Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum KI3141

Dinamika Kimia
Percobaan H-3
SOL LIOFIL
Nama

: Intan Mulyani

NIM

: 10513090

Kelompok / Shift

: 8 / Kamis Siang

Tanggal Percobaan

: 29 Oktober 2015

Tanggal Pengumpulan

: 5 November 2015

Asisten

: Nisrina Rizkia (20514058)

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

I. Judul Percobaan
Sol Liofil
II. Tujuan Percobaan
Menentukan titik isoelektrik dari gelatin melalui pengamatan viskositas terhadap pH.
III.

Teori Dasar
Sol liofil merupakan salah satu jenis sol yang suka berinteraksi dengan medium
pendispersinya. Gelatin merupakan salah satu contoh dari sol liofil. Gelatin merupakan suatu
protein yang berasal dari kolagen. Titik isoelektrik dimiliki oleh protein dimana muatan protein
pada saat titik isoelektrik ini bernilai nol, karena muatan postifnya sama dengan muatan
negatifnya (Nelson, 2000:125)
Viskositas merupakan kekentalan suatu zat. Viskositas dapat didefinisikan sebagai
tahanan aliran fluida yang merupakan gesekan antara molekul-molekul cairan yang satu dengan
yang lainnya (Alberty, 1984:243).
Cairan yang mudah mengalir mempunyai viskositas yang rendah, begitupun
sebaliknya, cairan yang sulit mengalir mempunyai viskositas yang tinggi. Titik isoelektrik
dapat ditentukan dengan mengamati viskositas gelatin pada berbagi pH larutan dengan
menggunakan viskometer Ostawald. Viskositas diamati dengan mengamati waktu alir dari
setiap larutan.

IV.

Data Pengamatan
Truang
= 27oC
air 27 C
= 996,5166 kg.m-3 = 0,9965166 g.mL-1
o

air

= 0,8513 cp

Massa pikno kosong (wpk)


Massa pikno + air (wpa)

= 19,05 g
= 45,17 g

pH buffer

pH ukur

t1 (s)

t2 (s)

2,2
3,0
4,0
5,0
6,0
7,0
Air

2,51
3,31
4,25
5,19
6,18
7,11
-

48,1
41,8
38,1
39,3
48,1
42,2
30,2

48,3
41,9
38,2
39,3
48,2
42,2
30

48,2
41,85
38,15
39,3
48,15
42,2
30,1

V. Pengolahan Data
1. Penentuan Volume Piknometer

(s)

Massa pikno larutan (wpz)


(g)
45,46
45,56
45,63
45,66
45,81
45,85
45,17

V pikno =

w pikno+air w pikno kosong


air

45,17 g19,05 g
0,9965166 g . mL1

26,2113 mL
lar

2. Penentuan Massa Jenis Larutan (


lar =

w pikno+larutan w piknokosong
V pikno

Pada larutan pH buffer 2,2 :


lar pH buffer 2,2=

w pz ( pH 2,2 )w piknokosong 45,46 g19,05 g


=
V pikno
26,2113 mL
1

1,007581 g . mL
Dengan cara yang sama, diperoleh

lar

dari berbagai larutan adalah sebagai berikut.

lar
pH buffer
2,2
3,0
4,0
5,0
6,0
7,0

pH ukur
2,51
3,31
4,25
5,19
6,18
7,11

(g.mL-1)
1,007581
1,011396
1,014066
1,015211
1,020934
1,022460

3. Penentuan Viskositas Larutan


t
lar = lar lar air
air t air

Pada larutan pH buffer 2,2 :


1,007581 g . mL1 48,2 s
lar =
0,8513 cp
0,9965166 g .mL1 30,1 s
1,378347 cp
Dengan cara yang sama, diperoleh

lar

dari berbagai larutan adalah sebagai berikut.

pH buffer
2,2
3,0
4,0
5,0
6,0
7,0

lar

lar

(g.mL-1)
1,007581
1,011396
1,014066
1,015211
1,020934
1,022460

(cp)
1,378347
1,201291
1,097975
1,132349
1,395165
1,224589

pH ukur
2,51
3,31
4,25
5,19
6,18
7,11

4. Penentuan Titik Isoelektrik

Kurva Viskositas terhadap pH Larutan


1.5
f(x) = 0.03x^2 - 0.3x + 1.89
1
Viskositas larutan
0.5

0
2

pH larutan (pH ukur)

Dari kurva tersebut, diperoleh persamaan :


y = 0,0311x2 0,3021x + 1,8925
dy
=0,0622 x0,3021
dx
Titik isoelektrik diperoleh pada x saat
0 = 0,0622x 0,3021
x = pI = 4,8569

dy
=0
, sehingga
dx

VI.

