Anda di halaman 1dari 8

Proses Pengolahan CPO (Crude Palm Oil) menjadi Minyak Goreng

Minyak goreng sawit adalah minyak fraksi cair berwarna kuning kemerahan yang diperoleh
dengan cara fraksinasi minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil) yang telah mengalami proses
pemurnian. CPO adalah minyak berwarna jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari
pengempaan mesokarp kelapa sawit. Secara keseluruhan proses penyulingan minyak kelapa
sawit tersebut dapat menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5% PFAD (Palm Fatty Acid
Distillate) dan 0.5% buangan.
Berikut Diagram Alir Pengolahan Minyak Goreng :

Proses pengolahan minyak goreng tersebut adalah :


1)

Pemurnian

Proses pemurnian minyak sawit ini dibagi menjadi 4 tahap, yaitu:


(a)

Degumming

Degumming adalah proses pemisahan getah yang terdiri dari fosfatida, protein, karbohidrat dan
resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam CPO. Proses ini dilakukan dengan
menambah air, uap air atau asam fosfat. Setelah bahan pengotor terpisah dari minyak maka
dilakukan sentrifusi. Suhu yang digunakan adalah 32C 50C agar kekentalan minyak
berkurang dan gum mudah terpisahkan.
(b) Netralisasi
Proses netralisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan soda api, alkali karbonat,
kapur dan bahan kimia lainnya. Yang banyak digunakan adalah soda api karena pertimbangan
biaya dan efisiensi, soda api dapat menetralkan asam lemak bebas, menghilangkan sebagian zat
warna dan lendir yang tidak hilang saat degumming.
Untuk engurangi kehilangan minyak saat netralisasi maka perlu diperhatikan konsentrasi alkali,
waktu dan suhu netralisasi.
Jika konsentrasinya terlalu tinggi menyebabkan reaksi dengan trigliserida sehingga mengurangi
rendemen minyak dan meningkatkan jumlah sabun yang terbentuk.
(c)

Pemucatan

Proses pemucatan atau bleaching dimaksudkan untuk menghilangkan zat warna pada minyak
sawit adalah karoten. Proses ini dapat berpengaruh negatif karena dapat merusak antioksidan
alami dan komponen sinergisnya seperti tokoferol, karotenoid dan fosfolipida yang dapat

menurunkan stabilitas minyak terhadap oksidasi. Pemucatan dapat dilakukan dengan beberapa
cara, yaitu:

(d) Deodorisasi
Deodorisasi bertujuan untuk menghilangkan bau yang tidak dikehendaki dan menghilangkan
asam lemak bebas. Cara yang digunakan adalah metode destilasi. Minyak hasil proses pemucatan
dimasukan ke dalam ketel deodorisasi dan dipanaskan pada suhu 200-250C pada tekanan 1 atm
dan selanjutnya dialiri uap panas selama 4-6 jam. Pemakaian suhu tinggi digunakan untuk
menguapkan bau sedangkan pengurangan tekanan bertujuan untuk mencegah hidrolisa oleh uap
air.
Tekanan uap zat bau sangat rendah sehingga untuk menghilangkannya diperlukan suhu tinggi.
Namun suhu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada minyak sehingga diupayakan
menurunkan suhu destilasi dengan pemberian gas inert (uap air kering).

2)

Fraksinasi

Fraksinasi adalah proses pemisahan antara fraksi padat yaitu stearin dengan fraksi cair yaitu
olein. Setelah proses degumming suhu diturunkan 60C menjadi 30C selama 3-4 jam sampai
terbentuk Kristal. Pada akhir pembentukan Kristal ditambahkan larutan detergen dan magnesium
sulfat sehingga permukaan Kristal yang terbentuk dilapisi oleh detergen dan memisahkan dengan
olein cair. Fraksi cair dipisahkan dengan sentrifugasi sehingga diperoleh olein serta campuran
stearin dan detergen . pemisahan antara stearin dan detergen dilakukan dengan sentrifugasi.

Menurut pengamatan, titik kritis pada pengolahan minyak goreng ini terdapat pada pemucatan
(bleaching) karena proses ini dapat berpengaruh negative yaitu dapat merusak antioksidan alami
dan komponen sinergisnya seperti tokoferol, karotenoid dan fosfolipida sehingga dapat
menurunkan stabilitas minyak terhadap oksidasi. Proses pemucatan yang lebih baik adalah
dengan pemanasan karena antioksidan, tokoferol, dan karotenoid stabil terhadap panas.

3)

Pengemasan

4)

Pengepakan

Limbah Pengolahan Minyak

Industry pengolahan minyak nabati ini selain menghasilkan minyak edible yang merupakan
produk utama juga menghasilkan produk samping. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku biodiesel yang relative murah yang diambil dari produk samping dan limbah industri
minyak kelapa sawit tersebut, bahan yang masih dapat dimanfaatkan antara lain:

CPO offgrade, adalah CPO yang berkadar keasaman lebih dari 5%.

