Anda di halaman 1dari 16

TUGAS TERSTURKTUR

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Rencana dan Evaluasi
Program Kesehatan

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tri Fitriyati
Hanum Choirunissa
Prista Arzenith
Indah Cahyani
Rifa Moni Utami
Gita Ayu Daniswara
Shella Kartika Andira
Yola Ending Nafiah

G1B011011
G1B011014
G1B011016
G1B011021
G1B011029
G1B011035
G1B011036
G1B011042

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2013
I.

Analisis Keadaan dan Situasi Masalah Kesehatan

Kabupaten Banyumas merupakan salah satu bagian wilayah Provinsi Jawa


Tengah, dengan luas wilayah kurang lebih 132.759 Ha atau 3,8% luas Provinsi
Jawa Tengah. Kabupaten Banyumas terbagi dalam 27 kecamatan yang terdiri dari
331 desa/kelurahan. Letak Geografis Kabupaten Banyumas diantara 1050 dan 1090
30 garis bujur timur dan sekitar 7 0 30 garis lintang selatan, berbatasan dengan
wilayah beberapa Kabupaten, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Disebelah Utara
Disebelah Selatan
Disebelah Barat
Disebelah Timur

: Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang


: Kabupaten Cilacap
: Kabupaten Brebes, Kabupaten Cilacap
: Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara

Topografi Kabupaten Banyumas lebih dari 45% merupakan daerah dataran


yang tersebar di bagian Tengah dan Selatan serta membujur dari Barat ke Timur.
Ketinggian wilayah di Kabupaten Banyumas sebagian besar berada pada kisaran
25-100 M dari permukaan laut yaitu seluas 42.310,3 Ha dan 100-500 M dari
permukaan laut yaitu seluas 40.385,3 Ha. Kabupaten Banyumas mempunyai iklim
tropis basah dengan rata-rata suhu udara 26,5 0C. Suhu minimum sekitar 24,40C
dan suhu maksimum sekitar 30,90C.
Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas
menyebutkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Banyumas tahun 2009 adalah
1.842.466 jiwa terdiri dari 790.680 jiwa laki-laki (49,96%) dan 791.939 jiwa
perempuan (50,04%) tergabung dalam 502.477 rumah tangga/kk. Jika
dibandingkan dengan kondisi tahun 2008, jumlah penduduk tahun 2009
mengalami kenaikan. Kepadatan penduduk Kabupten Banyumas Tahun 2009
sebesar 1.388 jiwa/km2, dengan kepadatan tertinggi ada di Kecamatan Kembaran
dengan tingkat kepadatan sebesar 10.564 jiwa/km2, sedang kepadatan penduduk
terendah pada Kecamatan lumbir sebesar 524 jiwa/km2.
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari
angka kesakitan/kejadian dan angka kematian dalam masyarakat. Disamping itu,
kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian
keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.
Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai
survei dan penelitian. Berikut angka kematian dan kejadian/kesakitan beberapa

