Anda di halaman 1dari 151

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.

R USIA 29 TAHUN P2A0 POST


PARTUM 3 HARI DENGAN BENDUNGAN ASI
DI BPS MAFALDA S.ST WAY KANDIS
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun Oleh:

ELIZA FITRIANI
201207014

AKADEMI KEBIDANAN ADILA


BANDAR LAMPUNG
2015

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny. R USIA 29 TAHUN P2A0 POST


PARTUM 3 HARI DENGAN BENDUNGAN ASI
DI BPS MAFALDA S.ST WAY KANDIS
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
Eliza Fitriani, Puspita Dewi,S.ST.,M.Kes, Tri Riwayati Ningsih S.ST
INTISARI
KTI ini membahas tentang Asuhan Kebidanan pada ibu post partum
yang mengalami Bendungan Asi. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2008-2009 menunjukkan bahwa 55% ibu menyusui mengalami mastitis dan
Bendungan Asi. Penulis melakukan pra survey yang dilakukan di BPS. Mafalda S.ST
Bandar Lampung pada tanggal 11 April 2015 menemukan seorang ibu yang mengalami
bendungan ASI, penulis tertarik memberikan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas
Terhadap Ny. R Umur 29 Tahun 3 Hari Postpartum dengan Bendungan ASI dengan
tujuan mampu melaksanakan kebidanan pada Ibu Nifas terhadap Ny.R umur 29 tahun 3
hari Postpartum dengan Bendungan ASI. Dengan menggunakan pendekatan manajemen
Varney.
Metodologi studi kasus ini dengan metode deskriftip. Lokasi tempat
pengambilan studi kasus di BPS. MAFALDA S.ST Way Kandis Bandar Lampung,
Waktu Penelitian Tanggal 11 April 18 April 201, Sasaran Objektif pada kasus ini yaitu
Ny.R. Teknik pengumpulan data yaitu primer dan data sekunder.
Dari pengkajian terhadap Ny. R diketahui bahwa payudaranya terlihat penuh,
panas, berat, keras, nyeri serta terdapat peningkatan suhu yaitu 378 C dan pengeluaran
ASI sedikit. Asuhan yang diberikan yaitu Perawatan payudara dan Teknik menyusui.
Hasil Evaluasi yaitu ibu tidak mengalami bendungan asi. Jika tidak ditangani dengan baik
maka dapat terjadi payudara bengkak.
Kata kunci
: Masa Nifas, Bendungan ASI
Perpustakaan
: 11 (2005-2012)
Jumlah Halaman : 127

CURRICULUM VITAE

Nama

: Eliza Fitriani

Nim

: 201207014

Tempat/Tanggal lahir

: Pagar Dewa, 08 November 1993

Alamat

: Jl. Sisingamangaraja Gg. Sarikam No. 40 Kel.


Kelapa Tiga Bandar Lampung

No Telpon

: 082306097729

Biografi

:
1. SD N 1 Buayerupa Lampung Barat 2000
2006
2. SMPN 1 Sukau Lampung Barat 2006 2009
3. SMA Perintis 2 Bandar Lampung 2009 2012
4. Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
2012 Sekarang

MOTTO
INTELLIGENCE IS NOT THE MEASUREMENT, BUT
INTELLIGENCE SUPPORT ALL
KECERDASAN BUKAN LAH TOLAK UKUR KESUKSESAN,
TETAPI DENGAN MENJADI CERDAS KITA BISA MENGGAPAI
KESUKSESAN

ELIZA FITRIANI

PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, kupersembahkan karya kecilku ini
untuk :
1. ALLAH SWT Yang selalu memberiku kesehatan dan kekuatan hingga saat
ini
2. Terimakasih Untuk kedua orang tua, Kakak, serta Adik ku
3. Terimaksih Untuk teman-teman ku Angkatan VII
4. Terimaksih untuk Almamaterku tercinta Akademi kebidanan ADILA
Bandar Lampung sebagai tempat penulis menuntut ilmu selama ini

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat dan
hidayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dalam
bentuk studi kasus kebidanan yang berjudul Asuhan Kebidanan Padany. R
Usia 29 Tahun P2a0 Post Partum 3 Hari Dengan Bendungan Asi Di Bps
Mafalda S.St Way Kandis Bandar Lampungtahun 2015
Penulis menyadari karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam
menulis Karya Tulis Ilmiah, penulis banyak menerima bantuan. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. dr.Wazni Adila, MPH selaku direktur Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung.
2. Puspita Dewi S.ST, M.Kes dan Tri Riwayati Ningsih S.ST selaku
pembimbing I dan II Karya Tulis Ilmiah.
3. BPS. Mafalda SS.T selaku temapt pengambilan data
4. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung.
5. Serta semua pihak yang telah membantu dalam studi kasus ini yang tidak
bisa disebut satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya tulis ilmiah ini masih banyak
kekurangan, Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan wawasan
penulisi. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran untuk
kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Penulis mengharapkan semoga karya tulis
ilmiah ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi
pembaca.
Bandar Lampung, Juli 2015
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL....i
HALAMAN JUDUL..ii
HALAMAN PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT.iii
HALAMAN PENGESAHAN...iv
CURCULUM VITAEv
MOTTO.vi
KATA PERSEMBAHANvii
KATA PENGANTAR.viii
DAFTAR ISI ...ix
DAFTAR TABEL.xi
DAFTAR LAMPIRANxii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.1
1.2 Rumusan masalah..4
1.3 Tujuan penulisan4
1.4 Ruang lingkup5
1.5 Manfaat......6
1.6 Metodelogi dan teknik memperoleh data.7
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Tinjauan teori medis.10
2.2 Tinjauan teori asuhan kebidanan..53
2.3 Landasan hukum kewenangan bidan...66
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian data70
3.2 Matriks ..79
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengumpulan data dasar..95
4.2 Interpretasi data..108
4.3 Identifikasi diagnosa dan masalah potensial..114
4.4 Tindakan segera.114
4.5 Perencanaan118
4.6 Pelaksanaan ..119
4.7 Evaluasi...................................................................................125
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan127
5.2 Saran..128
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel. 2.1 Involusi Uterus.16
Tabel 2.2 Kenaikan berat badan dihubungkan dengan usia bayi......39
Tabel 3.2 Matriks...79

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6
Lampiran 7
Lampiran 8

: Surat Izin Pengambilan Data dan Serta Melakukan Asuhan


: Surat Balasan Pengambilan Sata Serta Melakukan Asuhan
: Persetujuan Pengajuan Judul atau Thema
: Pernyataan Persetujuan Publikasi Tugas akhir
: Jadwal Penelitian Study Kasus
: Dokumentasi
: Leaflet
: Lembar Konsul

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masa nifas atau puerpurium dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu. Wanita yang melalui periode
puerpurium disebut puerpura. Puerpurium (Nifas) berlangsung selama 6
minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat
kandungan pada keadaan yang normal (Ambarwati, 2010; h. 1).
Pada permulaan nifas apabila bayi belum menyusu dengan baik, atau
kemudian apabila kelenjar-kelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna,
maka akan terjadi pembendungan air susu. Laktiferi menyempit karena
pembesaran serta pembuluh limfe. Bendungan ASI merupakan Permulaan
dari infeksi mamae yaitu mastitis. Bakteri yang menyebabkan infeksi mamae
adalah stafilokokus aureus yang masuk melalui puting susu. Infeksi
menimbulkan demam, nyeri local pada mamae, terjadi pemadatan mamae,
dan terjadi perubahan kulit mamae (Rukiyah, 2012;h. 22-23).
ASI eksklusif (menurut WHO) adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai
usia 6 bulan tanpa tambahan cairan

ataupun makanan lain. ASI dapat

diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Pemberian ASI eksklusif selama 6


bulan dianjurkan oleh pedoman internasional yang didasarkan pada buku
ilmiah tentang manfaat ASI baik bagi bayi, ibu, keluarga, maupun negara
(Dewi, 2013;h. 25).

Menurut Subujaktosaja (2011) dalam Astuti (2013) Mengatakan Fenomena


yang terjadi pada masa menyusui yang terdata pada Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukan bahwa masalah-masalah menyusui
ini masih terus terjadi. Berdasarkan laporan dari Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI, 2007), diusia lebih dari 25 tahun sepertiga
wanita di Dunia (38%) didapati tidak menyusui bayinya karena terjadi
pembengkakan payudara, dan di Indonesia angka cakupan ASI eksklusif
mencapai 32,3% ibu yang memberikan ASI eksklusif pada anak mereka.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008-2009
menunjukkan bahwa 55% ibu menyusui mengalami mastitis dan putting susu
lecet, kemungkinan hal tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan
payudara selama kehamilan, masa menyusui serta pengetahuan ibu yang
kurang tentang menyusui (Astuti, 2013. Hal 89).
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan dari sarana kesehatan di Provinsi
Lampung, tampak bahwa cakupan pemberian ASI Ekslusif pada tahun 2012
sebesar 29,24% dimana angka ini masih ada dibawah target yang diharapkan
yaitu 60% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2012).
Sedangkan Pencapaian ASI Eksklusif di Kota Bandar Lampung pada tahun
2009 adalah 69,04%. Hasil ini bila dibandingkan dengan target Nasional
masih dibawah dari target yang di inginkan (80%) (Dinkes Kota Bandar
Lampung, 2011).
Salah satu kelainan atau keadaan abnormal payudara pada masa nifas adalah
bendungan ASI (Prawiroharjo.2008,h;652). Bendungan Air Susu adalah

terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan


limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan
suhu badan (Rukiyah dkk. 2010, h 345) Penelitian terjadinya bendungan
ASI di Indonesia terbanyak adalah pada ibu-ibu pekerja, sebanyak 16% dari
ibu yang menyusui (Depkes RI.2006). Adanya kesibukan keluarga dan
pekerjaan menurunkan tingkat perawatan dan perhatian ibu dalam melakukan
perawatan payudara sehingga akan cenderung mengakibatkan terjadinya
peningkatan angka kejadian bendungan ASI.
Faktor-faktor penyebab bendungan ASI adalah pengosongan mamae yang
tidak sempurna, faktor hisapan bayi yang tidak aktif, faktor menyusui bayi
yang tidak benar, puting susu terbenam, puting susu terlalu panjang (Rukiyah
dkk. 2010, h 346). Masalah Bendungan ASI jika tidak ditangani dapat
berpotensi terjadinya mastitis (Rukiyah dkk.2010,h:349).
Berdasarkan permasalahan tersebut dan penting nya informasi mengenai
perawatan payudara serta teknik menyusui yang benar untuk mencengah
masalah masalah yang terjadi pada payudara salah satu nya bendungan ASI,
kemudian penulis melakukan pra survey yang dilakukan di BPS. Mafalda
S.ST Bandar Lampung pada tanggal 11 April 2015 menemukan seorang ibu
yang mengalami bendungan ASI, sehingga Penulis tertarik untuk memberikan
asuhan kebidanan pada ibu nifas yaitu Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas
Terhadap Ny.R Umur 29 Tahun 3 Hari Postpartum dengan Bendungan ASI di
BPS. Mafalda S.ST Bandar Lampung Tahun 2015.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Bagaimanakah Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny.R Umur
29 Tahun 3 Hari Postpartum dengan Bendungan ASI Di BPS. Mafalda
S.ST Bandar Lampung Tahun 2015 ?
1.3 TUJUAN
1.3.1

Tujuan Umum
Penulis mampu melaksanakana kebidanan pada Ibu Nifas terhadap
Ny.R umur 29 tahun 3 hari Postpartum dengan Bendungan ASI di
BPS Mafalda S.ST Bandar Lampung Tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus


1.3.2.1 Penulis mampu melakukan pengkajian asuhan kebidanan
pada Ibu Nifas Terhadap Ny.R umur 29 tahun 3 hari
Postpartum Dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda S.ST
Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.2 Penulis

mampu

melakukan

intrepetasi

data

asuhan

kebidanan pada Ibu Nifas Terhadap Ny.R Umur 29 Tahun 3


hari postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda
S.ST Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.3 Penulis mampu melakukan diagnosa potensial asuhan
kebidanan pada Ibu Nifas Ny.R umur 29 tahun 3 hari
postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda S.ST
Bandar Lampung Tahun 2015.

1.3.2.4 Penulis mampu melakukan tindakan antisipasi asuhan


kebidanan pada Ibu Nifas Ny.R umur 29 tahun 3 hari
postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda S.ST
Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.5 Penulis mampu melakukan perencanaan asuhan kebidanan
pada Ibu Nifas Terhadap Ny.R umur 29 tahun 3 hari
postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda S.ST
Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.6 Penulis mampu melakukan pelaksanaan asuhan kebidanan
pada Ibu Nifas Terhadap Ny.R umur 29 tahun 3 hari
postpartum dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda S.ST
Bandar Lampung Tahun 2015.
1.3.2.7 Penulis mampu melakukan evaluasi asuhan kebidanan pada
Ibu Nifas Terhadap Ny.R umur 29 tahun 3 hari postpartum
dengan Bendungan ASI di BPS Mafalda S.ST Bandar
Lampung Tahun 2015.

1.4 RUANG LINGKUP


1.4.1 Sasaran
Sasaran Objektif pada kasus ini yaitu Ny.R
1.4.2 Tempat
Lokasi tempat pengambilan studi kasus di BPS. MAFALDA S.ST
Way Kandis Bandar Lampung

1.4.3 Waktu Penelitian


Tanggal 11 April 18 April 2015
1.5 MANFAAAT PENELITIAN
1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan
Dengan penyusunan Study Kasus ini dapat menambah informasi dan
bahan bacaan di perpustakaan serta sebagai dokumentasi, atau bahan
perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2 Lahan Praktek
Dapat

dijadikan

gambaran

informasi

serta

bahan

untuk

meningkatkan manajemen asuhan kebidanan khususnya mengenai


pengetahuan dan penanganan Bendungan ASI yang diterapkan
1.5.3 Klien dan Masyarakat
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang masa nifas
khususnya mengenai pengetahuan dan penanganan Bendungan ASI.
1.5.4 Penulis
Dengan melaksanakan studi kasus kebidanan ini penulis memperoleh
pengetahuan langsung dilahan praktek sehingga mampu menerapkan
atau mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan dibangku
perkuliahan.

1.6 METODELOGI DAN TEHNIK MEMPEROLEH DATA


1.6.1

Metodelogi Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam Study Kasus ini adalah
metode

penelitian deskriptif

yang

dapat

dilakukan untuk

mendeskripsikan atau menguraikan suatu keaadaan di dalam suatu


komunitas atau masyarakat (Notoatmodjo, 2005;h. 26).
1.6.1.1 Teknik Memperoleh Data
a. Data Primer
Data Primer merupakan sumber informasi yang langsung
berasal dari yan mempunyai wewenang dan bertanggung
jawab terhadap data tersebut.
1. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan
untuk

mengumpulkan

data,

dimana

peneliti

mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan


dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau
bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang
tersebut (face to face) ( Notoatmodjo, 2005;h. 102)
Wawancara

dalam

penelitian

ini

adalah

meenggunakan metode wawancara auto anamnesis


yaitu anamnesis yang digunakan kepada pasien
langsung (Sulistyawati, 2009; h. 166)
2. Pengkajian Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk
mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang
dialami oleh pasien. Pemeriksaan fisik bertujuan
untuk mengumpulkan data tentang kesehatan pasien,

menambah

informasi,

menyangkal

data

yang

diperoleh dari riwatyat pasien, mengidentifikasi


maslah pasien, menilai perubahan status pasien dan
mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah
diberikan. Dalam melakukan pemeriksaan fisik
terdapat

tehnik

dasar

yang

perlu

dipahami

diantaranya: Inspeksi (Melihat), Palpasi (Meraba),


Perkusi (Mengetuk), dan Auskultasi (Mendengar).
(Musrifatul,2009;h. 140)
b. Data Sekunder
Data Sekunder merupakan sumber Informasi yang bukan
dari tangan pertama, dan yang bukan mempunyai
wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi atau
data tersebut.
1. Studi Pustaka
Studi Pustaka merupakan hal yang sangat penting
dalam menunjang latar belakang teoritis dari suatu
penelitian. Dari buku-buku yang dapat kita peroleh
berbagai informasi baik berupa teori-teori yang telah
dikemukakan oleh para ahli dan dari internet mengenai
Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Terhadap Ny.R
Umur 29 Tahun 3 Hari Postpartum Dengan Bendungan

ASI Di BPS Mafalda S.ST Bandar Lampung Tahun


2015 (Notoatmodjo, 2005;h. 64).
2. Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi merupakan semua bentuk sumber
informasi yang berhubungan dengan dokumen, atau
data yang dimiliki oleh bidan (Notoatmodjo, 2005;h.
63).

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Teori
2.1.1 Pengertian Masa Nifas
a. Masa nifas (puerpuruim dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil). Masa nifas atau puerpurium di mulai sejak 2 jam
setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 minggu)
setelah itu. (Dewi, 2011; Hal,1).
b. Masa nifas (puepurim) adalah masa yang dimulai setelah plasenta
keluar dan berakhir ketika alat alat kandungan kembali seperti
keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung kira
kira 6 minggu. Selama masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu
akan mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun
psikologis sebenar nya sebagian besar bersifat fisiologis, namun
jika tidak dilakukan pendampingan melalui asuhan kebidanan
maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi keadaan
patologis (Sulistyawati, 2009; Hal. 1).
c. Periode masa nifas (puerpurium) adalah periode waktu selama 6-

8 minggu setelah persalinan. Proses ini di mulai setelah selesai


nya persalinan. Proses ini di mulai setelah selesai persalinan dan
berakhir setelah alat alat repreduksi kembali seperti keadaan
sebelum hamil/tidak hamil sebagai akibat dari ada nya

perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan (Saleha. 2009; hal
4).
2.1.2 Tujuan Masa Nifas
Tujuan asuhan kebidanan pada masa nifas normal adalah sebagai
berikut.
1. Menjaga kesehatan ibu dan bayi nya, baik fisik maupun
Psikologis
2. Mendeteksi masalah, mengobati dan merujuk bila terjadi
komplikasi pada ibu maupun bayinya
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan
diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, imunisai, serta
perawatan bayi sehari hari
4. Memberikan pelayanan KB (Saleha. 2009, hal. 5).
2.1.3 Tahapan Masa Nifas
Beberapa tahapan masa nifas adalah sebagai berikut:
a. Puerperium dini
Yaitu kepulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri dan
berjalan, serta menjalankan aktifitas layaknya wanita normal
lainya
b. Puerperiun intermediat
Yaitu suatu kepulihan menyeluruh alat alat genitalia yang
lamanya sekitar 6 8 minggu.

c. Puerperium remote
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai
komplikasi (Dewi, 2011, hal 4).
2.1.4 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
2.1.4.1 Kunjungan pertama, 6-8 jam setelah persalinan yang
bertujuan untuk :
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan
akan terjadinya atonia uteri.
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan,
segera

merujuk

bila

perdarahan

terus

menerus

berlanjut. Memberikan konseling pada ibu dan anggota


keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa
nifas akibat atonia uteri.
c. Konseling tentang pemberian ASI awal.
d. Melakukan bonding attachment antara ibu dan bayi
yang baru dilahirkannya.
e. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hipotermi Jika petugas kesehatan menolong persalinan
ibu dan bayi yang baru dilahirkn untuk 2 jam pertama
atau sampai keadaan ibu dan bayinya stabil.

