42- dari 144 menjadi 6
ppm. Kemudian Ritsema (1992) menyatakan bahwa tanah sulfat masam semakin
dioksidasi, kelarutan SO42- dalam larutan tanah akan meningkat semakin cepat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelindian tanah sulfat masam
menggunakan air gambut pada minggu I, II, III, IV, dan VIII dapat menyebabkan
konsentrasi SO42- pada air hasil lindian tidak berbeda nyata dengan air payau,
namun berbeda nyata dengan air hujan (Tabel 7). Keadaan ini disebabkan oleh
terjadi pertukaran anion antara anion SO42- yang terikat pada ion logam yang
terjerap di permukaan koloid tanah dengan asam-asam organik pada air gambut.
Akibatnya konsentrasi SO42- pada air hasil lindian untuk tanah yang dilindi
menggunakan air gambut menjadi lebih besar.

Selain itu anion SO42- dan

kompleks koloid tanah sama-sama bermuatan negatif, dengan demikian tidak


terjadi penjerapan ion SO42- oleh permukaan koloid tanah. Noor et al. (2005)
menyatakan bahwa air payau di Tabunganen, Kalimantan Selatan mengandung
ion Cl- sebesar 148,3 me/l. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya pertukaran
anion antara anion Cl- dengan anion SO42- yang terjerap pada ion logam di
permukaan koloid tanah, sehingga konsentrasi ion SO42- pada air hasil lindian
yang dilindi menggunakan air payau semakin besar.
Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi SO42- pada air hasil lindian
dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
diperlihatkan pada Tabel 8. Konsentrasi SO42- pada air hasil lindian menurun
sejalan dengan bertambahnya waktu pengukuran yang ditandai oleh bobot nilai
dari X negatif. Hubungan antara konsentrasi SO42- pada air hasil lindian dengan
waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
diperlihatkan pada Gambar 15. Pelindian tanah menggunakan air gambut pada
kondisi Eh 400 mV menyebabkan penurunan konsentrasi SO42- pada air hasil
lindian lebih cepat, ditandai oleh koefisien regresi terbesar (1.205,0).

50

Tabel 8.

Eh
(mV)
-100
0
100
200
300
400

Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi SO42- pada air hasil


lindian dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan
kondisi Eh tanah sulfat masam

Hujan
y = 782,6e-0,08 X
R = 0,653
y = 805,0e-0,09 X
R = 0,802
y = 836,6e-0,07 X
R = 0,558
y = 895,2e-0,07 X
R = 0,594
y = 917,2e-0,07X
R = 0,503
y = 1079,0e-0,09 X
R = 0,769

Sumber Air Pelindi


Payau
y = 732,5e-0,07 X
R = 0,721
y = 770,0e-0,07 X
R = 0,644
y = 826,6e-0,06 X
R = 0,502
y = 885,0e-0,06X
R = 0,500
y = 969,3e-0,08 X
R = 0,654
y = 1085,0e-0,10 X
R = 0,837

Gambut
y = 790,0e-0,08 X
R = 0,746
y = 857,1e-0,08 X
R = 0,705
y = 929,1e-0,09 X
R = 0,694
y = 1073,0e-0,10 X
R = 0,826
y = 1152,0e-0,11 X
R = 0,741
y = 1205,0e-0,10 X
R = 0,773

51

Gambar 15. Hubungan antara konsentrasi SO42- pada air hasil lindian dengan
waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh
tanah sulfat masam (, ------ = air hujan; , = air payau; dan ,
= air gambut)
Konsentrasi Al pada Air Hasil Lindian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap
konsentrasi Al3+ pada air hasil lindian hingga minggu VI. Konsentrasi Al3+ pada
air hasil lindian lebih besar terjadi pada pelindian menggunakan air payau (Tabel
9). Keadaan ini disebabkan oleh terjadinya pertukaran kation-kation antara

52

Tabel 9. Pengaruh sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah sulfat masam
terhadap konsentrasi Al3+ pada air hasil lindian setiap minggu selama
delapan minggu pelindian
Perlakuan
(S1)
(S2)
(S3)

(Eh1)
72 b
(a)
63 ab
(a)
51 a
(a)

