Anda di halaman 1dari 7

DESKRIPSI KASUS

Kasus Pelanggaran Good Corporate Governance oleh PT. Katarina Utama Tbk,
berkaitan dengan pasar modal yang ada di Indonesia
PT Katarina Utama Tbk (RINA) merupakan perusahaan yang bergerak dalam
bidang jasa pemasangan, pengujian dan uji kelayakan produk dan peralatan telekomunikasi.
Direktur Utama RINA adalah Fazli bin Zainal Abidin. RINA tercatat di BEI sejak 14 Juli
2009. Belum lama ini RINA menggelar penawaran saham perdana kepada publik dengan
melepas 210 juta saham atau 25,93% dari total saham, dengan harga penawaran Rp 160,per lembar saham. Dari hasil IPO, didapatkan dana segar sebesar Rp 33,66 miliar.
Rencananya seperti terungkap dalam prospektus perseroan, 54,05% dana hasil IPO akan
digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan 36,04% dana IPO akan direalisasikan untuk
membeli berbagai peralatan proyek.
Pada Agustus 2010 lalu, salah satu pemegang saham Katarina, PT Media Intertel
Graha (MIG), dan Forum komunikasi Pekerja Katarina (FKPK) melaporkan telah terjadi
penyimpangan dana hasil IPO yang dilakukan oleh manajemen RINA. Dana yang sedianya
akan digunakan untuk membeli peralatan, modal kerja, serta menambah kantor cabang,
tidak digunakan sebagaimana mestinya. Hingga saat ini manajemen perseroan belum
melakukan realisasi sebagaimana mestinya. Dari dana hasil IPO sebesar Rp 33,66 miliar,
yang direalisasikan oleh manajemen ke dalam rencana kerja perseroan hanya sebesar Rp
4,62 miliar, sehingga kemungkinan terbesar adalah terjadi penyelewengan dana publik
sebesar Rp 29,04 miliar untuk kepentingan pribadi.
Selain itu, Katarina diduga telah memanipulasi laporan keuangan audit tahun 2009
dengan memasukkan sejumlah piutang fiktif guna memperbesar nilai aset perseroan.
Bahkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah memutus aliran listrik ke kantor cabang
RINA di Medan, Sumatera Utara, karena tidak mampu membayar tunggakan listrik sebesar
Rp 9 juta untuk tagihan selama 3 bulan berjalan. Akhirnya Cabang Di Medan ditutup secara
sepihak tanpa meyelesaikan hak hak karyawannya. Bahkan selama ini manajemen tidak
menyampaikan secara utuh dana jamsostek yang dipotong dari gaji karyawan, ada juga
karyawan yang tidak mengikuti jamsostek tetapi gajinya juga ikut dipotong. Bursa

menghentikan perdagangan saham RINA sejak awal September 2010. BEI kemudian
melimpahkan kasus ini kepada Bapepam-LK untuk ditindaklanjuti.
PELANGGARAN TERHADAP PRINSIP-PRINSIP GCG:
1.

Keadilan/Kewajaran (Fairness)
PT Katarina Utama tidak memperlakukan secara adil para pemangku
kepentingan baik primer maupun sekunder, investor tidak diperlakukan secara adil dan
tidak ada keadilan pula bagi karyawan, saya mengambil salah satu contoh yang sangat
jelas yaitu pada pemotongan gaji untuk asuransi jamsostek para karyawan, telah
dipaparkan diatas bahwa para karyawan yang tidak mengikuti asuransi jamsostek
gajinya tetap ikut dipotong tanpa alasan yang jelas. Selain itu cabang RINA di Medan
telah melakukan penutupan secara sepihak tanpa menyelesaikan hak hak para
karyawan dengan tidak membayar gaji sesuai dengan pengorbanan yang telah mereka
berikan kepada PT Katarina Utama, terbukti bahwa manajemen RINA melanggar
prinsip Keadilan.

2.

Prinsip Transparansi (Keterbukaan)


PT Katarina Utama tidak menyampaikan informasi dengan benar, seperti yang
telah disampaikan diatas Manajemen RINA telah memasukkan sejumlah piutang fiktif
guna memperbesar nilai aset perseroan, sehingga informasi yang diterima oleh para
pemangku kepentingan menjadi tidak akurat yang mengakibatkan para pemangku
kepentingan seperti investor menjadi salah mengambil keputusan. Hal ini menunjukkan
bahwa PT Katarina Utama telah melanggar prinsip Transparansi (Keterbukaan) dalam
penyampaian informasi.

3.

