Anda di halaman 1dari 27

TUGAS BLOK 29-EYE EMERGENCY

1. GLAUKOMA AKUT
Glaukoma akut merupakan presentasi klinis dari glaukoma sudut tertutup. Kondisi ini merupakan
keadaan gawat darurat.1
Etiologi2
Glaukoma sudut tertutup akut ditandai dengan tekanan intraokular (TIO) yang meningkat secara
mendadak, dan terjadi pada usia lebih dari 40 tahun dengan sudut bilik mata sempit. Cairan mata
(aqueous humor) yang berada di belakang iris tidak dapat mengalir melalui pupil sehingga mendorong
iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui sudut bilik mata (mekanisme blokade pupil).
Klasifikasi1
Secara umum glaukoma sudut tertutup dapat dibagi menjadi:
Tersangka sudut tertutup: pada pemeriksaan gonioskopi terlihat kontak iridotrabekular pada 3
kuadran atau lebih. Tekanan intraokular, lapang pandang, dan diskus optik normal.
Sudut tertutup primer: pada pemeriksaan gonioskopi terlihat kontak iridotrabekular pada 3
kuadran atau lebih dengan peningkatan TIO dan/ sinekia posterior-anterior, diskus optik dan
lapang pandang normal.
Glaukoma sudut tertutup primer: pada pemeriksaan gonioskopi terlihat kontak iridotrabekular
pada 3 kuadran atau lebih, peningkatan TIO dengan neuropati optik dan gangguan lapang
pandang.
Riwayat Klinis1
Pada glaukoma primer sudut tertutup akut terdapat nyeri pada mata yang mendapat serangan yang
berlangsung beberapa jam dan hilang setelah tidur sebentar. Melihat pelangi (halo) sekitar lampu dan
keadaan ini merupakan stadium prodromal.
Terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah yang kadang-kadang mengaburkan gejala
daripada serangan glaukoma akut.
Serangan glaukoma akut yang terjadi secara tiba-tiba dengan rasa sakit hebat di mata dan di kepala,
perasaan mual dengan muntah, bradikardia akibat refleks okulokardiak, mata menunjukkan tanda-tanda
kongestif (peradangan) dengan kelopak mata bengkak, mata merah, tekanan bola mata sangat tinggi
yang mengakibatkan pupil lebar, oval vertikal, tidak reaktif, kornea suram dan edem, iris sembab
meradang, papil saraf optikal hiperemis, edem dan lapang pandangan menciut berat, Iris bengkak
dengan atrofi dan sinekia posterior dan lensa menjadi keruh (katarak Vogt-katarak Pungtata disiminata
subkapsular anterior).
Pemeriksaan Mata
Pemeriksaan fisik mata lengkap
Pemeriksaan segmen anterior
o Palpebra: baik posisi, kulit, bulu mata, lacrimal/eversi punctum.
o Konjungtiva: tarsal dan bulbi.
o Kornea (jernih, edem, sikatriks, foreign body)
o Pupil: ukuran, bentuk, erosi, laserasi,arcus senilis(isokor)
o Refleks cahaya: langsung dan tidak langsung.
o Camera oculi anterior: dangkal atau dalam.
o Lensa: shadow test
1

Pemeriksaan visus
Pemeriksaan visus jarak jauh: meminta pasien duduk pada jarak 5 atau 6 meter dari Snellen chart, lalu
meminta pasien untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan, pemeriksaan dimulai dari
sebelah kanan, meminta pasien untuk melihat ke depan tanpa melirik, meminta pasien menyebutkan
angka/huruf/symbol yang ditunjuk dari yang besar sampai yang terkecil, menyebutkan hasil
pemeriksaan: normal (6/6 atau 20/20), bila visus pasien tidak normal maka dilakukan pinhole untuk
melihat adanya perbaikan visus (kelainan pada media refraksi atau tidak (kelainan organik)),
menyebutkan hasil pemeriksaan dengan pinhole.
Pemeriksaan visus jarak jauh buruk. Pasien tidak dapat melihat Snellen chart (visus 6/60) atau tidak
dapat melihat huruf terbesar di Snellen chart, maka minta pasien untuk duduk pada jarak 5 atau 6 meter
dari Snellen chart, kemudian meminta pasien untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan,
pemeriksaan dimulai dari mata kanan, minta pasien untuk melihat ke depan tanpa melihat.
o Finger counting test: meminta pasien menyebutkan jari yang ditunjuk pemeriksa dengan latar
belakang putih (kertas, baju) dengan jarak 1 meter kemudian mundur 2-5 meter. Catat hasil
pemeriksaan 1/60-5/60)
o Hand movement test: jika pasien tidak dapat melihat finger counting pada jarak 1 meter,
periksalah hand movement dengan melambaikan tangan ke kiri ke kanan atau ke atas ke
bawah dengan jarak 1 meter. Catat hasil pemeriksaan (visus 1/300).
o Light projection test: apabila tidak dapat melihat lambaian tangan, periksalah dengan
memberikan sinar lampu (senter/penlight) dari superior, inferior, nasal dan temporal. Pasien
diminta untuk menyebutkan arah sinar tersebut. Hasil pemeriksaan visus 1/~.
Biasanya pada glaukoma akut: didapatkan penurunan tajam penglihatan mendadak (biasanya visus
<6/60).
Pemeriksaan segmen posterior (funduskopi)
Pemeriksaan dilakukan di ruangan gelap, aturlah oftalmoskop sehingga ada dalam posisi normal angka
0, sesuaikan ukuran lensa oftalmoskop kurang lebih sama dengan keadaan refraksi pasien (kalau
diketahui), peganglah oftalmoskop dengan cara menggenggam bagian pegangannya, sedangkan jari
telunjuk berada panel pengatur ukuran lensa, pemeriksaan memegang oftalmoskop dengan tangan
kanan, dan melihat melalui oftalmoskop dengan mata kanan demikian sebaliknya, pasien duduk
tenang, pandangan difiksasi pada 1 titik jauh, tempatkan oftalmoskop mulai jarak 15-30 cm di depan
mata penderita. Cahaya oftalmoskop diarahkan ke dalam pupil pasien sambil pemeriksa terus
mendekat ke arah pasien.
Penilaian pada refleks fundus: positif kanan dan kiri (biasanya dimulai selalu dari mata kanan, kecuali
bila di mata kanan tidak ditemukan refleks funduskopi. Apabila ditemukan salah satu refleks lebih buruk,
maka pemeriksaan funduskopi dimulai dari mata yang refleks fundusnya lebih baik.
Nilai vitreus (jernih/tidak), papil (warna, bentuk, batas jelas/tidak), C/D ratio, ratio arteri dengan vena,
macula lutea, retina (eksudat, perdarahan, ablation). Laporkan hasil pemeriksaan, dan ulangi pada
mata kontralateral.
Pemeriksaan gerak bola mata
Pemeriksa berdiri 33 cm di depan pasien, cek pergerakan bola mata ke 8 arah, laporkan hasilnya dan
ditulis dalam bagan seperti mata angin.
Pemeriksaan tekanan bola mata
Pemeriksaan tekanan bola mata dilakukan dengan alat yang dinamakan tonometer. Pemeriksaan
tekanan yang dilakukan dengan tonometer pada bola mata dinamakan tonometri.
2

Tonometri Schiotz merupakan alat yang praktis sederhana. Pengukuran tekanan bola mata dinilai
secara tidak langsung yaitu dengan teknik melihat daya tekan alat pada kornea karena itu dinamakan
juga tonometri indentasi Schiotz. Dengan tonometri Schiotz dilakukan indentasi (penekanan) terhadap
permukaan kornea. Bila suatu beban tertentu memberikan kecekungan pada kornea maka akan terlihat
perubahan pada skala Schiotz. Makin rendah tekanan bola mata makin mudah bola mata ditekan, yang
pada skala akan terlihat angka skala yang lebih besar. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Angka skala
yang ditunjuk dapat dilihat nilainya di dalam tabel untuk mengetahui keasaman tekanan dalam mmHg,
Transformasi pembacaan skala tonometer ke dalam tabel akan menunjukkan tekanan bola mata dalam
mmHg. Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien ditidurkan dengan posisi horizontal dan mata ditetesi
dengan obat anestesi topical atau pantokain 0,5%. Tonometer Schiotz kemudian diletakkan di atas
permukaan kornea, sedang mata yang lainnya berfiksasi pada satu titik di langit-langit kamar periksa.
Selain itu juga dapat dilakukan dengan tonometri digital. Tonometri digital dilakukan dengan pasien
diminta menutup mata dan melihat ke bawah. Pemeriksa meraba rasakan/palpasi bagian sklera atas
dengan benar, pemeriksa membandingkannya dengan penekanan skleranya sendiri. 2
Peningkatan TIO, terkadang 50 mmHg.1

Pemeriksaan gonioskopi: mata kontralateral menunjukkan sudut bilik mata depan dangkal. 1

Terdapat faktor pencetus: menonton televisi di ruang gelap, membaca, midriatikum, stress emosional,
dan terkadang obat sistemik agonis parasimpatik atau simpatik dan topiramat. 1
Jika pasien berusia >/=40 tahun sebaiknya juga diperiksa visus jarak dekat dengan meminta pasien
untuk menutup sebelah mata dengan telapak tangan. Pemeriksaan dimulai dari mata kanan, pasien
diminta untuk membaca tulisan pada Jaeger Chart dengan jarak 33 cm, pemeriksa menilai hasil
pembacaan pasien.
Diagnosis1
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik mata.
Diagnosis Banding1
Iritis akut: mengakibatkan fotofobia yang lebih nyata, tanpa peningkatan TIO, disertai kornea
yang tidak edem.
Konjungtivitis akut: nyeri tidak ada atau minimal, terjadi bilateral, terdapat sekret, dari mata dan
konjungtiva yang meradang. TIO normal, refleks pupil normal, dan kornea jernih.
Tata laksana
Tata laksana awal:1
Pasien diposisikan pada posisi supinasi untuk membiarkan lensa tertarik oleh gravitasi menuju
posterior.
Berikan asetazolamid 500 mg IV apabila TIO 50 mmHg atau oral (bukan kerja lambat) apabila
TIO < 50 mmHg. Apabila diberikan IV, dapat ditambahkan dosis oral 500 mg.
Alternarif obat hiperosmolar lain: mannitol 20 % 1-2 g/kgBB, gliserol oral 50% 1-1,5 g/kgBB
(kontraindikasi: Diabetes Mellitus), atau isosorbid oral 1,5-2,5 g/kgBB.
Berikan apraclonidine 1%, timolol 0,5%, prednisolon 1%, deksametason 0,1% pada mata yang
mengalami serangan.
Pilokarpin 2-4% satu tetes diberikan pada mata yang mengalami srangan, diulangi setelah
setengah jam dan satu tetes pilokarpin 1% sebagai profilaksis pada mata kontralateral.
Analgetik dan antiemetik

