Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semen, atau cairan mani, adalah cairan alami yang dihasilkan oleh sistem reproduksi
laki-laki. Ini termasuk sekresi dari organ seperti testis, kelenjar prostat, dan vesikula
seminalis. Cairan mani, yang sangat terkonsentrasi dengan protein dan gula, dapat
ditemukan dalam keadaan seperti jelly atau cair. Fungsi utama dari cairan ini adalah
untuk mengangkut sperma dengan sistem reproduksi wanita. Hal ini juga mengandung
nutrisi yang berkontribusi terhadap sperma yang sehat. Adalah umum bagi individu
untuk percaya bahwa sperma dan air mani adalah sama. Sebenarnya, air mani adalah
cairan yang melewati uretra dan transportasi sperma, yaitu sel-sel reproduksi laki-laki.
Tujuan utama cairan mani adalah untuk membantu sel-sel reproduksi laki-laki, atau
sperma, untuk berhasil menavigasi jalan melalui sistem reproduksi wanita untuk
membuahi sel telur wanita. Cairan umumnya digambarkan sebagai putih. Hal ini juga
mungkin memiliki semburat abu-abu atau kuning dan masih dianggap normal. Jika
muncul merah muda atau merah, yang biasanya merupakan indikasi bahwa cairan
tercemar dengan darah. Selain sperma, yang berkembang di testis, ada organ lain yang
berkontribusi terhadap sekresi komposisi semen.
1.2 Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud cairan sperma atau semen?
Bagaimana karateristik semen?
Apa saja kandungan dari sperma?
Apa saja jenis pemeriksaan sperma?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pengertian cairan sperma atau semen.
Untuk mengetahui karakteristik semen.
Untuk mengetahui kandungan dari semen.
Untuk mengetahui jenis pemeriksaan semen.

1 | cairan Sperma / Semen

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Cairan Sperma


Semen, atau cairan mani, adalah cairan alami yang dihasilkan oleh sistem reproduksi
laki-laki. Ini termasuk sekresi dari organ seperti testis, kelenjar prostat, dan vesikula
seminalis. Cairan mani, yang sangat terkonsentrasi dengan protein dan gula, dapat
ditemukan dalam keadaan seperti jelly atau cair. Fungsi utama dari cairan ini adalah
untuk mengangkut sperma dengan sistem reproduksi wanita. Hal ini juga mengandung
nutrisi yang berkontribusi terhadap sperma yang sehat. Adalah umum bagi individu
untuk percaya bahwa sperma dan air mani adalah sama. Sebenarnya, air mani adalah
cairan yang melewati uretra dan transportasi sperma, yaitu sel-sel reproduksi laki-laki.
Tujuan utama cairan mani adalah untuk membantu sel-sel reproduksi laki-laki, atau
sperma, untuk berhasil menavigasi jalan melalui sistem reproduksi wanita untuk
membuahi sel telur wanita. Cairan umumnya digambarkan sebagai putih. Hal ini juga
mungkin memiliki semburat abu-abu atau kuning dan masih dianggap normal. Jika
muncul merah muda atau merah, yang biasanya merupakan indikasi bahwa cairan
tercemar dengan darah. Selain sperma, yang berkembang di testis, ada organ lain yang
berkontribusi terhadap sekresi komposisi semen. Salah satu contoh adalah vesikula
seminalis, yang merupakan sepasang struktur kecil yang terletak di belakang kandung
kemih. Kelenjar ini menghasilkan sekresi yang dapat menjelaskan lebih dari setengah
dari makeup semen itu. Sekresi ini sangat sarat dengan gula fruktosa, yang mendorong
sel sperma yang sehat. Sekresi ini juga merupakan komponen yang diperlukan untuk
memberikan sperma konsistensi seperti jelly. Bagian lain besar air mani terdiri dari
sekresi dari kelenjar prostat. Ini membantu untuk membuat cairan mani yang efektif
dalam melindungi sel sperma terhadap kondisi asam dari sistem reproduksi wanita. Salah
satu bahan kimia dicatat bahwa kelenjar prostat memberikan kontribusi untuk cairan
mani adalah enzim yang dikenal sebagai antigen prostat spesifik (PSA).
Setelah seorang pria berejakulasi, air mani dikonversi ke keadaan seperti jelly. Hal ini
diyakini bahwa terjadi karena konsistensi seperti hal ini memungkinkan untuk lebih
efektif mengikuti rahim wanita. Namun, Cairan tidak tetap pada keadaan ini. Ini akhirnya
akan kembali ke keadaan cair. PSA dipercaya untuk menyebabkan tindakan mencair ini.
Jumlah waktu yang akan dilalui sebelum terjadi dapat bervariasi dari beberapa menit
sampai lebih dari setengah jam. Kelenjar Cowper adalah kontributor lain untuk
pembuatan air mani. Sekresi dari kelenjar ini ditemukan dalam bentuk pelumas alami
bening. Kadang-kadang pelumas ini dapat dilepaskan dari penis sebelum ejakulasi
terjadi.
Jumlah cairan mani yang dilepaskan seorang pria dapat dipengaruhi oleh frekuensi
ejakulasinya. Jika seorang pria sering berejakulasi atau baru telah melakukannya, ia
2 | cairan Sperma / Semen

