Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan pendidikan nasional secara umum masih dihadapkan pada
berbagai permasalahan terkait dengan masih rendahnya kualitas poses
pembelajaran dan hasil pendidikan. Permasalahan kualitas pendidikan tidak
berdiri sendiri, tetapi terait dalam satu sistem yang saling berpengaruh. Mutu
keluaran dipengaruhi oleh mutu masukan dan mutu proses. Secara eksternal,
komponen masukan pendidikan yang secara signifikan berpengaruh terhadap
mutu pendidikan meliputi: (1) Ketersediaan pendidikan dan tenaga kependidikan
yang belum memadai secara kuantitas dan kualitas, serta kesejahteraan yang juga
belum memadai, (2) Prasarana dan sarana belajar yang belum tersedia dan belum
didayagunakan secara optimal, (3) Pendanaan pendidikan yang belum memadai
untuk menunjuang mutu pembelajaran, dan (4) Proses pembelajaran yang beum
efisien dan efektif (Depdiknas, 2005). Kaitannya dengan mutu proses, salah satu
faktor terpenting yang berpengaruh adalah ketersediaan tenaga pendidik (Guru)
dan tenaga kependidikan.
Tenaga pendidik yang dimaksud tentunya adalah guru yang berkualitas
atau berkompeten dan bekerja secara profesional. Secara numerik saja jumlah
guru yang tersedia di lapangan masih kurang memadai, yakni ada sekitar 2,7 juta
guru, dan masih diperlukan sekitar 400 ribu guru lagi. Kekurangan jumlah guru
ini juga diperparah oleh ketidakseimbangan penyebaran guru, dimana guru
banyak yang mengajar di sekolah perkotaan. Masalah lain adalah masih

terdapatnya kesenjangan guru dilihat dari aspek keahliannya. Guru yang tidak
layak mengajar sesuai dengan bidang keahliannya (Mismatch) yang masih banyak
terjadi terutama pada jenjang sekolah menengah. LPTK (Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan) baik negeri maupun swasta terus berlomba-lomba
mencetak calon guru. LPTK selalu terus berupaya meningkatkan mutu lulusan
calon guru dengan berbagai cara. Mulai dari meningkatkan kualifikasi dosen
LPTK, memperbaiki kualitas perkuliahan melalui berbagai penelitian pendidikan
dan juga pelatihan. Apakah hasilnya sudah dapat dinikmati oleh masyarakat?
Keberhasilan tersebut seharusnya diindikasikan oleh semakin meningkatnya
kemampuan dan profesionalisme guru dan dosen, semakin meningkatnya kualitas
proses dan prestasi belajar siswa.
Dalam

rangka

mewujudkan

keinginan-keinginan

tersebut

diatas,

khususnya upaya untuk meningkatkan kemampuan calon guru, Fakultas Sastra


Universitas Negeri Malang (UM) menggagas suatu bentuk pelaksanaan PPL yang
berbasis Lesson Study.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di muka, maka dapat dirumuskan suatu
permasalahan yaitu sebagai berikut.
a. Bagaimana pelaksanaan lesson study di SMK Negeri 9 Malang ?
b. Bagaimana

hasil lesson study yang dilaksanakan di SMK Negeri 9

Malang ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan laporan ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan Lesson Study di SMK Negeri 9 Malang.
2. Untuk mengetahui hasil pelaksanaan Lesson Study yang di laksanakan di SMK
Negeri 9 Malang.

1.4 Manfaat
Dari hasil laporan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak,
sebagai berikut.
1. Guru
a. Memperbaiki dan meningkatkan cara/ model pembelajaran.
b. Terbuka atau melakukan sharing secara kolaboratif dengan kolegianya.
c. Meningkatkan pengetahuan tentang cara mengobservasi aktivitas belajar
siswa.
d. Meningkatkan motivasi untuk senantiasa berkembang
e. Meningkatkan kualitas rencana pembelajaran
2. Siswa
a. Meningkatkan semangat dan aktivitas belajar.
b. Meningkatkan hasil belajar.
3. Sekolah
Dengan adanya Lesson Study ini dapat berpengaruh pada semua guru untuk
memperbaiki model pembelajarannya sehingga kesulitan dan permasalahan yang
dihadapi sekolah tentang pembelajaran dapat diatasi dengan baik.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Lesson Study


Lesson Study adalah suatu proses sistematis yang digunakan oleh guruguru jepang untuk menguji keefektifan pengajaran dalam rangka meningkatkan
hasil pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja
guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat
pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran
secara bersiklus dan terus menerus.
Menurut Walker (2005) Lesson Study adalah suatu metode pengembanga
profesional guru. Menurut Lewis (2002) ide yang terkandung dalam Lesson Study
sebenarnya singkat dan sederhana, yakni jika seorang guru ingin meningkatkan
pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas adalah melakukan kolaborasi
dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap
pembelajaran yang dilakukan.