2.1.4.2

Kunjungan kedua, 6 hari setelah persalinan yang bertujuan

untuk:
a. Memastikan proses involusi uteri berjalan dengan
normal.
b. Evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal
c. Memastikan ibu cukup makan, minum, dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada
tanda-tanda adanya penyulit.
e. Memberikan konseling pada ibu mengenai hal-hal
berkaitan dengan asuhan pada bayi.
2.1.4.3 Kunjungan ketiga, 2 minggu setelah perslinan yaitu Sama
seperti kunjungan kedua.
2.1.4.4

Kunjungan ke empat, 6-8 minggu setelah persalinan yang


bertujuan untuk:
a. Menanyakan penyulit-penyulit yang ada
b. Memberi konseling untuk ber KB (Dewi. 2011, hal 5).

2.1.5 Isu Terbaru Perawatan Masa Nifas


Beberapa isu terbaru mengenai perawatan masa nifas adalah
sebagai berikut:
a. Mobilisasi dini
Senam nifas bertujuan untuk mengurangi bendungan lokia
dalam lahir, memperlancar peredaran darah sekitar alat
kelamin, dan mempercepat normalisasi alat kelamin.

b. Rooming in (perawatan ibu dan anak dalam satu ruang / kamar)


c. Meningkatkan pemberian ASI, bonding attachment, mengajari
ibu, cara perawatan bayi terutama pada ibu primipara, dimulai
dengan penerapan inisiasi menyusui dini
d. Pemberian ASI
Untuk meningkatkan volume ASI pada masa nifas, ibu dapat
memberi terapi pijat pada bayi (Dewi. 2011, Hal 5).
2.1.6 Perubahan Fisiologis Masa Nifas
2.1.6.1 Perubahan Sistem Reproduksi
1. Uterus
Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi adalah
proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum
hamil setelah melahirkan. Pada tahap ketiga persalinan,
uterus berada digaris tengah, kira-kira 2 cm dibawah
umbilikus

dengan

bagian

fundus

bersandar

pada

promontorium sakralis. Pada saat ini, besar uterus kira


kira sama besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu
(kira kira sebesar jeruk asam) dan beratnya kira kira
100 gr.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut.
a. Iskemia miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus
menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta

membuat uterus relatif anemia dan menyebabkan


serat otot atrofi.
b. Autolisis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri
yang terjadi didalam otot uterus. Enzim proteolitik
akan memendekan jaringan otot yang telah sempat
mengendur hingga panjangnya 10 kali dari semula
dan lebar 5 kali dari semula selama kehamilan atau
dapat juga dikatakan sebagai perusakan secara
langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Hal ini
disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan
progesteron.
c. Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan
retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh
darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah
ke uterus. Proses ini untuk membantu untuk
mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta
serta mengurangi perdarahan. Penurunan ukuran
uterus yang cepat itu dicerminkan oleh perubahan
lokasi uterus ketika turun keluar dari abdomen dan
kembali menjadi organ pelvis. Perubahan uterus ini
berhubungan erat dengan perubahan perubahan

yang bersifat proteolisis. Hasil dari proses ini


dialirkan melalui pembuluh darah getah bening
(Dewi. 2011, h 55 57).
Tabel 2.1 Involusi Uterus
Tinggi
Involusi

Fundus

Uteri

Berat Uterus

Diameter

Bekas

(gr)

Dekat Plasenta

Keadaan Serviks

(cm)
Bayi lahir

Setinngi pusat

1000

Uri lahir

750

12, 5

Lembek

500

7, 5

Beberapa

jari

dibawah

pusat
Satu minggu

Pertengahan
pusat-simfisis

Dua minggu

Tak teraba diatas

setelah
350

34

Enam minggu

Bertamabh kecil

50 60

Delapan

Sebesar normal

30

12

postpartum

dapat dilalui 2 jari


Akhir

simfisis

hari

pertama

minggu
dapat

memasuki 1 jari

minggu

(Dewi. 2011,h 57)


2. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat
dengan permukaan kasar, tidak rata, dan kira kira
sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil,
pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3 4 cm dan pada
akhir nifas 1 2 cm. Penyembuhan luka bekas bekas
plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta

mengandung

banyak

pembuluh

darah

besar

yang

tersumbat oleh trombus


(Dewi. 20011, h 57).
3. Perubahan Ligamen
Ligamen ligamen dan diafragma pelvis, serta fasia yang
meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin
lahir, berangsur angsur menciut kembali seperti
sediakal. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi
kendur

yang mengakibatkan letak uterus menjadi

retrofleksi. Tidak jarang juga wanita mengeluh


kandunganya turun setelah melahirkan oleh karena
ligamen, fasia, dan jaringan penunjang alat genitalia
menjadi agak kendur. (Dewi.2011, h 58)
4. Perubahan pada serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk agak
menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir.
Bentuk ini disebabkan oleh corpus uteri yang dapat
mengadakan

kontraksi,

sedangkan

serviks

tidak

berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara


korpus dan serviks berbentuk semacam cincin. Serviks
berwarna merah kehitam-hitaman karena penuh dengan
pembuluh darah. Konsistensinya lunak (Vivian Nanny
Lia Dewi. 2011, h 58).

5. Lokhea
Lokia adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri
dan vagina selama masa nifas (Saleha. 2009, h 55).
Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan
mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat
organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi
asam yang ada pada vagina normal (Dewi. 2011, h 58).
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.
Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua
yang nekrotik dari dalam uterus. Lochea mempunyai
reaksi basa / alkalis yang dapat membuat organisme
berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada
pada vagina yang normal. Lochea mempunyai bau yang
amis / anyir seperti darah menstruasi, meskipun tidak
terlalu menyengat dan volumenya berbeda beda pada
setiap

wanita.

menandakan

Lochea

adanya

yang
infeksi.

berbau
Lochea

tidak

sedap

mempunyai

perubahan karena proses involusi (Ambarwati. 2009; h


78).
Jenis-jenis lokia berdasarkan warna dan waktu keluarnya
:
a. Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi
darah

segar dan sisasisa selaput kebutuhan, sel sel desidua


verniks caseosa, lanugo dan mekonium selama hari
pasca persalinan.
b. Lokia sanguinolenta berwarna merah kunig darah
bersih dan lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke7 pascapersalinan.
c. Lokia serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan
versi yang lebih pucat dari lokia rubra. Lokia ini
berbentuk serum dan berwarna merah jambu kemudian
menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari
ke-7 sampai hari ke-14 pascapersalinan.
d. Lokia alba adalah lokia yang terakhir. Lokia alba
mengandung terutama cairan serum, jaringan desidua,
leukosit, dan eritrosit. Dimulai dari hari ke-14 sampai
satu atau dua minggu berikutnya. Bentuknya seperti
cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit
dan sel sel desidua (Siti Saleha. 2009, h 56).
e. Lochia Purulenta: ini terjadi karena infeksi, keluar
cairan seperti nanah dan berbau busuk
f. Lochiostatis: lochia tidak lancar keluarnya
(Suherni et. All. 2008, h 79).
6. Perubahan pada vagina dan perineum

Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara


bertahap pada ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu
setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat sekitar
minggu ke- 4, walaupun tidak akan menonjol pada wanita
nulipara. Pada umumnya rugae akan memimpin secara
permanen. Mukosa tetap atropik pada wanita yang
menyusui sekurang-kurangnya sampai mentruasi dimulai
kembali. penebalan mukosa vagina terjadi seiring
pemulihan fungsi ovarium (Dewi. 2011, h 58).
7. Perubahan Sistem Pencernaan
a. Nafsu makan
Ibu biasanya merasa lapar segera setelah melahirkan
sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan.
Setelah benar benar pulih dari efek analgesia,
anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa
sangat lapar. Permintaan untuk memperolah makanan
dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai
konsumsi cemilan sering ditemukan.
b. Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motalitas otot
traktus cerna menetap selama waktu yang singkat
setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia

bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas


ke keadaan normal.
c. Pengosongan usus
Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama
dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan
ini dapat disebabkan karena tonus otot menurun
selama proses persalinan dan pada awal masa
pascapartum,

diare

sebelum persalinan,

enema

sebelum melahirkan, kurang makan, atau dehidrasi


(Dewi. 2011, h 61 62).
d. Perubahan Sistem Urinarius
Peningkatan kapasitas kandung kemih setelah bayi
lahir, trauma akibat kelahiran, dan efek induksi
anastesi yang mengahambat fungsi neural pada
kandung
berkemih

kemih

menyebabkan keinginan untuk

menurun

dan

lebih

rentan

untuk

menimbulakan distensi kandung kemih, kesulitan


buang air kecil dan terjadi infeksi kandung kemih.
Distensi kandung kemih yang timbul segera setelah
ibu melahirkan dapat

menyebabkan perdarahan

berlebihan karena keadaan ini bisa menghambat


kontraksi uterus berjalan dengan normal. Statis

urinaria juga dapat meningkatkan terjadinya infeksi


saluran kemih.
Saluran kemih kembali normal dalam waktu 2 sampai
8 minggu, tergantung pada :
1. Keadaan status kesehatan
2. Lamanya partus kala dua dilalui
3. Besarnya tekanan kepala yang menekan pada saat
persalinan (Maryunani. 2009, h 18 19 ).
e. Perubahan Sistem Endokrin

1) Hormone plasenta
Selama periode pasca partum terjadi perubahan
hormone

yang

besar.

Pengeluaran

plasenta

menyebab kan penurunan hormone signifikan


hormone yang di produksi oleh plasenta. Hormone
plase

nya

menurun

dengan

cepat

setelah

persalinan.
Penurunan hormone Human Plancental Lactogn
(HPL), estrogen dan progesterone serta plasental
enzyme insulunase membalik efek diabetogenik
kehamilan, sehingga kadar gula darah menurun
secara bermakna pada nifas. Ibu diabetic biasa
nya membutuhkan insulin yang jauh lebih kecil

selama beberapa hari. Karena perubahan hormone


hormone ini membuat masa nifas menjadi suatu
periode transisi untuk metabolism karbohidrat,
interpretasi tes toleransi glukosa lebih sulit pada
saat ini.
2) Hormone pituitary
Proklatin darah meningkat dengan cepat, pada
wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2
minggu. FSH dan LH meningkat pada fase
konsentrasi folikular pada minggu ke 3 dan LH
tetap rendah hingga ovulasi terjadi.

3) Hormone Oksitosin
Oksitosin dikeluarkan dari kelenjar bawah otak
bagian belakang (posterior), bekerjdan jaringan
payudara. Selama uterus terhadap otot uterusdan
jaringan

payudara.

Selama

tahap

ketiga

persalinan, oksitosin menyebab kan pemisahan


plasenta. Kemudian seterus nya bertindak atas otot
yang menahan kontraksi, mengurangi tempat
plasenta dan mencegah perdarahan. Pada wanita
yang memilih menyusui bayi nya, isapan sang
bayi merangsang keluar nya oksitosin lagi dan ini

membantu uterus kembali ke bentuk normal dan


pengeluaran air susu.
4) Hipotalamik pituitary ovarium
Untuk wanita yang menyusui dan tidak menyusui
akan mempengaruhi lama nya ia mendapatkan
menstruasi. Seringkali menstruasi petama itu
bersifat anovulasi yang dikarenakan rendah nya
kadar estrogen dan progesterone. Diantara wanita
laktasi sekitar 15 % memperoleh menstruasi
selama 6 minggu dan 45% setelah 12 minggu.
Diantara wanita yang tidak laktasi 40% setelah
menstruasi setelah 6 minggu 65% setelah 12
minggu dan 90% setelah 24 minggu. Untuk
wanita laktasi 80% menstruasipertama anovulasi
dan untuk wanita yang tidak laktasi 50% siklus
pertama an ovulasi
(Ambarwati. 2010, h 82-83).
f. Perubahan Tanda Tanda Vital
Tanda tanda vital yang harus dikaji pada masa nifas
adalah sebagai berikut :
1. Suhu
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2
derajat Celsius. Sesudah partus dapat naik kurang

lebih 0,5 derajat Celsius dari keadaan normal,


namun tidak dapat melebihi 8 derajat Celsius.
Sesudah dua jam pertama melahirkan umum nya
suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih
dari 38 dejarat Celsius, mungkin terjadi infeksi
pada klien.
2. Nadi dan Pernafasan
Nadi berkisar antara 60-80 denyutan per menit
setelah partus, dan dapat terjadi brakikardia. Bila
terdapat takikardi dan suhu tubuh tidak panas
mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada
vitium kordis pada penderita. Pada nifas umum
nya denyut nadi labil di bandingkan dengan suhu
tubuh,

sedangkan

pernafasan

akan

sedikit

meningkat setalah partus kemudian kembali


seperti keadaan semula.
3. Tekanan Darah
Pada

beberapa

kasus

ditemukan

keaddan

hipertensi postpartum akan menhilang dengan


sendirinya apabila tidak terhadap penyakit
penyakit lain yang menyertainya dalam bulan
tanpa pengobatan.
g. System Hematologi dan Kardiovaskulear

Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel sel


darah putih sampai sebanyak 15.000 selama masa
persalinan. Leukosit akan tetap tinggi jumlah nya
selama beberapa hari pertama masa postpartum.
Jumlah sel-sel darah putih masih bias naik lebih tinggi
lagi hingga 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi
patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan
lama. Akan tetapi, berbagai jenis kemungkinan
infeksi

harus

dikesampingkan

pada

penemuan

semacam itu. Jumlah hemoglobin dan hemotokrit serta


eritroasit akan sangat bervariasi pada awal awal masa
nfas sebagai akibat dari volume darah, volume plasma
dan volume sel darah yang berubah ubah. Sering
dikatakan bahwa jika hemattokrit pada hari pertama
atau kedua lebih rendah dari titik 2% atau lebih tinggi
daripada saat memasuki pesalinan awal, maka klien
dianggap cukup banyak kehilangan darah
(Saleha. 2009, h 61-62).
2.1.6.2 Proses Adaptasi Psikologis ibu Pada Masa Nifas
Kesejahteraan emosional ibu selama periode pascanatal
dipengaruhi oleh

banyak faktor, seperti kelelahan,

pemberian makan yang sukses, puas dengan perannya

sebagai ibu, cemas dengan kesehatannya sendiri atau


bayinya serta tingkat dukungan yang tersedia untuk ibu.
Rubin melihat beberapa tahap fase aktifitas penting
sebelum seseorang menjadi ibu:
a. Taking On
Pada fase ini disebut meniru, pada taking in fantasi
wanita tidak hanya meniru tapi sudah membanyangkan
peran yang dilakukan pada tahap sebelumnya.
Pengalaman yang berhubungan dengan masa lalu
dirinya (sebelum proses) yang menyenangkan, serta
harapan untuk masa yang akan datang. Pada tahap ini
wanita akan meninggalkan perannya masa lalu
b. Taking in
Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan, ibu
baru

pada

umumnya

pasif

dan

tergantung,

perhatiannya tertuju pada tubuhnya. Peningkatan


nutrisi ibu mungkin dibutuhkan karena selera makan
menandakan tidak berlangsung normal

c. Taking Hold
Periode ini berlangsung pada hari 2-4 post partum ibu
menjadi orang tua yang sukses dengan tanggung jawab
terhadap bayinya. Pada masa ini ibu agak sensitif dan

merasa tidak mahir melakukan hal-hal tersebut.


