Anda di halaman 1dari 21

Student-Centered Learning Berbasis ICT

(Information and Communication Technology)


Di Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada
2004
Daftar Isi
Hal
Daftar Isi 1
Pengantar 2
Bab I. Inovasi Metode Pembelajaran di JTE FT UGM 3
1.1. Latar Belakang 3
1.2. Student-Centered Learning 3
1.2.1. Kerja Kelompok 4
1.2.2. Diskusi 4
1.2.3. Presentasi 5
1.2.4. Menulis laporan 5
1.2.5. Berpikir Kritis 6
1.2.5.1. Arti berpikir kritis atau critical thinking 6
1.2.5.2. Pengukuran kegiatan berpikir kritis 7
1.2.5.3. Hubungan antara berpikir kritis, pemecahan masalah dan kreativitas 8
1.3. Problem-Based Learning 10
1.3.1. Pengembangan tujuan subyek/mata kuliah 11

1.3.2. Formulasi permasalahan 11


Bab II. Implementasi PBL di JTE 13
2.1. Persiapan dalam pelaksanaan PBL JTE 13
2.1.1. Institusi 14
2.1.2. Dosen dan Asisten Perkuliahan 14
2.1.3. Mahasiswa 15
2.2. Lima Langkah PBL JTE 17
2.2.1. Konsep Dasar 17
2.2.2. Pendefinisian Masalah 18
2.2.3. Pembelajaran Mandiri 19
2.2.4. Pertukaran Pengetahuan 19
2.2.5. Penilaian 20
2.3. Evaluasi dalam pelaksanaan PBL JTE 21
Bab III. Inovasi Pembelajaran Berbasis ICT 22
3.1. Pendekatan e-learning di JTE 22
3.2. Fitur dalam e-learning JTE 24
3.3. Digitasi Mata kuliah 26
3.4. Pengembangan ke Depan 26

Pengantar
Jurusan Teknik Elektro (JTE) sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan ICT dan
terapannya dalam sistem pembelajaran sebagai usaha peningkatan kompetensi untuk menjadi
pusat keunggulan. Hal ini diwujudkan dalam program rencana pengembangan program
konsolidasi kelembagaan berupa pemanfaatan ICT dalam system pembelajaran. Usaha tersebut
disertai juga dengan evaluasi kurikulum yang memperhatikan perkembangan Teknologi Informasi.
Visi Jurusan Teknik Elektro UGM adalah menjadi pusat unggulan dalam Bidang
Keteknikelektroan yang mampu berperan dalam menangani berbagai persoalan nasional, sekaligus
menjadi bagian dari sistem global. Sedangkan misi JTE adalah mengembangkan kompetensi
keilmuan dalam bidang keteknikelektroan, lingkungan akademik, kesadaran dan partisipasi dalam
menghadapi berbagai persoalan nasional maupun global, dan wawasan serta kemampuan untuk
memasuki pergaulan internasional.
Jurusan Teknik Elektro bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang mampu menggunakan
pengetahuannya dalam menyelesaikan berbagai masalah keteknikelektroan yang dihadapinya,
mengembangkan potensinya untuk mengikuti perkembangan teknologi, dan memiliki integritas
dan sikap mental yang tinggi dalam mendukung profesi yang ditekuninya.
Di masa mendatang memasuki era globalisasi lulusan teknik elektro tidak hanya bersaing
dengan tenaga kerja dari dalam negeri tetapi juga akan bersaing dengan tenaga kerja asing.
Merupakan tantangan apakah jurusan ini sanggup mencetak lulusan yang mampu bersaing di
pasar global? Untuk menjawabnya maka JTE bergeser dari paradigma faculty teaching ke
Student-Centered Learning Berbasis ICT khususnya Problem-Based Learning (PBL).

Bab I
Inovasi Metode Pembelajaran di JTE
FT UGM
1.1. Latar Belakang
Sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan yaitu sistem pembelajaran konvensional
(faculty teaching), kental dengan suasana instruksional dan dirasa kurang sesuai dengan dinamika
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. Lebih dari itu kewajiban
endidikan dituntut untuk juga memasukkan nilai-nilai moral, budi pekerti luhur, kreatifitas,
kemandirian dan kepemimpinan, yang sangat sulit dilakukan dalam sistem pembelajaran yang
konvensional. Sistem pembelajaran konvensional kurang fleksibel dalam mengakomodasi
perkembangan materi perkuliahan karena dosen harus intensif menyesuaikan materi dengan
perkembangan teknologi terbaru. Kurang bijaksana jika perkembangan teknologi jauh lebih cepat
dibanding dengan kemampuan dosen dalam menyesuaikan materi perkuliahan dengan
perkembangan tersebut, karena dapat dipastikan lulusan akan kurang memiliki penguasaan
pengetahuan/teknologi terbaru. Sehingga dengan latar belakang tersebut maka JTE bermaksud
menggeser paradigma ke Student-Centered Learning (SCL).
1.2. Student-Centered Learning
SCL memiliki potensi untuk mendorong mahasiswa belajar lebih aktif, mandiri, sesuai
dengan irama belajarnya masing-masing, sesuai dengan perkembangan yang berjalan. Irama
mahasiswa tersebut perlu dipandu agar terus dinamis dan mempunyai tingkat kompetensi yang
tinggi, yaitu dengan bantuan metode pendekatan perkuliahan Problem-Based Learning (PBL).
Yang akan diimplentasikan oleh JTE FT UGM bukanlah student-centered learning dalam
arti harfiah mahasiswa belajar sendiri namun sebuah proses belajar yang mengoptimalkan
emandirian mahasiswa sebagai manusia dewasa (andragogy) dengan menyeimbangkan
kemampuan kognisi dan emosi. Pembelajaran yang mendalam (deep learning) tersebut bila
diintegrasikan dengan keteknikelektroan akan menghasilkan satu produk lulusan yang unggul.
Pembelajaran mendalam mempunyai kemampuan untuk :
1. Meningkatkan kemampuan lama mengingat (retention) dan kemampuan memanggil
kembali pengetahuan yang telah dipelajari (recall)
2. Meningkatkan kemampuan memperoleh dan membentuk pengetahuan secara efisien dan
terintegrasi.
3. Mengembangkan generic skill dan attitudes yang diperlukan dikemudian hari.
Pilar-pilar dalam student-centered learning antara lain :