penyakit yang terjadi pada periode terakhir di Kabupaten Banyumas adalah


sebagai berikut:
1. Angka Kematian Bayi
Pada tahun 2009 terdapat 27.865 kelahiran hidup dimana jumlah lahir
mati sebanyak 107 bayi, jumlah bayi mati sebesar 225 bayi. Angka
Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Banyumas adalah sebesar 8,07 per
1000 kelahiran hidup. AKB tahun 2008 sebesar 8,3 per 1.000 kelahiran
hidup. Dengan demikian AKB tahun 2009 turun sebesar 0,23 per 1000
kelahiran hidup dibanding tahun 2008.
2. Angka Kematian Ibu
Jumlah kematian Ibu Hamil sebanyak 10 orang, jumlah kematian ibu
bersalin sebanyak 9 orang dan jumlah kematian ibu nifas sebanyak 22
orang. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Banyumas tahun 2009
sebesar 147,1 per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di
Kaupaten Banyumas tahun 2008 sebesar 97 per 100.000 kelahiran hidup
dengan demikian AKI tahun 2009 mengalami peningkatan/naik.
3. Angka Kematian Balita
Jumalh balita sebanyak 121.918 balita. Balita mati sebanyak 17 balita,
dengan demikian Angka Kematian Balita di Tahun 2009 sebesar 0,6 per
1.000 kelahiran hidup.
4. Angka Kecelakaan
Kabupaten Banyumas terjadi kecelakaan sebanyak 1.859 kejadian. Dari
peristiwa tersebut terdapat korban mati sebanyak 64, orang luka berat 446
orang, dan luka ringan sebanyak 1.921 orang. Jika dibandingkan dengan
kejadian kecelakaan tahun 2008, kejadian kecelakaan tahun 2008 sebanyak
1.721 kejadian. Dengan demikian angka kejadian kecelakaan per 100.000
penduduk sebesar 4,86.
5. Penyakit Malaria
Pada tahun 2009 kasus penyakit malaria klinis sebanyak 761 kasus atau
sebesar 0,41 per 1000 penduduk. Pada tahun 2008 kasus penyakit malaria
klinis sebanyak 3.406 kasus atau sebesar 2,17 per 1000 penduduk.
Dibanding tahun 2008 kasus malaria mengalami penurunan sebesar 2.645
kasus atau sebesar 1,76 per 1000 penduduk.
6. TB Paru

Jumlah kasus TB Paru Positif tahun 2009 sebanyak 527 kasus. Jumlah
kasus TB Paru Positif tahun 2008 sebanyak 613 kasus atau Case Detection
rate (CDR) dan BTA Positif sebesar 39,004 per 100.000 penduduk.
7. HIV
Jumlah kasus HIV-AIDS sampai Desember 2009 secara kumulatif
sebanyak 130 kasus. Kasus HIV yang ditemukan 130 kasus HIV Positif
yang telah terdeteksi masih dimungkinkan ada sekitar 13.000 kasus.
8. Acute Flaccid Paralysis
Jumlah penemuan kasus AFP sebanyak 8 kasus sedangkan tahun 2009
sedangkan pada tahun 2008 ditemukan sebanyak 2 kasus.
9. Demam Berdarah Dengue
Jumlah kasus DBD mengalami penurunan, tahun 2009 terdapat 378 kasus
atau 20,52 per 100.000 penduduk, sedangkan tahun 2008 sebesar 685
kasus atau 43,59 per 100.000 penduduk.
10. Penyakit Tidak Menular
Penyakit yang tidak menular yang berada di Kabupaten Banyumas terdiri
dari diabetes melitus, penyakit syaraf, penyakit jantung dan pembuluh
darah, neoplasma (tumor), gangguan mental dan perilaku, glaukoma,
katarak, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal, gangguan prostat.
Kasus terbanyak dilaporkan baik dari Puskesmas maupun Rumah Sakit
adalah penyakit jantung dan pembuluh darah dengan 23.505 kasus dan
terbanyak dari golongan ini adalah Hipertensi sebanyak 21.200.
11. Status Gizi
Jumlah Gizi Buruk yahun 2009 sebanyak 49 balita, sejumlah tersebut
mendapat perawatan 100%.

II. Analisis Prioritas Masalah


Prioritas masalah ditetapkan dengan menggunakan Multiple Criteria
Utility Assesment (MCUA). MCUA didasarkan pada pemberian skor dengan
pembobotan pada masalah yang telah ditelaah atau diidentifikasi. Berdasarkan
data dari profil kesehatan Banyumas didapatkan 12 permasalah kesehatan. Setiap
permasalahan kesehatan dilihat jumlah kasus serta peningkatan atau penurunan
jumlah kasusnya dari tahun 2009 sampai tahun 2010. Permasalahan tersebut
kemudian diberikan skor berdasarkan tiga kriteria penetapan prioritas masalah,

yaitu keseriusan masalah dengan bobot skor 5, besarnya masalah dengan bobot
skor 4, dan meluasnya masalah dengan bobot skor 3.
Keseriusan

masalah

ditentukan

berdasarkan

tingkat

keparahan,

peningkatan jumlah kasus, serta lamanya waktu pemulihan maupun penyembuhan


suatu malah kesehatan. Besar masalah ditentukan berdasarkan besarnya jumlah
kasus dari permasalahan kesehatan. Sedangkan, meluasnya masalah ditentukan
berdasarkan besarnya potensi berkembangnya masalah kesehatan dari satu desa ke
desa lainnya di Kabupaten Banyumas. Berdasarkan kriteria tersebut didapatkan
hasil yang dapat dijelaskan dalam tabel berikut :
Tabel B.1. Penentuan Prioritas Masalah
No.

