Anda di halaman 1dari 16

PELAKSANAAN DAN HASIL KONGRES I XXI

PERSATUAN GURU REPUBLIK IINDONESIA (PGRI)


KONGRES I
Kongres I dilaksanakan di Surakarta (Solo) Jawa Tengah, pada Tanggal 23-25 November 1945. Pada kongres I,
ditetapkan bahwa tanggal 25 November 1945 sebagai tanggal lahirnya PGRI, dengan susunan Pengurus Besar
sebagai berikut:
Ketua I
: Amin Singgih
Ketua II
: Rh.Koesnan
Ketua III
: Soekitro
Penulis
: Djajeng Soegianto
Bendahara : Siswowidjojo
Beberapa bulan kemudian Ketua I Amin Singgih di angkat sebagai Bupati Mangkunegaran, sehingga terpaksa di
adakan perombakan susunan pengurus besar dengan formasi berikut:
Ketua I
: Rh. Koesman
Penulis I
: Sastrosoemarto
Penulis II
: Kadjat Matosoebroto
Bendahara : Soemidi Adisasmito
Hubungan PGRI dengan Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945:
a. PGRI lahir karena hikmah Proklamasi kemerdekaan RI 1945 dan juga merupakan maniprestasi aspirasi kaum
guru Indonesia.
b. PGRI memiliki komitmen kepada NKRI yang berdasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945
c. PGRI berbatang tubuh suatu organisasi berlandaskan proklamasi, suatu organisasi pemersatu kaum guru yang
bersifat pada Unitaristis, Independent, Non partai politik
d. PGRI adalah suatu organisasi propesi guru yang lahir yang mewariskan jiwa, semangat dan nilai-nilai 45 secara
terus menerus pada setiap generasi bangsa Indonesia.
Tujuan kelahiran PGRI:
a. Memepersatukan dan menyempurnakan kemerdekaan Republik Indonesia
b. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan
c. Membela hak dan nasib buruh pada umumnya dan guru pada khususnya
KONGRES II
Kongres II PGRI di adakan di Surakarta (Solo) Jawa Tengah, pada tanggal 21-23 Desember 1946. Melalui kongres
ini PGRI mengajukan tuntutan kepada pemerintah yaitu:
a. Sistim pendidikan selekasnya didasarkan pada kepentingan nasional.
b. Gaji guru supaya tidak di hentikan.
c. Diadakan Undang-Undang Pokok Perburuhan.
Tuntutan tersebut mendapat perhatian pemertintah, terbukti dengan di tunjuknya Rh. Koesnan menjadi anggota
Panatia Gaji Pemerintah yang di bentuk oleh Departemen Kuangan RI. Kongres kedua PGRI ini menghasilkan
keputusan yang merupakan wujud dari tanggung jawab nasionan PGRI dalam upaya mempelopori perubahan
sistem pendidikan kolonial kparah sistem pendidikan nasional.
Dari kongres tersebut komposisi Pengurus Besar sebagai berikut:
Ketua I : Rh. Koesnan
Ketua II : Soejono Kromodomejo
Ketua III : Soedjono

[1]

Penulis I : J. Soetemas
Penulis II
:
Bendahara I
:
Bendahara II
:
Ketua Bagian Pendidikan I :
Ketua Bagian Pendidikan II :
Ketua Bagian Pendidikan III :

Hj. Hoasodo
Soemedi Adisasmita
Dinneman
D. Notohamidjojo
Sosro
Slamet I

Karena Ketua I Rh. Koesman ditunjuk sebagai Mentri Sosial dan Perburuhan dalam Kabinet Hatta, maka Pengurus
Besar di ubah menjadi; Ketua II Sowjono Kromodimuldjo menjadi Ketua I dan Ketua III Soedjono menjadi Ketua II,
sedangkan Jabatan Ketua III di hapus.
KONGRES III
Kongres III PGRI diadakan di Madiun Jawa Timur pada Tanggal 27-29 Februari 1948, kongres yang di adakan dalam
keadaan darurat ini antara lain memutuskan bahawa untuk meningkatkan efektivitas organisasi di tempuh dengan
jalan memekarkan cabang-cabang yang tadinya Karesidanan memiliki satu cabang menjadi cabang-cabang yang
lebih kecil, tetapi dengan jumlah anggotanya 100 orang.
Susunan Pengurus Besar PGRI berdasarkan hasil kongres adalah sebagai berikut:
Ketua I : Soedjono Kromodimoeldjo
Ketua II : Soedjono
Ketua III : Soedarsono
Pada akhir tahun 1948 sampai dengan awal tahun 1949 dengan kembalinya kekuasaan pemerintah RI ke
Yogyakarta, maka kembali pula PGRI menggerakkan organisasinya dan memindahkan kedudukan PB dari Solo ke
Yogyakarta, dengan susunan pengurus sebagai berukut;
Ketua Umum I : Soedjono Kromodimedjo
Ketua Umum II : Soedjono (Wakil PB di Jakarta )
Ketua Umum III : Soedarsono
Sekretaris
: Soekirno
Bendahara
: Soewandi
Melalui Kongres III, PGRI telah mendirikan haluan dan sifat perjuangan yaitu:
a. Mempertahankan NKRI
b. Meningkatkan tingkat Pendidikan dan pengajaran Nasional sesuai dengan dasar Falsafah Negara Pancasila dan
UUD 1945
c. Tidak bergerak di partai politik atau Non Partai Politik
d. Sifat dan siasat perjuangan PGRI :
Bersifat kolektif dan konsultif terhadap pemerintah
Kerjasama dengan serikat-serikat guru/pekerjaan lain
Kerjasama dengan badan-badan lainnya, partai politik, organisasi pendidikan ORDIK dan badan-badan
perjuangan
Bergerak ditengah-tengah masyarakat
KONGRES IV
Kongres IV PGRI dilaksanakan di Yogyakarta 26-28 februari 1950. Hasil kongres memutuskan untuk mengeluarkan
Maklumat Persatuan yang berisikan seruan kepada masyarakat, khususnya kepada guru-guru, untuk membantu
menghilangkan suasana yang membahayakan dalam hubungan antara golongan Non dan Ko serta menggalang
persatuan demi perjuangan untuk mengisi kemerdakaan. Keputasan penting dalam kongres IV PGRI adalah :
a. Mempertahankan dan mengisi kemerdakaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945