1.2.1. Kerja Kelompok


Interaksi sosial yang positif dapat dibentuk melalui kerja berkelompok. Perasaan senasib
sepenanggungan antara sesama teman dalam kelompok dan keunggulan dari belajar dalam peer
dan cohort (teman seangkatan) adalah faktor positif yang akan dimanfaatkan yang ini sulit
didapatkan dalam pembelajaran konvensional.
Luasnya bidang ilmu keteknikelektroan dan beragamnya minat pendalaman keahlian
mahasiswa dan dosen merupakan aset yang sangat berharga dan perlu disinergikan dalam payungpayung penelitian antar bidang keahlian menuju produk/penelitian unggulan. Hal tersebut tentu
saja perlu dilatih dan diimplementasikan dalam bentuk kerja tim atau kelompok yang utuh, jujur
dan terbuka. Nilai-nilai sosial positif dalam kerja berkelompok juga diperlukan oleh lulusan JTE
FT UGM pada saat berkarya di dunia kerja yang nyata dan akan tercermin dari sikap dan
perilakunya yang
1. Percaya diri,
2. Kritis,
3. Penuh perhatian,
4. Mampu memberikan alternatif solusi.
1.2.2. Diskusi
Mahasiswa akan lebih mudah untuk menyerap dan memahami suatu hal atau fenomena
yang dijelaskan oleh temannya dengan gaya bahasa dan pendekatan komunikasi dari mahasiswa
lain pada usianya. Dari sisi mahasiswa yang menjelaskan, hal ini merupakan kesempatan untuk
menggali, mengkomunikasikan dan menguji pengetahuan atau pemahaman yang telah
didapatkannya walaupun hal itu didapat secara tidak langsung dari aktifitas saat berargumentasi
dengan temannya yang mendapat kesulitan tersebut.
Mekanisme yang elegan dalam berdiskusi akan dikembangkan sehingga diskusi dan debat
menjadi terarah, rapi, terdokumentasi, terjamin kesempatan menggunakan hak mengungkapkan
pendapat, dalam suasana keilmuan dan jiwa kedewasaan.
1.2.3. Presentasi
Pemahaman, konsep dan hasil pemikiran kreatif yang dimiliki dan merupakan potensi
kemampuan akademis maupun potensi ekonomis akan kurang nilai kemanfaatannya jika tidak
ditunjang dengan ketrampilan dalam berkomunikasi/presentasi dan pemanfaatan teknologinya.
Dalam proses pembelajaran, teknik presentasi yang baik sangat menunjang penyampaian
informasi pengetahuan, baik dari sisi kecepatan maupun bobotnya. Untuk menyampaikan gagasan
kegiatan/pekerjaan, diperlukan teknik presentasi yang baik dalam rangka menunjukkan
keunggulan proposal yang dibawakan. Penguasaan teknik presentasi yang baik dapat dilatihkan
kepada para mahasiswa dengan cara learning by doing dalam proses student-centered learning.

Dengan demikian JTE FT UGM akan meningkatkan pilar ketrampilan teknik berpresentasi
mahasiswa melalui aktifitas dalam student-centered learning.
1.2.4. Menulis
Jika membaca telah menjadi budaya positif civitas akademika JTE FT UGM, maka mulai
saat ini budaya menulis akan lebih diperhatikan lagi. Hasil tulisan baik berupa laporan, ulasan,
sampai bentuk tulisan karya ilmiah merupakan refleksi capaian kemampuan dan pemahaman pada
diri mahasiswa, dan hal ini diperlukan sebagai salah satu pilar dalam student-centered learning
JTE FT UGM. Budaya menulis akan selalu dibina, dan dilatih dengan menulis laporan/paper yang
sistematis dan sesuai dengan kode etik akademis.
1.2.5. Berpikir Kritis
1.2.5.1. Arti berpikir kritis atau critical thinking
Ada berbagai definisi dari berpikir kritis, akan tetapi pada dasarnya dapat di artikan sebagai:
a unique kind of purposeful thinking in which the thinker:

systematically and habitually imposes criteria and intellectual standards upon the
thinking,
taking charge of the construction of thinking, guiding the construction of the thinking
according to the standards,
assessing the effectiveness of the thinking according to the purpose, the criteria, and
the standards.

