Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan yang sering muncul pada daerah pantai adalah abrasi pantai
yang terutama disebabkan oleh aktivitas gelombang laut. Salah satu metode
menanggulangi abrasi pantai adalah penggunaan struktur penahan
gelombang
dimana struktur tersebut berfungsi sebagai peredam energi gelombang pada
area
tertentu. Gempuran gelombang yang besar dapat diredam dengan cara
mengurangi
energi gelombang datang, sehingga gelombang yang menuju pantai
energinya
menjadi kecil. Pada permasalahan tersebut diatas, diperlukan konstruksi
pemecah
gelombang yang berfungsi untuk memecahkan, merefleksikan dan
mentransmisikan energi gelombang.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah abrasi pantai adalah penggunaan
rumput laut dengan menggunakan metode rakit apung dari bamboo sebagai
penahan gelombang. Kelebihan rumput laut metode rakit apung bamboo
sebagai
penahan gelombang adalah tidak dalam penggunaan material batu atau
beton
(tingkat ekonomis lebih tinggi), dapat memanfaatkan material setempat
seperti
bamboo, rotan, botol plastik misalnya botol plastik air mineral, ciregen/gen
plastik, hal ini tentu lebih ekonomis dari pada mendatangkan material dari
daerah
lain serta dapat dilaksanakan dengan peralatan yang sangat sederhana dan
terbatas. Selain permasalahan tersebut diatas, penggunaan penahan
gelombang
rumput laut metode rakit apung bamboo pada saat ini dan saat mendatang
perlu
didukung sebab tidak mempunyai dampak buruk terhadap ekologi di daerah
tersebut, dapat memberikan pendapatan tambahan nelayan dari hasil
penjualan
budidaya rumput laut, berpotensi besar dalam menambah devisa negara,
khususnya sektor nonmigas serta pada saat ini material batu semakin mahal
dan
sulit diperoleh (W.P. Hornsey, 2003).
Pengembangan budidaya rumput laut merupakan salah satu altenatif
pemberdayaan masyarakat pesisir yang mempunyai keunggulan dalam hal :
(1). Produk yang dihasilkan mempunyai kegunaan yang beragam,
(2). Tersedianya lahan yang luas untuk budidaya dan (3). Mudahnya teknologi
_
_

yang dapat dikembangkan dalam pembudidayaan maupun dalam upaya


perlindungan perairan pantai. (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2001).
Menurut Ditjenkan Budidaya (2004), mengatakan bahwa usaha budidaya
rumput laut merupakan kegiatan yang ramah lingkungan, meningkatkan

10

pendapatan masyarakat pembudidaya serta dapat digunakan untuk


mempertahankan/perlindungan terhadap kelestarian lingkungan perairan
pantai.
Menurut Scones (1993) dalam Begen (2006), keberhasilan usaha budidaya
rumput laut perlu mempertimbangkan area pemanfaatan seperti arus lintas
pelayaran, letak penempatan rakit apung/konfigurasi rakit apung dan
perlindungan
ekosistem lainnya, selanjutnya menurut Silvester (1974)), mengatakan
bahwa, tipe
pemecah gelombang apung dapat berupa struktur pontoon, struktur rakit,
struktur
pelat horisontal dan bentuk-bentuk spesifik lainnya.
Paotonan (2006), telah meneliti unjuk kerja pemecah gelombang dari
susunan bamboo dalam meredam energi gelombang. Hasil yang diperoleh
adalah
suatu parameter nondimensional yang berpengaruh terhadap peredaman
energi
gelombang. Selanjutnya Walukow, J.O.V (2000) melakukan penelitian tentang
transmisi gelombang melalui rangkaian pelat horisontal sebagai pemecah
gelombang apung. Transmisi gelombang yang terjadi pada pemecah
gelombang
apung rangkaian pelat berkisar dari 29% pada B/L = 0,90 sampai dengan
94%
pada B/L = 0,15. Hasil penelitian ini juga dilaporkan bahwa energi yang
ditransmisikan oleh pemecah gelombang apung tipe rangkaian pelat
dipengaruhi
oleh parameter gelombang datang (tinggi Hi dan panjang L), panjang struktur
B,
kedalaman air dan jarak antar pelat.
Selanjutnya untuk mengetahui besarnya pereduksian energi gelombang
perlu dilakukan pengukuran besarnya energi gelombang yang datang dengan
energi gelombang setelah melewati struktur rakit apung budidaya rumput
laut,
sehingga dapat diketahui seberapa besar pengurangan energi
gelombangnya.
Pada rekayasa pantai, struktur penahan gelombang rumput laut dengan
menggunakan metode rakit apung bamboo sudah banyak dilakukan di
Indonesia
oleh para nelayan pembudidaya rumput laut, namun informasi mengenai
seberapa
besar budidaya rumput laut dengan menggunakan metoda rakit apung dapat
mereduksi gelombang serta dapat memberikan perlindungan terhadap
keutuhan
__
_

