Anda di halaman 1dari 19

2.4.

Produktivitas Sumur
Sebelum membicarakan parameter produktivitas formasi seperti laju
produksi, produktivity index dan inflow performance relationship, terlebih
dahulu akan dibicarakan mengenai dasar-dasar aliran fluida dalam media berpori.

2.4.1. Aliran Fluida dalam Media Berpori


Fluida akan mengalir dalam media berpori apabila media tersebut
mempunyai permeabilitas yang searah dengan arah tenaga pendorong dan
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Sifat fisik dari formasi.
2. Geometri sumur dan daerah pengurasan.
3. Sifat fisik fluida yang mengalir.
4. Perbedaan tekanan antara formasi dan lubang sumur pada saat terjadinya
aliran.
Persamaan yang menggambarkan mengenai aliran fluida dalam media
berpori pertama kali dikembangkan oleh Henry Darcy (1856)7). Persamaan
tersebut merupakan persamaan yang menunjukkan kecepatan aliran fluida dengan
permeabilitas batuan, viskositas fluida serta gradien tekanan antar jarak tempuh
aliran
2.4.1.1. Persamaan Darcy untuk Aliran Satu Fasa
Penyelidikan mengenai aliran fluida dalam media berpori dilakukan Darcy
dengan menggunakan fluida air dan media sandpack 8), seperti yang terlihat pada
Gambar 2.4.
Hasil dari penyelidikan tersebut menyatakan bahwa kecepatan aliran fluida
(u, cm/sec) sebanding dengan perbedaan ketinggian pada manometer, sehingga
secara matematis dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut :
u
dimana :

h h2
q
h
k 1
k
A
L
L

.................................................... (2-69)

= laju alir fluida, cc / sec

A = luas penampang, cm2.


h = selisih permukaan fluida pada manometer, cm
L = panjang media, cm
k

= konstanta

h
w a te r
m a n o m e te rs

q
(c c / s e c )

h
L

+ z

d a tu m p la n e ; z = 0 ; p = 1 a tm

Gambar 2.31.
Skema Percobaan Penentuan Persamaan Aliran
pada Bidang Miring 6)
Pada media alir yang

membentuk sudut tertentu terhadap bidang

horisontalnya, seperti yang terlihat pada Gambar 2.31. diatas, maka diperlukan
perhitungan mengenai pengaruh gaya gravitasi. Tekanan yang terjadi pada elevasi
setinggi z dari datum dapat dinyatakan dengan persamaan :
p

g z
P = g (h z) atau h g =

........................................ (2-70)

sehingga Persamaan (2-69), dapat ditulis menjadi :


u k hg k
g

g z

.................................................. (2-71)

Konstanta k/g pada Persamaan (2-71) hanya berlaku untuk aliran air,
sesuai dengan fluida yang digunakan dalam percobaan. Sedangkan untuk aliran
fluida lainnya, dengan viscositas dan densitas tertentu, besarnya kecepatan aliran
sesuai dengan persamaan sebagai berikut :
u k

g z

.................................................................. (2-72)

Bentuk (p/) + gz pada persamaan diatas merupakan energi potensial per


unit massa fluida, atau sering disebut potensial fluida (). Potensial fluida timbul
karena adanya gaya gesekan antar satu-satuan massa fluida akibat adanya
perubahan tekanan dan ketinggian terhadap datum, dan didefinisikan sebagai
besarnya energi yang diperlukan untuk memindahkan satu massa fluida dari suatu
titik dengan tekanan 1 (satu) atm dan sudut elevasi 0 (nol) derajat terhadap datum,
ke suatu titik dengan tekanan dan elevasi tertentu. Secara matematis, potensial
fluida dituliskan sebagai berikut :
P

Pb

p
gz

...................................................................... (2-73)

Jika fluida yang mengalir diasumsikan sebagai fluida yang incompressible,


dimana densitas fluida tidak terpengaruh oleh adanya perubahan tekanan, maka
Persamaan (2-73) diatas dapat dituliskan menjadi :
p

gz

........................................................................... (2-74)

dan Persamaan (2-72), menjadi :


u

k
L

.............................................................................. (2-75)

Dari persamaan diatas terlihat bahwa kecepatan aliran fluida dalam media
berpori merupakan fungsi dari densitas dan viskositas fluida serta perbedaan
potensialnya. Konstanta k yang terdapat pada persamaan tersebut merupakan sifat
alam yang dimiliki oleh media aliran dan didefinisikan sebagai permeabilitas.

