Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

FILTRASI MEDIA BUTIRAN


Dosen Pembimbing : Ir. Emma Hermawati, MT

Kelompok / Kelas

: 7 / 3A

Nama

: 1. Sifa Fuzi Allawiyah

NIM. 131411027

2. Siti Nurjanah

NIM.131411028

3. Suci Susilawati

NIM.131411029

4. Dila Adila

NIM.131411059

Tanggal Praktikum

: 6 Oktober 2015

Tanggal Pengumpulan Laporan

: 6 Oktober 2015

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2015

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Operasi filtrasi dengan alat filter media butiran secara luas digunakan untuk
memindahkan padatan tersuspensi dari dalam air, yang merupakan komponen utama
penyebab sifat keruh pada air. Bentuk padatan tersuspensi dapat berasal dari sumber air
ataupun sebagai hasil dari proses kimia seperti koagulasi-flokulasi , presipitasi kimia dan
lainnya. Pemindahan padatan tersuspensi dari dalam air dengan operasi filtrasi media
butiran merupakan lanjutan dari pemindahan suspense melalui unit sedimentasi, dimana
efluen operasi sedimentasi masih mengandung suspense cukup tinggi. Selain itu operasi
filtrasi media butiran juga digunakan untuk keperluan pemindahan suspense yang
terkandung dari sumber air langsung pada kasus-kasus tertentu, ataupun untuk
pemindahan suspensi yang terkandung dalam efluen proses biologi dalam pengolah air
limbah.
1.2 Tujuan
1. Mengukur parameter kekeruhan dan pH
2. Mengetahui pengaruh effisiensi filtrasi terhadap waktu

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Filtrasi
Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dari fluida (cair maupun gas) yang
membawanya menggunakan suatu medium berpori atau bahan berpori lain untuk
menghilangkan sebanyak mungkin zat padat halus yang tersuspensi dan koloid. Pada
pengolahan air minum, filtrasi digunakan untuk menyaring air hasil dari proses koagulasi
flokulasi sedimentasi sehingga dihasilkan air minum dengan kualitas tinggi. Di samping
mereduksi kandungan zat padat, filtrasi dapat pula mereduksi kandungan bakteri,
menghilangkan warna, rasa, bau, besi dan mangan. Perencanaan suatu sistem filter untuk
pengolahan air tergantung pada tujuan pengolahan dan pre-treatment yang telah dilakukan
pada air baku sebagai influen filter. Pada filtrasi dengan media berbutir, terdapat mekanisme
filtrasi yaitu penyaringan secara mekanis (mechanical straining) , sedimentasi , adsorpsi atau
gaya elektrokinetik , koagulasi di dalam filter bed, aktivitas biologis
2.2 Media Filter
Berdasarkan pada kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.
1)

Filter Pasir Cepat


Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi

cepat, berkisar 4 hingga 21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi
flokulasi dan pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada
influen filter pasir cepat berkisar 5 10 NTU maka efisiensi penurunan kekeruhannya dapat
mencapai 90 98%. Bagian-bagian dari filter pasir cepat meliputi :
a. Bak filter, merupakan tempat proses filtrasi berlangsung. Jumlah dan ukuran bak
tergantung debit pengolahan (minimum dua bak).
b. Media filter, merupakan bahan berbutir/granular yang membentuk pori-pori di antara
butiran media. Pada pori-pori inilah air mengalir dan terjadi proses penyaringan.
c. Sistem underdrain. Underdrain merupakan sistem pengaliran air yang telah melewati
proses filtrasi yang terletak di bawah media filter. Underdrain terdiri atas:

Orifice, yaitu lubang pada sepanjang pipa lateral sebagai jalan masuknya air
dari media filter ke dalam pipa.

Lateral, yaitu pipa cabang yang terletak di sepanjang pipa manifold.

Manifold, yaitu pipa utama yang menampung air dari lateral dan
mengalirkannya ke bangunan penampung air.