Tata laksana lanjutan1


Pilokarpin 2% 4 kali/hari pada mata yang mengalami serangan dan 1% 4 kali/hari pada mata
kontralateral.
Steroid topikal (prednisolone 1% atau deksametason 0,1%) 4 kali/hari apabila mata mengalami
peradangan akut.
Timolol 0,5% 2 kali/hari, apraclonidine 1% 3 kali/hari, dan/atau asetazolamid 250 mg 4 kali/hari
mungkin dibutuhkan sesuai respons terapi.
Setelah terapi berhasil, kornea jernih kembali, bilik mata depan tenang, dan TIO normal, iridotomi
bilateral dapat dikerjakan oleh dokter spesialis mata. Manajemen selanjutnya termasuk observasi,
terapi untuk peningkatan TIO yang dapat dipertahankan, iridoplasti atau pilokarpin jangka panjang dosis
rentah. Pertimbangkan operasi katarak dan trabekulektomi. 1
2. ULKUS KORNEA
Ulkus kornea didefinisikan sebagai diskontinuitas jaringan kornea akibat terjadinya defek epitel. 1
Klasifikasi
Berdasarkan lokasinya, ulkus kornea dapat dibagi menjadi: 1
Sentral
Ulkus kornea sentral hampir selalu diakibatkan oleh infeksi. Lokasi lesi terletak di sentral, jauh
dari limbus yang kaya akan pembuluh darah. Sikatriks yang terbentuk akibat ulkus kornea
merupakan salah satu penyebab utama kebutaan dan penurunan penglihatan di berbagai
belahan dunia.
Marginal
Etiologi
Ulkus kornea dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau jamur. 1
Riwayat klinis1
Mata merah berair, dan nyeri hebat
Sensasi benda asing
Terdapat sekret
Kelopak mata bengkak
Nyeri apabila melihat cahaya terang
Terdapat infiltrate tergantung dari kedalaman lesi dan etiologi keratitis
Gejala spesifik dapat menunjukkan etiologi dari agen spesifik
Diagnosis1
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik mata, dan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik mata dan pemeriksaan penunjang yang dapat membantu diagnosis adalah:
Pemeriksaan tajam penglihatan dengan menggunakan snellen chart dan pinhole. Bisa menurun
sesuai dengan lokasi ulkus dan perjalanan penyakit.
Pemeriksaan TIO dengan tonometri non kontak atau dengan palpasi. Tonometri kontak
merupakan kontraindikasi pada keadaan ini.
Pemeriksaan slit lamp untuk melihat adanya hipopion, infiltrat, dan segmen anterior.
Pemeriksaan sensibilitas kornea, fluorosens, dan tes fistula
Penilaian tingkat keparahan ulkus; apakah sudah melewati 1/3 stroma anterior, nilai tanda-tanda
endoftalmitis, nilai kemungkinan kejadian perforasi.
4

Pemeriksaan oftalmoskop untuk menilai bagian posterior mata.


Pemeriksaan gram, mikroskopis langsung dengan bantuan KOH 10%, dan biakan dengan
specimen kerokan kornea.

Diagnosis Banding
Streptococcus pneumonia

Bakteri

Jamur

Virus

Acanthamoeba

Ulkus
berwarna
kelabu,
berbatas tegas, dan menyebar
menuju sentral. Ulkus pada lesi
awal memberikan gambaran
sembuh sementara batas yang
lain menunjukkan lesi aktif.
Sering ditemukan hipopion.
Pseudomonas aeruginosa
Lesi awal berwarna kelabu atau
kekuningan, disertai nyeri
hebat. Lesi menyebar ke segala
arah. Lesi tumbuh cepat karena
enzim proteolitik patogen, dan
dapat mengakibatkan perforasi
kornea serta infeksi intaokular
berat. Eksudat berwarna hijau
kebiruan.
Staphylococcus
aureus,
Staphylococcus Seringkali ditemukan pada mata
epidermidis, dan Streptococcus alfa-hemolitik
dengan terapi steroid topikal.
Ulkus bersifat superfisial.
Ulkus indolen dengan infiltrat
kelabu dan batas ireguler,
memiliki lesi satelit, ulserasi
superfisial, dan peradangan
bola mata yang nyata.
Herpes Simpleks
Seringkali unilateral, diawali
dengan iritasi, fotofobia, dan
mata berair, Terkadang tidak
terasa nyeri. Ulkus membentuk
lesi dendritic meluas dengan
batas yang seperti bulu disertai
sensasi kornea yang menurun.
Ulkus perifer dapat ditemui di
kornea.
Varicella zoster
Lesi
amorfik
dengan
pseudodendrit linear, opasitas
stroma dan infiltrasi selular
ringan. Penyakit stroma dapat
mengakibatkan nekrosis dan
vaskularisasi.
Gejala awalnya adalah nyeri di
5

luar proporsi dari temuan klinis,


mata merah, dan fotofobia. Ciri
khasnya adalah ulkus indolen,
cincin stroma, dan infiltrat
perineural.
Endoftalmitis
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, akibat infeksi setelah tauma atau bedah,
atau endogen akibat sepsis.2 Berbentuk peradangan supuratif intraokular yang melibatkan segmen
anterior dan posterior mata. Sering dihubungkan dengan infeksi bakteri atau jamur. 1
Enndoftalmitis adalah penurunan tajam penglihatan, mata merah, floaters, fotofobia, dan nyeri. 1
Endoftalmitis karena jamur: biasanya masa inkubasi lambat kadang-kadang sampai 14 hari setelah
infeksi dengan gejala mata merah dan sakit. 2
Peradangan yang disebabkan oleh bakteri akan memberikan gambaran klinis rasa sakit yang sangat,
kelopak merah, dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva hemolitik dan merah, kornea keruh,
bilik mata depan keruh, kadang-kadang disertai hipopion. 2
Pada kasus pasca operasi, problem yang serius adalah kehilangan penglihatan yang permanen. Gejala
biasanya tidak terlalu menonjol, tergantung dari kapan terjadinya infeksi, dini (6 minggu atau kurang)
atau lanjut (bulan atau tahunan) setelah operasi. Gejala pada stadium dini adalah penurunan
penglihatan yang dramatis pada mata yang terlibat, sakit pada mata setelah operasi, mata merah dan
pembengkakan kelopak. Gejala pada stadium lanjut biasnya lebih berat pada stadium dini.
Seperti:penglihatan buram, penurunan sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia) dan sakit yang berat
pada mata.1.2
Gejala pada endophthalmitis yang disebabkan trauma tembus biasanya lebih berat termasuk
penurunan visus yang cepat, sakit mata yang lebih hebat, mata merah dan pembengkakan kelopak.
Pada saat infeksi menyebar melalui aliran darah dan masuk ke dalam mata, gejalanya akan timbul
perlahan-lahan/ bertahap dan lebih ringan. Sebagai contoh, pasien mungkin tidak akan mengeluh
penglihatannya turun setelah 5 minggu, biasanya akan terlihat floaters berwarna hitam, semi transparan
yang akan mengganggu penglihatan.1,2
Panoftalmitis2
Panoftalmitis merupakan peradangan seluruh bola mata termasuk sclera dan kapsul tenon sehigga bola
mata merupakan rongga abses. Infeksi ke dalam bola mata dapat melalui peredaran darah (endogen)
atau perforasi bola mata (eksogen), dan akibat tukak kornea perforasi.
Gejala: kemunduran tajam penghlihatan, disertai rasa sakit, mata menonjol, edem kelopak, konjungtiva
kemotik, kornea keruh, bilik mata dengan hipopion, dan refleks putih di dalam fundus.
Uveitis2
Uveitis dibagi menjadi anterior dan posterior. Uveitis anterior adalah peradangan mengenai iris dan
jaringan badan siliar (iridosiklitis) biasanya unilateral dengan onset akut.
Penyebab uveitis anterior akut dibedakan dalam bentuk nongranulomatosa dan granulomatosa akutkronis.
Nongranulomatosa akut memiliki gejala: ada rasa nyeri, fotofobia, penglihatan buram keratik presipitat
kecil, pupil mengecil, sering terjadi kekambuhan.
Granulomatosa akut: tidak nyeri, fotofobia ringan, buram, keratik presipitat besar (mutton fat) benjolan
Koeppe (penimbunan sel pada tepi pupil atau benjolan Busacca (penimbunan sel pada permukaan iris.
Uveitis terjadi mendadak atau akut berupa mata merah, dan sakit, Ataupun datan perlahan dengan
mata merah dan sakit ringan dengan penglihatan turun perlahan-lahan. Uveitis anterior akut memiliki
gejala: mata sakit, merah, fotofobia, penglihatan turun ringan dengan mata berair.
6

Uveitis posterior/koroiditis memiliki gejala: penglihatan buram terutama bila mengenai daerah sentral
makula, bintik terbang (floater), vitreous keruh, mata jarang menjadi merah, tidak sakit, tidak fotofobia,
infiltrat dalam retina dan koroid, edem papil, perdarahan papil, perdarahan retina, dan vascular
sheathing.