Masalah

1.
2.
3.
4.

Pneumonia
Diare
Hipertensi
Malaria
Kecelakaan Lalu

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Jumlah
Kasus
50607
35262
22143
4661

Skor
Keseriusan
Masalah
10
9
4
6

Skor
Besarnya
Masalah
12
11
10
9

Skor
Meluasnya
Masalah
10
11
2
7

4564
11
8
1
Lintas
TBC
770
3
7
9
DBD
694
8
6
8
Gizi Buruk
197
7
5
3
HIV
108
2
4
6
Polio
2
12
3
12
Filariasis
2
5
2
4
Campak
1
1
1
5
Setelah didapatkan skor masing-masing dari besarnya masalah, keseriusan

masalah, dan meluasnya masalah tersebut, disusun dalam tabel berdasarkan


masalah dan skor. Sehingga didapat tabel sebagai berikut:
Tabel B.2. Hasil Penentuan Prioritas Masalah dengan Metode MCUA

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa masalah kesehatan yang


paling besar berdasarkan besarnya masalah, keseriusan masalah, dan meluasnya
masalah adalah pneumonia dengan total jumlah 128.
III.

Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah


Penyusunan alternatif pemecahan masalah di Kabupaten masalah dilihat

berdasarkan masalah yang dijadikan prioritas utama, yaitu pneumonia dan


penyebab-penyebab dari munculnya masalah tersebut.
Masalah
Tingginya kasus

Penyebab

(statistik bermakna)
Masalah
Gizi yang buruk pada balita Peningkatan gizi pada

Pneumonia pada
balita

Alternatif Pemecahan

Status imunisasi pada

balita
Imunisasi masal pada

balita
Lingkungan yang buruk

balita
Perbaikan sanitasi

Keadaan rumah yang tidak

lingkungan
Pembuatan rumah sehat

sehat
Minum obat tidak

Adanya Pendamping

mematuhi anjuran dokter


Pengetahuan orang tua

Minum Obat (PMO)


Peningkatan pengetahuan

yang rendah terhadap

dengan cara penyuluhan

pneumonia baik gejala,

kepada orang tua

akibat, penyebab, cara

mengenai pneumonia

pencegahan dan

baik penyebab, gejala,

pengobatannya

cara pencegahannya, dan

Polusi udara

pengobatannya
Perbaikan kondisi udara
sekitar

Keputusan pemecahan masalah dapat dilakukan dengan teknik MIVC


yaitu dengan kriteria dan bobot sesuai dengan kesepakatan kelompok dan
didasarkan pada efektivitas dan efisiensi suatu alternatif pemecahan masalah
tersebut. Efektifitas alternatif pemecahan masalah yaitu:

a) Besarnya masalah yang dapat diselesaikan dengan alternatif pemecahan


masalah tersebut (magnitude).
b) Pentingnya alternatif pemecahan masalah (importancy). Hal ini terkait
dengan kelanggengan teratasinya masalah dengan alternatif pemecahan
masalah tersebut.
c) Sensitivitas jalan keluar (vunerability). Hal ini terkait dengan kecepatan
alternatif pemecahan masalah mengatasi masalah kesehatan.
Efisiensi alternatif pemecahan masalah, yaitu nilai efesiensi yang dapat
dikaitkan dengan biaya (cost) yang diperlukan untuk melaksanakan alternatif
pemecahan masalah. Semakin besar biaya alternatif pemecahan masalah maka
semakin tidak efisien alternatif pemecahan masalah tersebut. Dengan demikian,
keputusan pemecahan masalah dapat dituliskan sebagai berikut:

Tabel C.1. Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah


No

Alternatif pemecahan

Efektivitas

masalah

Efisiens

Jumlah

i
C

MxVxI/C

M
1.
2.
3.
4.
5.