Cenderung menerima nasihat bidan
d. Letting Go
Periode yang biasanya terjadi setiap ibu pulang ke
rumah, pada ibu yang bersalin di klinik dan sangat
berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang
diberikan oleh keluarganya (Dewi. 2011, h 65 66).
2.1.7 Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Periode postpartum adalah waktu penyembuhan dan perubahan yaitu
waktu pada keadaan tidak hamil.untuk membantu mempercepat
proses penyembuhan pada masa nifas, maka ibu nifas membutuhkan
diet yang cukup kalori dan protein, membutuhkan istirahat yang
cukup dan sebagainya, Kebutuhan yang dibutuhkan ibu nifas antara
lain :
a. Nutrisi dan Cairan
Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi
air susu yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi.
Bila pemberian ASI berhasil baik, maka berat badan bayi akan
meningkat, integritas kulit baik, tonus otot, serta kebiasaan
makan yang memuaskan. Ibu menyusui tidaklah terlalu ketat
dalam mengatur nutrisinya yang terpenting adalah makanan yang
menjamin pembentukan air susu yang berkualitas dalam jumlah
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Kebutuhan kalori

selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang


dihasilkan dan lebih tinggi selama menyusui dbanding selama
hamil. Rata-rata kandungan air susu yag dihasilkan oleh ibu
dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal
diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan.
Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan
pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk
menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus
mengkonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui (Dewi, 2011, h
71).
b. Ambulasi
Ambulasi dini (early ambulation) ialah kebijakan agar secepat
mungkin bidan membimbing ibu postpartum bangun dari tempat
tidurnya dan membimbing ibu secepat mungkin untuk berjalan.
Sekarang tidak perlu lagi menahan ibu post partum terlentang
ditempat tidur selama 7-14 hari setelah melahirkan, ibu
postpartum sudah diperbolehkan untuk berjalan-jalan dalam 2428 jam postpartum.
Keuntungannya :
1) Ibu merasa lebih sehat dan kuat dengan early ambulation
2) Faal usus dan kandung kemih lebih baik
3) Early ambulation memungkinkan kita mengajarkan ibu cara
mearawat anaknya selama ibu masih dirumah sakit misalnya

memandikan, mengganti pakaian, dan memberi makanan


Lebih sesuai dengan keadaan indonesia (sosial ekonomi)
menurut penelitian yang saksama early ambulation tidak
mempunyai pengaruh yang buruk, tidak menyebabkan
perdarahan yang abnormal, tidak memengaruhi penyembuhan
luka episiotomi atau luka jahitan, serta tidak memperbesar
kemungkinan prolapsus uteri (Saleha. 2009, h.72).
c. Eliminasi (Buang Air Kecil dan Besar)
Dalam 6 Jam seteah post partum, pasien sudah dapat buang air
kecil. Semakin lama urine tertahan dalam kandung kemih maka
dapat mengakibatkan kesulitan pada organ perkemihan, missal
nya infeksi. Biasa nya, pasien menahan air kencing karena takut
akan merasakan sakit pada luka jlan lahir. Bidan harus dapat
dapat meyakin kan pada pasien bahwa kencing sesegera mungkin
setelah melahirkan akan mengurangi komplikasi post partum.
Berikan dukungam mental pada pasien bahwa ia pasti dapat
mampu menahan sakit pada luka jalan lahir akibat terkena air
kencing karena ia pun sudah dapat berhasil berjuang untuk
melahirkan bayi nya.
Dalam 24 jam pertama, pasien juga sudah harus dapat buang air
besar karena semakin lama feses tertahan dalam usus maka akan
semakin sulit bagi nya untuk buang air besar bagi nya. Feses
yang tertahan dalam usus semakin lama semakin mengeras

karena cairan yang terkandung dalam feses akan diserap oleh


usus. Bidan harus dapat meyakin kan pasien untuk tidak takut
buang air besar karena buang air besar tidak akan membuat parah
luka jalan lahir. Untuk meningkat kan volume fese, anjurkan
pasien untuk makan tinggi serat dan banyak minum air putih.
d. Kebersihan diri
Beberapa langkah penting untuk perawatan diri ibu post partum,
antara lain:
1) Jaga kebersihan seluruh tubuh untuk mencegah infeksi dan
alergi pada kulit bayi. Kulit ibu yang kotor karena keringat
atau debu dapat menyebabkan kulit bayi mengalami alergi
melalui sentuhan kulit ibu dengan bayi.
2) Membersihkan daerah alat kelamin dengan sabun dan air.
Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan vulva
terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru membersihkan
daerah anus.
3) Mengganti pembalut setiap kali darah sudah penuh atau
minimal 2 kali dalam sehari.
4) Membersih kan tangan dengan sabun dan air setiap kali ia
selesai membersihkan alat kemaluan
5) Jika mempunyai luka episiotomi, hindari untuk menyentuh
luka ini yang kurang diperhatikan oleh pasien dan tenaga
kesehatan.

e. Istirahat dan Tidur


Anjurkan ibu untuk:
1.

Istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan

2.

Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur

3.

Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan lahan

4.

Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan


waktu untuk istirahat pada siang kira kira 2 jam dan malam
7 8 jam (Suherni dkk. 2008, h 104).

f. Aktivitas Seksual
Aktivitas seksual yang dapat dilakukan oleh ibu nifas harus
memenuhi syarat berikut ini:
1.

Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu


datah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu dua
jarinya kedalam vagina tampa rasa nyeri, maka ibu aman
untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja
ibu siap.

2.

Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan


suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40
hari atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan ini
bergantung pada pasangan yang bersangkutan (Saleha. 2009,
h 75).

g. Latihan dan Senam Nifas

Setelah persalinan terjadi involusi pada hampir seluruh organ


tubuh wanita, involusi ini sangat jelas terlihat pada alat-alat
kandungan. Sebagai akibat kehamilan dinding perut menjadi
lembek dan lemas disertai adanya striae gravidarum yang
membuat keindahan tubuh akan sangat terganggu.cara untuk
mengembalikan bentuk tubuh menjadi indah dan langsung
seperti semula adalah dengan melakukan latihan dan senam nifas
(Saleha. 2009, h 75).
2.1.8 Proses Laktasi dan Menyusui
2.1.8.1 Anatomi dan fisiologi payudara
Payudara yang matang adalah salah satu tanda kelamin
sekunder dari seorang gadis dan merupakan salah satu organ
yang indah dan menarik. Payudara (mammae) adalah kelenjar
yang terletak dibawah kulit diatas otot dada, fungsi dari
payudara adalah memproduksi susu untuk susu nutrisi bayi.
Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara yang
beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram, dan
menyusui 800 gram. Payudara pada pria tidak berkembang
kecuali dirangsang dengan hormon dan pada wanita terus
berkembang pada purbertas, sedangkan selama kehamilan
terutama berkembang pada pada masa menyusui.
A. Struktur Makroskopis

Struktur makroskopis dari payudara adalah sebagai


berikut :
1. Cauda axillaris
Adalah jaringan payudara yang meluas kearah aksila
2. Areola
Adalah daerah lingkaran yang terdiri atas kulit yang
longgar dan mengalami pigmentasi. Areola pada
masing-masing payudara memiliki garis tengah kirakira 2,5 cm. Letaknya mengelilingi puting susu dan
berwarna kegelapan yang disebabkan oleh penipisan
dan penimbunan pigmen pada kulitnya. Pada warna
ini

bergantung pada corak kulit

dan adanya

kehamilan, pada wanita yang kulitnya berwarna


kuning langsat akan berwarna jingga kemerahan
sedangkan pada waita kulit hitam maka warnanya
lebih gelap selama hamil. Warna yang sudah berubah
tidak akan kembali kebentuk semula sebelum hamil.
3. Papilla mammae (puting susu )
Terletak setinggi interkosta IV, berhubungan dengan
adanya variasi bentuk dan ukuran payudara, maka
letaknya akan bervariasi. Pada tempat ini terdapat
lubang-lubang kecil yang merupakan muara dari
ductus laktiferus, ujung-ujung serat syarat pembuluh

darah, pembuluh getah bening, serat-serat otot polos


yang tersusun secara sirkuler sehingga bila ada
kontraksi ductus laktiferus akan memadat dan
menyebabkan putting susu ereksi, sedangkan seratserat otot yang longitudinal akan menarik kembali
putting susu tersebut. Bentuk puting susu ada empat
macam yaitu bentuk normal, pendek / datar, panjang
dan terbenam.
(Saleha. 2011, hal 7 - 9).
B. Struktur mikroskopis
Payudara tersusun atas jaringan kelenjar, tetapi juga
mengandung sejumlah jaringan lemak dan ditutupi oleh
kulit. jaringan kelenjar ini dibagi menjadi kira-kira 15-20
lobus yang dipisahkan secara sempurna satu sama lain
oleh

lembaran-lembaran

jaringan

fibrosa.

Struktur

dalamnya dikatakan menyerupai segmen buah anggur


atau jeruk yang dibelah. Setiap lobus merupakan satu unit
fungsional yang berisi dan tersusun atas bngunanbangunan sebagai berikut:
1. Alveoli
Merupakan unit terkecil yang memproduksi susu,
bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak,
sel plasma, sel otot polos, dan pembuluh darah.

Payudara terdiri atas 15-25 lobus. Masing masing


lobus terdiri dari 20-40 lobulus. Lobulus terdiri atas
10-100 alveoli dan masing-masing dihubungkan
dengan saluran air susu (sistem ductus) Sehingga
menyerupai suatu pohon. ASI disalurkan dari alveolus
kedalam saluran kecil (duktulus), kemudian masingmasing lobus terdiri atas 20-40 lobulus. Selanjutnya
masing-masing lobulus bergabung membentuk sauran
yng lebih besar (ductus laktiferus)
2. Duktus laktiferus
Adalah saluran sentral yang merupakan muara
beberapa tubulus lactiferus.
3. Ampulla
Adalah bagian dari duktus laktiferus yang melebar,
merupkan tempat penyimpanan air susu terletak
dibawah areola
4. Lanjutan dari setiap ductus laktiferus
Meluas dari ampula smpai muara papilla mamae
(Dewi,2011; h. 9 - 10).
2.1.8.2 Fisiologi Pengeluaran ASI
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat
kompleks antara rangsangan mekanik, saraf, dan bermacam-

macam hormon pengaturan hormon terhadap pengeluaran


ASI dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Pembentukan kelenjar payudara
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas
dari ductus yang baru, percabangan-percabangan dan
loulus, yang dipengaruhi hormon plasenta dan korpus
luteum.

Hormon-hormon

yang

ikut

membantu

mempercepat pertumbuhan adalah prolaktin, laktogen


plasenta,
hormon

karionik
tiroid,

gonadotropin,

hormon

insulin,

paratiroid,

dan

kortisol,
hormon

pertumbuhan. Pada timester pertama kehamilan, prolaktin


dari adenohipofisis/hipofisis anterior mulai merangsang
kelenjar air susu untuk menghasilkan air susu yang
disebut kolostrum. Pada masa ini pengeluaran kolostrum
masih dihambat oleh estrogen dan progesteron, tetapi
jumlah prolktin meningkat, hanya aktivitas dalam
pembuatan kolostrum yang ditekan. Pada trimester kedua
kehamilan, laktogen plasenta mulai merangsang untuk
pembuatan

kolostrum.

Keaktifan

dari

rangsangan

hormon-hormon terhadap pengeluaran air susu yng telah


didemonstrasikan kebenaranya bahwa seorang ibu yang
melahirkan bayi berumur empat bulan dimana bayinya
meninggal, tetapi keluar kolostrum

b. Pembentukan air susu


Pada ibu yang menyusui memiliki dua refleks yang
masing-masing berperan sebagai pembentukan dan
pengeluaran air susu yaitu sebagai berikut:
1. Reflek prolaktin
Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang
peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah
kolostrum terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat
oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya
memang tinggi. Setelah partus, lepasnya plasenta dan
kurang berfungsinya korpus luteum membut estrogen
dan progesteron sangat berkurang ditambah dengan
adanya isapan bayi yang merangsang putting susu dan
kalang payudara yang akan merangsang ujung-ujung
saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor
mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus
melalui modula spinalis hipotalamus yang akan
menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat
sekresi

prolaktin

dan

seabaliknya

merangsang

pengeluaran faktor-faktor yang memacu sekresi


prolaktin.

Faktor-faktor

yang

memacu

sekresi

prolaktin akan merangsang sel-sel alveoli yang

berfungsi untuk membuat air susu (Dewi, 2011; h.


12).
2. Reflek let Down
Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofisis
anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi
ada

yang

dilanjutkan

ke

hipofosis

posterior

(neurohipofisis) yang kemudian dikeluaran oksitosin


(Dewi, 2011; h.13).
Faktor-faktor yang meningkatkan refleks let down
adalah:
a. Melihat bayi
b. Mendengarkan suara bayi
c. Mencium bayi
d. Memikirkan untuk menyusui bayi.
Beberapa refleks yang memungkinkan bayi baru lahir
untuk memperoleh ASI adalah sebagai berikut :
a. Refleks Rooting
Refleks ini memungkinkan bayi baru lahir untuk
menemukan puting susu apabila ia di letakkan
dipayudara.
b. Refleks menghisap (sucking)
Saat bayi mengisi mulutnya dengan puting susu atau
pengganti puting susu sampai kelangit keras dan

punggung lidah. Refleks ini melibatkan rahang, lidah,


dan pipi
c. Refleks menelan (swalowing)
Gerakan

pipi

dan

gusi

dalam

menekan

areola,sehingga refleks ini merangsang pembentukan


rahang bayi
(Saleha. 2009, H 16).
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI beberapa
kriteria yang dapat digunakan sebagai patokan untuk
mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak adalah
sebagai berikut :
1. ASI yang banyak dapat merembes keluar melalui
puting
2. Sebelum disusukan, payudara terasa Tegang
3. Berat badan naik sesuai dengan usia

Tablel. 2.2 Kenaikan berat badan dihubungkan dengan usia bayi

Usia

Kenaikan berat badan rata-rata

1-3 bulan

700 gr/bulan

4-6 bulan

600 gr/ bulan

7-9 bulan

400 gr/ bulan

10-12 bulan

300 gr/ bulan

5 bulan

Dua kali berat badan waktu lahir

1 tahun

Tiga kali berat badan waktu lahir

(Saleha, 2009; h. 17)


4. Jika ASI cukup, setelah menyusui bayi akan
tertidur/tenang selama 3-4 jam
5. Bayi lebih sering berkemih, sekitar 8 kali sehari.
(Saleha, 2009; h.16)
2.1.8.3 Pengeluaran ASI
Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang
berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat
didalam glandula pituitaria posterior akibat langsung refleks
ini ialah dikeluarkannya oksitosin dari pituitaria posterior.
Hal ini akan menyebabkan sel-sel miopitel ( sel keranjang
atau sel laba-laba ) disekitar alveoli akan berkontraksi dan
mendorong air susu masuk kedalam pembuluh ampula.
Refleks ini dapat dihambat oleh adanya rasa sakit misalnya
jahitan

perineum

dengan

demikian,

penting

untuk

menempatkan ibu dalam posisi yang nyaman, santai, dan


bebas dari sakit, terutama pada jam-jam menyusukan
anaknya
2.1.8.4 Manfaat Pemberian ASI
ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi. ASI tidak
hanya memberikan mamfaat untuk bayi saja melainkan untuk
ibu, keluarga, dan negara.
a. Manfaat ASI untuk bayi adalah
1. Nutrien (zat gizi) dalam ASI sesuai dengan kebutuhan
Bayi
2. Zat gizi yang terdapat dalam ASI antara lain: lemak,
karbohidrat, protein, garam, mineral, serta vitamin.
ASI memberikan seluruh kebutuhan nutrisi dan energi
selama satu bulan pertama, separuh atau lebih nutrisi
selama 6 bulan kedua dalam tahun pertama, dan 1/3
nutrisi atau lebih selama tahun kedua.
3. ASI mengandung zat protektif
Dengan adanya zat protektif yang terdapat dalam ASI
maka bayi jarang mengalami sakit.zat-zat protektif
mengandung :
a) Laktobasilus bifidus
Mengubah latosa menjadi asam laktat dan asam
asetat yang membantu memberikan keasaman

pada

pencernaan

sehingga

menghambat

pertumbuhan mikroorganisme
b) Laktoferin
Mengikat

zat

besi

sehingga

membantu

menghambat pertumbuhan kuman


c) Lisozim
Merupakan enzim yang memecah dinding bakteri
dan anti imflamatori bekerja sama dengan
peroksida dan askorbat untuk menyerang E.coli
dan Salmonella, serta menghancurkan dinding sel
bakteri terdapat dalam ASI dalam konsentrasi
5.000 kali lebih banyak dari susu sapi
d) Komplemen C3 dan C4 membuat daya obsenik
Mengandung Imunoglobulin (IgC, IgM, IgA, IgD,
dan IgE) (Dewi, 2011, H 18).
b. Manfaat Bagi Ibu
1. Mencegah

perdarahan

pasca

persalinan

dan

Mempercepat kembali rahim kebentuk semula.


2. Mencegah anemia defisiensi zat besi
3. Mempercepat ibu kembali keberat badan sebelum hamil
4. Menunda kesuburan
5. Menimbulkan perasaan dibutuhkan

6. Mengurangi

kemungkinan

kanker

payudara

dan

ovarium
c. Manfaat Bagi Keluarga
1) Mudah dalam proses pemberiannyaMengurangi biaya
rumah tangga
2) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat
menghemat biaya untuk berobat
d. Manfaat Bagi Negara
1) Penghemat untuk subsidi anak sakit dan pemakaian
obat-obatan
2) Penghemat devisa dalam hal pembelian susu formula
dan perlengkapan menyusui
3) Mengurangi polusi
4) Mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang
berkualitas (Saleha, 2009; h. 32 - 33).
2.1.8.5 Tanda Bayi Cukup ASI
a.

Bayi usia 0-6 bulan, dapat

dinilai mendapat

kecukupan ASI bila mencapai keadaan sebagai


berikut. Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24
jam minimal mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3
minggu pertama

b.

Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering dan


warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah
lahir

c.

Bayi akan buang air kecil (BAK) 6-8 kali sehari

d.

Ibu dapat mendengarkan pada saat Bayi menelan


ASI

e.

Payudara terasa lembek yang menandakan ASI telah


habis

f.

Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa


kenyal

g.

Pertumbuhan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)


sesuai grafik pertumbuhan

h.

Perkembangan

motorik

baik

(bayi

aktif

dan

motoriknya sesuai dengan rentang usianya)


i.

Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar akan


bangun dan tidur dengan cukup

2.1.8.6 Bayi menyusu dengan kuat kemudian melemah dan


tertidur pulas ASI Ekslusif
a. ASI eksklusif (menurut WHO) adalah pemberian ASI
saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan
cairan ataupun makanan lain. ASI dapat diberikan
sampai bayi berusia 2 tahun. Pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan dianjurkan oleh pedoman internasional

yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI


baik bagi bayi, ibu, kelurga, maupun negara (Dewi,
2011, h 24-25).
2.1.8.7 Cara Merawat Payudara
1. Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama
pada bagian puting susu
2. Menggunakan BH yang menyokong payudara
3. Apabila puting susu lecet, oleskan kolostrum atau asi
yang keluar di sekitar putting setiap kali selesai
menyusui. Menyusui tetap di lakukan di mulai dari
putting susu yang tidak lecet.
4. Apabila lecet sangat berat, dapat di istirahat kan
selama 24 jam, ASI dikeluarkan dan di minumkan
menggunakan sendok.
5. Untuk menghilangkan nyeri,

ibu dapat

minum

paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam.


6. Apabila payudara ibu bengkak akibat bendungan ASI
maka ibu dapat melakukan
a. Pengompresan payudara dengan menggunakan
kain basah dan hangat selama 5 menit
b. Urut payudara dari arah pangkal ke puting atau
gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan
arah Z Menuju puting.

c.