Tata laksana1
Tata laksana terbaik sesuai dengan etiologinya. Terapi pertama kali berdasarkan pada hasil
pemeriksaan gram dan KOH 10%. Hasil kultur digunakan sebagai dasar terapi selanjutnya.
Terapi antibiotik lokal:
Terapi empirik: fluorokuinolon (0,3%).
Kokus gram positif: cefuroksim (0,3%), vankomisin (5%).
Batang gram negatif: gentamisin (1,5%), fluorokuinolon (0,3%), atau seftazidim (5%).
Kokus gram negatif: fluorokuinolon (0,3%), seftriakson (5%).
Mycobacterium: amikasin (2%), klaritromisin (1%), atau trimetroprim-sulfametoksazol (1,6%;8%).
Terapi antifungi lokal:
Candida: amfoterisin B 0,15%, natamisin 5%, atau fluconazole 2%.
Kapang: natamisin 5%, amfoterisin B 0,15%, atau miconazole 1%.
Terapi antiviral lokal:
Herpes simpleks: salep asiklovir 3%.
Varicella zoster: asiklovir oral 800 mg/hari selama 7-10 hari.
Ulkus Kornea Marginalis1
Kondisi ini diakibatkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap eksotoksin stafilokokus dan protein dinding
sel disertai dengan endapan kompleks imun kornea perifer. Kondisi ini seringkali tidak berbahaya
namun sangat nyeri.
Manifestasi klinis1
Gejala: sensasi benda asing, lakrimasi, nyeri dan fotofobia.
Tanda:
Sering ditemukan blefaritis kronis marginal.
Berawal sebagai infiltrat linear atau oval marginal subepitel yang terpisah dari limbus oleh zona
yang jernih (disebut lucid interval)
Defek epitel lebih kecil daripada infiltrat.
Penyebaran sirkumferensial dan saling bersatu.
Diagnosis1
Pemeriksaan fisik:
Pemeriksaan tajam penglihatan dengan Snellen chart dan pinhole.
Pemeriksaan TIO dengan cara non-kontak.
Pemeriksaan dengan slit lamp.
Pemeriksaan sensibilitas kornea dan fluorosens.
Pemeriksaan Penunjang1
Perlu dicari kelainan kulit, kardiovaskular, dan sistem pernapasan.
7

Pemeriksaan laboratorium: darah perifer lengkap, hitung jenis, tes fungsi hati, uji fungsi ginjal, uji ANA,
anti dsDNA, faktor rheumatoid.
Diagnosis ulkus kornea marginalis harus ditegakkan lebih dahulu sebelum dimulai terapi kortikosteroid
topikal.1
Diagnosis banding penyakit ini adalah keratitis herpes simpleks, peripheral ulceratif keratitis (PUK), dan
ulkus Mooren. PUK seringkali berhubungan dengan penyakit sistemik lainnya. Herpes simpleks
mengakibatkan ulkus indolen, sementara ulkus marginalis tidak.
3. ENDOFTALMITIS
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, akibat infeksi setelah tauma atau bedah,
atau endogen akibat sepsis.2 Berbentuk peradangan supuratif intraokular yang melibatkan segmen
anterior dan posterior mata. Sering dihubungkan dengan infeksi bakteri atau jamur. 1
Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma tembus
(eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen). 1
Etiologi1
Berdasarkan etiologinya, endoftalmitis terbagi menjadi pasca operasi, pasca trauma, dan endogen.
Pasca operasi dibagi menjadi akut (dalam 6 minggu pasca operasi), dan kronis (di atas 6 minggu pasca
operasi).
Endoftalmitis akut pasca operasi: Staphylococcus aureus koagulase negatif, Streptococcus sp., dan
bakteri gram negatif.
Endoftalmitis kronis pasca operasi: Propionibacterium aknes, Staphylococcus koagulase negatif dan
jamur.
Endoftalmitis endogen: bakteri gram: Streptococcus sp., Staphylococcus aureus, dan Bacillus sp.
Bakteri gram negatif: Neisseria meningitidis.
Gejala klinis
Gejala endoftalmitis adalah penurunan tajam penglihatan, mata merah, floaters, fotofobia, dan nyeri. 1
Endoftalmitis karena jamur: biasanya masa inkubasi lambat kadang-kadang sampai 14 hari setelah
infeksi dengan gejala mata merah dan sakit. 2
Peradangan yang disebabkan oleh bakteri akan memberikan gambaran klinis rasa sakit yang sangat,
kelopak merah, dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva hemolitik dan merah, kornea keruh,
bilik mata depan keruh, kadang-kadang disertai hipopion. 2
Pada kasus pasca operasi, problem yang serius adalah kehilangan penglihatan yang permanen. Gejala
biasanya tidak terlalu menonjol, tergantung dari kapan terjadinya infeksi, dini (6 minggu atau kurang)
atau lanjut (bulan atau tahunan) setelah operasi. Gejala pada stadium dini adalah penurunan
penglihatan yang dramatis pada mata yang terlibat, sakit pada mata setelah operasi, mata merah dan
pembengkakan kelopak. Gejala pada stadium lanjut biasanya lebih berat pada stadium dini.
Seperti:penglihatan buram, penurunan sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia) dan sakit yang berat
pada mata.1
Gejala pada endoftalmitis yang disebabkan trauma tembus biasanya lebih berat termasuk penurunan
visus yang cepat, sakit mata yang lebih hebat, mata merah dan pembengkakan kelopak.
Pada saat infeksi menyebar melalui aliran darah dan masuk ke dalam mata, gejalanya akan timbul
perlahan-lahan/bertahap dan lebih ringan. Sebagai contoh, pasien mungkin tidak akan mengeluh
penglihatannya turun setelah 5 minggu, biasanya akan terlihat floaters berwarna hitam, semi transparan
yang akan mengganggu penglihatan.2
Pada pemeriksaan mata

Pemeriksaan segmen anterior: ditemukan pembengkakan dan spasme kelopak mata, konjungtiva
hiperemis (injeksi konjungtiva dan silier), khemosis, dan edem kornea, bilik mata depan: sel (+), flare
(+), fibrin dan hipopion. Pada segmen posterior dapat ditemukan: tanda dini berupa Roths spot (bercak
bulat, putih pada retina yang dikelilingi perdarahan), papilitis, vitreal mass dan debris, vitreitis.1
Diagnosis1
Anamnesis
Riwayat operasi, dan trauma sebelumnya serta sistemik yang mendasari.
Pemeriksaan fisik mata
Pemeriksaan segmen anterior dan posterior.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan yang penting adalah biakan kuman dari vitreus dan/atau aqueous humor untuk mencari
etiologi infeksi dan sebagai panduan tata laksana antimikroba yang tepat.
Diagnosis banding
Ulkus kornealihat keterangan sebelumnya.
Panoftalmitislihat keterangan sebelumnya.
Uveitislihat keterangan sebelumnya.
Tata laksana3
Endoftalmitis akibat pasca operasi
Pars plana vitrektomi atau aspirasi vitreous mungkin akan dianjurkan oleh ophthalmogolist yang
diikuti dengan injeksi antibiotik intravitreal (misalnya :vankomisin, amikasin, ceftazidine).
Dipertimbangkan antibotik sistemik atau steroid intravitreal.
Pasien dengan endoftalmitis pasca operasi mungkin tidak dianjurkan untuk dirawat di rumah
sakit. Tetapi keputusan tersebut sangat tergantung dari ophthalmologist.
Endoftalmitis akibat trauma3
Sarankan pasien untuk dirawat di rumah sakit
Tangani ruptur bola mata (bila ada).
Antibiotik sistemik termasuk vankomisin, aminoglikosida atau cefalosporin generasi ke-3,
pertimbangkan klindamisin bila ditemukan Bacillus spasies.
Antibotik topikal.
Antibiotik intravitreal mungkin diperlukan.
Pertimbangkan pars plana vitrektomi.
Imunisasi tetanus bila sebelumnya belum pernah diimunisasi.
Siklopegik mungkin diperlukan.
Endoftalmitis akibat bakteri endogen3
Sarankan pasien untuk dirawat di rumah sakit.
Antibiotik spektrum luas intravena termasuk vankomisin, aminoglikosida, atau sefalosporin
generasi ke-3. pertimbangkan penggunaan clindamycin secara intravena jika ditemukan infeksi
Bacillus spesies.
Antibiotik periokular.
Antibiotik intravitreal.
Siklopegik (misalnya: atropin).

Steroid topikal mungkin dapat diberikan. Atau pemberian steroid injeksi langsung ke mata untuk
mengurangi inflamasi dan mempercepat penyembuhan.

Vitrektomi mungkin diperlukan pada organisme yang virulen, atau pada infeksi yang parah.

4. TRAUMA TEMBUS BOLA MATA


Trauma tembus menyebabkan gangguan pada lapisan mata terluar tanpa menganggu kontinuitas
anatomi keseluruhan mata, tidak sampai terjadi prolapsus dari isi bola mata. Namun demikian trauma
ini menjadi hal yang sangat serius dan mengancam fungsi penglihatan yang memakan waktu serta
biaya yang mahal dan prognosis kebanyakan kasus adalah buruk.2
Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva saja. Bila robekan konjungtiva ini atau tidak
melebihi 1 cm, maka tidak perlu dilakukan penjahitan. Bila robekan konjungtiva lebih dari 1 cm
diperlukan penjahitan untuk mencegah terjadinya granuloma. Pada setiap robekan konjungtiva perlu
diperhatikan terdapatnya robekan sklera bersama-sama dengan robekan konjungtiva tersebut. 2
Bila trauma disebabkan oleh benda tajam atau benda asing masuk ke dalam bola mata maka akan
terlihat tanda-tanda klinis bola mata tembus.
Tanda klinis bola mata tembus:2
Tajam penglihatan yang menurun.
Tekanan bola mata rendah.
Pada pemeriksaan fisik mata segmen anterior bilik mata dangkal, letak dan bentuk pupil berubah,
terlihat adanya ruptur pada kornea atau sklera.
Terdapat jaringan yang prolapse seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca atau retina.
Konjungtiva kemotis.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan segmen anterior, posterior.
Pemeriksan visus
Pemeriksaan tekanan bola mata
Diagnosis
Untuk mendiagnosis suatu trauma tembus pada mata dapat dilakukan tahapan sebagai berikut, dimulai
dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. 4
Anamnesis4
Diagnosis dari trauma mungkin dapat terlihat nyata secara klinis dari pemeriksaan fisik mata yang biasa
dilakukan, akan tetapi tetap diperlukan anamnesis untuk mencari tahu riwayat berhubungan dengan
kejadian trauma tersebut untuk mengetahui predisposisi bagaimana terjadinya penetrasi pada mata.
Faktor yang perlu ditanyakan seputar objek yang menembus mata antara lain, materi logam, proyektil
berkecepatan tinggi, tubrukan berenergi tinggi pada bola mata, benda tajam, serta rendahnya proteksi
pada mata.
Pemeriksaan fisik4
Pemeriksaan umum mata: sesegera mungkin, pemeriksa dapat menentukan akuisi visual, yang menjadi
prediktor reliabel untuk visual akhir pada mata yang mengalami trauma dan melakukan pemeriksaan
pada pupil untuk mendeteksi adanya defek pada pupil aferen.Pemeriksaan akuisi visual dan pupil
dilakukan pada kedua mata. Secara khusus akuisi visual awal (kurang dari 20/200), adanya hifema,
10

serta pupil dan uvea yang abnormal adalah indikator dari trauma tembus pada mata yang harus
sesegera mungkin mendapat penanganan dan respon yang cepat oleh tenaga medis.
Pemeriksaan penunjang4
CT scan, Plain-film x-rays ,CBC, differential, platelets ,electrolytes, blood urea nitrogen, creatinine, test
for HIV estetue, hepatitis, MRI (especially in cases of suspected organic foreign objects in the eye or or
bit; this should never be used if a metallic foreign object is suspected), prothrombin time, partial
thromboplastin time, bleeding time.

