Anda di halaman 1dari 79

1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 1

Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh)
: Sradha
: Meyakini Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam
Konsep Ajaran Asta Aiswarya
: Menguraikan Ajaran Asta Aiswarya
:1. Mampu Menguraikan Pengertian As ta Aiswarya
berdasarkan Etimologi
2. Menjelaskan pengertian Asta Aiswyarya

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Mampu Menguraikan Pengertian As ta Aiswarya


berdasarkan Etimologi
2. Menjelaskan pengertian Asta Aiswyarya

B.Materi Pembelajaran

: Pengertian Asta Aiswarya .

1. Pengertian Asta Aiswarya


Asta Aiswarya sering disebut dengan Asta Sakti. Kata Asta Aiswarya berasal dari bahasa
Sansekerta. Kata Asta Aiswarya terdiri dari dua kata yaitu Asta artinya delapan dan
Aiswarya artinya kemahakuasaan. Jadi Asta Aiswarya artinya delapan sifat
kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan


tanya jawab)

D.Langkah-langkah Pembelajaran
1.Kegiatan Pendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan peserta didik
d. Apersepsi :
1. Mengamati gambar acintya
2. Peserta didik berkementar tentang gambar
1. Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku yang ada hubungannya dengan Asta
Aiswarya
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5
Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan pengertian Asta Aiswarya secara
etemologi dan secara umum
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya

2
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3.Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi kelompok
2. Kegiatan Akhir
1. Melakukan evaluasi/ Post-test
2. Pemberian tugas kepada Peserta didik untuk bahan diskusi pada pertemuan
berikutnya
3. Guru mengimformasikan kopetensi berikutnya yaitu bagian-bagian Asta
Aiswarya
4. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Tes isian 1. Delapan sifat kemahakuasaan
Sang Hyang Widhi disebut Asta
Aiswarya. Pengertian Asta
Aiswarya dapat diuraikan
menjadi dua kata yaitu Asta
artinya dan Aiswarya
artinya
Pilihan
2. Delapan sifat kemahakuasaan
Ganda
Sang Hyang Widhi disebut
a. Asta Dala.
c. Asta Brata
b. Asta Aiswarya. d. Asta Wara

Disajikan pertanyaan
tentang Asta Aiswarya
peserta didik dapat
menjelaskan pengertian
Asta Aiswarya secara
etimologi katanya

Tes tulis

Disajikan pertanyaan
pengertian dari delapan
sifat kemahakuasaan
Sang Hyang Widhi
siswa dapat memilih
salah satu jawaban yang
tepat dari empat pilihan
yang disediakan
Disajikan kalimat
peserta didik dapat
menjawab Padma Asta
Dala yang merupakan
bentuk Asta Aiswarya

Tes tulis

Tes tulis

Pilihan
Ganda

Disajikan kalimat
peserta didik dapat
menjawab istilah kata
Asta dala dalam kalimat
Padma asta dala

Tes tulis

Pilihan
Ganda

3. Asta Aiswarya digambarkan


dalam bentuk..
a. Padma Asta Dala
b. Asta Brata
c. Ongkara
d. Padmasana
4.Istilah kata Asta Dala dalam
kalimat Padma asta dala
adalah
a. delapan
b. delapan helai daun
c. delapan sifat
d. delapan kekuasaan

3
3. Kunci Jawaban
1. Asta artinya delapan dan Aiswarya artinya kemahakuasaan
2. B
3. A
4. Skor Penilaian
1. Soal no.1 bobotnya 4
2. Soal no. 2 bobotnya 2
3. Soal no. 3 bobotnya 2
4. Soal no 4 bobotnya .2

Skor tertinggi : 5
Skor terendah : 0
Rumus : 4+6 x 10 = N
100

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 2

Sekolah

: SMP Negeri 1 Bangli

Mata Pelajaran

: Pendidikan Agama Hindu

Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi

: VII (Tujuh) / I (Satu)


: Sradha
: Meyakini Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam
Konsep Ajaran Asta Aiswarya
: Menguraikan Arti Bagian-bagian Asta Aiswarya
1. Mampu menyebutkan bagian-bagian Asta
Aiswarya
2. Mampu menjelaskan arti masing-masing bagian
Asta Aiswarya
3.Mampu menjelaskan makna masing-masing bagian
Asta Aiswarya

Kompetensi Dasar
Indikator
:

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A. Tujuan Pembelajaran

1. Peserta didik a mampu menyebutkan bagian-bagian


Asta Aiswarya
2. Peserta didik mampu menjelaskan arti masingmasing bagian Asta Aiswarya
3. Peserta didik mampu menjelaskan makna masingmasing bagian Asta Aiswarya

B.Materi Pembelajaran

: Arti bagian-bagian Asta Aiswarya dan makna bagian-bagian


Asta Aiswarya

1. Arti Bagian-bagian Asta Aiswarya :


a) Anima berasal dari kata Anu yang artinya kecil. Anima artinya sifat Tuhan maha
kecil
b) Laghima berasal dari kata Laghu yang artinya ringan. Laghima artinya sifat Tuhan
maha ringan
c) Mahima berasal dari kata Maha yang artinya besar. Mahima artinya sifat Tuhan
maha besar
d) Prapti berasal dari kata Prapta yang artinya tercapai. Prapti artinya Tuhan dapat
mencapai segala tempat dalam waktu yang bersamaan
e) Prakamya berasal dari kata Pra-Kama yang artinya keinginan atau kehendak.
Prakamya artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi
f) Isitwa berasal dari kata Isa yang artinya raja. Isitwa artinya sifat Tuhan maha raja,
maha mulia dan maha utama
g) Wasitwa berasal dari kata Wasa yang artinya berkuasa. Wasitwa artinya sifat
Tuhan maha kuasa
h) Yatra Kama Wasayitwa artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi dan tidak
ada yang mampu menentang kodrat-Nya.
2. Makna Bagian-bagian Asta Aiswarya
a) Anima artinya sifat Tuhan maha kecil, sekecil-kecilnya, tidak ada yang lebih kecil
dari Tuhan
b) Laghima artinya sifat Tuhan maha ringan, seringan ringannya, tidak ada yang lebih
ringan dari Tuhan di alam semesta
c) Mahima artinya sifat Tuhan maha besar, tidak ada yang mampu menandingi
kebesaran Tuhan

5
d) Prapti artinya Tuhan dapat mencapai segala tempat dalam waktu yang bersamaan.
Wyapi wyapaka nirwikara ta sarwa gata artinya Tuhan ada dimana-mana dan tak
terpengaruh oleh yang ada.
e) Prakamya artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi, karena Tuhan mengatur
segala yang ada di alam semesta
f) Isitwa artinya sifat Tuhan maha raja, maha mulia dan maha utama, Tuhan merajai
segala-galanya yang ada di alam semesta. Dalam konsep ajaran Dang Hyang
Nirartha, Sang Hyang Widhi disthanakan dalam bentuk pelinggih Padmasana sebagai
Sang Hyang Tunggal.
g) Wasitwa artinya sifat Tuhan maha kuasa, tidak ada yang mampu menandingi
kemahakuasaan Tuhan
Srsti (penciptaan)
Sifat Tuhan maha kuasa
Pralaya (kiamat)
Tri Kona merupakan unsur dari Wasitwa yang artinya tiga kodrat alam. Bagianbagian Tri Kona :
a) Utpeti artinya penciptaan
b) Sthiti artinya pemeliharaan
c) Pralina artinya pelebur
h) Yatra Kama Wasayitwa artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi dan tidak
ada yang mampu menentang kodrat-Nya, yang erat hubungannya dengan hukum Rta
(hukum alam) mencakup di dalamnya siklus-siklus kelahiran, kehidupan dan
kematian.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik merepleksi kejadian- kejadian alam yang terjadi, kemudian
dihubungkan dengan keagungan Sang Hyang Widhi
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku yang ada hubungannya dengan Asta
Aiswarya
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5
Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikannarti dan makn abagian-bagian Asta
Aiswarya
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok

6
3.Kegiatan Penutup
a. Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b. Melakukan evaluasi/ Post-test
c. Pemberian tugas kepada siswa untuk bahan diskusi pada pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi, Santhi,
Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
A. Alat
Spidol, White board
B. Bahan
Capsion
C. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Wrhaspati Tattwa
4. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Disajikan
pertanyaan Asta
Aiswarya peserta
didik dapat
menyebutkan
bagian-bagian Asta
Aiswarya
Disajikan
pertanyaan arti
bagian Asta
Aiswary peserta
didik dapat
menjelaskan arti
masing-masing
bagian Asta
Aiswarya
Disajikan
pertanyaan makna
bagiang Asta
Aiswarya peserta
didik dapat
menjelaskan
makna masingmasing bagian Asta
Aiswarya

Contoh Instrumen

Tes tulis

Bentuk
Instrumen
Tes isian

Tes tulis

Tes isian

2. Jelaskan arti masing-masing


bagian Asta Aiswarya....

Tes tulis

Tes isian

1. Jelaskan makna masingmasing bagian Asta Aiswarya

1. Sang Hyang Widhi memiliki


delapan sifat kemahakuasaan
yang disebut Asta Aiswarya.
Sebutkan bagian-bagian Asta
Aiswarya

7
2.

Kunci Jawaban
1. 1 Anima
5. Prakamya
2 Lagima
6. Isitwa
3. Mahima
7. Wasitwa
4. Prapti
8 Yatra Kama Wasiyitwa
2. h) Anima artinya maha kecil
i) Laghima artinya maha ringan
j) Mahima artinya han maha besar
k) Prapti artinya terjangkau
l) Prakamya artinya segalanyha terwujud
m) Isitwa artinya, maha mulia dan maha utama
l) Wasitwa artinya maha kuasa
o) Yatra Kama Wasayitwa artinya kodrat
3 a) Anima artinya sifat Tuhan maha kecil, sekecil-kecilnya, tidak ada
yang lebih kecil dari Tuhan
b) Laghima artinya sifat Tuhan maha ringan, seringan ringannya, tidak ada yang
lebih ringan dari Tuhan di alam semesta
c) Mahima artinya sifat Tuhan maha besar, tidak ada yang mampu
menandingi kebesaran Tuhan
d) Prapti artinya Tuhan dapat menjangkau segala tempat dalam waktu
yang bersamaan.
e) Prakamya artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi, karena
Tuhan mengatur segala yang ada di alam semesta
f) Isitwa artinya sifat Tuhan maha raja, maha mulia dan maha utama,
g) Wasitwa artinya sifat Tuhan maha kuasa, tidak ada yang
menandingi kemahakuasaan Tuhan
h) Yatra Kama Wasayitwa artinya segala kehendak Tuhan pasti akan
terjadi dan tidak ada yang mampu menentang kodrat-Nya,

d. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 2
2. Soal no. 2 bobot 4
3. Soal no. 3 bobot 4

Rumus : 2+4+4 x 100 = N


10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 3
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Sradha
: Meyakini Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam
Konsep Ajaran Asta Aiswarya
: Menunjukkan Contoh-contoh Kemahakuasaan Sang Hyang
Widhi (Tuhan) dalam Konsep Ajaran Asta Aiswarya
: 1. Mampu menjelaskan contoh-contoh kemahakuasaan Sang
Hyang Widhi (Tuhan) dalam konsep ajaran Asta Aiswarya
2. Mampu menjelaskan bagian-bagian Asta Aiswarya beserta
contoh-contohnya

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Peserta didik mampu menjelaskan contoh-contoh


kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam konsep
ajaran Asta Aiswarya
2. Peserta didik mampu menjelaskan bagian-bagian Asta
Aiswarya beserta contoh-contohnya

B.Materi Pembelajaran

: Contoh-contoh kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan)


dalam ajaran Asta Aiswarya dan penjabaran konsep Cadhu
Sakti

1. Contoh-contoh Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi (Tuhan) dalam Konsep Ajaran


Asta Aiswarya
a) Anima artinya sifat Tuhan maha kecil, contohnya : Tuhan lebih kecil dari butiran
pasir, ion, partikel-pertikel, bakteri, amoeba, lebih kecil dari semut dan sebagainya
b) Laghima artinya sifat Tuhan maha ringan, contohnya : Tuhan lebih ringan dari udara,
gas, asap, ether, kapas, debu, dsb.
c) Mahima artinya sifat Tuhan maha besar,. Contohnya : Tuhan lebih besar dari tata
surya dan alam semesta
d) Prapti artinya Tuhan dapat mencapai segala tempat dalam waktu yang bersamaan,
contohnya : Tuhan lebih cepat dari waktu
Sahasrasirsah Purusah, Sahasraksah Sahasrapat, Sabhumin Visato Vriva Tyatistad
dasangulam (Rg Weda X.90.1)
terjemahannya :
Tuhan berkepala seribu, bermata seribu, berkaki seribu. Ia meresapi alam semesta di
sepuluh penjuru mata angin.
e) Prakamya artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi, contohnya : apapun yang
dikehendaki Tuhan pasti akan terwujud,kalau Tuhan menginginkan manusia mati,
manusia tersbut pasti akan mati.
f) Isitwa artinya sifat Tuhan maha raja, maha mulia dan maha utama, contohnya : Tuhan
disimbolkan sebagai Sang Hyang Tunggal dalam konsep Dang Hyang Dwijendra dan
disthanakan dalam bentuk palinggih padmasana
g) Wasitwa artinya sifat Tuhan maha kuasa, contohnya : kemahakuasaan Tuhan tidak
terbatas oleh ruang dan waktu
h) Yatra Kama Wasayitwa artinya segala kehendak Tuhan pasti akan terjadi dan tidak
ada yang mampu menentang kodrat-Nya, contohnya : Tuhan mengatur segala sesuatu
yang ada di alam semesta dengan hukum Rta yang tidak bisa ditentang keberadaannya.

9
2. Cadhu Sakti
Cadhu artinya empat, Sakti artinya kemahakuasaan. Cadhu Sakti artinya empat sifat
kemahakuasaan Tuhan. Bagian-bagian Cadhu Sakti :
a) Prabhu Sakti artinya sifat Tuhan maha kuasa
b) Wibhu Sakti artinya sifat Tuhan ada dimana-mana
c) Jnana Sakti artinya sifat Tuhan maha mengetahui dengan Tri Guna Jnana Sang Hyang
widhi (tiga pengetahuan Tuhan) yaitu Dura Darsana : pandangan Tuhan tidak
terbatas, Dura Sarwa Jnana : pengetahuan Tuhan tidak terbatas dan Dura Srawana :
pendengaran Tuhan tidak terbatas
Tri Samaya artinya tiga pengetahuan tentang waktu. Bagian-bagiannya yaitu
Atita (pengetahuan tentang waktu yang terdahulu/lampau), wartamana (pengetahuan
tentang waktu yang sekarang) dan Anagata (pengetahuan tentang waktu yang akan
datang)
d) Krya Sakti artinya sifat Tuhan maha karya/maha pencipta.
C. Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan


tanya jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik mengamati alam yang ada disekitar kemudian guru
menyampaikan semua yang diamati dibandingkan dengan sifat Sang
Hyang Widhi
2.

Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku yang ada hubungannya dengan Asta
Aiswarya
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5
Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan contoh-contoh Asta Aiswarya
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok

3. Kegiatan Penutup
a. Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b. Melakukan evaluasi/ Post-test
c. Pemberian tugas kepada siswa untuk bahan diskusi pada pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi, Santhi,
Santhi om

10
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a. Alat
Spidol, White board
b.Bahan
Capsion
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku Widya Upadesa
3. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1.Pada saat rerahinan purnama setiap
ganda
anak masing-masing sekolah
melaksanakan persembahyangan
bersama dalam waktu yang sama,
beliau dapat menjangkau semuanya ,
dalam Asta Aiswarya sifat
menjangkau segala tempat disebut:
a. Anima
b. Prapti
c. Isitwa
d. Prakamya
Pilihan
2.Air laut rasanya asin dan setiap
ganda
laut pasti ada gelombangnya ,

Disajikan contoh sifat


Sang Hyang Widhi
peserta didik dapat
menjawab sifat Sang
Hyang Widhi yang
disebut Prapti

Tes tulis

Disajikan contoh sifat


Sang Hyang Widhi
peserta didik dapat
menjawab sifat Sang
Hyang Widhi yang
disebut Yatra Kama
Wayasitwa

Tes tulis

Disajikan pertanyaan
kemahakuasaan
Tuhan jnana sakti
peserta didik dapat
menjawab
kemahakuasaan
Tuhan yang disebut
Dura Darsana
Disajikan pertanyaan
tentang Cadu Sakti
peserta didik dapat
menyebutkan
bagian-bagian Cadhu
sakti

Tes tulis

Pilihan
ganda

Tes tulis

Tes isian

Matahari terbit dari timur


terbenam dibarat , yang terjadi
terjadilah tidak ada kekuatan yang
dapat menghalangi, semua ini
merupakan kehendak Tuhan yang
terlaksana sifat kemahakuasaan
ini disebut............
a. Isitwa
b Mahima
c. Anima
d. Yatra Kama
Wasayitwa
3.Tuhan mampu mendengar dengan
jelas baik dari jauh maupun dari
dekat, sifatnya ini disebut........
a. Dura Dharsana
b. Dura Srawajna
c. Dura Jnana
d. Dura Jihwandria
4. Coba sebutkan bagian bagian
Cadhu Sakti?