dapat menghasilkan jumlah cairan mani di bawah rata-rata. Sebaliknya, jika ia telah pergi
untuk jangka lama tanpa ejakulasi, ia mungkin menghasilkan jumlah cairan di atas ratarata.

2.2 Karakteristik Semen


Menurut WHO, berikut adalah empat kriteria yang dilihat dalam pengujian semen:
1. Volume
Pria subur rata-rata mengeluarkan 2 hingga 5 cc semen dalam satu kali ejakulasi.
Secara konsisten mengeluarkan kurang dari 1,5 cc (hypospermia) atau lebih dari 5,5
cc (hyperspermia) dikatakan abnormal. Volume lebih sedikit biasanya terjadi bila
sangat sering berejakulasi, volume yang lebih banyak terjadi setelah lama
berpuasa.
2. Konsentrasi sperma
Pria subur memiliki konsentrasi sperma di atas 20 juta per cc atau 40 juta secara
keseluruhan. Jumlah di bawah 20 juta/cc dikatakan konsentrasi sperma rendah dan di
bawah 10 juta/cc digolongkan sangat rendah. Istilah kedokteran untuk konsentrasi
sperma rendah adalah oligospermia. Bila sama sekali tidak ada sperma disebut
azoospermia. Semen pria yang tidak memiliki sperma secara kasat mata terlihat sama
dengan semen pria lainnya, hanya pengamatan melalui mikroskoplah yang dapat
membedakannya.
3. Morfologi Sperma
Sperma normal memiliki bentuk kepala oval beraturan dengan ekor lurus panjang di
tengahnya. Sperma yang bentuknya tidak normal (disebut teratozoospermia) seperti
kepala bulat, kepala pipih, kepala terlalu besar, kepala ganda, tidak berekor, dll,
adalah sperma abnormal dan tidak dapat membuahi telur. Hanya sperma yang
bentuknya sempurna yang disebut normal. Pria normal memproduksi paling tidak
30% sperma berbentuk normal.
4. Motilitas (Pergerakan) Sperma
Sperma terdiri dari dua jenis, yaitu yang dapat berenang maju dan yang tidak. Hanya
sperma yang dapat berenang maju dengan cepatlah yang dapat mencapai sel telur.
Sperma yang tidak bergerak tidak ada gunanya. Menurut WHO, motilitas sperma
digolongkan dalam empat tingkatan:
Kelas a : sperma yang berenang maju dengan cepat dalam garis lurus seperti
peluru kendali.
Kelas b: sperma yang berenang maju tetapi dalam garis melengkung atau
bergelombang, atau dalam garis lurus tetapi lambat.
Kelas c: sperma yang menggerakkan ekornya tetapi tidak melaju.
Kelas d: sperma yang tidak bergerak sama sekali.
Sperma kelas c dan d adalah sperma yang buruk. Pria yang subur memproduksi
paling tidak 50% sperma kelas a dan b. Bila proporsinya kurang dari itu,
kemungkinan akan sulit memiliki anak.
3 | cairan Sperma / Semen

