Anda di halaman 1dari 29

TUGAS MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PERNAPASAN


KANKER PARU CA PARU

DISUSUN
OLEH :

SRI INDAH KOMALASARI


SUSANTI TONE
VAN WAYON TAHIDJI
WIDYA AYU O. DOTULONG

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO


2013/2014

Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kanker merupakan masalah paling utama dalam bidang kesehatan dan merupakan salah
satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia serta merupakan penyakit keganasan yang bisa
mengakibatkan kematian pada penderitanya karena sel kanker merusak sel lain. Sel kanker
adalah sel normal yang mengalami mutasi atau perubahan genetik dan tumbuh tanpa
terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain.
Proses pembentukan kanker atau karsinogenesis merupakan kejadian somatik dan sejak
lama diduga disebabkan karena akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang menyebabkan
perubahan pengaturan normal kontrol molekuler perkembang biakan sel. Perubahan genetik
tersebut dapat berupa aktivasi proto-onkogen dan atau inaktivasi gen penekan tumor yang dapat
memicu tumorigenesis dan memperbesar progresinya.
Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru, mencakup
keganasan yang berasal dari paru sendiri maupun keganasan dari luar paru atau disebut
metastasis tumor di paru. Dalam pedoman penatalaksanaan ini yang dimaksud dengan kanker
paru ialah kanker paru primer, yakni tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus atau
karsinoma bronkus atau bronchogenic carcinoma.

1.2 Tujuan
Mengetahui tentang penyakit kanker paru-paru(lung kanker).

Bab II
Pembahasan
A. DEFINISI KANKER PARU
Kanker paru adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas atau epitel
bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak
terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus
didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa prakanker
disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan
menghilangnya silia (Robbin & Kumar, 2007).
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel sel yang mengalami proliferasidalam
paru (Underwood, Patologi, 2000).
Kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalm jaringan
paru-paru dapat disebabkan oleh sejumlah karsinogen, lingkungan, terutama asap rokok
( Suryo, 2010).

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO KANKER PARU


Seperti umumnya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum
diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik
merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh,
genetik, dan lain-lain (Amin, 2006).
a.

Merokok

Menurut Van Houtte, merokok merupakan faktor yang berperan paling penting, yaitu
85% dari seluruh kasus ( Wilson, 2005). Rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia,
diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. Kejadian kanker paru pada perokok
dipengaruhi oleh usia mulai merokok, jumlah batang rokok yang diisap setiap hari, lamanya
kebiasaan merokok, dan lamanya berhenti merokok (Stoppler,2010).
b.

Perokok pasif
Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif, atau

mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup, dengan risiko
terjadinya kanker paru. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang
tidak merokok, tetapi mengisap asap dari orang lain, risiko mendapat kanker paru meningkat dua
kali (Wilson, 2005).
c.

Polusi udara
Kematian akibat kanker paru juga berkaitan dengan polusi udara, tetapi pengaruhnya

kecil bila dibandingkan dengan merokok kretek. Kematian akibat kanker paru jumlahnya dua
kali lebih banyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah pedesaan. Bukti statistik juga
menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat
sosial ekonomi yang paling rendah dan berkurang pada mereka dengan kelas yang lebih tinggi.
Hal ini, sebagian dapat dijelaskan dari kenyataan bahwa kelompok sosial ekonomi yang lebih
rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka, tempat udara
kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. Suatu karsinogen yang ditemukan dalam udara
polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren (Wilson, 2005).
d.

Paparan zat karsinogen


Beberapa zat karsinogen seperti asbestos, uranium, radon, arsen, kromium, nikel,

polisiklik hidrokarbon, dan vinil klorida dapat menyebabkan kanker paru (Amin, 2006). Risiko
kanker paru di antara pekerja yang menangani asbes kira-kira sepuluh kali lebih besar daripada
masyarakat umum. Risiko kanker paru baik akibat kontak dengan asbes maupun uranium
meningkat kalau orang tersebut juga merokok.
e.

Diet
Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene,

selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya risiko terkena kanker paru (Amin, 2006).
f.

Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar terkena

penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada
protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan

berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk juga gengen K-ras dan myc), dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen rb, p53, dan
CDKN2) (Wilson, 2005).
g.

Penyakit paru
Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi

risiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik berisiko empat sampai
enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan (Stoppler, 2010).

Faktor Risiko Kanker Paru

Laki-laki
Usia lebih dari 40 tahun
Pengguna tembakau (perokok putih, kretek atau cerutu)
Hidup atau kontal erat dengan lingkungan asap tembakau (perokok pasif)
Radon dan abses
Lingkungan industri tertentu
Zat kimia, seperti arsenic
Beberapa zat kimia organic
Radiasi dari pekerjaan, obat-obatan, lingkungan.
Polusi udara
Kekurangan vitamin A dan C

C. KLASIFIKASI KANKER PARU


Empat jenis sel utama kanker paru yaitu Karsinoma epidemoid, karsinoma sel kecil (sel oat),
adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar
a.

Karsinoma sel skuamosa (epidermoid)


Merupakan tipe histologik kanker paru yang paling sering ditemukan, berasal dari

permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok
jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Karsinoma sel skuamosa biasanya
terletak sentral di sekitar hilus, dan menonjol ke dalam bronki besar. Diameter tumor jarang
melampaui beberapa sentimeter dan cenderung menyebar secara langsung ke kelenjar getah
bening hilus, dinding dada, dan mediastinum. Karsinoma ini lebih sering pada laki-laki daripada
perempuan (Wilson, 2005).
b.

Adenokarsinoma

Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus.
Kebanyakan jenis tumor ini timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang-kadang dapat
dikaitkan dengan jaringan parut lokal pada paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi sering kali
meluas ke pembuluh darah dan limfe pada stadium dini dan sering bermetastasis jauh sebelum
lesi primer menyebabkan gejala-gejala.
c. Karsinoma sel kecil
Umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang terletak di sentral dengan perluasan
ke dalam parenkim paru dan keterlibatan dini kelenjar getah bening hilus dan mediastinum.
Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan
kromatin granular. Gambaran mitotik sering ditemukan. Biasanya ditemukan nekrosis dan
mungkin luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan crush
artifact pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas pada
pemeriksaan sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan sedikit
sitoplasma yang saling berdekatan (Kumar, 2007).
d.

Karsinoma sel besar


Adalah sel-sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang

besar dan ukuran inti bermacam-macam. Sel-sel ini cenderung timbul pada jaringan paru perifer,
tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat-tempat yang jauh (Wilson,
2005).

D. MANIFESTASI KLINIS KANKER PARU


Gejala-gejala kanker paru yaitu:

1. Gejala awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi
pada bronkus.
2. Gejala umum.
a. Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai
sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik
dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi
sekunder.
b. Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang
mengalami ulserasi.
c. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.

E.

PATOFISIOLOGI KANKER PARU


Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia

hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan
karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang
disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul
efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya
sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan
ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala gejala yang timbul
dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat
terdengan pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan
adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur struktur
terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.

F. PATHWAY KANKER PARU

G. TINGKATAN KANKER PARU


Tabel Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru paru: 1986 American Joint Committee on
Cancer.
Gambarn TNM

Defenisi

Tumor primer (T)


T0

Tidak terbukti adanya tumor primer

Tx

Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi


bilasan

bronkus

tetapi

tidak

terlihat

pada

radiogram atau bronkoskopi


TIS

Karsinoma in situ
Tumor dengan diameter 3 cm dikelilingi

T1

paru paru atau pleura viseralis yang normal.

Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam


T2

setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura


viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang
meluas ke hilus; harus berjarak 2 cm distal dari
karina.
Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan

T3

langsung pada dinding dada, diafragma, pleura


mediastinalis, atau pericardium tanpa mengenai
jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus,
atau korpus vertebra; atau dalam jarak 2 cm dari
karina tetapi tidak melibat karina.
Tumor dalam setiap ukuran yang sudah

T4

menyerang mediastinum atau mengenai jantung,


pembuluh darah besar, trakea, esofagus, koepua
vertebra, atau karina; atau adanya efusi pleura
yang maligna.