Keluarkan ASI sebagian dari pangkal depan


payudara sehingga puting susu menjadi lunak

d. Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila bayi tidak


dapat menghisap seluruh AS, sisa nya keluarkan
dengan tangan
e. Letakkan kain dingin pada payudara setelah
menyusui (Sulistyawati,2009;hal.24).
2.1.8.8 Masalah Dalam Pemberian ASI
Akibat pemberian ASI yang tidak adekuat, payudara ibu
dapat mengalami masalah-masalah dalam pemberian ASI :
1. Puting Susu Lecet
a. Kesalahan dalam teknik menyusui, bayi tidak
menyusui sampai aerola tertutup oleh mulut bayi.
b. Monoliasis pada mulut bayi yang menular pada
putting susu Ibu
c. Akibat dari pemakaina sabun, alcohol, krim, atau
zat iritan lain nya untuk mencuci puting susu ibu
d. Bayi dengan tali lidah pendek, sehingga menyebab
kan bayi sulit

menghisap sampai kekalang

payudara dan isapan hanya pada putting susu saja


e. Rasa

nyeri juga dapat

timbul apabila

ibu

menghentikan menyusui dengan kurang berhati


hati (Saleha,2009;h.102).

2. Payudara Bengkak
Bedakan antara payudara penuh dengan payudara
bengkak. Pada payudara penuh terasa berat pada
payudara, panas, dan keras; bila diperiksa ASI keluar
dan tidak ada demam. Pada payudara bengkak;
payudara udem, sakit, puting kencang, kulit mengkilat
walau tidak merah, dan bila diperiksa / diisap ASI
tidak keluar. Badan bisa demam setelah 24 jam.
Penyebab Payudara bengkak disebabkan karena
menyusui yang tidak kuntinyu sehingga sisa ASI yang
terkumpul pada duktus. Hal ini terjadi karena antara
lain produksi ASI meningkat, terlambat menyusuikan
dini, perlekatan yang kurang baik, mungkin kurang
ASI

dikeluarkan,

dan dan mungkin

juga

ada

pembatasan waktu menyusui. Hal ini dapat terjadi


karena, pada hari ketiga setelah melahirkan. Selain itu
penggunaan bra yang ketat serta keadaan puting susu
yang tidak bersih yang dapat menyebabkan sumbatan
pada duktus.
Gejala

Perlu dibedakan antara payudara bengkak

dengan payudara penuh. Pada payudara bengkak;


payudara udem, sakit, puting susu kencang, kulit
mengkilat walau tidak merah dan ASI tidak keluar

kemudian badan menjadi demam setelah 24 jam.


Sementara pada payudara penuh; payudara terasa
berat, panas,dan keras; bila ASI dikeluarkan tidak ada
demam.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk
mencegah payudara bengkak adalah sebagai berikut.
a. Menyusui bayi segera setelah lahir dengan posisi
dan perlekatan yang benar
b. Menyusui bayi tanpa jadwal (on demand)
c. Keluarkan ASI dengan tangan/ pompa bila produksi
melebihi kebutuhan bayi
d. Jangan memberikan minuman lain kepada bayi
e. Lakukan

perawatan

payudara

pasca-persalinan

(Dewi, 2011; h. 40).


3. Saluran Susu Terhambat
Penyebab nya :
a. Tekanan jari ibu yang terlalu kuat pada waktu
menyusui
b. Pemakaian bra yang terlalu kuat
c. Komplikasi

payudara

bengkak,

yaitu

susu

terkumpul tidak segera dikeluarkan, sehingga


terbentuklah sumbatan
Gejala nya :

a. Pada wanita yang kurus, gejala nya terlihat


dengan jelas dan lunak pada perabaan
b. Payudara

pada

daerah

yang

mengalami

penyumbat Terasa nyeri dan bengkak terasa


nyeri dan bengkak yang terlokalisir
Adapun cara untuk merawat payudara adalah
sebagai berikut :
1) Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak,
dapat dilakukan masase serta kompres
panas dan dingin secara bergantian
2) Bila payudara masih terasa penuh, ibu
dianjurkan

untuk

mengeluarkan

ASI

dengan tangan atau dengan pompa setiap


kali selesai menyusui
3) Ubahubah

posisi

menyusui

untuk

melancarkan aliran ASI


4. Mastitis
Mastitis adalah radang pada payudara
Penyebab nya :
a. Payudara bengkak yang tidak disusui secara
adekuat, akhir nya terjadi mastitis
b. Putting susu lecet akan memudah kan masuk nya
kuman dan terjadi nya payudara bengkak

c. Bra yang terlalu ketat mengakibat kansegmental


engorgemet, jika tidak disusui dengan adekuat
maka bias terjadi mastitis
d. Ibu yang diet nya buruk, kurang istirahat dan
anemia akan mudah terkena infeksi
Gejala nya :
1) Bengkak, nyeri pada seluruh payudara/nyeri
local
2) Kemerahan pada seluruh payudara atau hanya
local
3) Payudara keras dan benjol-benjol
4) Panas badan dan rasa sakit umum
5. Abses Payudara
Gejala nya :
1. Ibu tampak lebih parah sakit nya
2. Payudara lebih mengkilat dan merah
3. Benjolan lebih lunak karena berisi nanah, sehingga
perlu diinsisi untukmengeluarkan nanah tersebut
Penatalaksanaan nya :
1. Teknik menyusui yang benar
2. Kompres air hangat dan dingin
3. Terus menyusui pada mastitis
4. Susukan dari yang sehat

5. Senam laktasi
6. Rujuk
7. Pengeluaran nanah dan pemberian antibiotic bila
abses bertambah
2.1.8.9 BENDUNGAN ASI
1.

Pengertian
Bendungan Air Susu adalah terjadinya pembengkakan
pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe
sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri
disertai kenaikan suhu badan. Bendungan ASI dapat
terjadi karena adanya penyempitan duktus laktiferus pada
payudara ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki
kelainan puting susu
(misalnya puting susu datar, terbenam dan cekung)
(Rukiyah,2011;h. 21).
Sesudah bayi dan plasenta lahir, kadar estrogen dan
progestron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari
hipotalamus yang menghalangi keluarnya prolaktin
waktu hamil, dan sangat dipengaruhi oleh estrogen, tidak
dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh
hypopisis. Hormon ini menyebabkan alveolus- alveolus
kelenjar mamma terisi dengan air susu, tetapi untuk
mangeluarkannya dibutuhkan reflex yang menyebabkan

kontraksi sel-sel mioepitelial yang mengelilingi alveolus


dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Pada
permulaan nifas apabila bayi belum mampu menyusun
dengan baik, atau kemudian apabila terjadi kelenjarkelenjar tidak dikosongkan dengan sempurna, terjadi
pembendungan air susu (Rukiyah,,2011; 22).
Umumnya ASI keluar 2-3 hari setelah melahirkan.
Namun dipayudara sudah terbentuk kolostrum yang baik
sekali untuk bayi, karena mengandung zat kaya gizi dan
antibiotik pembunuh kuman (Saleha,2009;h.11).
Bendungan ASI dapat terjadi pada hari ke-2 dan hari ke3 ketika payudara telah memproduksi air

susu.

Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air susu yang


tidak lancar, karena bayi tidak cukup sering menyusu,
produksi

ASI

meningkat,

terlambat

menyusukan,

hubungan dengan bayi (bonding) kurang baik, dan dapat


pula karena adanya

pembatasan

waktu

menyusu

(Prawirohardjo, 2009;h. 652).


2. Faktor-faktor penyebab Bendungan ASI
a. Pengosongan mamae yang tidak sempurna (dalam masa
laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada ibu yang
produksi ASI-nya berlebihan, apabila bayi sudah
kenyang dan selesai menyusu, dan payudara tidak

dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI didalam


payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat
menimbulkan bendungan ASI).
b. Faktor hisap bayi yang tidak aktif (pada masa laktasi,
bila ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin
atau jika bayi tidak aktif menghisap, maka akan
menimbulkan bendungan ASI).
c. Faktor menyusui bayi yang tidak benar (teknik yang
salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu
menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi
menyusu. Akibatnya ibu tidak mau menyusui bayinya
dan terjadi bendungan ASI).
d. Puting susu terbenam (puting susu terbenam akan
menyulitkan bayi dalam menyusu karena bayi tidak
dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau
menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI).
e. Puting susu terlalu panjang (puting susu yang panjang
menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena
bayi tidak dapat menghisap areola dan meransang sinus
laktiferus untuk megeluarkan ASI. Akibatnya ASI
tertahan dan menimbulkan bendungan ASI)
(Rukiyah, ,2011;h.21-22).
3. Tanda dan gejala bendungan ASI

Tanda dan gejala bendungan ASI antara lain dengan


ditandainya dengan: mamae panas serta keras pada perabaan
dan nyeri, putting susu bisa mendatar sehingga bayi sulit
menyusui, pengeluaran susu kadang terhalang oleh duktus
laktiferi yang menyempit, payudara bengkak, keras, panas,
Nyeri bila ditekan, warnanya kemerahan,suhu tubuh
mencapai 380c (Rukiyah,, 2011;h.22).
Gejala bendungan ASI adalah terjadinya pembengkakan
payudara bilateral dan secara palpasi teraba keras, kadang
terasa nyeri serta sering kali disertai peningkatan suhu badan
ibu, tetapi tidak terdapat tanda kemerahan dan demam
(Prawiroharjo, 2009; h.652)
4. Pencegahan bendungan ASI
Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah:
a.

Menyusui bayi segera setelah bayi dilahirkan dengan

posisi
dan perlekatan yang benar.
b.

Menyusui bayi tanpa jadwal (nir-jadwal dan on

demand.
c.

Keluarkan ASI denagn tangan/pompa bila produksi ASI


melebihi kebutuhan bayi

d.

Jangan membberikan minuman lain pada bayi

e.

Lakukan perawatan payudara pasca persalinan

(Dewi,2013;h.40)
5.

Penanganan Bendungan ASI


1) Bila ibu meyusui bayinya:
a. Susukan sesering mungkin
b. Kedua payudara disusukan
c. Kompres hangat payudara sebelum disusukan
d. Bantu dengan memijat payudara untuk permulaan
menyusui
e. Sangga payudara
f. Kompres dingin pada payudara diantara waktu
menyusui
g. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral
setiap 4 jam
h. Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengevaluasi
hasilnya
2) Bila ibu tidak menyusui:
a. Sangga payudara
b. Kompres dingin pada payudara untuk mengurangi
pembengkakan dan rasa sakit
c. Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral
setiap 4 jam
d. Kompres hangat

e. Keluarkan ASI dengan pompa (Prawiroharjo,2009;


652).
3. Dampak bendungan ASI
Statis pada pembuluh limfe akan mengakibatkan tekanan intraduktal
yang akan mempengaruhi berbagai segmen pada payudara, sehingga
tekanan seluruh payudara meningkat, akibatnya payudara sering terasa
penuh, tegang, dan nyeri (WHO), walaupun tidak disertai dengan demam.
Terlihat kalang payudara lebih lebar sehingga sukar dihisap oleh bayi.
Bendungan ASI yang tidak disusukan secara adekuat akhinya terjadi
mastitis.
2.2

TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN


2.2.1 Pengertian
Manajemen asuhan kebidanan atau sering disebut manajemen asuhan
kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara
sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar
menguntungkan kedua belah pihak baik klient maupun pemberi
asuhan.
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang
digunakan sebgaai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan, keterampilan,
dalam rangkaian tahap-tahap yang logis untuk pengambilan suatu
keputusan yang berfokus terhadap klien.

Manajemen

kebidanan

diadaptasi

dari

sebuah

konsep

yang

dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varneys Midwifery,


edisi ketiga tahun 1997, menggambarkan proses manajemen asuhan
kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang berturut secara
sistematis dan siklik (Soepardan, 2008; h. 96).
2.2.2 Langkah Dalam Manajemen Kebidanan Menurut Varney
2.2.2.1 Pengumpulan data dasar (Pengkajian)
Mengumpulkan semua data dasar yang di butuhkan untuk
mengevaluasi keadaan klien (Ambarwati,2010 h.131).
Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara:
A. Anamnesa
Anamnesa dilakukan untuk mendapatkan data anamnesa
terdiri dari beberapa kelompok penting sebagai berikut:
1. Data Subjektif
a) Identitas pasien
1) Nama
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama
panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam
memberikan penanganan
2) Umur
Di catat dalam tahun untuk mengetahui adanya
resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat- alat
reproduksi belum matang, mental psikisnya

belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35


tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan
dalam masa nifas
3) Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut
untuk membimbing atau mengarahkan pasien
dalam berdoa
4) Suku
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan
sehari-hari
5) Pendidikan pasien
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan
untuk

mengetahui

intelektualnya,
memberikan

sejauh

sehingga
konseling

mana

tingkat

bidan

dapat

sesuai

dengan

pendidikannya
6) Pekerjaan pasien
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur
tingkat social ekonominya,karena ini juga
mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut.

b) Alamat pasien
Di tanyakan untuk mempermudah kunjungan
rumah bila di perlukan (Ambarwati,2010;h.
132).
2.

Keluhan utama
Untuk mengetahui masalah yang di hadapi yang
berkaitan dengan masa nifas,misalnya pasien
merasa mules, sakit pada jalan lahir karena
adanya jahitan pada perineum.

3.

Riwayat kesehatan
a. Kesehatan sekarang
Data-data ini di perlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya penyakit yang di derita
pada saat ini yang ada hubungannya dengan
masa nifas dan bayinya.
b. Kesehatan yang lalu
Data yang di perlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya riwayat atau penyakit
akut, kronis seperti: Jantung, DM, Hipertensi,
Asma yang dapat mempengaruhi pada masa
nifas ini

c. Kesehatan yang keluarga


Data ini di perlukan untuk mengetahui
kemungkinan adanya pengaruh penyakit
keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien
dan bayinya, yaitu bila ada penyakit keluarga
yang

menyertainya.

(Ambarwati,2010;

h.133).
4.

Riwayat obstetri
a. Riwayat haid
Mempunyai gambaran tentang keadaan dasar
dari organ reproduksinya.
1. Menarche
Usia pertama kali mengalami menstruasi.
Untuk wanita Indonesia padausia sekitar 1216 tahun.
2. Siklus
Jarak antara menstruasi yang di alami dengan
menstruasi berikutnya dalam hitungan hari,
biasanya sekitar 23-32 hari.
3. Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah
menstrusi yang di keluarkan.

4. Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang
di rasakan ketika mengalami menstruasi
misalnya sakit yang sangat, pening sampai
pingsan, atau jumlah darah yang banyak
(Sulistyawati,2009;h.112).
b. Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB
dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama,
adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi
serta rencana KB setelah masa nifas ini dan
beralih ke kontrasepsi apa
c. Pola kebutuhan Sehari-hari
a) Nutrisi
Menggambarkan tentang pola makan dan
minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan,
dan

makanan

pantangan

(Ambarwati,2010;h.134-136)
b) Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu
kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi,
jumlah konsistensi dan bau serta kebiasaan

buang air kecil meliputi frekuensi, warrna,


jumlah.
c) Istirahat
Ibu disarankan untuk beristirahat yang cukup
untuk mencegah kelelahan yang berlebihan
dan menyarankan ibu untuk kembali kegiatan
kegiatan yang tidak berat (Dewi ,2011; h.7176)
Pasien perlu diingatkan untuk selalu tidur
Kebutuhan

istirahat

bagi

ibu

menyusui

minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi


melalui

istirahat

malam

dan

siang

(Sulistyawati,2009;h. 103).
d) Personal Hygine
Pada masa post partum, seorang ibu sangat
rentan terhadap infeksi. Oleh karena itu,
kebersihan

diri

sangat

mencegah terjadinya

penting

infeksi.

untuk

Kebersihan

tubuh, pakaian, tempat tidur, dan lingkungan


sangat penting untuk tetap dijaga (Saleha,
2009;h. 73).

e) Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien seharihari.Pada pola ini perlu di kaji pengaruh
aktivitas terhadap klesehatanya. Mobilisasi
dini dapat mempercepat proses pengembalian
alat-

alat

reproduksi

(Ambarwati,2010;

h.137).
3. Data Objektif
Data ini di kumpulkan guna melengkapi data untuk menegakkan
diagnosis. Bidan melakukan pengkajian data objektif melalui
pemeriksaan

inspeksi,

palpasi,

auskultasi,

perkusi

dan

pemeriksaan penunjang yang di lakukan secara berurutan


(Sulistyawati,2009, h;121 ).
1) Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan yang dilakukan kepada pasien sebagai berikut:
a.

Keadaan umum
Data ini dapat dengan mengamati keadaan pasien
secara keseluruhan,hasil pengamatan yang di laporkan
kriterianya baik atau lemah.
1)

Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang ke sadaran
pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat

kesadaran pasien dari keadaan compos mentis


sampai dengan koma (Sulistyawati,2009; h.122).
2) tinggi badan
Salah satu ukuran pertumbuhan seseorang.
3) Berat badan
Massa tubuh di ukur dengan pengukuran massa
atau timbangan (Tambunan, 2011; h.9).
b.

