Anda di halaman 1dari 8

SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat SAPD adalah rangkaian
sistematik dari prosedur, penyelenggara, peralatan, dan elemen lain untuk mewujudkan fungsi
akuntansi sejak analisis transaksi sampai dengan pelaporan keuangan di lingkungan
organisasi pemerintahan daerah. SAPD memuat pilihan prosedur dan teknik akuntansi dalam
melakukan identifikasi transaksi, pencatatan pada jurnal, posting kedalam buku besar,
penyusunan neraca saldo serta penyajian laporan keuangan.
Di samping itu, Sebagai sebuah pedoman, SAPD menjelaskan siapa melakukan apa sekaligus
menegaskan transaksi apa dicatat bagaimana. Oleh karena itu, langkah-langkah yang harus
diperhatikan dalam penyusunan SAPD antara lain: mengidentifikasi prosedur, menentukan
pihak-pihak terkait, menentukan dokumen terkait, menentukan jurnal standar, dan
menuangkannya dalam langkah teknis.
SAPD terdiri atas sistem akuntansi Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) dan sistem
akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Sistem akuntansi PPKD meliputi teknik
pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA,
belanja, transfer, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi, penyusunan
laporan keuangan PPKD serta penyusunan laporan keuangan konsolidasian pemerintah
daerah. Sedangkan Sistem akuntansi SKPD meliputi teknik pencatatan, pengakuan dan
pengungkapan atas pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, aset, kewajiban,
ekuitas, penyesuaian dan koreksi serta penyusunan laporan keuangan SKPD.
Pendapatan LO
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktifitas normal
perusahaan satu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan akuitas yang tidak
berasal dari kontribusi penanam modal (PSAK No. 23).
Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah nilai
kekayaan bersih. (PSAP No.12, Paragraf 8).
Mengakui pendapatan ketika pendapatan tersebut diterima di rekening umum negara/daerah
yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan
yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. (PSAP No.3,
Paragraf 21.
Pendapatan di PPKD diakui pada saat diterima di Rekening Kas Umum Daerah.
Pendapatan diakui pada saat diterima oleh Bendahara Penerimaan untuk seluruh transaksi
SKPD.
Pendapatan-LO diakui pada saat:
a) Timbulnya hak atas pendapatan;
b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.

Sistem Akuntansi PPKD


Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah Kepala Satuan
Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD
dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. Tabel berikut ini mengikhtisarkan transaksitransaksi pada sistem akuntansi PPKD, pihak-pihak yang terkait, dan saat kapan pencatatan
harus dilakukan.
1. Sistem Akuntansi Pendapatan
Pihak Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pendapatan pada PPKD antara lain:
a) Bendahara PPKD
Bendahara PPKD mencatat dan membukukan semua penerimaan pendapatan
kedalam buku kas penerimaan, membuat Rekap Penerimaan Harian yang
bersumber dari Pendapatan, dan melakukan penyetoran uang yang diterima ke
kas daerah setiap hari.
b) Fungsi Akuntansi PPKD
Fungsi Akuntansi PPKD mencatat transaksi/kejadian pendapatan LO dan
Pendapatan LRA berdasarkan bukti bukti transaksi yang sah dan valid ke
Buku Jurnal LRA dan Buku Jurnal LO dan Neraca, melakukan posting jurnal
jurnal transaksi/kejadian pendapatan LO dan pendapatan LRA kedalam Buku
Besar masing masing rekening (rincian objek), dan menyusun Laporan
Keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan
Perubahan SAL (LP.SAL), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan
Ekuitas (LPE), Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan keuangan.
c) PPKD selaku BUD
PPKD selaku BUD menandatangani/mengesahkan dokumen surat ketetapan
pajak/retribusi daerah dan menandatangani laporan keuangan yang telah
disusun oleh Fungsi Akuntansi SKPD.
2. Sistem Akuntansi Beban dan Belanja
Pihak pihak yang terkait dalam sistem akuntansi beban dan belanja antara lain:
a) Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD)
PPK-PPKD mencatat transaksi/kejadian beban dan belanja berdasarkan buktibukti transaksi yang sah dan valid ke Buku Jurnal LRA dan Buku Jurnal LO
dan Neraca, melakukan posting jurnal-jurnal transaksi/kejadian pendapatan
LO dan pendapatan LRA kedalam Buku Besar masing-masing rekening
(rincian objek), dan menyusun Laporan Keuangan, yang terdiri dari Laporan
Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan
SAL, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan Catatan atas
Laporan keuangan.
b) Bendahara Pengeluaran PPKD
Bendahara Pengeluaran PPKD mencatat dan membukukan semua pengeluaran
beban dan belanja kedalam buku kas umum PPKD dan membuat SPJ atas
beban dan belanja.
3. Sistem Akuntansi Transfer