Pada percobaan penurunan persamaan aliran Darcy, arah aliran fluida


selalu dari atas ke bawah (seperti yang terlihat pada Gambar 2.4 dan Gambar
2.31), sehingga pola aliran yang terjadi dianggap positif. Pada kenyataannya,
aliran fluida akan terjadi apabila terdapat perbedaan potensial, tanpa
memperhatikan arah aliran yang terjadi. Dengan demikian, persamaan untuk
aliran fluida secara umum dapat dituliskan sebagai berikut :
k
L

p
z

........................................................... (2-76)

Tanda negatif pada persamaan diatas menyatakan bahwa aliran akan


terjadi hanya jika dalam sistem terjadi penurunan tekanan (perbedaan potensial).
Sedangkan arah aliran (z / L) merupakan harga dari sin , dimana merupakan
sudut yang terbentuk antara arah aliran dengan bidang horisontal.
Anggapan-anggapan yang digunakan dalam penurunan persamaan aliran
fluida dalam media berpori adalah :
1. Aliran fluida linier dan mantap (steady state),
2. Fluida yang mengalir satu fasa dan incompressible,
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan, dan
4. Media aliran homogen dan isotropik
Pada kondisi steady state, persamaan aliran fluida dapat diturunkan dari
Persamaan (2-76),

yang disesuaikan dengan geometri aliran yang terjadi.

Berikut ini adalah persamaan-persamaan aliran yang digunakan, baik untuk aliran
horisontal linier maupun aliran radial.
a. Aliran Horisontal Linier Steady State
Gambar 2.32. memperlihatkan suatu media berpori yang dijenuhi dengan
fluida satu fasa yang mengalir secara linier dengan arah horisontal, dengan
aliran steady state.

P1

P2

Gambar 2.32
Skema Aliran Horisontal Linier 7)
Pada sistem aliran linier horisontal, berlaku suatu kondisi dimana
z
sin 0
L

dan L x

sehingga Persamaan (2-76) dapat dituliskan sebagai


q
A

1,127 x 10 3

k p
x

................................... (2-77)

Apabila fluida yang mengalir satu fasa dan incompressible, maka persamaan
aliran yang berlaku dapat diturunkan dengan mengintegrasikan Persamaan
(2-77), pada batas jarak aliran sama dengan nol sampai sejauh L, serta pada
tekanan masukan P1 dan tekanan keluaran P2, sebagai berikut :
q
A

x 1,127 x 10

q = 1,127 x 10 3

k A ( P1 P2 )
L

dimana :
k

= permeabilitas batuan, mD

A = luas penampang aliran, ft2


P1 = tekanan masuk, psi
P2 = tekanan keluar, psi
= viskositas fluida, cp
L = jarak aliran, ft

P2

............................. (2-78)

P1

......................................... (2-79)

Pada saat fluida reservoir (baik itu minyak, gas maupun air formasi) mengalir
bersama dalam batuan, maka masing-masing fluida akan mempunyai laju alir
yang berbeda sesuai dengan sifat fluida itu sendiri dan permeabilitas relatif
batuan yang dilalui. Pada aliran horisontal linier, besarnya pengaruh gaya
gravitasi terhadap laju aliran dapat diabaikan.
b. Aliran Radial Steady State
Sistem aliran radial serupa dengan sistem aliran fluida yang mengalir dari
reservoir masuk ke dalam lubang sumur dengan daerah pengurasan berbentuk
silindris Geometri aliran ini merupakan idealisasi dari reservoir yang silindris
dan mempunyai ketebalan yang konstan, sebagaimana yang terlihat pada
Gambar 2.33. Sistem ini dapat terjadi pada aliran menuju sumur (pada sumur
produksi maupun aliran menjauhi sumur, pada sumur injeksi.