Motilitas sperma juga dapat terkendala bila sperma saling berhimpitan secara
kelompok sehinga menyulitkan gerakan mereka menuju ke sel telur.
5. Penghitungan Sperma (Sperm Count)
Kesuburan pria ditentukan oleh kombinasi keempat kriteria di atas, yaitu jumlah
sperma berbentuk sempurna dalam semennya yang dapat bergerak agresif. Misalnya,
seorang pria yang memproduksi 20 juta sperma per ml, 50% -nya bermotilitas bagus
dan 60% -nya berbentuk sempurna, maka dia dikatakan memiliki hitungan sperma 20
x 0,5 x 0,6 = 6 juta sperma bagus per ml. Bila volume ejakulasinya adalah 2 ml,
maka total sperma bagus dalam sampelnya adalah 12 juta.
Standar yang telah ditetapkan WHO adalah:
Volume : 2 ml atau lebih
pH : 7,2 sampai dengan 8,0
Konsentrasi spermatozoa: 20 juta spermatozoa / ml atau lebih
Jumlah total spermatozoa : 40 juta spermatozoa per ejakulasi atau lebih
Motilitas spermatozoa : Dalam waktu 1 jam setelah ejakulasi, sebanyak 50%
dari jumlah total spermatozoa yang hidup, masih bergerak secara aktif.
Morfologi permatozoa : 30% atau lebih memiliki bentuk yang normal
Vitalitas spermatozoa : 75% atau lebih dalam keadaan hidup
Jumlah sel darah putih : lebih sedikit dari 1 juta sel/ml
Dari standar yang telah disebutkan tersebut, Adapun macam dan definisi dari
kesimpulan tersebut adalah:
a. Normozoospermia: Karakteristik normal.
b. Oligozoospermia: Konsentrasi spermatozoa kurang dari 20 juta per ml.
c. Asthenozoospermia: Jumlah sperma yang masih hidup dan bergerak secara
aktif, dalam waktu 1 jam setelah ejakulasi, urang dari 50%.
d. Teratozoospermia: Jumlah sperma dengan morfologi normal kurang dari 30%.
e. Oligoasthenoteratozoospermia: Kelainan campuran dari 3 variabel yang telah
disebutkan sebelumnya.
f. Azoospermia: Tidak adanya spermatozoa dalam sperma
g. Aspermia: Sama sekali tidak terjadi ejakulasi sperma
Apabila hasil analisis sperma menyatakan nilai normal, kemungkinan besar
penyebab ketidaksuburan terdapat pada sang wanita. Oleh karena itu, analisis
kesuburan wanita dapat dijalankan sebagai langkah lanjut.
Berikut ini beberapa hal yang akan diperiksa saat analisis sperma di lakukan:

Hitungan sperma (sperm count). Angka yang normal untuk ini adalah 200 juta
per sentimeter kubik.
Kelincahan gerak (motilitas). Uji ini, yang diberi nilai dari buruk sampai
istimewa, menyatakan tingkat aktivitas sperma. Jika sperma tidak bergerak,
mereka tidak dapat sampai ke telur. Sederhana sekali.

4 | cairan Sperma / Semen

Morfologi. Ini memberi informasi tentang bentuk sperma anda. Bisa mikro
(dalam hal ini berarti terlalu kecil), bisa makro (dalam hal ini berarti terlalu
besar). Ukuran yang diharapkan adalah sedang.
pH. Semen harus bersifat agak basa -7,0 hingga 8,5.
Viskositas. Semen harus mudah dituang.
Volume. Yang normal dalam hai ini adalah dua hingga lima sentimeter kubik
(kira-kira 1/2 hingga 1 sendok teh).

2.3 Kandungan Sperma


Selain mengandung sperma, cairan sperma juga banyak mengandung zat gizi seperti
protein dan vitamin. Kandungan ini dipercaya membawa manfaat bagi tubuh wanita.
Namun bila terkontaminasi dengan penyakit, sperma justru dapat perantara penularan.
Sperma atau air mani adalah cairan tubuh yang disekresikan oleh gonad jantan atau pria.
Ini berisi spermatozoa, fruktosa dan enzim lainnya yang membantu sperma untuk
bertahan hidup serta memfasilitasi pembuahan agar berjalan sukses.
Sperma melewati saluran ejakulasi dan bercampur dengan cairan dari vesikula seminalis,
prostat dan kelenjar Cowper. Vesikula seminalis menghasilkan cairan yang kental dan
kaya fruktosa. Ini membentuk sekitar 65-70% dari komposisi sperma.
Warna putih sperma karena sekresi dari kelenjar prostat yang mengandung enzim, asam
sitrat, lipid, dan asam fosfatase. Ini membentuk sekitar 25-30% dari komposisi air mani.
Pada setiap ejakulasi sekitar 200-500 juta spermatozoa dikeluarkan oleh testis. Ini
membentuk sekitar 2-5% dari komposisi semen.
Kelenjar Cowper menghasilkan sekresi. Ini membantu dalam mobilitas sel sperma di
vagina dan leher rahim. Selain itu, sekresi ini jelas mengurangi ketebalan saluran
sehingga sel-sel sperma dapat berenang dan menambahkan kohesif, jelly konsistensi
untuk air mani. Sekresi kelenjar menyumbang kurang dari 1% komposisi semen secara
keseluruhan. Dengan demikian, hingga diejakulasikan oleh penis ada beberapa zat gizi
yang terkandung dalam air mani, seperti dilansir News Medical, Sabtu (28/9/2013):
1. Fruktosa (Gula Buah)
2. Asam askorbat (Vitamin C)
3. Zinc atau seng (Meningkatkan Daya Tahan Tubuh)
4. Kolesterol
5. Protein
6. Kalsium (Mencegah Oesteoporosis)
7. Klorin (Menguatkan Emael Gigi)
8. Antigen golongan darah
9. Asam sitrun
10. DNA
11. Magnesium (Meningkatkan Daya Tahan Tubuh)
12. Vitamin B12
13. Fosfor
14. Sodium (Garam)
15. Kalium
5 | cairan Sperma / Semen