Kelenjar limfe regional (N)


N0

Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar


limfe regional.
Metastasis

N1

N2

N3

pada

peribronkial

dan/

atau

kelenjar kelenjar hilus ipsilateral.


Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau
kelenjar limfe subkarina.
Metastasis pada mediastinal atau kelenjar
kelenjar limfe hilus kontralateral; kelenjar
kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular
ipsilateral atau kontralateral.

Metastasis jauh (M)

Tidak diketahui adanya metastasis jauh

M0

Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu


(seperti otak).

M1

Kelompok stadium
Karsinoma
tersembunyi

TxN0M0

Sputum mengandung sel sel ganas tetapi tidak


dapat dibuktikan adanya tumor primer atau
metastasis.
Karsinoma in situ.

Stadium 0

TISN0M0

Stadium I

T1N0M0
T2N0M0

Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa


adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe
regional atau tempat yang jauh.
Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan

Stadium II

T1N1M0
T2N1M0

terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar


limfe peribronkial atau hilus ipsilateral.

Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau


Stadium IIIa

T3N0M0

tanpa bukti metastasis

pada kelenjar limfe

T3N0M0

peribronkial atau hilus ipsilateral; tidak ada


metastasis jauh.
Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar

Stadium IIIb

Setiap T N3M0

limfe hilus tau mediastinal kontralateral, atau pada

T4 setiap NM0

kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular; atau


setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan
atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional; tidak
ada metastasis jauh.

Setiap tumor dengan metastsis jauh.


Stadium

IV

Setiap T, setiap N,M1

Staging (Penderajatan atau Tingkatan) Kanker Paru


Staging kanker paru dibagi berdasarkan jenis histologis Kanker paru, apakah SLCC atau
NSLCC. Tahapan ini penting untuk menentukan pilihan terapi yang harus segera diberikan pada

pasien. Staging berdasarkan ukuran dan lokasi : tumor primer, keterlibatan organ dalam dada/
dinding dada (T), penyebaran kalenjer getah bening (N), atau penyebaran jauh (M).

Tahapan perkembangan kanker paru dibedakan menjadi 2, yaitu :


a. Tahapan kanker paru jenis karsinoma sel kecil (SLCC)
Tahap terbatas
Yaitu Kanker yang hanya ditemukan pada satu bagian paru-paru saja dan pada jaringan
disekitanya.
Tahap ekstensif
Yaitu Kanker yang ditemukan pada jaringan dada diluar paru-paru tempat asalnya, atau
Kanker yang ditemukan pada organ-organ tubuh jauh.
b. Tahap Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (NSLCC)
Tahap tersembunyi
Merupakan tahap ditemukannya sel Kanker pada dahak (sputum) pasien dalam sampel air
saat bronkoskopi, tetapi tidak terlihat adanya tumor diparu-paru.
Stadium 0
Merupakan tahap ditemukannya sel-sel Kanker hanya pada lapisan terdalam paru-paru dan
tidak bersifat invasif.

Stadium I
Merupakan tahap Kanker yang hanya ditemukan pada paru-paru dan belum menyebar ke
kalenjer getah bening sekitarnya.
Stadium II
Merupakan tahap Kanker yang ditemukan pada paru-paru dan kalenjer getah bening di
dekatnya.
Stasium III
Merupakan tahap Kanker yang telah menyebar ke daerah disekitarnya, seperti dinding dada,
diafragma, pembuluh besar atau kalenjer getah bening di sisi yang sama ataupun sisi berlawanan
dari tumor tersebut.
Stadium IV

Merupakan tahap Kanker yang ditemukan lebih dari satu lobus paru-paru yang sama, atau di
paru-paru yang lain. Sel sel Kanker telah menyebar juga ke organ tubuh lainnya, misalnya ke
otak, kalenjer adrenalin , hati dan tulang.
H.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Radiologi.
Foto thorax posterior anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker
paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara
pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2. Laboratorium.
Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.
Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).
3. Histopatologi.
Bronkoskopi.
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi
(besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2
cm, sensitivitasnya mencapai 90 95 %.
Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi.
Mediastinosopi.
Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.
Torakotomi.
Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam macam
prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.
4. Pencitraan.
CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.