Diagnosis Banding
Trauma tumpul1,2
Trauma yang diakibatkan oleh benda tumpul dapat mengakibatkan:
1. Hematoma palpebral: sering diakibatkan oleh tinjuan atau benturan benda tumpul. Perlu diteliti
apakah melibatkan bagian mata yang lebih dalam atau tidak. Hematom hanya terbentuk segera
setelah terjadinya trauma. Sebagai terapi dapat segera diberikan kompres dingin untuk
menghentikan perdarahan serta menghilangkan rasa sakit. Apabila dalam 24 jam perdarahan
tidak berkurang dan terdapat gambaran brill hematom (darah masuk ke rongga orbita hingga
melewati batas septum orbita kelopak mata), maka perlu dicurigai pecah arteri oftalmika yang
diakibatkan oleh fraktur basis kranii.
2. Edem konjungtiva.Gejala palpebra tidak bisa menutup jika sudah terjadi kemotik konjungtiva.
3. Perdarahan subkonjungtiva.
4. Edem kornea: terjadi akibat trauma tumpul dengan intensitas keras, menyebabkan edem kornea
hingga ruptur membran descement. Penglihatan akan menjadi kabur, rasa sakit, silau dan
terlihatnya pelangi di sekitar sumber cahaya yang dilihat.
5. Dislokasi lensa: dalam bentuk subluksasi lensa (putusnya zonula zinii sebagian yang terjadi
spontan pasca trauma, gambaran iridodenesis, dan miopi) dengan gejala penglihatan berkurang,
dan luksasi lensa (putusnya seluruh zonula zinii yang dibagi menjadi luksasi lensa ke anterior;
gejala: penglihatan turun mendadak, disertai rasa sakit yang sangat, muntah, mata merah
dengan blefarospasme dan posterior; gejala: mengeluh adanya skotoma pada lapang
pandangnya).
6. Iridoplegia: Kelumpuhan otot sfingter pupil sehingga didapatkan pupil midriasis.Pasien akan
mengeluh susah untuk melihat dekat (gangguan akomodasi), silau. Ini berlangsung 2-3 minggu
setelah trauma tumpul terjadi.
7. Iridosiklitis: pada trauma tumpul yang terjadi melibatkan reaksi jaringan uvea. Tajam penglihatan
menurun disertai mata merah (akibat adanya sel-sel radang pada bilik mata depan).
8. Hifema: darah yang terdapat dalam bilik mata depan yang diakibatkan robeknya pembuluh darah
iris atau badan siliar. Trauma ini selalu dikaitkan trauma akibat bola tenis. Pasien akan mengeluh
sakit, epifora, dan blefarospasme. Pasien sebaiknya dirawat karena dapat timbul perdarahan
ulang alam 5 hari pasca trauma. Pengobatan dengan melakukan elevasi kepala 30 o, siklopegik,
atau midriatikum untuk mengurangi nyeri dan risiko terjadinya sinekia posterior, kortikosteroid
topikal, terapi anti fibrinolitik oral (asam traneksamat), dan anti koagulan. Biasanya hifema akan
hilang sempurna tetapi dapat pula dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan darah atau nanah
dari bilik mata depan (parasentensis). Apabila terjadi hifema spontan maka dipikirkan penyakit
penyerta seperti leukemia dan retinoblastoma.
Trauma pada bola mata menurut Birmingham Eye Trauma Terminology (BETT) 1
11

Terminologi
Dinding bola mata
Trauma tertutup bola mata
Trauma terbuka bola mata
Kontusio
Laserasi lamellar

Ruptur

Laserasi

Penetrating injury
Perforating injury

Definisi
Sklera dan kornea
Tidak didapatkan luka full
thickness dari dinding bola mata
Didapatkan luka full thickness
dari dinding bola mata
Tidak terdapat luka dinding bola
mata
Luka partial thickness dari
dinding bola mata
Luka full thickness dari dinding
bola mata akibat benda tumpul
yang ukurannya besar

Deskripsi

Akibat peningkatan TIO yang


cepat mengakibatkan dinding
bola mata rupture pada titik-titik
terlemah
Luka full thickness dari bola Luka
diakibatkan
oleh
mata yang disebabkan benda mekanisme
outside
in
tajam
mechanism sering ditemukan
prolaps jaringan
Didapatkan luka masuk
Jika didapatkan lebih dari satu
luka, masing-masing disebabkan
oleh benda yang berbeda
Didapatkan luka masuk dan luka Kedua luka ditimbulkan oleh
keluar
sebab yang sama

Tata laksana1,2
Bila terlihat salah satu tanda di atas atau dicurigai adanya perforasi bola mata maka secepatnya
diberikan antibiotik topikal dan mata ditutup segera dikirim ke dokter mata untuk dilakukan
pembedahan.
Pada pasien dengan dengan luka tembus bola mata selamanya diberikan antibiotika sistemik atau
intravena dan pasien dipuasakan untuk tindakan pembedahan. Pasien juga diberikan anti tetanus
profilaksis, analgetika, dan kalau perlu penenang. Sebelum dirujuk mata tidak diberi salep, karena salep
dapat masuk ke dalam mata. Pasien tidak boleh diberi steroid lokal, dan beban yang diberikan pada
mata tidak menekan bola mata.
Pada setiap terlihat kemungkinan trauma perforasi sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang
masuk ke dalam mata dengan membuat foto.
5. TRAUMA KIMIA (ASAM DAN BASA)
Trauma yang diakibatkan oleh bahan kimia dapat menyebabkan kelainan pada mata. Terutama bahan
kimia yang berbahaya yang biasa terdapat pada kehidupan sehari-hari. Pengaruh bahan kimia sangat
bergantung pada pH, kecepatan dan jumlah bahan kimia yang mengenai mata. 2
Trauma basa biasanya disebabkan oleh cairan pembersih rumah, KOH, magnesium hidroksida, dan
kapur.
Sedangkan trauma asam biasanya disebabkan karena sulfur, hydrofluoric acetic (CH 3COOH), krom
(Cr2O3),dan HCl.1
12

Terdapat derajat klasifikasi trauma kimia mata 1


Derajat 1: defek epitel kornea tanpa iskemi limbus
Derajat 2: defek epitel kornea dengan kekeruhan trauma dan iskemik kurang dari 1/3 limbus.
Derajat 3: defek epitel kornea total dan kekeruhan stroma dan iskemi yang melibatkan 1/3-1/2 limbus.
Derajat 4: kekeruhan kornea total iskemi 1/2 limbus.
Bahan basa menyebabkan kerusakan kolagen dan terjadi proses saponifikasi atau persabunan yang
disertai dengan hidrasi. Bahan basa dapat menembus kornea, bilik mata depan dalam waktu 7 detik
dan sampai pada jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran kolagen kornea. Bahan
kimia alkali bersifat koagulasi sel. Basa terdisosiasi menjadi ion hidroksil dan kation di permukaan bola
mata. Ion hidroksil membuat reaksi saponifikasi pada membran sel asam lemak, sedangkan kation
berinteraksi dengan kolagen stroma dan glikosaminoglikan. Jaringan yang rusak ini menstimulasi
respon inflamasi, yang merangsang pelepasan enzim proteolitik, sehingga memperberat kerusakan
jaringan. Terbentuknya kolagenase akan menambah kerusakan kolagen kornea.Hidrasi kolagen
menyebabkan distorsi dan pemendekan fibril sehingga terjadi perubahan pada jalinan trabekulum yang
selanjutnya dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular. Mediator inflamasi yang dikeluarkan
pada proses ini merangsang pelepasan prostaglandin yang juga dapat menyebabkan peningkatan
tekanan intraokular. Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat yang sangat gawat pada
mata. 1,2,5
Menurut klasifikasi Troft maka trauma basa dibagi menjadi: 1,2,5
Derajat 1: hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata.
Derajat 2: hiperemi konjungtiva disertai dengan hilangnya epitel kornea.
Derajat 3: hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea.
Derajat 4: konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50%.
Sedangkan pada bahan asam langsung terjadi pengendapan dan penggumpalan protein permukaan
yang sangat mempengaruhi prognosis. Biasanya akan terjadi kerusakan hanya pada bagian superfisial
saja. Prosesnya adalah asam akan terdisosiasi menjadi ion-ion Hidrogen dan anion di kornea. Molekul
hidrogen merusak permukaan bola mata dengan merubah pH, sedangkan anion menyebabkan
denaturasi, presipitasi dan koagulasi protein pada epitel-epitel kornea yang terpajan. Presipitasi dan
koagulasi permukaan bola mata disebut nekrosis koagulatif. Koagulasi protein mencegah terjadinya
penetrasi asam lebih dalam,sehingga bila konsentrasi tidak tinggi tidak akan bersifat destruktif seperti
trauma alkali.5
Asam hidrofluorat adalah pengecualian dalam kasus trauma akibat asam. Asam hidrofluorat adalah
asam lemah yang dapat melewati membran sel dengan cepat, dalam keadaan tetap tidak terionisasi,
sementara ion fluoride berpenetrasi lebih baik ke stroma dibanding asam lainnya sehingga
menyebabkan kerusakan yang lebih parah di segmen anterior. Karena itu asam hidrofluorat bekerja
seperti basa, menyebabkan nekrosis liquefactive. Ion fluoride yang dilepaskan ke dalam sel dapat
menginhibisi enzim glikolitik dan dapat bergabung dengan kalsium dan magnesium, membentuk
kompleks tidak larut. Nyeri lokal yang hebat diduga sebagai akibat dari kegagalan imobilisasi kalsium,
yang kemudian mendorong stimulasi saraf oleh perpindahan potassium.5
Komplikasi paling serius dari trauma asam adalah jaringan parut konjungtiva dan kornea, vaskularisasi
kornea, glaukoma dan uveitis.Biasanya trauma akibat asam akan normal kembali, sehingga tajam
penglihatan tidak banyak terganggu.2
Diagnosis dan gejala klinis