RE
R
Pw

PE

Rw

Gambar 2.33.
Skema Aliran Radial Silindris 7)
Pada sistem aliran radial, berlaku kondisi sebagai berikut :
z
sin 0
L

dan L r

sehingga Persamaan (3-8) dapat dituliskan sebagai berikut :


u

q k k p
r
r
A

......................................... (2-80)

Untuk aliran fluida yang menuju ke arah sumur, maka arah alirannya (p / r)
dianggap negatif, dan karena A = 2 r h, maka Persamaan (2-80) dalam
satuan lapangan dapat ditulis sebagai berikut :
q = 1,127 x 10 3

2 r h k p

....................................... (2-81)

2.4.1.2. Persamaan Darcy untuk Aliran Multi Fasa


Apabila suatu reservoir mempunyai suatu tekanan yang lebih rendah dari
tekanan statik gelembung, maka pada waktu diproduksikan, gas yang keluar dari
minyak akan mengalir bersama-sama dengan minyak dan kadang-kadang air juga
akan ikut mengalir bersama minyak dan gas tersebut, sehingga disebut sebagai
aliran multifasa.
Bila terjadi aliran horisontal dari minyak, gas dan air dalam suatu reservoir
yang homogen dan dengan mengabaikan pengaruh gravitasi yang ada maka
persamaan aliran untuk masing-masing fasa tersebut adalah :
qo
qg

qw

ko A dPo
o dL
k g A dPg

g dL

..(2-82)
...(2-83)

k w A dPw
...(2-84)
w dL

Apabila Persamaan (2-83) dibagi dengan Persamaan (2-84) dan dengan


menganggap penurunan tekanan dalam fasa gas maupun dalam fasa minyak
adalah
sama, maka akan diperoleh perbandingan gas dan minyak pada kondisi reservoir
(GORres) sebagai berikut :
GORres

qg
qo

o kg
.......(2-85)
g ko

Untuk memperoleh GOR pada kondisi permukaan, maka Bg dan Bo perlu


dimasukkan dalam Persaman (2-85). Disamping itu, karena proses produksi

minyak dari reservoir ke permukaan akan menghasilkan gas sebesar Rs , maka


Persamaan (2-86) untuk kondisi permukaan menjadi :
GORsc Rs

o Bo k g
...(2-86)
g Bg k o

dimana :
GORsc = GOR (Gas Oil Ratio) pada kondisi standar, cuft/bbl
GORres = GOR pada kondisi reservoir, SCF/STB
Rs

= kelarutan gas dalam minyak, SCF/STB

Sedangkan apabila Persamaan (2-84) dibagi dengan Persamaan (2-82)


dan dengan menganggap penurunan tekanan dalam fasa air dan fasa minyak pada
kondisi reservoir (WORres) sebagai berikut :
WORres

qw o k w

.....(2-87)
qo w k o

Untuk kondisi permukaan (kondisi standar), karena terjadi pengecilan volume


minyak akibat adanya gas yang membebaskan diri dari minyak, maka laju
produksi minyaknya menjadi qo / Bo. Tidak demikian halnya dengan qo tersebut,
karena kelarutan gas dalam air yang sangat kecil dan kompresibilitas air sangat
kecil maka qw (laju produksi air) pada kondisi reservoir dianggap sama dengan qw
pada kondisi permukaan.
Sehingga Persamaan (2-87) untuk kondisi permukaan menjadi :
WORsc

