Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Batuk merupakan salah satu gejala yang paling sering ditemukan
pada anak dan merupakan keluhan yang seringkali menyebabkan orang tua
membawa anak mereka ke dokter. Batuk merupakan gejala dari sebagian
besar infeksi pernapasan yang tidak segera ditangani akan dapat
menimbulkan komplikasi. Kadang-kadang batuk terdengar hebat. Namun
demikian, biasanya batuk bukan merupakan gejala yang membahayakan.
Sebenarnya batuk merupakan suatu refleks tubuh untuk membantu
membersihkan jalan napas. Batuk merupakan gejala dan bukan penyakit.
Sehingga jika anak batuk, harus dipikirkan apa yang menjadi penyebabnya.
Oleh karena itu para orang tua dan petugas kesehatan perlu mengenali jenisjenis batuk agar tahu bagaimana menanganinya dan kapan harus
memberikan tindakan atau terapi yang lebih intensif.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1

Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menerapkan asuhan kebidanan, pada bayi dan anak,
sehingga

dapat

memperluas,

memperbanyak

pengetahuan

dan

ketrampilan mengenai asuhan kebidanan pada bayi normal.


1.2.2

Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mampu melakukan pengkajian data klien
Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah
berdasarkan data klien
Agar mahasiswa mampu megidentifikasi diagnosa dan masalah
potensial
Agar mahasiswa mampu mengidentifikasi kebutuhan segera yang
dibutuhkan klien berdasarkan diagnsa.

Agar mahasiswa mampu mengembangkan rencana tindakan atau


intervensi untuk mengatasi masalah klien
Agar mahasiswa mampu melaksanakan asuhan yang telah
direncanakan.
Agar mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan yang telah
dilakukan.
1.3 Metode Penulisan
1. Metode penulisan ini adalah studi kepustakaan dalam bentuk studi kasus
yaitu mencari gambaran yang lebih jelas dari proses kebidanan saat ini.
2. Teknik pengumpulan data
a. Anamnese
Pengambilan data dengan tanya jawab langsung dengan pasien
b. Pemeriksaan
Melakukan pemeriksaan fisik : inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi
untuk mendapatkan data.
c. Pengkajian catatan medik dengan kepustakaan.
Mengkaji keadaan pasien dengan menggunakan catatan medik dan
kepustakaan yang berhubungan dengan kasus kebidanan.
1.4 Sistematika Penulisan
BAB I

: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan
1.3 Metode Penulisan
1.4 Sistematika Penulisan

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA

BAB III

: TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian Data
3.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah
3.3 Antisipasi Masalah Potensial
3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera

3.5 Intervensi
3.6 Implementasi
3.7 Evaluasi.
BAB IV

: PEMBAHASAN

BAB V

: PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

Daftar Pustaka.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

KONSEP BAYI NORMAL

2.1

Pengertian
Bayi lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu sampai
42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai 4000 gram. (Nurcahyo,
2007)

2.2

Ciri-ciri Bayi Normal


Tanda-tanda bayi lahir sehat :
a.Segera menangis
b.Pernapasan teratur
c.Banyak bergerak
d.Warna kulit merah muda
e.Berat badan 2500 gram sampai 4000 gram
Tanda-tanda adanya penyakit atau kelainan pada bayi :
a.Tidak mau minum
b.Mencucur seperti mulut ikan
c.Kejang-kejang
d.Nafas cepat dan sesak
e.Diare terus menerus. (Nurcahyo, 2007)

2.3

Penampilan Bayi Normal.


a.Bentuk Kepala
Bayi yang dilahirkan secara normal memiliki bentuk kepala memanjang.
Akan tetapi, dalam waktu 24 48 jam, kepalanya akan kembali ke bentuk
normal. Pada awal kelahiran, ukuran kepala lebih besar dari tubuhnya,
tetapi pada usia sebulan dengan pertumbuhan normal, kepala dan
badannya sudah akan simetris.

b.