[2]

b. Menghilangkan rasa kecurigaan dan rasa kedaerahan dikalang guru


c. Lahir pula pengurus-pengurus baru dari PGRI yaitu :
Ketua I
: RH. Koesman
Bendahara 2
Ketua II
: Sujono
Ketua Buruh
Ketua III
: Sujono Kromo Dimulyo
Wakil Ketua Buruh
Sekjen 1
: Sukarno
Ketua Pendidikan
Sekjen 2
: Muhamad Hidayat
Wakil Ketua Pendidikan
Bendahara 1 : Sutinah

:
:
:
:
:

Sutejo
M.Y Subiya Dinata
Suparmo
Sudarsono
F.Wahcedof

KONGRES V
Kongres V PGRI diadakan di Bandung pada tanggal 19-24 Desember 1950 tepatnya di Hotel Savoy Homann, dan di
buka oleh ketua PB PGRI Rh. Koesman. Dalam Kongres ini di bicarakan suatu masalah yang prinsipil dan
fundamental bagi kehidupan perkembangan PGRI selanjutnya yaitu Pancasila di terima sebagai Asas Organisasi.
Selain itu di diskusikan pula bentuk Pendidikan Guru KPKPKB (Kursus Pengantar Kepada Persiapan Kewajiban
Belajar ), yang menurut peserta kongres tidak sesuai dengan upaya peningkatan mutu Pendidikan Bangsa.
Kongres juga menegaskan Pengurus Besar PGRI dalam waktu singkat melakukan usaha untuk menghilangkan
perbedaan gaji antara golongan Kooperator dan Non Kooperator yang telah di tetapkan oleh pemerintah.
Golongan Non Kooperator merupakan golongan yang dengan tegas menentang Belanda saat perang. Kongres ini
disebut juga dengan kongres persatuan di mana Serikat Guru Indonesia (SGI) dan Persatuan Guru Indonesia (PGI)
berbaur dengan PGRI.
Usaha-usaha yang dilakukan didalam kongres antara lain:
a. Menyelesaikan penyesuaian golongan gaji pegawai berdasarkan peraturan pemerintah yang telah ditetapkan
b. Menyelesaikan pemberian penghargaan kepada anggota non Cooperator dalam bentuk pembayaran pemulihan
c. Mendesak pemerintah agar menyusun peraturan gaji baku
d. Mendudukan wakil PGRI dalam panitia penyusunan peraturan gaji baru.
Upaya konsolidasi dan hasil penting yang dicapai dalam kongres adalah sebagai berikut:
a. 47 cabang PGRI di Kalimantan dan Sulawesi masuk kedalam barisan PGRI.
b. Ada 2500 guru yang bersedia digaji berbeda menurut ketentuan Swapraja/Swatantra tertolong, dan akhirnya
digaji secara sama dan seragam dari pemeritah pusat.
c. Pada bulan April 1951 tuntutan PGRI kepada Pemerintah tentang kenaikan honor dikabulkan.
d. Mulai dilakukan konferensi daerah secara teratur.
Kongres V PGRI mengandung dua momentum penting, yaitu:
a. Menyambut lustrum PGRI
b. Wujud rasa syukur dan suka cita yang mendalam karena SGI/PGI melebur menjadi satu kedalam PGRI
Adapun susunan Pengurus Besar PGRI berdasarkan hasil kongres V adalah sebagai berikut:
Ketua I : Soedjono
Ketua II : M.E. Subiadinata
Pada tahap pertama, dibentuk Komisariat Daerah yang mencakup:
Sumatra Utara
: T.Z. Answar
Sumatra Tengah
: A. Manan
Sumatra Selatan
: Noezoear
Jawa Barat
: Jaman Soedjono Prawiro
Jawa Tengah
: Soenarto
Yogyakarta
: Moh. Djoemali
Jawa Timur
: Soebandri

[3]

Sulawesi Selatan
Jakarta Raya

:
:

A.N. Hardjarati
Soemadi (Koordinaror)

Pada tahun 1952 terbentuk Komisariat Daerah yang baru yaitu:


Kalimantan
: E. Simorangkir (digantikan Sjahran)
Sulawesi Utara
: E.A. Parengkuan
Maluku
: O. Nanulaita
Bali
: Made Mendra

KONGRES VI
Kongres VI PGRI berlangsung di Malang Jawa Timur 24-30 November 1952. Pada Kongres ini untuk pertama
kalinya PB PGRI berusaha mengajukan konsep tentang isi dan pengertian Pendidikan Nasional.
Beberapa keputusan penting yang dicapai dalam kongres:
a. Dalam Bidang Organisasi : Kongres menetapkan bahawa asas PGRI ialah Keadilan Sosial dan dasarnya adalah
Demokrasi, dan PGRI tetap berada di bawah GBSBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia). Dalam bidang
perburuhan diputuskan untuk memperjuangkan kendaraan bermotor bagi penilik sekolah, instruktur Pendidikan
Jasmani dan Pendidikan Masyarakat.
b. Dalam Bidang Pendidikan : Dikeluarkannya SK Mentri PP & K Nomor. 20/G.I/C tgl. 14 Mei 1954 yang berisi halhal berikut:
Sistem pengajaran di selaraskan dengan kebutuhan Negara pada masa pembangunan,
KPKB (Kursus Persamaan Kewajiban Belajar) di ubah menjadi SR 6 tahun
Dihapusnya KPK PKB dan diubah menjadi sekolah guru B (SGB)
Diuabahnya semua SR 3 menjadi SR 6 tahun
Diubahnya KP-SGA menjadi KGA
Ditiadakannya syarat dinas 4 tahun
KPKPKB di hapus pada ahir tahun 1952/1953
Kursus B-I/B-II untuk pengadaan guru SLTP dan SLTA di atur sebaik-baiknya
Diadakan Hari Pendidikan Nasional.
c. Dalam Bidang Umum : Disepakati supaya anggaran belanja Kementrian PP & K ditingkatkan menjadi 25% dari
seluruh anggaran belanja Negara dan agar Jawatan PP & K dipusatkan sampai tingkat Provinsi. Dalam Kongres
ini di syahkan pula Mars PGRI ciptaan Basoeki Endropranoto.
d. PB-PGRI membangu panitia konsepi pendidikan nasional yang diketuai oleh F. Wachen Droff dengan tugas yang
sangat luas.
e. Diangkatnya wakil PGRI dalam bidang kongres pendidikan Indonesia (BKPI)
f. Ikutserta PGRI dalam kongres bahasa dan berbagai konferensi lain baik yang berhubungan dengan kedinasan
maupun berkaitan dengan organiasi-organisasi pendidikan.
g. Adanya wakil PGRI dalam panitia nasional UNISCO pada tahun 1953
h. Diangkatnya pengkaderan anggota pengurus di Bandung pada tgl 22-27 Juli 1954
Susunan PB PGRI berdasarkan hasil kongres VI adalah:
Ketua I
: Soedjono
Ketua II
: M.E. Subiadinata
Panitera Umum
: Moehammad Hidajat
Tata Usaha
: Soebandri
Panitera Pendidikan
: Ketut Nara
Redaksi Majalah Suara Guru : Soepardo, Soedjono Soebandri