Pihak Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi transfer masuk dan transfer keluar
antara lain Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD dan Bendahara Pengeluaran
PPKD.
4. Sistem Akuntansi Pembiayaan
Pihak-pihak yang terkait dengan sistem akuntansi pembiayaan antara lain Fungsi
Akuntansi PPKD, BUD, dan PPKD.
5. Akuntansi Kas dan Setara Kas
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi kas dan setara kas pada PPKD antara
lain Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPKPPKD), Bendahara Penerimaan
PPKD, Bendahara Pengeluaran PPKD dan PPKD.
6. Sistem Akuntansi Piutang
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi piutang antara lain Pejabat
Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD) dan Bendahara Penerimaan PPKD.
7. Sistem Akuntansi Investasi
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi investasi antara lain Pejabat
Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD) dan PPKD.
8. Akuntansi Dana Cadangan
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi dana cadangan antara lain :
a) Pejabat Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD)
PPK-PPKD memiliki tugas mencatat transaksi/kejadian dana cadangan
berdasarkan buktibukti transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum, memposting
jurnal-jurnal transaksi/kejadian Dana Cadangan ke dalam Buku Besar masingmasing rekening (rincian objek), dan membuat laporan keuangan, yang terdiri dari
Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO), Laporan
Perubahan SAL (LPSAL), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Laporan Arus Kas
(LAK), Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
b) PPKD
Dalam sistem akuntansi dana cadangan, PPKD memiliki tugas menandatangani
laporan
keuangan
PPKD
sebelum
diserahkan
dalam
proses
penggabungan/konsolidasi yang dilakukan oleh fungsi akuntansi PPKD dan
menandatangani surat pernyataan tanggung jawab PPKD
Pengakuan Pendapatan-LO pada PPKD
1. Pendapatan Asli Daerah
Merupakan pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan Peraturan
Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan. Pendapatan tersebut dapat
dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu PAD Melalui Penetapan, PAD Tanpa
Penetapan, dan PAD dari Hasil Eksekusi Jaminan.
a) PAD Melalui Penetapan
PAD yang masuk ke dalam kategori ini adalah Tuntutan Ganti Kerugian Daerah,
Pendapatan Denda atas Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan, Pendapatan Denda
Pajak, dan Pendapatan Denda Retribusi. Pendapatan-pendapatan tersebut diakui
ketika telah diterbitkan Surat Ketetapan atas pendapatan terkait.