Peningkatan gizi pada balita


Imunisasi massal pada balita
Perbaikan sanitasi lingkungan
Pembuatan rumah sehat
Adanya Pendamping Minum

4
4
3
2
4

5
2
4
2
5

3
5
4
4
3

4
5
4
5
3

15
8
12
3,2
20

6.

Obat (PMO)
Peningkatan pengetahuan

25

dengan cara penyuluhan


kepada orang tua mengenai
pneumonia baik penyebab,
gejala, pengobatan dan cara
7.

pencegahannya
Perbaikan
kondisi
sekitar

udara

Berdasarkan perhitungan dengan teori MIVC tersebut, dapat dilihat bahwa


peningkatan pengetahuan dan pendamping minum obat (PMO) memiliki nilai
efektivitas dan efisiensi yang tinggi yaitu 25 dan 20. Oleh karena itu, alternatif
pemecahan masalah yang dipilih adalah kegiatan peningkatan pengetahuan dan
pembentukan pendamping minum obat (PMO) dengan program bernama
ASTAP yang merupakan singkatan dari ANAK SEHAT TANPA PNEUMONIA.
IV.

Usulan Program Kegiatan


A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah
kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini disebabkan
masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya
pneumonia, terutama pada balita. ISPA merupakan suatu penyakit yang
terbanyak dan tersering diderita oleh balita karena sistem pertahanan tubuh
masih rendah, terjadi baik di negara berkembang negara yang sudah mampu
(Klinikita, 2007).
Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) Tahun 2005
menyatakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19%
atau berkisar 1,62,2 juta, di mana sekitar 70% terjadi di negara-negara
berkembang terutama di Afrika dan Asia Tenggara. Dari data SEAMIC Health
Statistic 2001 pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia.
Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia untuk kasus pneumonia
pada balita pada Tahun 2006 dengan jumlah penderita mencapai enam juta
jiwa. ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada
kelompok balita, selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit
terbanyak. Laporan Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Ditjen P2M-PLP) Depkes RI Tahun 2007
menyebutkan dari 31 provinsi ditemukan 477.429 balita dengan pneumonia
atau 21,52% dari jumlah seluruh balita diIndonesia. Proporsinya 35,02% pada
usia di bawah satu tahun dan 64,97% pada usia satu hingga empat tahun
(Djelantik, 2008).

Berdasarkan angka kesakitan dan kematian Pneumonia di Kabupaten


Banyumas yang meningkat setiap tahunnya, masalah ini merupakan masalah
serius sehingga perlunya dicari alternatif pencegahan dan pengobatan agar
dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat pneumonia di
Kabupaten Banyumas.
B. Tujuan Program
B.1. Tujuan Umum
Menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat pneumonia di
Kabupaten Banyumas dengan upaya preventif dan promotif.
B.2. Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu hamil mengenai
pentingnya pemberian ASI EKSLUSIF sebagai upaya mencegah
terjadinya pneumonia pada balita.
2. Meningkatkan pengetahuan dan sikap orang tua balita mengenai
penyebab,

gejala,

pengobatan,

dan

pencegahan

penyakit

pneumonia.
3. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup
bersih dan sehat
4. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program ASTAP
melalui pemberdayaan masyarakat.
C. Bentuk Kegiatan
Program Anak Sehat Tanpa Pneumonia atau ASTAP merupakan suatu
program berbasis preventif dan promotif dengan rangkaian kegiatan
peningkatan pengetahuan pada ibu hamil dan orangtua balita mengenai
pneumonia melaluiserta pembentukan kader pendamping minum obat (PMO)
yang dilakukan mulai dari upaya advokasi, sosialisasi, dan pemberdayaan
masyarakat.
C.1.
a.
b.
c.
d.
C.2.