11
Disajikan
pertanyaan contoh
sifat Tuhan peserta
didik dapat
menyebutkan
contoh sifat Tuhan
Yang Maha
Ringan

Tes tulis

Tes isian

5 Sebutkan dua contoh Tuhan Maha


ringan

2 Kunci Jawaban
1. b
2. d
3. b
4. Prabhu Sakti, Wibhu Sakti, Jnana Sakti dan Krya Sakti
5. Tuhan lebih ringan dari udara, gas, asap, ether, kapas, debu.
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 3
4. Soal no. 4 bobot 3
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 2+3+3 x 10 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

12

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 4
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Kepemimpinan
: Memahami Ajaran Kepemimpinan Hindu
: Menguraikan Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
: 1. Mampu menguraikan pengertian pemimpin
2. Mampu menguraikan pengertian kepemimpinan
3. Mampu membedakan pengertian pemimpin dengan
kepemimpinan

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Peserta didik mampu menguraikan pengertian


pemimpin
2. Peserta didik mampu menguraikan pengertian
kepemimpinan
3. Peserta didik mampu membedakan pengertian pemimpin
dengan kepemimpinan

B.Materi Pembelajaran

: Pengertian pemimpin, pengertian kepemimpinan dan


perbedaan pemimpin dengan kepemimpinan

Pengertian Pemimpin, Pengertian Kepemimpinan dan Perbedaan Pemimpin dengan


Kepemimpinan
1. Pengertian pemimpin
Secara etimologi kata pemimpin berasal dari kata pimpin yang berarti mengatur.
Pemimpin artinya orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur sekelompok orang
dalam bekerja sama guna mencapai tujuan bersama.
2. Pengertian kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang berarti bimbing atau tuntun.
Kepemimpinan artinya seni untuk membimbing atau menuntun orang lain guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Perbedaan pemimpin dengan kepemimpinan
a. Aktivitas pemimpin sangat menentukan arah orientasi kehidupan rakyat. Sedangkan
aktivitas kepemimpinan mencakup pemberian bimbingan dan motivasi ke arah
kemajuan kepada rakyat yang dipimpin.
b. Tanpa pemimpin, tipe kepemimpinan manapun yang diterapkan tidak akan dapat
menuntun rakyat. Begitu juga tanpa kepemimpinan, seorang pemimpin yang
berwibawa sekalipun akan mengalami kesulitan dalam mengatur rakyat untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

13
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.Kegiatan Pendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik diajak untuk menyebutkan yang mengepalai suatu daerah
dari tingkat desa sampai ke tingkat negara
2. Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku paket Agama materi pemimpin dan
kepemimpinan
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5
Peserta didik
b. Elaborasi
1. Masing-masing perwakilan kelompok mewawancari guru dan pegawai seputar
materi pemimpin dan kepemimpinan
2. Peserta didik memdiskusikan pengertian pemimpin dan kepemimpinan
3. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
4. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Akhir
Dilaksanakan selama 10 menit
1. Guru bersama Peserta didik melaksanakan refleksi
2. Melakukan evaluasi/ Post-test
3. Pemberian tugas kepada Peserta didik a untuk bahan diskusi pada pertemuan
berikutnya
4. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi, Santhi,
Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
A. Alat
Spidol, White board
B. Bahan
Capsion
C. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
Buku LKS
2. Buku Widya Upadesa
3. Itihasa Ramayana dan Mahabharata
4. Nitisastra
5. Buku lainnya yang relevan

14
E. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan ganda 1.Pemimpin secara sederhana

Disajikan pertanyaan
tentang pemimpin
peserta didik dapat
menjawab pengertian
pemimpin secara
sederhana

Tes tulis

Disajikan pertanyaan
tentang kata pimpin
siswa dapat
menjawab arti kata
yang dimaksud
disebut kemampuan

Tes tulis

Pilihan ganda

2. Kepemimpinan bersasal
dari kata pimpin yang
artinya
a. bombing c. kemampuan
b. suruh
d. bijaksana

Disajikan pertanyaan
tentang pengertian
pemimpin peserta
didik dapat
menjawab salah satu
jawaban dari empat
yang disediakan

Tes tulis

Pilihan ganda

Disajikan pertanyaan
kepemimpinan
peserta didik dapat
menjawab
pengertian
kepemimpinan
Disajikan sebuah
kalimat peserta didik
dapat membedakan
pemimpin dengan
kepemimpinan

Tes tulis

Tes isian

3. Orang yang mempunyai


kemampuan untuk
mempengaruhi seseorang
atau sekelompok orang
guna diajak bekerja sama
untuk mencapai tujuan
disebut...........
a. pemimpin
b. managemen
c. kepemimpinan
d. Semua benar
3. Jelaskan apa yang disebut
kepemimpinan

Tes tulis

Tes isian

memiliki pengertian
sebagai
a. Pesuruh
c. Provokator
b. Pengatur d. Pengawas

5 Apa perbedaan Pemimpin


dengan Kepemimpinan ?

2. Kunci Jawaban
1. b
2. c
3. a
4. Kepemimpinan artinya seni untuk membimbing atau menuntun orang lain guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Perbedaan pemimpin dengan kepemimpinan :
b. Aktivitas pemimpin sangat menentukan arah orientasi kehidupan rakyat.
Sedangkan aktivitas kepemimpinan mencakup pemberian bimbingan dan
motivasi ke arah kemajuan kepada rakyat yang dipimpin.
c. Tanpa pemimpin, tipe kepemimpinan manapun yang diterapkan tidak akan
dapat menuntun rakyat. Begitu juga tanpa kepemimpinan, seorang
pemimpin yang berwibawa sekalipun akan mengalami kesulitan dalam
mengatur rakyat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

15
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 2
2. Soal no. 2 bobot 2
3. Soal no. 3 bobot 3
4. Soal no. 4 bobot 3
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 2+2+3+3 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

16

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 5
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Kepemimpinan
: Memahami Ajaran Kepemimpinan Hindu
: Menjelaskan Ajaran Kepemimpinan dalam Konsep Asta
Bratha
: 1. Mampu menjelaskan konsep kepemimpinan Hindu dalam
Nitisastra
2. Mampu menyebutkan tipe-tipe kepemimpinan dalam Asta
Bratha
3. Mampu meneladani kepemimpinan yang baik

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Pesrta didik mampu menjelaskan konsep kepemimpinan


Hindu dalam Nitisastra
2. Pesrta didik mampu menyebutkan tipe-tipe kepemimpinan
dalam Asta Bratha
3. Pesrta didik mampu meneladani kepemimpinan yang baik

B.Materi Pembelajaran

: Konsep kepemimpinan Hindu dalam Nitisastra serta


penjabaran konsep ajaran Asta Bratha

1. Konsep Kepemimpinan Hindu dalam Nitisastra


Kepemimpinan Hindu sudah ada sejak dimulainya jaman Itihasa (wiracarita). Konsep
kepemimpinan Hindu banyak dituangkan dalam Itihasa, Ramayana dan Mahabharata.
Kitab yang memuat konsep kepemimpinan Hindu adalah Nitisastra yaitu kitab yang berisi
ilmu pengetahuan tentang pemerintahan dan kepemimpinan. Penyusun kitab Nitisastra
adalah Rsi Kautilya (Rsi Canakhya) yang merupakan konseptor tunggal dalam penataan
sistem pemerintahan kerajaan Magada di bawah pimpinan raja Chandra Gupta pada tahun
350 SM. Kitab Nitisastra yang disusun oleh Rsi Kautilya memiliki nama lain sebagai
berikut :
a) Raja Dharma : ilmu tentang kewajiban seorang raja.
b) Raja Niti : ilmu tentang hakikat kepemimpinan seorang raja
c) Kautilya Arthasastra : ilmu tentang pemerintahan yang sejahtera menurut Rsi
Kautilya.
d) Arthasastra : ilmu tentang pembangunan negara yang sejahtera
e) Danda Niti : ilmu pemerintahan, politik dan hukum yang menyangkut aspek-aspek
pemerataan kehidupan.
2. Asta Bratha
Konsep ajaran Asta Bratha bersumber dari kekawin Ramayan yang disusun oleh Mpu
Yogiswara menggunakan bahasa Jawa kuna (bahasa kawi). Kekawin Ramayana terdiri
dari 25 sargah dengan 778 bait sloka. Ajaran Asta Bratha merupakan petunjuk dari sang
Ramadewa kepada Wibhisana pada waktu akan dinobatkan menjadi raja di kerajaan
Alengka Pura.
Asta Bratha memiliki pengertian yaitu delapan pedoman yang harus dilaksanakan oleh
seorang pemimpin. Asta Bratha juga dapat diartikan sebagai delapan sifat-sifat mulia dari
para dewata yang patut dijadikan pedoman oleh seorang pemimpin. Adapun bagianbagian Asta Bratha adalah sebagai berikut :

17
(a) Indra Bratha : seorang pemimpin hendaknya mampu mensejahterakan dan
mengusahakan kemakmuran rakyat.
(b) Yama Bratha : seorang pemimpin hendaknya mampu menegakkan hukum secara adil
(c) Surya Bratha : seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan penerangan secara
adil dan merata kepada seluruh rakyat
(d) Candra Bratha : seorang pemimpin hendaknya mampu menunjukkan wajah yang
tenang dan bersikap bijaksana untuk menyejukkan hati rakyat
(e) Bayu Bratha : seorang pemimpin hendaknya mengetahui keadaan rakyat
(f) Kuwera Bratha : seorang pemimpin hendaknya bijaksana dalam mengatur keuangan
negara untuk kesejahteraan rakyat
(g) Baruna Bratha : seorang pemimpin hendaknya mampu mengatasi permasalahan yang
dihadapi untuk mewujudkan stabilitas keamanan negara
(h) Agni Bratha : seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat ksatria pemberani dan
penuh semangat
Hyang Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Barunagni nahan wahu, sira ta
maka angga sang bhupati, matanghyan inisti Asta Bratha (Kekawin Ramayana, Sargah
25.52)
Terjemahan :
Dewa Indra, Yama, Surya, Candra, Bayu, Kuwera, Baruna dan Agni merupakan delapan
dewa yang memiliki sifat-sifat utama kepemimpinan. Oleh karena itu disebut Asta Bratha.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik mendengarkan cerita ramayana terutama percakapan
Rama dengan Wibhisana
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku yang ada hubungannya konsep kepemimpinan
dalam Asta Brata
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5
Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan konsep kepemimpinan dalam Asta Brata
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok

18
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
A. Alat
Spidol, White board
B. Bahan
Capsion
C. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Cerita Ramayana
5. Nitisastra
6. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
3. . Teknik
: Tes Tulis
4. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Disajikan pertanyaan

Tes tulis

delapan sifat
kepemimpinan
peserta didik dapat
menjawab sifat
pemimpin yang
disebut Asta Bratha
Disajikan pertanyaan
sifat pemimpin yang
adil peserta didik
dapat menjawab sifat
pemimpin yang
disebut Yama Bratha

Disajikan pertanyaan
pemimpin yang ideal
peserta didik dapat
menjawab figur
pemimpin Sang
Dasaratha

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan ganda 1. Delapan sifat kepemimpinan

dalam agama Hind disebut


a. Asta Bratha
b. Asta Bhumi
c. Asta Aiswarya
d. Asta Kosala-kosali
Tes tulis

Pilihan ganda 2. Pemimpin hendaknya

bersifat adil dalam ajaran


Asta Bratha disebut .
a. Indra Bratha
b. surya Bratha
c. Agni Bratha
d.Yama Bratha
Tes tulis

Pilihan ganda 3 . Figur pemimpin yang idial

masa kini maupun yang akan


datang adalah sesuai dengan
isi kekawin Ramayana Bab I
Sloka 3 yaiyu.............
a. Sang Yudistira
b. Sang Dasaratha
c, Sang Kresna
d. Bhagawan Bhisma

19
Disajikan pertanyaan
penyusun Arta sastra
peserta didik dapat
menjawab Maha rsi
Kautiliya

Tes tulis

Pilihan ganda

4. Magada merupakan

Disajikan pertanyaan
Candra Bratha
peserta didik dapat
menjelaskan
pengertian Candra
Bratha

Tes tulis

Tes isian

4 Jelaskan pengertian Candra


Bratha dalam ajaran Asta
Bratha !

Disajikan pertanyan
tentang Nitisaastra
peserta didik dapat
menjelaskan
pengertian Nitisastra

Tes tulis

Tes isian

5. Apa yang dimaksud dengan


Nitisastra !

sebuah
kerajaan yang dipimpin oleh
Chandra Gupta tahun 350
SM.Ilmu pemerintahan yang
diterapkan pada saat itu
disebutArtha sastra atau
DandaNiti yang disusun oleh
Maharsi.........
a. Gretsamada b. Kautiliya
c. Wiyasa
d . Kanwa

2. Kunci Jawaban
1. a
2. d
3. b
4. b
5. Candra Bratha : seorang pemimpin hendaknya mampu menunjukkan wajah yang
tenang dan bersikap bijaksana dalam menyejukkan hati rakyat
6. Nitisastra yaitu kitab yang berisi ilmu penetahuan tentang pemerintahan dan
kepemimpinan
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 1
4. Soal no. 4 bobot 1
5. Soal no. 5 bobot 3
6. Soal no. 5 bobot 3
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 4+3+3 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

20

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 6

Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Kepemimpinan
: Memahami Ajaran Kepemimpinan Hindu
: Menunjukkan Contoh-contoh Kepemimpinan Hindu dalam
Ajaran Asta Bratha
: 1. Mampu menyebutkan tipe-tipe kepemimpinan Asta Bratha
2. Mampu menunjukkan contoh-contoh kepemimpina Hindu
dalam Itihasa Ramayan dan Mahabharata

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menyebutkan tipe-tipe kepemimpinan Asta


Bratha
2. Siswa mampu menunjukkan contoh-contoh kepemimpina
Hindu dalam Itihasa, Ramayana dan Mahabharata

B.Materi Pembelajaran

: Contoh-contoh kepemimpinan dalam Itihasa dan Nitisastra

Contoh-contoh Kepemimpinan dalam Itihasa Ramayana dan Mahabharata


1. Raja Dasaratha
Gunamanta sang prabhu Dasaratha,
Wruh sira dharma ring Weda,
Bhati ring dewa,
Tan malupeng ring pitra puja,
asih ta sira ring para swagotra kabeh (Kekawin Ramayana sargah 1.3)
Terjemahannya :
Raja Dasaratha adalah seorang raja yang berilham Weda dan taat beragama, bhakti
kepada para dewa, tidak melupakan para leluhur dan selalu mengasihi keluarga berserta
semua rakyatnya
2. Ramadewa
Tipe kepemimpinan Ramadewa sebagai raja di Ayodya Pura adalah :
(a) Astha Bratha
(b) Dharmaning Prajaniti Uttama : kewajiban utama seorang raja
(c) Satya Dharma : kewajiban untuk menegakkan kebenaran
(d) Dharma Bratha : kebijaksanaan dalam berbuat,berkata dan berpikir (Tri Kaya
Parisudha)
(e) Bhakti ring dewa
(f) Bhakti ring pitra puja
(g) Dharma ring Weda
(h) Bhakti Ring Atma Siddha Dewata

3. Wibhisana
Tipe kepemimpinan Wibhisana sebagai raja di Alengka Pura adalah :
(a) Astha Bratha

21
(b)
(c)
(d)
(e)

Dharmaning Prajaniti Uttama : kewajiban utama seorang raja


Dharmaning Agama : taat beragama
Satya Graha : setia kepada negara
Tresna Asih : cinta kasih

4. Krsna
Tipe kepemimpinan Krsna sebagai raja di Dwaraka adalah :
(a) Dharmaning Bhakti : kewajiban untuk berbakti di jalan Tuhan
(b) Dharmaning Dhana : kewajiban untuk berdana punia atau bersedekah
(c) Dharmaning Yadnya : kewajiban untuk melaksanakan yadnya
(d) Tresna Dharmaning Asih : kewajiban untuk mengasihi keluarga beserta seluruh
rakyat
5. Yudhistira
Tipe kepemimpinan Yudhistira sebagai raja di Astina Pura adalah :
(a) Dharma Sastra : kewajiban untuk mengamalkan ajaran kebenaran suci
(b) Catur Naya Sandhi : empat sifat dan tindakan bijaksana yang harus dilakukan oleh
seorang pemimpin
(c) Asta Bratha
(d) Dharmaning Ksatria : kewajiban sebagai seorang ksatria

C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. KegiatanPendahulan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik diajak mendengarkan kekawin ramayana serta artinya
kemudian telaah bersama
2. Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku yang ada hubungannya konsep kepemimpinan
dalam ajaran Asta Brata
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5
Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan contoh-contoh kepemimpinan Hindu
dalam ajaran Asta Brata
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok

22
3.Kegiatan Penutup
1. Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
2. Melakukan evaluasi/ Post-test
3. Pemberian tugas kepada siswa untuk bahan diskusi pada pertemuan berikutnya
4. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi, Santhi,
Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
A. Alat
Spidol, White board
B. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Itihasa Ramayana dan Mahabharata
5. Nitisastra
6. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. 1. Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Disajikan pertanyaan
tentang figur
pemimpin peserta
didik dapat menjawab
figur pemimpin yang
ideal menurut ajaran
Itihasa
Disajikan pertanyaan
tentang tipe
kepemimpinan
peserta didik dapat
menjawab tipe
kepemimpinan
Ramadewa sebagai
raja di Ayodya

Tes tulis

Bentuk
Instrumen
Tes isian

Tes tulis

Tes isian

Contoh Instrumen

1. Coba tunjukkan figur


pemimpin yang ideal
menurut ajaran Itihasa !