b) PAD Tanpa Penetapan


PAD yang masuk ke dalam kategori ini antara lain Penerimaan Jasa Giro,
Pendapatan Bunga Deposito, Komisi, Potongan dan Selisih Nilai Tukar Rupiah,
Pendapatan dari Pengembalian, Fasilitas Sosial dan Fasilitas Umum, Pendapatan
dari Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan, Pendapatan dari
Angsuran/Cicilan Penjualan, dan Hasil dari Pemanfaatan Kekayaan Daerah.
Pendapatan-pendapatan tersebut diakui ketika pihak terkait telah melakukan
pembayaran langsung ke Rekening Kas Umum Daerah
c) PAD dari Hasil Eksekusi Jaminan
Pendapatan hasil eksekusi jaminan diakui saat pihak ketiga tidak menunaikan
kewajibannya. Pada saat tersebut, PPKD akan mengeksekusi uang jaminan yang
sebelumnya telah disetorkan, dan mengakuinya sebagai pendapatan. Pengakuan
pendapatan ini dilakukan pada saat dokumen eksekusi yang sah telah diterbitkan.
2. Pendapatan Transfer
Pemerintah Pusat akan mengeluarkan ketetapan mengenai jumlah dana transfer yang
akan diterima oleh Pemerintah Daerah. Namun demikian ketetapan pemerintah
belum dapat dijadikan dasar pengakuan pendapatan LO. Pengakuan pendapatan
transfer dilakukan bersamaan dengan diterimanya kas pada Rekening Kas Umum
Daerah. Walaupun demikian, pendapatan transfer dapat diakui pada saat terbitnya
peraturan mengenai penetapan alokasi, jika itu terkait dengan kurang salur.
3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
Lain- Lain Pendapatan Daerah yang Sah pada PPKD, antara lain meliputi
Pendapatan
Hibah. Naskah Perjanjian Hibah yang ditandatangani belum dapat
dijadikan dasar pengakuan pendapatan LO mengingat adanya proses dan persyaratan
untuk realisasi pendapatan hibah tersebut.
4. Pendapatan Non Operasional
antara lain Surplus Penjualan Aset Nonlancar, Surplus Penyelesaian Kewajiban
Jangka Panjang, Surplus dari Kegiatan Non Operasional Lainnya.
Pendapatan Non Operasional diakui ketika dokumen sumber berupa Berita Acara
kegiatan (misal: Berita Acara Penjualan untuk mengakui Surplus Penjualan Aset
Nonlancar) telah diterima.
Akuntansi Pendapatan PPKD
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
a) Pendapatan Pajak
Pendapatan Pajak-LO diakui pada saat kas diterima di kas daerah dan dicatat
berdasarkan dokumen sumber setoran pajak. Fungsi akuntansi PPKD
mencatat dengan jurnal:
Kas di Kas Daerah
xxx
Pendapatan Pajak...LO
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Pajak ....-LRA
xxx
Dalam hal pada akhir tahun terdapat surat ketetapan pajak yang belum dibayar oleh
masyarakat, maka nilainya diakui sebagai penambah Pendapatan Pajak-LO. Jurnal,
Piutang Pajak Daerah
xxx
Pendapatan Pajak ....LO
xxx
b) Hasil Eksekusi Jaminan
Pihak ketiga melakukan pembayaran uang jaminan bersamaan dengan
pembayaran perizinan, misal perizinan pemasangan iklan, kemudian akan

menerima Tanda Bukti Pembayaran (TBP). TBP juga menjadi dasar bagi Fungsi
Akuntansi PPKD untuk mengakui utang jaminan , dengan jurnal:
Kas di Kas Daerah
xxx
Utang Jaminan
xxx
Kemudian saat pihak ketiga tidak menunaikan kewajibannya, PPKD akan
mengeksekusi uang jaminan yang sebelumnya telah disetorkan. Fungsi Akuntansi
PPKD akan membuat bukti memorial terkait eksekusi jaminan tersebut untuk
diotorisasi oleh PPKD.
Utang Jaminan
xxx
Pendapatan Hasil Eksekusi atas JaminanLO
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Hasil Eksekusi Atas Jaminan LRA
xxx
c) Pendapatan Transfer
Untuk itu pengakuan pendapatan transfer dilakukan bersamaan dengan
diterimanya kas pada Rekening Kas Umum Daerah. Dalam kasus ini,
Fungsi Akuntansi PPKD akan mencatat dengan jurnal:
Kas di Kas Daerah
xxx
Pendapatan Transfer.... LO
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Transfer.... LRA
xxx
Walaupun demikian, pendapatan transfer dapat diakui pada saat terbitnya
dokumen resmi mengenai penetapan alokasi, jika itu terkait dengan kurang salur
sebagai dasar pencatatan pengakuan pendapatan. jurnal:
Piutang Pendapatan
xxx
Pendapatan Transfer.... LO
xxx
Apabila pemerintah daerah telah menerima dana transfer dari pemerintah pusat atas
kurang salur tersebut, maka Rekening Kas Umum Daerah akan mengeluarkan Nota
Kredit untuk PPKD. Berdasarkan Nota Kredit ini Fungsi Akuntansi PPKD akan
mencatat dengan jurnal:
Kas di Kas Daerah
xxx
Piutang Pendapatan Transfer ...
Xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Transfer.... LRA
xxx
2. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
a) Pendapatan Hibah
Naskah Perjanjian Hibah yang ditandatangani belum dapat dijadikan dasar
pengakuan pendapatan LO, mengingat adanya proses dan persyaratan untuk
realisasi pendapatan hibah tersebut. Untuk itu Fungsi Akuntansi PPKD mengakui
Pendapatan Hibah bersamaan dengan diterimanya kas pada RKUD dengan
mencatat jurnal:
Kas di Kas Daerah
xxx
Pendapatan Hibah-LO
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Hibah LRA
xxx
Khusus untuk hibah barang berupa aset tetap, fungsi akuntansi PPKD mencatat
dengan jurnal:
Aset Tetap
xxx
Pendapatan Hibah-LO
xxx