(S3)

60 a
(a)
51 a
(a)
57 a
(a)

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

57
45
42
48 a

(S1)
(S2)

(S1)
(S2)
(S3)

75 b
(abc)
48 a
(a)
42 a
(a)

(S3)

42 b
(a)
27 a
(a)
39 a
(a)

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

48
30
30
36 a

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

39
24
30
31 a

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

45
45
21
37 a

(S1)
(S2)

Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu I


(Eh2)
(Eh3)
(Eh4)
(Eh5)
90 a
96 a
105 a
135 a
(ab)
(b)
(b)
(c)
87 a
135 b
135 b
180 b
(b)
(c)
(c)
(d)
87 a
90 a
90 a
165 b
(b)
(b)
(b)
(c)
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu II
66 a
66 ab
75 a
87 a
(ab)
(ab)
(bc)
(c)
84 b
87 b
93 b
111 b
(b)
(b)
(b)
(c)
72 ab
60 a
87 ab
108 b
(ab)
(a)
(b)
(c)
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu III
63
63
81
90
57
75
87
92
45
39
81
84
55 a
59 a
83 b
88.7 b
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu IV
81 b
60 ab
63 a
84 a
(abc)
(a)
(ab)
(bc)
54 a
81 b
114 c
117 b
(a)
(b)
(c)
(c)
66 ab
51 a
84 b
99 ab
(b)
(ab)
(bc)
(c)
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu V
42 a
42 a
63 a
87 a
(a)
(a)
(b)
(c)
42 a
60 b
96 c
105 b
(b)
(c)
(d)
(d)
39 a
63 b
78 b
93 ab
(a)
(b)
(bc)
(c)
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu VI
51
42
60
48
51
51
69
72
36
36
39
63
46 ab
43 ab
56 b
61 b
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu VII
42
45
42
42
42
60
51
48
27
39
48
33
37 a
48 a
47 a
41 a
Konsentrasi Al3+ (ppm) Minggu VIII
39
36
51
36
39
21
39
45
24
24
15
42
34 a
27 a
35 a
41 a

(Eh6)
165 a
(d)
195 b
(d)
180 ab
(c)
102 a
(c)
114 a
(c)
114 a
(c)
102
102
93
99 b

Rataan S
76,00 b
76,33 b
64,00 a

96 a
(c)
120 b
(c)
96 a
(c)
87 a
(c)
111 b
(d)
90 a
(c)
63
48
48
53 ab

52,0 b
30,5 a
42,0 ab

39
42
48
43 a

41.5 a
44.5 a
37.5 a

27
54
51
44 a

39,00 a
40,50 a
29,50 a

Keterangan: Angka-angka yang dikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut UJGD
pada taraf = 0,05. Huruf dalam tanda ( ) dibaca arah horizontal dan huruf tanpa
tanda ( ) dibaca arah vertikal. S1 = air hujan, S2 = air payau, S3 = air gambut, Eh1 = 100, Eh2 = 0, Eh3 = 100, Eh4 = 200, Eh5 = 300, dan Eh6 = 400 mV.

53

kation-kation Ca2+, Mg2+, Na+, dan K+ pada pada air payau dengan ion Al3+ yang
terjerap pada permukaan koloid tanah.
Tanah yang dioksidasi hingga kondisi Eh 400 mV menyebabkan rata-rata
konsentrasi Al3+ (91,13 ppm) pada air hasil lindian lebih besar dibandingkan
dengan kondisi Eh -100 mV (45,13 ppm). Yuliana (1989) menyatakan bahwa
oksidasi tanah sulfat masam akan meningkatkan konsentrasi Al-dd dari 7,61
menjadi 18,21 me/100 g. Sedangkan Konsten (1990) menyatakan bahwa reduksi
pada tanah sulfat masam akan mengakibatkan peningkatan pH dan penurunan
tingkat aktivitas Al3+.
Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi Al3+ pada air hasil lindian
dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
menunjukkan bahwa bobot nilai dari X negatif. Hal ini berarti bahwa konsentrasi
Al3+ pada air hasil lindian menurun sejalan dengan bertambahnya waktu
pengukuran. Hubungan antara konsentrasi Al3+ pada air hasil lindian dengan
waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
diperlihatkan pada Gambar 16. Nilai koefisien regresi terbesar (28,6) terjadi pada
pelindian menggunakan air payau dan kondisi Eh 400 mV. Ini berari bahwa
penurunan konsentrasi Al3+ pada air hasil lindian tercepat terjadi pada pelindian
menggunakan air payau dan kondisi Eh 400 mV. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa peningkatan kondisi Eh tanah hingga 400 mV akan meningkatkan
konsentrasi Fe-total dan SO42- pada air hasil lindian. Peningkatan konsentrasi
kedua ion tersebut akan menyebabkan penurunan pH dan peningkatan kelarutan
Al3+. Kollmeier et al.