Dari definisi diatas disebutkan bahwa untuk dapat menghasilkan suatu hasil pikir yang
kritis mahasiswa harus melakukan suatu kegiatan (proses) berpikir yang mempunyai suatu tujuan
(purposeful thinking), bukan asal berpikir yang sifatnya tidak diketahui apa yang ingin dicapai
dari kegiatan tersebut. Artinya, walau dalam kehidupan sehari hari mahasiswa sering melakukan
proses berpikir yang terjadi secara otomatis (misalnya dalam menjawab pertayaan nama kamu
siapa?), tetapi banyak pula situasi yang memaksa mahasiswa untuk melakukan kegiatan berpikir
yang memang di rencanakan ditinjau dari sudut apa, bagaimana, dan mengapa, misalnya
bila mahasiswa berhadapan dengan situasi (masalah) yang sulit atau baru. Kegiatan berpikir yang
demikian yang dimaksud sebagai disengaja dan bertujuan (intentional and purposeful
thinking).
Isi atau kualitas dari kegiatan berpikir, menurut definisi diatas harus mengandung unsurunsur seperti dibawah ini:

sistematik dan senantiasa mengunakan kriteria yang tinggi (terbaik) dari sudut intelektual
untuk hasil berpikir yang ingin dicapai;
individu bertanggung jawab sepenuhnya atas proses kegiatan berpikir;
selalu menggunakan kriteria berdasar standar yang telah ditentukan dalam memantau
proses berpikir;

melakukan evaluasi efektifitas dari kegiatan berpikir yang di tinjau dari pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan.

1.2.5.2. Pengukuran kegiatan berpikir kritis


Pengukuran kegiatan berpikir kritis dapat dilakukan dengan melihat penampilan dari beberapa
perilaku selama proses berpikir kritis itu berlangsung. Berpikir pada dasarnya mencakup kegiatan
manusia yang bersifat dapat dilihat/diamati (eksternal) maupun tidak dapat dilihat/diamati
(internal). Perilaku berpikir kritis mahasiswa dalam berdiskusi kelompok dapat dilihat dari
beberapa aspek :
Relevance: relevansi dari statement
Importance: penting-tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukakan
Novelty: kebaruan dari isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau informasi baru maupun
dalam sikap menerima adanya ide-ide baru mahasiswa lain.
Outside material: menggunakan pengalamannya sendiri atau bahan-bahan yg diterimanya di
kuliah/reference.
Ambiguity clarified: mencari penjelasan atau informasi lebih lanjut bila dirasa ada
ketidakjelasan.
Linking ideas: senantiasa menghubungkan fakta, idea, atau pandangan serta mencari data baru
dari informasi yg berhasil dikumpulkan.
Justification: memberi bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi/kesimpulan
yang diambilnya. Termasuk didalamnya senantiasa memberikan penjelasan mengenai
keuntungan (kelebihan) dan kerugian (kekurangan) dari suatu situasi atau solusi.
Critical assessment: melakukan evaluasi terhadap setiap kontribusi yang datang dari dalam
dirinya maupun dari mahasiswa lain, serta memberikan prompts untuk terjadi evaluasi yang
kritis.
Practical utility: ide-ide baru yg dikemukakannya selalu dilihat pula dari sudut kepraktisannya
(practicality) dalam penerapan.
Width of understanding: diskusi yg dilaksanakan senantiasa bersifat meluaskan isi/materi
diskusi.
Secara garis besar perilaku berpikir kritis diatas dapat dibedakan dalam beberapa kegiatan:
1. Berpusat pada pertanyaan (focus on question);
2. Analisis argumen (analysis arguments);
3. Bertanya dan menjawab pertanyaan untuk klarifikasi (ask and answer questions of clarification
and/or challenge);
4. Evaluasi kebenaran dari sumber infromasi (Evaluating the credibility of sources of
information).
Untuk menghasilkan pemikiran yang kritis mahasiswa perlu juga memiliki beberapa
kemampuan lain yang berada dalam dimensi afektif. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah:
Thinking independently
Exercising fair mindedness,

Intellectual courage,
Intellectual perseverance,
Confidence in reason,
Intellectual curiosity
1.2.5.3. Hubungan antara berpikir kritis, pemecahan masalah dan kreativitas
Pemecahan masalah atau problem solving didefinisikan sebagai suatu proses pencarian
jalan keluar dari suatu kesulitan atau rintangan. finding a way out of difficulty, a way around
an obstacle, attaining an aim that was not immediately understandable (Polya, 1962)
Ada lima langkah yang harus dilakukan mahasiswa pada waktu kegiatan pemecahan
masalah ini berlangsung, yaitu (Neimark, 1987):
1. Problem finding: pencarian masalah;
2. Stating the problem: perumusan masalah;
3. Planning a solutions: perencanaan suatu solusi;
4. Acting on the plan: pelaksanaan rencana;
5. Evaluate: evaluasi.
Unsur dasar dari pelaksanaan kelima langkah kegiatan diatas adalah BERPIKIR. Dengan
demikian maka kualitas dari berpikir yang terjadi pada waktu kegiatan pemecahan masalah ini
berlangsung menentukan kualitas dari hasil keluarannya. Berlangsungnya pemikiran yang
mendalam atau pemikiran yang kritis akan menyebabkan tercapainya suatu kualitas solusi yang
tinggi dari masalah yang dipecahkan. Jadi, kegiatan pemecahan masalah sebagai suatu bentuk
berpikir manusia akan mendapatkan hasil yang berkualitas tinggi apabila didasari oleh berpikir
yang kritis.
Kreatifitas dengan berpikir kritis disisi lain merupakan dua unsur yang tidak dapat
dipisahkan bila ingin mendapatkan hasil pikir yang sangat baik (excellent thinking). Creativity is
a process of making or producing. Critical thinking is a process of assessing or judging.
As the mind --- in thinking --- is thinking well, it must, virtually simultaneously, both produce
and assess, make and judge that making. Creativity and critical thinking are perfections of
thought which are, in fact, inseparable in everyday reasoning.
Dari ungkapan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan excellent thinking
diperlukan creativity dan critical thinking dan hal tersebut merupakan pilar dalam studentcentered learning JTE FT UGM.
1.3. PBL (Problem-Based Learning) JTE
PBL sebagai alternatif model pedagogis mulai popular di lingkungan perguruan. Landasan
teori PBL adalah kolaborativisme, suatu perspektif yang berpendapat bahwa mahasiswa akan
menyusun pengetahuan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah
dimilikinya dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama
individu. Hal tersebut juga menyiratkan bahwa proses pembelajaran berpindah dari transfer