Gambar 2.1 Bagian-bagian filter


Pengoperasian filter pasir cepat adalah sebagai berikut:
-

Selama proses filtrasi berlangsung, partikel yang terbawa air akan tersaring di media
filter. Sementara itu, air terus mengalir melewati media pasir dan penyangga, masuk
lubang/orifice, ke pipa lateral, terkumpul di pipa manifold, dan akhirnya air keluar
menuju bak penampung (lihat Gambar 2.2).

Partikel yang tersaring di media lama kelamaan akan menyumbat pori-pori media
sehingga terjadi clogging (penyumbatan). Clogging ini akan meningkatkan headloss
aliran air di media. Peningkatan headloss dapat dilihat dari meningkatnya permukaan
air di atas media atau menurunnya debit filtrasi. Untuk menghilangkan clogging,
dilakukan pencucian media.

Pencucian dilakukan dengan cara memberikan aliran balik pada media (backwash)
dengan tujuan untuk mengurai media dan mengangkat kotoran yang menyumbat poripori media filter. Aliran air dari manifold, ke lateral, keluar orifice, naik ke media
hingga media terangkat, dan air dibuang melewati gutter yang terletak di atas media
(lihat Gambar 2.3).

Bila media filter telah bersih, filter dapat dioperasikan kembali.

Gambar 2.2 Aliran air pada saat operasi filter

Gambar 2.3 Aliran air pada saat pencucian filter


2)

Filter Pasir Lambat


Filter pasir lambat atau slow sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan

filtrasi lambat, yaitu sekitar 0,1 hingga 0,4 m/jam. Kecepatan yang lebih lambat ini
disebabkan ukuran media pasir lebih kecil (effective size = 0,15 0,35 mm). Filter pasir
lambat merupakan sistem filtrasi yang pertama kali digunakan untuk pengolahan air, dimana
sistem ini dikembangkan sejak tahun 1800 SM. Prasedimantasi dilakukan pada air baku
mendahului proses filtrasi.
Filter pasir lambat cukup efektif digunakan untuk menghilangkan kandungan bahan
organik dan organisme patogen pada air baku yang mempunyai kekeruhan relatif rendah.
Filter pasir lambat banyak digunakan untuk pengolahan air dengan kekeruhan air baku di
bawah 50 NTU. Efisiensi filter pasir lambat tergantung pada distribusi ukuran partikel pasir,
ratio luas permukaan filter terhadap kedalaman dan kecepatan filtrasi.

Filter pasir lambat bekerja dengan cara pembentukan lapisan biofilm di beberapa
milimeter bagian atas lapisan pasir halus yang disebut lapisan hypogeal atau schmutzdecke.
Lapisan ini mengandung bakteri, fungi, protozoa, rotifera, dan larva serangga air.
Schmutzdecke adalah lapisan yang melakukan pemurnian efektif dalam pengolahan air
minum. Selama air melewati schmutzdecke, partikel akan terperangkap dan organik terlarut
akan teradsorpsi, diserap dan dicerna oleh bakteri, fungi, dan protozoa. Proses yang terjadi
dalam schmutzdecke sangat kompleks dan bervariasi, tetapi yang utama adalah mechanical
straining terhadap kebanyakan bahan tersuspensi dalam lapisan tipis yang berpori-pori sangat
kecil, kurang dari satu mikron. Ketebalan lapisan ini meningkat terhadap waktu hingga
mencapai sekitar 25 mm, yang menyebabkan aliran mengecil. Ketika kecepatan filtrasi turun
sampai tingkat tertentu, filter harus dicuci dengan mengambil lapisan pasir bagian atas
setebal sekitar 25 mm.
Keuntungan filter lambat antara lain biaya konstruksi rendah, rancangan dan
pengoperasian lebih sederhana, tidak diperlukan tambahan bahan kimia , variasi kualitas air
baku tidak terlalu mengganggu , tidak diperlukan banyak air untuk pencucian, pencucian tidak
menggunakan backwash, hanya dilakukan di bagian atas media
Kerugian filter pasir lambat adalah besarnya kebutuhan lahan, yaitu sebagai akibat dari
lambatnya kecepatan filtrasi.
Secara umum, filter pasir lambat hampir sama dengan filter pasir cepat. Filter lambat
tersusun oleh bak filter, media pasir, dan sistem underdrain (Gambar 3.4). Perbedaan filter
pasir cepat dan filter pasir lambat dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Perbedaan Kriteria Filter Pasir Cepat dan Filter Pasir Lambat