Rambut
Bayi sudah memiliki rambut saat lahir. Namun rambut ini tidak dapat
dijadikan patokan untuk rambut di kemudian hari. Si rambut tipis saat lahir
belum tentu kelak berambut tipis pula. Rambut awal berguguran perlahanlahan selama bulan-bulan pertama dan digantikan oleh rambut baru.
Setelah dicukur, rambut bayi akan tumbuh dengan lebih baik.

c.Mata
Mata harus bersih dari cairan dan peradangan, yang bila terjadi dalam 24
jam sejak kelahiran harus diselidiki karena dapat disebabkan oleh infkesi
gonokokus yang dapat menyebabkan kebutaan. Mata harus diperiksa dan
harus tidak ada katarak (tampak sebagai kekeruhan kornea), atau iris
translusen yang bisa merupakan tanda albinisme.
d. Telinga
Telinga bisa memiliki skin tag. Biasanya kecil dan umumnya diikat dengan
benang jahit oleh dokter anak, sampai lepas sendiri. Tag atau cekungan
biasanya tidak signifikan tetapi dapat pula menunjukkan adanya masalah
ginjal.
e.Mulut
Memeriksa mulut bayi, bidan harus memasukkan jari bersarung tangan,
bersih, baru dipasang, guna memeriksa langit-langit mulut bayi untuk
meraba adanya sumbing palatum. Inspeksi visual menggunakan sumber
cahaya yang baik sangat vital dan bisa menemukan sumbing submukosa
yang tidak mudah teraba. Kecuali kalau sumbingnya kecil, bayi bisa
mengalami kesulitan makan, kemudian kesulitan bicara. Sumbing bibir
pasti akan terlihat dan orang tua sering terkejut dan stres mengenai
masalah penampilan anaknya. Sumbing bibir bisa bervariasi dari tidak
terlihat sampai luas-unilateral dan bilateral.Bidan harus memeriksa
keseluruhan mulut mengenai adanya masalah, seperti gigi kongenital yang
memerlukan pengangkatan untuk mencegah aspirasi atau ulserasi lidah.

f. Leher, Dada, dan Abdomen


Memeriksa adanya fraktur, bidan harus meraba jarinya sepanjang
klavikula untuk merasakan adanya iregularitas. Harus ada dua putting
susu. Bila jarak antara keduanya sangat lebar pada dada yang pendek, akan
tampak tidak biasa, kemungkinan menunjukkan adanya abnormalitas
kromosom seperti sindrom Edward. Sebaiknya periksalah kembali bahwa
klem tali pusat telah erat terpasang dan bahwa tidak ada penonjolan dasar
pusat yang dapat menunjukkan eksomfalos (usus yang mengalami
herniasi). Tali pusat harus memiliki satu vena dan dua arteri. Jika hanya
ada satu arteri dalam tali pusat, mungkin berhubungan dengan anomali
ginjal.Beberapa bayi akan sesak napas atau napas berbunyi keras setelah
kelahiran. Abdomen harus teraba lunak dan bila ada hernia yang tampak,
harus segera dilaporkan.
g. Genitalia
Ukuran dan letak yang normal, dan setiap pigmentasi kulit, harus dicatat.
Orang tua yang berkulit gelap mungkin memiliki bayi dengan pewarnaan
kulit labia dan skrotum yang lebih gelap; tetapi bisa juga merupakan tanda
adanya hiperplasia adrenal kongenital yang dapat memengaruhi jenis
kelamin bayi. Pada kasus jenis kelamin tidak dapat ditentukan dan ada
kecurigaan hiperplasia adrenal maka staf tidak boleh berusaha menerka
jenis kelamin bayi karena bila ternyata kelak tidak benar, terbukti lebih
memberatkan bagi orang tua.
a.Bayi laki-laki
Ukuran penis sangat bervariasi. Bidan harus memperhatikan lokasi
orifisium uretra. Hipospadia adalah ketika meatus uretra membuka di
permukaan

bawah

penis

dan

terjadi

dalam

8,5

per

10.000

kelahiran.Beberapa bayi lahir dengan bengkak besar, dikenal sebagai


hidrokel. Ini cukup sering terjadi, dan tidak serius pada bayi baru lahir.
Kantung skrotum diperiksa dengan lembut mengenai adanya testis yang
bila tidak ada, biasanya akan turun pada usia 6 minggu.