informasi fasilitator-mahasiswa ke proses konstruksi pengetahuan yang sifatnya sosial dan


individual. Menurut paham konstruktivisme, manusia hanya dapat memahami melalui segala
sesuatu yang dikonstruksinya sendiri.
PBL memiliki gagasan bahwa pembelajaran dapat dicapai jika kegiatan pendidikan
dipusatkan pada tugas-tugas atau permasalahan yang otentik-relevan dan dipresentasikan dalam
suatu konteks. Cara tersebut bertujuan agar mahasiswa memiliki pengalaman sebagaimana
nantinya mereka menghadapi kehidupan profesionalnya. Pengalaman tersebut sangat penting
sebagaimana dinyatakan dalam model pembelajaran Kolb (1976) yang menekankan bahwa
pembelajaran akan efektif bila dimulai dengan pengalaman yang kongkrit (concrete experience).
Pertanyaan, pengalaman, formulasi dan penyusunan konsep tentang permasalahan yang mereka
ciptakan sendiri merupakan dasar untuk pembelajaran.
Aspek penting dalam PBL adalah bahwa pembelajaran dimulai dengan permasalahan, dan
permasalahan tersebut akan menetukan arah pembelajaran dalam kelompok. Dengan membuat
permasalahan sebagai tumpuan pembelajaran, para mahasiswa didorong untuk mencari hanya
informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satu keuntungan PBL adalah
para mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi pengetahuan yang telah dimilikinya kemudian
mengembangkan ketrampilan pembelajaran yang independen untuk mengisi kekososongan yang
ada. Hal tersebut merupakan pembelajaran seumur-hidup karena ketrampilan tersebut dapat
ditransfer ke sejumlah topik pembelajaran yang lain, baik di dalam maupun di luar universitas.
Dengan PBL yang memfokuskan pada permasalahan yang mampu membangkitkan pengalaman
pembelajaran maka para mahasiswa akan mendapat otonomi yang lebih luas dalam pembelajaran.
Oleh karena itu perancangan permasalahan perlu dilakukan dengan sangat hati-hati untuk
meyakinkan bahwa sebagian besar tujuan perkuliahan dapat tercapai.
1.3.1. Pengembangan tujuan subyek/mata kuliah
Dalam PBL, tujuan subyek/mata kuliah adalah sangat penting karena menyangkut
formulasi permasalahan, tujuan pembelajaran mahasiswa dan penilaian. Salah satu cara untuk
mengembangkan tujuan/subyek mata kuliah adalah menyatakan segala sesuatu yang harus
dimiliki oleh para mahasiswa setelah selesai mengikuti kuliah dalam hal pengetahuan (berkaitan
dengan kandungan subyek/matakuliah), ketrampilan (berkaitan dengan kemampuan mahasiswa
mulai dari mengajukan pertanyaan, penyusunan esai, searching basisdata, dan presentasi makalah)
dan sikap (berkaitan pemikiran yang kritis, keaktifan mendengar, sikap terhadap pembelajaran,
serta respeknya terhadap opini mahasiswa lain).
1.3.2. Formulasi permasalahan
Formulasi permasalahan merupakan kunci keberhasilan PBL. Untuk mengembangkan
permasalahan perlu diperhatikan beberapa aspek:

.Mahasiswa memerlukan informasi yang lebih banyak dibanding yang telah


dipresentasikan. Informasi yang tidak lengkap akan menyadarkan mereka apa yang
sesungguhnya terjadi dan membantu mereka menentukan tindakan apa saja yang harus
diambil, jika ada, untuk menyelesaikan permasalahan.

.Tidak ada satu cara terbaik atau formula yang pasti untuk melakukan investigasi, karena
satu permasalahan dan permasalahan lain memiliki perbedaan.
.Permasalahan akan mengalami perubahan saat ada tambahan informasi.

.Para mahasiswa akan membuat keputusan dan memberikan penyelesaian pada


permasalahan yang real. Hal tersebut akan membawa pada kenyataan bahwa mungkin
jawaban yang benar tidak hanya satu.

Dari sisi dosen, PBL mendukung pembelajaran yang open-mind, reflektif, kritis dan aktif.
Dalam PBL peran dosen berubah dari penyedia fakta menjadi fasilitator lingkungan pembelajaran
dan membangun komunitas pembelajaran. Konsep tersebut secata etis maupun moral sangat baik
karena memberikan respect pada dosen maupun mahasiswa sebagai individual dengan
pengetahuan, pemahaman, dan minat yang sama, yang bergabung dalam suatu wadah untuk
berbagi pengetahuan dalam satu proses pembelajaran.
Penerapan PBL JTE dimulai pada beberapa mata kuliah secara parsial dan dalam
perjalanannya dikembangkan dengan mengintegrasikan beberapa mata kuliah sebagai
cluster/kelompok dengan sebuah skenario PBL. Tidak semua mata kuliah dalam Kurikulum TE
2001 di JTE FT UGM dimungkinkan untuk dilaksanakan dengan metode PBL. Mata kuliah
tingkat lanjut lebih cocok diajarkan dengan metode PBL karena seperti telah disebutkan di atas,
dalam PBL pembelajaran mahasiswa dilakukan dengan penyusunan pengetahuan dengan cara
membangun penalaran dari semua pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa dan dari semua
yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama individu. Mata kuliah yang
sangat relevan dilaksanakan dengan metode PBL adalah mata kuliah kelompok MKB (Mata
Kuliah Keahlian Berkarya)
Mata kuliah selain kelompok MKB tetap perlu ditingkatkan untuk mendukung pelaksanaan
mata kuliah ber-PBL dan mendukung paradigma Student-Centered Learning. Proses pembelajaran
dalam matakuliah tersebut ditingkatkan dengan mengadopsi pilar-pilar student-centered learning
seperti yang telah diuraikan di atas.