Sasaran Program ASTAP


Kader posyandu
Ibu hamil
Orangtua balita
Orangtua dengan anak pneumonia
Strategi Program ASTAP

Strategi dasar Program ASTAP adalah advokasi, pemberdayaan


masyarakat, dan bina suasana. Berikut adalah penjelasan masingmasing strategi, yaitu:
a. Advokasi
Adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk
mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang
terkait (stakeholders), yaitu puskesmas dan Dinas Kesehatan
Banyumas
b. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat
Adalah proses pemberian informasi ASTAP secara terus-menerus
dan berkesinambungan oleh kader-kader terlatih. Kader ASTAP
terdiri dari kader-kader Posyandu yang telah dilatih terlebih
dahulu.

Pelatihan

kader-kader

posyandu

bertujuan

untuk

membentuk kader-kader profesional, baik dalam penyampaian


informasi ASTAP maupun dalam menjadi Pendamping Minum
Obat (PMO).
c. Bina Suasana
Adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang
mampu mendorong individu, keluarga, dan kelompok masyarakat
untuk mau melakukan perilaku yang diharapkan dalam program
ASTAP. Bina suasana ini dilakukan dengan cara pendekatan kepada
tokoh masyarakat, tokoh agama, dan dasawisma. Bina suasana
perlu

dilakukan

untuk

mendukung

proses

pemberdayaan

masyarakat, khususnya dalam upaya mengajak sasaran dalam


penerapan perilaku yang diharapkan dalam program ASTAP.
C.3.
Kegiatan ASTAP
a. Pelatihan Kader ASTAP
Pelatihan kader ASTAP merupakan kegiatan pelatihan kader-kader
posyandu yang berutujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan para kader posyandu, sehingga dapat menyampaikan
pesan ASTAP kepada masyarakat serta menjadi pendamping minum
obat (PMO) yang bertugas mengingatkan dan memantau pemberian
obat kepada para orangtua yang memiliki balita dengan pneumonia
melalui pemberian dan pemeriksaan buku diari ASTAP , SMS, dan
kunjungan rumah penderita.

b. Penyuluhan
b.1. Penyuluhan ibu hamil, dilakukan dengan tujuan untuk
meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pneumonia dan
pentingnya pemberian ASI EKSKLUSIF untuk mencegah
peneumonia pada balita. Materi penyuluhan untuk ibu hamil
antara lain:
Manfaat ASI EKSLUSIF
Pijat payudara
Penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan pneumonia
Rumah sehat
b.2. Penyuluhan Orang tua dengan anak risiko tinggi pneumonia,
dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan
para orang tua tentang bahaya pneumonia pada balita serta
perubahan perilaku ke arah yang lebih baik lagi. Materi
penyuluhan untuk orang tua dengan anak risiko tinggi
pneumonia antara lain:
PHBS
Sanitasi lingkungan
Gizi
Rumah sehat
b.3. Pendamping Minum Obat (PMO)
PMO dilaksanakan oleh kader-kader posyandu yang telah
dilatih dengan tujuan untuk mengingatkan orangtua dalam
memberikan obat pada anaknya yang menderita pneumonia,
sehingga proses penyembuhan lebih cepat. Kegiatan ini terdiri
dari pemberian buku diari ASTAP kepada ibu yang memiliki
anak penderita pneumonia, pengiriman sms setiap hari untuk
mengingatkan pemberian obat, dan kegiatan door to door oleh
kader posyandu yang dilaksanakan sekali seminggu untuk
memberikan informasi tentang pneumonia dan memeriksa
buku diari yang telah diberikan.
c. Tempat
Balai desa atau tempat perkumpulan warga desa
d. Waktu
Program ASTAP dilakukan selama dua bulan yaitu pada bulan Juni
hingga Agustus.