Tabel 2.1 Perbedaan Kriterian Filter Pasir Cepat dengan Filter Pasir Lambat

2.3. Media Filter dan Distribusi Media


Bagian filter yang berperan penting dalam melakukan penyaringan adalah media
filter. Media Filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet. Media
ini umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia. Pemilihan media
filter yang akan digunakan dilakukan dengan analisa ayakan (sieve analysis). Hasil ayakan
suatu media filter digambarkan dalam kurva akumulasi distribusi (Gambar 7.5) untuk
mencari ukuran efektif (effective size) dan keseragaman media yang diinginkan (dinyatakan
sebagai uniformity coefficient).
Effective Size (ES) atau ukuran efektif media filter adalah ukuran media filter bagian
atas yang dianggap paling efektif dalam memisahkan kotoran yang besarnya 10 % dari total
kedalaman lapisan media filter atau 10 % dari fraksi berat, ini sering dinyatakan sebagai d10
(diameter pada persentil 10).

Uniformity Coefficient (UC) atau koefisien keseragaman adalah angka keseragaman


media filter yang dinyatakan dengan perbandingan antara ukuran diameter pada 60 % fraksi
berat terhadap ukuran efektif atau dapat ditulis: UC = d60/d10. d60 adalah diameter butiran
pada persentil 60).
Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan, media filter
dikategorikan menjadi:
1. Single media: Satu jenis media seperti pasir silika, atau dolomit saja. Filter cepat
tradisional biasanya menggunakan pasir kwarsa. Pada sistem ini penyaringan SS
terjadi pada lapisan paling atas sehingga dianggap kurang efektif karena sering
dilakukan pencucian.
2. Dual media: misalnya digunakan pasir silica, dan anthrasit. Filter dual media sering
digunakan filter dengan media pasir kwarsa di lapisan bawah dan antharasit pada
lapisan atas. Keuntungan dual media:
a. Kecepatan filtrasi lebih tinggi (10 15 m/jam)
b. Periode pencucian lebih lama
c. Merupakan peningkatan filter single media (murah)
3. Multi media: misalnya digunakan pasir silica, anthrasit dan garnet atau dolomit.
Fungsi multi media adalah untuk memfungsikan seluruh lapisan filter agar berperan
sebagai penyaring.
Susunan media berdasarkan ukurannya dibedakan menjadi:

Seragam (uniform), ukuran butiran media filter relatif sama dalam satu bak

Gradasi (stratified), ukuran butiran media tidak sama dan tersusun bertingkat

Tercampur (mixed), ukuran butiran media tidak sama dan bercampur


Kriteria nilai ukuran efektif dan keseragaman media untuk beberapa jenis dan

jumlah media filter dapat dilihat pada Tabel 7.2. Bila suatu stok pasir tidak memenuhi
kriteria, maka harus dilakukan pemilihan ukuran hingga memenuhi kriteria tersebut.
Tabel 2.2 Kriteria Perencanaan Media Filter untuk Pengolahan Air Minum

BAB 3
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Tabel 3.1 Alat, Spesifikasi, dan Jumlah
Alat

Spesifikasi

Jumlah

Unit kolom filter

1 unit

Turbidimeter

1 unit

Gelas ukur

1000 mL

1 buah

Stopwatch

1 buah

500 mL

1 buah

Batang Pengaduk

1 buah

Ember

2 buah

Botol Plastik untuk sampling

20 buah

Neraca

1 unit

Beaker glass

Tabel 3.2 Bahan dan Jumlah


Bahan

Jumlah

Air keran

20 Liter

Bentonit

20 gram

Tissue

Tidak ditentukan

3.2 Langkah Kerja


a. Pembuatan Air Baku Artifisial

3 gram Bentonite
60 liter air kran

Pengadukan
b. Filtrasi

Menutup valve keluaran

Memasukan air baku ke dalam bak filtrasi

Melakukan sampling setiap 5 menit

Mengukur parameter kekeruhan dan pH


pada setiap sample

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Pengamatan
Tinggi media filter
Kekeruhan air baku