dan kelestarian wilayah pantai belum pernah diteliti, untuk itu sangat dirasa
penting sekali untuk dilakukan penelitian mengenai pengaruh konfigurasi
penempatan rakit apung budidaya rumput laut terhadap reduksi gelombang.

10

Pantai adalah daerah di tepi perairan yang dipengaruhi oleh air pasang
tertinggi dan air surut terendah. Garis pantai adalah garis batas pertemuan antara
daratan dan air laut, dimana posisinya tidak tetap dan dapat berubah sesuai dengan
pasang surut air laut dan erosi pantai yang terjadi. Perubahan garis pantai
disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor manusia. Faktor alam diantaranya
gelombang laut, arus laut, angin, sedimentasi sungai, kondisi tumbuhan pantai
serta aktivitas tektonik dan vulkanik. Sedangkan faktor manusia antara lain
pembangunan pelabuhan dan fasilitas fasilitasnya (misalnya breakwater),
pertambangan, pengerukan, perusakan vegetasi pantai, pertambakan, perlindungan
pantai serta reklamasi pantai.
Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian sehingga
mampu menghancurkan energi gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk
tersebut merupakan tanggapan dinamis alami terhadap laut. Proses dinamis pantai
sangat dipengaruhi oleh littoral transport, yang didefinisikan sebagai gerak
sedimen di daerah dekat pantai (nearshore zone) oleh gelombang dan arus.
Littoral transport dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu transpor sepanjang
pantai (longshore transport) dan transpor tegak lurus pantai (onshore-offshore
transport). Material pasir yang ditranspor disebut dengan littoral drift. Transpor
tegak lurus pantai terutama ditentukan oleh kemiringan gelombang, ukuran
sedimen dan kemiringan pantai. Pada umumnya gelombang dengan kemiringan
besar menggerakkan material kearah laut (abrasi), dan gelombang kecil dengan
periode panjang menggerakkan material kearah darat (akresi).
2
Off shore transport
On shore transport
Long shore transpor

Gambar 1.1. Proses Dinamis Pantai

Provinsi Irian Jaya Tengah merupakan provinsi yang terluas wilayahnya


di Indonesia. Untuk pengembangan wilayah, baik di daerah pedesaan maupun
daerah perkotaan, telah dibangun berbagai sarana dan prasarana penunjang.
Namun demikian, sarana dan prasarana penunjang tersebut banyak yang tidak
berfungsi secara sempurna. Salah satu penyebabnya adalah sering terjadinya
kerusakan pada sarana dan prasarana akibat pengaruh alam. Pengikisan pantai
(abrasi) akibat gelombang laut adalah salah satu penyebab kerusakan tersebut.
Pada Pantai Kampung Cina Tua di Kabupaten Yapen Waropen telah
terjadi abrasi. Abrasi ini dapat merusak perumahan penduduk serta sarana dan
prasarana umum lainnya seperti sekolah dan tempat ibadah. Apabila hal di atas
tidak segera ditangani, maka kerusakan akan semakin parah. Kerusakan ini akan
sangat membahayakan dan mengkhawatirkan masyarakat yang bermukim di
kampung kampung sepanjang pinggiran Pantai Kampung Cina Tua di
Kabupaten Yapen Waropen.
Alternatif penanganan permasalahan tersebut di atas adalah dengan
membangun bangunan pelindung pantai. Untuk itu diperlukan tindakan-tindakan
yang mencakup pengukuran, survei bathimetri, dan topografi sebagai masukan
yang penting dalam mendesain bangunan pelindung pantai.