b.Bayi perempuan
Labia dan klitoris bisa tampak besar pada bayi preterm dan kecil
menurut usia. Labia dan klitoris yang terlalu besar bisa menyebabkan
bayi dengan jenis kelamin yang tidak bisa ditentukan, bahkan kadang
bisa teraba testes di bawah labia. Muara vagina harus mudah dilihat,
namun bila tidak ada, akan terlihat jelas.
h. Anus
Catat dan dokumentasikan setiap keluaran mekoneum serta periksalah
selalu bahwa bayi memiliki anus dan bahwa letaknya benar. Anus yang
salah letak bisa berhubungan dengan malformasi rektum.
i. Punggung dan Tulang Belakang
Meraba dengan jari sepanjang tulang belakang untuk merasakan bila ada
pembengkakan tersembunyi dan memperhatikan setiap adanya spina
bifida/ defek tuba neuralis.
j. Ukuran Badan
Pada umumnya, bayi baru lahir mempunyai berat badan 2.500 4.500
gram dengan panjang badan 40 51 cm dan lingkar kepala rata-rata 35
cm. bayi yang lahir dua minggu lebih awal akan lebih kurus dibanding
yang lahir seminggu kemudian. Akan tetapi, berat badan keduanya dapat
sama pada 6 bulan berikutnya.
k. Warna Kulit
Warna kulit bayi lahir yang sehat adalah kemerahan. Pada beberapa kasus,
bayi baru lahir mempunyai kulit kekuningan. Hal ini bukan merupakan
gejala penyakit. Biasanya akan menghilang pada akhir minggu pertama
apabila bayi cukup menyusu dan tak mengalami kekurangan cairan.
(Nurcahyo, 2007)
2.4

Tahap Perkembangan Bayi Normal


1 bulan
- Membawa tangannya menuju ke mata dan mulut
- Menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri jika ditengkurapkan
- Mengikuti pergerakan benda pada jarak sekitar 15 cm dari garis tengah

mukanya (tepat di depannya)


- Bereaksi terhadap suara berupa kaget, menangis atau terdiam
- Berpaling kepada suara atau bunyi yang dikenalnya
- Memperhatikan wajah seseorang
3 bulan
- Mengangkat kepala 45 derajat (mungkin sampai 90 derajat) jika
ditengkurapkan
- Membuka dan menutup tangannya
- Jika diberdirikan diatas permukaan yang datar, kakinya menekan ke
bawah
- Mengikuti gerakan mainan yang bergoyang dan berusaha mencapainya
- Mengikuti pergerakan benda di depan wajahnya, dari kanan ke kiri atau
sebaliknya
- Memperhatikan wajah lebih seksama
- Tersenyum mendengar suara ibunya
- Mulai mengeluarkan suara-suara
5 bulan
- Mulai bisa menegakkan kepalanya dengan mantap
- Berguling dari tengkurap ke terlentang
- Menggapai benda
- Mengenali orang pada jarak tertentu
- Mendengarkan suara orang dengan seksama
- Tersenyum spontan
- Menjerit dengan gembira
7 bulan
- Duduk tanpa bantuan
- Bila diberdirikan, bisa menahan beberapa berat badannya
- Memindahkan benda dari tangan kanan ke tangan kiri atau sebaliknya
- Memperhatikan benda yang dijatuhkan

- Bereaksi bila namanya dipanggil


- Bereaksi bila dilarang
- Mengoceh, menggabungkan vokal dan konsonan
- Bergoyang dengan penuh suka cita bila diajak bermain
- Bermain ciluk-ba
9 bulan
- Berusaha menggapai mainan yang berada diluar jangkauannya
- Tampak keberatan bila mainannya diambil
- Merangkak atau melata pada tangan dan lutunya
- Berusaha untuk berdiri
- Berdiri dengan berpegangan
- Mengucapkan 'mama' atau 'papa'
12 bulan
- Duduk dari posisi tengkurap
- Berjalan dengan berpegangan, mungkin melangkah 1-2 langkah tanpa
bantuan
- Berdiri tegak tanpa bantuan untuk beberapa saat
- Memanggil orangtuanya dengan menyebut 'mama' atau 'papa'
- Minum dari gelas
- Bertepuk tangan dan melambaikan tangannya.