13

Diagnosis trauma kimia pada mata lebih sering didasarkan pada anamnesis dibandingkan atas dasar
tanda dan gejala. Pasien biasanya mengeluhkan nyeri dengan derajat yang bervariasi, fotofobia,
penurunan penglihatan serta adanya halo di sekitar cahaya. Umumnya pasien datang dengan keluhan
adanya riwayat terpajan cairan atau gas kimia pada mata. Keluhan pasien biasanya nyeri setelah
terpajan, rasa mengganjal di mata, pandangan kabur, fotofobia, mata merah dan rasa terbakar. Jenis
bahan sebaiknya digali, misalnya dengan menunjukkan botol bahan kimia, hal ini dapat membantu
menentukan jenis bahan kimia yang mengenai mata. Waktu dan durasi dari pajanan, gejala yang timbul
segera setelah pajanan, serta penatalaksanaan yang telah diberikan di tempat kejadian juga
merupakan anamnesis yang dapat membantu dalam diagnosis.2
Pemeriksaan fisik5,6
Pemeriksaan fisik yang cermat harus ditunda setelah dilakukan irigasi yang banyak pada mata yang
terkena dan pH mata telah netral. Setelah dilakukan irigasi, dilakukan pemeriksaan dengan seksama
terutama melihat kejernihan dan integritas kornea, iskemia limbus dan tekanan intraokular.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pemberian anestesi topikal.
Tanda-tanda yang dapat ditemui pada pemeriksaan fisik dan oftalmologi adala :

Defek epitel kornea, dapat ringan berupa keratitis pungtata sampai kerusakan seluruh epitel.
Kerusakan semua epitel kornea dapat tidak meng-uptake fluoresin secepat abrasi kornea
sehingga dapat tidak teridentifikasi.

Kekeruhan kornea yang dapat bervariasi dari kornea jernih sampai opasifikasi total sehingga
menutupi gambaran bilik mata depan.

Perforasi kornea. Sangat jarang terjadi, biasa pada trauma berat yang penyembuhannya tidak
baik.

Reaksi inflamasi bilik mata depan, dalam bentuk flare dan cells. Temuan ini biasa terjadi pada
trauma basa dan berhubungan dengan penetrasi yang lebih dalam.

Peningkatan tekanan intraokular


Kerusakan/jaringan parut pada adneksa. Pada kelopak mata hal ini menyebabkan kesulitan
menutup mata sehingga meng-exspose permukaan bola yang telah terkena trauma.

Inflamasi konjungtiva.

Iskemia perilimbus

Penurunan tajam penglihatan. Terjadi karena kerusakan epitel, kekeruhan kornea, banyaknya
air mata.

Pada trauma derajat ringan sampai sedang biasanya yang dapat ditemukan berupa kemosis, edema
pada kelopak mata, luka bakar derajat satu pada kulit sekitar, serta adanya sel dan flare pada bilik mata
depan. Pada kornea dapat ditemukan keratitis punktata sampai erosi epitel kornea dengan kekeruhan
pada stroma. Sedangkan pada derajat berat mata tidak merah, melainkan putih karena terjadinya
iskemia pada pembuluh darah konjungtiva. Kemosis lebih jelas, dengan derajat luka bakar yang lebih
berat pada kulit sekitar mata, serta opasitas pada kornea.5
14

Jadi diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis dan pemeriksaan fisik.
Komplikasi
Dapat menyebabkan glaukoma sekunder, simblefaron, dan katarak. 1
Tata laksana
Penatalaksanaan awal adalah irigasi secepatnya dengan air mengalir atau cairan isotonik (normal
saline atau ringer laktat) dianjurkan selama 15-30 menit sebelumnya, kemudian diberikan anestesi
topikal. Dilakukan pengecekan pH berulang sampai pH mencapai 7,3-7,7. Perlu dilakukan eversi
palpebra dan irigasi bagian forniks untuk membersihkan benda asing dan jaringan nekrotik. 1
Pemberian steroid topikal, anti glaukoma dan sikoplegik diindikasikan untuk 2 minggu pertama namun
setelahnya steroid harus dihindari karena dapat menghambat reepitelisasi. 1
Terapi medikamentosa pada trauma kimia 1
Obat
Dosis
Kortikosteroid topikal
Tiap 1-4 jam
Sodium askorbat topikal
Tiap 2-4 jam
Sodium sitrat 10% topikal Tiap 2-4 jam
Tetrasiklin topikal
4x sehari
Sodium askorbat 2 g
2x sehari P.OS
Doksisiklin 100 mg
2x sehari P.OS
Terapi glaukoma
Jika diperlukan
sikloplegik
Jika diperlukan

6. HIFEMA
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek
pembuluh darah iris atau badan siliar.2
Klasifikasi7,8
Klasifikasi hifema dibedakan berdasarkan kepada onset perdarahannya, darah yang terlihat, serta
pengisian darah pada bilik mata depan. Berdasarkan onset perdarahan, hifema diklasifikasikan
menjadi:
o Hifema primer terjadi langsung sampai 2 hari setelah trauma pada mata.
o Hifema sekunder terjadi 2-5 hari setelah trauma pada mata.
Sementara itu, berdasarkan darah yang terlihat, hifema diklasifikasikan menjadi :
o Makrohifema, perdarahan terlihat dengan mata telanjang.
o Mikrohifema, perdarahan terlihat apabila menggunakan mikroskop.
Dan apabila dibagi berdasarkan pemenuhan darah di bilik mata depan, hifema dibagi menjadi:
o Grade 1, darah mengisi kurang dari 1/3 bilik mata depan, insidensi kasusnya 58%.
o Grade 2, darah mengisi 1/3 bilik mata depan, dengan insidensi kasus 20%.
o Grade 3, darah mengisi kurang dari seluruh bilik mata depan, insidensi kasusnya 14%.
o Grade 4, darah mengisi seluruh bilik mata depan, dikenal dengan total hyphema,blackball
atau 8-ball hyphema, insidensi kasusnya 8%.

15

Umumnya grading inilah yang dijadikan salah satu patokan dalam menentukan tatalaksana hifema.
Pada sekitar 50% kasus, hifema masih berbentuk cairan sehingga membentuk air fluid level, sementara
40% kasus membentuk clot dan menempel pada iris. Sisa 10% dari kasus hifema membentuk clot
berwarna gelap dan kontak dengan endotelium.Prognosis dari bentuk hifema yang ketiga cenderung
lebih buruk dibandingkan yang lainnya.
Gejala klinis: pasien akan mengeluh sakit disertai epifora dan blefarospasme. Ketajaman penglihatan
pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik
mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat
iridoplegia dan iridodialisis.2
Gejala penyerta lain yang dapat muncul pada hifema adalah kemunculan perdarahan sekunder.
Perdarahan sekunder mungkin disebabkan oleh lisis dan retraksi bekuan dan fibrin, yang berfungsi
sebagai penyumbat pembuluh darah yang mengalami ruptur di awal trauma. Perdarahan sekunder ini
dapatmemicu oleh peningkatan TIO dan pewarnaan kornea. Perdarahan sekunder terjadi pada 25%
dari seluruh pasien hifema, dengan insiden terjadinya perdarahan sekunder yang lebih tinggi pada
hifema grade 3 dan 4.7
Menurut suatu studi, peningkatan tekanan intraokular (TIO) lebih dari 21 mmHg terjadi pada 32%
pasien dengan hifema.Tekanan yang tinggi ini juga memiliki keterkaitan dengan grade hifema yang
tinggi (3 atau 4). Pasien yang sebelumnya sudah memiliki faktor predisposisi glaukoma akan semakin
mudah mengalami glaukoma.8
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.