(2001) menyatakan bahwa pada kondisi oksidatif

konsentrasi Fe dan SO42- tinggi, akibatnya pH tanah turun dan mobilitas Al3+
dalam tanah meningkat. Van Mensvoort dan Dent (1998) menyatakan bahwa
proses oksidasi pirit pada tanah sulfat masam akan menghasilkan ion-ion Fe3+,
SO42-, dan H+. Adanya ion H+ menyebabkan kemasaman tanah meningkat yang
diikuti oleh meningkatnya konsentrasi Al3+. Dent (1986) menyatakan bahwa
pemanfaatan air laut untuk memperbaiki sifat kimia tanah sulfat masam
digambarkan menurut persamaan reaksi kimia berikut:
Al-liat(s) + Na+(aq) + Mg 2+(aq) Na/Mg-liat(s) + Al3+ (aq)

54

Keadaan pH larutan yang tinggi, mengakibatkan Al mengendap sebagai hidroksi


atau garam sulfat, sedang asam-asam terlarut terbebaskan untuk selanjutnya
terlindi dan keluar dari sistem.
Tabel 10. Persamaan regresi hubungan antara konsentrasi Al3+ pada air hasil
lindian dengan waktu pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan
kondisi Eh tanah sulfat masam
Eh
(mV)
-100
0
100
200
300
400

Hujan
y = 75,69 e-0,07 X
R = 0,606
y = 93,78 e-0,11 X
R = 0,745
y = 93,39 e-0,12 X
R = 0,874
y = 104,7 e-0,10 X
R = 0,838
y = 153,6 e-0,17 X
R = 0,881
y = 206,4 e-0,22 X
R = 0,899

Sumber Air Pelindi


Payau
y = 60,54 e-0,09 X
R = 0,452
y = 91,63 e-0,11 X
R = 0,842
y = 153,1 e-0,19 X
R = 0,781
y = 156,3 e-0,15 X
R = 0,781
y = 193,2 e-0,17 X
R = 0,840
y = 208,6 e-0,19 X
R = 0,783

Gambut
y = 65,54 e-0,12 X
R = 0,896
y = 101,2 e-0,18 X
R = 0,889
y = 86,25 e-0,13 X
R = 0,667
y = 148,6 e-0,21 X
R = 0,693
y = 183,0 e-0,19 X
R = 0,833
y = 185,9 e-0,18 X
R = 0,873

55

Gambar 16. Hubungan antara konsentrasi Al pada air hasil lindian dengan waktu
pengukuran pada setiap sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah
sulfat masam (, ------ = air hujan; , = air payau; dan , =
air gambut)

Konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42- , Al dan pH tanah


Konsentrasi Fe2+ tanah yang dioksidasi hingga kondisi Eh 300-400 mV dan
dilindi dengan air payau (299,81 dan 297,13 ppm) lebih rendah dibandingkan

56

dengan yang dilindi menggunakan air hujan (448,52 dan 382,97 ppm) dan air
gambut (375,09 dan 370,23 ppm).