CA PARU/ KANKER PARU


I.

PENATALAKSANAAN KANKER PARU


Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :

a) Kuratif
Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien.
b) Paliatif.
Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
c) Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal.
Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.
d) Supotif.
Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi, tranfusi
darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan
Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)
e) Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat
semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru paru
yang tidak terkena kanker.
f) Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma,
untuk melakukan biopsy.

g) Pneumonektomi (pengangkatan paru).


Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
h) Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula
emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
i) Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
j) Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang
terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru paru berbentuk baji (potongan es).
k) Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan bahan fibrin dari pleura viscelaris)
l) Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai
terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/
penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.
m) Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien
dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi
radiasi.
J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KANKER PARU
1.

Anamnesis
Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk diagnosis tepat.

Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal penyakit kanker paru. Batuk disertai
dahak yang banyak dan kadang-kadang bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan
nyaring (wheezing), nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia merupakan keadaan
yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru
adalah faktor usia, jenis kelamin, keniasaan merokok, dan terpapar zat karsinogen yang dapat
menyebabkan nodul soliter paru.
2.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa perubahan bentuk


dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah bening dan tanda-tanda obstruksi parsial,
infiltrat dan pleuritis dengan cairan pleura.
3.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk :
I.

Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru. Kerusakan pada

II.

paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau pemeriksaan analisis gas.
Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada organ-organ

III.

lainnya.
Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru pada jaringan tubuh
baik oleh karena tumor primernya maupun oleh karena metastasis.

4.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama dipergunakan untuk kanker

paru. Kanker paru memiliki gambaran radiologi yang bervariasi. Pemeriksaan ini dilakukan
untuk menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar getah bening, dan
metastasis ke organ lain.
Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi komputer. Pada pemeriksaan
tomografi komputer dapat dilihat hubungan kanker paru dengan dinding toraks, bronkus, dan
pembuluh darah secara jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan
bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding toraks. Tomografi
komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi, dapat mendeteksi lesi kecil dan tumor yang
tersembunyi oleh struktur normal yang berdekatan.

5.

Sitologi
Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang mempunyai nilai diagnostik

yang tinggi dengan komplikasi yang rendah. Pemeriksaan dilakukan dengan mempelajari sel
pada jaringan. Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran perubahan sel, baik pada
stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga menunjukkan proses dan sebab
peradangan.
Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang dipakai untuk
mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan sputum adalah pemeriksaan yang paling sederhana
dan murah untuk mendeteksi kanker paru stadium preinvasif maupun invasif. Pemeriksaan ini
akan memberi hasil yang baik terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral. Pemeriksaan ini
juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker paru pada golongan risiko tinggi.

6.

Bronkoskopi
Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan indikasi untuk

bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber optik, perubahan mikroskopik mukosa


bronkus dapat dilihat berupa nodul atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah
dilakukan pada tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit dicapai oleh
ujung bronkoskop.
7.

Biopsi Transtorakal
Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk mendiagnosis tumor

pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal ini diperlukan peranan radiologi untuk
menentukan ukuran dan letak, juga menuntun jarum mencapai massa tumor. Penentuan letak
tumor bertujuan untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit toraks yang berdekatan dengan
tumor.
8.

Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna pemeriksaan histopatologik

untuk kanker paru. Torakoskopi adalah pemeriksaan dengan alat torakoskop yang ditusukkan
dari kulit dada ke dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil sebahagian jaringan paru
yang tampak. Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan secara langsung ke dalam paru dengan
menusukkan jarum yang lebih panjang dari jarum suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan
jaringan tumor yang ada

K.
1.
2.
3.
4.

DIAGNOSA KEPERAWATAN KANKER PARU


Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d adanya eksudat di alveolus
Pola nafas tidak efektif b/d sindrom hipoventilasi
Gangguan pertukaran gas b/d hipoventilasi
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakmampuan pemasukan/
mencerna/ mengabsorbsi zat-zat gizi karena factor biologis dan psikologi

CA PARU/ KANKER PARU

L. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


N

DX.

TUJUAN & KRITERIA

KEPERAWATAN

HASIL (NOC)

1.