2.5

Teknik Penyuntikan
1. Semua obat suntik harus diisap ke dalam alat suntiknya
2. DMPA harus dikocok terlebi dahulu dengan baik.
3. Penyuntikan harus dilakukan dalam-dalam pada otot (intramuscular)
4. Jangan melakukan massase pada tempat suntikan.

5. Kedua hal terakhir ini sangat penting karena kalau tidak ditaati, maka
pelepasan obat dari tempat suntikan akan dipercepat dengan akibat masa
efektif kontrasepsinya menjadi lebih pendek.
(Hanafi. H, 2004 :
168)
2.6

Yang boleh menggunakan KB suntik 3 bulan


a. Wanita yang sudah punya anak atau belum
b. Tidak ada kehamilan
c. Riwayat siklus haid teratur
d. Tidak terdapat factor kontra indikasi.

2.7

Kontra-indikasi pemakaian KB suntik 3 bulan :


WHO menganjurkan untuk tidak menggunakan kontrasepsi suntikan pada :
Kehamilan
Karsinoma payudara
Karsinoma traktus genetalia
Perdarahan abnormal uterus
Pada wanita dengan diabetes atau riwayat diabetes selama kehamilan,
harus dilakukan follow up dengan teliti, karena dari beberapa percobaan
laboratorium ditemukan bahwa DMPA mempengaruhi metabolisme
karbohidrat.
(Hanafi. H, 2004)

2.8

Efek samping
a.Gangguan haid (amenorea, menoragia, metroragia, dan spotting)
b. Keputihan
c.Jerawat, flek-flek hitam pada wajah dan hyperpigmentasi kulit.
d. Alergi
e.Perubahan berat badan
f. Pusing atau sakit kepala
g. Penurunan libido

h. Hematoma
i. Depresi
j.

Pada sistem kardiovaskular efeknya sangat sedikit, mungkin ada sedikit


peninggian dari kadar insulin dan penurunan HDL-kolesterol.

2.9

Penanggulangan Efek Samping


1. Penanggulangan gangguan haid, seperti perdarahan.
Percobaan untuk mencegah perdarahan ireguler yang disebabkan oleh
kontrasepsi suntikan pada umumnya tidak memuaskan. Meskipun pernah
dicoba untuk menggunakan suplemen estrogen secara rutin, tetap tidak
terbukti bahwa hal ini mengurangi atau menghentikan gangguan pola haid,
malah menurut para ahli akan dapat mengurangi sebagian keuntungan dari
kontrasepsi suntikannya. Yang terpenting adalah konseling sebelum dan
selama pemakaian metode kontrasepsi suntikan dan yang perlu mendapat
perhatian dan pertolongan medis adalah perdarahan hebat atau perdarahan
yang lama.
Untuk hal tersebut, WHO menganjurkan :
o singkirkan

dulu

kemungkinan-kemungkinan

penyebab

lain

dari

perdarahannya
o Bila perdarahan hebat atau lama disebabkan oleh kontrasepsi suntikan,
maka tindakan yang harus diambil adalah :
pemberian tablet estradiol 25 mcg 3 kali sehari untuk 3 hari, atau 1
tablet pil oral kombinasi per hari untuk 14 hari.
bila hal tersebut tidak menolong, diberikan suntikan intramukular
bestrogen sintetis seperti 5 mg estradiol cypionate atau estradiol
valerate dalam larutan minyak, yang harus diulangi sekali lagi bila
perdarahan tidak berhenti dalam 24 jam.
Bila perdarahan tetap saja berlangsung terus, pertimbangkan untuk
melakukan dilatasi dan kuretase.
Sedangkan pabrik pembuat DMPA menganjurkan untuk kejadian
perdarahan hebat atau lama, pemberian per-oral ethynilestradiol 0,05 -

1,0 mg selama 7-21 hari. Bila perdarahan tidak berkurang dalam 1 atau
2 siklus, akseptor harus ganti ke metode kontrasepsi lain.
2. Berat badan yang bertambah
Menginformasikan bahwa kenaikan berat badan merupakan efek
dari DMPA yang dapat merangsang pusat pengendali nafsu makan di
hipotalamus, yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari
biasanya. Dengan memberikan penjelasan menyangkut hal tersebut, klien
akan dapat menerima keadaannya.
Jika klien tetap tidak dapat menerima keadaan akibat efek samping
kontrasepsi, maka sebaiknya klien dianjurkan untuk mengganti kontrasepsi
suntik dengan metode yang lain.