[4]

KONGRES VII
Kongres VII PGRI dilaksanakan di Semarang tepatnya di SMA-B Candi Semarang pada tanggal 24 November
sampai dengan 1 Desembar 1954. Dihadiri 639 orang utusan dari 351 cabang yang membawakan 1.414 suara dari
1.581 seluruh suara dalam organisasi (89%). Untuk pertama kalinya Kongres dihadiri oleh tamu-tamu dari luar negri
yaitu Maria Marchant (wakil FISE yang berkedudukan di Paris), Marcelini Bausta (PPTA Filipina mewakili WCTOP),
Fan Ming, Chang Chao dan Shen Pei Yung (Serikat Buruh Pendidikan RRC).
Hasil Kongres VII PGRI antara lain:
a. Bidang Umum : Pernyataan mengenai Irian Barat; Pernyataan mengenai korupsi; Resolusi mengenei
desentralisasi sekolah, pemakaian keuangan oleh kementrian PP & K, dan mengenai penyempurnaan cara kerja
Kementrian PP & K
b. Bidang Pendidikan : Resolusi mengenai anggaran belanja PP & K yang harus mencapai 25% dari seluruh
anggaran belanja Negara; Resolusi mengenai UU Sekolah Rakyat; Resolusi mengenai UU Kewajiban Belajar;
Resolusi mengenei Film, iektur, gambar, serta radio dan pembentukan Dewan Bahasa Nasional.
Empat orang formatur terdiri atas Soedjono (944 suara), M.E.Subiadinata (784 suara), Hermanoe Adi (264 suara),
dan Moehammad Hidajat (258 suara) dipilih oleh Kongres untuk mekengkapi susunan PB berikut:
Ketua I : Soedjono
Ketua II : M.E. Subiadinata
Ketua III : Hermanoe Adi
Terjadi pergantian Komisaris Daerah dan penambahan Komisaris Daerah sebagai berikut:
Sumatra Utara
: Idris M; Hutapea
Sumatra Tengah
: Achmad Chatib
Sumatra Selatan
: Madian
Jakarta Raya
: Baheransjah Sutan Indera
Jawa Barat
: M. Hosein
Jawa Tengah
: Soenarto
Yogyakarta
: Muhammad Djumali
Jawa Timur
: Hermanoe Adi
Kalimantan Barat : R. Sujo
Kalimantan Selatan : Sjahran
Sulawesi Utara
: E.A. Parengkuan
Sulawesi Selatan : J.E. Tatengken
Bali
: Madae Mendra
Maluku
: M. Ruhupatty
Beberapa peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pasca kongres VII adalah seperti berikut :
a. Bergabungnya kembali ikatan guru lulusan CVO dan ikatan guru SR ke dalam PGRI
b. Terselenggaranya konferda disejumlah wilayah seperti di Denpasar untuk wilayah Nusatenggara (22-25 Juli
2955) dan di Tanjung Karang untuk wilayah Sumatera Selatan (11-13 Juli 1955)
c. Meningkatnya anggota PKI mempengaruhi anggota-anggota PGRI dengan cara antara lain melumpuhkan
kegiatan-kegiatan PGRI dan menghalangi kegiatan iuran anggota PGRI didaerah-daerah.
d. Munculnya organisasi non PGRI yang didirikan oleh golongan yang anti PKI, seperti persatuan guru nahdlatul
ulama (PERGANU), ikatan guru muhammadiyah (IGM) persatuan guru kristen Indonesia (PERGUKRI)

KONGRES VIII
Dilaksanakan di Bandung pada bulan Oktober 1956, dihadiri oleh hampir seluruh cabang PGRI. Tetapi saat
pemilihan ketua umum PB PGRI keadaan menjadi tegang, karena pihak Soebandri menambah kartu pemilihan
(kartu palsu), sehingga pemilihan tersebut harus diulangi. Otak pemalsuan adalah Hermanoe Adi, tokoh PKI Jawa

[5]

Timur yang saat itu menjabat Ketua II PB PGRI. Akhirnya yang terpilih menjadi Ketua Umum PB PGRI ialah M.E.
Subiadinata, menggantikan Sudjono. Hermanoe Adi tidak lagi di pilih menjadi ketua PB PGRI jabatanya di gantikan
oleh M. Hosein yang sebelumnya menjabat Ketua PGRI Komisariat Daerah Jawa Barat. Susunan PB PGRI hasil
Kongres VIII adalah sebagai berikut:
Ketua Umum :
Ketua I
:
Ketua II
:

M.E. Subiadinata
Soedjono
M. Hosein

Peristiwa yang terjadi pasca kongres VIII adalah sebagai berikut :