Bersihan jalan nafas

Setelah dilakukan

tidak efektif b/d adanya

tindakan keperawatan 3x24

eksudat di alveolus

jam diharapkan mampu


mempertahankan
kebersihan jalan nafas

Definisi :
Ketidakmampuan
untuk membersihkan
sekresi atau obstruksi
dari saluran
pernafasan untuk
mempertahankan
kebersihan jalan nafas

Dispenu, penurunan

suara nafas
Ortthopneu
Cyanosis
Kelainan suara

(rales, wheezing)
Kesulitan berbicara
Batuk, tidak efektif

atau tidak ada


Mata melebar
Produksi sputum
Gelisah
Perubahan

Airwey suction
Pastikan kebutuhan oral /
tracheal suctioning
Auskultasi suara nafas sebelum

dengan kriteria :

dan sesudah suctioning


Minta klien nafas dalam sebelum

Mendemonstrasikan

suction dilakukan
Berikan 02 dengan menggunakan

batuk efektif dan suara


nafas yang bersih, tidak
ada sianosis dan
dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum,
mampu bernapas dengan
mudah)

Batasan Karakteristik

INTERVENSI (NIC)

Menunjukkan jalan
nafas yang paten
(frekuensi pernafasan
rentang normal, tidak
ada suara nafas

nasal untuk memfasilitasi


suksion nasotrakeal
Gunakan alat yang steril setiap
melakukan tindakan
Anjurkan pasien untuk istirahat
dan napas dalam setelah kateter
dikeluarkan dari nasotrakeal
Monitor status oksigen pasien
Ajarkan keluarga bagaimana cara
melakukan suksion
Hentikan suksion dan berikan
oksigen apabila pasien
menunjukkan bradikardi,
peningkatatn saturasi o2, dll

abnormal)
Mampu
mengidentifikasi dan
mencegah faktor yang
dapat menghambat jalan
nafas

Airway Management
Buka jalan nafas, gunakan teknik
chin lift atau jaw trrust bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya

frekuensi dan irama

pemasangan alat jalan nafas

nafas

buatan
Paang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
Keluarkan secret dengan batuk
atau suction
Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
Suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa
basah NaCl lembab

2.

Pola nafas tidak

Setelah dilakukan

efektif b/d sindrom

tindakan keperawatan 3x24

hipoventilasi

jam diharapkan mampu

Definisi :
Pertukaran udara
inspirasi dan / atau
ekspirasi tidak adekuat

mempertahankan
kebersihan jalan nafas
dengan kriteria :
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara
nafas yang bersih, tidak

Batasan
Karakteristik
Penurunan tekanan
inspirasi/ekspirasi
Penurunan pertukaran
udara per menit
Menggunakan otot
pernafasan tambahan
Nasal flaring

ada sianosis dan


dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum,
mampu bernapas dengan
mudah)
Menunjukkan jalan
nafas yang paten
(frekuensi pernafasan

Airway Management
Buka jalan nafas, gunakan teknik
chin lift atau jaw thrust bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas
buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
Keluarkan secret dan batuk atau
suction
Auskultasi suara nafas, catat
adanya bunyi tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa
basah NaCl lembab
Atur intake untuk cairan

Dyspnea
Orthopnea
Perubahan
penyimpangan dada
Nafas pendek
Assumption of 3-point
position
Pernafasan pursed-lip
Tahap ekspirasi
berlangsung sangat
lama
Peningkatan diameter
anterior-posterior
Pernafasan rata-rata /
minimal
- Bayi : <25 atau >60
- Usia 1-4 : <20 atau

rentang normal, tidak


ada suara nafas

mengoptimalkan keseimbangan
Monitor respirasi dan status
oksigen

abnormal)
Tanda-tanda vital dalam
rentang normal

Terapi Oksigen
Bersihkan mulut, hidung dan
secret trakea
Pertahankan jalan nafas yang

paten
Atur peralatan oksigenisasi
Montor aliran oksigen
Pertahankan posisi pasien
Observasi adanya tanda-tanda

hipoventilasi
Monitor adanya kecemasan pasien
terhadap oksigenisasi

>30
- Usia 5-14 : <14 atau
<25
- Usia >14 : <11 atau
>24
Kedalaman pernafasan
- Dewasa volume
tidalnya 500ml saat
istirahat
- Bayi volume tidalnya
6-8 ml/Kg
Timing rasio
Penurunan kapasitas
vital

