Anda di halaman 1dari 14

HISTOLOGI

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Wiwin Hadianti
: B1J014029
: IV
:3
: Agus Susanto

LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Histologi didefinisikan sebagai ilmu tentang jaringan. Jaringan adalah
sekelompok sel yang mempunyai asal, struktur dan fungsi yang sama. Apabila sel-sel
yang berkumpul tersebut adalah sel-sel tumbuhan maka disebut jaringan tumbuhan.
Pada awal perkembangan tumbuhan, semua sel-sel melakuan pembelahan diri, akan
tetapi dengan adanya pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut, pembelahan sel
menjadi terbatas dibagian khusus tumbuhan. Jaringan ini tetap bersifat embrionik dan
selalu membelah diri. Jaringan adalah sekelompok sel yang memiliki bentuk dan
fungsi yang sama. Jaringan-jaringan yang berbeda dapat bekerja sama untuk suatu
fungsi fisiologi yang sama membentuk organ. Jaringan dipelajari dalam cabang
biologi yang dinamakan histologi. Secara garis besar jaringan tumbuhan dapat
dibedakan menjadi jaringan meristematik dan jaringan dewasa. Jaringan meristem
terbagi menjadi dua, yaitu meristem primer dan sekunder. Macam-macam modifikasi
epidermis antara lain: stomata, dan trikomata (rambut-rambut) (Woelaningsih, 2001).
Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang
sama serta mengadakan hubungan dan koordinasi satu dengan yang lainnya yang
mendukun pertumbuhan pada tumbuhan (Saktiyono, 1989). Jaringan adalah
kumpulan sel-sel yang berhubungan erat satu sama lain dan mempunyai struktur dan
fungsi yang sama. Tumbuhan berpembuluh matang dapat dibedakan menjadi
beberapa tipe yang semua dikelompokkan menjadi jaringan (Kimball, 1992).
Jaringan adalah kumpulan struktur, fungsi, cara pertumbuhan, dan cara
perkembangan (Brotowidjoyo, 1989). Jaringan menurut fungsinya dibedakan
menjadi dua yaitu jaringan muda atau meristem dan jaringan dewasa atau permanen
(Kimball,1992). Jaringan terdiri dari jaringan muda atau meristem, jaringan dasar
atau parenkim, sklerenkim, xilem, dan floem (Brotowidjoyo, 1989).
Setiap jenis tumbuhan mempunyai struktur sel epidermis yang berbeda.
Perbedaan struktur sel epidermis yang dimaksud dapat berupa bentuk dan susunan
sel epidermis, letak atau kedudukan stomata terhadap sel tetangga, arah membukanya
stomata, bentuk stomata, jumlah sel epidermis dan stomata, jarak antara stomata dan
panjang sel epidermis dan stomata. Pengelompokan tumbuhan ke dalam tingkat
marga pada suatu suku, umumnya berdasarkan bentuk morfologi organ tumbuhan
seperti bentuk daun dan bunga. Tumbuh-tumbuhan yang memiliki banyak persamaan
dikelompokkan ke dalam satu marga yang sama (Rompas, 2011).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara histologi , antara lain:
1. Mengamati bentuk-bentuk sel epidermis pada tumbuhan dan derivatnya, antara
lain sel silika, sel gabus, stomata, dan trikomata.
2. Mengamati macam-macam jaringan dasar (parenkim), antara lain aerenkim dan
aktinenkim.

II.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara sitologi diantaranya


mikroskop cahaya, object glass, cover glass, pipet tetes, tissue, laporan sementara,
silet dan jarum preparat.
Bahan-bahan yang digunakan irisan membujur epidermis Saccharum
officinarum (Batang Tebu),

irisan membujur daun Zea mays (Jagung), irisan

membujur Rhoeo discolor (Adam Hawa), epidermis bawah Durio zibethinus


(Durian), irisan melintang daun Orthosiphon stamineus (Kumis Kucing), irisan
melintang tangkai daun Colocasia esculenta (Talas), dan akuades.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara sitologi antara lain:
1. Buat irisan melintang atau membujur dari preparat yang disediakan, setipis
mungkin dan letakkan irisan di object glass, ditetesi air dan tutup dengan cover
glass.
2. Untuk preparat awetan, langsung diamati dibawah mikroskop.
3. Amati semua preparat, perhatikan letak sel silica dan sel gabus, bentuk sel
epidermisnya. Amati bentuk sel penutup pada stoma, bentuk dan tipe trikoma.
Gambar preparat yang terlihat serta beri keterangan.
4. Amati bentuk dan susunan sel-sel parenkimnya dengan perbesaran kuat gambar
preparat dan beri keterangan.