2. Tipe kepemimpinan
Ramadewa sebagai raja di
Ayodya Pura adalah :

2. Istrumen
2. Coba tunjukkan figur pemimpin yang ideal menurut ajaran Itihasa !
3. Sebutkan tipe kepemimpinan Ramadewa !
3. Kunci Jawaban
1. Dasaratha, Ramadewa, Wibhisana, Yudistira dan Krsna
2. Tipe kepemimpinan Ramadewa sebagai raja di Ayodya Pura adalah :
(a) Astha Bratha
(b) Dharmaning Prajaniti Uttama : kewajiban utama seorang raja
(c) Satya Dharma : kewajiban untuk menegakkan kebenaran
(d) Dharma Bratha : kebijaksanaan
(e) Bhakti ring dewa
(f) Bhakti ring pitra puja
(g) Dharma ring Weda
(h) Bhakti Ring Atma Siddha Dewata

23

D. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 5
2. Soal no. 2 bobot 5
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 5+5x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

24

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO.7
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator
Alokasi Waktu

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Budaya
: Memahami Dharma Gita
: Menguraikan Pengertian Dharma Gita
: Mampu Menguraikan Pengertian Dharma Gita
: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: Siswa mampu menguraikan pengertian Dharma Gita

B.Materi Pembelajaran

: Pengertian Dharma Gita, peranan Dharma Gita dalam


kehidupan sehari-hari dan tujuan mempelajari Dharma Gita

1. Pengertian Dharma Gita


Kata Dharma Gita berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dharma yang berarti
kebenaran/agama, dan Gita berarti lagu/nyanyian. Jadi Dharma Gita berarti nyanyian
atau lagu-lagu suci yang di dalamnya terkandung ajran keagamaan. Dharma Gita juga
bisa diartikan sebagai suatu lagu yang dinyanyikan secara khusus pada saat mengiringi
pelaksanaan upacara agama Hindu.
2. Peranan Dharma Gita dalam Kehidupan Sehari-hari
(a) Dapat dijadikan sarana untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi sebagai sumber dari
segala sesatu yang ada di alam semesta. Dalam kitab Rg Weda disebutkan sebagai
berikut :
Om A visvadevam satpatin suktardya
Vrnimahe satyasavam savitaram (Rg Weda V.82.7)
Terjemahan :
Ya Tuhan yang maha agung, dengan lagu nyanyian kami memuja-Mu sebagai
sumber dari segala kebenaran, Engkau maha cemerlang yang berkuasa atas takdir
dan Engkaulah yang maha bijaksana.
(b) Sebagai salah satu media tradisional yang sangat efektif untuk memasyarakatkan
ajaran-ajaran agama Hindu, mengingat Dharma Gita merupakan nyanyian suci yang
memuat ajaran agama sebagai tuntunan hidup bagi umat Hindu.
(c) Sebagai sarana motivasi umat Hindu untuk lebih mencintai agamanya sendiri.
3. Tujuan Mempelajari Dharma Gita
sebagai media tradisional yang sangat efektif, tujuan dari mempelajari Dharma Gita
dapat dirumuskan sebagai berikut :
(a) Untuk menyebarluaskan ajaran agama melalui seni suara
(b) Untuk memberikan sentuhan kerohanian dalam pelaksanaan upacara yadnya
(c) Untuk memberi dorongan kepada umat Hindu agar lebih mencintai kebudayaan
warisan leluhur
(d) Untuk menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan seni sastra yang telah
diwariskan oleh para leluhur umat Hindu
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

25
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
c. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
d. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik bersama-sama menyanyikan sekar rare
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu materi Dharmagita
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan pengertian dan tujuan mempelajari
Dharmagita
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
b.Bahan
1. Tape recorder
2. Kaset tembang Dharma Gita
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Buku teks Dharma Gita
5. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda

26
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1. Dharma Gita berasal dari
ganda
bahasa

Disajikan pertanyaan
asal bahasa
dharmagita peserta
didik dapat menjawab
dharmagita berasal
dari bahasa
sansekerta
Disajikan sebuah
kalimat peserta didik
dapat menjawab arti
kata Dharma

Tes tulis

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pertanyaan
pengertian
dharmagita peserta
didik dapat
menjawab
pengertian
Dhrmagita
Disajikan pertanyaan
dharmagita peserta
didik dapat
menyebutkan tujuan
mempelajari
Dhrmagita

Tes tulis

Tes isian

3.Jelaskan pengertian Dharmagita!

Tes tulis

Tes isian

4.Sebutkan tujuan mempelajari


Dharmagita !

a. Kawi
b. Sanskerta

c. Bali
d. Jawa kuno

2. Kata Dharma dalam Dharma


Gita berarti...
a. Kebenaran c. Kejahatan
b. Kedamaian d. Kemakmuran

2. Kunci Jawaban
1. b
2. a
3. Dharma Gita berarti nyanyian atau lagu-lagu suci yang didalamnya terkandung
ajran keagamaan
4. Tujuan mempelajari Dharma Gita adalah :
a. Untuk menyebarluaskan ajaran agama melalui seni suara
b. Untuk memberikan sentuhan kerohanian dalam pelaksanaan upacara
yadnya
c. Untuk memberi dorongan kepada umat Hindu agar lebih mencintai
kebudayaan warisan leluhur
d. Untuk menjaga, memlihara dan melestarikan kebudayaan seni sastra yang
telah diwariskan oleh para leluhur umat Hindu
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 4
4. Soal no. 4 bobot 4
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0

27
Rumus : 2+4+4 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

28

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 8

Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Budaya
: Memahami Dharma Gita
: Menyebutkan Jenis-jenis Dharma Gita
: 1. Mampu menyebutkan jenis-jenis Dharma Gita yang ada di
daerah masing-masing
2. Mampu menyebutkan contoh-contoh Dharma Gita dalam
pelaksanaan upacara keagamaan di daerah masing-masing
3. Mampu menjelaskan hubungan Dharma Gita dengan
pelaksanaan upacara keagamaan

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menyebutkan jenis-jenis Dharma Gita yang


ada di daerah masing-masing
2. Siswa mampu menyebutkan contoh- contoh Dharma Gita
dalam pelaksanaan upacara keagamaan di daerah masingmasing
3. Siswa mampu menjelaskan hubungan Dharma Gita dengan
pelaksanaan upacara keagamaan
: Jenis-jenis Dharma Gita dan hubungan Dharma Gita dalam
pelaksanaan upacara keagamaan

B.Materi Pembelajaran

Jenis-jenis Dharma Gita dan Hubungan Dharma Gita dalam Pelaksanaan Upacara
Keagamaan.
1. Jenis-jenis Dharma Gita
Dharma Gita jumlahnya sangat banyak, walaupun demikian Dharma Gita dapat
dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain :
(a) Sekar Rare
Sekar Rare adalah lagu-lagu yang biasa disebut gegendingan. Sekar Rare pada
umumnya dinyanyikan oleh anak-anak dan sering dipakai untuk mengiringi
gambelan. Lagu-lagu sekar rare menggunakan bahasa daerah, memakai sajak bebas
dan isinya tentang sebuah cerita dari awal sampai selesai. Setiap lagu dalam sekar
rare memiliki nama tersendiri dan di dalamnya selalu diselipkan ajaran-ajaran susila.
(b) Sekar Alit
Sekar alit adalah lagu-lagu atau nyanyian yang pada umumnya dikenal dengan
geguritan/pupuh dan ada juga yang menyebut dengan istilah macapat yaitu lagu
yang dibentuk berdasarkan pada-lingsa. Pada artinya banyaknya suku kata dalam
satu baris/carik, sedangkan lingsa artinya bunyi akhir dari masing-masing baris
dalam satu bait/pupuh. Adapun lagu-lagu yang tergolong sekar alit adalah Pupuh
Sinom, Pupuh Pucung, Pupuh Mijil, Pupuh Maskumambang, Pupuh Ginada, Pupuh
Ginanti, Pupuh Smarandana, Pupuh Durma, Pupuh Pangkur, Pupuh Dangdang Gula.
(c) Sekar Madya
Sekar madya adalah lagu-lagu yang berisikan syair pujian terhadap Ida Sang Hyang
Widhi.

29
Sekar madya juga disebut tembang tengahan/kidung yang sering digunakan untuk
mengiringi upacara yadnya. Lagu-lagu sekar madya menggunakan bahasa Bali
Tengahan dan bahasa Bali lumrah, namun ada juga yang memakai baha Jawa Kuna.
Cara menyanyikan lagu sekar madya terkadang dinyanyikan secara berkelompok
atau perorangan. Lagu-lagu yang tergolong kedalam sekar madya adalah Kawitan
Wargasari, kidung Wargasari, Brahmana Ngisep Sari, Adri, Kawitan Tantri, Jerum,
dll.
(d) Sekar Agung
Sekar agung adalah lagu-lagu yang pada umumnya disebut kekawin/wirama. Lagulagu sekar agung terikat pada suku kata dalam setiap baris (wrtta) dan terikat oleh
guru-laghu. Lagu-lagu yang termasuk sekar agung adalah wirama Ragakusuma,
wirama Sikharini, wirama Praharsini, wirama Swandewi, wirama Mrdukomala,
wirama Mandamalon, wirama Totaka, wirama Indrawangsa, dll.
2. Hubungan Dharma Gita dalam Pelaksanaan Upacara Keagamaan
Hubungan Dharma Gita dalam pelaksanaan upacara keagamaan adalah sebagai sarana
untuk melengkapi rangkaian pelaksanaan suatu upacara/yadnya. Pelaksanaan upacara
keagamaan akan lebih lengkap apabila diiringi dengan Panca Gita, yaitu :
(a). Kentongan/kulkul : sebagai pertanda bahwa masyarakat khususnya umat Hindu
sudah mulai berkumpul di tempat upacara.
(b). Gong : musik tradisional untuk mengiringi upacara.
(c). Kidung : nyanyian yang dikumandangkan
(d). Doa/puja mantra dari para sulinggih.
(e). Genta : suara genta atau bajra yang dibunyikan sulinggih adalah sarana untuk
mengiringi doa pujaan. Gita dan tarian merupakan penjabaran dari perilaku
sulinggih/Sang Sadaka saat memimpin upacara keagamaan. Puja sulinggih
berkembang menjadi gita, suara bajra berkembang menjadi gambelan dan sikap
tangan mudra berkembang menjadi tarian.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Salah satu peserta didik disuruh menyayikan sekar madya
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang materi
jenis-jenis dharma gita
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan jenis-jenis dharma gita
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami

30
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
b.Bahan
1. Tape recorder
2. Kaset tembang Dharma Gita
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Buku teks Dharma Gita
5. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. 1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Disajikan sebuah
kalimat peserta didik
dapat menjawab
dharmagita yang

Tes tulis

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1.Jenis Dharma Gita yang
ganda
dipergunakan untuk mengiringi

upacara Dewa Yadnya adalah


a. Wargasari
c. Sinom
b. Ginada
d. Mijil

dipergunakan untuk
mengiringi upacara
Dewa Yadnya
Disajikan sebuah
kalimat peserta didik
dapat menjawab arti
kata Dharma

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan sebuah
kalimat peserta didik
dapat menjawab

Tes tulis

Pilihan
ganda

Dharmagita yang
mengandung
pesan-pesan moral
bhudi pekerti

2. Jenis Dharma Gita yang sering


disebut geguritan atau pupuh
adalah...
a. Sekara rare c. Sekar madya
b Sekar agung d. Sekar alit
3.Jenis Dharmagita yang dalam
lirik/baitnya mengandung pesanpesan moral bhudi pekerti,
kesusilaan serta pengetahuan
adalah
a. Sekar Rare
c. Sekar Alit
b Sekar Madya d. Sekar Agung

31
Disajikan pengalan
sekar rare peserta
didik dapat
menjawab makna
yang terkandung
berjiwa suci

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pertanyaan
dharmagita peserta
didik dapat
menyebutkan jenisjenis Dharmagita
Disajikan pertanyaan
tentang lagu peserta
didik dapat
menjawab yang
termasuk sekar alit

Tes tulis

Tes isian

Tes tulis

Tes isian

4. Bebeke putih jambul mekeber


ngaje kanginan, adalah sekar rare.
Bebeke putih jambul
mengandung makna lambang
orang-orang yang ...........
a. berjiwa besar
b. berjiwa suci
c. berjiwa satria
d. berjiwa pemberani!
5.Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis
Dharmagita !

6. Sebutkan lagu-lagu yang


termasuk dalam sekar alit !

2. Kunci Jawaban
1. a
2. c
3. c
4. b
5. Sekar rare adalah lagu-lagu yang biasa disebut gegendingan, Sekar Alit adalah
lagu-lagu atau nyanyian yang pada umumnya dikenal dengan geguritan/pupuh
dan ada juga yang menyebut dengan istilah macapat, sekar madya adalah lagulagu yang berisikan syair pujian terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Sekar madya
juga disebut tembang tengahan/kidung yang sering digunakan untuk mengiringi
upacara yadnya, dan sekar agung adalah lagu-lagu yang pada umumnya disebut
kakawin/wirama.
6. lagu-lagu yang tergolong sekar alit adalah Pupuh Sinom, Pupuh Pucung, Pupuh
Mijil, Pupuh Maskumambang, Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh
Semarandana, Pupuh Durma, Pupuh Pangkur, Pupuh Dangdang Gula.
4. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 3
4. Soal no. 4 bobot 3
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 4+3+3 x 10 = N
10
Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

32

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 9
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Budaya
: Memahami Dharma Gita
: Mengenal Teknik-teknik Menyanyikan Dharma Gita
: 1. Mampu menguraikan teknik-teknik menyanyikan Sekar
Alit/macapat
2. Mampu menguraikan teknik-teknik menyanyikan Sekar
Madya/kidung
3. Mampu menguraikan teknik-teknik menyanyikan Sekar
Agung/kekawin

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menguraikan teknik-teknik menyanyikan


Sekar Alit/macapat
2. Siswa mampu menguraikan teknik-teknik menyanyikan
Sekar Madya/kidung
3. Siswa mampu menguraikan teknik-teknik menyanyikan
Sekar Agung/kekawin
: Teknik-teknik menyanyikan Dharma Gita

B.Materi Pembelajaran

Teknik-teknik Menyanyikan Dharma Gita


1. Teknik-teknik Menyanyikan Sekar Alit/macapat
(a) Pupuh dibangun berdasarkan pada lingsa, pada artinya banyaknya suku kata
dalam suatu kalimat dan lingsa artinya perubahan suara pada kalimat terakhir .
(b) Pada tiap-tiap baris sekar alit dinyatakan dengan : a i u e o (taling, tedung,
suku dan seterusnya).
2. Teknik-teknik Menyanyikan Sekar Madya /kidung
(a) Kidung memakai pada-lingsa hanya saja tembang kidung dinyanyikan secara
perlahan-lahan
(b) Kerangka dari lagu-lagu kidung sebenarnya berisi carik bawak dan carik dawa
(c) Lagu kidung terdiri dari kawitan 2 bait, pengawak 2 bait, penawa 2 bait dan
pemawak 2 bait.
3. Teknik-teknik Menyanyikan Sekar Agung/kekawin
(a) Kekawin dibentuk berdasarkan wrtta-Matra. Wrtta artinya banyaknya suku kata
dalam kalimat, matra artinya kedudukan guru-laghu dalam wrtta.
(b) Kekawin diikat oleh guru-laghu. Guru artinya suara panjang, berat, keras, indah dan
bergelombang, sedangkan laghu artinya ringan, pendek, lemah, rendah yang
digambarkan dengan garis melengkung ().
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

33
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Tanya jawab seputar materi yang telah dipelajari terkait dengan
dharmagita
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang eknik-teknik
menyanyikan Dharmagita
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang teknik-teknik menyanyikan
Dharmagita
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a. Alat
Spidol, White board
b. Bahan
1. Tape recorder
2. Kaset tembang Dharma Gita
c. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku teks Dharma Gita
4. Buku lainnya yang relevan

34
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan pertanyaan
tembang sekar alitv peserta
didik dapat menjawab

Teknik

Bentuk
Instrumen
Pilihan
ganda

Contoh Instrumen

Tes tulis

Pilihan
ganda

Tes tulis

tes isian

2.Jenis tembang Dharmagita


yang terikat oleh guru lagu
adalah
a. Kekawin
c Kidung
b. Pupuh
d. Sloka
3.Bagaimana teknik-tenik
menyanyikan Sekar Alit ?