Pembahasan
Sistem koloid merupakan suatu campuran dua atau lebih zat yang partikel
terdispersinya mempunyai ukuran 1-100 nm. Terdapat berbagai macam koloid bergantung pada
zat terdispersi dan medium pendispersinya. Sol merupakan salah satu sistem koloid dengan zat
terdispersi padat. Terdapat beberapa sol bergantung pada medium pendispersinya. Sol padat
merupakan sol yang medium pendispersinya adalah padat. Sol cair merupakan sol yang
medium pendispersinya adalah cairan. Sol gas merupakan sol yang medium pensdispersinya
adalah gas.
Berdasarkan kestabilannya, sol dibedakan menjadi sol liofil dan sol liofob. Sol liofob
merupakan sol yang tidak suka menarik medium pendispersinya. Sol liofil adalah sol yang
dapat menarik dan mengabsorbsi molekul medium pendispersinya, dimana terjadi gaya tarik
menarik yang cukup besar antara zat terdispersi dengan medium pendispersi. Sol dapat
dikatakan stabil apabila zat terdispersi atau zat terlarutnya tidak mengendap. Penstabilan sol
liofil terjadi karena molekul zat terdispersi dikelilingi oleh molekul medium pendispersi, hal ini
dikarenakan zat terdispersi dapat menarik medium pendispersinya. Dengan dikelilinginya zat
terdispersi ini membuat tidak adanya tarik menarik antar molekul zat terdispersi, sehingga zat
terdispersi tidak akan mengendap melainkan akan stabil sebagai koloid.
Salah satu contoh dar sol liofil adalah gelatin. Gelatin merupakan protein yang
diperoleh dari hidrolisis kolagen yang terdapat pada hewan, tepatnya pada tulang atau kulit
hewan. Dalam bidang pangan, gelatin digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan jeli,
permen, es krim, susu, roti, daging olahan, dan lain-lain. Dalam bidang farmasi, gelatin dapat
digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan vaksin, cangkang kapsul, pil, krim, obat
gosok dan lain-lain. Sebagai protein, gelatin tersusun atas beberapa asam amino. Asam amino
utama yang terdapat pada gelatin adalah asam amino non essential, yaitu prolin dan glisin. Pada
berbagai pH, protein dapat mempunyai muatan tertentu. Hal ini dikarenakan, protein dapat
terionisasi apabila dilarutkan dalam suatu pelarut, baik dalam air, asam, maupun basa. Muatan
spesi protein yang terionisasi bergantung pada kondisi pH larutan. Spesi protein dimana
muatannya sama dengan nol, artinya muatan positif sama dengan muatan negatif merupakan
titik isoelektrik suatu protein. Titik isoelektrik ini berada pada pH larutan dimana membuat
muatan proteinnya sama dengan nol, atau disebut sebagai pI. Titik isoelektrik dari gelatin
berada pada rentang pH 4,46 sampai 5,05 (Michaelis dan Grineff, Thus Loeb, Dexter,
Hitchcock). Muatan protein pada pH dibawah titik isoelektriknya (pI) akan bermuatan positif,
sedangkan muatan protein pada pH diatas titik ioselektriknya akan bermuatan negatif. Zwitter

ion merupakan spesi protein yang membentuk dipolar ion atau mempunyai dua jenis muatan
yang berbeda dalam satu spesi senyawa.
Protein dalam air yang merupakan pelarut polar akan terjadi interaksi antara protein
dengan air, tepatnya pada struktur tersier protein. Protein mempunyai gugus-gugus yang
bersifat hidrofobik dan hidrofilik. Gugus hidrofobik merupakan gugus yang tidak suka
berinteraksi dengan air, sedangkan gugus hidrofilik merupakan gugus yang suka berinteraksi
dengan air. Pada struktur tersier protein akan terdapat dua area, yaitu interior (bagian dalam)
dan eksterior (bagian luar), sehingga struktur protein akan berbentuk kompak. Ketika protein
dilarutkan dalam air yang merupakan pelarut polar, pada bagian interior akan terdapat residu
asam amino yang bersifat polar (hidrofilik), sedangkan pada bagian eksterior akan terdapat
residu asam amino yang bersifat nonpolar (hidrofobik). Hal ini terjadi agar sudut kontak antara
residu nonpolar dengan air (polar) kecil, sehingga energinya pun akan kecil dan stabil. Interaksi
yang terjadi antara protein dengan air adalah interaksi hidrofilik. Hal ini terjadi apabila pH 7
bukan merupakan pH saat titik isoelektrik (pI).
Viskositas merupakan kekentalan suatu larutan. Viskositas bergantung pada interaksi
molekul-molekul yang ada dalam larutan tersebut. Apabila larutan murni, viskositas bergantung
pada interaksi antar molekul larutan tersebut. Semakin besar interaksi antar molekul tersebut,
maka viskositasnya akan semakin besar. Pada sol terdapat dua jenis molekul yaitu molekul zat
terdispersi dan molekul medium pendispersi. Pada sol, viskositas bergantung pada interaksi
kedua molekul ini, yaitu interaksi antara molekul zat terdispersi dengan molekul zat
pendispersi. Semakin besar interaksi antara molekul zat terdispersi dengan molekul zat
pensdispersi, maka viskositasnya akan semakin besar. Viskositas dipengaruhi oleh laju alir
larutan. Laju alir larutan dipengaruhi oleh waktu alir larutan dan massa jenis larutan. Semakin
besar massa jenis larutan dan waktu alir larutan tersebut, maka viskositasnya pun akan semakin
besar. Semakin kecil massa jenis larutan dan waktu alir larutan tersebut, maka viskositasnya
pun semakin kecil.
Pada gelatin sebagai sol liofil, pH larutan akan mempengaruhi viskositas. Hal ini
dikarenakan gelatin mempunyai muatan yang berbeda pada pH tertentu. Muatan-muatan yang
ada pada gelatin akan mempengaruhi interaksinya dengan medium pendispersi. Saat gelatin
mempunyai muatan, gelatin akan lebih suka berinteraksi dengan medium pendispersinya. Hal
ini terjadi pada saat pH larutan diluar pI atau titik isoelektriknya. Dengan demikian, viskositas
akan meningkat karena besarnya interaksi antar gelatin dengan medium pendispersinya. Hal
berbeda ditunjukkan pada gelatin pada pH saat titik isoelektriknya (pI). Pada titik ini, gelatin
tidak memiliki muatan, sehingga gelatin tidak suka berinteraksi dengan medium
pendispersinya. Akibatnya, viskositas akan menurun karena kecilnya interaksi antar gelatin
dengan medium pendispersinya.