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 PENGKAJIAN DATA


Tempat: BPS Ny. Nanik Hadi A.S
Tanggal/Hari : Sabtu, 9 Juni 2007
Jam

: 17.00 WIB

Oleh

: Putri Septyasari

Data Subyektif
1. Biodata
Nama Ibu

: Ny. J

Nama Suami : Tn. M

Usia

: 33 tahun

Usia

: 36 tahun

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaaan

: Swasta

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

: SMP

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Mawar C 20/no. 9,

Alamat

: Jl. Mawar

Bedali Indah

C 20/no. 9, Bedali Indah.

2. Alasan datang
Ibu mengatakan ingin suntik KB 3 bulan karena jadwalnya suntik ulang.
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan tidak ada keluhan atau efek samping yang dirasakan ibu
selama pemakaian KB suntik 3 bulan.
4. Riwayat Haid
Siklus haid

: tidak teratur.

Lama

: kadang 4-5 hari

Banyaknya

: 1-2 pembalut sehari, kadang juga perdarahan bercak.

Menarche

: 12 tahun.

Amenorea

: 3 bulan pertama setelah pemakaian KB suntik.

5. Riwayat Pernikahan
Ibu pertama kali menikah usia 18 tahun dan pernikahannya ini telah
berlangsung selama 15 tahun.
6. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit darah tinggi,
tidak memiliki varises, dan tidak sedang dalam keadaan hamil.
7. Riwayat Kesehatan yang Lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit hipertensi, kencing
manis, kanker payudara, dan tidak pernah operasi.
8. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga

tidak ada yang pernah atau sedang

menderita penyakit menular ataupun menurun seperti tekanan darah tinggi,


kencing manis, TBC, maupun kanker.
9. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang Lalu
N Hamil
o
1

ke
aterm

Jenis

Persalinan
Pnlg Peny

spontan

bidan

Nifas
ASI Peny
4 bln

Sex

Anak
BBL

H/M

3500

gr

KB
- suntik 3
bln slm 9
thn dan pil

aterm

spontan

bidan

6 bln

3100

gr

slm 4 thn
- suntik 3
bulan
sampai
sekarang.

10. Riwayat KB
Ibu mengatakan setelah melahirkan anak ke-II, ibu memakai KB suntik 3
bulan selama 4 tahun dan selama pemakaian tidak ada keluhan seperti
sakit kepala dan timbul jerawat.

11. Pola Kebiasaan Sehari-hari


a. Pola Istirahat
Tidur siang 1-2 jam dan tidur malam 5-6 jam, tidak ada gangguan.
b. Pola Nutrisi

Makan 2-3 kali sehari dengan porsi lengkap, yaitu 1 piring nasi, sayur,
dan lauk.
c. Pola Aktifitas
Sehari-hari ibu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak,
bersih-bersih, mencuci, dan lain-lain.
d. Pola Eliminasi
BAK 3-4 kali sehari, BAB 1 kali sehari, tidak ada keluhan.
e. Pola Kebersihan
Mandi 2 kali sehari, ganti pakaian dan celana dalam setiap kali ibu
merasa kotor.
12. Riwayat Ginekologi
Ibu mengatakan tidak pernah menderita kanker payudara, tumor, atau
sifilis.
13. Data Psikososial
a. Psikologis
Ibu mengatakan bahwa ikut KB suntik 3 bulan (Depo Provera) atas
kemauan sendiri dan mendapat ijin dari suami karena praktis.
b. Sosial
Hubungan ibu dan suami serta keluarganya baik, suami
memberikan persetujuan mengikuti KB suntik.
Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Composmentis

2. Tanda-tanda Vital (TTV)


Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/ menit)

Suhu

: -

BB

: 70 kg.

3. Pemeriksaan Fisik

a. Inspeksi
Kepala

: bulat, rambut hitam, bersih, tidak rontok, tidak ada luka

Muka

: tidak pucat, tidak ada jerawat, tidak ada cloasma atau


flek-flek hitam pada wajah.