Rata-rata konsentrasi Fe2+ pada air hasil

lindian terbesar terjadi pada kondisi Eh 100 mV (362,68 ppm), sedang konsentrasi
Fe2+ pada tanah terkecil (299,81 dan 297,13 ppm) terjadi pada kondisi Eh 300400 mV. Keadaan ini disebabkan oleh perbedaan waktu pengukuran, dimana air
hasil lindian diukur setiap minggu sedang tanah setelah pelindian berakhir.
Akibatnya pengaruh kondisi awal Eh tanah tidak berpengaruh lagi terhadap
konsentrasi Fe2+ tanah.
Tabel 11. Pengaruh sumber air pelindi dan kondisi Eh tanah sulfat masam
terhadap konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ tanah setelah dilindi
selama delapan minggu

Perlakuan
(S1)
(S2)
(S3)
(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh
(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

(Eh1)

Konsentrasi Fe2+ (ppm)


(Eh2)
(Eh3)
(Eh4)

(Eh5)

(Eh6)

385,46 a
(ab)
390,85 a
(b)
371,36 a
(a)

396,82 a 415,03 ab 348,59 a 448,52 b 382,97 b


(ab)
(b)
(a)
(b)
(ab)
381,93 a 371,66 a 434,86 b 299,81 a 297,13 a
(a)
(b)
(b)
(b)
(a)
375,72 a 440,00 b 407,67 ab 375,09 b 370,23 b
(ab)
(a)
(a)
(ab)
(b)
Konsentrasi Fe-total (ppm)
Rataan S
3416,67 3411,67 3328,33 3361,67 3291,67 3221,67 3338,61 c
3261,67 3248,33 3271,67 3240,00 3163,33 3086,67 3211,95 b
3173,33 3146,67 3153,00 3091,67 3056,67 2976,67 3099,67 a
3283,89 c3268,89 bc 3251,00 bc 3231,11b 3170,56 ab3095,00 a
Konsentrasi SO42- (ppm)
589,33
560,07
470,10
422,56
409,39 369,58 470,17 b
567,30
581,78
448,46
458,48
427,23 358,65 473,65 b
577,59
507,53
435,26
371,18
351,92 307,53 425,17 a
578,07 c 549,79 c 451,27 b 417,41 b 396,18 ab 345,25 a

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

12,34
11,88
11,93
12,05 a

(S1)
(S2)
(S3)
Rataan Eh

3,24
3,14
3,25
3,21 a

Konsentrasi Al3+ (me/100 g)


13,37
15,61
18,63
14,18 12,45 14,43 b
11,66
12,73
13,70
12,66 11,75
12,40 a
12,37
12,66
14,04
13,47 11,18 12,61 ab
12,47 a 13,67 ab 15,46 b 13,44 a 11,79 a
pH Tanah
3,26
3,27
3,28
3,31
3,37
3,29 a
3,20
3,19
3,24
3,30
3,36
3,24 a
3,26
3,32
3,29
3,39
3,40
3,32 a
3,24 a 3,26 ab 3,27 ab 3,33 bc 3,38 c

Keterangan: Angka-angka yang dikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata
menurut UJGD pada taraf = 0,05. Huruf dalam tanda ( ) dibaca arah
horizontal dan huruf tanpa tanda ( ) dibaca arah vertikal. S1 = air hujan, S2 =
air payau, S3 = air gambut, Eh1 = -100, Eh2 = 0, Eh3 = 100, Eh4 = 200, Eh5 =
300, dan Eh6 = 400 mV.

57

Konsentrasi Fe-total tanah pada kondisi Eh 400 mV (3.095,00 ppm) lebih


rendah dibandingkan dengan kondisi Eh -100 mV (3.283,89 ppm).

Konsentrasi

Fe-total tanah yang dilindi dengan air gambut (3.099,67 ppm) lebih kecil
dibandingkan dengan yang dilindi menggunakan air payau (3.211,95 ppm) dan air
hujan (3.338,61 ppm). Sedangkan rata-rata konsentrasi Fe-total pada air hasil
lindian terbesar terjadi pada tanah yang dilindi menggunakan air payau (407,07
ppm). Terjadi ketidak selarasan antara total konsentrasi Fe-total pada air hasil
lindian dengan konsentrasinya pada tanah. Harusnya tanah yang dilindi dengan
air payau konsentrasi Fe-total lebih kecil, namun kenyataannya tanah yang dilindi
menggunakan air gambut konsentrasi Fe-total tanah lebih kecil.
Total konsentrasi SO42- pada air hasil lindian sesuai dengan konsentrasi ion
tersebut pada tanah yang dilindi.