a. Terbentuk komisariat kalimantan timur pada bulan maret 1957 dengan ketua Sanoesi dan komisaris daerah aceh
pada bulan maret 1958 dengan ketua Ibrahim Siagian
b. Diadakannya kursus kader tingkat khusu pada waktu tgl 23 Desember 1957 s/d Januari 1958 dengan di Jakarta
dengan ketentuan setiap 15 cabang mengirim satu orang peserta.
c. Mengadakan dialog segi tiga antara PB-PGRI, materi PP & K, dan mentri dalam negeri dikantor mentri PP & K
tetang tuntan PGRI untuk menaikkan anggara belajar kementrian PP & K hingga 25%.
d. Sosialisasi tuntutan PGRI untuk menaikkan anggaran kementrian PP & K hingga 25% kepada para anggota.
e. Mendesak pemerintah untuk segera memberantas penyelewengan dana dalam kementrian PP & K
f. Mendesak pemerintah untuk segera mengubah sistem pendidikan yang mengandung unsur-unsur pendidikan
kolonia menjadi sistem pendidikan yang lebih bersifat nasional.
g. Dikembangkan usaha kesehatan sekolah (UKS) akibat dari usulan PGRI kepada pemerintah agar lebih
memperhatikan kesehatan atau memfasilitasi pemeriksaan kesehatan murid dan guru oleh dokter sekolah dan
menyediakan obat-obatan disekolah.
h. Ditolaknya rencana kenaikan uang ujian sekolah tahun 1956/1957. penolakan ini dilakukan PGRI organisasi
pelajar.
i. Dikeluarkannya buletin khusus yang berjudul Marilah kita berantas bacaan cabul dalam upaya PGRI
memberantas bacaan dan film porno.
j. Menjadi permasalahan dalam simposium Badan Musyawarah Nasional (BMN) di Denpasar.
k. Menegerikan beberapa sekolah PGRI, yaitu 6 KG A, 2 SMA, 2 SMP pada periode 1956 1959. PGRI memiliki
189 sekolah yang terdiri atas 3 SGA, 10 KG A, 6 SG B, 3 KG B, 1 SMPE dan masih banyak lainnya.
l. Mengusahakan agar ditetapkannya Hari Pendidikan, PGRI mengusulkan tanggal 25 November sebagai Hari
Pendidikan.
m. Mengusahakan kenaikan pangkat otomatis bagi setiap guru yang pada tanggal 30 September sudah memenuhi
persyaratan kepangkatan meskipun mereka belum diusulkan naik pangkat.
n. Dibentuknya panitia amandemen PGPN dan M.E Soebidanata duduk dalam panitia sebagai wakil PGRI.
o. Diperhitungkannya masa kerja guru SR di sekolah-sekolah swasta
KONGRES IX
Berlangsung di Surabaya, tanggal 31 Oktober sampai dengan 4 November 1959. Susunan PB PGRI berdasarkan
hasil kongres adalah sebagai berikut.
Ketua Umum
: M.E. Subiadinata
Ketua I
: M. Hoesein
Ketua II
: Soebandri
Panitia Umum
: Soekarno Prawira
Panitia Umum dan Keuangan
: A. Zachari
Panitia Perburuhan
: Moejono
Panitia Pendidikan
: L. Manu sama
Panitia Keuangan
: A. Zachari
Panitia Organisasi
: Moersid Idris
Panitia Sosial / Ekonomi
: Ismartojo
Komisaris Umum Urusan Perburuhan : A. Sanoesi

[6]

Komisaris Umum Urusan Pendidikan :


Komisaris Umum Urusan Perburuhan :
Komisaris Umum Urusan Keuangan :

A.H. Arahap
Alam Sjahroeddin
Nj. Soenardi

Pada bulan bulan pertama sesudah kongres IX, PGRI menghadapi kesulitan besar terutama karena kekurangan
dana. Bukan karena jumlah iuran anggota yang kecil (Rp 150), melainkan pemasokan dana dari Jawa Tengah dan
Jawa Timur sangat seret. Dari beberapa cabang yang setia, PB PGRI dikedua provinsi tersebut diserobat oleh
pengurus daerah yang Pro-PKI. Meskipun demikian kegiatan PGRI berjalan dalam upayanya memperjuangkan nasib
para guru.
Masalah dukungan PGRI terhadap masuknya PSPN kedalam soksi yang diputuskan dengan 12 suara Pro lawan 2
suara kantor pada hakekatnya tidak mengubah kekompakan di lingkungan PB PGRI. Hal ini disebabkan adanya
kejelasan pada semua pihak pada saat itu. Bahwa dukungan tersebut dengan sendirinya tidak berlaku lagi jika dua
syarat diajukan oleh PB PGRI, yakni soksi bukan merupakan vaksentral dan nama soksi harus diganti, tidak
terpenuhi.
KONGRES X
Bertempat di Gelora Bung Karno Jakarta, pada bulan Oktober 1962. Pada periode 1962-1965, PGRI mengalami
masa sulit karena terjadinya perpecahan di dalam tubuh PGRI. Susunan PB PGRI berdasarkan hasil kongres X
adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : M.E. Subiadinata
Ketua I
: M. Hosein
Ketua II
: Soebandri *)
Pada bulan Juni 1964, Soebandri di pecat kerana terlibat dalam penghianatan/sparatis dengan mendirikan PGRI
Non Vaksentral/PKI. Setelah mengalami reshuffle, maka susunan PB PGRI berubah menjadi:
Ketua Umum
: M.E. Subiadinata
Ketua I
: M. Hosein
Ketua II
: H.M. Hidajat
Panitera Umum
: A.A. Abduracman
Panitera Keuangan
: Obing H. Tambri
Panitera Kesejahteraan
: Drs. M. Rusli Yunus
Panitera Pendidikan
: Nj. Soenardi
Panitera Organisai
: Drs. M. Rusli Yunus
Panitera Urusan Keuangan
: Nj. Soenardi
Panitera Urusan Perguruan Tinggi
: Anwar Jasin
Panitera Urusan Olahraga
: Drs. Tatworjo, M.SI
Panitera Kemasyarakatan / Kebudayaan
: A.M.D. Jusuf
Panitera Teknik Kejuruan
: Dr. GB Dhr masetia
Panitera Keguruan
: Drs. Estiko Soeparjo
Panitera Penerangan / Hubungan Luar Negeri : Selamet I
PGRI bersama-sama dengan guru NU, Ikatan Guru Muammadiyah, Ikatan Guru PSII (Serikat Islam Indonesia),
Ikatan Guru Marhaenis (PNI Osausep), Persatuan Guru Kristen Indonesia, Ikatan Guru Katolik, Persatun Guru Islam
Indonesia dan Persatuan Guru PERTI membentuk KAGI, khusus di Jawa Barat dibantu KAPP, kemudian KAGI
terbentuk pula diberbagai provinsi.
Tugas utama KAGI adalah:
a. Membersihkan dunia pendidikan Indonesia dari urusan-urusan PKI dan Orde lama PGRI non Vaksentral, serikat
sekerja pendidikan dan PETI (Persatun Guru Tekhnik Indonesia).
b. Menyatukan guru didalam satu wadah organisasi guru yaitu PGRI