1 o kw
......(2-88)
Bo w k o

dimana :
WORsc = WOR (Water Oil Ratio) pada kondisi standar, STB/bbl
GORres = WOR pada kondisi reservoir
Untuk reservoir yang hanya memproduksi minyak dan gas, maka pada
kondisi tekanan reservoir di atas tekanan saturasi (tekanan titik gelembung), gas
bebasnya belum terbentuk. Dalam hal ini, GOR-nya akan sama dengan jumlah gas

mula-mula yang terlarut dalam minyak (Rsi), dengan naiknya produksi kumulatif
minyak, maka tekanan reservoir akan turun sampai di bawah tekanan saturasinya.
pada saat ini Pwf juga berada di bawah tekanan saturasi, maka akibatnya gas bebas
akan bergerak ke permukaan, saturasi gas di sekitar lubang sumur akan naik, dan
permeabilitas minyak akan turun, dimana kesemuanya itu akan menaikkan GOR
produksinya. Demikian pula untuk reservoir yang fluida produksinya terdiri dari
minyak, air dan gas. Tetapi dalam hal ini digunakan konsep GLR (Gas Liquid
Ratio), yaitu perbandingan antara laju produksi gas (qg) dengan laju produksi
cairan (qo + qw).
2.4.2. Indeks Produktivitas
Produktivitas formasi merupakan kemampuan suatu formasi untuk
memproduksikan fluida yang dikandungnya pada kondisi tertentu. untuk
mengetahui kemampuan suatu sumur berproduksi pada setiap saat, maka
digunakan konsep "Productivity Index" (Indeks Produktivitas) dimana dengan
diketahuinya indeks produktivitas tersebut diharapkan masa hidup dari suatu
reservoir dapat diketahui.
Indeks Produktivitas (PI) didefinisikan sebagai angka atau indeks yang
menyatakan besarnya kemampuan suatu sumur/reservoir untuk memproduksi
fluida pada kondisi tertentu, atau dapat pula didefinisikan sebagai perbandingan
antara laju produksi (q) yang dihasilkan oleh suatu sumur tertentu dengan
perbedaan tekanan dasar sumur dalam keadaan statik (Ps) dan tekanan dasar
sumur dalam keadaan terjadi aliran (Pwf). Dalam bentuk persamaan, definisi
tersebut dapat dinyatakan sebagai :
PI

qo
..(2-89)
( Ps Pwf )

dimana :
PI

= Indeks Produktivitas, bbl/hari/psi

qo

= laju produksi minyak, bbl/hari

Ps -Pwf = perbedaan tekanan atau "draw down", psi

Persamaan (2-89) di atas didapat berdasarkan data test tekanan dan hanya
digunakan untuk satu macam cairan (dalam hal ini hanya minyak).
Sedangkan untuk dua macam cairan (minyak dan air), maka Persamaan
(2-89) menjadi :
PI

qo q w
..(2-90)
( Ps Pwf )

dimana :
qw

= laju produksi air, bbl/hari

Disamping berdasarkan data tekanan dari test tekanan, harga PI dapat pula
ditentukan berdasarkan persamaan aliran radial dari Darcy, seperti yang
ditunjukkan oleh Persamaan (2-91), sehingga dengan mensubstitusikan
persamaan laju alir minyak pada kodisi standar ke dalam Persaman (2-90) akan
didapat :
PI

7,082 k o h
......(2-91)
o Bo ln(re / rw )

Sedangkan untuk persamaan minyak dan air, berlaku persamaan :


PI

7,082 h k o
k
w ......(2-92)

ln(re / rw ) o Bo w Bw

dimana :
h

= ketebalan lapisan reservoir, ft

kw

= permeabilitas batuan terhadap air, D

ko

= permeabilitas batuan terhadap minyak, D

= viskositas air, cp

= viskositas minyak, cp

Bw

= faktor volume formasi air, bbl/STB

Bo

= faktor volume formasi minyak, bbl/STB

re

= jari-jari pengurasan, ft

rw

= jari-jari sumur, ft

Harga PI untuk setiap satuan ketebalan tidak sama, maka harus dihitung
untuk setiap ketebalan, yaitu dengan menggunakan specific productivity index
(SPI).