CPO Parit, merupakan limbah kelapa sawit. Limbah ini berupa campuran air dan minyak
yang banyak ditampung di lagoon di perusahaan pengolah kelapa sawit. Limbah ini
mengandung 0.5-1% minyak sawit.

CPO PFAD, Palm Fatty Acid Distillate atau dikenal juga sebagai DALMS atau distilat
asam lemak minyak sawit. PFAD merupakan limbah pengolahan CPO menjadi minyak
goreng. CPO diolah menjadi minyak cair (olein) dan padat (stearin). Olein diolah lebih
lanjut menjadi m,inyak goreng sedangkan stearin menjadi margarine. PFAD volumenya
6% dari CPO, sedangkan harganya 80% CPO standar.

Proses Pembuatan Minyak Goreng dari kelapa Sawit


Pabrik Pengolahan Minyak Goreng (PPMG) ini adalah pabrik yang memproduksi minyak
goreng dari bahan baku CPO (Crude Palm Oil / minyak sawit mentah). CPO yang diperoleh dari
hasil proses pressing dan ekstraksi di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) masih mengandung komponenkomponen yang tidak diinginkan yaitu asam lemak bebas (FFA = Free Fatty Acid), resin, gum,
protein, fosfatida, pigmen warna dan bau. Agar dapat dipergunakan sebagai bahan makanan,
maka CPO tersebut harus diproses lagi di Pabrik Pengolahan Minyak Goreng. Secara garis besar
proses pada Pabrik Pengolahan Minyak Goreng terdiri dari proses refining (pemurnian) dan
fractionation (fraksionasi). Proses pemurnian terdiri dari proses degumming, proses netralisasi,
proses bleaching dan proses deodorisasi. Minyak yang diperoleh dari proses refining terdiri dari
olein (minyak goreng) dan stearin, dalam proses fraksionasi stearin dipisahkan dari olein. Untuk
memperjelas alur proses pengolahan minyak goreng dapat dilihat pada diagram blok Pengolahan
CPO menjadi Minyak Goreng sebagai berikut :

1.Proses Degumming
Proses degumming bertujuan untuk menghilangkan zat-zat yang terlarut atau zat-zat yang
bersifat koloidal, seperti resin, gum, protein dan fosfatida dalam minyak mentah. Pada prinsipnya
proses degumming ini adalah proses pembentukan dan pengikatan flok-flok dari zat-zat terlarut
dan zat-zat yang bersifat koloidal dalam minyak mentah, sehingga flok-flok yang terbentuk
cukup besar untuk bisa dipisahkan dari minyak. Proses degumming yang paling banyak
digunakan dewasa ini adalah proses degumming dengan menggunakan asam. Pengaruh yang
ditimbulkan oleh asam tersebut adalah menggumpalkan dan mengendapkan zat-zat seperti
protein, fosfatida, gum dan resin yang terdapat dalam minyak mentah.
2 Proses Netralisasi
Proses netralisasi atau deasidifikasi pada pemurnian minyak mentah bertujuan untuk
menghilangkan asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak mentah. Asam lemak bebas
(FFA) dapat menimbulkan bau yang tengik. Proses netralisasi yang paling sering digunakan

dalam industri kimia adalah proses netralisasi dengan soda kostik, dengan prinsip reaksi
penyabunan antara asam lemak bebas dengan larutan soda kostik, yang reaksi penyabunannya
sebagai berikut :
R----COOH + NaOH R-COONa

+ H2O

Kondisi reaksi yang optimum pada tekanan atmosfir adalah pada suhu 70 oC, dimana
reaksinya merupakan reaksi kesetimbangan yang akan bergeser ke sebelah kanan. Soda kostik
yang direaksikan biasanya berlebihan, sekitar 5 % dari kebutuhan stokiometris. Sabun yang
terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan. Soda kostik disamping berfungsi sebagai
penetralisir asam lemak bebas, juga memiliki sifat penghilang warna (decoulorization).