Anamnesis7,8
Pasien hifema umumnya akan datang dengan keluhan perdarahan atau adanya darah pada bagian
tengah mata. Keluhan tersebut dapat disertai dengan nyeri pada mata, gangguan penglihatan,dan
sensitif terhadap cahaya. Bila terdapat riwayat trauma, perlu ditanyakan mekanisme kejadian, jenis
objek yang mengenai mata, arah terjadinya benturan, dan penggunaan pelindung mata saat kejadian.
Riwayat penyakit mata perlu ditanyakan, terutama mengenai penyakit yang memengaruhi tekanan
intraokuler. Riwayat indakan embedahan atau laser pada mata juga harus ditanyakan untuk mengetahui
kemungkinan hifema operatif. Riwayat penyakit lain seperti diabetes, hemoglobinopati, atau sickle cell
disease juga perlu untuk ditanyakan untuk menentukan etiologi dan tatalaksana.
Pemeriksaan fisis dan pemeriksaan oftamologis7,8
Pemeriksaan oftamologis dilakukan secara menyeluruh, meliputi pemeriksaan visus, lapang pandang,
gerakan bola mata, mata bagian anterior dan posterior,serta TIO. Pemeriksaan dengan gonioskopi tidak
dianjurkan karena meningkatkan risiko perdarahan ulang. Pemeriksaan pada mata bagian anterior
diharapkan bisa memberikan assesment mengenai grading hifema.
Pemeriksaan penunjang7,9
Pemeriksaan penunjang dilakukan lebih untuk menemukan etiologi atau menyingkirkan diagnosis
banding. Yang akan dinilai meliputi kondisi mata bagian posterior, adneksamata, dan orbita.
Pemeriksaan yang umum dilakukan berupa ultrasonografi (USG) mata atau CT-scan untuk melihat
16

adanya tumor intraokuler. Dapat juga dilakukan angiografi pada iris untuk melihat adanya
neovaskularisasi meskipun sangat jarang dilakukan. Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan,
kecuali pemeriksaan darah untuk melihat adanyasickle cell disease.
Diagnosis banding7
Trauma tumpul lain lihat
Selain itu, hifema juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat
menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile
xanthogranuloma).
Tata laksana
Hifema biasanya akan mengalami penyerapan secara spontan. Umumnya hal ini terjadi setelah 5-7 hari
dari awal trauma. Oleh karena itu, tatalaksana hifema pada awal lebih menitikberatkan kepada elevasi
kepala, monitoring peningkatan TIO serta adanya perdarahan sekunder. Dibawah akan dijelaskan
secara lebih lanjut mengenai hal tersebut.
Terapi Medikamentosa8,10
o Pasien dengan hifema yang tampak mengisi lebih dari 5% bilik mata depan sebaiknya
diistirahatkan. Pemberian steroid tetes harus segera dimulai. Aspirin dan antiinflamasi
nonsteroid harus dihindari. Dilatasi pupil dapat meningkatkan risiko perdarahan kembali
sehingga mungkin ditunda sampai hifema reda dengan penyerapan spontan. Oleh karena itu,
pemeriksaan dini untuk mencari kerusakan segmen posterior mungkin memerlukan
pemeriksaan ultrasonografi. Mata sebaiknya diperiksa secara berkala untuk mencari adanya
perdarahan sekunder, glaukoma, atau bercak darah di kornea akibat pigmen besi. Perdarahan
ulang terjadi pada 16-20% kasus dalam 2-3 hari. Komplikasi ini memiliki risiko tinggi
menimbulkan glaukoma dan pewarnaan kornea.
o Kortikosteroid topikal untuk mengurangi inflamasi dan mencegah iritis/iridosiklitis.
o Agen antifibrinolitik seperti asam aminokaproat topikal dan/atau oral serta asam traneksamat
oral untuk mengurangi risiko perdarahan ulang. Dosis untuk asam aminokaproat adalah 100
mg/kgBB setiap 4 jam, maksimal 30 gram/hari selama 5 hari. Dosis untuk asam traneksamat
adalah 25 mg/kgBB, 3 kali sehari selama 6 hari. Kontraindikasi pada gangguan clotting
intravaskuler dan kehamilan.
o Tissue plasminogen activator untuk fibrinolisis clotting yang stagnan. Dosis tPA adalah 10
mikrogram, diberikan injeksi intracamera.
o Terapi antiglaukoma jika dibutuhkan, seperti dengan pemberian asetazolamid atau betablocker seperti timolol. Tatalaksana glaukoma meliputi terapi topikal dengan penyekat- (mis,
timolol 0,25% 2 kali sehari), analog prostaglandin (mis, latanoprost 0,005% malam hari),
dorzolamide 2% dua atau tiga kali sehari, atau apraclonidine 0,5% tiga kali sehari. Terapi oral
dengan acetazolamide 250 mg per oral empat kali sehari, dan obat hiperosmotik (manitol,
gliserol, dan sorbitol) dapat pula digunakan bila terapi topikal tidak efektif. Bedah drainase
glaukoma mungkin diperlukan pada kasus-kasus yang sangat berat.
Terapi non medikamentosa8,10
Selain dari elevasi kepala 30-45 o untuk membantu proses penyerapan darah, sesungguhnya secara
umum bed rest, rawat inap, dan patching tidak perlu dilakukan. Namun jika hifema terjadi pada pasien
yang tidak kooperatif, pada penderita sickle cell disease, atau terjadi perdarahan ulang, terapi-terapi
17

nonmedikamentosa di atas perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berikut. Monitoring
TIO, pewarnaan kornea, dan perdarahan sekunder perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui
kemunculan komplikasi dan pemberian penatalaksanaan sesuai.
Tatalaksana operatif8,10
Indikasi untuk melakukan operasi pada pasien hifema adalah:
o Absorpsi darah secara spontan terlalu lambat.
o Terdapat kelainan penggumpalan darah yang dapat menjadi resiko perdarahan sekunder,
seperti hemoglobinopati atau sickle cell disease.
o Peningkatan TIO tidak bisa diatasi dengan obat-obatan (>35 mmHg selama 7 hari atau >50
mmHg selama 5 hari) dan adanya kemungkinan corneal blood staining.
Jika pasien mengidap hemoglobulinopati, besar kemungkinan terjadi atrofi optik glaukomatosa dan
pengeluaran bekuan darah secara bedah harus dipertimbangkan lebih dari awal. Instrumen-instrumen
vitrektomi digunakan untuk mengeluarkan bekuan di sentral dan membilas (levage) bilik mata depan.
Dimasukkan alat irigasi dan probe mekanis di sebelah anterior limbus melalui bagian kornea yang jernih
untuk menghindari kerusakan iris dan lensa. Jangan mencoba mengeluarkan bekuan yang terdapat di
sudut bilik mata depan atau di jaringan iris. Di sini, dilakukan iridektomi perifer. Cara lain untuk
membersihkan bilik mata depan adalah dengan evakuasi viskoelastik. Dibuat sebuah insisi kecil di
limbus untuk menyuntikkan bahan viskoelastik, dan sebuah insisi yang lebih besar berjarak 180 derajat
(dari insisi pertama) untuk memungkinkan hifema di dorong keluar.
Glaukoma onset lambat dapat timbul setelah beberapa bulan atau tahun, terutama bila terdapat
penyempitan sudut bilik mata depan lebih dari satu kuadran. Pada sejumlah kasus yang jarang, bercak
darah di kornea menghilang secara perlahan-lahan dalam jangka waktu hingga satu tahun.
Parasentesis
Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan darah atau nanah dari bilik mata
depan, dengan teknik sebagai berikut: dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke arah kornea yang
sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari
bilik mata depan keluar. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam
fisiologik.
7. KORPUS ALIENUM KONJUNGTIVA DAN KORNEA
Corpus alienum adalah benda asing. Merupakan salah satu penyebab cedera mata yang paling sering
mengenai sklera, kornea dan konjungtiva. Apabila korpus alienum masuk ke dlm bola mata maka
biasanya terjadi reaksi infeksi yg hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata dan iridosiklitis.
Beratnya kerusakan pada organ di dalam bola mata tergantung dari besarnya corpus alienum,
kecepatan masuknya, ada /tidaknya proses infeksi dan jenis bendanya sendiri. 11
Jika suatu benda masuk ke dlm bola mata maka akan terjadi salah satu dr ketiga perubahan berikut: 11
o akibat efek mekanik: benda yang masuk ke dalam bola mata hingga melalui kornea ataupun
sklera setelah benda asing menembus kornea maka akan masuk ke dalam camera oculi
anterior dan mengendap ke dasar. Bila kecil dapat mengendap di dalam sudut bilik mata. Bila
benda asingnya masuk terus maka akan menembus iris dan kalau mengenai lensa mata
menyebabkan katarak traumatik. Bila melekat di retina akan terlihat dikelilingi eksudat yang
berwarna putih serta adanya endapan sel darah merah menyebabkan degenerasi retina.
o permulaan terjadinya proses infeksi: dengan masuknya benda asing ke dalam bola mata
kemungkinan akan timbul infeksi. Corpus vitreus dan lensa dapat merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan kuman sehingga sering terjadi infeksi supuratif.
18

o terjadi perubahan spesifik pada jaringan mata karena proses kimiawi.


Etiologi11
Trauma mata dapat terjadi secara mekanik dan nonmekanik.
Mekanik meliputi: trauma benda tumpul dan tajam serta trauma oleh benda asing seperti kelilipan pasir,
tanah.
Non mekanik: trauma bahan kimia, trauma termik, trauma radiasi.
Oleh karena itu, perlu cepat mengenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata
untuk kemudian mengeluarkannya.
Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
1) Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga
2) Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian
3) Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi
jaringan mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan dan tidak mengganggu fungsi mata. Contoh:
emas, platina, batu, kaca, dan porselin
4) Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi jaringan mata
sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam, seng, nikel, alumunium, tembaga

Tanda dan gejala11


o mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata.
o ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea oleh kedipan bola mata.
o lakrimasi hebat.
o benda asing dapat bersarang di konjungtiva.
o nyeri.
o sensasi benda asing.
o mata merah dan mata berair banyak.
o mata terasa pedih, seperti kering, seperti ada pasir dan ketajaman mata biasanya menurun.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis mengenai kejadian trauma, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan khusus.
Pemeriksaan fisik11
Pemeriksaan umum
pemeriksaan subyektif: pemeriksaan ketajaman penglihatan.
pemeriksaan obyektif: saat penderita di inspeksi dapat diketahui adanya kelainan disekitar mata seperti
adanya perdarahan sekitar mata, periksa keadaan kelopak mata kornea, bilik mata depan, pupil, lensa,
gerakan bola mata. Pemeriksaan segmen anterior dilakukan dengan slit lamp dan oftalmoskop.
Dalam pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus normal atau menurun, adanya injeksi konjungtiva atau
injeksi silar, terdapat benda asing pada bola mata, tes fluorescein (+).
Pemeriksaan khusus11
19

Bila terdapat perforasi, maka dilakukan pemeriksaan X-ray orbita.