Bab II
Implementasi PBL di JTE FT UGM
Seperti telah dijelaskan dalam uraian tentang PBL JTE, penggunaannya diutamakan untuk
mata kuliah kelompok MKB (Mata Kuliah Keahlian Berkarya) dan pelaksanaannya ditunjukkan
seperti dalam blok diagram berikut :
Persiapan :
Institusi
Dosen
Mahasiswa
Pelaksanaan :
5 langkah PBL JTE Evaluasi Gambar 1. Pelaksanaan PBL JTE
2.1. Persiapan dalam pelaksanaan PBL JTE
Sebelum melaksanakan perkuliahan dengan metode PBL perlu dilakukan persiapan yang
lebih intensif. Dalam perkuliahan dengan metode PBL JTE ada tiga komponen yang akan
bekerja :
1. Institusi
2. Dosen dan Asisten Perkuliahan (fasilitator)
3. Mahasiswa
Ketiga komponen ini bekerja sesuai peran atau tugas masingmasing untuk mendapatkan
capaian pembelajaran dalam mata kuliah ber-PBL secara optimum.
2.1.1. Institusi
Institusi dalam hal ini Jurusan Teknik Elektro FT UGM akan mendukung pelaksanaan
perkuliahan ber-PBL dengan :
1. Mempersiapkan sarana pendukung perkuliahan, termasuk kebutuhan ruang, perpustakaan, dan
alat-alat laboratorium.
2. Menjamin keterlaksanaan perkuliahan dengan mengganti kuliah yang tak terselenggara, dan
bila mana diperlukan membentuk tim dosen pengampu mata kuliah.
3. Menyediakan asisten perkuliahan.
4. Mempersiapkan sarana jaringan komputer.
5. Merekam kehadiran perkuliahan mahasiswa dalam database sehingga informasinya dapat
digunakan untuk evaluasi pelaksanaan matakuliah ber-PBL.

2.1.2. Dosen dan Asisten Perkuliahan


Dalam PBL peran dosen dan asisten adalah sebagai fasilitator lingkungan pembelajaran
dan membangun komunitas pembelajaran.
Peran Dosen :
1. Mempersiapkan skenario (permasalahan) yang akan dibahas pada tiap sesi dan mengatur
silabus mata kuliah ber-PBL yang diampunya dalam format RPKPS (Rencana Program
Kegiatan Pembelajaran Semester). Jumlah sesi disesuaikan dengan cakupan materi dan
output-outcome dari perkuliahan.
2. Secara bertahap mempersiapkan materi perkuliahan dalam bentuk file elektronik dan
memberikan sesumber antara lain : buku referensi dan link web site.
3. Sebagai Fasilitator Dosen mendorong para mahasiswa untuk mengekplorasi pengetahuan
yang telah mereka miliki dan menentukan pengetahuan yang diperlukan selanjutnya.
Dosen umumnya diharap untuk menahan diri untuk tidak memberikan informasi,
sebaliknya mendorong dilakukannya diskusi dan pembelajaran antar para mahasiswa.
Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:
.Melakukan klarifikasi (misal terhadap perspektif yang muncul dalam diskusi) .
Mendorong pemikiran yang divergen (misal apakah ada kemungkinan solusi yang lain?)
.Meletakkan permasalahan sesuai konteks (misal apakah isu yang dibahas mengingatkan
dosen pada berbagai informasi lain yang telah teridentifikasi sebelumnya?)
Membuat urutan prioritas (misal apakah berbagai informasi yang telah diidentifikasi dapat
diurutkan sesuai relevansinya terhadap permasalahan?)
Memoderasi diskusi (misal apakah ada kemajuan dalam diskusi, kalau tidak, identifikasi
apa saja yang salah dan kembalikan diskusi pada tujuan yang semula).
4. Sebagai Evaluator
Walaupun peran dosen tidak lagi dominan dalam pelaksanaan perkuliahan berPBL, namun tetap dosen bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan pelaksanaan
perkuliahan dan pencapaian tujuan perkuliahan.
Untuk itu secara berkelanjutan dosen perlu mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan
dan melakukan perbaikan segera bilamana diperlukan baik dari sisi content maupun
proses.
Peran Asisten :
Membantu dosen terutama dalam perannya sebagai fasilitator dan evaluator.
2.1.3. Mahasiswa
Peran mahasiswa secara umum dalam perkuliahan ber-PBL:
1. Mahasiswa mempersiapkan diri untuk belajar dan bekerja secara kelompok. 2.
Berperan aktif dalam kuliah :

