Anda di halaman 1dari 8

MALARIA

P. falciparum
Masa inkubasi 9 14 hari.
Masa hidup terpendek , krn siklus
eksoeritrositik
hanya satu kali.

Pd darah tepi hanya btk cincin &


gametosit, krn
schizogoni di dlm kapiler organ dalam, kecuali pd infeksi
berat

Demam intermittent setiap + 48 jam.

Semua stadium SDM dapat terinfeksi, & SDM tidak

Plasmodium vivax
Masa inkubasi 12 18 hari
SDM yg terinfeksi pucat krn kekurangan Hb dan membesar.
SDM yg terinfeksi std muda
Demam intermittent setiap + 48 jam.
SDM yg terinfeksi, ada titik-titik
Schuffner
Siklus eksoeritrositik dapat berulang, sehingga relaps
dpt terjadi stlh beberapa tahun.

membesar

Infeksi multipel dpt terjadi, ciri khas P. fal

Trofosoit muda, btk cincin halus, inti 1 atau 2

SDM yg terinfeksi ada titik-titik Maurer


PATOLOGI

Vaskuler, penghancuran eritrosit & penyum


batan kapiler & alat-alat dalam.

Anoksemi jar hati & organ-organ lain

Pembesaran limpa

Anemia

Pd infeksi P. falciparum , dapat sampai ke


otak, & berakibat fatal

Ginjal : glomerulonefritis interkapiler

Pneumonitis, pd inf falciparum

Infeksi pd plasenta, shg keguguran

Tipe ganas, krn P. falciparum


DIAGNOSIS
1. LABORATORIS : Membuat sediaan darah tipis &
tebal pd setiap waktu (P. vivax,
P. malariae ,& P. ovale), karena
berbagai stadium prst ada di dlm
darah tepi.
P. falciparum sediaan SDM
dibuat saat puncak demam.
2. KLINIS : Pembesaran limpa (index limpa) ,
merupakan petunjuk utama thd MALARIA

Ada stadium hipnozoit.

GEJALA KLINIS
Manifestasi klinis sangat khas :

Serangan demam intermiten pada keadaan


akut. Tiap spesies berbeda.

Anemia

Pembesaran limpa

Cenderung beralih dari akut ke kronis

Pada kead kronis, berikutnya ada masa


laten yg diselingi relapse beberapa kali

Masa tunas ( waktu saat digigit nyamuk,


sampai ada gejala klinik, tiap sp berbeda),
9 40 hr.
KOMPLIKASI
Kebanyakan krn P. falciparum, al :

Koma (malaria otak) : gangguan mental, akhirnya pdrt


meninggal.

Pd malaria otak ,walau sdh di terapi, angka kematian pada


anak 20% & pd dws 20%.

Anemia

Kelainan fungsi ginjal

Haemoglobinuria (blackwater fever), angka


kematian 20-25%.

Hipoglikemia (Kadar gula darah rendah),


pd anak-anak & wanita hamil.

Penyumbatan
pembuluh
darah.

Haemolysis karena anemia and jaundice

Perdarahan (coagulopathy)
EPIDEMIOLOGI

Penyebaran di daerah tropik , subtropik &


daerah iklim dingin.

Penelitian malaria meliputi :


indeks limpa, indeks parasit, kepadatan
nyamuk, angka infeksi, keadaan lingkungan
& resistensi obat.

Pembesaran limpa, petunjuk adanya inf mal

Epidemiologi malaria, dipengaruhi oleh :


iklim, topografi & kead sosio-ekonomi.

Peny. Malaria , dpt sembuh sendiri kecuali


pd inf berulang.
Prognosis baik, kecuali pd inf P. falciparum

PENCEGAHAN

Mengurangi pengandung gametosit, yg


merupakan sumber infeksi (penderita diobati)

Melindungi orang yg peka thd nyamuk


- Kelambu / kelambu + insektisida
- Pakai kawat strimin pada fentilasi rumah
- Repellent

Pemberantasan nyamuk, meliputi :


- PSN
- Membasmi larva dng larvisida
- Membasmi nyamuk dewasa (pengasapan)

Donor pd transfusi darah, hrs bebas malaria

Malaria merupakan penyakit yang endemik di negara tropis termasuk Indonesia.