[7]

c. Memperjuangkan agar PGRI menjadi organisasi guru yagng tidak unitaristik, tetapi juga independen dan non
partai politik.
Untuk menyelamatkan pendidikan dari ancaman dan perpecahan di kalangan guru, Presidan Soekarno membentuk
Majelis Pendidikan Nasional yang menerbitkan Peraturan Presiden No.19 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Sistem
Pendidikan Nasional Pancasila sebagai hasil kerja dari Panitia Negara untuk penyempurnaan Sistem Pendidikan
Pancawardhana.
KONGRES XI
Dilaksanakan di Bandung pada tanggal 15 - 20 Maret 1967. Kongres menetapkan susunan PB PGRI periode 19671970 adalah sebagai berikut:
Ketua Umum
: M.E. Subiadinata
Ketua I
: Dra. Mien S. Warnaen
Ketua II
: Maderman B.A.
Sekretaris Jendral
: Drs. Estiko Soeparjo
Sekretaris Keuangan
: Ny Dahniar Zein
Sekretaris Tenaga Kerja
: M. Hatta
Sekretaris Pendidikan / Keuangan
: Drs. WDF Rindorindo
Sekretaris Organisasi
: Drs. M. Rusli Yunus
Sekretaris Poleksos
: Drs. A. Latief Zachri
Sekretaris Perguruan Tinggi
:
Sekretaris Kewanitaan
: Ny. S. Soenardi
Sekretaris Olahraga
: Moh. Djunardi
Sekretaris Kemasyarakatan / Kebudayaan : Slamet I
Sekretaris Penerangan
: T. Simbolin
Sekretaris Hubungan Luar Negeri
: Soehoed Tjokroadmodjo
Hasil pelaksanaan kongres XI antara lain:
a. Dibidang umum dan politik :
Memenangkan perjuangan untuk menagakkan dan mengembangkan orde baru demi suksesnya Dwi Dharma
dan Catur Karya Kabinet Ampera.
Mendukung sepenuhnya keputusan dan ketetapan Sidang Umum Istimewa MPR.
Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 45.
Menjujung tinggi hak asasi manusia.
Mengikis habis sisa-sisa Gestapu/PKI.
PGRI Non Vaksentral, SSP, PGTI di nyatakan sebagai ormas terlarang karena merupakan ormas antek PKI.
Diaktifkanya kembali 27 pejabat kementrian P & K yang di pecat oleh Prof. Prijono.
Disetujuinya PGRI untuk bergabung dalam Sekertariat Bersama Golkar.
b. Dibidang organisasi:
Konsolidasi pengembangan organisasi kedalam dan keluar untuk menciptakan kekompakan pada seluruh
potensi kependidikan
Perubahan dan penyempurnaan AD-ART PGRI yang sesuai dengan perkembangan politik Orde Baru
Perluasan keanggotaan PGRI dari guru TK sampai dengan dosen Perguruan Tinggi
Penentuan kriteria/persyaratan pengurus PGRI mulai tingkat Pengurus Besar, Pengurus Daerah, Pengurus
Cabang, hingga Pengurus Ranting
Intensivikasi penerangan tentang kegiatan organisasi melalui pers, radio, TV, dan majalah Suara Guru.
Pendidikan kader organisasi secara teratur dan berencana
PGRI menjadi anggota WCOTP (World Confederation of Organisation of Teaching Profession)
Menyatakan PGRI siap menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Regional Confrence (ARC WCOTP).
c. Pada kongres XI PGRI, untuk pertamakali menegaskan Anggaran Dasar sifat PGRI yang unitaristik, Independen
dan non partai politik.

[8]

Pada tanggal 19 Desember 1969, ketua Umum PB PGRI M.E. Subiadinata wafat, di makamkan di Taman Makam
Pahlawan Kalibata, dengan inspektur upacara Jendral TNI Abdil Haris Nasution, sehingga Ketua Umum di gantikan
oleh ketua I yang baru yaitu Slamet (1967-1970).
KONGRES XII
Kongres XII PGRI diadakan di Bandung pada tanggal 29 Juni sampai dengan 4 Juli 1970. Susunan PB PGRI
periode 1970 1973 berdasarkan hasil kongres adalah sebagai berikut:
Ketua Umum
: Basyuni Suriamiharja
Ketua I
: Slamet I*
Ketua II
: Maderman B.A*
Sekretaris Jendaral : A.M.D. Jusuf
Konpus II tahun 1972 memutuskan bahwa susunan PB PGRI harus di sempurnakan di sebabkan oleh:
Ketua I Slamet pindah ke Belanda, di gantikan oleh Ketua II Maderman.
Ketua II di isi oleh Drs. W.D.F. Rindhorindo
Sekretaris Jendral A.M.D. Jusuf wafat dan digantikan oleh M. Hatta (sebelumnya menjabat Sekretaris
Perburuhan).
Susunan PB PGRI sisa periode XII yang disempurnakan menjadi sebagai berikut:
Ketua Umum
: Basyuni Surimaharja
Ketua I
: Moderman B.A.
Ketua II
: Drs. WDF Rindorindo
Sekretaris Jendral
: M. Hatta
Sekretaris Keuangan
:
Sekretaris Pendidikan
:
Sekretaris Perburuhan
:
Sekretaris Organisasi
:
Sekretaris Kewanitaan
:
Sekretaris Keuangan
: Drs.H. Ghazali Dunia
Sekretaris Pendidikan
: Prof.Dr. Winarno Surakhad
Sekretaris Perburuan
: Soeharto Padmoatmojo
Sekretaris Organisasi
: Satyono, Ba.
Sekretaris Kewanitaan
: Ny. Daniar Zein
Adapun keputusan-keputusan penting dari kongres XII PGRI adalah sebagai berikut:
a. Perubahan struktur dan basis-basis organisasi PGRI, yaitu tingkat Cabang meliputi
Kabupaten/Kotamadya, sedangkan wilayah anak cabang adalah Kecamatan
b. Administrasi Organisasi disederhanakan dan di seragamkan untuk seluruh wilayah Indonesia
c. Lambang dan Mars PGRI dilampirkan dalam buku AD-ART PGRI.

wilayah

Sejak kongres XII PGRI terjadi perubahan besar dalam kehidupan organisai PGRI, yaitu struktur PB PGRI menjadi
sangat berbeda dari masa sebelumnya : 4 sekretaris membidangi 4 biro yang terdiri atas 19 urusan akibatnya jumlah
personalia PB PGRI pertamakali dalam sejarah membengkak menjadi 28 orang. Istilah Sekretaris Perburuan harus
diganti Sekretaris Kesejahteraan.