b) Pendapatan Non Operasional Surplus Penjualan Aset Nonlancar LO


Surplus Penjualan Aset Nonlancar pada PPKD berasal dari aktivitas pelepasan
investasi. Surplus terjadi ketika harga jual dalam pelepasan investasi lebih
tinggi daripada nilai buku investasi tersebut. Untuk transaksi pelepasan investasi,
berdasarkan dokumen transaksi yang dimiliki PPKD, Fungsi Akuntansi PPKD
mencatat dengan jurnal:
Kas di Kas Daerah
xxx
Surplus Pelepasan Investasi Jangka Panjang - LO
xxx
Investasi ...
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Penerimaan Pembiayaan
xxx
3. Pendapatan Non Operasional Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka
Panjang
Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang timbul karena harga perolehan
kembali (nilai yang harus dibayar) lebih rendah dibandingkan dengan nilai tercatat
(carrying value) dari kewajiban tersebut. Berdasarkan salinan SP2D LS PPKD,
Fungsi Akuntansi PPKD akan menghapus kewajiban yang telah dibayar dan
mengakui adanya surplus dari penyelesaian kewajiban tersebut dengan jurnal:
Kewajiban Jangka Panjang ....
Xxx
Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang ...-LO
xxx
Kas di Kas Daerah
xxx
Pengeluaran Pembiayaan
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Sistem Akuntansi SKPD
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah
pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Tabel berikut ini
mengikhtisarkan transaksi-transaksi pada sistem akuntansi SKPD, pihak-pihak yang terkait,
dan saat kapan pencatatan harus dilakukan.
1. Sistem Akuntansi Pendapatan
Pihak Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pendapatan pada SKPD antara lain:
a) Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD)
PPK-SKPD mencatat transaksi/kejadian pendapatan LO dan Pendapatan LRA
berdasarkan bukti bukti transaksi yang sah dan valid ke Buku Jurnal LRA dan
Buku Jurnal LO dan Neraca, melakukan posting jurnal jurnal transaksi/
kejadian pendapatan LO dan pendapatan LRA kedalam Buku Besar masing
masing rekening (rincian objek), serta menyusun Laporan Keuangan, yang
terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO),
Neraca dan Catatan atas Laporan keuangan.
b) Bendahara Penerimaan SKPD
Bendahara Penerimaan SKPD mencatat dan membukukan semua penerimaan
pendapatan kedalam buku kas penerimaan, membuat Rekap Penerimaan
Harian yang bersumber dari Pendapatan, dan melakukan penyetoran uang
yang diterima ke kas daerah setiap hari.
c) PA/KPA.