Selain viskositas yang bernilai minimum pada titik

isoelektrik, sifat-sifat fisik lain yang bernilai minimum pada saat titik isoelektrik adalah
hantaran listrik, laju elektroforesa, rotasi optik, tekanan osmosis, pengembunan, dan kepekaan
terhadap pengendapan dengan alkohol. Selain sifat-sifat fisik yang bernilai minimum pada saat
titik isoelektrik, terdapat beberapa sifat fisik yang bernilai maksimum pada saat titik isoelektrik
yaitu kecepatan sedimentasi dan pembentukan busa.
Titik isoelektrik pada gelatin dapat ditentukan dengan mengamati viskositasnya pada
berbagai pH dengan memanfaatkan interaksi gelatin yang berbeda dengan medium
pendispersinya pada berbagai pH tersebut. Titik isoelektrik diperoleh saat pH larutan dimana
viskositasnya bernilai minimum. Pada titik isoelektrik ini, interaksi gelatin dengan medium
pendispersinya sangat minimum, sehingga viskositasnya pun bernilai minimum. Pada hasil
percobaan, viskositas gelatin menurun seiring dengan meningkatnya pH dari 2,2 sampai pH 4.
Namun, pada saat pH 5 sampai 7 viskositas meningkat. Viskositas minimum diperoleh saat pH
4,8569. Hal ini menunjukkan bahwa pH 4,8569 merupakan titik isoelektrik (pI) dari gelatin.
Menurunnya viskositas larutan dari pH 2,2 sampai pH 4 menunjukkan bahwa pH tersebut
semakin mendekati titik isoelektriknya, karena akan semakin banyak spesi yang bermuatan
netral. Semakin dekat pH larutan dengan pI, maka viskositas akan semakin menurun. Ketika
pH larutan dari pH 5 sampai 7, viskositas semakin meningkat. Hal tersebut menunjukkan
bahwa dari pH 5 sampai 7 semakin jauh dengan titik isoelektriknya, maka viskositasnya pun
akan terus meningkat, karena akan semakin sedikit persentase spesi yang bermuatan netral.
Dari hasil percobaan, viskositas pada pH 7 mengalami penurunan. Seharusnya pada pH 7,
viskositas meningkat karena semakin sedikit spesi yang bermuatan netral. Kesalahan data
tersebut dapat diakibatkan oleh pelarutan gelatin dalam larutan buffer yang tidak sempurna. Hal
ini dapat mempengaruhi komposisi gelatin dalam larutan. Gelatin harus dilarutkan terlebih
dahulu, karena yang diukur adalah larutan gelatin. Selain itu, kesalahan dapat terjadi saat
perhitungan waktu alir larutan menggunakan viskometer Ostwald yang kurang tepat pada tanda
batas. Nilai pI yang diperoleh dari hasil percobaan dapat diterima karena pH tersebut masuk ke
dalam rentang pH titik isoelektrik 4,46 sampai 5,05 yang telah dilakukan oleh beberapa
peneliti.

VII.

Kesimpulan
Titik isoelektrik dari gelatin adalah pada pH 4,8569.

VIII. Daftar Pustaka


Alberty, A. Robert., Farrington Daniels. 1984. Kimia Fisika Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta:
Erlangga. Hlm. 242-244.
Nelson, David L., Cox, M. Michael M. 2000. Lehninger Principles of Biochemistry, 3rd edition.
United States of America: Worth Publishers. Hlm. 125.
Hitchcock, David. I. 1931. Journal: The Isoelectric Point of Standard Gelatin Preparation.
New Haven: Yale University. Hlm. 686 dan 698.

LAMPIRAN