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Keterangan :
2

1. Sel silika
2. Sel gabus
3. Sel epidermis

3
1

Gambar 1. Membujur Epidermis Batang Saccharum officinarum (Tebu)


Perbesaran 400x
Keterangan :

1.
2.
3.
4.

Porus
Sel penutup
Sel tetangga
Sel epidermis

2
4
Gambar 2. Membujur Daun Zea mays (Jagung) Perbesaran 400x
Keterangan :
1

4
2
3
5

1.
2.
3.
4.
5.

Porus
Sel penutup
Sel tetangga
Sel pidermis
Kloroplas

Gambar 3. Membujur Epidermis Daun Rhoeo discolor (Adam Hawa)


Perbesaran 100x

Keterangan :

1.
2.
3.
4.
5.

Epidermis atas
Epidermis bawah
Jaringan palisade
Jaringan spon
Trikoma glanduler

5
3
4
2

Gambar 4. Membujur Daun Orthosiphon stamineus (Kumis Kucing)


Perbesaran 100x
Keterangan :
1. Trikoma bentuk
1

bintang
2. Trikoma bentuk
sisik

Gambar 5. Epidermis Bawah Daun Durio zibethinus (Durian) Perbesaran


100x

Keterangan :
1. Parenkim
2. Aerenkim
1

Gambar 6. Melintang Tangkai Daun Colocasia esculenta (Talas)


Perbesaran 100x
B. Pembahasan
Menurut Sudjadi dan Laila (2005), jaringan epidermis merupakan lapisan sel
yang paling luar pada daun, akar, buah, biji, dan batang sebelum menjalani penebalan
sekunder. Kata epidermis berasal dari bahasa Yunani (epi = di atas / menutupi; derma
= kulit). Epidermis merupakan bagian dari jaringan pelindung pada
tumbuhan. Fungsinya antara lain ialah melindungi jaringan lain
yang ada di bawahnya. Jaringan epidermis juga dapat berkembang
dan mengalami modifikasi menjadi sel rambut akar, sel penutup
rambut akar, dan spina. Sebagian besar epidermis terdiri dari sel
yang boleh dikatakan tak terspesialisai. Sel yang lebih terspesialisai
tersebar didalamnya. Sel epidermis memiliki protoplas hidup dan
dapat menyimpan berbagai hasil metabolisme. Modifikasi epidermis
atau derivat epidermis adalah suatu suatu bangunan atau alat tambahan pada
epidermis tetapi memiliki struktur dan fungsi yang berlainan dengan epidermis itu
sendiri. Derivat epidermis yaitu: stomata, trikomata (rambut-rambut), spina (duri),
vilamen, sel kipas, sel kersik (sel silika dan sel gabus) (Fahn, 1991).
Stomata adalah lubang-lubang kecil berbentuk lonjong yang dikelilingi oleh
dua sel epidermis khusus yang disebut sel penutup), dimana sel penutup tersebut