Prinsip Akuntabilitas
Telah terbukti bahwa Katarina Utama tidak merealisasikan dana hasil IPO
sesuai dengan prospektus perseroan dan melakukan penyelewengan dana untuk
kepentingan pribadi direktur, sehingga terjadi ketidak efektifan kinerja perseroan.
Laporan Keuangan yang dihasilkannya pun menjadi tidak akurat dan tidak dapat
dipercaya. Hal ini jelas menjadi bukti bahwa PT Katarina Utama gagal dalam
menerapkan prinsip akuntabilitas.

4.

Prinsip Responsibilitas (Tanggung Jawab)


PT Katarina Utama Jelas sangat melanggar prinsip Responsibilitas dengan
melakukan penyelewengan dana milik investor publik hasil IPO sebesar Rp 29,04
miliar, Manajemen RINA juga tidak meyelesaikan kewajibannya kepada karyawan
dengan membayar gaji mereka, selain itu RINA tidak membayar tunggakan listrik
sebesar Rp 9 juta untuk tagihan selama 3 bulan berjalan. Berdasarkan informasi yang
dihimpun Seputar Indonesia (SI), sebagian besar direksi dan pemangku kepentingan
perseroan dikabarkan telah melarikan diri ke luar negeri. Hal ini jelas menggambarkan
bahwa RINA melanggar Prinsip Responsibilitas.

5.

Prinsip Kemandirian
Dengan adanya penyelewengan dana hasil IPO membuat perseroan menjadi
tidak efektif dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, tidak mampu membayar gaji
karyawan, dan tidak mampu membayar tunggakan listrik PLN sehingga menyebabkan
ditutupnya cabang PT Katarina Utama di Medan. Hal ini lah yang menyebabkan PT
Katarina Utama tidak dapat melaksanakan prinsip kemandirian.

PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT


1. KAP Budiman, Wawan, Pamudji & Rekan
KAP Budiman, Wawan, Pamudji & Rekan adalah KAP yang melakukan audit
atas laporan keuangan PT Katarina Utama pada tahun 2008. Diduga laporan keuangan
PT Katarina Utama tahun 2008 telah dimanipulasi. Dalam dokumen laporan keuangan
2008 nilai asset perseroan naik hampir 10 kali lipat dari Rp 7,9 miliar pada tahun 2007
menjadi Rp 76 miliar pada 2008, sedangkan ekuitas perseroan tercatat naik 16 kali lipat
menjadi Rp 64,3 miliar dari Rp4,49 miliar.
Tahun 2003 Budiman Soedarno, salah satu pimpinan KAP Budiman, Wawan,
Pamudji & Rekan, yang saat itu tergabung dalam KAP Rodi A. Kartamulja dan
Budiman pernah mendapat peringatan tertulis dari Bapepam atas kasus penyalahgunaan
dana penawaran umum PT Central Korporindo Tbk.
2. Pihak Manajemen / internal PT Katarina Utama Tbk.

PT Katarina Utama melakukan penawaran umum yang terhimpun ini diduga


diselewengkan oleh pihak manajemen, dan hanya sebagian kecil dana penawaran umum
yang direalisasikan dan PT Katarina Utama tidak memperlakukan secara adil para
pemangku kepentingan, investor tidak diperlakukan secara adil dan tidak ada keadilan
pula bagi karyawan. Hal itu sangat jelas tergambarkan pada pada pemotongan gaji
untuk asuransi jamsostek para karyawan, telah dipaparkan diatas bahwa para karyawan
yang tidak mengikuti asuransi jamsostek gajinya tetap ikut dipotong tanpa alasan yang
jelas. Selain itu cabang RINA di Medan telah melakukan penutupan secara sepihak
tanpa menyelesaikan hak hak para karyawan dengan tidak membayar gaji sesuai dengan
pengorbanan yang telah mereka berikan kepada PT Katarina Utama
Penyalahgunaan dana penawaran umum ini disebabkan karena adanya
kelemahan dalam pengendalian internal PT Katarina Utama. Akibat lemahnya
pengendalian internal tersebut pihak menajemen hanya merealisasikan sebagian kecil
dana hasil penawaran umum, sedangkan selebihnya diduga diselewengkan oleh pihak
manajemen. Selain itu manipulasi laporan keuangan juga disebabkan oleh pihak
internal yang dengan sengaja melakukan manipulasi guna mempercantik angka-angka
dalam laporan keuangan agar menarik investor yang akan membeli saham PT Katarina
Utama
DAMPAK TERHADAP PELANGGARAN GCG:
1. Ketidakpercayaan para pemegang saham
2. Ketidakpercayaan karyawan, munculnya berbagai demo karyawan di berbagai cabang
PT Katarina Utama
3. Ketidakpercayaan Mitra Kerja, penggelembungan nilai aset dengan memasukkan
sejumlah piutang fiktif yang dituduhkan kepada satu pemegang saham Katarina, PT
Media Intertel Graha (MIG), membuat mitra kerja tersebut berbalik melaporkan
Manajemen RINA dan menimbulkan ketidakpercayaan kepada Manajemen RINA
4. Ketidakpercayaan Pemerintah, PLN memutus aliran listrik ke kantor cabang RINA di
Medan, Sumatera Utara, karena tidak mampu membayar tunggakan listrik sebesar Rp 9
juta untuk tagihan selama 3 bulan berjalan
5. Bursa menghentikan perdagangan saham RINA sejak awal September 2010