10

Pencemaran air merupakan salah satu pencemaran berat yang ada di


Indonesia dan limbah sektor perindustrian merupakan sumber pencemaran air
yang dominan. Disamping sektor perindustrian, pencemaran air ini juga
ditimbulkan di sektor-sektor yang lain seperti pertambangan, pertanian dan
rumah tangga. Akibat dari pencemaran air tersebut adalah menurunnya kadar
kualitas air yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang aktif. Manusia
dapat secara aktif mengelola dan mengubah ekosistem sesuai dengan apa yang
di kehendaki. Kegiatan ini dapat menimbulkan berbagai macam gejala yang
bersifat negatif, diantaranya adalah masuknya energi dan juga limbah bahan
atau senyawa lain ke dalam lingkungan yang menimbulkan pencemaran air,
udara dan tanah yang akan menurunkan kualitas lingkungan hidup.Air
merupakan kebutuhan pokok kehidupan manusia di bumi ini. Sesuai dengan
kegunaannya, air dipakai sebagai air minum, mandi, mencuci, untuk pengairan
pertanian, transportasi, baik di sungai maupun di laut. Kegunaan air tersebut
termasuk sebagai kegunaan air secara konvensional (kesepakatan untuk tujuan
bersama).1
Pencemaran air terjadi karena ada sebagian pabrik yang tidak
memperdulikan bahan sisa proses produksi yang berupa limbah untuk diolah
secara sempurna pada Unit Pengelolaan Limbah (UPL), sehingga bahan
buangan masih mengandung senyawa yang bersifat toksik (senyawa beracun)
dan penyebab kematian2. Dengan adanya industrialisasi yang pesat maka
permasalahan pencemaran air telah mencapai tingkat yang mengelisahkan.
Pencemaran air telah menimbulkan kerugian yang sangat besar,sudah sering
adanya kematian disebabkan oleh air yang tercemar. Air limbah harus
mengalami proses daur ulang sehingga dapat dipergunakan lagi atau dibuang
ke lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran.3
Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung.
Secara langsung yaitu bahan yang menimbulkan pencemaran tersebut
langsung berdampak meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia,
hewan dan tumbuhan atau mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara
maupun tanah. Proses tidak langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di
udara, air maupun tanah, sehingga menyebabkan pencemaran. Pencemaran
memiliki dampak secara langsung bagi kesehatan misalnya keracunan (diare,
muntah), dll dan memiliki efek tidak langsung (efek jangka panjang) bagi
kesehatan misalnya kanker. Alam memiliki kemampuan sendiri untuk
mengatasi pencemaran (self recovery), namun alam memiliki keterbatasan.
Setelah batas itu terlampaui, maka pencemaran akan berada di alam secara
tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada manusia, material,
hewan, tumbuhan dan ekosistem.4
Masalah pengelolaan lingkungan terutama limbah cair merupakan hal
yang tak dapat ditunda pelaksanaannya dan pengawasannya baik oleh
pemrakarsa kegiatan maupun oleh instansi terkait,dengan pengelolaan limbah
yang terencana dengan baik dan dilaksanakan secara konsisten akan dapat
dikatakan bahwa usaha tersebut meningkatkan upaya konservasi dan berperan
dalam menjaga sumber daya air. Mengingat potensi air di Jawa sangat rendah,
maka pengelolaan lingkungan menjadi sangat penting agar perairan tak

10

semakin terbebani adanya limbah cair.


Di Wilayah Kota Surakarta terdapat beberapa masalah berkaitan dengan
pencemaran air sungai baik limbah pabrik maupun limbah domestik, yakni:
1. Masalah banyak pengusaha atau pabrik yang membuang limbah cairnya
secara langsung ke sungai karena belum memiliki Unit Pengelolaan
Limbah.
2. Unit Pengelolaan Limbah yang dimiliki masing-masing pabrik disinyalir
belum berfungsi secara optimal sehingga beban pencemaran masih cukup
tinggi.
3. Masih rendahnya kesadaran dari peran serta para pelaku kegiatan atau
usaha dan masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan hidup.5
Pembangunan Kota Surakarta dan jumlah penduduknya yang semakin
lama semakin bertambah dengan segala aktifitasnya maka bertambah pula
4 ibid.