Tes tulis

tes isian

Tes tulis

yang bukan sekar alit


Disajikan pertanyaan jenis
dharmagita peserta didik
dapat menjawab
dharmagita yang terikat
guru lagu
Disajikan sebuah kalimat
peserta didik dapat

1. Berikut ini adalah tembang


sekar alit, kecuali
a. Pupuh Pucung c. Rahitiga
b Pupuh Durma d. Pupuh
Ginada

tmenyebutkan eknik-tenik
menyanyikan Sekar Alit ?
Disajikan sebuah kalimat
peserta didik disuruh
membuat lagu sekar Alit

4 Buatlah salah satu lagu Sekar


Alit ?

2. Kunci Jawaban
1. c
2. a
3. Teknik-tenik menyanyikan Sekar Alit
(a) Pupuh dibangun berdasarkan pada-lingsa, pada artinya banyaknya suku
kata dalam suatu kalimat dan lingsa artinya perubahan suara pada kalimat
terakhir .
(b) Pada tiap-tiap baris sekar alit dinyatakan dengan : a i u e o (taling,
tedung, suku dan seterusnya)
4. Pupuh Pucung
Bibi anu lamun payu luas manjus
Antenge tekekang
Yatnain ngaba masui
Tiyuk puntul bawang anggon pasikepan
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 3
4. Soal no. 4 bobot 3
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0

35

Rumus : 2+3+3 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

36

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 10
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / I (Satu)
: Budaya
: Memahami Dharma Gita
: Menyanyikan Contoh-contoh Lagu Kerohanian
: 1. Mampu menyanyikan tembang sekar alit
2. Mampu menyanyikan tembang sekar madya
3. Mampu menyanyikan tembang sekar agung

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menyanyikan tembang sekar alit


2. Siswa mampu menyanyikan tembang sekar madya
3. Siswa mampu menyanyikan tembang sekar agung

B.Materi Pembelajaran

: Menyanyikan lagu-lagu keagamaan

Menyanyikan Lagu-lagu Keagamaan


1. Tembang Sekar Alit
Pupuh Pucung
Bibi anu lamun payu luas manjus
Antenge tekekang
Yatnain ngaba masui
Tiyuk puntul bawang anggon pasikepan
2. Tembang Sekar Madya
a Kawitan Wargasari
(1) Purwakaning angripta rum, ning wana wukir
Kahadang labuh kartika, panedengin sari
Angayu tanguli ketur, angringring jangga mure.
(2) Sukania arja winangun, winarna sari,
Rumrumning puspa priaka, ingoling tangi,
Sampuning riris sumawur, mungguing srengganing rejeng.
b Warga Sari
(1) Ida ratu saking luhur, kaula nunas lugrane,
Mangda sampun titiang tandruh, mangayat Bhatara mangkin,
Titiang ngaturang pejati, banten suci muang daksina,
Sarwa sampun puput, pratingkahing saji.
(2) Turun tirta saking luhur, pemangkune manyiratang,
Makalangan muncrat mumbul, mapan tirta mertha jati,
Paican Bhatara sami, panyupatan dasa mala,
Sami pada lebur, malane ring bumi.
3. Tembang Kekawin
Kekawin Arjuna wiwaha II-1
Sasiwimba aneng ghata mesi banyu
Ndan asing suci nirmala mesi wulan
Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin
Ring angambeki yoga kiteng sakala

37
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Tanya jawab seputar materi yang telah dipelajari terkait dengan
dharmagita
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1. Peserta didik membaca buku paket agama Hindu tentang Contoh-contoh Lagu
Kerohanian
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik secara berkelompok menyanyikan sekar alit,sekar madiya sekar
agung
2. Masing-masing kelompok mendemontrasikan kebolehannya
c. Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
b.Bahan
1. Tape recorder
2. Kaset tembang Dharma Gita
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Buku teks Dharma Gita
5. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda

38
1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan pertanyaan
kidung peserta didik
dapat menyanyikan

Teknik
Demontrasi

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
lisan
1. Nyanyikanlah salah

satu

kidung Panca Yadnya !

kidung Panca Yadnya


Disajikan pertanyaan
kekawin peserta didik
dapat menembangkan
Sekar Agung

Demontrasi

lisan

2. Tembangkanlah salah satu


sekar agung

2. Kunci Jawaban
1. (a) Ida ratu saking luhur, kaula nunas lugrane,
Mangda sampun titiang tandruh, mangayat Bhatara mangkin,
Titiang ngaturang pejati, banten suci muang daksina,
Sarwa sampun puput, pratingkahing saji.
(b) Turun tirta saking luhur, pemangkune manyiratang,
Makalangan muncrat mumbul, mapan tirta mertha jati,
Paican Bhatara sami, panyupatan dasa mala,
Sami pada lebur, malane ring bumi.
2. Kekawin Arjuna wiwaha II-1
Sasiwimba aneng ghata mesi banyu
Ndan asing suci nirmala mesi wulan
Iwa mangkana rakwe kiteng kadadin
Ring angambeki yoga kiteng sakala
d. Skor Nilai
1. Soal no. 1 bobot 4
2. Soal no. 2 bobot 4
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 4 + 4 x 10 = N
1

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

39

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 11
Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: SMP Negeri 1 Bangli


: Pendidikan Agama Hindu
: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Hari Suci
: Memahami Hari-hari Suci Agama Hindu
: Menyebutkan Pengelompokan Hari Suci Agama Hindu
Berdasarkan Sasih dan Wuku
: 1. Mampu mengelompokkan perayaan hari suci agama Hindu
berdasarkan sasih
2. Mampu mengelompokkan perayaan hari suci agama Hindu
berdasarkan wuku

Alokasi Waktu

:2 x 40 menit ( 1 x pertemuan)

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu mengelompokkan perayaan hari suci agama


Hindu berdasarkan sasih
2. Siswa mampu mengelompokkan perayaan hari suci agama
Hindu berdasarkan wuku
: Pengertian hari suci agama Hindu dan pengelompokan hari
suci agama Hindu berdasarkan Sasih dan Wuku

B.Materi Pembelajaran

1. Pengertian Hari Suci Agama Hindu


Hari suci adalah hari yang diperingati/hari yang diistimewakan berdasarkan keyakinan
bahwa hari-hari tersebut memiliki nilai-nilai dan makna-makna spiritual yang
terkandung di dalamnya. Berdasarkan keyakinan umat Hindu di Bali, hari-hari suci
disebut dengan istilah rerahinan. Rerahinan berasal dari kata rai yang berarti hari
puncak/hari yang dianggap penting dan suci, karena pada hari-hari suci itulah kekuatan
suci dan kekuatan spiritual mengalir dari Ida Sang Hyang widhi beserta manifestasi-Nya.
Hari raya/rerahinan diperingati atas dasar Sradha Bhakti, spiritual dan tingkat kesadaran
umat Hindu untuk menjungjung tinggi nilai-nilai, makna dan filosofis yang terkanduing
dalam perayaan hari suci. Berdasarkan kepercayaan leluhur, kata rerahinan berasal dari
kata rah yang berarti puncak, kemudian dari kata rah menjadi rahina yang berarti hari
suci dengan nilai puncak tertinggi dan diyakini dapat memberikan keselamatan,
kerahajengan dan kerahayuan jagat.
2. Perayaan Hari Suci Agama Hindu
Berdasarkan lontar Sundari Gama, hari raya agama Hindu dibagi menjadi 5 bagian yaitu
:
a. Hari raya yang dilakukan setiap hari
b. Hari raya berdasarkan pertemuan triwara dengan pancawara
c. Hari raya berdasarkan pertemuan saptawara dengan pancawara
d. Hari raya berdasarkan pawukon
e. Hari raya berdasarkan sasih (Purnama Tilem)

40
No wuku
1
Sinta

2
3

Landep
Ukir

4
5
6
7
8
9
10

Kulantir
Tolu
Gumbreg
Wariga
Warigadian
Julungwangi
Sungsang

11

Dunggulan

12

Kuningan

13
14
15
16

Langkir
Medangsia
Pujut
Pahang

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

Krulut
Mrakih
Tambir
Medangkungan
Matal
Uye
Menail
Prangbakat
Bala
Ugu
Wayang
Klawu

29
30

Dukut
Watugunung

Saptawara
Redite
Soma
Angara
budha
Saniscara
Redite

Pancawara
Pahing
Pon
Wage
kliwon
Kliwon
Umanis

Budha
Anggara
Budha
Saniscara
Budha
Angara
Wrhaspati
Sukra
Angara
Budha
Saniscara
Redite
Soma
Sukra
Saniscara
Budha
Angara
Budha

Wage
Kliwon
Kliwon
Kliwon
Wage
Kliwon
Wage
Kliwon
Wage
Kliwon
Pon
Wage
Kliwon
Wage
Kliwon
Wage
Kliwon
Kliwon

Saniscara
Budha
Angara
Budha
Saniscara
Budha
Angara
Budha
Saniscara
Budha
Sukra
Angara
Saniscara

Kliwon
Wage
Kliwon
Kliwon
Kliwon
Wage
Kliwon
Kliwon
Kliwon
Wage
Umanis
Kliwon
Umanis

3. Nama-nama sasih Tahun Saka :


(a) Sasih Kasa
(6) Sasih Kenem
(b) Sasih Karo
(7) Sasih Kapitu
(c) Sasih Katiga
(8) Sasih Kawulu
(d) Sasih Kapat
(9) Sasih Kasanga
(e) Sasih Kelima
(10) Sasih Kadasa

C.Metode Pembelajaran

Hari Raya
Banyu Pinaruh
Soma Ribek
Sabuh mas
Pagerwesi
Tumpek Landep
Persembahan kehadapan
Bhatara Guru
Budha Cemeng Ukir
Anggara Kasih Kulantir
Budha Kliwon Gumbreg
Tumpek Pengatag/Panguduh
Budha Cemeng Warigadian
Angara Kasih Julungwangi
Sugihan Jawa/parerebuan
Sugihan Bali
Penampahan Galungan
Galungan
Pemaridan Guru
Ulihan
Pamacekan Agung
Penampahan Kuningan
Kuningan
Budha Cemeng Langkir
Angara Kasih Medangsia
Budha Kliwon
Pahang/pegatwakan
Tumpek Klurut
Budha Cemeng Mrakih
Angara Kasih tambir
Budha Kliwon Matal
Tumpek andang/kandang
Budha Cemeng Menail
Angara Kasih Prangbakat
Budha Kliwon Ugu
Tumpek Wayang
Budha Cemeng Klawu
Wedalan Bhatari Sri
Angara Kasih Dukut
Hari Raya Saraswati
(11) Sasih Jyestha
(12) Sasih Sadha

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

41
D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
peserta didik diarahkan untuk mengingat kembali syarat-syarat suatu
agama yang sah diakui di Indonesia
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang pengelompokan hari
suci agama Hindu berdasarkan Sasih dan Wuku
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1.Peserta didik memdiskusikan kelompok Hari suci yang berdasarkan Sasih,dan
Wuku
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran
yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatanu
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a. Alat
Spidol, White board
c. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Kalender Bali
4. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan pertanyaan
jumlah wuku peserta
didik dapat menjawab

banyaknya wuku

Teknik

Bentuk
Instrumen

Tes Tulis

pilihan
ganda

Contoh Instrumen

1. Wuku terdiri dari


a. 30
c. 25
b. 20
d. 10

42
Disajikan pertanyaan hari
raya Hindu peserta didik
dapat menjawab
rerahinan

Tes Tulis

pilihan
ganda

2.Hari raya Hindu di Bali


disebut dengan...
a. Wewaran
c.Rerahina
b. Sasih
d. Wuku

3. Jelaskan pengertian rerahinan !


4. Sebutkan nama-nama sasih tahun Saka !
3. Kunci Jawaban
1. a
2. c
3. Rerahinan berasal dari kata rai yang berarti hari puncak/ hari yang dianggap
penting dan suci, karena pada hari-hari suci itulah kekuatan suci dan kekuatan
spiritual mengalir dari Ida Sang Hyang widhi beserta manifestasi-Nya
4. Nama-nama sasih Tahun Saka :
(a) Sasih Kasa
(f) Sasih Kenem
(k) Sasih Jyestha
(b) Sasih Karo
(g) Sasih Kapitu
(l) Sasih Sadha
(c) Sasih Katiga
(h) Sasih Kawulu
(d) Sasih Kapat
(i) Sasih Kasanga
(e) Sasih Kelima
(j) Sasih Kadasa

4. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 3
4. Soal no. 4 bobot 3
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 2+3+3 x 10
10

=N

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

43

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 12
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Hari Suci
: Memahami Hari-hari Suci Agama Hindu
: Menguraikan Rangkaian Hari Suci Agama Hindu
: 1. Menguraikan rangkaian pelaksanaan hari suci berdasarkan
sasih (Siwa Ratri dan Nyepi)
2. Menguraikan rangkaian pelaksanaan hari suci berdasarkan
wuku (Saraswati, Pagerwesi, Galungan dan Kuningan)

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menguraikan rangkaian pelaksanaan hari


suci berdasarkan sasih (Siwa Ratri dan Nyepi)
2. Siswa mampu menguraikan rangkaian pelaksanaan hari
suci berdasarkan wuku (Saraswati, Pagerwesi, Galungan
dan Kuningan)

B.Materi Pembelajaran

: Rangkaian pelaksanaan hari suci agama Hindu berdasarkan


sasih dan wuku
1. Hari Raya Siwa Ratri
Hari raya Siwa Ratri dilaksanakan setiap 1 tahun sekali/365 hari pada rahina
Purwaning Tilem Kapitu/Sasih Kapitu. Rangkaian pelaksanaan hari raya Siwa Ratri
adalah sebagai berikut :
a. Melaksanakan tapa bratha : jagra (tidak tidur), upawasa (berpuasa dan mona
bratha (tidak berbicara)
b. Masing-masing umat membersihkan dirinya pada pagi hari dan pada sore harinya
dilanjutkan dengan upacara maprayascita
c. Setelah melaksanakan tapa bratha Siwa Ratri, keesokan harinya umat Hindu
dapat menikmati Madu Parka (suguhan makanan campuran rasanya manis yang
harus dimakan oleh orang yang melaksanakan tapa bratha Siwa Ratri)
2. Hari Raya Nyepi
Hari raya Nyepi dilaksanakan setiap 1 tahun sekali/365 hari pada rahina Tilem Sasih
Kasanga, rangkaian pelaksanaan hari raya Nyepi adalah sebagai berikut :
a. Melis/mekiis dilaksanakan pada panglong ping 13 Sasih Kasanga. Upacara
melis/mekiis dilaksanakan dengan tujuan menyucikan bhuana agung dan bhuana
alit melalui penyucian pratima-pratima dan semua sarana keagamaan menuju ke
laut (segara). Makna pelaksanaan upacara melis/mekiis adalah untuk nganyudang
malaning gumi, angamet tirta amertha. Artinya menghanyutkan kotoran bhuana
agung dan bhuana alit kemudian mohon tirta amertha (tirta kehidupan)
b. Pecaruan Tawur Kasanga dan Pengerupukan dilaksanakan pada Tilem Sasih
Kasanga. Pada hari tersebut, umat Hindu melaksanakan upacara bhuta yadnya
(tawur kasanga) mulai dari tingkat keluarga, banjar adat, desa pakraman,
kabupaten sampai tingkat propinsi. Upacara Tawur Kasanga dilaksanakan pada
waktu siang hari dengan tujuan membersihkan bhuana agung dan bhuana alit.
Pada sore harinya dilanjutkan dengan upacara ngrupuk yaitu menabur nasi tawur
sambil membawa obor ke penjuru arah sambil membunyikan bunyi-bunyian.
Pada upacara pengrupukan juga diadakan pengarakan ogoh-ogoh dengan tujuan
nyomya bhuta kala agar sifat-sifat yang negatif berubah menjadi sifat dewa untuk
membantu menyelamatkan umat manusia.