6. Tidak berjalannya kegiatan operasional perusahaan karena perusahaan tidak mampu


membiayai kegiatan operasional sehingga tidak ada pemasukan bagi perusahaan,
bahkan kantor cabang RINA di Medan akhirnya ditutup.
SANKSI YANG DIBERIKAN
Sanksi yang diberikan oleh Bapepam adalah pemberian sanksi administratif oleh
otoritas bursa sesuai dengan UU No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal dan delistingdari
bursa efek Indonesia, setelah selama 2 tahun sebelumnya saham PT Katarina Utama Tbk
yang berkode RINA disuspensi dan tidak akan diperdagangkan kembali.
ANALISIS KASUS SESUAI TEORI
Berdasarkan kasus yang terjadi pada PT Katarina Utama Tbk, dengan berbagai
pelanggaran atau penyimpangan yang terjadi seperti tidak memperlakukan secara adil para
pemangku kepentingan baik primer maupun sekunder, investor tidak diperlakukan secara
adil dan tidak ada keadilan pula bagi karyawan, saya mengambil salah satu contoh yang
sangat jelas yaitu pada pemotongan gaji untuk asuransi jamsostek para karyawan, telah
dipaparkan diatas bahwa para karyawan yang tidak mengikuti asuransi jamsostek gajinya
tetap ikut dipotong tanpa alasan yang jelas. Selain itu cabang RINA di Medan telah
melakukan penutupan secara sepihak tanpa menyelesaikan hak hak para karyawan dengan
tidak membayar gaji sesuai dengan pengorbanan yang telah mereka berikan kepada PT
Katarina Utama maka teori yang tidak sesuai adalah teori hak.
SOLUSI YANG DITAWARKAN

Sehubungan dengan penyebab kasus yang terjadi pada PT Katarina Utama Tbk
disebabkan karena adanya kelemahan dalam pengendalian internal PT Katarina Utama.
Akibat lemahnya pengendalian internal tersebut pihak menajemen hanya merealisasikan
sebagian kecil dana hasil penawaran umum, sedangkan selebihnya diduga
diselewengkan oleh pihak manajemen. Selain itu manipulasi laporan keuangan juga
disebabkan oleh pihak internal yang dengan sengaja melakukan manipulasi guna
mempercantik angka-angka dalam laporan keuangan agar menarik investor yang akan

membeli saham PT Katarina Utama. Maka pengendalian internal pada perusahaan

tersebut secara khusus maupun perusahaan lain secara umum lebih dimaksimalkan.
Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperjatikan

pemangku kepentingan lainnya.


Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun inetrnasional, sehingga
meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan
pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
KESIMPULAN
Praktik pelanggaran penggunaan dana penawaran umum oleh PT

Katarina Utama Tbk jelas merupakan pelanggaran prinsip keterbukaan informasi dari
perusahaan public. Akibatnya pemegang saham dirugikan karena tidak mengetahui kondisi
perusahaan yang sesungguhnya akibat adanya manipulasi laporan keuangan.
PT Kirana Utama dengan sangat jelas telah melakukan pelanggaran prinsip-prinsip
tata kelola yang baik, diantaranya karena telah memanipulasi laporan keuangan sehingga
tidak mencerminkan transparansi dan akuntabilitas, tidak memnuhi hak-hak karyawan
pasca penghentian operasional perusahaan sehingga tidak mencerminkan prinsip
pertanggungjawaban dan keadilan.

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. Dkk.2014. Etika Bisnis dan Profesi: Tantangan Membangun Manusia
seutuhnya. Edisi Revisi, Salemba Empat : Jakarta
Brooks, Leonor J. Dunn. 2008. Etika Bisnis & profesi edisi 5 buku 1, Salemba Empat,
Jakarta
http://baddaysp.blogspot.com/2013/11/prinsip-prinsip-gcg-good-corporate.html diakses 12
November 2014
http://www.bapepam.go.id/old/hukum/uupm/bab_XIV.htm diakses 12 November 2014
https://www.scribd.com/doc/228715311/Tata-Kelola-Etis diakses 12 November 2014
https://www.scribd.com/doc/52046697/BEDAH-NERACA-PT-KATARINARivandi, Muhammad.2014.Pengaruh Corporate Governance Index, kepemilikan
Institusional terhadap biaya ekuitas dan biaya hutang

Anda mungkin juga menyukai