KONGRES XIII
Kongres XIII diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 21 - 25 November 1973. Susunan PB PGRI berdasarkan hasil
kongres adalah sebagai berikut:

[9]

Ketua Umum
:
Ketua I
:
Ketua II
:
Sekretaris Jendral
:
Sekbid Organisasi
:
Sekbid Keuangan
:
Sekbid Kewanitaan
:
Sekbid Kesejataraan
:
Sekbid Perencanaan & Evaluasi :
Sekbid Pendidikan Guru
:
Sekbid Pendidikan Sains
Sekbid Pendidikan Tinggi
Sekbid Pendidkan Sosial Budaya
Sekbid Agama
Sekbid Pendidikan Kemasyarakatan
Sekbid Pendidikan Olahraga
Sekbid Pengurus Swasta

Basyuni Suriamiharja
Prof. Dr. Winarno Surakmad
Drs. Madorman
Drs. W.D.F. Rindorindo
Moh. Hatta
Drs.H. Ghazali Dunia
Ny. Dahniar Zein
Drs.M. Rusli Yunus
Dr. Har Tilar
Drs.Mien. S. Warnean
: Drs.R. Wiriadinata M.Sc.
: H.B. Layito.
: Suryono
: Dr. Nuhibuddin Waly.MA.
: Soeharto Padmodormojo.
: Drs.M. Yunus Akbar
: Ki Suratman

Pada Desember 1975, Sekbid kejeteraan Drs. Rusli Yunus diangkat menjadi kepala sekolah RI di TOKYO, Jepang,
tugasnaya digantikan /dirangkap oleh Sekbid Keuangan Drs.H. Ghazali Dunia.
Dalam menjalankan tugasnya PB-PGRI mendapat bimbingan dari Dewan Pmbina pusat untuk pertama kalinya dari
Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Mentri Dalam Negeri, Mrntri Agama. Seakan-seakan untuk menyelamatkan
bahtera PGRI dari amukan badai, Kongres PGRI Ke XIII menerima adanya struktur Dewan Pembina yang tiga
orang anggotanya secar Ex-officio terdiri atas tiga orang mentri.
Dalam kongres ini ditetapkan perubahan-perubahan yang mendasar dalam bidang organisasi yaitu:
a. Berubahnya sifat PGRI dari Organisasi Serikat Pekerja menjadi Organisasi Profesi
b. Ditetapkanya Kode Etik Guru Indonesia,
c. Perubahan lambang panji Organisasi PGRI yang sesuai dengan organisasi profesi guru
d. Adanya Dewan Pembina PGRI.
KONGRES XIV
Diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 26 30 Juni 1979. Susunan PB PGRI periode 1979 1984 berdasarkan
hasil kongres adalah sebagai berikut.
Ketua Umum
: Basyuni Suriamiharja
Ketua
: Prof.Dn Amran Halim
Wakil Ketua
: Dra. Ny. M. Wahyudi
Wakil Ketua
: Drs.Sudarmaji
Wakil Ketua
: Drs.Aidil Fitrisyah
Sekretaris Jendral : Drs. WDF Rindorindo
Wakil SekJen
: Mohammad Hatta
Kongres XIV menghasilkan beberapa keputusan penting yaitu:
a. Menganai pendirian Wisma Guru yang di rencanakan dibanguan di Jalan Tanah Abang III No.24 Jakarta Pusat,
yang sekaligus akan menjadi kantor PB PGRI
b. Memutuskan dan menegaskan bahwa pembinaan lembaga pendidikan PGRI perlu dilakukan secara
konsepsional, nasional, dan terkendali secara organisasi
c. Untuk melaksanakan keputusan Kongres, PB PGRI membentuk YPLP PGRI dengan Akta Notaris Mohammad
Ali No.21 tanggal 31 Maret 1980 yang berlaku surat sejak 1 Januari 1980.

[10]

d. Dengan SK PB PGRI No.951/SK/PB/XIV/1980 tanggal 10 Oktober 1980 diangkat Pengurus Pusat YPLP-PGRI
yang pertama, dengan susunan sebagi berikut:
Ketua
: Slamet I
Wakil Ketua
: Drs. Soepojo Padmodipuro
Sekretaris
: Surdilani
Wakil Sekretaris : D. Somantri Wiradisata.
Bendahara
: Drs. Chasan Mintara
Anggota
: Dr.M. Hustasdit.
Anggota
: Anwar Jasin.M.ed

KONGRES XV
Kongres berlangsung di Jakarta pada tanggal 16 - 21 Juli 1984. Kongres menggariskan pokok-pokok PGRI untuk
periode 1984 1989, yang meliputi: ruang lingkup pembinaan dan pengembangan organisasi PGRI, tanggung jawab
dan peran PGRI dalam menyukseskan SU MPR 1983, Repelita IV dan Pancakrida Kabinet Pembangunan V.
Susunan PB PGRI berdasarkan hasil kongres XV adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : Basyuni Suriamiharja
Ketua
: Dr. Anwar Jasin, M.Ed
Ketua
: Prof. Dr. Amran Halim
Ketua
: Ny. M. Wahyudi
Ketua
: Drs. Is Riwidikdo
Ketua
: Drs. I Gusti Agung Gde Oka
Ketua
: Drs. Adil Fitrisyah
Susunan Dewan pembinaan pusat PGRI Masa Bhakti 1984-1989 adalah sebagai berikut:
Ketua
: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Anggota : Menteri Dalam Negeri
Anggota : Menteri Agama
Anggota : Menteri Penerangan
Anggota : Menteri Sosial
Anggota : Ketua Umum DPP Golkar
Anggota : A.E. Mamehuruk; dan Dr. Midian Sirait.
SekjenPB - PGRI sebagai Sekretaris.
Kongres PGRI XV menghasilkan 31 orang Personil PB PGRI. Jajaran ketua yang lazimnya sebanyak 3 orang
menjadi 7 orang, 6 ketua; Sekretaris Jenderal yang biasanya satu sampai dua orang menjadi 4 orang; Bendahara
menjadi 3 orang dan Sekbid menjadi 17 orang; Dewan Pembina dari 3 orang mentri menjadi 5 orang mentri
ditambah satu orang lagi yaitu ketua umum satu oraganisasi politik
Salah satu karya besar PB PGRI masa bhakti 1984-1989 adalah pembangunan Gedung Guru Indonesia (GGI) di
Jalan Tanah Abang III No.24 Jakarta Pusat. Pelaksanaan pembangunan dimulai pada tanggal 20 Maret 1986 dan
diserahkan kepada PGRI pada tanggal 21 Maret 1987, kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto 21 April 1987.
KONGRES XVI
Kongres XVI PGRI diadakan di Jakarta pada tanggal 3 - 8 Juli 1989. Berdasarkan hasil kongres, susunan PB PGRI
Masa Bhakti 1989 - 1994 adalah sebagai berikut:
Pengurus Harian:
Ketua Umum
: Basyuni Suriamiharja

[11]

Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Sekjen
Wakil Sekjen
Wakil Sekjen
Bendahara
Wk. Bendahara
Wk. Bendahara

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Drs. I Gusti Agung Gde Oka


Dr. Anwar Jasin, M.Ed
Dra. Mien S.Warnaen
H.R. Taman Sastrodikromo
Taruna S.H.
Drs. Sutrisno
Drs. WDF Rindorindo
Drs.H. Sigit Poernomo
Drs.H. Samad Thaha
Drs. HKA Mooyoto
Drs. Udjat S. Suwarno.
Ny. Martha Mijardi.