adalah sel-sel epidermis yang telah mengalami kejadian perubahan bentuk dan fungsi
yang dapat mengatur besarnya lubang-lubang yang ada diantaranya (Kartasapoetra,
1988). Menurut Fahn (1991) Stomata merupakan celah dalam epidermis yang
dibatasi oleh dua sel epidermis yang khusus yakni sel penutup. Keadaan letak sel
penutup yang berbeda dapat menentukan macam-macam stomata seperti :
a. Stoma phanerophore yaitu stoma yang sel-sel penutupnya terletak pada
permukaan daun, seperti pada tumbuh-tumbuhan hidrophyta. Stoma yang letaknya
dipermukaan daun ini dapat menimbulkan banyaknya pengeluaran secara mudah
dan selain itu epidermisnya tidak mempunyai lapisan kutikula.
b. Stoma kriptophore yaitu stoma yang sel penutupnya berada jauh dipermukaan
daun, biasanya terdapat pada tumbuhan yang hidup di daerah kering yang dapat
langsung menerima radiasi matahari, mempunyai lapisan kutikula yang tebal serta
rambut-rambut.Dengan demikian fungsinya untuk mengurangi penguapan yang
berlebihan, membantu fungsi epidermis, Biasanya sering terdapat pada tumbuhan
golongan kaktus.
Stomata membuka jika tekanan turgor sel penutup tinggi, dan menutup jika
tekanan turgor sel penutup rendah. Ketika air dari sel tetangga memasuki sel
penutup, sel penutup akan memiliki tekanan turgor yang tinggi. Sementara itu, sel
tetangga yang telah kehilangan air akan mengerut, sehingga menarik sel penutup
kebelakang, maka stomata terbuka. Sebaliknya, ketika air meninggalkan sel penutup
dan menuju ke dalam sel tetangga, maka tekanan turgor di dalam sel penutup akan
menurun (rendah). Sementara itu, sel tetangga yang mengakumulasi lebih banyak air
akan menggelembung, sehingga mendorong sel penutup ke depan, maka stomata
tertutup. Menutupnya stomata akan menurunkan jumlah CO2 yang masuk ke dalam
daun sehingga akan mengurangi laju fotosintesis. Pada dasarnya proses membuka
dan menutupnya stoma bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara kehilangan air
melalui transpirasi dengan pembentukan gula melalui fotosintesis (Fahn, 1991).
Sel yang mengelilingi stomata atau biasa disebut dengan sel tetangga
berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup. Setiap
sel penutup mengandung inti yang jelas dan kloroplas yang secara berkala
menghasilkan pati. Dinding sel penutup dan sel penjaga sebagian berlapis lignin
(Nugroho, 2006). Menurut Sumardi (1993) Pada tumbuhan dikotil, stomata
dibagi menjadi 5 macam berdasarkan letak sel tetangga, yaitu:

Tipe anomositik (Ranunculaceous), Sel penutup dikelilingi sejumlah sel tertentu

yang tidak dapat dibedakan bentuk dan ukurannya dari sel epidermis yang lain.
Tipe ini biasa terdapat pada Cucurbitaceae, Malvaceae dll.
-

Tipe anisositik (Cruciferous), Sel penutup dikelilingi oleh tiga sel tetangga yang

tidak sama ukurannya. Tipe ini antara lain terdapat pada Nicotiana, dan Solanum.
- Tipe parasitik (Rubiaceous), Setiap sel penutup didampingi oleh satu atau lebih
sel tetangga yang letaknya sejajar dengan stomata. Tipe ini biasa terdapat
pada Magnoliaceae, Papilionaceae seperti Arachis, Phaseolus.
- Tipe diasitik (Caryophillaceous) Setiap stomata dikelilingi oleh dua sel tetangga
yang letaknya memotong stomata. Tipe ini terdapat pada Caryophyllaceae dan
Acanthaceae.
- Tipe aktinositik, merupakan variasi dari tipe diasit. Stomatanya dikelilingi sel
tetangga yang teratur menjari. Tipe ini antara lain terdapat pada teh (Camellia
sinensis).
Ditinjau dari bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah
membukanya sel penutup menurut Nugroho (2006).
1. Tipe Amaryllidaceae
Sel penutup jika dilihat dari atas berbentuk ginjal. Dinding punggung tipis, tetapi
dinding perutnya lebih tebal, dinding atas dan bawah terjadi penebalan kutikula. Selsel tetangga berbatasan dengan sel penutup. Stomata tipe ini biasanya terdapat pada
kebanyakan tanaman dikotil, tetapi kadang-kadang ada juga pada monokotil.
2. Tipe Helleborus
Sel penutup jika dilihat dari atas berbentuk ginjal, tetapi pada dinding punggung dan
perut tipis. Dinding atas dan bawah lebih tebal
3. Tipe Graminea
Bentuk sel penutup seperti halter, dinding sel penutup bagian tengah tebal yang
merupakan penopang pada halter tersebut. Masing-masing ujung dindingnya tipis,
sedangkan dinding atas dan bawah tebal. Stomata tipe ini hanya terdapat pada
Gramineae/Poaceae dan Cyperaceae.
4.Tipe Mnium
Bentuk sel penutup pada stomata ini adalah juga berbentuk seperti ginjal. Dinding
perutnya tipis, adapun dinding lainnya dapat dikatakan tipis ataupun tebal. Stomata
bentuk ini terdapat pada golongan Bryophyta serta Pteridophyta.