16. Asam urat


17. Asam laktat
18. Nitrogen
19. Nutrisi lain.
2.4 Pemeriksaan Sperma
Analisis Sperma adalah suatu pemeriksaan yang penting untuk menilai fungsi organ
reproduksi pria (untuk mengetahui apakah seorang pria fertil atau infertil). Semen harus
diperiksa dari seluruh ejakulat. Karena itu mengambilnya dari tubuh harus dengan
masturbasi atau coitus interuptus ( bersetubuh dan waktu ejakulasi,persetubuhan
dihentikan dan mani ditampung semua). Ada juga bersetubuh dengan menggunakan
kondom khusus. Sebelum melakukan pemeriksaan disarankan untuk berpuasa bersetubuh
( abstinensi ) terbaik sekitar 3-5 hari. Pemeriksaan semen terbaik selambatnya sejam
sesudah ejakulasi.
Pemeriksaan sperma (lebih tepatnya analisis semen) adalah pemeriksaan yang dilakukan
untuk mengukur jumlah serta kualitas semen dan sperma seorang pria. Pengertian semen
berbeda dengan sperma. Secara keseluruhan, cairan putih dan kental yang keluar dari alat
kelamin pria saat ejakulasi disebut semen. Sedangkan 'makhluk' kecil yang berenangrenang di dalam semen disebut sperma.
Analisis semen merupakan salah satu pemeriksaan tahap pertama untuk menentukan
kesuburan pria. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan apakah ada masalah pada
sistim produksi sperma atau pada kualitas sperma, yang menjadi biang ketidaksuburan.
Perlu diketahui, hampir setengah pasangan yang tidak berhasil memperoleh keturunan,
disebabkan karena ketidaksuburan pasangan prianya. Ada dua tahap penting pada
pemeriksaan sperma, yaitu tahap pengambilan sampel dan tahap pemeriksaan sperma.
Pada tahap pengambilan sampel, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Pria yang akan diambil semennya dalam keadaan sehat dan cukup istirahat. Tidak
dalam keadaan letih atau lapar.
2. Tiga atau empat hari sebelum semen diambil, pria tersebut tidak boleh melakukan
aktifitas seksual yang mengakibatkan keluarnya semen. WHO bahkan
merekomendasikan 2 7 hari harus puasa ejakulasi, tentunya tidak sebatas hubungan
suami istri, tapi dengan cara apapun.
3. Semen (sperma) dikeluarkan melalui masturbasi di laboratorium (biasanya disediakan
tempat khusus). Sperma kemudian ditampung pada tabung terbuat dari gelas.
4. Masturbasi tidak boleh menggunakan bahan pelicin seperti sabun, minyak, dll.
Sedangkan pada tahap kedua, dilakukan pemeriksaan sampel semen di laboratorium.
TUJUAN :
Pemeriksaan sperma penting dalam masalah fertilitas dan infertilitas. Selain itu juga
untuk postvasektomi.
DASAR :
Sperma yang sering disebut juga mani atau semen adalah ejakulat yang berasal dari
seorang pria berupa cairan kental dan keruh, berisi sekret dari kelenjar prostat, kelenjar2
lain dan spermatozoa. Pemeriksaan sperma merupakan salah satu elemen penting dalam
penilaian fertilitas atau infertilitas. Pemeriksaan sperma meliputi maksroskopis (hal-hal
6 | cairan Sperma / Semen