D. Pelaksana Program
Program ini dilaksanakan oleh berbagai pihak meliputi mahasiswa,
tenaga kesehatan, kader ASTAP, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas.
E. Pembiayaan Program ASTAP
1. Pelatihan
a. Konsumsi (penyuluhan dan penutupan)
Snack peserta @Rp 5.000,00 x 40
Snack pembicara @Rp8.000,00 x 3
Makan besar peserta@Rp 10.000,00 x 40
b.
Kesekretariatan
Cetak undangan
SOP
Buku Diary @Rp. 5.000,00 x 100
c.
Humas
d.
Pubdekdok
Cocard Peserta @Rp. 1.000 x 40
Dokumentasi
Lefleat @Rp. 2.500 x 40
e.
Perlengkapan
Perijinan tempat
Peminjaman alat
Biaya Total Penyuluhan
2. Penyuluhan Pertama
a.
Acara
b.
Konsumsi (penyuluhan dan penutupan)
Snack peserta @Rp 5.000,00 x 100
Snack pembicara @Rp8.000,00 x 3
Makan besar peserta@Rp 10.000,00 x 100
c.
Kesekretariatan
Cetak undangan
SOP
d.
Humas
e.
Pubdekdok
Banner
Spanduk @Rp 100.000,00 x 5
Cocard Peserta @Rp. 1.000 x 100
Dokumentasi
Lefleat @Rp. 2.500 x 100
f. Perlengkapan
Perijinan tempat
Peminjaman alat
Biaya Total Penyuluhan
3. Penyuluhan Kedua

Rp.
Rp.
Rp.

200.000,00
24.000,00
400.000,00

Rp.
Rp.
Rp.

25.000,00
7.000,00
500.000,00

Rp.
Rp.
Rp.

40.000,00
200.000,00
100.000,00

Rp. 100.000,00
Rp. 300.000,00 +
Rp. 1.896.000,00

Rp. 500.000,00
Rp.
24.000,00
Rp. 1.000.000,00
Rp.
Rp.

25.000,00
7.000,00

Rp.
Rp.
Rp.
Rp.
Rp.

200.000,00
500.000,00
100.000,00
200.000,00
250.000,00

Rp. 100.000,00
Rp. 300.000,00 +
Rp. 3.206.000,00

c.
d.
e.
f.
-

a. Acara
b. Konsumsi (penyuluhan dan penutupan)
- Snack peserta @Rp 5.000,00 x 100
- Snack pembicara @Rp8.000,00 x 3
- Makan besar peserta@Rp 10.000,00 x 100
Kesekretariatan
Cetak undangan
SOP
Humas
Pubdekdok
Cocard Peserta @Rp. 1.000 x 100
Dokumentasi
Lefleat @Rp. 2.500 x 100
Perlengkapan
Perijinan tempat
Peminjaman alat
Biaya Total Penyuluhan
Biaya total Keseluruhan

Rp. 500.000,00
Rp.
24.000,00
Rp. 1.000.000,00
Rp.
Rp.

25.000,00
7.000,00

Rp.
Rp.
Rp.

100.000,00
200.000,00
250.000,00

Rp. 100.000,00
Rp. 300.000,00 +
Rp. 2.506.000,00
Rp. 7.608.000,00

F. Indikator Keberhasilan Program


a. Indikator Input
1) Adanya rencana kerja ASTAP
2) Adanya dana program ASTAP
3) Adanya sarana dan prasarana program ASTAP
4) Adanya tenaga pelaksana sesuai dengan bidangnya
b. Indikator Proses
1) Dilaksanakannya advokasi dan sosialisasi ASTAP
2) Terbentuknya kelompok kader ASTAP
3) Dilaksanakannya kegiatan penyuluhan ASTAP sesuai dengan
Standard Operational Procedure (SOP)
4) Keaktifan dari 80% peserta dalam penyuluhan
5) Jumlah peserta penyuluhan yang hadir 80% dari total undangan
6) Dilaksanakannya pendampingan minum obat (PMO) oleh kader
ASTAP
c. Indikator Output
1) Meningkatnnya pengetahuan dan kemampuan kader posyandu
mengenai pneumonia pada balita.