KONGRES XVII
Kongres XVIII PGRI diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 3 - 8 Juli 1994. Berdasarkan hasil kongres, susunan
PB PGRI Masa Bhakti 1994 - 1998 adalah sebagai berikut:
Ketua Umum
: Basyumi Suriamiharja
Ketua
: Drs. I Gusti Agung Gde Oka
Ketua
: Dr. Anwar Jasin, M.Ed
Ketua
: Dra. Mien S. Warnaen
Ketua
: H.R. Taman Sastridokromo
Ketua
: Taruna, S.H
Ketua
: Prof. dr. Marsetio Danusaputro
Sekjen
: Drs. WDF Rindorindo
Wakil Sekjen
: Drs.M. Rusli Yunus
Wakil Sekjen
: Drs.H. Sigit Poernomo
Wk. Sekjen
: Drs.H. Sulaiman SB Ismaya
Bendahara
: Drs. HKA Mooyoto
Wk. Bendahara : Drs. Udjat S. Suwarno.
Wk. Bendahara : Ny. Martha Mijaidi.
Susun Personalia Tim Penulis Buku Sejarah PGRI dari Masa ke Masa sebagai berikut :
Penasehat/Nara Sumber : Drs. WDF Rindorindo
Ketua/Angggota
: M. Rusli Yunus
Sekretaris/Anggota
: Drs. H. Sulaiman SB Ismaya
Angggota
: Drs. Hudadaya
Anggota
: J.Ch. Lesilolo
Anggota
: Drs. H. Arsyad Siddik
Pertama kalinya Kongres PGRI XVII menetapkan Dewan Pembina menjadi Dewan Penasehat dan tidak lagi ada
Menteri yang menjadi anggota Dewan Penasehat.
KONGRES XVIII
Diselenggarakan di Lembang Bandung pada tanggal 25 - 28 November 1998. Berdasarkan hasil kongres, susunan
PB PGRI Masa Bhakti 1998 2003 adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : Prof. Dr. H. Mohammad Surya
Ketua
: Drs. H. Alwi Nurdin, MM.
Ketua
: Drs. W.D.F. Rindorindo

[12]

Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Sekjen
Wk. Sekjen
Wk. Sekjen
Bendahara
Wk. Bendahar

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Drs. Soekarno
Prof. Dr. Amran Halim
Koesrin Wardojo, SIP., SH
Dr. M. Ali, SH., Dipl.Ed., M.Sc
Drs. Sulaiman SB Ismaya
Drs. Rusli Yunus
Drs.H. Hudaya
Drs.H. Sjafroedin. DA.
Ny.Hj. Jajoek, M. Asat, BA.

Kehidupan guru pada masa ini sangat terpuruk, berbagai upaya PGRI untuk mendesak pemerintah kian
menggelorakan sanubari seluruh guru seiring angin segar reformasi yang menguak kebebasan bersuara. Pada
Kongres ini kelihatan kuatnya pengaruh reformasi dalam pemilihan susunan poengurus PB-PGRI. Kalau pada masa
lampau ketua umum selalu dipilih secara aklamasi kini mulai ada perarturan antara kedua calon ketua umum,
sekretaris bidang diganti ketua.
KONGRES XIX
Kongres XIX PGRI diselenggarakan pada tanggal 8 - 12 Juli 2003 di Hotel Patra Jasa Semarang Jawa Tengah.
Berdasarkan hasil kongres, susunan PB PGRI Masa Bhakti 2003 2008 adalah sebagai berikut:
Ketua Umum : Prof. Dr. H. Mohmmad Surya
Ketua 1
: W.D.F. Rindo Rindo
Ketua 2
: Rusli Yunus
Ketua 3
: Ana Suhaina
Ketua 4
: Alwi Nurdin
Sekjen
: Drs H Soemardi Thaher
Wakil Sekjen : Kusrin Wardoyo
Kongres XIX PGRI diikuti sekitar 1.400 peserta dari seluruh provinsi di Indonesia. Berbeda dengan kongres PGRI
sebelumnya, kongres kali ini dirasakan lebih dinamis. Sidang pengesahan tata tertib persidangan pada tanggal 9 Juli
2003 misalnya, berlangsung lebih lama daripada yang dijadwalkan, karena banyaknya interupsi maupun usulan dari
peserta.
PGRI mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menyediakan sarana dan dana pendidikan
sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD), di luar gaji tenaga pendidikan dan pendidikan kedinasan, paling lambat tahun 2005.
PGRI juga mendesak pemerintah untuk menindaklanjuti Undang-Undang (UU) tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Sisdiknas) dengan memberikan jaminan konstitusional bagi terselenggaranya pendidikan nasional dalam bentuk
antara lain peningkatan akses bagi masyarakat untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi dengan biaya yang relatif
murah.
PGRI meminta pemerintah pusat dan daerah, serta aparat keamanan untuk memberikan jaminan keamanan kepada
guru dalam menjalankan tugasnya, terutama yang bertugas di daerah konflik dan di daerah terpencil
PGRI mengimbau kepada para guru, agar mereka menggunakan hak politiknya dalam pemilu mendatang. Yaitu
dengan menentukan pilihan terhadap wakil rakyat dan calon presiden/wakil presiden.
KONGRES XX
Kongres XX PGRI diselenggarakan pada tanggal 30 Juni sampai dengan 4 Juli 2008 di Novotel Hotel Palembang
Sumatera Selatan. Berdasarkan hasil kongres, susunan PB PGRI Masa Bhakti 2008 2013 adalah sebagai berikut.
Ketua Umum : Dr. Sulistiyo, M.Pd.