Diagnosis banding
Trauma mata akibat radiasi sinar ultraviolet
Sinar ultra violet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga kerusakan pada
lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini akan segera baik kembali setelah beberapa
waktu, dan tidak akan memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap. 2
Gejala: pasien yang telah terkena sinar sinar ultra violet akan memberikan keluhan 4-10 jam setelah
trauma. Terdapat rasa sangat sakit pada mata, mata seperti kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia,
blefarospasme, dan konjungtiva kemotik.2
Trauma mata akibat sinar infrared
Akibat sinar infrared dapat terjadi pada saat menatap gerhana matahari dan pada saat bekerja di
pemanggangan. Kerusakan ini dapat terjadi akibat terkonsentrasinya sinar infrared. Kaca yang mencair
seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan akan mengeluarkan sinar infrared.
Bila seseorang berada pada jarak 1 kaki selama 1 menit di depan kaca yang mencair dan pupilnya
melebar maka suhu lensa akan naik sebanyak 9 derajat celcius. Iris yang mengabsorpsi sinar infrared
akan panas sehingga berakibat pada kapsul lensa di dekatnya. Absorpsi sinar infrared oleh lensa akan
mengakibatkan katarak pada lensa.2
Gejala: Seseorang yang sering terpejan dengan sinar ini dapat terkena keratitis superfisial, katarak
kortikal anterior posterior dan koagulasi pada koroid. Biasanya terjadi penurunan tajam penglihatan,
penglihatan kabur dan mata terasa panas.2
Trauma mata akibat sinar ionisasi dan sinar X
Trauma Sinar Ionisasi dan Sinar X
Sinar Ionisasi dibedakan dalam bentuk:2
o Sinar alfa yang dapat diabaikan
o Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan
o Sinar gamma
o Sinar X
Gambaran klinis: sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan kerusakan pada kornea yang dapat
bersifat permanen. Katarak akibat pemecahan sel epitel yang tidak normal dan rusaknya retina dengan
gambarandilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneuris mata dan eksudat. Atrofi sel goblet pada
konjungtiva juga dapat terjadi dan mengganggu fungsi air mata. 2
Trauma mata akibat bahan kimia (asam-basa) lihat keterangan sebelumnya.
Tata laksana11
Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra dan konjungtiva, kornea maka dengan mudah dapat
dilepaskan setelah pemberian anastesi lokal. Untuk mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau jarum
suntik tumpul atau tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda bersifat magnetik, maka
dapat dikeluarkan dengan magnet portable. Kemudian diberi antibiotik lokal, siklopegik, dan mata
dibebat dengan kassa steril dan diperban.

20

Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di limbus, melalui insisi
tersebut ujung dari magnet dimasukkan untuk menarik benda asing, bila tidak berhasil dapat dilakukan
iridektomi dari iris yang mengandung benda asing tersebut.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan magnet sama seperti
pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik dengan magnet, sesudah insisi pada limbus kornea,
jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi linier untuk usia muda dan
ekstraksi ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia yang tua.
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan dengan giant magnet setelah
insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan dengan operasi vitrektomi.
8. TRAUMA RADIASI SINAR LAS (TRAUMA MATA AKIBAT SINAR ULTRA VIOLET)
Sinar ultra violet merupakansinar gelombang pendek yang tidak terlihat mempunyai panjang gelombang
antara 350-295 nm. Sinar ultra violet banyak terdapat pada saat bekerja las, dan menatap sinar
matahari atau pantulan sinar matahari di atas salju. Sinar ultra violet akan segera merusak epitel
kornea.
Sinar ultra violet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga kerusakan pada
lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini akan segera baik kembali setelah beberapa
waktu, dan tidak akan memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap.
Gejala: pasien yang telah terkena sinar sinar ultra violet akan memberikan keluhan 4-10 jam setelah
trauma. Terdapat rasa sangat sakit pada mata, mata seperti kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia,
blefarospasme, dan konjungtiva kemotik.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik segmen anterior: kornea akan menunjukkan infiltrate pada permukaannya, yang
kadang-kadang disertai dengan kornea keruh dan uji fluorosein positif. Keratitis terutama terdapat pada
fisura palpebra. Pupil akan terlihat miosis.
Pada pemeriksaan ketajaman penglihatan: tajam penglihatan terganggu.
Diagnosis
Ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Diagnosis banding
Trauma mata akibat benda asing (corpus alienum) lihat keterangan sebelumnya.
Trauma mata akibat sinar infrared lihat keterangan sebelumnya.
Trauma mata akibat sinar ionisasi dan sinar X lihat keterangan sebelumnya.
Trauma mata akibat bahan kimia (asam-basa) lihat keterangan sebelumnya.
Tata laksana
Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia, antibiotika lokal, analgetika dan mata ditutup selama 2
3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.2
9. ABLATIO RETINA

21

Ablatio retina (retinal detachment) merupakan keadaan terpisahnya bagian sensoris retina
(fotoreseptor) dan lapisan jaringan dalam dari retinal pigmen epitelium (RPE). 1
Klasifikasi1
Secara umum terdapat 3 jenis ablatio retina, yaitu:
o Rhegmatogen: terjadi sekunder akibat adanya robekan pada retina sensoris, yang
memungkinkan cairan yang berasal dari vitreous mencapai rongga subretina.
o Traksional: terjadi karena adanya kontraksi membrane vitreoretina atau tarikan tanpa adanya
robekan retina sebelumnya.
o Eksudatif: terjadi karena adanya cairan subretina yang berasal dari pembuluh darah retina
neurosensoris, koroid, atau keduanya.
Diagnosis untuk ablatio retina rhegmatogen 1
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta penunjang.
Anamnesis1
o Fotopsia: merupakan sensasi subjektif seperti melihat kilatan cahaya. Biasanya berlangsung
singkat pada lapang pandang temporal, terlihat terutama saat gelap, dan setelah pergerakan
mata. Hal ini menggambarkan proses traksi dari tempat adhesi vitreoretina.
o Floaters: sensasi subjektif seperti melihat objek berterbangan berwarna gelap yang terjadi di
vitreous.
o Defek lapang pandang: dideskripsikan sebagian lapang pandang seperti tertutup tirai gelap.
Pemeriksaan fisik1,2
o Pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang terangkat berwarna pucat dengan
pembuluh darah di atasnya dan terlihat robekan retina berwarna merah. Terlihat juga kadangkadang pigmen dalam badan kaca, pupil terlihat adanya defek aferen pupil akibat penglihatan
menurun.
o Tekanan bola mata rendah dan dapat meninggi bila telah terjadi neovaskular glaukoma pada
ablasi yang telah lama.
o Relative afferent pupillary defect muncul pada mata dengan ablasio retina ekstensif.
o Tekanan intraokular < 5 mmHg dibandingakan dengan mata yang tidak mengalami ablatio.
o Iritis ringan sering kali ditemukan.
o Gambaran tobacco dust terdiri atas sel pigmen yang terlihat pada vitreous anterior.
o Kelainan pada retina sesuai dengan lamanya ablatio retina yang terjadi. Ablatio retina baru
ditandai dengan ablatio retina memiliki konfigurasi konveks dan tampilan yang sedikit opak
karena edem retina, cairan subretina dapat meluas sampai ora serata. Sedangkan ablatio
retina lama ditandai dengan kekeruhan vitreous, retina yang pucat dan didapatkan
proliferative vitreoretinopathy (PVR), garis demarkasi subretina yang diakibatkan oleh
proliferasi dari sel pigmen retina pada sambungan retina.
Pemeriksaan penunjang1
Pada mata dengan media yang keruh, diagnosis ablatio retina dapat ditegakkan dengan menggunakan
ultrasonografi.
Tata laksana1
Tata laksana adalah dengan pembedahan. Pada kasus retinal break yang ringan, dimana cairan
subretina terbatas di sekitar break, dapat dilakukan fotokoagulasi laser. Sebelum dilakukan

22

pembedahan pasien disarankan untuk tirah baring dengan satu bantal untuk mencegah penyebaran
cairan subretina menuju makula. Terapi bedah yang dapat dipilih adalah:
o Pneumatic retinopexy: gas SF6 atau C3F8 diinjeksikan menuju vitreous untuk mengembalikan
posisi retina.
o Scleral bucking: terapi ini bertujuan untuk menempelkan kembali retina yang terlepas dengan
menempatkan explant pada daerah yang mengalami robekan. Komplikasi termasuk gangguan
retraksi, diplopia, ekstruksi eksplan, dan kemungkinan terjadinya retinopati proliferatif.
o Vitrektomi pars plana: terapi ini memungkinkan untuk melepaskan traksi vitreoretina.
Ablatio Retina Eksudatif1
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis1
o Penglihatan menurun seperti tertutup tirai
o Floaters dapat muncul karena adanya vitreitis, namun tidak umum.
Pemeriksaan fisik1
Penurunan tajam penglihatan.
Pada pemeriksaan retina akan memunculkan gambar:
o Proliferasi ablatio yang konveks dengan permukaan yang licin.
o Gambaran shifting fluid sesuai dengan gaya gravitasi. Pada keadaan berdiri tegak,cairan
subretina berada pada retina inferior, namun pada saat berada pada posisi supinasi dapat
meluas ke superior.
o Apabila ablatio didasari oleh tumor koroid, maka dapat terlihat penyebab yang mendasarinya.
Pemeriksaan penunjang1
o USG mata: diindikasikan apabila media mengalain kekeruhan.
o Pemeriksaan darah untuk uveitis dapat menentukan penyebab yang mendasarinya.
o Fluorosein angiography dapat membantu menentukan sumber cairan subretina.
Tata laksana1
Tata laksana terutama ditujukan pada penyakit yang mendasari timbulnya keadaan ini. Terapi dengan
laser, krioterapi, atau steroid intravitreous dapat digunakan pada keadaan tertentu.
Ablatio retina traksional
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis1
o Mata tenang dengan penglihatan menurun, seringkali berjalan lambat.
o Bisa terdapat fotopsia atau floaters.
Pemeriksaan fisik1
Penurunan tajam penglihatan
Pada pemeriksaan funduskopi dapat ditemukan:
o Konfigurasi konkaf dari ablatio retina.
o Tidak ditemukannya fenomena shifting fluid seperti kasus eksdatif.
o Elevasi retina yang paling tinggi terjadi pada tempat traksi vitreoretina.