2. Menghadiri dan mengikuti keseluruhan perkuliahan dan tidak diperkenankan mendrop mata kuliah disaat mata kuliah tersebut sedang berjalan.
3. Menyelesaikan problem.
4. Berdiskusi dalam kelompok atau antar kelompok, namun tidak boleh
keluar/berganti kelompok.
5. Menyusun laporan. Peran ketua diskusi :
1. Memimpin dan memoderatori jalannya diskusi.
2. Mendorong agar setiap peserta berperan aktif.
3. Menyeimbangkan partisipasi para peserta diskusi.
4. Menjaga agar diskusi tidak keluar dari topik yang disepakati.
5. Menjaga efektivitas diskusi dan waktu dalam setiap langkah dalam Lima
Langkah PBL JTE.
6. Mengarahkan agar diskusi mencapai suatu kesimpulan.
Peran anggota kelompok :
1. Menggali masalah berdasarkan skenario.
2. Mendiskusikan masalah untuk mencari jawaban.
3. Mendengarkan dan mencatat pokok ide dan konsep yang muncul.
4. Berpartisipasi aktif mengemukakan pendapat tanpa melupakan tugas mencatat.
5. Menyusun catatan sesuai kategori ide dan konsep.
6. Menyampaikan hasil catatan kepada kelompok untuk memastikan semua ide dan konsep telah
terdokumentasi.
7. Bekerja sama dengan anggota lain untuk menggali informasi dari sumber yang diperlukan.
8. Berbagi pengetahuan yang didapat kepada anggota lain untuk mendapatkan solusi kelompok.
Peran ketua kelompok :
Mengkoordinasi anggota kelompok dalam mengikuti proses perkuliahan ber-PBL dengan
cara : memastikan kehadiran anggota kelompok dalam berdiskusi, mengatur pelengkapan/alat
bantu belajar yang diperlukan, mengatur pengumpulan tugas dan berkoordinasi dengan fasilitator.
2.2. Lima Langkah PBL JTE
Mata kuliah yang diselenggarakan dengan metode PBL dalam pelaksanaannya akan
mengikuti metode Lima Langkah PBL JTE dengan bobot atau kedalaman setiap langkahnya
disesuaikan dengan mata kuliah yang bersangkutan.
Metode Lima Langkah PBL JTE adalah :
1. Konsep Dasar (Fundamental/Basic Concept)
2. Pendefinisian Masalah (Defining The Problem)
3. Pembelajaran Mandiri (Self Learning)
4. Pertukaran Pengetahuan (Exchange Knowledge)

5. Penilaian (Assessment)
2.2.1. Konsep Dasar
Jika dipandang perlu, fasilitator dapat memberikan :
Pengantar/teori/konsep dasar pada mata kuliahnya.
Petunjuk, referensi, atau link yang diperlukan dalam perkuliahan tersebut
Skill yang diperlukan dalam perkuliahan tersebut Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa lebih
cepat masuk dalam atmosfer perkuliahan dan mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan
tujuan perkuliahan.
Lebih jauh, hal ini diperlukan untuk memastikan mahasiswa mendapatkan kunci-kunci
utama materi perkuliahan sehingga tidak ada kemungkinan terlewatkan oleh mahasiswa seperti
yang bisa terjadi jika mahasiswa mempelajarinya secara mandiri sepenuhnya.
Pengantar/teori/konsep yang diberikan tidak perlu detail, diutamakan dalam bentuk garis
besar saja sehingga mahasiswa dapat mengembangkannya secara mandiri secara mendalam. Pada
bagian ini dimungkinkan juga tidak berupa paparan pengantar/teori/konsep dasar oleh dosen tetapi
penggalian teori pendukung dari perkuliahan pendukung pada semester sebelumnya yang
sesuai/dibutuhkan untuk mendasari pemahaman dalam mata kuliah ini oleh mahasiswa secara
mandiri.
Untuk memastikan setiap mahasiswa mengikuti langkah ini maka langkah Konsep Dasar
dilakukan dengan mengikuti petunjuk dalam Lembar Kerja Mahasiswa - Kode M1
Pada bagian akhir pertemuan dalam pembicaraan langkah ini, dapat dilanjutkan dengan
pembentukan kelompok-kelompok kecil.
2.2.2. Pendefinisian Masalah
Langkah kedua dari metode Lima Langkah PBL JTE adalah Pendefinisian Masalah
(Defining The Problem), dalam langkah ini dilakukan proses secara berurutan sebagai berikut:
Fasilitator menyampaikan skenario/permasalahan.
Dalam kelompok masing-masing (yang sudah ditentukan) mahasiswa melakukan:
1. Brainstorming, dengan cara :
a. Semua anggota kelompok mengungkapkan semua pendapat, ide, dan tanggapan terhadap
skenario secara bebas sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif
pendapat/ide. Setiap anggota kelompok memiliki hak yang sama dalam memberikan ide dan
menyampaikannya di dalam diskusi dan mendokumentasikan secara tertulis pendapat
masingmasing dalam kertas kerja.

b. Mencari istilah yang kurang dikenal dalam skenario tersebut dan berusaha mendiskusikan
maksud dan artinya. Jika ada mahasiswa yang mengetahui artinya, segera menjelaskan kepada
teman yang lain. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut,
ditulis dalam permasalahan kelompok
c. Jika ada bagian yang belum dapat dipecahkan dalam kelompok tersebut, ditulis sebagai isu
dalam permasalahan kelompok.
2.

Melakukan seleksi alternatif untuk memilih pendapat yang lebih fokus.