Tanda-tanda vital
(a) Tekanan darah
Biasanya tidak terjadi perubahan, kemungkinan
tekanan darah akan rendah setelah ibu melahirkan
karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada
post

partum

dapat

menandakan

terjadinya

preeklamsi post partum yang akan menghilang


dengan sendirinya apabila tidak ada penyakit
penyakit

lain yang menyertainya

(b) Nadi
Berkisar antara 60-80x/menit denyut nadi di atas
100x/menit pada masa nifas adalah mengindikasikan
adanya suatu infeksi, hal ini salah satunya bisa di
akibatkan oleh proses persalinan sulit atau karena
kehilangan darah yang berlebih

(b)Suhu
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam
pertama pada masa nifas pada umumnya di sebabkan
oleh dehidrasi,yang di sebabkan oleh keluarnya
cairan pada waktu melahirkan,selain itu bisa juga di
sebabkan karena istirahat dan tidur yang di
perpanjang selama awal persalinan. Tetapi pada
umumnya setelah 12 jam postpartum suhu tubuh
akan kembali normal.
(c) Pernafasan
Keadaan pernafasan akan selalu

berhubungan

dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Apabila suhu


dan denyut nadi tidak normal pernafasan juga akan
mengikutinya kecualai ada gangguan khusus pada
gangguan pernafasan. Pernafasan harus berada
dalam rentang yang normal, yaitu sekitar 20-30
x/menit
(Ambarwati, 2010;.h.138- 139).
c. Pemeriksaan fisik
(a) Kepala
Organ tubuh yang perlu di kaji karena pada kepala
terdapat organ-organ yang sangat penting. Pengkajian
di awali dengan inspeksi lalu palpasi

(b) Muka
Pada daerah muka di lihat kesimetrisan muka, apakah
kulitnya normal, pucat. Ketidaksimetrisan muka
menunjukkan adanya gangguan pada saraf ke tujuh
(nervus fasialis)
(c) Mata
untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata, teknik
yang di gunakan inspeksi dan palpasi
(d)Telinga
Untuk mengetahui keadaan telinga luar ,saluran
telinga, gendang telinga/membrane timpani, dan
pendengaran. Teknik yang di gunakan adalah inspeksi
dan palpasi
(e) Hidung
Di kaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi
hidung, bagian dalam, lalu sinus-sinus
(f) Mulut
Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut
(g)Leher
Untuk mengetahui bentuk leher, serta organ- organ
lain yang berkaitan. Teknik yang di gunakan adalah
inspeksi dan palpasi.
(h) Dada

Mengkaji kesehatan pernafasan (Tambunan,2011:


h.66-86).
(i) Payudara
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke-2 atau
ke-3 ketika payudara telah memproduksi air susu.
Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air susu
yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup sering
menyusui,

produksi

meningkat,

terlambat

menyusukan, hubungan dengan bayi yang kurang


baik, dan dapat pula terjadi akibat pembatasan waktu
menyusui (Prawirohardjo, 2009; hal.652).
(j) Perut
Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm
dibawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1 cm diatas
pusat menurun kira-kira 1 cm setiap hari. Pada hari
kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1 cm
dibawah pusat. Pada hari ke 3-4 tinggi fundus uteri 2
cm dibawah pusat. Pada hari ke 5-7 tinggi fundus
uteri setengah pusat simpisis. Pada hari ke 10 tinggi
fundus uteri tidak teraba
(k) Genetalia
Mengkaji kebersihan, pengeluaran, massa, bau
(Ambarwati,2010;h.140)

2.2.2.2. Interpretasi Data Untuk Mengidentifikasi Diagnosa


Masalah
A. Diagnosa Kebidanan
Langkah awal dari perumusan diagnosa atau masalah
adalah

pengolahan

data

dan

analisis

dengan

menghubungkan data satu dengan data yang lainnya


(Sulistyawati, 2009;h.177)
B. Masalah
Permasalahan yang muncul berdasarkan pernyataan
pasien.
Data dasar meliputi :
1. Data Subyektif
Data yang didapatkan dari hasil anamnesa pasien
2. Data Obyektif
Data yang didapat dari hasil pemeriksaan (Ambarwati,
2010;h. 142).
C. Mengidentifikasi kebutuhan
Dalam langkah ini data yang telah dikumpulkan
diintrepetasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah
(Ambarwati,2010;h.141).
2.2.3 Antisipasi Masalah Potensial
Pada langkah ke tiga ini mengidentifikasi masalah potensial
berdasarkan

diagnosa

atau

masalah

yang

sudah

di

identifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi bila


memungkinkan di lakukan pencegahan (Soepardan,2008:
h.99).
2.2.4 Tindakan Segera
Pada pelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada situasi
yang darurat, yang menuntut bidan melakukan tindakan
penyelamatan terhadap pasien. Kadang pula dihadapkan pada
situasi pasien yang memerlukan tindakan segera padahal
sedang menunggu inrtruksi dokter. Bidan sangat dituntut
kemampuannya untuk dapat melakukan evaluasi keadaan
pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman
(Sulistyawati,2009;h.132).
2.2.5 Merencanakan asuhan
Langkah-langkah ini di tentukan oleh sebelumnya yang
merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah di
identifikasi atau antisipasi (Ambarwati, 2010; h.143).
1. Pantau keadaan umum ibu
2. Pemberian ASI awal
3. Menjaga bayi untuk pencegahan hipotermi
4. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
abnormal
5. Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
6. Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi

7. Memastikan

ibu

menyusui

dengan

baik

dan

tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.


8. Beritahu kunjungan ulang
2.2.6 Melaksanakan perencanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan
pada klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan
rencana asuhan secara efesien dan aman
2.2.7 Evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa
yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan
yang diberikan (Ambarwati, 2010; h.143).
2.2 Landasan Hukum Kewenangan Bidan
Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

(Permenkes)

Nomor

1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan Penyelenggaran Praktik Bidan,


kewenangan yang dimiliki bidan meliputi
1. Kewenangan normal:
a.) Pelayanan kesehatan ibu
b.) Pelayanan kesehatan anak
c.) Pelayanan

kesehatan

reproduksi

perempuan

dan

keluarga

berencana
2. Kewenangan dalam menjalankan program Pemerintah.
3. Kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak
memiliki dokter

4. Kewenangan normal adalah kewenangan yang dimiliki oleh seluruh bidan.


Kewenangan ini meliputi:
Pelayanan kesehatan ibu
a) Ruang lingkup:
1) Pelayanan konseling pada masa pra hamil.
2) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal.
3) Pelayanan persalinan normal.
4) Pelayanan ibu nifas normal.
5) Pelayanan ibu menyusui.
6) Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan.
b) Kewenangan:
1) Episiotomi.
2) Penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II.
3) Penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan.
4) Pemberian tablet Fe pada ibu hamil.
5) Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas.
6) Fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini (IMD) dan promosi
air susu ibu (ASI) eksklusif.
7) Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan
postpartum.
8) Penyuluhan dan konseling.
9) Bimbingan pada kelompok ibu hamil.
10) Pemberian surat keterangan kematian.

11) Pemberian surat keterangan cuti bersalin.

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.R USIA 29 TAHUN P2A03 HARI


POST PARTUM DENGAN BENDUNGAN ASI DI BPM
MAFALDA S.ST WAYKANDIS
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015

A.

Pengkajian

1.

Nama Mahasiswa

: Eliza Fitriani

Tanggal

: 11 April 2015

Jam

: 14.00 WIB
Data Subyektif

a. Identitas Pasien
Isrti

Suami

Nama

: Ny. R

: Tn. E

Umur

: 29 tahun

:31 tahun

Agama

: Islam

: Islam

Suku bangsa : Jawa

: Lampung

Pendidikan

: SMA

: SMA

Pekerjaan

: IRT

: Buruh

Alamat

: Jln.Ratu Dibalau, Gg Andalas Wayhuwi, Waykandis


Bandar Lampung

2. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kesehatannya.
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan payudaranya panas, berat, keras, nyeri dan asi yg
keluar sedikit
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayat haid
Menarche

: 13 Tahun

Siklus

: 28 Hari

Teratur/tidak

: Teratur

Lama

: 6 hari

Volume

: 3 kali/hari ganti pembalut

Warna

: Merah segar

Dismenore

: Ada disminore

Bau

: Khas

Flour albus

: Ada sebelum menstruasi

b. Riwayat kehamilan sekarang


HPHT

: 2 Juli 2014

TP

: 9 April 2015

Tanggal bersalin

: 9 April 2015

Frekuensi ANC

: 8 kali kunjungan

5. Riwayatkesehatan
a. Sekarang
Ibu sedang tidak mengalami penyakit apapun selama masa nifas
nya sampai saat ini seperti (TBC, Hepatitis, PMS) penyakit
menurun seperti (DM, Asma, Hipertensi) penyakit berat seperti
(Jantung, Ginjal, Paru-paru)
b. Yang lalu
Ibu tidak pernah menderita penyakit menular seperti (TBC,
Hepatitis, PMS) penyakit menurun seperti (DM, Asma, Hipertensi)
penyakit berat seperti (Jantung, Ginjal, Paru-paru) Dan ibu tidak
pernah dirawat dirumah sakit yang berhubungan dengan penyakit
organ reproduksi
c. Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita menular seperti (TBC,
Hepatitis, PMS) penyakit menurun seperti (DM, Asma, Hipertensi)
penyakit berat seperti (Jantung, Ginjal, Paru-paru)
6. Riwayat Kehamilan,Persalina,Nifas dan Kb yang Lalu
No

Kehamilan
UK

Penyulit

Persalinan
Penolong

Penyulit

Nifas
BB

JK

Bayi
1.

39
Minggu

2.

Nifas ini

Tidak ada

Bidan

Tidak ada

3800
Gr

Penyuli

KB
Alkon

t
L

Tidak
ada

Impalant

7. Pola kebutuhan sehari-hari


a. Nutrisi
Saat Hamil

: Ibu makan 3x/hari, porsi cukup, dengan

menu nasi
sayur (bayam, kangkung,daun singkong),
1potong tahu dan tempe

dan minum air

putih 8 gelas/hari
Saat Nifas

: Ibu makan 3x/hari, porsi cukup, dengan

menu
Nasi, 1 potong tempe dan tahu, sayur
(bayam, kangkung,katuk) minum air putih
5 gelas/hari.
b. Pola Eliminasi
Saat Hamil

: BAB 1x/hari konsistensi lunak, bau khas


BAK 6-7x/hari, warna kuning jernih, bau
khas

Saat Nifas

: BAB ibu mengatakan sudah BAB 1 X

selama
nifas ini BAK 4-5x/hari, warna kuning
jernih, bau khas
c. Pola Istirahat
Saat Hamil

: Ibu tidur siang 1 jam/hari, tidur malam 8


jam/hari, nyenyak, tidak ada keluhan

Saat nifas

:Ibu tidur Malam 3-4 jam saja, dikarenakan


ibu harus menyusui bayi nya dan pada siang
hari ibu beristirahat ketika bayi nya tertidur

d. Personal hygiene
Saat hamil

: Ibu mandi 2x/hari, gosok gigi 2x/hari,


keramas
1x/hari, ganti baju 2x/hari, dan ganti celana
Dalam ketika terasa lembab

Saat nifas

: Ibu mandi 2x/hari, gosok gigi 2x/hari,


keramas 2 hari sekali, ganti baju 2x/hari, dan
ganti pembalut 3-4 x/hari.

e. Pola Seksual
Saat hamil

: Ibu mengatakan melakukan hubungan


suami istri 1x/minggu dengan hati-hati

Saat nifas

Ibu

mengatakan

belum

melakukan

hubungan Suami istri


8. Riwayat Psikososial
a. Status perkawinan
Status

: Syah

Usia Nikah Pertama

:18 Tahun

Lamanya

:11 tahun

b. Status emosional
bayinya

: Ibu sangat bahagia dengan kelahiran

Ini. Hubungan ibu dengan suami, keluarga,


dan masyarakat berjalan harmonis.
9. Riwayat spiritual
a. Saat hamil

: Ibu melaksanakan ibadah sholat 5 waktu

b. Saat nifas

: Ibu belum melaksanakan ibadah sholat

B. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan emosional

: Stabil

TTV

:
TD

: 110/70 mmHg

Pernafasan

: 22 kali/menit

Nadi

: 80 kali/menit

Suhu

: 380C

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala:
Warna rambut

: Hitam

Ketombe

: Tidak Ada

Benjolan

: Tidak Ada

b. Wajah
Cloasma

: Tidak Ada

Hiperpigmentasi

: Tidak Ada

Pucat

: Tidak Ada

Edema

: Tidak Ada

c. Mata

d.

Simetris

: Kanan dan kiri

Kelopak mata

: Tidak oedema

Konjungtiva

: Tidak pucat

Sklera

: Putih

Hidung
Simetris

: Kanan dan kiri

Polip

: Tidak ada pembengkakan

Kebersihan

: Bersih

e. Mulut
Warna bibir

: Merah

Pecah- pecah

: Tidak Ada

Sariawan

: Tidak Ada

Gusi berdarah

: Tidak Ada

Gigi

: Tidak berlubang

f. Telinga
Simetris

: Kanan dan kiri

Gangguan pendengaran

:Tidak ada

g. Leher
Simetris

: Kanan dan kiri

Pembesaran kelenjar tiroid

: Tidak Ada

Pembesaran vena juguralis

: Tidak Ada

Pembesaran kelenjar limfe

: Tidak Ada

Dada
Retraksi

: Ada

Bunyi mengi dan ronchi

: Tidak Ada

Payudara
Simetris

: Tidak simetris kanan kiri

Pembesaran

: Ada,sebelah kiri lebih besar

Puttingg susu

: Menonjol

Hiperpigmentasi areola mamae : Ada


Benjolan

: Tidak Ada

Konsisitensi

: Keras

Pengeluaran

: Sedikit

h. Punggung dan pinggang


Simetris

: Kanan dan kiri

Nyeri ketuk

: Tidak Ada

i. Abdomen
Pembesaran

: Tidak Ada

Konsistensi

: Keras

Kandung kemih

: Kosong

Uterus

TFU

: Pertengahan antara pusat


dan simpisis

Kandungkemih

: Kosong

Kontraksi

: Baik

j. Anogenital

k.

Vulva

: Tidak Ada hematoma

Perineum

: Terdapat laserasi

Pengeluaran vaginam

: Lochea Rubra

Anus

: Tidak Ada hemoroid

Ekstermitas bawah
Oedema

: Tidak Ada

Kemerahan

: Tidak Ada

Varices

: Tidak Ada

Reflek patella

: (+) Kanan dan kiri

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboraturium

: Tidak dilakukan

4. Data Penunjang
a. Riwayat persalinan sekarang
1. IBU
Tempat melahirkan

: BPM Mafalda S.ST

Penolong

: Bidan

Jenis persalinan

: Spontan

Lama persalinan

: 9 jam

Catatan waktu
Kala I

: 6 jam 30 menit

Kala II

: 0 jam 20 menit

Kala III

: 0 jam 10menit

Kala IV

: 2 jam

Lama

:9 jam

Ketuban pecah

: Spontan

Plasenta
Lahir secara

: Normal

Diameter

: 18 cm

Berat

: 450 gram

Panjang tali pusat

: 48 cm

Perineum

: Laserasi derajat 2

2. Bayi
Lahir tanggal/pukul

: 09 April 2015/ 03.30 WIB

Berat badan

: 3800 gram

Panjang badan

: 48 cm

Nilai apgar

:8

Jenis kelamin

: Laki-laki

Cacat bawaan

: Tidak Ada

Masa gestasi

: 40 Minggu

TABEL 3.1
Tgl/ jam

Pengkajian

Interpretasi

Dx

Antisipasi/

data

potensial/mas

tindakan

(diagnosa,

alah potensial

segera

- Perawatan
payudara
- Pengeluaran
ASI
- Teknik
menyusui

MATRIKS
Intervensi

Implementasi

Evaluasi

1. Memberitahu kondisi ibu


Saat ini berdasarkan hasil pemeriksaan TTV

1. Ibu mengerti
keadaan nya saat
ini dalam kondisi
baik.

masalah,
kebutuhan)
11-04-2015 /

Ds:

Dx :

Payudara

14.00 WIB

1. Ibu
mengatakan
telah 2 kali
melahirkan
dan belum
pernah
mengalami
keguguran

Ny.R usia 29

Bengkak

tahun P2A0 3

1. Beritahu
kondisi ibu
saat ini

di dapatkan bahwa:
TD : 110/70mmhg

hari post
Nadi : 80x/i
partum dengan
RR : 22/i
bendungan
Suhu : 38
ASI
Pengeluaran Lochea Merah yaitu lochea
rubra

2. Ibu
mengatakan
payudaranya
terasa penuh,
berat, panas,

Masalah :
TFU 3 jari dibawah pusat
Bendungan
Terdapat nyeri tekan pada payudara,

keras , nyeri
dan
pengeluaran
ASI sedikit

ASI dan rasa

pengeluaran ASI sedikit

nyeri saat

Dan ibu mengalami bendungan asi

menyusui
DO :
Kebutuhan :
Keadaan umum

Perawatan

: Baik

payudara dan

Kesadaran :

Teknik

Compos mentis

menyusui

TTV:

2. Beritahu ibu
tentang
keluhan
yang di rasa
kan saat ini

2. Memberitahu ibu tentang keluhan yang


dirasakan ibu yaitu payudara terasa, penuh,
keras ,nyeri, panas, dan ASI keluar sedikit
karena ibu mengalami bendungan ASI yang
disebabkan karena pengosongan payudara
yang tidak sempurna, faktor hisapan bayi
yang tidak aktif, faktor menyusui yang tidak
benar.

3. Nilai dan
beritahu ibu
tanda- tanda
bahaya
masa nifas

3. Menilai dan memberitahu ibu tanda-tanda


3. Tidak ada tanda
bahaya masa nifas seperti:
tanda infeksi
1. Perdarahan pervaginam
masa nifas dan
2. Infeksi pada masa nifas yag ditandai
ibu mengerti
dengan kenaikan suhu mencapai 38C
tentang tanda3. Sakit kepala, Nyeri epigastrik (pada bagian
tanda bahaya
perut), dan penglihatan mata kabur.
pada masa nifas
4. Pembekakan di wajah atau ektremitas
5. Demam, muntah, dan rasa sakit waktu
berkemih
6. Kehilangan nafsu makan untuk jangka
waktu yang panjang
7. Rasa sakit, merah dan pembengkakan pada
kaki

4. Lakukan
dan
ajarkan
ibu

4. Melakukan dan mengajarkan ibu


perawatan payudara dengan melakukan
perawatan payudara dan mengajari ibu
cara melakukan perawatan payudara

TD:110/70
mmhg, S:38OC,
N:80x/i,
RR:22X/i,

Payudara
teraba keras,

2. Ibu mengerti
tentang keluhan
yang dialami.

4. Ibu telah di
Lakukan
perawatan
payudara dan

nyeri tekan,
dan teraba
panas
Pengeluaran
colostrum

Pengeluaran
pervaginam
Lochea Rubra

TFU 3 jari
dibawah pusat

perawatan
payudara

Alat yang disiapkan yaitu :


a. Kapas dalam kom kecil
b. Dua waskom berisi air hangat dan dingin
c. Baby oil
d. Baju ganti satu set
e. Washlap dua buah
f. Handuk besar dua buah
g. Bengkok satu buah
Langkahnya yaitu :
1) Menjaga payudara tetap bersih dan
kering, terutama bagian puting susu.
2) Menggunakan BH yang menyokong
payudara.
3) Apabila puting susu lecet, oleskan
colostrum atau ASI yang keluar disekitar
puting setiap kali setiap selesai menyusui.
Menyusui tetap dilakukan dimulai dari
puting susu yang tidak lecet.
4) Apabila lecet sangat berat dapat di
istirahatkan selama 24 jam., ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan
sendok.
5) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat di
berikan paracetamol 1 tablet setiap 4-6
jam.
6) Pengompresan payudara dengan
menggunakan kain basah dan hangat
selama 5 menit.
7) Keluarkan ASI sebagian dari bagian
depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak.
8) Susukan bayi 2-3 jam. Apabila bayi tidak

ibu mengerti
cara melakukan
perawatan
payudara

dapat menghisap seluruh ASI, sisanya


keluarkan dengan tangan.
9) Letakkan kain dingin pada payudara
setelah menyusui.