2.2 Pelaksanaan Lesson Study


Ada beberapa cara orang melakukan Lesson Study. Hal ini tentunya
disesuaikan dengan kondisi dan situasi dalam prakteknya, Menurut Lewis (2002)
menyarankan ada 6 tahapan dalam mengimplementasikan Lesson Study di sekolah
antara lain:

a. Tahap 1 : Membentuk kelompok Lesson Study, yang antara lain berupa


kegiatan merekrut anggota kelompok, menyusun komitmen waktu khusus,
menyusun jadwal pertemuan dan menyetujui aturan kelompok.
b. Tahap 2: Memfokuskan Lesson Study, dengan 3 kegiatan antara lain yakni: (a)
menyepakati tema penelitian (recearchtrime) tujuan jangka panjang bagi
murid; (b) memilih cakupaman materi; (c) memilih unit pembelajaran dan
tujuan yang disepakati.
c. Tahap 3: Merencanakan pembelajaran (recearchlessen), yang meliputi
kegiatan

melakukan

pengkajian

pembelajaran

yang

telah

ada,

mengembangkan petunjuk pembelajaran, meminta masukan dari ahli dalam


bidang study dari luar (Dosen/guru lain yang berpengalaman)
d. Tahap 4: Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (Observasi).
Dalam hal ini pembelajaran dilaukan oleh salah seorang guru anggota
kelompok dan anggota yang lain menjadi obserfer. Obserfer tidak
diperkenankan melakukan introduksi terhadap jalannya pembelajaran baik
kepada guru maupun siswa.
e. Tahap 5: Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran, yang telah
dilaksanakan. Diskusi dan analisis sebaiknya mencakup butir-butir: refleksi
oleh instruktur, informasi latar belakang anggota kelompok, presentasi dan
diskusi data data dari hasil obserfasi pembelajaran, diskusi umum, komentar
dari ahli luar, ucapan terima kasih.
f. Tahap 6: Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap
selanjutnya. Pada tahap ini anggota kelompok diharapkan berpikir tentang apa
yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah berkeinginan untuk membuat

peningkatan agar pembelajaran ini menjadi lebih baik?, apakah akan


mengujicobakan dikelas masing-masing?, dan anggota kelompok sudah puas
dengan tujuan-tujuan Lesson Study dan cara kerja kelompok.
Pengenalan Lesson Study dan implementasinya di Indonesia boleh
dikatakan masih sangat baru, yakni ketika para tenaga ahli Jepang dalam Program
IMSTEP JICA di 3 Universitas (UPI, UNY, dan UM) mulai mengenalkannya pada
tahun 2004. dalam tahap awal pengenalan Lesson Study tersebut (Saito, et 2005)
mengenalkan ada 3 tahap utama Lesson Study, yakni:
a. Perencenaan (Plan)
Tahap perencanaan (Plan) bertujuan untuk menghasilkan rencana
pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peseta didik secara
efektif serta membangkitkan pertisipasi aktif peserta didik dalam
pembelajaran.
b. Pelaksanaan (Do)
Tahap pelaksanaan (Do) dimaksudkan untuk menerapkan rencana
pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahaap sebelumnya. Salah satu
anggota (Guru/dosen) bertindak sebagai guru (Dosen) sedangkan yang lain
bertindak sebagai pengamat (Observer). Hadirin lain (Selain anggota
kelompok perencanaan) juga bertindak sebagai pengamat.
c. Tahap refleksi (See)
Tahap refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan
kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Tujuan dari tahap ini adalah mampu
merencanakan kembali pembelajaran berikutnya yang lebih baik.