SPI

PI
...(2-93)
h

dimana :
SPI

= indeks produktivitas spesifik, bbl/hari/psi/ft

= ketebalan bersih lapisan reservoir, ft

2.4.2.1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi PI


Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya harga PI, antara lain :
a. sifat-sifat fisik batuan reservoir,
b. sifat-sifat fisik fluida reservoir,
c. ketebalan lapisan formasi,
d. draw down, dan
e. mekanisme pendorong reservoir.
2.4.2.1.1. Sifat-Sifat Fisik Fluida Reservoir
Sifat fisik batuan reservoir yang mempengaruhi besar kecilnya PI, antara lain :

Permeabilitas batuan
Permeabilitas batuan adalah kemampuan

batuan untuk mengalirkan

fluida. Dengan turunnya permeabilitas mka fluida akan sulit mengalir,


sehingga kemampuan berproduksi atau PI menjadi turun.

Saturasi fluida
Saturasi fluida adalah ukuran kejenuhan fluida di dalam pori-pori batuan.
Pada proses produksi, saturasi minyak berkurang

dengan naiknya

produksi kumulatif minyak dan pori-pori yang kosong diganti oleh air atau
gas bebas. Disamping itu, berlangsungnya proses produksi disertai dengan
penurunan tekanan dan bila melewati tekanan titik gelembung akan
mengakibatkan munculnya fasa gas yang mengakibatkan saturasi gas
bertambah dan saturasi minyak berkurang. Hal ini akan mengurangi
permeabilitas efektif batuan terhadap minyak, sehingga dapat menurunkan
PI.

2.4.2.1.2. Sifat-Sifat Fisik Fluida Reservoir


Beberapa sifat fisik fluida reservoir yang mempengaruhi besar kecilnya PI,
yaitu :

Kelarutan gas dalam minyak


Dalam proses produksi, penurunan tekanan di bawah tekanan saturasi
(tekanan titik gelembung) dapat menyebabkan bertambahnya gas yang
membebaskan diri dari larutan. Hal ini kan menyebabkan turunnya harga
PI akibat berkurangnya permeabilitas efektif batuan terhadap minyak
karena naiknya saturasi gas.

Faktor Volume Formasi


Faktor volume formasi minyak (Bo) juga berpengaruh terhadap besar
kecilnya harga PI. Di atas harga tekanan saturasi Bo turun dengan cepat
karena penyusutan volume minyak akibat dibebaskannya gas yang terlarut.
Dari Persamaan (2-91) dan Persamaan (2-92) dapat diketahui bahwa
kenaikan Bo akan menurunkan harga PI.

Viskositas Fluida
Viskositas adalah ukuran ketahanan fluida terhadap pengaliran. Bila
tekanan reservoir sudah berada di bawah tekanan saturasi, maka
pernurunan tekanan selanjutnya akan mengakibatkan bertambahnya gas
yang dibebaskan dari larutan sehingga akan menaikan harga viskositas
minyak. Hal ini akan menyulitkan proses produksi, sehingga akan
menurunkan harga PI.

2.4.2.1.3. Ketebalan Lapisan Reservoir


Semakin tebal lapisan atau zona produktif semakin besar pula harga PI, seperti
yang ditunjukkan oleh Persamaan (2-91) yang berarti laju produksinya juga
dapat naik, tetapi lapisan tersebut bisa diselingi oleh sub-sub lapisan tipis dari
air atau gas sehingga laju produksinya akan berkurang.
Terproduksinya air dapat juga menyebabkan terjadinya scale yang dapat
mengurangi kapasitas kerja dari alat-alat produksi atau terjadinya korosi pada
alat-alat produksi. Pencegahan hal ini antara lain juga dilakukan dengan