[13]

Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Ketua
Sekjen
Wakil Sekjen

:
:
:
:
:
:
:
:

Prof. Dr. Anah Suhaenah Soeparno


Prof. Dr. H. Agustitin Setyobudi, MM.
Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd
Drs. Sugito, M.Sc
Hambasi Abdullah
Drs. H. Dahri, MM
H. Sahiri Hermawan, SH., MH.
Dra. Harfini Suhardi
Drs. H. Giat Suwarno
Drs. Wahyo Pradono, MM
Bendahara : Drs. H. Sugiharto, MM
Wk. Bend. : Drs. H. Muhir Subagia, MM
Departemen Organisasi dan Kaderisasi
: Drs. M. H. Usman M.Pd
Departemen Ketenaga Kerjaan dan Kesra
: Drs. H. Didi Suprijadi, MM.
Departemen Informasi & Komunikasi
: Dr. M. Qudrat Nugraha, M.Si
Departemen Penelitian dan Pengembangan
: Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum
Departemen Pendidikan dan Pelatihan
: Dra. Hj. Rachmawaty AR, MM
Departemen Hubungan Kerjasama Luar Negeri : Prof. Dr. H. Djam'an Satori, MA
Departemen Pembinaan Karier dan Profesi
: Dra. Opih Rofiah Zainal
Departemen Kerohanian
: Drs. H. Malik Raden, MM.
Departemen Pemberdayaan Perempuan
: Dr. Hj. Tjut Afrida, M.Pd
Departemen Pengmb. Kesenian & Kebudayaan : Dr. Hj. Euis Karwati, M.Pd
Departemen Pengabdian Masyarakat
: Dra. Hj. Maysari Berty
Departemen Advokasi & Perlindungan Hukum : Dra. Dian Mahsunah, M.Pd

KONGRES XXI
Kongres XXI PGRI berlangsung pada tanggal 1 - 5 Juli 2013, dihadiri sekitar 8.000 guru yang datang dari kabupaten
dan kota di 33 provinsi di Indonesia. Tema Kongres adalah Peran Strategis PGRI sebagai Organisasi Profesi Guru
Indonesia dalam Mewujudkan Guru yang Bermartabat Menuju Pendidikan Bermutu.
Salah satu agenda penting Kongres PGRI XXI dan Guru Indonesia 2013 yaitu pemilihan jajaran pengurus besar
PGRI untuk periode 2013-2018 dimana salah satu keputusannya adalah terpilihnya kembali Dr. Sulistiyo, M.Pd.
Menjadi Ketua Umum PGRI periode 2013-2018, melalui pemilihan secara aklamasi.
PGRI mendesak perombakan total desain dan kebijakan pendidikan nasional. Pasalnya, selama ini pendidikan
nasional dinilai telah bergerak tanpa arah, dan kadang dikendalikan pihak-pihak tidak bertanggung jawab dengan
kapabilitas tidak memadai. Keadaan itu memunculkan anomali yang tidak diharapkan.
Untuk mengembalikan pendidikan pada arah yang benar, PGRI mendesak agar sejumlah kebijakan pemerintah saat
ini dikaji ulang. Terkait pendidikan nasional. Kongres meminta agar ujian nasional (UN) dievaluasi kembali, dan
merumuskan model evaluasi dalam rangka pengendalian mutu seperti yang diamanatkan UU Sisdiknas. Salah satu
substansi yang menjadi pembahasan kuat adalah mengembalikan pendidikan menjadi urusan pusat atau provinsi,
terutama menyangkut guru. Otonomi daerah menyebabkan distribusi guru terhambat.
UU Sisdiknas dan UU Otonomi Daerah perlu direvisi, karena dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat (4) menyatakan,
negara membentuk satu sistem pendidikan nasional dan pendidikan merupakan alat pemersatu bangsa. Otonomi
guru kerap disalahgunakan. Banyak perlakuan aparat di daerah yang melakukan pergantian dan mutasi terhadap
guru pasca-pemilukada yang bernuansa politis. Selain itu, kongres PGRI juga menyatakan pemerintah bertanggung
jawab meningkatkan mutu guru melalui pendidikan dan pelatihan. Pelatihan guru jangan dilakukan hanya sesaat
demi kepentingan Kurikulum 2013. Terkait tunjangan profesi, pemerintah dinilai belum menunjukkan komitmen kuat

[14]

untuk melakukan pembenahan. Faktanya, pembayaran tunjangan profesi guru lebih sering terlambat dan tidak
merata.
Pengurus Besar PGRI berdasarkan hasil kongres XII adalah sebagai berikut:
A. Pengurus Harian :
Ketua Umum
: Dr. Sulistiyo, M.Pd
Ketua
: Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd
Ketua
: Dr. H. Sugito, M.Si
Ketua
: H. Sahiri Hermawan, SH,. MH.
Ketua
: Drs. H. Muh. Asmin, M.Pd
Ketua
: Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd
Ketua
: Prof. Dr. Sudarwan Danim
Ketua
: Dr. Didi Suprijadi, MM.
Sekjen
: M. Qudrat Nugraha, Ph.D
Wakil Sekjen
: Dra. Dian Mahsunah, M.Pd
Wakil Sekjen
: Dra. Hj. Farida Yusuf, M.Pd
Wakil Sekjen
: Dr. Supardi, M.Pd
Wakil Sekjen
: Dr. H. Hadi Tugur, M.Pd., MM.
Bendahara
: Prof. Dr. Dede Rosyada
Wakil Bendahara : Dr. Fathiaty Murtadho, M. Pd
B. Sekretaris Departemen
Organisasi dan Kaderisasi
:
Kesejahteraan dan Ketenagakerjaan
:
Komunikasi dan Informasi
:
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
:
Pendidikan dan Pelatihan
:
Hubungan Luar Negeri
:
Pembinaan & Pengembangan Profesi Guru, Dosen, & Tenaga
:
Kependidikan
Pembinaan Mental dan Spiritual
:
Pemberdayaan Perempuan
:
Olahraga, Seni, dan Budaya
:
Kerjasama dan Pengembangan Usaha
:
Advokasi, Bantuan Hukum dan Perlindungan Profesi
:
Penegakan Kode Etik
:
Pembinaan Karir Guru, Dosen, dan Tenaga Kependidikan
:

Drs. H. Giat Suwarno


Drs. Usman Tonda, S.H., M. Pd
Dr. H. Basyaruddin Thoyib, M.Pd
Dr. Mohammad Abduhzen, M.Hum
Drs. Suharno, M. Sajim, M.M.
Drs. Warnoto, M. Pd
Dra. Hj. Rachmawaty AR, M.M.
Dr. H. Sastra Djuanda
Dra. Murniasih
Dr. Hj. Euis Karwaty, M.Pd
Drs. Wahyo Pradono, M.M.
H. Sibro Mulisi, B.A., S.Pd
Dr. H. Muhir Subagja, M.M.
Kadar, S. Pd, M. Pd

[15]

[16]