Pelindian tanah pada kondisi Eh 400 mV

menggunakan air gambut dapat menyebabkan rata-rata konsentrasi SO42- pada air
hasil lindian terbesar (791,81ppm). Akibatnya konsentrasi SO42- pada tanah
dengan kondisi Eh 400 mV dan dilindi menggunakan air gambut lebih kecil
(307,53 ppm).
Konsentrasi Al3+ pada tanah juga sesuai dengan rata-rata konsentrasi ion ini
pada air hasil lindian. Nilai rata-rata konsentrasi Al3+ pada air hasil lindian
terbesar (98,25 ppm) terjadi pada tanah dengan kondisi Eh 400 mV dan dilindi
menggunakan air payau.

Dengan demikian, konsentrasi Al3+ terkecil (11,18

me/100 g) terjadi pada tanah dengan kondisi Eh 400 mV dan dilindi menggunakan
air payau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar nilai Eh tanah, maka
nilai pH tanah semakin meningkat. Keadaan ini disebabkan oleh waktu
pengukuran pH tanah setelah pelindian selesai, akibatnya kondisi awal Eh tanah
tidak berpengaruh lagi terhadap pH tanah. Pada penelitian ini perubahan pH tanah
lebih disebabkan oleh perubahan konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ tanah.
Pada kondisi Eh -100 mV, rata-rata nilai pH tanah 3,21 dan rata-rata konsentrasi
Fe2+, Fe-total, SO42-, dan Al3+ masing-masing (382,56 ppm Fe2+; 3.283,89 ppm
Fe-total; 578,07 ppm SO42-; dan 12,05 me/100 g Al). Kemudian pada kondisi Eh
400 mV, rata-rata nilai pH naik menjadi 3,38 dan rata-rata konsentrasi Fe2+, Fe-

58

total, SO42-, dan Al3+ turun menjadi masing-masing (350,11 ppm Fe2+; 3.095,00
ppm Fe-total; 345,25 ppm SO42-; dan 11,79 me/100 g Al).

Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pelindian tanah menggunakan air payau dapat menyebabkan rata-rata
konsentrasi Fe2+, Fe-total, dan Al3+ pada air hasil lindian terbesar (348,86 ppm
Fe2+, 407,07 ppm Fe-total,

dan 62,56 ppm Al3+), sedang air gambut

menyebabkan rata-rata konsentrasi SO42- terbesar (673,29 ppm SO42-).


2. Kondisi Eh 100 mV dapat menyebabkan rata-rata konsentrasi Fe2+ pada air
hasil lindian terbesar (362,48 ppm Fe2+), sedang kondisi Eh 400 mV
menyebabkan rata-rata konsentrasi Fe-total, SO42-, dan Al3+ pada air hasil
lindian terbesar (427,21ppm Fe-total, 741,95 ppm SO42-; dan 91,13 ppm Al3+).
3. Pelindian menggunakan air payau dapat menyebabkan konsentrasi Fe2+ dan
Al3+ tanah terkecil (362,71 ppm Fe2+ dan 1.116,00 ppm Al3+), sedang konsentrasi Fe-total dan SO42- terkecil (3.099,60 ppm Fe-total dan 425,17 ppm SO42-)
terjadi pada tanah yang dilindi menggunakan air gambut.
4. Kondisi Eh 400 mV dapat menyebabkan konsentrasi Fe2+, Fe-total, SO42- dan
Al3+ tanah terkecil (350,11 ppm Fe2+; 3.095,00 ppm Fe-total; 345,25 ppm
SO42-; dan 1.061,10 ppm Al3+).

Daftar Pustaka
Alloway, B. J. and Ayres, D. C. 1997. Chemical Principles of Environmental
Pollution. Second Edition. London. Blackie Acad. & Professional.
Berry, L. G. 1974. Selected Powder Diffraction Data for Minerals. Dept. of
Geological Sciences, Queen`s University, Kingston, Ontario, Canada.
Bourbonniere, R. A. and I. F. Creed. 2006. Biodegradability of dissolved
organic matter extracted from a chronosequence of forest-floor materials.
Journal of Plant Nutrition and Soil Sci. 169:101-107.
Dent, D. L. 1986. Acid sulphate soils: A baseline for research and development,
Pub. 39, Int. Inst. Land Reclamation and Improvement, Wageningen. ISBN
90 70260 980.