Vital Sign Monitor


Monitor tekanan darah, nadi,
suhu, respirasi
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk atau berdiri
Auskultasi tekanan darah pada
kedua lengan dan dibandingkan
Monitor tekanan darah, nadi, suhu
dan respirasi sebelum selama dan

Faktor yang
berhubungan :
Hiperventilasi

setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama
pernafasan

Deformitas tulang
Kelainan bentuk

Monitor suara paru


Monitor pola pernafasan

dinding dada
Penurunan energy /

abnormal
Monitor suhu, warna dan

kelelahan
Perusakan / pelemahan

kelembaban kulit
Monitor sianosi perifer
Monitor adanya cushing triad

muskulo-skeletal
Posisi tubuh
Kelelahan otot

(tekanan nadi yang melebar,


bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab atau

pernafasan
Hipoventilasi sindrom
Nyeri
Kecemasan
Disfungsi

perubahan vital sign

Neuromuskuler
Kerusakan
persepsi/kognitif
Perlukaan pada jaringan
saraf tulang belakang
Imaturitas Neurologis
3.

Gangguan
pertukaran gas b/d
hipoventilasi
Definisi :

Respiratory Status : Gas


exchange
Respiratory Status :

Buka jalan nafas, gunakan teknik

ventilation
Vital Sign Status

chin lift atau jaw thrust bila perlu


Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya

Kelebihan atau
kekurangan dalam
oksigenasi atau
pengeluaran

Airway Management

Kriteria Hasil :

Mendemonstrasikan

karbondioksida di

peningkatan ventilasi

dalam membrane

dan oksigenasi yang

kapiler alveoli

adekuat
Memelihara kebersihan

pemasangan alat jalan nafas


buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
Keluarkan secret dan batuk atau

suction

Auskultasi suara nafas, catat


paru-paru dan bebas dari
tanda-tanda distress

Batasan
karakteristik :

pernafasan
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan suara

Gangguan penglihatan
Penurunan CO2
Takikardi
Hiperkapnia
Keletihan
Somnolen
Iritabilitas
Hypoxia
Kebingungan
Dypsnoe

Nasal faring
AGD normal
Sianosis
Warna kulit abdormal

(pucat kehitaman)
Hipoksemia
Hiperkaribia
Sakit kepala ketika
bangun
Frekuensi dan
kedalaman nafas
abnormal
Faktor yang
berhubungan :
Ketidakseimbangan
perfusi ventilasi
Perubahan membrane
kapiler-alveolar

nafas yang bersih, tidak


adda sianosis dan
dypsnue (mampu
mengeluarkan sputum,
mampu bernafas dengan

adanya bunyi tambahan


Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila perlu
Berikan pelembab udara Kassa
basah NaCl lembab
Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan
Monitor respirasi dan status
oksigen

mudah, tidak ada pursed


lips)
Tanda-tanda vital dalam
rentang normal

Respiratory Monitoring :
Monitor rata-rata , kedalaman,
irama dan usaha respirasi
Catat pergerakan dada, amati
kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostals
Monitor suara nafas, seperti
dengkur
Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia, kussmaul,
hiperventilasi, cheyne stokes,
biot
Catat lokasi trakea
Monitor kelelahan otot
diafragma (gerakan paradoksis)
Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan / tidak adanya
ventilasi dan suara tambahan
Tentukan kebutuhan suction
dengan mengauskultasi crakles
dan ronkhi pada jalan nafas

utama
Auskultasi suara paru setelah
tindakan untuk mengetahui
hasilnya
AcidBase Management :

Monitor IV line
Pertahankan jalan nafa paten
Monitor AGD, tingkat elektrolit
Monitor status hemodinamik

(CVP, MAP, PAP)


Monitor adanya tanda-tanda

4.