2.3 Pemilihan Lesson Study


Lesson Study yang dipilih sebagai salah satu alternative pengembangan
profesionalitas guru di Indonesia. Berikut dikemukakan beberapa alasannya.
a. Lesson Study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas
mengajar guru dan aktifitas belajar siswa.
b. Lesson study yang didesain dengan baik akan menghasilkan guru yang
propesional dan inovatif.

2.4 Jenis Lesson Study yang di kembangkan di Indonesia


Pengembangan kegiatan Lesson Study di Indonesia dilakukan dalam
rangka implementasi program kerjasama teknis (Technical assistant) dengan JICA
(Japan Internasional Cooperatioon Agenci) yang disebut program SISTTEMS.
Program SISTEMS mulai dillaksanakan pada bulan Mei 2006-oktober 2008.
Program ini dilaksanakan di 3 daerah rintisan (Piloting), yakni: Kab. Sumedang/
Jabar di dampingi oleh UPI Bandung, Kab. Bantul/Yogyakarta di dampingi oleh
UNY Yogyakarta, dan Kab Pasuruan/ Jatim didampingi oleh UM Malang.
Sebelum program sistem, Lesson Study telah dicoba kembangkan dalam program
IMSTEP. Tahap lanjutan, yakni tahun

2004/ 2005, di 3 Daerah (Malang,

Yogyakarta, dan Bandung).


Dua bentuk kegiatan Lesson Study yang dilaksanakan di kabupaten Pasuruan:
a. Lesson Study berbasis MGMP, yakni Lesson Study yang dilaksanakan pada
setiap hari pertemuan MGMP yang telah ditetapkan (Kamis untuk
Matematika, dan Sabtu untuk sains). Kegiatan yang dilakukan meliputi Plan
pada minggu pertama diikuti Do dan See pada minggu ketiga.

b. Lesson Study Berbasis sekolah (LSBS) atau Entire School Lesson Study
(ESLS), yakni Lesson Study yang dilakukan disuatu sekolah dengan kegiatan
utama berupa Open Lesson atau Open Class oleh setiap guru secara bergiliran
pada hari tertentu. Pada saat ada salah seorang guru membuka kelas (Open
Class) guru-guru yang lain di sekolah tersebut bertindak sebagai observer.
Setelah itu semua guru, baik guru model atau observer malakukan diskusi
refleksi untuk membahas berbagai hal yang terkait dengan fakta atau
fenomena proses belajar siswa yang ditemukan dalam pembelajaran tersebut.
Lesson Study yang akan dilaksanakan dalam konteks sebagai basis
pelaksanaan PPL, lebih dekat dengan LSBS. Artinya dalam Open Class atau
pelaksanaan pembelajaran oleh calon guru di kelas dapat diobservasi oleh
mahasiswa lainnya, guru pamong maupun Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)
yang berasal dari berbagai bidang study, yang saat itu bertugas atau melaksanakan
kegiatan disekolahtempat PPL.

2.5 Media Pembelajaran


Kata media berasal dari bahasa latin medius yang artinya perantara atau
pengantar dari pengirim pesan kepada penerima pesan (Arsyat, 2002:3). Media
sering disebut mediator.
Mediator adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam suatu
pihak dan mendamaikan, dalam hal ini mengatur hubugan yang efektif antara dua
pihak utama, dalam proses belajar itu, peserta didik dan isi pelajaran. Jadi media
adalah yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pengajaran.

Sebagai alat untuk pengajaran, media mempunyai fungsi utama yaitu


sebagai alat Bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi dan
lingkungan belajar yang ditata dan dikatakan oleh guru.
Manfaat media pembelajaran menurut Encyclopedi of Research dalam
Arsyat (2002:25) adalah sebagai berikut.
a. Meletakkan dasar-dasar konkrit untuk berpikir, mengurangi verbalime
pengetahuan kata atau symbol tanpa mengerti artinya.
b. Memperbesar perhatian peserta didik.
c. Meletakkan dasar-dasar penting untuk perkembangan belajar sehingga
membuat pelajaran lebih mantap.
d. Memberikan pengalaman yang dapat menumbuhkan kegiatan usaha sendiri di
kalangan peserta didik.