yang terlihat dengan mata telanjang), mikrospkopis, kimia dan imunologi. Namun, di sini
yang akan kita lakukan adalah hanya pemeriksaan sperma secara makroskopis dan
mikroskopis saja.
Banyak pria yang sering merasa tidak nyaman dengan adanya pemeriksaan sperma hal ini
mengingat sperma merupakan produk cairan tubuh yang hanya bisa dikeluarkan sebagai
puncak rasa birahi (orgasme). Tidak seperti cairan tubuh lain yang biasa diperoleh dengan
cara yang menyakitkan yaitu disuntik seperti darah, cairan sumsum tulang, cairan otak
maka cairan sperma ini dikeluarkan dengan cara tidak menyakitkan. Tidak semua pria
dengan mudah bisa mengeluarkan sperma apalagi disebuah tempat yang cukup asing
seperti rumah sakit atau laboratorium. Sebenarnya hal ini tidak bisa menjadi alasan
karena saat ini rumah sakit atau laboratorium biasanya telah menyediakan tempat yang
dibuat sedemikian rupa agar pasien bisa melakukan proses mengeluarkan sperma dengan
nyaman.
ALAT
1. Wadah/pot dengan penutup
2. Kertas Label
3. Gelas ukur 5 atau 10 ml
4. Kertas indikator
5. Mikroskop binokuler
6. Kamar Hitung Improved Neubauer
7. Pipet Leukosit
8. Aquadestilata
9. Minyak Imersi
10. Objective dan Cover Glass
11. Gelas Bejana

REAGEN
1.
2.
3.
4.

Eosin 0,5%
Giemsa
Wright
Metil alkohol/ methanol

BAHAN PEMERIKSAAN

Cairan Sperma segar

CARA KERJA
Memperoleh Sampel:
1. Pasien diminta selama 3 5 hari tidak melakukan kegiatan sexual
2. Pengeluaran ejakulat sebaiknya pagi hari
3. Jarak dengan laboratorium sedekat mungkin

7 | cairan Sperma / Semen

4. Air mani ditampung di dalam gelas atau plastik bermulut lebar (sebelumnya
dibersihkan dan dikringkan terlebih dahulu) dan diberi label yang tertulis: Nama,
Waktu (Jam) pengeluaran air mani dicatat serta segera diantar ke laboratorium
Pemeriksaan Makroskopis:
1. Terhadap volume, warna, pH, kekeruhan dan kentalnya air mani
2. Hitung (ukur) volume air mani dengan memindahkan ejakulat ke dalam gelas ukur 5
atau 10m dan volume baru dapat diukur setelah mani mencair
3. Catat warna dan kekeruhan air mani
4. Celupkan kertas indikator ke dalam wadah yang berisi air mani dan cocokkan
de ngan skala war pH kemudian catat pH nya.
Pemeriksaan Mikroskopis:
A. Uji Motilitas
Prosedur Kerja:
1. Teteskan air mani sebanyak 1 tetes yang sudah mencair di atas objective glass
dan tutup dengan cover glass
2. Pemeriksaan dilakukan dengan lensa objektif 40 X
3. Perhatikan berapa % spermatozoa yang bergerak aktif dan hitung pula waktu
yang sudah berlalu sejak saat ejakulasi, karena semakin banyak waktu lewat
semakin berkurang motilitas spermatozoa Berkurangnya motolitas banyak
dipengaruhi oleh cara menyimpan sampel
4. Campurlah sedikit air mani dengan larutan Eosin 0,5% dalam air, untuk
membeda-kan spermatozoa yang tidak bergerak aktif dari yang mati. Untuk
spermatozoa yang mati akan memberi warna kemerah-merahan dan yang
non-aktif saja tidak berwarna
Pergerakan dari spermatozoa ada 4 kategori:
Sangat baik : bergerak lurus ke depan dengan cepat
Baik
: bergerak lurus ke depan tetapi tidak cepat dan kadang-kadang
berkelok-kelok
Kurang baik : bergerak ditempat dan hanya berputar-putar
Tidak bergerak: bergerak ditempat dan tidak bergerak atau tidak bergetar
Motilitas Normal > 60%
B. Jumlah Spermatozoa
Prosedur Kerja:
1. Menghitung spermatozoa dengan menggunakan kamar hitung Improved
Neubauer dan teteskanlah air mani dengan pipet leukosit.
2. Untuk mengencerkan dapat digunakan aquadestilata, isilah pipet leukosit
dengan air mani yang sudah mencair dengan aquadest sampai garis bertanda
0,5 dan kemudian aquadest sampai garis bertanda 11