Ketidakseimbanga
n nutrisi: kurang dari

Setelah dilakukan

gagal nafas
Monitor pola respirasi
Lakukan terapi oksigen
Monitor status neurologi
Tingkatkan oral hygiene

- manajemen nutrisi

tindakan keperawatan

Kaji adanya alergi makanan


selama x jam Status nutrisi Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
ketidakmampuan
meningkat, dengan
menentukan jumlah kalori dan
pemasukan/ mencerna/ kriteria :
nutrisi yang dbutuhkan klien
kebutuhan tubuh b/d

mengabsorbsi zat-zat
gizi karena factor
biologis dan psikologi
Batasan
Karakteristik

Berat badan 20%


atau lebi dibawah

ideal
Dilaporkan adanya
intake makanan
yang kurang dari

intake makan dan


minuman
intake nutrisi
control BB
masa tubuh
biochemical measures
energy

Anjurkan klien untuk


meningkatkan intake Fe
Anjurkan klien untuk
meningkatkan protein dan
Vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang di makan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih
(sudah dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
Ajarkan klien bagaiman membuat

RDA
(Recommended

Daily Allowance)
Membran mukosa

catatan makanan harian


Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Berikan informasi temtang

dan konjungtiva

kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan klien untuk

pucat
Kelemahan otot

mendapatkan nutrisi yang

yang digunakan

dibutuhkan

untuk menelan atau

mengunyah
Luka, inflamasi

pada rongga mulut


Mudah terasa
kenyang, sesaat

BB klien dalam batas normal


Monitor adanya penurunan berat

setelah mengunyah

badan
Monitor tipe dan jumlah aktivitas

makanan
Dilaporkan atau

yang biasa dilakukan


Monitor interaksi anak atau orang

fakta adanya
kekurangan

tua selama makan


Monitor lingkungan selama

makanan
Dilaporkan adanya

makan
Jadwalkan pengobatan dan

perubahan sensasi

tindakan tidak selama jam makan


Monitor kulit kering dan

rasa
Perasaan
ketidakmampuan
untuk menguyah

Pemantauan nutrisi

makanan
Miskonsepsi
Kehilangan BB
dengan makanan

cukup
Keenggangan untuk

makan
Kram pada

pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekiringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, HB dan HT
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan,
kekeringan jaringan konjungtiva

abdomen tonus otot

telek
Nyeri abdominal
dengan atau tanpa

patologi
Kurang berminat

terhadap makanan
Pembuluh darah

kapiler mulai rapuh


Diare atau

steatorrhea
Kehilangan rambut

Monitor kalori dan intake nutrisi


Catat adanya edema, hiperemi,
hipertonik, papilalida, dan cavitas
oral
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

yang cukup banyak

(rontok)
Suara usus
hiperaktif

Tn. J umur 57 tahun Masuk rumah sakit dengan keluhan sesak nafas,

Contoh Kasus

sesak napas bila berbaring, sesak nafas hilang timbul, riwayat batuk (+),
konsistensi sputum kental, klien mengeluh mual dan muntah, porsi makan
tidak di habiskan, klien mengeluh kurang nafsu makan, klien mengatakan
sulit saat menelan makanan, terdapat luka pada daerah bibir. Saat dilakukan
pemeriksaan tanda tanda vital didapatkan TD 110/70 mmhg, Nadi 88
x/menit, SB 35.7oc, RR 26 x/menit.

Klasifikasi Data
Data Subjektif

Data Objektif

- klien mengeluh sesak napas


- klien mengatakan sesak bila berbaring
- klien mengatakan sesak hilang timbul
- klien mengeluh

BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan

Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian besar kanker paru
berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh lain yang terkena
kanker.Kanker paru, juga dikenal sebagai suatu bronchogenic carcinomas .Penyakit kanker paruparu adalah penyakit yang diakibatkan adanya pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali
dalam jaringan paru. Penyakit ini biasanya akan mengganggu penapasan pada penderitanya.
Penyebab utama munculnya penyakit kanker paru-paru adalah rokok. Semakin banyak
rokok yang dihisap, semakin besar pula risiko untuk menderita kanker paru-paru.Gejala penyakit
kanker paru-paru biasanya berupa batuk.Gejala pada kanker paru umumnya tidak terlalu terlihat,
sehingga kebanyakan penderita kanker paru yang mencari bantuan medis telah berada dalam
stadium lanjut. Kasus-kasus kanker paru-paru stadium dini atau awal sering ditemukan tanpa
sengaja ketika seseorang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Awalnya menyerang percabangan segmen atau sub bronkus yang menyebabkan cilia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan
karsinogen maka menyebabkan metaplasia, hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang
disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul
efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya
sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan
ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal.

DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth, J. Corwin.2008. Buku Saku Patofisiologis. Jakarta: ECG

Price, Sylvia A and Wilson, Lorraine M. 1988. Patofisiologi. Konsep Klinik Proses-proses
Penyakit. Jakarta : EGC.
Suryo, Joko. 2010. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta: B First
Suyono, Slamet. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 3. Balai Penerbit FKUI :
Jakarta.
Underwood, J.C.E. 1999. Patologi Umum dan Sistematik. Edisi 2. EGC:Jakarta.
Brunner & Suddaerth.2001. keperawatan medical bedah. Vol 1 edisi 8.EGC:Jakarta

2.3 Patofisiologi Kanker Paru


Perluasan dari lesi primer paru adalah carcinoma bronchogenic, tumor pada epithelium
jalan nafas. Tumor-tumor ini dibedakan berdasarkan tipe selnya, yaitu : small cell, atau oat cell,
carcinoma, dan non-small-cell carcinoma. Small cell carcinoma kira-kira 25% dari kanker paru,
tumbuh dengan cepat dan menyebar secara dini. Tumor-tumor ini memiliki unsur-unsur
paraneoplastik, ini berarti tumor ini menghasilkan lokasi metastasis yang dipengaruhi oleh tumor
secara tidak langsung.
Small cell carcinoma bisa mensintesis bahan bioaktif dan hormon yang berperan sebagai
adrenocorticotropin (ACTH), hormon antidiuretik (ADH), dan sebuah parathormon-seperti
hormon dan gastrin releasing peptide. Angka Non small-cell carcinoma mencapai 75% dari
angka kanker paru. Tiap tipe sel berbeda dari segi insiden, penampakan dan cara penyebaran.
Kanker bronkogenik, tanpa memperhatikan tipe sel, cenderung menjadi agresif, lokal
invasif, dam memiliki penyebaran/metastasis lesi yang luas/jauh. Tumor dimulai sebagai lesi
mukosa yang tumbuh menjadi bentuk massa yang melewati bronki atau menyerang jaringan
sekitar paru. Semua tipe sering menyebar melalui sistem kelenjar getah bening yang
membengkak dan organ lain (Porth, 1994). (LeMone, Priscilla & Karen M. Burke, 1996).
Kanker paru cenderung bermetastasis ke kelenjar limpa, otak, tulang, hati dan organ
lainnya. Kebingungan (konfusi), gangguan berjalan dan keseimbangan, sakit kepala, perubahan
perilaku bisa saja merupakan manifestasi dari metastasis pada otak. Tumor yang menyebar ke
tulang akan menyebabkan nyeri pada tulang tersebut, fraktur, dan bisa saja menekan spinal cord,
seperti halnya trombositopenia dan anemia jika sumsum tulang di invasi oleh tumor.
Ketika hati di serang, gejala dari kelainan fungsi hati dan obstruksi biliari meliputi
jaundice (penyakit kuning), anoreksia, nyeri pada kuadran kanan atas (Seale & Beaver, 1992;
Wilson et al, 1991).
Sindrom vena cava superior, obstruksi sebagian atau seluruh vena cava superior
berpotensi menyebabkan komplikasi pada kanker paru, terutama pada saat tumor menginvasi k
mediatinum superior atau kelenjar limpa mediastinal. Baik akut maupun subakut gejalanya dapat
di catat. Telihat udem pada leher dan wajah klien, sakit kepala, pening, gangguan penglihatan,
dan sinkop. Vena bagian atas dada dan vena di leher akan mengalami dilatasi; terjadiny sianosis.
Udem pada cerebaral akan mengubah tingkat kesadaran; udem pada laring dapat merusak sistem
pernafasan. (LeMone, Priscilla & Karen M. Burke, 1996)