23

o Apabila terdapat robekan, maka akan muncul gambaran khas ablatio retina rhegmatogen dan
penyakit akan memiliki progresivitas yang lebih cepat.
Pemeriksaan penunjang1
Ultrasonografi dilakukan pada media yang keruh.
Tata laksana1
Vitrektomi pars plana untuk membuang jaringan yang mengakibatkan traksi. Injeksi heavy fluid mungkin
dibutuhkan untuk meratakan retina. Tampak ada gas, cairan silikon, atau scleral buckling dapat
dibutuhkan.
Diagnosa banding
Oklusi vena retina1,2
Oklusi retina merupakan kondisi vena retina, baik sentral atau cabang mengalami sumbatan.
Faktor predisposisi utama dari keadaan ini adalah arteriosklerosis atau arterosklerosis. Hal tersebut
dikarenakan baik vena maupun arteri berbagi selubung adventisia yang sama sehingga perubahan
pada arteri sentral dapat mengakibatkan kompresi pada vena-vena kecil (mengakibatkan oklusi vena
cabang atau branch retinal vein occlusion (BRVO) atau kompresa vena besar (mengakibatkan oklusi
vena sentralis atau central retinal vein occlusion (CRVO)). Oklusi vena akan akan mengakibatkan
peningkatan tekanan vena dan kapiler, yang berujung pada stagnansi aliran darah dan dapat
mengakibatkan hipoksia pada bagian retina yang drainasenya bergantung pada vena tersebut.
Faktor predisposisi1
Faktor predisposisi pada keadaan ini termasuk:
o Usia. Sebanyak >50% kasus terjadi pada usia di atas 65 tahun.
o Hipertensi terutama pada keadaan BRVO.
o Hiperlipidemia.
o Diabetes mellitus.
o Pil kontrasepsi oral.
o Peningkatan TIO.
o Merokok.
Manifestasi klinis1
Anamnesis
o Mata tidak merah
o Penglihatan bisa normal dengan visus (6/6) hingga menurun mendadak sampai dengan
menghitung jari.
o Pada CRVO defek lapang pandang umumnya sentral, sementara pada BRVO dapat tidak disertai
gangguan lapang pandang.
o TIdak nyeri
o Sering kali hanya melibatkan satu mata.
Pemeriksaan fisik1,2
Pada BRVO tajam penglihatan 6/6 sampai hanya menghitung jari, tergantung dari keterlibatan
makula, sedangkan pada CRVO berkisar dari 6/60 hingga hanya dapat melihat gerakan lambaian
tangan. Pada CRVO biasanya mengeluh adanya penurunan penglihatan sentral maupun perifer
mendadak yang dapat memburuk sampai hanya tinggal persepsi cahaya. Pada CRVO juga
24

terdapat penciutan lapang pandangan atau suatu skotoma sentral dan defek ireguler. Dengan
angiografi fluorosein dapat ditentukan beberapa hal seperti letak penyumbatan, penyumbatan
total atau sebagian, dan ada tidaknya neovaskularisasi.
Relative afferent papillary defect (RAPD) tampak nyata pada kasus-kasus iskemik pada CRVO.
Funduskopi pada BRVO hasil temuan:
o Vena yang mengalami oklusi akan berdilatasi dan berkelok-kelok.
o Seringkali oklusi terjadi pada tempat persilangan arteri vena.
o Perdarahan flame-shape, edem retina, cotton wool spot dan/atau dengan edem makula.
o Dapat terjadi neovaskularisasi retina dalam 6-12 bulan.
Funduskopi pada CRVO dapat ditemukan:
o Tampak vena yang mengalami dilatasi dan berkelok-kelok, perdarahan dot/blot, tampak pada
seluruh kuadran dan paling banyak di perifer. Cotton wool spots, edem makula dan edem
diskus optic juga umum. Papil edem dengan pulsasi vena menghilang karena penyumbatan
biasanya terletak pada lamina kribosa. Terdapat papil merah dan edem.
Oklusi arteri retina1
Oklusi arteri retina merupakan keadaan terjadi hambatan atau sumbatan aliran darah sehingga
mengakibatkan iskemia retina.
Etiologi1
Secara umum etiologinya adalah aterosklerosis dan emboli karotis. Aterosklerosis pada oklusi arteri
retina terjadi pada daerah setinggi lamina kribosa. Emboli arteri karotis paling sering berasal dari
bifurkasio arteri karotis, diikuti oleh arkus aorta, dan temoat lainnya. Emboli yang terjadi berupa
kolesterol, kalsifikasi, atau kompleks platelet-fibrin. Penyebab lain yang tidak umum termasuk giant cell
arteritis, emboli jantung, periarteritis, kelainan trombofilik, dan hemoglobinopati bulan sabit.

Tabel perbedaan CRAO dan BRAO1


Manifestasi klinis
Central Retinal Artery Occlusion
(CRAO)
o Tajam penglihatan turun
mendadak hingga hanya
melihat cahaya
o Dapat ditemukan amaurosis
Anamnesis
fugax
o Tidak nyeri kecuali apabila
terdapat giant cells arteritis

Branch Retinal Artery Occlusion


(BRVO)
o Tajam penglihatan bervariasi
o Dapat ditemukan amaurosis
fugax
o Tidak nyeri

25

Pemeriksaan fisik

Angiografi fluoresen

o Tajam penglihatan berkisar


antara hand movement
sampai light perception.
Pada beberapa kasus, tajam
penglihatan sentral dapat
bertahan.
o Didapatkan RAPD
o Funduskopi dengan temuan:
1. Gambaran
cherry-red
spot
muncul
akibat
foveola yang tipis dan
koroid yang intak.
2. Retina di sekitar papil
dapat mengalami pucat
dan edem.
3. Pada mata dengan arteri
silioretina yang paten,
sebagian makula nampak
normal.
Keterlambatan pengisian arteri
dan masking dari fluoresensi
koroid
oleh
karena
pembengkakan retina

o Tajam penglihatan bervariasi


pada 50% pasien, tajam
penglihatan sentral intak.

o Didapatkan RAPD
o Funduskopi dengan temuan:
1. Retina pucat, berkabut
dan mengalami edem
pada
daerah
yang
mengalami iskemi.
2. Penyempitan arteri dan
vena.
3. Emboli dapat terlihat.

Menunjukkan
berhentinya
pengisian oleh pewarna pada
tempat emboli dan distal dari
lokasi tersebut.

Retinopati serosa sentral2


Retinopati serosa sentral adalah keadaan lepasnya retina dari lapis pigmen epitel di daerah makula
akibat masuknya cairan melalui membran Bruch dan pigmen epitel yang inkompeten.
Retinopati serosa sentral dapat bersifat residif. Biasanya ditemui pada penderita laki-laki berusia antara
20-50 tahun, perempuan hamil, dan pada usia diatas 60 tahun.
Akibat tertimbunnya cairan dibawah malula akan terdapat gangguan fungsi makula sehingga visus
turun disertai metamorffopsia, hipermetropia dengan skotoma relatif dan sensitif (kelainan pada uji
Amsler kisi-kisi). Penglihatan biasanya diantara 20/20-20/80. Dengan uji amsler terdapat penyimpangan
garis lurus disertai dengan skotoma. Berkurangnya fungsi makula terlihat dengan penurunan
kemampuan melihat warna. Pada funduskopi terlihat terangkatnya retina dapat sangat kecil dan dapat
seluas diameter papil. Lepasnya retina dari epitel pigmen akibat masuknya cairan subretina ini dapat
dilihat dengan pemeriksaan angiografi fluoresein. Biasanya retinopati serosa sentral akan menyembuh
setelah kira-kira 8 minggu dengan tidak terdapatnya lagi kebocoran. Pada keadaan ini cairan subretina
akan diserap kembali dan retina akan melekat kembali pada epitel pigmen tanpa gejala sisa subjektif
yang menyolok.2
Neuritis retrobulbar2
Neuritis retrobulbar adalah radang saraf optik dibelakang bola mata. Biasanya berjalan akut yang
mengenai satu atau kedua mata. Neuritis retrobulbar dapat disebabkan sklerosis mutltipel, penyakit
mielin, saraf, anemia pernisiosa, diabetes mellitus, dan intoksikasi.

26

Gejala: bola mata bila digerakkan akan terasa berat di bagian belakang bola mata. Rasa sakit akan
bertambah bila bola mata ditekan yang disertai dengan sakit kepala. 2
Pemeriksaan fisik: pada neuritis retrobulbar memiliki gejala seperti neuritis akan tetapi dengan
gambaran fundus yang sama sekali normal. Gambaran fundus pasien normal dan diagnosis ditegakkan
dengan pemeriksaan lapang pandangan dan turunnya tajam penglihatan yang berat. Walaupun pada
permulaan tidak terlihat kelainan fundus, lama kelamaan akan terlihat kekaburan batas papil saraf optik
dan degenerasi saraf optik akibat degenerasi serabut saraf, disertai atrofi desenden akan terlihat papil
pucat dengan batas yang tegas.2
Daftar pustaka
1. Christanto, Frans L., Sonia H, dkk. Kapita selekta kedokteran essentials medicine. Ed. 4. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;2014.h.363-403.
2. Liyas HS, Sri RY. Ilmu penyakit mata. Ed.4. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Kedokteran Indonesia;2013.h.175-92;263-81.
3. Maguire JI. Postoperative endophthalmitis: optimal management and the role and timing of
vitrectomy surgery. Eye 2008;22(10):1290-300.

4. Havens Shane, Kosoko-Lasaki Omofolasade, Palmer Millicent. 2009.Penetrating Eye Injury: A


Case Study. American Journal of Clinical Medicine Winter 2009;6(l):42-4,48.
5. Randleman JB. Ophthalmologic Approach to Chemical eye burns. Emedicine [online] 2007
October
[cited
2012
April
6].Available
from:http://www.emedicinehealth.com/chemical_eye_burns/articleem.html
6. Asbury T, Sanitato JJ. Trauma. In : Vaughan DG, Asbury T, Eva PR, editors. General
Ophtalmology. 17th . Lange; 2007.
7. Sheppard JD. Hyphema. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/1190165-overview
diunduh pada tanggal 7 November 2015
8. Irak-Dersu I. Hyphema glaucoma. Diakses dari http://emedicine.medscape.com/article/1206635overview diunduh pada tanggal 7 November 2015
9. I Sidarta et al. Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Ed.2. 2012.
Jakarta: Sagung Seto.h. 266.
10. Vaughan DG, Asbury T, Riordan-Eva P. General ophtalmology. 17th ed. USA : McGraw-Hill. [ebook]
11. Bashour M., 2008. Corneal Foreign Body. Available on http://emedicine.medscape.com/ article/

27