8 | cairan Sperma / Semen

3. Hitunglah spermatozoa dalam kamar hitung Improved Neubauer pada


permukaan seluas 1 mm2 Jumlah yang dihitung dikalikan 200.000 untuk
mendapatkan jumlah spermatozoa dalam1 ml mani
4. Pemeriksaan jumlah spermatozoa perlu disarankan untuk dilakukan hitung
ulang pada lain waktu karena kualitas air mani seseorang akan berbeda-beda
dari satu waktu ke waktu yang lain
C. Morfologi
Prosedur Kerja:
1. Buatlah apusan air mani seperti membuat apusan darah tepi biarkan
mengering pada hawa udara
2. Kemudian lakukan fiksasi dengan metil alkohol (methanol) selama 5 menit
3. Selanjutnya diwarnai dengan Reagen Giemsa/Wright selama 20 menit
4. Periksalah morfologi spermatozoa dengan perbesaran 400 X menggunakan
minyak Imersi (kepala dan ekor spermatozoa)
5. Dalam 100 spermatozoa, Hitung % kelainan (abnormal) bentuk kepala (terlalu
besar, terlalu kecil, terlalu memanjang, inti terpecah dsb) dan bentuk ekor (tidak
ada ekor, ada dua ekor, ekor amat pendek dsb)
D. Jumlah Leukosit
Prosedur Kerja:
1. Hitunglah Leukosit yang ditemukan dalam kamar hitung Improved Neubauer
seperti hitung sel leukosit pada sediaan darah
2. Catat jumlah leukositnya
E. Vitalitas Spermatozoa
Prosedur Kerja:
1. Semen diteteskan pada kaca objek dan ditambahkan 1 tetes eosin yellow 0,5%
lalu aduk
2. Buat sediaan apusan, keringkan di udara. Amati di bawah mikroskop
pembesaran 400x
3. Tentukan presetasi dari setiap bentuk dalam 100 spermatozoa tersebut yang
hidup (tidak berwarna) atau yang mati (warna merah).
NILAI NORMAL

9 | cairan Sperma / Semen

NILAI NORMAL

SATUAN

2-5

Ml

MAKROSKOPIS
1. Volume
2. pH
3. Warna

7,2 - 7,8
Putih kekuning-kuningan

4. Kekentalan

Kental

5. Bau

Khas (Chlor)

6. Pencairan

10 20

Menit

Pergerakan Aktif

> 50

Pergerakan Lemah

< 30

Tak Bergerak

< 20

2. Jumlah Sperma

60 - 150 Juta

Ml

> 60

MIKROSKOPIS
1.Uji Motilitas

3. Morfologi Spermatozoa
a. Normal
- Kepala
- Ekor
b. Abnormal:
- Kepala
- Ekor

< 40

4. Jumlah Lekosit
5. Aglutinasi

100

Ul

NEGATIF

+/-

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
10 | c a i r a n S p e r m a / S e m e n

Sebenarnya, air mani adalah cairan yang melewati uretra dan transportasi sperma, yaitu
sel-sel reproduksi laki-laki. Tujuan utama cairan mani adalah untuk membantu sel-sel
reproduksi laki-laki, atau sperma, untuk berhasil menavigasi jalan melalui sistem
reproduksi wanita untuk membuahi sel telur wanita. Cairan umumnya digambarkan
sebagai putih. Hal ini juga mungkin memiliki semburat abu-abu atau kuning dan masih
dianggap normal. Jika muncul merah muda atau merah, yang biasanya merupakan
indikasi bahwa cairan tercemar dengan darah. Selain sperma, yang berkembang di testis,
ada organ lain yang berkontribusi terhadap sekresi komposisi semen. Salah satu contoh
adalah vesikula seminalis, yang merupakan sepasang struktur kecil yang terletak di
belakang kandung kemih. Kelenjar ini menghasilkan sekresi yang dapat menjelaskan
lebih dari setengah dari makeup semen itu. Sekresi ini sangat sarat dengan gula fruktosa,
yang mendorong sel sperma yang sehat. Sekresi ini juga merupakan komponen yang
diperlukan untuk memberikan sperma konsistensi seperti jelly. Bagian lain besar air mani
terdiri dari sekresi dari kelenjar prostat. Ini membantu untuk membuat cairan mani yang
efektif dalam melindungi sel sperma terhadap kondisi asam dari sistem reproduksi wanita.

11 | c a i r a n S p e r m a / S e m e n