pencemaran lingkungan yang terjadi. Data Badan Lingkungan Hidup (BLH)


mengenai inventarisasi kegiatan pabrik besar, menengah, dan kecil berpotensi
menimbulkan pencemaran lingkungan di Kota Surakarta tercatat bahwa dari
285 usaha penghasil limbah yang termasuk ke dalam limbah pabrik, hanya ada
27 usaha yang mempunyai (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) IPAL sendiri.
Limbah pemukiman yang dihasilkan pada 56 hotel di Kota Surakarta tercatat
hanya 5 hotel yang mempunyai IPAL, dan dari 14 rumah sakit di Kota
Surakarta tercatat hanya 7 rumah sakit yang mempunyai IPAL, sehingga dapat
dibayangkan berapa besar potensi lingkungan Kota Surakarta untuk tercemar
limbah.
Aliran beberapa sungai dan selokan yang merupakan serapan air di Kota
Surakarta tercemar limbah cair berwarna cokelat kemerahan atau kebirubiruan
yang diduga buangan dari limbah industri dan rumah tangga,
sebaliknya ketika masyarakat tergerak membersihkan talud, gulma dan
pertamanan sepanjang sungai, ternyata masih ada pelaku pabrik dan sebagian
warga belum menjaga kebersihan lingkungan. Limbah domestik atau limbah
rumah tangga seperti plastik dan daun pembungkus makanan juga masih
sering terlihat mengambang di aliran air. Saat turun hujan dan permukaan air
di sekitar pintu demangan tinggi air tidak berwarna kemerah-merahan atau
kecokelat-cokelatan, namun apabila permukaannya rendah, terlihat jelas
warna air yang tidak jernih dan berbuih.6
Persoalan tersebut juga dikarenakan masih rendahnya kesadaran
masyarakat untuk tidak membuang limbah di saluran air, tidak hanya limbah
cair pabrik, tetapi juga dari limbah rumah tangga. Sumber pencemaran yang
paling dominan di Kota Surakarta adalah limbah rumah tangga sebesar 70%,
sisanya adalah pencemaran oleh limbah pabrik, hotel dan limbah rumah sakit,
sehingga pengelolaan terhadap sistem sanitasi menjadi suatu kebutuhan yang
sangat penting. Dampak yang timbul akibat pencemaran dan cara mengelola
limbah yang baik merupakkan salah satu prioritas utama, sebab air merupakan
sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Dalam rangka pelestarian kemampuan sumber daya air dan kesehatan
lingkungan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Pemerintah Daerah
Kota Surakarta menetapka Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1999 Tentang
Pengelolaan Limbah Cair. Pelaksanaan peraturan tersebut ada dalam tanggung
jawab PDAM Surakarta melalui Unit Pengelolaan Limbah yang dimilikinya.
Pengelolaan limbah cair ini dilakukan melalui sarana Instalasi Pengelolaan

10

Air Limbah (IPAL). Pembangunan beberapa IPAL yang ada di Kota Surakarta
mempunyai tujuan untuk penataan lingkungan agar terbebas dari pencemaran
limbah sehingga bisa meningkatkan derajat kesehatan manusia, memulihkan
keadaan badan air atau sungai di Kota Surakarta yang mulai tercemar air
limbah pabrik dan limbah pemukiman, serta perbaikan kualitas air tanah
karena pada umumnya masyarakat Kota Surakarta masih banyak yang
mengkonsumsi air tanah dangkal.
Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk mengadakan penelitian
dengan judul: Peran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dalam
pengelolaan limbah cair sebagai upaya pengendalian pencemaran air di Kota
Surakarta berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1999.

Pencemaran laut adalah perubahan pada lingkungan laut yang terjadi akibat
dimasukkannya oleh manusia secara langsung ataupun tidak langsung
bahanbahan
atau energi ke dalam lingkungan laut (termasuk muara sungai) yang
menghasilkan akibat yang demikian buruknya sehingga merupakan kerugian
terhadap kekayaan hayati, bahaya terhadap kesehatan manusia, gangguan
terhadap
kegiatan di laut termasuk perikanan dan lain-lain, penggunaan laut yang
wajar,
pemburukan dari pada kwalitas air laut dan menurunnya tempat-tempat
pemukiman dan rekreasi 1.
Pencemaran minyak di laut biasanya disebabkan dua hal, yang pertama
dikarenakan unsur ketidaksengajaan orang-orang yang berada dalam kapal
seperti
tank yang bocor akibat gesekan benda dalam laut ( terumbu karang atau
besi kapal
yang dulu pernah tenggelam di laut tersebut) sehingga menyebabkan
kerusakan
pada badan kapal atau tanki minyak dan yang kedua mereka memang
sengaja
membuang minyak bekas limbah alat-alat pabrik yang memang dapat
menyebabkan polusi lingkungan dan akhirnya merugikan pihak yang wilayah
lautnya dijadikan tempat pembuangan minyak tersebut 2.
Pencemaran lingkungan laut yang disebabkan oleh tumpahan minyak kapal
bukan
hal baru di dunia, sebelumnya sudah banyak pencemaran yang terjadi dalam
wilayah laut, seperti pada tahun 1967 peristiwa kandasnya kapal Torrey
Canyon
didekat pantai Inggris yang menumpahkan lebih dari 100.000 ton minyak
mentah
dan yang merupakan pengotoran laut terbesar didalam sejarah. Sejak
peristiwa