44
c. Pananggal apisan sasih kadasa adalah tahun baru Saka (hari raya Nyepi). Pada saat
hari raya Nyepi umat Hindu melaksanakan Catur Bratha Penyepian yaitu :
- Amati Geni : tidak menyalakan api
- Amati Karya : tidak bekerja
- Amati Lelungan : tidak bepergian
- Amati Lelanguan : tidak mengadakan hiburan
d. Ngembak Geni dilakukan sehari setelah hari raya Nyepi. Pelaksanaan kegiatan
umat Hindu pada saat ngembak geni adalah sima krama atau dharma santhi.
3. Rangkaian Pelaksanaan Hari Suci Agama Hindu Berdasarkan Wuku
a. Hari Raya Saraswati
Hari raya Saraswati datang setiap 6 bulan sekali atau 210 hari yaitu pada rahina
saniscara umanis watugunung. Hari raya Saraswati adalah hari untuk memuja Sang
Hyang Aji Saraswati sebagai dewa penguasa ilmu pengetahuan suci. Adapun
rangkaian pelaksanaan hari raya Saraswati adalah sebagai berikut :
1. Hari raya Saraswati dilaksanakan pada pagi hari dengan menghaturkan banten
Saraswati pada tempat-tempat buku/perpustakaan suci.
2. Pada malam harinya dilaksanakan malam sastra dengan pembacaan Sloka,
kekawin, pustaka suci keagamaan atau bisa diadakan pementasan wayang.
3. Keesokan harinya pada rahina Redite paing wuku Sinta, umat Hindu melaksanakan
upacara Banyu Pinaruh sebagai simbol bahwa telah mendapatkan anugrah ilmu
pengetahuan suci.
b. Hari Raya Pagerwesi
Hari raya Pagerwesi datang setiap 6 bulan sekali atau 210 hari yaitu pada rahina
budha kliwon Sinta. Hari raya Pagerwesi adalah hari suci untuk memuja Sang Hyang
Pramesti Guru beserta para dewa dan pitara memohon kesejahteraan alam semesta
beserta isinya. Rangkaian hari raya Pagerwesi adalah sebagai berikut :
(1) Soma Ribek jatuh pada rahina soma pon wuku Sinta. Pada hari tersebut umat
Hindu memuja Sang Hyang Tri Pramana (3 unsur yang memberi kekuatan) yaitu
Dewi Sri, Dewa Sedana dan Dewi Saraswati. Disamping itu juga umat Hindu
melaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Amrta dengan menghaturkan
banten pada tempat beras dan lumbung padi.
(2) Sabuh Mas jatuh pada rahina Angara Wage wuku Sinta. Pada hari tersebut umat
Hindu melaksanakan pemujaan kepada Sang Hyang Mahadewa atas berkah-Nya
berupa harta benda seperti emas, perak, permata.
(3) Hari Raya Pagerwesi
Pagerwesi jatuh pada Rahina budha Kliwon Sinta. Pada hari tersebut umat Hindu
melaksanakan pemujaan kehadapan Sang Hyang Pramesti Guru untuk memohon
keselamatan, kerahayuan dan kedhirgayusan (panjang umur).
c. Hari Raya Galungan
Galungan adalah hari raya yang wajib dilaksanakan oleh umat Hindu untuk
merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Galungan dirayakan setiap 210
hari sekali, karena yang dipakai untuk menentukan hari galungan adalah panca wara,
sapta wara, dan wuku. Jika panca waranya kliwon, sapta waranya rabu dan wukunya
dungulan, maka hari itu disebut hari raya Galungan. Rangkaian pelaksanaan hari
raya Galungan :
(1) Tumpek wariga disebut pula hari Tumpek Uduh, Tumpek Pengarah, Tumpek
Pengatag, Tumpek Bubuh. Upacara selamatan ditujukan kahadapan Ida Sang
Hyang Sangkara, sebagai Dewa penguasa tumbuh-tumbuhan. Tujuan
melaksanakan pemujaan adalah untuk memohon keselamatan dan kesuburan
tumbuh-tumbuhan agar menghasilkan panen yang berlimpah untuk bekal
persiapan hari raya Galungan. Tumpek Wariga dilaksanakan setiap saniscara
kliwon wuku wariga. Pada hari tersebut umat Hindu menghaturkan sesajen
upakara banten yang berisi bubur sumsum sebagai lambang kesuburan.

45
(2) Sugihan Jawa dilaksanakan setiap Wraspati Wage wuku Sungsang. Sugihan
jawa adalah hari pemrstistaan (pembersihan) bhuana agung/alam semesta. Pada
hari tersebut umat Hindu melaksanakan pemujaan kehadapan Sang Hyang
Dharma untuk memohon kesucian alam semesta dan kesucian bhuana alit/ umat
manusia agar terhindar dari kesengsaraan.
(3) Sugihan Bali dilaksanakan setiap Sukra Kliwon Wuku Sungsang. Pada hari
tersebut umat Hindu melakukan upacara pemrastistaan pada Sang Hyang Murni
(orang suci) untuk membersihkan segala kekotoran dalam diri manusia.
(4) Hari Penyekeban dilaksanakan setiap rahina Redite Paing wuku Dungulan. Pada
hari tersebut umat Hindu nyekeb buah-buahan untuk persiapan hari raya
Galungan. Pada hari penyekeban mulai Sang Bhuta Galungan turun ke dunia
untuk mengganggu ketentraman bathin manusia. Hari penyekeban merupakan
simbolis pengendalian diri agar tidak tergoda oleh kekuatan negatif Sang Bhuta
Galungan.
(5) Hari Penyajaan dilaksanakan pada rahina Soma Pon wuku Dungulan. Pada hari
tersebut umat Hindu membuat jajan. Kata jajan secara simbolis berarti saja
yang artinya sungguh-sungguh akan melaksanakan hari raya Galungan. Pada
hari penyajaan, Sang Bhuta Dungulan turun kedunia untuk mengganggu
kehidupan manusia. Oleh karena itu umat Hindu diharapkan bisa lebih waspada
lagi terhadap unsur-unsur negatif dari Sang Bhuta Dungulan.
(6) Hari Penampahan Galungan dilaksanakan setiap hari Angara Wage wuku
Dungulan. Pada hari tersebut umat Hindu umumnya menyembelih ternak,
seperti babi, ayam, itik, atau binatang lainnya untuk keperluan yadnya
menyambut hari raya Galungan. Pada hari penampahan turun lagi Sang Bhuta
Kala, yaitu Sang Bhuta Kala Amangkurat yang bertujuan menggoda umat
manusia agar batal merayakan hari raya Galungan. Sampai hari Penampahan
Galungan,bhuta kala yang turun ke dunia sudah berjumlah tiga bhuta, sehingga
godaannya sangat berat. Oleh karena itu kita harus lebih siap mental
menghadapinya. Kita harus menghadapinya dengan sungguh-sungguh
berdasarkan dharma atau kebenaran. Kalau kita sudah betul-betul menjunjung
dharma niscaya kita akan menang melawan adharma. Pada sore harinya
dipasang sebuah penjor Galungan sebagai simbolis gunung (Gunung Agung)
atau simbolis dari naga. Setelah menancapkan penjor dilanjutkan dengan natab
atau ngayab banten pabyakaonan untuk menyucikan diri dari gangguan para
bhuta kala. Dalam upacara ini diharapkan bhuta matemahan (Bhuta menjadi
Dewa).
(7) Hari Raya Galungan dilaksanakan tepat pada Buhda Kliwon Wuku Dungulan.
Karena para bhuta kala telah dapat ditundukkan pada hari Penampahan
Galungan, maka kita menyambut hari raya Galungan dengan riang gembira.
Hari raya Galungan dirayakan sebagai hari kemenangan dharma melawan
adharma. Persembahan-persembahan yang serba utama ditujukan kehadapan
semua manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaan hari raya Galungan di
Bali merupakan satu-satunya hari raya yang disambut dengan suasana yang
paling ramai dan meriah oleh seluruh umat Hindu, sehingga hari raya Galungan
disebut dengan hari pawedalan jagat atau otonan gumi. Hari raya
Galungan lebih semarak dan lebih meriah lagi jika jatuh bertepan dengan hari
purnama yang disebut dengan hari raya Galungan Nadi, dengan ciri-cirinya
batang bambu penjor bagian bawah dikerik bersih dan di ujung bambu
penjornya bagian atas diisi dengan gerincingan (gongseng) agar dapat berbunyi
ngrincing kalau diterpa angin, sehingga menimbulkan suara yang ramai dan
meriah dibandingkan dengan hari raya Galungan biasa. Tetapi sebaliknya kalau
hari raya Galungan itu bertepan dengan Sasih Kapitu dan Sasih Kasanga maka
akan terjadi Galungan sebagai berikut :

46

(8)

(9)

(10)

(11)

(a) Sasih Kapitu dan hari Tilem disebut Masa Kalarau, pada hari raya Galungan
ini tidak dibenarkan menghaturkan banten yang berisi tumpeng.
(b) Sasih Kasanga dan kebetulan pula Penampahan Galungan bertepan dengan
hari Tilem, maka pada hari raya Galungan tidak boleh makan daging/ikan
berdarah dan apabila berani melanggar akan mengakibatkan merajalelanya
penyakit hingga bertahun-tahun, karena dipastu oleh Sang Maha Kala Raja,
sebab Galungan Nara Mangsa namanya. Demikianlah pewarah-warah Sang
Hyang Widhi Wasa yang bergelar Bhatari Putri di Pura Dalem.
Hari Manis Galungan dilaksanakan setiap Wraspati Umanis wuku Dungulan.
Pada hari tersebut umat Hindu melaksanakan penyucian diri lahir dan bathin,
lalu menghaturkan sesajen kehadapan Sang Hyang Widhi dan segala
manifestasinya mohon keselamatan bhuana agung dan bhuana alit. Setelah
selesai persembahyangan dilanjutkan dengan mengunjungi sanak keluarga.
Hari Pemaridan Guru dilaksanakan setiap Saniscara Pon Wuku Dungulan. Pada
hari ini umat Hindu melakukan persembahyangan kehadapan para dewa,
menghaturkan parama suksma karena berkat anugerah beliaulah kita dapat
merayakan hari raya Galungan dengan selamat dan meriah. Pada hari ini para
dewa kembali ke khayangan setelah meninggalkan anugerah berupa
kedirghayusaan (panjang umur).
Hari Ulihan dilaksanakan setiap Redite Wage Wuku Kuningan. Pada hari ini
umat Hindu melakukan persembahyangan kehadapan Sang Hyang Widhi
dengan segala manifestasinya. Pada hari ini pula para dewa kembali ke
singgasanya masing-masing. Umat Hindu mengucapkan rasa syukur atas
karunia yang telah dilimpahkan-Nya.
Hari Pemacekan Agung dilaksanakan setiap Soma Kliwon Wuku Kuningan.
Pada hari ini umat Hindu menghaturkan sesajen (labaan) kehadapan para bhuta
kala, yaitu Sang Kala Tiga Galungan beserta para pengikutnya agar kembali ke
tempatnya masing-masing dan memberi keselamatan kepada umat manusia.

d. Hari Raya Kuningan


Hari raya Kuningan datangnya setiap 6 bulan sekali atau 210 hari. Hari raya
Kuningan jatuh pada rahina Saniscara kliwon Wuku Kuningan. Rangkaian
pelaksanaan hari raya Kuningan adalah sebagai berikut :
(1) Hari Penampahan Kuningan dilaksanakan setiap rahina Sukra Wage Wuku
Kuningan. Pada hari tersebut umat Hindu menyembelih hewan ternak untuk
persiapan menyambut hari raya Kuningan dan umat Hindu juga membuat
sesajen untuk persiapan persembahyangan pada hari raya Kuningan keesokan
harinya.
(2) Hari Raya Kuningan dilaksanakan setiap rahina Saniscara Kliwon Wuku
Kuningan. Pada hari tersebut umat Hindu melakukan pemujaan kepada Sang
Hyang Parama Wisesa, para dewa dan para pitara dengan menghaturkan sesajen
yang berisi ajengan (nasi) berwarna kuning sebagai lambang kemakmuran.
(3) Hari umanis Kuningan dilaksanakan setiap rahina Redite Umanis wuku
Kuningan. Pada hari tersebut umat Hindu melaksanakan sima krama/dharma
santhi untuk saling maaf-memaafkan
(4) Pegatwarah/Pegatwakan dilaksanakan pada rahina Budha Kliwon Wuku Pahang.
Pegatwarah berarti diam (mona), pada hari Pegatwarah adalah hari yang baik
untuk melaksanakan mona bratha (bratha dhyana/dhyana pralina). Pada hari
tersebut umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan menghaturkan sesajen
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya. Pada sore harinya
penjor dicabut dan semua hiasan penjor dilepas lalu dibakar sebagai pertanda
bahwa rangkaian hari raya Galungan telah selesai.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

47

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
peserta didik diarahkan untuk mengingat kembali syarat-syarat suatu
agama yang sah diakui di Indonesia
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang rangkaian
hari suci agama Hindu yang berdasarkan sasih maupun berdasarkan wuku
2. Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang rangkaian hari suci agama Hindu
yang berdasarkan sasih maupun berdasarkan wuku
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a. Alat
Spidol, White board
c. Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
3. . Teknik
: Tes Tulis
4. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda

48
1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan pertanyaan
saniscara umanis
watugunung peserta didik
dapat menjawab hari

Teknik
Tes tulis

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1. Saniscara umanis
ganda
watugunung adalah perayaan

a.Saraswati
b. Pagerwesi

raya Saraswati

c. Siwa Ratri
d. Galungan

Disajikan pertanyaan
penyajaan peserta didik
dapat menjawab
rangkaian hari raya
Galungan

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pertanyaan
tentang wuku peserta
didik dapat menjawab
nama wuku yang ke 20

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pertanyaan
wuku pengembang
peserta didik dapat
menjawab dengan tepat
dari empat pilihan yang
disediakan

Tes tulis

Pilihan
ganda

4.Yang
disebut
wuku
pengembang dibawah
ini
adalah...
a.Pahang
c. Sungsang
b. Warigadean d. Matal

Disajikan pertanyaan
Bratha penyepian peserta
didik dapat menjawab
Catur Bratha Penyepian
Disajikan pertanyaan

Tes tulis

isian

5. Jelaskan Catur Bratha


Penyepian !

Tes tulis

isian

6. Sebutkan prangkaian
pelaksanaan hari raya Nyepi ?

prangkaian hari raya


Nyepi ?peserta didik dapat
menjawab pelaksanaan
hari raya Nyepi ?

2.Penyajaan adalah salah satu


Rangkaian pelaksanaan hari
Raya....
a. Kuningan c.Saraswati
b. Pagerwesi d. Galungan
3.Untuk memahami rangkaian
pelaksanaan hari suci terlebih
dahulu harus memahami nama
wuku, nama wuku yang ke 20
adalah...
a. Medangsia
c perangbakat
b.Medangkungan d Merakih

2.Kunci Jawaban
1. a
2. d
3. b
4. c
3.Bagian dari catur Bratha Penyepian
a. Amati Geni : tidak menyalakn api
b. Amati Karya : tidak bekerja
c. Amati Lelungan : tidak bepergian
d. Amati Lelanguan : tidak mengadakan hiburan
4. Melis/mekiis, Pecaruan Tawur Kasanga dan Pengerupukan, serta Ngembak Geni
dilakukan sehari setelah hari raya Nyepi. Pelaksanaan kegiatan umat Hindu saat
ngembak geni adalah sima krama atau dharma santhi.
3.Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1

49
3.
4.
5.
6.