5. Lakukan
dan ajarkan
cara
pengeluaran
ASI

5. Melakukan pengeluaran ASI


dan mengajarkan kepada ibu cara

5. Ibu telah di
Lakukan
pengeluaran

pengeluaran ASI yaitu dengan cara:


ASI dan ibu
a.

Teknik menstimuli reflek oksitosin


sebelum diperas
1) Pakaian bagian atas pasien dibuka
2) Pasien duduk dikursi lalu
tengkurap di meja dengan kedua
tangan sebagai alas
3) Pijat leher dan punggung
belakang (sejajar payudara)
menggunkan ibu jari dengan
tekhnik gerakan memutar searah
jarum jam kurang lebih selama 3
menit.

b. Pengeluaran ASI dengan tangan


1) Perah aerola (bagian gelap sekitar puting)
dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
2) Selanjutnya tekan aerola dengan ritme
persis seperti ritmebayi yang menghisap
3) Arahkan aliran ASI ke gelas bersih
4) Tuliskan tanggal pemerahan pada kantong

mengerti cara
melakukan
pengeluaran
ASI

plastik gula dengan spidol permanen.


5) Masukkan ASI kedalam kantong plastik,
ikat, dan simpan dalam freezer.
6. Ajarkan
pada ibu
teknik
menyusui
yang benar

6. Mengajarkan kepada ibu tehnik menyusui


yang benar yaitu dengan cara:
a. Duduk dengan posisi santai dan tegak
b. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan
sedikit kemudian dioleskan pada putting
susu dan areola sekitarnya
c. Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala
bayi diletakkan pada lengkung siku ibu
dan bokong bayi diletakkan pada lengan.
Kepala bayi tidak boleh tertengadah atau
bokong bayi ditahan dengan telapak
tangan ibu
d. Satu tangan bayi diletakkan dibelakang
badan ibu dan yang satu didepan
e. Perut bayi menempel badan ibu, kepala
bayi menghadap payudara
f. Telinga dan lengan bayi terletak pada satu
garis lurus
g. Ibu menatap bayi dengan kasih saying
h. Tangan kanan menyangga payudara kiri
dan keempat jari dan ibu jari menekan
payudara bagian atas areola
i. Bayi diberi rangsangan untuk membuka
mulut (rooting reflek) dengan cara
menyentuh pipi dengan putting susu atau
menyentuh sisi mulut bayi
j. Setelah bayi membuka mulut, dengan
cepat kepala bayi didekatkan ke payudara
ibu dengan putting serta areola
dimasukkan ke mulut bayi

6. Ibu mengerti
tentang teknik
menyusui yang
benar dan ibu
talah
mempraktekkan
dengan benar.

k.

Melepas isapan bayi


Setelah menyusui pada satu payudara
sampai terasa kosong, sebaiknya diganti
menyusui pada payudara yang lain.Cara
melepas isapan bayi :

1) Jari kelingking ibu dimasukkan


kemulut bayi melalui sudut mulut
2) Dagu bayi ditekan kebawah
l. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan
sedikitkemudian dioleskan pada putting
susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering
dengan sendirinya.
m. Mengajarkan kepada ibu tentang cara
menyendawakan bayi Tujuan
menyendawakan bayi adalah
mengeluarkan udara dari lambung supaya
bayi tidak muntah (gumoh) setelah
menyusui.
Cara menyendawakan bayi :
1) Bayi digendong tegak dengan
bersandar pada bahu ibu kemudian
punggungnya ditepuk perlahan-lahan
2) Dengan cara menelungkupkan bayi di
atas pangkuan ibu, lalu usap-usap
punggung bayi sampai bayi
bersendawa.
n. Menganjurkan kepada ibu untuk menyusui
bayinya sesering mungkin setiap 2-3 jam
secara bergantian antara payudara kanan

dan kiri. Dan bila bayi tertidur anjurkan


kepada ibu untuk membangunkan bayinya
selama siklus tidurnya agar payudara
lembek

7. Beritahu ibu
tentang
kebutuhan
nutrisi

7.

Memberitahu ibu tentang kebutuhan


7. Ibu bersedia
nutrisi rata-rata ibu menggunakan kirauntuk memenuhi
kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama
kebutuhan
dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua
nutrisinya.
untuk menghasilkan jumlah susu normal.
Rata-rata ibu harus mengkonsumsi 2.3002.700 kal ketika menyusui yaitu makan
dengan diet berimbang yaitu protein, yang
bias didapat kan dari telur,ikan,tahu.
karbohidrat didapat kan dari nasi, jagung,
roti, mineral dan vitamin, dan
mengkonsumsi sayuran hijau yaitu
sayuran daun turi (daun katuk) dan
kacang-kacangan untuk memperbanyak
produksi ASI.

8. Anjurkan
ibu untuk
menjaga
kebersihan
diri
terutama

8.

Menganjurkan ibu untuk menjaga


kebersihan diri terutama alat genetalianya
yaitu dengan cara Segera mengganti
pembalut jika terasa darah penuh,
Lakukan perawatan yang benar setiap kali
ibu buang air kecil atau saat mandi dan

8. Ibu bersedia
untuk menjaga
kebersihan
dirinya terutama
daerah
genitalianya.

alat
genetalia
Nya

9. Beritahu
ibu
kebutuhan
istirahat
yang cukup

14-4-2015/ 15.00

DS :

DX : Ny. R

Payudara

Perawatan

WIB

1. Ibu

usia 29 tahun

Bengkak

Payudara

hasil

bila mengganti pembalut,cebok dengan air


bersih dari depan kebelakang dan
keringkan dengan handuk bersih/tissue

9. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat


minimal 8 jam/hari agar produksi ASI
lancar

1. Beritahu ibu 1. Memberitahu ibu mengenai hasil


pemeriksaan yaitu hasil TTV:

mengatakan

P2A0 6 hari

Teknik

pemeriksaa

TD : 110/70mmhg

sudah pernah

postpartum

Menyusui

Nadi : 82x/menit

melahirkan

dengan

RR : 22x/i

dua kali dan

bendungan

Suhu : 36,8C

belum pernah

ASI

Pengeluaran Lochea merah kecoklatan yaitu

mengalami

lochea sanguilenta

9. Ibu mengerti akan


kebutuhan
istirahat yang
cukup

1. Ibu sudah
mengerti hasil
pemeriksaan

Masalah :

TFU Pertengahan pusat dan sympisis

Bendungan

Payudara ibu sudah tidak nyeri ,dan sudah

mengatakan

ASI

lembek

payudara nya

Kebutuhan :

masih terasa

Perawatan

penuh dan

Payudara

berat tetapi
sudah mulai

2.Ibu

2. Beritahu

2. Ibu mengerti

Teknik

2. Memberitahu ibu mengenai keluhan yang


dirasakan, ibu masih mengalami bendungan
ibu mengenai
ASI tetapi mulai teratasi karena rasa nyeri
sudah berkurang dan pengeluaran ASI nya
keluhan yang
sudah lancar dan bayi mau menyusui

Menyusui

dirasakan

ini.

mengenai keluhan
yang dirasakan saat

lembek ,dan
rasa nyaeri
nya
berkurang,
pengeluaran
ASI mulai
lancar

3. tanyakan
pada ibu
apakah
sudah
mengerti
tanda
tanda
bahaya

3. Menanyakan kembali pada ibu mengenai


tanda-tanda bahaya pada masa nifas.

3.Ibu mampu
menjelaskan tandatanda bahaya pada
masa nifas yaitu :
a. Perdarahan
pervaginam
b. Infeksi pada
masa nifas yag

DO:
Keadaan umum
c.
: baik
Kesadaran :
compos mentis
d.
Keadaan
emosional :

e.

stabil
f.
TTV:
TD : 110/70
g.
mmhg
N : 82x/i

ditandai dengan
kenaikan suhu
mencapai 38C
Sakit kepala,
Nyeri epigastrik
(pada bagian
perut), dan
penglihatan mata
kabur.
Pembekakan di
wajah atau
ektremitas
Demam, muntah,
dan rasa sakit
waktu berkemih
Kehilangan nafsu
makan untuk
jangka waktu
yang panjang
Rasa sakit,
merah dan
pembengkakan
pada kaki

RR : 22x/i
Suhu : 36,8C

4. ingat kan

4. Mengingatkan dan membimbing ibu


mengenai Perawatan payudara
Alat yang disiapkan yaitu

ibu dan
a. Kapas dalam kom kecil
Dari hasil

bimbing

pemeriksaan

cara

b. Dua waskom berisi air hangat dan

4.

Ibu masih ingat


mengenai
perawatan
payudara dengan
di bimbing dan
sudah
melakukannnya
setiap sebelum
ibu mandi

Payudara ibu

perawatan

dingin

sudah tidak ada

payudara

c. Baby oil

nyeri tekan

d. Baju ganti dua set

,dan mulai

e. Washlap dua buah

lembek

f. Handuk besar dua buah

pengeluaran

g. Bengkok satu buah

ASI mulai
lancar

Langkahnya yaitu :
1)

Menjaga payudara tetap bersih dan


kering, terutama bagian puting susu.

Pengeluaran
ASI

Pengeluaran
pervaginam
Lochea
Sanguiulenta

2) Menggunakan BH yang menyokong


payudara.
2.) Apabila puting susu lecet, oleskan
colostrum atau ASI yang keluar
disekitar puting setiap kali setiap
selesai menyusui. Menyusui tetap
dilakukan dimulai dari puting susu
yang tidak lecet.
3.) Apabila lecet sangat berat dapat di
istirahatkan selama 24 jam., ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan
sendok.
5) Untuk menghilangkan nyeri ibu
5.

Ibu masih igat


mengenai

TFU

dapat di berikan paracetamol 1 tablet

Pertengahan

setiap 4-6 jam.

pusat dan

6)

sympisi

Pengompresan payudara dengan


menggunakan kain basah dan hangat
selama 5 menit.

7)

Keluarkan ASI sebagian dari bagian


depan payudara sehingga puting susu
menjadi lunak.

8)

Susukan bayi 2-3 jam. Apabila bayi


tidak dapat menghisap seluruh ASI,
sisanya keluarkan dengan tangan.

9)

Letakkan kain dingin pada payudara


setelah menyusui.

5.

Ingatkan
dan
bimbing
ibu teknik
menyusui
yang benar

5. Mengingatkan dan mem-bimbing ibu


teknik menyusui yang benar yaitu :

b.

a. Duduk dengan posisi santai dan tegak


Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan

tekhnik
menyusui yang
benar

c.

d.
e.
f.
g.
h.

i.

j.

k.

sedikit kemudian dioleskan pada putting


susu dan areola sekitarnya
Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala
bayi diletakkan pada lengkung siku ibu
dan bokong bayi diletakkan pada lengan.
Kepala bayi tidak boleh tertengadah atau
bokong bayi ditahan dengan telapak
tangan ibu
Satu tangan bayi diletakkan dibelakang
badan ibu dan yang satu didepan
Perut bayi menempel badan ibu, kepala
bayi menghadap payudara
Telinga dan lengan bayi terletak pada satu
garis lurus
Ibu menatap bayi dengan kasih saying
Tangan kanan menyangga payudara kiri
dan keempat jari dan ibu jari menekan
payudara bagian atas areola
Bayi diberi rangsangan untuk membuka
mulut (rooting reflek) dengan cara
menyentuh pipi dengan putting susu atau
menyentuh sisi mulut bayi
Setelah bayi membuka mulut, dengan
cepat kepala bayi didekatkan ke payudara
ibu dengan putting serta areola
dimasukkan ke mulut bayi
Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara
sampai terasa kosong, sebaiknya diganti
menyusui pada payudara yang lain.Cara

melepas isapan bayi :


1) Jari kelingking ibu dimasukkan
kemulut bayi melalui sudut mulut
2) Dagu bayi ditekan kebawah
3) Setelah selesai menyusui, ASI
dikeluarkan sedikit kemudian
dioleskan pada putting susu dan
areola sekitarnya. Biarkan kering
dengan sendirinya.
m) Mengajarkan kepada ibu tentang cara
menyendawakan bayi Tujuan
menyendawakan bayi adalah
mengeluarkan udara dari lambung supaya
bayi tidak muntah (gumoh) setelah
menyusui.
Cara menyendawakan bayi :
1)Bayi digendong tegak dengan bersandar
pada bahu ibu kemudian punggungnya
ditepuk perlahan-lahan
2)Dengan cara menelungkupkan bayi di
atas pangkuan ibu, lalu usap-usap

punggung bayi sampai bayi bersendawa.


n) Menganjurkan kepada ibu untuk menyusui
bayinya sesering mungkin setiap 2-3 jam
secara bergantian antara payudara kanan
dan kiri. Dan bila bayi tertidur anjurkan
kepada ibu untuk membangunkan bayinya
selama siklus tidurnya agar payudara
lembek

6.

Bimbing
dan
tanyakan
ibu kembali
mengenai
teknik
Pengeluara
n ASI

6. Membimbing dan menanyakan kembali


pada ibu mengenai tekhnik pengeluaram ASI
yaitu dengan
a. Teknik menstimuli reflek oksitosin sebelum
diperas
1) Pakaian bagian atas pasien dibuka

6. Ibu masih ingat


mengenai teknik
pengeluaran ASI
yang benar,
sambil di
bimbing

2) Pasien duduk dikursi lalu tengkurap dimeja


dengan kedua tangan sebagai alas
3) Pijat leher dan punggung belakang (sejajar
payudara) menggunkan ibu jari dengan
tekhnik gerakan memutar searah jarum
jam kurang lebih selama 3 menit.

b. Cara mengeluarkan ASI dengan tangan :


1) Perah aerola (bagian gelap sekitar puting)
dengan ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
2) Selanjutnya tekan aerola dengan ritme
persis seperti ritmebayi yang menghisap
3) Arahkan aliran ASI ke gelas bersih
4) Tuliskan tanggal pemerahan pada kantong
plastik gula dengan spidol permanen.
5) Masukkan ASI kedalam kantong plastik,
ikat, dan simpan dalam freezer.
7. Beritahu
ibu
mengenai
perawatan
bayi

7.

Memberitahu ibu mengenai perawatan


7. Ibu sudah
bayinya yaitu dengan
mengetahui cara
a. minum (ASI) memberikan asi
perawatan
b. kebersihan kulit seperti memandikan
bayinya
bayi
c. istirahat bayi 16 jam perawatan tali pusat
yaitu tidak memberikan apapun selain
kassa steril.

d. jaga kehangatan

8.

Menanyakan kembali pada ibu tentang


pemenuhan kebutuhan nutrisi selama
masa nifas seperti yang telah dijelaskan
kemarin

8. Ibu mengatakan
makan 3 kali
sehari, yaitu
dengan nasi 1
porsi ditambah
lauk (telur atau
ikan laut) dan
sayur hijau
(katuk,bayam,
kangkunng )

9.

Menanyakan kembali pada ibu kebutuhan


istirahat yang cukup

9. Ibu mengatakan
kebutuhan
istrihatnya masih
kurang terpenuhi
yaitu 6 jam /hari,
dan tidur siang 1
jam /hari
dikarenakan
bayinya sering
bangun pada
malam hari dan
rewel.

10.

Menanyakan kembali pada ibu tentang


cara menjaga kebersihan dirinya.

8. Tanyakan
pada ibu
mengenai
pemenuhan
kebutuhan
nutrisi

9.

Tanyakan
kembali
pada ibu
kebutuhan
istirahat
yang cukup

10. Tanyakan
kembali
pada ibu
tentang

10. ibu mengatakan


telah menerapkan
tentang cara
menjaga

cara
menjaga
kebersihan
dirinya

18-4-2015/

DS :

DX : Ny. R

16.00 WIB

1.Ibu

usia 29 tahun

mengatakan
sudah pernah

Tidak ada

Tidak ada

1. Beritahu ibu

kebersihan
diridengan cara
segera mengganti
pembalut jika
terasa darah
penuh, meakukan
perawatan yang
benar setiap kali
ibu buang air
kecil atau saat
mandi dan bila
mengganti
pembalut,cebok
dengan air bersih
dari depan
kebelakang dan
mengeringkan alat
genetalianya
dengan handuk
bersih/tissue

1. memberitahu ibu mengenai

1. Ibu sudah mengerti

mengenai

hasil pemeriksaan yaitu dalam keadaan baik

Mengenai hasil

P2A0 10 hari

kondisinya

dan normal

pemeriksaan.

postpartum

saat ini

Hasil pemeriksaan TTV:

melahirkan dua

TD : 120/80mmhg

kali dan belum

Nadi : 80xi

pernah

Masalah :

RR : 20x/i

mengalami

Tidak Ada

Suhu: 36,5C

keguguran

Pengeluaran pervaginam berwarna kuning


Kebutuhan :

kecoklatan yaitu lochea serosa

2.Ibu

Evaluasi

TFU pertengahan pusat dan sympisis

mengatakan

keadaan

melahirkan

umum ibu

2. Evaluasi ibu

2. Mengvaluasi ibu cara perawatan payudara

2. Ibu sudah mampu

yang benar

melkukan perawatan

pada tanggal 9-

mengenai

4-2015

perawatan

payudara dengan

Pukul. 03.30

payudara

benar dan

WIB

dilakaukan 2 kali
sehari pagi dan sore

3.Ibu
mengatakan

3. Evaluasi ibu

3. Mengevaluasi Ibu mengenai teknik

3. Ibu sudah mampu

payudaranya

apakah ibu

menyusui yang benar .

melakukan teknik

sudah tidak

menerapkan

menyusui yang

terasa nyeri dan

teknik

benar.

ASI nya sudah

menyusui

keluar lancar

yang benar

4. Tanyakan
kembali

4. Menanyakan kembali pada ibu mengenai

4. Ibu sudah mampu

cara perawatan bayi

melakukan

DO :

pada ibu

perawatan bayi

Dari hasil

mengenai

yaitu :

pemeriksaan

cara

didapatkan

perawatan

bahwa

bayi

Keadaan umum
: baik
Kesadaran :
compos mentis
Keadaan
emosional :
Stabil

a.

minum (ASI)
memberikan
asi
b. kebersihan
kulit seperti
memandikan
bayi
c. istirahat bayi
16 jam
perawatan tali
pusat yaitu
tidak
memberikan
apapun selain
kassa steril.
d. jaga
kehangatan

TTV :

5. Evaluasi

5. Mengevaluasi ibu bahwa ibu cukup nutrisi

5. Ibu mengatakan

TD : 120/80

ibu

makan 3 kali sehari,

mmhg

mengenai

yaitu dengan nasi 1

Nadi : 80x/i

cukup

porsi ditambah lauk

RR : 20x/i

nutrisi

dan sayur.