2.6 Model-model Pembelajaran


a. Examples non examples (contoh dapat dari kasus gambar yang relevan
dari kompetensi dasar)
Langkah-langkah:
1. Guru mempersiapkan gamar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditanyakan lewat OHP
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk
memperhaikan/menganalisis gambar
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisis
gambar tersebut dicatat pada kertas
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

6. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi


sesuai tujuan yang ingin dicapai
7. kesimpulan
b. Problem Based Introduction (PBI), pembelajaran berdasarkan Masalah.
PBI memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa,
pera guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi
penyelidikan dan dialog. Langkah-langkah:
1. guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang
dibutuhkan. Motivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah
2. guru membentuk siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas
belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik,
tugas, jadwal)
3. guru mendorong siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang
sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan
temannya
4. guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses=proses yang mereka gunakan

c. Make-A Match (mencari pasangan)


langkah-langkah:
1. guru menyampaikan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau
topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan
bagian lainnya katu jawaban
2. setiap siswa mendapat satu buah kartu

10

3. tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang


4. setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan
kartunya (soal jawabanya)
5. setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu
diberi poin
6. setelah di satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
yang berbeda dari sebelumnya
7. demikian seterusnya
8. kesimpulan
9. penutup

d. Think Pair And Share


Langkah-langkah :
1. guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai
2. siswa diminta untuk berfikir tentang materi/ permasalahan yang
disampaikan guru
3. siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (dalam kelompok 2
orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
4. guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil
diskusinya
5. berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok
permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa
6. guru memberi kesimpulan dan penutup.
e. Snowball Throwing

11

Langkah-langkah :
1. guru menyampaikan materi yang akan dsajikan
2. guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing
mketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
3. masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing,
kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada
temannya
4. kemudian masing-masing siswa diberikan satu pertanyaan apa saja yang
menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
5. kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa
ke siswa yang lainnya selama 5 menit
6. setelah siswa dapat satu bola/ satu pertanyaaan diberikan kesempatan
kepada siswa untuk menjawab pertnyaan yang tertulis dalam kertas
berbentuk bola tersebut scara bergantian
7.

guru memberikan kesimpulan

8. evaluasi
9. penutup

f. TGT (team Game Tournament)


Dalam model ini, aturan pertandingan sedikit berbeda dari TGT,
disesuaikan dengan kondisi kelas dan untuk mempermudah jalannya
model.
Aturan dan jalannya pertandingan : salah satu siswa bertugas
membacakan kartu soal kemudian siswa lainnya termasuk si pembaca

12

berebut untuk menjawab, setelah ada siswa yang menjawab maka kartu
soal baru boleh dibuka untuk mencocokkan jawaban, jika menjawab dan
langsung benar maka mendapat point 3 , jika jawaban pertama salah dan
dijawab oleh yang lain dan benar mendapat point 2 dan jika salah
mendapat point 1, tidak menjawab point 0. Siswa dengan point tertinggi
dalam team keluar sebagai pemenang dan berhak maju pada babak kedua
untuk bertanding dengan pemenang dari kelompok-kelompok lain. Aturan
pada babak kedua seperti babak pertama, jalannya babak kedua juga sama
seperti babak pertama kemudian pemenang dari babak kedua berhak maju
kebabak ketiga bertanding dengan pemenang dari kelompok lain sampai
keluar satu orang pemenang. Pada akhir pembelajaran pemenang
pertandingan mendapatkan reward dari guru.

13

BAB III
PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN

3.1 Rancangan
Ada beberapa cara orang melakukan Lesson Study. Hal ini tentunya
disesuaikan dengan kondisi dan situasi dalam praktiknya, Menurut Lewis (2002)
menyarankan ada 6 tahapan dalam mengimplementasikan Lesson Study di sekolah
antara lain:
a. Tahap 1 : Membentuk kelompok Lesson Study, yang antara lain berupa
kegiatan merekrut anggota kelompok, menyusun komitmen waktu khusus,
menyusun jadwal pertemuan dan menyetujui aturan kelompok.
b. Tahap 2: Memfokuskan Lesson Study, dengan 3 kegiatan antara lain yakni: (a)
menyepakati tema penelitian (recearchtrime) tujuan jangka panjang bagi
murid; (b) memilih cakupaman materi; (c) memilih unit pembelajaran dan
tujuanyang disepakati.
c. Tahap 3: Merencanakan pembelajaran (recearchlessen), yang meliputi
kegiatan

melakukan

pengkajian

pembelajaran

yang

telah

ada,

mengembangkan petunjuk pembelajaran, meminta masukan dari ahli dalam


bidang study dari luar (Dosen/guru lain yang berpengalaman)
d. Tahap 4: Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (Observasi).
Dalam hal ini pembelajaran dilaukan oleh salah seorang guru anggota
kelompok dan anggota yang lain menjadi obserfer. Obserfer tidak
diperkenankan melakukan introduksi terhadap jalannya pembelajaran baik
kepada guru maupun siswa.