PA/KPA
menandatangani/mengesahkan
dokumen
surat
ketetapan
pajak/retribusi daerah dan menandatangani laporan keuangan yang telah
disusun oleh Fungsi Akuntansi SKPD.
2. Sistem Akuntansi Beban dan Belanja
Pihak pihak yang terkait dalam sistem akuntansi beban dan belanja antara lain:
a) Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD)
PPK-SKPD melaksanakan fungsi akuntansi SKPD untuk mencatat
transaksi/kejadian beban dan belanja berdasarkan bukti bukti transaksi yang sah
dan valid ke Buku Jurnal LRA dan Buku Jurnal LO dan Neraca, melakukan
posting jurnal-jurnal transaksi/kejadian beban dan belanja kedalam Buku Besar
masing masing rekening (rincian objek), dan menyusun Laporan Keuangan, yang
terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO),
Neraca, Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) , dan Catatan atas Laporan keuangan.
b) Bendahara Pengeluaran SKPD
Bendahara Pengeluaran SKPD mencatat dan membukukan semua pengeluaran
beban dan belanja kedalam buku kas umum SKPD dan membuat SPJ atas beban
dan belanja.
Pengakuan Pendapatan-LO pada SKPD
Pendapatan Daerah pada SKPD hanya sebagian dari Pendapatan Asli Daerah yaitu
pendapatan pajak daerah dalam hal instansi pungutan pajak terpisah dari BUD, pendapatan
retribusi dan sebagian dari lain-lain PAD yang sah.
Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut
berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan. Alternatif
pengakuan pendapatan tersebut dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Alternatif satu yaitu kelompok pendapatan pajak yang didahului oleh penerbitan
Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP Daerah) untuk kemudian dilakukan
pembayaran oleh wajib pajak yang bersangkutan. Pendapatan Pajak ini diakui ketika
telah diterbitkan penetapan berupa Surat Ketetapan (SK) atas pendapatan terkait.
2. Alternatif dua yaitu kelompok pendapatan pajak yang didahului dengan penghitungan
sendiri oleh wajib pajak dan dilanjutkan dengan pembayaran oleh wajib pajaK
berdasarkan perhitungan tersebut. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan terhadap
nilai pajak yang dibayar apakah sudah sesuai, kurang atau lebih bayar untuk
kemudian
dilakukan
penetapan.
Pendapatan
Pajak
ini
diakui
ketika telah diterbitkan penetapan berupa Surat Ketetapan (SK) atas pendapatan
terkait.
3. Alternatif Tiga yaitu kelompok pendapatan retribusi yang pembayarannya diterima
untuk memenuhi kewajiban dalam periode tahun berjalan. Pendapatan retribusi ini
diakui ketika pembayaran telah diterima.
Transaksi pendapatan SKPD merupakan pendapatan yang dipungut berdasarkan peraturan
daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal instansi pemungut pajak
terpisah dari bendahara umum daerah (BUD), maka pajak daerah dianggarkan dan dicatat
pada instansi tersebut. Sebaliknya apabila pemungutan pajak dilakukan oleh pejabat
pengelolaan keuangan daerah (PPKD) selaku BUD, pajak daerah dianggarkan dan dicatat
oleh PPKD. Ilustrasi pencatatan dalam hal instansi pemungut pajak terpisah dari PPKD
disajikan sebagai berikut :
1. Pemungutan pajak dapat didahului dengan penerbitan Surat Ketetapan Pajak Daerah
maupun penyetoran langsung oleh masyarakat. Terhadap kedua cara pemungutan

tersebut pengakuan pendapatan pajak dilakukan pada saat penyetoran oleh


Wajib Pajak ke Rekening Kas Daerah.
Kas di Bendahara Penerimaan
xxx
Pendapatan Pajak Daerah ...-LO
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Pajak Daerah ...-LRA
xxx
Atas pajak yang diterima tersebut akan dilakukan penyetoran ke Kas Daerah dengan
menggunakan Surat Tanda Setoran (STS). Berdasarkan STS tersebut, PPK-SKPD
mencatat dengan jurnal:
RK PPKD
xxx
Kas di Bendahara Penerimaan
xxx
Pada akhir tahun terhadap SKP yang belum dilunasi, PPK SKPD mencatat dengan
jurnal:
Piutang Pajak Daerah ...
Xxx
Pendapatan Pajak Daerah.. - LO
xxx
2. Kelompok pendapatan retribusi untuk memenuhi kewajiban dalam periode tahun
berjalan, diakui ketika pembayarannya telah diterima.TBP juga menjadi dasar bagi
PPK SKPD untuk mengakui pendapatan dengan mencatat jurnal:
Kas di Bendahara Penerimaan
xxx
Pendapatan Retribusi Daerah -LO
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
Pendapatan Retribusi Daerah -LRA
xxx
Atas retribusi yang diterima tersebut akan dilakukan penyetoran ke Kas Daerah
dengan menggunakan Surat Tanda Setoran (STS). Berdasarkan STS tersebut,
PPK-SKPD mencatat dengan jurnal:
RK PPKD
xxx
Kas di Bendahara Penerimaan
xxx
Pada akhir tahun terhadap SKR yang belum dilunasi, PPK SKPD mencatat jurnal:
Piutang Retribusi Daerah..
Xxx
Pendapatan Retribusi Daerah. - LO
xxx