Suhu : 36,5C

6. Evaluasi
ibu mngenai

6. Mengevaluasi ibu mengenai kebutuhan

6. Kebutuhan

istirahat nya

istirahat ibu sudah

Pada

kebutuhan

terpenuhi yaitu

pemeriksaan

istirahat

malam : 8 jam/hari

payudara sudah

Dan siang 1 jam

tidak ada nyeri

/hari

tekan dan

7. Beritahu ibu

pengeluaran

untuk

ASI lancar

melakukan
ku njungan

Pengeluaran

ulang jika

ASI

dikemudian

7. Memberitahu ibu untuk kunjungan ulang


bila merasakan keluahan

7. Ibu mengerti
tentang kunjungan

hari ada
Pengeluaran
Lochea Serosa
TFU
pertengahan
pusat dan
sympisis

keluhan

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas terhadap Ny. R Usia 29
tahun P2A0 AH2 3 Hari Postpartum dengan Bendungan Asi di BPM Mafalda S.ST
Bandar Lampung di temukan Hasil sebagai berikut :
A. Pengkajian
1. Umur
a. Tinjauan Teori
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti
kurang dari 20 tahun, alat- alat reproduksi belum matang,mental
psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan
sekali

untuk

terjadi

perdarahan

dalam

masa

nifas

(Ambarwati,2010: h.131)
b. Tinjauan Kasus
Pada kasus ini usia Ny.R 29 tahun
c. Pembahasan
Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara teori
dengan tinjauan kasus karena Ny. R berumur 29 tahun, dan
menurut teori pada umur 29 tahun alat-alat reproduksi sudah
matang sehingga masa nifas ibu saat ini berjalan normal.
2. Suku
a. Tinjauan Teori

Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari


(Ambarwati,2010:h.132).
b. Tinjauan Kasus
Ibu bersuku jawa
c. Pembahasan
Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjangan antara teori
dengan hasil tinjauan kasus karena kebiasaan atau adat istiadat itu
sudah dilakukan turun temurun, dan itu merupakan kebiasaan adat
atau budaya.
3. Pendidikan
a. Tinjauan Teori
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat
memberikan

intelektualnya, sehingga bidan dapat

konseling

sesuai

dengan

pendidikannya

(Ambarwati,2010;h.132).
b. Tinjauan Kasus
Dalam kasus ini pendidikan terakhir Ny. R adalah SMA
c. Pembahasan
Dari pembahasan di atas tidak terdapat kesenjagan antara teori
dengan tinjauan kasus karena Ny.R memiliki pendidikan SMA
dimana ibu

bisa untuk memahami informasi yang diberikan

sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik.


4. Pekerjaan
a. Tinjauan Teori

Gunanya untuk mengetahui dan mengukur

tingkat

social

ekonominya,karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien


tersebut (Ambarwati, 2010;h. 132).
b. Tinjauan Kasus
Pekerjaan Ny. R adalah sebagai ibu rumah tangga (IRT) dan
suaminya sebagai Buruh
c. Pembahasan
Berdasarkan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena Meskipun Ny. R hanya bekerja sebagai IRT namun
pemenuhan nutrisi dan kebutuhan sehari-hari Ny. R dapat
terpenuhi di karenakan di dukung oleh penghasilan suami Ny.R.
5. Alamat
a. Tinjauan Teori
Di tanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila di
perlukan (Ambarwati,2010;h. 132).
b. Tinjauan Kasus
Alamat Ny. R Jln. Ratu Dibalau, Gg. Andalas WaiHuwi
Waykandis Bandar Lampung.
c. Pembahasan
Tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan tinjauan kasus
karena Ny.R memiliki alamat rumah yang lengkap untuk
mempermudah, dalam melakukan kunjungan rumah.

6. Keluhan Utama
a. Tinjauan Teori
Gejala bendungan ASI adalah terjadinya pembengkakan payudara
bilateral dan secara palpasi teraba keras, kadang terasa nyeri serta
seringkali disertai peningkatan suhu badan ibu, tetapi tidak terdapat
tanda kemerahan dan demam (Prawiroharjo, 2009; h.652).
b. Tinjauan Kasus
Berdasarkan hasil tinjauan kasus mengeluh payudaranya terasa
penuh, panas, berat, keras, nyeri serta terdapat peningkatan suhu
yaitu 378 C dan pengeluaran ASI sedikit.
c. Pembahasan
Berdasarkan teori dan tinjauan kasus tidak kesenjangan karena
sesuai dengan teori gejala dari bendungan ASI adalah payudara
bengkak, teraba keras, panas, berat dan nyeri saat di tekan dan
kenaikan suhu yaitu 380 C ini disebab kan karena bendungan ASI
yang dialami ibu saat ini
7. Riwayat Kesehatan
a. Tinjauan Teori
1) Kesehatan sekarang
Data-data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang di derita pada saat ini yang ada
hubungannya dengan masa nifas dan bayinya.

2) Kesehatan yang lalu


Data yang di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: Jantung, DM,
Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini
3) Kesehatan yang keluarga
Data ini di perlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien
dan

bayinya,

yaitu

bila

ada

penyakit

keluarga

yang

menyertainya (Ambarwati,2010; h.133).


b. Tinjauan Kasus
Ny. R tidak mempunyai penyakit yang sedang diderita saat ini
c. Pembahasan
Berdasarkan pembahasan diatas tidak ditemukan kesenjangan
antara tinjauan kasus dan teori karena pada saat ini Ny.R tidak
mempunyai penyakit yang sedang diderita yang berhubungan
dengan nifas.
8. Pola Kebutuhan Sehari-hari
a. Nutrisi
1) Tinjauan Teori
Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi,
banyaknya, jenis makanan, dan makanan
(Ambarwati,2010;h. 136).

pantangan

2) Tinjauan Kasus
Ibu mengatakan mengkonsumsi makanan, pada pagi hari
ibu makan 1 porsi nasi,1 mangkuk sayur bayam, 1 potong
tahu Pada siang hari ibu makan 1 porsi nasi, 1 mangkuk
sayur daun katuk, Pada sore hari ibu makan 1 porsi nasi, 1
mangkuk sayur kangkung,1 potong tahu dan tempe
3) Pembahasan
Dari pembahasan diatas terdapat kesenjangan antara teori
dengan hasil tinjauan kasus yang didapat karena Ny. R tidak
mengkonsumsi makanan yang mengandung Gizi yang cukup
bagi tubuh nya, ini disebab kan karena kepercayaan keluarga
Ny.

mengkonsumsi

Telur,

Daging,

ikan,

bisa

menyebabkan gatal pada daerah luka jahitan


b. Eliminasi
1) Tinjauan Teori
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang
air besar meliputi frekuensi, jumlah konsistensi dan bau serta
kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warrna, jumlah
(Ambarwati ,2010; h. 136).
a. Miksi
Miksi disebut normal bila ibu dapat BAK spontan tiap 3-4
jam. Bila ibu tidak dapat BAK sendiri maka dilakukan
tindakan.

b. Defekasi
Biasanya 2-3 hari postpartum masih sulit buang air
besar. Jika klien pada hari ketiga belum juga buang
air besar maka diberikan laksan supositoria dan
minum air hangat. Agar dapat buang air besar secara
teratur

dapat

dilakukan

dengan

diit

teratur,

pemberian cairan yang banyak, makanan cukup serat,


olahraga (Ambarwati,2010;h.105-106).
ii.

Tinjauan Kasus
Dari hasil pengkajian study kasus, didapatkan bahwa Ibu sudah
BAK 4-5 x/hari dimulai saat 1 jam setelah melahirkan, warna
kuning jernih dan Ibu

sudah BAB pada 2 hari setelah

melahirkan
iii.

Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.R 3 hari postpartum sudah BAK 45x/hari dan sudah BAB merupakan masih hal yang normal.

c.

Personal Hygine
1) Tinjauan Teori
Pada masa post partum, seorang ibu sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting untuk
mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh, pakaian,

tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk tetap dijaga


( Saleha, 2009;h. 73).
2) Tinjauan Kasus
Dari hasil pengkajian Ny. R sudah mengganti softeknya 3 kali
dalam sehari,mandi 2 kali/hari, sikat gigi 2 kali/hari , keramas
2 hari sekali , mengganti pakaian 2 kali/hari
3) Pembahasan
Berdasarkan

teori dan tinjauan kasus

tidak

terdapat

kesenjangan karena Ny.R selalu menjaga kebersihan diri nya


dengan baik, yang dimulai dari kebersihan tubuhnya.
d. Istirahat
1. Tinjauan Teori
Ibu disarankan untuk beristirahat yang cukup untuk mencegah
kelelahan yang berlebihan dan menyarankan ibu untuk kembali
ke kegiatan kegiatan yang tidak berat (Vivian,2013; h.71-76).
Pasien perlu diingatkan untuk selalu tidur. Kebutuhan istirahat
bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi
melalui istirahat malam dan siang (Sulistyawati,2009;h. 103).
2. Tinjauan Kasus
Ny. R istirahat 3-4 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang
hari.
3. Pembahsan

Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori terdapat


kesenjangan karena hanya tidur malam selama 3 sampai 4 jam
dikarenakan bayinya sering terbangun, sedangkan menurut teori
istirahat tidur yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam perhari
A. Data Objektif
1. Tanda-Tanda Vital
a. Tekanan Darah
1) Tinjauan Teori
Biasanya tidak terjadi perubahan, kemungkinan tekanan darah
akan rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan.
tekanan darah tinggi pada post partum dapat menandakan
terjadinya preeklamsi post partum yang akan menghilang
dengan sendirinya apabila tidak ada penyakitpenyakit lain
yang menyertainya (Ambarwati.2010;h.85).
2) Tinjauan Kasus
a) Tekanan darh ibu sebelum partus

: 120/80 mmHg

b) Tekanan darah ibu setelah partus

: 110/70 mmHg

3) Pembahassan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjagan karena pada tekanan darah ibu dalam keadaan baik.
b. Nadi
1) Tinjauan Teori

Berkisar antara 60- 80x/menit denyut nadi di atas 100x/menit


pada masa nifas adalah mengindikasikan adanya suatu infeksi,
hal ini salah satunya bisa di akibatkan oleh proses persalinan
sulit

atau

karena

kehilangan

darah

yang

berlebih

(Ambarwati,2010; h.138).
2) Tinjauan Kasus
Dari hassil pengkajian Nadi Ny. R adalah 80x/i
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.R nadi dalam keadaan normal.
c. Suhu
1) Tinjauan Teori
Peningkatan suhu badan mencapai pada 24 jam pertama pada
masa nifas pada umumnya di sebabkan oleh dehidrasi,yang di
sebabkan oleh keluarnya cairan pada waktu melahirkan,selain itu
bisa juga di sebabkan karena istirahat dan tidur yang di
perpanjang selama awal persalinan. Tetapi pada umumnya setelah
12

jam

postpartum

suhu

tubuh

akan

kembali

normal

(Ambarwati,2010; h.138).
Tanda gejala Bendungan Asi adalah peningkatan suhu sampai
dengan 38C (Rukiyah,2012;h. 22).
e.

Tinjauan Kasus
Dari hasil pengkajian suhu Ny.R 3 hari post partum adalah 38 0C.

f. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena pada suhu badan Ny. R 380c dan itu sesuai
dengan teori karena merupakan tanda gejala dari Bendungan Asi
4) Pernafasan
a. Tinjauan Teori
Keadaan pernafasan akan selalu berhubungan dengan keadaan
suhu dan denyut nadi. Apabila suhu dan denyut nadi tidak normal
pernafasan juga akan mengikutinya kecualai ada gangguan khusus
pada gangguan pernafasan. Pernafasan harus berada dalam
rentang

yang

normal,

yaitu

sekitar

20-30

x/menit

(Ambarwati,2010;.h.139).
b. Tinjauan Kasus
Dari hasil pengkajian pada Ny.R jumlah pernafasan yaitu
22x/menit.
c. Pembahasan
Dari kasus diatas, tidak terjadi kesenjangan antara teori dengan
hasil tinjauan kasus yang didapat pada Ny. R karena frekuensi
pernafasan Ny. R masih dalam batas normal yaitu 22 x/m sesuai
dengan teori bahwa pernapasan normal sekitar 20-30x/menit.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Payudara
1) Tinjauan Teori

Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke-2 atau ke-3
ketika payudara telah memproduksi air susu. Bendungan
disebabkan oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar, karena
bayi tidak cukup sering menyusui, produksi meningkat,
terlambat menyusukan, hubungan dengan bayi yang kurang
baik, dan dapat pula terjadi akibat pembatasan waktu menyusui
(Prawirihardjo, 2009; hal.652).
2) Tinjauan Kasus
Pada kasus yang dialami pada Ny.R adalah hal yang fisiologis
karena pada hari 2-3 produksi air susu meningkat sehingga
menyebabkan bendungan ASI.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori tidak terdapat
kesenjangan karena kasus Bendungan ASI yang dialami pada
Ny.R adalah hal yang fisiologis dan dapat diatasi.
b. TFU
1) Tinjauan Teori
Segera setelah persalinan. Tinggi fundus uteri 2cm dibawah
pusat, 12 jam kemudian kembali 1cm diatas pusat dsn menurun
kira-kira 1cm setiap hari. Pada hari kedua setelah persalinan
tinggi fundua uteri 1 cm dibawah pusat.Pada hari ketiga sampai
hari keempat tinggi fundus uteri 2 cm dibawah pusat.Pada hari
kelima sampai hari ketujuh tinggi fundus uteri pertengahan

antara pusat dan simpisis. Pada hari kesepuluh tinggi fundus


uteri tidak teraba (Ambarwati dkk, 2010; h.77).
2) Tinjauan Kasus
Pada hari ke-3 TFU Ny.Radalah 3 jari dibawah pusat dan
kontraksi uterus baik, pada hari ke-6 TFU Ny.R adalah
pertengahan pusat dan sympisis ,dan pada hari ke-9 TFU Ny.R
adalah pertengahan pusat dan sympisis
3) Pembahasan
Berdasarkan Tinjauan Teori dan Tinjauan Kasus tidak terdapat
kesenjangan karena pada hari ke-3 TFU Ny.R adalah 3 jari
dibawah pusat dan kontraksi uterus baik, Hal ini disebabkan
karena proses involusi uterus berjalan dengan baik.
c. Lokia
1) Tinjauan Teori
Lokia adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan
vagina selama masa nifas. Lokia terbagi atas beberapa jenis
yaitu :
a) Lokia Rubra (cruenta) berwarna merah karrena berisi
darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
verniks caseosa, lanugo, dan mekonium selama 2 hari
pasca persalinan. Inilah lokia yang akan keluar selama dua
sampai tiga hari postpartum.

b) Lokia Sanguilenta berwarna merah kuning berisi darah


dan lendir yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pasca
persalinan.
c) Lokia Serosa adalah lokia berikutnya, dimulai dengan
versi yang pucat dari lokia rubra. Lokia ini berbentuk
serum dan berwarna merah jambu kemudian menjadi
kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai
hari ke-14 pasca persalinan.
d) Lokia Alba adalah lokia yang terakhir. Dimulai dari hari
ke-14 kemudian makin lama makin sedikit sehingga sama
sekali berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya.
Bentuknya seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri
atas leukosit dan sel-sel desidua (Saleha,2009;h. 56).
2) Tinjauan Kasus
Pada hari ke-3 Ny.R mengeluarkan cairan dari kemaluannya
berwarna merah yaitu lokia rubra, pada hari ke-6 Ny.R
mengeluarkan cairan dari kemaluannya berwarna merah
kecoklatan yaitu lokia sanguilenta, dan pada hari ke-9 Ny.R
mengeluarkan cairan berwarna coklat kekuningan yaitu lokia
serosa.
3) Pembahasan.
Pada kasus ini tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena Pada hari ke-3 Ny.R mengeluarkan cairan

dari kemaluannya berwarna merah yaitu lokia rubra karena


berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
verniks caseosa, lanugo, dan mekonium, pada hari ke-6 Ny.R
mengeluarkan cairan dari kemaluannya berwarna merah
kecoklatan yaitu lokia sanguilenta, dan pada hari ke-9 Ny.R
mengeluarkan cairan berwarna coklat kekuningan yaitu lokia
serosa karena Lokia ini berbentuk serum dan berwarna merah
jambu kemudian menjadi kuning
B. Intrepetasi Data
1. Diagnosa Kebidanan
a) Tinjauan Teori
Langkah awal dari perumusan diagnose atau masalah adalah
pengolahan data dan analisis dengan menghubungkan data satu
dengan data yang lainnya (Sulistyawati, 2009;h.177).
b) Tinjauan Kasus
Pada diagnosa Ny. R didapatkan diagnosa Asuhan Kebidanan pada
ibu nifas terhadap Ny. R usia 29 tahun P2 A0AH2 3 hari postpartum
dengan bendungan ASI
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena pengolahan data dan analisis dengan
menghubungkan data satu dengan data yang lainnya telah
dilakukan kemudian masalah ibu akan ditangani serta kebutuhan
ibu akan terpenuhi.

2. Masalah
a) Tinjauan Teori
Bendungan ASI dapat terjadi pada hari ke-2 dan hari ke-3 ketika
payudara telah memproduksi air susu. Bendungan disebabkan
oleh pengeluaran air susu yang tidak lancar, karena bayi tidak
cukup sering menyusu, produksi ASI meningkat, terlambat
menyusukan, hubungan dengan bay (bonding) kurang baik, dan
dapat

pula karena adanya pembatasan waktu menyusu

(Prawirohardjo, 2009;h. 652).


b) Tinjauan Kasus
Berdasarkan kasus Ny. R mengalami bendungan asi pada hari
ke - 3
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny.R mengalami Bendungan Asi pada hari
ke-3 sesuai dengan tinjauan teori.
3.