: 24 cm = 0,24 m
: 14,64 NTU

Tabel 4.1 Nilai Kekeruhan Air Terolah (Effluen)


No

1
2

Jenis dan dosis suspense

Waktu
(menit)

Kekeruhan influen
(NTU)

pH

Bentonit 0.005%

14.64

7.71

10

7.09

15

6.97

20

5.38

25

5.09

4.2 Pengolahan Data


Tabel 4.2 Hasil Pengolahan Data
Kekeruhan (NTU)
Waktu
(menit)
0
5
10
15
20
25

Influen

Effluen

14.64

14.64
7.71
7.09
6.97
5.38
5.09

pH

Effisiensi Filtrasi
(%)

0.00
47.34
51.57
52.39
63.25
65.23

Grafik 4.1 Pengaruh Waktu terhadap Effisiensi Filtrasi


4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil data percobaan yang telah dilakukan dapat dilihat pada Grafik 4.1
bahwa semakin lama waktu filtrasi maka semakin tinggi kekeruhannya, hal tersebut sesuai
dengan teori yang didapatkan dimana semakin lama waktu filtrasi maka semakin besar pula
kekeruhannya. Hal ini terjadi akibat waktu tinggal yang singkat sehingga proses filtrasinya
tidak berlangsung secara optimal.

Dibandingkan dengan hasil praktikum sebelumnya dengan menggunakan 60 Liter


dengan konsentrasi bentonit 0.01% dapat dilihat pada Tabel 4.5, semakin besar laju alir maka
semakin besar pula nilai kekeruhannya, hal ini sesuai dengan teori. Apabila dilihat dari nilai
kekeruhannya, pada konsentrasi bentonit 0.01% kekeruhan yang didapatkan lebih kecil
dibandingkan pada konsentrasi bentonit 0.05% karena pengotor pada konsentrasi bentonit
0.05% lebih banyak sehingga mengurangi efesiensi alat filtrasi.

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
1. Pengaruh proses filtrasi meliputi tingkat kekeruhan adalah:
a. Pasir harus bersih, tidak tercampur dengan tanah dan kotoran-kotoran yang lain
b. Berat jenis 2,35 2,65
c. Butiran maksimum 2,0 mm
d. Ketebalan pasir 60 120 cm.
e. laju alir efluen dan influen
f. konsentrasi suspensi
2. Air semakin jernih apabila media filter semakin tinggi.
3. Nilai kekeruhan air semakin besar apabila laju alir semakin kecil, hal ini tidak sesuai
dengan teori bahwa semakin besar laju alir maka semakin besar pula nilai kekeruhannya.
5.2 Saran
Sebaiknya penentuan laju alir menggunakan pompa untuk mengefesiensikan hasil
filtrasi, dan laju alir konstan.

DAFTAR PUSTAKA
Droste, R.L.. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment, John Wiley &
Sons, Inc: New York.
Fair, G.M., J.C. Geyer, dan D.A. Okun. 1981. Water and Wastewater Engineering, Volume 2:
Water Purification and Wastewater Treatment and Disposal. John Wiley and Sons Inc:
New York.
Huisman, L. 1994. Rapid Sand Filtration. Lecture Notes : IHE Delft Netherlands.
Huisman, L. 1994. Slow Sand Filtration. Lecture Notes : IHE Delft Netherlands.
Kawamura, S. 1991. Integrated Design of Water Treatmrnt Fcilities. John Wiley & Sons, Inc:
New York.
Qasim, S.R., Motley, E.M., dan Zhu, G. 2000. Water Work Engineering: Planning, Design &
Operation. Prentice Hall PTR: Texas.
Rich, L.G. 1974. Unit Operations of Sanitary Engineering, John Wiley & Sons, Inc: New
York.
Reynolds T.D. dan P.A. Richards. 1996. Unit Operations and Processes in Environmental
Engineering, PWS Publishing Company,20 Park Plaza, MA 12116.

LAMPIRAN