Mata

: simetris, konjungtiva tidak pucat, sclera tidak icterus

Hidung

: tidak ada pengeluaran sekret, tidak ada pernafasan


cuping hidung, tidak ada polip.

Telinga

: tidak ada pengeluaran sekret, bersih, pendengaran baik.

Mulut

: lembab, tidak pucat, tidak ada stomatitis.

Leher

: simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan


tidak ada bendungan vena jugularis.

Perut

: tidak ada luka bekas operasi, tidak tampak adanya


benjolan.

Genetalia luar

: bersih, tidak ada kondiloma, tidak oedema, tidak


varises, tidak ada keputihan, dan tidak ada
pengeluaran cairan abnormal.

Ekstremitas

: simetris, tidak ada oedema, atau varises


pada ekstremitas atas maupun bawah.

b. Palpasi
Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar tyroid / bendungan vena


jugularis

Payudara : tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan


Perut

: tidak ada nyeri tekan, tidak teraba benjolan abnormal.

Ekstremitas : tidak ada oedem, turgor kulit baik.


c. Auskultasi
d. Perkusi
3.2 IDENTIFIKASI DIAGNOSA dan MASALAH
Diagnosa

: Ny J P2002 Ab000 dengan akseptor KB Suntik 3 bulan.

DS

: Ibu mengatakan ingin KB suntik 3 bulan karena jadwalnya


suntik ulang.

DO

: - Muka : tidak pucat, tidak ada flek-flek hitam pada wajah.


- Mata : konjungtiva tidak pucat, sclera tidak icterus
- Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
- Payudara : tidak ada tanda-tanda kanker payudara maupun
kehamilan.
- Perut : tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan
- TTV : Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/ menit)

3.3 ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


3.4 IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA
- Penyuntikan sesuai prosedur.
3.5 INTERVENSI
Dx

: Ny J P2002 Ab000 dengan akseptor KB Suntik 3 bulan.

Tujuan

: Kehamilan dapat dicegah.

Kriteria hasil

: -

Intervensi
1.

Ibu mendapat suntikan KB 3 bulan (Depo Provera)


Ibu mengetahui kapan waktu suntik ulang.

Lakukan pendekatan dengan ibu serta jelaskan pada ibu tentang


keadaannya.
R/ Dengan pendekatan dan penjelasan pada ibu, maka ibu akan lebih
mudah mengerti dan menerima dalam tiap tindakan yang
dilakukan.

2.

Jelasakan kondisi ibu sekarang sehubungan dengan pemakaian KB


suntik 3 bulan.
R/ Dengan menjelaskan keadaan ibu saat ini, ibu dapat mengetahui
bahwa dengan keadaannya seperti sekarang ibu masih boleh
menggunakan KB suntik 3 bulan.

3.

Ciptakan suasana yang nyaman.


R/ Dengan menciptakan suasana yang nyaman, klien dapat lebih
leluasa dalam mengutarakan pendapatnya tentang kontrasepsi yang
sedang dijalaninya dan masalah-masalah yang mungkin timbul
pada klien setelah menggunakan kontrasepsi.

4.

Siapkan peralatan untuk suntik KB dengan teknik aseptic.


R/ kesiapan alat dapat mempermudah kelancaran prosedur kerja.

5.

Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.


R/ Dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
dengan sabun dan air mengalir akan dapat menghindari
kontaminasi mikroorganisme penyebab infeksi.

6.

Siapkan klien.
R/ Menyiapkan klien dengan posisi yang nyaman akan dapat
mempermudah pelaksanaan tindakan.

7.

Lakukan penyuntikan sesuai prosedur.


R/ Penyuntikan sesuai prosedur akan mencegah adanya komplikasi
lebih lanjut seperti terjadi kegagalan dengan kehamilan atau abses
pada daerah bekas suntikan.

8.

Beritahu klien kapan waktu kembali untuk suntik ulang.


R/ Agar klien dapat tepat waktu untuk penyuntikkan berikutnya, hal
ini demi mencegah kemungkinan kegagalan berupa kehamilan
apabila klien terlambat waktu dalam melakukan penyuntikkan
ulang.

9.