59

Gotoh. S. and W. H. Patrick. 1974. Transformation of iron in a water logged soil


as affected by redox potential and pH. Soil Sci. Soc. Amer. Proc. 38:66-71.
Jaynes, D. B., A. S. Rogowski, and H. B. Pionke. 1984. Acid mine drainage from
reclaimed coal strip mines, I. Model description. Water Resources Research
20:233-242.
Moraghan, J. R. and W. H. Patrick. 1974. Selected metabolic processes in a
submerged soil at controlled pH values. Int. Congr. Soil Sci. 11:264-269.
Moses, C. O. and J. S. Hermann. 1991. Pyrite oxidation at circumneutral pH.
Geochim. Cosmochim. Acta. 55: 471-482.
Mulyanto, B., B. Sumawinata, Suwardi, dan G. Djajakirana. 1999. Sifat
mineralogi liat tanah berpotensi sulfat masam pada Sistem Pengelolaan
Lahan Orang Banjar (SPLOB) di Kalimantan Selatan. Jurnal Ilmiah
Pertanian. Gakuryoku 4:273-281.
Noor, M., A. Maas, dan T. Notohadikosomo. 2005. Pengaruh pelindian dan
ameliorasi terhadap pertumbuhan pada di tanah sulfat masam. Jurnal Ilmu
Tanah dan Lingkungan 2:38-54.
Olomu, M. O., G. J. Racz, and C. M. Cho. 1973. Effect of flooding on the Eh,
pH, and concentration of Fe and Mn in several Manitoba soil. Soil Sci. Soc.
Amer. J. 37:220-224.
Patrick, W. H. and C. N. Reddy. 1978. Chemical changes in rice soils. p. 362379. In. Soil and Rice. 1978. IRRI. Los Banos. Philippines.
Prasetyo, B. H. and J. Jansen. 1990. Soil charakteristics and nutrient status in acid
sulphate soil in Pulau Petak, South Kalimantan. p. 109-135. In.
AARD/LAWOO. Paper Workshop on Acid Sulphate Soils In The Humik
Tropics. Bogor.
Ritsema, C. J., J. E. Groenenberg, and E. B. A. Bisdom. 1992. The
transformation of potential into actual acid sulphate soils studied in colomn
experiments. Geoderma 55:259-271.
Subagyo, H. 2006. Lahan rawa pasang surut. p. 23-99. Dalam. Karakteristik
dan Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.
Suriadikarta, D. A. dan D. Setyorini. 2006. Teknologi pengelolaan lahan sulfat
masam. p. 117-151. Dalam. Karakteristik dan Pengelolaan Lahan Rawa.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Bogor.

60

Van Breemen N. and Buurman P. 1998. Soil Formation. Kluwer Academic Pub.
Dordrecht, The Netherlands.
Van Mensvoort, M. E. F. and D. L. Dent. 1998. Acid Sulphate Soil. p. 301330. In. Lal, R., W. H., Blum, C.Valentine, and B. A. Steward (ed.).
Method for Assessment of Soil Degradation. Florida. CRC Prees LLC.
Van Ranst, E. 1995. Clay Mineralogy: Crystal structures, identivication analysis,
and chemestry of clay mineral and clay. ITC. Ghent. Belgium.
Wakao, N., M. Mishina, Y. Sakurai, and H. Shiota. 1984. Bacterial pyrite
oxidation III. Adsorption of Thiobacillus ferrooxidans on solid surfaces and
its effect on iron release from pyrite. J. Gen. Appl. Microbiol. 30: 63-77.
Yuliana, E. D. 1998. Pengaruh lama pengeringan dan kedalaman muka air tanah
terhadap sifat-sifat dan produktivitas tanah berpirit dari Karang Agung Ulu.
Sumatera Selatan [tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

61

Anda mungkin juga menyukai