memasang casing sehingga menembus zona produktif, kemudian diperforasi


pada interval-interval minyak.
2.4.2.1.4. Draw-down
Semakin besar draw-down semakin besar pula laju produksinya, sehingga PI
akan
naik, tetapi dengan semakin besarnya draw-down yang diakibatkan oleh
mengecilnya Pwf hingga di bawah tekanan saturasi akan mengakibatkan
terbebasnya gas yang semula sehingga PI turun.
Dengan dibebaskannya gas yang semula terlarut di dalam minyak akan
mengakibatkan kehilangan tekanan (pressure loss) yang besar pada aliran
vertikal ke permukaan, sehingga tekanan ke tubing (tubing head
pressure/THP) yang dihasilkan akan kecil dan ini akan mengurangi
kemampuan fluida untuk mengalir ke separator karena tidak dapat mengatasi
tekanan balik (back pressure) yang terjadi. Di samping itu, laju produksi
minyak akan turun karena terhambat aliran gas. Perlu diperhatikan juga bahwa
dengan membesarkan draw-down untuk formasi yang kurang kompak dapat
mengakibatkan terproduksinya pasir.
2.4.2.1.5. Mekanisme Pendorong Reservoir
Kecepatan perubahan tekanan suatu reservoir akibat proses produksi sangat
dipengaruhi oleh jenis mekanisme pendorong yang dimilikinya.

Solution gas drive


Pada solution gas drive semakin rendah tekanan akan semakin banyak gas
yang dibebaskan dari larutan, sehingga saturasi gas naik dan saturasi
minyak turun. Hal ini akan mengakibatkan turunnya harga permeabilitas
efektif batuan terhadap minyak (ko), sehingga harga PI-nya juga akan
turun. Bila tekanan masih berada di atas tekanan saturasi, maka PI konstan
karena belum ada yang yang dibebaskan.

Gas cap drive

Penurunan tekanan pada gas cap drive agak lambat bila dibandingkan
dengan solution gas drive. Hal ini disebabkan disamping akibat
pengembangan gas yang terlarut juga diakibatkan pendesakan gas cap,
sehingga penurunan PI tidak secepat pada solution gas drive.

Water drive
Water drive, karena dalam pengosongan minyak dari reservoir diimbangi
oleh
perembesan air, maka PI-nya relatif konstan. Tetapi bila water drive sangat
lemah dan tidak dapat mengimbangi pengosongan, maka tekanan akan
turun di bawah tekanan saturasi dan fasa gas akan terbentuk. Dalam
kondisi seperti ini terjadi aliran minyak, air dan gas, dimana PI akan turun
selama produksi.

2.4.3. Inflow Performance Relationship


Jika PI dari suatu sumur dianggap konstan dan tidak tergantung dari laju
produksi sesaat, maka persamaan (2-92) dapat ditulis sebagai :
Pwf Ps

qo
.....(2-94)
PI

Pada suatu keadaan tertentu, Ps mempunyai harga tertentu, sehingga jika PI


dianggap konstan, maka plot antara Pwf dengan qo akan merupakan suatu garis
lurus, seperti yang terlihat pada gambar 2.35. Gambar tersebut menunjukkan
kelakuan formasi berproduksi, yaitu reaksi formasi terhadap pressure draw-down
(P = Ps - Pwf) pada lubang sumur. Bila qo = 0, maka Ps = Pwf, dan bila qo = PI x Ps
maka Pwf = 0. Sudut antara garis pada gambar tersebut dengan sumbu tekanan
sedemikian rupa sehingga :