Beritahu klien untuk dating kembali bila memerlukan konsultasi


apabila ada keluhan sewaktu-waktu.
R/ Agar klien dapat merasa terlindungi dan petugas kesehatan dapat
memberikan asuhan yang tepat dan keluhan klien dapat segera
diatasi.

10. Lengkapi rekam medik dan kartu klien, yang kemudian diserahkan
pada klien untuk mengetahui waktu klien control ulang.

R/ Dengan pendokumentasian waktu control pada kartu klien dapat


dipakai sebagai pengingat bagi klien kapan saatnya untuk suntik
ulang.
3.6 IMPLEMENTASI
Tanggal : 09 Juni 2007
Dx
1.

: Ny J P2002 Ab000 dengan akseptor KB Suntik 3 bulan.


Melakukan pendekatan pada ibu dan keluarga dengan ramah dan penuh
sopan santun agar menumbuhkan kepercayaan pasien dan pasien lebi
kooperatif sehingga dapat mempermudah dalam pemberian asuhan
kebidanan.

2.

Menjelasakan kondisi ibu sekarang sehubungan dengan pemakaian KB


suntik 3 bulan, agar ibu dapat mengetahui bahwa dengan keadaannya
seperti sekarang ibu masih boleh menggunakan KB suntik 3 bulan.

3.

Menciptakan suasana yang nyaman seperti menutup pintu dan jendela,


agar klien dapat lebih leluasa dalam mengutarakan pendapatnya
tentang kontrasepsi yang sedang dijalaninya dan masalah-masalah
yang mungkin timbul pada klien setelah menggunakan kontrasepsi.

4.

Melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan


dengan sabun dan air mengalir agar dapat menghindari kontaminasi
mikroorganisme penyebab infeksi.

5.

Menyiapkan peralatan untuk suntik KB 3 bulan agar mempermudah


prosedur kerja, dengan :

6.

jarum dan spuit

depo provera 150 mg

kapas alcohol

tempat sampah medis dan non medis.

Melakukan penyuntikan sesuai prosedur agar dapat mencegah adanya


komplikasi lebih lanjut seperti terjadi kegagalan dengan kehamilan
atau abses pada daerah bekas suntikan, dengan cara :
-

mengambil vial depo provera dan mengocok dengan memutarnya


untuk mencampur larutan.

mendesinfeksi tutup vial dengan kapas alcohol.

menghisap depo provera dengan spuit secara tegak lurus sampai


larutan dalam vial benar-benar habis.

mengganti jarum spuit dengan jarum yang baru.

memastikan tidak ada udara dalam spuit dengan cara mendorong


pendorong spuit ke atas sampai muncul gelembung udara pada
ujung jarum spuit.

mendesinfeksi daerah yang akan disuntik yaitu bagian atas dari


SIAS (Spina Iliaka Anterior Superior) dengan lumbal ke V
menggunakan kapas alcohol.

menyuntik secara intramuscular dengan sudut 90 (tegak lurus)

melakukan aspirasi dan jika tidak terhisap darah oleh spuit (benarbenar masuk ke jaringan otot), kemudian masukkan perlahanlahan deponya, lalu spuit dicabut.

Tekan area bekas suntikan dengan kapas alcohol

Membuang sampah yang habis digunakan ke tempat yang


disediakan.

7.

Mencuci tangan.

Memberitahu klien kapan waktu kembali untuk suntik ulang yaitu


tanggal 29 Agustus 2007, agar klien dapat tepat waktu untuk
penyuntikkan berikutnya, hal ini demi mencegah kemungkinan
kegagalan berupa kehamilan apabila klien terlambat waktu dalam
melakukan penyuntikkan ulang.

8.

Memberitahu klien untuk dating kembali bila memerlukan konsultasi


apabila ada keluhan yang penting bagi klien sewaktu-waktu.
.

9.

Melengkapi rekam medik dan kartu klien, yang kemudian diserahkan


pada klien untuk mengetahui waktu klien control ulang :
-

Tanggal 9 Juni 2007, tekanan darah = 110/70 mmHg dan berat


badan = 70 kg. Kontrol ulang tanggal 29 Agustus 2007.