14

e. Tahap 5: Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran, yang telah


dilaksanakan. Diskusi dan analisis sebaiknya mencakup butir-butir: refleksi
oleh instruktur, informasi latar belakang anggota kelompok, presentasi dan
diskusi data data dari hasil obserfasi pembelajaran, diskusi umum, komentar
dari ahli luar, ucapan terima kasih.
f. Tahap 6: Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap
selanjutnya. Pada tahap ini anggota kelompok diharapkan berpikir tentang apa
yang harus dilakukan.

3.1.1

Tahap Perencanaan Tindakan (Planing)


Tahap perencanaan (plan) bertujuan untuk menghasilkan rancangan

pembelajaran yang diyakini mampu membelajarkan peserta didik secara efektif


serta membangkitkan partisipasi efektif peserta didik dalam pembelajaran.
Perencanaan yang baik tidak dapat dilakukan secara sendirian. Pada tahap ini
beberapa pendidik dapat berkolaborasi untuk memperkaya ide terkait dengan
rancangan pembelajaran yang akan dihasilkan, baik dalam aspek pengorganisasian
bahan ajar, aspek pedagosis, maupun aspek penyiapan alat bantu pembelajaran.
Sebelum ditetapkan sebagai hasil final, semua komponen yang tertuang dalam
rancangan pembelajaran dicoba terapkan (disimulasikan). Pada tahap ini juga
ditetapkan prosedur pengamatan termasuk instrumen yang diperlukan.

15

PERENCANAAN
(Plan)
-

Penggalian
akademik
Perncanaan
pembelajaran

3.1.2

PELAKSANAAN
(DO)
-

REFLEKSI
(SEE)

Pelaksanaan
pembelajaran
Pengamatan oleh
rekan sejawat

Refleksi dengan rekan


sejawat

Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan (Do) dimaksudkan untuk menerapkan rancangan

pembelajaran yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Salah satu anggota
(guru/dosen) bertindak sebagai guru (dosen) sedangkan yang lain bertindak
sebagai pengamat (obsever). Hadirin lain (selain anggota kelompok perncana)
juga bertindak sebagai pengamat. Fokus pengamatan diarahkan pada aktifitas
belajar peserta didik dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen
pengamatan yang telah disepakati pada tahap perencanaan, bukan untuk
mengevaluasi penampilan guru (dosen) yang sedang bertugas mengajar. Selama
pembelajaran

berlangsung,

pengamat

tidak

boleh

mengganggu

atau

mengintroduksi kegiatan pembelajaran melalui video kamera atau foto digital


untuk keperluan dokumentasi dan atau bahan diskusi pada tahap berikutnya, atau
bahkan untuk kegiatan penlitian. Kehadiran pengamat di dalam ruang kelas
disamping mengumpulkan informasi juga dimaksukan untuk belajar dari
pembelajaran yang sedang berlangsung.

16

3.1.3

Tahap Refleksi
Tahap refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan

kekurangan pelaksanaan pembelajaran. Guru atau dosen yang telah bertugas


sebagai pengajar mengawali diskusi dengan menyampaikan kesan-kesan dalam
melaksanakan pembelajaran. Kesempatan berikutnya diberikan kepada anggota
kelompok perencana yang dalam tahap do bertindak sebagai pengamat.
Selanjutnya pengamat dari luar diminta menyampaikan komentar dan lesson
learned dari pembelajaran terutama berkenaan dengan aktivitas peserta didik.
Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan demi perbaikan.
Sebaliknya, pihak yang dikritik harus dapat menerima masukan dari pengamat
untuk perbaikan pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini
dapat dirancang kmbali pembelajaran berikutnya yang lebih baik.