Tan

OB PI x Ps

PI ........(2-95)
OA
Ps

Gambar 2.34.
Kurva IPR Linier7)
Harga qo pada titik B, yaitu PI x Ps disebut "potensial sumur". Pada
pembuatan Gambar 2.34. di atas, dianggap bahwa PI tidak tergantung dari laju
produksi yang merupakan hasil dari kemungkinan produksi sepanjang garis AB.
Hasil ini berhubungan dengan persamaan aliran radial. Garis AB pada gambar
tersebut, disebut dengan "Inflow Performance Relationship".
Dalam keadaan yang sebenarnya, grafik IPR hanya linear di atas tekanan
titik gelembung. Bila Ps lebih kecil dari tekanan titik gelembung (aliran dua fasa),
maka bentuk grafiknya akan melengkung, seperti yang terlihat pada Gambar
2.35. Dalam hal ini harga PI tidak konstan tetapi berubah secara kontinu untuk
setiap Pwf, sehingga persamaan untuk PI yang tepat adalah :
PI

dq
...........(2-96)
dPwf

dimana :
dq

= perubahan laju produksi, bbl/hari

dPwf

= perubahan tekanan aliran dasar sumur, psi

Tanda negatif dalam Persamaan (2-96) menunjukkan bahwa Indeks Produktivitas


(PI) akan berkurang dengan bertambahnya laju produksi.

Gambar 2.35.
Kurva IPR Dua Fasa5)

Untuk membuat grafik IPR, maka diperlukan data-data yang sesuai dengan
definisi PI, seperti :

laju produksi minyak (qo)

tekanan aliran dasar sumur (Pwf)

tekanan statik (Ps)


Ketiga data tersebut diperoleh dari test produksi dan test tekanan yang

dilakukan pada sumur yang bersangkutan. Berdasarkan ketiga data tersebut, maka
dapat dibuat grafik IPR-nya sesuai dengan kondisi alirannya, yaitu fluida satu fasa
atau dua fasa.
Bentuk IPR pada Formasi yang Berlapis-lapis
Dalam kenyataannya, formasi produktif suatu lapangan tidak hanya terdiri
dari suatu lapisan, melainkan berlapis-lapis dengan permeabilitas yang berlainan
satu sama lain. Adanya perlapisan dengan permeabilitas yang berbeda ini sangat
mempengaruhi bentuk IPR-nya.

Gambar 2.36.
Perlapisan Ideal dari Suatu Formasi 16)

Untuk mengetahui gambaran pengaruh perlapisan terhadap IPR, ikuti suatu


contoh pada Gambar 2.36, dimana pada gambar tersebut terdapat tiga zona
produktif dengan permeabilitasnya masing-masing adalah : 10 mD, 100 mD dan 1
mD. Dalam hal ini dianggap bahwa tidak ada aliran vertikal pada zona tersebut,
kecuali pada sumur-sumurnya sendiri (tidak ada cross flow). Produksi pada
formasi semacam ini terutama akan didapat dari zona dengan permeabilitas 100
mD, sehingga mengakibatkan tekanan statik zona-zona yang lain, dan zona 1mD
akan mempunyai tekanan statik yang tertinggi.
Misalkan tekanan pada zona 100 mD telah mencapai 1000 psig,
pada zona 10 mD mencapai 1200 psig dan pada zone 1 mD mencapai 1500 psig,
kemudian sumur ditest pada bermacam-macam laju produksi untuk menentukan
IPR-nya misalkan masing-masing IPR dari ketiga zona tersebut seperti yang
terlihat pada Gambar 2.37., maka kurva IPR seluruh zona adalah sama dengan
jumlah ketiga kurva tersebut atau yang biasa disebut IPR paduan (komposite IPR).

Gambar 2.37.
IPR Paduan untuk Formasi yang Berlapis-lapis 16)

Karena pada umumnya suatu formasi adalah berlapis-lapis dan pada waktu
di produksikan mengalami penurunan tekanan yang tidak sama antara zonazonanya, maka IPR-nya juga merupakan IPR paduan , seperti yang terlihat pada
Gambar 2.38. Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa ada perbaikan PI
dengan meningkatnya laju produksi pada laju yang lebih rendah, tetapi
meningkatnya laju produksi tersebut pada laju yang lebih tinggi akan
mengakibatkan turunnya PI.

Gambar 2.38.
Bentuk Ideal IPR Paduan 16)