Kebutuhan
a) Tinjauan Teori
Dalam

langkah

ini

data

yang

telah

dikumpulkan

diintrepetasikan menjadi diagnosa kebidanan dan masalah


(Ambarwati,2010;h.141).
Perawatan Payudara

10) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian


puting susu.
11) Menggunakan BH yang menyokong payudara.
12) Apabila puting susu lecet, oleskan colostrum atau ASI yang
keluar disekitar puting setiap kali setiap selesai menyusui.
Menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak
lecet.
13) Apabila lecet sangat berat dapat di istirahatkan selama 24
jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.
14) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat di berikan paracetamol
1 tablet setiap 4-6 jam.
15) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah
dan hangat selama 5 menit.
16) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara
sehingga puting susu menjadi lunak.
17) Susukan bayi 2-3 jam. Apabila bayi tidak dapat menghisap
seluruh ASI, sisanya keluarkan dengan tangan.
18) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui
(Sulistyawati, 2009;h. 24-25).
Teknik menyusui yang benar
1) Duduk dengan posisi santai dan tegak
2) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya

3) Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakkan


pada lengkung siku ibu dan bokong bayi diletakkan pada
lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah atau bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan ibu
4) Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang
satu didepan
5) Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap
payudara
6) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
7) Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
8) Tangan kanan menyangga payudara kiri dan keempat jari dan
ibu jari menekan payudara bagian atas areola
9) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting
reflek) dengan cara menyentuh pipi dengan putting susu atau
menyentuh sisi mulut bayi
10) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi
didekatkan ke payudara ibu dengan putting serta areola
dimasukkan ke mulut bayi
11) Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,
sebaiknya diganti menyusui pada payudara yang lain.Cara
melepas isapan bayi :

(a) Jari kelingking ibu dimasukkan kemulut bayi melalui


sudut mulut
(b)Dagu bayi ditekan kebawah
12) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikitkemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan
kering dengan sendirinya (Ambarwati, 2010;h.38-40).
Mengajarkan kepada ibu tentang cara menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara
dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah
menyusui.
Cara menyendawakan bayi :
(a) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu
kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan
(b) Dengan cara menelungkupkan bayi di atas pangkuan ibu,
lalu usap-usap punggung bayi sampai bayi bersendawa
(Ambarwati, 2010; h. 38-40).
b) Tinjauan Kasus
Berdasarkan kasus kebutuhan Ny.R adalah perawatan
payudara dan teknik menyusui.
c) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus karena penulis mengajarkan perawatan payudara dan
tekhnik menyusui sesuai kebutuhan Ny.R.

C. Diagnosis dan Masalah Potensial


1. Tinjauan Teori
Pada langkah ke tiga ini mengidentifikasi masalah potensial
berdasarkan diagnose atau masalah yang sudah di identifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan di lakukan
pencegahan (Soepardan,2008: h.99).
2. Tinjauan Kasus
Pada kasus yang dialami oleh Ny.R yaitu Bendungan Asi yang di
sebabkan oleh produksi ASI yang meningkat jika tidak segera
tertangani akan menyebabkan abses payudara.
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan kasus tidak ada kesenjangan karena
mengidentifikasi masalah potensial berdasarkan diagnosa atau
masalah yang sudah di identifikasi. Pada kasus ini Ny.R mengalami
Bendungan Asi yang jika tidak ditangani berpotensi untuk
menjadiAbses (Rukiyah dan Sunarti, 2010; h. 347).
D. Tindakan Segera dan Kolaborasi
1. Tinjauan Teori
Pada pelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada situasi yang
darurat, yang menuntut bidan melakukan tindakan penyelamatan
terhadap pasien. Kadang pula dihadapkan pada situasi pasien yang
memerlukan tindakan segera padahal sedang menunggu inrtruksi
dokter. Bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat melakukan

evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman
(Sulistyawati,2009;h.132).
2. Tinjauan Kasus
Berdasarkan kasus Ny. R dilakukan perawatan payudara dan tekhnik
menyusui
a) Perawatan Payudara
1) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian puting
susu.
2) Menggunakan BH yang menyokong payudara
3) Apabila puting susu lecet, oleskan colostrum atau ASI yang keluar
disekitar puting setiap kali setiap selesai menyusui. Menyusui tetap
dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak lecet.
4) Apabila lecet sangat berat dapat di istirahatkan selama 24 jam., ASI
dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.
5) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat di berikan paracetamol 1
tablet setiap 4-6 jam.
6) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan
hangat selama 5 menit.
7) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga
puting susu menjadi lunak.
8) Susukan bayi 2-3 jam. Apabila bayi tidak dapat menghisap seluruh
ASI, sisanya keluarkan dengan tangan.

9) Letakkan

kain

dingin

pada

payudara

setelah

menyusui

(Sulistyawati, 2009;h. 24-25).


b) Cara tekhnik menyusui yang benar
1) Duduk dengan posisi santai dan tegak
2) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan
pada putting susu dan areola sekitarnya
3) Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakkan pada
lengkung siku ibu dan bokong bayi diletakkan pada lengan. Kepala
bayi tidak boleh tertengadah atau bokong bayi ditahan dengan
telapak tangan ibu
4) Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang satu
didepan
5) Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap payudara
6) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
7) Ibu menatap bayi dengan kasih sayang
8) Tangan kanan menyangga payudara kiri dan keempat jari dan ibu
jari menekan payudara bagian atas areola
9) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflek)
dengan cara menyentuh pipi dengan putting susu atau menyentuh
sisi mulut bayi
10) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan
ke payudara ibu dengan putting serta areola dimasukkan ke mulut
bayi

11) Melepas isapan bayi


Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,
sebaiknya diganti menyusui pada payudara yang lain.Cara melepas
isapan bayi :
(a) Jari kelingking ibu dimasukkan kemulut bayi melalui sudut
mulut
(b) Dagu bayi ditekan kebawah
12) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikitkemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering
dengan sendirinya.(Ambarwati, 2010;h.38-40)
Mengajarkan kepada ibu tentang cara menyendawakan bayi Tujuan
menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung
supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah menyusui.
Cara menyendawakan bayi :
a) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu
kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan
b) Dengan cara menelungkupkan bayi di atas pangkuan ibu,
lalu usap-usap punggung bayi sampai bayi bersendawa.
(Ambarwati, 2010; h. 38-40)
3. Pembahasan
Dalam hal ini tidak terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus
yang ada karena berdasarkan hasil pengkajian pada Ny. R ditemukan
masalah yang membutuhkan tindakan segera, dan sudah teratasi.

E. Perencanaan
2. Tinjauan Teori
Langkah-langkah ini di tentukan oleh sebelumnya yang merupakan
lanjutan dari masalah atau diagnose yang telah di identifikasi atau
antisipasi (Ambarwati, 2010; h.143).
3. Tinjauan Kasus
b. Beritahu kondisi ibu saat ini
c. Beritahu ibu tentang keluhan yang dirasakan saat ini
d. Nilai dan beritahu ibu tanda-tanda bahaya masa nifas
e. Lakukan dan ajarkan ibu perawatan payudara
f. Lakukan dan ajarkan cara pengeluaran ASI
g. Ajarkan pada ibu teknik menyusui yang benar
h. Beritahu ibu tentang kebutuhan nutrisi
i.

Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri terutama alat


genetalianya

j.

Beritahu ibu kebutuhan istirahat yang cukup

3. Pembahasan
Berdasarkan kasus diatas tidak terdapat kesenjangan antara teori
dengan kasus karena rencana yang dibuat sesuai dengan diangnosa
yang ditegakkan.
F. Pelaksanaan
1. Tinjauan Teori

Langkah ini merupakan pelaksanaan rencana asuhan penyuluhan pada


klien dan keluarga. Mengarahkan atau melaksanakan rencana asuhan
secara efesien dan aman (Ambarwati,2010;h.145).
2. Tinjauan Kasus
a) Memberitahu kondisi ibu
saat ini berdasarkan hasil pemeriksaan TTV di dapatkan bahwa:
TD : 110/70mmhg
Nadi : 80x/i
RR : 22/i
Suhu : 38
Pengeluaran Lochea Merah yaitu lochea rubra
TFU 3 jari dibawah pusat
Terdapat nyeri tekan pada payudara pengeluaran ASI sedikit
Dan ibu mengalami bendungan asi
b) Memberitahu ibu tentang keluhan yang dirasakan ibu yaitu payudara
terasa, penuh, keras ,nyeri, panas, dan ASI keluar sedikit karena ibu
mengalami bendungan ASI yang disebabkan karena pengosongan
payudara yang tidak sempurna, faktor hisapan bayi yang tidak aktif,
faktor menyusui yang tidak benar
c) Menilai dan memberitahu ibu tanda-tanda bahaya masa nifas seperti:
i.

Perdarahan pervaginam

ii.

Infeksi pada masa nifas yag ditandai dengan kenaikan suhu


mencapai 38C

iii.

Sakit kepala, Nyeri epigastrik (pada bagian perut), dan


penglihatan mata kabur.

iv.

Pembekakan di wajah atau ektremitas

v.

Demam, muntah, dan rasa sakit waktu berkemih

vi.

Kehilangan nafsu makan untuk jangka waktu yang panjang

vii.

Rasa sakit, merah dan pembengkakan pada kaki

d) Melakukan dan mengajarkan ibu perawatan payudara dengan


melakukan perawatan payudara dan mengajari ibu cara melakukan
perawatan payudara
Alat yang disiapkan yaitu :
h. Kapas dalam kom kecil
i. Dua waskom berisi air hangat dan dingin
j. Baby oil
k. Baju ganti satu set
l. Washlap dua buah
m. Handuk besar dua buah
n. Bengkok satu buah
Langkahnya yaitu :
(1) Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian
puting susu.
(2) Menggunakan BH yang menyokong payudara.
(3) Apabila puting susu lecet, oleskan colostrum atau ASI yang
keluar disekitar puting setiap kali setiap selesai menyusui.

Menyusui tetap dilakukan dimulai dari puting susu yang tidak


lecet.
(4) Apabila lecet sangat berat dapat di istirahatkan selama 24 jam.,
ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.
(5) Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat di berikan paracetamol 1
tablet setiap 4-6 jam.
(6) Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan
hangat selama 5 menit.
(7) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga
puting susu menjadi lunak.
(8) Susukan bayi 2-3 jam. Apabila bayi tidak dapat menghisap
seluruh ASI, sisanya keluarkan dengan tangan.
(9) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
e) Melakukan pengeluaranASI dan mengajarkan kepada ibu cara
pengeluaran ASI yaitu dengan cara:
(1)Teknik menstimuli reflek oksitosin sebelum diperas
4) Pakaian bagian atas pasien dibuka
5) Pasien duduk dikursi lalu tengkurap dimeja dengan kedua
tangan sebagai alas
6) Pijat leher dan punggung belakang (sejajar payudara)
menggunkan ibu jari dengan tekhnik gerakan memutar searah
jarum jam kurang lebih selama 3 menit.
(2) Pengeluaran ASI dengan tangan

(a) Perah aerola (bagian gelap sekitar puting) dengan ibu jari,
telunjuk, dan jari tengah
(b) Selanjutnya tekan aerola dengan ritme persis seperti ritmebayi
yang menghisap
(c) Arahkan aliran ASI ke gelas bersih
(d) Tuliskan tanggal pemerahan pada kantong plastik gula dengan
spidol permanen.
(e) Masukkan ASI kedalam kantong plastik, ikat, dan simpan
dalam freezer.
f) Mengajarkan kepada ibu teknik menyusui yang benar yaitu dengan
cara:
(1) Duduk dengan posisi santai dan tegak
(2) Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya
(3) Bayi dipegang dengan satu lengan, kepala bayi diletakkan
pada lengkung siku ibu dan bokong bayi diletakkan pada
lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah atau bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan ibu
(4) Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu dan yang
satu didepan
(5) Perut bayi menempel badan ibu, kepala bayi menghadap
payudara
(6) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus

(7) Ibu menatap bayi dengan kasih sayang


(8) Tangan kanan menyangga payudara kiri dan keempat jari dan
ibu jari menekan payudara bagian atas areola
(9) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting
reflek) dengan cara menyentuh pipi dengan putting susu atau
menyentuh sisi mulut bayi
(10) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi
didekatkan ke payudara ibu dengan putting serta areola
dimasukkan ke mulut bayi
(11) Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,
sebaiknya diganti menyusui pada payudara yang lain.Cara
melepas isapan bayi :
(a) Jari kelingking ibu dimasukkan kemulut bayi melalui
sudut mulut
(b) Dagu bayi ditekan kebawah
(12) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikitkemudian
dioleskan pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan
kering dengan sendirinya.(Ambarwati, 2010;h.38-40)
(13) Mengajarkan kepada ibu tentang cara menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara
dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh) setelah
menyusui.

Cara menyendawakan bayi :


(a) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu
kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan
(b) Dengan cara menelungkupkan bayi di atas pangkuan ibu,
lalu usap-usap punggung bayi sampai bayi bersendawa.
(14) Menganjurkan kepada ibu untuk menyusui bayinya sesering
mungkin setiap 2-3 jam secara bergantian antara payudara
kanan dan kiri. Dan bila bayi tertidur anjurkan kepada ibu
untuk membangunkan bayinya selama siklus tidurnya agar
payudara lembek
g) Memberitahu ibu tentang kebutuhan nutrisi yaitu makan dengan
diet berimbang

yaitu protein, sumber protein (telur,ikan,tahu),

karbohidrat (nasi, jagung, roti), mineral dan vitamin, dan


mengkonsumsi sayuran hijau yaitu sayuran daun turi (daun katuk)
dan kacang-kacangan untuk memperbanyak produksi ASI.
h) Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri terutama alat
genetalianya yaitu dengan cara Segera mengganti pembalut jika
terasa darah penuh, Lakukan perawatan yang benar setiap kali ibu
buang air kecil atau saat mandi dan bila mengganti pembalut,cebok
dengan air bersih dari depan kebelakang dan keringkan dengan
handuk bersih/tissue
i) Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat minimal 8 jam/hari agar
produksi ASI lancar.

3. Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena semua
perencanaan telah dilakukan dengan baik dan dan sesuai dengan teori.
G. Evaluasi
1. Tinjauan Teori
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah
dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan
( Ambarwati, 2010; h.147).
2. Tinjauan Kasus
a) Ibu mengerti mengenai keadaannya saat ini
b) Ibu mengerti tentang keluhan yag dialami
c) Tidak ada tanda-tanda bahaya pada masa nifas dan iu mengerti tentang
tanda-tanda bahaya nifas
d) Ibu telah dilakukan perawatan payudara dan ibu mengerti cara
perawatan payudara
e) Ibu telah dilakukan pengeluaran ASI dan ibu mengerti cara
pengeluaran ASI
f) Ibu mengerti tentang kebutuhan nutrisinya
g) Ibu mengerti akan kebutuhan istirahatnya
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan kasus dan tinjauan teori tidak terdapat kesenjangan setelah
dilakukan perawatan dan kunjungan rumah hari ke-8, asuhan yang di berikan pada
Ny.R proses involusi berjalan dengan normal ibu tidak mengalami tanda tanda

infeksi payudara ibu sudah tidak nyeri dan ASI sudah lancar serta ibu sudah serin
menyusui bayinya.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan kebidanan terhadap

Ny.R umur 29 tahun

P2A0Ah2 di BPS MAFALDA S.ST Bandar Lampung tahun 2015. Maka


penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.

Penulis telah melakukan pengkajian Asuhan Kebidanan pada Ny. R


karena ibu mengatakan payudaranya bengkak karena ibu tidak tahu
teknik menyusui yang benar dan ibu juga tidak mengetahui cara
perawatan payudara.

2.

Penulis telah melakukan interpertasi data dengan diagnosa Asuhan


Kebidanan pada ibu nifas terhadap Ny. R umur 29 tahun P2A0Ah2
dengan masalah Bendungan ASI sehingga penulis memberikan
kebutuhan perawatan payudara dan teknik menyusui yang baik dan
benar.

3.

Pada kasus yang di alami Ny. R terdapat diagnosa potensial yaitu


payudara bengkak. Pada Ny. R dan Bayinya dilakukan tindakan
segera yaitu konseling tentang cara menyusui yang benar dan
perawatan payudara karena masalah yang dialami Ny. R jika tidak di
tangani akan menyebabkan infeksi.

4.

Berdasarkan identifikasi diagnosa pada Ny. R penulis telah melakukan


1) perencanaan dan perawatan payudara serta teknik menyusui yang
baik dan benar.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau perdarahan
Abnormal
3) Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
4) Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi
5) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan
tanda-tanda penyulit.
6) Beritahu kunjungan ulang (Ambarwati,2010; h. 5)

5. Berdasarkan kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan pada


ibu nifas sesuai dengan perencanaan.
6. Berdasarkan kasus yang di alami Ny. R penulis telah melakukan evaluasi
asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan Bendungan ASI dan Bendungan
ASI yang di alami Ny. R sudah teratasi.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas,

maka

penulis

dapat

mengambil

kesimpulan sebagai berikut :


1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan Hasil study kasus ini dapat menjadi sumber bacaan dan
daftar pustaka bagi mahasiswi Akademi Kebidanan Adila Bandar
Lampung dalam menerapkan ilmu dan sebagai acuan penelitian
berikutnya.

2. Bagi Lahan Praktek


Diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna bagi tenaga kesehatan
dalam penanganan masa nifas khususnya Bendungan ASI agar infeksi
masa nifas tidak terjadi.
3. Bagi Masyarakat
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang masa nifas
khususnya mengenai pengetahuan dan penanganan Bendungan ASI.
4. Bagi Klien
Diharapkan dapat membantu ibu dalam merawat payudara dan
penangan Bendungan ASI, dan dapat membantu ibuibu yang sedang
menyusui dalam penatalaksanaan Bendungan ASI.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Retna Eny dan Wulandari Diah. 2008. Asuhan Kebidanan Nifas.
Yogyakarta: MitraCendika
Dewi, Vivian Nany Lia dan Tri Sunarsih. 2011. Asuhan Kebidanan pada ibu
Nifas.Jakarta: Salemba Medika
Maryunanik, Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas. Jakarta: TIM
Notoatmojo, soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta
Prawirohardjo, Sarwono.2010. Ilmu kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka
Rukiyah, Aiyeyeh et all. 2010.Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta :Trans info
Saleha, Siti.2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika
Soepardan, Suryani. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC
Suherni, dkk. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya
Sulistyawati,Ari.2009.Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas .Jogjakarta :
Andi
Tambunan S, Eviana dan Deswani Kasim. 2012. Panduan Pemeriksaan Fisik
Bagi Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Beri Nilai