Soal no. 3 bobot 1


Soal no. 4 bobot 1
Soal no. 4 bobot 3
Soal no. 4 bobot 3

Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 4+3+3 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

50

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 13
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Hari Suci
: Memahami Hari-hari Suci Agama Hindu
: Menjelaskan Makna dan Nilai Theologis Pelaksanaan Harihari Suci Agama Hindu
: 1. Mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari suci
berdasarkan sasih (Siwa Ratri)
2. Mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari suci
berdasarkan sasih (Nyepi)
3. Mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari suci
berdasarkan wuku (Saraswati)
4. Mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari suci
berdasarkan wuku (Pagerwesi)
5. Mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari suci
berdasarkan wuku (Galungan)
6. Mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari suci
berdasarkan wuku (Kuningan)

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari


suci berdasarkan sasih (Siwa Ratri)
2. Siswa mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari
suci berdasarkan sasih (Nyepi)
3. Siswa mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari
suci berdasarkan wuku (Saraswati)
4. Siswa mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari
suci berdasarkan wuku (Pagerwesi)
5. Siswa mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari
suci berdasarkan wuku (Galungan)
6. Siswa mampu menguraikan makna dan nilai theologis hari
suci berdasarkan wuku (Kuningan)
: Makna dan nilai theologis hari-hari suci agama Hindu
berdasarkan sasih dan wuku

B.Materi Pembelajaran

1. Makna dan Nilai Theologis Hari-hari Suci Agama Hindu Berdasarkan Sasih
a. Hari Raya Siwa Ratri
Siwa Ratri berasal dari kata Siwa dan Ratri. Siwa adalah Tuhan dalam
manifestasinya sebagai Dewa Siwa dan Ratri berarti malam. Jadi Siwa Ratri adalah
malam Siwa. Disebut malam Siwa karena pada malam tersebut Dewa Siwa
melaksanakan tapa yoga semalam suntuk (pejagran). Malam Siwa Ratri adalah
malam yang paling gelap dalam kurun waktu selama setahun. Pada saat itulah Dewa
Siwa melaksanakan tapa yoga untuk menganugerahkan berkah pengampunan kepada
setiap umat yang menghaturkan sembah sujud bhakti kepada-Nya. Oleh karena itu
malam Siwa Ratri disebut malam pajagran yang artinya kesadaran untuk
melaksanakan tapa yoga kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya
sebagai Dewa Siwa.
Hari raya Siwa Ratri dilaksanakan tiap 1 tahun sekali/365 hari yaitu setiap
Purwaning Tilem Kapitu/Sasih Kapitu. Menurut lontar Sundari Gama dan Siwa Ratri
Kalpa, pelaksanaan hari raya Siwa Ratri diwajibkan untuk melaksanakan Bratha
sebagai berikut :

51
(1) Tingkat Nista Bratha : dilaksanakan dengan jagra (tidak tidur semalam suntuk
selama 36 jam). Pelaksanaan jagra disebut Sambang Samadhi
(2) Tingkat Madya Bratha : dilaksanakan dengan upawasa (puasa) selama 24 jam.
(3) Tingkat Utama Bratha : dilaksanakan dengan jagra, upawasa dan mona Bratha
(tidak berbicara) serta diimbangi dengan pelaksanaan Yoga Samadhi.
Nilai theologis hari raya Siwa Ratri adalah sebagai malam penebusan dosa. Pada
malam Siwa Ratri umat Hindu dianjurkan untuk majagra, puaasa dan melaksanakan
mona bratha yang bertujuan untuk melatih mental agar mempunyai kekuatan dan
daya tahan dari segala godaan. Setelah melaksanakan Bratha Siwa Ratri, keesokan
harinya umat Hindu dianjurkan memakan madu parka (suguhan/lungsuran yang bisa
dinikmati oleh orang melaksanakan Bratha Siwa Ratri). Simbolisasi dari Madu
Parka adalah sebagai berikut :
(1) Tempat bersthananya Dewata Nawa Sanga
(2) Sebagai persembahan yang utama kepada para Dewa, Leluhur/roh suci
(3) Sebagai sarana untuk penebusan dosa
(4) Sebagai sarana untuk menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Kaya
Parisudha)
Merayakan hari raya Siwa Ratri pada Purwaning Tilem Sasih Kapitu mempunyai
makna sebagai hari penebusan dosa. Nilai theologis hari raya Siwa Ratri adalah
pelaksanakan Bratha Siwa Ratri untuk memohon kesucian lahir dan bathin agar
dosa-dosa kita diampuni oleh Sang Hyang Siwa.
b. Hari Raya Nyepi
Hari raya Nyepi adalah hari raya untuk menyambut tahun baru Saka dalam
perhitungan Wariga, hari raya Nyepi dirayakan 1 tahun sekali/365 hari sebagai
penyambutan tahun baru saka yang bertepatan pada Tilem Sasih Kasanga. Dengan
demikian Tilem Sasih Kasanga adalah akhir tahun Saka. Berdasarkan filosofi ajaran
Samkhya, Sasih Kasanga adalah puncak Sasih Bhuta sesuai dengan pergantian
musim, dimana Sasih Kasanga adalah akhir dari musin hujan yang akan segera
berganti dengan musim cerah di Sasih Kadasa (Sasih Dewa). Perhitungan
penetapannya berdasarkan pada peredaran matahari dan bulan mengelilingi bumi
serta pergantian musim.
Berdasarkan Lontar Sundari Gama bahwa pada Tilem Sasih Kasanga adalah hari
penyucian para dewa dengan mengambil tempat di tengah-tengah samudra memohon
kepada Ida Sang Hyang Widhi agar dianugerahkan kesucian diri lahir dan bathin
dengan percikan tirta kamandalu. Makna hari raya Nyepi adalah sebagai hari suci
untuk mengheningkan pikiran, menghentikan segala aktivitas dan merenungkan diri
(mulat sarira) yang bertujuan untuk mengendalikan diri secara sekala-niskala. Hari
raya Nyepi secara sekala-niskala memiliki makna penyucian bhuana agung dan
bhuana alit melalui upacara tawur yang berfungsi untuk nyomya/nyupat
(menetralisir) Bhuta Kala agar tidak mengganggu ketentraman hidup manusia.
Merayakan hari raya Nyepi dengan jalan sepi bertujuan untuk mencapai keheningan
pikiran dengan memulai kegiatan baru dalam menyongsong tahun baru Saka
berikutnya. Jadi keseluruhan makna yang terkandung dalam merayakan hari raya
Nyepi adalah untuk meningkatkan sradha dan bhakti umat Hindu kehadapan Sang
Hyang Widhi dan segala manifestasinya.
2. Makna dan Nilai Theologis Hari-hari Suci Agama Hindu Berdasarkan Wuku
a. Hari Raya Saraswati
Hari raya Saraswati datang setiap 6 bulan sekali atau 210 hari yaitu pada rahina
Saniscara Umanis Watugunung. Hari raya Saraswati adalah hari raya untuk memuja
Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai dewaning pangweruh yaitu
dewa ilmu pengetahuan suci (Sang Hyang Aji Saraswati).
Kata Saraswati berasal berasal dari kata Saras dan Wati. Saras artinya
mengalirkan/melahirkan, Wati artinya memiliki sifat. Jadi Saraswati artinya Ia yang

52
memiliki sifat mengalirkan/melahirkan ilmu pengetahuan suci. Tanpa adanya
pengetahuan, manusia tidak akan dapat menciptakan hal-hal yang baru..
Dewi Saraswati dilukiskan dengan wanita cantik, bertangan empat yang masingmasing memegang genitri, keropak, wina dan teratai. Di dekatnya terdapat angsa dan
burung merak yang masing-masing memiliki arti dan makna sebagai berikut :
(1) Wanita Cantik melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat mulia, lemah lembut
dan menarik hati.
(2) Genitri melambangkan ilmu pengetahuan itu tidak ada putus-putusnya dan tidak
akan habis-habisnya untuk dipelajari.
(3) Keropak melambangkan sumber ilmu pengetahuan.
(4) Wina melambangkan ilmu pengetahuan itu memiliki estetika/nilai seni yang
sangat indah.
(5) Teratai melambangkan ilmu pengetahuan itu sangat suci.
(6) Angsa melambangkan ilmu pengetahuan itu dapat memberikan kebijaksanaan
bagi pemiliknya agar dapat membedakan antara baik dan buruk.
(7) Merak melambangkan ilmu pengetahuan itu dapat memberikan kewibawaan bagi
pemiliknya.
Makna hari raya Saraswati adalah untuk melengkapi ilmu pengetahuan secara
mendalam, untuk mengetahui sejauh mana kita mapu menghayati dan mengamalkan
ajaran suci dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian setiap orang diharpkan
mampu mengendalikan diri untuk dapat memperbaiki segala kekeliruan dan
kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya.
Merayakan hari raya Saraswati pada rahina Saniscara Umanis wuku Watugunung
bertujuan untuk melaksanakan pemujaan kehadapan Dewi Saraswati dengan
memuja, memuliakan dan memohon ilmu pengetahuan suci serta melestarikan
pustaka-pustaka suci Weda dengan menghaturkan banten Saraswati. Pada malam
harinya membaca kitab suci sampai pagi hari, yang dilanjutkan dengan upacara
Banyu Pinaruh sebagai simbol sudah mendapat anugerah ilmu pengetahuan dari
Dewi Saraswati.
b. Hari Raya Pagerwesi
Hari raya Pagerwesi datang tiap 6 bulan/210 hari pada Rahina Budha Kliwon Sinta.
Pada hari Pagerwesi umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam prabhawaNya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk memohon
keselamatan, kerahajengan dan kerahayuan alam semesta beserta isinya.
Makna hari raya Pagerwesi adalah untuk menyucikan diri agar dapat menerima
kekuatan sinar suci dari Sang Hyang Pramesti Guru dan untuk memperoleh
keteguhan bathin sehingga kita dapat terhindar dari pengaruh sifat-sifat negatif. Hari
raya Pagerwesi juga bermakna sebagai hari peringatan untuk memohon kerahayuan
jagat.
Melaksanakan hari raya Pagerwesi pada rahina Budha Kliwon Sinta memiliki makna
untuk membentengi diri dari segala pengaruh negatif. Nilai theologis hari raya
Pagerwesi adalah memohon kekuatan dan keteguhan bathin kehadapan Sang Hyang
Pramesti Guru.
c. Hari Raya Galungan
Hari raya Galungan sering juga disebut rahina pawedalan jagat atau otonan gumi.
Hari raya Galungan datang tiap 6 bulan/210 hari dan jatuh pada rahina Budha
Kliwon Dungulan.
Makna hari raya Galungan adalah kemenangan Dharma melawan Adharma. Dengan
demikian umat Hindu diwajibkan menghaturkan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang
Widhi atas segala berkah dan karunia-Nya selama ini.
Merayakan hari raya Galungan mulai dari waktu wariga sampai dengan Buda
Kliwon pegatwakan atau pegat warah mengandung makna bahwa : mulai dari

53
melestarikan tumbuh-tumbuhan dengan harapan agar hasilnya berlimpah dengan
memuja Dewa Sangkara pada hari tumpek Wariga. Kemudian mulai menyucikan
bhuana agung (alam semesta) dengan melaksanakan Sugihan Jawa dan penyucian
bhuana alit (tubuh manusia) dengan melaksanakan Sugihan Bali. Dilanjutkan dengan
pengendalian diri agar tidak digoda oleh Sang Kala Tiga Wisesa mulai dari Redite
Paing wuku Dungulan sampai Angara Dungulan. Dengan berhasilnya mengalahkan
Sang Kala Tiga Wisesa maka perayaan hari raya Galungan dapat berjalan dengan
suasana yang meriah
d. Hari Raya Kuningan
Hari raya Kuningan dirayakan tiap 6 bulan//210 hari pada rahina Saniscara Kliwon
Kuningan. Pada hari raya Kuningan umat Hindu melakukan persembahyangan
memuja para dewa dan leluhur dengan menghaturkan sesajen yang berisi ajengan
berwarna kuning sebagai simbol kemakmuran.
Makna hari raya Kuningan adalah untuk mempertahankan kemenangan dharma
yang telah dianugrahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi melalui peperangan selama 10
hari untuk mewujudkan kedamaian dan kerahayuan lahir bathin. Oleh karena itu,
pada hari raya Kuningan umat Hindu wajib menghaturkan parama suksma
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi yang telah menganugrahkan kekuatan spiritual
dan keteguhan bathin untuk menegakkan dharma dan memberantas adharma.
Dharma inilah yang hendaknya dipegang teguh untuk dijadikan pedoman hidup.
Merayakan hari raya Kuningan pada rahina Saniscara Kliwon Wuku Kuningan
memiliki makna untuk memohon anugerah kemakmuran dan kerahayuan jagat. Nilai
theologis hari raya Kuningan adalah dengan melaksanakan pemujaan kehadapan
Sang Hyang Parama Wisesa dan menghaturkan sesajen serta memasang hiasan
endongan, tamiang dan kolem di padmasana, merajan serta pelinggih lainnya. Arti
dari masing-masing hiasan tersebut adalah :
(a). Endongan : tempat makanan yang berisi buah-buahan, tebu, tumpeng serta lauk
pauknya.
(b). Tamiang : berfungsi untuk perisai atau melindungi dan menangkis serangan.
(c). Kolem : tidur/istirahat
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
tanya jawab seputar materi hari raya agama Hindu
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang Makna dan Nilai
Theologis Pelaksanaan Hari-hari Suci Agama Hindu
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik

54
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang Makna dan Nilai Theologis
Pelaksanaan Hari-hari Suci Agama Hindu
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan kalimat peserta
didik dapat menjelaskan
nilai theologis dan makna
hari raya Galungan
Disajikan kalimat peserta
didik dapat menjelaskan
nilai theologis dan makna
hari raya Pagerwesi

Teknik
Tes tulis

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
isian
5.Jelaskan nilai theologis dan

makna hari raya Galungan !


Tes tulis

isian

6.Jelaskan nilai theologis dan


makna hari raya Pagerwesi?

2. Kunci Jawaban
4 Nilai theologis dan makna hari raya Galungan adalah kemenangan Dharma
melawan Adharma. Dengan demikian umat Hindu diharuskan menghaturkan rasa
bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi atas segala berkah dan karunia-Nya selama
ini
4 Nilai theologis dan makna hari raya Pagerwesi adalah untuk menyucikan diri
agar dapat menerima kekuatan sinar suci dari Sang Hyang Pramesti Guru dan
untuk memperoleh keteguhan bathin sehingga kita dapat terhindar dari pengaruh
sifat-sifat negatif. Hari raya Pagerwesi juga bermakna sebagai hari peringatan
untuk memohon kerahayuan jagat.

55
1. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 5
2. Soal no. 2 bobot 5
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 4+4 x 10
10

=N

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

56

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 14
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Susila
: Memahami Sad Ripu Sebagai Aspek yang Harus Dihindari
: Menguraikan Pengertian Sad Ripu
: 1. Mampu menguraikan pengertian Sad Ripu
2. Mampu menyebutkan bagian-bagian Sad Ripu
3. Mampu menjelaskan arti dari masing-masing bagianbagian Sad Ripu

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menguraikan pengertian Sad Ripu 2. Siswa


mampu merumuskan pengertian Sad Ripu
3. Siswa mampu menjelaskan arti dari masing-masing
bagian-bagian Sad Ripu

B.Materi Pembelajaran

: Pengertian Sad Ripu dan bagian-bagian Sad Ripu

1. Pengertian Sad Ripu


Sad Ripu merupakan bagian dari ajaran kesusilaan. Kata Sad Ripu terdiri dari 2 kata
yaitu Sad artinya 6, ripu artinya musuh. Jadi Sad Ripu berarti 6 musuh yang berada
dalam diri manusia. Sesungguhnya Sad Ripu tersebut bibitnya terbawa bersamaan
dengan karma wesana sejak kelahiran. Demikian juga Sad Ripu akan selalu muncul
akibat perpaduan dari Tri Guna, terutama antara sifat rajas dan tamas, hal inipun
merupakan akibat dari rangsangan benda-benda dan pengaruh lingkungan hidupnya.
Hanya Wiweka-pengetahuan yang disertai dengan sifat satwamlah sebagai
pengendaliannya. Perpaduan rajas dan tamas sebagai perangsang munculnya Sad Ripu
yang tak bisa diredam dengan satwam dan dharma akan menghasilkan Asubha Karma
(perbuatan buruk), namun sebaliknya apabila dapat diatasi dengan satwam dan dharma,
yang muncul adalah Subha Karma (perbuatan baik). Sebagaimana dijelaskan dalam
petikan kekawin Ramayana :
Ragadi musuh mepareng
rihati ya tongwanya tan madoh riawak
yeka tan hana ri sira
prawira wihikan sireng niti (kekawin Ramayana 1.4)
Artinya :
keinginan (kama) dan semua jenis musuh yang terdekat di dalam hati (pikiran)
tempatnya tidak jauh dari badan sendiri
yang semacam itu tidak ada dalam diri beliau (Dasaratha), beliau bersifat kesatria, serta
pintar dalam menjalankan pemerintahan.
2. Bagian-Bagian Sad Ripu
(a) Kama : keinginan/hawa nafsu
Keinginan/hawa nafsu yang tidak terkendali dapat menimbulkan pengaruh negatif
dan dapat menyebabkan penderitaan pada diri sendiri dan orang lain. Keinginan
positif dapat mendorong orang mencapai tujuan hidup. Sebaliknya apabila seseorang
diperbudak oleh hawa nafsu hidupnya akan hancur.