10

Torrey Canyon tersebut terjadi berbagai kecelakaan supertankers lainnya


yang
menimbulkan pencemaran (polusi) telah terjadi diberbagai perairan dunia 3,
antara
lain kasus kapal tanki Yunani PATMOS yang tumpah akibat bertabrakan
dengan
kapal tanki spanyol Castillo De Monterreagon pada 21 Maret 1985 di Selat
Messina Italia, contoh lainnya adalah pada tanggal 31 januari 1988 kapal
tanki
Italia AMAZONE mengalami kerusakan buruk akibat badai di pantai Brittany
Perancis. Begitu pun halnya di Indonesia pencemaran laut semakin banyak
terjadi
di wilayah laut maupun perairan pedalaman Indonesia seperti halnya
pencemaran
di Ambon terjadi pada tahun 1994 dan 1997, di perairan Cirebon-Indramayu
tahun
2006 dan 2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur
tahun
1994, 1998, 2003, 2007, dan di Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989
4.
Pencemaran laut memberikan dampak yang cukup berpengaruh bagi
lingkungan
sekitar apalagi bila disekitarnya merupakan pemukiman penduduk yang
mana
penduduk pada umumnya bermata pencaharian sebagai pelaut atau nelayan.
2

Ibid.

Pemukiman penduduk yang semakin meluas, membuat semakin


meningkatnya
produk industri rumah tangga yang akan berakibat pada perkembangan
kawasan
Industri di kota besar. Industri di perkotaan memiliki pengaruh positif untuk
menghasilkan barang (produk) dan jasa yang dapat meningkatkan kehidupan
masyarakat. Selain itu juga berakibat negatif karna dapat menyebabkan
pencemaran, baik pencemaran air, tanah, dan udara. Hal tersebut akan
memicu
terjadinya pencemaran pada perairan pantai dan laut, karena semua limbah
dari
daratan, baik yang berasal dari pemukiman perkotaan maupun yang
bersumber
dari kawasan industri, pada akhirnya bermuara ke pantai ataupun laut.
Pencemaran laut disebabkan oleh perbuatan manusia dan bahaya akibat dari
pada
pencemaran atas kemantapan ekologis dari laut5. Walaupun demikian ada
yang
berpendapat, bahwa kerusakan ekologis akibat tumpahan minyak dapat
diabaikan
karena laut mampu mengurai larutan tumpahan minyak bumi melalui
mikrobamikroba
yang hidup di laut, sehingga laut dapat melakukan regenerasi terhadap
lingkungan laut yang mengalami kerusakan. Pencemaran akan berakibat
buruk
bagi kehidupan atau lingkungan laut tergantung dari pada tempat terjadinya