Malaria yang menyerang manusia adalah malaria falciparum, malaria vivax , malaria malariae dan malaria ovale.
Di Indonesia yang dominan adalah malaria falciparum (malaria tropika, malaria tertiana maligna) dan malaria vivax (malaria tertiana
benigna).
Yang banyak mengalami kegagalan pengobatan sampai kematian adalah malaria falciparum yang sering menimbulkan komplikasi ke
berbagai organ termasuk otak.
banyak faktor yang berhubungan dengan timulnya malaria misalnya dari segi pengobatan, penanggulangan vektor, penanganan
lingkungan yang membantu perkembang biakan nyamuk, perilaku manusia sendiri terhadap malaria, dan pelaksanaan program
penanggulangan malaria.
Pengobatan penderita malaria merupakan salah satu segmen dari penanggulangan malaria dengan tujuan mengurangi jumlah
penderita sebagai sumber penularan.
Diagnosa yang benar, pengobatan yang tepat dan kepatuhan minum obat sangat diperlukan untuk keberhasilan penanggulangan
malaria.
Petunjuk pengobatan standar untuk malaria telah dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) dan Departemen Kesehatan

Depkes telah menyediakan 4 macam obat standar antimalaria yang masih dipakai sampai saat ini.yaitu klorokuin,
sulfadoxin/pirimetamin (S/P atau Fansidar), primakuin dan kina.
Pemakaian obat antimalaria yang lama yang tidak terkontrol telah menyebabkan adanya drug pressure di masyararakat sehingga
menyebabkan timbulnya banyak kegagalan pengobatan atau bahkan resistensi terhadap beberapa obat antimalaria tersebut.
Obat antimalaria standar
Di dalam perkembangannya plasmodium penyebab malaria mengalami siklus sisogoni di hati (hepar), sisogoni di eritrosit, gametogoni
di eritrosit dan sporogoni di dalam nyamuk.
Siklus yang menimbulkan gejala klinis pada malaria adalah siklus sisogoni di eritrosit, sehingga untuk pengobatan gejala klinis harus
diberikan sisontosida darah.
Obat standar yang termasuk sisontosida darah adalah klorokuin (lini pertama), Fansidar (lini kedua) dan kina (lini
ketiga). Obat-obat tersebut akan membunuh sison di eritrosit sehingga gejala klinis dan parasitemia akan berangsur
hilang dengan cepat.
Dosis yang tepat adalah syarat yang utama yang harus dipenuhi.
Kekurangan dosis akan menyisakan parasit dalam densitas (parasitemia) rendah sekali yang akan beredar di dalam d arah dan tidak
terdeteksi secara mikroskopis (subpaten).
Lambat laun parasitemia akan berkembang sampai suatu saat terdeteksi secara mikroskopis dan menyebabkan rekrudesensi.
Akibat yang lain adalah akan memacu adanya siklus gametogoni, sehingga di dalam darah perifer perderita terdapat banyak
gametosit yang berbahaya bagi penularan malaria.
Gametosit dapat ditanggulangi dengan obat-obat standar tersebut, misalnya klorokuin sendiri akan membunuh gametosit P. vivax , P.
ovale, P. malariae dan P. falciparum muda.
Siklus selanjutnya terjadi di hati setelah nyamuk menggigit manusia, sebagian besar akan mengalami siklus sisogoni
(ekstraeritrositer).
Sebagian kecil dari parasit tidak langsung mengalami sisogoni dan akan tidur (dormant) menjadi hipnosoit sebagai sumber terjadinya
relaps. Hipnosoit kelak akan menjadi aktif meneruskan siklus sisogoni dan terjadilah relaps.
Stadium ini juga harus diberantas dengan obat sisontosida jaringan, yaitu primakuin (derivat 8-aminokuinolin) sehingga tidak terjadi
relaps.
Melihat target stadium parasit tersebut maka pengobatan dengan obat malaria standar sebenarnya telah mencakup
semuanya,membunuh sison di darah, sison di hati dan gamtositnya.

1.
2.
3.

1.
2.
3.

1.
2.
3.
4.

Kloroquin (derivat 4-aminokuinolin):


Formulasi obat berbentuk tablet 100 mg atau 150 mg basa klorokuin sulfat atau fosfat
sisontosida darah yang cepat
gametositosidal untuk P. falciparum yang muda (stadium1-3) dan gametosit jenis Plasmodium yang lainnya
tidak mempunyai efek terhadap sporosoit dan sison di hepar (hipnosoit)
Dosis sebagai sisontosidal darah: dosis total 25 mg/ kilogram (kg) berat badan (bb) selama 3 hari: (10 mg/kg bb) pada hari ke 1 dan 2,
diikuti 5 mg/kg bb pada hari 3) atau (10 mg/kg bb pada hari ke 1 diikuti 5 mg/kg bb pada 6-8 jam berikutnya), kemudian 5 mg/kg bb
pada hari ke 2 dan 3).
Parenteral
Bila diperlukan pemberian parenteral misalnya pada keadaan koma, maka diberikan dosis 200 mg klorokuin basa IM, dosis pada
setiap bokong. Dosis boleh diulang setiap 6 jam dengan syarat dalam 24 jam tidak melebihi 800 mg klorokuin basa. Pengobatan
parenteral harus segera dihentikan bila obat telah dapat diberikan per oral (Sukarban dan Zunida, 1998).
Parenteral anak-anak
Chloroquine HCl 5 mg basa/kg BB, IM setiap 6 jam sampai terapi oral memungkinkan (Markell et al, 1986)
Kontra indikasi adalah:
hipersensitifitas terhadap klorokuin
riwayat epilepsi
menderita psoriasis
Kina:
Obat ini dipakai pada daerah dengan resistensi terhadap klorokuin dan terhadap kombinasi sulfadoxin-pirimetamin (Fansidar).
Kina sebaiknya dipakai bersama dengan antimalarial yang lain terutama pada daerah yang sudah menunjukkan tanda resistensi
terhadap kina seperti beberapa daerah di Indonesia, misalnya Papua.
Untuk meningkatkan kepatuhan dan mempertahankan efikasi, kina biasanya kina dikombinasikan dengan antibiotik seperti tetrasiklin
atau doksisiklin (kontra indikasi untuk ibu hamil dan anak-anak, sehingga dapat diganti dengan klindamisin).
Efek kina:
sisontosida darah untuk semua spesies
tidak aktif terhadap sison di hati
aktif terhadap gametosit P. vivax, P. ovale dan P. malariae dan P falciparum yang muda
tidak aktif terhadap sporosoit