57
(b) Lobha : tamak, serakah/rakus
Sifat tamak, serakah/rakus yang sifatnya negatif akan memicu orang untuk
melakukan kejahatan dan merugikan orang lain. Lobha yang tidak terkendali
menyebabkan seseorang tidak pernah merasa puas akan sesuatu. Orang yang
memiliki sifat lobha selalu ingin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang telah
dimilikinya. Akibatnya, orang yang memiliki sifat lobha akan merasa resah dan
gelisah karena dipengaruhi sifat lobha. Pikiran yang dikuasai oleh sifat lobha akan
selalu merasa bimbang dan pikirannya akan bergelora bagaikan gelombang samudra
yang tiada henti-hentinya mengombang-ambingkan hati dan pikiran.
(c) Krodha : marah/kemarahan
Kemarahan ditimbulkan oleh kama yang tidak terpenuhi. Orang yang sedang marah
akan cepat tersinggung dan kehilangan keseimbangan diri. Akibatnya pikiran akan
kacau, kebijaksanaan akan hilang, perkataan dan tingkah laku akan menyimpang dari
ajaran dharma. Kemarahan dapat membuat diri sendiri dan orang lain menjadi
menderita. Kemarahan juga akan menyeret seseorang ke dalam jurang kehancuran.
(d) Moha
Kemarahan yang tidak terkendaliakan menyebabkan kebingungan. Orang yang
bingung pikirannya akan menjadi kalut dan kacau. Sehingga menyebabkan hati dan
pikirannya menjadi gelap (awidya). Kebingungan dapat menyebabkan seseorang
menjadi gelap pikiran sehingga tidak mampu membedakan mana yang baik dan
mana yang buruk.
(e) Mada : mabuk
Mabuk adalah suatu perbuatan yang tanpa disadari dapat merugikan diri sendiri dan
orang lain. Mabuk disebabkan oleh Sapta Timira yaitu 7 kegelapan/kemabukan.
Bagian-bagianSapta Timira :
(a). Surupa
: mabuk karena ketampanan/kecantikan
(b). Dhana
: mabuk karena kekayaan
(c). Guna
: mabuk karena kepandaian
(d). Kulina
: mabuk karena keturunan/kebangsawanan
(e). Yowana
: mabuk karenakeremajaan
(f). Sura
: mabuk karena minuman keras
(g). Kasuran
: mabuk karena kemenangan, keberanian/kesaktian
(f) Matsarya : iri hati/dengki
Iri hati disebabkan oleh keinginan yang tidak terpenuhi, tidak puas terhadap sesuatu
hal, kemarahan, kebingungan dan kemabukan. Orang yang dipenuhi sifat iri hati akan
selalu merasa tidak senang melihat orang lain bahagia. Dengan demikian, orang yang
dipenuhi sifat iri hati akan selalu mempunyai niat jahat, ingin memusuhi dan bahkan
ingin melawan, karena sifat iri hati akan mendorong orang untuk bersaing dalam
segala usaha yang tidak sehat.

C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Peserta didik ditanya tentang tayangan TV baik di seputar Indonesia,
Sergap, Fokus dan sebagainya mengenai prilaku manusia seperti
memperkosa, menikam, pencurian dan sebagainya yang kesemuanya itu
terjadi akibat manusia tidak dapat mengendalikan diri

58
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang pengertian Sad
Ripu dan bagiannya serta penjelasannya masing-masing.
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang pengertian SadRipu dan bagiannya
serta penjelasannya masing-masing.
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
3. Buku Widya Upadesa
4. Itihasa Ramayana dan Mahabharata
5. Sarasamuscaya
6. Buku lainnya yang relevan
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Disajikan kalimat
pengertian Sad Ripu
peserta didik dapat
menjawab Sad Ripu

Tes tulis

Disajikan pernyataan Sad


Ripu peserta didik dapat
menjawab Sad Ripu
merupakan bagian susila

Tes tulis

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1.Enam musuh yang ada dalam
ganda
Diri manusia disebut

a. Sad Khayangan c Sad Wara


b. Sad Ripu
d Sad Atatayi
isian

2.Sad Ripu merupakan bagian


dari ajaran...
a. Dharmagita
c Ritual
b. Susila
d. Tattwa

59
Disajikan kalimat peserta
didik dapat menjawab
bagian Sad Ripu yang
berarti matsarya

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan kalimat
konsekuensi bagian Sad
Ripu peserta didik dapat
menjawab konsekuensi
yang dimaksud

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan kalimat peserta


didik dapat menjawab arti
Sad Ripu

Disajikan kalimat peserta


didik dapat menjawab
bagian-bagian Sad Ripu

3. Matsarya adalah musuh yang


ada dalam diri yang patut kita
taklukan dimana matsarya
berarti...
a. Tamak/rakus c Hawa nafsu
b. Iri hati
d. Kebingungan
4Manusia tidak pernah puas
pada semua miliknya, manusia
selalu merasa gelisah, resah
dan gusar. Pernyataan ini
merupakan konsekuensi sifat
a. Lobha
c. Kroda
b Mada
d. Moha
5.Apa yang dimaksud dengan
Sad Ripu

6. Sebutkan bagian-bagian Sad


Ripu

2. Kunci Jawaban
1. d
2. b
3. b
4. Sad Ripu adalah enam musuh yang ada dalam diri setiap manusia :
a. Kama
b. Lobha
c. Krodha
d. Mada
e. Moha
f. Matsarya
3.Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 1
4. Soal no. 4 bobot 1
5. Soal no. 5 bobot 3
6. Soal no. 6 bobot 3
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 4+3+3 x 10
10

=N

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

60

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 15

Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Susila
: Memahami Sad Ripu Sebagai Aspek yang Harus Dihindari
: Menunjukkan Contoh-contoh Perilaku Sad Ripu
: 1. Mampu membuat ilustrasi contoh Kama
2. Mampu membuat ilustrasi contoh Lobha
3. Mampu membuat ilustrasi contoh Krodha
4. Mampu membuat ilustrasi contoh Moha
5. Mampu membuat ilustrasi contoh Mada
6. Mampu membuat ilustrasi contoh Matsarya

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu membuat ilustrasi contoh Kama


2. Siswa mampu membuat ilustrasi contoh Lobha
3. Siswa mampu membuat ilustrasi contoh Krodha
4. Siswa mampu membuat ilustrasi contoh Moha
5. Siswa mampu membuat ilustrasi contoh Mada
6. Siswa mampu membuat ilustrasi contoh Matsarya

B.Materi Pembelajaran

: Beberapa contoh perilaku Sad Ripu

Beberapa Contoh Perilaku Sad Ripu


1. Kama (keinginan/hawa nafsu)
I Jontol adalah siswa kelas VII SMP, rumahnya dekat dengan sekolah yang jaraknya 500
meter. I Jontol memaksa orang tuanya untuk membelikan sepeda motor baru, padahal
orang tuanya hanya buruh harian yang upahnya kecil. Orang tua I Jontol tidak mampu
membelikan sepeda motor, sehingga keinginan I Jontol tidak terpenuhi. Akhirnya karena
keinginan I Jontol tak terpenuhi, ia berani mencuri sepeda motor orang lain yang
mengakibatkan I Jontol ditangkap polisi dan dibenci oleh semua orang.
2. Lobha (rakus)
Ada seekor anjing yang sangat rakus. Pada suatu hari anjing itu mencuri daging di pasar
dan dilarikan melewati sebuah sungai. Karena air sungai itu sangat jernih, maka
dilihatlah bayangannya sendiri di dalam air yang dikiranya ada anjing lain membawa
sepotong daging. Karena lobhanya, anjing itu akhirnya menyerang bayangannya sendiri
dan anjing itupun hanyut terbawa arus. Anjing itupun mati karena sifat lobha.
3. Krodha (kemarahan)
I Gemblung adalah seorang anak yang memiliki sifat pemarah apabila keinginannya
tidak terpenuhi oleh orang tuanya. Pada suatu hari I Gemblung pulang dari sekolah dan
melihat makanan yang tersedia di dapur. Karena makanan itu tidak disukai oleh I
Gemblung, akhirnya ia marah dan mengamuk sampai-sampai semua prabotan dan
makanan yang ada di dapur menjadi berantakan sehingga makanan yang ada di dapur
tidak bisa dimakan lagi oleh orang tuanya. Perilaku I Gemblung sangat merugikan
dirinya sendiri dan menyakiti perasaan orang tuanya.

61
4. Moha (bingung)
Dhrstarastra adalah seorang raja di kerajaan Astina Pura, beliau juga adalah ayah dari
seratus Korawa. Raja Dhrstarastra mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan
karena rasa sayangnya yang berlebihan kepada anaknya Duyodhana sehingga Panca
Pandawa tidak diperlakukan dengan adil. Akhirnya terjadilah perang saudara yang
mengakibatkan kehancuran bagi seluruh anak-anak raja Dhrstarastra.
5. Mada (mabuk)
Pada suatu hari ada sebuah pesta malam. Dalam pesta tersebut, banyak anak muda yang
datang dan meminum minuman keras, karena minum berlebihan, maka anak-anak muda
tersebut menjadi mabuk, bicaranya tak terkendali bahkan menyinggung perasaan
temannya. Akibatnya terjadilah pertengkaran yang meenyebabkan perkelahian. Pesta
pun menjadi kacau karena orang-orang yang mabuk itu berkelahi bahkan saling
membunuh dengan temannya sendiri. Dalam keadaan mabuk, mereka tidak sadar kerena
dipengaruhi oleh alkohol yang terdapat dalam minuman keras.
6. Matsarya (iri hati)
Sejak kecil Duryodhana memiliki sifat iri hati kepada Pandawa. Sifat-sifat buruk dari
Duryodhana terus tumbuh dan berkembang dalam dirinya. Karena sifat-sifat buruk dan
iri hati dari Duryodhana tidak dapat dikendalikan, akhirnya muncullah niat Duryodhana
yang kejam untuk membunuh Pandawa. Segala cara telah dilakukan Duryodhana untuk
membunuh Pandawa tetapi tetap tidak berhasil. Karena sifat-sifat buruk dan iri hati yang
berlebihan akhirnya Duryodhana mengalami kehancuran dan tewas di tangan Bima.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Tanya jawab seputar materi Sad Ripu
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang Sad Ripu
sebagai Aspek yang Harus dihindari
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang Sad Ripu sebagai Aspek yang Harus
dihindari
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resuma hasil diskusi
kelompok

62
3. Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
c.Sumber Belajar
1. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2. Buku LKS
F. Penilaian
1. . Teknik
: Tes Tulis
2. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Disajikan pernyataan
salah satu arti Sad Ripu
peserta didik dapat
menjawab bagian salah
satu Sad Ripu disebut
Kama
Disajikan pernyataan
konsekuensi Sad Ripu
peserta didik dapat
menjawab bagian salah
satu Sad Ripu yang
disebut Lobha
Disajikan pernyataan
konsekuensi Sad Ripu
peserta didik dapat
menjawab bagian salah
satu Sad Ripu yang
disebut Krodha

Tes tulis

Disajikan pernyataan arti


Sad Ripu peserta didik
dapat menjawab bagian
salah satu Sad Ripu yang
dimaksud
Disajikan pernyataan Sad
Ripu peserta didik dapat
menjawab sumber
timbulnya kebingungan
Disajikan salah satu
bagian Sad Ripu peserta
didik dapat menjawab
konsekuensi dari Sad Ripu
yang dimaksud

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1 Mabuk karena minuman keras
ganda
dalam Sad Ripu disebut

a. Moha
b. Mada

c. Krodha
d. Matsarya

Tes tulis

Pilihan
ganda

2. Sifat tak pernah puas dalam


Sad Ripu disebut...
a. Lobha
c. Mada
b. Krodha
d. Moha

Tes tulis

Pilihan
ganda

3.Putu merecak tidak puas


dengan hasil yang diterimanya
sehingga
menyebabkan
kemarahan terhadap temannya.
kemarahan dalam Sad Ripu
disebut
a. Lobha
c. Kama
d. Moha
d. Krodha

Tes tulis

Pilihan
ganda

4. Matsarya dalam ajaran Sad


Ripu berarti:
a. Iri hati
c. hawa nafsu
b tamak
d. bingung

Tes tulis

uraian

5. coba jelaskan beberapa


sumber yang menyebabkan
timbulnya kebingungan

Tes tulis

uraian

6. Apakah konsekuensi dari


orang
yang
tidak
dapat
mengendalikan Mada

63
3. Kunci Jawaban
1. b
2. a
3. d
4. a

5.- akibat kemabukan


- akibat kegagalan/kekecewaan yang bertubi-tubi
6. akibatnya dapat menghambat segala-galanya
d. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 3
4. Soal no. 4 bobot 3
Skor tertinggi : 8
Skor terendah : 0
Rumus : 2+3+3 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

64

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 16
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Susila
: Memahami Sad Ripu Sebagai Aspek yang Harus Dihindari
: Menjelaskan Dampak Negatif Pengaruh Sad Ripu
: Mampu menjelaskan dampak negatif pengaruh Sad Ripu bila
tidak mampu dikendalikan

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: Siswa mampu menjelaskan dampak negatif pengaruh Sad


Ripu bila tidak mampu dikendalikan

B.Materi Pembelajaran

: Dampak negatif pengaruh Sad Ripu bila tidak mampu


dikendalikan

Dampat Negatif Sad Ripu Bila Tidak Mampu Dikendalikan


1. Kama yang tak terkendali dapat berakibat sebagai berikut :
(a). Banyak memiliki hutang, dikejar-dikejar penagih hutang, pusing, hidup tidak
nyaman, dan merasa tidak aman.
(b). Diserang penyakit, harta terkuras, terkena penyakit kelamin, AIDS.
(c). Keluarga berantakan, dimusuhi anak-istri/saudara dan orang tua.
(d). Masuk penjara, karena tindakan pidana/perdata.
2. Lobha yang tak terkendali dapat berakibat :
(a). Tidak disenangi atau dimusuhi orang
(b).Selalu dibicarakan orang lain
(c). Tidak punya teman dalam pergaulan
(d).Orang akan curiga, menghindar dan mambatasi diri
(e). Sulit mendapat pertolongan dari orang lain
3. Krodha yang tak terkendali dapat berakibat :
(a). Dimusuhi orang
(b). Tidak disenangi dalam pergaulan
(c). Wajah kelihatan lebih cepat tua
(d). Sering terlibat dalam pertengkaran
(e). Dapat dianggap melakukan tindakan kriminal
(f). Mengidap penyakit jantung
(g). Pendek umur
4. Mada yang tak terkendali dapat berakibat :
(a). Pikiran kacau atau kurang waras
(b). Kata-kata tidak terkontrol (ngawur)
(c). Tidak dapat memegang atau menjaga rahasia
(d). Sering melakukan tindakan kriminal dan amoral
(e). Membahayakan kesehatan dan keselamatan
(f). Dijauhi teman dalam pergaulan
(g). Mengganggu keamanan dan ketentraman orang lain atau masyarakat banyak
(h). Diincar petugas keamanan (polisi)

65
5. Moha yang tak terkendali dapat mengakibatkan :
(a). tidak memiliki ketepatan dalam pendirian
(b). selalu bergantung kepada orang lain
(c). tidak memiliki rasa percaya diri
(d). mengalami kesesatan dalam kehidupan
(e). mudah diperdaya orang lain
(f). tidak mampu mengambil suatu kebijakan dalam memecahkan suatu persoalan
(kasus)
6. Matsarya yang tak terkendali dapat berakibat :
(a). Tidak disukai orang
(b). Sulit mendapatkan kemajuan
(c). Tidak mampu bersaing atau berkompetisi dalam hidup
(d). Tidak dipedulikan orang
(e). Tidak mendapat kepercayaan orang lain
(f). Muncul sakit hati atau rasa kecewa yang mendalam
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Tanya jawab seputar materi Sad Ripu
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang dampak negatif
pengaruh Sad Ripu bila tidak mampu dikendalikan
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang dampak negatif pengaruh Sad Ripu bila
tidak mampu dikendalikan
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resume hasil diskusi
kelompok
3.Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om

66
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
c.Sumber Belajar
3. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
4. Buku LKS
F. Penilaian
3. . Teknik
: Tes Tulis
4. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda

1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1 Kama yang tidak terkendali
ganda
akan berakibat seperti dibawah

Disajikan pernyataan
siswa dapat menjawab
dampak negatif Kama

Tes tulis

Disajikan pernyataan
siswa dapat menjawab
dampak negatif Mada

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pernyataan
siswa dapat menjawab
dampak negatif Krodha

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pernyataan
siswa dapat menjawab
dampak negatif Moha

Tes tulis

Pilihan
ganda

Disajikan pernyataan
siswa dapat menjawab
dampak negatif Matsarya

Tes tulis

Pilihan
ganda

ini ....
a.selalu dibicarakan orang lain
b.Tidak disenangi dalam
pergaulan
c.Keluarga berantakan ,
d.dijauhi teman dalam pergaulan
2. Mada yang tidak terkendali
akan berakibat seperti dibawah
ini ....
a.selalu dibicarakan orang l
b.wajah kelihatan lebih cepat tua
c.Keluarga berantakan ,
d.dijauhi teman dalam
pergaulan
3. Krodha yang tidak terkendali
akan berakibat seperti dibawah
ini ....
a.selalu dibicarakan orang l
b.pendek umur
c.Keluarga berantakan ,
d. Pikiran kurang waras
4. Moha yang tidak terkendali
akan berakibat seperti dibawah
ini ....
a.mudah diperdaya orang lain
b.pendek umur
c.tidak disukai orang ,
d. Pikiran kurang waras
4.Matsarya yang tidak terkendali
akan berakibat seperti dibawah
ini ....
a.mudah diperdaya orang lain
b.pendek umur
c.tidak disukai orang ,
d. Pikiran kurang waras