2) Meningkatnya pengetahuan dan sikap peserta penyuluhan ditandai


dari hasil Pre Test dan Post Test.
3) Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup
bersih dan sehat
d. Indikator Outcome
1) Menurunnya angka morbiditas pneumonia pada balita
2) Menurunnya angka mortalitas balita akibat pneumonia
G. Monitoring dan Evaluasi Program
G.1. Pemantauan
Pemantauan program ASTAP (Anak Sehat Tanpa Pneumonia)
dilakukan secara berjenjang dan terus-menerus meliputi input, proses, dan
output. Proses pelaksanaan pemantauan mencakup indikator, jadwal
pemantauan, pelaksana pemantauan, cara pemantauan dan instrumen
pemantauan.
1. Indikator
a. Indikator Input
1). Adanya rencana kerja ASTAP
2). Adanya dana program ASTAP
3). Adanya sarana dan prasarana program ASTAP
4). Adanya tenaga pelaksana sesuai dengan bidangnya
b. Indikator Proses
1) Dilaksanakannya advokasi dan sosialisasi ASTAP
2) Terbentuknya kelompok kader ASTAP
3) Dilaksanakannya kegiatan penyuluhan ASTAP sesuai dengan Standard
Operational Procedure (SOP)
4) Keaktifan dari 80% peserta dalam penyuluhan
5) Jumlah peserta penyuluhan yang hadir 80% dari total undangan
6) Dilaksanakannya pendampingan minum obat (PMO) oleh kader ASTAP
c. Indikator Output
1) Meningkatnnya pengetahuan dan kemampuan kader posyandu mengenai
pneumonia pada balita
2) Meningkatnya pengetahuan dan sikap peserta penyuluhan ditandai dari
hasil Pre Test dan Post Test
3) Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih dan
sehat
d. Indikator Outcome
1) Menurunnya angka morbiditas pneumonia pada balita
2) Menurunnya angka mortalitas balita akibat pneumonia
2. Jadwal pemantauan

Pemantauan dilakukan selama kegiatan ASTAP berlangsung, yakni


disesuaikan dengan jadwal kegiatan yang sedang berlangsung.
3. Pelaksana pemantauan
Pemantauan dilaksanakan oleh pengelola program pada masing-masing
puskesmas.
4. Cara Pemantauan
Pemantauan dilaksanakan dengan cara wawancara dengan petugas
kesehatan, tokoh agama/masyarakat, diskusi kelompok terarah dengan
petugas kesehatan dan masyarakat sasaran.
5. Instrumen Pemantauan
Pemantauan dilakukan sesuai dengan daftar isian (checklist) pemantauan
G.2. Evaluasi
Penilaian program ASTAP adalah suatu proses menentukan nilai atau
besarnya keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Proses penilaian mencakup indikator, jadwal penilaian,
pelaksana penilaian, dan cara penilaian.
1.

Indikator
Indikator yang dapat digunakan dalam penilaian dikelompokkan
dalam 3 kategori, yaitu sebagai berikut:
1) Hasil akhir (outcome), yaitu menurunnya angka morbiditas dan
mortalitas pada balita akibat pneumonia
2) Hasil antara (output),yaitu meningkatnya pengetahuan dan sikap
peserta penyuluhan ditandai dari hasil Pre Test dan Post Test,
meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berperilaku hidup bersih
dan sehat
3) Proses, yaitu menilai berjalannya kegiatan-kegiatan sesuai dengan
rencana
4) Masukan (input), yaitu jumlah sarana, prasarana, tenaga, dan dana

2.

yang dipergunakan untuk kegiatan ASTAP


Jadwal penilaian
Penilaian dapat dilakukan:
1) Setelah rangkaian kegiatan ASTAP selesai dilaksanakan
2) Saat akhir tahun melalui surveilen penyakit menular di wilayah kerja
Puskesmas untuk melihat perubahan jumlah kasus kejadian

pneumonia. Keberhasilan kegiatan dinilai berdasarkan penurunan


3.

4.

junlah kejadian diare.


Pelaksana Penilaian
Penilaian dilaksanakan oleh pengelola program pada masing-masing
puskesmas atau unit penilai independen
Cara penilaian
1)
Observasi
2)
Wawancara
3)
Diskusi Kelompok Terarah
4)
Kunjungan secara teratur atau kunjungan mendadak
5)
Wawancara secara acak kepada target sasaran

H. Jadwal Kegiatan Program Astap


No

Minggu

.
1.

2.
3.

Jenis Kegiatan
Advokasi dan
sosialisasi
kegiatan
ASTAP
Pembentukkan
kader
Pelatihan
kader

4.

Penyuluhan
Ibu hamil
Orang tua
dengan anak
risiko tinggi
pneumonia

5.

PMO
Buku diary
obat anak
SMS
Door to door