1.
2.
3.
4.
5.

1.

DosisKina
Daerah yang masih sensitif terhadap kina: 8 mg basa /kg bb 3X sehari selama 7 hari
Daerah yang menunjukkan kegagalan dengan kina: 8 mg basa/kg bb 3X sehari selama 7 hari dikombinasi dengan antibiotika
tetrasiklin 250 mg 4X sehari selama 7 hari atau doksisiklin 100 mg basa setiap hari selama 7 hari
kina: 8 mg basa/kg bb 3X sehari selama 7 hari dikombinasi dengan klindamisin 300 mg 4X sehari selama 5 hari (baik untuk ibu hamil
dan anak-anak).
Apabila pemberian secara oral tidak memungkinkan (penderita tidak sadar/ malaria berat) maka diberikan secara intravena secara
perlahan dalam cairan isotonic atao 5% glukosa selama 4 jam atau intramuskular memakai cairan kina dengan konsentrasi 60 mg/ml
dibagi dalam 2 bagian, masing-masing diberikan pada sisi depan paha kanan dan kiri.
Apabila penderita sudah dapat minum obat maka pemberian kina diteruskan secara peroral sampai dosis penuh tercapai.
Loading dose diperlukan untuk diberikan pada mangemen malaria berat yang memerlukan konsentrasi obat yang optimal secara
cepat dalam beberapa jam.
Efek samping kina: Pemberian kina dengan dosis terapetik pada ibu hamil tidak memacu kelahiran dini seperti yang ditakutkan,
yang sebenarnya disebabkan karena efek panasnya dan efek lain dari malarianya sendiri. Hipoglikemia mungkin akan terjadi setelah
pemberian kina sebab obat ini menstimulasi sel beta para kelenjar pancreas.
Kegagalan pengobatan
Penyebab kegagalan pengobatan:
dosis diberikan secara tidak benar
obat dimuntahkan sebelum 1 jam (ulangi lagi pemberian dosis tadi)
penyerapan obat yang tidak baik
parasit sudah resisten terhadap obat
kualitas obat yang kurang baik
kepatuhan (compliance) pemakai obat
Pencegahan malaria.
Ibu hamil. Pencegahan malaria pada ibu hamil sangat penting karena malaria pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian janin,
aborsi spontan, berat bayi lahir rendah atau kematian ibu.. Sampai saat ini belum ada bukti klinik bahwa Fansidar menyebabkan
gangguan pada perkembangan fetus.
Pemberian klorokuin 5 mg/kg bb dosis tunggal setiap minggu atau 10 mg/kg bb setiap minggu dibagi menjadi 6 dosis harian.
Masalahnya adalah kepatuhan minum obatnya selama kehamilan yang biasanya membuat kegagalan.
Untuk meningkatkan kepatuhan maka dapat dilakukan dengan pemberian Fansidar dosis pengobatan penuh kepada ibu hamil pada
kunjungan antenatal pertama pada trimester 2 dan diulangi sekali lagi pada trimester 3;

hal ini sangat efektif untuk eliminasi parasit di plasenta atau pencegahan infeksi plasental dan parasitemia di darah perifer pada
malaria falciparum.
2. Wisatawan atau militer.
Untuk para wisatawan/militer yang akan mengunjungi/tugas ke daerah malaria yang masih sensitive terhadap klorokuin, 2 tablet
klorokuin 150 mg basa dapat diberikan setiap minggunya, diminum 2 minggu sebelum berangkat, diteruskan selama di sana sampai 2
minggu setelah pulang; atau doksisiklin 100 mg garam (atau 1.5 mg garam/kg) setiap hari dapat dipakai juga untuk pencegahan
malaria
Penelitian terbaru pemberian 30 mg (2 tablet) primakuin setiap hari dapat diberikan bagi wisatawan atau militer yang akan
mengunjungi/ bertugas di daerah yang resisten terhadap klorokuin.