3.7 EVALUASI

Tanggal : 9 Juni 2007


Dx

: Ny J P2002 Ab000 dengan akseptor KB Suntik 3 bulan.

: Ibu mengatakan telah disuntik KB 3 bulan. Ibu juga telah


mengetahui bahwa suntik ulang pada tanggal 29 Agustus 2007.

: - Ibu sudah disuntik dengan depo provera secara intramuscular.


- Kartu akseptor KB suntik tlah ditulis suntik ulang tanggal
29 Agustus 2007.

: Ny J P2002 Ab000 dengan akseptor KB Suntik 3 bulan.

: - Anjurkan ibu untuk KB suntik ulang tepat waktu atau 3 hari


lebih awal.
- Beritahu ibu untuk tidak memanipulasi atau melakukan massase
pada daerah bekas suntikan.
- Beritahu ibu untuk dating kembali bila memerlukan konsultasi
bila ada keluhan atau efek samping dari KB suntik 3 bulan.

ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY J P2002 Ab000 KUNJUNGAN ULANG
AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN
DI BPS NY. NANIK HADI A.S
BEDALI - LAWANG

Disusun oleh :
Putri Septyasari
0504.84

AKADEMI KEBIDANAN WIDYAGAMA HUSADA MALANG


2007
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan hidayah kepada kami sehingga kami dapat menyusun
laporan Asuhan Kebidanan ini. Kegiatan Praktek Kebidanan ini dilaksanakan
mulai tanggal 04 Juni 2007 23 Juni 2007.
Dalam penyusunan laporan ini kami banyak mendapat bimbingan dan
pengalaman. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Yth :
1.

Ibu Yuliyanik, S.KM selaku Direktur Akademi Kebidanan Widyagama


Husada Malang.

2.

Ibu Nanik Hadi A.S, Amd.Keb selaku pembimbing praktek di BPS beliau.

3.

Ibu Peni Indrawati, S.KM selaku dosen pembimbing Akademi Kebidanan


Widyagama Husada Malang.

4.

Kedua orang tua dan keluarga yang telah memberikan support yang sangat
besar kepada penulis.

5.

Dan seluruh teman-teman yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu
yang telah memberikan bantuan sehingga tersusun laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh dari

sempurna. Untuk itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan di
masa mendatang. Semoga laporan ini bermanfaat. Amin.

Malang, Juni 2007

Penulis

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah melakukan Asuhan Kebidanan pada Ny. "J" P2002 Ab000 dengan
akseptor KB suntik 3 bulan di BPS Ny. nanik Hadi A.S Bedali, Lawang. Penulis
tidak menemukan kesenjangan antara teori dan praktek sedangkan masalah yang
dihadapi oleh Ny. "J" yang berkaitan dengan pelayanan KB suntik 3 bulan tidak
ada.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dalam menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan data-data tentang
riwayat kebidanan, paritas, KB, psikologi, social budaya, dan lain-lainnya
yang kemudian dipadukan dengan data subyektif dan obyektif yang
memerlukan hasil pemeriksaan umum dan pemeriksaan fisik.
Masing-masing individu memiliki respon yang berbeda terhadap metode
kontrasepsi dalam hal ini KB suntik. Hal ini dipengaruhi oleh sifat manusia
yang unik secara biopsikososial.
5.2 Saran
Dalam menegakkan diagnosa yang tepat seharusnya pengkajian
dilakukan sesempurna mungkin dalam mengkaji data subyektif dan obyektif.
Kerjasama antara bidan dan klien sangat diperlukan dalam memecahkan
masalah yang timbul sehingga mampu melaksanakan wewenang secara baik.

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus, Ilmu Kebidanan, Kandungan, dan KB, EGC, Jakarta : 1998
YBP - SP, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : 2003
Prawirohardjo, Sarwono, Ilmu Kebidanan, YBP - SP, Jakarta : 1999
Arief, Mansjoer, Kapita Selekta Kedokteran jilid I, Media Aescula Pius, FKUI,
Jakarta : 1999.
Sylvia, Verral, Terapan Dalam Kebidanan, Edisi 3, EGC, Jakarta : 1997.
Buku Pedoman Petugas Pelayanan KB, Dep.Kes RI, Jakarta : 1994.