3. Penentuan Permasalahan dan melakukan pembagian tugas dalam kelompok untuk mencari
landasan/referensi penyelesaian dari isu permasalahan yang didapat. Fasilitator memvalidasi
pilihan-pilihan yang diambil mahasiswa. Jika tujuan yang diinginkan oleh fasilitator belum
disinggung oleh mahasiswa, fasilitator mengusulkannya dengan memberikan alasannya. Pada
akhir langkah ini mahasiswa diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang
mereka ketahui, apa saja yang mereka tidak ketahui, dan pengetahuan apa saja yang
diperlukan untuk menjembataninya. Untuk memastikan setiap mahasiswa mengikuti langkah
ini maka Pendefinisian Masalah dilakukan dengan mengikuti petunjuk dalam Lembar Kerja
Mahasiswa - Kode M2.
2.2.3. Pembelajaran Mandiri
Setelah mengetahui tugasnya, masing-masing mahasiswa akan mencari berbagai sumber
yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud bisa dalam bentuk
artikel tertulis/buku teks yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan
praktisi/pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama yaitu :
(1) agar mahasiswa mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan
permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan
(2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas, dan informasi
tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. Diluar pertemuan dengan fasilitator, mahasiswa
bebas untuk mengadakan pertemuan dan melakukan berbagai kegiatan. Dalam pertemuan
tersebut mahasiswa akan saling bertukar informasi yang telah dikumpulkannya dan
pengetahuan yang telah mereka bangun. Mahasiswa juga harus mengorganisasi informasi yang
didiskusikan sehingga anggota kelompok lain dapat memahami relevansi terhadap
permasalahan yang dihadapi.

Proses pelaksanaan Pembelajaran Mandiri :


Dapat dimulai bila seleksi alternatif dan pembagian tugas sudah dilakukan.
Setiap mahasiswa melakukan pendalaman materi sesuai dengan pembagian tugas dalam
kelompok masing-masing.
Pendalaman materi dapat dilakukan melalui referensi (buku, jurnal, majalah, browsing internet,
informasi dari ahli ) atau percobaan/pengujian (simulasi, perancangan perangkat keras) Untuk
memastikan setiap mahasiswa mengikuti langkah ini maka Pembelajaran Mandiri dilakukan
dengan mengikuti petunjuk dalam Lembar Kerja Mahasiswa - Kode M3.
2.2.4. Pertukaran Pengetahuan
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah
Pembelajaran Mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya mahasisw berdiskusi dalam
kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan
kelompok, dengan cara :
Mahasiswa berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya
Tiap kelompok menentukan ketua diskusi
Tiap mahasiswa menyampaikan hasil Pembelajaran Mandiri.
Sistematika : kelompok mengintegrasikan hasil Pembelajaran Mandiri.
Mendapatkan kesimpulan/solusi kelompok
Presentasi hasil dalam pleno (kelas besar)
Mengakomodasi masukan dari pleno
Menentukan kesimpulan akhir dan dokumentasi akhir.
Untuk memastikan setiap mahasiswa mengikuti langkah ini maka Pertukaran Pengetahuan
dilakukan dengan mengikuti petunjuk dalam Lembar Kerja Mahasiswa - Kode M4.
2.2.5. Penilaian
Penilaian dilakukan dengan memadukan 3 aspek, yaitu :
1. Pengetahuan (Knowledge)
Penilaian terhadap penguasaaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan perkuliahan.
Dilakukan dengan :
. Ujian Akhir Semester (UAS)
. Ujian Tengah Semester (UTS)
. Kuis, PR, dokumen dan laporan.
2. Kecakapan (Skill)
Penilaian terhadap penguasaan alat bantu pembelajran baik software, hardware, maupun
kemampuan perancangan dan pengujian.
3. Sikap (Attitude)
Penilaian terhadap penguasaan soft skill, antara lain :
. Keaktifan dan partisipasi dalam diskusi.

. Kemampuan bekerjasama dalam tim.


. Kehadiran perkuliahan
Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh dosen mata kuliah yang
bersangkutan.
Metode penilian dapat berupa :
1. Ujian tertulis
2. Kuesioner individual
3. Kuesioner peer
2.3. Evaluasi dalam pelaksanaan PBL JTE
JTE melakukan evaluasi pelaksanaan PBL dalam perkuliahan untuk mendapatkan
informasi berupa ;
1. Tingkat keberhasilan pelaksanaan perkuliahan, meliputi aspek : Keluaran perkuliahan, manfaat
bagi mahasiswa, dan relevansi dengan kebutuhan kemampuan lulusan.
2. Kendala atau masalah yang timbul, meliputi aspek : Fasilitas penunjang perkuliahan PBL,
resistensi dosen, resistensi mahasiswa, dan Informasi yang diperoleh dilakukan untuk
melakukan perbaikan pelaksanaan perkuliahan.

Bab III
Inovasi Pembelajaran Berbasis ICT
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication
Technology) telah menyentuh segala aspek termasuk dunia pendidikan. Proses belajar mengajar
yang tadinya menggunakan tatap muka dalam kelas diperluas jangkauannya dengan menggunakan
ICT menggunakan sistem e-learning. Pembelajaran dengan menggunakan sistem e-learning akan
membuat proses belajar mengajar bisa dilakukan secara asynchronous. Mahasiswa bisa belajar
tanpa harus berada dalam ruang dan waktu yang sama. Siswa juga bisa belajar dengan tahapan dan
cakupan yang diinginkan. Fasilitas komunikasi dan interaksi dalam sistem e-learning juga akan
membuat interaksi dosen dan mahasiswa tidak hanya terbatas pada ruangan kelas saja tapi bisa
diperluas dengan komunikasi secara elektronik.
3.1. Pendekatan e-learning di JTE
Paradigma yang digunakan dalam pengembangan e-learning adalah enrichment
(pengayaan) bukan replacement (pengganti). Sehingga jurusan teknik elektro tidak menggunakan
pure e-learning tetapi sistem yang digunakan adalah blended learning. Proses pembelajaran
merupakan gabungan metode pembelajaran konvensional di depan kelas dengan e-learning.
Jumlah tatap muka tidak akan terkurangi dengan adanya sistem e-learning ini.
Seperti terlihat pada Gambar 2 penggunaan e-learning dengan metode blended ini bisa
dilakukan dengan cara memberi materi tugas sebelum perkuliahan atau setelah perkuliahan.
Materi yang diterima siswa secara online diberikan bisa berupa tugas baca, menulis
ataupun memecahkan permasalahan secara individual ataupun kelompok. Proses ini dimonitor
oleh dosen berupa memberikan konsultasi, memberikan komentar dan memeriksa hasil pekerjaan.
Materi ini bisa merupakan tugas yang disyaratkan untuk dikerjakan oleh siswa sebelum mengikuti
perkuliahan berikutnya. Diharapkan dengan adanya e-learning prerequisite dan follow-up ini tatap
muka di kelas bisa dioptimalkan untuk diskusi atau pembelajaran secara lebih mendalam.
Sistem e-learning juga digunakan dalam perkuliahan untuk presentasi kepada siswa. Filefile untuk presentasi bisa diupload untuk digunakan di dalam kelas.
3.2. Fitur dalam e-learning JTE
E-learning di Jurusan Teknik Elektro dirancang sebagai sebuah sistem yang hanya bisa
diakses oleh orang yang berhak untuk itu. User terdiri dari admin, dosen, mahasiswa maupun
orang lain yang terdaftar dalam sistem ini.