17

BAB IV
HASIL LESSON STUDY

Ada beberapa cara orang melakukan Lesson Study. Hal ini tentunya
disesuaikan dengan kondisi dan situasi dalam prakteknya, Menurut Lewis (2002)
menyarankan ada 6 tahapan dalam mengimplementasikan Lesson Study di sekolah
antara lain:
a. Tahap 1 : Membentuk kelompok Lesson Study, yang antara lain berupa
kegiatan merekrut anggota kelompok, menyusun komitmen waktu khusus,
menyusun jadwal pertemuan dan menyetujui aturan kelompok.
b. Tahap 2: Memfokuskan Lesson Study, dengan 3 kegiatan antara lain yakni: (a)
menyepakati tema penelitian (researc theme) tujuan jangka panjang bagi
murid; (b) memilih cakupan materi; (c) memilih unit pembelajaran dan
tujuanyang disepakati.
c. Tahap 3: Merencanakan rencana pembelajaran (recearch lesson), yang
meliputi kegiatan melakukan pengkajian pembelajaran yang telah ada,
mengembangkan petunjuk pembelajaran, meminta masukan dari ahli dalam
bidang studi dari luar (Dosen/ guru lain yang berpengalaman)
d. Tahap 4: Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (Observasi).
Dalam hal ini pembelajaran dilakukan oleh salah seorang guru anggota
kelompok dan anggota yang lain menjadi observer. Observer tidak
diperkenankan melakukan introduksi terhadap jalannya pembelajaran baik
kepada guru maupun siswa.

18

e. Tahap 5: Mendiskusikan dan menganalisis pembelajaran, yang telah


dilaksanakan. Diskusi dan analisis sebaiknya mencakup butir-butir: refleksi
oleh instruktur, informasi latar belakang anggota kelompok, presentasi dan
diskusi data data dari hasil observasi pembelajaran, diskusi umum, komentar
dari ahli luar, ucapan terima kasih.
f. Tahap 6: Merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap
selanjutnya. Pada tahap ini anggota kelompok diharapkan berpikir tentang apa
yang harus dilakukan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran ini
menjadi lebih baik.
Sedangkan menurut Seito mengenalkan ada tiga tahap utama lesson study yakni:
a. Perencanaan (Plan)
Bertujuan untuk menghasilkan rancangan pembelajaran yang diyakini
mampu membelajarkan peserta didik secara efektif serta membangkitkan
partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran. Perencanaan yang baik tidak
dapat dilakukan secara sendirian pada tahap ini beberapa pendidik dapat
berkolaborasi untuk memperkaya ide terkait dengan rancangan pembelajaran yang
akan dihasilakan, baik dalam aspek penggorganisasian bahan ajar, aspek
pedagogis, maupun aspek penyiapan alat bantu pembelajaran. Sebelum ditetapkan
sebagai hasil final, semua komponen yang tertuang dalam rancangan
pembalajaran dicobaterapkan.
b. Pelaksanaan (Do)
Dimaksudkan untuk menenrapkan rancangan pembelajaran yang telah
dirumuskan pada tahap sebelumnya. Salah satu anggota bertindak sebagai guru
sedangkan yang lain bertindak sebgai pengamat. Hadirin lain juga bertindak

19

sebagi pengamat. Fokus pengamatan diarahkan pada aktivitas belajar peserta didik
dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen pengamatan yang telah
disepakati pada tahap perencanaan, bukan untuk mengevaluasi penampilan guru
yang sednag bertugas mengajar. Selama pembelajaran berlangsung, pengamat
tidak boleh mengganggu dan mengintroduksi kegiatan pembelajaran. Pengamat
juga dapat melakukan perekaman kegiatan pembelajaran melalui vidio kamera
atau foto digital untuk keperluan dokumentasi dan atau bahan diskusi pada tahap
berikutnya, atau bahkan untuk kepentingan penelitian. Kehadiran pengamat di
dalam ruang kelas disamping menggumpulkan informasi juga dimaksudkan untuk
belajar dari pembelajaran yang sedang berlangsung.
c. Melihat/ refleksi (See)
Dimaksudkan untuk menemukan kelebihan dan kekurangan pelaksanaan
pembelajaran. Guru yang telah bertugas sebagai pengajar mengawali diskusi
dengan

menyampaikan

kesan-kesan

dalam

melaksanakan

pembelajaran.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada anggota kelompok perencana yang


dalam tahap do bertindak sebagai pengamat. Selanjutnya pengamat dari luar
diminta menyampaikan komentar dan lesson learned dari pembelajaran yang
berkenaan dengan aktivitas peserta didik. Kritik dan saran disampaikan secara
bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru demi perbaikan. Sebaliknya pihak
yang dikritik harus dapat menerima masukan dari pengamat untuk perbaikan
pembelajaran berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang
kembali pembelajaran berikutnya yang lebih baik.