Pada monokotil, stomata dibagi menjadi empat macam menurut Mulyani


(2006), yaitu :
1. Sel penutup dikelilingi oleh 4 sampai 6 sel tetangga. Tipe ini biasa terdapat
pada Araceae, Musaceae, Cannaceae, dan Zingiberaceae.
2. Sel penutup dikelilingi oleh 4 sampai 6 sel tetangga, 2 diantaranya berbentuk
bulat dan lebih kecil dari yang lain, terletak pada ujung sel penutup. Tipe ini terdapat
pada spesies dari Palmae, Pandanaceae, dan Cyclanthaceae.
3. Sel penutup didampingi oleh 2 sel tetangga. Tipe ini terdapat pada Pontederiaceae,
Flagellariaceae, Butomales, Alismatales, Cyperales.
4. Sel penutup tidak mempunyai sel tetangga. Tipe ini terdapat pada Liliales (kecuali
Pontederiaceae), Dioscorales, Amaryllidales, Iridales, dan Orchidales.
Parenkim merupakan jaringan yang terbentuk atas sel hidup. Jaringan
parenkim disebut juga jaringan dasar karena hampir pada setiap tumbuhan akan
terdapat parenkim. Jaringan parenkim terdapat pada jaringan-jaringan lain. Selain itu,
jaringan parenkim disebut juga jaringan pemula karena pada tumbuhan primitif
tubuhnya hanya terdiri atas sel-sel parenkim (Tjitrosomo, 1983).
Macam-macam jaringan parenkim berdasarkan fungsinya menurut Hidayat
(1995), antara lain seperti berikut :

Parenkim Asimilasi (Klorenkim) : Parenkim asimilasi banyak mengandung

klorofil sehingga dapat bermanfaat untuk proses fotosintesis.


Parenkim Udara (Aerenkim) : Pada parenkim udara terdapat ruang antarsel,
fungsinya adalah untuk aerasi atau pertukaran gas pada tanaman air, yaitu untuk

mengapung pada permukaan air.


Parenkim Air : Parenkim air berfungsi untuk menyimpan air. Parenkim ini
dijumpai pada tumbuhan xerofit dan epifit. Contohnya, parenkim yang terdapat

pada tumbuh-tumbuhan Agave dan Aloe.


Parenkim Makanan : Parenkim ini berfungsi untuk menyimpan cadangan
makanan. Bisa terdapat pada akar, umbi, buah, dan batang. Makanan cadangan
tersebut dapat berbentuk zat-zat padat, misalnya tepung, protein, lemak, dan

tetestetes minyak
Parenkim Pengangkut : Jaringan parenkim pengangkut berguna sebagai alat
pengangkut yang menghubungkan jaringan-jaringan sebelah luar dan dalam yang
disebut dengan parenkim jari-jari empulur.
Praktikum kali ini adalah tentang epidermis dan derivatnya. Bahan-bahan

yang digunakan adalah epidermis batang Saccharum officinarum (Tebu), irisan

membujur daun Zea mays (Jagung), irisan membujur Rhoeo discolor (Adam Hawa),
epidermis bawah Durio zibethinus (Durian), irisan melintang daun Orthosiphon
stamineus (Kumis Kucing), irisan melintang tangkai daun Colocasia esculenta
(Talas). Alat yang paling utama dalam praktikum ini adalah mikroskop, karena kita
mengamati tentang sel yang tidak tampak dengan mata telanjang.
1. Saccharum officinarum
Saccharum officinarum dapat diketahui adanya sel silica, sel gabus, dan sel
epidermis. Sel silica berisi kristal silica sedangkan sel gabus berisi endapan
suberin. Kedua sel ini selalu berpasangan, biasanya ditemukan pada tulang daun
Gramine dan pada Saccharum officinarum (Nugroho, 2006).
2. Zea mays
Pengamatan kedua adalah dengan menggunakan daun jagung. Irisan daun jagung
terdapat bagian porus (lubang), sel penutup, sel tetangga, sel epidermis. Tipe
stomata pada daun jagung (Zea mays)adalah tipe Gramine dengan bentuk sel
penutup halter. Daun jagung terdapat stomata yang berbentuk diantgus-diasthik
seperti bulat telur, pada stomata terdapat bagiam-bagian diantaranya sel tetangga,
sel penutup, inti sel, pada bagian dorsal terdapat jaringan epidermis. Epidermis ini
berfungsi sebagai pelindung jaringan dibawahnya (Hidayat, 1995). Sel penutup
berbentuk halter, sedangkan sel yang berbatasan dengan sel penutup disebut sel
tetangga. Fungsi stomata sendiri sebagai alat respirasi, dimana terdapat pertukaran
gas oksigen dengan karbondioksida pada saat terjadi respirasi dan fotosintesis.
Hal ini disebabkan oleh adanya klorofil pada stomata (Fahn, 1991).
3. Rhoeo discolor
Bagian-bagian dari epidermis Rhoeo discolor adalah porus, sel penutup, sel
tetangga, sel epidermis, kloroplas. Tipe stomanya yaitu Amaryllidaceae dengan sel
penutup bentuk ginjal. Stomata khas pada dikotil terdiri dari dua sel penjaga
berbentuk ginjal, sel penjaga rumputan dan teki cenderung lebih memanjang
(berbentuk halter). Sel penjaga mengandung sedikit kloroplas, sedangkan sel
epidermis tetangganya tidak punya (kecuali pada paku-pakuan dan beberapa
angiosperma air) (Hidayat, 1995).
4. Ortohosiphon stamineus
Bagian-bagian dari daun Ortohosiphon stamineus adalah epidermis atas,
epidermis bawah, jaringan palisade, jaringan spons, dan trikoma glanduler.
Trikoma glanduler/rambut kelenjar yaitu apabila selnya atau salah satu selnya