10

pencemaran. Ini berdampak negatif bagi kesuburan produktivitas biologis di


laut
terbagi secara tidak merata6.
Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut
yang
selalu menjadi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan
sangat
cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai ataupun laut dan sangat
signifikan
merusak makhluk hidup disekitar pantai dan laut tersebut.
Sumber pencemaran di laut dapat dibagi dalam 5 golongan, yaitu :
1. pembuangan kotoran dan sampah kota Industri, serta penggunaan
pestisida
dibidang pertanian
2. pengotoran yang berasal dari kapal-kapal laut
3. kegiatan penggalian kekayaan mineral dasar laut
4. pembuangan bahan-bahan radio aktif dalam kegiatan penggunaan tenaga
nuklir dalam rangka perdamaian
5. penggunaan laut untuk tujuan militer 7.
Zat-zat pencemar yang berasal dari sumber-sumber tersebut memasuki
lingkungan
laut dengan berbagai cara seperti kegiatan atau pembuangan kotoran
(misalnya
minyak residu). Sumber pencemaran laut oleh kapal yang berbahaya adalah
masuknya minyak kedalam laut yang berasal dari kapal yang berlayar
diperairan
nusantara baik yang terjadi secara sengaja sebagai akibat pembersihan
tanki-tanki
atau pembuangan minyak residu atau pun yang terjadi tidak dengan sengaja
disebabkan kebocoran yang terjadi pada kapal yang sudah tua 8.
Kapal dapat mencemari sungai dan samudera dalam banyak cara. Antara lain
melalui tumpahan minyak, air penyaring dan residu bahan bakar. Polusi dari
kapal
dapat mencemari pelabuhan, sungai dan lautan. Kapal juga membuat polusi
suara
yang mengganggu kehidupan liar alam, dan air.
Dari pencemaran laut yang menjadi sorotan internasional ini mulailah timbul
pemikiran untuk mengatasi pencemaran yang terjadi di luar negara
masingmasing.
Negara-negara mulai mengadakan konvensi-konvensi internasional dan
membuat peraturan mengenai pencemaran laut yang dilakukan oleh kapal di
negaranya masing-masing.
Peraturan mengenai pencemaran laut diatur dalam konvensi 1958 PBB
tentang
Laut Lepas yang mengatur dua ketentuan tentang pencemaran laut,
Konvensi
Hukum Laut 1982 dan dalam hukum nasional. Dalam hukum nasional
Indonesia
diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1997, Undang-undang
(UU) Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Peraturan Pemerintah
Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air ,

10

Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup dan


turunannya, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut, Peraturan Presiden
Nomor
109 Tahun 2006 Tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak
di
Laut, serta aturan hukum lainnya yang berkenaan dengan Pengaturan
pencegahan
pencemaran minyak di laut oleh kapal laut di Indonesia.
Berkaitan dengan banyaknya peristiwa-peristiwa pencemaran laut yang
dilakukan
oleh kapal, timbul permasalahan bagaimana peraturan internasional dan
nasional
mengatur pencegahan pencemaran laut. Dengan adanya permasalahan
tersebut
penulis menyusun skripsi dengan judul Pencegahan Pencemaran Minyak oleh
Kapal Laut dalam Hukum Internasional dan Implementasinya di Indonesia.
B. Permasalahan

B.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan
masalah-masalah yang akan dibahas pada penulisan kali ini. Masalah yang dimaksud
adalah sebagai berikut :
1.

Bagaimana tumbuhan sambiloto?

2.

Bagaimana penyakit diabetes mellitus?

10

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tumbuhan Sambiloto
1. Morfologi Tumbuhan Sambiloto
2. Sistematika Tumbuhan Sambiloto
3. Manfaat Tumbuhan Sambiloto
4. Kandungan Kimia Tumbuhan Sambiloto
a. Senyawa Organik Bahan Alam
b. Senyawa Alkaloida
B. Penyakit Diabetes Mellitus
1. Defenisi Diabetes Mellitus
2. Penggolongan Diabetes Mellitus
a. Diabetes mellitus tipe 1
b. Diabetes mellitus tipe 2
c. Diabetes mellitus Gestasional
3. Tanda dan Gejala Penyakit Diabetes Mellitus
4. Penyebab Penyakit Diabetes Mellitus
a. Genetik atau Faktor Keturunan
b. Usia
c. Jenis Kelamin
d. Pola Makan dan Kegemukan (Obesitas)
e. Kurang Gerak Badan
f. Infeksi
5. Pencegahan Penyakit Diabetes Mellitus
a. Pencegahan primer
b. Pencegahan sekunder
c. Pencegahan tersier

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

10

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Andina, Diandra. 2011. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Sambiloto Terhadap Penurunan
Kadar Glukosa Darah Mencit. Jakarta: Universitas Indonesia
Anonim. 2012. http://en.wikipedia.org/wiki/Andrographis-Paniculata. Diakses tanggal 5
April 2015.
Dhalimunthe, Aminah. 2009. Interaksi Sambiloto. Jakarta : Depertmen Farmakologi Fakultas
Farmasi Universitas Sumatra Utara Medan
Kimball, J.W. 1999. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga
Parkeni. 2010. Info Kesehatan. Jakarta: Erlangga
Wirakusumah, E.S. 2014. Cantik dan Bugar Dengan Ramuan Nabati. Jakarta : Penebar
Swadaya.

10