20

a.

Pelaksanaan Lesson Study


Jadwal Pelaksanaan Lesson Study

Jumat,16 April 2010 X RPL 2

3-4

Kode
Guru
Pengajar
Ind 1

Sabtu,17 April 2010

3-4

Ind 2

No.

Hari/Tanggal

Keterangan:

b.

Ind 1 =
Ind 2 =
Ind 3 =
DP =
GP =

Jam
Ke-

Kelas

X TKJ 1

Kode Pengamat
Ind 2, Ind 3, DP,
GP
Ind 1, Ind 3, DP,
GP

(Tenri)
(Moh. Nuril Awwali)
(Kurnia Azizah)
(Indra Suherjanto)
(Siti Nurhayati)

Identitatas Pembelajaran:
1) Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia kelas X TKJ-1

2) Standar Kompetensi : Berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia Setara


Tingkat Semenjana
3) Kompetensi Dasar

: Membuat parafrasa dari teks tertulis

4) Jumlah siswa

: 35

5) Guru Mapel

: Siti Nurhayati

6) Dosen Pembimbing : Indra Suherjanto


7) Guru Prektikan

: Moh. Nuril Awwali

21

c.

Ringkasan Pembelajaran

Kegiatan awal
1.

Guru mengucapkan salam.

2.

Guru mempresensi siswa.

3.

Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dicapai pada


pembelajaran tersebut.

4. Guru bertanya jawab mengenai parafrasa


Kegiatan inti
1.

Guru memberi contoh sebuah iklan dan cara memparafrasakannya.

2.

Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (dalam 2 orang siswa).

3.

Guru membagikan iklan pada masing-masing pasangan.

4.

Setiap pasangan berdiskusi untuk menemukan kata kunci dari iklan yang
dibacanya.

5.

Setiap pasangan membuat parafrasa dari iklan tersebut.

6.

Hasil parafrasa dibacakan oleh masing-masing pasangan.

7.

Guru dan siswa menyimpulkan pengertian parafrasa.

8.

Guru menjelaskan langkah-langkah memparafrasakan puisi.

9.

Guru membagikan puisi kepada setiap pasangan.

10. Siswa menemukan makna dari setiap ungkapan dalam puisi.


11. Siswa memparafrasakan puisi tersebut.
12. Hasil pekerjaan saling ditukarkan dengan dengan pasangannya kemudian
disunting.
13. Siswa dan guru menanggapi parafrasa hasil suntingan tersebut.

22

Kegiatan penutup
1. Siswa dan guru berdiskusi mengenai kesulitan dalam pembelajaran membuat
parafrasa dari teks tertulis.
2. Guru dan siswa menyimpulkan hasil/ kesimpulan pembelajaran.
3. Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam.
Penilaian Proses (Afektif)
Nama Siswa: ........
No

Aspek yang Dinilai

Skor
3

1.
2.

Kesediaan mengerjakan tugas


Keaktifan dalam mengajukan
pertanyaan/ tanggapan
3.
Kemauan bekerja sama
Jumlah Skor
Keterangan:
1: buruk
2: tidak baik
3: cukup baik
4: baik
5: sangat baik

Perolehan Skor
Nilai Akhir =

X Skor Ideal (100)


Skor Maksimal

23

Penilaian Hasil

Penilaian Individu

Rubrik penilaian mengungkapkan kembali dengan kalimat sendiri secara tertulis


teks yang telah dibaca.
No.
1.

2.

3.

4.

Aspek yang dinilai


Siswa mampu menemukan ide
pokok dari teks yang dibaca.

Siswa dapat menentukan tema


teks yang dibaca

Siswa dapat menemukan dan


mengartikan kata-kata sulit.