mempunyai fungsi sekresi sebagai sel/jaringan sekretoris. Trikom yang terdiri dari
bagian tangkai dan kepala, umumnya fungsi sekresi di bagian kepala (Nugroho,
2006).
5. Durio zibethinus
Bagian-bagian dari irisan epidermis bawah daun Durio zibethinusadalah trikoma
bentuk bintang dan trikoma bentuk sisik. Trikoma merupakan salah satu alat
tumbuhan atau derivat dari jaringan epidermis. Trikoma atau rambut daun banyak
ditemukan di tulang helaian daun, di biji, dan ada juga yang terdapat di buah yang
disebut dengan rambut buah. Daun durian memiliki trikoma bentik sisik, dengan
warna cokalat sedikit ke-oranye-an. Selnya termasuk multiseluler karena
berjumlah banyak. Di dalam selnya tidak ditemukan adanya sistolit, sehingga
termasuk dalam trikoma nonglanduler. Selain itu juga ditemukan trikoma bentuk
bintang multiseluler, yang di dalamnya tidak ditemukan adanya sistolit juga
(Nugroho, 2006).
6. Colocasia esculenta
Colocasia esculenta mempunyai rongga udara, Aktinenkim. Dinding sel parenkim
umumnya tipis, terutama mengandung kloroplas dan yag fungsinya sebagai
tempat penyimpanan cadangan makanan. Isi sel parenkim bervariasi sesuai
dengan fungsinya. Menurut bentuknya parenkim dapat dibagi menjadi beberapa
kelompok, misalnya parenkim bintang (aktinenkim) bentuknya seperti bintang,
saling bersambungan di ujung sehingga banyak mempunyai ruang antar sel
(Nugroho, 2006).

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:


1. Epidermis merupakan bagian dari jaringan pelindung pada
tumbuhan. Derivat epidermis yaitu: stomata, trikomata (rambut-rambut), spina
(duri), vilamen, sel kipas, sel kersik (sel silika dan sel gabus).
2. Parenkim merupakan jaringan yang terbentuk atas sel hidup. Jaringan parenkim
disebut juga jaringan dasar karena hampir pada setiap tumbuhan akan terdapat
parenkim.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah dalam pembuatan preparat harus benar
sesuai prosedur contohnya dalam pengirisan bahan harus setipis mungkin agar
terlihat di bawah.

DAFTAR PUSTAKA
Brotowidjoyo. 1989. Biologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan edisi ke tiga. Yogyakarta: UGM Press.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: Penerbit ITB.
Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang sel dan
jaringan). Jakarta: Bina Aksara.
Kimball, J.W. 1992. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Nugroho, H. L. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Depok: Penebar
Swadaya.
Rompas, Y., Rampe, H. L., Marhaenus J Rumondor, M. J. 2011. Struktur Sel
Epidermis dan Stomata Daun Beberapa Tumbuhan Suku Orchidaceae.
Jurnal Bioslogos 1 (1).
Saktiyono. 1989. Biologi 2. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjadi, B. dan Laila, S. 2005. Biologi Sains Dalam Kehidupan. Jakarta: Yudishtira.
Sumardi, I. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.
Tjitrosomo, S. S. 1983. Botani Umum 1. Bandung: Angkasa.
Woelaningsih, S. 2001. Struktur dan perkembangan tumbuhan II. Yogyakarta:
Fakultas Biologi UGM.