67

1. Kunci Jawaban
1. c
2. d
3. b
4. a
5. c.

2. Skor Penilaian
1. Soal no. 1- 5 bobot 2
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 5 x 2 x 10
10

=N

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

68

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 17
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Tempat Suci
: Memahami Pengelompokan Tempat Suci
: Menyebutkan Jenis-jenis Tempat Suci Menurut Fungsinya
: 1. Menyebutkan jenis-jenis tempat suci di Bali
2. Menyebutkan jenis-jenis tempat suci di luar Bali

Alokasi Waktu

:2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menyebutkan jenis-jenis tempat suci di Bali


2. Siswa mampu menyebutkan jenis-jenis tempat suci di luar
Bali

B.Materi Pembelajaran

: Jenis-jenis tempat suci di Bali dan di luar Bali serta fungsi


masing-masing tempat suci

Jenis-jenis Tempat Suci di Bali dan di luar Bali Serta Fungsi Masing-masing Tempat
Suci
1. Jenis-jenis Tempat Suci di Bali
Tempat suci di Bali umumnya disebut pura. Kata pura berasal dari bahasa Sansekerta
yaitu pur yang berarti benteng, istana/kota. Pengertian pura menurut keyakinan umat
Hindu artinya tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi beserta prabhawa-Nya
dan Atma Siddha Dewata (roh suci leluhur). Selain kata pura juga dipergunakan istilah
Kahyangan/Parahyangan. Kata Kahyangan berasal dari kata Hyang berarti leluhur,
mulia dan terhormat. Kahyangan berarti tempat yang dimuliakan untuk melaksanakan
pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya.
Berdasarkan fungsinya pura digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu :
(a). Pura Jagat (Pura umum) : tempat memuja Sang Hyang Widhi dan Ista Dewata
(manifestasi Ida Sang Hyang Widhi).
(b). Pura Kawitan : tempat memuja Atma Siddha Dewata (roh suci leluhur)
Berdasarkan karakterisasi fungsinya, pura digolongkan menjadi 4 kelompok yaitu :
(a). Pura Kahyangan Jagat : pura tempat pemujaan Sang Hyang Widhi beserta
manifestasinya.
Pura Nawa Dhikpalaka
Pura Kahyangan Jagat
Pura Sad Kahyangan
Pura Dang Kahyangan
(b). Pura Kahyangan Desa (teritorial) : pura yang disungsung oleh umat Hindu di
masing-masing desa adat. Pura Kahyangan Desa juga dikenal dengan sebutan Pura
Kahyangan Tiga yang difungsikan untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam
manifestasinya sebagai Tri Murti :
Pura Desa/Bale Agung
Pura Kahyangan Tiga
Pura Puseh
Pura Dalem
(c). Pura Swagina (Pura Fungsional) : Pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan
profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian hidup.

69
Pura Melanting
Pura Swagina
Pura Subak/ Pura Bedugul
Pura Segara
(d). Pura Kawitan : Pura yang mempunyai karakteristik yang ditentukan oleh adanya
ikatan wit/asal berdasarkan garis kelahiran (keturunan).
Pura Dadia
Pura Kawitan
Pura Pedharman
Merajan
2. Jenis-jenis Tempat Suci di luar Bali
Di beberapa tempat khususnya di Jawa, banyak terdapat tempat suci dalam bentuk
Candi. Kata Candi berasal dari kata Candika (Bahasa Jawa Kuna) yang berarti Siwa.
Bantuk dasar sebuah candi adalah segitiga yang melambangkan unsur purusa. Candicandi yang dijadikan tempat pemujaan oleh umat Hindu di Jawa adalah : Candi
Prambanan (tempat pemujaan Tri Murti), Candi Roro Jongrang (tempat pemujaan Dewi
Durga) dan Candi Ardha Nareswari (tempat pemujaan Tuhan beserta manifestasi-Nya).
Di daerah Jawa Timur terdapat tempat suci berupa candi yang merupakan peningalan
raja-raja Hndu terdahulu dan juga terdapat beberapa pura umum seperti Pura Mandara
Giri Semeru Agung di Lumajang, Pura Blambangan di Banyuwangi, Pura Alas Purwo
dan Pura Giri Wisesa di pegunungan Tengger-Bromo.
3. Fungsi Masing-masing Tempat Suci
Tempat suci berfungsi sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi beserta
manifestasi-Nya dan roh suci Siddha Dewata (roh suci leluhur) dengan menghaturkan
sarana upakara yadnya sebagai perwujudan dari Tri Marga. Disamping itu tempat suci
juga berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti umat Hindu.
Tempat suci dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempererat tali persaudaraan untuk
mewujudkan suatu kehidupan beragama yang aman, tentram dan damai.
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Umat Hindu melaksanakan persembahyangan dibebagai tempat suci
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang Jenis-jenis Tempat
Suci menurut fungsinya
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang Jenis-jenis Tempat Suci menurut
fungsinya
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami

70
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resume hasil diskusi
kelompok
3.Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
c.Sumber Belajar
5. Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
6. Buku LKS
F. Penilaian
5. . Teknik
: Tes Tulis
6. Bentuk Instrumen : tes isian dan pilihan ganda

1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan pernyataan

Teknik
Tes tulis

fungsi pura sebagai


tempat memuja guru
suci siswa dapat
menjawab pura yang
dimaksud

Disajikan pernyataan
tentang fungsi pura yang

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
Pilihan
1. Pura yang berfungsi sebagai
ganda
tempat memuja guru suci yang

berjasa
dalam
bidang
keagamaan disebut.
a. Pura Dang Khayangan
b. Pura Khayangan Tiga
c. Pura Sad Khayangan
d. Pura Melanting
Tes trulis

Pilihan
ganda

Tes tulis

Pilihan
ganda

penyungsungnya terikat
oleh suatu profesi yang
sama siswa dapat
menjawab pura yang
dimaksud

Disajikan contoh pura


siswa dapat menjawab
jenis pura yang dimaksud

2. Pura yang penyungsungnya


terikat oleh suatu profesi
yang sama dalam sistem
pencaharian disebut.
a. Pura Khayangan Tiga
c. Pura Swagina
b. Pura Kawitan
d. Pura Khayangan Jagat
3. Pura Bale Agung, puseh dan
Dalem berdasarkan karakternya
disebut pura
a. Pura Kahyangan jagat
b. Pura Swagina
c. Pura Kahyangan Tiga
d. Pura Kawitan

71
Disajikan pertanyaan pura

Tes tulis

uraian

4.Apa yang dimaksud dengan


pura Khyangan Jagat ?

Tes tulis

uraian

5.Sebutkan jenis pura yang


tergolong dalam Pura Dang
Khayangan

Khyangan Jagat siswa


dapat menjelastkannya
Disajikan pertanyaan pura

Dang Khyangan siswa


dapat menyebuttkannya

2. Kunci Jawaban
1. a
2. c
3. c
4. Pura Kahyangan Jagat : pura tempat pemujaan Sang Hyang Widhi beserta
manifestasinya.
5. Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, Pura Air Jeruk, Pura Tanah Lot, Pura Purancak,
Pura Rambut Siwi.
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 1
2. Soal no. 2 bobot 1
3. Soal no. 3 bobot 1
4. Soal no. 4 bobot 3
5. Soal no. 5 bobot 4
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 3+3+4 x 10
10

=N

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

72

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 18
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Tempat Suci
: Memahami Pengelompokan Tempat Suci
: Menguraikan Ciri-ciri Khusus Tempat Suci
: 1. Mampu menguraikan ciri-ciri khusus tempat suci yang ada
di Bali
2. Mampu menguraikan ciri-ciri khusus tempat suci yang ada
di luar Bali

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: 1. Siswa mampu menguraikan ciri-ciri khusus tempat suci


yang ada di Bali
2. Siswa mampu menguraikan ciri-ciri khusus tempat suci
yang ada di luar Bali

B.Materi Pembelajaran

: Ciri-ciri khusus tempat suci yang ada di Bali dan di luar Bali

Ciri-ciri Khusus Tempat Suci yang ada di Bali dan di luar Bali
1. Ciri-ciri Khusus Tempat Suci yang ada di Bali
Pada umumnya pura-pura di Bali menggunakan tata letak yang berdasarkan konsep Tri
Mandala (3 wilayah/ 3 bagian) yaitu :
(a). Nista Mandala (jaba sisi) : biasanya ada dapur (pewaregan suci) dan bale paebatan
(b). Madya Mandala (jaba tengah) : biasanya ada dapur (pewaregan suci), bale gong dan
bale pawedang
(c). Utama Mandala (jeroan) : merupakan letak pelinggih-pelinggih, Padmasana, gedong
dan meru.
2. Ciri-ciri Khusus Tempat Suci yang ada di luar Bali
Tempat suci umat Hindu di luar Bali khususnya di Jawa lebih banyak merupakan
peninggalan raja-raja Hindu dalam bentuk candi. Ciri-ciri khusus tempat suci yang ada
di luar Bali juga mempergunakan konsep Tri Mandala, tetapi ada juga yang tidak
mempergunakan konsep Tri Mandala tergantung pada luas areal tempat suci
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan


tanya jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Setiap instansi perkantoran di Bali adanya Padmasana sebagai tempat untuk
memuja Sang Hyang Widhi

73
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang cirri-ciri Tempat
Suci
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang ciri-ciri Tempat Suci yang ada di Bali
maupun di luar Bali
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resume hasil diskusi
kelompok
3.Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
b.Sumber Belajar
1 Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2 Buku LKS
F. Penilaian
1 Teknik
: Tes Tulis
2 Bentuk Instrumen : tes uraian

1. Kisi-kisi soal
Indikator
Disajikan pernyataan

Teknik
Tes tulis

Bentuk
Instrumen
uraian

Contoh Instrumen

1 Sebutkan ciri-ciri khusus pura


di Bali !

ciri-ciri pura di Bali


siswa dapat menjawab

pura yang dimaksud


Disajikan pernyataan

ciri-ciri pura di Bali

Tes trulis

uraian

2. Sebutkan ciri-ciri khusus pura


di luar

siswa dapat menjawab

pura yang dimaksud


2 Kunci Jawaban
1. Pada umumnya pura-pura di Bali menggunakan tata letak yang berdasarkan
konsep Tri Mandala (3 wilayah/ 3 bagian) yaitu :

74
(a). Nista Mandala (jaba sisi) : biasanya ada dapur (pewaregan suci) dan bale
paebatan
(b). Madya Mandala (jaba tengah) : biasanya ada dpaur (pewaregan suci), bale
gong dan bale pawedang
(c). Utama Mandala (jeroan) : merupakan letak pelinggih-pelinggih, Padmasana,
gedong dan meru.
4. Tempat suci umat Hindu diluar Bali khususnya di Jawa lebih banyak merupakan
peninggalan raja-raja Hindu dalam bentuk candi. Ciri-ciri khusus tempat suci
yang ada di luar Bali juga mempergunakan konsep Tri Mandala, tetapi ada juga
yang tidak mempergunakan konsep Tri Mandala tergantung pada luas areal
tempat suci
3. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 5
2. Soal no. 2 bobot 5
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0
Rumus : 5 + 5 x 10 = N
10

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H


NIP. 19671231 200003 1 003

75

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


RPP NO. 19
Mata Pelajaran
Kelas/Semester
Aspek
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
Indikator

: Pendidikan Agama Hindu


: VII (Tujuh) / II (Dua)
: Susila
: Memahami Pengelompokan Tempat Suci
: Menggambar Denah Tempat Suci
: Mampu menggambar denah tempat suci

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit ( 1 x Pertemuan )

A.Tujuan Pembelajaran

: Siswa mampu menggambar denah tempat suci

B.Materi Pembelajaran

: Menggambar denah tempat suci

Menggambar Denah Tempat Suci


1. Denah Pura Desa

h
keterangan :
(a). Gedong Bata : sthana Dewa Brahma
(b). Palinggih Ratu Ketut Petung
(c). Lingga Sthana : linggih Sedahan Panglurah
(d). Padmasana : sthana Ida Sang Hyang Widhi
(e). Bale Agung : sthana Bhagawan Penyarikan
(f). Gedong/ Bebaturan : lingga sthana Bhatari Sri Sadhana
(g). Pintu jeroan
(h). Pintu jabaan

76

2. Denah Pura Puseh

i
keterangan :
(a). Meru Tumpang 7 : lingga sthana Dewa wisnu
(b). Lingga sthana Ratu Made Jelawung
(c). Lingga sthana Sedahan Panglurah
(d). Padmasana : lingga sthana Ida Sang Hyang widhi
(e). Batur Sari : lingga sthana Dewi Danuh (Dewi Keseburan)
(f). Gedong Perthiwi : lingga sthana Ibu Pertiwi
(g). Pintu jeroan
(h). Pintu jaba tengah
(i). Pintu jaba sisi
3. Denah Pura Dalem

f
d

e
g

77
keterangan :
(a). Gedong Bata : lingga sthana Dewi Durgha dan Dewa Siwa
(b). Lingga sthana Ratu Nyoman Sakti Pengadangan
(c). Lingga sthana Sedahan Penglurah (tepas Mecaling)
(d). Apit Lawang : lingga sthana Sang Bhuta Diyu
(e). Apit Lawang : lingga sthana Bhuta Garwa
(f). Pintu jeroan
(g). Pintu jaba tengah
(h). Pintu jaba sisi
C.Metode Pembelajaran

: Multi metode (ceramah bervariasi, CTL, diskusi dan tanya


jawab)

D. Langkah-langkah Pembelajaran
1.KegiatanPendahuluan
a. Menghaturkan panganjali umat Om Swastyastu
b. Mengucapkan mantra mengawali pembelajaran
OM Awighnam astu namo sidham
OM. Sidhirastu tad astu swaha
c. Memeriksa kehadiran dan kesiapan pesrta didik
d. Apersepsi :
Setiap instansi perkantoran di Bali adanya Padmasana sebagai tempat untuk
memuja Sang Hyang Widhi
2.Kegiatan Inti
a. Ekplorasi
1.Peserta didik mencermati buku paket agama Hindu tentang Denah Tempat Suci
2.Peserta didik membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri
dari 5 Peserta didik
b. Elaborasi
1. Peserta didik memdiskusikan tentang Denah Tempat Suci
2. Masing-masing kelompok menyimpulkan hasil diskusi
3. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
c.Konfirmasi
1. Peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan tentang materi
pembelajaran yang belum dipahami
2. Guru memberikan repleksi/penguatan
3. Peserta didik dan guru sama-sama membuat resume hasil diskusi
kelompok
3.Kegiatan Penutup
a.Guru bersama peserta didik melaksanakan refleksi
b.Melakukan evaluasi/ Post-test
c Pemberian tugas kepada peserta didik untuk bahan diskusi pada
pertemuan berikutnya
d. Menutup pertemuan dengan menghaturkan Parama Santhi Om Santhi,
Santhi, Santhi om
E. Alat/ Bahan/ Sumber Belajar
a.Alat
Spidol, White board
b.Sumber Belajar
1 Buku widya dharma Agama Hindu kelas VII
2 Buku LKS

78
F. Penilaian
1 Teknik
: Tes Tulis
2 Bentuk Instrumen : tes uraian
1. Kisi-kisi soal
Indikator

Teknik
Tes tulis

Disajikan pertanyaan

Bentuk
Contoh Instrumen
Instrumen
uraian
1 Gambarlah sebuah denah pura

tentang denah pura

Puseh !

siswa dapat menjawab

menggambar denah
pura puseh lengkap
dengan keterangannya

2 Kunci Jawaban
1. Denah Pura Puseh

i
keterangan :
1. Meru Tumpang 7 : lingga sthana Dewa wisnu
2. Lingga sthana Ratu Made Jelawung
3. Lingga sthana Sedahan Panglurah
4. Padmasana : lingga sthana Ida Sang Hyang widhi
5. Batur Sari : lingga sthana Dewi Danuh (Dewi Keseburan)
6. Gedong Perthiwi : lingga sthana Ibu Pertiwi
7. Pintu jeroan
8. Pintu jaba tengah
9. Pintu jaba sisi
d. Skor Penilaian
1. Soal no. 1 bobot 8
Skor tertinggi : 10
Skor terendah : 0

79
Rumus : 10 x 10
10

=N

Mengetahui :
Kepala SMP Negeri 1 Bangli

Drs. I Wayan Widiana Sandhi,M.Pd.


NIP.19611231 198303 1285

Guru Mata Pelajaran


Pendidikan Agama Hindu
Drs. Sang Putu Sugiarta,M.Pd.H
NIP. 19671231 200003 1 003

Anda mungkin juga menyukai