3 Proses Bleaching
Proses bleaching (pemucatan) dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan zatzat warna (pigmen) dalam minyak mentah, baik yang terlarut ataupun yang terdispersi.
Warna minyak mentah dapat berasal dari warna bawaan minyak ataupun warna yang timbul pada
proses pengolahan CPO menjadi minyak goreng. Pigmen yang biasa terdapat di dalam suatu
minyak mentah ialah carotenoid yang berwarna merah atau kuning, chlorophillida dan
phaephytin yang berwarna hijau. Proses bleaching yang digunakan adalah proses bleaching
dengan absorbsi. Proses ini menggunakan zat penyerap (absorben) yang memiliki aktivitas
permukaan yang tinggi untuk menyerap zat warna yang terdapat dalam minyak mentah.
Disamping menyerap zat warna, absorben juga dapat menyerap zat yang memiliki sifat koloidal
lainnya seperti gum dan resin. Absorben yang paling banyak digunakan dalam proses bleaching
minyak dan lemak adalah tanah pemucat (bleaching erath) dan arang (carbon). Arang sangat
efektif dalam penghilangan pigmen warna merah, hijau dan biru, tetapi karena harganya terlalu
mahal maka dalam pemakaiannya biasanya dicampur dengan tanah pemucat dengan jumlah yang
disesuaikan terhadap jenis minyak mentah yang akan dipucatkan.

4. Proses Deodorisasi
Proses deodorisasi bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa dan bau yang
tidak dikehendaki dalam minyak untuk makanan. Senyawa-senyawa yang menimbulkan rasa dan
bau yang tidak enak tersebut biasanya berupa senyawa karbohidrat tak jenuh, asam lemak bebas
dengan berat molekul rendah, senyawa-senyawa aldehid dan keton serta senyawa-senyawa yang
mempunyai volatilitas tinggi lainnya. Kadar senyawa-senyawa tersebut di atas, walaupun cukup
kecil telah cukup untuk memberikan rasa dan bau yang tidak enak, kadarnya antara 0,001 0,1
%. Proses deodorisasi yang banyak dilakukan adalah cara distilasi uap yang didasarkan pada
perbedaan harga volatilitas gliserida dengan senyawa-senyawa yang menimbulkan rasa dan bau
tersebut, dimana senyawa-senyawa tersebut lebih mudah menguap dari pada gliserida. Uap yang
digunakan adalah superheated steam (uap kering), yang mudah dipisahkan secara kondensasi.
Proses deodorisasi sangat dipengaruhi oleh faktor tekanan, temperatur dan waktu, yang
kesemuanya harus disesuaikan dengan jenis minyak mentah yang diolah dan sistim proses yang
digunakan. Temperatur operasi dijaga agar tidak sampai menyebabkan turut terdistilasinya
gliserida. Tekanan diusahakan serendah mungkin agar minyak terlindung dari oksidasi oleh
udara dan mengurangi jumlah pemakaian uap. Pada sistem batch ini, tekanan operasi sekitar 3
torr dan temperatur 240 oC.

5.Proses Fraksionasi
Proses fraksionasi terdiri atas kristalisasi suatu fraksi yang menjadi padat pada temperatur
tertentu dan disusul dengan pemisahan kedua fraksi itu. Fraksi yang menjadi kristal adalah
stearin dan yang tetap cair adalah olein.Beberapa proses fraksionasi yang sering digunakan
yaitu :
Fraksionasi kering (fraksionasi tanpa pelarut).
Fraksionasi basah (fraksionasi dengan pelarut).
Fraksionasi dengan menggunakan larutan deterj

en sodium lauryl sulphat.Proses fraksionasi kering didasarkan pada pendinginan minyak


dengan kondisi yang terkendali tanpa penambahan bahan kimia apapun. Ada tiga operasi yang
terlibat yaitu seeding, kristalisasi, dan filtrasi. Mula-mula minyak dipanasi sampai 70 oC untuk
memperoleh cairan homogen dan kemudian didinginkan

dengan air pendingin sampai

temperatur 40 oC, selanjutnya didinginkan samapi temperatur 20 oC dan dipertahankan sampai


proses kristalisasi dianggap selesai.
Fungsi pengadukan ini adalah agar pendinginan di dalam tangki lebih homogen sehingga
pemisahan olein dan stearin lebih mudah.
Temperatur pengkristalan ini tergantung pada kualitas minyak:
Kualitas consumer kristal lemak terbentuk pada temperatur 28C.
Pada proses filtrasi RBDPO kristal yang sudah terbentuk dalam tangki kristalisasi
ditransfer ke filter press untuk pemisahan olein dan stearin. Olein hasil dari filtrasi
ditransfer ke SS tank dan MS tank. SS tank untuk kualitas olein dianalisa jika sesuai
dengan spesifikasi langsung masuk ke storage tank olein (kualitas bottling), sedangkan
MS tank digunakan untuk kualitas olein yang RBD oleinnya difilter spray dan hasilnya
langsung dialirkan ke storage tank olein (kualitas drumming, tinning dan industri).
Sebelum

ditansfer

ke

intermediate

tank,

untuk

kualitas

bottling

dan

tinning

ditambahkan antioksidan hal ini untuk mempertahankan kualitas minyak. Sedangkan


untuk kualitas drumming dan ndustri tidak ditambahkan antioksidan. Hal ini disebabkan
minyak dengan kualitas drumming dan industri segera digunakan/dikonsumsi.