Sistem ini dirancang untuk digunakan oleh multi disiplin ilmu. Sehingga tidak hanya
program studi S1 Teknik Elektro saja yang bisa menggunakan, tetapi program studi lainnya (S2,
magister) juga bisa memanfaatkannya. Tiap disiplin akan mempunyai mata kuliah tersendiri yang
tidak bercampur satu sama lainnya. Selain itu juga dimungkinkan untuk menyelenggarakan
workshop atau pelatihan secara online dengan menggunakan sistem e-learning ini.
User yang berhasil login akan mempunyai link ke mata kuliah (course) pada pada disiplin
yang diikuti. Mata kuliah yang sedang aktif akan ditampilkan dalam welcome screen sehingga
memudahkan user untuk navigasi. Sistem juga akan terhubung ke SIA JTE sehingga informasi
siswa, dosen, matakuliah yang diambil oleh siswa dan matakuliah yang diajar oleh dosen bisa
diperoleh dari sistem yang sudah ada.
Sistem e-learning di JTE merupakan sistem yang open dalam artian siswa bisa mengakses
semua mata kuliah yang ditawarkan. Siswa juga bisa mengakses materi kuliah tanpa penahapan
dari sistem.
Fasilitas interaksi dan komunikasi juga menjadi bagian penting dalam sistem ini. Interaksi
dan komunikasi secara elektronik memungkinkan siswa dan dosen bisa berkomunikasi tanpa
dibatasi waktu dan jarak. Proses komunikasi juga diyakini akan sangat membantu bagi siswa
untuk memperoleh dan memperdalam pengetahuan yang sedang dipelajari. Forum diskusi dan
chat merupakan fasilitas awal yang disediakan.
Forum diskusi dan chat yang disediakan merupakan sebuah komunikasi terstruktur dalam
membahas sebuah materi kuliah. Sistem akan merekam diskusi dan percakapan yang ada sehingga
dosen bisa memberikan komentar dan arahan yang diperlukan. Dalam sistem pembelajaran yang
bersifat blended learning dosen diharapkan memberikan penugasan untuk disusi secara online
memanfaatkan fasilitas yang ada. Penilaian keaktifan siswa secara online juga merupakan salah
satu parameter dalam metode student-centered learning.
3.2. Digitasi Materi Kuliah
Salah satu faktor utama dalam e-learning adalah isinya (content). Tersedianya materi
perkuliahan dalam bentuk digital (electronic teaching materials) merupakan langkah awal yang
strategis untuk keberhasilan sistem ini. Electronic teaching materials merupakan cara menyimpan
pengetahuan (store knowledge) dalam bentuk lecture notes, soal latihan, tugas-tugas, referensi
pendukung dan evaluasi secara terintegrasi dengan menggunakan media digital. Hal ini yang
memungkinkan untuk terbaharukannya bahan ajar secara dinamis dan adaptif sehingga
kemampuan mahasiswa untuk berpikir solutif akan
terasah dan kuat.
Konsep mix-match merupakan pendekatan yang digunakan dalam pemanfaatan materi
kuliah digital. Dengan konsep ini dosen bisa saling mempertukarkan materi perkuliahan yang
dibuat.

3.3. Pengembangan ke Depan


Rencana pengembangan ke depan adalah peningkatan kemampuan dari sistem untuk
menjalankan beberapa fungsi baru maupun perbaikan dari fasilitas yang sudah ada. Rencana ke
depan antara lain antara lain :
1. Metode blended learning dimana course dalam e-learning menjadi materi utama. Bila elearning menjadi materi utama maka design content menjadi penting (instructional design).
Content selain berkualitas dan lengkap, harus membangkitkan minat belajar dan
memberikan penahapan (pacing) yang diperlukan.
2. Meningkatkan kemampuan sistem untuk mampu melayani pure distance learning.Hal ini
mencakup kemampuan managemen user yang lebih lengkap terlebih bila akan
dikomersilkan. Selain itu mencakup kemampuan sistem untuk menawarkan course dalam
bentuk skill acquisitions berupa workshop atau pelatihan online.
3. Electronic Assessment.
Sistem mampu untuk memberikan penilaian secara otamatis terhadap tugas online yang
diberikan, menilai keaktifan serta memberikan feedback kepada user.
4. Pengembangan electronic teaching materials berupa simulasi secara online topic-topik
tertentu yang diperlukan. 5. Streaming dan Webcast server. Memungkin audio dan video
streaming serta audio/video broadcast