Siswa dapat mengungkapkan


kembali teks yang telah dibaca
tanpa mengubah inti dari teks
(iklan dan artikel).

Indikator
1. Siswa dapat menemukan semua
ide pokok
2. Siswa dapat menemukan 2 ide
pokok
3. Siswa tidak dapat menemukan
ide pokok

Skor
10

1. Siswa menentukan tema


dengan tepat
2. Siswa menentukan tema kurang
tepat
3. Siswa menentukan tema tidak
tepat

1. Siswa menemukan dan


mengartikan kata-kata sulit
2.
Siswa dapat menemukan
kata-kat sulit dan kurang tepat
mengartikan
3. Siswa menemukan kata-kata
sulit dan tidak dapat
mengartikan

10

1. Siswa dapat mengungkapkan


kembali
2.
Siswa kurang dapat
mengungkapkan kembali
3. Siswa tidak dapat
mengungkapkan kembali

20

Nilai Maksimal

24

8
2

5
2

8
2

15
10

100

Dalam lesson study ini sebagain besar siswa telah mempelajari topik
permasalahan yang telah di berikan oleh Guru, hal tersebut dapat di buktikan
dengan:
a.

Sesuai fakta yang ada banyak sekali siswa lancar menjawab


pertanyaan yang dilemparkan oleh Guru.

b.

Suasana kelas lebih hidup dan siswa terdorong untuk lebih aktif.

c.

Proses belajar sebagian besar siswa mendengarkan, dan beberapa


siswa aktif dalam menjawab pertanyaan.

Tabel 1.1 ketidakaktifan siswa:


No
1
2
3

Nomor
Siswa
Ageng
Adiya
Beni

Keaktifan

Keterangan

Kurang aktif
Kurang Aktif
Kurang aktif

Berbicara di luar konteks


Berbicara di luar konteks
Kurang serius

Kelompok

Tabel 1.2 keaktifan anggota kelompok:


N
o
1
2
3
4
5

Nomor
Siswa
Aris
Ariska
Candra
Fery
Hanavi

Keaktifan

Keterangan

Aktif
Aktif
Aktif
Aktif
Aktif

Buku memadai
Buku memadai
Buku memadai
Aktif bertanya pada guru
Aktif bertanya pada guru

Kelompok

Dilihat dari kedua tabel keaktifan dan ketidakaktifan di atas bahwa


kegiatan Lesson Study ini berjalan dengan lancar dan hasilnya sesuai dengan yang
diharapkan, dimana siswa lebih banyak yang aktif dari pada siswa yang tidak
aktif, keaktifan siswa tersebut juga didukung oleh beberapa faktor yaitu: Guru
yang bisa menguasai kelas dengan baik, media yang mendukung, perhatian guru
pada siswa merata serta motivasi yang ada di diri siswa untuk mengetahui sesuatu

25

hal yang baru. Selain itu juga ada beberapa siswa yang tidak aktif di pengaruhi
oleh beberapa faktor yang paling menonjol adalah tidak memilki Buku pelajaran,
hanya mengandalkan buku yang disediakan oleh pihak sekolah, serta tidak
memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Guru.
Adapun usaha-usaha yang dilakukan oleh Guru untuk mendorong siswa
yang tidak aktif untuk belajar:
a.

Guru memberikan kesempatan bertanya kepada semua siswa khususnya


yang kurang aktif.

b.

Guru menunjuk siswa dengan memanggil nomor siswa yang kurang aktif
untuk menjawab pertanyaan dan menjelaskan materi yang telah disampaikan.
Pelajaran berharga yang dapat dipetik pada pengamatan kegiatan lesson

Study ini adalah:


a.

Adanya kebersamaan antara Guru dengan siswa

b.

Tidak hanya guru yang aktif dalam kegiatan pembelajaran tetapi pertisipasi
aktif siswa sangat menentukan keberhasilan pembelajaran.

c.

Siswa bersemangat dan menanyakan hal-hal yang menarik bagi mereka


serta penghargaan bagi siswa yang menjawab dan tepat waktu harus dinilai
dengan adil

d.

Terjadinya interaksi antara siwa, guru dan media yang digunakan.

e.

Keberhasilan suatu pembelajaran tidak dilihat dari hasil akhir siswa belajar
tetapi bagaimana proses belajar mengajar itu berlangsung.

26